Peristiwa itu sudah dua puluh satu hari yang lalu. Di
sebuah tebing, seunit bus besar tiba-tiba mematahkan pepohonan di sana. Bangau
putih mengepak-ngepakkan sayap, ikan
hasil tangkapannya menyemplung ke dasar. Hewan kecil seperti semut, ulat,
belalang, nyamuk, lalat hutan ikut kaget. Sebutir air mata pecah, luruh ke
pori-pori tanah yang di sananya
akar anak rumput menunggu tumbuh.

Sehari
sebelum kejadian itu
ia berjumpa denganmu di terminal. Wajahnya sayu, baru pulang dari suatu tempat yang kau sendiri tidak bisa
menduganya,
tapi kau tiba-tiba saja merasa harus peduli terhadapnya.

“Aku
sangat mudah mabuk. Bisakah kau memberiku bangku paling depan dan kalau bisa dekat
jendela?” kau mendengarnya berdebat dengan penjual tiket meski intinya ia
sedang memohon.

“Sudah
ada di bangku itu. Yang tersisa hanya nomor ….” penjual
tiket kau lihat mencari-cari
di catatannya.

“Bagaimana
dengan tiga?”

Penjual tiket masih memeriksa catatan untuk
memastikan namun wanita calon penumpang
memotong lagi, “Lima? Delapan?”

“Tinggal
nomor dua puluh dan
selanjutnya.”

“Sudah
kubilang aku mudah mabuk.”

Kau yang melihat muram wajahnya dari dalam
dirimu timbul semacam dorongan untuk melindungi dan bahkan merasa perlu menyayanginya
saat itu juga. Sembari memikirkan
entah apa ia melihat
ke arahmu sebentar, dan saat itulah kau seakan tak percaya kalau ternyata ada
saja mata orang dewasa semirip mata kanak-kanak. Jernih. Masih bisa diwarnai.
Masih bisa dilukiskan sesuatu ke dalamnya, dan kau coba mengingat-ingat
bagaimana caranya melukis dengan baik tanpa harus merusak banyak kanvas
terlebih dahulu.

“Beli
saja salah satu dari tiket yang masih ada,” ujarmu dari tempat yang tak diduga-duga olehnya sehingga ia
merasa aneh kepadamu. “Ini,” katamu lagi. Kau sodorkan tiket dengan angka empat milikmu ke arahnya.

“Maksudnya?”

“Tiketmu berikan padaku. Tiketku kuberi padamu.”

“Terus?”

“Ya, supaya kau jadi perginya.”

“Terus?”

“Mak-sud-ku? Maksudku supaya kita sama-sama perginya.”

Kau perlahan-lahan menjelaskan padanya. Ia kemudian setuju.
Setelah itu ia dan kau sudah
berada
dalam Bus Antar Provinsi.

Tiga jam pertama ada penumpang turun di persimpangan, seseorang yang duduk di sebelahnya yakni di bangku
nomor tiga lalu tanpa permisi ke
pengemudi kau segera saja
pindah ke sana. Ia mendengar ceritamu sepanjang perjalanan seakan
kau seorang pendongeng atau barangkali kehadiranmu serupa rintik
hujan yang menyejukkan. Ia sendiri enggan membicarakan lebih dalam tentang
dirinya. Ia hanya menjawab ketika kau bertanya, semisal apa ia sudah makan atau
apa ia merasa pusing agar kau membantunya membelikan minyak angin di kedai pinggir jalan.

Suatu
kali kau melihat ia memijit-mijit kening dan mematah-matahkan leher. Kau mohon
izin mengubah posisi kursinya agar ia menyandarkan bahu, supaya ia bisa
meluruskan kaki dan kau—entah kenapa lagi-lagi merasa ia merupakan bagian dari yang perlu kau lindungi. Sesuatu dalam dirimu berkata:
meski ia mungkin kekasih dari seseorang yang mencintainya dengan hebat, dirimu justru teman
terbaik untuk berbagi cerita. Kau punya bahu yang
kuat. Kau punya punggung yang kokoh. Kau bisa menampung seberat apa pun beban kisah itu nantinya.

“Aku
punya dua orang anak,” katamu, memecah keheningan.

Ia
menjadi serius seakan lupa pada apa yang berkecamuk di dadanya. Ia ingin
bertanya ke manakah anak-anak itu sekarang, atau istrimu sedang di mana: apa kau bertengkar dengannya, apa istrimu masih
hidup, namun ia sungkan mengutarakannya—ia baru kenal denganmu dua hari lalu. Menurutnya tidak baik
menanyakan hal-hal bersifat pribadi kecuali seseorang itu sendirilah yang
dengan suka rela menyampaikannya.

“Boleh
aku tahu namamu?” kau bertanya.

“Ta
….”

“Ta?”

“Tarida.”

“Aku
sendiri Mangara. Panggil saja Ara.”

Lalu
mendadak saja kau merasakan tanda-tanda kalau ia ingin muntah. Ia memegangi mulut menahan
sesuatu yang sudah terlalu mendesak.
Jemarinya mencari-cari, kau bertanya dan ia mengisyaratkan butuh kantung plastik.
Bagi yang bukan pemabuk sepertimu tentu muntah dalam perjalanan merupakan hal
paling menyiksa. Seharusnya perjalanan itu menyenangkan mata, hati, pikiran.

Kau
membukakan botol air mineral. Ia berkumur, membuangnya
ke kantong plastik dan kau sempat
mencium aroma seperti belerang namun cepat-cepat mengabaikannya.
“Oleskan minyak angin ke perut dan keningmu,” ujarmu, terlebih dahulu mengawalinya
dengan kata ‘maaf’ agar kau tak mendapati dirimu terkesan sebagai laki-laki
yang telah membuat seorang kenalan baru
menjadi risih. Menit-menit berikutnya di saat ia sudah tertidur kau membaguskan
syal ungu yang gulungannya melonggar meski kau tetap saja berdebar takut dikira
berbuat macam-macam.

Menit berikutnya lagi separuh
kepalanya bertumpu
di bahumu, kau
jadi terbayang pada wanita yang sangat kau cintai.
Wanita bernama Dinar yang telah memberimu dua orang putra dan tiba-tiba kau teringat
saat mengganti popok bayimu di usia
dua bulan. Peleburan tertinggi dari
seorang laki-laki terhadap wanita yang kemudian disebut satu menurutmu
melakukan hal biasanya dihindari para suami yakni
mengurusi yang bau-bau pada diri anak-anaknya—kau bahkan pernah mengisap lubang hidung mereka ketika
mampat. Dan hal paling kau suka ialah menciumi kepala bayimu,
meletakkan begitu lama bibirmu di atas ubun-ubunnya yang belum ditumbuhi rambut hingga kau rasakan denyutan-denyutan lembut lalu membisikkan
sebaris doa kepada denyutan itu: aku
mencintaimu
. Mencintaimu
sejak pertama dan selamanya
. Seketika itu pula kesedihan menusuk-nusukmu, sebab sewaktu
membayangkannya mereka itu sudah tak ada. Maka kepada seseorang yang baru
sehari kau mengenalnya begitu dekat kebaikanmu pun tumpah. Kau tarik
selimut. Kau selimuti ia yang lelap di bahumu.

Bus Antar Provinsi bermanuver sangat liar. Wanita itu
menarik lengannya darimu. Ia kaget mendengar bunyi deruman keras. Sebelumnya ia
ingat sudah pernah suara yang
begitu
terjadi: tadi, ketika Bus Antar
Provinsi
mogok dan ada yang diperbaiki
di bagian mesinnya padahal bus
itu
bukan kelas ekonomi—ia bus ber-AC—tak
masuk akal kurang sehat begitu. Remnya
putus,
teriak sopirnya. Mendadak ada yang melompat dan kalian sempat melihat sepasang lutut habis dijilat aspal diiringi histeris penumpang meneriakkan Tuhannya masing-masing.

Bus Antar Provinsi baru
saja diservis. Diganti
catnya. Dibongkar mesinnya. Diperbaiki lampu, klakson, diganti olinya
dan lain-lain. Intinya bus itu
habis pulang dari perawatan. Ia kembali cantik setelah setahun beristirahat
total. Tentang mengapa ia beristirahat sampai setahun tidak ada yang tahu pasti kecuali orang-orang tertentu.

“Ada
apa?” tanya wanita itu dengan napas
berdesak-desakkan di dada. Ia kelihatan sangat panik serta ketakutan tampak di sorot matanya.

“Kita
akan baik-baik saja,” jawabmu, menenangkan hatinya sementara kau tak
mampu menjinakkan
kecemasan yang luar biasa membadai di jantungmu, pikiranmu, perasaanmu. Bayangan-bayangan ngeri dari tiga tahun lalu saat kau kehilangan tiga orang terkasihmu yakni istri dan
dua putramu kembali menyetani
dan membuat kekhawatiranmu menggunung-gunung. Saat resah gelisahmu kian membesar refleks saja kau memeluk dirinya yang menggigil.

“Aku
takut, Ara. Aku takut,” pekik
wanita itu, menyebut namamu untuk pertama kali dan kau merasakan debur dadamu
dua kali lipat kekuatannya. Debur
antara ketakutan dan perasaan yang tak kau ketahui kenapa tapi saat
itu kau teringat saat jatuh cinta kepada istrimu. Kau mengambil tangannya ia
rela. Kau mendekapnya ia diam. Namun
setelah sekian lama kesepian kenapa jatuh cinta lagi itu harus terjadi di saat-saat
genting seperti ini?—kau merasa ini
tak adil, sungguh tak adil. Kau protes akan waktu yang bikin kadar
cintamu mendadak berlipat ganda,
oleh karenanya kau menjadi semakin takut pada kehilangan. Kau mulai menyesal mengapa punya hati yang mudah mencintai. Jatuh cinta, kau tahu artinya, yaitu merelakan hatimu agar selalu siap merasakan sakit.

Bunyi
yang lebih keras datang lagi. Letusan besar naik ke atas. Ban landas. Kau dan
ia menyadari kalian semakin turun dan kalian tak berani melihat ke mana arah
itu menuju. Pengemudi memutar habis ke kiri, terbanting ke batu. Bus Antar Provinsi terombang-ambing di tebing curam di mana pepohonan berpatahan karenanya.
Lalu di depan sana yang kemudian menjadi di bawah kaki kalian terpampang
hamparan danau berwarna hijau. Sepasang ikan mujahir yang tadi berenang pelan-pelan kini
kucar-kacir setelah salah
satu dari mereka sempat menabrakkan
mulut ke leher ikan sebelahnya.

Ara, ini hitungan kedua puluh satu setelah
hari itu. Sudah selama itu kau koma. Di sekujur tubuhmu ada kabel dan Tarida ingin
sekali membantumu mengakhiri penderitaan. Dari sisi bahu kananmu ia bersedih. Kau tak kunjung merasakannya. **

                                                                                                Riau,
April 2017


Jeli Manalu Lahir di Padangsidimpuan, 2 oktober 1983. Tinggal di Rengat-Riau. Buku kumcer terbarunya Kisah Sedih Sepasang Sepatu (Basabasi, 2018)