Puisi

Puisi Deny Firmansyah

Nelayan Kata

Biar saja hujan menggenang

menjadi sungai

di belantara sajakmu

yang banal

agar ikan-ikan yang berenang

di kamusmu tahu bahwa hujan

masih setia

mengunjungi mereka

Biar saja biduk air itu

Membuat kau

Jadi satu-satunya nelayan

Yang menjaring sajak

Biar rindu menggenang

Bagai hujan yang setia

Mengunjungi kamus

Dan ikan-ikan


Pranajiwa

Mata hati yang bisu

Lidah yang kelu

Belulang

Yang menyimpan

rahasia masa depan

lampu jalanan yang redup

dan langit yang diterangi bintang-bintang

lima jam perjalanan

atau beribu menit lagi

menuju putaran bumi

Indera mencium

Dan hati merasa

Tetapi tubuh hanya pasrah

Terhanyut

Negeri yang menyediakan sembilu

Dan belati, bedil dan peluru

Kapan waktu saling membidik

Dan menusuk

Bola mata melintas kota kecil

Makin rabun oleh uap dan embun

Menuju tepi-tepi yang sama

Rumah-rumah hancur

Dan dada yang berdebar

Yang ringkih

Mengepakkan sayapnya

Mengatasi nyeri

Akan maut


Tak Terasa

Tak terasa sunyi terbelah dua

dan cintamu masih awet saja

Kumismu tak terasa beranjak dewasa

Makin jantan dan memesona

Tak terasa berapa dekade

Merdeka telah jadi penjara

Dan kanakmu yang lucu

Sudah tumbuh jua taringnya

Mau ngembara dan merdeka

Dari kungkungan dan pelukan waktu

Mau berpotret diri di sini

Untuk luka yang tak terasa

Dan tampang waktu

yang makin merana


Cinta Si Alex

Cuma sepotong kampus

Yang mesti dilipat

Dan sepotong sastra

Yang mesti digunting

Untuk isyarat cinta yang cuma angin lalu

Si Alex pria bermasalah itu

Belum siap menerima

bayangan di kamar mandi

dan hologram

di kejauhan pantai

Alex dilanda sepotong cinta

yang mosaiknya

ibarat badai sepi

tak berkesudahan


Filter Ketakutan

Aku pasang filter ketakutan

Supaya bisa sikat gigi dengan tenang

Filter etika untuk letupan tak terduga

Daun sirih dalam rangka kumur-kumur

Filter kejujuran untuk aku

Yang semakin tolol

Filter ketololan untuk bisa dikenang

Sebagai penampil berbakat

Kapal sandar tanpa filter untuk

Merompak dan menyisakan

Kuburan pembajak

Filter kenaifan agar tidak dituduh

Berpolitik hingga aku

Hancur menjadi pecahan filter

Yang bukan siapa-siapa lagi


Luka Kita

Semoga waktu sudi

Meminjamkan dirinya

untuk takdir yang menunggu


Bola Mata Adam

Pada adam ada satu kata atau satu nama

Yang masih rahasia

Testimoni: jangan beri dia bola matamu

Bola matanya bola mata Adam

Semua pesona ada pada Adam

Ia kesayangan Tuhan

Dari-Nya Adam belajar nama-nama

Dalam Adam ada Hawa

Nama baru bagi Adam

Testimoni: jangan sodorkan padanya namamu

Di lubuk hati Adam tersimpan

Segala nama yang dirahasiakan

Jangan kagumi Adam

Nanti ada yang cemburu

Jangan jebak Adam

Nanti lahir kisah-kisah baru

Pada Adam ada satu kata atau satu nama

Yang hingga kini masih rahasia

Di bola matamu.


Deny Firmansyah, S.S, bekerja sebagai staf litbang lembaga pendidikan di Bekasi.

Puisi

Puisi Khanafi

Bunuh Diri

: n

kau ingin berhenti bunuh diri

aku tahu.

pikiran-pikiranmu yang berkicau kacau itu

ingin kau padamkan dengan tembakan

dan dalam peluru panas itu

kuburanmu memisahkanmu pada rumah

tapi kau ingin selalu pulang, segera

katamu melayang-layang sungguh perih

tapi hidup pun tak menagih

jangan minum pil tidur lagi

sebab ia memakamkanmu perlahan-lahan

2022


Bekas Tembakan

: kurt cobain

di bekas tembakan itu

udara saling menjenguk

dalam suhu yang beku

di simpang waktu

kau mengucapkan dada!

sambil melambaikan tangan

bagi lubang bekas peluru leleh itu

ingatanmu tak juga rampung

kepalamu tetap riuh seperti suara penonton

saat konser sedang berlangsung

2022


Setelah Kepergian

setelah kepergianmu yang mendadak itu

tiba-tiba seluruh hari menjadi baik?

aneh kiranya memikirkan apa yang terjadi

kau begitu sulit mempertahankan diri

nyaris setiap hari kau merasa sepi

dan ingin mati saja

hari baik-baik saja, dan memang begitu

tapi kamu yang tidak baik-baik saja

lagu gelap itu terputar

mematahkan udara kamar

seorang perempuan cemas

tubuhnya lebam-lebam seperti

bakpao isi kacang hijau

yang nampak isinya dari luar

sehabis selamat tinggal itu

melayang memotong nadimu

darah menangis sepanjang lantai kamar

yang mulai dingin, lembab, dan

dikerumuti semut-semut

selembar puisi jatuh dipeluk darah

kata-katanya lebih merah dari darah

2022


Mendengarkan Musik-Musik Sedih

seorang perempuan suka

mendengarkan musik-musik sedih

ia memutarnya siang dan malam

waktu mengaku lelah dan bosan

memperingatkan maunya

yang tak pernah mengalah

tapi seperti halnya perempuan lain

yang sedang dilanda kepiluan

semua hari terasa beterbangan

mustahil disentuh dan ia

seperti berada di sebuah sudut terpencil

hanya ditemani dinding muram

dan suara lagu dari musik yang terputar

aku ingin sekali berkata padanya

kalau sepi dan musik bisa membawanya

hanyut pada makam-makam tua

tapi tentu saja aku tak bisa

sebab aku tak pernah mengenalnya

perempuan yang suka

mendengarkan musik-musik sedih itu

2022


Usaha Mengobati Patah Hati

ketika kau patah hati berbaringlah di ranjang puisi

bantal yang empuk dan selimut yang hangat akan memelukmu

sehingga kau tak merasa sendiri lagi

pandang pula langit-langit kamar puisi. kau temukan bintang-bintang

kau temukan angin menggulung awan dan udara putih lagi sejuk

dadamu tak usah berkobar-kobar api

rasakanlah semilir yang datang dan pergi

terkadang pikiran sumpek dan cupet itu berasal

dari dendam yang diam-diam merencanakan penyesalan

maka tak usahlah jalan-jalan di luar ada peperangan

lebih baik memasuki kamar puisi

membaringkan diri di ranjangnya yang peduli

dan sejenak letakkan kesedihan dekat jendela

sebentar lagi ia akan berubah jadi pot dengan bunga

atau guguran daun saja atau burung yang terbang ke angkasa

2022


Ibadah Sepi

jam dua pagi aku bangun dari kasur

suara detik nyaring

menyisir ke sudut ruangan terpencil

dingin memutih pada udara

air kran berbunyi menyentuh hati

aku terpaku pada bayang-bayang gaib

sajadah yang tergelar

kubah megah masjid entah

kepalaku seolah telah lepas dari tubuhku

dan mataku seakan menghapus ketakutan

dan menyisakan cuma keindahan

nyaris ke puncak puisi

2022


Putih

adalah buih-buih di pantai

adalah awan gemawan di langit

adalah lampu-lampu kota

adalah bulu-bulu burung

adalah hati seorang pecinta

yang serupa cermin bagi Kekasihnya

2022


Khanafi, lahir di Banyumas, Jawa Tengah. Tulisan-tulisannya berupa puisi, cerpen dan esai tersiar di berbagai media massa, serta terikut dalam buku-buku antologi bersama. Sehari-harinya bekerja sebagai editor lepas, penerjemah lepas, dan penjual buku-buku baru maupun lawas. Sekarang tinggal di Srandakan, Bantul, Yogyakarta bersama istri, sembari melukis dan bikin aneka kerajinan dan tentu saja masih terus aktif menulis. Penulis bisa dihubungi melalui email: [email protected].

Puisi

Puisi Ian Hasan

Mata Biru Gadis Penjaja Tisu

berburu waktu subuh

dikerumuni anak-anak waktu

bocah-bocah penjaja tisu

“belilah tisuku, Tuan!”

mereka berebut merajuk

saling berburu tangan

kuambil lembaran real

kubagi rata tanpa imbalan

sadari akulah sang tuan

seorang gadis berambut kepang dua

membuntuti sisa-sisa jemawa

“hei, tuan!”

“ya?”

“belilah tisuku, kataku!”

“tapi aku tak butuh.”

angin gurun terpiuh embun

luruh di tatapan mata biru

manakala kakiku tertahan

kata haram yang ia lontarkan

Karanganyar, Oktober 2022


Merpati Aisyah

di bibir pelataran masjidil haram

sejumlah bait tanya

kutuliskan berulang-ulang

mengapa saban hari

puluhan orang berdiri

dalam antrean panjang

demi giliran mendapat makanan

lalu mengapa sekali waktu

bocah kecil harus menjerit

setelah makanan yang ia dapat

koyak tumpah jadi rebutan

lantas mengapa pula

seorang perempuan berparas legam

yang bukan ibu kandung bocah itu

membagikan jatahnya

masih terbayang

jutaan puisi berhamburan

tersapu kepak sayap

merpati-merpati megan

Karanganyar, Oktober 2022


Tiga Biji Kurma

\ untuk ibuku,

berharap tersimpan rasa manis

di langit-langit kerinduanku

\ untuk istriku,

berharap tersampaikan rasa rindu

di setiap tengadah jemariku

\ untuk anak perempuanku,

berharap terpelihara rasa takwa

dari segala tindakan dosaku

Karanganyar, Oktober 2022


Trotoar Madinah

di bawah naungan pohon sukarno

kuhisap kretek sembari menghitung

betapa dekat jarak kepura-puraan

ke makam al-amin, sang terpercaya

di tengah alir gelombang manusia

dengan langkah-langkah tergesa

kulihat betapa luhur hasrat berlomba

menyiapkan hari-hari fana

pada wajah-wajah petugas kebersihan

yang selalu menghadang arah datang

kubaca alif ba ta nada meminta

tak sesulit melihat mereka bekerja

di sepanjang trotoar madinah

kurasa masih ada resah

terbawa dari rumah

Karanganyar, Oktober 2022


Surat Pendek

kutulis surat ini

pada tengah hari jumat suci

di jantung masjid nabawi

selesai al-insyirah di rekaat pertama

dan al-ma’un di rekaat kedua

kubetulkan kain ihram

sembari menulis kalimat pertama,

“Tuhan, betapa hanya kemudahan

dari yang kau maksudkan.”

namun terbukti

kesulitanku menuliskan

kalimat berikutnya

Karanganyar, Oktober 2022


Ian Hasan, lahir di Ponorogo, saat ini tinggal dan bergiat di Sanggar Pamongan Karanganyar, selain juga terlibat di beberapa komunitas, termasuk Komunitas Kamar Kata. Buku Kumpulan Cerpen perdananya berjudul Lelaki yang Mendapatkan Jawaban Atas Kisahnya Sendiri, terpilih sebagai finalis Hadiah Sastra Ayu Utami untuk Pemula “Rasa” 2022.

Puisi

Puisi Bintu Assyatthie

Semangkuk Pattola Menjelang Senja

Sepulang kerja

ayah menyuguhkanku pattola

hasil jerih payah

menanam tulang di tanah basah

Aku heran, bukan aroma pandan

yang menyeruak dari kuah kental campur santan

tapi bau anyir darah yang menetes dari dahan

siwalan di pinggir jalan 

Menjelang senja, pattola itu kukubur

bersama resah yang mendebur

kuingat petuah leluhur:

hidup dan mati takkan pernah akur

Totale, Agustus 2022


Lentera Pucuk Siwalan

Pohon siwalan tegak berdiri

menatap riuh luka yang perih

menjadi saksi sebelum rubuh

bersimpuh pasrah di pangkuan ibu

Bukan rembulan yang tampak sinarnya

di celah rimbun janur siwalan

tetapi lentera di pucuknya

memancarkan kemilau melebihi cahaya rembulan

Pohon siwalan yang tinggal sendiri

di jalan yang sering kita lewati

menelan pahit di antara deru mesin

menahan sakit saat janurnya mulai kering

Lentera itu serupa petaka

ada gulita yang tak mampu diraba

Ia bukan cuma cahaya

karena sinarnya tidak untuk siapa saja.

Totale, Agustus 2022


Bukan Sekadar Mimpi

Suatu hari, aku terjebak

dalam dunia asing yang sesak

tak ada jalan pulang, tersesat dalam pikiran

yang menuhankan keinginan

Dalam kegamangan, kusebut nama Tuhan

sayup-sayup kudengar sebuah bisikan

“Selama ini, siapa yang kau sembah siang malam?”

Aku tersentak, tidurku tak renyap

terjaga dari bayang-bayang suara yang lekap

Aku senantiasa menyembah mata

mendamba harta dan tahta

menghamba pada kata-kata

bersujud di haribaan rat yang sia-sia

Aku tersuruk dalam sesal yang nyata

mendebur keluh aurat semesta

aku ingin kembali ke rahim ibunda

ruang paling hampa, purna tanpa dosa

Totale, Agustus 2022


Petuah Seorang Pelaut

Laut memanggil

di sepertiga malam yang ganjil

raup mukamu dengan air

rapal doamu dalam dzikir

lalu melangkahlah tanpa getir

Satukan darahmu dengan laut

napasmu angin yang bergelayut

degup jantungmu, gejolak ombak

yang berkecamuk

Olle ollang…

pada laut nenek moyang

Olle ollang…

air laut bergelombang

Olle ollang…

jangan lupa untuk pulang

Totale, Agustus 2022


Karaeng Galesong

Selat Madura adalah saksi sejarah

di mana tonggak nyalimu terus menyala

api bagakmu tak henti membara

tanah air dijajah, darat laut digeledah

asap di udara tak jua reda

Saat Kerajaan Gowa patah

di kaki Sulawesi yang megah

tumpah di bawah meriam Belanda

kau pindah ke tanah Jawa

mencari tempat singgah

melanjutkan yang belum sudah

Dalam sukmamu, darah pitarah mengalir

restu Sultan Hasanuddin mencair

ayahandamu, ayam jantan yang mahir

Belanda pun merasa getir

Di bawah langit Madura yang temaram

bahtera juangmu tak pernah karam

kapanpun penjajah menyerang

lautmu mengekang, bidukmu melintang

Dengan Pangeran Trunojoyo kau berserikat

taklukkan Mataram dari jerat yang mengikat

kolonialis geram, tekadmu mengakar kuat

biarpun kau minggat demi selamat

girahmu masih perjaka dalam hikmat

Duh, Karaeng Galesong

Madura tak pernah kosong

menjunjung asmamu yang agung

dan tilasmu yang ulung

Totale, Agustus 2022


Bintu Assyatthie adalah perempuan pesisir yang belajar menulis dari hal-hal kecil. Aktif di media sosial: Instagram, facebook dan opinia dengan nama akun: Bintu Assyatthie.

Puisi

Puisi Adnan Jadi Al Islam

10 Maklumat Ngopi

/1

Di hadapan kopi yang tak berasa

Seorang peminum pernah tergesa-gesa

/2

Di hadapan kopi yang mengepulkan ilusi

Bayangan rumah tengah bermanifestasi

/3

Di hadapan kopi yang tak beresensi

Sekumpulan manusia lupa mengevaluasi diri

/4

Di hadapan kopi dini hari

Kemaksiatan acap menginvasi

/5

Di hadapan kopi yang tak lagi suci

Seorang wanita berulang mengkhianati

/6

Di hadapan kopi tanpa arti

Seorang laki-laki enggan membuka hati

/7

Di hadapan kopi tanpa bicara

Jemari lentik mengetik luka tanpa jeda

/8

Di hadapan kopi yang sakit hati

Ribuan rakyat tertikam sebilah janji

/9

Di hadapan kopi yang berpuisi

Selembar lautan tak henti menyanyi

/10

Dan, di hadapan kopi tanpa gula

Lidah cinta aktif menafsirkan rasa

/Februari, 2022


Nyanyian Laut

Sekeping fragmen sendu

menyilaukanku, sesaat,

portal terbuka: bibir pantai Sadeng

di sana, puisi-puisi pernah ruah

lewat pori-pori jilbab seorang wanita

pengenggam kamera

Seperti katamu dulu,

para nelayan hafal

siklus waktu kala laut

akan menyanyi

Sebelum hantu-hantu cemas dan bengal

menyebar ilusi di udara

dan dunia meleyot

oleh gema teriakan masa lalu

Kamera itu kelak akan terjun bebas

di dermaga ini

ketika arwah Edvard Munch turun

menggenggam tangan wanita itu

mengajaknya pulang

ke langit

Kini, aku masih termangu di sini

memindai album demi album dalam kamera sunyi

hingga sebuah foto menarikku kembali

ke sebuah dimensi, pada saat kau berhenti bernyanyi

pada saat aku, mesti melepasmu pergi

/Januari, 2022


Cahaya

: Tiara

Kenanganku tentangmu, kenangan tentang kesunyian rawa

selimut kambangan dan eceng gondok, pada pagi kelabu,

pada pancaran cinta dari lubuk mata para pemancing

dan kuar petrichor di antara uap nasi goreng

Kastil dalam diriku luruh, seseorang muncul

dengan langkah cahaya berjalan menghapus rimbun keraguan.

Ratu baru bertahta, menandaskan

mimpi-mimpi sepi yang masygul

Kau datang dengan kelembutan fajar

menyapaku lewat aroma Geranium rekah;

lengan angin menyapu ingus batu

yang getir sepanjang musim.

Ketika angka-angka berjatuhan dari langit

waktu: gigil

masa silam dan masa depan bersentuhan

menyebabkan letupan demi letupan pertanyaan

“Ilusi ataukah kenyataan?”

Kau makin kuasa dalam diriku.

Kehadiranmu adalah musikalisasi

semesta atas sajak senduku.

Maka kuhamparkan jalan

di mana kau akan suka

berotasi dan menyalakan

segala daya kemungkinan,

tentang kita.

/Februari, 2022


Bayang-bayang

Ketika kau menghilang,

waktu memanjang,

hari-hari sesak:

mejamu berteriak

berdebat dengan kursi di ruang guru

meredam bel tanda istirahat

membekap mulut mimpi kecil yang lapar

siapa singgah berikutnya?

mungkinkah sungguh berikutnya?

Senyum tanpa cahaya

sekejap layu mengantar bendera

yang tanggal bersama

lagu kebangsaan

Di dalam khidmat, tangis terkesiap

mengumpulkan mendung

di bawah matahari

aku mematung, sendiri,

coba melindungi

pendar jam dinding.

kutegur kegelapan

karena di setiap kedipnya

bayangmu selalu berkelebat

/Maret, 2022


Tempat yang Dicuri

: Dean Lewis

Tetapi aku tak sedang menunggu badai itu

pergi meninggalkan rumah kita

melambai dan membuat daun pintu menunggu selamanya

Yang kuinginkan hanyalah kekosongan;

mengakar di antara jemari ini sublim

terbawa angin dan memberi pelajaran

pada pohon-pohon arti kesendirian

Ataukah kegelapan lebih berarti

daripada kedustaan cahaya

yang acap membiaskan pelukmu?

Aku hanya ingin menghampar di atas pasir

mengasah telinga sembari memandang langit

apakah di atas sana

burung-burung tak pernah membenci badai?

Ah, berangkali luka adalah tafsiran waktu

atas masa depan kita: melampaui

memori yang menjatuhkan puing-puing keabadian

dan lenyap ditelan kenyataan

/Mei, 2022


Angin yang Berpulang pada Api

: Sapardi Djoko Damono (Alm.)

Aku seperti angin labil:

tidakkah sesekali ombak ingin tenang,

awan-awan butuh ketiadaan di samping kepastian,

dan akar pohonan terlalu purba menghadapi ujian

“Tetapi kewajiban kita hanyalah sakit

dan kita tak butuh hak untuk bertanya

bukankah kata-kata hanyalah riak,

sedang orang-orang menginginkan keabadian?”

Ah, aku ingin menjadi api yang tamak bekerja:

menebas tiap leher kegelapan yang bengal,

menandaskan malam dan udara dingin,

atau sekadar prototipe neraka sebelum surga

/Mei, 2022


Alibi

“Dia hanya baik, kenapa kamu baper?”

tanya gerbang kampus lima tahun silam,

setengah mewanti

“Hm, ya, biar jadi bahan bakarku nulis puisi.”

 jawabku—Tuhan tahu aku berbohong;

Atid lantas memainkan pena—

baru saja, saat kembali dari

acara pernikahannya

/Mei, 2022


Minggu Pagi di Bulan Juni

Sepi

yang menikah

dengan angin kemarin

mual-mual pagi ini

hujan bilang, ia tengah

mengandung bayanganmu

/Juni, 2022


Lelah

: Alan Walker

Dan aku telah kembali dari dalam dirimu

yang tak kutemukan lagi diriku, di sana

ke punggung bukit, memandangi danau dan bertanya

apakah kebebasan benar-benar ada?

Tapi tak seperti awan

kita hanya pura-pura tertambat

sekadar berjalan dan lenyap

atau—kalau beruntung—turut menggema ke angkasa bersama uap

Waktu: asing

burung dan dedaunan: beku

dingin—ingin

namun tak tersampaikan

/Juli, 2022


Adnan Jadi Al-Islam, lahir di Klaten, 21 Oktober. Lelaki galau, pengagum kata-kata, penikmat ojek penyet dan sambel welut. Sering insomnia lantaran kebanyakan kopi dan kenangan. Tulisannya tersebar di beberapa media cetak dan daring. Masih mukim di Klaten.

Puisi

Puisi Sofyan RH. Zaid

RITUAL

sebelum tidur

aku selalu peluk

dan cium keningmu

suatu malam

kau bertanya

kenapa

aku jawab:

“tidur tak menjamin kita bangun

dan bertemu lagi.”

2022


SKALA

tiga orang perempuan bersiap

kepala miring

dan mulai tersenyum

sebagai juru kamera

melalui lensa yang diperbesar

sekian skala

aku melihat

:ada seorang

dari senyumnya itu

mengalir air mata

2022


AKU MAU JADI GAWAI BAGIMU

untuk apa pertemuan ini

jika aku seperti bicara

dengan diri sendiri

kau hanya khusyuk pada gawai

dan abai padaku

-yang lama berdandan-

apalagi peduli pada rinduku

yang mengabu

padahal

aku pun mau

jadi gawai bagimu

walau harus mengisi daya

dan kuota sendiri

2018-2022


JIKA KAU CARI AKU

jika aku tiada di prosa, cari aku di puisi

jika tiada di puisi, mungkin di esai

tapi jika aku tiada di esai

jangan cari aku di catatan kaki!

2017-2022


SANDI GAWAI

aku sudah lama ganti fotomu

di layar gawaiku

meski sandinya

masih saja namamu

2018


PENSIUN

ternyata

puisi yang kita tulis

prosa

kini saatnya

aku jadi judul

dan kau titimangsa

biarlah kata melupa

maknanya sendiri

2021-2022


EKSISTENSIAL

aku suka menyelam di laut sajak

atau di sungai tubuhmu

hingga kadang lupa untuk bernapas

beberapa orang mencariku

mungkin sebab rindu

atau waktu yang memburu

sementara aku masih terus menyelam

mencari diriku sendiri

di dasar

2022


KADANG

kadang

kita butuh jarak

untuk tahu

rindu itu sesak

kadang

kita butuh temu

agar rindu terpendam

tak jadi dendam

dan kita

akan selalu butuh kadang

2021


TAWURAN ANTARKOTA

akhirnya, dua kota

yang sama menabung rindu

bertemu di atas panggung

menyatukan suara dan gerak

dalam pembacaan sajak

mata mereka serupa kamera

saling memotret

malamnya, selepas pertunjukan

saat penonton pulang

mereka diam-diam memasuki kamar

dan terjadilah tawuran

2021


Sofyan RH. Zaid lahir di Sumenep. Alumnus Filsafat dan Agama, Universitas Paramadina, Jakarta. Buku puisi tunggal pertamanya Pagar Kenabian masukmasuk 15 nominasi Anugerah Hari Puisi Indonesia 2015. Puisi-puisinya telah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, seperti Inggris, Arab, dan Italia yang dimuat dalam buku Oikos Poeti Per Il Futuro (Mimesis Classici Contro, Milano, Italia, 2020).

Puisi dan esainya juga terbit di sejumlah media. Kini tinggal di Bekasi sebagai editor, founder TSI Group, dan redaktur Sastramedia.com. Buku esainya yang akan segera terbit: Kaidah Puisi dan Akidah Kepenyairan.

Puisi

Puisi Bintu Assyatthie

Sepenggal Tanah Totale

I

Malam purba, hujan singgah

menjejaki sukma yang terjaga

basahi tanah tanpa nama

mengundang tanya tak sudah-sudah

Di atas Toalang,

jimat mantra bersimpuh lapang

lepas dari palung sunyi sang petapa

mendekap jiwa, melucuti raga 

Nabastala runtuh

ketika di dasar laut, sebongkah batu

jatuh ke pelupuk sesepuh

mendegup beku sekujur tubuh

pohonan kaku, daunan bisu

Seutas tali melilit erat

mengikat batu bersegi empat

serupa wangsit dalam tirakat

yang labuh dengan selamat

Dari rahimnya, lahirlah Totale:

bâto sé atalé*

dua kekuatan menyatu penuh misteri:

sudahkah penghuninya sekokoh batu

dan sekuat tali?

                   Totale, Juni 2022

*Bâto sé atalé (Bahasa Madura): Batu yang bertali/terikat tali.


Sepenggal Tanah Totale

II

Sumenep-Bali memahat sejarah

melukis pekat tumpah darah

Totale tabah menadah yang kalah

Bali berkoar, bendera berkibar

pasukan Sumenep terdampar

menyelinap pada semak belukar

batu yang dibabat tali dilempar

berlindung mengucap istigfar

Totale dikukuhkan

pasca ihwal mengharukan

sekeping tanah warisan

mengalir dari peluh zikir nenek moyang

Lihatlah sekarang

batu-batu telah dilindas

tali sengaja dilepas

ketajaman batin telah kandas

bahkan tandas sebelum semua tuntas

Totale, bukan tanpa nama

tetapi tinggal nama

seonggok batu tangguh ranap

seutas tali kukuh lenyap

                   Totale, Juni 2022


Si Buta yang Berkelana

Ia bisa lebih sunyi

senyap dari sengkarut duniawi

kekal menjelma abdi

khusyuk bergerak ke titik kembali

Ia bisa lebih liar dari ular

menjalar pada setiap sudut nalar

menyelinap ke relung belantara

menepikan logika yang lalai memaknai aksara

Ia bisa lebih dekat dari urat kepala

merajai setiap detak

mengalasi kaki yang berkerak,

mata yang jelalat serta mulut penelan pekat

Ia bisa lebih dari raja

meletakkan semesta di rongga dada

sebagai tangga, iapun memanjat tanpa mata

berpuasa dari kicauan kata-kata

Sejak itu, aku berguru padanya

mematahkan mataku dan ikut berkelana

                   Totale, Juni 2022


Si Bisu yang Berbicara

Bukan hening,

ketika mulutmu melumat abjad

pada lembar usang sehabis senja

ataupun saat fajar mengumbar merah.

Namun, telingamu tumbang

tak ada kata yang terdengar

selain dari liangmu yang sumbang

Ia tampak bungkam

sebagai kalam, ia tersuruk kelam

tenggelam dalam bayang-bayang hitam

tersudut pada rongga paling suram

Kau tahu,

dalam diam, ia lantang meneriakkan kebenaran

memuat puja paling mujarab

telaga di tengah bengis antero jagat

Karena itu, aku mengabdi padanya

mengangguk pada tiap suara

yang keluar dari kebisuannya

                   Totale, Juni 2022


Bertapa

Aku menunggu di sudut malam

di antara jajaran pohon siwalan

di tengah bebatuan yang berserakan

lafad demi lafad diagungkan

bergumul dengan cerita masa silam

Perihal siapa dan dari mana,

aku dihimpit tanya

Sukmaku berkelana

menapaki jejak penuturan

mencari pembenaran:

tanah tersirat di tengah lautan

Aku bimbang,

benarkah Bugis sebagai kota asal?

Sebab namamu masih sakral

tenggelam dalam sejarah yang nyaris dilupakan

Akupun menyangsikan,

ikatan sedarah dengan Raden Fatah, Siti Maryam

yang bersemayam di tanah Juruan

sebab, tilasmu tak terlihat

persis pusaramu yang niskala

Siapa dan dari mana,

masih diujung tanya

Duh, pengelana sejati

jejakmu semerbak bunga kasturi

pecahkan tabir misteri

datanglah kemari

meski hanya lewat mimpi

                   Totale, Juni 2022


Bintu Assyatthie, lahir dan besar di kampung kecil bernama Totale, tepian pesisir paling timur Pulasu Madura. Selain aktif mengajar, penulis juga aktif di organisasi kepenulisan, yaitu Rumah Literasi Sumenep, Komunitas Perempuan Membaca dan Komunitas Puan Menulis. Beberapa tulisannya bisa dibaca di blog pribadinya: cahayatotale.blogspot.com. Dapat disapa di Instagram dan Facebook Bintu Assyatthie. 

Puisi

Puisi Gandhang Kandhiridho

Wajah Mematung

kulihat seraut wajah mematung

dengan nasib terkatung-katung

pada bayangan lorong gelap

menyingkap tabir tak terungkap

“di sini tatapan sinis adalah lumrah,” ucapmu

“sebab kemurungan terlalu lama digelar

dan secuil senyuman kecut

telah menjadi kegilaan yang ramah.”

“lantas kenapa kau masih berdiri angkuh?” tanyaku, “sedang singgasana berduri tak kunjung kau rengkuh?”

“entahlah, aku sudah mencoba,” jawabmu

“dari mengibas tanganku sampai buntung

hingga melilitkan lidahku untuk dipasung

hanyalah kekosongan yang kudapat,

dan pada gelapnya lorong inilah

aku bisa merasakan kegetiran yang kudambakan

menikmati sepi yang meringkik dengan merayapinya

menikmati sunyi yang merangkak dengan merasukinya.”

(pelan-pelan ia melangkah pergi dan hilang ke dalam bayangan)

kini berbalik aku melihat wajahku sendiri

dalam wajah yang mematung itu.


Wajah

/1/

ribuan sembilu menyayat waktu

tangisan pilu bertalu-talu

lalu mengutuk

untuk memburu

wajah itu

/2/

pada sekeping cermin

yang disapu angin

kulihat wajah dingin

yang berwarna asin

wajahku, wajahmu atau wajah kita?


Hutan Beton

di kota ini bagiku

semua hal terasa asing

sedikit sekali yang tersisa

selain rimbun hutan beton

yang menjulang subur

di tengah kejomplangan

menghampar sepanjang pelupuk mata.


Hujan Kenangan

hujan ialah segala bait kenangan

yang tergeletak di tepian jalan

untuk dikunyah-kunyah

menjadi seperlima irisan jeruk

dalam sewadah es batu

yang dikupas di landasan kayu

lalu dituang ke mangkok kuah kari rasa keju

dengan beceknya bulir-bulir padi

dan diseruput tanpa puisi.


Ngopi Sederhana

aku ingin ngopi

dengan sederhana

tanpa gula

tanpa susu

tanpa kamu di sisiku.


Kecemasan

pada akhirnya semua memang kembali ke awal

ketika deru cemas di panas paling cadas

melahirkan percakapan yang menguap di udara

seperti sebuah pilihan yang kita pilih

meski tidak benar-benar kita pilih

bagaikan langkah maju dalam keanehan

yang mengaduk prasangka hari depan

seperti rumor bising dalam kegilaan

yang berembus dengan ketidakpastian

semua mengendap bersama pertanda buruk.


Histeria

seorang lelaki dengan raut sumringah tanpa keraguan

berjalan mantap menuju lapangan penjagalan

tempat dimana ia akan dipenggal bersama teman-teman seperjuangan

sesampai di sana ia bergumam lirih “betapa beruntungnya mereka yang tak ambil bagian.”

lalu tiba giliran, ia melangkah tegap naik ke panggung pemancungan seperti tanpa tekanan

saat algojo siap mengayunkan pedang, seluruh penonton pada kelabakan

melihat kejadian aneh di luar perkiraan, bukannya leher lelaki itu yang diserahkan

tetapi kelaminnya sendiri yang sudah tegang yang ia sodorkan

setegang penonton yang menyaksikan.

ia menyodorkan pada algojo yang siap menebas sembari berjabat tangan

penonton kelimpungan dan algojo sempat gelagapan

bahkan ada beberapa penonton yang jumpalitan

tetapi penonton dan algojo langsung sigap menguasai keadaan

apa yang sebenarnya ia bicarakan pada algojo ketika jabat tangan?

dan apa yang sedang mereka rencanakan?

sejurus kemudian terdengar desas-desus yang mengatakan;

ternyata mereka telah membuat perjanjian dengan suatu persyaratan

bahwa algojo akan menghentikan pembantaian

asalkan lelaki itu bersedia dan mampu menggantikan peran

dan tanpa babibu lagi ia setuju mengabulkan

lalu di luar dugaan penonton histeris ketakutan.


Matanya Meleleh

cahaya sore yang merambat

ke ruangan itu seakan enggan

menerpa parasnya yang memantulkan

ketenangan dan kerahasiaan

semesta

seiring matanya yang meleleh

bersama cemas

yang hinggap

dan mengendap

di sebutir peluh

ah… apapun itu

aku suka matamu.


Pada Sebuah Pagi

/1/

selamat bertandang ke rumah, hujan

makhluk di bumi sudah rindu

menyambutmu pulang.

/2/

senyummu dingin mengering

raib ditelan pagi menyingsing.

/3/

untuk apa susah payah menikam dadaku sendiri

bila mata itu telah lebih dulu membunuhku

mata itu adalah milikmu.


Hanyut

cakrawala terbakar hitam dalam

mendung itu

seakan mengiringi kepulanganku

yang kalah kuyup sepanjang jalan

di jalan aku menemui segala ketimpangan:

dari traffic light mati

lampu jalan yang redup

selokan mampet

lalu lintas macet

yang mengisyaratkan aku tuk berhenti

pada trotoar licin yang tergenang

berlumpur penuh lubang

sampai akhirnya kutemukan senyummu

yang mengambang

hanyut terbawa luapan

sungai hujan.


Gandhang Kandhiridho, lahir pada 4 April. Berdomisili di kota kelahiran, Surakarta, Jawa Tengah. Senang menuangkan kata-kata melalui medium puisi. Buku antologi puisi pertamanya berjudul “Rahim Waktu” (Teras Budaya Jakarta, 2021) dengan menggunakan nama pena “Dan Hermit”. Dalam waktu dekat (2022) sedang menyiapkan buku antologi puisi keduanya. Bisa dihubungi surel: [email protected] dan Instagram @gandha_ng

Puisi

Puisi Febriana

Hide away

A feeling of this

Depression is torching me

I’d like to go, please

Solo, 22 Mei 2022


Dream of the Wind

The wind is coming

I feel my body’s freezing 

I’m only dreaming 

Solo, 22 Mei 2022


Gabriella’s Eyes

Gabriella’s eyes

Shine as diamond in the sky

They are eagle’s eyes

Solo, 22 Mei 2022


Juwita Tumpuan Asmara

Kabut, kalut nan bernaung ruang

Peduli apa pada siang?

Bak gerombolan awan

Samar nan menawan

Asmara kau sulut

Kau kira kasihku surut?

Oh, Kau juwita tumpuan kalbu

Detak jantung mengiring rapalan mantraku

Merindumu bak tertusuk duri tajam

Kau lepas panah menderu menghunjam

Perih menempa jiwa

Apa guna raga bersuka

Rinduku menderu seluruh raga

Harap kuucap dalam sukma

Detik berganti tahun 

Pikirku mengharu hingga ke ubun

Sejuk merajuk semilir bayu

Bening mengalir tenang air mataku

Karangpandan, 13 November 2021


Soemarah

Senja menggiring hingga peraduan

Siapakah engkau, wahai Toean?

Merapal doa mengembus asa

Kecupmu tulus pada pelupuk mata

Para penghuni semesta

Harapan adalah doa

Doa adalah mantra

Dirapal dalam jiwa merasuk sukma

Toean, mantramu tertuju para pendosa

Kau pusar tujuh arah mata semesta

Kepada semesta tersemaikan

Benih kasih dan kepasrahan

Teguh bersikukuh bersimpuh

Pusar arah mata angin yang tujuh

Soemarah..Soemarah..Soemarah

Berserah pada semesta 

Payung penaung para resi pun pendosa

Soemarah..Soemarah..Soemarah

Kala berlaju saksi deru langkah

Para pencari hakikat dan makna

Solo, 8 Agustus 2022


Nasi

Jangan kau memusuhi nasi

Ingat nasib bapak ibu tani

Meski ini kolonial yang merekonstruksi 

Nanti kau kan susah sendiri

Jangan kau memusuhi nasi

Habiskan jangan buat basi

Berteman baiklah jangan emosi

Sudahlah makan, jangan gengsi

Solo, 22 Mei 2022


Aku Ingin

Aku ingin bertemu, dikau 

Dalam ramai dan sunyi 

Kutahu kau tahu

Kugenggam kasihmu 

dalam mimpi tak berujung

Namamu merajai bawah sadarku

Memenuhi ruang pikir dan hati

Wahai hidup yang paling hidup

Kematian yang paling nyata

Kau, lebih dekat dari napasku

Kau adalah aku

Aku, ingin bertemu

Kutarikan duka

Kupeluk suka

Aku ingin bertemu

Kuhempas rintangan 

Merayakan luka 

Mengamini doa

Aku ingin

Menyelami wajahmu

Kasih yang tak menyurut 

Solo, 27 Mei 2022


Jangkar

Aku adalah jangkar 

Meneguhkan hatimu 

Dari ombak yang menerjangmu

Tak perlu ragu 

Jangkarmu pengamanmu

Aku adalah jangkar 

Di depanmu menghadapi badai

Kau hanya harus kuat 

berpegang erat 

Kau kan selamat 

Aku adalah jangkar 

Percayalah pada nuranimu 

Meski kau tak melihatku 

Kau bisa merasakanku 

dengan yakinmu 

Solo, 27 Mei 2022


Febriana, ibu rumah tangga dan guru paruh waktu.

Puisi

Puisi Jihan Suweleh

Di Bandung

Rindu menikam

cinta menggali makam

pisau tertanam.

masa lalu

menjadi darah

dalam kakus.


Menjadi Ada

Aku ingin mati di hidupku

dan tumbuh di dirimu

sebagai sesuatu yang baru

saat hatimu basah

karena seseorang

biarkan aku merapal doa

tanpa pernah kau aminkan

saat dadamu bernanah

sebab luka tak sembuh lama

kutiupkan nyala tuk hapus lara

segala bentuk duka

tenggelam dalamku

berubah bunga yang mekar

tanpa batas waktu

aku mungkin tak ada

ketika kau berkaca

sambil menyisir rambutmu

yang patah-patah

karena shampo sudah tak pas

di kepala

aku mungkin tak ada

ketika kau mengejar

mimpi dan mengeja

kebahagiaan semu

yang kau catat dalam buku

biru berwajah laut

aku mungkin tak ada

setiap kau melihat dirimu

sendiri di dalam sunyi

yang terang dan pahit

dalam rekam medis

tetapi aku ada padamu

menggerakkan waktu

dan hidup sehidupmu

mati sematimu.


Menonton Horor

Sore itu kau bercerita

tentang film-film yang kau suka dan tak.

bagimu, kisah yang tayang di layar besar itu

adalah hiburan. cukup sebagai hiburan.

kau tak ingin berkomentar apa pun

jika jelek biarkan begitu

jika bagus pun tak berpengaruh

bagimu.

aku sepakat. bahkan seumur hidup

tak sanggup kuhapal adegan-adegan

dalam film meski kutonton berkali-kali.

kupikir kepalaku sudah penuh

dengan film-film yang kubuat sendiri

dan kau juga begitu

dalam kepalamu ada banyak darah

seperti adegan di film aksi dan horor yang

sebetulnya tak kau suka.

kau tak pernah suka.

Lima jam kita duduk bersama

membicarakan film dokumenter

dalam kepala

tiba-tiba kau bertanya, mengapa

sutradara membuat kisah

tentang hantu-hantu

yang setiap wajah mengingatkanmu

pada ibu dan teman ibumu

juga temanmu yang sudah menjadi

seorang ibu.

kau bertanya, mengapa

sutradara membuat kisah

tentang hantu-hantu

yang kakinya mengingatkanmu

pada ayah yang hampir tak pernah

terlihat oleh kita.

Kau mengenal seorang

perempuan yang hidup

sebagai hantu

berbaju hitam dan

bibirnya tak pernah berhenti

mengeluarkan asap

dia berbicara

banyak sekali

seperti memuntahkan

segala bentuk kamus

yang diciptakannya

sendiri.

Ayahmu mengenal perempuan

bertubuh pahit itu

yang mencium keningmu

lalu mengusap kepalamu

dan memintamu memanggilnya

Mama dengan M besar.

Ibumu mengenal perempuan

bermata beling itu

yang memelukmu kencang

seolah kau adalah anak

kecil yang lahir dari mulutnya

dan tak pernah tumbuh

menjadi gadis dewasa.

Aku juga mengenalnya

perempuan berkulit arang

menghapus isi kepala

ayah dan menggantinya

dengan memori-memori baru

tanpa pernah

kembali lagi.

Malam sudah mampir

kau berhenti bercerita

angin terasa lebih dingin

dari masa kecil kita.

kau menyudahi pertemuan

senyummu meninggi

punggungmu memudar

segalanya terekam

dalam kepalaku.

tanpa pernah akan

kuhapus.


Blokir

Air mata menjadi sepatu

berjalan sendiri

menabrak batu

terjebak di ruang kosong

bersama cicak dan laba-laba

yang tak dilihat keberadaannya.


Tak Pernah Ada Nanti

: AA

Kau adalah mimpi

dalam melek dan pejamku

catatan-catatan pada buku

cerita yang hidup

dan berlatar sungai

pun batu-batu

kau adalah doa

yang menolak berhenti

terucap dalam hati

kau selalu menjadi kini

selamanya

bertumbuh bersamaku

tanpa ada nanti.


Jihan Suweleh, lahir di Gorontalo, 14 Desember.