Puisi

Puisi Khanafi

menjaga hal-hal utuh tetap kekal

di taman ini

aku adalah ketakhadiran

cuma taman

ya, taman ini

yang ada

selalu terjadi

demikian

di manapun

aku adalah apa-apa yang hilang

adalah hantu

gentayangan

saat aku berjalan

membelah udara

& selalu hampa

bergerak masuk

tuk mengisi ruang

tubuhku berada

sedang aku tiada

kita semua pasti

punya alasan

tuk pergi & kembali

aku pun begitu

demi menjaga

hal-hal utuh tetap kekal

abadi seperti puisi


tak ada yang benar-benar pergi

berapa lama aku bertahan

dari kutuk perpisahan?

aku tak yakin, aku tak tahu

waktu habis

tuk mengingat segala

yang hilang

segala yang kekal

dari kenangan

apa yang berlalu, berlalu

aku telah mencoba yang terbaik

tuk percaya padamu

bahwa tak ada yang benar-benar pergi

(iya, aku imani) meninggalkanku sama sekali


menunggu

seseorang selalu menunggu

dengan sayap patah di punggung

di udara terbayang

dari kegelapan ke kegelapan jauh

dengan pohon & hutan

hujan & air terjun

yang perlahan digusur

peradaban modern

seseorang menunggu

seperti bumi menunggu


dilupakan

segala tempat melemparku jauh

aku tak lagi milik suaraku

atau tangan untuk sentuh

perasaan kelu tanpamu


ke puncak kesepian

dan tiap pergerakan

depan mataku

seolah semua yang berlalu

malam selepas malam

mengupas seluruh warna bintang

berlalu ke laut

mencari pulau

angin mengiring

ke mana aku pulang

kembali ke puncak kesepian


hanya angin yang menyapa

kucoba panggil kembali

alur & sosok dalam mimpi

hidup seperti sebelum pagi

kembali sibuk & sibuk

tak ada jalan untuk mimpi

menjadi kenyataan

segalanya cuma kata-kata

yang tidur di ranjang usia

menggambar daun gugur

di luar jendela terbuka

segalanya terasa akrab

seperti hari-hari yang pernah lewat

dengan kegelapan yang tak lama

bakal menyergap dindingnya

di mana kau gantung puisi-puisi

seperti lanskap cinta yang hancur

tanpa seseorang, hanya pintu

& jendela sesekali terbuka, tak ada

hanya angin yang berhembus

hanya angin yang menyapa


membuang waktu di ranjang

begitu banyak waktu terbuang

seperti guguran kenangan

& malam adalah alegori

untuk nasibmu yang kesepian

mimpi tetap berbaring di sisi lain

tidur yang merindukan seseorang

tapi bukankah kegelapan adalah seseorang

yang berembus di dinding kenyataan

begitu kosong begitu bohong

& kau menjadi tak yakin

jika dalam hidup yang singkat ini

tiap malam adalah sama

hanya memutar film bosan

& yang kau temukan

cuma tubuhmu

yang tidur monoton

yang melamunkan

seseorang yang hilang

yang selalu merasa

begitu terasingkan


mencari ketenangan

hujan jatuh, masuk ke ceruk mimpi

tiap malam kau dengar angin

berhembus seperti pikiran yang lari

di kamar ini, di ruang ini

dinding seperti batu nisan

suasana gerah musim penghabisan

dinding terkunci

& kau pun tak ada

selain seluruh malam

yang berpikir;

di mana tempat untuk tenang

ke mana kau pulang


Khanafi, lahir di Banyumas, Jawa Tengah. Tulisan-tulisannya tersiar di media daring maupun cetak. Sehari-harinya bekerja sebagai editor lepas, penerjemah, perancang sampul buku, dan penjual buku-buku lawas dan baru. Sekarang tinggal bersama keluarga di Yogyakarta, tengah menyelesaikan novelet pertamanya dan sedang mengulik satu buku terjemahan. Ia sesekali melukis untuk kebutuhan pameran pada suatu hari mendatang. Buku kumpulan puisinya yang telah terbit berjudul Akar Hening di Kota Kering (2021) mengalami revisi total, buku kumpulan puisi keduanya segera terbit. Penulis bisa dihubungi melalui email: [email protected].

Puisi

Puisi Khanafi

Bunuh Diri

: n

kau ingin berhenti bunuh diri

aku tahu.

pikiran-pikiranmu yang berkicau kacau itu

ingin kau padamkan dengan tembakan

dan dalam peluru panas itu

kuburanmu memisahkanmu pada rumah

tapi kau ingin selalu pulang, segera

katamu melayang-layang sungguh perih

tapi hidup pun tak menagih

jangan minum pil tidur lagi

sebab ia memakamkanmu perlahan-lahan

2022


Bekas Tembakan

: kurt cobain

di bekas tembakan itu

udara saling menjenguk

dalam suhu yang beku

di simpang waktu

kau mengucapkan dada!

sambil melambaikan tangan

bagi lubang bekas peluru leleh itu

ingatanmu tak juga rampung

kepalamu tetap riuh seperti suara penonton

saat konser sedang berlangsung

2022


Setelah Kepergian

setelah kepergianmu yang mendadak itu

tiba-tiba seluruh hari menjadi baik?

aneh kiranya memikirkan apa yang terjadi

kau begitu sulit mempertahankan diri

nyaris setiap hari kau merasa sepi

dan ingin mati saja

hari baik-baik saja, dan memang begitu

tapi kamu yang tidak baik-baik saja

lagu gelap itu terputar

mematahkan udara kamar

seorang perempuan cemas

tubuhnya lebam-lebam seperti

bakpao isi kacang hijau

yang nampak isinya dari luar

sehabis selamat tinggal itu

melayang memotong nadimu

darah menangis sepanjang lantai kamar

yang mulai dingin, lembab, dan

dikerumuti semut-semut

selembar puisi jatuh dipeluk darah

kata-katanya lebih merah dari darah

2022


Mendengarkan Musik-Musik Sedih

seorang perempuan suka

mendengarkan musik-musik sedih

ia memutarnya siang dan malam

waktu mengaku lelah dan bosan

memperingatkan maunya

yang tak pernah mengalah

tapi seperti halnya perempuan lain

yang sedang dilanda kepiluan

semua hari terasa beterbangan

mustahil disentuh dan ia

seperti berada di sebuah sudut terpencil

hanya ditemani dinding muram

dan suara lagu dari musik yang terputar

aku ingin sekali berkata padanya

kalau sepi dan musik bisa membawanya

hanyut pada makam-makam tua

tapi tentu saja aku tak bisa

sebab aku tak pernah mengenalnya

perempuan yang suka

mendengarkan musik-musik sedih itu

2022


Usaha Mengobati Patah Hati

ketika kau patah hati berbaringlah di ranjang puisi

bantal yang empuk dan selimut yang hangat akan memelukmu

sehingga kau tak merasa sendiri lagi

pandang pula langit-langit kamar puisi. kau temukan bintang-bintang

kau temukan angin menggulung awan dan udara putih lagi sejuk

dadamu tak usah berkobar-kobar api

rasakanlah semilir yang datang dan pergi

terkadang pikiran sumpek dan cupet itu berasal

dari dendam yang diam-diam merencanakan penyesalan

maka tak usahlah jalan-jalan di luar ada peperangan

lebih baik memasuki kamar puisi

membaringkan diri di ranjangnya yang peduli

dan sejenak letakkan kesedihan dekat jendela

sebentar lagi ia akan berubah jadi pot dengan bunga

atau guguran daun saja atau burung yang terbang ke angkasa

2022


Ibadah Sepi

jam dua pagi aku bangun dari kasur

suara detik nyaring

menyisir ke sudut ruangan terpencil

dingin memutih pada udara

air kran berbunyi menyentuh hati

aku terpaku pada bayang-bayang gaib

sajadah yang tergelar

kubah megah masjid entah

kepalaku seolah telah lepas dari tubuhku

dan mataku seakan menghapus ketakutan

dan menyisakan cuma keindahan

nyaris ke puncak puisi

2022


Putih

adalah buih-buih di pantai

adalah awan gemawan di langit

adalah lampu-lampu kota

adalah bulu-bulu burung

adalah hati seorang pecinta

yang serupa cermin bagi Kekasihnya

2022


Khanafi, lahir di Banyumas, Jawa Tengah. Tulisan-tulisannya berupa puisi, cerpen dan esai tersiar di berbagai media massa, serta terikut dalam buku-buku antologi bersama. Sehari-harinya bekerja sebagai editor lepas, penerjemah lepas, dan penjual buku-buku baru maupun lawas. Sekarang tinggal di Srandakan, Bantul, Yogyakarta bersama istri, sembari melukis dan bikin aneka kerajinan dan tentu saja masih terus aktif menulis. Penulis bisa dihubungi melalui email: [email protected].

Puisi

Puisi Khanafi

Mimipi di Kamar Sempit

kalau pagi hari memesan mimpimu seperti meletakkan kau

di sebuah ranjang yang asing, biarkan orang-orang tiba

sebagai pelayat atau sebagai pendusta yang pura-pura berduka

padahal sebelumnya tak pernah mengenalmu, atau waktu belah

kena gugur daun-daun mangga yang semalam habis dihajar cuaca

lalu datanglah kembali jalan-jalan asing yang pernah kau lalui itu,

membawa langkah rekaman dari gelisah yang sebelumnya pergi

menyusuri daerah-daerah tanpa wajah, tak pernah kau temukan

senyum juga ucapan yang tulus ramah, sepertinya itu akan jadi tepi

sebuah ruang berhenti ketika kau mimpi di kamar sempit yang

belum kau lunasi dan masih menunggu seperti lambaian tangan

2022


Penghuni Kota

kota kami dikawal oleh kecemasan, jalan-jalan kadang

merebahkan kenangan di hatimu, yang kembali memutar ingatan,

menyusunnya menjadi kesepian. kamu telah susah payah

belajar menulisnya, menyusuri kembali saat-saat suram

di tiap hari yang gelap, ketika doa tak lagi terbang bersama burung

ketika mimpi hanya mengarak rasa murung keliling kota

dan langit rupanya menunggu sambil mengucap kalimat beku

gedung-gedung pun menunggu gerak yang membelah waktu

inikah lagi daerah paling asing dalam hidup, tanah yang tak dimiliki,

ruang yang disewa, jalan memanjang membuat kami terlempar jauh

mungkin esok pagi kami telah kehilangan tubuh, sementara

mimpi ketakutan untuk kembali menjalani rutinitas tanpa henti

2022


Perantau

dengan bus yang asing kami dibawa ke kota asing, rumah-rumah

ditinggalkan musim. kami melangkah ke hari baru yang menumbuhi

kepala sepanjang jalan dengan harapan dan ketakutan, hingga pada

lampu-lampu jalan yang hampa kami terhisap sebagai bayang-bayang,

kami akan mencari tempat tinggal, jika tak ada kami akan berkelebat

seperti hantu di gang-gang, di jalan sepanjang tak ada rumah-rumah

dan kami ditumbuhi lagi oleh begitu luas dan lengangnya ketakpedulian

waktu bersama embusan angin seperti bahaya yang bisa membuat lupa

apakah kami telah memilih meninggalkan desa untuk menjadi terlunta?

2022


Hujan yang Baik

tak seperti pagi-pagi biasanya, hujan turun dengan ramah

setelah kumandang subuh surut pada pelantang bangun itu

jam-jam seperti meninggalkan jarumnya di mimpi untuk

melanjutkan tidur, suara membentur di atap begitu merdu,

seperti sayatan yang berkelebat saat pertama kali kauingat

pada sepi yang suka berdiri sendiri di tanggul ladang padi

ketika hujan yang sama mengajakmu bermain dengannya

kau tak perlu banyak bicara sekarang, berbaringlah sejenak

istirahatkan kakimu yang begitu ramah menyapa jalan-jalan

yang bernama-nama asing itu, mereka akan mengingatmu

bahwa di hari itu, pukul pagi yang sedikit ngilu, kau absen,

karena hujan yang baik ingin meninggalkan sesuatu dari

masalalu untuk kau pungut esok sebelum bertemu si maut

2022


Taman Awal Tahun

orang datang dan orang pergi, bunga-bunga mekar

pohon tumbuh sendiri, burung buat sarang di cabang

dengan ranting daun kering dan warnanya yang bunuh diri

kemarin sepasang kekasih berjanji ketemu di bangku situ

tapi di hari itu waktu begitu padat, nomor berjejal tumpat

halaman hanya cukup untuk empat capung dan seekor sepi

langit menjadi seperti bentangan pada bajumu, orang berlalu

seorang petugas kebersihan menambah personil baru, di sini

masih berkeliaran ribuan bekas napas yang bertukar-tukar di

bawah lampu, setelah pukul malam dan sehabis pagi masih

terkumpul sebagai guguran daun, beberapa potong sampah dan

selongsong kembang api yang terbakar mulutnya, juga sunyi

2022


Khanafi, lahir di Banyumas, Jawa Tengah. Tulisan-tulisannya berupa puisi dan cerpen tersiar di beberapa media massa baik daring maupun cetak, serta terikut dalam berbagai buku antologi bersama. Penulis berkhidmat di Forum Penulis Solitude (FPS). Sehari-harinya bekerja sebagai editor lepas dan penjual buku lawas. Buku kumpulan puisi pertamanya bertajuk Akar Hening Di Kota Kering (SIP Publishing: 2021). Sekarang bolak-balik Purwokerto-Yogyakarta sembari merampungkan novelnya dan sebuah buku kumpulan cerpen. Penulis bisa dihubungi melalui email : [email protected].