Cerpen

Ia Tak Ingin Dicintai

Cerpen Abdullah Salim Dalimunthe

Ia tidak ingin dicintai, katanya. Bukan sekadar tidak ingin, tapi lebih daripada itu, ia tidak segan-segan membunuh setiap lelaki yang nekat mengutarakan cinta kepadanya. Itulah sebabnya mengapa dirinya tidak pernah tinggal berlama-lama di suatu kota. Bahkan lebih gilanya lagi, pernah dalam satu tahun ia pindah tiga kali. Ti-ga ka-li. Bisa kaubayangkan? Berapa laki-laki yang mati konyol karena mencintainya pada setahun itu? Kau pasti terkejut apabila mendengarnya. Empat orang. Ya, bukan tiga, tetapi empat. Karena sebelum kepindahannya kali ketiga, ada dua pemuda yang berlomba-lomba mengungkapkan perasaan cinta kepadanya.

Alona, nama perempuan tersebut, berusia hampir tiga puluh. Namun, bila dilihat dari wajah dan penampilannya, maka siapa pun akan setuju dengan apa yang saya katakan, bahwa perempuan itu tampak lebih muda tujuh tahun dari usia yang sebenarnya. Kecantikannya memang tidak terlalu mencolok, tetapi, lelaki mana saja yang melihatnya pastilah merasa betah. Belum lagi jika lelaki itu sudah berinteraksi dan tahu bagaimana Alona bersikap, tentu laki-laki itu tidak akan pernah merasa bosan. Dan itu yang saya rasakan. Enggan beranjak darinya. “Sebaiknya engkau pulang sekarang, sebelum kau mulai mencintai saya, dan saya akan membunuhmu kemudian,” ujarnya mengingatkan–apabila saya sudah terlalu larut di apartemen mungilnya.

“Apa masalahnya bila dicintai?” tanya saya kesal.

“Masalahnya,” ia menggiring saya ke pintu keluar, “saya benci dicintai.” Alona sedikit mendorong–memastikan pintu itu tidak mengenai saya ketika ditutup.

“Kau terlalu takut, Alona!”

Usai meneriaki dan menudingnya sebagai makhluk aneh yang jelas-jelas menolak dicintai oleh siapa pun, seperti biasanya, saya melangkah dengan pikiran yang lumayan membingungkan. Begitu pula ketika berkendara menuju Danau Hefner, sepanjang perjalanan, saya memikirkannya–tentu dengan pikiran yang sedikit kacau. Baru kali ini, ada orang yang justru mengancam akan membunuh orang yang sampai nekat mengutarakan cinta kepadanya. “Sakit!” hardik saya–sembari melemparkan sebuah kerikil sekencang-kencangnya ke tengah-tengah danau.

Di sebuah bar yang cukup populer, di kawasan barat laut Oklahoma City, di sanalah saya pertama kali melihatnya–yang kemudian, beberapa hari berikutnya, saya berkenalan dengannya. Ia pelayan baru di bar tersebut. Saya tahu karena saya rutin berkunjung ke sana, hampir setiap petang. Jadi, saya hafal betul wajah-wajah mereka. Dan, yang menarik perhatian saya adalah senyuman Alona. Ia memiliki senyum yang sederhana, tapi tulus dan dalam–entahlah, agak sulit menjelaskannya, tetapi saya yakin, tidak banyak yang mempunyai senyum seperti itu, setidaknya di kota ini. Juga caranya melayani pelanggan; seperlunya, namun tetap ramah.

“Apa pekerjaanmu?”

“Saya penjual lukisan.”

“Penjual? Bukan pelukis?”

“Saya punya banyak kawan yang pintar melukis,” jawab saya sambil menyusuri jalan mengantarkannya pulang, “semoga itu cukup menjelaskan.”

Ia kembali tersenyum–bahkan tertawa kecil.

“Engkau sama sekali tidak bisa melukis?”

“Sebaiknya saya mengatakan tidak,” saya menoleh kepadanya, “daripada kritikus-kritikus itu membenci profesinya gara-gara melihat lukisan saya,” kali ini kami sama-sama tertawa.

“Jadi, dari negara bagian mana kau berasal? Utara? Selatan?”

“Bisa dari mana saja.”

“Biasanya tidak sesulit ini bagi saya untuk menebak seseorang,” saya menoleh lagi, “sepertinya kau telah menghilangkan aksenmu.”

“Mungkin karena sudah terlalu sering berpindah tempat,” ia menghentikan langkahnya sejenak, “sejak saya masih berusia delapan belas,” kemudian kembali meneruskan.

“Tenggara, benar?”

“Kau hampir saja benar,” jawabnya tanpa menoleh.

Lantas kami lanjut berjalan disertai obrolan-obrolan ringan–memperbincangkan hal-hal umum yang biasa diperbincangkan oleh orang-orang yang baru saja saling kenal. Hingga kami berada persis di depan apartemen mungilnya–ia menyewa sebuah kamar yang tidak jauh dari pintu darurat.

“Sepertinya saya akan sering menemanimu pulang,” seru saya sebelum ia masuk ke apartemennya.

“Asalkan kita berjalan kaki,” sahutnya singkat lalu tersenyum.

Kemudian saya bergegas kembali ke bar guna mengambil kendaraan yang tadi saya parkirkan di sana. Alona menolak menggunakan mobil. Ia lebih suka berjalan. Lagi pula, hanya memerlukan waktu dua puluh menit, tidak terlalu jauh, katanya.

Semenjak itu, saya mengubah jadwal berkunjung saya ke tempat tersebut. Tidak lagi petang hari, melainkan pada malam hari menjelang Alona bersiap-siap pulang. Dan, terkadang, saya datang ke apartemennya kala ia sedang tidak bekerja. “Saya berharap kau hanya bertujuan ingin berteman dengan saya,” ucapnya ketika tengah menyiapkan makan malam di dapur mininya.

“Apakah akan ada masalah jika saya menginginkan hal lain?”

Alona mengangguk, lalu tersenyum dan memandangi saya untuk beberapa saat sebelum melanjutkan meletakkan hidangan ke meja makan. “Masalah yang seperti apa?” tanya saya penasaran.

“Apa sebenarnya kau telah bersuami?”

Ia menyodorkan piring yang telah tersaji hot dog dan irisan kentang goreng di pinggirnya.

“Sebaiknya kita makan dulu.”

Saya mengambil makanan yang ia suguhkan. Dan, selama kami menikmati makan malam, saya semakin bertanya-tanya dalam hati–sementara Alona seolah-olah tidak memedulikan rasa penasaran yang kian menyelimuti saya.

“Jadi, ada apa sebenarnya? Masalah apa? Kenapa? Apakah ada sesuatu yang sangat serius yang saya lewatkan?” saya memberondongnya dengan pertanyaan-pertanyaan begitu kami menyelesaikan makan malam.

“Jangan pernah mengatakan bahwa kau mencintai saya.”

“Kenapa?”

“Karena saya akan membunuhmu.”

“Kenapa?”

“Karena mencintai hanya akan memberikan penderitaan bagi orang-orang yang ada di sekitar seseorang yang dicintainya.”

Saya diam cukup lama. Melihat saya yang kebingungan, Alona kemudian menjelaskan apa yang sebenarnya pernah terjadi. Ia menceritakan tentang masa lalunya. Tentang bagaimana ia dan kakaknya diabaikan oleh ibu mereka setelah dicintai seseorang. Pria itu sudah sejak lama menaruh perhatian kepada ibunya; semenjak ayah mereka meninggal dunia. Ia adalah pria yang sangat baik pada awalnya–sebelum akhirnya menjadi lelaki yang amat serakah. Lelaki itu lalu menguasai ibu mereka sepenuhnya. Mengajak ibu mereka pergi meninggalkan mereka setelah menikahinya. Padahal, Alona baru berusia sebelas tahun, dan kakaknya berusia tujuh belas.

“Meninggalkan kalian? Pergi begitu saja?”

“Ya, begitu saja. Dia dan laki-laki itu pergi ke Eropa.”

Hanya secarik kertas yang tergeletak di meja ruang tamu. Hanya itu–dengan satu kalimat yang teramat singkat: jaga diri kalian baik-baik, aku dan Mike akan tinggal di Eropa. “Dia pergi sebulan setelah pernikahan. Dan tak pernah kembali,” jelas Alona.

“Kau pernah mencari mereka?”

“Untuk apa? Mereka bisa berada di mana saja, Eropa terlalu luas. Dan, saya tidak punya waktu untuk itu,” jawabnya dingin.

Kemudian saya menatap ke arah lain. Kesedihan yang terpancar dari wajahnya terlampau dalam. Saya dapat merasakannya. Sebenarnya, saya pun mengalami hal serupa, kendati tidak setragis yang dialami Alona. Dulu, ketika seorang perempuan yang mencintai ayah saya berhasil masuk ke dalam kehidupan kami, saya juga merasakannya. Diabaikan. Ayah saya jadi lebih sering memerhatikan kekasihnya. Lebih peduli terhadap perempuan itu ketimbang saya. Dan, hal itu berlangsung cukup lama, hingga saya beranjak dewasa dan menjadi terbiasa dengan keadaan tersebut, sampai pada akhirnya sayalah yang meninggalkan mereka.

“Lima tahun kemudian, giliran kakak saya melakukan hal itu,” air mata Alona menetes, “dia dan suaminya pergi meninggalkan saya.”

“Meninggalkanmu sendirian?”

Alona tersenyum–getir.

“Hanya saja kota yang mereka tinggali masih bersebelahan.”

Lalu, ia mengusap air matanya dan berusaha tenang. Kemudian menyuruh saya untuk pulang. Sebelum pulang saya katakan kepadanya bahwa saya turut merasa prihatin. “Tidak perlu. Saya baik-baik saja. Saya hanya ingin memastikan kau tidak akan mencintai saya, terlebih mengutarakannya,” tegasnya. Saya mengiyakan–mengingat ketika itu ia mengatakannya dengan serius.

Malam-malam berikutnya Alona menjadi lebih terbuka kepada saya. Ia banyak bercerita ihwal para lelaki yang coba mendekatinya. Mencoba membuatnya jatuh cinta, namun percuma. “Sebab, pada akhirnya, kau membunuh mereka semua, iya, kan?” timpal saya.

Ia tertawa–seakan-akan hal itu menyenangkan.

“Sudah saya peringatkan sebelumnya,” ia teguk anggurnya, “jangan salahkan saya,” lalu meletakkan cawan tersebut dan meraih kotak rokok yang ada di sampingnya.

“Lantas, bagaimana caramu membunuh mereka semua?”

“Engkau sungguh ingin tahu?”

Saya mengangguk penuh semangat. “Bagaimana?”

“Setiap kali usai mengutarakan cintanya,” Alona berhenti sejenak, “saya akan membisiki mereka sesuatu.”

“Apa yang kaubisikkan?”

“Ma-ti-lah.”

“Lalu mereka mati?”

“Ya, tentu saja, mereka akan mati.”

Sulit rasanya memercayai apa yang ia katakan, tetapi Alona mengatakannya dengan sungguh-sungguh. Ia tidak berbohong. Kemarin malam, ia melontarkan kata itu kepada saya. “Matilah!” Ia tidak berbisik; justru meneriaki saya–yang saya heran, mengapa ia melontarkan kata itu kepada saya sementara saya belum mengutarakan apa-apa kepadanya.

Dan, sore tadi, saya tidak melihat Alona di bar. Ia tidak masuk kerja. Saya mendatangi apartemennya, namun ia telah pergi. Menghilang begitu saja. Lantas saya kembali ke bar dan menghabiskan banyak minuman. Sekarang ini, yang ingin saya lakukan hanyalah menceburkan diri ke dasar danau ini–dan, seharusnya kau tak berada di sekitar sini, harusnya kau di sana, di dekat mercusuar sialan itu. ***


Abdullah Salim Dalimunthe, tinggal di Bandung. Gemar menulis cerpen.

Cerpen

Kisah Cinta Abalawa dan Pohon-Pohon

Cerpen Sulung Pamanggih

“Sebenarnya ini sebuah rahasia dan cukup sensitif, tapi aku perlu menceritakannya padamu,” bisik Jafar dari balik punggungku, saat kami berboncengan naik sepeda menuju sekolah. “Jadi, aku lihat sendiri bagaimana Abalawa menggumuli pohon mangga di depan rumahnya.”

Saat itu, yang kuingat, Jafar suka mengoceh untuk sekadar mengisi kekosongan sebelum kami sama-sama tiba di sekolah. Sudah lebih dari dua tahun setiap pagi kami berangkat dengan cara seperti ini, tepatnya semenjak kami memasuki sekolah menengah pertama. Namun baru kali itu, apa yang dia katakan bikin aku nanap.

Tentu aku mengenal siapa Abalawa, bahkan sering menghabiskan waktu di rumahnya. Sekalipun aku berusaha tak memercayai ocehan kawanku, darah remajaku waktu itu teramat penasaran, bagaimana mungkin seseorang bercinta dengan sebatang pohon?

Abalawa memang menyukai tanaman, dan kupikir itu bukan sesuatu yang aneh apalagi patut dicurigai. Setiap hari, dengan postur tubuhnya yang kekar, ia berjalan mengelilingi tanaman sambil membawa ember, kadang bila hari sedang terik, ia menyemprotnya pakai selang air untuk sekaligus mengangkat debu-debu. Ia juga tak segan menceraikan akar benalu yang merambati tanamannya, dan tak pernah terlambat memberi mereka pupuk. Begitulah hari-hari Abalawa lalui. Meski sudah 55 tahun, ia kelihatan lebih muda dan selalu tampak ceria saat mengerjakan semua itu. 

“Kau jangan mengada-ada,” aku menegur kawanku sambil tetap memandang jalan dan terus memancal pedal sepedaku. “Ia memang mencintai tanaman, sama seperti orang pelihara sapi, mereka bakal habiskan banyak waktu dengan binatang itu.”

“Dengar ya, saat itu awalnya aku berniat tidur di rumah kakek, tapi larut malam tiba-tiba aku kepingin sekali pulang,” Jafar terus menjejalkan ceritanya. “Malam berangin dan dingin, tapi aku tak peduli dan terus berjalan kaki sambil menutupi kepalaku dengan sweater. Sampai di pelataran rumah Abalawa, tiba-tiba sekelebat bayangan muncul dari balik pohon, aku sempat mengira monyet, tapi mataku belum pikun untuk memastikan bahwa sosok tersebut ternyata Abalawa. Kau tahu apa yang dilakukannya? Dia memeluk sebatang pohon sambil menggoyang-goyangkan pantatnya seolah sedang mendekap tubuh wanita. Hei, kau masih mendengar aku?” Jafar menepuk pundakku.

“Siapa tahu dia sedang pipis.”

“Kau pikir aku tak bisa bedakan antara kencing dan kentu?” sembur Jafar di dekat telingaku, membuat sepedaku sempat oleng. 

Kuakui, saat kedua orangtua Jafar sedang pergi haji, kami pernah menonton film porno bersama-sama dari kaset vcd koleksi ayahnya. Banyak sekali kaset porno milik ayahnya, rata-rata terbitan Amerika, dan itu pertama kalinya jantungku berdebar tak keruan sampai-sampai susah bernapas. Dari pengalaman itu, kukira ia punya banyak bekal melihat adegan persetubuhan.

Sambil membonceng, kadang Jafar pura-pura membantu aku mengayuh sepeda dengan menempelkan kakinya di pedal bersebelahan dengan kakiku. Sekilas kami seperti kompak mengayunkan sepeda bersama-sama, tapi aku tahu dia tidak mengeluarkan tenaga, kakinya cuma menempel saja. Sialnya aku tak mungkin memintanya bergantian duduk di depan, sebab ia tak becus mengendalikan sepeda.

“Kau tetap tidak percaya?” Ia terus meraba-raba pikiranku. Aku diam saja, memandangi jalan yang membentang di hadapanku.

*

Kalau saja yang Jafar ceritakan adalah penjaga sekolah, atau petinju bernama Burhan yang membuka toko matrial di perempatan jalan, mungkin aku tidak akan begitu peduli. Tapi dia tahu, aku kerap bermain di rumah Abalawa karena kebetulan rumah kami bersebelahan. Saat suntuk, aku biasa memboyong buku-buku dan tiduran di bawah pohon mangganya untuk mencari udara segar sambil menggarap soal matematika.

Abalawa tinggal di rumah induk keluarganya seorang diri, sebab ia tak pernah punya istri apalagi anak. Sementara tujuh saudaranya yang lain sudah membangun keluarga dan hidup terpisah-pisah. Rumahnya tidak begitu besar, hanya saja memiliki halaman yang luas dan dikerumuni banyak pohon.

Dulu pelataran rumahnya pernah dijadikan lapangan bulu tangkis, dibangun dengan bambu sebagai garisnya. Satu-satunya lapangan yang pertama kali dimiliki kampung kami, begitu Abawala sering membanggakan masa lalunya. Sampai kemudian muncul lapangan lain yang lebih menawan, dilengkapi lampu penerangan dan bangunan gedung yang mampu menepis angin. Sejak itu orang jarang bermain bulu tangkis di sana, dan Abalawa kian menumbuhkan minatnya berkebun dengan menanam banyak pohon.

Ia akan menyetorkan mangga, jambu air, delima, sirsak, kelengkeng atau apa pun yang tengah berbuah kepada juragan yang setiap musim panen sering kujumpai berkeliling kampung sambil membawa keranjang besar. Sebagai ganti mereka memberinya uang yang akan Abalawa pakai untuk menopang keperluannya. Jadi wajarlah bila ia teramat mencintai tanamannya, dan tak rela tangan-tangan jahil mengusiknya.

Pernah sepulang sekolah Jafar diam-diam memanjat pohon mangganya. Lalu Abalawa yang mengendus tingkahnya dari dalam rumah langsung keluar sambil meraup kerikil dan menyambarnya. Bunyi kerikil yang menghantam daun mirip hujan deras. Itu membuat kawanku tersungkur dan langsung terbirit-birit.

Seorang pengamen yang tak tahu apa-apa juga pernah kena sial. Ia sedang berteduh di bawah pohon jambu sambil menghitung uang. Mendapati banyak jambu air bergelayutan siap santap, dia tergoda memetiknya. Tak lama setelah itu, lonjoran kayu balok mendarat persis di mukanya. Ia melejit sekencang-kencangnya sampai-sampai melupakan beberapa uang receh yang sedang disortirnya. Beruntung, satu-satunya gitar yang ia miliki masih menempel di pundak.

Meski begitu, aku tahu Abalawa menyayangiku. Saat berusaha menggapai buah di dahan yang tinggi, ia kerap membantu mengambilkan galah. Sering pula ia menyisakan panen mangganya untuk sengaja diberikan kepadaku, bahkan mau mengupas kulitnya untuk aku. Mungkin karena hampir setiap hari aku berada di sana untuk menemaninya. Aku tak pernah menolak saat ia memintaku membelikan rokok, atau memijat badannya saat ia mengeluh pegal-pegal dengan cara menginjak-injak punggungnya. 

“Kau sering makan buah, tapi berat badanmu tak bertambah juga,” ia sering berkata begitu. 

Ketika aku pulang, ia tidak jarang membawakan aku sekantong jambu, atau pepaya yang hari itu kebetulan sedang berbuah. Karena kebaikannya, kadang ibuku memintaku membawakan lauk untuk Abalawa. Kami pun menjadi seperti keluarga. Aku curiga jangan-jangan Jafar cuma iri kepadaku, dan mulai mengarang cerita yang bukan-bukan. Aku tahu, banyak kawanku mendambakan mangga Abalawa yang terkenal manis dan tak pernah cukup bila hanya melahapnya satu butir.

Tapi ucapan Jafar benar-benar sudah mengotori kepalaku. Membayangkan bagaimana Abalawa menempelkan kemaluannya pada pohon mangga membuat aku tiba-tiba merinding. Itukah yang membuat rasa mangganya teramat enak? Brengsek betul Si Jafar. Tak lama aku pun menghentikan sepeda, menoleh ke belakang, dan berkata, “Kalau kau menyebar cerita yang bukan-bukan, silakan turun sajalah.”

Namun si mulut jahanam kawanku itu tetap membatu, tak beringsut sejengkal pun dari sepedaku.

“Lebih baik kita buktikan sendiri nanti malam,” katanya, tak bosan meyakinkan aku. “Buruan, nanti kita terlambat.”

*

Aku tidak pernah memungkiri, apapun yang ditanam Abalawa selalu subur, berbuah lebat, dan rasanya juga lebih memikat bila dibandingkan dengan buah yang tumbuh di tempat lain. Misalnya saja dengan pohon mangga yang berdiri di belakang kelas kami, meski satu jenis rasanya tak ada apa-apanya. Demi tujuan itukah Abalawa akhirnya tidak menikahi manusia?

Suatu hari ibuku pernah bercerita, Abalawa sempat berpacaran dengan anak seorang pegawai pabrik gula. Namun satu hari setelah ia melamarnya, perempuan itu ketahuan main serong dengan pria lain. Sejak itu Abalawa memutuskan menjadi kader sebuah partai politik, dan aktif mengikuti berbagai kegiatan. Namun begitu pemilu tiba, partainya selalu kurang peminat dan ia tak pernah dapat jatah duduk di kursi dewan. Untuk menjaring banyak suara, kata ibuku, dia sempat membangun lapangan badminton di halaman rumahnya. 

Bisa jadi karena patah hati, Abalawa akhirnya lebih memilih menggumuli pohon. Pohon-pohon memang tak pernah berbohong. Tapi memikirkan itu membuat perutku mual, kepalaku mendadak pusing. Gara-gara Jafar, rasanya aku ingin memuntahkan seluruh isi perutku. Mestinya aku tidak usah peduli dengan ucapannya. Tapi apa yang ia katakan sungguh-sungguh meyakinkan. Bahkan ia berani bersumpah tertabrak mobil bila berbohong. 

Saat itu, akhirnya aku memboyong rasa penasaranku kepada Pak Yosi, guru yang kerap berdiri di depan kelas untuk mendongengi kami betapa bahayanya seks bebas. Ketika bel istirahat menggiring anak-anak ke kantin, aku buru-buru mencegat Pak Yosi yang tengah berjalan di depan ruang kelas, dan memberanikan diri bertanya.

“Mungkinkah manusia menikahi pohon?”

Mendengar pertanyaanku, dia malah meringis. “Kau kesurupan apa tiba-tiba ngelantur begitu?” 

“Tetanggaku begituan dengan pohon,” aku menjelaskan. 

“Begituan, maksudmu berhubungan badan dengan pohon?”

“Semua orang bilang begitu.”

“Omongan orang kau percayai,” ia melangkah menuju ruang guru sambil menenteng bukunya, tapi aku terus membarenginya.

“Mereka bersumpah sudah melihatnya, jadi sebenarnya aku cuma ingin tahu, apa mungkin manusia menjalin asmara dengan pohon selayaknya hubungan suami istri?”

Entah bagaimana dia kemudian berhenti dan menatapku selama beberapa saat. Aku balas memandangi matanya dengan tatapan berharap. Sambil memegang pundakku, dia mengajak duduk di kursi panjang di depan ruang guru. Setelah itu ia memberiku penjelasan, yang menurutnya untuk sekadar pengetahuan. 

“Begini, kau juga mesti tahu, ada juga seseorang yang hasrat seksnya bisa langsung melonjak saat melihat sebuah mobil tabrakan.”

“Mana mungkin?”

“Itulah yang dinamakan kehidupan. Ia begitu luas.”

“Jadi, seseorang juga bisa berhasrat dengan pohon?” aku mendesak.

 “Istilahnya Dendrophilia,” katanya. “Tapi kasusnya cukup jarang, sebagian besar dari mereka hanya suka memeluk pohon untuk kesenangan, tidak sampai dorongan ke arah hubungan badan, meski tetap saja hal seperti itu benar-benar ada.”

Tak lama setelah itu, aku cepat ke toilet, mengunci pintu, dan muntah.

*

Terus terang itu rahasia besar kehidupan yang pernah kudapatkan di usia remajaku. Memang sulit kucerna, tapi paling tidak aku sedikit memahaminya. Aku tak mengira akan mengenang semua itu setelah dua puluh tahun kemudian, saat aku berada di dalam kereta untuk menghadiri pemakaman Jafar. Aku mendapat kabar dari grup WA alumni sekolah, bahwa kawanku meninggal akibat tersedak saat makan salak. 

Ada banyak peristiwa yang sudah kulewati, namun semuanya tak benar-benar bisa hilang. Sekalipun aku bersikeras melupakannya, saat-saat tertentu kenangan itu terangkat lagi, lalu menyalak-nyalak seperti anjing kelaparan. Meski tak sampai menggigit, ia membuat gaduh. Aku sudah berusaha menguburnya dalam-dalam dengan meninggalkan kota itu, tapi kenangan ternyata memang tidak pernah kemana-mana. 

Malam itu, ketika Jafar mengajakku mengintip Abalawa untuk membuktikan perkataannya, aku menolak dan bahkan mengusirnya dengan beralasan sedang tak enak badan. Tapi aku terus diserang gelisah dan rasa penasaran sampai sulit memejamkan mata. Pukul 02.00, akhirnya aku nekat sendirian keluar kamar dengan hati-hati agar tidak sampai menimbulkan suara, lalu mengendap menuju rumah Abalawa. 

Aku terkejut mendapati Abalawa sudah berdiri di sisi pohon. Dari balik semak, sambil menahan gigitan nyamuk di kakiku, aku terus menyembunyikan diri. Dalam keremangan, tiba-tiba aku seperti melihat sosok perempuan yang kukenal, ia mirip ibuku, menyembul dari balik pohon. Dengan kaki bergetar, aku memaksa diri untuk terus diam dan menahan napas. 

Di hadapanku kini terbaring kuburan Jafar. Aku terlambat mengikuti prosesi pemakamannya, lalu menyusul ke kuburan. Gundukan tanah masih terlihat basah. Sampai sekarang, aku tak pernah menjelaskan pada kawanku apa yang sebenarnya terjadi malam itu.

Pemalang, 2020


Sulung Pamanggih, tinggal di Pemalang, Jawa Tengah. Menyelesaikan kuliah di Universitas PGRI Semarang 2014, jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Kini Wartawan di Radar Tegal. Cerita pendeknya pernah dimuat Basabasi.co, Harian Kompas, Suara Merdeka, serta terhimpun di beberapa antologi cerpen.

Cerpen

Seorang Remaja Ditemukan Tewas di TPA Lingkar Selatan

Cerpen Tjak S. Parlan

Ketika hendak menghunjamkan pisau untuk ketiga kalinya, ujaran Ahmad Saleh terngiang kembali di telinga Fahmi Idris: ‘Jangan bodoh! Kalau ada maling atau rampok, diam saja. Orang-orang toh akan keluar rumah setelah semuanya beres. Kecuali kamu mau mampus!’

Fahmi Idris telanjur mengangkat tangannya—dan pisau ituteracung gemetar, menunggu bersama kilatan cahaya kembang api yang terbakar di langit. Dalam amarah yang nyaris tidak tertanggungkan, dia masih sempat mengingat apa yang pernah disampaikan oleh kawan lamanya itu.

Namun ada ingatan lain—dan ini jenis ingatan yang begitu kuat— yang membuatnya berubah pikiran. Pada sebuah dini hari, dia pernah dipaksa bertekuk lutut di rumah kontrakannya. Seorang laki-laki berotot yang hanya mengenakan cawat dan menutupi wajahnya dengan topeng, menodongkan linggis tepat di ujung lehernya. Sementara, dua orang lainnya—yang juga bertopeng, hanya mengenakan cawat, dan masing-masing bersenjatakan parang—menguras habis barang-barang miliknya. Tidak banyak yang dia miliki: sebuah TV LED, DVD player, dan dua buah gawai. Darahnya terasa mendidih mengingat foto-foto anaknya yang baru berusia satu tahun tersimpan dalam memory card yang melekat pada kedua gawai itu. Dia menyesal karena belum mengikuti saran istrinya untuk mencetak sejumlah foto keluarga. Dia berusaha melawan dan hampir tidak terkendali. Namun dia harus memilih ketika laki-laki berotot yang keringatnya menguarkan bau amis itu mengancamnya agar tetap diam jika tidak ingin terjadi apa-apa dengan istrinya. Istrinya berada di kamar dengan tubuh gemetar, berusaha menyusui anaknya yang menangis. Selepas para garong itu pergi, dia berharap bisa membeli senjata api dan bersumpah akan menembak siapa saja yang menyatroni tempat tinggalnya. Namun, rupanya itu mimpi sial belaka. Sudah dua tahun sejak kejadian itu—dan dia harus pindah ke rumah petak yang semrawut dan sempit— dia bahkan belum bisa membeli sebuah televisi.

Pisau itu menghunjam sekali lagi, tapi kali ini tidak tepat sasaran. Fahmi Idris bisa merasakan ujung pisaunya hanya membentur tulang lengan yang keras. Sebuah erangan pendek terdengar dari sosok lawan. Tanpa dinyana sedikit pun, tiba-tiba sosok lawan itu bersujud di bawah lututnya dan meminta belas kasih.

“Tolong lepaskan! Ini saya. Maafkan saya. Tolong, saya hanya ikut-ikutan!” suara itu terdengar lirih dan tertahan.

Fahmi Idris segera menjambak kepala sosok yang sedang berlutut di depannya. Setelah menjambret masker yang menutupi sebagian wajahnya, Fahmi Idris terhenyak. Dalam remang cahaya lampu dia menemukan wajah yang dikenalinya.

“Bangsat kamu, Jen! Anjing sialan kamu! Bangsat sekali kamu!” Fahmi Idris memaki-maki.  

Jen alias Zaenal Arifin kembali menekuk tubuhnya, bersujud seraya memegangi kaki Fahmi Idris. Fahmi Idris menjadi tidak enak hati. Sekelebatan bayangan wajah Ahmad Saleh mampir dalam benaknya. Bagaimana mungkin sosok yang nyaris ingin dihabisinya itu adalah anak dari kawannya sendiri. Dia memang jarang bertemu dengan Jen. Tapi dia mengenalnya cukup baik. Bagaimanapun untuk urusan-urusan tertentu Fahmi Idris kerap berkunjung ke rumah Ahmad Saleh yang hanya dipisahkan sejumlah gang di permukiman yang padat itu. Dalam sejumlah kunjungannya, Fahmi Idris bertemu juga dengan Jen yang pendiam.

“Kamu butuh uang?” Fahmi Idris geram, berusaha menahan amarah. “Kamu baru nenggak apa, sampai-sampai mau mengambil barang seperti ini? Di tempat saya lagi. Kamu taruh di mana otakmu?”

Jen membisu. Sesekali saja, gerak tubuhnya seperti sedang menahan kesakitan. Tidak ingin amarahnya meledak, Fahmi Idris menghardik remaja belasan tahun itu agar cepat pergi dari hadapannya. Tanpa menunggu lebih lama, Jen pun bangkit. Sesekali langkahnya tersuruk, lalu menghilang di ujung gang.  

Selepas Jen pergi, Fahmi Idris menyalakan sebatang rokok. Dia tidak habis pikir dengan kejadian yang baru saja dialaminya. Hari itu, gerimis turun sejak sore dan dia terjebak di rumah seorang kawan. Dia tenang-tenang saja. Tidak sedang diburu waktu, tidak sedang ada yang menunggu. Istri dan anaknya pulang ke kampung halaman. Mereka telah sepakat, sementara Fahmi Idris berusaha mencari tempat tinggal baru yang lebih layak, anak-istrinya pulang ke rumah orang tuanya dulu. Secepatnya—mungkin awal tahun seperti janjinya—Fahmi Idris akan menjemput anak dan istrinya. Rencana sepertinya berjalan lancar. Fahmi Idris mendapatkan sebuah rumah kontrakan di sebuah kompleks perumahan di pinggiran kota. Bisa dicicil tiga kali dalam setahun. Setidaknya itu menurut informasi Ahmad Saleh. Untuk hal-hal semacam itu, reputasi Ahmad Saleh tidak perlu diragukan. Dia adalah jenis makelar yang bisa mencarikan apa saja bagi orang-orang yang membutuhkan, mulai dari rumah kontrakan hingga sepeda anak bekas. Seminggu yang lalu Fahmi Idris mendapatkan upah yang layak untuk pekerjaannya. Dia menyisihkan sejumlah uangnya untuk membeli sebuah sepeda anak beroda tiga. Bekas, tapi masih mulus. Masih layak untuk membuat anaknya bergembira ketika kembali ke tempat yang baru nanti. Dia mendapatkan harga khusus dari Ahmad Saleh. Meskipun begitu, sebagai seorang yang ahli membongkar-pasang segala sesuatu, Fahmi Idris tidak tinggal diam. Menjelang sore, sebelum pergi ke rumah seorang kawan, dia memeriksa kembali sepeda itu. Mencucinya dengan bersih, mengencangkan sejumlah baut yang kendor, memastikan semua baik-baik saja. Dia dihinggapi kehahagiaan yang meluap-luap hingga lupa memasukkan kembali sepeda itu ke dalam kamar kontrakan. Menjelang pukul dua belas malam dia tiba kembali di mulut gang menuju kamar kontrakannya. Sesuatu yang tidak pernah dibayangkannya pun terjadi.

Dia begitu tenang berjalan memasuki gang buntu yang lengang itu. Gerimis sudah reda. Bau anyir-busuk dari got di sisi gang, membuat semua orang ingin bergegas ketika melewati gang itu. Tapi aroma uap anggur merahyang menguar dari mulutnya sedikit mengurangi efek bau tidak sedap. Orang-orang yang tinggal di ujung gang buntu itu lebih suka kongkow-kongkow di tempat lain. Kecuali mereka, satu-dua bandar kere yang bertransaksi sepoket dua poket ganja dengan para pemakai pemula. Dua hari sebelum malam tahun baru, tempat itu dibersihkan oleh aparat. Ada tiga bandar terciduk: ganja dua orang, sabu satu orang. Barangkali karena itulah, malam tahun baru tidak memberikan kemeriahan apapun, selain kilatan cahaya kembang api dan bunyi ledakannya yang sesekali dikirim dari tempat lain ke langit di atas gang buntu itu.

Menjelang ujung gang, dia berpapasan dengan dua orang. Ada yang terasa ganjil ketika dua orang itu menunduk berlagak sopan—hal yang tidak biasa terjadi di tempat itu. Apalagi setelah disadarinya bahwa salah satu di antaranya sedang memanggul sebuah sepeda anak beroda tiga. Spontan saja Fahmi Idris melayangkan tendangan sekeras-kerasnya. Sosok yang memanggul sepeda pun terjerambab, sementara yang satunya lari terbirit-birit. Fahmi Idris segera melolos sebilah pisau dari balik jaket jeans lusuhnya. Sejak peristiwa naas yang menimpanya dua tahun silam, kemana-mana dia selalu membawa pisau itu. Pisau dapur belaka, tidak begitu tajam, tapi cukup bisa diandalkan untuk melukai siapapun yang mengancam harga dirinya.

“Anak ingusan sialan!” dengus Fahmi Idris seraya menjinjing sepeda kecil itu dan membawanya kembali ke kamar kontrakannya.

***

Ketika Fahmi Idris akan memulai pekerjaannya, tuan rumah yang ramah itu—melalui seorang asisten rumah tangga—menyuguhkan segelas kopi. Tuan rumah itu seorang laki-laki tua berkacamata tebal. Dia duduk di sebuah kursi kayu di teras rumah dan menceritakan sejumlah gangguan yang terjadi pada AC di rumahnya. Pagi itu dia telah menelepon Fahmi Idris untuk menggantikan tukang AC langganannya yang sedang libur. Dia berbicara seraya membuka halaman demi halaman sebuah surat kabar. Sesekali dia juga mengomentari berita yang sedang dibacanya.

“Kota ini sudah tidak nyaman lagi untuk tempat tinggal,” ujarnya. “Asli orang sini?”

“Saya datang dari pulau seberang,” jawab Fahmi Idris.

“Oh,” tanggap tuan rumah. “Bayangkan, sepagi ini sudah ada tiga berita mengenaskan.”

Fahmi Idris mendengarkan dengan saksama komentar-komentar tuan rumah. Dia mulai menebak, mungkin yang dimaksud adalah berita seputar kecelakaan. Biasanya memang seperti itu. Malam pergantian tahun selalu menyumbangkan angka kematian di jalanan.

“Seorang remaja ditemukan tewas di TPA Lingkar Selatan,” lanjut tuan rumah. “Luka tusuk di perut dan …”

Kalimat itu tidak bersambung. Tuan rumah berdiri seraya mengangkat gawainya yang bergetar di atas meja. Dia melangkah melewati pintu samping rumah, berbicara sebentar, lalu kembali untuk memberikan sejumlah instruksi kepada Fahmi Idris. “Oke, dimulai saja. Saya ada urusan sebentar,” ujarnya kemudian.

Fahmi Idris menyesap kopinya sekali lagi. Dia berpikir untuk segera menyelesaikan pekerjaannya. Ketika memindahkan gelas kopinya ke atas meja, matanya tertuju pada sebuah halaman surat kabar yang terbuka. Dia membaca dalam hati sebuah judul berita: Seorang Remaja Ditemukan Tewas di TPA Lingkar Selatan. Berita itu menempati seperempat bagian halaman surat kabar. Sebuah foto hitam putih memperlihatkan dua orang petugas sedang mengusung kantong mayat di dekat sebuah mobil ambulance. Di sebelah kanan atas foto itu disisipkan sebuah inset fotoyang menampilkan wajah korban semasa hidup. Fahmi Idris gemetar menatap foto itu. Dia membaca keterangan foto dan menemukan sebuah nama yang sangat dikenalnya. Tidak percaya, Fahmi Idris mencoba menekuni foto itu sekali lagi. Dia bisa mengingat dengan jelas, wajah remaja itu pernah dilihatnya terpampang di dinding rumah Ahmad Saleh. Fahmi Idris menelusuri berita itu, kata demi kata hingga tuntas. Dia mengulang-ulang bagian yang menjelaskan luka di tubuh korban: Luka tusuk di perut bawah sebelah kiri.

“Mari, Pak. AC-nya di sebelah sini.”

Fahmi Idris bangkit dari kursi, mengekor asisten rumah tangga itu. Bulu kuduknya terasa merinding. Dia teringat kembali setiap rincian kejadian malam itu.

***

Ahmad Saleh kembali menuangkan anggur ke dalam gelas. Fahmi Idris berusaha mengimbangi, seraya mencari-cari waktu yang tepat untuk berpamitan. Sudah hampir Subuh, hawa kantuk pelan-pelan mengalahkan pengaruh anggur bikinan cap orang tua itu. Namun selepas menenggak bagiannya, Fahmi Idris tidak yakin dirinya benar-benar ingin pulang dan bisa memejamkan mata dengan tenang di kamarnya. Itu sudah lepas hari ketujuh sejak kematian Jen. Sejak itu pula Fahmi Idris jarang bisa tidur. Tubuhnya bisa saja rebah di kasur, tapi pikirannya keluyuran ke mana-mana.

“Saya tidak akan pernah membiarkan pembunuh anak saya hidup tenang,” ujar Ahmad Saleh selepas menenggak anggur berwarna kemerahan. “Coba bayangkan, ada dua luka tusuk di perutnya. Bagaimana rasanya sewaktu ujung pisau itu masuk ke sana? Bangsat benar!”

Fahmi Idris mengempaskan napasnya. Dia tidak tahu mesti bicara apa. Itu malam ke sekian Ahmad Saleh mengutuki sekaligus menyesali kematian anaknya. Fahmi Idris selalu menemaninya. Dia tidak bisa menghindar meski kehadirannya di dekat Ahmad Saleh selalu dirasakannya sebagai teror bagi dirinya sendiri. Namun malam itu tidak separah biasanya. Ahmad Saleh tidak lagi berteriak-teriak dan membuat geger seisi kampung. Dia tampak mulai bisa mengendalikan dirinya.

“Bukan hanya dua. Kalau kamu mau percaya, ada luka tusuk lainnya di bahu dan di dekat leher. Bangsat benar!” Ahmad Saleh terus mengoceh.

Fahmi Idris merasa tidak berdaya. Dia mengangkat botol yang masih terisi seperempat itu dan menuangkan penuh ke dalam gelasnya. Lalu tanpa berpikir panjang ia meneguknya seperti seseorang yang sedang minum air putih.

“Saya paham kamu pasti sangat kehilangan,” tanggap Fahmi Idris. “Tidak ada cara lain, pembunuhnya harus diadili.” 

“Sudah delapan hari,” sergah Ahmad Saleh, “dan polisi belum bisa menemukan apa-apa. Padahal, seorang kawan dekat anak itu pernah memberi keterangan kepada polisi, juga kepada saya, bahwa pada malam tahun baru, anak itu sempat terlihat keluar dari gang di sekitar tempat tinggalmu sana.”

Fakta bahwa Ahmad Saleh mengatakan hal semacam itu, membuat tubuh Fahmi Idris terasa meriang. Dia sudah sering teringat peristiwa pada malam tahun baru itu. Dia mencoba mengingat perinciannya sekali lagi, adegan demi adegan: dia menendang anak muda itu—anak muda itu terjerembab—dia merogoh pisau lalu menikamnya—sekali tikam, dua kali tikam—dia sempat ragu lalu menikamkan pisaunya sekali lagi—anak muda itu menangkisnya—anak muda itu menyerah, meminta dilepaskan—dia pun melepaskan Jen. Fahmi Idris tidak sempat memeriksa apakah ada bercak darah atau bau amis di ujung pisaunya. Seingatnya, Jen berjalan sedikit sempoyongan setelah itu. Apakah dua luka tusuk itu karena saya—Fahmi Idris membatin.

“Tidak mungkin,” gumamnya tiba-tiba.

“Apanya yang tidak mungkin? Apa maksudmu yang tidak mungkin itu? Anak saya ditemukan di tempat penampungan sampah!

Fahmi Idris terkaget, menyesali mulutnya yang tidak terkontrol. Nada bicara Ahmad Saleh meninggi. Fahmi Idris gelagapan menanggapinya.

“Tidak mungkin pembunuh Jen tidak tertangkap. Itu maksud saya.”

Ahmad Saleh kembali tenang. Fahmi Idris berusaha tenang. Dia menuangkan kembali anggur ke dalam gelasnya. Sebelum menenggaknya, dia memberikan isyarat kepada Ahmad Saleh. Ahmad Saleh mengangkat gelasnya, lalu dua kawan dekat itu menenggak bagian masing-masing dalam waktu yang bersamaan.

“Apa yang akan kamu lakukan kalau bajingan itu menyerahkan diri kepada polisi?”

Ahmad Saleh menyeringai. Lalu dengan gerakan yang tidak terduga oleh siapapun, dia menyambar botol anggur itu dan meghantamkannya keras-keras ke lantai ubin.

“Sebelum dipenjara, saya akan menghancurkan kepalanya seperti ini!”

Botol anggur itu pecah berkeping-keping. Sebagian yang terpenggal masih dalam genggaman Ahmad Saleh. Fahmi Idris tidak berkedip menatap ujung penggalan botol yang runcing itu. Dalam sekejap, jantungnya terasa seperti akan berhenti berdetak.***

Ampenan, 5 Januari 2020


Tjak S. Parlan, lahir di Banyuwangi. Menulis cerpen, puisi, feature perjalanan, novel. Buku kumpulan cerpennya Kota yang Berumur Panjang (Basa-basi, 2017), feature perjalanan Berlabuh di Bumi Sikerei (Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, 2019). Mukim di Ampenan, Nusa Tenggara Barat.

Cerpen

Rindu yang Membuatku Mati

Cerpen Ni’matus Sholihah

Dua tahun sudah aku sengaja mengisap batang rindu yang kamu tinggalkan. Aku berharap racun rindunya bersarang di tubuhku, dan aku ingin segera mati karenanya. Iya, aku ingin racun rindu itu segera membunuhku. Aku sudah tidak sabar pergi ke dunia keabadian. Menjumpaimu dan bersatu denganmu di sana.

Kini aku merasakan tubuhku melemas dan dingin. Semacam isyarat racun rindu yang bersarang di tubuhku telah menjadi kanker ganas yang siap melenyapkan nyawaku. Kini saatnya aku menyusulmu. Baiklah, akan kupejamkan mataku untuk menyambut kematianku ini. Aku ingin saat mataku terbuka nanti, aku telah berada di tempat yang sama denganmu.

***

Dugaanku, pada saat aku membuka mata akan berada di tempat yang indah bersamamu. Paling tidak di sebuah taman yang penuh bunga-bunga harum, dan mungkin ada juga kupu-kupu bersayap perak dan emas. Di sana aku mengenakan baju berwarna putih dengan rambut tergerai hitam mengkilat, dan pastinya kamu juga mengenakan baju serba putih, dengan wajah bersinar. Lalu, kita akan menjelma raja dan ratu di istana keabadian.

Rupanya apa yang aku bayangkan tidak terjadi, karena pada saat terbangun, aku tidak berada di tempat yang indah. Aku justru berada di tempat yang menyeramkan. Tak ada penerangan sedikitpun. Seluruhnya hanya gelap, bahkan sepertinya aku hanya seorang diri. Aku tak tahu ini tempat apa, semuanya hitam.

Aku berteriak, tapi tak ada suara. Entah, telah hilang ke mana suaraku. Apakah karena racun rindu atau apa, aku tak tahu, dan juga tak peduli. Aku terus berteriak dan berharap kamu mendengar, lantas menolongku keluar dari tempat terkutuk ini.

“Sudah kubilang jangan pernah memaksa agar dapat bertemu denganku sebelum Tuhan menghendaki. Tapi dasar kau keras kepala. Kau ingin mendahului takdir dengan mengisap racun rindu yang kutinggalkan. Dan sekarang kau telah mati, tapi ketahuilah, keinginanmu tidak akan pernah kesampaian.”

Aku tersentak. Itu suaramu. Iya, itu suaramu yang aku rindukan selama ini. Tapi, di mana kamu? Gelap ini membuatku tak bisa melihatmu. Aku ingin bersamamu. Meski tak ada suara, aku tetap ingin bicara. Aku yakin kamu mendengar. Aku yakin ikatan batin kita masih ada. “Aku tidak kuat menjalani hidup tanpamu. Kuputuskan menyusulmu ke tempat ini agar kita dapat bersatu lagi. Sungguh aku tidak kuat lagi menahan rindu.”

“Bodoh! Kau benar-benar bodoh! Seharusnya kau bisa hidup tanpaku. Jika kau merasa tidak kuat, kau bisa minta tolong Tuhan untuk membantu. Tapi, justru apa yang kau lakukan seolah tidak butuh Tuhan.”

Aku kembali tersentak, terlebih setelah kamu bentak. Aku sungguh tak mengerti denganmu saat ini. Mengapa kamu membodoh-bodohkan aku? Seharusnya kamu bangga memiliki kekasih yang rela mati untukmu.

“Tindakanmu justru membuat jarak kita tak bisa lagi ditebas. Kita tak mungkin bisa bersatu lagi. Meski, tempat kita ini abadi.”

“Maksudmu?”

“Kita beda. Aku mati karena memang sudah saatnya mati. Tapi kau mati karena memaksa diri ingin mati. Karena itu tempat kita berbeda, dan tak mungkin bisa kembali menyulam cinta.”

Dadaku seketika terasa sesak. Dan tiba-tiba sebuah godam menghantam tubuhku hingga terpental jauh lalu menabrak dinding tak kasat mata. Sangat keras.***


Ni’matus Sholihah, lahir di Madiun pada 1 Maret 2001. Hobi membaca dan menulis sejak MI (Madrasah Ibtidaiyah). Alumnus Man I Madiun (Man Kembangsawit) tahun 2019. Pengagum  senja, yang menyukai aroma buku dan hujan. Ide tulisannya suka muncul di saat-saat tertentu, semisal saat mencuci, atau bersih-bersih.

Cerpen

Rusdiana, Rusdiana

Cerpen Mashdar Zainal

Lelaki itu menatap gunung-gunung yang menggunduk di kejauhan dan berbisik, Rusdiana, Rusdiana. Lelaki itu menatap dedaunan yang melayang-layang terlepas dari tangkainya dan berujar pelan, Rusdiana, Rusdiana. Lelaki itu menatap bebatuan yang teronggok di sembarang tempat dan berucap lirih, Rusdiana, Rusdiana. Lelaki itu menatap sebuah pohon besar dengan akar berpilin-pilin dan bergumam, Rusdiana, Rusdiana. Lelaki itu menatap segala sesuatu yang tak pernah bisa kau duga dan selalu, kau akan mendengarnya, Rusdiana, Rusdiana.

Lelaki itu punya ingatan yang baik tentang seseorang dan sebuah kejadian, maka setiap kali ia menatap sesuatu yang menggeliatkan ingatannya, atau ketika bayangan-bayangan adegan itu melintas di kepalanya, ia akan selalu bergumam: Rusdiana, Rusdiana.

Tak siapapun mengenal Rusdiana. Orang-orang di kampung ini juga tak ada yang mengenal Rusdiana. Bahkan orang tua lelaki itu pun tak tahu, siapa atau apa Rusdiana itu. Rusdiana hanya ada dalam kepala lelaki itu, dan orang-orang menyebutnya telah hilang kewarasan.

Sebenarnya ia tak benar-benar gila. Ia tak suka keluyuran sambil melempari kaca rumah orang dengan kerikil atau semacamnya. Ia tak memakai pakaian compang-camping. Pakaiannya selalu terkancing rapi. Rambutnya tersisir tampan, dan ia selalu berbau wangi. Tapi orang-orang menyebutnya gila hanya karena selalu menyebut, “Rusdiana, Rusdiana.”

Menurut riwayat yang ada, pada suatu hari yang seharusnya menjadi hari paling membahagiakan—hari pernikahannya, calon istri beserta para pengiringnya tak kunjung datang. Semuanya begitu terlambat, mengundang banyak kecemasan. Hingga seorang laki-laki tak dikenal menelusup dalam keramaian pesta dan berbisik pada seseorang. Hal itu seakan sambung-menyambung seperti permainan rahasia, hingga sampai ke telinganya. Hanya beberapa kalimat, tapi lumayan menyengat, “Bus yang mengangkut mempelai putri beserta rombongannya terperosok ke jurang.”

Ia terpaku, seperti mendengar serangga mendengung. Beberapa penumpang selamat. Beberapa penumpang terluka ringan. Beberapa penumpang mengalami patah tulang, juga beberapa penumpang tidak selamat, termasuk seorang wanita yang telah didandani sangat sempurna, bak seorang putri. Barangkali ia wanita paling cantik dalam bus itu. Dan begitulah, beberapa kalimat itu telah membuat pesta penuh bunga itu berubah menjadi penuh jeritan. Sebuah kiamat bagi lelaki itu.

Setelahnya, lelaki itu berakhir dalam kemurungan, berhari-hari. Sisa-sisa pesta yang tak jadi itu menjelma tangan-tangan berkuku hitam yang mencubiti kulitnya, mencakar-cakar wajahnya. Beberapa hari kemudian, lelaki itu menghilang begitu saja. Ia menghilang dalam kamarnya sendiri, dalam kemurungannya. Keluarganya sudah mencari ke mana-mana, tapi hasilnya tak ke mana-mana. Sebagian orang mengira lelaki itu kabur secara diam-diam untuk bunuh diri di suatu tempat, sementara lainnya berpendapat lelaki itu diculik sesuatu yang tak tampak. Namun semua pendapat-pendapat itu lenyap, begitu lelaki itu muncul pada suatu pagi, di bawah pohon trembesi di ladang belakang rumah, hanya mengenakan celana pendek. Semenjak itulah, setiap kali ia menatap sesuatu yang tak dapat diduga siapapun, ia akan berbisik, Rusdiana, Rusdiana.

Satu hal yang sedikit ganjil, jika ia gila karena calon mempelainya, tentu ia tak akan bergumam, Rusdiana, Rusdiana. Karena calon mempelainya bernama Dewi, nama lengkapnya Dewi Suciwati, bukan Rusdiana. Entahlah, siapa yang bisa menebak isi kepala lelaki itu?

“Siapa Rusdiana?” ibu lelaki itu pernah bertanya demikian.

Dan ia, dengan gerak bibir penuh dan pasti, membalas, “Rusdiana, Rusdiana.”

“Rusdiana siapa?” bapaknya yang kali ini bertanya.

Dan kau bisa menebaknya, yang didapat sang bapak hanyalah jawaban yang sama.

“Barangkali, Rusdiana adalah nama jin perempuan yang menculiknya sewaktu ia menghilang selama beberapa hari itu.” Si ibu menyimpulkan.

“Tak ada yang tahu apa yang sebenarnya dipikirkan bocah ini, isi kepalanya sudah kacau,” timpal sang bapak, penuh keputusasaan.

Si ibu menangis memandangi bujangnya yang menatap kosong. Sang bapak membatu menatap putra semata wayangnya yang pandai sekali bergumam, “Rusdiana, Rusdiana.”

Beberapa kali mereka mendatangkan orang pintar untuk memeriksa keadaan lelaki itu, tapi orang-orang pintar itu berhenti pintar ketika pada akhirnya, mereka hanya berkata, “Rusdiana, kami tak bisa menyentuhnya sama sekali.” Atau, “Rusdiana, ia bersembunyi di balik kabut.” Atau, “Rusdiana, hanya bocah ini yang tahu siapa Rusdiana.” Atau, perkataan telak yang semacam itu, yang sama sekali tidak membantu.

Pada akhirnya, orang tua lelaki itu menyerah. Ia membiarkan Rusdiana terus hidup dan mengendap dalam kepala anaknya. Mereka cukup bersyukur karena bocah itu masih tampak waras, ia tidak melempari kaca rumah orang, ia masih sudi mandi tiga kali sehari, makan seperti biasa, menyisir rambut, dan berpakaian rapi layaknya orang waras. Hanya ada satu letak ketidakwarasannya, ia tak banyak berkata-kata kecuali, Rusdiana, Rusdiana.

Seandainya orang tua lelaki itu pandai menyisir masa lalu, seharusnya mereka tak perlu mencari orang pintar atau apapun. Cukup menyisir masa lalu. Masa lalu anak lelakinya. Mereka benar-benar lupa. Sewaktu SMA, lelaki itu pernah memiliki seorang kekasih bernama Dian. Gadis itu dinyatakan hilang saat melakukan sebuah pendakian usai merayakan kelulusan. Tak ada yang tahu kalau gadis itu tidak hilang begitu saja. Gadis itu hanya menerbangkan dirinya ke ceruk jurang, lantas tubuhnya yang remuk tersangkut di sebuah batu di antara akar pepohonan yang menjulang di punggung jurang. Sampai detik ini, jasad gadis itu—yang barangkali telah menjadi tulang belulang, belum ditemukan.

Hanya lelaki itu yang tahu. Tapi ia memilih bungkam. Lelaki itu pernah mengingkari sebuah janji untuk mati. Ketika gadis itu menerbangkan dirinya, seharusnya ia menyusul terbang. Demi cinta yang sehidup semati. Tapi tidak, lelaki itu berubah pikiran dan memutuskan secara sepihak bahwa cinta di usia mereka hanya cinta main-main, dan sungguh tak masalah jika orang tua mereka tidak pernah merestui satu sama lain. Masa depan masih sangat panjang, tapi gadis itu terlalu tergegas-gesa. Seolah nyawanya berlipat ganda seperti kartu remi, bisa dilempar ke sana kemari.

Setelah melihat tubuh ringkih itu melayang ke ceruk jurang, disambut cadas dan  bebatuan, lelaki itu gemetar, hanya gemetar, lalu pergi terhuyung-huyung, dan berjanji akan membungkam mulutnya sepanjang yang ia bias, dan gadis itu tak pernah bisa menerima. Maka ia terus membuntuti lelaki itu. Mengawasi gerak-geriknya dari alam ketiadaan. Ia tak akan pernah membiarkan lelaki itu menjadi milik wanita lain, sebab janji mati itu seharusnya ditunaikan bersama. Sebab itu pula, bus mempelai perempuan itu layak masuk jurang, seperti dirinya di masa lampau.

Dan kini, ketika lelaki itu menatap gunung-gunung, ia akan mengingat tempat itu dan berbisik, Rusdiana, Rusdiana.

Ketika ia menatap sehelai daun yang gugur, ia akan mengingat seonggok tubuh yang terbang melayang di udara, dan ia akan berujar pelan, Rusdiana, Rusdiana.

Ketika ia menatap tanah keras dan bebatuan, ia akan mengingat cadas dan batu-batu yang meremukkan tubuh ringkih itu, dan ia akan berucap lirih, Rusdiana, Rusdiana.

Ketika ia menatap akar pepohonan yang berpilin, ia akan mengingat tubuh remuk yang terpaut di antara akar, dan ia akan bergumam, Rusdiana, Rusdiana.

Ketika tiba-tiba bayangan itu muncul di mana saja dan kapan saja, ia akan terus menyeru nama itu: Rusdiana, Rusdiana. ***

Madiun, 2015-2019


Mashdar Zainal, lahir di Madiun 5 juni 1984, suka membaca dan menulis puisi serta prosa. Buku terbarunya, “Gelak Tawa di Rumah Duka”, basabasi, 2020. Kini bermukim di Malang.

Cerpen

Seperti Menggunting, Namun Ini Daging

Cerpen Yosef Astono Widhi

 “Tragedi itu terjadi sekitar setahun lalu. Desa ini diteror seorang pembunuh berdarah dingin. Puluhan nyawa hilang dalam waktu kurang dari semalam. Dia melakukannya dengan gesit dan meninggalkan bagian-bagian tubuh korbannya begitu saja. Ada yang ditinggalkan dengan tanpa kepala, ada yang satu daun telinganya hilang, bahkan ada yang hanya diambil buah zakarnya. Anehnya hanya orang dewasa yang jadi korban, menyisakan bocah-bocah yang belum punya pengalaman apa-apa. Mungkin itu cara ia menghancurkan desa ini secara perlahan,” terang Yasmin.

Alif menaksir umurnya sekitar setengah darinya. Wajahnya manis, setidaknya bukan buruk. Tubuhnya terawat. Sebenarnya Yasmin cukup menarik. namun Alif datang untuk Martha.

“Nyonya salah satu korbannya, sehingga kini aku harus hidup sendiri.”

Alif tercenung mendengarnya, dan ia berpikir Yasmin anak Martha.

“Aku ikut nyonya sejak kecil. Kata beliau, aku jadi alat pembayaran orang dari Negeri Timur yang datang dan menggunakan jasanya. Mungkin ia bapakku, aku tidak tahu juga. Tapi kata nyonya, orang itu mengaku menemukanku di sesemakan. Mungkin aku buah dari perempuan yang kerap melenggang di antara lelaki kesepian.”

“Jadi kamu pemilik rumah ini sekarang?”

“Iya. Aku juga yang melanjutkan pekerjaan nyonya.”

“Kamu juga menjajakan tubuhmu?”

“Awalnya tidak berniat karena masih ada uang peninggalan nyonya. Namun banyak orang seperti Anda datang mencari nyonya. Satu dua kali kutolak, namun lama-lama kasian melihat mereka yang sudah rela datang dari jauh, namun hasratnya tertahan karena tidak menemui yang mereka cari.”

Meski sudah pernah berkunjung, rumah ini tampak berbeda bagi Alif. Lebih tertata dan rapi, dengan banyak hiasan interior. Tapi Alif sedikit terganggu dengan interior yang tidak selazimnya ada di sebuah rumah. Kaki menggantung di sudut ruang, potongan telinga dalam stoples berisi air, potongan tempurung kepala. Hal yang paling menyita perhatiannya, jantung ditaruh di atas kain bludru merah dalam kotak kaca bulat, membuat jantung itu seakan berdetak ketika dilihat dari sisi yang lain.

“Banyak orang datang berniat menggunakan jasaku, namun tidak membawa apa-apa selain berahinya. Demi tidak dianggap sundal gampangan, aku menerimanya tetap dengan bayaran, tapi dengan apa saja. Bahkan dengan potongan tubuh manusia pun kuterima.”

“Lalu untuk apa kamu menyimpannya?”

“Hidup sendiri adalah musibah bagi perempuan sepertiku. Dengan menyimpannya, aku seperti memiliki teman karena bisa merasakan kehadiran orang-orang di rumah ini. Mungkin pemilik potongan tubuh itu datang untuk melepas rindu, atau mereka tidak bisa masuk surga karena bagian tubuhnya tidak utuh, entahlah.”

Yasmin mengambil stoples berisi potongan jari manis dengan cincin kawin yang masih terpasang. Ia mengocoknya beberapa saat sampai jari itu berputar-putar. Setelah itu ia menaruhnya di meja, jari itu menggeliat seperti masih hidup.

“Ia bergerak,” seru Alif.

“Mengasyikkan, bukan? Banyak orang bilang jari manis yang dilingkari cincin kawin adalah bagian tubuh paling cepat membusuk. Tapi ini tidak, mungkin karena pemilik jari dan pasangannya kembali bertemu di alam sana hingga mereka bisa melanjutkan perjalanan cintanya. Hahaha entahlah.”

“Kenapa kamu tidak menikah saja?”­­

“Hahhh. Aku memang terlahir kesepian. Aku selalu membayangkan nikmat hidup bersama orangtua, atau pasangan sehidup semati. Namun memikirkan diri sendiri saja rumit, belum lagi jika harus mendengar keluh tentang kehidupan mereka yang berkunjung kemari. Mungkin bagi mereka, melacur satu-satunya surga yang bisa mereka tapaki. Itu pun kadang masih terselip umpatan dan kekesalan di tengah desahan mereka.”

“Gila.”

“Ini memang gila. Ada pemuda yang sering datang kemari. Pada awalnya ia membayar dengan potongan tubuh entah milik siapa. Lama kelamaan ia datang dengan tangan kosong, katanya ia sudah kehabisan persediaan. Lalu ia menawarkan tubuhnya sendiri. Ambillah apa saja asal bukan kejantananku, katanya.”

“Kamu terima?”

“Sudah kukatakan aku bukan sundal gampangan. Namun aku juga masih punya belas kasihan. Maka aku memilih memotong jarinya satu persatu agar ia tidak merasa begitu kehilangan. Namun selayaknya manusia lain, jarinya hanya dua puluh. Setelah semua hilang, ia menukar bagian tubuhnya yang lain seperti lengan, kaki, telinga. Yang tersisa kemudian hanya kepala dan kejantanannya yang menempel pada badan. Setelah itu ia tidak lagi datang.”

Yasmin tiba-tiba membuka kain atasnya, menyisakan kemban berwarna serupa kulit. Ia mengikat rambutnya sebahu dan membuat gerakan eksotis. Seketika Alif bergidik. Ia memang datang untuk menggunakan jasa seorang sundal. Namun yang ia bayangkan adalah Martha, seorang paruh baya dengan mata yang indah, mengobrol dengan secangkir teh menemani Alif di kelelahannya. Bahkan Alif rela menunggu sampai esok hari jika Martha enggan melayaninya malam itu. Atau setidaknya Alif hanya ingin menatap mata indah itu sekali lagi. Namun di hadapannya kini duduk seorang yang tidak kalah menggairahkannya.

“Jadi, Anda bermalam di sini, kan?”

Alif jelas paham, yang Yasmin maksud bermalam bersamanya di atas ranjang. Namun ini benar-benar di luar perkiraan Alif. Seorang gadis muda bertubuh indah terang-terangan mengajaknya tidur.

“Aku ke sini untuk Martha.”

“Bagaimana lagi, nyonya sudah berpulang.”

Hal ini cukup berat bagi Alif. Akal sehat dan nafsunya sedang berperang hebat. Akhirnya ia memilih untuk berkemas dan berencana meninggalkan rumah itu secepatnya.

“Aku kelelahan. Aku cuma mau menatap mata indah Martha. Kalau nggak dapat, lebih baik aku pulang. Selamat tinggal.”

Alif berdiri. Ia hendak melangkahkan kakinya menuju pintu keluar sebelum Yasmin turut berdiri, menarik dagu Alif dan mencumbuinya. Gerakan itu begitu cepat sampai-sampai Alif tidak menyadarinya. Ciuman yang begitu erat itu membuat Alif susah bernapas. Tapi ia mengakui, bibir itu terlembut yang pernah ia cicip. Ciuman itu terlepas setelah Alif mendorong Yasmin sekuat tenaga karena napasnya mulai tersengal.

“Bibir Tuan manis dan hangat. Sempurna. Setidaknya bibir yang Anda hisap barusan tidak kalah menarik ketimbang mata Nyonya Martha, bukankah begitu, Tuan?”

Tidak menunggu jawaban, Yasmin menarik tangan Alif menuju kamarnya. Seperti terhipnotis, Alif menurut saja menuju ruangan gelap dengan harum narwastu.

“Tahan sebentar Tuan, aku akan membuat permainan kita lebih menggairahkan.”

Yasmin menyalakan lilin di tiap sudut kamarnya, menyisakan suasana remang dalam kamar. Yasmin berbalik menatap Alif, ia memegang bahu Alif dan membaringkannya di ranjang. Yasmin mencium Alif singkat. Kemudian tangannya menyusuri badannya sendiri sembari berputar dan seketika kembannya sudah lolos dari badan. Yasmin berkedip sekali sebagai isyarat bahwa Alif boleh bergerak. Tanpa menunggu, Alif langsung meraih tubuh Yasmin dan menariknya ke ranjang. Mereka berguling dua kali sambil mulut saling terpaut. Dalam hitungan detik, mereka sudah sama-sama telanjang.

“Lakukanlah pelan-pelan, Tuan. Kita punya waktu sepanjang Tuan mau.”

Alif segera akan memulai permainan berikutnya. Ia menindih tubuh Yasmin, terdengar lenguhan lirih dari keduanya. Pada saat itu Alif merasa ada yang mengamati pergumulan mereka. Alif memutarkan pandangan. Tidak ada siapa-siapa. Namun ia benar-benar merasa ada orang selain mereka.

“Kita tidak sendiri?”

“Sudah kubilang Tuan, kehadiran mereka itu nyata.”

“Tidak-tidak. Baru saja kurasakan, siapa dia?”

“Tidak ada, Tuan. Sudahlah.”

Yasmin kembali merengkuh tubuh Alif hingga melupakan perasaan waspadanya. Sebelum Alif meraih puncak, ia tak sengaja melirik ke salah satu sudut ruangan. Ada sesuatu yang menyala. Sepasang bola mata yang tersimpan di dalam stoples berisi air. Alif betul-betul ingat mata itu. Ia kini mengerti siapa yang mengamatinya tadi.

“Ma-Martha..”

Jrraasssh. Belum selesai kalimat itu terucap, kepala Alif sudah menggelinding turun dari ranjang. Terlihat di atasnya, Yasmin menyeringai sambil memegang pisau.

“Terima kasih Tuan, tidak kusangka aku bisa menemukan bibir yang pas untuk bapakku.”

***

Di suatu malam menjelang pagi, seorang gadis dengan karung di punggungnya berjalan mengendap di antara rumah-rumah yang berhimpit. Ia bergerak dengan tenang sambil menengok ke setiap rumah. Setelah menentukan pilihan, ia melompat melalui jendela. Di hadapannya sepasang kekasih sedang tidur. Gadis itu mengeluarkan badik kecil yang sejak tadi menggantung di pinggangnya. Ia menunjuk muka perempuan kemudian berganti pada yang laki-laki. Ia melakukan itu beberapa kali seolah sedang memilih. Akhirnya ujung badik itu berhenti di antara wajah keduanya, lalu ia mengayunkannya ke kanan, lalu ke kiri secara cepat. Darah muncrat ke mana-mana. Nyawa mereka melayang. Gadis itu menurunkan tubuh keduanya, dan memperhatikannya lekat. Ia memejamkan mata, membayangkan betapa bahagianya kelak bila bisa bertemu orangtuanya. Lalu ia berpaling ke arah yang perempuan.

“Aku suka telingamu. Cocok dengan gambaran ibuku. Nah, kalau hidungmu, cocok untuk bapak.”

Gadis itu memotong telinga si perempuan dan hidung si laki-laki. Ia membuka karung yang di dalamnya sudah berisi potongan-potongan tubuh. Dari dalamnya ia mengeluarkan sebuah gunting taman.

“Tak kusangka ini sangat mudah, seperti menggunting, namun ini daging.”

Ia menggunting tubuh perempuan sampai seluruh organ terpisah. Bagian yang ia suka dimasukkan ke karung dan meninggalkan yang lain menumpuk begitu saja.

“Sebentar lagi aku punya orangtua yang menyayangiku, tidak seperti si tua Martha sialan. Aku bosan diperlakukan selayaknya anjing!.”

Yogyakarta, Oktober 2019


Yosef Astono Widhi, gemar membaca dan berteater. Sedang berusaha menamatkan studinya di Sastra Indonesia UGM. Twitter: @yosefaw, Instagram: @yosefastono, Email: [email protected]

Cerpen

Surat Cinta untuk Vin

Cerpen Khumaid Akhyat Sulkhan

Vin yang terkasih,

Aku menulis surat ini setelah mampir ke perpustakaan kota yang dulu menjadi tempat favoritmu setiap kali menghabiskan akhir pekan dengan membaca kisah-kisah cinta dalam novel atau kumpulan cerita pendek. Hujan lebat yang mengguyur sepanjang hari dan hawa dingin yang menusuk sama sekali tak menyurutkan niatku untuk pergi ke sana, meski sekadar untuk menyesapi jejak-jejakmu yang tak kunjung lenyap dari lorong-lorong kenanganku.

Masih jelas dalam ingatanku, kau yang selalu menempati kursi di sebelah rak buku sastra itu setiap hari Sabtu dan Minggu. Kau terlihat begitu khusyuk ketika sudah mulai membaca, seolah sedang melakukan semacam ritual suci. Kadang, aku bertanya-tanya dalam hati, apa gerangan yang kau rasakan ketika membaca cerita-cerita fiksi? Apakah itu bisa membuat kesadaranmu pergi sementara dari realitas yang seringkali keparat ini?

Dalam keheningan, selepas mengunjungi perpustakaan dan mengenangmu, aku tiba-tiba jadi ingin mencurahkan segenap perasaanku melalui surat, Vin. Dan mungkin ini adalah surat cinta pertama sekaligus yang terakhir dariku.

Sebentar lagi aku akan menyematkan cincin ke jari manis seorang perempuan yang telah memberiku segala-galanya. Aku mengenalnya ketika nasib yang gelap menikamku dengan cara menyakitkan selepas kau pergi. Ah, andai saja kau tahu, bagaimana aku menderita dan bahkan nyaris mati kalau saja ia tak meniupkan harapan serta daya hidup ke dalam jiwaku, berkali-kali.

Selama beberapa waktu terakhir, aku mencoba memantapkan diri. Aku berusaha meyakinkan diriku bahwa aku mencintainya dengan segenap kesungguhan yang ada pada jiwa-ragaku. Meski sampai sekarang, setiap kali menatap sepasang matanya, aku justru seperti menatapmu dan setiap membelai wajahnya, aku malah selalu teringat pada wajahmu yang senantiasa merona itu.

Genap dua tahun sudah kau pergi dan rasanya aku masih sering melihatmu berkelebat di mana-mana. Kau membayang di jalan-jalan, di baliho-baliho, di pertokoan, di pohon, di rerumputan, tiang listrik, papan jalan, dan bahkan gang-gang yang kulalui setiap saat. Haruskah aku bersyukur atau mengutuknya? Haruskah aku sekarang berlari menyongsong keberadaanmu yang seolah lenyap di persimpangan waktu?

Rasanya baru kemarin, aku bahagia karena bisa mendeskripsikan rambutmu dengan detail. Warna merah tua yang seperti warna langit ketika cahaya matahari mulai terbenam. Dan wajahmu khas pemain opera sabun di televisi dengan lesung pipit yang muncul tiap kali kau tersenyum bila menemukan hal-hal menyenangkan dalam bacaanmu dan kening yang sesekali mengerut saat menemukan hal-hal menyedihkan. Sementara kedua matamu, tajam dan menakjubkan bagai mata seekor elang. Meski mata itu tak pernah menatapku sekalipun aku sering curi-curi pandang ke arahmu.

Vin yang manis, apakah sekarang kau berbahagia dengan kehidupanmu?Aku harap demikian. Sebab akhir-akhir ini, entah mengapa, aku merasa hidup semakin rumpil dan membosankan. Setiap hari kulihat orang berlomba-lomba menyampaikan kebenaran menurut mereka lewat televisi, media sosial, koran, dan mimbar-mimbar di tempat ibadah. Klaim siapa benar, siapa salah, memekakkan telinga dan memedihkan pandanganku, hingga susah membedakan mana kebenaran sejati dan yang bukan. Telinga dan mataku, seperti tak mampu lagi mengenali siapa musuh dan siapa kawan.

Dalam kekacauan tak berkesudahan ini, aku merindukan sosokmu yang selalu bisa memberi ketenangan, hanya dengan obrolan-obrolan sederhana. Aku ingin suatu saat, kau kembali hadir dalam keadaan utuh sebagaimana di hari-hari ketika aku memandangimu dari kursi di sebelah utara diam-diam. Ajari aku melewati gerbang kata-kata untuk kemudian menjalani kehidupan alternatif dalam novel atau cerita-cerita pendek. Dalam karya sastra, suatu nasib, yang paling buruk dan menyedihkan sekalipun, selalu memiliki nilai keindahannya sendiri. Aku ingat persis kalimatmu itu, yang kau katakan pada suatu sore ketika aku bertanya banyak tentang sastra dengamu.

Dan rasanya sampai hari ini aku tidak bisa berpikir sepertimu, Vin. Bagiku, nasib buruk adalah nasib buruk. Kekacauan adalah kekacauan. Badai adalah badai. Mampukah kau menunjukkan keindahan yang betul-betul bisa kita panen dari ke semuanya itu? Atau pernyataanmu yang dulu meluncur hanya untuk menutupi kerapuhanmu sendiri?

Ah, andai saja waktu itu aku betul-betul memberanikan diri untuk mengenalmu lebih jauh. Setidaknya, dengan demikian, aku tahu di mana bisa mencarimu pada saat-saat kacau seperti sekarang ini. Tidak masalah kalaupun kau memang betul-betul telah kawin dan bahkan beranak-pinak. Aku akan tetap mengunjungimu. Melihat kau yang sehat dan tersenyum, lalu berdiskusi sebentar mengenai sastra serta realitas, itu saja sudah lebih dari cukup.

Aku tidak tahu nama lengkapmu, meski sejujurnya aku sangat ingin mengetahuinya.Vin, panggil aku Vin saja, begitu katamu. Sungguh, aku ingin memiliki kesempatan untuk mengetahui nama panjangmu. Sebab dengan begitu, rasanya aku sudah sejengkal lebih baik dalam menciptakan peluang kedetakan di antara kita. Namun aku kemudian berpikir, haruskah kita dekat? Sementara aku selalu merasa seratus persen utuh tiap kali bertemu dengamu tanpa perlu mengenalmu lebih dekat dan lebih mendalam. Sehingga waktu itu aku lebih memilih sebatas menjadi semacam teman kenalanmu saja sembari diam-diam terus memeram seluruh isi perasaanku.

Kukira, aku akan selamanya bersikap demikian.Namun cinta adalah kekuatan irasional yang sukar dibendung. Aku sempat mengalami semacam paradoks menjelang kepergianmu. Saat itu aku sangat ingin memilikimu, tapi sekaligus ingin membiarkanmu tetap tak terjangkau saja. Kau adalah keindahan dan aku berpikir, ada kalanya suatu keindahan justru menjadi rusak begitu ia dimiliki. Di sisi lain, kadang aku juga merasa bahwa harus ada sosok yang memuja serta menerjemahkan keindahan rupamu. Dan orang itu haruslah aku.

Pada titik itulah, aku lalu memutuskan untuk mencoba mengajakmu jalan. Aku rasa tidak ada salahnya mencoba mendekatimu. Soal apakah nantinya kita akan berakhir sebagai sepasang kekasih yang menjalin percintaan atau sama sekali tidak, itu urusan lain.

Namun keesokan harinya, setelah aku memantapkan keyakinan, kau tak datang ke perpustakaan. Aku masih berpikir kau mungkin sakit atau ada urusan penting barang satu-dua hari. Tapi setelah dua akhir pekan terlewati, kau tak juga muncul dan aku mulai cemas.

Lalu datanglah, Sabtu yang gelap itu…

Hari itu, kau akhirnya datang. Dengan wajah yang semakin merona, dengan kecantikan yang kian memesona. Aku sudah menyiapkan diri dengan pura-pura mencari novel di rak buku-buku sastra. Rencananya, begitu kau duduk di kursi favoritmu itu, aku akan membuka obrolan dengan mengajakmu ke sebuah pameran buku-buku sastra yang kebetulan sedang dihelat di toko buku langgananku.

Engkau perlahan membuka pintu perpustakaan dan menuju ke meja petugas untuk mengembalikan dua buah buku pinjaman. Petugas itu bertanya kenapa kau beberapa waktu terakhir tidak menyambangi perpustakaan. Dan kau tersenyum, sambil menunjukkan sebuah cincin yang telah tersemat di jari manismu. Lalu kudengar ucapan selamat dari si petugas perpustakaan. Kau mengucap terima kasih dan berkata pada si petugas, bahwa hari itu adalah kali terakhir kau menghabiskan waktu di perpustakaan dan kota ini.

Dadaku sesak, napasku tersengal. Ada kesedihan yang berusaha kuperam hari itu. Kesedihan yang mendesak keluar hingga membuat pandanganku mengabur. Masih dalam keadaan serba kacau, kau mendekat. Hendak duduk di kursi favoritmu. Dan sebelum kau duduk, kita sempat bersitatap untuk kesekian kalinya. Saat itu, kau tersenyum ke arahku dan seolah ingin mengajak bicara.

Apakah waktu itu aku membalas senyum pertama sekaligus terakhirmu, Vin? Aku lupa. Tapi jika aku tak sempat membalas lantaran jengkel bercampur sedih, sudilah kiranya engkau memaafkan.

Setelah Sabtu gelap itu, kau tidak pernah lagi mengunjungi perpustakaan di akhir pekan. Aku mungkin masih bisa berdamai dengan diriku apabila kau tetap datang ke perpustakaan—sekalipun harapan untuk menggapaimu pupus sudah. Namun pada kenyataannya, kau memang telah pergi dan sejak hari itu, aku menjadi laki-laki pemurung yang barangkali tidak akan pernah lagi bisa jatuh cinta dengan perasaan yang sama seperti padamu.

Kadang, aku masih suka membayangkan bagaimana seandainya aku tak bersikap naif dan menunda-nunda waktu untuk mendekatimu. Aku tentu tak akan berakhir hanya sebagai teman kenalan di perpustakaan. Setidaknya, kita bisa bertukar nomor telepon atau akun media sosial. Lalu kita akan menjadi akrab seiring berlalunya hari sebagaimana sepasang kekasih dalam film-film Holywood.

Kalau pun aku tetap tidak menjadi sosok yang akan melingkarkan cincin itu ke jari manismu. Setidaknya, aku pernah memiliki kesempatan untuk melakukannya. Begitu saja sudah cukup untukku.

Namun semua itu kini tinggal angan saja. Seseorang yang lebih berani telah datang dan mengajakmu membangun bahtera hidup bersama untuk berlayar mengarungi lautan nasib yang serba tak menentu. Aku cuma bisa berharap, semoga saja ia memang bukan sosok laki-laki bebal yang cuma ingin menguasai setiap jengkal lekuk tubuhmu. 

Vin, yang kucintai…

Sembari mengingat segala tentang engkaulah, surat ini kutulis. Sayang sekali aku tidak tahu kau hidup di mana dan bagaimana kondisimu sekarang. Oleh karena itu, agar sampai kepadamu, surat ini akan kulipat menjadi perahu kertas dan kularung ke sungai. Aku hanya bisa berharap, kelak, kata-kata dalam surat ini akan lebur bersama air dan merasuki ruang kesadaranmu melalui semilir angin dan derai-derai hujan.

Yogyakarta, 2020


Khumaid Akhyat Sulkhan, pemuda kelahiran Batang ini menulis esai dan cerita pendek demi mengatasi perasaan galau. Beberapa tulisannya bisa dibaca di Republika, detik.com, magdalene.co, thecolumnist.id, Mojok.co, dan lain sebagainya. Penulis bisa dihubungi di Twitter @kasulkhan atau Instagram akhyat_sulkhan.

Cerpen

Hutan itu Berwarna Kelabu, Sayang

Cerpen Y Agusta Akhir

Vila itu masih vila yang dulu juga. Bahkan setelah tigapuluh tahun berlalu, rasanya tak ada yang berubah: warna cat yang kusam dan tak bergairah, yang dulu kau berkata, kalau kabutlah yang membuatnya seperti itu. Ada begitu banyak vila di sini, tapi entah kenapa, kala itu kau lebih memilih vila itu daripada yang lain, yang kupikir lebih bagus dari vila pilihanmu. ‘Vila yang terasing’. Begitulah kau menyebut, lantaran hanya bangunan itu yang berada di anak bukit sana itu; berbeda dengan vila-vila lain yang berjajar dan berhimpit satu sama lain di kanan dan kiri jalan . Dan kita tak pernah tahu, mengapa ada orang yang sengaja membangun vila di sana. Hari ini, aku datang sengaja mengenang kebersamaan kita di sini. Kau tahu, inilah kali pertama aku kembali datang ke sini, sejak kau menghilang entah kemana, yang sampai detik ini masih jadi misteri.   

Seolah kau baru saja pamit pergi beberapa waktu lalu, dan aku menunggumu di sini, di beranda vila yang menghadap hutan yang merenggutmu dariku itu. Dan tak bisa kusangkal, sepotong peristiwa itu berbondong-bondong menyerbu ingatanku yang sesungguhnya mulai merapuh ini. 

Hutan itu berwarna kelabu, bisikmu pada sebuah pagi yang masih berkabut, tigapuluh tahun lalu. Kala itu aku sedang mencoba mengakrabi dingin yang agaknya tak ingin bersahabat denganku. Kini, kau tahu, dingin kala itu kembali menyiksaku. Meremukkan tulang belulangku. Menyesakkan napasku.

Sungguh, kesunyian ini maha panjang. Jauh lebih menyiksa dari sekadar dingin yang membekukan darahku.

Hutan itu berwarna kelabu. Kalimat pendek di pagi buta, yang bahkan mendung masih menyembunyikan matahari (atau bersembunyi di balik cakrawala?). Semula aku mengira itu akan menjadi kalimat paling romantis untukku. Rupanya aku salah. Atau, akulah yang justru membuatnya jadi salah. Aku menyangkal apa yang kau katakan perihal hutan itu. Hutan yang menghampar di hadapan kita; seperti hanya beberapa jengkal dari beranda vila itu, tempat dimana kita sedang bercakap.

Apalagi, kalau sedang turun hujan. Itu kalimatmu yang berikutnya. Masih dengan suara berbisik; kukira hanya beberapa inci saja jarak bibirmu dengan daun telingaku. Bahkan, aroma parfum yang mulai samar di tubuhmu, masih bisa kubaui sampai saat ini. Ah, wangi yang kautabur sebelum akhirnya kita bercinta habis-habisan malam itu.

“Hujan itulah yang membuatnya bertambah kelabu, Sayang!” ucapmu lagi.    

Beberapa kali aku terbatuk sebelum kusangkal ucapanmu itu. “Aku bahkan tak bisa melihat hutan itu!”

“Ayolah, Sayang. Bukan waktunya bercanda. Atau kau sedang mengolokku? Mataku tak mungkin rabun!”

Kau memelukku dari belakang. Aku bisa merasakan bagian tubuhmu yang aku yakin berukuran sama dan proposional itu menekan punggungku. Tapi itu tak cukup penting untuk dipanjang-panjangkan di sini. Sejak awal, cerita ini tidak dibangun berdasarkan asas kemesuman. Kukira kau setuju itu.

“Kukira, aku ingin pergi ke sana,” bisikmu lagi.

Aku hanya bergeming. Kau mencium tengkukku. Bibirmu yang basah dan dingin, serupa sepotong es batu kristal yang menempel di belakang leherku. Dan mendung tiba-tiba tersibak. Perlahan-lahan cahaya matahari berpendar, menerobos sela-sela antara awan hitam dan putih, jatuh di atap-atap rumah yang tampak suram oleh suasana pagi yang entah kenapa, terasa sedikit muram. Cahaya itu, lalu sampai juga di ujung-ujung daun pepohonan hutan itu.

 “Lihatlah, hutan itu berwarna kelabu!” Kau bersorak, merenggangkan pelukanmu. Mengguncangkan bahuku, seolah memintaku untuk membenarkan apa yang sedang kau saksikan.

Hutan kelabu. Dalam hujan…

Kau bersenandung lirih. Aku masih mengingatnya dan di kemudian hari tahulah aku itu penggalan puisi Sapardi.

Sungguh, aku belum sepenuhnya mengerti; ada apa dengan hutan yang berwarna kelabu itu, sehingga bisa membuatmu bergitu gembira. Tentu saja, hutan itu berwarna kelabu, terutama saat matahari pagi menyiramkan sinarnya ke bumi, ke atas hutan itu. Dan itu sesuatu yang biasa. Warna kelabu itu, entah karena oleh kabut atau hal lainnya, bagiku bukanlah suatu yang istimewa. Tapi aku tak mengatakan itu padamu. Aku tak hendak memupus kegembiraanmu. Seperti biasanya, aku lebih baik diam yang kemudian kau artikan sebagai sikap persetujuan.

“Aku ingin pergi ke sana! Ayolah. Aku bukan perempuan konyol yang menginginkan seekor anak kucing seperti dalam cerita Hemingway, yang sudah kaubaca berulang-ulang itu! Aku hanya ingin pergi ke hutan itu. Kau kira, untuk apa kita berkunjung ke sini, hah?”

“Kita baru sampai tadi malam. Setidaknya kau bisa menundanya besok,” Akhirnya aku membuka suara juga. Datar saja.

Kau bersorak. Memutar tubuhku, lalu menghujaniku dengan ciuman yang bertubi-tubi. Padahal, seandainya kau tahu, aku sungguh berharap hujan datang malam nanti atau esok pagi, sehari penuh. Tapi nyatanya, harapanku tak terkabul.

Sepanjang hari itu, kita bersepakat tak kemana-mana, kecuali hanya untuk makan di warung seberang vila. Atau membeli Koran meski kita sudah membawa beberapa novel yang belum sempat terbaca. Sepanjang hari itu, kau tampak begitu sumringah dan bersemangat. Berulang-ulang kau melihat hutan itu. Kau juga banyak bercerita tentang hutan-hutan di belahan bumi yang pernah kau kunjungi atau pernah kaubaca entah di buku apa.

Kau bercerita tentang Schwarzwald, yang oleh orang Romawi dinamai Black Forest. Kau bercerita tentang Sherwood Forest, hutan tempat bersembunyinya Robin Hood dan Merry Man, katamu. Kau bercerita tentang Aokigahara, di utara dasar Gunung Fuji,Jepang. Hutan yang mengerikan. Hutan yang sangat gelap, dipenuhi gua-gua besar, pohon-pohon raksasa tapi tak memiliki margasatwa dan menjadi tempat bunuh diri. Kau, bercerita tentang Dark Entry Forest, hutan sangat lebat di Connecticut. Hutan yang menjadi sarang hantu-hantu. Kau juga bercerita tentang  Betung Kerihun, Lore Lindu, Arfak, dan hutan-hutan lain yang ada di negeri ini.

Sungguh kau ini, perempuan pencinta hutan. Kadang aku berpikir, kau yang gila atau aku yang gila karena telah mencintai perempuan sepertimu. Mendengar ceritamu saja, nyaliku sudah ciut. Lalu, keindahan macam apa yang bisa kaunikmati dari hutan-hutan yang menakutkan itu?

 “Menulislah cerita tentang hutan, Sayang!”  

  Kau membisikkannya usai kita bercinta untuk ke tiga kalinya di malam itu. Tapi segala minat seperti menguap kecuali tidur dan memimpikanmu. Tapi dalam tidur pun kau enggan hadir. Setidaknya untuk malam itu. Mungkin hutan kelabu itu telah mencurinya dari mimpiku.

Pagi berikutnya aku tak mendapati dirimu di sampingku. Aku tak mendapatimu di beranda vila. Aku juga tak mendapati dirimu di manapun di sekitar vila itu. Maka hutan yang kausebut kelabu itu satu-satunya tempat yang menyembunyikan keberadaanmu. Dan semakin jelas ketika kubaca tulisanmu di sehelai tisu yang kutemukan di atas lantai. Mungkin terjatuh. Mungkin semula kau menaruhnya di atas bantal.

Itu hutan yang sangat indah. Penghuni kamar sebelah memberitahukan padaku. Aku duluan. Kau begitu pulas. Tampaknya kecapaian. Maaf, semalam sebagai ungkapan rasa terimakasihku padamu.

Tapi aku tak menemukan jejakmu di hutan itu. Selain suara-suara asing yang membuatku gemetar, adalah hening yang mencekam. Kuteriakkan namamu, tapi hanya gaung yang menjelaskan ketiadaanmu. Suatu kali kau pernah berkelakar, hutan itu tempat yang begitu misteri. Kalau ingin aman, simpanlah rahasiamu di dalam hutan!

Itukah yang sedang kaulakukan?

Sampai sekarang aku tak kuasa menjawabnya selain hanya menganggapmu hilang. Hutan itu telah menelanmu. Dan kukira aku sedang membuat cerita tentang hutan, sebagaimana yang pernah kaubisikkan bertahun-tahun lalu.

***

Tigapuluh tahun berlalu. Hutan itu terbakar, entah sudah ke berapa kali sejak kau menghilang di sana. Hutan itu akan tumbuh, lalu dibakar atau terbakar. Tumbang atau ditebang lalu tumbuh lagi meski butuh waktu yang panjang untuk kembali seperti sedia kala. Tapi kau?

Tigapuluh tahun berlalu. Aku kembali ke vila ini. Vila yang dulu juga. Aku memandang ke hutan yang baru saja terbakar. Memang berwarna kelabu. Kali ini aku tahu, hutan itu kelabu oleh asap pepohonan yang terbakar.  

Hutan itu berwarna kelabu, Sayang. Aku bisa merasakan bulu-bulu lembut di tengkukku tiba-tiba meremang. Aku mencium wangi tubuhmu. Aku bisa merasakan kembali bagian tubuhmu yang kuyakini berukuran sama, proporsional, yang menekan lembut punggungku. Dan belakang leherku yang dingin seperti ada sebutir es kristal. Aku mendengar suara sendiri bergetar: menyebut namamu.*** 


Y Agusta Akhir, penikmat sastra dan aktif di komunitas sastra alit, Solo. Menulis puisi, cerpen dan novel. Beberapa karyanya berupa puisi dan cerpen pernah dimuat di harian joglosemar(Solo), Solopos (Solo), buletin sastra Pawon (Solo), antologi cerpen Waktu yang Bercerita dan Secabik jejak (Alit, Solo), antologi cerpen Joglo (TBJT Surakarta), dll. Novelnya yang berjudul Requiem Musim Gugur terpilih sebagai salah satu pemenang pada lomba Grasindo Publishers tahun 2013 dan Novel Kita Tak Pernah Tahu Kemanakah Burung-burung Itu Terbang menjadi juara III sayembara novel yang diadakan oleh UNSA Press tahun 2017.

Cerpen

Binatang di Kepala Kami

Cerpen Ken Hanggara

Kelaparan membuatnya berkelakuan seperti binatang. Ia tidak malu mencari makan di selokan. Saya kasihan dan saya bawa pulang dia. Saya mandikan dan saya beri baju. Dia diam seribu bahasa saat ditanya soal nama. Saya panggil saja Kinanti.

Kinanti menemani malam-malam yang sepi. Bersama Kinanti, saya kembali paham apa kehangatan. Bersama Kinanti, saya merasa surga ada sejengkal di depan. Dia tidak tahu cara menyembah Tuhan, tetapi tidak bisa diajari mengenal-Nya. Jadi, saya ajari dia tentang surga. Dia suka dengan apa yang saya sebut surga, karena surga di rumah saya ada setiap malam.

Surga saya bukan surga Tuhan. Kinanti tidak paham, tapi tidak ada yang dia dapat pahami lebih dari segala yang fisiknya butuhkan sebagai makhluk hidup. Di sini dia bisa makan apa pun dan tidak perlu bayar atau kerja. Dia cukup ada saja di dekat saya setiap malam.

Teman-teman mencela apa yang saya kerjakan. Masa bodoh. Kinanti toh rela. Dia bahagia mendengar bisikan saya tiap kali kami selesai menyusuri surga di kasur. Kinanti bahagia dan merasa hidup sebagai makhluk paling beruntung.

Kinanti senang melolong-lolong, lalu saya katakan kepadanya bahwa kamu bukan serigala, tetapi manusia. Kinanti tak dapat saya cegah. Ia terus melolong-lolong dan ada juga saatnya mengeong jika butuh sesuatu yang sudah mulai kami sebut surga. Kinanti memang tidak bisa bicara, namun ia mengikik geli setiap kali saya bukakan tirai surga dan di sana tertabur bunga-bunga yang membuat kami tenggelam dalam mimpi paling memabukkan.

Kinanti hanya akan marah jika ia lapar dan mulai mengaduk-aduk isi kulkas dan kadang melempari gelas atau piring hingga dapur pun berantakan. Semua pembantu di sini paham Kinanti butuh semua yang membuat fisiknya bahagia, tetapi mereka tidak perlu tahu terlalu banyak binatang yang mendekam dalam kepala gadis itu.

Saya yakin, di kepala Kinanti ada binatang. Ia, binatang aneh itu, yang mengendali tindak tanduknya, berwujud gaib. Memang begitulah kenyataannya. Di kepala manusia paling waras saja kita bisa menemukan binatang tertentu yang bisa berjumlah lebih dari satu. Binatang-binatang pengendali yang membuat pemilik kepala tidak sanggup hidup tanpa perbuatan jujur. Jujur tidak harus selalu bagus. Jujur itu cara agar tidak menderita karena tuntutan-tuntutan hidup bermasyarakat.

Kejujuran Kinanti, sebagai orang sinting, adalah segalanya bagi saya. Dia serahkan sepenuh jiwa kepada saya segala yang dia miliki. Setiap inci tubuhnya dia relakan untuk saya, bahkan andai mampu, nyawa pun barangkali bakalan dia beri. Semua itu karena saya memberinya makan dan surga.

Teman-teman tahu saya kesepian sejak istri saya meninggal empat tahun lalu, dan sejak itu saya tidak pernah menyentuh wanita. Melihat Kinanti di tepi jalan, berbaju apa adanya, menggoda, membuat sisa-sisa kelelakian di tubuh ini kembali menyala dan lalu menuntut balas. Dan saya membalas dengan indah dalam surga yang saya bangun untuk Kinanti.

“Padahal kamu bisa membayar kupu-kupu untuk menghiburmu. Beberapa kupu- kupu untuk semalam, kukira kamu bisa. Tapi kamu tidak melakukan dan aku bersyukur karena ternyata kamu masih sehat,” kata seorang teman.

Saya katakan kepadanya semua itu terjadi karena saya sendiri tidak tahu. Mungkin binatang di kepala saya ketika itu menganggap bahwa ada saatnya surga saya peroleh lewat tangan perempuan tertentu, jadi binatang itu bunuh diri dan jasadnya hilang jadi debu. Ketika Kinanti datang, saya sambut dan saya jadikan dia ratu surga. Di saat yang sama, binatang lain lahir kembali dalam kepala saya.

Kinanti saya dandani seakan ia perempuan normal. Sekali waktu saya ajak ke pesta, tetapi ia tidak bisa menjadi normal. Ia mempermalukan saya. Sejak kejadian itu, sangkar khusus saya bangun untuknya dan Kinanti menikmati hidupnya yang mengenyangkan dalam sangkar, tanpa mengorek-ngorek selokan.

Kinanti tidak melawan dan binatang di kepalanya mulai jinak. Sesekali dia marah dan melolong-lolong seperti biasa, tetapi karena dia tahu saya orang yang memberinya segala yang dia butuhkan, maka mengeong adalah lebih baik.

“Kamu lebih bagus kalau mengeong, dan mengeonglah setiap hari kepadaku,” kata saya.

Kinanti mengeong setiap hari dan membuat saya bahagia. Sebab, jika ia melolong, itu membuat saya tidak terlalu berhasrat. Saya hanya akan ingat pada kematian istri saya yang dirampok oleh lelaki dengan serigala di kepalanya. Saya memang tidak mengenal lelaki biadab itu, namun saya tahu begitu saja bahwa di kepalanya yang bersemayam adalah seekor serigala.

Istri saya memiliki kucing di kepalanya, sedangkan saya adalah ayam jantan. Tidak ada waktu bermesraan bagi saya, tetapi istri saya cukup romantis dan menganggap suatu tanggal bersejarah teramat sayang untuk dilupakan.

Karena di kepala saya si ayam jantan tidak peduli tanggal, dan hanya peduli pada kepuasan surga, istri menganggap saya tidak menyenangkan dan ia pergi. Di jalan, ia mati dirampok lelaki asing. Sejak itu saya percaya, kadang-kadang kita harus mencari tahu dulu binatang macam apa yang mendekam di dalam kepala pacar kita. Itu supaya tidak terjadi penyesalan seperti yang saya alami.

Saya menggiring agar binatang di kepala Kinanti berubah wujud jadi kucing bukan karena ia bisa menjadi istri saya dan melahirkan banyak anak dan mencatat semua hal yang paling sepele; sama sekali tidak. Saya hanya ingin membuat dia sedikit lebih waras agar tidak melukai saya sewaktu kami bermain-main di surga ini.

Kinanti senang menggigit, seperti serigala, sehingga saya pikir ia bisa saja berbuat hal yang dapat menghilangkan nyawa saya jika dibiarkan begini.

Saya bilang, “Jangan gigit. Nanti aku mati!”

Selalu itu yang saya katakan. Syukurlah, Kinanti paham. Meski gila, ia bisa diajari.

Akhirnya, beginilah kisah ini berlangsung terus menerus selama ribuan tahun dan bukan hanya terkait saya dan Kinanti: bahwa para binatang berpesta pora di kepala para manusia. Semua manusia. Semua manusia yang hidup dan pernah hidup di permukaan bumi yang biru ini. Semua manusia, tak terkecuali.

Dan para manusia tidak tahu apa yang sebenarnya mereka lakukan dan seberapa besar dosa telah mereka kumpulkan? Mereka tidak dapat membedakan perbuatan mana yang mereka lakukan oleh pengaruh binatang di kepala mereka dengan perbuatan mana yang benar-benar datang karena keinginan diri mereka sendiri. Kadang-kadang saya pun juga begitu, tapi saya tidak peduli. Surga ada di tangan saya dan kami bermain-main di sana setiap hari.***

Gempol, 2019

Ken Hanggara, lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis cerpen, puisi, esai, novel, dan skenario FTV. Karyanya terbit di berbagai media. Bukunya Museum Anomali (Unsa, 2016), Babi-babi Tak Bisa Memanjat (Basabasi, 2017), Negeri yang Dilanda Huru- Hara (Basabasi, 2018), dan Dosa di Hutan Terlarang (Basabasi, 2018).

Cerpen

Rahasia Kelam Lelaki Pencemburu

Cerpen Adam Yudhistira

Beberapa menit yang lalu, Hanz menumpahkan kopinya sedikit demi sedikit ke dalam pot geranien yang bergantungan di atap teras. Setelah isinya tandas, dia lantas duduk. Tatapan matanya menjurus tajam ke arah sulur-sulur bunga yang berwana merah cerah itu, menyiratkan sesuatu yang kejam dan penuh dendam.

“Bagaimana rasanya? Nikmat, bukan?” tanyanya entah kepada siapa. Sulur-sulur geranien berayun lembut. Hanz menyeringai dan tenggelam dalam lamunan.

Bertahun-tahun lalu, sebenarnya Hanz memiliki kehidupan normal. Dia bekerja di perusahaan periklanan dengan penghasilan yang cukup mapan. Namun semuanya berubah ketika dia jatuh cinta pada seorang perempuan bernama Quilla. Perempuan inilah yang mengubah kehidupannya.

“Aku ingin hidup bersamamu. Rasanya menyenangkan jika kita menetap di Green Mount.”

“Kenapa harus Green Mount?”

“Karena hanya di sana geranien tumbuh sepanjang tahun.”

Hanz yang sedang dimabuk cinta tak mampu menampik. Dia menguras semua tabungannya demi mewujudkan keinginan Quilla. Mereka menikah di Green Mount, kota kecil yang diimpikan Quilla. Namun selama tiga tahun berumah tangga, Hanz merasa perempuan itu tak pernah tulus mencintainya. Dia merasa dirinya cuma sebatang ranting yang dihinggapi seekor burung liar.

Anggapan itu terbukti benar. Suatu ketika, di restoran milik Nyonya Villardo, dia memergoki Quilla bersama seorang pria. Hanz tak akan dibakar api cemburu apabila mereka hanya berbincang atau sekadar saling sapa. Hanz cemburu, karena Quilla mencium pria itu dengan mesra.

Semula, Hanz tidak ingin mempersoalkannya. Pria pendiam itu mencoba memaklumi. Namun akhirnya dia menyadari jika pemakluman adalah bentuk dari cinta yang membabi buta. Cinta yang membabi buta itu pula yang menjadi bencana tak terpermanai dalam hidupnya.

Malam itu, Hanz menuju restoran Nyonya Villardo dan melihat semuanya telah berubah. Quilla ada di sana. Perempuan itu sedang bersandar di sebuah bangku, mengisap rokok dan berbincang dengan seorang pria. Dia menyugar rambutnya, tertawa kecil, dan menunjukkan seulas senyum mesra yang sama dengan senyum yang Hanz pikir selama ini hanya ditujukan kepadanya.

“Halo.” Hanz melambaikan tangan, sengaja menegaskan bahwa dia tak keberatan melihat Quilla berbicara dengan pria lain.

Perempuan itu menoleh dan ekspresinya tampak datar. Dia mengembuskan asap rokok tak acuh, lengannya membelit angkuh di bawah dada.

“Kau tak membaca pesanku?” Hanz menghampiri dan menyentuh bahu Quilla “Aku sudah berusaha menghubungimu sejak tiga jam yang lalu. Ponselmu mati. Ada yang harus kita bicarakan.”

“Kau keberatan jika aku turut mendengar?”

Hanz menoleh, melihat kerlip perak di daun telinga pria yang menegurnya. Dia adalah pria berkulit cokelat. Lengannya bertato. Rambut panjang dikuncir ekor kuda dan bahu bidang yang tampak besar oleh suntikan steroid. Terlepas dari ukuran tubuhnya, Hanz merasakan sesuatu yang lembek, seakan-akan pria itu hanya aktor yang memerankan tokoh jagoan.

“Aku tak bicara padamu,” kata Hanz menjaga intonasi suaranya setenang mungkin.

Pria itu mendengus. Quilla masih duduk sambil menjepit rokok di antara ibu jari dan telunjuk. Kedua lengannya erat berbelit, seakan menegaskan sikap keras yang sombong.

“Sejak kapan kau merokok?” Hanz menatap tajam mata biru yang dulu menjadi alasannya jatuh cinta. “Kau sering melakukannya?”

“Jangan membuatku malu.”

“Kenapa? Karena aku bicara denganmu?”

“Ini bukan waktu yang tepat.”

“Bisakah kita bicara di rumah saja? Ada beberapa hal yang harus kupahami tentang apa yang terjadi.”

“Thomas akan mengantarku,” ujar Quilla melirik pria di sampingnya. “Kau pulang saja. Satu atau dua jam lagi aku akan menyusul.”

“Hei, Bung, bisa tolong beri kami privasi?” Hanz melempar senyum bersahabat pada pria yang dimaksud Quilla. “Aku sedang bicara dengan istriku.”

Pria itu berdiri angkuh, menatap tajam seolah ada permusuhan lama di antara mereka. Quilla merentangkan tangan, menghalanginya untuk mendekati Hanz. Hanz sendiri merasa sudah sangat siap dengan segala kemungkinan.

“Kau kesal?” tanya Hanz. “Kau pasti berpikir aku sedang mengganggu kesenanganmu, bukan?”

Quilla merapatkan kaki dan menyesuaikan posturnya dengan sikap resmi—yang bagi Hanz terasa angkuh dan mengintimidasi. “Aku tak mengatakan apa-apa,” jawabnya sedikit bergetar.

“Apakah tak ada lagi harapan untuk memperbaiki semua ini?”

“Aku menyesal mengatakannya. Aku rasa semuanya sudah layak untuk diakhiri.”

Hanz mengepal tangan, merasa geram dan terhina. Quilla membuang rokok ke dalam gelas berisi soda, membuat suara desis yang dingin.

“Dengar…” Hanz menggapai bahu Quilla.

“Jangan sentuh aku!” Quilla mundur. “Pergi sajalah.”

Thomas menghampiri. Dia bersikap seolah penjaga pribadi Quilla. “Semua baik baik saja?” tanyanya pongah.

“Ya, Bung, kami baik-baik saja.” Hanz melambaikan tangan menghalau. “Mundur saja. Aku belum selesai.”

“Sepertinya sudah selesai.”

“Hei, Brengsek! Aku tak minta pendapatmu.”

“Kau membuatnya takut, Bung.”

“Dia tidak ketakutan. Quilla, bisakah kaujelaskan pada beruang yang tak punya otak ini?”

Quilla berpaling, memasang wajah beku yang tak peduli.

“Nah, jelas sekarang. Sebaiknya kaupergi.” Thomas menaruh tangannya di siku Hanz. “Biar kuantar kau keluar dari sini.”

“Jangan sentuh aku. Bedebah!”

“Tenang, Bung.”

“Oh, kau bersikeras rupanya?” Hanz mengibaskan tangan. “Hanya banci yang memanfaatkan situasi untuk meniduri perempuan bermasalah.”

“Siapa yang kausebut banci?” Pria itu mendorong tubuh Hanz.

Hanz mendengar bunyi alarm berdenging di kepalanya. Dijambaknya rambut pria itu, kemudian disentaknya sekeras mungkin untuk menghantamkan kening. Dilihatnya percikan darah melayang di udara. Ketika pandangannya jernih, dia merasa sakit kepala luar biasa. Thomas merosot di meja. Darah mengalir dari hidung dan matanya.

Hanz tak bisa lagi mundur. Dia merenggut ketel air panas di dekatnya dan mengacung-acungkannya ke wajah Thomas. Segera saja, semua orang histeris. Dua pengunjung keluar sementara yang lain menjauhkan pisau-pisau.

Rasa takut mereka membuat Hanz merasa hidup, memberinya perasaan kuat dan berkuasa. Dia seolah menegaskan bahwa sekali kaurenggut harga diri seorang pria, maka yang tersisa hanya masalah siapa yang mampu memukul lebih keras dan lebih baik.

“Apa yang kaulakukan?” teriak Nyonya Villardo histeris. Ketel sudah pasti mendarat di kepala Thomas andai saja perempuan tua itu terlambat masuk.

“Tidak apa-apa,” jawab Hanz santai. Dia meletakkan ketel kembali ke atas tungku.

Nyonya Villardo menatap Thomas yang memegangi hidung lalu beralih pada Hanz, “Kau sebaiknya pergi dari sini,” tukasnya geram. “Atau aku akan menelepon polisi.”

“Ya, aku akan pergi.”

Hanz menyentuh benjolan di kening dan menyadari masih ada sisa darah di permukaannya. Di sebuah panci rebus yang mendidih, Hanz melihat seekor kepiting berusaha keluar. Capit merahnya menjangkau tepi panci. Kepiting itu meregang, menggeliat, berjuang untuk usaha pelarian diri yang sia-sia. Namun, kepiting itu sudah terlalu lama berada di dalam panci. Dia tak punya kesempatan untuk hidup. Bagian dalam tubuhnya sudah masak. Dengan hati terbakar, Hanz menyaksikan capit itu terkulai dan memberinya sebuah ilham yang keji.

***

Sejak peristiwa di restoran itu, gundukan sabar di dada Hanz runtuh. Quilla tak pernah kembali ke rumah. Didorong rasa ingin tahu yang kuat dan kecurigaan yang berbulan-bulan, suatu malam dia membuntuti Quilla dan Thomas ketika keduanya melintasi setapak yang mengarah ke bungalow di tepi danau Devlin.

Seperti burung nazar yang lapar, Hanz menunggu. Dia mengintai dari balik jendela, menyaksikan keduanya bergumul liar di atas tempat tidur. Kenyataan itu semakin menyadarkannya, bahwa tak ada lagi yang bisa diselamatkan dari rumah tangganya.

Lelaki itu masuk lewat jendela nyaris tanpa suara. Memang awalnya ada sedikit perlawanan dari Thomas dan Quilla, namun Hanz membekal sebilah belati dan memahami titik mana saja pada tubuh Thomas dan Quilla yang mematikan. Tiga tusukan di ulu hati menyudahi semuanya.

Hanz mencium kening Quilla untuk terakhir kalinya sebelum membungkus jasad itu dengan seprai penuh darah. Dia menyeret tubuh mereka menuju kegelapan hutan pinus yang dipenuhi suara paruh pelatuk, teriakan parau gagak, dan derik jangkrik yang terdengar seperti derit engsel pintu karatan.

Setelah berjalan hampir dua jam, Hanz berhenti di antara kedua ceruk bekas dinding tanah yang runtuh, dan meletakkan tubuh-tubuh itu dan membakarnya. Saat langit berubah dari gelap lalu kemerahan, rasa sedihlah yang pertama kali mendominasi pikirannya.

Api telah padam, menyisakan gemulai asap putih tipis di atas tumpukan tubuh yang menjadi abu. Hanz mengumpulkan abu itu, menyatukannya dalam kantung plastik. Abu itu dia bawa ke rumah dan ditumbuk halus menyerupai bubuk kopi lalu disimpannya di dalam toples kaca.

Setiap pagi, abu itu diambilnya sejumput demi sejumput, lalu diaduknya bersama sesendok kopi bubuk yang asli. Kopi itulah yang dia tuang ke rumpun-rumpun geranien yang menggantung di bawah atap teras rumahnya. Bertahun-tahun begitu, tanpa ada satu orang pun yang tahu.***


Adam Yudhistira (1985). Saat ini bermukim di Muara Enim, Sumatera Selatan. Cerita pendek, Cerita Anak, esai, puisi dan ulasan buku yang ditulisnya telah tersiar di berbagai media massa cetak dan daring di Tanah Air. Selain menggeluti aktivitas bersastra, ia juga mengelola Taman Baca untuk anak-anak di sekitar tempat tinggalnya. Buku kumpulan cerpennya Ocehan Semut Merah dan Bangkai Seekor Tawon (basabasi, 2017).