Ketika hendak menghunjamkan pisau
untuk ketiga kalinya, ujaran Ahmad Saleh terngiang kembali di telinga Fahmi
Idris: ‘Jangan bodoh! Kalau ada maling atau rampok, diam saja. Orang-orang toh akan keluar rumah setelah semuanya
beres. Kecuali kamu mau mampus!’
Fahmi Idris telanjur mengangkat
tangannya—dan pisau ituteracung
gemetar, menunggu bersama kilatan cahaya kembang api yang terbakar di langit. Dalam
amarah yang nyaris tidak tertanggungkan, dia masih sempat mengingat apa yang
pernah disampaikan oleh kawan lamanya itu.
Namun ada ingatan lain—dan ini
jenis ingatan yang begitu kuat— yang membuatnya berubah pikiran. Pada sebuah
dini hari, dia pernah dipaksa bertekuk lutut di rumah kontrakannya. Seorang
laki-laki berotot yang hanya mengenakan cawat dan menutupi wajahnya dengan
topeng, menodongkan linggis tepat di ujung lehernya. Sementara, dua orang
lainnya—yang juga bertopeng, hanya mengenakan cawat, dan masing-masing bersenjatakan
parang—menguras habis barang-barang miliknya. Tidak banyak yang dia miliki: sebuah
TV LED, DVD player, dan dua buah gawai. Darahnya terasa mendidih mengingat
foto-foto anaknya yang baru berusia satu tahun tersimpan dalam memory card yang melekat pada kedua gawai
itu. Dia menyesal karena belum mengikuti saran istrinya untuk mencetak sejumlah
foto keluarga. Dia berusaha melawan dan hampir tidak terkendali. Namun dia
harus memilih ketika laki-laki berotot yang keringatnya menguarkan bau amis itu
mengancamnya agar tetap diam jika tidak ingin terjadi apa-apa dengan istrinya.
Istrinya berada di kamar dengan tubuh gemetar, berusaha menyusui anaknya yang
menangis. Selepas para garong itu pergi, dia berharap bisa membeli senjata api
dan bersumpah akan menembak siapa saja yang menyatroni tempat tinggalnya. Namun,
rupanya itu mimpi sial belaka. Sudah dua tahun sejak kejadian itu—dan dia harus
pindah ke rumah petak yang semrawut dan sempit— dia bahkan belum bisa membeli
sebuah televisi.
Pisau itu menghunjam sekali lagi, tapi
kali ini tidak tepat sasaran. Fahmi Idris bisa merasakan ujung pisaunya hanya membentur
tulang lengan yang keras. Sebuah erangan pendek terdengar dari sosok lawan. Tanpa
dinyana sedikit pun, tiba-tiba sosok lawan itu bersujud di bawah lututnya dan
meminta belas kasih.
“Tolong lepaskan! Ini saya. Maafkan
saya. Tolong, saya hanya ikut-ikutan!” suara itu terdengar lirih dan tertahan.
Fahmi Idris segera menjambak kepala
sosok yang sedang berlutut di depannya. Setelah menjambret masker yang menutupi
sebagian wajahnya, Fahmi Idris terhenyak. Dalam remang cahaya lampu dia menemukan
wajah yang dikenalinya.
“Bangsat kamu, Jen! Anjing sialan kamu!
Bangsat sekali kamu!” Fahmi Idris memaki-maki.
Jen alias Zaenal Arifin kembali
menekuk tubuhnya, bersujud seraya memegangi kaki Fahmi Idris. Fahmi Idris
menjadi tidak enak hati. Sekelebatan bayangan wajah Ahmad Saleh mampir dalam
benaknya. Bagaimana mungkin sosok yang nyaris ingin dihabisinya itu adalah anak
dari kawannya sendiri. Dia memang jarang bertemu dengan Jen. Tapi dia
mengenalnya cukup baik. Bagaimanapun untuk urusan-urusan tertentu Fahmi Idris
kerap berkunjung ke rumah Ahmad Saleh yang hanya dipisahkan sejumlah gang di
permukiman yang padat itu. Dalam sejumlah kunjungannya, Fahmi Idris bertemu
juga dengan Jen yang pendiam.
“Kamu butuh uang?” Fahmi Idris
geram, berusaha menahan amarah. “Kamu baru nenggak
apa, sampai-sampai mau mengambil barang seperti ini? Di tempat saya lagi.
Kamu taruh di mana otakmu?”
Jen membisu. Sesekali saja, gerak
tubuhnya seperti sedang menahan kesakitan. Tidak ingin amarahnya meledak, Fahmi
Idris menghardik remaja belasan tahun itu agar cepat pergi dari hadapannya.
Tanpa menunggu lebih lama, Jen pun bangkit. Sesekali langkahnya tersuruk, lalu
menghilang di ujung gang.
Selepas Jen pergi, Fahmi Idris
menyalakan sebatang rokok. Dia tidak habis pikir dengan kejadian yang baru saja
dialaminya. Hari itu, gerimis turun sejak sore dan dia terjebak di rumah
seorang kawan. Dia tenang-tenang saja. Tidak sedang diburu waktu, tidak sedang
ada yang menunggu. Istri dan anaknya pulang ke kampung halaman. Mereka telah
sepakat, sementara Fahmi Idris berusaha mencari tempat tinggal baru yang lebih
layak, anak-istrinya pulang ke rumah orang tuanya dulu. Secepatnya—mungkin awal
tahun seperti janjinya—Fahmi Idris akan menjemput anak dan istrinya. Rencana
sepertinya berjalan lancar. Fahmi Idris mendapatkan sebuah rumah kontrakan di
sebuah kompleks perumahan di pinggiran kota. Bisa dicicil tiga kali dalam
setahun. Setidaknya itu menurut informasi Ahmad Saleh. Untuk hal-hal semacam
itu, reputasi Ahmad Saleh tidak perlu diragukan. Dia adalah jenis makelar yang bisa
mencarikan apa saja bagi orang-orang yang membutuhkan, mulai dari rumah
kontrakan hingga sepeda anak bekas. Seminggu yang lalu Fahmi Idris mendapatkan upah
yang layak untuk pekerjaannya. Dia menyisihkan sejumlah uangnya untuk membeli sebuah
sepeda anak beroda tiga. Bekas, tapi masih mulus. Masih layak untuk membuat
anaknya bergembira ketika kembali ke tempat yang baru nanti. Dia mendapatkan
harga khusus dari Ahmad Saleh. Meskipun begitu, sebagai seorang yang ahli membongkar-pasang
segala sesuatu, Fahmi Idris tidak tinggal diam. Menjelang sore, sebelum pergi
ke rumah seorang kawan, dia memeriksa kembali sepeda itu. Mencucinya dengan
bersih, mengencangkan sejumlah baut yang kendor, memastikan semua baik-baik
saja. Dia dihinggapi kehahagiaan yang meluap-luap hingga lupa memasukkan
kembali sepeda itu ke dalam kamar kontrakan. Menjelang pukul dua belas malam
dia tiba kembali di mulut gang menuju kamar kontrakannya. Sesuatu yang tidak
pernah dibayangkannya pun terjadi.
Dia begitu tenang berjalan memasuki
gang buntu yang lengang itu. Gerimis sudah reda. Bau anyir-busuk dari got di
sisi gang, membuat semua orang ingin bergegas ketika melewati gang itu. Tapi aroma
uap anggur merahyang menguar dari
mulutnya sedikit mengurangi efek bau tidak sedap. Orang-orang yang tinggal di
ujung gang buntu itu lebih suka kongkow-kongkow
di tempat lain. Kecuali mereka, satu-dua bandar kere yang bertransaksi sepoket dua poket ganja dengan para pemakai pemula. Dua hari sebelum malam
tahun baru, tempat itu dibersihkan oleh aparat. Ada tiga bandar terciduk: ganja
dua orang, sabu satu orang. Barangkali karena itulah, malam tahun baru tidak
memberikan kemeriahan apapun, selain kilatan cahaya kembang api dan bunyi
ledakannya yang sesekali dikirim dari tempat lain ke langit di atas gang buntu
itu.
Menjelang ujung gang, dia
berpapasan dengan dua orang. Ada yang terasa ganjil ketika dua orang itu
menunduk berlagak sopan—hal yang tidak biasa terjadi di tempat itu. Apalagi
setelah disadarinya bahwa salah satu di antaranya sedang memanggul sebuah
sepeda anak beroda tiga. Spontan saja Fahmi Idris melayangkan tendangan
sekeras-kerasnya. Sosok yang memanggul sepeda pun terjerambab, sementara yang
satunya lari terbirit-birit. Fahmi Idris segera melolos sebilah pisau dari
balik jaket jeans lusuhnya. Sejak peristiwa naas yang menimpanya dua tahun
silam, kemana-mana dia selalu membawa pisau itu. Pisau dapur belaka, tidak
begitu tajam, tapi cukup bisa diandalkan untuk melukai siapapun yang mengancam harga
dirinya.
“Anak ingusan sialan!” dengus Fahmi
Idris seraya menjinjing sepeda kecil itu dan membawanya kembali ke kamar
kontrakannya.
***
Ketika Fahmi Idris akan memulai
pekerjaannya, tuan rumah yang ramah itu—melalui seorang asisten rumah tangga—menyuguhkan
segelas kopi. Tuan rumah itu seorang laki-laki tua berkacamata tebal. Dia duduk
di sebuah kursi kayu di teras rumah dan menceritakan sejumlah gangguan yang
terjadi pada AC di rumahnya. Pagi itu dia telah menelepon Fahmi Idris untuk
menggantikan tukang AC langganannya yang sedang libur. Dia berbicara seraya
membuka halaman demi halaman sebuah surat kabar. Sesekali dia juga mengomentari
berita yang sedang dibacanya.
“Kota ini sudah tidak nyaman lagi untuk
tempat tinggal,” ujarnya. “Asli orang sini?”
“Saya datang dari pulau seberang,”
jawab Fahmi Idris.
“Oh,” tanggap tuan rumah.
“Bayangkan, sepagi ini sudah ada tiga berita mengenaskan.”
Fahmi Idris mendengarkan dengan
saksama komentar-komentar tuan rumah. Dia mulai menebak, mungkin yang dimaksud adalah
berita seputar kecelakaan. Biasanya memang seperti itu. Malam pergantian tahun selalu
menyumbangkan angka kematian di jalanan.
“Seorang remaja ditemukan tewas di TPA
Lingkar Selatan,” lanjut tuan rumah. “Luka tusuk di perut dan …”
Kalimat itu tidak bersambung. Tuan
rumah berdiri seraya mengangkat gawainya yang bergetar di atas meja. Dia
melangkah melewati pintu samping rumah, berbicara sebentar, lalu kembali untuk
memberikan sejumlah instruksi kepada Fahmi Idris. “Oke, dimulai saja. Saya ada urusan sebentar,” ujarnya kemudian.
Fahmi Idris menyesap kopinya sekali
lagi. Dia berpikir untuk segera menyelesaikan pekerjaannya. Ketika memindahkan
gelas kopinya ke atas meja, matanya tertuju pada sebuah halaman surat kabar
yang terbuka. Dia membaca dalam hati sebuah judul berita: Seorang Remaja Ditemukan Tewas di TPA Lingkar Selatan. Berita itu
menempati seperempat bagian halaman surat kabar. Sebuah foto hitam putih
memperlihatkan dua orang petugas sedang mengusung kantong mayat di dekat sebuah
mobil ambulance. Di sebelah kanan
atas foto itu disisipkan sebuah inset
fotoyang menampilkan wajah korban
semasa hidup. Fahmi Idris gemetar menatap foto itu. Dia membaca keterangan foto
dan menemukan sebuah nama yang sangat dikenalnya. Tidak percaya, Fahmi Idris
mencoba menekuni foto itu sekali lagi. Dia bisa mengingat dengan jelas, wajah remaja
itu pernah dilihatnya terpampang di dinding rumah Ahmad Saleh. Fahmi Idris
menelusuri berita itu, kata demi kata hingga tuntas. Dia mengulang-ulang bagian
yang menjelaskan luka di tubuh korban: Luka tusuk di perut bawah sebelah kiri.
“Mari, Pak. AC-nya di sebelah sini.”
Fahmi Idris bangkit dari kursi,
mengekor asisten rumah tangga itu. Bulu kuduknya terasa merinding. Dia teringat
kembali setiap rincian kejadian malam itu.
***
Ahmad Saleh kembali menuangkan
anggur ke dalam gelas. Fahmi Idris berusaha mengimbangi, seraya mencari-cari
waktu yang tepat untuk berpamitan. Sudah hampir Subuh, hawa kantuk pelan-pelan
mengalahkan pengaruh anggur bikinan cap
orang tua itu. Namun selepas menenggak bagiannya, Fahmi Idris tidak yakin
dirinya benar-benar ingin pulang dan bisa memejamkan mata dengan tenang di
kamarnya. Itu sudah lepas hari ketujuh sejak kematian Jen. Sejak itu pula Fahmi
Idris jarang bisa tidur. Tubuhnya bisa saja rebah di kasur, tapi pikirannya
keluyuran ke mana-mana.
“Saya tidak akan pernah membiarkan
pembunuh anak saya hidup tenang,” ujar Ahmad Saleh selepas menenggak anggur
berwarna kemerahan. “Coba bayangkan, ada dua luka tusuk di perutnya. Bagaimana
rasanya sewaktu ujung pisau itu masuk ke sana? Bangsat benar!”
Fahmi Idris mengempaskan napasnya. Dia
tidak tahu mesti bicara apa. Itu malam ke sekian Ahmad Saleh mengutuki
sekaligus menyesali kematian anaknya. Fahmi Idris selalu menemaninya. Dia tidak
bisa menghindar meski kehadirannya di dekat Ahmad Saleh selalu dirasakannya
sebagai teror bagi dirinya sendiri. Namun malam itu tidak separah biasanya.
Ahmad Saleh tidak lagi berteriak-teriak dan membuat geger seisi kampung. Dia
tampak mulai bisa mengendalikan dirinya.
“Bukan hanya dua. Kalau kamu mau
percaya, ada luka tusuk lainnya di bahu dan di dekat leher. Bangsat benar!”
Ahmad Saleh terus mengoceh.
Fahmi Idris merasa tidak berdaya.
Dia mengangkat botol yang masih terisi seperempat itu dan menuangkan penuh ke
dalam gelasnya. Lalu tanpa berpikir panjang ia meneguknya seperti seseorang
yang sedang minum air putih.
“Saya paham kamu pasti sangat
kehilangan,” tanggap Fahmi Idris. “Tidak ada cara lain, pembunuhnya harus
diadili.”
“Sudah delapan hari,” sergah Ahmad
Saleh, “dan polisi belum bisa menemukan apa-apa. Padahal, seorang kawan dekat
anak itu pernah memberi keterangan kepada polisi, juga kepada saya, bahwa pada
malam tahun baru, anak itu sempat terlihat keluar dari gang di sekitar tempat tinggalmu
sana.”
Fakta bahwa Ahmad Saleh mengatakan
hal semacam itu, membuat tubuh Fahmi Idris terasa meriang. Dia sudah sering
teringat peristiwa pada malam tahun baru itu. Dia mencoba mengingat
perinciannya sekali lagi, adegan demi adegan: dia menendang anak muda itu—anak
muda itu terjerembab—dia merogoh pisau lalu menikamnya—sekali tikam, dua kali
tikam—dia sempat ragu lalu menikamkan pisaunya sekali lagi—anak muda itu
menangkisnya—anak muda itu menyerah, meminta dilepaskan—dia pun melepaskan Jen.
Fahmi Idris tidak sempat memeriksa apakah ada bercak darah atau bau amis di
ujung pisaunya. Seingatnya, Jen berjalan sedikit sempoyongan setelah itu.
Apakah dua luka tusuk itu karena saya—Fahmi Idris membatin.
“Tidak mungkin,” gumamnya tiba-tiba.
“Apanya yang tidak mungkin? Apa
maksudmu yang tidak mungkin itu? Anak saya ditemukan di tempat penampungan
sampah!
Fahmi Idris terkaget, menyesali
mulutnya yang tidak terkontrol. Nada bicara Ahmad Saleh meninggi. Fahmi Idris
gelagapan menanggapinya.
“Tidak mungkin pembunuh Jen tidak
tertangkap. Itu maksud saya.”
Ahmad Saleh kembali tenang. Fahmi Idris
berusaha tenang. Dia menuangkan kembali anggur ke dalam gelasnya. Sebelum
menenggaknya, dia memberikan isyarat kepada Ahmad Saleh. Ahmad Saleh mengangkat
gelasnya, lalu dua kawan dekat itu menenggak bagian masing-masing dalam waktu
yang bersamaan.
“Apa yang akan kamu lakukan kalau bajingan
itu menyerahkan diri kepada polisi?”
Ahmad Saleh menyeringai. Lalu
dengan gerakan yang tidak terduga oleh siapapun, dia menyambar botol anggur itu
dan meghantamkannya keras-keras ke lantai ubin.
“Sebelum dipenjara, saya akan
menghancurkan kepalanya seperti ini!”
Botol anggur itu pecah
berkeping-keping. Sebagian yang terpenggal masih dalam genggaman Ahmad Saleh.
Fahmi Idris tidak berkedip menatap ujung penggalan botol yang runcing itu.
Dalam sekejap, jantungnya terasa seperti akan berhenti berdetak.***
Ampenan, 5 Januari 2020

Tjak
S. Parlan,
lahir di Banyuwangi. Menulis cerpen, puisi, feature perjalanan, novel. Buku
kumpulan cerpennya Kota yang Berumur
Panjang (Basa-basi, 2017), feature perjalanan Berlabuh di Bumi Sikerei (Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan,
2019). Mukim di Ampenan, Nusa Tenggara Barat.

0 Komentar