Dua tahun sudah aku sengaja mengisap batang rindu yang kamu tinggalkan. Aku berharap racun rindunya bersarang di tubuhku, dan aku ingin segera mati karenanya. Iya, aku ingin racun rindu itu segera membunuhku. Aku sudah tidak sabar pergi ke dunia keabadian. Menjumpaimu dan bersatu denganmu di sana.
Kini aku
merasakan tubuhku melemas dan dingin. Semacam
isyarat racun rindu yang bersarang di tubuhku
telah menjadi kanker ganas yang siap
melenyapkan nyawaku. Kini saatnya aku menyusulmu.
Baiklah, akan kupejamkan
mataku untuk menyambut kematianku ini. Aku ingin saat mataku terbuka nanti, aku
telah berada di tempat yang sama denganmu.
***
Dugaanku,
pada saat aku membuka mata akan
berada di tempat yang indah bersamamu. Paling
tidak di sebuah taman yang penuh bunga-bunga
harum, dan mungkin ada juga kupu-kupu
bersayap perak dan emas. Di sana aku mengenakan baju berwarna putih dengan
rambut tergerai hitam mengkilat, dan
pastinya kamu juga mengenakan baju serba putih, dengan wajah bersinar. Lalu, kita akan menjelma raja dan ratu
di istana keabadian.
Rupanya apa yang aku bayangkan tidak terjadi, karena pada saat
terbangun, aku tidak berada di tempat yang indah. Aku justru berada di tempat
yang menyeramkan. Tak
ada penerangan sedikitpun. Seluruhnya
hanya gelap, bahkan
sepertinya aku hanya
seorang diri. Aku tak tahu ini tempat apa, semuanya hitam.
Aku berteriak, tapi tak ada suara. Entah, telah
hilang ke mana
suaraku. Apakah karena racun rindu atau apa, aku tak tahu, dan juga tak peduli.
Aku terus berteriak dan berharap
kamu mendengar,
lantas menolongku keluar dari tempat terkutuk ini.
“Sudah kubilang
jangan pernah memaksa agar dapat bertemu denganku sebelum Tuhan menghendaki. Tapi dasar kau keras kepala. Kau
ingin mendahului takdir dengan mengisap racun rindu yang kutinggalkan. Dan
sekarang kau telah mati,
tapi ketahuilah, keinginanmu tidak akan pernah kesampaian.”
Aku tersentak. Itu suaramu. Iya, itu suaramu yang aku
rindukan selama ini. Tapi, di mana kamu? Gelap
ini membuatku tak bisa melihatmu. Aku ingin bersamamu. Meski tak ada suara, aku tetap ingin bicara. Aku
yakin kamu mendengar. Aku yakin
ikatan batin kita masih ada. “Aku
tidak kuat menjalani hidup tanpamu. Kuputuskan
menyusulmu ke tempat ini agar kita dapat bersatu lagi.
Sungguh aku tidak kuat lagi menahan
rindu.”
“Bodoh! Kau benar-benar bodoh! Seharusnya kau bisa hidup tanpaku. Jika kau merasa tidak kuat, kau bisa minta tolong Tuhan untuk membantu. Tapi, justru apa yang kau lakukan seolah tidak butuh Tuhan.”
Aku kembali tersentak, terlebih setelah kamu bentak. Aku sungguh
tak mengerti denganmu saat ini. Mengapa kamu membodoh-bodohkan aku? Seharusnya kamu
bangga memiliki kekasih yang rela mati
untukmu.
“Tindakanmu justru
membuat jarak kita tak bisa lagi ditebas. Kita tak mungkin bisa bersatu lagi.
Meski, tempat kita ini abadi.”
“Maksudmu?”
“Kita beda. Aku mati karena memang sudah saatnya mati. Tapi kau mati karena memaksa diri ingin mati. Karena itu tempat kita berbeda, dan tak mungkin bisa kembali menyulam cinta.”
Dadaku seketika
terasa sesak. Dan
tiba-tiba sebuah godam menghantam tubuhku hingga
terpental jauh lalu menabrak
dinding tak kasat mata. Sangat
keras.***

Ni’matus Sholihah, lahir di Madiun pada 1 Maret 2001. Hobi membaca dan menulis sejak MI (Madrasah Ibtidaiyah). Alumnus Man I Madiun (Man Kembangsawit) tahun 2019. Pengagum senja, yang menyukai aroma buku dan hujan. Ide tulisannya suka muncul di saat-saat tertentu, semisal saat mencuci, atau bersih-bersih.
0 Komentar