“Sebenarnya ini sebuah rahasia dan cukup
sensitif, tapi aku perlu menceritakannya padamu,” bisik Jafar dari balik
punggungku, saat kami berboncengan naik sepeda menuju sekolah. “Jadi, aku lihat
sendiri bagaimana Abalawa menggumuli pohon mangga di depan rumahnya.”

Saat itu, yang kuingat, Jafar suka
mengoceh untuk sekadar mengisi kekosongan sebelum kami sama-sama tiba di
sekolah. Sudah lebih dari dua tahun setiap pagi kami berangkat dengan cara seperti
ini, tepatnya semenjak kami memasuki sekolah menengah pertama. Namun baru kali
itu, apa yang dia katakan bikin aku nanap.

Tentu aku mengenal siapa Abalawa, bahkan
sering menghabiskan waktu di rumahnya. Sekalipun aku berusaha tak memercayai
ocehan kawanku, darah remajaku waktu itu teramat penasaran, bagaimana mungkin
seseorang bercinta dengan sebatang pohon?

Abalawa memang menyukai tanaman, dan
kupikir itu bukan sesuatu yang aneh apalagi patut dicurigai. Setiap hari,
dengan postur tubuhnya yang kekar, ia berjalan mengelilingi tanaman sambil
membawa ember, kadang bila hari sedang terik, ia menyemprotnya pakai selang air
untuk sekaligus mengangkat debu-debu. Ia juga tak segan menceraikan akar
benalu yang merambati tanamannya, dan tak pernah terlambat memberi mereka
pupuk. Begitulah hari-hari Abalawa lalui. Meski sudah 55
tahun, ia kelihatan lebih muda dan selalu tampak ceria saat mengerjakan semua
itu. 

“Kau jangan mengada-ada,” aku menegur
kawanku sambil tetap memandang jalan dan terus memancal pedal sepedaku. “Ia
memang mencintai tanaman, sama seperti orang pelihara sapi, mereka bakal
habiskan banyak waktu dengan binatang itu.”

“Dengar ya, saat itu awalnya aku berniat
tidur di rumah kakek, tapi larut malam tiba-tiba aku kepingin sekali pulang,”
Jafar terus menjejalkan ceritanya. “Malam berangin dan dingin, tapi aku tak
peduli dan terus berjalan kaki sambil menutupi kepalaku dengan sweater. Sampai
di pelataran rumah Abalawa, tiba-tiba sekelebat bayangan muncul dari balik
pohon, aku sempat mengira monyet, tapi mataku belum pikun untuk memastikan
bahwa sosok tersebut ternyata Abalawa. Kau tahu apa yang dilakukannya? Dia
memeluk sebatang pohon sambil menggoyang-goyangkan pantatnya seolah sedang
mendekap tubuh wanita. Hei, kau masih mendengar aku?” Jafar menepuk pundakku.

“Siapa tahu dia sedang pipis.”

“Kau pikir aku tak bisa bedakan antara kencing dan kentu?” sembur Jafar di dekat telingaku, membuat sepedaku
sempat oleng. 

Kuakui, saat kedua orangtua Jafar sedang
pergi haji, kami pernah menonton film porno bersama-sama dari kaset vcd koleksi ayahnya. Banyak sekali kaset porno milik ayahnya, rata-rata terbitan Amerika, dan itu pertama
kalinya jantungku berdebar tak keruan sampai-sampai susah bernapas. Dari
pengalaman itu, kukira ia punya banyak bekal melihat
adegan persetubuhan.

Sambil membonceng, kadang Jafar
pura-pura membantu aku mengayuh sepeda dengan menempelkan kakinya di pedal
bersebelahan dengan kakiku. Sekilas kami seperti kompak mengayunkan sepeda
bersama-sama, tapi aku tahu dia tidak mengeluarkan tenaga, kakinya cuma
menempel saja. Sialnya aku tak mungkin memintanya bergantian duduk di depan,
sebab ia tak becus mengendalikan sepeda.

“Kau tetap tidak percaya?” Ia terus
meraba-raba pikiranku. Aku diam saja, memandangi jalan yang
membentang di hadapanku.

*

Kalau saja yang Jafar ceritakan adalah
penjaga sekolah, atau petinju bernama Burhan yang membuka toko matrial di
perempatan jalan, mungkin aku tidak akan begitu peduli. Tapi dia tahu, aku
kerap bermain di rumah Abalawa karena kebetulan rumah kami bersebelahan. Saat
suntuk, aku biasa memboyong buku-buku dan tiduran di bawah pohon mangganya
untuk mencari udara segar sambil menggarap soal matematika.

Abalawa tinggal di rumah induk
keluarganya seorang diri, sebab ia tak pernah punya istri apalagi anak.
Sementara tujuh saudaranya yang lain sudah membangun keluarga dan hidup
terpisah-pisah. Rumahnya tidak begitu besar, hanya saja memiliki halaman yang
luas dan dikerumuni banyak pohon.

Dulu pelataran rumahnya pernah dijadikan
lapangan bulu tangkis, dibangun dengan bambu sebagai garisnya. Satu-satunya
lapangan yang pertama kali dimiliki kampung kami, begitu Abawala sering
membanggakan masa lalunya. Sampai kemudian muncul lapangan lain yang lebih
menawan, dilengkapi lampu penerangan dan bangunan gedung yang mampu menepis angin. Sejak itu orang jarang bermain bulu tangkis di sana, dan Abalawa
kian menumbuhkan minatnya berkebun dengan menanam banyak pohon.

Ia akan menyetorkan mangga, jambu air,
delima, sirsak, kelengkeng atau apa pun yang tengah berbuah kepada juragan yang
setiap musim panen sering kujumpai berkeliling kampung sambil membawa keranjang
besar. Sebagai ganti mereka memberinya uang yang akan Abalawa pakai untuk
menopang keperluannya. Jadi wajarlah bila ia teramat mencintai tanamannya, dan
tak rela tangan-tangan jahil mengusiknya.

Pernah sepulang sekolah Jafar diam-diam
memanjat pohon mangganya. Lalu Abalawa yang mengendus tingkahnya dari dalam
rumah langsung keluar sambil meraup kerikil dan menyambarnya.
Bunyi kerikil yang menghantam daun mirip hujan deras. Itu membuat kawanku
tersungkur dan langsung terbirit-birit.

Seorang pengamen yang tak tahu apa-apa
juga pernah kena sial. Ia sedang berteduh di bawah pohon
jambu sambil menghitung uang. Mendapati banyak jambu air bergelayutan siap
santap, dia tergoda memetiknya. Tak lama setelah itu, lonjoran kayu balok
mendarat persis di mukanya. Ia melejit sekencang-kencangnya sampai-sampai
melupakan beberapa uang receh yang sedang disortirnya. Beruntung, satu-satunya
gitar yang ia miliki masih menempel di pundak.

Meski begitu, aku tahu Abalawa
menyayangiku. Saat berusaha menggapai buah di dahan yang tinggi, ia kerap
membantu mengambilkan galah. Sering pula ia menyisakan panen mangganya untuk
sengaja diberikan kepadaku, bahkan mau mengupas kulitnya untuk aku. Mungkin
karena hampir setiap hari aku berada di sana untuk menemaninya. Aku tak pernah
menolak saat ia memintaku membelikan rokok, atau memijat badannya saat ia
mengeluh pegal-pegal dengan cara menginjak-injak punggungnya. 

“Kau sering makan buah, tapi berat
badanmu tak bertambah juga,” ia sering berkata begitu. 

Ketika aku pulang, ia tidak jarang
membawakan aku sekantong jambu, atau pepaya yang hari itu kebetulan sedang
berbuah. Karena kebaikannya, kadang ibuku memintaku membawakan lauk untuk
Abalawa. Kami pun menjadi seperti keluarga. Aku curiga jangan-jangan Jafar cuma
iri kepadaku, dan mulai mengarang cerita yang bukan-bukan. Aku tahu, banyak
kawanku mendambakan mangga Abalawa yang terkenal manis dan tak pernah cukup
bila hanya melahapnya satu butir.

Tapi ucapan Jafar benar-benar sudah
mengotori kepalaku. Membayangkan bagaimana Abalawa menempelkan kemaluannya pada
pohon mangga membuat aku tiba-tiba merinding. Itukah yang membuat rasa
mangganya teramat enak? Brengsek betul Si Jafar. Tak lama aku pun menghentikan sepeda, menoleh ke belakang, dan berkata, “Kalau kau menyebar cerita yang bukan-bukan,
silakan turun sajalah.”

Namun si mulut jahanam kawanku itu tetap
membatu, tak beringsut sejengkal pun dari sepedaku.

“Lebih baik kita buktikan sendiri nanti
malam,” katanya, tak bosan meyakinkan aku. “Buruan, nanti kita terlambat.”

*

Aku tidak pernah memungkiri, apapun yang
ditanam Abalawa selalu subur, berbuah lebat, dan rasanya juga lebih memikat bila dibandingkan dengan buah yang
tumbuh di tempat lain. Misalnya saja dengan pohon mangga yang berdiri di
belakang kelas kami, meski satu jenis rasanya tak ada apa-apanya. Demi tujuan itukah Abalawa akhirnya
tidak menikahi manusia?

Suatu hari ibuku pernah bercerita,
Abalawa sempat berpacaran dengan anak seorang pegawai
pabrik gula. Namun satu hari setelah ia melamarnya, perempuan itu ketahuan main
serong dengan pria lain. Sejak itu Abalawa memutuskan menjadi kader sebuah
partai politik, dan aktif mengikuti berbagai kegiatan.
Namun begitu pemilu tiba, partainya selalu kurang peminat dan ia tak pernah
dapat jatah duduk di kursi dewan. Untuk menjaring banyak suara, kata ibuku, dia sempat membangun lapangan badminton di
halaman rumahnya. 

Bisa jadi karena patah hati, Abalawa
akhirnya lebih memilih menggumuli pohon. Pohon-pohon memang tak pernah
berbohong. Tapi memikirkan itu membuat perutku mual, kepalaku mendadak pusing.
Gara-gara Jafar, rasanya aku ingin memuntahkan seluruh isi perutku. Mestinya
aku tidak usah peduli dengan ucapannya. Tapi apa yang ia katakan
sungguh-sungguh meyakinkan. Bahkan ia berani bersumpah tertabrak mobil bila
berbohong. 

Saat itu, akhirnya aku memboyong rasa penasaranku kepada Pak Yosi, guru yang kerap berdiri di depan kelas untuk mendongengi kami betapa bahayanya seks
bebas. Ketika bel istirahat menggiring anak-anak ke kantin, aku buru-buru
mencegat Pak Yosi yang tengah berjalan di depan ruang kelas, dan memberanikan
diri bertanya.

“Mungkinkah manusia menikahi pohon?”

Mendengar pertanyaanku, dia malah meringis. “Kau kesurupan apa tiba-tiba ngelantur
begitu?” 

“Tetanggaku begituan dengan pohon,” aku menjelaskan. 

“Begituan, maksudmu berhubungan badan dengan pohon?”

“Semua orang bilang begitu.”

“Omongan orang kau percayai,” ia melangkah menuju ruang guru sambil menenteng bukunya, tapi aku terus membarenginya.

“Mereka bersumpah sudah melihatnya, jadi sebenarnya aku
cuma ingin tahu, apa mungkin manusia menjalin asmara
dengan pohon selayaknya hubungan suami istri?”

Entah bagaimana dia kemudian berhenti dan menatapku selama beberapa
saat. Aku balas memandangi matanya dengan tatapan berharap. Sambil memegang pundakku, dia mengajak duduk di kursi
panjang di depan ruang guru. Setelah itu ia memberiku penjelasan, yang menurutnya untuk sekadar pengetahuan. 

“Begini, kau juga mesti tahu, ada juga
seseorang yang hasrat seksnya bisa langsung
melonjak saat melihat sebuah mobil tabrakan.”

“Mana mungkin?”

“Itulah yang dinamakan kehidupan. Ia begitu luas.”

“Jadi, seseorang juga bisa berhasrat dengan pohon?” aku mendesak.

 “Istilahnya Dendrophilia,” katanya. “Tapi kasusnya cukup jarang, sebagian
besar dari mereka hanya suka memeluk pohon untuk kesenangan, tidak sampai
dorongan ke arah hubungan badan, meski tetap saja hal
seperti itu benar-benar ada.”

Tak lama setelah itu, aku cepat ke
toilet, mengunci pintu, dan muntah.

*

Terus terang itu rahasia besar kehidupan
yang pernah kudapatkan di usia remajaku. Memang sulit kucerna, tapi paling
tidak aku sedikit memahaminya. Aku tak mengira akan mengenang semua itu
setelah dua puluh tahun kemudian, saat aku berada di dalam kereta untuk
menghadiri pemakaman Jafar. Aku mendapat kabar dari grup WA alumni sekolah,
bahwa kawanku meninggal akibat tersedak saat makan salak. 

Ada banyak peristiwa yang sudah
kulewati, namun semuanya tak benar-benar bisa hilang. Sekalipun aku bersikeras
melupakannya, saat-saat tertentu kenangan itu terangkat lagi, lalu
menyalak-nyalak seperti anjing kelaparan. Meski tak sampai menggigit, ia membuat gaduh. Aku sudah berusaha menguburnya dalam-dalam
dengan meninggalkan kota itu, tapi kenangan ternyata memang tidak pernah
kemana-mana. 

Malam itu, ketika Jafar mengajakku
mengintip Abalawa untuk membuktikan perkataannya, aku menolak dan bahkan
mengusirnya dengan beralasan sedang tak enak badan. Tapi aku terus diserang
gelisah dan rasa penasaran sampai sulit memejamkan mata. Pukul 02.00, akhirnya
aku nekat sendirian keluar kamar dengan hati-hati agar tidak sampai menimbulkan
suara, lalu mengendap menuju rumah Abalawa. 

Aku terkejut mendapati Abalawa sudah
berdiri di sisi pohon. Dari balik semak, sambil menahan gigitan nyamuk di
kakiku, aku terus menyembunyikan diri. Dalam keremangan, tiba-tiba aku seperti melihat sosok perempuan yang kukenal, ia mirip ibuku, menyembul dari balik pohon. Dengan kaki
bergetar, aku memaksa diri untuk terus diam dan menahan napas. 

Di hadapanku kini terbaring kuburan
Jafar. Aku terlambat mengikuti prosesi pemakamannya, lalu menyusul ke kuburan.
Gundukan tanah masih terlihat basah. Sampai sekarang, aku tak pernah menjelaskan pada kawanku apa yang sebenarnya terjadi malam itu.

Pemalang, 2020


Sulung Pamanggih, tinggal di Pemalang,
Jawa Tengah. Menyelesaikan kuliah di Universitas PGRI Semarang 2014,
jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Kini Wartawan
di Radar Tegal. Cerita pendeknya pernah dimuat Basabasi.co, Harian Kompas,
Suara Merdeka, serta terhimpun di beberapa antologi
cerpen.