Vila itu masih vila yang dulu juga. Bahkan
setelah tigapuluh tahun berlalu, rasanya tak ada yang berubah: warna cat yang
kusam dan tak bergairah, yang dulu kau berkata, kalau kabutlah yang membuatnya
seperti itu. Ada begitu banyak vila di sini, tapi entah kenapa, kala itu kau lebih
memilih vila itu daripada yang lain, yang kupikir lebih bagus dari vila
pilihanmu. ‘Vila yang terasing’. Begitulah kau menyebut, lantaran hanya
bangunan itu yang berada di anak bukit sana itu; berbeda dengan vila-vila lain
yang berjajar dan berhimpit satu sama lain di kanan dan kiri jalan . Dan kita
tak pernah tahu, mengapa ada orang yang sengaja membangun vila di sana. Hari
ini, aku datang sengaja mengenang kebersamaan kita di sini. Kau tahu, inilah
kali pertama aku kembali datang ke sini, sejak kau menghilang entah kemana,
yang sampai detik ini masih jadi misteri.
Seolah kau baru saja pamit pergi beberapa
waktu lalu, dan aku menunggumu di sini, di beranda vila yang menghadap hutan
yang merenggutmu dariku itu. Dan tak bisa kusangkal, sepotong peristiwa itu
berbondong-bondong menyerbu ingatanku yang sesungguhnya mulai merapuh ini.
Hutan itu berwarna kelabu, bisikmu pada
sebuah pagi yang masih berkabut, tigapuluh tahun lalu. Kala itu aku sedang
mencoba mengakrabi dingin yang agaknya tak ingin bersahabat denganku. Kini, kau
tahu, dingin kala itu kembali menyiksaku. Meremukkan tulang belulangku. Menyesakkan
napasku.
Sungguh, kesunyian ini maha panjang. Jauh lebih
menyiksa dari sekadar dingin yang membekukan darahku.
Hutan itu berwarna kelabu. Kalimat pendek
di pagi buta, yang bahkan mendung masih menyembunyikan matahari (atau
bersembunyi di balik cakrawala?). Semula aku mengira itu akan menjadi kalimat
paling romantis untukku. Rupanya aku salah. Atau, akulah yang justru membuatnya
jadi salah. Aku menyangkal apa yang kau katakan perihal hutan itu. Hutan yang
menghampar di hadapan kita; seperti hanya beberapa jengkal dari beranda vila
itu, tempat dimana kita sedang bercakap.
Apalagi, kalau sedang turun hujan. Itu
kalimatmu yang berikutnya. Masih dengan suara berbisik; kukira hanya beberapa
inci saja jarak bibirmu dengan daun telingaku. Bahkan, aroma parfum yang mulai
samar di tubuhmu, masih bisa kubaui sampai saat ini. Ah, wangi yang kautabur
sebelum akhirnya kita bercinta habis-habisan malam itu.
“Hujan itulah yang membuatnya bertambah
kelabu, Sayang!” ucapmu lagi.
Beberapa kali aku terbatuk sebelum
kusangkal ucapanmu itu. “Aku bahkan tak bisa melihat hutan itu!”
“Ayolah, Sayang. Bukan waktunya bercanda.
Atau kau sedang mengolokku? Mataku tak mungkin rabun!”
Kau memelukku dari belakang. Aku bisa
merasakan bagian tubuhmu yang aku yakin berukuran sama dan proposional itu
menekan punggungku. Tapi itu tak cukup penting untuk dipanjang-panjangkan di
sini. Sejak awal, cerita ini tidak dibangun berdasarkan asas kemesuman. Kukira
kau setuju itu.
“Kukira, aku ingin pergi ke sana,” bisikmu
lagi.
Aku hanya bergeming. Kau mencium
tengkukku. Bibirmu yang basah dan dingin, serupa sepotong es batu kristal yang
menempel di belakang leherku. Dan mendung tiba-tiba tersibak. Perlahan-lahan
cahaya matahari berpendar, menerobos sela-sela antara awan hitam dan putih,
jatuh di atap-atap rumah yang tampak suram oleh suasana pagi yang entah kenapa,
terasa sedikit muram. Cahaya itu, lalu sampai juga di ujung-ujung daun
pepohonan hutan itu.
“Lihatlah,
hutan itu berwarna kelabu!” Kau bersorak, merenggangkan pelukanmu. Mengguncangkan
bahuku, seolah memintaku untuk membenarkan apa yang sedang kau saksikan.
Hutan
kelabu. Dalam hujan…
Kau bersenandung lirih. Aku masih
mengingatnya dan di kemudian hari tahulah aku itu penggalan puisi Sapardi.
Sungguh, aku belum sepenuhnya mengerti;
ada apa dengan hutan yang berwarna kelabu itu, sehingga bisa membuatmu bergitu gembira.
Tentu saja, hutan itu berwarna kelabu, terutama saat matahari pagi menyiramkan
sinarnya ke bumi, ke atas hutan itu. Dan itu sesuatu yang biasa. Warna kelabu
itu, entah karena oleh kabut atau hal lainnya, bagiku bukanlah suatu yang
istimewa. Tapi aku tak mengatakan itu padamu. Aku tak hendak memupus
kegembiraanmu. Seperti biasanya, aku lebih baik diam yang kemudian kau artikan
sebagai sikap persetujuan.
“Aku ingin pergi ke sana! Ayolah. Aku
bukan perempuan konyol yang menginginkan seekor anak kucing seperti dalam
cerita Hemingway, yang sudah kaubaca berulang-ulang itu! Aku hanya ingin pergi
ke hutan itu. Kau kira, untuk apa kita berkunjung ke sini, hah?”
“Kita baru sampai tadi malam. Setidaknya
kau bisa menundanya besok,” Akhirnya aku membuka suara juga. Datar saja.
Kau bersorak. Memutar tubuhku, lalu
menghujaniku dengan ciuman yang bertubi-tubi. Padahal, seandainya kau tahu, aku
sungguh berharap hujan datang malam nanti atau esok pagi, sehari penuh. Tapi
nyatanya, harapanku tak terkabul.
Sepanjang hari itu, kita bersepakat tak
kemana-mana, kecuali hanya untuk makan di warung seberang vila. Atau membeli
Koran meski kita sudah membawa beberapa novel yang belum sempat terbaca.
Sepanjang hari itu, kau tampak begitu sumringah
dan bersemangat. Berulang-ulang kau melihat hutan itu. Kau juga banyak
bercerita tentang hutan-hutan di belahan bumi yang pernah kau kunjungi atau
pernah kaubaca entah di buku apa.
Kau bercerita tentang Schwarzwald, yang
oleh orang Romawi dinamai Black Forest. Kau bercerita tentang Sherwood Forest, hutan
tempat bersembunyinya Robin Hood dan Merry Man, katamu. Kau bercerita tentang Aokigahara,
di utara dasar Gunung Fuji,Jepang. Hutan yang mengerikan. Hutan yang
sangat gelap, dipenuhi gua-gua besar, pohon-pohon raksasa tapi tak memiliki
margasatwa dan menjadi tempat bunuh diri. Kau, bercerita tentang Dark Entry
Forest, hutan sangat lebat di Connecticut. Hutan yang menjadi sarang
hantu-hantu. Kau juga bercerita tentang Betung Kerihun, Lore Lindu, Arfak, dan
hutan-hutan lain yang ada di negeri ini.
Sungguh kau ini, perempuan pencinta hutan. Kadang aku berpikir, kau yang gila atau aku yang gila karena telah mencintai perempuan sepertimu. Mendengar ceritamu saja, nyaliku sudah ciut. Lalu, keindahan macam apa yang bisa kaunikmati dari hutan-hutan yang menakutkan itu?
“Menulislah
cerita tentang hutan, Sayang!”
Kau membisikkannya usai kita bercinta untuk ke
tiga kalinya di malam itu. Tapi segala minat seperti menguap kecuali tidur dan
memimpikanmu. Tapi dalam tidur pun kau enggan hadir. Setidaknya untuk malam
itu. Mungkin hutan kelabu itu telah mencurinya dari mimpiku.
Pagi berikutnya aku tak mendapati dirimu
di sampingku. Aku tak mendapatimu di beranda vila. Aku juga tak mendapati
dirimu di manapun di sekitar vila itu. Maka hutan yang kausebut kelabu itu
satu-satunya tempat yang menyembunyikan keberadaanmu. Dan semakin jelas ketika
kubaca tulisanmu di sehelai tisu yang kutemukan di atas lantai. Mungkin
terjatuh. Mungkin semula kau menaruhnya di atas bantal.
Itu
hutan yang sangat indah. Penghuni kamar sebelah memberitahukan padaku. Aku
duluan. Kau begitu pulas. Tampaknya kecapaian. Maaf, semalam sebagai ungkapan
rasa terimakasihku padamu.
Tapi aku tak menemukan jejakmu di hutan
itu. Selain suara-suara asing yang membuatku gemetar, adalah hening yang
mencekam. Kuteriakkan namamu, tapi hanya gaung yang menjelaskan ketiadaanmu. Suatu
kali kau pernah berkelakar, hutan itu tempat yang begitu misteri. Kalau ingin
aman, simpanlah rahasiamu di dalam hutan!
Itukah yang sedang kaulakukan?
Sampai sekarang aku tak kuasa menjawabnya
selain hanya menganggapmu hilang. Hutan itu telah menelanmu. Dan kukira aku
sedang membuat cerita tentang hutan, sebagaimana yang pernah kaubisikkan
bertahun-tahun lalu.
***
Tigapuluh tahun berlalu. Hutan itu
terbakar, entah sudah ke berapa kali sejak kau menghilang di sana. Hutan itu
akan tumbuh, lalu dibakar atau terbakar. Tumbang atau ditebang lalu tumbuh lagi
meski butuh waktu yang panjang untuk kembali seperti sedia kala. Tapi kau?
Tigapuluh tahun berlalu. Aku kembali ke
vila ini. Vila yang dulu juga. Aku memandang ke hutan yang baru saja terbakar. Memang
berwarna kelabu. Kali ini aku tahu, hutan itu kelabu oleh asap pepohonan yang
terbakar.
Hutan itu berwarna kelabu, Sayang. Aku
bisa merasakan bulu-bulu lembut di tengkukku tiba-tiba meremang. Aku mencium
wangi tubuhmu. Aku bisa merasakan kembali bagian tubuhmu yang kuyakini
berukuran sama, proporsional, yang menekan lembut punggungku. Dan belakang
leherku yang dingin seperti ada sebutir es kristal. Aku mendengar suara sendiri
bergetar: menyebut namamu.***

Y Agusta Akhir, penikmat sastra dan aktif di komunitas
sastra alit, Solo. Menulis puisi, cerpen dan novel. Beberapa karyanya berupa
puisi dan cerpen pernah dimuat di harian joglosemar(Solo), Solopos (Solo),
buletin sastra Pawon (Solo), antologi cerpen Waktu yang Bercerita dan Secabik
jejak (Alit, Solo), antologi cerpen Joglo (TBJT Surakarta), dll. Novelnya yang
berjudul Requiem Musim Gugur terpilih
sebagai salah satu pemenang pada lomba Grasindo Publishers tahun 2013 dan Novel
Kita Tak Pernah Tahu Kemanakah
Burung-burung Itu Terbang menjadi juara III sayembara novel yang diadakan
oleh UNSA Press tahun 2017.


0 Komentar