Ia
tidak ingin dicintai, katanya. Bukan sekadar tidak ingin, tapi lebih daripada
itu, ia tidak segan-segan membunuh setiap lelaki yang nekat mengutarakan cinta
kepadanya. Itulah sebabnya mengapa dirinya tidak pernah tinggal berlama-lama di
suatu kota. Bahkan lebih gilanya lagi, pernah dalam satu tahun ia pindah tiga
kali. Ti-ga ka-li. Bisa kaubayangkan? Berapa laki-laki yang mati konyol karena
mencintainya pada setahun itu? Kau pasti terkejut apabila mendengarnya. Empat
orang. Ya, bukan tiga, tetapi empat. Karena sebelum kepindahannya kali ketiga,
ada dua pemuda yang berlomba-lomba mengungkapkan perasaan cinta kepadanya.
Alona,
nama perempuan tersebut, berusia hampir tiga puluh. Namun, bila dilihat dari
wajah dan penampilannya, maka siapa pun akan setuju dengan apa yang saya
katakan, bahwa perempuan itu tampak lebih muda tujuh tahun dari usia yang sebenarnya.
Kecantikannya memang tidak terlalu mencolok, tetapi, lelaki mana saja yang
melihatnya pastilah merasa betah. Belum lagi jika lelaki itu sudah berinteraksi
dan tahu bagaimana Alona bersikap, tentu laki-laki itu tidak akan pernah merasa
bosan. Dan itu yang saya rasakan. Enggan beranjak darinya. “Sebaiknya engkau
pulang sekarang, sebelum kau mulai mencintai saya, dan saya akan membunuhmu
kemudian,” ujarnya mengingatkan–apabila saya sudah terlalu larut di apartemen
mungilnya.
“Apa
masalahnya bila dicintai?” tanya saya kesal.
“Masalahnya,”
ia menggiring saya ke pintu keluar, “saya benci dicintai.” Alona sedikit mendorong–memastikan
pintu itu tidak mengenai saya ketika ditutup.
“Kau
terlalu takut, Alona!”
Usai
meneriaki dan menudingnya sebagai makhluk aneh yang jelas-jelas menolak
dicintai oleh siapa pun, seperti biasanya, saya melangkah dengan pikiran yang
lumayan membingungkan. Begitu pula ketika berkendara menuju Danau Hefner,
sepanjang perjalanan, saya memikirkannya–tentu dengan pikiran yang sedikit kacau.
Baru kali ini, ada orang yang justru mengancam akan membunuh orang yang sampai
nekat mengutarakan cinta kepadanya. “Sakit!” hardik saya–sembari melemparkan sebuah
kerikil sekencang-kencangnya ke tengah-tengah danau.
Di
sebuah bar yang cukup populer, di kawasan barat laut Oklahoma City, di sanalah saya
pertama kali melihatnya–yang kemudian, beberapa hari berikutnya, saya
berkenalan dengannya. Ia pelayan baru di bar tersebut. Saya tahu karena saya
rutin berkunjung ke sana, hampir setiap petang. Jadi, saya hafal betul wajah-wajah
mereka. Dan, yang menarik perhatian saya adalah senyuman Alona. Ia memiliki
senyum yang sederhana, tapi tulus dan dalam–entahlah, agak sulit
menjelaskannya, tetapi saya yakin, tidak banyak yang mempunyai senyum seperti
itu, setidaknya di kota ini. Juga caranya melayani pelanggan; seperlunya, namun
tetap ramah.
“Apa
pekerjaanmu?”
“Saya
penjual lukisan.”
“Penjual?
Bukan pelukis?”
“Saya
punya banyak kawan yang pintar melukis,” jawab saya sambil menyusuri jalan
mengantarkannya pulang, “semoga itu cukup menjelaskan.”
Ia
kembali tersenyum–bahkan tertawa kecil.
“Engkau
sama sekali tidak bisa melukis?”
“Sebaiknya
saya mengatakan tidak,” saya menoleh kepadanya, “daripada kritikus-kritikus itu
membenci profesinya gara-gara melihat lukisan saya,” kali ini kami sama-sama
tertawa.
“Jadi,
dari negara bagian mana kau berasal? Utara? Selatan?”
“Bisa
dari mana saja.”
“Biasanya
tidak sesulit ini bagi saya untuk menebak seseorang,” saya menoleh lagi,
“sepertinya kau telah menghilangkan aksenmu.”
“Mungkin
karena sudah terlalu sering berpindah tempat,” ia menghentikan langkahnya
sejenak, “sejak saya masih berusia delapan belas,” kemudian kembali meneruskan.
“Tenggara,
benar?”
“Kau
hampir saja benar,” jawabnya tanpa menoleh.
Lantas
kami lanjut berjalan disertai obrolan-obrolan ringan–memperbincangkan hal-hal
umum yang biasa diperbincangkan oleh orang-orang yang baru saja saling kenal.
Hingga kami berada persis di depan apartemen mungilnya–ia menyewa sebuah kamar
yang tidak jauh dari pintu darurat.
“Sepertinya
saya akan sering menemanimu pulang,” seru saya sebelum ia masuk ke apartemennya.
“Asalkan
kita berjalan kaki,” sahutnya singkat lalu tersenyum.
Kemudian
saya bergegas kembali ke bar guna mengambil kendaraan yang tadi saya parkirkan
di sana. Alona menolak menggunakan mobil. Ia lebih suka berjalan. Lagi pula,
hanya memerlukan waktu dua puluh menit, tidak terlalu jauh, katanya.
Semenjak
itu, saya mengubah jadwal berkunjung saya ke tempat tersebut. Tidak lagi petang
hari, melainkan pada malam hari menjelang Alona bersiap-siap pulang. Dan, terkadang,
saya datang ke apartemennya kala ia sedang tidak bekerja. “Saya berharap kau
hanya bertujuan ingin berteman dengan saya,” ucapnya ketika tengah menyiapkan
makan malam di dapur mininya.
“Apakah
akan ada masalah jika saya menginginkan hal lain?”
Alona
mengangguk, lalu tersenyum dan memandangi saya untuk beberapa saat sebelum melanjutkan
meletakkan hidangan ke meja makan. “Masalah yang seperti apa?” tanya saya
penasaran.
“Apa
sebenarnya kau telah bersuami?”
Ia
menyodorkan piring yang telah tersaji hot
dog dan irisan kentang goreng di pinggirnya.
“Sebaiknya
kita makan dulu.”
Saya
mengambil makanan yang ia suguhkan. Dan, selama kami menikmati makan malam,
saya semakin bertanya-tanya dalam hati–sementara Alona seolah-olah tidak
memedulikan rasa penasaran yang kian menyelimuti saya.
“Jadi,
ada apa sebenarnya? Masalah apa? Kenapa? Apakah ada sesuatu yang sangat serius
yang saya lewatkan?” saya memberondongnya dengan pertanyaan-pertanyaan begitu
kami menyelesaikan makan malam.
“Jangan
pernah mengatakan bahwa kau mencintai saya.”
“Kenapa?”
“Karena
saya akan membunuhmu.”
“Kenapa?”
“Karena
mencintai hanya akan memberikan penderitaan bagi orang-orang yang ada di
sekitar seseorang yang dicintainya.”
Saya diam cukup lama. Melihat saya yang kebingungan, Alona kemudian menjelaskan apa yang sebenarnya pernah terjadi. Ia menceritakan tentang masa lalunya. Tentang bagaimana ia dan kakaknya diabaikan oleh ibu mereka setelah dicintai seseorang. Pria itu sudah sejak lama menaruh perhatian kepada ibunya; semenjak ayah mereka meninggal dunia. Ia adalah pria yang sangat baik pada awalnya–sebelum akhirnya menjadi lelaki yang amat serakah. Lelaki itu lalu menguasai ibu mereka sepenuhnya. Mengajak ibu mereka pergi meninggalkan mereka setelah menikahinya. Padahal, Alona baru berusia sebelas tahun, dan kakaknya berusia tujuh belas.
“Meninggalkan
kalian? Pergi begitu saja?”
“Ya,
begitu saja. Dia dan laki-laki itu pergi ke Eropa.”
Hanya
secarik kertas yang tergeletak di meja ruang tamu. Hanya itu–dengan satu
kalimat yang teramat singkat: jaga diri kalian baik-baik, aku dan Mike akan
tinggal di Eropa. “Dia pergi sebulan setelah pernikahan. Dan tak pernah kembali,”
jelas Alona.
“Kau
pernah mencari mereka?”
“Untuk
apa? Mereka bisa berada di mana saja, Eropa terlalu luas. Dan, saya tidak punya
waktu untuk itu,” jawabnya dingin.
Kemudian
saya menatap ke arah lain. Kesedihan yang terpancar dari wajahnya terlampau
dalam. Saya dapat merasakannya. Sebenarnya, saya pun mengalami hal serupa,
kendati tidak setragis yang dialami Alona. Dulu, ketika seorang perempuan yang
mencintai ayah saya berhasil masuk ke dalam kehidupan kami, saya juga merasakannya.
Diabaikan. Ayah saya jadi lebih sering memerhatikan kekasihnya. Lebih peduli
terhadap perempuan itu ketimbang saya. Dan, hal itu berlangsung cukup lama,
hingga saya beranjak dewasa dan menjadi terbiasa dengan keadaan tersebut,
sampai pada akhirnya sayalah yang meninggalkan mereka.
“Lima
tahun kemudian, giliran kakak saya melakukan hal itu,” air mata Alona menetes,
“dia dan suaminya pergi meninggalkan saya.”
“Meninggalkanmu
sendirian?”
Alona
tersenyum–getir.
“Hanya
saja kota yang mereka tinggali masih bersebelahan.”
Lalu,
ia mengusap air matanya dan berusaha tenang. Kemudian menyuruh saya untuk pulang.
Sebelum pulang saya katakan kepadanya bahwa saya turut merasa prihatin. “Tidak
perlu. Saya baik-baik saja. Saya hanya ingin memastikan kau tidak akan
mencintai saya, terlebih mengutarakannya,” tegasnya. Saya mengiyakan–mengingat
ketika itu ia mengatakannya dengan serius.
Malam-malam
berikutnya Alona menjadi lebih terbuka kepada saya. Ia banyak bercerita ihwal
para lelaki yang coba mendekatinya. Mencoba membuatnya jatuh cinta, namun
percuma. “Sebab, pada akhirnya, kau membunuh mereka semua, iya, kan?” timpal
saya.
Ia tertawa–seakan-akan hal itu menyenangkan.
“Sudah saya peringatkan sebelumnya,” ia teguk anggurnya, “jangan salahkan saya,” lalu meletakkan cawan tersebut dan meraih kotak rokok yang ada di sampingnya.
“Lantas,
bagaimana caramu membunuh mereka semua?”
“Engkau
sungguh ingin tahu?”
Saya
mengangguk penuh semangat. “Bagaimana?”
“Setiap
kali usai mengutarakan cintanya,” Alona berhenti sejenak, “saya akan membisiki
mereka sesuatu.”
“Apa
yang kaubisikkan?”
“Ma-ti-lah.”
“Lalu
mereka mati?”
“Ya,
tentu saja, mereka akan mati.”
Sulit
rasanya memercayai apa yang ia katakan, tetapi Alona mengatakannya dengan
sungguh-sungguh. Ia tidak berbohong. Kemarin malam, ia melontarkan kata itu
kepada saya. “Matilah!” Ia tidak berbisik; justru meneriaki saya–yang saya
heran, mengapa ia melontarkan kata itu kepada saya sementara saya belum
mengutarakan apa-apa kepadanya.
Dan, sore tadi, saya tidak melihat Alona di bar. Ia tidak masuk kerja. Saya mendatangi apartemennya, namun ia telah pergi. Menghilang begitu saja. Lantas saya kembali ke bar dan menghabiskan banyak minuman. Sekarang ini, yang ingin saya lakukan hanyalah menceburkan diri ke dasar danau ini–dan, seharusnya kau tak berada di sekitar sini, harusnya kau di sana, di dekat mercusuar sialan itu. ***

Abdullah Salim Dalimunthe, tinggal di Bandung. Gemar menulis cerpen.

1 Komentar