Cerpen

Pangeran Katak

Cerpen Gaza Manta

Jika perubahan itu bisa terjadi dalam jangka waktu yang cepat, bisakah cinta menjadi penyebabnya?

Mi terbangun dalam tidurnya dengan satu hal tergantung di benaknya. Apakah hidup telah berubah, seperti yang baru saja dia alami dalam mimpinya? Namun udara kenyataan menyergapnya untuk mengumpulkan sisa-sisa kesadaran yang tadinya melayang menembus awang-awang kamarnya. Karena sebelumnya dia terbang, berangan-angan dalam mimpi yang telah sekian lama mengendap dalam pikiran dan kehidupannya.

Dia bangkit. Lantai kamar yang dingin menguapkan hasratnya untuk menyambut pagi. Sisa-sisa mimpinya hanya terpantul di cermin. Masih ada seorang peri cantik memandangnya di balik kedalaman kaca.

Matanya beralih ke sebuah akuarium berisi separuh. Air dan tanah telah saling berbagi tempat di kotak kaca itu. Menjadi habitat yang agaknya cukup tepat untuk seekor katak yang kini telah ada di genggaman Mi.

Mi menaruh kembali katak itu dalam akuarium. Dia tersesat hampir dua jam di kamar itu, sebelum akhirnya menemukan jalan keluar. Rutinitas mandi dan bersolek menguncinya dalam mimpi yang tak ingin dia akui.

Semarang, pagi hari, adalah seorang raksasa yang menelan cinta dan mimpi yang cukup memabukkan pada malamnya. Mobil-mobil mengeluarkan sumpah serapah, senantiasa memaki yang ada di depannya. Asap knalpot mengembun di kaca-kaca rumah, di paru-paru, di gitar yang dipetik hanya untuk mengisi perut-perut yang pada akhirnya akan dipenuhi juga dengan embun-embun knalpot itu. Dan di kerongkongan raksasa itulah, Mi bergegas.

Di kantor, di tengah-tengah tumpukan kertas kerja yang menunggu diserahkan, hanya ada kesunyian. Orang-orang terbiasa bekerja dalam keheningan tanpa bicara. Seolah satu patah kata saja akan membuat semua urutan kerja yang telah tersusun secara kronologis akan hancur berantakan. Dan seorang karyawan tak mungkin begitu saja menyerahkan pecahan-pecahan itu kepada atasan.

Namun kesunyian di tempat kerja, bagi Mi, masih lebih baik daripada celotehan dan tawa yang biasanya juga terjadi. Dia tak bermaksud berburuk sangka, namun tawa orang-orang pekerja adalah suatu kemunafikan. Orang bisa saja tertawa lepas di tempat kerja dan bercanda dengan rekan-rekannya, namun itu tak lebih untuk menjaga sikap di depan atasan atau kemungkinan-kemungkinan buruk yang biasanya terjadi di kemudian hari.

Kemunafikan di tempat kerja, jauh lebih buruk daripada yang dialaminya saat dulu bersekolah di SMK. Saat itu dia seperti punya indera keenam yang bisa membedakan mana tawa yang tulus, mana yang dibuat-buat. Mana senyum yang akan sanggup membuka hatinya yang memang sulit terbuka, mana yang hanya memanfaatkannya. Dia begitu peka saat itu, hingga dia tak pernah khawatir dengan teman-temannya. Dia jadi ingat Tika, Windi, Dewi, Miftah Edo, Maruta, Sapto. Dia jadi ingat Wira. Lima yang terakhir adalah katak.

Mengapa sebelum dia bisa menyadarinya, semua telah berubah?

Saat makan siang, Mi melihat seorang temannya datang sambil menggandeng seorang lelaki yang luar biasa tampan. Mereka saling berpelukan sambil berjalan ke arahnya. Beberapa orang bersiul dan membuat bunga-bunga di udara. Namun bunga-bunga itu hanya jatuh di kaki mereka dan menghampar seolah jalan khusus bagi mereka.

Mereka duduk, tanpa dipersilakan.

“Halo, Mi! Masih sendiri?” teman perempuannya terkikik.

“Bisa kau lihat sendiri, kan?”

Yang laki-laki tersenyum. Tangannya seolah telah terlekat dengan lem pada pinggang perempuan itu. Lambung Mi tiba-tiba bergolak, makanan yang baru saja ditelannya seolah berontak.

“Perkenalkan! Ini pangeranku!”

Mi mendengus, sinis.

“Dia adalah katak yang aku ceritakan padamu, katak yang aku temukan di Stasiun Tawang. Aku menciumnya tadi padi. Dan…”

Mulut Mi pahit. Sedikit cairan lambung beserta makanan tadi telah naik. Dia ingin muntah. Tanpa permisi, dia lari ke toilet. Di sana dia memuntahkan segala makanannya, kesedihannya, air matanya, embun-embun yang menerpa wajahnya, dan kepenatannya. Pikirannya tertuju pada katak di akuarium miliknya.

Dia bergegas pulang. Kembali menyusuri udara panas Semarang yang menerpa seperti jarum-jarum jahit berkarat. Panasnya berkepanjangan dan bagi orang yang tidak kuat akan membuat jatuh pingsan.

Mi tahu, bahwa semua perempuan memiliki kataknya masing-masing. Katak-katak itu dibesarkan oleh cinta dan diberi makan dengan serangga-serangga pikiran. Harapan akan membuat mereka bertahan hidup lama yang pada akhirnya ketika waktunya tiba, katak-katak itu akan berubah menjadi pangeran-pangeran tampan yang menjadi dambaan setiap hati perempuan. Tak akan ada pangeran katak yang sama, karena hati setiap perempuan memang berbeda.

Di kamar, Mi mendapati kataknya telah keluar dari akuarium dan melompat-lompat di lantai. Lentingannya tinggi hingga menyentuh langit-langit. Dan setelah melompat ke sana-ke mari, katak itu akhirnya melompat ke ranjang dan diam di sana. Agaknya dia sedang menunggu Mi dan tahu bahwa perempuan itu sedang gelisah.

Mi mendekat dan duduk di ranjang. Jari-jari kurusnya mendekap katak itu di dadanya. Pikirannya menerawang menembus waktu kembali ke pagi hari. Pada mimpinya yang sebentar tadi masih terselip di bawah bantal dan selimut yang belum sempat dia rapikan. Mi hampir menangis, dia merasakan mulutnya sedang digarami.

Baru saja pagi tadi katak itu membawanya berjalan-jalan di punggungnya. Mereka melompat-lompat di tengah belantara Semarang. Katak itu pasti sudah tahu keinginan Mi. Karena tanpa disuruh, dia sudah memacetkan jalan tol dan membuat para pengendara kendaraan bermotor terbelalak. Mereka menuju Kota Lama.

Di Kota Lama, mereka selalu berhenti di gereja heksagonal itu—yang kubahnya setengah bola dan begitu megah. Mereka melihat Mi yang lebih kecil berlari-lari kecil dan masuk ke gereja. Atau di saat yang lain, mereka akan melihat Mi sedang berada di Taman Srigunting, membaca buku atau mengetik sesuatu di ponsel dengan lidah terjulur karena keasikan. Pemandangan itu akan berlangsung lama dan bersambung dengan Mi di depan Gedung Marba, atau Mi yang sedang makan gorengan di angkringan di depan gedung merah marun itu. Dan melihat semua itu, Mi di punggung katak akan menangis yang merupakan pertanda bahwa mimpi akan segera berakhir dan hari akan kembali berlanjut.

Bahwa setiap dia melihat katak itu, maka dia akan ingat gereja itu, Mi sudah tahu hal itu. Sungguh, dia tak pernah mengharapkan perwujudan gereja dan kotanya akan menjelma dalam bentuk seekor katak, bukannya ikan atau padi yang biasanya dia jadikan sarapan. Padahal lambang kotanya adalah ikan atau padi, bukannya katak. Dan Mi pun tak pernah tahu kalau ada katak yang menjadi lambang kota.

Katak itu sendiri tak disangkanya akan tumbuh besar juga. Awalnya dia tak terlalu bersemangat saat seorang temannya memberikan telur katak itu padanya. Sebuah telur sebesar debu yang ditaruh dalam gelas kaca yang dia dapatkan saat pesta perpisahan.

“Apa ini?”

“Telur katak.”

“Buat apa?”

“Untukmu, agar kau ingat padaku.”

“Kenapa aku harus ingat padamu?”

“Karena suatu hari, aku ingin menjadi katak itu.”

Dan seiring dengan waktu, telur katak itu menetas. Seekor kecebong lucu lahir sambil menggerakkan ekornya yang mirip kuas, memberi warna pada air. Sebenarnya saat menjadi kecebong itulah, saat dimana Mi merasa paling sayang dengan binatang itu. Namun binatang itu tetap bermetamorfosis, dan Mi hanya bisa menerimanya.

Mi menghela napas panjang. Semua begitu berat dan membingungkan. Dia ingin mengakhirinya sekarang dan merasa telah cukup siap untuk itu. Dia mengganti seragam kerjanya dengan celana pendek dan kaos singlet. Dia merasa tenang dengan pakaian itu.

Dielus-elusnya katak itu dan didekapnya berulang-ulang. Mi mendekatkannya ke bibirnya yang kini tanpa polesan, namun begitu basah. Dan saat detik-detik terakhir mulut katak itu menyentuh bibirnya, dia jadi ingat teman-temannya. Dia jadi ingat Tika, Windi, Dewi, Miftah Edo, Maruta, Sapto. Dia jadi ingat Wira. Lima yang terakhir adalah katak.

Ketika bibir mereka bersentuhan, Mi berubah menjadi katak, diikuti seluruh manusia yang juga berubah menjadi katak. Saat itu dia yakin, kalau cinta dapat membuat perubahan dalam sekejap mata.

Lombok Timur, 24 April 2016


Gaza Manta lahir di Lamongan; menyelesaikan studi di Semarang; kini tinggal di Lombok. Kumpulan cerpen terbarunya berjudul Pegasus Lilika (Rua Aksara; 2019).

Cerpen

Perempuan dengan Segelas Racun

Cerpen Aljas Sahni H

            Angin malam sedikit nakal menyelusup ke dalam kutangmu, menyerupai tentakel angin itu merabamu dalam dingin, seolah tahu akan kesepian yang menjalar dalam tubuhmu. Kamu menikmati perihal itu, tak ada niatan sedikit pun untuk menutup jendela, malah membiarkan angin menyetubuhimu dengan leluasa. 

            Untuk malam ini saja, katamu, aku ingin dibelai seperti perempuan pada umumnya. Air mata menitik dari kelopak matamu, mengalir membasahi pipi dan berakhir jatuh di atas lantai. Dadamu terasa sesak, merangsek inti dari segala nestapa. Kamu merindukan saat-saat itu, saat di mana senyum masih kerap tersungging di bibir suamimu.

            Suamimu kerap memuji rona merah pipimu, tapi sekarang pipimu adalah tempat pendaratan tangan suamimu. Akhir-akhir ini suamimu seringkali menamparmu, sehingga rona merah pipimu menjadi memar. Suamimu menyiksamu seperti binatang, seperti kusir melecitkan cambuk pada kudanya.

            Ke mana kata-kata indahmu dahulu? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu membayang dalam tempurung kepalamu. Tentu nyalimu kurang berani apabila mengajukan pertanyaan itu terang-terangan pada suamimu. Kamu menerima begitu saja aniaya suamimu tanpa berkomentar apa pun. Kamu rela suamimu menjambak rambutmu, menyeretmu ke dalam kamar, lantas tamparan melayang di pipimu, dan berakhir pecut sabuk berulangkali.

            Tubuhmu remuk dengan garis-garis memar sebab ulah biadab suamimu. Tak hanya cambukan yang kamu terima, sering juga kamu gelagapan direndam di dalam air. Kamu disuruh memperagakan seekor anjing dalam keadaan telanjang, dan suamimu tertawa terbahak-bahak melihat penderitaanmu.

            Kamu merasa terhina di hadapan suamimu sendiri, menjadi tempat pelampiasan suamimu yang di kantor dibodoh-bodohi oleh bos dan teman-temannya. Tapi kamu tak berani melawan. Kamu juga tak lari dari rumah itu meninggalkan suamimu karena kamu merasa itu tak mungkin, bagaimana juga itu adalah rumahmu satu-satunya.

            Dulu, kamu lari dari orangtuamu demi menikah dengan lelaki bajingan itu, memiliki angan-angan indah hidup harmonis bersama suamimu, tapi sekarang harapan itu sirna. Kamu menyesal, dan tentu penyesalan akan selalu menjadi penyesalan.

            Ada alasan lain pula, mengapa kamu tak mau meninggalkan rumah itu. Kamu tak mau meninggalkan anakmu, dan kamu juga tak mau membagi penderitaan pada anakmu. Kamu rela menderita sendiri, asal anakmu tidak, dan takkan pernah kamu biarkan itu terjadi.

            “Hey Jalang! Di mana kamu?!” Lamunanmu buyar oleh teriakan yang berasal dari mulut suamimu. Kini dia sudah ada di ruang tamu.

            Kamu cepat-cepat menghapus sisa-sisa air matamu, keluar kamar dan menemui nafsu suamimu yang bajingan. Malam sudah larut, suamimu memang kerap datang larut malam, bahkan pagi, bahkan pula tak pulang berhari-hari. Suamimu lebih suka menyewa pelacur daripada tidur denganmu, bila pulang, pasti dalam keadaan mabuk.

            Seperti sekarang, bau alkohol menyeruak ke dalam lubang hidungmu. “Dari mana saja kamu, Jalang?! Kenapa lama sekali kamu datang?!” sentak suamimu. Tubuh suamimu agak linglung dan mata suamimu seperti tak mampu untuk terjaga.

            “Ma… maaf, tadi aku habis dari kamar mandi,” sahutmu tergagap. Kamu tahu, permintaan maafmu takkan pernah diampuni.

            Kamu meringis kesakitan, ketika suamimu menjambak rambutmu. Suamimu meradang pada kesalahanmu yang datang terlambat. “Hey Jalang! Dengarkan! Aku tak mau melihatmu seperti ini lagi! Sekarang bawakan aku air panas dan basuh kakiku! Satu lagi, buatkan aku teh hangat! Tak pakai lama! Mengerti?!”

            Kepalamu mengangguk-angguk meski agak susah. Suamimu melepaskan jambakannya dan kamu segera mungkin pergi ke belakang. Kamu memasak air namun dadamu yang mendidih. Kamu tak kuat lagi menanggung derita ini, kamu ingin mengakhiri semua ini. Kamu ingin mengakhiri penderitaan suamimu yang selalu dibodohi oleh bos dan teman-temannya. Dengan racun, kamu ingin mengirim suamimu ke neraka.

            Teh hangat yang akan kamu suguhkan pada suamimu telah dibumbui racun. Kamu berjalan dengan sedikit senyum gila ke arah suamimu. Kamu ulurkan cangkir itu di hadapan suamimu. “Minumlah, mumpung masih hangat,” ucapmu lembut.

            Suamimu menyimpan curiga atas kemanisanmu, tapi dia tak sepenuhnya memedulikan itu. Dia dengan senang hati meminum apa yang baru saja kamu suguhkan.

            Kamu melihat lekat-lekat raut suamimu saat meneguk racun itu. Racun itu bekerja cepat, tak butuh waktu lama, mulut suamimu telah berbusa. Mulut yang pernah memujimu, mulut yang pernah mencacimakimu, kini mulut itu tak lagi dapat mengeluarkan kata-kata, semua telah terselimut busa.

            Semestinya kamu senang racun membuat suamimu mati, tapi kamu malah cemas. Bukan karena suamimu, tapi karena anakmu. Anakmu melihat semua kejadian itu. Entah bagaimana anakmu bisa bangun, dan melihat kala kamu meracuni ayahnya hingga tewas. Kamu seketika menyadari kalau hidup selanjutnya akan tampak lebih sulit.

            Kamu menelepon ambulans, dan bilang, suamimu frustasi sebab kerap dibodoh-bodohi bos dan teman-temannya, sehingga ia mengakhiri hidup dengan meneguk racun. Semua orang percaya, dan anakmu tak pernah membocorkan rahasia di balik kematian suamimu. Anakmu memilih diam dengan mata penuh kebencian.

***

            Sejak kamu meracuni suamimu sendiri, anakmu tak lagi mau berbicara denganmu. Dia membencimu.  Hidupmu masih dibalut kesepian. Kamu merasa hidup sendirian di dunia ini, hanya kadang angin malam yang diam-diam menemanimu.

            Anakmu lebih suka tidur di rumah temannya daripada di rumah sendiri. Lama-lama, anakmu mulai mirip dengan suamimu. Ketika pulang, melihat wajahmu saja, dia seakan tak pernah sudi. Kamu selalu mencari kesempatan untuk mengawali pembicaraan, tapi anakmu tak pernah ingin berbicara apalagi mendengarkan celotehmu.

            Kebencian memang telah merasuki anakmu, kebencian juga mengambil alih tubuh anakmu. Kamu ingin mengakhiri semua ini, persis seperti kamu mengakhiri hidup suamimu. Tapi bagaimana bisa, tak ada ibu yang ingin anaknya menderita.

Ini bukan derita. Ini untuk melepas penderitaan itu sendiri, batinmu.

            Kamu tak kuasa melihat anakmu menanggung kebencian. Kamu ingin menyudahi penderitaanmu sendiri juga penderitaan anakmu.

Kala itu anakmu pulang, ia tampak tergesa membereskan pakaiannya ke dalam tas. Sepertinya anakmu ingin pergi, meninggalkanmu, dan takkan pernah ingin kembali.

            Dadamu sesak, ombak di dadamu semakin bergemuruh. Air matamu tak dapat lagi dibendung, lantas jatuh membasahi kedua pipimu. Kamu sudah tak sanggup hidup seperti sendiri, sekarang kamu akan benar-benar hidup sendiri tatkala anakmu lenyap di rumah ini. Sekarang bukan waktunya untuk menangis, tegasmu untuk dirimu sendiri.

            Kamu tak ingin melihat anakmu pergi, kamu harus membunuh kebencian di tubuh anakmu. Tentu, membunuh kebencian berarti membunuh pemilik kebencian itu sendiri. Kamu ingin mengirim anakmu ke surga, atau mengirim anakmu pada suamimu. Dengan segelas racun, harapan itu akan menjadi kenyataan.

            Tak ada ibu yang tega meracuni anak sendiri. Maka dari itu kamu membuat sebuah rencana, begini rencananya: setelah nanti racun itu bekerja dan membuat mulut anakmu berbusa—seperti dulu juga pernah terjadi pada suamimu—dan kamu juga akan meneguk racun itu, sehingga nanti kamu bersama suami dan anakmu bisa berbahagia di surga sana.

            Ketika sudah sampai di surga, kamu bisa mencari suamimu, meminta suamimu untuk menjelaskan pada anakmu, bahwa bukan kamu yang jahat. Ah, kamu sudah tak sabar mewujudkan impian mulia itu. Kamu sangat hati-hati membawa racun itu.

            “Minumlah susu ini, mumpung masih hangat,” suguhmu pada anakmu. Anakmu diam sejenak, memandangmu dengan mata nyalangnya. Kamu melempar senyum, kamu sudah yakin perihal ini yang terbaik. Kamu bersama suami dan anakmu bisa menjalin hidup baru di surga sana.

            Namun tak seperti harapanmu, anakmu malah menghempas segelas racun yang kamu suguhkan. Cangkir berisi racun itu terlepas dari tanganmu—jatuh—dan pecah berkeping-keping di lantai dan racun itu meruah membasahi serta mengotori lantai. Matamu dan mata anakmu saling bersitatap, setidaknya sampai anakmu mengeluarkan satu kalimat. “Aku takkan dibodohi oleh cara lama, dan aku takkan jatuh di jurang yang sama seperti bapak!”[]


Aljas Sahni H, lahir di Sumenep, Madura.Kini bergiat di Komunitas Sastra Kutub Yogyakarta. Anggota literasi IYAKA. Serta salah satu pendiri Sanggar Becak. 

Cerpen

Kunang-Kunang di Mata Julian

Cerpen Dody Wardy Manalu

Pemuda itu berdiri di bawah pohon kemboja di samping gereja. Ia menatap kupu-kupu yang hinggap di kelopak mawar. Julian, demikian namanya. Namun teman-temannya lebih sering memanggil namanya tanpa huruf N. Julia. Ia tak kuasa berontak saat mereka mengejek dirinya dengan nama itu.

“Aku ingin berbagi bekal denganmu.”

Solura menghampiri. Ia sudah lama mengintip dari balik jendela gereja. Julian tergeragap mendapati gadis pemurung itu berdiri di sebelahnya. Tangan Solura menenteng sebuah rantang.

“Aku tidak mau kalau menunya nasi goreng lagi.”

“Aku tahu kamu suka sekali roti bakar isi cokelat.”

Julian mengekor di belakang Solura. Mereka menuju batu besar tepat di depan gereja. Kelompok muda-mudi sedang latihan natal. Solura sering merasa lapar hingga terpaksa bawa bekal ke gereja. Latihan berlangsung hingga sore. Solura melepas tutup rantang. Aroma cokelat menguar di udara.

“Makan roti bakar membawaku ke masa tiga belas tahun silam. Ayahku selalu membelikannya setiap pulang dari pasar.”

Julian bercerita sembari melahap roti pemberian Solura. Persahabatan mereka sudah terjalin selama dua tahun lima bulan saat pertama kali masuk jadi anggota muda-mudi gereja. Siapa mau berteman dengan gadis pemurung dan pemuda bermata sendu? Tidak ada. Mereka dipertemukan oleh nasib serupa.

“Tampaknya kamu bahagia hari ini.”

“Dari mana kamu tahu.”

“Ribuan kunang-kunang di matamu memancarkan cahaya.”

Bibir Julian tersenyum. Gadis pemurung itu pintar sekali menggombal. Mana bisa kunang-kunang berdiam dalam bola mata.

“Apa ayahmu masih membelikan roti bakar hingga sekarang?”

Wajah Julian mendadak muram. Cahaya kunang-kunang di matanya meredup. Ayahnya berubah seiring bertambah usia Julian. Ia sering dipukul gara-gara kedapatan main boneka dengan anak perempuan tetangga.

“Salah bila laki-laki tidak suka main bola?”

Mereka saling tatap. Cahaya kunang-kunang di mata Julian benar-benar redup.

“Apa salah bila perempuan tidak suka lipstik?”

Solura balik bertanya. Julian menggeleng. Ketika masih kecil, ayahnya kerap memaksa dirinya menonton bola semalam suntuk.

“Lelaki itu harus suka nonton bola, bukan nonton kartun barbie. Duduk di samping ayah. Temani ayah nonton. Kamu tidur di luar bila mengantuk.”

Julian ketakutan. Setengah mati menahan mata untuk tidak tidur. Menonton acara TV tidak kita suka sama dengan memaksa diri menyantap makanan busuk. Julian dipaksa berteriak ketika terjadi gol, meski air mata tak henti berjatuhan.

*

Solura belajar memoles wajah, menyapukan lipstik pada bibir. Hasilnya tidak terlalu buruk. Wajahnya terlihat lebih cantik terpantul di cermin. Solura ingin berubah di mata Julian. Bukan lagi gadis pemurung ber’aroma bunga ilalang. Ia pecahkan celengan demi membeli sebotol parfum ber’aroma bunga lili. Solura malu mengakui perasaannya. Takut perasaan itu membuat kunang-kunang di mata Julian terbang dan tak kembali.

Solura menerima Julian apa adanya. Julian tidak tahu banyak hal. Ia tidak tahu main bola, memanjat kelapa, menjaring ikan dan meng’kapak kayu. Namun Julian punya kelebihan. Ia pintar membedakan bumbu masak. Ia bisa mengubah masakan sederhana menjadi bercita rasa tinggi. Julian juga pintar menggambar model pakaian. Bahkan selalu mendorong Solura untuk tampil modis.

Solura ingin memiliki Julian bukan sebagai sahabat. Ia mencintai Julian layak seorang gadis tergila-gila pada seorang pemuda. Solura sering bermimpi hadiri pesta dengan digandeng oleh Julian. Ingin tunjukkan pada orang-orang bila mereka bukan pasangan aneh.

Sebuah sms masuk di kotak pesan membuat khayalan Solura terhenti: Apa yang kamu lakukan? Kamu cantik. Tapi lipstikmu terlalu tebal. Gegas Solura berlari ke jendela. Julian tengah berdiri di halaman menatap lurus ke arah kamarnya.

“Bisa menemaniku malam ini?”

“Ke mana.”

“Menonton organ tunggal di kampung sebelah.”

“Aku segera keluar.”

“Jangan keluar sebelum lipstik tebalmu itu kamu hapus.”

Solura berlari sembari menghapus lipstik di bibir. Bersama Julian, ia bisa menikmati dunia. Ia bisa berubah menjadi gadis cerewet. Ribuan kunang-kunang di bola mata Julian seperti kerlip lampu pohon natal di bulan Desember.

*

Sehabis latihan, puluhan pemuda berlarian menuju lapangan bola. Di jalan setapak di bawah pohon pinus, Solura melihat kejadian itu. Hatinya beku bagai sebongkah salju melihat kunang-kunang di mata Julian enggan bercahaya.

“Jangan bergabung dengan kami.”

Salah satu dari mereka mendorong Julian hingga tersungkur.

“Hanya ingin melihat kalian main bola. Apa tidak boleh?”

“Kami enggan berteman dengan orang tak jelas jenis kelaminnya.”

Ribuan kunang-kunang di mata Julian tenggelam dalam pusaran air bah. Matanya berkaca-kaca. Solura menerobos kerumunan dan membawa pergi Julian. Mereka melewati koridor gereja, melintasi rumah Pendeta dan belok kiri menuju bangunan tua berada di puncak bukit.

“Apa benar aku tidak berguna?”

Julian mematung di tengah ruangan. Solura tak kuasa menatap ribuan kunang-kunang di mata Julian berdengung mirip tangisan.

“Setidaknya kamu berguna untukku.”

Julian dongakkan wajah, menatap Solura berdiri di hadapannya. Rambut Solura digerai. Ia memakai baju tipis. Bibirnya merah jambu. Polesan make up minimalis membuat Solura bagai bidadari. Ia cantik sekali. Solura meloloskan pakaian hingga jatuh ke lantai. Cahaya senja menerobos masuk dari ventilasi menyinari seluruh tubuh Solura. Julian terkesiap.

“Aku mencintaimu sejak dulu. Seperti cinta dimiliki Juliet pada Romeo dalam kisah roman itu. Bukan cinta seorang kakak pada adiknya.”

Solura meraih tangan Julian, lalu meletakkan tangan itu di atas dada membusung. Berharap pemuda itu mengelus dan mengecupnya. Ke mana hasrat itu? Tak ada niat untuk menikmati. Julian memaki diri. Buru-buru menarik tangan, lalu memungut pakaian tergeletak di lantai.

“Pakai kembali bajumu. Aku tidak bisa.” ujar Julian sembari berjalan menuju sudut ruang.

“Apa kekuranganku.”

Solura rela merendahkan diri demi cinta. Julian tetap menolak.

“Justru kekurangan itu ada di sini. Di hatiku.”

Julian menunjuk dada. Tangisnya pecah. Rasa itu tak pernah ada.

“Hatiku tidak tergerak.”

Julian memukul-mukul dada sekuat tenaga.

“Apa aku tak pernah ada di hatimu?”

“Kamu selalu ada di hatiku. Namun sebagai sahabat. Selamanya jadi sahabat.”

Ribuan balok menghantam dada Solura. Tak ada lagi kesempatan untuk dapatkan Julian. Ruang itu telah tertutup. Selamanya jadi sahabat.

“Kamu bilang, di mataku bersarang ribuan kunang-kunang. Bila kamu sedih, kunang-kunang itu akan menangis. Mereka tidak akan mengeluarkan cahaya lagi.” ujar Julian sembari menarik tangan Solura keluar. Ia tahu ke mana membawa Solura pergi. Padang ilalang!

*

Sudah tiga hari Julian tidak hadir latihan. Tidak biasanya pemuda itu absen. Pulang dari gereja, Solura gegas ke rumah Julian.

“Mau ditaro di mana muka ayahmu ini.”

Suara dari dalam rumah urungkan langkah Solura. Ayah Julian marah-marah. Solura berlari ke samping rumah mengintip dari celah jendela. Julian diikat pada sebuah tiang. Wajahnya lebam-lebam. Ada kemarahan di bola mata Julian. Ribuan kunang-kunang itu mengeluarkan cahaya api.

“Lebih baik kamu kedapatan membuntingi anak gadis orang dari pada kedapatan berciuman dengan laki-laki.” bentaknya ayahnya. Sekujur tubuh Julian lebam membiru. Solura masuk dari jendela setelah ayah Julian keluar.

“Maaf tidak bisa menolongmu.”

Solura menangis menatap wajah Julian yang hancur. Matanya bengkak.

“Aku malu dilihat olehmu dalam keadaan seperti ini. Aku ingin mati saja.”

Cahaya ribuan kunang-kunang di mata Julian meredup.

“Aku bawa makanan kesukaanmu.” ujar Solura sembari membuka plastik. Roti bakar isi cokelat. Solura mengambil satu iris, lalu menyuapkan ke mulut Julian.

“Kelak, bila kamu punya anak laki-laki, latih ia main bola. Cukup aku mengalami nasib buruk ini.”

Kembali Solura menyuapkan roti ke mulut Julian. Segerombol kunang-kunang keluar dari matanya. Seluruh ruangan dipenuhi ribuan kunang-kunang. Perlahan, kelopak mata Julian tertutup. Tertutup selamanya!***


Dody Wardy Manalu. Lahir di kota Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Menghabiskan masa remaja di kota Sibolga menjadi salah satu siswa di SMA Katolik di kota itu. Awal tahun 2015 mulai serius menulis. Beberapa karya fiksinya pernah dimuat di beberapa media.

Cerpen

Sebuah Ranting di Rambutmu

Cerpen Fina Lanahdiana

Pohon waru itu berhantu. Orang-orang memercayainya dengan alasan yang mungkin telah dirancang sedemikian masuk akal di kepala mereka, alasan yang tidak berlaku untuk kau.

“Dengar, Nelia. Pohon itu memang tampak tua karena usia, sehingga batang itu harus tampak keropos dan rapuh. Di luar itu hanyalah prasangka yang tidak pantas dipelihara oleh pikiran siapa pun. Bukan sebuah horor yang selama ini mereka, para orang lama perdengarkan.”

Kau sebut para orang tua di kampung kita sebagai orang lama, hanya sebab kau merasa lahir di zaman yang serba modern dengan aneka perangkat berbasis mesin. Mungkin kelak manusia tidak lagi dibutuhkan, dan segala pekerjaan beres dilakukan para robot buatan manusia. Lalu, bukankah pengangguran akan kian bertumbuh dan bertambah? Segala yang usang mestilah dimusnahkan, itu katamu. Termasuk cara pikir kuno memercayai segala yang tak tampak oleh mata.

Kau usapkan warna merah buah murbei ke bibirmu. Perih. Sariawan. Tapi kau tetap tak peduli meskipun jelas kau tengah meringis menahan nyeri.

Pohon waru itu tua dan tegak di sisi Kalibodri, sungai yang memisahkan dua kecamatan berbeda: Cepiring dan Patebon.

“Begitu mudah perbedaan lahir dari perpecahan,”

“Apa tidak terbalik?”

Matamu mengerjap tiga kali, memandang dengan takjub. Tertarik. Mungkin. Atau entah.

Desa Pidodo yang berkecamatan Patebon berada di satu lintasan dengan seluruh desa milik Kecamatan Cepiring. Mengapa? Katamu suatu ketika. Ibumu, sebagai orang lama merasa senang sebab kau begitu ingin tahu. Sejarah kecil yang tidak tertulis di buku mana pun. Hanya cerita dari mulut ke mulut yang sebenarnya susah dipercaya–meskipun tentu saja, masuk akal.

“Di masa lampau, Kalibodri hanyalah sungai lurus yang menuju muara. Akan tetapi, sebab peristiwa banjir besar yang menyebabkan tanggul bedah menumpahkan seluruh isi perut sungai sehingga harus menyebabkan sungai itu melebar dan berbelok ke kiri. Sementara Desa Pidodo yang semula berada di ruas kanan Kalibodri pun menyesuaikan diri, meluas sehingga bergabung dengan ruas kiri Kalibodri. Dan di antara belokan tanggul itu, bukankah kau sudah tahu perihal tanggul malang?”

Dahimu membentuk sungai-sungai kecil kering, sulit mencerna penjelasan ibumu. Bagaimana mungkin? Tapi pada akhirnya kau cepat lupa sebab bagimu cerita itu tak lebih sekadar dongeng.

Tanggul malang itu serupa bayi sungsang. Oleh sebab itu, setiap satu tahun sekali di bulan suro, dilakukan pesta rakyat dengan serangkaian acara: pasar malam, pertunjukan wayang, nyadran ke tengah laut, pertunjukan singo barong, dan ditutup kembali oleh pertunjukan wayang.

“Luka sekecil apa pun, kenapa tetap terasa sebagai luka jika dicampur dengan rasa asam dan asin?”

“Mungkin juga rasa-rasa yang lain,”

Kita duduk di bawah pohon waru. Rambutmu serupa ombak pendek yang meriap-riap menjilat pantai daratan. Mulutmu masih mengulum murbei yang semestinya belum terlalu matang itu. Menghadap sungai. Perahu-perahu berjajar, salah satunya milik ayahmu. Dan kau senang berada di atasnya. Kadang-kadang ikut berlayar hingga beberapa hari tanpa pulang. Tanpa mandi, mengusung bau ikan yang demikian menyengat di sekujur tubuhmu, dan kau merasa sebagai laki-laki yang tangguh serupa ayahmu.

“Kenapa kau suka sekali mengulum murbei?”

“Aku suka warnanya. Akan membuat bibirku merah. Kau ingin coba?”

Aku menggeleng. Tidak, dengan bisikan hampir tak terdengar olehmu.

“Mengapa? Kau perempuan,”

“Lalu kenapa jika aku perempuan?”

“Berdandanlah sedikit. Seperti ibumu. Bibirmu mesti merah segar. Kau bisa mengusapnya dengan murbei. Tidak harus beli, kan? Pipimu mesti putih dengan sapuan bedak. Dan rambutmu itu lebih menyerupai sarang burung di atas dahan. Sisirlah dengan olesan orang-aring hingga licin, dan lalat saja akan jatuh terpeleset.”

Kau tergelak sambil menepuk-nepuk lengan atasku. Sakit. Kataku. Kubilang kau pada ibuku.

“Dasar tukang ngadu.”

Tentu saja aku tak sungguh-sungguh mengatakannya. Hanya ancaman yang tak berarti apa-apa.

***

“Mau ke mana?”

“Naik,”

“Nanti jatuh,”

“Tidak akan.”

Kau memang tidak pernah jatuh hanya sebab memanjat. Kau terlalu lihai untuk sekadar terpeleset. Jatuh.

Kau petik sebuah ranting pohon waru yang masih cukup muda dan segera turun. Melompat. Dan aku kaget bukan main.

“Aku menemukan sesuatu untukmu,”

“Apa?”

“Kemarilah, Nelia. Mendekat. Lebih dekat lagi.”

Aku mendengar deru napasku sendiri. Detak jantungku yang seolah drum kaleng roti bergambar keluarga yang berulang kali dipukul ritmis. Tentang kaleng roti itu, aku pernah hampir tidak menginginkan segala jenis roti saat berkunjung sebagai tamu hanya sebab kaleng merah bergambar keluarga itu tidak kutemukan di atas meja si pemilik rumah. Tentu saja, saat itu usiaku masih lima dan belum pandai untuk mengungkapkan sesuatu dan hanya bisa merajuk dan menangis tanpa orang tuaku benar-benar tahu apa yang kuinginkan.

Mula-mula kau ambil pisau kecil di dalam saku, menyayat bagian tengah ranting. Memanjang namun belum sampai putus. Tangan kirimu cekatan mengambil helai-helai rambutku, mengumpulkannya, lantas dengan tangan kananmu memasukkannya ke dalam lubang ranting yang telah kau siapkan. Memutarnya, dan mengunci rambutku. Entah bagaimana caranya, rambutku yang katamu serupa sarang burung itu, telah rapi dengan puncak membentuk sebuah gelungan.

“Kau lebih tampak sebagai perempuan sekarang. Jangan potong rambutmu dan aku ingin melihatnya memanjang hingga pinggang. Dan jangan biarkan kepalamu dipenuhi sarang burung sialan yang kelak mengotori wajahmu dengan warna kusam.”

Aku hanya mengangguk dan tersenyum. Sejak itu, aku lebih sering mandi dan menata tubuhku. Menggosok dengan batu hingga daki warna abu-abu menggumpal, bau wangi sabun yang busanya kupaksa ada hingga bergelembung-gelembung, sesekali mencuri bedak milik ibu, dan memanjangkan rambut segaris pinggang.

“Jika kau mandi, gosokkan sabun hingga kulitmu benar-benar kesat sehingga air yang kau guyurkan membentuk embun-embun kecil. Artinya kuman tidak akan lagi bisa menyerangmu dengan cara apa pun.”

Tentu saja itu hanyalah omong kosong, yang meskipun secanggih apa mesin, tidak akan pernah menghasilkan kebenaran. Kau melotot mendengar itu dari Zed, teman kita yang pengecut sebab selalu lari dan menangis untuk pulang ketika kalah dalam bermain apa pun.

Ibu begitu heran melihat perubahanku. Kau tahu benar, gara-gara kulitku yang berwarna gelap, ibuku pernah memaksaku untuk bersekolah dengan fasilitas asrama. Agar tak cuma main saja kerjaanmu, kata ibu. Entah di mana hubungannya, aku tidak tahu ketika itu. Itu alasan yang lebih masuk akal dibandingkan dengan: tinggal di asrama bisa membuat kulit penghuninya lebih cemerlang karena sering dilarang keluar meski di waktu-waktu luang. Meskipun banyak juga yang demikian.

***

Waktu cepat melahap setiap yang berada di bawahnya. Kini usiaku dua puluh dua dan tiba-tiba mengingatmu.

Lewat sebuah mimpi, kau datang. Tersenyum. Aku geli. Kau, entah tampak lebih bahagia daripada sebelum, sebelum, dan sebelumnya lagi yang sangat banyak di belakang. Bibirmu merah seperti yang kau harapkan.

“Aku tidak suka dituduh sebagai perokok hanya karena bibirku yang cokelat gelap kehitaman. Aku tidak pernah sekali pun merokok. Sebelumnya. Tapi sekarang aku merokok. Hanya untuk menuruti sifat keras kepala ayahku agar tampak sebagai kebenaran.”

“Kenapa kau melakukannya?”

“Karena ayahku yang menginginkannya.”

Kau baik-baik saja, dan bahagia setelah aku menanyakan kabar. Bagaimana kau, Nelia.

“Bagaimana menurutmu? Tidakkah aku sungguh seorang perempuan sekarang?”

“Ya. Kau cantik sekarang. Dan tidak lagi menyimpan sarang burung di atas kepalamu. Atau kutu.”

“Enak saja, aku tidak pernah sekali pun memelihara kutu.”

Kau terbahak-bahak. Mengusap rambutku, yang kini terjuntai lurus segaris pinggang serupa lintasan air terjun. Seperti keinginanmu.

Kau tentu tidak mendengarnya sebab aku hanya berkata pada diriku sendiri. Seolah gema yang memantul-mantul di sebuah ruang tanpa lubang udara.

Aku cinta kau.

Pagi menerobos kedua mataku dengan begitu sembrono. Panas. Bukan hangat. Jendela telah menampilkan warna terang. Hijau daun-daun, cokelat atap rumah tetangga, biru langit, putih awan, bening embun, bau basah. Petrikor. Bau kau.

“Apakah semalam hujan, Bu?”

“Sangat deras. Tidakkah kau mendengarnya?”

Aku hanya menggeleng. Berjalan ke meja. Mengambil gelas tengkurap, mengisinya dengan bubuk cokelat dan air panas. Tanpa cuci muka.

“Tidakkah aneh jika pagi ini matahari datang terlalu dini?”

“Kupikir kau sedang sakit demam. Jadi aku memilih tidak membangunkanmu.”

Aku diam sejenak dengan lubang mulut mengerucut bibir rapat, menahan cokelat panas yang telah menciptakan gembung di kedua pipi.

“Memangnya ini jam berapa?”

“Sembilan lebih dua puluh satu.”

Aku terkejut.  Terpaksa libur kerja dan memutuskan memungut buku di rak secara acak. Mengenakan kacamata bundar, dan membaca.  Mungkin sedikit terlambat karena buku itu telah lama kumiliki dan tidak langsung kubaca karena merasa tidak becus meluangkan waktu. Sebuah novel pemberian temanku. Berwarna biru dengan gambar seekor monyet terbalik. Lumayan tebal. Tapi cukup menarik perhatianku karena sering diperbincangkan oleh teman-temanku. Sebuah cita-cita dan cinta seekor monyet yang ingin menjadi dan mencintai seorang manusia.

Aku cinta kau. Bagaimanapun, mimpi telah dibangunkan mata yang terbuka, tapi bagaimana kalimat itu tetap melompat-lompat di dalam kepala?

Dadaku berdebar mengingatmu. Kau dengan sebuah ranting tanaman rambat di rambutmu: sebuah lingkaran seperti mahkota. Tubuhmu yang tak lagi bergerak, menghilang beberapa hari dan ditemukan dalam kondisi hampir membusuk dengan sekujur tubuh berwarna hijau kebiruan, Di arus Kalibodri. Bercampur warna pucat tanpa mengenal matahari. Mungkin vampir telah menghisap darahmu. Aku ngeri. Nyeri. Mungkin kau benar, Bama. Pohon waru itu tidak berhantu. Tapi aku.***


Fina Lanahdiana, lahir dan tinggal di Kendal.

Cerpen

Tidak Perlu Adil, Apalagi Adil Sejak dalam Pikiran

Cerpen Daruz Armedian

Pada pagi yang biasa, sebuah papan tulis di depanmu ada kalimat yang berbunyi sederhana: bertindaklah adil sejak dalam pikiran. Kalimat itu ditulis oleh jemari lentik milik seseorang yang baru menjadi guru. Kebetulan hari ini, guru itu sedang mengisi di kelasmu. Panggil saja, Bu Oka, katanya ketika teman-teman sekelasmu meminta sebuah perkenalan singkat.

Dua jam ke depan, pelajaran sejarah resmi diampu Bu Oka. Ia menggantikan Pak Saifuddin yang sudah tua dan kebetulan hari ini sedang sakit. Entah akan mengganti dengan sementara atau sampai jam-jam seterusnya. Memang sudah menjadi aturan, meski tidak tertulis, guru baru di sekolah itu mula-mula harus jadi guru pengganti. Atau menjadi bagian Tata Usaha dan penjaga perpustakaan.

Lima menit berlalu dan Bu Oka masih duduk di situ. Duduk di kursi guru sambil membolak-balik lembar-lembar absensi kelas 8 D. Wajahnya serius mengamati deretan nama-nama yang ada di sana. Ia seperti tak menghiraukan suasana kelas yang mulanya gaduh berubah jadi senyap. Berpasang-pasang mata siswa menatapnya. Menunggu apa yang akan dikerjakan perempuan itu beberapa menit ke depan.

Bu Oka masih melihat-lihat isi absensi. Dan sejenak kemudian menatap siswa di sana. Daftar kehadiran sebenarnya tidak penting, tukasnya. Lalu ia berdiri.

“Oke. Kalian tahu, siapa yang membuat kata-kata ini?” tangan Bu Oka menunjuk papan tulis. Matanya melirik kanan kiri. Menatap satu persatu siswa di situ. Semua terdiam. Kamu belum pernah mendengar kata-kata bijak itu.

“Itu adalah kata-kata Pram. Pramoedya Ananta Toer. Sastrawan yang mendunia dari Indonesia. Kalian belum kenal?”

Kamu dan teman-temanmu menggelengkan kepala. Sungguh, itu kali pertama kamu mendengar namanya.

Bu Oka menjelaskan panjang lebar mengenai sastrawan yang mendunia itu. Ia pernah ditahan oleh pemerintah. Dipenjara di Jakarta, dibuang ke Nusa Kambangan (kamu pernah mendengar nama pulau itu suatu waktu, dan kamu merinding membayangkannya). Lalu dibuang ke Pulau Buru dan dipekerjakan secara paksa. Mirip kerja rodi atau romusha, atau lebih kejam dari itu. Buku-bukunya banyak yang dimusnahkan karena melawan pemerintah.

“Kalian harus tahu, kalau sebenarnya banyak orang hebat yang namanya ingin dihapuskan dari sejarah.”

Bu Oka kembali menerangkan ini itu. Sejarah-sejarah yang berbeda dengan apa yang ada dalam pelajaran sewajarnya. Asyik sekali, pikirmu.

**

Kamu merasa tidak aneh, ketika sekarang teman-temanmu semua malas untuk meninggalkan pelajaran sejarah, walaupun tidak ada absensi. Bagimu, itu karena pelajaran sejarah Bu Oka asyik sekali meski hampir semua yang diajarkannya berbeda dengan penjelasan Pak Saifuddin atau guru-guru sejarah lainnya atau tulisan-tulisan yang ada di LKS (Lembar Kerja Siswa). Padahal, sebelumnya, pelajaran sejarah adalah pelajaran yang sangat-sangat membosankan. Membolos adalah kegiatan yang digemari teman-temanmu dan tentu saja kamu, meski pada akhirnya setelah itu mendapat hukuman dari Pak Saifuddin. Disuruh berdiri di depan kelas selama dua jam penuh, atau dipaksa menghafalkan UUD (kamu tidak suka UUD). Tidak berhenti di situ, tidak masuk di mata pelajaran itu selama tiga kali, berarti juga tidak boleh mengikuti ujian.

Hari itu, kamu merasa Bu Oka datang lebih cantik dari biasanya. Dan apa yang diterangkan mengenai sejarah, lebih menarik dari biasanya. Bu Oka mengatakan kalau Soeharto (Bu Oka tak pernah memanggilnya Pak Harto atau Presiden Soeharto) telah membelokkan sejarah. Memutar film kekejaman PKI yang diulang-ulang setiap tahun kemerdekaan. Kamu yang tidak betul-betul tahu apa itu PKI hanya mendengarkan saja. Bu Oka, toh, tetap asyik cara bertuturnya.

Begitulah, kenapa kamu menyukai Bu Oka.

**

Hampir satu semester sudah Bu Oka mengajar sejarah di kelasmu. Hari ini hari terakhir pelajaran sejarah sebelum ujian. Sebelumnya, Bu Oka sudah pernah bilang kalau dalam pelajaran yang diampunya itu tidak perlu ujian. Katanya, ujian tidak penting, apalagi kalau tujuannya cuma mencari nilai. Yang penting paham atau minimal tahu. Tetapi, karena sekolah mewajibkan seluruh mata pelajaran harus ada ujian, maka pelajaran sejarah tetap ada ujian. Mengenai ini, kamu dan teman-temanmu tidak peduli, karena Bu Oka menjanjikan sebuah nilai di atas 90 bagi setiap siswa.

Sepuluh menit waktu pelajaran sejarah berlalu dan Bu Oka belum datang di kelasmu. Tidak seperti biasanya. Kamu tahu, Bu Oka lebih rajin dari siswa mana pun di sekolahanmu. Ia datang di kelas sangat pagi, sejak pintu gerbang sekolah dibuka oleh satpam. Bahkan Si Satpam kenal dekat dengan dia.

Sampai di sini, kamu mengakui, pelajaran Bu Oka itu candu, membikinmu ketagihan. Kamu gelisah. Teman-temanmu juga. Akhirnya, salah satu dari teman-temanmu mempunyai inisiatif untuk berdiskusi tentang sejarah. Sebagaimana yang diajarkan Bu Oka, diskusi itu sangat penting. Mereka menunjukmu sebagai pemimpin diskusi. Tetapi, belum sempat kamu maju ke depan, Bu Oka datang tergopoh-gopoh. Ia mengatakan kalau saat itu tidak bisa mengajar. Akan ada rapat dengan kepala sekolah.

Kalian sedih. Tetapi, menanggapi kesedihan itu, Bu Oka berjanji akan kembali mengajar lagi kalau kalian naik kelas 9. Sekarang, katanya lagi, kelas diisi dengan diskusi. Dan hari inilah, pertamakali diadakannya diskusi sejarah di kelasmu. Di masa Pak Saefuddin tidak pernah dilakukan hal semacam itu. Mengajarnya lebih mirip seminar. Murid-murid adalah budak dan ia adalah tuannya.

Dua bulan berlalu namun Bu Oka tidak pernah lagi mengajar di kelasmu. Ia sendiri tidak pernah memberi tahu kenapa tidak mengajar lagi. Akhirnya, pelajaran sejarah diampu oleh guru baru. Anak seorang guru di sekolahanmu yang baru pulang dari Mesir. Pak Rokib, begitu ia menyuruh kalian memanggilnya.

Sama seperti guru sejarah sebelum Bu Oka, Pak Rokib mengajari kalian sejarah yang semestinya. Sesuai dengan yang ada di LKS. Bahwa penculikan terhadap jendral memang terjadi. Yang berperan penting memerdekakan negara ini adalah para tentara, kiai, dan santri-santri. PKI memang mau membubarkan Indonesia dan menghianati Pancasila. PKI memang jahat dan wajib ditumpas. Ia juga mengingatkan kalian agar mengisi semua soal-soal yang ada di LKS. Karena ujian nanti—ujian yang masih jauh karena baru saja berganti kelas—soal-soal ujian tidak lepas dari buku tipis itu.

Ketika salah satu dari kalian tidak setuju dengan apa yang diajarkannya, Pak Rokib marah-marah sambil mengatakan, makanya belajar. Sekolah itu belajar, bukan terus-terusan tidur. Bukan terus-terusan bermalasan. Padahal kalian tidak sering tidur dan padahal kalian tidak malas kalau Si Guru cara mengajarnya enak.

Maka begitulah, kamu sangat merindukan Bu Oka. Merindukan bagaimana ia bercerita tentang sejarah yang belum kamu ketahui, membebaskan kamu dan teman-temanmu bertanya, berdebat, dan tentu saja berpikir. Suatu hari kamu memberanikan diri bertanya pada kepala sekolah, kenapa Bu Oka tidak mengajar lagi. Dengan tegas ia menjawabmu, Bu Oka tidak cocok mengajar di sini.

“Ada masalah?” kata Pak Kepala Sekolah sambil melotot (kamu heran, kenapa bapak itu sampai memelototkan matanya sebegitu rupa).

Kamu tak berani bicara. Dan kamu tak mengerti, apa yang sebenarnya terjadi pada Bu Oka, dan pada apa yang diajarkan Bu Oka. Sama halnya pelajaran sekolah, sistem di sekolahan juga rumit untuk kamu pahami.

***

2017


Daruz Armedian, lahir di Tuban. Mahasiswa Filsafat UIN Sunan Kalijaga ini bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta. Mengikuti Kelas Menulis Balai Bahasa DIY. Tulisannya pernah di Koran Tempo, Media Indonesia, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Republika, Lampung Pos, Pikiran Rakyat, detik.com, basabasi.co, dll. Pernah memenangi lomba cerpen se-DIY yang dilaksanakan Balai Bahasa DIY tahun 2016 dan 2017.

Cerpen

Doa Tentang Anjing dan Kematian

Cerpen Ken Hanggara

Jika di dekat sini ada anjing, aku harap anjing itu mengendus sesuatu. Aku harap anjing itu bisa mengendus sesuatu dan sekaligus bersama dengan seseorang yang waras. Tidak dapat kubayangkan jika anjing yang melintasi bagian depan bangunan bobrok ini pergi sendiri atau ditemani lelaki atau perempuan gila. Tak ada yang lebih buruk dari itu. Barangkali tak ada yang lebih buruk dari itu. Jika sebatas itu yang terjadi, aku juga tidak mungkin pulang dalam waktu dekat. Bahkan boleh jadi aku tidak pulang selamanya dan baru pulang dalam wujud lain di hari kiamat kelak, ke tempat yang sangat jauh dan tak terjangkau.

Membayangkan itu aku takut. Anehnya punggung dan leherku tidak merasa ada getaran yang aneh. Dulu dan kapan pun sebelum aku berhenti di titik ini, seseorang atau apa pun akan dengan mudah membuat punggung dan leherku berkeringat dalam getaran yang aneh. Rasa takut memunculkan sensasi tak nyaman. Saat ini, sensasi itu hanya ada dalam wujud yang tak dapat kurasakan selain kupikirkan. Segalanya kian buruk, karena aku sadar aku tak dapat kembali ke masa-masa itu.

Aku tak bisa kembali karena menuruti ucapan seseorang suatu sore di suatu telepon: “Datang ke bawah jembatan. Jam delapan.”

Aku takut terseret ke pengadilan, yang pasti merepotkan bisnis dan keluargaku. Aku datang dan berharap sebuah penyelesaian ditemukan. Kuharap sejumlah uang dapat membuat orang-orang itu membiarkanku pergi. Tetapi, aku dibawa pergi dengan mobil dan kemudian berakhir di tempat ini.

Di sini tidak ada toko atau lalu lalang manusia. Tidak ada rumah makan atau toilet umum atau tempat semacam kios service televisi yang berdiri selama tiga dekade di pojok pertigaan dekat rumahku, yang tak lagi disambangi orang sebab pada saat ini pemilik kios itu pikun dan tinggal sebatang kara tanpa anak istri yang dengan sengaja mencampakkan dirinya. Aku dengar sedikit cerita soal pria tua itu dari beberapa orang di lingkungan rumahku dan aku merasa betapa kasihan dia. Sekarang aku mengasihani diriku sendiri.

Apa yang terjadi padaku tidak lebih baik dari yang dialami pria tua penyepi itu. Dulu aku sering membayangkan, jika tidak sengaja melintasi kios service televisi itu, soal betapa mendungnya pikiran si pria tua atau betapa kosongnya dada yang lama tak ada kehidupan bersama keluarga. Aku curiga orang itu diam-diam memiliki rencana bunuh diri suatu hari nanti, tapi karena belum menemukan cara yang tepat agar dia tidak ditertawakan anak-istri yang membencinya setengah mati, sampai detik di hari terakhir aku melihatnya, dia masih terlihat bernapas walau sorot matanya terlihat sangat lelah.

Apa detik ini sorot mataku pun begitu?

Apa pada suatu hari, jika benar datang seekor anjing yang dapat mengendus datang bersama seorang lelaki atau perempuan waras, maka kedua makhluk itu berpikir sama, yakni tentang sorot mataku?

Aku tak bisa memastikan mataku bersih dari kotoran pada detik ketika orang-orang itu meninggalkanku di sini.

Semua terasa dingin. Tak ada apa-apa. Aku tak bisa pastikan apa keluargaku baik- baik saja. Apa mereka juga berakhir seperti ini, di tempat yang jauh dari sini?

Aku menangis tanpa air mata. Hatiku sakit, tapi jantungku bagaikan pria penyepi itu, di tempat service televisi yang bobrok dan terlihat membatu dan menguarkan aura yang membuat waktu seakan berhenti bekerja pada radius beberapa meter. Aku merasa segala sesuatu di sekitarku membeku dalam waktu yang mendadak henti. Barangkali sama persis seperti situasi ketika nuklir menyebabkan dua kota di Jepang di masa Perang Dunia Kedua hancur lebur; segalanya mendadak terasa membatu dan mati dan tertinggalkan waktu. Apa benar? Apa benar setiap bom yang meledak akan menyisakan sensasi aneh yang membuat kita seolah-olah tidak lagi dipedulikan waktu?

Aku tak tahu rasanya dibom. Mereka tak memasangi tubuhku dengan bom, tetapi kini tiba-tiba aku teringat dengan korban jiwa di berbagai tempat yang mati karena dibom. Aku pikir, “Barangkali panas.”

Aku tak pernah serius memikirkan itu. Aku hanya memikirkan hidupku membaik jika tiap usaha kulakukan untuk memajukan bisnisku. Aku ingin merajai bidang yang kugeluti, tapi suatu hari, mau tidak mau, kuperbuat sesuatu yang merugikan seseorang. Seseorang itu yang kemudian datang menuntut balas atas kematian seseorang akibat ambisiku.

Aku kepanasan karena dengan bodoh menemui orang-orang tersebut di lokasi yang disepakati. Aku kepanasan hingga tidak lagi merasakan batas antara hidup dan mati. Pada saat itu, aku tidak lagi berada di bawah jembatan. Aku digiring orang-orang berbadan besar ke tempat rahasia, setelah dua mataku ditutup dan dibawa menumpang mobil kira-kira tiga puluh menit.

Mataku terbuka ketika rasa panas itu menjalar ke kulit di hampir tiap bagian tubuhku. Yang dapat kutatap hanya lorong hitam di kiri ruangan dan bohlam tua di atas kepalaku. Wajah-wajah eksekutorku tak benar-benar kuperhatikan dan lagi pula mereka tak terlihat jelas. Aku berharap ini segera berakhir. Aku tidak tahan dan pingsan, dan orang-orang gila itu berhenti, lalu membawaku sekali lagi dan menurunkanku ke sini.

Barangkali seperti ini rasanya orang kehilangan segala-galanya, namun tidak diberi daya dan upaya oleh langit untuk berbuat. Begitu sakit. Aku tidak mampu menemukan apa pun selain tubuh yang tidak lagi berdaya dan waktu yang seakan-akan hengkang dari sisiku. Seakan-akan aku hidup dengan cara yang lain, karena dijauhi oleh waktu.

Aku merasa hidup sebagai sesuatu yang lain. Saat sadar aku tak dapat mengubahnya dan hanya bisa membayangkan sialnya nasibku yang kini jauh lebih sial ketimbang pemilik kios service televisi busuk itu, aku tahu aku hanya bisa berharap tentang anjing yang dapat mengendus dan seseorang yang waras pergi bersamanya.

Aku tidak tahu sampai kapan. Barangkali itu terjadi dalam waktu dekat dan si anjing akan panik tidak keruan begitu melintasi jalanan yang tak jauh dari bangunan bobrok ini. Barangkali itu besok atau nanti jam sepuluh malam. Aku bisa membayangkan itu terjadi seminggu setelah pikiran-pikiran ini terbit atau bahkan lebih lama dari itu.

Apa pun itu, aku harap siapa pun akhirnya akan menemukanku dan membawaku pulang dengan cara yang mereka mampu dan itu terjadi sebelum terlambat. Sebelum tubuh yang sejak dua hari lalu mati ini menjadi tulang belulang.***

Gempol, 25 Juli 2018 – 28 Oktober 2019


Ken Hanggara, lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, esai, dan skenario FTV. Karya-karyanya terbit di berbagai media. Buku terbarunya Museum Anomali (Unsa Press, 2016), Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (Basabasi, 2017), Negeri yang Dilanda Huru-Hara (Basabasi, 2018), dan Dosa di Hutan Terlarang (Basabasi, 2018).

Cerpen

Granky

Cerpen Win Han

Kucing jantan berbulu oranye itu mengeong-ngeong keras menyerupai gertakan. Cakarnya menggapai-gapai udara dengan bola mata bening mengilat tajam. Zain tidak pernah suka pada cara kucing tersebut bersikap. Ia membalas tatapan tajam kucing itu dengan tatapan tak kalah tajam, seolah-olah sepasang pedang mencuat dari mata mereka dan beradu di udara.

“Jangan begitu, Granky.” Nada menghampiri kucingnya, mengelus-elus, dan memintanya untuk menjaga sikap. Granky, kucing itu, bergeming. Udara dari saluran pernapasannya terasa panas. Ada bara yang belum padam di dada makhluk itu. Lelaki di sofa seberang—Zain—menyaksikan kucing di dekapan kekasihnya dengan dahi mengerut.

Miiiaaauuuwww.

Granky melompat dalam kecepatan kucing marah menuju sofa di seberangnya.

Sekuntum bunga plastik dalam pot keramik di atas meja tersenggol, mengguling ke lantai. Pot keramik pecah menjadi serpih-serpih runcing berceceran di lantai antara meja dan sofa. Erangan kecil memercik dari mulut Zain. Lengan kirinya tersayat dan berdarah. Tiga garis luka cakaran masih terlihat segar di lengan lelaki itu.

“Granky!” seru Nada dengan leher menegang. Ia mencengkeram leher tertutup bulu tebal Granky, mengangkat tinggi-tinggi kucing itu. Dengan langkah cepat, Nada membawanya ke halaman belakang dan melempar Granky seperti melempar buntalan sampah. Granky mendarat dalam posisi kaki agak tertekuk. Ia membisu. Nada meninggalkannya persis seperti meninggalkan sampah.

Di ruang tamu, Nada meminta maaf kepada Zain lantaran kelakuan buruk kucingnya. Dibarenginya permintaan maaf itu dengan hujatan-hujatan pada Granky—suatu hal yang tidak pernah Nada lakukan semenjak menerima Granky sebagai hadiah ulang tahun dari bibinya dan memeliharanya lima tahun silam.

Gadis muda berambut lurus panjang itu mengambil perban dan obat cair dari kotak obat di sisi pintu. Sambil meneteskan obat dan memasang perban ke lengan Zain, Nada kembali meminta maaf seakan-akan ia telah melakukan suatu dosa yang sangat besar.

“Sudah, lupakan saja. Tidak apa-apa, kok,” kata Zain. Jari-jemari Nada masih berkelana di lengan Zain. Zain melepaskan jari-jari itu dari lengannya, berganti menggenggam lengan Nada, erat. Seperti kucing jantan berahi, kepala Zain bergerak liar menuju muka Nada, menggeranyangi pipi dan bibir Nada dengan dengus napas panas dan gegas.

Dering telepon berkali-kali berbunyi dari ponsel di saku celana Zain. Sementara di halaman belakang, Granky menyisakan jejak kakinya di rerumputan hijau kering. Sebuah tembok setinggi bahu orang dewasa membatasi halaman belakang dengan jalanan. Seekor kucing baru saja meloncat ke luar tembok itu.

***

Telah tiga hari tiga malam Granky tak pulang ke rumah.

Nada sudah mencari Granky ke mana-mana, ke tempat-tempat yang biasa Granky pijaki, tetapi ia tetap tak menemukan kucing kesayangannya itu. Ia bahkan membayar salah seorang penjaga keamanan untuk berkeliling komplek mencari Granky, tapi hasilnya masih sama: nihil.

Sehari setelah menghilangnya Granky adalah jadwal rutin Nada memeriksakan Granky ke dokter hewan dan membeli pakan untuk satu bulan ke depan. Namun pada hari itu, Nada tidak ke dokter hewan. Ia hanya membeli pakan kucing di petshop dekat pasar. Pakan kucing itu masih penuh. Belum berkurang sedikit pun. Ia menatapi pakan kucing dalam bungkus plastik itu dengan masygul. Dengan penyesalan dan rasa marah pada diri sendiri terpanggul di pundaknya.

Nada merindukan bulu-bulu lebat nan lembut Granky yang biasa ia usap dan belai tiap hari. Tangannya terasa kering dan kurang tanpa menyentuh Granky. Ia tak pernah berpisah dengan Granky lebih dari satu hari. Dua tahun lalu, ketika acara perpisahan SMA yang mengharuskannya menginap beberapa hari, Nada turut membawa Granky bersamanya. Meskipun pihak sekolah melarang, ia tetap kukuh dan akhirnya diperbolehkan dengan syarat kucing itu tak membuat gangguan.

Ia merindukan suara ngeongan Granky. Suara manja yang biasanya terdengar lebih sering apabila waktu makan Granky tiba. Kucing itu akan pergi ke tempat di mana Nada berada, mengeong-ngeong, memandanginya dengan wajah memelas. Lalu Nada akan mengambil pakan kucing dari atas lemari dapur, menuang secukupnya ke mangkuk kecil, dan ia akan sangat bahagia melihat Granky makan dengan lahap. Sudah tiga hari momen itu tak terjadi. Tinggal sesal dan rindu bertengkar di ruang hati Nada.

Pada hari keempat, Nada menghubungi Zain melalui sambungan telepon. Ia meminta kekasihnya itu menemaninya mencari Granky ke tempat yang agak jauh, ke pusat kota dan keramaian. Ia berharap akan menemui Granky jika ia mencarinya sedikit lebih jauh. Dalam hatinya, Nada pun yakin Granky tidak akan pergi terlalu jauh. Sebelumnya, Granky pun memang tidak pernah pergi jauh—tidak kecuali bersamanya.

“Kenapa kamu masih peduliin kucing itu?” ketus suara di seberang telepon. Nada tahu Zain tidak menyukai Granky. Tetapi, ia ingin Zain tahu bahwa biar bagaimanapun ia dan Granky telah bersama sekian lama, jauh lebih lama daripada dirinya mengenal Zain—yang baru dikenalnya beberapa bulan belakangan. Ia tidak mungkin mengabaikan dan membenci Granky begitu saja.

Nada kecewa dengan tanggapan Zain yang acuh tak acuh. Namun ia juga tidak bisa memaksa lelaki itu untuk menuruti kemauannya. Terakhir kali Nada memaksakan sesuatu pada Zain, Zain marah-marah. Padahal waktu itu ia cuma ingin meminjam ponsel Zain sebentar. Nada menutup telepon tanpa mengatakan apa pun. Ia memandangi bungkus pakan kucing yang kini diletakkannya di atas meja. Memandangnya lamat-lamat seraya menghimpun ingatan-ingatan perihal Granky.

Nada akan mencari Granky seorang diri.

Bayangan Nada sudah memanjang di jalanan ketika ia meminta seorang tukang ojek langganan di gerbang komplek untuk mengantarnya. Ia akan berkunjung ke pusat kota, ke tempat-tempat yang hiruk.

Sepanjang perjalanan melewati gang komplek, kemudian keluar ke jalan besar, mata Nada tak henti bergerak-gerak menoleh ke kanan-kiri. Berharap sesosok kucing berbulu oranye tebal akan nampak. Tidak ada kucing berbulu oranye tebal di sisi jalan. Beberapa orang dan kucing memang berlintasan, tetapi mereka bukan berbulu oranye tebal—mereka bukan Granky.

Setibanya di pusat kota, mata Nada tetap tak bisa diam. Bukan hanya ke kanan dan kiri, kali ini Nada mengamati segala arah. Ke pedagang kaki lima, lalu lintas ramai, pos polisi, halaman-halaman ruko, dan sebuah restoran tempat ia biasa dinner bersama Zain. Restoran dengan beberapa meja di bagian luar itu terlihat sepi. Hanya ada beberapa pasangan lelaki-perempuan menempati meja berbentuk persegi panjang.

Nada merasa lapar dan ia memutuskan untuk memesan makanan terlebih dahulu di restoran itu sebelum melanjutkan pencarian Granky. Ia belum makan sejak pagi.

Tatkala kaki Nada selangkah lagi masuk ke pintu kaca restoran tersebut, sepasang lelaki-perempuan keluar dan menabraknya. Tubuh Nada terdorong ke belakang. Hampir terjatuh.

“Kalau jalan lihat-lihat dong!” bentak lelaki itu. Nada heran. Seharusnya ia yang lebih berhak mengatakan hal tersebut. Sebab ia sudah berjalan pelan dan tenang, namun lelaki-perempuan itulah yang tergesa saat keluar dari dalam restoran.

Mendengar suara bentakan lelaki itu, Nada tidak marah, ia hanya heran. Selebihnya biasa-biasa saja. Namun, begitu ia melihat wajah pemilik suara tersebut—yang masih menggenggam pergelangan tangan seorang perempuan berpenampilan seksi yang tak pernah Nada lihat—tubuhnya terasa beku. Lidahnya kelu. Sesuatu bergejolak dan membara di kedalaman dada Nada. Lelaki itu adalah Zain.

Nada seharusnya marah. Ia seharusnya menghardik lelaki itu, menampar, atau memukul-mukulnya dengan tas kecil di bahunya. Tetapi semua itu tak Nada lakukan. Ia membalikkan tubuhnya. Tidak jadi membeli makanan. Ia menuju ke tukang ojek yang masih menunggunya. Pergi melaju menjauh dari Zain dan perempuannya yang berdiri mematung dengan muka pucat dan tolol.

***

Di depan pintu rumah, suara tak asing yang beberapa hari tak Nada dengar menyambutnya. Suara ngeongan Granky. Entah sejak kapan, kucing itu sudah kembali ke rumah Nada. Begitu Nada datang, Granky dengan ekor panjangnya yang mekar segera menghampiri Nada, bergelung manja di sela tumit majikan sekaligus sahabatnya itu.

Selama perjalanan pulang tadi, perasaan Nada campur aduk antara marah-kecewa-sedih-dan-semacamnya. Saat ia sampai di rumah dan menemukan Granky kembali, ia seakan lupa pada apa yang sebelumnya terjadi dan kondisi perasaannya sendiri. Ia begitu gembira dengan kehadiran Granky yang telah berhari-hari dicarinya. Nada menggendong Granky, membawanya ke dalam rumah. Ia membuka bungkus pakan yang terletak di meja, menuang sedikit ke mangkuk kecil, dan membiarkan Granky menyantap pakannya. Sepertinya Granky lapar sekali. Kucing itu makan sangat lahap. Nada berbinar-binar menyaksikannya. (*)

Bandung, September 2018


Win Han, tinggal di Bandung. Menulis cerpen dan puisi. Karya-karyanya telah terbit di berbagai media cetak dan online. Bisa dihubungi melalui surel: [email protected]

Cerpen

Sebuah Titipan yang Hanya Darimu

Cerpen Jeli Manalu

Sebuah titipan yang hanya darimu itu menjadi hantu di ingatanku. Waktu itu, kedatanganku ke kota ini di samping bekerja, ialah mencarimu yang mendadak hilang di pagi Jumat pada bulan Januari. Pakaianmu tak ada lagi di kamar. Sepatu, jaket, atau apa saja yang berhubungan denganmu, bahkan tak sebiji pesan kau tinggalkan sebagai isyarat yang barangkali dapat kuterjemahkan meski butuh beratus-ratus malam lamanya.

Kita hanya menguping pada pertengkaran menegangkan dari kamar ayah dan ibu. Kau sering bolos sekolah. Sementara orangtua kita menginginkanmu jadi sarjana. Kau terlalu sibuk main musik dengan anak-anak se-komunitasmu. Kau pun sudah tak pernah lagi jadi muazin di masjid kampung kita, padahal, kau tahu, dada ibu selalu berdebar setiap kali mendengar dan merasakan seruan yang kau kumandangkan dengan syahdu dan tartil itu. Tak jarang ia berlinang air mata, mengusap pipi dengan tangan penuh tanah, kemudian pura-pura berkata: mataku sangat gatal, sepertinya kena serangga.

Ayah cuma kuli bangunan. Sesekali jika orang-orang desa ada rezeki ayah akan mendapat ‘uang terima kasih’ yang diberikan secara suka rela atas anak-anak yang telah diajari mengaji. Sedang ibu, hari-harinya bergumul dengan cangkul, tanah, pupuk, pestisida, hama, musim kemarau atau hujan. Ibu akan menanam kol, bergantian dengan sawi, setelah itu seledri, kadang selada dan juga cabai. Kalau tomat tidak pernah lagi, kata ibu kelewat rumit mengurusnya. Manja sekali. Harus disayang-sayang seperti kita waktu bayi. Namun begitu, mereka berdua tetap mengupayakan kita agar jadi orang sukses.

Aku diterima bekerja di sebuah perusahaan besar padahal perusahaan itu merupakan mimpi. Mimpi orang-orang agar bisa masuk ke dalamnya. Berawal dari peristiwa tak sengaja ketika aku masih jadi babu di satu rumah makan mewah. Suatu hari ketika mengemasi biji-biji nasi dan mengelap ceceran gula di meja nomor tiga puluh tiga, ada jam tangan hitam memandangi mataku. Kulihat ke arah lelaki yang baru lesap dengan mobil yang sama warnanya dengan bajuku. Untung lampu merah. Kuketok-ketok mobil itu. Lelaki itu menurunkan kaca mobilnya. Angka di atas kepala kami masih dua puluh. Kami bercakap-cakap sebentar. Ia menyodorkan uang bergambar Sukarno. Aku menolaknya. Ia memaksaku. Aku menolak lagi. Senang berkenalan denganmu, katanya, yang memberiku alamat kantornya. Aku malah tersanjung hingga tak sadar kalau bunyi klakson di belakangku sudah marah-marah.

Dua malam berikutnya lelaki itu mengunjungiku. Entah bagaimana ia tahu tempat tinggalku. Aku menyilakannya duduk. Kami bertanya-jawab mengenai diri kami. Percakapan kami seru. Aku dan ia sama-sama orang Sumatera, dan di tiap perbincangan aku menyebut diriku padanya dengan kata ‘saya’, bukan ‘aku’—sebuah kesan bahwa kami baru berkenalan atau bila seseorang kurasa lumayan berwibawa.

“Buatkan aku kopi, seperti yang sering kamu buat itu.”

“Saya tak suka kopi, Pak.”

“Ya?”

“Maksud saya, saya tidak menyediakan kopi di dapur.”

Mata kami berada di garis sama. Tetap di garis yang sama untuk beberapa saat lamanya. Aku gugup, ia justru senyum. Senyumannya ganteng dan aku suka melihatnya. Setelah itu ia tertawa keras sekali.

“Sepertinya kamu sudah sangat lama tidak tertawa,” katanya, “kalau begitu temani aku minum kopi.”

“Saya?”

“Kamu tidak mau?”

“Bu-bukan, bukan begitu.”

“Aku orang baik-baik kok. Ndak penculik kayak di koran-koran,” katanya seolah bicara pada anak kecil, dan aku menahan senyum agar tak terlampau lebar.

Segera aku ke kamar. Hampir seisi lemari kukeluarkan. Hitam, kuning, hijau, merah, ungu, putih, bunga-bunga, um, tiba-tiba, aku merasa baju-bajuku itu jelek semua. Padahal baju-baju itu masih terawat. Modelnya juga tidak kampungan.

“Tidak usah cantik-cantik, nanti aku naksir,” katanya, melalui handphone.

Detak jantungku menjadi aneh. Serasa ada mengamatinya, serasa ada yang datang perlahan-perlahan. Aku mengepal kedua tangan di bawah dagu. Dingin. Dingin yang menjalar, maka aku cepat-cepat keluar dan menutup pintu kamar dan menemui tamuku itu.

“Kamu sudah pernah berkeliling Jakarta?” tanyanya saat mobil mulai melaju, dan angin sempat menerbangkan rambutku ke lengannya sebelum ia menaikkan kaca di sebelah pipi kiriku.

Lima jam aku dengannya. Mulai dari minum kopi, makan makanan enak, diajak ke bioskop, juga, aku dibelikan gaun di gedung yang sangat mewah, di mana pelayan-pelayan di tokonya sangat ramah. Ada sepuluh baju kucoba. Tapi aku hanya mengambil dua, itu pun karena dipaksa. Jika tidak, aku cuma berani membawa pulang satu.

Sesampai di rumah aku mendapat telepon dari Sumatera, “Sudah empat tahun kau di Jakarta, apa sudah menemukannya?” terdengar suara serak ibu. Kubayangkan ia layu. Mata cekung, kening keriput, pipi kurus, mungkin ia hanya akan makan bila dibujuk-bujuk ayah. Pokoknya kau harus bawa pulang abangmu, kata ibu sembari menyelipkan gambarmu dulu, ketika mengantarkanku ke terminal beberapa tahun lalu.

Fotomu itu foto SD. Foto SMP belum ada, tapi mungkin saja ada namun entah di mana kau meletakkannya. Jadi yang ada dalam bayanganku hanyalah wajah terakhirmu bersamaku: wajah remajamu, walau kini usiamu tiga puluh lima. Tiga puluh lima yang matang dan tak bisa kutebak seperti apa gaya rambutmu. Apakah gondrong, botak, mungkin kau berkacamata atau bisa juga kau gemuk atau malah kurus?

**

Aku terbangun karena kedinginan. Tadinya kupikir hanya sedang mimpi latihan renang lalu sempat megap-megap. Ternyata atap kontrakanku sudah bocor dan aku jadi repot sekali karenanya. Lelaki itu datang menjemputku. Mungkin sebelumnya berkali-kali ia menelepon. Handphone-ku mati. Baterainya kosong, tak sempat kuisi sebelum listrik padam total dan perangkat televisiku disambar petir.

“Kamu seperti adikku saja. Sukanya main hujan.”

“Ya?” ujarku, menatapnya, kemudian menatap diriku yang serba basah.

“Kamu mengingatkanku pada masa kecilku.”

“Apa?”

“Kamu sungguh suka bermain hujan?”

“Bapak meledekku?”

“O-o, bukan.”

“Lalu?”

Ia diam melihatiku yang mulai serius. Kupandangi dirinya, seharusnya aku tak bertemu dengannya. Lelaki seperti dirinya terlalu jauh sempurna untuk orang sepertiku. Ia mapan, rupawan, baik dan banyak lagi. Pasti banyak perempuan tergila-gila padanya. Bagianku cuma: mencintai, selamanya hanya boleh dalam hati.

Ia lihat-lihat kontrakanku. Dindingnya, jendelanya, semuanya. Lalu aku tertawa kuat-kuat persis ketika ia tertawa kali pertama datang ke rumahku waktu itu. Kau tahu, ia itu sinting. Masa sudah tahu licin lantai tapi tetap pula mengenakan sepatu sambil berjingkat-jingkat. Terjatuhlah ia. Kau penasaran bagaimana ia jatuh? Ia tidak jadi jatuh, sih. Aku dengan gesit menarik kemejanya hingga terdengar bunyi krek!

**

Empat bulan kemudian selepas kami melewati ciuman-ciuman kesekian, aku pulang ke kampung halaman. Aku harus mengabarkan berita bahagia yang telah membuatku tidak bisa tidur dan tak henti untuk berpikir. Semoga ibu dan ayah menyukainya. Amin.

Kubawa ibu dan ayah mengunjungi Jakarta, hitung-hitung rekreasi. Ke mall. Makan kentucky, hamburger, pizza, hotdog, ice cream, mengajarinya naik eskalator ataupun lift, dan tak lupa membeli baju-baju bagus. Ini monas, itu ancol, yang sana taman mini, itu istana negara. Aku mengajak mereka keliling-keliling. Kadang aku bohong soal harga. Jika lima puluh ribu, kukatakan saja lima ribu agar mereka tidak enggan. Di kesempatan lain kujelaskan kalau gaji kerjaku lumayan besar. Aku menghambur-hamburkan isi dompet dan beberapa kali masuk ATM—rasanya belum pernah aku sekaya itu.

“Sudah kau dapat kabar abangmu?”

“Kita turun dulu, Bu. Aku mau ganti baju,” kataku, mengalihkan pertanyaan ibu.

“Ini rumahmu?”

“Kontrakanku.”

Bukan seperti sebelum-sebelumnya ketika akan berjumpa dengan lelaki itu ada saja yang kucemaskan. Jerawat, komedo, alis berantakan, kulit kasar, bibir tak segar, kuku yang tak lagi rapi. Tapi hari ini aku tak peduli. Kebahagiaan ibulah yang utama. Kebahagiaan ayah. Kebahagiaan keluargaku.

Kuingat tahun-tahun pertama menempati kontrakan. Jiwaku serasa sudah lekat di situ. Belum pernah aku celaka, walau kutahu kota Jakarta adalah kota yang rawan untuk kita diganggu kejahatan. Kusentuh mawar dan juga lili. Kusirami mereka. Seekor kumbang terbang jauh sekali. Kutulis surat untuk paman pemilik kontrakan: kuncinya kutitip tetangga.

“Ini rumah siapa lagi? Cantik sekali!” pekik ibu.

“Rumah bosmu?” sambung ayah.

Aku menatap mata ayah dan menelepon setelahnya. Sepuluh menit dalam kecemasan mobil warna tembaga masuk pekarangan. Aku mengatur diriku, tak boleh terlihat membingungkan di hadapan orangtua kita. Kugenggam tangan keduanya. Aku berdiri di tengah-tengah menyongsong sosok yang hampir tiba. Bang Darus berjalan kaku ke arah kami. Ia gugup melihatku yang juga gugup.

“Sarah?”

Aku mengangguk. Dadaku penuh, hanya mampu menatap sepasang sepatumu dan sepatuku—sebab saat itu, dua hati telah remuk dan tak bisa berbuat apa-apa. Kita berempat saling merangkul. Ibu senang. Ayah bersinar-sinar wajahya. Sedang pada hari cerah itu air mataku tak karu-karuan banyaknya, seperti hujan badai yang memporak-porandakan sebuah bangunan. Ingatan, terkadang memang tak bisa dijinakkan. Sore ini di tengah-tengah ramainya orang pacaran, kupikirkan lagi embusan napasmu yang pada suatu malam tepat di hidungku, disusul akan bayangan bila dulu bibirmu itu pernah menitipkan sesuatu di bibirku. **

Riau, September 2016-2019


Jeli Manalu,  lahir di Padangsidimpuan, 2 oktober 1983. Tinggal di Rengat-Riau. Buku kumcer terbarunya “Kisah Sedih Sepasang Sepatu”.

Cerpen

Puisi di Dada Temanku

Cerpen Sri Wahyuni

“Kau sudah mengatuk?” tanyaku.

“Tidak adakah pertanyaan yang lebih penting?”

“Tidurlah jika kau mengantuk.”

“Jika aku tidur, apakah kau akan berhenti bercerita?”

“Tidak. Aku akan tetap bercerita sambil membelai rambutmu sesekali juga dadamu.”

Temanku pernah bercerita tentang kekasihnya dan sebuah puisi, Baruna. Bukan kekasihnya–seorang penyair–yang membuat aku tak bisa melupakan cerita itu, melainkan puisinya. Puisi itu ditulis di dada temanku oleh kekasihnya sebagai hadiah ulang tahun. Tentu saja temanku sangat bahagia. Sampai terakhir bertemu, lima bulan lalu, perihal puisi itu masih tetap menjadi perbincangan kami. Semangatnya bercerita juga masih sama dengan kali pertama ia bercerita. Begitu pula aku, juga tak kalah semangat mendengarkannya.

Temanku itu kemarin baru saja menikah. Suaminya tentu saja kekasihnya yang menuliskan puisi di dadanya itu. Ia mengabariku lewat pesan melalui facebook, yang belum sempat aku ceritakan padamu. Mungkin kau bertanya-tanya mengapa aku menceritakan kisah cinta temanku di saat kita sedang menikmati pertemuan untuk membunuh rindu yang telah lama meraung-raung dalam hati. Terlebih kisah itu sangat berlawanan dengan kisah kita.

Aku sendiri tak tahu mengapa aku melakukannya. Aku tidak terlalu bahagia mendengar temanku menikah. Aku lebih tertarik pada cerita itu daripada kabar pernikahannya. Bagaimana denganmu? Apa kau juga menyukai cerita itu? Suka atau tidak, aku akan tetap meneruskan ceritaku sambil sesekali memagut dalam-dalam bibirmu.

“Kau masih mendengarku, Baruna?”

“Ini adalah peristiwa langka. Jadi aku akan mendengarnya hingga usai”.

Setelah pernikahan temanku satu bulan lalu, cerita itu semakin terngiang-ngiang di telingaku. Bayangan puisi itu menari-nari di depan mataku. Aku seperti bisa melihat jelas bagaimana kekasihnya itu pelan-pelan mulai menggoreskan tinta di dada temanku. Saat seperti ini, kau seharusnya ada di sampingku, sehingga imajinasiku tidak berkelana sendiri. Aku ingin kau juga melihat proses penulisan puisi itu. Ah, aku mulai merasa senang dengan pernikahan temanku. Betapa bahagianya dia, bisa memiliki suami seorang penyair.

Kebahagiaan itu saat ini dapat aku lihat dengan jelas, Baruna. Puisi di dada temanku itu tak pernah kesepian. Kekasih yang saat ini menjadi suaminya selalu mengunjungi puisi itu setiap hari. Aku mulai iri dengan temanku itu. 

“Apakah kau tak ingin seperti kekasih temanku itu, Baruna? Jika puisi itu telah kau tulis, aku ingin kau mengunjunginya setiap hari.” Itu pertanyaan yang aku ajukan padamu setelah aku mendengar kisah temanku. Kau tak langsung menjawab. Keesokan harinya kau  mengajakku pergi ke sebuah telaga. Aku tidak akan pernah lupa peristiwa itu.

Waktu itu aku dan kau duduk di tepi telaga. Suasananya masih begitu sepi karena hari masih terlalu pagi. Pohon trembesi di sekitar telaga tengah tersapu kabut. Pohon pinus di bukit-bukit yang mengitari telaga masih samar dalam pandangan. Permukaan telaga bagai bertirai garis-garis hujan. Ketika hujan mereda, tiba-tiba aku teringat cerita temanku tentang sebuah puisi dan kekasihnya itu. Sungguh, cerita itu sangat berkesan bagiku. Lalu aku melempar tanya lagi, “Maukah kau menulis sebuah puisi untukku?” Kau mengalihkan pandangan dari tengah telaga berpindah ke wajahku, lalu balik bertanya, “Kau mau aku menuliskannya di dadamu?”

Wajahku memancarkan semburat merah dengan hiasan senyum malu. Belum sempat aku menjawab pertanyaanmu, kau lebih dulu melumat bibirku. Hanya sekilas. Lalu kau mengulangi pertanyaanmu, “Kau mau aku menuliskannya di dadamu?” Aku mengangguk.

“Tulislah puisi itu di sini, Baruna,” Aku menunjuk dadaku.

“Baiklah. Aku akan melakukannya. Hanya untukmu”.

Aku duduk menghadapmu. Kedua kakiku kulipat ke belakang. Rambutku yang menutup dada aku sibak ke belakang. Tak kubiarkan sehelai rambut pun menghalangimu menulis puisi di dadaku. Sementara kau masih sibuk menyiapkan semua perkakas yang kau perlukan. Seperangkat hati, pena cinta, lalu apalagi? Hanya itu yang kau katakan padaku, Baruna.

Kancing kemeja merah muda yang menutup dadaku sudah keluar dari lubangnya masing-masing. Lima menit berlalu. Tak ada sehelai kain pun menutup dadaku. Aku tak sabar merasakan kau menulis puisi itu. Kupejamkan kedua mataku. Kemarin aku hanya mendengar cerita tentang puisi yang ditulis di dada temanku. Namun, kini aku merasakannya sendiri. Bahkan akulah tokoh utamanya. Aku menunggumu dalam kepasrahan. Kutahan kuat-kuat degup jantungku yang semakin cepat berdetak. Kututup rapat-rapat rasa cemas yang melintas di pikiranku.

“Ayo, Baruna, aku sudah tak sabar,” kataku tanpa membuka mata sedikit pun.

Aku tak tahu mengapa kau tak juga mulai menuliskan puisinya di dadaku. Mungkinkah kau masih berpikir bagaimana dan darimana mulai menuliskannya? Kau memang terbiasa menulis puisi, namun kali ini beda. Sebelum aku dan kau berada di kamar ini, pastinya kau telah memikirkan banyak hal tentang bagaimana menulis puisi di dada perempuan. Aku mau kau hanya akan melakukan hal ini sekali dalam seumur hidup.

“Jangan pikirkan bagus tidak puisinya, yang penting tanganmulah yang menuliskannya. Kali ini dadaku adalah kertasmu. Menulislah semaumu”.

“Ayolah Baruna. Tunggu apalagi?” Rajukku mulai tak sabar. Aku khawatir tak sanggup lagi menahan gemetar, tak kuasa lagi mendekap rasa cemas.

Tanganmu mulai bergerak. Kau tarik napas dalam-dalam lalu kau hembuska perlahan-lahan. Mungkin itu untuk menenangkan dirimu.

“Sekarang aku akan memulainya,” Kau berbisik ke telingaku.

Dengan hati-hati kau mulai menggoreskan pena di dadaku yang licin. Aku tersenyum. Huruf demi huruf kau tulis pelan. Sesekali kau hapus, entah menggunakan apa, rasanya dingin. Kadang kau berhenti sejenak. Dengan mata terpejam aku mencoba mengeja tulisanmu. Sia-sia. Aku tak bisa, yang muncul hanyalah wajahmu, Baruna.

“Ini akan segera selesai. Namun, aku enggan untuk mengakhirinya. Aku ingin terus memandangnya,” bisikmu padaku.

Kubuka mataku sambil kulemparkan senyum padamu. Itu tak lama. Kau mulai menulis lagi. Aku memejamkan mata lagi. Aku sekarang tahu mengapa temanku terlihat begitu bahagia ketika menceritakan kekasihnya dan puisi.

Aku masih memejamkan mata.

“Belum selesai juga?” tanyaku padamu.

Kau tak segera menjawab. Dan aku masih terus memejamkan mata tanpa tahu apa-apa. Kau berbisik ke telingaku, “Jangan buka matamu. Aku masih ingin membaca ulang puisi yang kutulis di dadamu.” Aku hanya mengangguk.

Bukalah matamu sekarang.

Kubuka mataku pelan-pelan. Senyummu menyambut. Kulihat keringat menetes dari wajahmu. Kau pasti menuliskannya dengan seluruh tenagamu. Bergegas kualihkan pandanganku ke dadaku. Kueja kata demi kata yang kau tulis.

Ah, aku mulai berimajinasi. Pikiranku berkelana pada masa silam. Maafkan aku.

“Kau sudah tidur, Baruna?”

Tak ada suara. Aku tahu kau sudah tertidur. Namun, seperti kataku di awal tadi. Aku akan tetap bercerita meskipun kau tertidur. Aku akan bercerita hingga malam habis, Baruna. Sebab aku tahu, setelah ini kita tak mungkin bertemu lagi. Mau tidak mau pada akhirnya kita harus menghadapi sesuatu yang paling kita takutkan–waktu–. Waktu tidak akan memihak kita. Waktu tak lagi memberi kesempatan kita untuk bersama. Aku akan menikmati malam terakhir sebelum laki-laki itu menyebutku sebagai istrinya. Lalu setelah itu, kita akan menutup kisah. Saling melupa.

Waktu berjalan begitu cepat malam ini. Satu jam lagi pagi akan segera datang, Baruna. Karena itu, aku akan segera menutup ceritaku tentang puisi di dada temanku, sebelum kita mencapai titik puncak sebuah kesepakatan untuk tak saling menghubungi apalagi bertemu demi kebaikan bersama. Kita harus mengubur dalam-dalam sebuah kisah masa lalu yang indah itu. Seperti katamu, penyelesaiannya semua kembali pada diri masing-masing.

Sebenarnya aku ingin kau mendengar akhir ceritaku, Baruna. Sayangnya kau telah tidur. Tapi tak apa, aku akan meneruskan ceritaku sambil memandang wajahmu untuk yang terakhir.

Baruna, kisah yang kuceritakan itu sebenarnya tidak pernah ada. Teman yang bercerita padaku itu hanya imajinasiku saja. Tentunya tidak ada temanku yang menikah kemarin. Tak ada pula puisi yang di tulis di dadanya. Tak ada penyair pastinya. Kau pasti tahu mengapa aku suka membuat kisah tentang penyair dan puisi bukan?

Kalau saja boleh, aku ingin kau menengok kembali puisi yang sempat kau tulis di dadaku waktu itu, satu-satunya puisi yang kautulis di dada seorang perempuan. Karena itu, bisakah kau bangun sebelum pagi tiba? Jawablah, Baruna!

***

Baruna terbangun dengan selembar kertas di sampingnya. Sepi, yang terdengar hanyalah detik jam dinding yang menunjuk angka tujuh. Baruna mengambil kertas itu dan membuka lipatannya. Sebuah tulisan singkat. Baruna membacanya.

Baruna, jika ada waktu tengoklah puisi yang kautulis di dadaku agar ia tak kesepian.

Dengan tergesa Baruna mengambil ponselnya untuk menghubungi perempuan penulis pesan itu. Baruna terperanjat. Ada panggilan tak terjawab lima menit lalu. Ia lalu  menelpon balik. Nomor yang dituju tidak aktif. Baruna memerhatikan waktu yang terpampang di ponselnya. Jam 07.10 pagi. Kesepakatan kemarin mereka akan berpisah tepat jam 6 pagi. Baruna menyesal mengapa ia tertidur semalam. Kini ia terlambat. Satu jam yang lalu perempuan itu telah pergi. Air membendung di mata Baruna. Perempuan itu telah meninggalkannya dan kembali ke rumah untuk mempersiapkan pernikahannya.

Dengan perasaan tak menentu, Baruna kembali ke tempat tidur sambil memeluk erat-erat kertas yang berisi pesan perempuan itu. Ia diam sesaat. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara yang berasal dari ponselnya. Ia mengambil dan menyentuh layarnya. Sebuah pesan. Baruna membukanya.

Mas kapan pulang? Putri kecilmu terus menangis mencarimu.

Baruna tak membalasnya. Ia cepat-cepat membuka baju yang melekat di tubuhnya lalu menuju kamar mandi. Ia harus segera pulang. Ada perempuan mulia yang menunggunya dan seorang putri cantik yang menunggu di gendongnya. ***


Sri Wahyuni, tim Sekolah Literasi Gratis (SLG) STKIP PGRI Ponorogo. Bergiat di rumah motivasi Sutejo Spectrum Center (SSC) Ponorogo dan Himpunan Mahasiswa Penulis (HMP) STKIP PGRI Ponorogo.

Cerpen

Penderitaan

Cerpen Ardy Kresna Crenata

Sekawanan hyena mengepung seekor zebra. Herbivora malang itu terpisah dari kawanannya, setelah ia berlari dan terus berlari menghindari kejaran seekor hyena yang kini dilihatnya tengah bersiap-siap menyergapnya—bersama hyena-hyena lainnya. Tak ada mukjizat, tentu. Setelah menggeram cukup lama salah satu hyena itu menyergapnya dan beberapa hyena lain melakukan hal yang sama dan zebra itu harus merelakan kehidupannya berakhir; sebuah gigitan yang kuat dan bengis di leher membuatnya mati dalam waktu singkat. Ia pun tinggal jasad, tinggal tubuh yang lekas dingin. Dengan gigi-giginya yang runcing berliur hyena-hyena itu mencabik-cabik si zebra dan memakannya seakan-akan herbivora tersebut tak pernah hidup. Dan mereka benar-benar mencabiknya, memisahkan bagian tubuh yang satu dengan bagian tubuh yang lain, tanpa lebih dulu memberikan penghormatan atau apa. Dalam beberapa jam kemudian yang tersisa dari zebra tersebut hanyalah sedikit tulang dan noda darah—yang tercecer di tanah berumput.

Saat pembunuhan dan pembantaian tersebut berlangsung, hyena-hyena itu tentu tak sedikit pun memikirkan karma, dosa, atau semacamnya. Dan mereka juga pastilah tidak merasa bersalah telah melakukan hal tersebut, bahkan menganggapnya hal biasa saja. Benar-benar hal biasa saja. Mereka lapar, dan mereka butuh makan. Dan makanan mereka adalah daging, bukan nasi, atau roti, atau rumput. Dan kebetulan zebra tersebut berada dalam jangkauan mereka,  dan begitulah mereka memilihnya—sebagai santapan mereka. Tak ada kebencian, dendam, atau semacamnya. Ini murni sebuah proses alam semata; terkorbankannya sesosok makhluk hidup untuk kelangsungan hidup makhluk(-makhluk) hidup lain. Jauh sebelum dirimu dilahirkan, leluhur-leluhur mereka telah melakukannya, dengan tingkat kebuasan yang bisa jadi sama.

___

Miyuki menyadari seseorang sedang mengikutinya. Dini hari yang sunyi. Langkah-langkah cepatnya menyisakan bunyi yang memantul-mantul di belakangnya dan menyebar ke kanan dan kirinya, menjelma teror yang membuatnya merasa terancam sehingga ia tak berani menoleh dan hanya terus menatap ke depan saja. Dengan kedua tangannya, ia memeluk dirinya sendiri erat-erat; ia memeluk dirinya erat-erat seakan-akan mantel hitam tebal selutut yang dikenakannya tak mampu lagi melindunginya dari terpaan angin. Lampu-lampu dari bangunan-bangunan yang dilewatinya menyala; sebagian terang dan sebagian redup. Miyuki merasa bibirnya kering. Ia berani membayar mahal seseorang untuk sekadar menciumnya dan memeluknya kuat dan menemaninya menuju kamar apartemennya yang masihlah berjarak belasan menit lagi.

Seseorang itu sudah mengikutinya sejak ia keluar dari kelab. Begitu Miyuki meyakini. Ia memang baru menyadarinya lima menitan kemudian, tetapi ia yakin itu pastilah disebabkan ia masih teramat memikirkan apa yang dialaminya di kelab setelah jam operasi berakhir. Si pemilik kelab, seorang perempuan berusia tiga puluh sembilan yang masih terlihat begitu muda dan memesona, menghampirinya dan membisikkan di telinganya bahwa ada sesuatu yang ingin ia bicarakan berdua saja dengannya. Saat itu, Miyuki baru saja berganti pakaian, dan sedang mematut-matut diri di depan cermin, sambil memeriksa riasan wajah.

Di cermin besar di hadapannya, Miyuki mendapati bayangan perempuan itu mengedipkan mata kepadanya, sambil menyunggingkan senyum yang seketika diartikannya sebagai ajakan untuk bercumbu. Dan benar saja, mereka memang bercumbu, berdua saja, di ruangan pribadi si pemilik kelab yang terletak jauh di sayap lain. Awalnya mereka sekadar bicara, lalu perempuan itu mulai memosisikan dirinya di belakang kursi di mana Miyuki duduk, dan tanpa ragu mengelus-eluskan telapak tangannya yang lembut ke lengan Miyuki, lalu ke pundaknya, lalu ke lehernya, lalu ke rambutnya, lalu ke wajahnya. Miyuki tahu lambat laun percumbuan ini akan terjadi. Dan ia tak menolaknya, meski ia merasa sesungguhnya ia bukanlah tipe orang seperti itu; ia masih jauh lebih memilih bercumbu dengan lelaki kendatipun si perempuan sangatlah menarik dan menyegarkan mata. Miyuki tahu, perempuan pemilik kelab itu telah menyukainya sejak lama, dan telah mengincarnya juga sejak lama, dan ia tak memendam kebencian atau perasaan buruk apa pun kepadanya.

Mereka bercumbu, dalam gairah yang semakin lama semakin tinggi, semakin seperti mendidihkan cairan dalam tubuh mereka dan membuat degup jantung mereka seakan berdentum dan berdentum. Miyuki pada akhirnya menanggalkan apa yang dikenakannya. Begitu juga perempuan itu. Tak ada lagu atau musik atau bunyi latar lain. Mereka berdua seolah-olah bersepakat untuk menikmati percumbuan tersebut dalam hening.

Setelah percumbuan tersebut berakhir, ketika Miyuki mengambil ponselnya untuk mengecek jam, ia mendapati ia sudah meluangkan waktu untuk si pemilik kelab lima puluh sembilan menit lamanya. Gara-gara itu ia terpaksa pulang sendirian. Biasanya Miyuki akan berjalan dengan dua hostess lain di kelab tersebut sampai mereka tiba di perempatan kedua atau ketiga; perempuan satu akan berbelok ke kiri dan yang satu lagi ke kanan sementara Miyuki menyeberang lurus; lurus dan terus lurus. Kali ini saat Miyuki berdiri di luar pintu masuk kelab ia dihadapkan pada kesunyian, keheningan, kesendirian. Tetapi di detik itu ia belumlah menyesalinya. Belum, sebab selama lima menitan sejak meninggalkan kelab Miyuki masih sangat memikirkan apa yang baru saja dilakukannya dengan si pemilik kelab, yang rupa-rupanya menumbuhkan sesuatu yang hangat di dalam dirinya. (Barangkali Miyuki sebenarnya tidaklah setegas yang ia kira.)

Dan sekaranglah, saat ia terus mempercepat langkah-langkahnya, rasa sesal itu datang, menyergapnya, menghimpitnya, membebaninya, membuatnya merasa ia begitu cepat lelah dan kehabisan napas padahal biasanya ia selalu baik-baik saja saat tiba di depan pintu kamar apartemennya. Miyuki berharap ini hanya perasaannya saja, tetapi seseorang yang mengikutinya itu seperti semakin dekat; seperti jarak antara seseorang itu dan dirinya terus memendek dan memendek. Miyuki bisa mendengar langkah-langkah cepat seseorang itu berseteru dengan langkah-langkahnya sendiri. Masih lebih dari sepuluh menit lagi. Kini Miyuki mencengkeram kedua lengannya, seolah-olah ia ingin sekuat tenaga mencabiknya.

___

Di detik zebra itu menyadari ia akan menjadi santapan para hyena, apa yang mungkin terbit di benaknya? Apakah ia teringat kawanannya, dan ia kecewa pada mereka karena tak satu pun dari zebra-zebra tersebut tergerak untuk menolongnya, atau setidaknya sekadar mengkhawatirkannya? Ataukah ia justru tengah mengingat-ingat rupa tiap-tiap hyena yang akan mencabik tubuhnya dan melenyapkannya, membuat keberadaannya di kehidupan yang dijalaninya itu terasa fiktif, sambil di dalam hati berjanji akan menghantui hyena-hyena itu di sisa hidup mereka? Ataukah justru, ia sedang memikirkan apa itu kematian dan apa sesungguhnya itu kehidupan, dan apa makna dari menyerahkan kehidupannya demi kelanjutan hidup hyena-hyena tersebut? Ataukah ternyata, ia sama sekali tak memikirkan apa-apa?

___

Seseorang itu akhirnya menyergapnya sebelum sempat ia berbelok di perempatan terakhir. Miyuki sebenarnya sudah mencoba berlari, tetapi lari seseorang itu jauh lebih cepat dan ia sendiri sialnya terhambat oleh sepatu boot berhak tinggi yang dikenakannya. Tak butuh waktu lama bagi seseorang itu untuk menyudahi perlawanan Miyuki; ia menekankan ke hidung Miyuki lipatan sapu tangan yang dibasahi cairan tertentu berbau kuat. Miyuki berusaha mengumpulkan informasi tentang seseorang itu di detik-detik sebelum kesadarannya hilang, dan tiga hal inilah yang ia dapatkan: (1) kaus dan mantel hitam; (2) sepasang sarung tangan yang juga hitam; (3) wajah yang tampan dan barisan gigi yang bersih-rapi.

Ketika kesadarannya kembali, Miyuki mendapati ia berada di sebuah ruangan yang tak ia kenali. Sebuah kamar. Mungkin di sebuah apartemen tak jauh dari perempatan tadi. (Bisa jadi tak jauh juga dari apartemennya!) Miyuki menelentang, di sebuah ranjang. Kedua tangan dan kakinya terikat oleh tali kuat-tebal ke ujung-ujung penyangga ranjang, menjadikan ia jika dilihat dari atas serupa huruf X besar dengan satu tonjolan kecil di atas—kepalanya. Miyuki merasa ruangan itu begitu dingin dan ia lekas memahaminya saat ia mengangkat kepala, mencoba melihat perut dan mungkin kakinya. Di ranjang itu ia dalam keadaan telanjang. Telanjang setelang-telanjangnya.

___

Seandainya zebra itu tak berlari saat seekor hyena menghambur ke arahnya, ia mungkin tidak akan terjebak dalam posisi tadi—berada dalam kepungan sekawanan hyena. Bisa jadi, zebra-zebra lain pun masih akan ada di sekitarnya, menghindarkan ia dari merasa sendirian, dan tak berdaya. Tetapi kalaupun itu terjadi, ia agaknya tetap akan mati. Seekor hyena itu sudah berniat membunuhnya saat memutuskan untuk berlari ke arahnya, dan ia diperlengkapi dengan taring dan cakar dan hal-hal lain yang memungkinkannya melumpuhkan zebra tersebut dalam waktu singkat. Si zebra bisa saja mengeluarkan suara-suara dengan maksud meminta hyena tersebut membatalkan niatnya, tapi sudah pasti itu sia-sia. Sia-sia belaka. Kita harus ingat bahwa “bahasa” zebra bisa jadi tidaklah sama dengan “bahasa” hyena. Dan lebih dari itu, keinginan si hyena untuk beroleh makan malam tak akan teratasi hanya oleh permohonan naif semacam itu.

Jadi kau pun membayangkannya seperti ini: zebra itu mati, dan hyena itu mulai mencabik-cabiknya, mengoyak-ngoyak perutnya yang gemuk dan penuh daging. Zebra-zebra lain mungkin berada tak jauh dari sana, tetapi mereka sama sekali tak melakukan apa-apa; paling-paling mereka hanya mengamati dan dalam hati berbelasungkawa dan bersyukur bukan mereka si zebra yang bernasib malang itu. Hyena-hyena lain? Sangat mungkin mereka berdatangan; mereka mencium kematian si zebra dan mereka tak rela daging empuk si zebra habis tanpa mereka beroleh bagian sedikit pun. Pada akhirnya, mendapati sekawanan hyena itu dengan bengis melenyapkan keberadaan si zebra, zebra-zebra lain mungkin pergi juga, menjauh, mencoba menjaga diri mereka tetap aman setidaknya satu-dua hari lagi. Dengan demikian si zebra yang mati itu kembali sendirian. Ia sendirian dan ia mati dan ia lekas tiada—hampir-hampir tak berbekas. Semuanya sama saja. Herbivora malang itu harus mati karena ia tak diperlengkapi hal-hal yang membuatnya bisa bertahan hidup dalam situasi seperti itu. Si hyena, di sisi lain, bisa mengatasi rasa laparnya—dan karenanya ia bertahan hidup lebih lama—karena ia diperlengkapi dengan hal-hal yang membuatnya bisa melakukannya.

___

Seseorang yang tadi menyergapnya itu muncul. Ia telah telanjang; kini Miyuki bisa melihat wajah lelaki itu yang tampan dan barisan giginya yang bersih-rapi. Miyuki tak tahu siapa lelaki itu, juga tak tahu mengapa lelaki itu menyergapnya dan membawanya ke kamar ini (dan mengikatnya dalam posisi hina ini), tetapi ia tahu apa yang akan segera dialaminya, apa yang tak lama lagi akan dilakukan si lelaki terhadapnya. Si lelaki akan menusuk-nusukkan alat kelaminnya yang mengeras ke lubang kemaluannya. Itu pasti. Miyuki mulai membayangkan seberapa sakitnya hal itu. Atau mungkin, lebih tepatnya, seberapa menghinakannya hal itu. Memang ia pernah beberapa kali bersanggama dan belum satu jam yang lalu ia membiarkan jari-jari si pemilik kelab bermain-main di lubang kemaluannya, tapi ia belum pernah diperkosa, dan itu tentu berbeda.

Miyuki tak mengenal lelaki itu. Mulanya ia sempat menduga lelaki itu adalah salah satu pelanggannya yang menaruh dendam padanya namun berapa kali pun ia mencoba mengingat-ingat wajah lelaki itu tetaplah asing. Asing dan benar-benar asing. Maka itu berarti: kau akan disetubuhi oleh seseorang yang sama sekali tak kau kenal, pikirnya. Ia akan menyakitimu, menyakitimu dan menyakitimu, dan kau tak punya sedikit pun peluang untuk menghindar, sambungnya. Dan lebih menyedihkan dari itu, lanjutnya, kau bahkan tak bisa mencoba bunuh diri untuk menyelamatkan dirimu dari penghinaan tak tertanggungkan itu.

Miyuki bisa berteriak, sebenarnya. Lelaki itu entah kenapa tak menutupi mulutnya dengan plester atau yang lainnya. Ia juga tidak dalam pengaruh obat tertentu yang membuatnya kehilangan suaranya. Miyuki bisa berteriak, mengaum, bahkan melolong jika ia mau. Tetapi ia tak melakukannya. Ia tahu lelaki itu tidak bodoh. Ia tahu lelaki itu telah memperhitungkan kemungkinan dirinya berteriak, dan itu berarti satu hal: percuma saja mencobanya.

Lelaki itu menghampirinya, berdiri tepat di samping kirinya. Miyuki kembali bisa melihat wajah lelaki itu yang tampan dan barisan giginya yang bersih-rapi. Di tangan kanannya rupanya tergenggam pisau. Sejenis pisau yang bisa kaugunakan untuk membersihkan perut ikan mati yang akan kau masak dan kau makan. Miyuki tahu betul lelaki itu akan menggunakan pisau tersebut untuk melukainya; menorehkan di tubuhnya beberapa luka yang akan selalu mengingatkannya pada kekejian ini. Miyuki membayangkan pisau tersebut justru tergenggam di tangannya, dan tangannya itu tidak terikat dan bebas bergerak, dan ia menikamkan pisau tersebut kuat-kuat ke dadanya—agak ke kiri, tepat di mana jantung-hidupnya bersemayam.

___

Baiklah kita bayangkan zebra itu masih hidup. Ia belum dikepung sekawanan hyena tadi, bahkan belum bertatapan muka dengan si hyena yang mengejarnya. Yang dilakukannya adalah mengunyah rumput adalah buang air kecil adalah tidur adalah berjalan adalah minum adalah mencoba kawin adalah berak. Ia tak melakukan keburukan apa pun. Ia tak melakukan sesuatu yang tak semestinya dilakukan seekor zebra. Ia bergerak bersama kawanan. Ia tumbuh menjadi sebentuk herbivora dengan wujud yang serupa dengan para anggota kawanan. Ia hewan baik. Ia nyaris tak menyakiti hewan-hewan lain. (Nyaris, sebab beberapa kali ia mungkin pernah menginjak serangga-serangga tanpa sengaja dan ia tak menyadarinya.) Ia menghabiskan bertahun-tahun hidupnya tanpa melakukan kebengisan apa pun, tanpa terlibat dalam kekejian apa pun. Dan begitulah ia mati, seperti yang kausaksikan di layar televisi tadi. Ia mati dan ia dicabik-cabik dan keberadaannya hampir-hampir tak berbekas. Kau merasa kasihan kepadanya. Kau berbelasungkawa, dan kau mendoakan hal-hal baik untuknya, di kehidupannya yang selanjutnya. Seekor zebra adalah seekor zebra semasa ia hidup, dan seekor hyena adalah seekor hyena semasa ia hidup. Kau mengulang-ulang kalimat ini dalam benakmu, dan terus mengulang-ulangnya, dan terus mengulang-ulangnya. Dan tiba-tiba kau merasa, kau bisa membuat sebuah cerita dari apa yang kausaksikan itu.

___

Seseorang itu sudah mulai memasukinya dengan kasar dan Miyuki baik-baik saja dan baik-baik saja. Itu bohong, tentu. Jelas-jelas Miyuki kesakitan, meski ia entah kenapa menahan diri untuk tak berteriak; ia hanya sedikit mengerang dan mendesah nyaris seperti apa yang dilakukannya tadi bersama si pemilik kelab. Ia memejamkan mata, dan sebisa mungkin berusaha membuat bibirnya tertutup. Ia telah mencoba melepaskan diri dengan menarik dan mengibas-ngibaskan kedua tangan dan kakinya, namun terbukti itu sia-sia. Ia merasa kotor; kotor dan sangat kotor. Dan ia mulai membenci dirinya sendiri, seseorang itu, juga apa yang tengah (dan entah sampai kapan) dialaminya ini.

Pada akhirnya Miyuki mencoba pasrah saja dan menganggap rasa sakit yang menyerangnya itu fiktif belaka—begitu juga rasa sakit dari sejumlah luka toreh di perut dan lengan dan pahanya. Ia akan membiarkan seseorang itu melakukan apa yang ingin dilakukannya, sampai ia puas, sampai ia bosan, sampai ia jenuh, sampai ia muak. Miyuki terus memejamkan mata, dan ia mulai membayangkan dirinya berada di kamar apartemennya sendiri, dan waktu dengan cepat mundur ke bulan-bulan lalu, dan berhenti di sebuah malam di mana ia pernah hampir mengakhiri hidupnya sendiri. Tali gantungan sudah siap. Televisi menyala tanpa suara dan surat berisi kata-kata terakhir telah selesai ia buat. Kepada siapa surat itu ia tujukan? Kepada kekasihnya. Lebih tepatnya, mantan kekasihnya. Lelaki itu memutuskan hubungan mereka tepat di hari jadi mereka yang kelima; memutuskan hubungan tersebut dengan sebuah meeru berisi permintaan maaf dan penyesalan betapa selama setahun terakhir ia tak pernah bisa benar-benar mencintainya lagi, sebab ia menyadari ia telah jatuh cinta kepada seseorang yang lain—seorang lelaki. Di hari jadi mereka yang kelima itu, Miyuki ingat, ia mencoba menelepon si lelaki sebelas kali namun tak juga si lelaki mengangkatnya. Tak juga, atau lebih tepatnya, tak bisa. Lelaki itu menggantung diri beberapa lama setelah ia mengirim meeru perpisahan tadi. Miyuki tak pernah menyangka, seseorang yang ia yakini akan selalu bersamanya justru meninggalkannya dengan cara seperti itu.

Sementara rasa sakit dari tusukan seseorang itu terus menyerangnya, Miyuki masih berusaha mempertahankan gambaran tentang malam di mana ia hampir bunuh diri itu. Sial sekali aku. Sial sekali aku batal melakukannya, pikirnya. Tadi ia memang berniat pasrah saja dan berharap setelah semua kebrengsekan ini selesai ia akan berpura-pura melupakannya dan mencoba melanjutkan hidupnya seperti biasa, menjalani hari-harinya seperti biasa. Tapi kini ia ragu; ia ragu ia akan bisa melakukannya, bahkan satu detik saja. Lagipula tak ada jaminan semua kekejian ini akan berlalu. Begitu ia kemudian berpikir. Seseorang itu bisa saja belum akan puas dan itu artinya ia masih harus menghadapi perasaan terhina ini lagi dan lagi. Atau, seseorang itu bisa saja menyakitinya lebih jauh dan ia akan semakin tak sanggup lagi menanggungnya. Bisa juga, seseorang itu membunuhnya, segera.

Miyuki akan memilih yang ketiga. Setidaknya itu akan menghindarkannya dari menderita lebih lama. Tetapi apakah ia dalam situasi bisa memilih? Ia kira tidak. Ia sekarang mulai bertanya-tanya kenapa ia mengalami hal ini, seolah-olah lebih dari dua puluh lima tahun hidup yang dijalaninya begitu penuh dengan perbuatan buruk yang dilakukan olehnya. Ia yakin sekali, selama ini ia hanya melakukan apa yang sewajarnya dilakukannya. Kalaupun benar ia melakukan sesuatu yang buruk, menurutnya itu pastilah tanpa kesengajaan dan bukan sesuatu yang teramat besar, sehingga seberapa pantas ia mengalami kebusukan ini menjadi sebuah pertanyaan tersendiri baginya.

Tetapi percuma. Miyuki tahu betul memikirkan hal tersebut saat ini percuma. Seseorang itu akan terus menusuknya dan menusuknya. Seseorang itu akan terus menyakitinya dan menyakitinya. Dan ia akan di sana, memejamkan mata, menahan bibirnya yang kering itu tertutup. Dan ia akan di sana, merasa dirinya begitu hina, dan tak berdaya.***

—Cianjur, 11-12 April 2017


Ardy Kresna Crenata menulis esai, puisi, cerpen, dan novela. Buku termutakhirnya adalah sebuah kumpulan cerpen: Sesuatu yang Hilang dan Kita Tahu Itu Apa (Beruang, 2019). Novelanya, yang dari segi bentuk cukup problematis, akan terbit dalam waktu dekat.