Cerpen

Kepadanyalah Peluru Ini akan Bersarang

Cerpen Yosef Astono Widhi

Sejenak, pemuda itu mengambil napas dalam-dalam. Ditahannya beberapa detik sampai membentuk seperti bola energi dalam perutnya, sebelum akhirnya ia embuskan perlahan. Dilakukannya beberapa kali dengan harapan bisa menenangkan pikiran dan mengurangi ketegangannya.

Si pemuda masih bersembunyi di sana. Tanpa suara, ia memperhatikan melalui celah sempit keadaan di luar lemari pakaian yang kini dijadikannya tempat persembunyian. Perempuan di luar sana, dilihatnya tengah menggelepar sambil telanjang tak lagi bertenaga. Sementara laki-laki itu, sama tak berpakaiannya, duduk bersandar pada tepi ranjang sambil memegang rokok yang hanya dihisapnya sesekali.

Sejenak lalu, dilihat dengan matanya sendiri mereka di atas ranjang, saling himpit, dan bergoyang beringas. Sekiranya itu terjadi sepuluh menit sebelum akhirnya si perempuan melolong panjang. Namun si laki-laki masih sempat menaiki tubuh si perempuan yang tidak begitu lama, akhirnya ikut tumbang dan mengisut.

Diintipnya lagi kini oleh si pemuda, keadaan di luar masih tak jauh berbeda. Lelaki itu masih dengan rokok yang tak habis-habisnya dihisap, sedang si perempuan sudah mulai nyenyak dalam tidurnya. Pemuda itu kini menatap tajam pada si laki-laki. Ia berharap lelaki itu turut berbaring dan tidur, namun mata lelaki itu nampak tak ada kantuk-kantuknya. Ditambah, ia juga merokok.

Ayolah tidur, bangsat.

Sejujurnya si pemuda masih ngeri betul membayangkan apa yang akan terjadi jika ia memang benar-benar melakukannya. Lelaki itu, adalah alasan mengapa ia harus rela-rela besembunyi di balik pintu lemari reot ini. Mengintip lewat sudut sempit bertemankan pistol di tangannya. Pistol yang sedari tadi digenggamnya itu sebenarnya sudah siap untuk ditembakkan kapan dan pada siapa saja. Namun kini, rasanya ia sendiri yang gemetar untuk menarik pelatuknya.

Rencananya ini sebenarnya sudah ia perhitungkan matang-matang. Ia akan mengendap masuk ke kamar si perempuan dan menyelinap ke dalam lemari pakaian. Sesuai info yang didengarnya, si perempuan itu akan datang pukul empat sore dengan si lelaki besertanya. Kemudian mereka akan menuju kamar setelah lima belas menit basa-basi di ruang depan. Waktu itu, ia sudah harus menyembunyikan dirinya di antara gantungan pakaian dan mencari posisi yang pas untuk membuat lubang guna mengintip.

Semua berjalan sesuai rencana sampai mereka memasuki ruangan. Sebenarnya mudah saja, setelah ini tinggal menunggu si lelaki sedikit lengah, dan ia bisa menarik pelatuknya. Si lelaki bakal mati dan pekerjaannya selesai. Namun, ia tidak bisa melakukannya tergesa karena ia harus benar-benar bisa menembak dan membunuh si lelaki dalam sekali tembakan. Ada dua alasan, yang pertama adalah pistolnya hanya terisi satu peluru dan alasan kedua adalah ia tidak ingin membunuh bahkan melukai si perempuan.

Si laki-laki kini merupakan orang yang paling dibencinya. Lelaki itu harus mati dengan tangannya. Tak peduli apa yang kiranya bakal terjadi kemudian, tapi ia benar-benar ingin lelaki itu mati. Sebenarnya ia tak begitu kenal dengan lelaki itu. Jangankan mengetahui nama, bahkan ia tidak pernah bertemu dengannya secara langsung sebelumnya. Satu-satunya info yang ia tahu adalah bahwa si laki-laki ini merupakan selingkuhan si perempuan.

Sedang si perempuan, ia masih terlihat begitu lelah dengan napas satu-satu. Tubuh telanjangnya ia biarkan terbuka, memperlihatkan sisa-sisa pertarungannya tadi. Perempuan ini cukup manis, terlebih di mata si pemuda. Perempuan ini adalah orang yang tidak akan dibiarkannya terluka sesenti pun. Perempuan ini, adalah yang kelak akan menjadi jalannya menuju surga. Tak lain dan tak bukan, perempuan ini adalah ibu dari si pemuda, dan ia tidak mau keluarganya dirusak oleh si laki-laki bajingan itu.

***

Si laki-laki kini sudah mengambil batang rokoknya yang ketiga. Di sampingnya, si perempuan terlihat meringkuk menekuk badan. Mungkin ia kedinginan, pikir si laki-laki. Maka ia mengambil selimut dan membentangkannya sampai sebagian tubuh si perempuan tenggelam di baliknya. Dilihatnya lekat-lekat wajah perempuan itu. Ah, mengapa berakhir seperti ini lagi?

Seharusnya si laki-laki tidak perlu repot-repot mengiyakan ajakan si perempuan untuk bertemu hari ini, mengingat ia sebenarnya sudah pula mengiyakan ajakan istrinya untuk pergi makan malam. Hari ini adalah hari jadi mereka yang kedua. Namun rasanya, tidak akan ada hari jadi yang kesepuluh apalagi dua puluh. Pilihannya untuk main serong dan pergi berkencan dengan perempuan kaya raya kurang sentuhan telah menjadi racun bagi pernikahannya itu. Bahkan untuk menyentuh tahun kelima saja sudah sangat mustahil. Racun itu kini berasal dari pilihannya untuk menemani tidur perempuan yang kini tengah terbaring di sampingnnya. Tentu saja ia tidak mencintainya, ia jauh lebih mencintai istrinya. Namun ia juga mencintai pekerjaannya, karena hal itu cukup mudah dilakukan dengan imbalan uang cukup banyak.

Si perempuan ini dikenalnya belum cukup lama. Waktu itu, ia datang dalam keadaan kesepian setelah berkata suaminya pergi bekerja cukup lama. Katanya, ia mendapatkan info dari sebuah lapak digital usang yang memang pernah dipasang oleh si laki-laki beberapa tahun yang lalu. Mulanya si laki-laki enggan untuk kembali terjun ke dunia gelap. Namun karena uang yang ditawarkan tidak main-main, ditambah juga perawakan si perempuan yang memang menarik, ia pun menyetujuinya.

Pertemuan pertama terjadi di awal bulan lalu. Dengan mengenakan pakaiannya yang cukup bagus, ia berangkat menuju hotel tempat perjanjian menggunakan taksi. Tentu saja ini terjadi setelah ia berbohong pada istrinya. Setelah mengecup bibir istri dan mengusap rambut putranya yang masih belum lancar bicara selain “papa-papa”, si laki-laki pergi dengan perasaan kalut. Tak tega ia untuk sekadar berbalik melihat dua orang yang begitu menyayanginya telah tega ia bohongi. Langkahnya gontai menembus jalanan gang sempit sampai akhirnya ia tiba di tepi jalan. Ia sempat-sempatkan melihat ke belakang meski ia yakin rumahnya sudah jauh tertinggal di sana. Masih ada kesempatan untuk membatalkan rencananya, pikirnya. Namun ia benar-benar butuh uang. Pikirannya begitu bimbang sampai akhirnya taksi yang dipesannya datang. Ah, kali ini sajalah.

Tentu saja tidak ada manusia yang bisa lepas dari jeratan dosa. Sekali terkena, manusia akan melakukan dosa yang itu-itu saja. Pun dengannya. Setelah pertemuan pertama, dan semua kebohongannya tidak terbongkar oleh istrinya, ia senang bukan main. Ia berencana untuk tetap menjaga pekerjaannya ini sebagai kerjaan sampingan. Namun kali ini ia tidak memasang lapak lagi. Ia hanya ingin mengencani si perempuan itu karena menjaga rahasia ini saja baginya sudah cukup berat. Maka, ketika si perempuan menawarinya kencan untuk kedua kali, ia langsung dengan cepat mengiyakannya.

Akhirnya terjadi lagi. Hari ini, di hari ulang tahun pernikahannya. Ia belum pamit hari ini karena ia tidak tega melihat kesedihan istrinya secara langsung. Ia berencana untuk mengabari istrinya mendadak karena pekerjaan yang tergesa ingin diselesaikan. Ia tahu itu tidak begitu jauh berbeda, namun setidaknya tidak ada air mata yang harus diseka sang istri di hadapannya.

Ia menoleh lagi pada si perempuan. Bagi si laki-laki, perempuan ini tentu saja memiliki segalanya jauh ketimbang apa yang dimiliki istrinya. Kekayaan melimpah dan fisik yang menawan. Tentu saja semua jenis laki-laki akan tergoda imannya jika diperbolehkan untuk menyentuhnya. Sedang si lelaki, ia tidak hanya diperbolehkan. Bahkan ia dibayar untuk itu. Namun membayangkan jika suatu saat menemui istrinya tengah membayar pria lain untuk menemani tidurnya, ia langsung bersyukur telah memiliki istri yang biasa-biasa saja.

“Bodoh!” umpatnya sambil membanting bungkus rokoknya yang telah kosong.

Seharusnya ia tidak pernah mengiyakan ajakan si perempuan itu. Bagaimana mungkin ia bisa begitu jijik membayangkan istrinya tengah tidur bersama pria lain, sedangkan ia kini baru saja menerima uang untuk menemani tidur seorang perempuan? Diambilnya sebuah cincin kawin yang sengaja ia selipkan di dalam dompet. Ia tidak berniat untuk menyembunyikan pernikahannya. Ia hanya merasa tidak pantas saja benda itu melingkari jari manisnya sedangkan ia tengah tidur bersama perempuan yang bukan istrinya. Dipandanginya benda yang telah menjadi tanda pengikat perkawinannya itu. Bagaimana bisa dengan mudahnya aku melepaskanmu dari jariku?

Ia benar-benar merasa dirinya hina. Maka diambilnya telepon genggam, dengan niatan untuk menghubungi istrinya di rumah. Ia tidak tahu apakah ia akan mengaku, berbohong lagi, atau bagaimana. Apa yang terjadi kelak biarlah, terpenting baginya kini adalah meminta maaf. Maka berjalanlah ia ke sudut kamar dekat lemari karena tidak ingin membangunkan si perempuan.

“Sa-sayang?” ucapnya sesaat setelah teleponnya diangkat.

“Halo, Sayang. Ada apa? Ditungguin di rumah loh.”

Si laki-laki kini benar-benar merasa berdosa. Suara istrinya terdengar begitu menenteramkan di telinganya. Ia tidak habis pikir mengapa ia betul-betul tega sampai harus mengkhianatinya.

“Ma-maaf,” ujar si laki-laki sambil menahan tangis.

“Kenapa minta maaf, Sayang?”

“Aku tidak bisa pulang tepat waktu. Pekerjaanku baru saja selesai.”

“Sayang, sekarang kan memang jam usai kerja. Bahkan ini belum gelap, kamu tidak akan terlambat.”

“Ta-tapi… Aku bakal terlambat.”

“Sayang, kamu terlambat pulang? Nggak papa. Tapi kamu nggak akan terlambat untuk pergi makan malam. Pulanglah segera setelah selesai berberes. Aku akan buatkanmu kopi dan memanaskan air untuk mandimu.”

“Ba-baik, Sayang.”

“Iya, ditunggu ya Sa…”

Oeek-oeeek papa-papa

“Aduh Yang, si kecil nangis nih dengar suaramu. Kangen kali dia, hahaha. Aku tutup dulu ya, nanti malah kamu nggak jadi pulang. Daagh.”

Tangis si laki-laki tak bisa lagi terbendung demi mendengarkan tangisan anaknya. Ia jatuh terduduk bersandar pada lemari.

“Sayang, kenapa nangis?”

“Aku sayang kamu…”

“Udah, ayo cepat pulang,” tutup istrinya sebelum menutup sambungan telepon.

“Maaf…. Maaf… Maaf…” Tangisannya semakin menjadi, dengan air mata yang telah membasahi sebagian dadanya. Ia melihat lagi cincin kawinnya dan memakainya. DUGG. Tiba-tiba dipukulnya kencang lemari di belakangnya, menimbulkan suara berdebum cukup keras.

“Honey, suara apa tadi? Kenapa kamu di situ?”

***

Ia tidak percaya apa yang baru saja didengarnya. Ia awalnya berpikir nyawanya telah usai setelah si laki-laki datang perlahan menghampiri lemari tempat ia bersembunyi. Namun beruntunglah karena si laki-laki hanya bersandar pada lemari dan menelepon seseorang. Ternyata nyawa si laki-laki itulah yang akan selesai, pikirnya. Ia bersiap untuk menarik pelatuknya ketika tiba-tiba terdengar suara di ujung telepon adalah suara perempuan. Entah mengapa, tiba-tiba ia hanya terdiam dan mendengarkan segala percakapan di telepon, termasuk dengan tangisan bayi dan tangisan si laki-laki.

Apa yang didengarnya barusan hanya membuat keyakinannya semakin goyah. Sebenarnya mudah saja, tinggal tarik pelatuk dan mati. Bahkan jarak sangat dekat sehingga kemungkinan target selamat pun sangat kecil. Namun, percakapan tadi hanya menyisakan si pemuda termangu tanpa kata-kata dan kebingungan yang menyesaki kepalanya.

Sebelumnya, ia melihat si laki-laki mengeluarkan benda berkilau menyerupai cincin. Dipikirnya, lelaki itu akan mengajak kawin ibunya. Bodoh, pikirnya. Kemudian terjadilah kejadian-kejadian yang membingungkan itu. Tak disangkanya ternyata laki-laki itu telah beristri dan mempunyai seorang bayi. Si pemuda mengambil kesimpulan bahwa cincin tadi itu adalah cincin kawin si laki-laki yang sengaja disembunyikan agar si perempuan tidak tahu.

Berbagai macam spekulasi berkelindan dalam benak si pemuda. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada si laki-laki. Yang diketahuinya kini, ia sudah beristri dan ia meminta maaf berkali-kali pada istrinya. Si laki-laki nampak begitu menyesali perbuatannya bahkan sampai terlihat air mata berjatuhan di pipi. Ia tidak tahu mana yang harusnya ia percaya. Pikirannya, kah? Penglihatannya? Atau pendengarannya? Semua tampak sama-sama menyesatkan.

DUG. Tiba-tiba pintu lemari di depannya dipukul keras. Si pemuda kaget, dipikirnya si laki-laki betul-betul telah mengetahui keberadaannya. Namun tidak ada pintu lemari yang dibuka. Hanya suara tangis si laki-laki yang semakin menjadi dan suara si perempuan terdengar sayup-sayup.

“Honey, suara apa tadi? Kenapa kamu di situ?”

“Bukan apa-apa.” Si laki-laki bangkit, menuju barang-barangnya. Ia memakai kembali pakaiannya dan berkemas.

“Kamu kenapa buru-buru? Dan kenapa matamu merah? Sini loh tidur dulu.”

Ia tidak menggubris omongan si perempuan. Ia malah mengeluarkan sebuah amplop dari tasnya, menghitungnya cepat, dan memberikannya pada si perempuan.

“Apa ini, Honey?”

“Ambillah. Itu uang yang awal bulan lalu kamu berikan padaku, aku nggak membutuhkannya lagi. Dan untuk hari ini, aku harap adalah pertemuan terakhir kita. Sehingga kamu tidak perlu menghubungiku lagi. Oh ya, dan kamu tidak perlu membayar untuk yang tadi.”

Si perempuan terdiam membisu. Ia nampak tidak percaya apa yang di hadapannya sekarang. Sedang si pemuda, ia mendengarkan semua percakapan tersebut dari dalam lemari sambil tercengang dengan semua yang didengarnya. Ia tidak percaya bahwa ibunyalah yang menginginkan perselingkuhan ini, bukan sebaliknya. Padahal, ia tahu betul bahwa ibunya sangat mencintainya dan bapaknya. Oleh sebab itulah ia berada di sini hendak membunuh si penghancur rumah tangga itu.

“Kembalilah. Kembalilah pada suamimu. Sambutlah kelak ketika ia pulang. Pun aku, aku akan pulang. Ada yang telah menantikan kepulanganku di rumah. Mereka adalah orang yang mencintai sekaligus kucintai. Istri dan anakku.”

Si perempuan kembali terdiam. Ia tidak menyangka bahwa lelaki di depannya itu telah beristri dan beranak. Namun ia tetap berusaha menguasai keadaan dengan tidak menunjukkan kekagetannya.

“Honey, kamu ngomong apa sih? Aku tidak mencintainya. Jika bukan karena kekayaannya, jelas aku sudah pergi jauh-jauh. Juga anakku, sama saja. Bukan karena aku selalu memberi apa yang dia mau berarti aku menyayanginya. Aku nggak butuh mereka. Tingggalkanlah istri dan anakmu. Ayo kita meni…”

DOORR.

“Su-suara apa itu, Honey?”

“A-aku juga tidak tahu. Dari arah lemari.”

Ah, ternyata si pemuda telah menentukan kepada siapa peluru itu disarangkan.**

Di tengah pandemi, 2020


Yosef Astono Widhi, seorang anak muda yang gemar membaca dan berteater. Dapat dihubungi di Twitter: @ivecriedmybest dan Instagram: @yosefastono

Cerpen

Seperti Menggunting, Namun Ini Daging

Cerpen Yosef Astono Widhi

 “Tragedi itu terjadi sekitar setahun lalu. Desa ini diteror seorang pembunuh berdarah dingin. Puluhan nyawa hilang dalam waktu kurang dari semalam. Dia melakukannya dengan gesit dan meninggalkan bagian-bagian tubuh korbannya begitu saja. Ada yang ditinggalkan dengan tanpa kepala, ada yang satu daun telinganya hilang, bahkan ada yang hanya diambil buah zakarnya. Anehnya hanya orang dewasa yang jadi korban, menyisakan bocah-bocah yang belum punya pengalaman apa-apa. Mungkin itu cara ia menghancurkan desa ini secara perlahan,” terang Yasmin.

Alif menaksir umurnya sekitar setengah darinya. Wajahnya manis, setidaknya bukan buruk. Tubuhnya terawat. Sebenarnya Yasmin cukup menarik. namun Alif datang untuk Martha.

“Nyonya salah satu korbannya, sehingga kini aku harus hidup sendiri.”

Alif tercenung mendengarnya, dan ia berpikir Yasmin anak Martha.

“Aku ikut nyonya sejak kecil. Kata beliau, aku jadi alat pembayaran orang dari Negeri Timur yang datang dan menggunakan jasanya. Mungkin ia bapakku, aku tidak tahu juga. Tapi kata nyonya, orang itu mengaku menemukanku di sesemakan. Mungkin aku buah dari perempuan yang kerap melenggang di antara lelaki kesepian.”

“Jadi kamu pemilik rumah ini sekarang?”

“Iya. Aku juga yang melanjutkan pekerjaan nyonya.”

“Kamu juga menjajakan tubuhmu?”

“Awalnya tidak berniat karena masih ada uang peninggalan nyonya. Namun banyak orang seperti Anda datang mencari nyonya. Satu dua kali kutolak, namun lama-lama kasian melihat mereka yang sudah rela datang dari jauh, namun hasratnya tertahan karena tidak menemui yang mereka cari.”

Meski sudah pernah berkunjung, rumah ini tampak berbeda bagi Alif. Lebih tertata dan rapi, dengan banyak hiasan interior. Tapi Alif sedikit terganggu dengan interior yang tidak selazimnya ada di sebuah rumah. Kaki menggantung di sudut ruang, potongan telinga dalam stoples berisi air, potongan tempurung kepala. Hal yang paling menyita perhatiannya, jantung ditaruh di atas kain bludru merah dalam kotak kaca bulat, membuat jantung itu seakan berdetak ketika dilihat dari sisi yang lain.

“Banyak orang datang berniat menggunakan jasaku, namun tidak membawa apa-apa selain berahinya. Demi tidak dianggap sundal gampangan, aku menerimanya tetap dengan bayaran, tapi dengan apa saja. Bahkan dengan potongan tubuh manusia pun kuterima.”

“Lalu untuk apa kamu menyimpannya?”

“Hidup sendiri adalah musibah bagi perempuan sepertiku. Dengan menyimpannya, aku seperti memiliki teman karena bisa merasakan kehadiran orang-orang di rumah ini. Mungkin pemilik potongan tubuh itu datang untuk melepas rindu, atau mereka tidak bisa masuk surga karena bagian tubuhnya tidak utuh, entahlah.”

Yasmin mengambil stoples berisi potongan jari manis dengan cincin kawin yang masih terpasang. Ia mengocoknya beberapa saat sampai jari itu berputar-putar. Setelah itu ia menaruhnya di meja, jari itu menggeliat seperti masih hidup.

“Ia bergerak,” seru Alif.

“Mengasyikkan, bukan? Banyak orang bilang jari manis yang dilingkari cincin kawin adalah bagian tubuh paling cepat membusuk. Tapi ini tidak, mungkin karena pemilik jari dan pasangannya kembali bertemu di alam sana hingga mereka bisa melanjutkan perjalanan cintanya. Hahaha entahlah.”

“Kenapa kamu tidak menikah saja?”­­

“Hahhh. Aku memang terlahir kesepian. Aku selalu membayangkan nikmat hidup bersama orangtua, atau pasangan sehidup semati. Namun memikirkan diri sendiri saja rumit, belum lagi jika harus mendengar keluh tentang kehidupan mereka yang berkunjung kemari. Mungkin bagi mereka, melacur satu-satunya surga yang bisa mereka tapaki. Itu pun kadang masih terselip umpatan dan kekesalan di tengah desahan mereka.”

“Gila.”

“Ini memang gila. Ada pemuda yang sering datang kemari. Pada awalnya ia membayar dengan potongan tubuh entah milik siapa. Lama kelamaan ia datang dengan tangan kosong, katanya ia sudah kehabisan persediaan. Lalu ia menawarkan tubuhnya sendiri. Ambillah apa saja asal bukan kejantananku, katanya.”

“Kamu terima?”

“Sudah kukatakan aku bukan sundal gampangan. Namun aku juga masih punya belas kasihan. Maka aku memilih memotong jarinya satu persatu agar ia tidak merasa begitu kehilangan. Namun selayaknya manusia lain, jarinya hanya dua puluh. Setelah semua hilang, ia menukar bagian tubuhnya yang lain seperti lengan, kaki, telinga. Yang tersisa kemudian hanya kepala dan kejantanannya yang menempel pada badan. Setelah itu ia tidak lagi datang.”

Yasmin tiba-tiba membuka kain atasnya, menyisakan kemban berwarna serupa kulit. Ia mengikat rambutnya sebahu dan membuat gerakan eksotis. Seketika Alif bergidik. Ia memang datang untuk menggunakan jasa seorang sundal. Namun yang ia bayangkan adalah Martha, seorang paruh baya dengan mata yang indah, mengobrol dengan secangkir teh menemani Alif di kelelahannya. Bahkan Alif rela menunggu sampai esok hari jika Martha enggan melayaninya malam itu. Atau setidaknya Alif hanya ingin menatap mata indah itu sekali lagi. Namun di hadapannya kini duduk seorang yang tidak kalah menggairahkannya.

“Jadi, Anda bermalam di sini, kan?”

Alif jelas paham, yang Yasmin maksud bermalam bersamanya di atas ranjang. Namun ini benar-benar di luar perkiraan Alif. Seorang gadis muda bertubuh indah terang-terangan mengajaknya tidur.

“Aku ke sini untuk Martha.”

“Bagaimana lagi, nyonya sudah berpulang.”

Hal ini cukup berat bagi Alif. Akal sehat dan nafsunya sedang berperang hebat. Akhirnya ia memilih untuk berkemas dan berencana meninggalkan rumah itu secepatnya.

“Aku kelelahan. Aku cuma mau menatap mata indah Martha. Kalau nggak dapat, lebih baik aku pulang. Selamat tinggal.”

Alif berdiri. Ia hendak melangkahkan kakinya menuju pintu keluar sebelum Yasmin turut berdiri, menarik dagu Alif dan mencumbuinya. Gerakan itu begitu cepat sampai-sampai Alif tidak menyadarinya. Ciuman yang begitu erat itu membuat Alif susah bernapas. Tapi ia mengakui, bibir itu terlembut yang pernah ia cicip. Ciuman itu terlepas setelah Alif mendorong Yasmin sekuat tenaga karena napasnya mulai tersengal.

“Bibir Tuan manis dan hangat. Sempurna. Setidaknya bibir yang Anda hisap barusan tidak kalah menarik ketimbang mata Nyonya Martha, bukankah begitu, Tuan?”

Tidak menunggu jawaban, Yasmin menarik tangan Alif menuju kamarnya. Seperti terhipnotis, Alif menurut saja menuju ruangan gelap dengan harum narwastu.

“Tahan sebentar Tuan, aku akan membuat permainan kita lebih menggairahkan.”

Yasmin menyalakan lilin di tiap sudut kamarnya, menyisakan suasana remang dalam kamar. Yasmin berbalik menatap Alif, ia memegang bahu Alif dan membaringkannya di ranjang. Yasmin mencium Alif singkat. Kemudian tangannya menyusuri badannya sendiri sembari berputar dan seketika kembannya sudah lolos dari badan. Yasmin berkedip sekali sebagai isyarat bahwa Alif boleh bergerak. Tanpa menunggu, Alif langsung meraih tubuh Yasmin dan menariknya ke ranjang. Mereka berguling dua kali sambil mulut saling terpaut. Dalam hitungan detik, mereka sudah sama-sama telanjang.

“Lakukanlah pelan-pelan, Tuan. Kita punya waktu sepanjang Tuan mau.”

Alif segera akan memulai permainan berikutnya. Ia menindih tubuh Yasmin, terdengar lenguhan lirih dari keduanya. Pada saat itu Alif merasa ada yang mengamati pergumulan mereka. Alif memutarkan pandangan. Tidak ada siapa-siapa. Namun ia benar-benar merasa ada orang selain mereka.

“Kita tidak sendiri?”

“Sudah kubilang Tuan, kehadiran mereka itu nyata.”

“Tidak-tidak. Baru saja kurasakan, siapa dia?”

“Tidak ada, Tuan. Sudahlah.”

Yasmin kembali merengkuh tubuh Alif hingga melupakan perasaan waspadanya. Sebelum Alif meraih puncak, ia tak sengaja melirik ke salah satu sudut ruangan. Ada sesuatu yang menyala. Sepasang bola mata yang tersimpan di dalam stoples berisi air. Alif betul-betul ingat mata itu. Ia kini mengerti siapa yang mengamatinya tadi.

“Ma-Martha..”

Jrraasssh. Belum selesai kalimat itu terucap, kepala Alif sudah menggelinding turun dari ranjang. Terlihat di atasnya, Yasmin menyeringai sambil memegang pisau.

“Terima kasih Tuan, tidak kusangka aku bisa menemukan bibir yang pas untuk bapakku.”

***

Di suatu malam menjelang pagi, seorang gadis dengan karung di punggungnya berjalan mengendap di antara rumah-rumah yang berhimpit. Ia bergerak dengan tenang sambil menengok ke setiap rumah. Setelah menentukan pilihan, ia melompat melalui jendela. Di hadapannya sepasang kekasih sedang tidur. Gadis itu mengeluarkan badik kecil yang sejak tadi menggantung di pinggangnya. Ia menunjuk muka perempuan kemudian berganti pada yang laki-laki. Ia melakukan itu beberapa kali seolah sedang memilih. Akhirnya ujung badik itu berhenti di antara wajah keduanya, lalu ia mengayunkannya ke kanan, lalu ke kiri secara cepat. Darah muncrat ke mana-mana. Nyawa mereka melayang. Gadis itu menurunkan tubuh keduanya, dan memperhatikannya lekat. Ia memejamkan mata, membayangkan betapa bahagianya kelak bila bisa bertemu orangtuanya. Lalu ia berpaling ke arah yang perempuan.

“Aku suka telingamu. Cocok dengan gambaran ibuku. Nah, kalau hidungmu, cocok untuk bapak.”

Gadis itu memotong telinga si perempuan dan hidung si laki-laki. Ia membuka karung yang di dalamnya sudah berisi potongan-potongan tubuh. Dari dalamnya ia mengeluarkan sebuah gunting taman.

“Tak kusangka ini sangat mudah, seperti menggunting, namun ini daging.”

Ia menggunting tubuh perempuan sampai seluruh organ terpisah. Bagian yang ia suka dimasukkan ke karung dan meninggalkan yang lain menumpuk begitu saja.

“Sebentar lagi aku punya orangtua yang menyayangiku, tidak seperti si tua Martha sialan. Aku bosan diperlakukan selayaknya anjing!.”

Yogyakarta, Oktober 2019


Yosef Astono Widhi, gemar membaca dan berteater. Sedang berusaha menamatkan studinya di Sastra Indonesia UGM. Twitter: @yosefaw, Instagram: @yosefastono, Email: [email protected]