Cerpen

Pedagang Surga Keliling

Cerpen Indarka P.P

Kali ini aku akan bercerita tentang temanku yang gigih menjalani hidup sebagai pedagang surga keliling. Terus terang, kesungguhannya sangat membuatku kagum, terlebih ketika kutahu ia telah mencapai titik yang menggemberikan soal pekerjaannya itu. Sayang, sampai di suatu waktu, ia harus berhenti—tepatnya diberhentikan—sebagai pedagang surga keliling. Padahal saat itu aku belum sempat berhasil menjadi seperti dirinya.

***

Marno namanya. Lelaki tambun berkulit sawo—yang terlalu—matang. Seorang yang sudah bekerja selama sembilan tahun sebagai petugas TU di kantor kecamatan. Yang mana setiap harinya selalu cemas menanti kapan diangkat jadi pegawai negeri. Sebab pegawai honorer tak memiliki masa depan menjanjikan. Begitu kiranya saat ia mengeluh padaku.

“Gaji honorer itu pahit, Mul, pahit!” terangnya sambil melotot.

Aku tak berkomentar, kali itu aku bertindak sebagai pendengar, itupun Marno sudah senang. Setelah lega mencairkan unek-uneknya, Marno mengucap terima kasih, “Jangan pernah bosan mendengar sambatan-ku ya, Mul.” Ia lantas pulang.

Belum hilang keluhan Marno dari otakku, hari ini kabar tentang dirinya sudah sampai di telinga lagi. Aku lumayan terkejut. Malamnya aku langsung bertandang ke rumah Marno, menyelidiki kebenaran kabar itu. Setibanya di sana aku mendapat sambutan paling menyedihkan dari Marno sepanjang kami berteman. Wajahnya tampak kacau. Matanya—yang setiap hari sudah meredup—kini serupa lilin yang akan padam hanya dengan satu jentikkan jari. Kemalangan Marno itu diperparah ketika aku lihat tiga kancing paling atas di bajunya terlepas. Pemandangan yang sungguh tak baik bagi kesehatan mata.

Lalu aku bertanya mengapaia diberhentikan dari pekerjaanya. Ia menerangkan Pak Camat sedang melakukan reformasi birokrasi besar-besaran. Sebagai camat baru, Pak Camat ingin meremajakan pegawai. Bukan hanya remaja secara usia, melainkan juga soal kualitas sumber daya manusia yang mumpuni, berintegritas tinggi, cinta Pancasila dan NKRI. Karenanya, Pak Camat membentuk panitia yang bertugas mengadakan seleksi ulang guna pemberian SK jabatan. Seluruh pegawai wajib mengikuti, tak terkecuali Marno.

“Aku sudah ikut seluruh tahapan seleksi,” ucap Marno dengan suara lemas.

Marno melanjutkan ceritanya. Ia menduga telah mendapatkan skor buruk pada tahap Tes Wawasan Kecamatan. Ketika kutanya mengapa, Marno berkata kalau di tahap itu ia ditanya macam-macam yang tak mampu dijawabnya secara lugas dan cepat.

“Mul, kamu pilih kopiah atau caping?” tiba-tiba Marno melempar tanya padaku. Dan sedetik berselang ia menyebut angka-angka. “Waktu habis!!!” tandasnya setelah ia mengucap angka lima.

Ternyata Marno mencontohkan apa yang ia alami dalam Tes Wawasan Kecamatan. “Aku hanya diberi waktu lima detik.” Saat itu ia sangat bimbang. Jika memilih kopiah, ia sangsi kalau dianggap tidak pro rakyat kecil. Itu berarti ia tidak memiliki etos pelayanan yang baik. Sementara jika menjawab caping, ia takut kalau dicap sebagai orang yang tak peduli agama. Lebih-lebih kalau dituding sebagai penista.

Mendengar kesaksian itu, aku terheran-heran.

“Ada lagi yang lebih gila.”

Aku menajamkan mata dan pendengaran.

“Aku disuruh berpendapat, lebih mendahulukan Darma Bakti Kecamatan atau rukun iman.”

Aku melongo. “Terus kamu jawab apa, Mar?”

Ia menggelengkan kepala. Menurutnya lima detik hanya sesingkat satu kali tepuk tangan. Begitulah. Pada akhirnya di hari pengumuman ia harus menelan ludah karena tak masuk dalam daftar pegawai yang lolos seleksi. Lantaran tersulut amarah, dengan berani Marno merobek kertas pengumuman di papan informasi itu. Cara Marno bercerita berubah jadi heroik kali ini.

Atas tindakannya, Marno diusir satpam, dan pulang lebih awal di hari terakhir ia bekerja. Akhirnya, takdir meresmikan dirinya sebagai pengangguran. Marno yang merasa terzalimi lantas bersumpah, takkan pernah menginjakkan kaki di lantai kecamatan. Yang kemudian di lain hari sumpah itu ia revisi, “Jangankan lantainya, Mul, masuk gerbangnya pun aku tak sudi!”

Setelah nganggur berbulan-bulan, entah dapat referensi dari mana Marno menyatakan ingin berwirausaha. Sebagai teman yang baik, jelas aku dukung rencana itu. Namun, setelah mendengar jawaban Marno ketika kutanya usaha apa, aku berubah pesimis.

“Pedagang surga keliling, Mul.”

Marno meminta waktuku sebentar saat aku hendak pergi dari hadapannya. Ia menyebutkan nama pedagang sayur keliling, pedagang buah keliling, dan pedagang-pedagang keliling lainnya yang sukses. “Itu saingannya banyak. Nah, kalau surga, kurasa masih jarang penjualnya, Mul. Betul tidak?”

Karena tak ingin terlampau lama memandang wajah Marno yang kini jadi brewok itu, aku berlalu begitu saja. Aku yakin yang dikatakan Marno tadi hanya sebuah candaan—meski aku sama sekali tak tertawa. Sialnya, keyakinanku itu patah ketika esoknya aku melihat Marno berjalan kaki menggendong tas melintasi sebuah kampung sambil berteriak, “Surga, surga, surga… Surganya, monggo.

Aku tertegun. Aku menganggap Marno berlebihan dalam hal berinovasi. Karena penasaran, suatu kali kusempatkan bertanya pada Marno apa gerangan yang membuat ia terpikir menjadi pedagang surga keliling. Sayangnya Marno tak memberi jawaban tegas. Malah ia mengeluh padaku perihal surganya yang sepi pembeli.

“Apa namaku kurang hoki ya, Mul?” tanya Marno.

“Bisa jadi,” sambil tertawa kecil aku menjawabnya.

Nasib memang rahasia Tuhan yang tiada seorang pun tahu. Begitulah gumamku setelah mendengar usaha Marno sekarang berjalan sangat maju. Konon, surga yang ia jual laku keras. Di musala-musala kampung, pasar-pasar, terminal, bahkan di sekolah, banyak orang tertarik dengan dagangannya. Marno juga selalu memberi diskon serta berani menggaransi surga jualannya.

Hal tersebut kuketahui ketika suatu siang tanpa sengaja aku melihat Marno berbincang dengan tetanggaku yang baru lulus SMA di depan musala. Tetanggaku itu manggut-manggut mendengar Marno menjelaskan keunggulan surganya.

“Khusus buatmu aku beri garansi lama. Dua dua kali bulan puasa. Gimana?

Tetanggaku akhirnya sepakat. Ia lantas membayar surga pada Marno. Setelah itu ia bergegas masuk musala melaksanakan salat dalam waktu yang sangat lama. Sementara Marno melanjutkan perjalanan. Berkeliling sembari mendengungkan besaran diskon juga garansi. Aku yang menyaksikan kegigihan Marno dengan mata kepala sendiri, benar-benar salut.

Alhamdulillah. Ini semua buah ikhtiar dan kesabaranku, Mul,” ucap Marno suatu kali. Ia tersenyum sambil mengelus-elus jenggot yang telah memenuhi dagunya.

“Pokoknya aku bangga padamu, Mar.”

“Ssttt…” tiba-tiba Marno tempelkan telunjuknya di bibirku. “Jangan panggil aku dengan nama itu lagi, Mul. Tidak membawa hoki.” Ia menegaskan padaku telah mengubah nama menjadi Salman Ar-Rasyid. Dan saat itu pula ia minta aku selalu memanggilnya dengan nama itu.

“Siap, Mar. Eh, maksudku siap, Salman.” Kami pun terkekeh.

Melihat Salman meraup pundi-pundi sebagai pedagang surga keliling, lama-lama membuatku tertarik juga. Aku menyampaikan hal itu pada Salman, dan memang sudah sepatutnya ia menanggapi ketertarikanku dengan hangat. Tanpa perlu kujelaskan lebih gamblang, ia sudah mengerti maksudku. Ia pun janji akan mengajari cara menjadi seperti dirinya.

“Tetapi kamu harus tahu, Mul, sebelum terjun ke lapangan, kamu harus mondok di yayasan dulu.”

“Berapa lama kira-kira?”

“Tergantung. Semakin cepat kamu menguasai materi penjualan surga, semakin cepat pula kamu bisa mulai bekerja. Begitu sebaliknya.”

Aku mengiyakan apa yang ia utarakan. Setelah itu aku disuruh menunggu kabar darinya. Namun, sepekan dua pekan, Salman tiada menghubungiku. Berkali aku meneleponnya juga tak bisa.Ia seperti lenyap dalam kegemilangan. Aku yang sugguh-sungguh kepengin seperti dirinya merasa kecewa.

Suatu hari di siang yang terasa suntuk, ketika harapanku menjadi pegadang surga keliling mulai surut, tanpa terduga masuk panggilan dari nomor Salman. Aku antusias. Barangkali ini kabar bahwa aku sudah bisa memulai rencana yang sempat tertunda. Namun, setelah telepon itu kuangkat, bukan suara Salman yang terdengar, melainkan seorang yang mengaku dari kepolisian. Saat kutanya apa yang terjadi pada Salman, ia tak bisa menjelaskan. Ia memintaku menyusul Salman di kantor polisi kecamatan. Tanpa pikir panjang, segera aku berangkat ke sana.

Saat tiba di kantor polisi, aku menghadapi seorang petugas yang menanyaiku sebelum bertemu dengan Salman. Pada proses itu petugas memberitahuku terkait apa yang Salman alami.

“Teman Anda kena OTT,” katanya, “Surga yang ia jual ilegal, karena tidak ada izin dari Majelis Ulama Kecamatan,” lanjut petugas itu dengan wajah garang dan menjengkelkan.

Aku tercenung sekian waktu karena hampir tak percaya Salman berani melawan undang-undang. Meski begitu, Salman tetaplah temanku yang baik. Aku akan menemaninya melewati seluruh proses hukum ini. Ya, selain membuktikan bahwa aku teman yang setia, itung-itung dari proses ini aku juga bisa belajar bagaimana menjadi pedagang surga keliling yang baik dan benar.

“Nama Anda siapa?” pertanyaan petugas itu membuatku terkejut. Sudah kubilang, dari awal ia memang menjengkelkan.

“Husain. Ehm… Husain bin Muzaki,” jawabku sambil berdehem satu kali.***


Indarka P.P, lahir di Wonogiri, Jawa Tengah. Alumni Fakultas Syariah, IAIN Surakarta. Saat ini bermukim di telatah Kartasura dan bergiat di Komunitas Kamar Kata.

Cerpen

Perubahan Sudut Pandang

Cerpen karya Erwin Setia

Kadang perlu untuk melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang sepenuhnya berbeda. Beberapa hari ini situasi lingkunganku memburuk dan aku merasa tidak lagi sekadar perlu—tapi sangat perlu—untuk sepenuhnya mengubah sudut pandang. Ketika kusaksikan mayat demi mayat lelaki-lelaki muda tak henti-hentinya digotong oleh warga setiap harinya, aku berpikir itulah yang terbaik buat mereka. Setidaknya, anak-anak muda itu tidak akan menemui lagi kesialan-kesialan hidup di hari depan dan tidak akan menjumpai suasana apokaliptik ketika pada akhirnya hari kiamat tiba—itu kalau mereka percaya soal hari kiamat. Selain soal mayat-mayat lelaki muda, aku juga melihat hal-hal lain sebangsanya dengan kacamata baru: korupsi, nepotisme, kuasa oligarki, hutan terbakar, penjeblosan seseorang ke dalam penjara secara semena-mena, perburuan hewan-hewan langka, pencemaran laut, konflik sektarian, pertengkaran rumah tangga, kemiskinan, dan seterusnya—terlalu banyak jika kusebutkan semuanya. Aku tidak lagi berpikir semua itu adalah serentetan masalah yang harus segera dicari solusinya. Kini aku menganggap semua itu sebagai kerikil atau daun-daun kotor di atas hamparan kehidupan yang hijau dan luas yang tak harus buru-buru disingkirkan. Biarlah angin membawa mereka, biarlah kaki-kaki bocah melempar mereka, biarlah mereka pergi dengan sendirinya.

Malam itu istriku marah-marah ketika aku mengatakan soal perubahan sudut pandang.

“Kau sudah menyerah, Kak? Selemah itukah dirimu?”

“Bukan seperti itu maksudku, Dik. Kau harus mengerti.”

“Mengerti apa? Mengerti bahwa setelah segala usaha yang kita lakukan, kita harus menyerah dengan mudah. Begitu maksudmu, Kak?”

“Aku hanya ingin hidup kita menjadi sedikit lebih baik.”

“Semua orang juga maunya begitu, Kak. Tapi bukan dengan menyerah.”

“Aku tidak menyerah.”

“Lalu apa namanya, Kak? Putus asa?”

“Ayolah, dengar dulu penjelasanku.”

Suara letusan terdengar di luar rumah. Berkali-kali.

“Aku tidak butuh penjelasan Kakak. Cukuplah Kakak dengar suara-suara di luar itu. Apa itu kurang jelas?”

Ia meninggalkanku sebelum aku mengatakan semuanya. Ia buru-buru menuju kamarnya. Kudengar secara samar ia tengah berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon. Cara bicaranya terdengar seperti orang yang sedang membicarakan suatu hal genting. Dan memang begitulah yang sedang terjadi. Sebuah ledakan—oh, bukan hanya satu ledakan, tapi banyak ledakan—pada tengah malam. Apa lagi kalau bukan suatu pertanda hal genting sedang terjadi?

Aku mengenakan jaket dan keluar rumah. Di seberang rumahku, di suatu warung kopi yang temaram empat orang berkumpul. Mereka berdiri tegak dan memandangi satu arah yang sama, di mana langit malam tampak menyala dan berasap.

“Sudah keberapa kalinya ini?” tanya Agea.

“Aku bahkan tidak sempat menghitungnya,” ujar Fai.

“Sudah tidak penting lagi menghitung-hitung ledakan yang terjadi. Sama tidak pentingnya dengan menghitung berapa orang yang sudah mati,” timpal Andro dengan wajah geram.

Seorang lagi, Ikal, tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya mengurut-urut hidungnya seolah dengan begitu keadaan bisa membaik.

Saat aku bergabung, mereka bergeming. Mereka hanya melihatku sekilas lalu kembali mengarahkan pandangan ke arah langit yang bersinar terang. Ledakan terdengar sekali lagi ketika istriku keluar dari rumah dan berteriak memanggilku.

Aku kembali menuju rumah. Sama seperti saat aku datang, ketika aku pergi pun orang-orang di warung kopi tidak menghiraukanku.

“Bahim mati, Kak.”

Istriku menutup mukanya selepas mengatakan itu. Ia tidak bicara apa-apa lagi. Ia menelusupkan wajahnya ke bahuku. Dan menangis. Ketika itu kami masih berada di halaman. Orang-orang di warung kopi tampak memperhatikan kami. Barangkali jika tadi aku datang sambil menangis, mereka juga bakal memperhatikanku. Pada zaman ini, kau memang harus berlagak berbeda untuk dapat perhatian—menangis terisak-isak atau jungkir balik atau menjanjikan keselamatan, misalnya.

Kuusap-usap punggung dan leher istriku. Kubisikkan padanya semacam petuah. Kubilang bahwa kematian Bahim mungkin adalah yang terbaik untuknya. Seorang pahlawan atau orang baik biasanya memang tak berumur panjang. Kuberi ia perumpamaan perihal taman penuh bunga yang didatangi oleh seorang perempuan. Apabila perempuan itu diberi keleluasaan untuk memetik bunga mana saja, menurutmu bunga macam apa yang akan ia petik terlebih dahulu? Istriku tidak menjawab. “Tentu bunga-bunga yang paling indah,” kataku kemudian. Ia tetap tidak bereaksi, tampak larut dalam kesedihannya. Kupikir aku salah mengatakan itu pada saat begini, tapi bukan berarti apa yang kuucapkan salah. Kenyataannya memang begitu, bunga-bunga indah dan orang-orang baik kebanyakan berumur pendek.

Istriku tidak menginterupsi atau memprotes satu pun kata-kataku. Biasanya ia selalu punya amunisi untuk mempertanyakan atau menyerang balik apa-apa yang kuucapkan. Barangkali ia terlalu sedih untuk melakukan itu. Bahim, adik satu-satunya, seorang lelaki muda yang belum genap dua puluh tahun, baru saja meninggal dunia. Tentu saja itu kabar paling buruk yang menimpanya dan juga menimpaku beberapa hari ini. Sudah puluhan atau bahkan ratusan orang yang mati, tapi ketika yang mati itu adalah anggota keluargamu sendiri, tentu kau akan merasakan kesedihan sekaligus kemarahan yang berbeda. Yang lebih meluap-luap dan membuat gumpalan dendam di dadamu semakin membesar.

Aku menuntun istriku ke dalam rumah. Setibanya di kamar, ia berkata, “Besok kita harus ke pusat, Kak.” Pusat yang ia maksud adalah pusat kericuhan terjadi. Sebuah ruas jalan lebar dekat kantor pemerintahan yang belakangan tak lagi dilintasi para pengendara. Tempat di mana massa demonstran dan polisi bentrok selama berhari-hari. Massa demonstran tak mau mundur sebelum mereka bisa menemui presiden dan mengungkapkan aspirasi mereka secara terang-terangan. Mereka menuntut bermacam-macam, mulai dari penegakan hukum, revisi atas undang-undang bermasalah, hingga menuntut agar kawan-kawan mereka yang tak bersalah dibebaskan dan dikeluarkan dari tahanan. Namun, bukannya memenuhi tuntutan itu, suatu hari polisi malah melemparkan sebuah karung ke kerumunan massa. Sebuah karung berisi mayat seorang kawan mereka yang penuh luka lebam dan sudah berbau busuk. Sejak itulah bentrokan dan kericuhan semakin menjadi-jadi dan tiada habisnya.

“Kita tidak boleh tergesa-gesa, Dik,” kataku dengan cemas. Pergi ke tempat sekumpulan hewan buas tentu bukan keputusan yang bijak.

“Kakak punya pistol?”

“Kondisi belum kondusif, Dik. Kita tidak boleh ke mana-mana dulu.”

“Aku tanya, Kakak punya pistol atau tidak?”

Aku tidak menjawab. Istriku yang sebelumnya tampak lemah dan berduka, kini bergerak cepat dan mengacak-acak lemariku. Ia membuka laci-laci. Pada suatu laci, ia menemukan pistol yang belum kugunakan sejak aku membelinya seminggu lalu.

“Buat apa pistol ini kalau tidak digunakan, Kak?”

“Tapi, Dik.”

“Apa Kakak takut, hah? Apa Kakak sudah lupa dengan teman-teman Kakak yang tewas dibunuh para aparat biadab itu?”

Aku tak mampu berkata-kata. Ia berjalan cepat menuju pintu.

“Aku ingin membunuh semua polisi itu, Kak.”

Ia melangkah gesit. Diriku masih linglung dan dipenuhi rasa bersalah. Andro masuk rumahku. “Hei, Gustam, istrimu pergi menuju pusat, kenapa kau diam saja?”

Aku tersadar dari kebodohanku dan segera berlari ke luar rumah. Aku dan Andro mengejar-ngejar istriku. Tiga orang yang sebelumnya ada di warung kopi juga sudah berlari di depan, mengejar istriku. Istriku berlari sangat cepat. Pada saat itu aku baru ingat bahwa istriku pernah menjadi atlet taekwondo semasa mudanya dan ia biasa latihan lari jauh. Larinya sangat cepat. Letak pusat tidak begitu jauh dari permukiman. Hanya perlu waktu sepuluh menit jika berkendara dengan kecepatan rata-rata. Dan mungkin selama itu jugalah waktu yang diperlukan jika pergi ke sana dengan cara berlari.

Aku dan Andro masih terus berlari. Namun istriku memanjat tembok pembatas yang cukup tinggi dengan sigap, ia meloncat dari pembatas yang sekaligus berguna sebagai jalan pintas. Agea, Fai, dan Ikal tidak bisa memanjat tembok pembatas itu. Begitu juga Andro. Mereka menyerah dan menyalah-nyalahiku. Aku berusaha memanjat tembok itu. Dan setelah berusaha keras seolah sedang memanjat tebing paling terjal sedunia, aku akhirnya bisa melalui tembok itu. Istriku sudah tidak terjangkau mataku. Ketika akhirnya aku tiba di pusat, kudengar suara tembakan meletus tak habis-habis. Orang-orang baku tembak seperti sedang terjadi perang saja. Dan mungkin ini memang perang. Perang saudara yang sama sekali tak diperlukan. Dari suatu tempat yang kupikir cukup aman untuk berlindung, aku melihat seorang perempuan menembak-nembak dengan lihai. Perempuan itu berdiri di garda depan. Perempuan itu adalah istriku. Beberapa polisi ambruk terkena tembakannya.

Istriku terlihat seperti jagoan dalam film-film aksi. Perempuan tanpa rasa takut terhadap maut yang hanya memiliki keinginan untuk menuntaskan dendam. Ia terus menembak dan menjatuhkan satu demi satu polisi yang tak bertameng. Aku tak menyangka selama ini aku menikahi seorang perempuan jagoan. Namun kemulusan aksi istriku tak bertahan lama. Satu tembakan dari seorang polisi mengenai tubuhnya. Ia terjatuh dan pistol di genggamannya terlepas. Melihat itu, api di dadaku menyala. Aku langsung lari dari tempat persembunyian. Tanpa sedikitpun gentar, aku menuju tempat jasad istriku berada. Kupeluk dia sesaat. Kuperiksa detak jantungnya. Sudah berhenti. Lalu kuambil pistol yang tergeletak dan kutembak orang-orang berseragam di hadapanku. Aku tidak tahu pada tembakan keberapa ketika kusadari peluru pistolku sudah tandas. Aku tetap mengacung-acungkan dan menarik pemacu pistol kendati tak ada yang keluar dari moncong pistol selain udara hampa dan lenguh sepucuk pistol yang tak berdaya.

Ketika akhirnya kulemparkan pistol itu jauh-jauh dan berlari menerabas ke kerumunan polisi, aku sama sekali tak lagi memikirkan soal perubahan sudut pandang. Satu-satunya yang ada di pikiranku adalah keinginan untuk mengirim semua aparat bersenjata ke neraka. Aku tidak lagi memikirkan dunia ideal atau hikmah suatu kejadian atau omong-kosong semacamnya. Bahkan, saat sebuah peluru mencelos melewati dada kiriku, merambatkan panas yang aneh dan mengilukan, aku membayangkan berada di suatu tempat di mana aku menjadi seorang raja yang tengah menghukum para pembunuh berseragam resmi dengan tusukan pedang, sula, jerat, berondongan tembakan, dan segala macam alat yang pernah ditemukan manusia untuk membunuh manusia lainnya.**

Tambun Selatan, 21 Oktober 2019


Erwin Setia, lahir tahun 1998. Penikmat puisi dan prosa. Kini menempuh pendidikan di Prodi Sejarah dan Peradaban Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media. Buku perdananya Lelaki Patah Hati yang Menulis Cerita akan terbit dalam waktu dekat. Bisa dihubungi di Instagram @erwinsetia14 atau melalui surel: [email protected].

Cerpen

Pemanah

Cerpen Rumadi

Apa yang ia takutkan telah menjadi kenyataan. Tangannya menggenggam kuat dengan tangis yang berusaha ditahan sejadi-jadinya. Ia abaikan amis darah yang menguar memenuhi udara. Ia usap berkali-kali kandungan di dalam perutnya yang semakin membesar. Ia selalu mengajaknya berbicara setiap hari tanpa henti, diiringi doa-doa, supaya kelak anak yang sedang dikandungnya akan memiliki nasib yang lebih baik dari sang ayah. Ia hanya duduk di samping suaminya yang sudah terbaring dengan anak panah yang masih menancap di tenggorokannya. Bukan anak panah milik seorang ksatria. Namun, panah itu milik seorang pengecut yang dielu-elukan di seberang sana. Berkali-kali petugas pengobatan ingin mengangkut jenazah suaminya, tetapi ia masih ingin membersamai suaminya meski sudah tak bernyawa lagi. Ia pandangi lekat-lekat mata suaminya yang telah memejam. Ia raba tubuhnya. Luka itu masih ada. Ia cemburu pada brahmana tua yang meminta baju zirahnya. Baru kali ini ia meraba dada suaminya sendiri yang semasa hidupnya senantiasa tertutupi baju zirah yang melekat dalam tubuh itu sejak dilahirkan. Ia masih mengingat, malam pertama di hari pernikahan, hingga hari-hari sebelum kematiannya, ia belum pernah merabai kulit dada suaminya secara langsung. Ada kelegaan saat ia menyentuhnya. Tetapi juga kecemburuan. Ia yang pertama menjadi istrinya, menemaninya hingga akhir hayatnya, tetapi ia tidak pernah bisa memenangkan perasaan hati suaminya yang dipenuhi misteri.

Semua ini seharusnya tak perlu terjadi kalau saja suaminya mendengar dan menuruti Krisna dan Dewi Kunti. Namun suaminya yang sudah memendam terlalu banyak kekecewaan terhadap Dewi Kunti dan kelima anaknya—terutama Arjuna—tidak akan pernah memihak mereka. Ia mengintip dari biliknya ketika Dewi Kunti datang hampir tengah malam. Karna yang tampak gelisah tak bergegas memejam, membuka pintu dengan sedikit enggan ketika pintu diketuk. Mereka bertanya-tanya siapa gerangan yang hendak bertamu tengah malam begini.

Karna terperanjat melihat siapa yang datang. Wrusali yang hanya mengintip dari dalam bilik menyimak dengan sedikit merapatkan kuping ke arah pintu. Ia melihat sorot mata suaminya yang terluka.

“Mengapa baru sekarang mengatakannya wahai Ibu? Ke mana ibu selama ini? Ibu macam apa yang tega membuang anaknya? Ke mana ibu waktu saya diludahi Guru Durna? Ke mana Ibu ketika Arjuna mengatakan tidak akan pernah mau bertanding dengan anak seorang kusir kereta? Saya ditertawai seluruh penduduk Hastina kecuali Suyudana. Dia bahkan mengangkat saya menjadi seorang raja. Ke mana Ibu waktu Drupadi menghina anak kusir ini? Aku tidak akan menikah dengan anak seorang kusir kereta! Kata-katanya melukai setiap aliran darah saya Ibu.”

Wrusali melihat perempuan di depan suaminya teramat sedih. Bahkan meski ditahan sedemikian rupa, tangisnya memecah malam. Perempuan itu berdiri hendak merengkuh anak lelaki yang pernah dibuangnya. Di luar dugaan Karna menghindar.

“Tubuh seorang anak kusir ini akan mencemari tubuh Ibu, oh tidak, maaafkan kelancangan saya, maksud saya, Mahadewi Kunti.” Karna memandang ke arah lain. Melihat ke arah pintu yang sengaja ia buka lebar-lebar. Angin malam menghempas dingin.

Tangis Dewi Kunti terdengar lebih memilukan. Lebih menggema dan air matanya semakin deras.

“Hastina akan jadi milikmu, Nak. Jika kamu kembali ke pangkuan Ibu bersama adik-adikmu. Kamu putra sulungku.” Iba Dewi Kunti dengan suara yang agak serak.

“Drama macam apa lagi yang hendak Dewi Kunti mainkan? Saya anak kusir kereta Adhirata dan ibu saya Radha. Tak selayaknya kusir kereta bermimpi menjadi raja. Lagipula saya tidak mungkin meninggalkan Suyudana. Seseorang yang sudah memberikan saya kedudukan. Seseorang yang membuat saya tidak lagi dilecehkan ketika anak-anak Dewi mencemooh saya.”

Ingin rasanya ia keluar dari bilik dan membujuk suaminya agar mau memberikan maaf kepada Dewi Kunti.

“Jika itu ketetapanmu Nak, berjanjilah pada Ibu untuk tidak membunuh adik-adikmu.” Dewi Kunti sudah terlihat putus asa.

Karna menghela napas, memainkan jarinya di meja.

“Anakmu ada lima, Ibu. Dan akan tetap ada lima selesai perang nanti. Saya tidak akan membunuh anak-anakmu kecuali Arjuna. Entah saya atau dia yang mati.”

“Bagaimana dengan Drupadi? Bukankah kau mengharapkannya lebih dari apa pun? Kau pun berhak mendapatkannya sebagaimana adik-adikmu.”

Licik. Batin Wrusali. Dan tentu saja perkataan Dewi Kunti yang terakhir membuat hatinya sakit. Namun ia masih menunggu dengan harap cemas.

“Pelacur itu? Tidak. Tidak. Saya pernah mengharapkannya, tetapi tidak lagi. Perempuan itu pernah menghina saya habis-habisan. Saya tidak akan merubah pendirian saya wahai Ibu. Sudah malam. Saya hendak istirahat. Ibu hendaknya juga segera istirahat. Angin malam tidak bagus untuk kesehatan.”

Pembicaraan itu tidak akan menemui titik temu. Suaminya memihak Kurawa, yang artinya ia akan berhadapan dengan adik-adiknya sendiri. Namun hari pertama di medan perang, ia tersenyum. Karna pulang dengan wajah tertunduk lesu. Karna langsung menghambur ke dalam pelukannya dan mengelus kandungan istrinya. Bisma, senopati agung Kurawa tidak menghendaki anak kusir kereta seperti dirinya berada di medan perang. Ada rasa bahagia di dalam dadanya. Suaminya masih menjadi miliknya. Meski tidak dengan hatinya.

Rasa cemburu itu takkan bisa dilupakan dan dihilangkan. Ia membersamai suaminya ketika mereka hendak mengikuti sayembara di kerajaan Pancala. Ia tidak berada satu kereta dengan suaminya. Ia tahu kedudukannya. Ia tidak pernah ingin mempermalukan suaminya di depan umum. Ia memilih berada di barisan paling belakang dengan kereta tanpa hiasan sama sekali, meski pun ia adalah istri seorang Raja Angga. Ia yang meminta kepada suaminya untuk tidak menghias keretanya. Semula Karna ingin memintanya untuk satu kereta dengannya, tetapi ia menolak. Bukan tempatnya. Namun ia mengiringi suaminya dari belakang untuk memenangkan sayembara kerajaan itu.

Meski dari jauh, ia mampu melihat putri Raja Pancala yang memang memiliki kecantikannya sendiri. Ia menatap suaminya dari kejauhan. Baru kali itu ia melihat suaminya tak berkedip melihat seorang perempuan. Bahkan ia sangat iri dengan tatapan itu. Ia tidak pernah ditatap suaminya semacam itu. Matanya berkaca-kaca dengan menyimpan kecemburuan yang mendalam.

Satu per satu para raja dan putra mahkota maju dan mengangkat busur pusaka kerajaan Pancala. Namun belum ada yang berhasil. Mereka yang berhasil mengangkat busur, yang melebihi berat badan mereka sendiri, tidak ada yang bisa memanah mata anak ikan yang berputar-putar di udara dengan tepat. Mereka diharuskan menghadap ke arah kolam, sementara panah harus diarahkan ke arah anak ikan yang berputar di udara. Ada salah seorang dari mereka yang ambruk setelah berhasil mengangkat busur pusaka yang mengundang gelak tawa para raja. Hingga tiba giliran suaminya. Entah mengapa, dadanya ikut bergemuruh ketika nama suaminya dipanggil. Karna memberi hormat kepada semua yang hadir.

Semua mata terdiam. Dengan mudahnya ia mengangkat busur pusaka itu. Semua orang tercengang, bahkan sebagian ternganga tak percaya melihatnya. Karna memejam sebentar seperti membaca doa. Ia mengambil satu anak panah yang berada di samping busur pusaka. Ia arahkan anak panahnya ke langit, di mana mata ikan yang menjadi sasarannya berputar-putar di udara. Ia melihat ke bawah sebagaimana yang menjadi syarat dalam perhelatan sayembara itu. Dengan satu bidikan pasti, dan dengan satu lesatan anak panah, dia berhasil tepat mengenai sasaran. Beberapa raja terkesiap tak percaya. Suyudana dan teman-temannya bersorak kegirangan.

Namun ia tertunduk. Setelah Supriya, kini dia harus membiarkan suaminya membagi perhatian kepada Drupadi. Kepada Supriya, ia tidak pernah merasa cemburu. Sikap Karna terhadap Supriya justru lebih dingin dibandingkan terhadapnya. Tetapi perempuan yang duduk di atas paseban itu, telah membuatnya cemburu sejak ia tiba di sini. Ia merasakan tatapan suaminya sebagaimana tatapannya terhadap Karna sejak dulu. Sorot mata jatuh cinta.

“Aku tidak akan pernah menikah dengan anak seorang kusir kereta!” suara Drupadi menghentikan sorak sorai Suyudana, sekaligus mengejutkan semua yang hadir.

Karna menunduk. Ia meletakkan begitu saja busur yang membuatnya dibicarakan banyak orang di perhelatan itu. Ia turun dari gelanggang seperti seorang yang kalah. Suyudana hampir saja mengangkat senjata, tetapi Karna menggenggam tangan sahabatnya.

“Kita pulang,” kata Karna lemah. Ia menarik tangan Suyudana dan meredam amarah sahabatnya itu tanpa kata-kata. Suyudana pasrah. Mereka meninggalkan gelanggang. Dan tak lama setelah mereka menaiki kereta, mereka mendengar sorak sorai. Karna berhenti sejenak di atas kereta. Ia melihat di kejauhan seorang brahmana berhasil mengenai sasaran sebagaimana dirinya.

“Saudara semuanya, ini adalah Arjuna. Seorang ksatria, putra yang mulia Maharaja Pandu. Ia telah selamat dari peristiwa kebakaran di Waranawata.”

Wrusali tak mendengar lagi apa yang diucapkan oleh Krisna di gelanggang itu. Kereta mulai melaju. Peristiwa ini tentu akan lebih melukai hati suaminya. Karna pernah dibuat patah semangat ketika hari kelulusan Pandawa dan Kurawa di Sokalima.

Saat Arjuna memasuki gelanggang, Guru Durna mengatakan kepada semua yang hadir, Arjuna adalah pemanah terbaik di antara ksatria lainnya. Saat hendak menunjukkan kebolehannya, tiba-tiba datang seorang pemuda berbadan gelap memasuki gelanggang. Debu mengepul. Arjuna tak terpengaruh dengan kedatangan pemuda itu. Ia tetap memanah sasaran yang telah dipasang Guru Durna. Namun setiap kali Arjuna hendak mengenai sasaran, ada anak panah lain yang menepis panah Arjuna, yang justru mengenai sasaran. Begitu seterusnya. Dan pemuda berbadan gelap itu mengelilingi gelanggang Arjuna. Memanah dengan tepat sarung tempat Arjuna menaruh anak panahnya hingga anak panahnya berceceran di tanah. Tak puas dengan itu, pemuda itu, memanah dengan tepat busur di tangan Arjuna hingga busur itu juga terlepas dari tangannya, karena Arjuna tidak terlalu kuat menggenggam busurnya. Ia masih terlalu kaget dengan kehadiran lelaki misterius tidak diundang.

Pemuda itu melompat dari atas pelana ke arah gelanggang. Berdiri di samping Arjuna. Kemudian duduk menghaturkan sembah kepada Raja Destarastra.

“Mohon maaf atas kelancangan hamba. Hamba hendak menantang Arjuna untuk membuktikan siapa pemanah terbaik di antara para ksatria.” Pemuda itu masih menunduk.

Semua orang masih terheran-heran, masih bingung dengan apa yang harus mereka lakukan. Hingga akhirnya Guru Krepa angkat bicara.

“Siapakah kau, Nak?”

“Nama hamba Karna.”

Belum lama peristiwa itu terjadi, Adhirata mendekat ke arah gelanggang. Seketika Karna turun gelanggang dan mendekati ayahnya tanpa ragu.

“Anakku! Anakku!”

Seketika semuanya tertawa.

“Ksatria hanya boleh bertanding dengan ksatria. Tidak layak seorang ksatria bertanding melawan anak seorang kusir kereta!” Arjuna dengan lantang berteriak menolak adu tanding memanah. Semuanya tertawa hingga tiba-tiba Suyudana ikut berdiri di atas gelanggang.

“Hendaknya kemampuan seseorang tidak dilihat dari kastanya. Siapa pun bisa menjadi ksatria. Bukankah nenek moyang kita adalah anak seorang nelayan?”

Semua orang diam menunggu apa yang akan dikatakan anak dari pemangku Hastinapura.

Suyudana menyembah Destarastra.

“Jika ksatria hanya boleh bertanding dengan ksatria, maka aku akan memberikan kerajaan Angga kepada Karna, yang kini menjadi sahabatku. Masihkah kau tidak mau bertanding layaknya ksatria wahai pengecut? Atau kau takut kalah? Kau malu ada seorang pemanah yang mampu menjatuhkan anak panah dan busurmu? Atau perlukah Karna menelanjangimu dengan anak-anak panahnya?” Suyudana tersenyum. Kali ini dia menang. Setelah di pertandingan sebelumnya dia hampir saja menjatuhkan Bima.

Namun Karna telanjur pergi. Ia telah pulang bersama ayahnya, Adhirata. Karna mengharap pengakuan Guru Durna, dan hinaan dari anak didik terkasihnya yang didapat. Wrusali melihat itu dengan geram. Tak selayaknya seorang pangeran menghina seseorang yang memiliki kemampuan yang lebih baik darinya, hanya karena ia anak seorang kusir. Ia tak suka melihat lelaki yang dicintainya dilukai.

Wrusali juga tak suka ketika mengatakan Drupadi seorang pelacur. Ia tahu, suaminya mengatakan demikian bukan untuk menghina putri dari Raja Pancala tersebut. Setelah sayembara itu, begitu Karna tahu seorang perempuan beristrikan lima orang, ia mengatainya pelacur. Seorang perempuan hanya boleh bersuamikan empat orang, itu yang sering dikatakan para brahmana. Tetapi Drupadi menikahi lima orang sekaligus. Hanya pelacur yang bisa melakukan demikian. Karna yang menyarankan kepada Sengkuni dan Suyudana dengan bisik-bisik agar Yudhistira mempertaruhkan istrinya ketika Pandawa tertua itu tidak memiliki apa-apa lagi. Demi mendapatkan kembali Indraprasta, mendapatkan kembali Hastinapura, dan yang terpenting mendapatkan kembali kemerdekaannya dan saudara-saudaranya, Yudhistira menyanggupi dengan mempertaruhkan istrinya.

“Lelaki bodoh,” umpat Karna, “lelaki macam apa yang mau mempertaruhkan istrinya di meja judi?”

Wrusali mendengar itu dengan sangat jelas. Karna menginginkan Drupadi lebih dari apa pun. Namun dia tahu, Karna tidak akan menikahi perempuan yang sudah telanjur menghinanya meski ia sangat menginginkannya.

Sebagaimana malam ketika Bisma gugur. Drupadi mendatangi perkemahan mereka dengan tangis berderai.

“Seandainya aku tahu sejak awal. Seandainya aku tahu kau adalah putra Dewi Kunti. Perang ini tak perlu terjadi. Aku tak perlu menjadi suami dari lima orang. Maukah kau menerima cinta yang datang terlambat ini wahai Karna? Kau berhak atas cintaku. Kau berhak atas hidupku karena kau adalah Pandawa tertua.”

“Putri, kau mengharapkan pengandaian yang takkan pernah kembali. Kalau saja kau tak menghinaku karena putra seorang kusir kereta. Seandainya kau mau menetapkan aku sebagai pemenang. Seandainya kau melihat kemampuan seseorang bukan dari golongan kastanya. Namun semua sudah terjadi putri. Aku mengharapkanmu dan masih. Tetapi tidak berarti harus bersama. Semoga di kehidupan selanjutnya, kita dipertemukan sebagai sepasang kekasih.” Karna bahkan tak mau melihat wajah Drupadi.

Dan Wrusali mendengar semuanya dengan jelas. Ada rasa sakit yang lebih menusuk. Dan ia tetap memilih diam. Sebagaimana suaminya yang tak pernah kurang memberinya perhatian sebagai seorang suami. Bukan sebagai seorang kekasih. Ia menggenggam jemarinya sendiri, seolah itu adalah jemari suaminya.

Hari kelima belas Karna mengamuk begitu mendengar semua anaknya gugur dalam pertempuran. Tanpa rasa takut ia meminta Prabu Salya memasuki arena pertempuran Pandawa dengan beberapa pasukan. Sepuluh anak panah, dilesakkan bersamaan, dan ia berhasil membunuh setiap prajurit yang ditemuinya. Setiap kali ada pedang, tombak, atau anak panah yang hendak mengenainya, Prabu Salya dengan lihai membelokkan kereta. Sementara Karna dengan membabi buta menyerang semua pasukan yang ditemuinya. Ia berhasil mengenai bagian yang tak terlindung dari musuh-musuhnya. Yudhistira, Bima, Nakula, dan Sadewa telah berhasil ia lumpuhkan. Bima berhasil ia buat pingsan dengan melesatkan anak panah yang tidak tumpul di bagian tengkuknya. Karna memanahnya berkali-kali hingga Pandawa terkuat itu tak berdaya. Sebagaimana janji yang ia ucapkan kepada ibunya di malam sebelum ia berangkat berperang, ia tak akan membunuh adik-adiknya.

Prabu Salya mengamuk.

“Dasar bodoh! Kenapa kau tidak menghabisi mereka selagi bisa?”

“Bukankah Bisma sudah mengatakan tidak boleh menyerang musuh yang sudah tak berdaya, yang tak bersenjata, dan lawan yang sudah menyerah? Juga tak boleh menyerang perempuan. Aku menghormati tata cara perang sebagaimana Suyudana tidak mencederai perjanjian perang ini.”

“Bukankah Bisma dibunuh karena Arjuna menjadikan Srikandi sebagai tameng? Bukankah Guru Durna dibunuh dengan kebohongan? Bukankah Lesmanakumara dibunuh selagi tak bersenjata? Kau mau menjadi sok bijak sementara lawan sedemikian curang?” Prabu Salya tak bisa menahan kegeramannya lagi.

“Itu mereka. Bukan kita. Aku adalah ksatria yang menjunjung tinggi nilai-nilai ksatria dan perjanjian peperangan.”

Prabu Salya hanya menanggapi dengan meludah ke tanah.

Karna melihat Arjuna yang berusaha berlari dari kejaran pasukan Kurawa, maka Karna menuding ke arah kereta Arjuna dengan Krisna yang menjadi sais kereta. Karna menunggu saat ini. Ia tidak menyesali telah melesatkan panah Kunta yang sebenarnya telah ia siapkan untuk membunuh Arjuna. Kemarin Gatotkaca begitu mengerikan. Ia mengamuk dan hampir saja menghampiri pertahanan terakhir Kurawa sebelum akhirnya Karna melesatkan panah itu tepat di pusarnya. Gatotkaca meregang nyawa. Dan ia melihat Krisna tersenyum. Rekan macam apa yang tersenyum melihat salah seorang dari anggotanya terbunuh?

Ia juga tak menyesali mengiris baju zirahnya kepada seorang brahmana tua. Ia sudah berjanji untuk memberikan apa saja kepada siapa pun yang meminta derma kepadanya. Dari brahmana itu pula ia memperolah senjata Kunta yang hanya bisa dipakai sekali saja.

Ia akan bertarung tanpa pelindung dan tanpa senjata mematikan itu. Lima belas anak panah ia bidik ke arah kereta Krisna. Tidak, ia tidak membidik Arjuna mau pun Krisna. Ia membidik roda-rodanya. Dalam sekali lesatan anak panah itu mengganjal roda Krisna yang melaju kencang dan membuatnya terguling. Sebagaimana yang ia lakukan di peristiwa kelulusan Pandawa dan Kurawa di Sokalima, Karna memanah tali yang menggantung di pundak Arjuna sehingga anak panah dari Pandawa ketiga itu tercecer. Ia membidik lagi. Jemari Arjuna. Meski mereka lari, Karna mampu membidik dengan tepat, sehingga busur Arjuna terlepas dari tangan. Karna tersenyum. Dua kali dia mempermalukan seseorang yang menghinanya bertahun-tahun silam. Arjuna dan Sri Krisna tak lagi bersenjata. Prabu Salya menarik tali kekangnya sehingga kereta mereka berhenti. Krisna dan Arjuna pasrah.

“Habisi dia selagi ada kesempatan!” hardik Prabu Salya.

“Aku seorang ksatria dan akan bertarung layaknya seorang ksatria.”

Krisna yang mendengar pertengkaran dua orang itu mencoba berbicara.

“Jika Tuan berkenan kami menaiki kereta kembali, dan membiarkan Arjuna mengambil busur dan anak-anak panahnya, maka kita akan bertarung selayaknya ksatria.”

Karna mengangguk tanda setuju. Krisna dan Arjuna membalikkan kereta mereka yang terguling dibantu beberapa pasukannya. Setelah mereka dalam kereta, tidak boleh seorang pun mencampuri pertempuran antara dua ksatria ini.

Krisna memacu kudanya. Begitu pun Prabu Salya, Karna belum lagi membidik anak panah, Arjuna sudah siap membidik dengan lima anak panah yang siap dilesatkan. Bukan Karna yang jadi sasaran tembakan. Namun Prabu Salya. Tidak adil batin Karna. Kereta Prabu Salya melaju tanpa arah karena dihujani anak panah tanpa henti.

“Kau teruskan sendiri pertarunganmu anak bodoh! Sudah kubilang habisi mereka selagi ada kesempatan!”

Prabu Salya melompat turun dari kereta membuat Karna kewalahan menghindari anak panah Arjuna. Kali ini ia sendirian. Tapi ia tidak menyerah, ia mengikat tali panahnya, ke pinggir tiang penyangga kereta. Ia memanah sesempatnya. Tetapi hanya tiga anak panah yang mampu ia lesatkan. Dengan arah bidikan sempurna, ia yakin Arjuna akan roboh dengan bidikannya kali ini. Kalau saja Krisna tidak membelokkan keretanya, Arjuna pasti tumbang oleh anak panahnya. Saat Karna sedang sibuk membidik, tanpa sengaja kudanya tersandung kaki gajah yang roboh, membuat ia terguling dan terjerembap. Krisna menarik tali kekangnya, membuat kereta berhenti. Karna berdiri. Sebagaimana yang ia lakukan terhadap Arjuna ketika tak berdaya, ia pun meminta hal yang sama.

“Tunggu aku membalikkan keretaku Arjuna.”

Karna berjalan mendekati keretanya, hendak mendirikannya kembali. Dibantu beberapa orang dari pasukannya. Tanpa disangka Krisna menarik tali kekangnya. Arjuna membidik. Semua orang yang hendak membantunya dipanah Arjuna satu per satu hingga tinggal Karna seorang.

Arjuna masih membidik. Karna yakin, Arjuna akan bersikap ksatria sebagaimana dirinya. Tidak akan membidik seseorang yang tidak bersenjata. Karna masih berusaha, untuk membalikkan keretanya. Ia masih ingat pernah menabrak sapi seorang brahmana, dan dikutuk keretanya terperosok di saat paling penting di dalam hidupnya. Dan ini adalah saat yang benar-benar genting.

Ia mencoba mengingat mantra penyelamat saat terdesak seperti saat ini. Beberapa kali sebelumnya ia pernah mencobanya dan berhasil. Saat ia kabur dari Parasurama karena dikira membodohinya. Parasurama mengutuknya, ia akan lupa terhadap semua yang diajarkan ketika menghadapi pertarungan antara hidup dan mati. Celakanya, Karna tidak mengingat sama sekali mantra yang pernah diajarkan Parasurama.

Anak panah Arjuna telah dilepaskan. Senopati Kurawa lagi-lagi tumbang setelah Bisma dan Durna. Krisna lagi-lagi menyunggingkan senyumnya. Panah itu menembus tenggorokannya, bahkan saat Karna belum lagi mendirikan kereta, dan sedang tidak memegang senjata.

Wrusali masih memandang suaminya. Berharap ia ada sedikit saja menempati perasaan Karna. Tidak pernah selama menikah, Karna memanggilnya dengan sebutan kekasih. Karna selalu memanggilnya dengan namanya. Wrusali. Karna tak henti-hentinya membicarakan Drupadi setelah peristiwa sayembara. Dan kini ia gugur, di tangan salah seorang suaminya.

Saat ia terlarut dalam tangisnya yang tak terbendung, seseorang menepuk bahunya. Ia menoleh. Mengangkat wajah. Seketika ia murka. Ia meraung hendak menyerang orang yang menepuk bahunya. Namun beberapa orang segera memegangnya, khawatir kandungannya terganggu.

“Maafkan salah seorang dari suamiku. Tak selayaknya dia berbuat semacam itu.”

Wrusali hanya tertunduk. Ia lemas tak berdaya. Air matanya semakin menderas. Satu-satunya orang yang berusaha ia senangkan seumur hidupnya, tetapi tidak pernah bisa ia ambil perhatiannya.

Drupadi mendekat. Menggenggam jemari Wrusali.

“Anak dalam kandunganmu, kelak akan lebih hebat dari ayahnya.” Wrusali rebah dalam pelukan orang yang pernah diharapkan suaminya itu. Ia memejamkan mata. Begitu teduh. Ia membayangkan seandainya saat ini tubuh yang dipeluknya adalah tubuh suaminya. Dan seandainya ia pernah memeluk suaminya tanpa baju zirahnya.

Ciputat, 30 April 2021


Rumadi, lahir di Pati, 1990. Menulis cerpen. Saat ini aktif di Forum Lingkar Pena cabang Ciputat dan komunitas cerpen Prosatujuh.

Cerpen

Lelaki yang Berjalan Bersisian

Cerpen Yuliani Kumudaswari

Ketika tubuh-tubuh terurai hancur, dan roh-roh terpisah adalah para pejalan, menyusuri takdir hingga tiba masanya pulang pada keabadian, meniti jalan menuju moksa. Kembali ke dalam dekapan cahaya kekal. Kematian bukan kemutlakan akhir, meski dunia para pejalan tertutup bagi mata telanjang manusia-manusia fana.

***

Seekor gagak berteriak parau, terbang di atasku,  hinggap dari ranting flamboyan satu ke ranting lain. Ia mengikuti langkahku dari sejak kumasuki jalanan sunyi ini. Tak pernah kusukai hewan bersayap yang satu itu. Tidak mata hitam dan bulunya yang pekat, terlebih kicau paraunya yang tak bernada. Seperti suara terompet sumbang dari neraka. Makhluk yang senantiasa menyeret aura gelap dunia orang mati.

Jl. Puspo, tulisan setengah kabur, tercetak di sebuah pelat seng yang sedikit penyok sisinya, tertempel pada tiang besi tinggi. Tertancap di ujung jalan yang hendak kulalui. Kelabu, hanya nuansa monochrome dan bayang murung berat, menggantung di udara lembap sepanjang arah yang hendak kutuju. Jalanan berkabut tipis membentang lurus beberapa ratus meter ke arah utara. Deretan flamboyan angkuh berjejer di kiri dan kanan trotoar,  menjulang diam menjalin ujung reranting di ketinggian menjadi kanopi rapat. Mirip payung-payung Marry Poppins yang siap meluncur ke langit. Angin menerbangkan rontokan bunga serupa confetti. Sia-sia perempuan bercaping itu menyapunya tiap pagi. Serakan bunga kelabu, di atas jalanan beraspal abu pucat. Bukankah seharusnya bunga-bunga flamboyanitu ceria, merah cerah serupa warna rok kesukaan gadisku?

Kunikmati setiap langkahku, menyusuri sisi barat jalan bertrotoar, yang terasa begitu ramah bagi pedestrian seperti aku. Rumah-rumah tua, berjendela seukuran pintu, bersisian tanpa pembatas tinggi. Hanya deretan perdu berbunga serupa mahkota mungil yang memisahkan batas pekarangan seseorang. Angin bertiup, bunga-bunga berguguran. Ah, flamboyan, serupalagu yang senantiasa didendangkan gadisku. 

***

“Aku tidak pernah minta apa pun padamu. Cuma satu, jaga dan lindungi aku,” gadisku berkata ketus. Jejak air mata membuyarkan riasan pupur tipisnya.

“Aku selalu menyayangi dan menjagamu, Miriam,” bisikku lembut seraya berupaya meraih tubuhnya ke rengkuhanku. Ia menepiskan lenganku.

“Bagaimana bisa? Bahkan menjemputku saja engkau telat berjam-jam!” serunya telak.

“Engkau tahu alasanku, bukan? Aku terlambat mengunci pintu kantor karena para pegawai telat mengalkulasi transaksi. Akibatnya aku terjebak antrian lift, dan aku harus mengambil rute memutar. Aku harus menyusuri ring road karena kebijakan penutupan jalan, hingga bisa tiba di sini.”

Kuraih setangkai mawar merah setengah menguncup dari balik kantung jaket model army yang kukenakan, dan menyodorkan kepadanya.

“Maafkan aku, ya,” bujukku, dan seperti biasa gadisku mulai tersenyum, masuk ke dalam dekapanku. Setangkai mawar merah hancur terjepit di antara kami.

***

Mawar merah, semerah kembang flamboyan di pucuk-pucuk pohon di atasku, di sepanjang jalan yang sedang kususuri. Langkahku kembali berderap di kesunyian. Kulewati sebuah rumah bertingkat mewah berlangkan besi berukir. Selalu kukagumi keasrian tamannya yang tertata, walaupun pasti menghabiskan pengeluaran yang tak sedikit, pikirku. Seorang kakek berwajah murung, yang selalu saja duduk di sebuah kursi di balkon tengah, menatapku dan melambaikan tangan. Kubalas lambaiannya dengan sedikit menganggukkan kepala. Sungguh ia seorang pejalan dalam sunyi, tak melangkah ke mana-mana, batinku. Seorang perempuan sedang menata pot bunga di teras depan, memandang ke arahku berdiri, namun tak menyadari kehadiranku. Kuayunkan kembali langkahku.

Lelaki paruh baya tambun itu telah menungguku di depan pergola yang menghiasi jalan setapak rumah berdinding terracota. Kami saling menggangguk.

“Bastian,” sapanya dengan senyum tipis.

“Jim.” Aku menjawab sapaannya, dengan memanggil nama lelaki itu, serupa caranya menyapaku.

Kami mulai berjalan perlahan, bersisian  menyusuri trotoar yang tetap lengang. Seperti biasa, tak ada percakapan hingga beberapa puluh langkah kemudian. Lelaki itu mulai  menyalakan sebatang rokok, asap kelabu meliuk dan hilang bersama kabut. Gumpalan asap tanpa api.

Suara-suara lirih percakapan, sayup terdengar dari sebuah kedai kopi. Sebagian besar kursinya telah diduduki pengunjung. Langkah kami berhenti tepat di depan kedai, sejenak berdiri diam mengamati kesibukan itu. Seorang perempuan dengan rambut gaya ekor kuda, dengan nampan penuh gelas kosong di tangannya, tersenyum pada kami. Mulutnya berkomat-kamit tanpa suara, tapi kami berdua tahu persis apa yang diucapkannya.

“Pak Jim, Pak Bastian, mari singgah. Kursi anda berdua tetap kosong.” Sungguh kalimat berulang yang sama persis. Kami berdua mengangguk, Jim melambaikan tangannya. Besok, di waktu yang sama seperti sekarang, ketika kami berdua berdiri di sini, perempuan itu akan kembali menyapa kami dengan kalimat itu. Aku akan menganggguk, Jim akan melambaikan tangannya.

Dari tempat kami berdiri, bisa terlihat jelas para penikmat kopi itu, hampir seluruhnya kami kenal. Kulihat Jack tetap di kursinya dekat jendela, kepalanya menunduk memperhatikan layar gadget-nya. Pak Moron dan kelompok bridge-nya sibuk membahas trik. Sepasang pemuda kembar, serius memindahkan bidak-bidak di papan catur di meja mereka. Tuan Gun sibuk bertelepon dengan suara keras. Sungguh suasana yang familier.

“Ah, Miriamku tak pernah lagi ke kafe ini sepertinya,” batinku, benakku dipenuhi bayangannya. Tubuh ringkih yang sedang memeluk dirinya sendiri. Menangis di kamar yang nyaris gelap. Kukecup dahinya yang berkerut, sebagai tanda perpisahan, sebab aku hanya bisa sekali itu menemuinya. Ia tak merasakan kehadiranku.

Aku dan Jim berlalu dari depan kedai, melanjutkan langkah kami. Gagak itu hinggap di ranting terendah, pohon flamboyan terbesar dan tertua di jalan ini. Berkoak-koak nyaring. Batang pohon cokelat kelabu pekat dipenuhi kulit kayu yang mengelupas. Di salah satu sisi, batang itu hancur, masih dipenuhi serpihan kayu. Kulihat Jim berdiri mematung, perhatiannya terpusat pada sisi pohon yang krowak seakan pernah terhantam sesuatu.

“Di sini mobil itu menabrakku, ujung bumper-nya membentur dan membenamkan tubuhku ke sisi pohon ini. Gadis itu mabuk dan tak melihatku yang sedang berdiri, berusaha menyalakan rokokku. Kudengar mereka membicarakan hal itu ketika mengangkat tubuhku.” Suaranya setenang angin yang berembus perlahan, menyibak rambut berubannya di pelipis. Aku mendengarkan cerita Jim dalam diam dan menggangguk menujukkan simpati. Gagak- gagak lain mulai berdatangan memenuhi ranting pohon. Teriakan parau bersahutan memecah udara.

Untuk beberapa saat, Jim dan aku hanya berdiri canggung. Kulihat Jim mendongakkan kepalanya dan membuang napasnya kuat-kuat. Dengan masih mendongak dan kedua mata terpejam, ia menggumamkan sesuatu yang selalu saja membuatku tercenung.

“Mengapa semua kenangan hidup itu terasa begitu indah di saat kita harus melepasnya?”

Aku mulai kembali melangkah, Jim mengikutiku dengan langkah lebih pelan. Di sisi kami adalah sebuah rumah tua yang nyaris hancur. Tembok-temboknya runtuh dan retak di banyak tempat. Daun pintu dan jendela hilang. Sejenis tanaman merambat berduri menutupi sebagian besar genting dan dinding yang masih berdiri. Pagar besi berkarat yang semula merupakan batas pekarangan dan sisi trotoar, nyaris rubuh ke rerumputan yang mengilalang.

Di sudut timur pekarangan rumah tua tak terurus ini, orang-orang menemukan tubuh itu. Meringkuk serupa bayi dengan dada penuh lubang tusukan. Konon, gagak-gagak yang hinggap di pagar setengah rubuh, dan terus riuh berkoak-koak itulah yang memberi petunjuk orang-orang.

“Tubuh itu terbaring di sana, sendiri berhari-hari. Perlahan hancur dimakan dingin dan panas, hanya disaksikan para gagak,” desahku. Kudengar Jim berdeham sebelum menjawab.

“Tubuhmu, bukan?” tanyanya yakin.

Aku terdiam cukup lama, lalu kuanggukan kepalaku lemah, “Ya, tubuhku, Jim.”

Sebelum tubuhku ditemukan, aku diberitakan hilang berhari-hari. Setahu mereka, orang-orang yang melihatku terakhir kali, aku pulang berjalan kaki dari kedai kopi dekat pintu selatan tadi. Membawa uang cash yang cukup banyak, sebab hari itu aku memenangkan bridge.

“Dan di sinilah kita, dua orang pejalan yang dipertemukan di jalan yang sama.” Jim tertawa lirih. Aku hanya mendengus, mencoba mengusir sesak yang menghimpit dadaku.

Kusadari, jalan ini dipenuhi beberapa pejalan. Aku, Jim, lelaki tua di balkon, gadis berkucir di kedai. Orang-orang yang hidupnya berakhir di sepanjang Jalan Puspo. Barangkali sebuah kebetulan belaka, atau takdir yang telah tertulis di buku hidup kami.

Aku teringat pikiranku malam itu, aku ingin membelikan Miriam sebuah laptop baru. Menggantikan miliknya yang lama, yang layarnya selalu tiba-tiba putih. Tetapi aku berakhir di sudut pekarangan tak terurus ini. Kali ini, aku yang menarik napas panjang, Jim hanya terdiam.  

“Ah, tubuh yang malang,” desahku.

“Mengapa kau katakan itu, Sebastian?”

“Tidakkah kau lihat, Jim? Tubuh hancur itu, hilang lenyap. Sungguh kesia-siaan belaka hidup ini, bukan?” tanyaku menuntut persetujuan.

“Tak ada yang sia-sia, Sebastian kawan pejalanku. Tak ada yang diciptakan untuk sebuah kesia-siaan sekecil apapun. Semua yang pernah hidup memenuhi takdirnya dengan sempurna. Bentukan yang sesuai cetakan, serupa gerabah.” Jim menekankan tiap kata yang diucapkannya, seakan sebuah keyakinan mutlak. Aku memandangnya bingung, baru kali ini jawabannya berbeda. Di waktu-waktu lalu, ia akan menjawab pertanyaanku itu dengan: “Ah, sungguh benar perkataanmu itu, Sebastian kawan pejalanku.” Kali ini tak sama. 

“Bagaimana tubuhku yang hancur bukan sebuah kesia-siaan, Jim?” Aku tergelitik mengajukan pertanyaan lain, di luar kebiasaanku. Seharusnya kami tak lagi bercakap, hanya melangkah berputar balik di titik ini, kembali ke arah kami datang. Kembali menyusuri jalan suram kelabu  menuju Selatan, di bawah bayang-bayang flamboyan yang tumbuh rapat  saling terjalin.

“Tubuh hancur itu sejatinya rumah tinggal ribuan anak-anak energi, yang akan purna memeluk debu, kembali pada kenadiran. Energi itu merabuki bumi, ya bumi, muasal sel-sel hidup yang baru.” Kali ini Jim tersenyum menatapku, wajahnya bersinar. Aku terkesiap, terpaku menatap perubahan itu.

“Kau telah sampai pada waktumu,” bisikku nyaris pada diriku sendiri.

“Sampai bertemu di Amardeep, cahaya terang kekal, Sebastian kawan pejalanku yang baik.” Sehabis berkata demikian, Jim mulai melangkahkan kakinya kembali menjauhiku. Berjalan dengan penuh kepastian ke arah pintu gerbang besar, tempat jalan ini berakhir. Keluar dari lindungan daun dan ranting flamboyan. Di saat yang sama gagak-gagak berkoak bersahutan, di antara sumbang dan nyaring.

Beberapa langkah ke depan, segalanya tampak berbeda. Ujung jalan ini terhenti di sebuah gerbang hitam  tinggi yang tertutup rapat. Tak menampilkan apa pun di baliknya selain benderang cahaya yang berpendar. Biasnya membuat jalanan di depan gerbang tak nampak kelabu, tak muram. Tak ada pohon flamboyan di situ, hanya sepenggal jalan tak tertutupi jalinan ranting, berkilau memantulkan bias cahaya yang lolos dari celah-celah pintu gerbang. Aku tahu, sesekali gerbang itu akan terbuka, menunjukan cahaya yang berpendar menyilaukan itu. Pada saat itu, cahaya akan menarik para pejalan yang telah sampai batas waktu, pulang menuju moksa. Kali ini, giliran Jim, kawanku.

Perlahan gerbang itu terbuka, cahaya serupa lorong putih gemerlap. Kulihat sejenak Jim menghentikan langkahnya, namun tanpa menoleh sekalipun ke belakang, ia mulai melanjutkan langkahnya masuk ke dalam cahaya. Aku tak dapat melihatnya lagi, Jim telah menghilang. Pintu gerbang mulai kembali tertutup, gagak-gagak itu tak lagi terdengar jerit paraunya. Keheningan yang menggetarkan hatiku.

Untuk beberapa saat mataku serupa buta, tak mampu melihat apa pun. Setelah pandanganku kembali seperti semula, kulangkahkan kakiku kembali ke arah aku datang. Lalu kulihat gadis itu, berdiri diam dengan wajah mungilnya di bawah remang kelabu. Kedua tangannya mendekap sebuah boneka teddy bear cokelat lusuh. Ia menatapku dengan bibir gemetar, matanya bulat purnama memandangku penuh tanya, ketakutan. Seorang pejalan baru yang belia di Jalan Puspo,  Roh baik yang akan menemaniku hingga waktu kami tiba. Kuulurkan tanganku kepadanya sambil tersenyum.***

Semarang, September 2020


Yuliani Kumudaswari,lahir di Bandung, 2 Juli 1971. Saat ini tinggal di Semarang bersama suami dan dua putri. Antologi puisi tunggal terakhir Kepada Paitua (Tonggak Pustaka, 2020) antologi puisi bersama terakhir Perempuan Bahari 2020 (KKK, 2020), antologi cerpen bersama Firdaus yang Hilang (Tonggak Pustaka, 2020).

Cerpen

Insiden Martapura

Cerpen Han Gagas

Satu minggu setelah kota ini dikuasai Corona, gempa bumi menggulung rumah semua penduduk. Lori menyelamatkan diri dengan cara sembunyi di kolong meja. Nyawanya selamat, hanya kakinya nyaris lumpuh karena kena runtuhan balok rumah. Dengan usahanya sendiri sebisanya ia memulihkan luka itu walau hanya memakai obat-obatan terbatas yang kebetulan disimpan keluarganya.

Gagak berkerumun di setiap tonggak pohon yang tersisa. Langit nyaris kelabu setiap hari, mendung setiap waktu, malam tak ada bintang, udara menjadi dingin. Tak ada sinar matahari yang cukup bisa menerobos tebalnya mega-mega. Rumah-rumah yang telah kosong akibat kematian massal oleh corona membeku dalam kesunyian.

Lori menangis saat menyadari bahwa seluruh anggota keluarganya mati. Adiknya, Rara kena longsoran dan tertimbun rumah. Istrinya, Widuri juga mengalami nasib sama, termasuk kedua anaknya, Banu dan Margo. Ia nyaris bunuh diri, merasa sebatang kara, dan sejauh matanya memandang, tak ada lagi kehidupan yang terhampar di mukanya, selain dengung lalat dan kaok gagak yang memenuhi angkasa.

Tapi kehidupan berpihak padanya, sembari menyembuhkan diri sendiri, dan makan apa saja yang tersisa, ia mencoba bangkit. Lori mengayunkan satu kakinya, berjalan pincang menuju jalan. Ia tahu satu kakinya telah mati rasa, dan sadar bahwa tak ada orang di desanya yang selamat. Tak ada suara rintihan bahkan embusan napas dari binatang sekalipun.

Awalnya ia hendak meratap pada langit, namun saat langit pun terasa digulung mega hitam, ia menyadari bahwa alam tak sanggup melawan kekuatan gelap ini. Tampaknya hanya kekuatan gelap yang tega memporak-porandakan seluruh kehidupan.

Lori tak ingin percaya pada Tuhan, walau dulunya saat kehidupan masih normal sebelum corona mewabah, setiap pekan ia selalu sembahyang, namun melihat ini semua rasanya ia pilih tak punya iman. Iman tak bisa mencegah bencana menggulung kehidupan.

Martapura, Martapura, kampung yang semula indah menawan hingga mengundang banyak turis datang, kini seperti bak sampah yang dituangi isi comberan dan buangan limbah. Lori melangkah pincang dan saat badai debu beterbangan menutup pandangan, ia melihat sebuah lampu berkedip-kedip mendekat. Ia mencoba melambaikan tangan, walau lemah, pengemudi itu tahu ada setitik kehidupan di depannya. Lampu mobil menyala terang, dan sebelum badai debu menerjang masuk, ia membuka pintu, Lori meloncat masuk.

“Syukurlah kau selamat, Nak.”

Lori hanya mengangguk, memandang si pengemudi yang seperti ia kenal, namun lupa di mana mereka pernah bertemu.

“Kau lupa padaku?”

“Sesungguhnya kita kena apa?” Tak menjawab, Lori malah bertanya.

“Petaka, Nak. Petaka.”

“Tak adakah bantuan?”

“Virus, Nak. Tak baca beritakah kau, sebelum gempa bumi dan badai debu, virus menyebar lebih cepat.”

“Virus?”

“Ah kau, dasar lelaki tak kenal peradaban!”

“Sejak tiga bulan ini tak ada pasokan koran ke desa kami. Telepon telah lama dibuang karena tak ada sinyal, tak ada berita apa pun, yang kudengar dari seorang sejawat yang baru datang dari kota, negeri sedang genting, virus menyerang ganas. Kukira itu hanya khayalan, kau lihat sendiri, bukan perang yang menghancurkan kami, tapi si kutu kecil, kecil.”

“Iya, dan gempa.”

***

Kini Lori ingat, pengemudi itu teman ayahnya dahulu. Ia bernama Sukarta. Ayahnya sering bercerita tentang dia, lelaki bermoyang leluhur dari Jawa yang suka semadi, yang tak mengenal agama modern, yang selalu hidup dari satu kuburan ke kuburan lain, kuburan yang dikeramatkan penduduk lokal.

“Ia lelaki kuburan, tiap hari menggelandang berjalan dari satu makam ke makam lain, menolak tumpangan. Ia dituduh gila,” kata ayahnya suatu kali.          

Jamala, jamala sikile sèwu, jamala, jamala sikile sèwu,” Sembari menyetir Sukarta mengucapkan sesuatu.

“Bahasa apa kau ucap itu?”

“Jawa Kuno, dari negeri sebelum Majapahit berkuasa.”

“Bagaimana kau tahu virus bisa musnah karena mantra itu?”

“Dia tak bisa dimusnahkan, hanya saja aku masih ingin hidup, Nak. Bukankah kau juga begitu?”

“Artinya, mantra ini hanya semacam tolak bala?”

“Hmmm, semoga.”

Lori mencoba menirukan kata-kata itu. Lidahnya sempat selip karena sukar mengatakan sesuatu dari bahasa asing yang sama sekali belum ia kenal.

“Tenanglah, dan pelan-pelan,” ucap bibir si tua itu.

“Sing aama sing awulu, padha sira suminggaha, balia mring asalneki

Sukarta seperti bernyanyi, namun suaranya terdengar aneh, membuatnya seperti terisap ke alam lain, magis.

“Apa kau menyanyi?”

“Ini nembang, nak.”

“Bah, sulit sekali menirukannya!”

“Dalam keadaan yang kalut begini, hanya kesabaran dan ketenangan yang bisa menyelamatkan kita. Semua telah mati, kan?”

Kesadaran Lori seketika terisap. Hidup sehari-hari kecuali sepekan sekali yang ia harus bersembahyang, diisinya dengan mabuk. Lori heran kenapa orang seperti dia yang justru selamat, bukan istri atau adiknya, Rara yang saleh. Mereka rajin beribadah, melakukan pelayanan darma sosial, dan bermurah hati, sedang dia selain mabuk, juga suka main perempuan. Pelacur telah banyak ia tiduri. Namun anehnya wajah para pelacur itu tak satupun yang bisa ia ingat. Bahkan bayangan sosoknya sekali pun.

Kini yang terlihat justru puing-puing bangunan yang berserakan, tiang-tiang lampu kota yang ambruk, yang syukurnya kabel-kabelnya tak menghalangi jalan mobil mereka. Kawanan gagak terbang rendah dan melayang-layang di depan mereka. Jasad-jasad tubuh manusia dan hewan bergelimpangan. Bau busuk dan anyir telah menumpulkan penciumannya sejak lama.

Sukarta menaikkan semua kaca mobilnya hingga tertutup sempurna, namun anehnya bau busuk tetap menembus ke dalam mobil, tampaknya lewat berbagai lubang mesin dalam kap, dan menembus pori-pori karpet lantai di bodi mobil.

“Brakkkk!” Mereka tersentak kaget.

Tiba-tiba gagak-gagak mendekat dan sebagian menabrakkan dirinya ke kaca mobil, menciptakan secarik darah merah kental membercak di kaca. Untungnya tak menghalangi seluruh pandangan Sukarta buat menyetir. Setelah mengurangi gigi perseneling, ia menginjak pedal gas.

“Kita harus segera pergi meninggalkan tempat terkutuk ini.”

Perasaan Lori masih tercekat. Sukarta melihat wajahnya yang pucat macam mayat.

“Tenanglah, Nak. Perilaku mereka tambah aneh dan berbahaya, apalagi kalau malam, kelelawar lebih ganas, tetapi tenanglah.”

Jalan yang dipenuhi debu menghalangi pendangan, namun Sukarta seperti punya mata batin dan indera ke-6, selaksa kilat mobil melaju kencang.

Perbukitan sedikit terlihat di depan, dengan jalan berkelok-kelok dipenuhi hutan pinus yang kelabu. Daun-daunnya membercak putih terlengketi debu.

“Hendak ke mana kita?” tanya Lori.

“Ke makam di atas bukit.”

“Kuburan?”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Hanya di sana tempat yang aman.”

“Kenapa?”

“Tempat itu diselubungi medan energi yang amat besar, ah kau tutup mulutlah.”

Martapura, Martapura, kini desa itu telah jauh di belakang mereka, meninggalkan kenangan yang menyumpal pahit di hati Lori. Rara, Widuri, Banu, dan Margo. Perasaan Lori gemetar hebat. Tanpa ia sadari matanya telah berkaca-kaca.

“Masih jauh perjalanan, tidurlah, kita akan sampai sana menjelang malam.”

***

Makam yang aneh. Sepanjang sepuluh meter. Di nisan tertulis Datuk Sanggul. Lori pernah mendengar nama ini. Seperti nama yang akrab dengannya tapi ia lupa menaruhnya di laci ingatan yang mana.

Kabut memenuhi seluruh hamparan makam yang diayomi Pohon Judas besar dengan jutaan daun-daun kecil yang berguguran kala ditiup angin. Berbeda sama sekali dari Martapura, area makam ini tampak kehijauan seperti terlindungi dari gempa. Benar apa yang dikatakan Sukarta, tak ada kerusakan sedikit pun, dan bahkan alam sekitar makam terlihat alami dan damai. Medan energi positif makam serasa menyebar ke sekitarnya. Seekor burung sendirian terbang berputar-putar di atas mereka, itu adalah elang yang putarannya seolah melakukan tawaf pada makam ini.

Sukarta duduk termangu, lalu ia tiba-tiba berdiri, membacakan sajak aneh yang terasa seperti nyanyian tembang dari bahasa antah berantah. Walau Lori tak mengerti artinya, bulu kuduknya berdiri, nyalinya tergelincir dari geming, suara itu menyatu dalam keheningan alam.

Teriak elang membahana, suaranya menghunus, memusar bersama desau angin. Dan angkasa tiba-tiba dipenuhi oleh titik-titik hitam. Jutaan titik-titik itu bergerak membesar, membentuk sesuatu yang mulai tampak mengerikan.

“Jangan gentar.”

Ternyata sajak itu telah selesai. Mulutnya menggetarkan kembali mantra yang aneh. Bibirnya komat-kamit, wiridan.

Jutaan titik-titik hitam itu ternyata ribuan kelelawar yang terbang dengan latar mega-mega yang menggumpal pekat dan hitam, tampak mengancam. Keserempakan itu seperti menatap nyalang ke arah mereka.

Tubuh Lori menggigil ketakutan.

Tanpa sepenuhnya Lori sadari, mulutnya mendaraskan segala doa yang masih bisa ia ingat. Hafalannya sejak kecil nyatanya tak bisa ia andalkan, banyak ayat-ayat yang terpotong, namun kali ini entah kenapa hatinya bergetar saat menyebut nama Tuhan.

Rara, Widuri, Banu, dan Margo. Mereka hadir seperti diturunkan begitu saja oleh Tuhan di hadapan Lori menjadi tameng yang aneh.

Sukarta meneriakkan kata-kata abstrak, seperti orang gila, ia berlari-lari memutari makam sembari menunjuk-nunjuk langit. Hawa terasa jadi begitu dingin, angin merajam tulang, dan rongga langit membesar, ada lubang hitam yang muncul dari dalamnya, menyedot apa saja.

Tiba-tiba Lori teringat wajah para pelacur itu, membayang jelas satu per satu di pelupuk matanya. Dosa membaur dalam pengakuan. Lelaki tua menyentuh bahunya, dan berkata, “Inilah saatnya.” Tangan keriputnya mendorong Lori hingga terjatuh.

Lori terduduk dan menitikkan air mata. Ia teringat sepuluh larangan dari Tuhan yang semuanya telah ia langgar.

Jutaan kelelawar menyebarkan jala hitam ke seluruh dunia. Lori tak berdaya.***


Han Gagas, penulis kumpulan cerpen Catatan Orang Gila (Gramedia Pustaka Utama, 2014), novel Orang-orang Gila (Buku Mojok, 2018), dan novel Jack dan Si Gila (Rua Aksara, 2020).

Cerpen

Secangkir Kopi Ibu

Cerpen Rizka Hidayatul Umami

Ada ritual yang tidak pernah ditinggalkan ibu selepas 40 hari kematian bapak. Setelah ingatan soal petir yang menyambar tubuh bapak di tengah sawah, di siang yang gelap itu samar-samar mulai dilupakan orang. Ritual menyeduh dua cangkir berisi penuh kopi hitam jenis robusta, dipesan dari lereng Merapi. Sejak saat itu, aku tidak pernah lagi melihat ibu menangis. Air matanya seperti ikut kabur bersama layu kembang dan aroma wewangian yang sengaja ditinggal di atas pekuburan bapak. Mungkin angin sengaja menerbangkannya dan membuat mata ibu jadi kering buat selama-lamanya.

Aku mengira, telah lenyap rindu  dan cinta ibu pada bapak. Secepat itu? Tapi lagi-lagi aku tak pernah berani, bahkan sekadar mengulik cerita-cerita soal bapak dan hari yang nahas itu. Hari ketika padi mulai menguning dan beberapa orang telah mendapat jatah buat memanen padi di sawah milik perangkat desa.

Tiga hari sebelum bapak mangkat, para buruh tani memang sedang bahagia-bahagianya mendapat jatah mburuh. Bapak dan ibu–yang tidak punya sawah–turut ambil bagian. Seperti musim panen sebelumnya, kebiasaan ibu dan bapak sebelum berangkat ke sawah cukup sederhana, menyeruput kopi dari cangkir masing-masing di teras belakang rumah. Sambil ngobrol ngalor-ngidul dan menghitung-hitung kasar, berapa nanti uang yang bisa mereka kumpulkan. Bagi keluarga kecil, mendapat jatah mburuh di musim panen adalah hal yang menggembirakan. Sebab tandanya orang-orang kampung telah banyak berubah, lebih memilih berbaik sangka dan menanam rasa percaya ketimbang terus menerus mengungkit luka lama, bapak yang banal dan ibu yang dianggap lacur.

Tapi pagi, tidak seperti biasanya, bapak terlihat buru-buru pergi ke sawah. Ia tak sempat menikmati secangkir kopi buatan ibu karena tak cukup waktu, katanya. Sarapan ditinggal begitu saja, sebab gerimis mulai berduyun-duyun datang dan langit menghitam dengan cepat. Bapak harus menyelesaikan pekerjaannya sebelum gerimis berubah menjadi hujan deras. Kepergian bapak yang begitu tergesa dan kopi dingin menjadi pertanda yang membuat ibu murung beberapa jam. Sampai suara yang memekakkan telinga itu membuat semua orang di sawah terduduk lesu, kaki-kaki mereka gemetar dan beberapa hilang kesadaran. Bapak yang ada di tengah sawah tak sempat menepi. Seorang yang masih sadar melihat petir terakhir, dengan lengking yang lebih mengerikan, menyambar tubuh bapak yang masih memegang cangkul. Bapak, dengan dada gosong dan tubuh pucat membiru dibopong ke depan rumah diiringi rimbun gerimis dan tangis ibu.

“Ini akan jadi lebaran pertama tanpa bapak, Bu. Widuri rindu sekali dengan bapak. Andai bapak tidak ke sawah.”

“Habiskan saja makananmu.”

“Ibu ini, apa sudah benar-benar melupakan bapak?”

Bapak adalah pesta pora yang meriah di awal bulan, sebelum memasuki tanggal lima sebelum dikurangi cicilan dan biaya listrik. Ibu tidak lebih dari doa paling hening di malam-malam peringatan kematian buyut-buyut, yang hanya diperingati setahun sekali menjelang ramadan, dan sesekali dibacakan ayat-ayat suci yang lebih panjang. Sedangkan, aku tidak lain catatan yang gagal dari keduanya. Serupa ayam jago yang kokoknya di tengah malam menjadi bahan gunjingan tetangga, kadang benar-benar seperti tempat melempar segala kira-kira dan tuduhan-tuduhan.

“Siapa lagi yang bunting di luar nikah?”

“Pasti anaknya bandar itu? Si Suwandi kan anaknya juga tidak beres.”

“Bukannya anak itu jadi guru ngaji?”

 “Memang guru ngaji tidak bisa bunting duluan?”

Dalam hati, aku muak. Tapi aku belum berhasil menemukan cara jitu mencuci otak mereka, membersihkan kepala orang-orang yang tidak pernah bosan menjadikan aku dan masa lalu bapak ibu, menjadi bumbu penyedap obrolan mereka. Bapak –cerita orang yang otaknya tak pernah berhasil kucuci– dulu adalah anak laki-laki yang perangainya menjadi idaman orang-orang tua di kampung. Ia menjadi Yusuf yang dicita-citakan seperti satu dari sekian manusia pilihan Tuhan. Sehingga Suwandi kecil lebih sering dipanggil Yusuf daripada nama yang sejak awal bercokol di akta kelahirannya. Tapi siapa bisa menyangka takdir-takdir yang ditetapkan Tuhan pada anak manusia? Paman-paman bapak jauh lebih bengal, berhasil berkontribusi lebih banyak pada tumbuh kembang bapak daripada bapaknya sendiri.

Sedang ibu, seperti yang dibisikkan orang-orang di balik kamar masing-masing adalah mata yang berbahaya dipandang. Ia adalah laut bebas dan dalam. Sumur tua yang menyimpan banyak sejarah lebih pekat, petarung, pengembara, dan manusia yang punya banyak nyawa. Ia adalah malaikat dan kegelapan, sebelum sedia memberi bantuan pada bapak dengan janji seumur hidupnya. Ibu yang mengantar bapak pada pertaubatan pertama. Di hadapan dua bola mata yang nanar itu bapak bersimpuh, setengah sadar. Lima timba dini hari, berhasil membuat tubuh bapak menggigil, beku. Dan di saat yang sama ibu memulai pertaubatannya.

“Aku menyeretnya keluar rumah waktu bapakmu hendak mengulangi kegilaannya.”

“Ibu membenci bapak?”

“Sudah berapa kali Ibu bilang, demi apapun yang terjadi, percayalah Ibu masih mencintai bapakmu.”

“Tapi kenapa barang sekali saja, ibu tidak pernah berusaha mengingat bapak?”

“Nduk, Bapakmu selalu memegang cangkirnya. Lagipula, kita mesti terus melanjutkan hidup, dengan atau tanpa laki-laki yang kita cintai.”

Ibu menjelma perempuan yang begitu polos. Diukur karena tidak pernah menikmati kopi dengan cara seduh yang rumit. Kecintaannya hanya robusta yang disiram air panas dan sedikit tambahan gula. Ibu tak mengenal nama-nama kopi, apalagi menakar agar sajiannya ideal. Perjalanan cintanya cukup memperkenalkan ibu dengan robusta dari Merapi. Selang  35 tahun, hanya itu yang ia dapat selama hidup bersama bapak.

Ia hanya tahu pahit tidak akan terlalu pahit ketika dicecap, ia hanya akan menambahkan gula sesuai takaran, sesuai dengan apa yang ia rasakan. Sebab ibu tahu, meski robusta dengan banyak gula tidak akan nyaman diminum bersama bapak. Dan sampai saat ini, ibu tak bisa sedetik pun terpisah dengannya. Setidaknya harus ada setengah sendok teh penuh menemani cangkir-cangkirnya. Bahkan setelah bapak menyudahi jamuan minum kopinya, dua cangkir itu masih dihidangkan ibu. Hanya saja, tak pernah ada percakapan dan rona yang terus terang.

“Kita harus membersihkan kutukan orang-orang atasmu dan atas diri ibu.”

“Bagaimana caranya, Bu? Mencuci otak mereka? Mustahil.”

“Dengan melanjutkan hidup kita hari ini dan setiap hari. Jangan menoleh ke belakang dan jangan lagi meratapinya. Ayo, kita nikmati saja kopi ini.”

Secangkir kopi milik ibu adalah ingatan yang sepenuhnya tentang bapak. Secangkir yang lain adalah masa di mana ibu harus menghidupiku dan menghilangkan kutukan orang-orang yang menganggapku perempuan bengal. Betapa mengerikan menjadi janda seorang mantan bandar, tak bisa memilih nasib baik untuk diri sendiri dan anak semata wayangnya.***


Rizka Hidayatul Umami, Mahasiswa S-2 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Menyukai sastra dan isu-isu perempuan. Email: [email protected]

Cerpen

Tiga Episode Ingatan

Cerpen Pangerang P. Muda

Telah banyak ingatannya yang lindap. Sebagian yang bertahan mengendap, malah ia anggap hanya serupa imajinasi. Sekian tahun lampau, ia ingat pernah mengantar pulang seorang perempuan, dan di depan gerbang apartemen tempat perempuan itu tinggal, ia melamarnya. Melamar perempuan di depan gerbang apartemen, ketika itu, ia anggap amat romantis. Ia samakan dengan adegan di dalam sebuah film.

/1/

Sebelum pindah kemari, setiap pulang Lis selalu disambut anggora manis yang merengek minta dibelai. Karena aturan di apartemen ini tidak membolehkan memiliki hewan piaraan, kucing itu dia berikan ke temannya dan sekarang tidak ada lagi yang menyambutnya.

Menggeser pintu yang menuju balkon, dadanya meraup sebanyak udara yang datang meruap. Tiga puluh meter dari permukaan tanah, dia meluruskan jenjang kakinya, berselonjor di atas sofa rotan. Tatapnya mengapung nun ke air laut yang berwarna merah kesumba. Dia memejam, melayangkan otak dan otot setelah diberati aktivitas pekerjaaan sepanjang hari, sampai tertidur. Laki-laki itu muncul dan langsung pula mencecar, “Sungguh, Alissa, aku mencintaimu. Dengan kalimat apa lagi aku harus mengatakannya?”

Gelak Lis lepas. Ya Tuhan, kenapa anak ini yang datang menyatakan cinta? Tawanya dia peram, karena laki-laki itu mendadak merengkuh, mendekapnya lalu melompat bersama keluar dari pagar balkon. Saling-pilin keduanya meluncur tersedot gravitasi. Hambatan angin yang begitu deras, serasa akan meremukkan tulangnya.

Tergeragap bangun, Lis menggigil. Embus angin cukup deras menyerbu dari arah laut. Tidak cuma di alam nyata, di alam mimpi pun anak itu mengganggunya. Lis mengejap. Di depannya, senja telah habis.

Merasai tubuhnya yang penat mulai merindukan hangat air di dalam bath-tub, Lis meninggalkan balkon. Ingatannya berputar; ah, tidak, dia tidak ingin mengingat nama laki-laki itu, senyampang dia tak ingin pula mengingat entah terselip di mana kartu namanya. Dia hanya merasa perlu mengingat nama perusahaan konstruksi dan pengembang yang diwakilinya, karena itu klien lama perusahaan periklanan tempat Lis bekerja. Setelah mengepalai divisi, Lis menunjuk seorang staf untuk berhubungan dengannya, tapi anak itu ngotot dan tetap ingin berhubungan langsung dengannya, seperti sebelum-sebelumnya.

Lis tak cakap pula mengelak; perusahaan periklanan tempatnya bekerja sedang tumbuh dan gencar-gencarnya berburu sekaligus mempertahankan klien lama. Lebih tak cakap lagi dia mengalkulasi efek hubungannya: anak itu jatuh cinta padanya. Persuaan yang acap, yang kian kerap bermuara di kursi-kursi kafe sekitar perkantoran tempat kerjanya, ternyata memurupkan pula cinta anak itu.

Mengingatnya, senyum Lis jadi ringis. Laki-laki itu sebelas tahun lebih belia dari usianya yang jelang empat puluh, sampai Lis menganggapnya ‘masih anak-anak’. Dua kali terang-terangan menyatakan cinta membuat Lis terkaget-kaget, dan nyaris syok ketika anak itu ngotot mengiringinya sampai ke gerbang apartemen, sebelum berdeklamasi; bagi Lis, itu serupa ratap, “Hari ini, aku melamarmu. Alissa, bersedialah menjadi istriku.”

Lis keluar dari bath-tub. Walau semampai tubuhnya terbalut jubah mandi, saat berada di ruang tengah dia menggigil. Pintu ke balkon rupanya masih menganga, meloloskan deras angin. Setiap menutup pintu itu, dua belas lantai di atas permukaan tanah, sontak dia mendapati dirinya disergap sepi.

***

Pada kelindan memorinya, ia ingat pernah pula mengantar pulang seorang perempuan, dan di depan gerbang pagar rumah perempuan itu, ia berkata, “Maukah kamu menjadi istriku?” Ia lupa pada film apa pernah melihat adegan seorang lelaki melamar kekasihnya di depan pagar, dengan salju yang terus melayang di sekitar mereka, dan ia bermaksud menirunya. Ia anggap adegan itu amat romantis.

Meski kemudian sulit ia percaya, di suatu masa di dalam hidupnya, ia bisa nekat meminta seorang perempuan lain menjadi istrinya justru ketika ia sudah punya istri. Ia pikir itu ingatan yang absurd,sama absurdnya dengan kenyataan telah menikah dengan perempuan yang tidak ia cintai.

/2/

Sebagai istri siri, Nin memang mesti tahu diri: dia harus ikhlas disimpan di tempat yang tersembunyi. Makanya dia menduga suaminya akan membawanya ke sebuah rumah yang menyempil di pojok kampung ketika berkata, “Kita akan mengunjungi puri cinta kita. Itu kado pernikahan untuk kamu.”

Dia sempat mengelak, separuh berseloroh, “Puri? Tidak, ah. Aku takut banyak hantu bergentayangan di dalamnya.”

“Memang banyak,” balas suaminya. “Tapi hantu-hantu asmara.”

Rumah itu duduk anggun pada ketinggian sisi perbukitan. Untuk mencapainya dari jalan raya, harus melalui dua kelokan hampir setengah lingkaran. Sejak sebelum kelok pertama, kontur jalan sudah mendaki. Begitu lepas dari kelok kedua, rumah itu mulai terlihat: agak mungil, dikitari halaman yang lapang. Nin berdecak, merengek, “Aku suka, Pa….”

Setiap di bawah sana ada yang menuju puri cintanya, sejak di kelokan kedua sudah terlihat. Sembari menatapi embun menguap, Nin duduk di beranda, menerka-nerka siapa yang akan datang pagi ini. Biasanya yang paling awal tukang sayur, lalu penjual ikan, menyusul penjual jamu, dan sesekali datang pula peternak lebah madu. Seusai menawarkan jualan, pedagang keliling itu akan mengitari jalan setapak di samping pagar halaman sebelum menghilang ke kampung yang ada di belakang.

Biasanya tengah hari baru suaminya yang datang. Begitu muncul di belokan, Honda City merahnya yang sedang merayap terlihat menyala, seakan membawa bara cinta, dan dia siap-siap menyambut. Entah berapa kali dia mencandai suaminya, “Puri kita ini, memang sarangnya hantu-hantu asmara.”

Pertama kali Nin mengenal laki-laki itu di suatu sore yang kuyup diguyur hujan. Sepupunya yang juga karyawan sekaligus teman SMA laki-laki itu, mengajak menumpang di mobilnya. Nin ke kantor sepupunya itu karena ada urusan pekerjaan, dan pulangnya jadi bingung karena hujan demikian deras meruah. Laki-laki itu menawarkan tumpangan, sekaligus menawarkan sikap dan wajah simpatik, untuk Nin kagumi; laki-laki itu direktur di perusahaan tempat sepupunya bekerja, tapi tidak menampakkan sikap seorang atasan kepada bawahan pada sepupunya.

Kemudian tidak bisa lagi Nin sesali bila persuaan itu ternyata terus berepetisi, berulang-ulang dengan pesona laki-laki itu seakan sedot pompa yang tak kuat Nin tampik. Dan di suatu senja, saat Nin turun dari mobil dan sebelum mencapai pintu pagar, gerimis datang. Laki-laki itu ternyata ikut turun, mendekat dan mengagetkannya, “Maukah kamu menjadi istriku?”

Nin merasakan laki-laki itu memang memberinya kasih sayang, tapi dia tetap dihadapkan pada kenyataan: laki-laki itu juga suami dari perempuan lain. Berbagi cinta membuatnya sadar dan mesti tahu diri tak bisa merecoki suaminya dengan kunjungan yang kerap. Dan, seiring rangkak waktu, kedatangan suaminya memang mulai jarang, dan makin jarang saja setelah usia pernikahan mereka melewati tahun ketiga. Kian kerap pula Nin hanya bisa menggigit bibir, kian merasai getir.

Dengan hanya ditemani seorang pembantu, dan belum juga ada tanda-tanda rahimnya menyimpan janin, tinggal di purinya di atas bukit, Nin mulai merasa suatu saat sepi akan membunuhnya.

***

Andai bisa, ia ingin melupakan saja ingatan saat dipaksa orang tuanya, dengan ultimatum, agar ia menikahi putri pamannya. Ia tahu orang tuanya khawatir melihatnya tak henti-henti mengenang perempuan yang pernah menolak lamarannya, khawatir membuatnya memilih membujang sampai lapuk. Semacam imbalan, ia lalu diberi kepercayaan memimpin perusahaan keluarga, senyampang usia bapaknya mulai sepuh. Tak ingin dianggap aji mumpung belaka, ia bekerja sungguh-sungguh, sampai bisa membuktikan kepercayaan itu tidak sia-sia dipikulkan ke pundaknya.

Namun, takdir yang dilakoninya terus saja berkelok-kelok. Akibat sakit, istrinya meninggal; bisa jadi setelah tahu ia telah menikah siri dengan perempuan lain, ikut pula memperparah sakitnya. Belakangan ia juga tidak mampu mempertahankan istri sirinya; cekcok mulai kerap mengusik dan keluarganya terus pula bergolak mempermasalahkan.

Ketika ia melamar lagi seorang perempuan, walau pertemuannya bak cerita di dalam film, tapi ia tidak meniru-niru lagi adegan romantis dalam film. Ia merasa sudah terlalu tua meniru begitu, malah ia tidak ingat lagi tepatnya kalimat apa yang ia ucapkan ketika menyatakan suka. Perempuan itu ia lihat pertama kali di salah satu kantor cabang perusahaannya. Saat melihatnya, ia terkesima, yakin perempuan itu merupakan kelahiran kembali dari perempuan masa lalunya yang amat ia cintai tapi menolak menikah dengannya, karena begitu mirip. Seperti itu ingatannya menyimpan kejadian itu. Di depan bapaknya yang sudah sepuh, entah bisa mendengar ketika ia berseloroh, “Saya tidak mau jadi duda lapuk.”

/3/

Berada di depan rumah besar itu, Mun sontak membayangkan sedang berhadapan dengan sesosok raksasa. Pilar-pilar tinggi bergaya Eropa yang menyambut di beranda membuatnya merasa serupa liliput. Saat pintu depan berdaun ganda terpentang, sadarlah dia tubuhnya sedang tersedot masuk ke perut sang raksasa.

Di suatu pagi yang bening, seusai menghabiskan tiga malam bulan madu mereka di hotel, suaminya membawanya ke rumah itu. “Saya sudah rindu pada anak-anak,” kata suaminya, sesaat sebelum meninggalkan hotel. Ketika mobil yang mengantar berbelok masuk ke gerbang, suaminya berkata, ”Itu rumah kita.”              

Di situ tinggal pula bapak, delapan cucu, serta tiga adik suaminya dengan istri dan suami masing-masing yang telah menurunkan delapan cucu tadi. Istri dan ibu suaminya telah meninggal. Ada sembilan kamar tidur di rumah itu. Kamar terbesar bernuansa suite ditempati Mun dan suaminya. Di ruang depan, yang diisi dengan kursi-kursi besar yang mewah, Mun menghitung-hitung bisa menerima tamu sampai tiga puluh atau malah empat puluhan orang. Sedang ruang tengah, andai semua perabot disingkirkan, bisa saja dijadikan dua lapangan futsal. Serba-maha-luas pada rumah itu, membuat Mun merasa mengecil.

Hendak lepas dari telan ‘sang raksasa’, di suatu senja yang mendung, Mun memaksakan keberanian mengusul pada suaminya, “Pa, bagaimana kalau kita pindah ke rumah yang lebih kecil?”

Sedikit terperanjat, suaminya menatap heran dan berkata, “Rumah sebesar ini saja sudah penuh begini, malah mau pindah ke rumah lebih kecil?”

Sekuat tekad mempertahankan keberanian, Mun berujar lagi, “Di rumah kecil kita itu, kita tinggal berdua….”

Suaminya cepat menyela, “Jadi, kamu mau memisahkan saya dengan anak-anak? Juga dengan adik-adik?”

Belah mulut Mun seketika terkunci. Menghindari perdebatan, dia memilih mati kata.

Usia Mun dengan suaminya terpaut empat belas tahun. Saat melamarnya, usia laki-laki itu lima puluh satu sedang Mun tiga puluh tujuh tahun. Dia pimpinan dan Mun karyawan di salah satu cabang perusahaannya. Mun dilihatnya ketika berkunjung, dan jauh setelah menikah, dia membuat pengakuan bahwa begitu melihat Mun langsung terkesima dan jatuh cinta. Mun tertawa geli; perkara jatuh cinta, faktor usia muda atau tua ternyata tidak menjadi pembeda. Usia yang terpaut jauh sempat membuat Mun mengelak, tapi rupanya laki-laki yang dihadapi tipikal pantang menyerah. Sebagai karyawan, Mun tahu sedikit sejarah perusahaan tempatnya bekerja: sejak dipercaya keluarganya memimpin perusahaan, dengan kegigihannya laki-laki itu berhasil membuat perusahaan berkembang dan melahirkan cabang usaha, dan rupanya demikian pula kegigihannya meyakinkan Mun untuk menerima lamarannya.

Setelah menikah, Mun berhenti bekerja dan fokus ke rumah tangganya. Saat pamitan, dibalasnya ledekan teman-teman kerjanya, “Cinta memang tidak mengenal logika, kok.”

“Pindah dari rumah kita ini, sama saja memisahkan saya dengan anak-anak,” suaminya menyentakkan Mun dari ingatan. “Kamu kan tahu, saya sangat cinta anak-anak. Pulang ke rumah, yang membuat saya amat senang, bila sudah dikerubuti anak-anak. Mereka memang bukan darah-daging saya, hanya ponakan-ponakan saya, tapi perasaan saya mereka adalah anak-anak saya. Mereka adalah anak-anak kita, Ma….”

Anak-anak! batin Mun meratap. Anugrah yang satu itu belum juga diberikan Tuhan padanya, walau usia pernikahannya sudah jelang tahun keempat. Rumah besar ini memang selalu riuh dengan suara anak-anak, tapi Mun ingin mendengar suara anak-anaknya sendiri.

Setiap suaminya berangkat bekerja, Mun merasa penghuni rumah yang lain tidak ada lagi yang mengenalnya. Di keluasan kamar yang seakan salah satu ‘kantong udara’ di dalam perut sang raksasa, tempat Mun menyendiri, di situ dia merasa terus mengecil.

Semakin tidak tahan berada di perut sang raksasa, akhirnya Mun memutuskan akan ngotot meminta suaminya mengeluarkannya dari rumah besar itu, dari perut sang raksasa, sebelum dia habis dilumat.

***

Ingatan pada perjalanan hidupnya memang banyak yang telah lindap. Sebagian yang bertahan mengendap, malah ia anggap serupa imajinasi saja. Kerap ia termangu, berpikir jangan-jangan perjalanan hidupnya itu memang hanya sebuah cerita, atau rangkaian adegan di dalam sebuah film belaka?  ***


Pangerang P. Muda, menulis cerpen di beberapa media cetak dan daring. Kumpulan cerpennya yang terbaru Tanah Orang-Orang Hilang (Basabasi/2019). Berdomisili di Parepare.

Cerpen

Laci Meja Bu Putri

Cerpen Dian Ariani Supangkat

Kipas angin berputar enggan di atap ruang guru yang lenggang karena bel istirahat belum berbunyi. Bu Putri bergegas ke kamar mandi. Pemandangan ini disaksikan Bu Putri saat hendak ke kamar mandi. Bibir Pak Nur, guru matematika yang berkumis lebat, menempel lekat pada bibir Bu Yanti, pegawai tata usaha. Badan mereka rapat. Sontak tubuh mereka merenggang saat melihat Bu Putri yang tak diharapkan. Diarahkan pandangan Bu Putri ke pintu kamar mandi. Pintu berwarna kuning dengan ganggang senada. Semakin gegas langkah Bu Putri. Meski hanya lima langkah jarak ke pintu kamar mandi tak henti Bu Putri mengutuki diri sendiri. Mengapa tak dia tahan ke kamar mandi sampai jam istirahat tiba. Saat semua guru kembali ke meja masing-masing. Kemungkinan kecil Pak Nur dan Bu Yanti menempel satu sama lain.

“Mengajar kelas berapa Bu?” Suara Bu Yanti saat pintu kamar mandi terbuka.

“Kelas X, Bu Yanti.” Pintu kamar mandi ditutupnya segera.

Bu Putri menyalakan kran air memenuhi bak kamar mandi yang sudah penuh. Sial. Rutuk Bu Putri tak henti.

Peristiwa tadi membuatnya lupa bahwa ada hajat mendesak untuk ditunaikan di kamar mandi. Bu Putri mematikan kran. Sekilas tak terdengar apa pun di balik pintu. Bu Putri mengatur napas sebelum keluar kamar mandi sambil merapal doa semoga mereka sudah lenyap dan ia tak harus bertukar cakap. Lorong keluar kamar mandi kosong. Ia berusaha berjalan biasa saja. Ruang guru masih sepi. Bu Putri bergegas kembali ke kelas. Tenggorokannnya kering. Dia berjalan menghampiri siswa namun pikirannya terpaku pada adegan Pak Nur dan Bu Yanti di lorong menuju kamar mandi.

“Mengapa harus di lorong kamar mandi sekolah?”

Pertanyaan itu berdengung di kepala Bu Putri berhari-hari setelahnya. Sekeras mungkin tak berpapasan dengan Pak Nur dan Bu Yanti di sekolah. Sayangnya sekolah tempat ia mengajar adalah sekolah negeri di jalan utama yang bangunannya pas-pasan. Berbatas jalan provinsi dan diapit rumah-rumah bangunan kolonial yang telah beralih fungsi.

****

Ruang guru sepi. Bu Putri tetap di ruang guru saat bel pulang telah jauh berdentang. Cerita-cerita yang harus dibaca karena pasti tak tersentuh jika dibawa ke rumah. Bagi Bu Putri urusan di sekolah dan urusan di rumah sebaiknya diberi sekat pembeda. Sebagian jendela dan pintu telah ditutup. Sore itu Bu Putri pulang jauh setelah bel jam terakhir karena membacai tugas-tugas siswa.

Hari telah jatuh hampir senja. Di ruang guru hanya ada tiga orang. Bu Putri, pak guru geografi, dan ibu bendahara sekolah. Pak guru geografi dan ibu bendahara sekolah hampir setiap hari pulang paling akhir. Jam terakhir di sekolah pukul tiga belas tiga puluh. Sekolah tempat Bu Putri mengajar belum full day. Senin sampai Sabtu wajib belajar di sekolah. Apa yang mereka lakukan setiap hari sepulang sekolah? Pak guru geografi telah beristri dan Ibu bendahara sekolah pun sudah bersuami. Kabarnya mereka berselingkuh karena pasangan masing-masing berselingkuh duluan. Bu Putri tidak terlalu peduli omongan guru-guru lain soal guru geografi dan bendahara sekolah itu. Namun, beberapa hari harus pulang sampai jauh sore, Bu Putri melihat desas-desus itu bukan sekadar kabar angin. Si guru geografi dan bendahara sekolah berpegangan tangan diam-diam. Tertawa cekikikan. Mereka saling meyuapi. Bu Putri menyaksikan adegan pasangan yang mendekati pensiun itu dari balik tumpukan tugas koreksi.

Mengapa harus di sekolah? Tanya Bu Putri pada diri sendiri berkali-kali.

Semua rekan guru tahu. Istri si guru geografi tahu, suami si bendahara pun tahu. Dinas pendidikan pun tahu.

***

Pagi itu Bu Putri dipanggil kepala sekolah. Saat ia baru meletakkan tas. Di ruang kepala sekolah sudah ada guru BK. Duduklah mereka bertiga dalam diam. Sekolah masih sunyi. Guru-guru lain belum berdatangan.

“Salah satu anak KIR kemarin tertangkap melakukan tindakan asusila, Bu.”’

“Tindakan asusila apa, Pak?”

“Mereka melakukan yang tidak sepantasnya.” Guru BK mulai bersuara

“Apa yang tidak sepantasnya itu, Bu?” desak Bu Putri

“Ini kelalaian kita semua terutama Ibu Putri sebagai pembina KIR. Anak itu sepulang pembinaan tidak langsung pulang malah berduaan dengan kakak kelasnya.”

“Yang terpenting sekarang bagaimana kita menangani kasus ini. Bapak si siswi adalah dokter. Bu BK yang akan mengatur bagaimana caranya supaya ini tidak sampai bocor ke luar. Ke LSM apalagi sampai cetak di koran. Bisa habis kita. Pokoknya biar diatur mereka berdua akan mengundurkan diri dari sekolah ini.’’ Tanpa jeda kepala sekolah menatap Bu Putri.

“Si siswi peraih nilai tertinggi, Pak,” sela guru BK

“Makanya sayang sekali. Namun jika berkaitan dengan akhlak saya harus tegas.”

“Biar guru BK yang menangani semuanya.”

Tak ada ruang bagi Bu Putri memberi pendapatnya. Itu hanya pemberitahuan baginya. Dia tak mampu membina ekstrakulikuler dan siswa-siswa itu akan dikeluarkan.

Bu Putri menatapnya sepanjang mengajar di kelas, si siswi menundukkan kepalanya. Begitu dalam.

“Angkat wajahmu, Nak. Ibu ingin bicara.”

Bu Putri hanya melihatnya seminggu setelah kejadian. Bu Putri tak sempat bilang pada padanya, “Kamu cantik, kamu berhak sepenuhnya atas tubuhmu.”

Bu Putri bahkan tak mampu membelanya saat guru BK dan wali kelasnya menghajar si siswi dengan ujaran-ujaran soal moral, akhlak, dan aurat. Ada kejijikan dalam nada bicara dan tatapan mereka. Si siswi bahkan sudah menanggung beban sedemikian rupa. Mereka harus merelakan kelanjutannya bersekolah di SMA terbaik di kota. Si siswa masuk SMA swasta yang hanya peduli akan jumlah siswa. Perkara mereka pengguna narkoba, pelaku tawuran akut, atau tukang bolos tak menjadi masalah. Belakangan, Bu Putri diam-diam bahagia ada sekolah-sekolah model begini yang menerima semua siswa yang dibuang sekolah-sekolah negeri begitu saja. Si siswi dimasukkan ke pondok pesantren di luar kota.

“Jika tak dikeluarkan, lebih merana lagi mereka. Bagaimana menanggung malu di depan teman dan para guru?”

“Tugas kita membuat mereka menjadi lebih baik. Mengajarkan menghargai tubuh mereka dan tidak memperlakukan mereka sebagai kriminal.”

“Tapi mereka amoral karena telah berbuat asusila.”

“Mereka remaja yang di tengah jalan mencoba bermacam hal.”

“Karena masih remaja sudah begitu bagaimana nantinya? Makanya harus segera dikeluarkan. Biar tidak dicontoh teman-temannya.”

“Atau sebaliknya bisa jadi teman-temannya bisa belajar dari kejadian ini.”

“Belajar mesum? Di sekolah ini akan dikeluarkan jika mesum.”

“Sama seperti si Bapak dan Ibu guru yang mesum, kan? Yang bahkan sudah beristri bersuami.”

“Bu Putri hati-hati jika berbicara.”

“Jika mesum artinya amoral dan asusila, mengapa para guru itu tetap tinggal dan siswa-siswa itu yang pergi? Mengapa kita yang harus risih dan para guru mesum itu tetap tak berubah? Saya lebih percaya murid-murid itu masih bisa berubah lebih menghargai tubuhnya dan berhubungan dengan orang lain.”

Sore itu saat sekolah mulai remang, mereka berada di ruang yang hampir seperti gudang. Sisa peralatan lomba dan acara-acara sekolah yang ditumpuk sembarangan. Ada matras usang. Si siswi telah telanjang dan si siswa siap mengambil video. Mereka telah bertukar gambar diri mereka beberapa kali lewat ponsel. Hari itu mereka bergantian akan mengambil gambar badan masing-masing. Nahas, guru olahraga yang belum pulang memergoki mereka. Si guru melihat si siswi memakai kembali satu per satu seragamnya dengan gelisah. Air matanya tumpah. Si guru belum juga memalingkan muka. Sampai akhirnya ia menyeret mereka ke luar ruangan.

Begitulah cerita yang berembus ke seantero sekolah soal kejadian yang membuat Bu Putri sebagai Pembina KIR bersitegang dengan kepala sekolah dan guru BK.

***

Bu putri melepas kacamatanya yang tebal, meletakkannya di atas meja. Seorang siswa menghampirinya saat pelajaran berakhir.

“Mama titip salam untuk Ibu. Mama dulu murid Bu Putri.”

“Siapa nama mamamu?”

“Nina, Bu.”

“Salam Ibu untuk mamamu.” Bu Putri lantas keluar kelas. Pandangannya tertuju pada kolam ikan di lantai bawah. Betapa mulut-mulut ikan itu menganga. Mereka bergerombol di air mancur yang dibangun dengan payah di tengah kolam. Samar, Bu Putri melihat wajahnya karena air yang jernih tanda air kolam baru diganti. Bu Putri mengingat dengan baik siapa Nina. Siswi yang dihamili pacarnya yang mahasiswa. Si mahasiswa hilang jejaknya ketika diminta kesanggupannya bertanggung jawab. Nina yang dibelanya bahkan sampai ke dinas pendidikan kota. Nina yang kurus dan manis. Nina yang dalam dua bulan akan ujian nasional namun ketahuan hamil. Nina yang tak dapat menahan mualnya saat praktik olahraga. Nina yang meski berurai air mata dengan lugas memohon untuk tetap bersekolah. Memohon untuk bisa ikut ujian tak peduli cemoohan yang akan diterimanya. Kepala sekolah, wali kelas, dan guru BK lebih peduli pada citra sekolah. Nina yang dibela Bu Putri sekuat kemampuannya. Bu Putri mendengar permohonan Nina yang menyayat. Bu Putri mendatangi kepala sekolah demi Nina bertahan sekolah sampai ujian selesai.

“Mengapa kita melepaskan tangan kita saat anak kita tersesat, Pak?”

“Ada hubungan apa Bu Putri dengan Nina ini? Saudara?”

“Nina sama seperti murid saya yang lain, Pak. Nina ingin belajar sampai ujian nasional. Nina tidak ingin menyerah, Pak.”

“Nina tetap akan dikeluarkan, Bu. Kebijakan saya tetap. Masih ada waktu buat Nina mencari sekolah atau mendaftar kejar paket C.”

“Tapi Pak, nama-nama peserta ujian harus didaftarkan jauh-jauh hari. Mustahil bagi Nina untuk ikut ujian tahun ini.”

“Itu bukan persoalan kita, Bu Putri.”

***

Bu Putri tetap mengajar bertahun-tahun setelahnya. Guru yang di meja kerjanya bersih dari segala macam foto. Tak satu pun foto, baik itu foto suami, anak, rekan guru atau foto-foto diri atau siswanya yang berprestasi terpajang. Bu Putri hanya menyimpan sebuah album di laci mejanya. Album berisi foto-foto tiga kali empat siswi-siswi yang terpaksa putus sekolah. Siswi yang dihamili pacarnya, siswi yang diperkosa pamannya, siswi-siswi dengan beragam kisah pilu yang berakhir serupa; dikeluarkan dari sekolah. Foto-foto siswi itu menjadi pengingatnya guru seperti apa ia.


Dian Ariani Supangkat, bisa disapa di twitter @arianidian dan Instagram @diari_diari. Surel: [email protected]

Cerpen

Dunia Kami

Cerpen Danya Banase

/1/

Laki-laki itu selalu sendiri. Tidak pernah menegur tapi selalu ingin ditegur. Beberapa teman yang selalu berada di sekelilingnya bahkan mengatakan ia pribadi yang berbeda. Ia dianggap sombong dan tidak mau bergaul dengan orang lain. Berbeda denganku. Walaupun orang-orang sering berkata bahwa terkadang aku tenggelam dalam duniaku sendiri, proses interaksiku dengan dunia luar baik-baik saja. Setidaknya menurutku. Tapi ia memang berbeda.  

Kami bertemu di perpustakaan dekat SMP tempatku bersekolah dulu. Aku datang 15 menit sebelum pintu perpustakaan terbuka. Orang-orang berkata aku terlalu rajin dan menyuruhku untuk melamar menjadi penjaga perpustakaan saja. Aku tak menggubris perkataan mereka. Mereka terlalu bodoh saat menilai tindakan seseorang sebagai bahan lelucon garing dan membosankan. Tidak semua orang menerima lelucon sebagai cara untuk diterima orang lain. Tidak semudah itu. Aku memilih duduk dekat rak buku-buku terjemahan di lantai dua. Bukan sebab ingin belajar bahasa Prancis ataupun karena diberikan tugas kuliah untuk menelaah Social and Political Philosophy karya John Christman, buku membosankan yang dibahas dosen senior yang sepanjang pelajaran hanya duduk dengan gaya malas dan berbicara seperti berbisik itu. Memilih lorong kedua, diapit susunan buku terjemahan bahasa Jerman dan Rusia, ternyata lebih nyaman. Mungkin karena berada di dekat sudut ruangan pula. Tidak terlalu sempit dan pengap. Penjaga ruangan itu, seorang bapak berusia 50-an dengan gigi seri bagian kanan atas yang ompong senantiasa menerimaku dengan ramah.

Laki-laki itu datang saat pegawai perpustakaan pergi makan siang. Ketika ia melintas, kami hanya berduaan di ruangan itu. Perawakannya tinggi, sekitar 170 cm. Keningnya yang lebar ditutupi potongan rambut berponi yang acak-acakan sehingga tampak tebal di bagian depan dan nyaris menutupi mata kanannya. Menurutku, gaya itu pernah menjadi model favorit sekitar tahun 2016 dan kemungkinan tidak kekinian lagi. Ia mengenakan kaus bergaris biru laut bercampur hitam, celana kusam setengah lutut yang robek-robek di lipatan bagian bawah, dan sepatu kets bertali tanpa kaus kaki.

Gaya berpakaian laki-laki itu cukup familiar di kalangan anak muda kota yang gemar travelling. Kami sempat bertatap muka, walau menurut perhitunganku hanya 7 detik atau kurang. Ia tersenyum, lalu melangkah menuju lorong buku bagian kamus-kamus bahasa asing. Ia kembali lagi. Seperti orang yang malu-malu dan ingin bertanya tentang sesuatu tetapi diurungkan, ia bolak-balik tidak jelas. Setelah empat kali melakukan hal konyol itu, ia mendekatiku dan menanyakan hal yang menurutku amat ganjil, sangat jarang terjadi apalagi kepada seseorang yang tak dikenal sebelumnya.

“Bagaimana pandanganmu ketika orang-orang menuduh dirimu terlalu egois dengan duniamu sendiri? Mereka bilang aku sombong. Harus kuakui beberapa orang di sekelilingku terkadang tidak memahami apa yang sedang terjadi dalam kehidupanku. Usaha mereka pun sia-sia, justru karena mereka terlalu mencampuri urusan orang lain.”

Ia gila. Kumaklumi saja karena memang ada beberapa orang memiliki kepercayaan diri begitu tinggi sampai taraf yang menjengkelkan. Lihat saja, ketika ia bertanya, ia pun berani sekali menatap mataku dengan tajam.

Well, itu pertanyaan mudah. Aku datang ke tempat ini dan sibuk bergeliat dengan pemikiranku sendiri.”

“Seperti saat ini?”

“Tepat. Seperti saat ini.”

Jawaban pendekku diresponsnya dengan melangkah cepat ke lorong sebelumnya dan kembali lagi sembari menenteng buku Orientalism karya Edward Said. Ia memilih duduk di depanku. Tersenyum simpul, gerak bibirnya tampak sekali dipaksakan.

“Seperti buku ini? Kalau kau sudah membacanya.”

Aku memilih diam.

Bisakah ia diam barang sejenak dan menutup mulutnya? Aku sedang berusaha menumpahkan isi otakku untuk menyelesaikan cerpen yang telah kugumuli sejak seminggu lalu. Bahkan ketika ia datang, pikiranku mulai buyar.

“Orang tuaku menyuruhku menelan obat-obatan yang diberikan dokter langganan kami. Aku bahkan diminta untuk menemui seorang psikiater dan menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti anak bodoh yang tidak tahu apa-apa. Keadaanku baik. Aku takut. Sebenarnya demikian. Teman-teman seangkatanku mengatai aku tuli dan bisu. Kau adalah saksi. Buktinya aku bisa mendengar ucapanmu sekarang. Aku hanya tidak ingin merespons mereka. Membicarakan hal-hal yang tak kumengerti.” Telinga kanannya spontan bergerak ketika ia selesai bicara. Kulihat itu sebagai hal yang wajar pada awal ia bertanya, tapi pandanganku berbalik seratus delapan puluh derajat setelah tiga kalimat berikut yang ia lontarkan. Kupikir hanya 22% orang di planet ini yang masuk kategori istimewa dapat melakukannya.

Hikikomori. Berapa lama kau melakukannya?” Tanpa bertanya lebih jauh aku langsung tahu orang seperti apa laki-laki itu.

“Enam bulan. Teman dunia mayaku yang paling mengerti. Perbincangan kami sangat menyenangkan. Ia terbuka dan sepertinya mirip denganku. Kami berbicara tentang game, buku-buku penulis klasik, hingga warna kesukaan.”

“Aku pernah. Dulu. Menjadi diam bukan berarti abnormal.” Aku suka anak ini. Ia sepertinya bisa mengenali sifat seseorang, makanya ia menjadi orang pertama yang melontarkan pertanyaan.

“Sejak kapan dan mengapa?” tanyanya penasaran.

Aku membolak-balik buku yang tengah kupegang dan mencium aroma buku itu. Kebiasaan. Matanya lurus menatap mataku. Seperti sebelumnya. Sempat kulihat rasa ragu, alih-alih penasaran, karena keningnya berkerut dua lipatan. Gerak telinganya sarat makna, saat bergerak naik tiga kali artinya ia sedang penasaran dengan lawan bicaranya.

Book sniffer,” katanya. “Kau sangat mirip denganku.”

“Yup, bibliognost,” aku tersenyum membalasnya.

“Aku hampir dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Padahal aku normal. Aku mandi tiga kali, kadang lima kali sehari. Makan tepat waktu. Bahkan memiliki seorang teman. Ia mengkhianatiku. Membicarakan kejelekanku di belakang dan menikamku pelan-pelan dengan mulut buasnya. Aku memang autis. Tapi aku normal. Mereka bilang keaktifanku melebihi batas kewajaran manusia. Mengurung diri dengan membaca buku dan terkadang berbicara sendirian. Hingga tanggal 23 November 2017. Aku ingat sekali tanggal bersejarah  itu. Pisau dapur yang sering digunakan Mama untuk memotong sayur kugunakan untuk mengukir tangan kananku. Menurutku itu keren. Agar berbekas dan tidak mudah hilang. Tato. Bukan hanya itu saja. Kulakukan hal yang sama pula pada bagian bawah leherku. Mengukir mockingjay bird,” aku menjelaskan, diakhiri dengan tawa terpaksa. Kulihat barisan giginya seperti pertama kali dilepaskan dari ruang mulutnya yang terkunci setelah sekian lama. Ia tersenyum lebar sekali.

“Kau menarik. Merci pour l’ecoute,” ucapnya mengakhiri percakapan kami.

/2/

Seminggu kemudian, pada waktu yang sama aku kembali lagi ke tempat kami pernah berbincang. Aku menunggunya. Namun, sampai jam perpusatakaan tutup, ia tak kunjung datang. Keesokan harinya aku mencari kamus bahasa Prancis untuk menambah kosakata berbahasaku karena tuntutan bacaan yang tengah kuselami belakangan ini. Aku membaca dan terus membaca sampai penjaga ruang perpustakaan yang menurutku sudah bosan melihat wajahku ini menghampiriku dan mengatakan bahwa ia sangat senang karena melihatku menjadi pengunjung setia ruangannya. Ia kesepian karena banyak pembaca lebih tertarik dengan ruangan lain yang terisi bahan bacaan yang lebih populer pada masa kini, atau karena ruangan ber-AC yang sejuk itu lebih cocok untuk dijadikan tempat bergosip. Si bapak tua bahkan ingin sekali memberikan hadiah buku untukku dan laki-laki itu—ia sengaja tidak menyebutkan nama—yang telah setia menemaninya hari demi hari.

Aku bertanya seberapa sering laki-laki itu datang ke tempat ini. Ternyata ia adalah pengunjung setia sebelum diriku. Tanpa kusadari, tanpa sepengetahuanku, kami bisa saja berada di dalam ruangan yang sama seharian penuh tanpa pernah saling mengenal atau bertegur sapa. Baru hari itu aku tahu, ia bahkan sempat bertanya pada penjaga perpustakaan itu mengapa aku suka sekali membuka kamus bahasa Prancis.

/3/

Kami bertemu lagi di toko buku tunggal di kota kami. Kebanyakan anak muda lebih senang berada di mal-mal besar atau hangout di kafe atau restoran yang mempunyai desain interior dan eksterior yang bagus dijadikan instastory sehingga toko buku itu tampaknya sedang menuju kebangkrutan. Aku membeli buku mengenai dasar-dasar komunikasi politik karena tugas kampus. Aku melihat laki-laki itu. Aku mengenalinya. Telinga kanannya bergerak. Sempat kuhaturkan senyum paling tulus untuk orang yang baru dua kali kutemui itu. Ia memalingkan mukanya seolah kami tidak saling kenal.

“Hai, bibliognost.”

“Halo,” sahutnya singkat.

“Kau mengingatku? Perpustakaan?”

“Ah, aku rasa aku pernah mengenalmu sebelumnya setelah kau menegurku dengan istilah itu.”

Kami bertemu lagi dan tidak saling mengenal. Atau dunia kami memang bergerak saling menjauh—untuk alasan yang tak sepenuhnya kami sadari?***


Danya Banase, suka baca cerpen dan pencinta travelling. Berdomisili di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Bergiat di Komunitas Sastra Dusun Flobamora.

Cerpen

Kupu-Kupu di Atas Ranjang

Cerpen Priyo Handoko

Kamu membangunkan aku dengan sentuhan sayapmu saat pagi mulai terasa hangat-hangat kuku. Tak jelas bagaimana kamu bisa masuk ke rumahku. Tubuhku sampai membeku. Aku sama sekali tidak mengenalmu. Kamu memintaku dengan sedikit memaksa agar mau menjahit sayap sebelah kananmu yang robek dan mulai melayu.

Sayap yang sungguh aneh. Sudah sering aku membaca cerita atau melihat gambar peri-peri mungil bersayap yang tinggal di hutan. Cuma seingatku tak ada yang bentuk sayapnya seperti sayapmu. Bentuknya bulat sempurna dengan bulu-bulu biru serupa mahkota bunga di kedua ujungnya. Satu lagi, kamu tidak mungil. Telingamu pun tidak runcing memanjang ke atas. Penampilan fisik kita tak terlalu jauh berbeda. Hanya, aku laki-laki dan kamu perempuan.

Kulihat ada cairan kental yang merembes keluar dari robekan sayapmu. Mungkin itu darah. Warnanya putih. Aku jadi teringat cerita tentang Yudistira. Seorang ksatria Pandawa yang tingkat keikhlasannya tiada tara.[1] Dewa pun menganugerahinya darah berwarna putih. Darah yang tak membawa perih ketika kulit tubuh terluka. Sungguh ingin kubertanya, apa kamu seperti Yudistira? Tapi, aku tak berani menanyakan itu kepadamu.

Kepalamu mulai bergerak sesaat setelah aku selesai menjahit robekan sayapmu dengan benang berwarna hitam. Bibirmu bergetar. Pasti menahan perih yang teramat sangat. “Maaf, aku tak punya obat bius untuk meredam rasa sakitmu. Untungnya, katamu, benang apapun bisa kupakai untuk menjahit lukamu. Kalau saja kamu mau ke rumah sakit.”

Tiba-tiba aku melihat kembali getaran itu. Getaran tubuh yang menyiratkan rasa sakit. Tanpa sadar mataku ikut bergetar. Benar-benar menahan perih yang teramat sangat. Sudah tiga puluh delapan jam, aku sama sekali tidak sempat tidur. Dan, tadi belum genap satu jam aku menikmati ketidaksadaran yang sangat menyenangkan itu.

Suaramu terdengar lirih ketika mengucapkan terima kasih. Suaramu bertambah lembut ketika meminta maaf setelah tahu kehadiranmu mengganggu tidurku. “Tak apa, jawabku, “Sekarang lebih baik kamu istirahat dulu. Aku sebenarnya sangat ingin mendengar semuanya, tapi ceritanya nanti saja. Kamu aman di sini. Aku mau tidur lagi.”

“Jangan tidur dulu. Temani aku,” katamu, sambil memandangku dengan mata berkaca-kaca. Dongkol karena kepala yang kian menebal dan pusing, spontan aku menjawab dengan nada suara tinggi. “Pokoknya aku mau tidur di kamar sebelah. Aku sudah tidak tahan.”

“Tolong jangan tidur dulu,” kembali bisikmu. Kamu mulai menangis. Emosiku tambah tak keruan. Sebelum aku beranjak, dengan cepat kamu meraih tanganku dan menggenggamnya.

“Jangan pergi. Jangan tinggalkan aku sendirian di kamar ini. Silakan rebah di sebelahku atau di mana pun yang kamu mau. Tapi, tolong jangan tidur. Aku mohon, jadilah teman bicaraku. Jaga aku agar tidak terlelap selama darah masih merembes dari celah luka ini. Sebab, itu akan membunuhku.”

Kali ini aku tak kuasa menolak permintaanmu, walau kedua mataku sebenarnya juga sudah tak kuasa untuk terus dipaksa terjaga. Aku bingung, tapi kuhampiri juga kamu. Kemudian duduk di ranjang tepat di sebelahmu. Sesaat aku merenungi nasibmu kini, mungkin juga nasibku beberapa puluh jam yang lalu.

Aku meringis. Ternyata ada persamaannya. Kita sama-sama sempat menjadi takut dengan tidur. Kamu tak boleh tidur selama sayap itu belum sembuh. Entah apa sebabnya. Karena jika tertidur, itu berarti kematianmu. Sementara aku, selama tiga puluh delapan jam yang lalu juga tak boleh tertidur. Ada setumpuk laporan yang harus aku selesaikan, karena sudah masuk deadline. Jika sampai tak selesai, aku akan dipecat dari kantor dan karier yang telah aku rintis selama sepuluh tahun akan hancur. Bagiku itu juga kematian.

Kamu tersenyum mendengar ceritaku. Aku juga sudah mulai merasa agak nyaman dengan kehadiranmu. Entah dari mana mulanya, namun seperti terhipnotis, lapis demi lapis sinopsis kehidupanku mengalir membanjiri udara kamar ini. Sementara kamu, hanya diam mendengarkan dengan penuh perhatian.

Tak lama, aku sampai kepada cerita tentang istriku yang kini sedang menempuh S2 di Belanda. Terakhir dia pulang ke rumah ini sekitar enam bulan lalu, sekalian mengumpulkan data-data penelitian untuk keperluan tesis yang sedang dia kerjakan. Tak lupa aku juga bercerita tentang Soka dan Modya yang sejak kemarin sore bersama neneknya pergi ke Batam untuk mengisi waktu liburan mereka.

Modya berusia sepuluh tahun, sedangkan adiknya Soka enam tahun. Benang yang kupakai menjahit luka itu milik si sulung yang biasa dia pakai untuk bermain layang-layang. Praktis di rumah ini, kini aku sendirian. Mbok Rah, pembantuku, kebetulan sedang pulang kampung. “Lantas luka di sayapmu itu karena kecelakaan?” tanyaku sambil kembali memeriksanya.

“Bukan kecelakaan, tapi serangan.”

“Astaga! Diserang siapa? Pelakunya sudah ditangkap? Mereka tidak mengikuti jejakmu ke rumah ini kan?” tanyaku penuh khawatir. Aku tidak mau sampai terlibat dalam masalah yang tidak aku pahami.

“Justru mereka sama sekali tidak merasa sebagai penjahat. Bagi mereka, apa yang dilakukan adalah perjuangan yang direstui Tuhan.”

“Aku tidak mengerti.”

“Ini memang teramat sulit untuk dimengerti.”

Ceritamu berlanjut. Pagi tadi, kamu sedang menikmati cappuccino di kafe hotel terbesar di utara kota ini. Tak ada firasat buruk sebelumnya. Tiba-tiba terdengar ledakan keras beserta guncangan dahsyat. Asap menumpuk melahirkan cendawan besar. Semua orang jatuh rebah ke tanah. Kaca-kaca gedung pecah. Segalanya menjadi berantakan lalu hening. Dua detik, tiga detik, dan pada detik selanjutnya mulai terdengar riuh jerit dan tangis kesakitan.

“Sekelilingku banyak korban, termasuk aku. Tentu saja, aku harus langsung pergi. Tidak boleh ada orang yang menyadari kehadiranku. Termasuk, kamera fotografer atau televisi. Tapi, karena sayapku robek, aku tidak bisa pergi jauh.”

Aku hanya diam mendengar ceritamu. Mencoba untuk memahaminya. Aku menatapmu. Kamu ternyata sudah menatapku terlebih dahulu. Aku menunduk. Tak kuasa melihat matamu yang mendadak menjelma gerhana matahari. Sesaat kurasa gelap. Mataku tak bisa menangkap cahaya.

Akhirnya, kubiarkan jemari tanganmu menggapai jemari tanganku. Membimbingnya pelan ke pipimu setelah sempat melewati belahan dada dan celah bibirmu yang berembun. Jemariku dan sekujur tubuhku bergetar. Pelan-pelan, kucium keningmu yang putih bersih dan dingin bagai bengkoang.

“Aku ngantuk. Sangat mengantuk,” kataku.

“Aku juga. Cepat cium aku. Buat aku terus terjaga,” sahutmu dengan panik.

Puluhan menit pun meluncur dengan cepat dan tahu-tahu hening. Hanya desah napas kacau yang terdengar sesekali. Di luar langit sudah sangat terang. Aku merasa telah melakukan pengkhianatan besar.

Nada panggil ponselku tiba-tiba berbunyi. Aku agak kaget dan merasa bersalah setelah tahu itu panggilan dari istriku. Aku ambil ponselku yang kuletakkan di atas meja dan kembali duduk di bibir ranjang.

“Halo, Sayang. Ada apa?”

“Syukurlah, kamu ternyata masih di rumah. Aku benar-benar khawatir.”

Kudengar suara tangisan pelan. Dingin segera merambat cepat ke sekujur tubuhku. Hatiku serasa diiris-iris. Aku cemas sesuatu telah terjadi padanya di sana.

“Memangnya kenapa?”

“Kamu belum lihat berita TV?”

Aku terbatuk beberapa kali sebelum menjawab. Tenggorokanku mendadak serasa diserang kemarau. “Belum, seharian ini aku di rumah. Tidur. Sebenarnya siang ini aku berencana pergi ke kantor untuk menyerahkan laporan yang sudah selesai kukerjakan. Tapi, aku masih terlalu lelah.”

“Kamu harus bersyukur sayang. Ibu dan anak-anak barusan menelepon dari Batam. Kata mereka, ada bom berkekuatan besar barusan meledak di halaman depan gedung kantormu. Mereka lihat di TV. Semuanya berantakan dan banyak jatuh korban. Ini adalah bom kedua yang meledak di kota kita sejak tadi pagi. Yang pertama, di kafe hotel tempat kita menginap menyambut pergantian tahun. Untung kamu tidak ada di sana.”

Aku tertegun mendengar apa yang disampaikan istriku. Dalam sehari ada dua bom yang meledak. Salah satunya, di halaman gedung perkantoranku, tower berlantai 50. Jika tadi aku sudah berangkat ke kantor, mungkin saja aku ikut terdata di daftar nama korban. Tengkukku merinding. Berarti, peri bersayap yang sekarang bersamaku adalah korban dari ledakan bom yang pertama. Aku melirik ke kasur. Tidak ada siapa-siapa. Mungkin dia sedang ke kamar mandi.

“Ibu dan anak-anak sangat khawatir dan sudah mencoba menghubungimu. Mungkin karena sedang tidur, kamu tidak dapat mendengar nada panggil di ponselmu. Kamu harus segera menelpon mereka setelah ini.”

“Iya, mereka pasti akan segera aku telepon.”

“Aku kangen kamu. Tadi aku bermimpi. Kita berhubungan. Begitu agresif, polos, dan meledak. Rasanya seperti malam pertama kita dulu. Anehnya kita melakukan itu di atas tubuh seekor kupu-kupu raksasa yang terbaring menutupi ranjang.”

Isi dadaku kembali berdetak tak karuan. Benar kata orang, kalau naluri perempuan memang sangat sensitif. Mereka tidak bisa dibohongi. Mereka selalu tahu, tetapi sering berlagak tidak tahu untuk menjaga perasaan kita, para laki-laki. “Kamu jangan aneh-aneh. Bersabarlah. Minggu depan kamu harus pulang ke tanah air. Kamu tidak lupa dengan hari ulang tahun Soka, kan?”

“Aku pasti pulang untuk Soka, Modya, ibu, dan tentunya kamu. Aku sudah kangen dengan harum tubuhmu. Tesisku juga sudah selesai dan sekarang sedang dipelajari lagi oleh dosenku. Tapi, aku tak mau di ranjang kita ada kupu-kupu raksasa.”

Istriku tertawa. Aku juga ikut tertawa. Aku tahu dia cuma bercanda. Aku maklum dia bermimpi. Tapi, aku sama sekali tidak sedang bermimpi. Benarkah? Untungnya, pembicaraan berakhir. Ponsel kututup. Aku segera menoleh ke belakang, tapi kamu tetap tidak ada. Yang kutemukan hanya beberapa helai bulu lembut berwarna biru yang menempel di bantal, guling, selimut, dan sprei lusuh. Pelan kuberbisik, terima kasih atas segalanya buat kamu yang namanya pun tak sempat aku tanyakan. Mudah-mudahan kamu cepat sembuh. Sekarang semuanya harus segera aku bersihkan, karena istriku akan pulang. ***


Priyo Handoko, mantan jurnalis (2006-2018), kini menjadi komisioner KPU Provinsi Kepulauan Riau, kampung halamannya. Karyanya tersebar di pelbagai media.


[1] Dikutip dari buku Jiwo J#ncuk karya Sujiwo Tejo.