Cerpen

Pasar Malam

Cerpen Eko Setyawan

“Kau tak ingin pulang barang sebentar untuk menilik ibumu?”

“Tidak untuk kali ini.”

“Mengapa?”

“Aku tak punya bekal untuk ke sana.”

Jalanan riuh dengan lalu-lalang kendaraan. Ia masih duduk di bangku taman dan menikmati deru motor dan mobil yang berseliweran. Gelap mulai turun dari langit. Matanya menatap jauh. Menerawang entah ke mana. Tatapannya kosong tanpa ada tujuan. Ia melamun memikirkan percakapan dengan kekasihnya. Lebih dari itu, ia sedang memikul beban di pundaknya, bahwa ia harus segera pulang. Menemui ibunya yang sedang sakit.

Ibu Jatmika sakit. Ia tak bisa menengok barang sebentar. Paling mentok hanya bisa mengirim uang. Itu pun tak seberapa jumlahnya. Di Jogja, ia sedang berusaha merampungkan kuliahnya dan berupaya mengumpulkan uang dari bekerja paruh waktu di kafé tengah kota. Jika dipikir itu cukup, maka salah besar. Uang itu habis dalam waktu sekejap. Untuk makan, membayar sewa kamar kos, juga memenuhi kebutuhan lain yang bisa dibilang tak membutuhkan banyak uang; fotokopi atau mencetak tugas kuliah.

Jatmika sendiri sebenarnya ingin segera pulang. Menemui ibunya dan memeluk dengan erat. Tapi apa boleh buat, keinginannya itu harus ditahan selama mungkin. Dipendam dalam rasa ingin yang terus bergolak. Serupa teror yang menakutkan dan selalu terngiang di kepala. Memburu tiada henti di dalam kepala. Sebuah pertemuan akan terlaksana jika ada niat dan yang paling utama adalah bekal. Karena pertemuan tanpa bekal berarti serupa masakan yang dihidangkan tanpa bumbu. Hambar dan tak dapat dinikmati. Begitulah rumitnya keinginan dan segalanya harus dipendam sedalam mungkin. Mengubur harapan dan keinginan yang lahir di dalam kepala.

“Kau tak ingin minum? Akan kubelikan,” kata Marina.

“Tidak. Lebih baik kau di sini saja menemaniku,” jawab Jatmika dengan asal. Lamunannya buyar seketika.

Di taman itu, mereka duduk berdua. Langit mulai meremang, pertanda malam mulai mengintip mereka. Tak jauh dari sana, di lapangan yang dekat dengan kantor bank sedang digelar pasar malam. Sebuah perayaan kecil untuk manusia yang sedang merindukan dan memerlukan kebahagiaan. Di pasar malam, banyak hal yang diciptakan oleh manusia. Bahkan sebuah kebahagiaan pun diciptakan dan senjaga dijajakan kepada manusia lain.

“Aku sudah lama sekali tidak mengunjungi pasar malam. Apa kau tak ingin ke sana?” tanya Jatmika pada kekasihnya itu.

“Ya. Tentu saja,” Marina mengiyakan. Diikuti langkah kaki mereka berdua menuju pasar malam.

Langkah kaki mereka berkejaran. Tak pernah bisa berbarengan. Menandakan suatu takdir yang harus diterima, bahwa cara berjalan tak lain adalah takdir manusia. Ketika bergerak bersama, maka akan lebih menyulitkan untuk berkembang. Selalu ada yang saling mendahului antara kedua kaki. Langkah kaki menunjukkan cara belajar yang paling sederhana, bahwa sebuah usaha untuk maju haruslah mengikhlaskan dan merelakan salah satu berjalan lebih dulu.

Sesampainya di sana, Marina mengajak Jatmika membeli arum manis. Aroma arum manis selalu menahan setiap hidung yang menghirupnya. Entah mengapa hal itu bisa terjadi dan selalu saja berulang. Arum manis menerbangkan manusia dewasa pada masa kekanak yang membahagiakan.

“Sebaiknya kita beli dua untuk masing-masing atau cukup membeli satu untuk berdua?” tanya Marina dengan centil. Sebuah pertanyaan basa-basi yang digunakan untuk membuka percakapan. Sebab tentu saja jawabannya sudah diputuskan oleh dirinya sendiri, yakni mereka akan membeli satu bungkus arum manis yang ukurannya besar dan akan mereka nikmati berdua.

Naluri Marina sebagai perempuan begitu kuat. Ia merasa ada yang aneh dengan Jatmika. Ya, kekasihnya itu sangat kaku dan tidak seperti biasanya, seperti ada hal yang begitu berat dipikirannya. Marina melihat kening Jatmika mengerut dan senyum terpaksa. Perempuan tahu bagaimana perasaan lelaki. Bahkan terkadang, ia malah lebih paham dari diri lelaki sendiri. Intuisi seorang perempuan adalah intuisi seorang ibu. Dari hal itu semua orang tahu bahwa seorang ibu memahami apa yang ada dipikiran suami dan anak-anaknya. Jadi jika ada perempuan yang tak memahami hati seorang lelaki, maka pantas dipertanyakan sifat keperempuannya.

“Kau kenapa?” tanya Marina. Jatmika terkaget mendengar pertanyaan yang memecah lamunannya itu.

“Kalau sedang di pasar malam begini, aku selalu mengingat ibuku.” Jatmika menjawab datar dan sedang mencoba berpikir untuk memberikan pilihan jawaban yang dirasanya tidak salah jika terdengar Marina.

“Apa karena pertanyaanku di taman tadi?” Marina merasa bersalah. Ia mencoba menyakinkan diri bahwa memang dialah yang membuat Jatmika seperti itu.

Mereka berdua berjalan menjauhi penjaja arum manis. Menyibak kerumunan manusia yang tumbuh serupa jamur di musim penghujan. Marina memutuskan untuk mengajak Jatmika duduk di dekat bianglala. Banyak orang di sana, tapi tidak duduk melainkan memilih berdiri untuk mengantre menaiki roda besar yang berputar di ketinggian itu. Sebagian lagi, segerombol keluarga menunggu bagian dari keluarga mereka yang sedang hanyut ditelan roda-roda raksasa itu. Ibu menunggu suami dan anaknya, nenek menunggu anak dan cucunya, dan segerombol lelaki yang sedang memandangi wanita-wanita yang mereka anggap berpotensi untuk mereka dekati.

Segalanya hanyalah pelengkap bagi Marina dan Jatmika. Tidak ada kebahagian yang dapat diciptakan oleh orang lain. Segala kebahagian adalah bagi mereka yang berani melahirkannya sendiri. Kebahagiaan terlahir dari buah perjalanan yang tak menjemukan. Segalanya bisa direalisasikan dengan cara yang berbeda tiap manusia dan manusia yang lain. Tak ada kesamaan. Setiap manusia adalah penguasa penuh bagi dirinya sendiri. Dengan kata lain, manusia adalah tuhan bagi dirinya sendiri.

Tentu saja hal ini tidak bertujuan untuk menyombongkan diri atau melebihi kekuasaan dan kehendak Tuhan. Hal itu tak lain adalah jalan yang sudah dirancang sedemikian rupa. Bahwa dalam tujuan penciptaan manusia, Tuhan memberikan kekuasaan penuh bagi manusia untuk memilih jalannya sendiri. Itu bukanlah hal yang melanggar, tetapi sudah digariskan. Kita tidak bisa memilih takdir, tapi dapat menentukan jalan.

“Apakah di pasar malam ini ada yang menjual bintang?” tanya Jatmika pada Marina. Ia mengulangi pertanyaan ibunya dulu. Hal itulah pertanyaan yang dari tadi mengusik pikiran Jatmika.

Ibu Jatmika pernah menanyakan hal itu padanya. Pada saat itu − ketika Jatmika baru saja masuk SD− bapaknya belum lama pergi dan tidak ia ketahui tujuannya. Ibunya hanya bilang jika bapaknya sembunyi dari kejaran orang-orang yang katanya mempertahankan negara. Dengan dalih itulah bapaknya memutuskan pergi dari rumah. Tapi saban ibunya menceritakan hal itu, selalu saja diiringi isakan dan berakhir dengan mata sembap.

Seperti ada yang tidak beres dari cerita yang meloncat dari mulut ibunya. Tetapi hal itu baru disadari Jatmika ketika sudah masuk ke perguruan tinggi. Kedewasaanlah yang mengajarkan dan menurunkan kesadaran itu. Bapaknya telah diculik oleh orang-orang utusan pemerintah. Atau paling buruk, ia tahu nama orang-orang itu dengan sebutan Petrus. Memang, hal itu ia tahu dari beberapa mulut yang pernah mengabarkan hingga sampai di telinganya.

Jatmika membuat kesimpulannya sendiri; bahwa bapaknya hilang diculik oleh orang-orang Petrus, dan yang paling buruk adalah bapaknya mati dan jasadnya entah dikuburkan di mana. Dan tentu saja yang paling buruk, bapaknya dibuang di tengah belantara hutan dan tidak ditemukan kembali. Semua tetangganya tahu itu. Dulu, kata mereka, bapak Jatmika adalah orang yang menguasai parkir Pasar Kliwon. Ia memeroleh uang dari sana. Selain itu, bapak Jatmika juga meminta jatah pada pedagang pasar. Tak banyak memang, tetapi meminta dengan memaksa. Jika boleh dikatakan dengan sejujurnya, bapak Jatmika memalak pedagang pasar.

Tapi hal itu tidak dipedulikan Jatmika. Yang ia tahu, kini ia hanya hidup bersama ibunya. Ia hanya berpikir cara bagaimana agar dirinya dapat menyelesaikan kuliah dan dapat mengirimkan uang ke ibunya yang sudah sepuh.  Bapaknya tak pernah kembali lagi setelah pertanyaan terakhir ibunya di pasar malam. Pertanyaan tentang apakah di pasar malam menjual bintang. Kini pertanyaan itu dilemparkan pada Marina. Dengan pertanyaan yang sama. Tanpa menambah dan mengurangi.

“Apakah di pasar malam ini ada yang menjual bintang?” Jatmika mengulangi pertanyaannya pada Marina, kekasihnya kini yang berada di tempat yang jauh dari ibunya.

“Apa kau mengigau?” Marina terheran dengan pertanyaan itu.

“Kuharap ada yang menjual bintang di pasar malam,” kata Jatmika dengan sebongkah harapan, “aku ingin membelinya lantas memanjatkan harapan agar bapak kembali. Begitulah yang kurasakan ketika ibuku mengajukan pertanyaan itu padaku. Dan kini aku menginginkannya juga. Ingin bertemu bapak dan juga mengunjungi ibu.”

***

EKO SETYAWAN, lahir di Karanganyar, 22 September 1996. Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UNS. Bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Kumpulan puisinya berjudul Merindukan Kepulangan (2017). Karya-karyanya tersiar di media lokal dan nasional. Surel: [email protected]

Redaksi ideide.id memberikan honorarium kepada penulis yang karyanya dimuat meskipun tidak banyak.
Kirim karyamu sekarang juga di SINI

Film, Resensi

Film KTP: Suara dari Kaum Klasik

Oleh: Bima Widiatiaga

Raut muka Darno, petugas dari kantor kecamatan, tampak bingung saat Mbah Karsono menjawab agamanya Kejawen. Di blangko formulir data KTP yang dibawa Darno, tak ada kolom agama Kejawen. Dia pun menawari Mbah Karsono memilih opsi agama yang ada di dalam kolom formulir, yaitu Islam, Kristen, Katolik, atau Konghucu. Mbah Karsono tetap teguh tak mau. Bahkan, hingga dibujuk oleh tetangga, Nunung, Mbah Karsono tetap enggan sambil menunjuk jarinya ke atas dan berucap ‘manunggaling kawula gusti’.

Bukan tanpa maksud Darno rela datang ke gubuk Mbah Karsono dengan menempuh jalan desa yang masih berbentuk rabat beton. Ia ditugaskan untuk mendata Mbah Karsono untuk pembuatan KTP. Adanya KTP sangat penting agar Mbah Karsono mendapatkan Kartu Sehat.

Darno dan Nunung pun bingung, berbeda dengan raut muka Mbah Karsono yang tetap kalem. Nunung pun akhirnya meminta pendapat Pak RT, Pak Karso (Ketua Badan Musyawarah Warga), hingga Mbak Sumirah, Mbokde Narti, Joni, Susi Parabola, dan Mbak Sri Krebo.

Warga pun akhirnya bersepakat bahwa urusan Kartu Sehat, Mbah Karsono tak harus dapat. Alasannya, warga Desa Rojoalas menghormati kepercayaan Kejawen Mbah Karsono. Warga dan Mbah Karsono tak mau karena hanya sekadar benda berbentuk kartu, kepercayaan pun tergadaikan. Sebagai konsekuensinya, warga rela menanggung biaya kesehatan Mbah Karsono bila-bila Mbah Karsono jatuh sakit nantinya.

Itulah ringkasan singkat film pendek berjudul KTP. Film ini disutradarai oleh Bobby Prasetyo dan diproduksi oleh ASA Film. Kisah menarik dan jenaka berselimut kritik tersebut, berbuah Juara I Kategori Umum Festival Video Edukasi (FVE) 2016 yang diadakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud).

Ya, film pendek tersebut bila disaksikan dapat mengocok perut penonton. Namun, di balik kisah jenakanya, terbalut sebuah suara kritik. Ada dua kritik di film tersebut, pertama, tentang birokrasi masih belum sepenuhnya memecahkan masalah. Hal ini bisa kita lihat di kenyataan dalam survei birokrasi pelayanan publik dari Lembaga Klimatologi Politik (LKP) di bulan November 2015, satu tahun dari jangka waktu film pendek ini ikut kompetisi. Masih ada sekitar 10,5% responden survei yang beranggapan buruk mengenai birokrasi pelayanan publik. Memang, jumlah tersebut turun dari waktu ke waktu, namun hal ini harus tetap dibenahi oleh pemerintah.

Namun, kritik sebenarnya yang disuarakan oleh film pendek KTP, menurut hemat saya adalah kritik soal kolom agama di KTP. Mbah Karsono gagal dapat KTP karena di kolom agama, tidak dapat opsi agama Kejawen. Opsi agama yang ada hanya enam agama yang katanya merupakan agama yang diakui oleh negara? Benarkah secara hukum formal, negara hanya mengakui enam agama?

Menurut Anick HT, Direktur Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), melalui bbc.com/indonesia/, tak satupun undang-undang yang secara tegas menyebut agama-agama yang dianggap resmi dan diakui negara. Menurutnya, satu-satunya peraturan yang menyebutkan nama-nama agama yang dianut rakyat Indonesia hanyalah Penetapan Presiden Republik Indonesia Nomor 1/PNPS Tahun 1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama.

Teka-teki tersebut terjawab di penjelasan Pasal 1 Penpres tersebut. Enam agama yang lazim kita dengar sebagai agama yang diakui oleh Pemerintah, menurut penjelasan Pasal 1 menyebutkan “agama-agama yang dipeluk hampir seluruh penduduk Indonesia”, tidak ada penyebutan “agama yang diakui oleh pemerintah”. Dalam penjelasan Pasal 1 tersebut juga dijelaskan bahwa penduduk yang memeluk agama selain enam agama mayoritas di Indonesia, mendapat jaminan penuh seperti yang diberikan oleh Pasal 29 ayat 2 UUD 1945. Artinya, untuk Mbah Karsono dan penduduk lain yang bernasib sama seperti Mbah Karsono juga mendapat jaminan, termasuk jaminan administrasi, yaitu pengisian agama yang dianutnya di kolom agama KTP di luar enam agama mayoritas.

Suara Mbah Karsono di dalam film pendek KTP dan penduduk lain, khususnya penganut penghayat kepercayaan dan agama selain enam agama mayoritas, akhirnya didengar oleh badan yudikatif, yaitu Mahkamah Konstitusi (MK). Tanggal 11 November 2017, menjadi hari bersejarah bagi kaum yamg memperjuangkan hak kesetaraan, khususnya di bidang administrasi penduduk. MK mengabulkan suara mereka, meski di kolom agama di KTP, hanya ditulis “penghayat kepercayaan”, namun itu sudah cukup membuat lega para penganutnya.

Sebelumnya, hanya Kementerian Pendidikan Kebudayaan (Kemdikbud), yang mengakui bahkan turut membina kelompok penghayat kepercayaan yang jumlahnya mencapai 187 di seluruh Indonesia. Pun di beberapa tahun terakhir, Kemdikbud memfasilitasi anak-anak penghayat kepercayaan yang bersekolah untuk mendapat fasilitas pengajaran mata pelajaran kepercayaan yang dianut. Sebelumnya, mereka ikut pelajaran agama menurut enam agama mayoritas di Indonesia.

Di akhir resensi atau entah berbentuk opini ini, bagi kita yang menganut enam agama mayoritas hendaknya berkaca lagi. Kita mungkin banyak menuntut hak beribadah, seperti menutup jalan raya atau meminta sekompi pengamanan dari aparat keamanan. Namun, bila kita melihat perjuangan para ‘kaum klasik’ yang hanya meminta hak administrasi saja yang mungkin sepele bagi kita, mereka berjuang sampai ke tingkat meja hijau berlarut-larut. Mereka tak minta lebih, cukup diakui dan dijamin segala hal yang membuat mereka tenang menjalani kehidupan sehari-hari dan beribadah. Setelah pemerintah, kita sebagai kawula alit bisa berkontribusi untuk mereka dengan merangkul mereka sebagai bagian dari rumah besar bernama Indonesia. Dan, lewat film pendek KTP, merupakan contoh cara menyuarakan suara mereka serta mengakui dan mengayomi mereka.


Bima Widiatiaga Alumnus Ilmu Sejarah FIB UNS. Penggiat sejarah musik dan kebudayaan Indonesia. Anggota komunitas sejarah Solo Societeit.

Redaksi ideide.id memberikan honorarium kepada penulis yang karyanya dimuat meskipun tidak banyak.
Kirim karyamu sekarang juga di SINI

Buku, Resensi

Menikmati “Sihir” Dea Anugrah

Oleh: Erwin Setia

Dea Anugrah barangkali satu dari sedikit penulis Indonesia yang mampu menulis puisi, cerita pendek, dan esai sama baiknya. Sebelum buku kumpulan esai ini terbit, saya membaca puisi-puisinya dalam Misa Arwah (2015) dan terpikat, saya juga membaca cerpen-cerpennya dalam Bakat Menggonggong (2016) dan terpikat. Kemudian saya membaca esai-esainya dalam Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya (2019) dan terpikat. Seolah-olah penulis muda alumnus Filsafat Universitas Gadjah Mada ini menyisipkan semacam sihir di setiap tulisannya.

Namun kini bukan lagi zaman Firaun dan tulisan-tulisan Dea bukanlah sihir juga bukan tongkat Musa. Sedikit mirip—mengagumkan dan membuat takjub—tapi bukan.

Sekelumit esai dan reportase yang tercantum dalam buku tipis bersampul foto penampakan seperti gudang yang berantakan dengan latar hitam ini, terlihat betul dibuat secara sungguh-sungguh. Himpunan data yang meyakinkan, gaya penulisan subtil dan cakap, pemilihan kata yang selektif, dan bagaimana penulis menyisipkan gagasan-gagasannya soal hidup tanpa tampak menggurui.

Dalam esai “Bersantai di Komering, Kabar Burung dari Pasundan” dan “Billiton Maatschappij dalam Pusaran Sejarah” misalnya. Pada esai pertama yang berisi tentang asal mula pelbagai kata, istilah, dan isu seputar Bahasa Indonesia, penulis tampak serius dan ulet dalam mencari dan mengumpulkan data. Bukan hanya dari buku; kamus, majalah lama, jurnal, puisi, sampai status Facebook pun dijadikan acuan untuk mendukung dan memperkuat tulisan. Sedangkan pada esai kedua yang menyerupai catatan sejarah sangat-ringkas mengenai Belitung, penulis menyuguhkan banyak sekali hasil penelitian, tanggal-tanggal penting, penjelasan-penjelasan bahasa Pinyin, dan sebagainya.

Sementara dalam beberapa esai lain semisal “Terbenam dalam Waktu yang Hilang”, “Para Pembunuh Anak-Anak”, dan “Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya” Dea seperti seorang sufi yang sedang menyamar sebagai peranakan Tionghoa dan menjadikan kata-kata sebagai medium mengajak umat manusia untuk merenung.

Pada tulisan pertama yang berbentuk serupa cerita pendek, penulis mengisahkan perjalanannya ke Pulau Biawak dengan manis. Alih-alih mengeksplor suatu tempat seperti sales menawarkan barang jualannya, penulis menjadikan laut, perahu, dan mercusuar yang terdapat di tempatnya berkunjung sebagai sarana merenungi dan mengenang banyak hal. “Para Pembunuh Anak-Anak” juga menggemakan gagasan yang nyaris serupa namun dalam bentuk berbeda. Pada esai ini penulis memaparkan betul betapa buruk akibat peperangan, terutama bagi kanak-kanak. “Bukan Tuhan yang membunuh anak-anak. Bukan pula nasib atau takdir yang mencincang dan menjadikan mereka makanan anjing. Kitalah yang melakukannya. Hanya kita.” (hlm. 144).

Sedang dalam “Hidup Begitu Indah…” yang sekaligus menjadi judul buku, kegelisahan tampak menjadi ide pokok. Setidaknya itu terlihat dari cara penulis menceritakan tentang kawan lamanya yang berubah menjadi seorang penganut ajaran ekstrem dan menuduhnya “kafir, vulgar, liberal” : “Saya sedih karena merasa dia terlampau mudah membuang apa-apa yang berharga di antara kami. Saya menyesal karena sayalah yang mendorongnya buat melakukan itu.” (hlm. 174) Selain itu, dalam esai yang sama, kegelisahan dan ‘penyesalan’ tampak tergambar sewaktu penulis menarasikan tentang ibu yang tega mengajak anaknya mengebom diri bersama-sama. “Kalau tak putus asa, dia bisa mengingat-ingat perasaan-perasaannya ketika mendengar kata pertama yang diucapkan putrinya; ketika tahu bahwa dirinya mengandung; ketika jatuh cinta buat pertama kali; dan ketika dia, dengan muka berlumuran bedak, bermain lompat tali dengan kawan-kawannya di teras rumah, sementara ibunya berseru-seru dari dalam: ‘Hati-hati, Nak, hati-hati, jangan sampai jatuh!’ dan bersandar pada semua itu, menyadari bahwa hidup begitu indah dan hanya itu yang dia punya.” (hlm.179)

Selain esai-esai bertabur data dan “renungan” yang ditampilkan secara pas dan tidak menjenuhkan, ada pula sejumlah esai yang mengangkat hal-hal sederhana dan tak banyak orang bahas sebagai ide utama. Misalkan saja “Kebebasan dan Keberanian” yang menceritakan tentang satu barbershop di bilangan Jakarta yang mencukur rambut pelanggan sesuai bentuk muka dan kepala, “Ada Apa dengan Pisang” perihal bagaimana perusahaan pisang berkelas dunia bisa mengganggu dan mengacaukan keseimbangan alam, dan “Mengutuk dan Merayakan Masturbasi” yang secara asik menjabarkan soal aktivitas merancap dan serba-serbinya.

Buku ini sebagaimana buku-buku serupa yang ditulis oleh tangan terampil, masih lebih banyak menyimpan sesuatu yang tak sempat saya tulis dan mungkin sadari. Di dalamnya ada lelucon-lelucon, narasi-narasi sedih, dan hal-hal lain yang membuat saya tergelitik untuk menutup tulisan ini dengan kata-kata yang menjadi tajuk buku: Hidup begitu indah dan hanya itu yang kita punya. (*)

Erwin Setia lahir tahun 1998. Penikmat puisi dan prosa. Kini menempuh pendidikan di Prodi Sejarah dan Peradaban Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media seperti Koran Tempo, Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Minggu Pagi, Solopos, Haluan, Koran Merapi, Litera.co.id, dan Cendana News. Bisa  di Instagram @erwinsetia14 atau melalui surel: [email protected].

Cerpen

Mimpi-Mimpi Erina

Cerpen Ardy Kresna Crenata

Kali ini pun perempuan itu kembali mengenakan kemeja putih. Lehernya yang terbuka lebar jadi terlihat lebih putih, dan semakin lama mengamatinya Erina semakin yakin ia benar-benar menyukainya. Ia bisa mencium bau laut, dan merasakan angin yang datang membawa rahasia ikan-ikan. Ia pun bisa mencecap asin yang berubah pahit di lidah, dan mendengar suara-suara parau yang tersapu dari tempat-tempat jauh. Dan perempuan itu, si perempuan yang tengah duduk di samping pengacaranya yang buruk rupa itu, berada di sana, berdiri di sana, di pantai itu, bersamanya. Erina membayangkan ia dan perempuan itu berdekatan, bersisian, dalam jarak yang membuat mereka bisa menangkap gumaman masing-masing, dalam kesunyian yang membuat mereka bisa mengkhidmati degup jantung masing-masing. Ingin sekali Erina meraih tangan perempuan itu, dan menggenggamnya. Erat. Namun dalam bayangan sekalipun, rupanya ia masih saja sulit melakukannya.

***

Pertama kali Erina menyadari ia menyukai perempuan itu adalah sebelas hari yang lalu. Ia sedang lelah dan malas melakukan apa pun, dan televisi yang dinyalakannya menyajikan sebuah persidangan kasus pembunuhan yang sedang ramai dibahas di mana-mana. Ia bukannya tak tahu apa pun tentang kasus ini; justru, ia tahu cukup banyak sebab sekali waktu, karena kelewat penasaran, ia sempat membaca-baca sejumlah tulisan di media-media daring yang membahas kasus itu. Ia tahu seperti apa akar permasalahannya, siapa-siapa saja yang mungkin terlibat dan siapa-siapa saja yang mungkin dirugikan—atau diuntungkan. Bahkan, yang satu ini adalah kebiasaannya ketika sedang begitu memikirkan sesuatu, ia sempat mencatat beberapa hal penting tentang kasus tersebut di sebuah kertas HVS kosong, dan seperti seorang detektif amatiran ia mencari-cari keterhubungan antara satu hal dengan hal lain, dan mengolah semua itu di dalam benaknya sampai ia tiba pada satu kesimpulan: perempuan itu memang bersalah. Pada saat itu Erina merasakan semacam kepuasan dan ia tersenyum. Tetapi tak lama kemudian, senyumnya itu lenyap. Erina menyadari apa yang baru saja dilakukannya itu tak ada gunanya; ia bukanlah siapa-siapa dalam kasus itu dan penilaiannya sama sekali tak akan mengubah apa pun. Dan begitulah ia memutuskan untuk tak lagi ambil pusing soal kasus tersebut.

Akan tetapi malam itu, barangkali karena Erina sedang kehabisan tenaga sehingga memindahkan channel pun tak juga dilakukannya, hal-hal tentang kasus tersebut kembali bermunculan di hadapannya, dan seperti membuncah menghampirinya. Untuk pertama kalinya ia menyaksikan perempuan itu di sebuah persidangan, dan ia bisa melihat betapa perempuan itu merasa tak nyaman dan terancam. Cara perempuan itu mendekatkan tubuhnya pada si pengacara, bagaimana ia menggerakkan bibirnya yang tebal dan sesekali menutupi dengan tangannya, serta sorot matanya yang selalu redup seolah-olah tak lama lagi akan padam, mengarahkan Erina pada penilaiannya itu. Dulu, saat ia masih tinggal di Jepang, ia pernah begitu menggandrungi serial televisi Amerika berjudul Lie to Me; sebuah film yang mengangkat penggunaan ilmu membaca gestur dan mimik muka dalam penyelidikan suatu kasus kejahatan. Erina melakukan analisis tadi berdasarkan apa-apa yang diingatnya dari menonton serial televisi tersebut.

Sejujurnya Erina tak peduli akan menjadi seperti apa persidangan itu. Kendatipun memang banyak informasi terhantar begitu saja padanya, tidak lantas berarti Erina memikirkannya. Informasi-informasi itu datang seperti kerumunan yang tak dibutuhkannya dan tak membutuhkannya, dan Erina bertahan di posisinya berada seakan-akan kerumunan itu tak berarti apa-apa baginya. Kalaupun ada yang menarik perhatiannya, itu adalah si perempuan tadi. Ya, si perempuan yang menjadi terdakwa di kasus tersebut. Si pembunuh. Erina mendapati dirinya telah cukup lama mengamati si perempuan, dan ia yang semula hanya membaca raut muka dan gerak-geriknya telah tanpa disadarinya mengamati juga tampilan fisiknya. Tulang pipi perempuan itu, misalnya, menurutnya sedikit terlalu menonjol, sementara dagunya lumayan runcing dan rahangnya terkesan maskulin. Perempuan ini diberkahi sejumlah kekurangan, pikir Erina, saat ia memandangi leher perempuan itu yang kurang panjang dan sedikit gemuk. Satu-satunya yang dianggap kelebihan oleh Erina adalah buah dada perempuan itu yang tampak menonjol dan berisi. Agaknya kemeja putih yang dikenakan perempuan itu berbahan tipis sehingga Erina, ketika kamera difokuskan dan didekatkan pada si perempuan, bisa melihat bra putih yang tersembunyi di baliknya.

Itu adalah awal, dan bisa jadi awal yang buruk. Erina terus mencermati hal-hal tentang perempuan itu dan ketika ia meraih ponsel untuk melihat jam ia mendapati ia sudah bersandar di sofa dan tak melakukan apa-apa selain memandangi televisi selama sembilan belas menit. Erina semakin tak ingin melakukan apa pun. Ia hanya ingin bertahan dalam posisi itu dan tertidur, dan mungkin bermimpi indah. Dan beberapa menit kemudian keinginan pertamanya terkabul, meski yang kedua sayangnya tidak.

Erina bermimpi berada di sebuah pantai. Ia tak tahu nama pantai itu, tetapi ia merasa mengenalnya. Laut sedang tenang, dan hari belum malam; Erina masih bisa melihat sisa warna-warna terang jauh di hadapannya, membuatnya merasakan di dalam dirinya ada semacam rasa hangat yang menjalar, dan menular. Telapak tangannya terasa hangat, dan kehangatan ini lebih terasa lagi ketika Erina menekankan kedua telapak tangannya ke pipinya. Telapak kakinya pun begitu, meski itu mungkin lebih disebabkan oleh pasir yang menyimpan apa yang telah diberikan cahaya kepadanya.

Lalu tiba-tiba, tanpa pernah ia duga, seseorang sudah berdiri di sampingnya, di sebelah kirinya. Dari aroma tubuh seseorang itu Erina bisa menebak ia perempuan, dan ketika ia menoleh ia mendapati tebakannya ini benar. Satu hal yang tak pernah terpikirkan oleh Erina: perempuan itu adalah si perempuan yang tadi dilihatnya di televisi; si pembunuh itu.

“Aku suka pemandangan seperti ini. Langit yang belum gelap, laut yang belum hitam. Tak ada siapa pun di pantai ini selain kita berdua. Kita bisa melakukan apa saja. Kita bisa meneriakkan apa saja. Sesuatu yang buruk terjadi di sebuah tempat yang jauh dan kita tak perlu memikirkannya. Di sini, kita bisa bahagia.”

Si perempuan di sampingnya mengatakan semua itu, dengan tenang, dengan intonasi yang seperti membawa misi damai dan dengan suara yang mampu mencairkan yang telah beku. Erina, dalam diam, memandangi perempuan itu.

***

Erina terlahir di sebuah keluarga yang tak menginginkannya. Ibunya seorang politikus yang percaya terlahir sebagai perempuan di negeri itu adalah sebuah kesalahan, sedangkan ayahnya seorang novelis gagal yang batal menikahi ibunya dengan alasan yang hanya ia sendiri dan Tuhan yang tahu. Sejak kecil, Erina dibesarkan oleh adik kandung ibunya, seorang perempuan penggila takarakuji—lotere—yang di masa mudanya pernah berkarier sebagai aidoru—dari idol. Ia sebenarnya tak menyukai perangai perempuan gemuk-pendek ini—menurutnya perempuan ini terlalu banyak mengoceh dan hampir mengeluhkan apa saja—dan ia juga merasa suami perempuan itu bukanlah lelaki baik-baik seperti yang ditunjukkannya di rumah. Tetapi pasangan suami-istri ini memiliki seorang anak perempuan yang baik; seorang anak berkulit pucat yang setiap hari mengajaknya bicara dan menghabiskan waktu dengannya. Kelak anak ini menjelma sesosok cahaya yang kehadirannya selalu membuat orang-orang di sekitarnya mengamatinya; aura yang memancar darinya mengingatkan orang-orang akan sosok ibunya semasa muda. Erina menyadari ia jatuh cinta pada perempuan ini, di tahun keduanya di SMA. Lima tahun kemudian ia berusaha mengutarakan apa yang dirasakannya ini dan itu adalah awal dari masa-masa paling suram dalam hidupnya.

Erina memanggil perempuan itu Mai. Kendati mereka sudah sangat dekat, bahkan kerap melakukan hal-hal intim yang pastilah akan membuat orang-orang menggigit bibir seandainya mereka tahu, Mai rupanya tak melihat Erina sebagaimana Erina melihatnya. Mereka pernah tidur dalam satu ranjang dan berpelukan, tetapi bagi Mai ini tak lebih dari sebuah upaya untuk mengatasi dinginnya malam. Mereka juga pernah menggunakan ofuro—bak mandi untuk berendam—bersama-sama dan tentunya saat itu keduanya sama-sama telanjang, tetapi bagi Mai ini hanyalah sesuatu yang dilakukan untuk membuat aktivitas mandinya sedikit berbeda. Semacam penyegaran. Katakanlah begitu. Erina kecewa mendapati Mai berkata tak bisa membalas perasaannya. Tetapi Erina tak membencinya, tak bisa membencinya, bahkan tak bisa menjauhkan diri darinya, sebab Mai masihlah sosok yang sama setelah pengungkapan tadi; seolah-olah di mata Mai pengungkapan tersebut tak pernah ada. Erina menghabiskan waktu-waktu luangnya dengan Mai seperti biasa. Kedekatan mereka, yang justru semakin intim saja, dianggap Erina sebuah perangkap yang mengekangnya sekaligus membuainya.

Setidaknya sampai tiga tahun lalu, Erina menikmatinya. Tentu ia berharap suatu hari Mai akan membalas perasaannya, tetapi kalaupun hari itu tidak datang juga ia merasa akan bisa menerimanya. Yang penting kami jadi semakin dekat dan melakukan hal-hal menyenangkan bersama-sama, pikir Erina. Satu hal yang luput diperhitungkannya adalah bagaimana seandainya Mai menemukan seseorang yang kepadanya ia ingin menyerahkan seluruh dirinya. Dan sialnya, pada akhirnya, itulah yang terjadi.

Hari itu mereka berada di sebuah pantai. Musim panas. Mereka mengenakan bikini dan berdiri bersisian dengan tangan saling menggenggam dan kaki terpacak pada pasir—air laut secara berkala menyentuhnya. Orang-orang lain di pantai itu sibuk dengan urusannya masing-masing, dan mereka tak peduli. Ketika mereka saling menatap satu sama lain, mereka akan tersenyum seolah-olah itu sesuatu paling istimewa di dunia.

Lalu tiba-tiba Mai berkata, “Aku jatuh cinta pada seseorang. Dia lelaki yang baik, dan dia mencintaiku.”

Erina merasa di dalam dirinya sebuah gelas seketika pecah dan air yang semula mengisinya semuanya tumpah. Gelas itu sendiri, mungkin, sudah ada di sana sejak lama.

“Aku akan menikahinya. Aku akan mendampinginya dan kami akan membangun sebuah rumah tangga dan keluarga yang hangat. Kami akan membangun kebahagiaan yang akan kami rasakan berdua, selamanya.”

Erina meyakini di dalam dirinya sesuatu kembali pecah, tetapi bukan gelas itu.

“Kamu tahu, di kehidupan ini seseorang akan menyakiti seseorang yang lain. Tak mungkin tidak, seseorang akan menyakiti seseorang yang lain. Dengan cara itulah kita manusia bertahan. Pada akhirnya kita ini makhluk egois; kita akan mementingkan kebahagiaan kita sendiri dan mengabaikan kebahagiaan orang lain. Sedari dulu, kita selalu seperti itu.”

Erina tahu, ia semestinya berhenti menatap Mai; berhenti mendengarnya.

“Kamu mungkin akan menilai aku mempermainkanmu, memanfaatkanmu, memperalatmu. Silakan. Aku tak keberatan. Mulai besok, kita akan menjadi dua orang yang saling asing.”

Erina merasakan genggaman Mai yang begitu kuat di tangannya. Perempuan itu kembali tersenyum, tetapi kali ini matanya berkaca-kaca. Erina tak tahu apakah ia sendiri tersenyum atau tidak, apakah matanya sendiri berkaca-kaca atau tidak. Sore itu, di perjalanan pulang, mereka tak saling bicara dan tak saling menatap.

***

Dalam sebelas hari terakhir ini Erina sudah mengalami mimpi itu delapan kali. Garis besarnya sama: ia mendapati dirinya berada di sebuah pantai dan tak lama kemudian perempuan itu muncul; setelah beberapa saat perempuan itu mengatakan beberapa hal dan ia selalu terpukau oleh apa-apa yang dilihatnya dan dirasakannya selama itu; dan ia akan terbangun tanpa sempat mengatakan apa pun kepada perempuan itu. Saat terbangun itu, Erina merasa begitu lemas; seakan-akan ia baru saja melakukan sesuatu yang benar-benar menguras pikiran dan tenaga. Ia selalu butuh waktu kira-kira setengah jam untuk menelentang dan tak melakukan apa pun selain menatap langit-langit kamar. Tadi pagi, ia hanya bisa melakukannya sebelas menit saja. Seorang teman yang juga kliennya menelepon dan memintanya mengirimkan hasil terjemahan pesanannya sebelum pukul empat.

Kini sambil menonton persidangan perempuan itu di televisi, Erina mencoba mengingat-ingat apa saja yang telah dilakukannya dalam tiga tahun terakhir. Ia keluar dari perusahaan periklanan tempat ia bekerja; ia tinggalkan kamar apartemennya dan berkelana selama tiga bulan dengan berbekal tiga potong baju saja; ia bertemu beberapa orang baru namun segera melupakan mereka; ia mencoba peruntungannya di mesin pachinko dan takarakuji; ia pindah ke sebuah pedesaan dan memelihara seekor kucing yang diberinya nama Nyanko; ia mengajar bahasa Inggris di sebuah bimbel lokal dengan bayaran rendah; ia menerjemahkan tulisan-tulisan dari bahasa Inggris ke bahasa Jepang dan sebaliknya; ia dikejar-kejar seorang lelaki yang adalah ayah dari seorang muridnya; ia mencoba mengiris pergelangan tangannya yang kiri; ia mencoba membekap dirinya sendiri dengan bantal di tempat tidur; ia mencoba membenamkan dirinya begitu lama di sebuah pemandian air panas yang sedang sepi; ia mencoba penampilan baru dengan memotong pendek rambut hitamnya dan mewarnainya; dan tahun lalu, ia mencoba membuka lembaran baru dengan mengambil kesempatan berkarier di negeri ini, Indonesia, sebagai pengajar bahasa Jepang dan penerjemah-awal.

Ia telah banyak berubah. Semestinya begitu. Sebelum memutuskan untuk hijrah ke Indonesia ia melakukan sejumlah penelusuran yang membawanya pada kesimpulan bahwa orang-orang di negara yang akan ditujunya itu cenderung sulit menerima hal-hal “baru”, terutama sesuatu yang dianggap bertentangan dengan norma dan agama, dan Erina melihat ini sebagai sesuatu yang menguntungkannya. Terkesan tidak toleran, memang, tetapi justru Erina berharap lingkungan seperti itu akan memaksanya berubah, menjadi normal—meski sesungguhnya ia sadar itu hanya alasan belaka sebab yang sebenarnya diinginkannya adalah melupakan apa-apa yang pernah dialaminya dulu. Kini, setelah ia lumayan menguasai bahasa Indonesia, dan setelah ia memiliki sejumlah teman dan klien orang-orang Indonesia yang kebanyakan adalah laki-laki, apa yang diinginkannya itu, semestinya, terwujud. Ia menjadi dirinya yang baru, yang normal. Namun begitulah sebelas hari yang lalu ia tersadar: ia, ternyata, masihlah sosok yang sama.

“Kamu tahu, kita manusia tak bisa bertahan hidup tanpa menyakiti manusia lain. Pada akhirnya begitu,” ujar si perempuan di televisi, dalam mimpinya tiga hari yang lalu. Ketika terbangun Erina langsung teringat pada Mai, dan ia berusaha membayangkan sosoknya, tetapi gagal; sosok yang kemudian terbayang jelas di benaknya justru si perempuan di televisi tadi, si pembunuh itu, dan ia menjadi kesal namun di saat yang sama bergairah. Erina jadi membayangkan ia dan perempuan itu di sebuah ranjang dalam keadaan telanjang, dan mereka berpelukan, dan mereka berciuman, dan mereka berciuman ….

***

Perempuan di televisi itu kembali menggigit bibir bawahnya. Saat ia menegakkan tubuh untuk membenarkan ikatan rambut, mata Erina tertuju pada buah dada perempuan itu yang membusung, lalu pada leher perempuan itu yang terbuka lebar. Aku ingin memeluknya. Aku ingin menciumnya. Ingin sekali, pikir Erina. Ia lantas memejamkan mata, membayangkan ia tengah berada di pantai itu, mengkhidmati sisa siang yang kian tersamarkan kesunyian, membiarkan tubuh rapuhnya terbuka menyerap setiap warna dan suara.

“Barangkali,” gumam Erina, “hidup bagiku adalah tentang menyakiti diri sendiri. Pada akhirnya begitu.” (*)

Bogor-Cianjur, 2016-2019

Ardy Kresna Crenata, menulis cerpen, esai, dan puisi. Ia bergiat di Pembacaan Baru; sebuah komunitas ngobrol-ngobrol di Bogor.

Redaksi ideide.id memberikan honorarium kepada penulis yang karyanya dimuat meskipun tidak banyak.
Kirim karyamu sekarang juga di SINI

Film, Resensi

A Taxi Driver: Mencari Kim Sa-Bok

Oleh: Agung Setya

Di dunia nyata, Kim Sa-Bok bukan nama yang lazim di Korea Selatan. Sepanjang sisa hidupnya, seorang Jurnalis berkebangsaan Jerman, Jürgen Hinzpeter, mencari sosok pemilik nama itu dan terpaksa mengakhiri hidupnya pada 25 Januari 2016 tanpa pernah menemukannya.

Itulah jurus pamungkas yang disuntikan kepada film A Taxi Driver (2017) yang disutradarai oleh Jang Hoon. Bahwa film memusatkan pada sosok nyata pahlawan tanpa tanda jasa—yang berperan sebagai sopir taksi untuk jurnalis asing seperti disebutkan di atas—tentu bukan tanpa sebab.

Salah satu alasan yang dikemukakan oleh Koresponden New York Times, Choe Sang-Hun, adalah karena selama ini yang selalu dielu-elukan oleh publik adalah Hinzpeter, dan tidak dimungkiri ia memang berjasa bagi perjuangan demokrasi Korsel dengan mengabarkan kondisi Korsel kepada dunia. Namun, seperti selalu ditulis oleh Hinzpeter di beberapa catatannya, ia tidak mungkin berhasil meliput peristiwa berdarah di Gwangju (Kwangju), Korsel, pada Mei 1980 tanpa bantuan seorang sopir taksi. Dan inilah saatnya pahlawan sebenarnya mendapat tempat di hati rakyat Korsel.

Menguji Prioritas

Dalam cerita film, Kim Sa-Bok (Song Kang-Ho) adalah pribadi yang pantang menyerah, teguh pendirian, dan lugu. Berkat pengalamannya menjadi sopir truk di Arab Saudi beberapa tahun sebelumnya, ia punya kemampuan berbahasa inggris yang cukup baik. Dengan begitu tanpa kesulitan ia bisa berkomunikasi dengan Peter—nama yang merujuk kepada Hinzpeter—yang diperankan oleh aktor Jerman Thomas Kretschmann, selama perjalanannya dari Seoul ke Gwangju.

Jika pada kenyataannya—seperti ditulis oleh Choe Sang-Hun—Kim diminta oleh kenalan Hinzpeter di Seoul untuk mengantarnya ke Gwangju, sementara dalam plot film, Kim berjuang untuk mendapatkan upah sebesar 100.000 Won dari tugas mengantar jurnalis asing tersebut. Meski begitu, ia melakukannya karena tuntutan ekonomi dan untuk anak perempuan semata wayangnya Eun Jeong (Yoo Eun-Mi) yang berusia 11 tahun.

Bagian konflik film memuncak saat ia harus memutuskan apakah harus selalu menemani penumpangnya selama bertugas meliput kerusuhan di Gwangju atau harus pulang menemui anaknya yang tinggal sendirian. Prioritas dan kecintaannya pada keluarga diuji.

Gwangju 1980 dan Jakarta 1998

Ada konteks kemiripan antara peristiwa Gwangju Mei 1980 dan Demonstrasi Mei 1998 di Jakarta, yaitu sama-sama melibatkan mahasiswa untuk menurunkan diktator-militeristik. Meski demikian, jika harus membandingkan antar film, penulis secara subjektif akan membandingkannya dengan salah satu film bertema Mei 1998 di Indonesia, yakni Di Balik 98 (2015).

Meski banyak pro dan kontra terkait film Di Balik 98, pembandingan ini untuk melihat visualisasi dan plot film yang mengangkat perjuangan mahasiswa untuk mendelegitimasi rezim yang saat itu berkuasa.

Di Balik 98, mahasiswa merupakan tokoh dan arus utama yang membawa plot film. Sedangkan pada A Taxi Driver, mahasiwa adalah hal di luar Kim Sa-Bok yang wajib ia masuki dan ia bela agar film bisa berjalan sesuai alurnya. Jika Di Balik 98 memunculkan banyak konflik yang nantinya berpilin jadi akhir yang manis, tapi di A Taxi Driver cukup dengan perjuangan Kim Sa-Bok, maka seluruh perjuangan mahasiswa itu akan bisa tuntas.

Dalam A Taxi Driver, Kim Sa-Bok adalah kaum marjinal di negaranya. Sementara Di Balik 98 juga memunculkan narasi kaum marjinal pada ayah dan anak berpakaian lusuh yang sehari-hari berkeliling Jakarta membawa gerobak. Bedanya, kehidupan Kim Sa-Bok dinarasikan getir namun ia bisa membuat kehidupannya riang gembira. Itu persis ciri khas humor dari film-film Korea. Sedangkan sosok ayah dan anak di film Di Balik 98, seakan dipaksa muncul dengan ironi-ironi yang ada. Namun, tanpa kesan kuat humanisme dan hanya mengeskpos kemelaratan.

Jika menonton Di Balik 98, penonton diguncang perasaan sedih dan marah atas perjuangan Diana (Chelsea Islan) dan Daniel (Boy William), sementara dalam A Taxi Driver, kita diajak untuk asyik mengikuti petualangan Kim Sa-Bok dalam misinya untuk setia mengantarkan penumpang. Tak hanya itu, ada rasa optimisme bahwa perjuangan kelompok mahasiswa tidak hanya mengesankan luapan kemarahan, tapi juga keyakinan bahwa itulah jalan yang benar sedari awal.

Adegan-adegan aparat militer menembaki mahasiswa ditampilkan secara jelas di film A Taxi Driver. Ratusan mahasiswa tanpa ampun menjadi korban peluru tajam. Dan Kim Sa-Bok akhirnya mengambil peran juga untuk membantu mahasiswa meskipun tampak aneh dan agak lucu. Barangkali di kejadian sebenarnya penembakan mahasiswa tentu amat menyeramkan, dan tindakan yang dilakukan oleh Kim Sa-Bok dalam cerita film digambarkan menjadi berani tanpa memedulikan keselamatan dirinya seakan-akan adegan epos di film-film superhero. Penggambaran yang sama juga terjadi di aksi balap-balapan di penghujung film. Meski begitu, tanpa adegan tersebut, Kim Sa-Bok justru akan menjadi figuran, kalah bersaing dengan Peter.

Hal berbeda ada pada film Di Balik 98 yang tidak terlalu menonjolkan adegan kekerasan fisik. Ia hanya membidik psikologi para tokoh dalam keruwetan masalah masing-masing. Di satu sisi itu jadi nilai tambah, tapi di sisi lain ada momen yang tidak bisa didapat seperti di film A Taxi Driver. Bisa jadi ada pertimbangan lain, tapi sangat disayangkan.

Kim Sa-Bok menghilang

Kembali kepada judul di atas, mencari sosok nyata Kim Sa-Bok bukan hal mudah. Desas-desus bermunculan pasca tragedi Gwangju 1980 dan informasi kasat mata yang diberitakan ke seluruh penjuru dunia. Ada yang mengatakan bahwa ia meninggal empat tahun setelah peristiwa itu karena sakit, ada pula yang menyatakan ia sengaja menyembunyikan diri. Terbukti dengan namanya yang aneh dan tampaknya hanya nama palsu.

Bagaimanapun, sosok Kim Sa-Bok jelas ada, dan ialah pahlawan yang sesungguhnya. Dengan tindakannya yang ada dalam versi fiksi di film A Taxi Driver, masyarakat Korea Selatan mengaku mulai mengaguminya. Bukan saja karena ia ada di balik terpukulnya rezim diktator Chun Doo-Hwan, tapi juga nilai-nilai kepribadian seperti diwartakan Hinzpeter bahwa ia jujur, setia, cerdik, pantang menyerah, dan pemberani.

Karakter positif yang tercermin dalam diri Kim Sa-Bok bisa dicontoh oleh banyak pengemudi taksi. Di kala beberapa pengemudi taksi—termasuk pengemudi kendaraan umum lainnya—banyak disorot atas kinerjanya terhadap pelayanan penumpang, Kim Sa-Bok mengajarkan bagaimana menjadi sopir taksi. Tentu bukan keberanian menerobos penjagaan aparat militer, tapi bagaimana kejujuran, kesetiaan, ramah, dan yang terpenting mengantarkan penumpang sampai kepada tujuannya.

Itulah mengapa kita pun bisa ikut mencari “Kim Sa-Bok”.

Agung Setya lahir di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah pada tahun 1992. Ia aktif menulis puisi dan cerpen. Buku puisinya Membaca Mata (2016) dan kumpulan cerpennya Menjelang Dingin (2018).


Redaksi ideide.id memberikan honorarium kepada penulis yang karyanya dimuat meskipun tidak banyak.
Kirim karyamu sekarang juga di SINI

Cerpen

JANE

Cerpen Ken Hanggara

Aku ingin tenggelam dan hilang selamanya di sebuah kolam atau danau atau apa pun itu. Kubayangkan tubuhku mengecil tanpa ada yang tahu, lalu dengan segenap ilmu sihir, seseorang mengubahku menjadi seukuran semut. Tidakkah itu menakjubkan?

Kalau aku benar-benar menjadi sekecil semut, aku harap bisa tenggelam dan hilang selamanya karena malu. Aku tidak sanggup menatap wajah Jane. Pacar terbaikku sejauh ini dia, tapi karena kesalahan yang kulakukan, dia layak mendapat yang lebih baik.

“Aku tidak peduli walau kamu orang paling dibenci di dunia ini atau orang yang paling berpenyakit. Selama kita bisa bersama, aku tetap di sini!” katanya.

Jane sangat mencintaiku dan kurasa aku tidak bisa mengubah perasaan itu semudah orang-orang membongkar kebusukan masa laluku. Dulu aku sangat amoral dan saat ada kesempatan untuk memperbaiki diri, aku berkenalan dengannya. Ini terjadi sekitar satu tahun yang lalu. Aku dan Jane berpapasan di lorong mini market, seperti dalam adegan- adegan klise murahan kegemaran remaja kebanyakan. Saat itu kami sama-sama butuh pembasmi serangga yang kebetulan tinggal sebotol di sebuah rak.

“Buatmu saja,” kataku ketika itu. “Perempuan lebih butuh. Serangga mengganggu perempuan, sedang lelaki bisa mengatasi itu tanpa pembasmi.”

“Kamu dulu yang dapat dan tidak sengaja kurebut botolnya darimu. Jadi, kamulah yang berhak,” sahutnya.

Karena kami terus menerus berdebat, sedangkan seorang pramuniaga tidak berdaya oleh karena habisnya stok pembasmi serangga tersebut, pada akhirnya kami berjalan ke kasir dengan membawa barang belanjaan masing-masing dan memutuskan untuk bicara soal siapa yang lebih berhak membawa pulang benda tadi di tempat parkir.

Aku tidak tahu bagaimana perkenalan dengan cara seaneh ini terjadi. Yang kutahu, saat itu, semua terjadi begitu saja. Mengalir seperti air dan aliran itu terasa menyegarkan, karena sejauh yang aku tahu, aku tidak pernah merasakan getaran tertentu di dada saat bicara dengan perempuan mana pun, kecuali kali itu.

Jane orang pertama yang menggugah hatiku. Dia cinta pertama. Saat dia datang tepat di pintu gerbang kesadaranku atas dosa-dosa masa lalu, aku mengira, “Barangkali ini yang Tuhan maksud. Barangkali aku dilahirkan untuk berbuat jahat sementara waktu, sebelum jatuh cinta kepada gadis ini dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik.”

Kubayangkan itulah yang terjadi. Takdir bagus yang kudapat bukan tanpa tujuan. Mungkin Tuhan membuatnya begitu agar aku dapat berbagi kisah menakjubkan suatu hari nanti ke telinga banyak orang. Sayangnya, khayalan itu tidak nyata. Orang-orang dari masa laluku datang dan mengejarku atas bekas-bekas dosa yang dulu kukerjakan. Mereka menuntut balas, meski penjara sudah mengurangi banyak waktuku.

Balasan itu, tentu saja, kematianku. Tapi, polisi tak tinggal diam. Orang-orang lain yang juga punya masalah denganku di masa lalu, sebagian tak ingin aku tewas dihakimi pihak-pihak yang tidak puas dengan putusan hakim yang menjebloskanku ke jeruji besi selama belasan tahun. Meski kemungkinanku tidak mati dihakimi itu besar, keberadaan orang-orang itu membuat Jane membaca segala yang sejauh ini aku sembunyikan.

“Penjahat itu sebaiknya dikirim ke neraka!”

“Tidak pantas diberi kesempatan!”

Dengarlah suara-suara itu. Hampir setiap hari teror bingkisan berisi bangkai tikus, lemparan batu ke jendela kamarku, membuatku tidak lagi bisa menutup-nutupi ini dari Jane.

Ketika akhirnya gadis itu tahu masa laluku, aku merasa malu. Sejak kami kenalan, kesan baik selalu kubuat agar dia percaya aku lelaki serius yang tepat untuk dia jadikan pendamping hidup. Setelah kebusukan dari masa laluku terkuak, aku merasa tak pantas berdiri di sisinya Alangkah baiknya aku tenggelam di suatu tempat yang dalam dan tak terlacak, lalu hilang selamanya.

Hanya saja, Jane pikir masa lalu adalah lembaran yang sudah tertutup dan tak dapat dibuka untuk diisi ulang dengan tindakan-tindakan baru. Ia tahu semua yang kulalui saat itu telah lama berlalu.

“Kini saatnya bertindak untuk lembaran yang sama sekali kosong,” tutupnya, sama seperti saat kami berdebat soal siapa yang membawa pulang sebotol pembasmi serangga setahun lalu.

Jane menutup perdebatan tentang apakah aku harus pergi sejauh yang kubisa atau tetap menjalani hidupku bersamanya. Demi menjauh dari orang-orang yang dahulu anak mereka kusakiti hanya demi sedikit uang, hingga sebagian di antara mereka mendapat trauma, Jane mengajakku pindah ke luar kota.

“Kita hidup di sana. Ada rumah peninggalan almarhumah Tante. Beliau tak pernah menikah dan tentunya tak punya anak. Saat kecil, aku sering dititipkan Mama ke sana,” jelas Jane ketika mengemasi barang-barangku ke dalam koper.

Aku tidak dapat menjawab dan membisu.

“Ayolah,” lanjutnya, “jangan dipikir aku bakal mengubah pandanganku soal dirimu hanya karena masa lalumu! Bagiku kamu tetap sama. Kamu adalah kamu yang kukenal. Kecuali kamu belum benar-benar berubah.”

“Aku sudah berubah! Tidak sama seperti dulu!”

Jane memeluk dan mengecup keningku. Ia memelukku bagai sosok ibu memeluk anak remajanya yang bertubuh besar. Gadisku ini sangat kurus dan terbilang pendek jika dibandingkan denganku yang jangkung.

Saat momen pelukan ini berlangsung, aku rasa kehangatan sekaligus getaran aneh di dada, dan di kepalaku, semut yang kuharapkan hilang ditelan limpahan air di suatu kolam, selokan, atau waduk, kini berenang-renang menepi. Kubayangkan semut malang itu menjemur diri di tengah terik matahari, persis di tepian genangan air yang baru saja nyaris membunuhnya.

Itu bukan semut. Itulah aku, dalam ukuran kecilku setelah disihir oleh seseorang. Dan makhluk kecil itu membesar seiring waktu. Kembali ke ukuran normal untuk terus melanjutkan hidup.

Aku tidak tahu bagaimana cara berterima kasih pada Jane-ku. Penerimaannya pada masa laluku, juga cintanya, membuatku bersyukur pernah secara sadar membeli sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu kubutuhkan: pembasmi serangga. Kalau saja dulu aku tak pergi membeli itu, kami tidak akan ketemu dan entah bakal berakhir dengan cara apa diriku kelak. [ ]

Gempol, 2017-2019

KEN HANGGARA lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis cerpen, novel, dan skenario FTV. Karyanya terbit di berbagai media. Buku terbarunya Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (Basabasi, 2017), Negeri yang Dilanda Huru-Hara (Basabasi, 2018), Dosa di Hutan Terlarang (Basabasi, 2018).



Redaksi ideide.id memberikan honorarium kepada penulis yang karyanya dimuat meskipun tidak banyak.
Kirim karyamu sekarang juga di SINI

Cerpen

Rahasia Sepotong Rendang

Cerpen Era Ari Astanto

/1/

Istriku asli orang Padang. Dia lahir dan tumbuh di sana. Dia begitu mahir memasak masakan khas Solo-Jogja sampai ala Amrik dan Eropa, tapi selalu gagal memasak Rendang, masakan khas Padang. Berbagai cara dan resep sudah dia coba. Dari buku memasak, dari acara panduan memasak—baik dari televisi atau dari Youtube. Bahkan belajar dari koki rumah makan Padang yang terkenal. Dan, masih gagal.

Walaupun memang bisa terjadi tapi tetap aneh menurutku. Aku yakin istriku menyimpan suatu rahasia. Kecurigaanku semakin menguat dan kuputuskan untuk mengetahui sebab-musababnya setelah aku merasa ada keanehan yang layak dicurigai. Aku mengingat dan memperhatikan setelah beberapa kali aku temani, dia berhasil memasak rendang yang lezat. Padahal dengan resep dan cara yang sama.  Karena itulah aku yakin dia sengaja memasaknya sembarangan walaupun dia tahu kegemaranku akan rendang.

Tapi mengapa? Ada alasan apa? Setiap kali aku bertanya begitu dia selalu mengatakan tidak tahu mengapa bisa terjadi? Sebab itu, aku harus menemukan cara membuatnya mengaku tanpa aku paksa.

/2/

Aku tahu suamiku sangat suka rendang. Aku juga tahu dia mulai curiga tentang kepura-puraanku. Kecurigaannya itu benar. Aku memang sengaja membuat rendang yang gagal. Aku terpaksa. Ada perasaan getir, sedih, dan perih tiap kali memasak rendang. Kenangan hitam itu tak bisa kuenyahkan. Begitu pula perasaanku jika tidak menuruti permintaan suamiku untuk dimasakkan rendang. Aku sangat menyayanginya.

Aku menggagalkan kelezatan masakan rendangku dengan harapan agar suamiku memaklumi kelemahanku dan tidak memintaku memasakkannya lagi. Tapi, harapanku sekiranya akan sia-sia. Suamiku mencurigaiku dan sedang mencari cara membuatku mengatakan penyebab aku membohonginya. Bukan tidak mau mengatakan atau membohonginya, tapi itu aib. Aku khawatir dia menceraikanku setelah mengetahui siapa aku sebenarnya.

Haruskah aku mengatakannya dengan resiko dia memarahiku, lantas rumah tangga kami berantakan? Ataukah aku memasakkan rendang setiap dia minta meski hatiku tersayat tapi rahasiaku aman?

/3/

Lelaki tua pemilik rumah makan padang itu digelandang ke kantor polisi. Mereka menemukan sabu-sabu tersimpan dalam daging sapi miliknya. Pembantunya yakin barang itu bukan milik tuannya. Dia tahu tuannya itu dijadikan korban.

Lelaki tua itu tak bisa mengelak dan divonis tembak sampai mati karena tidak bisa membuktikan itu bukan miliknya. Anak perempuan lelaki itu meraung atas nasib yang menimpa ayahnya.

“Aku tahu siapa pemilik barang itu. Tapi, makanlah rendang ini dulu. Seharian kau menangis dan tak makan sedikitpun,” kata pembantunya, “Kita bisa balas dendam, jika kau mau.”

Sebentar berpikir, si gadis menyetujui ide balas dendam itu. Dia pun makan sepotong rendang itu. Beberapa jenak kemudian dia merasa pusing. “Kau beri apa rendang ini?”

“Sabu-sabu. Aku pemilik barang itu.”

Si gadis hendak marah. Tapi, pusing yang terlalu membuatnya terjatuh tak sadarkan diri. Ketika bangun dia sudah berada di kasur tanpa pakaian dan selangkangnya terasa perih.

/4/

Kita berjumpa di warung makanku dekat salah satu kampus di Jogja. Kita saling jatuh cinta dan akhirnya menikah. Hingga kau mencurigaiku menyimpan rahasia. Tapi, akan aku katakan sejujurnya rahasia sepotong rendang itu sekarang.

Kau terbelalak setelah mendengar kisahku dan tak bisa berucap. Pandanganmu lantas menunduk. Cukup lama. Aku khawatir kau tak terima, memarahiku, dan rumah tangga kita berantakan.

Ketakutanku serasa melebar dan tak terkendali. Aku khawatir kau akan selingkuh. Cerai mungkin lebih baik daripada kau menggunakan alasan tidak terima atas masa laluku.

Aku menunggumu berkata sesuatu sambil menunduk menahan air mata.

“Lihat aku, Ahli Rendang,” kau memang sering memanggilku Ahli Rendang.

Aku menatapmu sebentar lantas menunduk lagi. Kudengar kau melanjutkan bicara.

“Jangan pikirkan masa lalumu. Tapi, maukah kau memasak rendang yang lezat untukku, Sayang?”

Aku mendongak. Menatapmu nyaris tak percaya mendengar keputusan itu. Kau tersenyum.

Hujan pun turun di sudut mataku.

Nusukan, Solo.

Era Ari Astanto lahir di Boyolali. Saat ini bekerja di sebuah penerbitan buku pelajaran di Solo. Aktif di komunitas Sastra Alit. Karya yang sudah diterbitkan adalah Novel berjudul The Artcult of Love (2014), Jika sang Ahmad tanpa Mim Memilih (2013). Novel terbarunya “Bertutur Sang Gatholoco” terbit 2018, dan yang akan terbit “Di Pasujudan Bonang”.


Redaksi ideide.id memberikan honorarium kepada penulis yang karyanya dimuat meskipun tidak banyak.
Kirim karyamu sekarang juga di SINI

Cerpen

Perona Merah di Wajah Ibu

Cerpen Tiqom Tarra

Sejak perceraiannya dengan Ayah, Ibu tak mau lagi berhias. Sekadar memulas pemerah bibir atau perona pipi pun ia enggan. Hanya sebuah sisir yang ia gunakan untuk merapikan rambut panjang, selebihnya segala macam perlengkapan rias ia singkirkan dari kamar. Bagiku, pucat wajah Ibu sama halnya dengan layu dirinya. Seperti bunga yang kehilangan warna, Ibu memudar.

“Aku berhias hanya untuk ayahmu, tapi sekarang tak ada lagi alasan bagi Ibu untuk melakukannya.”

Aku tak lagi bisa memaksanya, meski aku rindu melihat Ibu yang berlama-lama di meja rias untuk menabur bedak, menyamarkan garis-garis di kening, menghilangkan lingkaran hitam di sekitar mata, dan membuat bibir yang selalu tersenyum itu menjadi merah serupa buah stroberi. Aku rindu melihat Ibu yang sibuk mematut wajahnya di cermin dan merasa percaya diri bahwa dialah wanita paling cantik di dunia; tak ada wanita lain!

Aku sudah cukup dewasa untuk mengerti dan memahami keputusan kedua orangtuaku untuk bercerai. Aku tak mau terlalu egois dengan mengharapkan sebuah keluarga utuh hanya demi status sosialku di masyarakat sedangkan aku tahu ada gejolak dalam keluargaku. Aku mengerti inilah yang terbaik. Meski itu tidak berarti aku mengerti mengapa Ayah lebih memilih wanita lain.

Kurang cantikkah Ibu? Kurang baikkah Ibu? Bagiku Ibu adalah seorang wanita yang sempurna; ibu yang baik dan istri yang teladan.

Selalu ada buah yang lebih segar. Mungkin itu yang menggoda Ayah. Usia Ibu memang tak bisa dibohongi atau ditutup dengan perias wajah, sedangkan Ayah menginjak masa pubertas kedua. Ayah berpaling pada sekretarisnya yang matang, yang senyumnya lebih menggairahkan, berkulit mulus kencang. Sejak itu begitu banyak pertengkaran, amarah yang tak lagi bisa dibendung, kekecewaan tak lagi bisa diadang. Mereka menyerah dalam persidangan.

“Tak bisa Ibu bayangkan ayahmu menghabiskan malam bersama wanita lain. Lebih baik Ibu sendiri daripada menghadapi kesakitan berbagi.”

Selepas hari persidangan Ibu menghapus riasan di wajahnya dan sejak itu tak pernah lagi aku melihat ia berhias. Ia biarkan garis-garis halus muncul di wajah. Ia biarkan pipi itu mengendur tak berperona. Ia biarkan bibir tanpa senyum itu mengering. Ibuku seperti seorang yang tengah sekarat dan sebentar lagi malaikat maut mengambilnya.

Kadang ingin aku berkata, jika bercerai adalah pilihan agar Ibu tak harus dimadu, mengapa Ibu berkabung dalam duka? Bukankah akan lebih baik jika Ibu tunjukkan pada Ayah bahwa Ibu bisa tetap bahagia, bahwa Ibu tak membutuhkan seorang laki-laki yang tak setia? Mungkin memang benar Ibu telah cinta mati pada Ayah dan sekarang Ibu tahu bahwa cinta itu tak lagi terbalas. Maka, pada sebuah kekecewaan yang mahakuat Ibu menyerah, memilih berkabung dan tak lagi bisa melihat dunia seperti dulu.

Aku teringat pada nenekku yang ditinggal mati oleh Kekek. Bagiku mereka adalah gambaran cinta sejati. Kakek dan Nenek telah melewati waktu yang teramat panjang untuk saling mencintai, saling menjaga dalam kasih dan duka. Dan ketika ajal itu merenggut Kakek, Nenek tak mampu lagi bertahan meski berulang kali ia katakan ikhlas. Tepat sebulan sejak kepergian Kakek, Nenek menyusulnya setelah menahan kesakitan rindu yang dihasilkan dari perpisahan. Mereka dimakamkan bersebelahan.

Aku yakin di surga mereka telah bahagia; menghabiskan keabadian dalam cinta selamanya. Aku pun yakin Ibu ingin memiliki cinta yang sama seperti kedua orangtuanya; menikah, hidup bersama sampai tua, mati, dan bertemu kembali di surga. Namun, Ayah berkehendak lain.

“Maafkan Ayah, Nak,” kata Ayah seusai persidangan.

Aku tak cukup dewasa untuk mengerti bagaimana seorang laki-laki yang telah bersumpah setia, mengingkari janji demi seorang wanita lain. Dan aku tak cukup dewasa untuk mengerti arti kesedihan yang ditunjukkan Ibu. Bagiku tak mengapa mereka berpisah, tapi aku berharap mereka bisa mendapat kebahagiaan satu sama lain. Bukankah itu impas?

“Kau hanya belum mengerti, Nak,” kata Ibu.

Ya, aku memang belum mengerti. Aku biarkan Ibu dalam kesedihannya; hari-hari berlalu dengan kepucatan di wajah Ibu. Ia menua lebih cepat, seperti Nenek yang menemuai ajal lebih cepat demi bertemu kakek.

Aku pikir setahun atau dua tahun cukup bagi Ibu, tapi aku salah; ia tetap melanjutkan kesedihannya. Bahkan di hari pernikahanku, putri semata wayangnya, ia tetap tak berhias. Meski terkadang menampakkan senyum di bibir, tapi tetap saja ia serupa pelayat yang mengantar jenazah ke liang lahat dengan muka pucat, baju serba hitam. Pasti karena itu ada orang yang berbisik, “Mungkin ibunya tidak merestui.”

Sejak itu aku mengenal arti kata benci. Tak seharusnya Ibu begitu keras kepala hanya untuk menunjukkan kesedihannya ditinggal kekasih hati. Bagaimanapun aku anaknya yang ingin semua sempurna di hari pernikahanku. Mau ditaruh di mana mukaku ketika mertuaku bertanya perihal Ibu? Aku hanya bisa menunduk dalam-dalam padahal aku telah menyiapkan kebaya indah berwarna merah muda untuk Ibu; kebaya yang jauh hari sudah aku wanti-wanti untuk Ibu kenakan, tapi Ibu lebih memilih pakaian pelayat.

Jika Ibu berkabung begitu lama untuk sebuah kekecewaan pada Ayah, maka aku bisa membenci dengan waktu yang sama lamanya untuk kekecewaan pada Ibu. Aku hengkang dari rumah yang membesarkanku. Mengubah kesepakatan dengan Mas Bram, suamiku, bahwa kami akan tinggal di rumah orangtuaku demi menjaga Ibu. Aku memilih tinggal jauh dari Ibu.

Aku tahu tak seharusnya aku membenci Ibu untuk keputusannya. Mas Bram selalu menasihatiku, tapi aku tak bisa. Aku terlalu kecewa.

“Mungkin kamu hanya belum mengerti arti kesedihan Ibu,” kata Mas Bram setiap aku menolak untuk mengunjungi Ibu.

Bertahun lamanya aku memelihara kekecewaan. Hingga anakku lahir, aku belum pernah sekalipun menjenguk Ibu. Aku yakin ia masih dalam perkabungannya; mengenakan pakaian serba hitam, tanpa perona di pipi, apalagi lipstik di bibir. Aku hidup bahagia dengan keluarga kecilku, hingga kusadari ada yang sedang bermain di belakangku.

Mas Bram jadi lebih jarang pulang ke rumah. Ada saja alasannya dan aku mulai curiga. Ketika kutanya ia marah, mengatakan bahwa aku tak seharusnya curiga apalagi menuduhnya macam-macam. Ia tak tahu kalau sudah memegang bukti-bukti perselingkuhannya dengan seorang klien. Bisnis katanya, padahal mereka memadu cinta di pulau seberang.

“Mari kita akhiri saja,” tukasnya.

Harusnya aku yang mengatakan itu. Sejujurnya aku mungkin bisa berbagi, tapi Mas Bram tidak mau. Ia lebih memilih menceraikanku untuk bisa bersama kekasihnya yang baru. Hingga putusan persidangan dibacakan Mas Bram tak pernah sekalipun datang; ia meninggalkan rumah besar kami, mengabaikan putra kecil kami. Rumah ini serasa kuburan yang sepi dan penuh kesedihan.

Di depan cermin di mana biasanya aku mematut diri untuk merasa menjadi yang paling cantik untuk suamimu, kuhapus lipstik di bibir, perona di pipi, dan menggerai rambutku yang panjang. Tak ada lagi cinta yang tersisa. Tak ada lagi gunanya aku merias wajah karena kekasih yang begitu aku puja memilih wanita lain.

“Pakailah.” Ibu datang dengan senyum tipis di wajah. Disodorkannya selembar baju berwarna hitam padaku.

Seperti inikah yang selama ini Ibu rasakan? Ketika kekasih hati pergi, bukan untuk Tuhan, melainkan untuk wanita lain, maka separuh jiwaku telah mati. Kini yang tersisa adalah perkabungan panjang karena aku tahu tak akan ada cinta yang lain. Bisa saja saat ini Ibu mengatakan alasannya tentang apa yang selama ini ia sikapkan, tetapi tidak ia lakukan.

***

Bojong, 29 Januari 2019

Tiqom Tarra, lahir dan tinggal di Pekalongan. Selain menulis cerpen dan novel, kini menggeluti seni doodle. Cerpen-cerpennya pernah dimuat di Harian Solopos, Radar Surabaya, Fajar Makassar, dan Gogirl! Web Story. Runner up lomba novelet Loka Media dengan novelet Renjana (Loka Media, 2017). Buku kumpulan cerpen perdana Anak Kecil yang Memamerkan Bayinya dan Orang Dewasa yang Menyimpan Biji Mentimun di Saku Celana (JWriting Soul, 2018).

Redaksi ideide.id memberikan honorarium kepada penulis yang karyanya dimuat meskipun tidak banyak.
Kirim karyamu sekarang juga di SINI

Buku, Resensi

Kisah Cinta yang Melulu Indah Itu Kata Siapa?

Oleh: Mutia Senja

 “Bu, maafkan Nur. Kumohon, maafkan Nur. Hari ini Nur umur dua puluh delapan, tapi Nur nggak bisa menikah sekarang,” ujar Nursri dengan bibir bergetar sambil memeluk ibunya (hal. 90). Nursri; tokoh utama dalam cerpen Amanatia yang dijadikan judul buku ini; Waktu untuk Tidak Menikah—menjadi menarik di mata para pembaca. Khususnya di kalangan kaum muda yang dilema dengan pertanyaan: kapan nikah?

Berharap mendapatkan semacam solusi dari kebimbangan “untuk tidak menikah” mendadak terbesit ketika: mendapati pengalaman orang-orang yang justru kesulitan menghadapi rumah tangga, penghasilan yang belum dikatakan cukup untuk membangun sebuah keluarga, status jomlo yang memunculkan kebingungan akan menikah dengan siapa, atau persoalan hati karena gagal move on dengan mantan—sedangkan mantan lebih dulu berumah tangga dengan orang lain dan tidak mungkin membujuk untuk diajak balikan. Semoga Tuhan memberkati kalian!

Seluk beluk percintaan yang “rumit” dikumpulkan Amanatia dalam empat belas judul cerpennya yang dirangkum dalam blurb buku ini: di belahan bumi lain, ada yang tersungkur patah hati ditinggal kekasih. Ada yang kehilangan banyak hal dalam waktu yang berdekatan. Ada yang memilih hidup sendirian bersama dua kucing liar. Ada yang tiba-tiba ingin menghubungi mantan kekasihnya. Ada yang mencintai diam-diam dan berakhir ditolak mentah-mentah. Ada yang tak siap berpisah, sekali pun sudah menabung kesiapan itu jauh-jauh hari. Ada yang selalu mencintai tapi tak pernah bisa menerima, hingga persoalan ada yang menikah, lalu ingin berpisah.

Pada Jarak yang Memisahkan Kami—pun, saling mencintai benar-benar tidak sederhana, kau percaya? (hal. 100). Justru permasalahan hubungan jarak jauh (long distance relationship), rentang usia terlampaui jauh, juga gelar dan status sosial tidak mungkin sesederhana saling mencintai lalu ingin menghidupi. Itu sebabnya, penulis kelahiran Malang ini menuliskan: kadang-kadang, memang selalu ada waktu untuk tidak berkasih. Untuk tidak bercinta, untuk tidak menikah. Lagi pula, kisah cinta yang melulu indah itu kata siapa?

Pernyataan tersebut membuat Amanatia menciptakan tokoh seorang mahasiswi dengan pembicara seminar super sibuk di bagian 8: tak ada dari kami berdua yang menyangka bahwa pada akhirnya kami saling jatuh cinta dan memiliki hubungan yang sulit didefinisikan. Di usiaku yang berjarak sembilan tahun lebih muda darinya, aku benar-benar tak habis pikir mengapa ia bisa jatuh cinta padaku (hal. 96). Pada akhirnya, tokoh si perempuan dalam cerita ini mengungkapkan kegelisahannya: belum 24 jam ditinggalkan, sudah menangis lagi. Aku hanya menatap layar dan tak menyentuhnya. Berharap ia membalas dan mengabarkan bahwa ia baik-baik saja di sana, tapi ia tak membalas. Mungkin sibuk. Mungkin pula enggan (hal.102).

Lebih menyesakkan lagi, ketika disuguhkan ceritanya bertajuk Baru Menjadi Ibu—sebagai pemilik rahim, perempuanlah yang pada akhirnya menanggung kepuasaan birahi (entah dari salah satu atau kedua belah pihak). Maka tak heran jika W. Sanavero menuliskan kegelisahannya dalam Perempuan yang Memesan Takdir. Prosa yang menyingkap sisi lain perempuan perihal mamaknai cinta, kenangan, keluarga, budaya, pernikahan, bahkan hubungan manusia dengan Tuhan—meskipun cara pandang perempuan tetaplah berbeda antara satu dengan yang lainnya.

Berbeda kisah dengan pemikiran laki-laki. Saya teringat Kisah Sedih Kontemporer (IX) dalam Kumcer Bakat Menggonggong, Dea Anugrah menyiratkan kesedihan perihal cinta yang “lucu” sehingga patut ditertawakan dengan “gonggongan” atau umpatan kecil saat Shalani Nafasha setelah dua tahun mengirimkan pesan tersirat bahwa ia telah memiliki momongan kepada Fredrik—pria yang mengaguminya. Berbeda konteks dengan Kurniawan Gunadi perihal cinta diam-diam kepada seseorang yang ia cintai hingga dituliskannya dalam sekumpulan cerita Lautan Langit. Baginya, menikahi dan mengarungi lautan kehidupan bersama adalah solusi tepat untuk mengimplementasikan rasa cinta.

Lalu apa yang terlintas ketika membaca judul buku ini? Apakah dengan meghindari kerumitan tersebut kita hanya mampu memilih untuk tidak menikah? Lalu dengan memilih untuk tidak menikah kita akan terlepas dari belenggu masalah? Lalu bagaimana menjalani kehidupan sebagaimana Nursri, menjelang hari pernikahannya yang tinggal beberapa jam harus dihadapkan dengan persoalan yang membuat pikirannya kacau. Perempuan itu, akhirnya memilih hidup dengan anak semata wayangnya di Timalayah tanpa harus menikah. Kini baginya, tidak ada yang lebih penting dari mengurus anak satu-satunya—tanpa perlu lagi menghadirkan sosok lelaki dalam kehidupannya.

Membaca buku Amanatia Junda, saya mengimani bahwa yang terjadi di masyarakat perihal cinta, rumah tangga, atau hubungan sosial tidak semudah menikmati cerita di negeri dongeng. Di Lantai Tiga Beringharjo, misalnya. Kita akan mendapati penulis dengan cerdik menceritakan beragam karakter yang barangkali kita temui di kehidupan para pedagang. Menceritakan seorang janda yang memilih tinggal sendiri setelah ditinggal pergi suaminya ke luar negeri. Kisah perempuan yang sarat dengan kesedihan—seumpama baginya, hidup dengan hewan peliharaan lebih menyenangkan dibandingkan menjalani hidup yang baru bersama pasangan baru, pun dengan persoalan yang baru pula.

Tidak hanya itu, penulis mengikhtiarkan pemahamannya bahwa laki-laki harus paham seluk-beluk perempuan. Maka dengan tegas pun lugas, pengarang menciptakan sebuah cerita Perkara di Kedai Serba-Serbi. Tidak tanggung-tanggung, Amanatia menuliskan secara gamblang lewat sosok Dina; perempuan yang terpaksa menceritakan kesialan di hadapan kekasihnya. Bagi saya, ini merupakan bagian rumit bagi perempuan untuk menunjukkan apa yang seharusnya disembunyikan. Tapi seketika saya sepakat bahwa tidak ada yang salah dengan ilmu pengetahuan. Maka, sah-sah saja.

Terlepas dari latar belakang pengarang, saya yakin bahwa Amanatia merupakan sosok yang kuat. Terbukti dari hampir keseluruhan cerpennya, selalu dimunculkan konflik yang membuat perempuan selalu menanggung “getah” dari kesialan lelaki. Namun dimunculkan solusi tentang bagaimana tokoh tersebut mengambil peran untuk tetap selow menghadapi kehidupan. Baginya, ia hanya perlu membaca ulang peristiwa-peristiwa lama yang membuat dirinya berspekulasi: aku masih lebih beruntung daripada dirinya. Atau semacam rasa syukur dan kebijaksanaan untuk tidak memperlihatkan kelemahan. Sehingga ia memilih berjalan terus sesuai kehendak hatinya sendiri.

Merasa dicurangi dengan judul buku ini sebab berbeda situasi dengan Nursri, saya tetap mendapatkan bekal untuk sekadar merenungkan kembali mengapa menikah menjadi bagian penting bagi hidup manusia. Terlepas dari cinta, terlepas dari tuntutan keluarga, dan terlepas dari persoalan apapun, waktu untuk tidak menikah bagi saya hanyalah persoalan “waktu”. Itu sebabnya mengapa banyak sekali perkara terjadi, baik yang melibatkan masa lalu, masa sekarang, bahkan masa depan. Maka sampailah kita kepada pertanyaan perihal: kapan waktu untuk tidak menikah—dan setiap orang berhak atas jawabannya masing-masing.

Ini seperti prinsip cinta yang diceritakan Cak Nun pada sebuah kesempatan perihal Umbu Landu Paranggi—beliau mengimani bahwa cinta sejati adalah cinta yang tak boleh dibatalkan dengan sebuah pertemuan, apalagi sampai melakukan kontak fisik dengan pernikahan. Salah satu prinsip Umbu sehingga ia tetap mencintai seorang wanita tanpa pernah memilikinya sama sekali, namun ia tetap mencintainya. Bagaimana bisa? Bukankah cinta dan pernikahan saling beriringan? Bertanyalah sambil menyelami setiap lembar buku ini dan temukan jawabannya.

Bagi siapa saja, buku ini sengaja lahir untuk ditimang khalayak luas. Bukan hanya dikhususkan kaum jomlo yang terlanjur malas untuk menikah atau kaum patah hati yang mengutuk dirinya sendiri dengan beragam alasan. Sebab cerita demi cerita yang dihidangkan Amanatia sangatlah realistis dengan kehidupan nyata. Maka bagi siapa saja yang masih memiliki cinta, nikahilah buku ini sebelum waktu memaksa kita menikahi sepi.

Mutia Senja, lahir di Sragen, Jawa Tengah. Bergiat  di Sekolah Menulis  Sragen  dan  Komunitas  Sangkar  Literasi. Hobinya menulis sesuka hati. Buku  puisi tunggal Manahan Selepas Hujan, terbit Mei 2018. Blogger di aksaramutiasenja.blogspot.com, Instagram: @mutia_senja, e-mail: [email protected], nomor HP 085713027400,

Cerpen

Kejahatan Sempurna

Cerpen Dadang Ari Murtono

Jam delapan lebih empat belas pagi, Sam sarapan lahap sekali. Remah-remah roti berhamburan dari mulutnya yang tak henti mengeluarkan suara decap. Ponsel di samping piringnya bergetar. Nul sibuk dengan pulpen dan kertas di sisi meja yang berseberangan dengan tempat duduk Sam.

“Halo.” Sam mengusap mulutnya. “Iya, tentu aku bisa. Itu urusan kecil. Jadi, jadi. Aku tidak lupa. Tidak, tidak. Kau tidak perlu kuatir. Sebentar lagi aku berangkat. Ya, aku sedang sarapan. Ya, akan lebih cepat selesai bila kau tidak menggangguku dengan panggilanmu. Ya, aku akan bersama Nul. Tentu dia bisa. Dia harus bisa. Tidak, tidak. Ya, tunggu saja. Baiklah, sampai jumpa.”

Sam mengembalikan ponsel ke tempat semula.

“Siapa?” Nul meletakkan pulpen dan  mengangkat kepala.

“Hanya urusan kecil,” jawab Sam. “Apa yang kau kerjakan?”

“Hanya beberapa pekerjaan sepele. Kau tahulah, membenahi pilihan kata dan tanda baca. Juga memperbaiki logika. Ide selalu datang tanpa bisa kita duga-duga. Kau tahu itu. Hal-hal wajar bagi seorang penyair.”

“Syukurlah. Sudah selesai?”

“Ya. Kau bisa menganggapnya sudah selesai. Atau sebaliknya, kau bisa menganggapnya sama sekali belum selesai. Menulis puisi adalah hal yang unik. Kau pahamlah apa maksudku. Tapi sudahlah, kudengar kau menyebut-nyebut namaku tadi.”

Sam menggelengkan kepala. Mulutnya masih sibuk mengunyah potongan terakhir roti. Tangan kanannya meraih gelas susu. Hanya dengan sekali tenggakan kasar, ia menandaskan isi gelas yang tinggal separuh itu.

Nul bangkit. Lantas mengambil serbet dan berjalan ke meja makan. “Kau sudah selesai dengan sarapanmu?”

“Tentu. Kau bisa membereskannya,” ujar Sam. Ia mengambil sebatang rokok. Lantas menyulutnya. Sebuah ritual yang selalu ia kerjakan sehabis makan.

“Kau belum mengatakan kenapa kau menyebut-nyebut namaku dalam percakapanmu tadi.”

“Kau akan tahu, Nul Sayang. Kau sudah lihat apa yang ada di atas kulkas?”

“Apa?” Nul menengok ke arah kulkas. “Aku tergesa-gesa menyiapkan sarapanmu sementara pikiranku penuh dengan kata-kata baru sejak aku bangun tidur tadi. Aku membuka kulkas buru-buru hanya untuk mengambil susu. Aku tidak sempat memeriksa isi kulkas dengan seksama.”

“Di atas kulkas. Bukan di dalam kulkas.”

Nul mengangkat piring. Mengelap meja. Lantas membawa piring ke wastafel. Meletakkannya begitu saja. Lalu ia menuju kulkas.

“Apa ini?”

“Bukalah.”

Nul membuka kotak kardus kecil berwarna coklat itu. Ia tertegun untuk beberapa detik.

“Apa ini, Sam? Tumben kau begitu manis?”

“Kau lupa? Ada surat kecil di situ. Bacalah.”

Nul memang menemukan secarik kertas di bawah cincin emas yang bersarang di dasar kotak itu. Ia membuka lipatan kertas tersebut. Ada empat kata yang tertera di sana. Selamat Ulang Tahun, Sayang.

“Demi Tuhan, Sam. Aku lupa kalau sekarang ulang tahunku. Terima kasih, Sayang. Aku benar-benar tidak bisa membayangkan apa jadinya aku tanpamu.”

“Kau akan tetap jadi penyair hebat, Sayang. Ayolah, siapkan dirimu. Aku punya sesuatu yang lain untuk merayakan hari luar biasa ini.”

“Oh, Sam. Apa lagi? Sebuah kejutan yang manis dalam sehari sudah cukup menakjubkan bagiku.”

“Ayolah Nul. Kau tidak berulang tahun setiap hari.”

“Tunggu sebentar. Lima menit.”

Nul berlari ke kamar. Nyatanya, ia mengingkari janjinya sendiri. Ia menghabiskan dua puluh dua menit untuk memilih baju dan mengenakan riasan. Ia kemudian keluar dengan pakaian andalannya—celana jeans dan kemeja kotak-kotak biru. Pipinya bersemu merah. Bibirnya dipulas lipstik coklat. Rambutnya dibiarkan tergerai.

“Bagaimana Sam?”

“Sempurna. Kau tak pernah terlihat secantik ini.”

“Ah, jangan berlebihan. Aku sudah sering memakai ini.”

“Ya. Tapi kali ini, entah mengapa, kau terlihat menakjubkan. Mungkin efek dari hari baik.”

“Bukan. Ini efek dari kejutan dan sikap manismu.”

“Oke. Tak masalah apapun itu. Kita harus segera pergi.”

“Kemana?”

“Aku meminta Marni buka lebih awal. Khusus buat kita.”

“Oh, Sam. Aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Ini benar-benar hari yang sempurna.”

Mereka keluar dari rumah. Belok kiri. Berjalan dua blok. Lantas belok kanan. Lurus hingga tiga ratus empat puluh meter. Belok kiri sejauh empat puluh meter. Lalu berhenti di depan sebuah kedai.

“Aku tidak punya banyak uang untuk membayar Marni agar menghias kedainya dengan bunga-bunga. Jadi, kumohon maafkan aku bila kau tidak menemukan hiasan yang tidak seperti biasanya. Tapi aku berjanji kepadamu, kau bisa minum sebanyak apapun wiski yang kau mau.”

“Kau yang terbaik, Sam. Kau yang terbaik,” Nul mendaratkan sebuah ciuman di pipi Sam.

Marni menyambut mereka dengan senyum termanis yang pernah mengembang di mulutnya. Perempuan tiga puluhan tahun yang masih betah melajang itu tampil dengan segala kebesaran dan keanggunannya. Gaun merah berdada rendah, memperlihatkan sebagian payudaranya yang berkilauan.

“Kau cantik sekali, Marni,” kata Nul. “Kau lebih terlihat sebagai orang yang dirayakan ulang tahunnya ketimbang aku.”

“Aku tak ingin membuat pestamu berantakan,” jawab Marni. “Selamat ulang tahun. Aku tak tahu ini ulang tahunmu yang keberapa. Dan aku tidak ingin bertanya. Bukankah tidak sopan bertanya usia kepada perempuan?”

“Tiga puluh tiga, Marni. Tidak apa, toh, cuma kita bertiga di sini.”

Sam menggeser kursi. Membanting pantatnya di sana. Lantas mengeluarkan rokok dari saku bajunya.

“Sialan, korekku ketinggalan,” keluhnya.

Marni merunduk di balik meja bar. Ketika kepalanya kembali muncul, ia berkata sedikit keras, “Tangkap ini, jagoan.” Sam dengan tangkas menangkap korek api yang melayang ke arahnya.

“Kau tak pernah mengecewakan, Marni.”

“Ya. Kaulah yang selalu mengecewakan. Kau nyaris membikin jantungku copot sepagi ini. Kau tahu, Nul, aku benar-benar kuatir kalau Sam lupa bahwa dia harus membawamu ke sini untuk merayakan ulang tahunmu. Karena itu aku tadi meneleponnya.”

“Kalian merencanakan ini dengan sangat hebat,” kata Nul seraya tertawa kecil. “Baiklah. Mari kita mulai. Apa arti perayaan ulang tahun tanpa sedikit alkohol?”

“Sabar manis. Aku sudah menyiapkan wiski yang luar biasa. Kau akan menyukainya. Dan untukmu, Sam, seperti biasa, vodka yang ganas.”

“Kau memang yang terbaik, Marni.”

“Eh, tunggu dulu,” kata Marni. “Karena Sam memintaku membuka kedai lebih awal khusus buat kalian dan Sam juga bilang tak ingin ada orang lain selain kita bertiga di sini, kupikir kalian memang menginginkan semacam privasi dan jauh dari gangguan. Apakah tidak sebaiknya kalian mematikan ponsel? Atau kalian mau merekam pesta ini dan memacaknya di media sosial?”

Sam mengangkat bahu. “Aku ingin momen berharga seperti ini kami nikmati sendiri saja. Tak perlu ada orang lain yang tahu. Kau tahu kan, berdasarkan sebuah penelitian yang pernah aku baca, orang-orang yang suka memamerkan kemesraan dengan pasangannya di media sosial cenderung menyimpan masalah dan tidak harmonis? Yah, tapi karena ini adalah pesta Nul, semua terserah kepadanya. Bagaimana Nul?”

“Aku setuju denganmu, Sam Sayang. Hubungan kita baik-baik saja. Sangat baik, malah. Kita benar-benar pasangan yang harmonis. Bukankah kau juga berpikir begitu, Marni?”

“Tentu. Tentu saja. Aku tidak pernah melihat ada pasangan yang lebih harmonis ketimbang kalian.”

Gelas berdentang. Nul minum dan tertawa. Sam minum dan mengepulkan asap rokok dan tertawa. Marni menuangkan minuman dan ikut minum bersama mereka—sekali ia mengambil dari botol jatah Nul, dan sekali dari botol jatah Sam.

“Kau tak boleh minum terlalu banyak, Marni. Kau harus memastikan kami tidak terlalu mabuk dan melakukan hal buruk,” kata Sam.

“Jangan kuatir. Aku bisa menjaga diriku. Nah, sekarang giliranmu, Nul. Kau harus minum lebih banyak karena ini hari istimewa buatmu.”

“Tentu saja. Aku akan minum langsung dari botol.”

Mereka tertawa. Mereka tertawa. Dan mata Nul mulai merah.

“Ia sudah hampir menghabiskan isi botolnya.”

“Ya, Marni. Dan aku menepati janjiku padamu. Inilah saatnya.”

“Tidakkah kita mesti menunggu beberapa saat lagi, Sam?”

“Ini sudah cukup. Nul sudah sangat mabuk. Enam tahun kami bersama dan itu sudah cukup membuat aku mengenali detail-detail kecil dari dirinya. Aku tahu ketika matanya sudah seperti itu, itu artinya ia sudah benar-benar mabuk. Sini, mendekatlah.”

“Oh, Sam, jantungku berdebar-debar. Ini luar biasa. Sensasi yang menakjubkan. Ini benar-benar kejahatan yang sempurna.”

“Ya, ya. Sebuah kejahatan yang sempurna. Tak ada sensasi yang lebih luar biasa dari ini. Berselingkuh di depan mata orang yang kita selingkuhi.”

Mata Nul berkabut. Samar-samar, ia melihat tangan Sam meraih dan menarik kepala Marni. Lantas ciuman. Lantas pakaian yang tanggal. Nul mengucek-ucek matanya. Kepalanya semakin berat. Dan nanti, setelah pengaruh alkohol menguap dari batok kepalanya, ia tidak akan mengingat kebrutalan birahi yang terjadi di depan matanya.
***

Dadang Ari Murtono, lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Bukunya yang sudah terbit antara lain Ludruk Kedua (kumpulan puisi, 2016) dan Samaran (novel, 2018). Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam kelompok suka jalan.

Redaksi ideide.id memberikan honorarium kepada penulis yang karyanya dimuat meskipun tidak banyak.
Kirim karyamu sekarang juga di SINI