Di dunia nyata, Kim
Sa-Bok bukan nama yang lazim di Korea Selatan. Sepanjang sisa hidupnya, seorang
Jurnalis berkebangsaan Jerman, Jürgen Hinzpeter, mencari sosok pemilik nama itu dan
terpaksa mengakhiri hidupnya pada 25 Januari 2016 tanpa pernah menemukannya.

Itulah
jurus pamungkas yang disuntikan kepada film A Taxi Driver (2017) yang
disutradarai oleh Jang Hoon. Bahwa film memusatkan pada sosok nyata pahlawan
tanpa tanda jasa—yang berperan sebagai sopir taksi untuk jurnalis asing seperti
disebutkan di atas—tentu bukan tanpa sebab.

Salah satu alasan
yang dikemukakan oleh Koresponden New York Times, Choe Sang-Hun, adalah karena
selama ini yang selalu dielu-elukan oleh publik adalah Hinzpeter,
dan tidak dimungkiri ia memang berjasa bagi perjuangan demokrasi Korsel dengan
mengabarkan kondisi Korsel kepada dunia. Namun, seperti selalu ditulis oleh
Hinzpeter di beberapa catatannya, ia tidak mungkin berhasil meliput peristiwa
berdarah di Gwangju (Kwangju), Korsel, pada Mei 1980 tanpa bantuan seorang
sopir taksi.
Dan inilah saatnya pahlawan sebenarnya mendapat tempat di hati rakyat
Korsel.

Menguji
Prioritas

Dalam cerita film, Kim Sa-Bok (Song Kang-Ho) adalah
pribadi yang pantang menyerah, teguh pendirian, dan lugu. Berkat pengalamannya
menjadi sopir truk di Arab Saudi beberapa tahun sebelumnya, ia punya kemampuan
berbahasa inggris yang cukup baik. Dengan begitu tanpa kesulitan ia bisa
berkomunikasi dengan Peter—nama
yang merujuk kepada Hinzpeter—yang diperankan oleh aktor Jerman Thomas
Kretschmann, selama perjalanannya dari Seoul ke
Gwangju.

Jika pada
kenyataannya—seperti ditulis oleh Choe Sang-Hun—Kim diminta oleh kenalan
Hinzpeter di Seoul untuk mengantarnya ke Gwangju, sementara dalam plot film,
Kim berjuang untuk mendapatkan upah sebesar 100.000 Won dari tugas mengantar
jurnalis asing tersebut. Meski begitu, ia melakukannya karena tuntutan ekonomi
dan untuk anak perempuan semata wayangnya Eun Jeong (Yoo Eun-Mi) yang berusia
11 tahun.

Bagian konflik
film memuncak saat ia harus memutuskan apakah harus selalu menemani
penumpangnya selama bertugas meliput kerusuhan di Gwangju atau harus pulang
menemui anaknya yang tinggal sendirian. Prioritas dan kecintaannya pada
keluarga diuji.

Gwangju 1980 dan Jakarta 1998

Ada konteks
kemiripan antara peristiwa Gwangju Mei 1980 dan Demonstrasi Mei 1998 di Jakarta,
yaitu sama-sama melibatkan mahasiswa untuk menurunkan diktator-militeristik.
Meski demikian, jika harus membandingkan antar film, penulis secara subjektif
akan membandingkannya dengan salah satu film bertema Mei 1998 di Indonesia,
yakni Di Balik 98 (2015).

Meski banyak pro dan kontra
terkait film Di Balik 98, pembandingan
ini untuk melihat visualisasi dan plot film yang mengangkat perjuangan
mahasiswa untuk mendelegitimasi rezim yang saat itu berkuasa.

Di Balik 98,
mahasiswa merupakan tokoh dan arus utama yang membawa plot film. Sedangkan pada
A Taxi Driver, mahasiwa adalah hal di luar Kim Sa-Bok yang wajib ia masuki dan
ia bela agar film bisa berjalan sesuai alurnya. Jika Di Balik 98 memunculkan
banyak konflik yang nantinya berpilin jadi akhir yang manis, tapi di A Taxi
Driver cukup dengan perjuangan Kim Sa-Bok, maka seluruh perjuangan mahasiswa
itu akan bisa tuntas.

Dalam A Taxi
Driver, Kim Sa-Bok adalah kaum marjinal di negaranya. Sementara Di Balik 98
juga memunculkan narasi kaum marjinal pada ayah dan anak berpakaian lusuh yang
sehari-hari berkeliling Jakarta membawa gerobak. Bedanya, kehidupan Kim Sa-Bok
dinarasikan getir namun ia bisa membuat kehidupannya riang gembira. Itu persis
ciri khas humor dari film-film Korea. Sedangkan sosok ayah dan anak di film Di
Balik 98, seakan dipaksa muncul dengan ironi-ironi yang ada. Namun, tanpa kesan
kuat humanisme dan hanya mengeskpos kemelaratan.

Jika menonton Di
Balik 98, penonton diguncang perasaan sedih dan marah atas perjuangan Diana
(Chelsea Islan) dan Daniel (Boy William), sementara dalam A Taxi Driver, kita
diajak untuk asyik mengikuti petualangan Kim Sa-Bok dalam misinya untuk setia
mengantarkan penumpang. Tak hanya itu, ada rasa optimisme bahwa perjuangan
kelompok mahasiswa tidak hanya mengesankan luapan kemarahan, tapi juga
keyakinan bahwa itulah jalan yang benar sedari awal.

Adegan-adegan
aparat militer menembaki mahasiswa ditampilkan secara jelas di film A Taxi Driver.
Ratusan mahasiswa tanpa ampun menjadi korban peluru tajam. Dan Kim Sa-Bok
akhirnya mengambil peran juga untuk membantu mahasiswa meskipun tampak aneh dan
agak lucu. Barangkali di kejadian sebenarnya penembakan mahasiswa tentu amat
menyeramkan, dan tindakan yang dilakukan oleh Kim Sa-Bok dalam cerita film
digambarkan menjadi berani tanpa memedulikan keselamatan dirinya seakan-akan
adegan epos di film-film superhero. Penggambaran
yang sama juga terjadi di aksi balap-balapan di penghujung film. Meski begitu,
tanpa adegan tersebut, Kim Sa-Bok justru akan menjadi figuran, kalah bersaing
dengan Peter.

Hal berbeda ada
pada film Di Balik 98 yang tidak terlalu menonjolkan adegan kekerasan fisik. Ia
hanya membidik psikologi para tokoh dalam keruwetan masalah masing-masing. Di
satu sisi itu jadi nilai tambah, tapi di sisi lain ada momen yang tidak bisa
didapat seperti di film A Taxi Driver. Bisa jadi ada pertimbangan lain, tapi
sangat disayangkan.

Kim Sa-Bok menghilang

Kembali kepada
judul di atas, mencari sosok nyata Kim Sa-Bok bukan hal mudah. Desas-desus
bermunculan pasca tragedi Gwangju 1980 dan informasi kasat mata yang
diberitakan ke seluruh penjuru dunia. Ada yang mengatakan bahwa ia meninggal
empat tahun setelah peristiwa itu karena sakit, ada pula yang menyatakan ia
sengaja menyembunyikan diri. Terbukti dengan namanya yang aneh dan tampaknya
hanya nama palsu.

Bagaimanapun,
sosok Kim Sa-Bok jelas ada, dan ialah pahlawan yang sesungguhnya. Dengan
tindakannya yang ada dalam versi fiksi di film A Taxi Driver, masyarakat Korea
Selatan mengaku mulai mengaguminya. Bukan saja karena ia ada di balik
terpukulnya rezim diktator Chun Doo-Hwan, tapi juga nilai-nilai kepribadian
seperti diwartakan Hinzpeter bahwa ia jujur, setia, cerdik, pantang menyerah,
dan pemberani.

Karakter positif
yang tercermin dalam diri Kim Sa-Bok bisa dicontoh oleh banyak pengemudi taksi.
Di kala beberapa pengemudi taksi—termasuk pengemudi kendaraan umum
lainnya—banyak disorot atas kinerjanya terhadap pelayanan penumpang, Kim Sa-Bok
mengajarkan bagaimana menjadi sopir taksi. Tentu bukan keberanian menerobos
penjagaan aparat militer, tapi bagaimana kejujuran, kesetiaan, ramah, dan yang
terpenting mengantarkan penumpang sampai kepada tujuannya.

Itulah mengapa
kita pun bisa ikut mencari “Kim Sa-Bok”.

Agung Setya lahir di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah pada tahun 1992. Ia aktif menulis puisi dan cerpen. Buku puisinya Membaca Mata (2016) dan kumpulan cerpennya Menjelang Dingin (2018).

Redaksi ideide.id memberikan honorarium kepada penulis yang karyanya dimuat meskipun tidak banyak.
Kirim karyamu sekarang juga di SINI