Sejak perceraiannya dengan Ayah, Ibu tak mau lagi berhias. Sekadar memulas pemerah bibir atau perona pipi pun ia enggan. Hanya sebuah sisir yang ia gunakan untuk merapikan rambut panjang, selebihnya segala macam perlengkapan rias ia singkirkan dari kamar. Bagiku, pucat wajah Ibu sama halnya dengan layu dirinya. Seperti bunga yang kehilangan warna, Ibu memudar.

“Aku berhias
hanya untuk ayahmu, tapi sekarang tak ada lagi alasan bagi Ibu untuk
melakukannya.”

Aku tak lagi
bisa memaksanya, meski aku rindu melihat Ibu yang berlama-lama di meja rias
untuk menabur bedak, menyamarkan garis-garis di kening, menghilangkan lingkaran
hitam di sekitar mata, dan membuat bibir yang selalu tersenyum itu menjadi
merah serupa buah stroberi. Aku rindu melihat Ibu yang sibuk mematut wajahnya
di cermin dan merasa percaya diri bahwa dialah wanita paling cantik di dunia;
tak ada wanita lain!

Aku sudah
cukup dewasa untuk mengerti dan memahami keputusan kedua orangtuaku untuk
bercerai. Aku tak mau terlalu egois dengan mengharapkan sebuah keluarga utuh
hanya demi status sosialku di masyarakat sedangkan aku tahu ada gejolak dalam
keluargaku. Aku mengerti inilah yang terbaik. Meski itu tidak berarti aku
mengerti mengapa Ayah lebih memilih wanita lain.

Kurang
cantikkah Ibu? Kurang baikkah Ibu? Bagiku Ibu adalah seorang wanita yang
sempurna; ibu yang baik dan istri yang teladan.

Selalu ada
buah yang lebih segar. Mungkin itu yang menggoda Ayah. Usia Ibu memang tak bisa
dibohongi atau ditutup dengan perias wajah, sedangkan Ayah menginjak masa
pubertas kedua. Ayah berpaling pada sekretarisnya yang matang, yang senyumnya
lebih menggairahkan, berkulit mulus kencang. Sejak itu begitu banyak
pertengkaran, amarah yang tak lagi bisa dibendung, kekecewaan tak lagi bisa diadang.
Mereka menyerah dalam persidangan.

“Tak bisa Ibu
bayangkan ayahmu menghabiskan malam bersama wanita lain. Lebih baik Ibu sendiri
daripada menghadapi kesakitan berbagi.”

Selepas hari
persidangan Ibu menghapus riasan di wajahnya dan sejak itu tak pernah lagi aku
melihat ia berhias. Ia biarkan garis-garis halus muncul di wajah. Ia biarkan
pipi itu mengendur tak berperona. Ia biarkan bibir tanpa senyum itu mengering.
Ibuku seperti seorang yang tengah sekarat dan sebentar lagi malaikat maut
mengambilnya.

Kadang ingin
aku berkata, jika bercerai adalah pilihan agar Ibu tak harus dimadu, mengapa
Ibu berkabung dalam duka? Bukankah akan lebih baik jika Ibu tunjukkan pada Ayah
bahwa Ibu bisa tetap bahagia, bahwa Ibu tak membutuhkan seorang laki-laki yang
tak setia? Mungkin memang benar Ibu telah cinta mati pada Ayah dan sekarang Ibu
tahu bahwa cinta itu tak lagi terbalas. Maka, pada sebuah kekecewaan yang
mahakuat Ibu menyerah, memilih berkabung dan tak lagi bisa melihat dunia
seperti dulu.

Aku teringat
pada nenekku yang ditinggal mati oleh Kekek. Bagiku mereka adalah gambaran
cinta sejati. Kakek dan Nenek telah melewati waktu yang teramat panjang untuk
saling mencintai, saling menjaga dalam kasih dan duka. Dan ketika ajal itu
merenggut Kakek, Nenek tak mampu lagi bertahan meski berulang kali ia katakan
ikhlas. Tepat sebulan sejak kepergian Kakek, Nenek menyusulnya setelah menahan
kesakitan rindu yang dihasilkan dari perpisahan. Mereka dimakamkan
bersebelahan.

Aku yakin di
surga mereka telah bahagia; menghabiskan keabadian dalam cinta selamanya. Aku
pun yakin Ibu ingin memiliki cinta yang sama seperti kedua orangtuanya;
menikah, hidup bersama sampai tua, mati, dan bertemu kembali di surga. Namun,
Ayah berkehendak lain.

“Maafkan
Ayah, Nak,” kata Ayah seusai persidangan.

Aku tak cukup
dewasa untuk mengerti bagaimana seorang laki-laki yang telah bersumpah setia, mengingkari
janji demi seorang wanita lain. Dan aku tak cukup dewasa untuk mengerti arti
kesedihan yang ditunjukkan Ibu. Bagiku tak mengapa mereka berpisah, tapi aku
berharap mereka bisa mendapat kebahagiaan satu sama lain. Bukankah itu impas?

“Kau hanya
belum mengerti, Nak,” kata Ibu.

Ya, aku
memang belum mengerti. Aku biarkan Ibu dalam kesedihannya; hari-hari berlalu
dengan kepucatan di wajah Ibu. Ia menua lebih cepat, seperti Nenek yang
menemuai ajal lebih cepat demi bertemu kakek.

Aku pikir
setahun atau dua tahun cukup bagi Ibu, tapi aku salah; ia tetap melanjutkan
kesedihannya. Bahkan di hari pernikahanku, putri semata wayangnya, ia tetap tak
berhias. Meski terkadang
menampakkan senyum di bibir, tapi tetap saja ia serupa pelayat yang mengantar jenazah ke liang lahat
dengan muka pucat, baju serba hitam. Pasti
karena itu ada orang yang
berbisik, “Mungkin ibunya tidak merestui.”

Sejak itu aku
mengenal arti kata benci. Tak seharusnya Ibu begitu keras kepala hanya untuk
menunjukkan kesedihannya ditinggal kekasih hati. Bagaimanapun aku anaknya yang
ingin semua sempurna di hari pernikahanku. Mau ditaruh di mana mukaku ketika
mertuaku bertanya perihal Ibu? Aku hanya bisa menunduk dalam-dalam padahal aku
telah menyiapkan kebaya indah berwarna merah muda untuk Ibu; kebaya yang jauh
hari sudah aku wanti-wanti untuk Ibu kenakan, tapi Ibu lebih memilih pakaian
pelayat.

Jika Ibu
berkabung begitu lama untuk sebuah kekecewaan pada Ayah, maka aku bisa membenci
dengan waktu yang sama lamanya untuk kekecewaan pada Ibu. Aku hengkang dari
rumah yang membesarkanku. Mengubah kesepakatan dengan Mas Bram, suamiku, bahwa
kami akan tinggal di rumah orangtuaku demi menjaga Ibu. Aku memilih tinggal
jauh dari Ibu.

Aku tahu tak
seharusnya aku membenci Ibu untuk keputusannya. Mas Bram selalu menasihatiku,
tapi aku tak bisa. Aku terlalu kecewa.

“Mungkin kamu
hanya belum mengerti arti kesedihan Ibu,” kata Mas Bram setiap aku menolak
untuk mengunjungi Ibu.

Bertahun
lamanya aku memelihara kekecewaan. Hingga anakku lahir, aku belum pernah
sekalipun menjenguk Ibu. Aku yakin ia masih dalam perkabungannya; mengenakan
pakaian serba hitam, tanpa perona di pipi, apalagi lipstik di bibir. Aku hidup
bahagia dengan keluarga kecilku, hingga kusadari ada yang sedang bermain di
belakangku.

Mas Bram jadi
lebih jarang pulang ke rumah. Ada saja alasannya dan aku mulai curiga. Ketika
kutanya ia marah, mengatakan bahwa aku tak seharusnya curiga apalagi menuduhnya
macam-macam. Ia tak tahu kalau sudah memegang bukti-bukti perselingkuhannya
dengan seorang klien. Bisnis katanya, padahal mereka memadu cinta di pulau
seberang.

“Mari kita
akhiri saja,” tukasnya.

Harusnya aku
yang mengatakan itu. Sejujurnya aku mungkin bisa berbagi, tapi Mas Bram tidak
mau. Ia lebih memilih menceraikanku untuk bisa bersama kekasihnya yang baru.
Hingga putusan persidangan dibacakan Mas Bram tak pernah sekalipun datang; ia
meninggalkan rumah besar kami, mengabaikan putra kecil kami. Rumah ini serasa
kuburan yang sepi dan penuh kesedihan.

Di depan
cermin di mana biasanya aku mematut diri untuk merasa menjadi yang paling
cantik untuk suamimu, kuhapus lipstik di bibir, perona di pipi, dan menggerai
rambutku yang panjang. Tak ada lagi cinta yang tersisa. Tak ada lagi gunanya
aku merias wajah karena kekasih yang begitu aku puja memilih wanita lain.

“Pakailah.”
Ibu datang dengan senyum tipis di wajah. Disodorkannya selembar baju berwarna
hitam padaku.

Seperti inikah yang selama ini Ibu rasakan? Ketika kekasih hati pergi, bukan untuk Tuhan, melainkan untuk wanita lain, maka separuh jiwaku telah mati. Kini yang tersisa adalah perkabungan panjang karena aku tahu tak akan ada cinta yang lain. Bisa saja saat ini Ibu mengatakan alasannya tentang apa yang selama ini ia sikapkan, tetapi tidak ia lakukan.***

Bojong, 29 Januari 2019

____________________

Tiqom Tarra. Lahir dan tinggal di Pekalongan. Selain menulis cerpen dan novel, kini menggeluti seni doodle. Cerpen-cerpennya pernah dimuat di Harian Solopos, Radar Surabaya, Fajar Makassar, dan Gogirl! Web Story. Runner up lomba novelet Loka Media dengan novelet Renjana (Loka Media, 2017). Buku kumpulan cerpen perdana Anak Kecil yang Memamerkan Bayinya dan Orang Dewasa yang Menyimpan Biji Mentimun di Saku Celana (JWriting Soul, 2018).