Jam
delapan lebih empat belas pagi, Sam sarapan lahap sekali. Remah-remah roti
berhamburan dari mulutnya yang tak henti mengeluarkan suara decap. Ponsel di
samping piringnya bergetar. Nul sibuk dengan pulpen dan kertas di sisi meja
yang berseberangan dengan tempat duduk Sam.

“Halo.” Sam mengusap mulutnya.
“Iya, tentu aku bisa. Itu urusan kecil. Jadi, jadi. Aku tidak lupa. Tidak,
tidak. Kau tidak perlu kuatir. Sebentar lagi aku berangkat. Ya, aku sedang
sarapan. Ya, akan lebih cepat selesai bila kau tidak menggangguku dengan
panggilanmu. Ya, aku akan bersama Nul. Tentu dia bisa. Dia harus bisa. Tidak,
tidak. Ya, tunggu saja. Baiklah, sampai jumpa.”

Sam
mengembalikan ponsel ke tempat semula.

“Siapa?”
Nul meletakkan pulpen dan  mengangkat
kepala.

“Hanya
urusan kecil,” jawab Sam. “Apa yang kau kerjakan?”

“Hanya
beberapa pekerjaan sepele. Kau tahulah, membenahi pilihan kata dan tanda baca.
Juga memperbaiki logika. Ide selalu datang tanpa bisa kita duga-duga. Kau tahu
itu. Hal-hal wajar bagi seorang penyair.”

“Syukurlah.
Sudah selesai?”

“Ya.
Kau bisa menganggapnya sudah selesai. Atau sebaliknya, kau bisa menganggapnya
sama sekali belum selesai. Menulis puisi adalah hal yang unik. Kau pahamlah apa
maksudku. Tapi sudahlah, kudengar kau menyebut-nyebut namaku tadi.”

Sam
menggelengkan kepala. Mulutnya masih sibuk mengunyah potongan terakhir roti.
Tangan kanannya meraih gelas susu. Hanya dengan sekali tenggakan kasar, ia
menandaskan isi gelas yang tinggal separuh itu.

Nul
bangkit. Lantas mengambil serbet dan berjalan ke meja makan. “Kau sudah selesai
dengan sarapanmu?”

“Tentu.
Kau bisa membereskannya,” ujar Sam. Ia mengambil sebatang rokok. Lantas
menyulutnya. Sebuah ritual yang selalu ia kerjakan sehabis makan.

“Kau
belum mengatakan kenapa kau menyebut-nyebut namaku dalam percakapanmu tadi.”

“Kau
akan tahu, Nul Sayang. Kau sudah lihat apa yang ada di atas kulkas?”

“Apa?”
Nul menengok ke arah kulkas. “Aku tergesa-gesa menyiapkan sarapanmu sementara
pikiranku penuh dengan kata-kata baru sejak aku bangun tidur tadi. Aku membuka
kulkas buru-buru hanya untuk mengambil susu. Aku tidak sempat memeriksa isi
kulkas dengan seksama.”

“Di
atas kulkas. Bukan di dalam kulkas.”

Nul
mengangkat piring. Mengelap meja. Lantas membawa piring ke wastafel.
Meletakkannya begitu saja. Lalu ia menuju kulkas.

“Apa
ini?”

“Bukalah.”

Nul
membuka kotak kardus kecil berwarna coklat itu. Ia tertegun untuk beberapa
detik.

“Apa
ini, Sam? Tumben kau begitu manis?”

“Kau
lupa? Ada surat kecil di situ. Bacalah.”

Nul
memang menemukan secarik kertas di bawah cincin emas yang bersarang di dasar
kotak itu. Ia membuka lipatan kertas tersebut. Ada empat kata yang tertera di
sana. Selamat Ulang Tahun, Sayang.

“Demi
Tuhan, Sam. Aku lupa kalau sekarang ulang tahunku. Terima kasih, Sayang. Aku
benar-benar tidak bisa membayangkan apa jadinya aku tanpamu.”

“Kau
akan tetap jadi penyair hebat, Sayang. Ayolah, siapkan dirimu. Aku punya
sesuatu yang lain untuk merayakan hari luar biasa ini.”

“Oh,
Sam. Apa lagi? Sebuah kejutan yang manis dalam sehari sudah cukup menakjubkan
bagiku.”

“Ayolah
Nul. Kau tidak berulang tahun setiap hari.”

“Tunggu
sebentar. Lima menit.”

Nul
berlari ke kamar. Nyatanya, ia mengingkari janjinya sendiri. Ia menghabiskan
dua puluh dua menit untuk memilih baju dan mengenakan riasan. Ia kemudian
keluar dengan pakaian andalannya—celana
jeans dan kemeja kotak-kotak biru. Pipinya bersemu merah. Bibirnya dipulas
lipstik coklat. Rambutnya dibiarkan tergerai.

“Bagaimana
Sam?”

“Sempurna.
Kau tak pernah terlihat secantik ini.”

“Ah,
jangan berlebihan. Aku sudah sering memakai ini.”

“Ya.
Tapi kali ini, entah mengapa, kau terlihat menakjubkan. Mungkin efek dari hari
baik.”

“Bukan.
Ini efek dari kejutan dan sikap manismu.”

“Oke.
Tak masalah apapun itu. Kita harus segera pergi.”

“Kemana?”

“Aku
meminta Marni buka lebih awal. Khusus buat kita.”

“Oh,
Sam. Aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Ini benar-benar hari yang
sempurna.”

Mereka
keluar dari rumah. Belok kiri. Berjalan dua blok. Lantas belok kanan. Lurus
hingga tiga ratus empat puluh meter. Belok kiri sejauh empat puluh meter. Lalu
berhenti di depan sebuah kedai.

“Aku
tidak punya banyak uang untuk membayar Marni agar menghias kedainya dengan
bunga-bunga. Jadi, kumohon maafkan aku bila kau tidak menemukan hiasan yang
tidak seperti biasanya. Tapi aku berjanji kepadamu, kau bisa minum sebanyak
apapun wiski yang kau mau.”

“Kau
yang terbaik, Sam. Kau yang terbaik,” Nul mendaratkan sebuah ciuman di pipi
Sam.

Marni
menyambut mereka dengan senyum termanis yang pernah mengembang di mulutnya.
Perempuan tiga puluhan tahun yang masih betah melajang itu tampil dengan segala
kebesaran dan keanggunannya. Gaun merah berdada rendah, memperlihatkan sebagian
payudaranya yang berkilauan.

“Kau
cantik sekali, Marni,” kata Nul. “Kau lebih terlihat sebagai orang yang
dirayakan ulang tahunnya ketimbang aku.”

“Aku
tak ingin membuat pestamu berantakan,” jawab Marni. “Selamat ulang tahun. Aku
tak tahu ini ulang tahunmu yang keberapa. Dan aku tidak ingin bertanya.
Bukankah tidak sopan bertanya usia kepada perempuan?”

“Tiga
puluh tiga, Marni. Tidak apa, toh, cuma kita bertiga di sini.”

Sam
menggeser kursi. Membanting pantatnya di sana. Lantas mengeluarkan rokok dari
saku bajunya.

“Sialan,
korekku ketinggalan,” keluhnya.

Marni
merunduk di balik meja bar. Ketika kepalanya kembali muncul, ia berkata sedikit
keras, “Tangkap ini, jagoan.” Sam dengan tangkas menangkap korek api yang
melayang ke arahnya.

“Kau
tak pernah mengecewakan, Marni.”

“Ya.
Kaulah yang selalu mengecewakan. Kau nyaris membikin jantungku copot sepagi
ini. Kau tahu, Nul, aku benar-benar kuatir kalau Sam lupa bahwa dia harus
membawamu ke sini untuk merayakan ulang tahunmu. Karena itu aku tadi
meneleponnya.”

“Kalian
merencanakan ini dengan sangat hebat,” kata Nul seraya tertawa kecil. “Baiklah.
Mari kita mulai. Apa arti perayaan ulang tahun tanpa sedikit alkohol?”

“Sabar
manis. Aku sudah menyiapkan wiski yang luar biasa. Kau akan menyukainya. Dan
untukmu, Sam, seperti biasa, vodka yang ganas.”

“Kau
memang yang terbaik, Marni.”

“Eh,
tunggu dulu,” kata Marni. “Karena Sam memintaku membuka kedai lebih awal khusus
buat kalian dan Sam juga bilang tak ingin ada orang lain selain kita bertiga di
sini, kupikir kalian memang menginginkan semacam privasi dan jauh dari
gangguan. Apakah tidak sebaiknya kalian mematikan ponsel? Atau kalian mau
merekam pesta ini dan memacaknya di media sosial?”

Sam
mengangkat bahu. “Aku ingin momen berharga seperti ini kami nikmati sendiri
saja. Tak perlu ada orang lain yang tahu. Kau tahu kan, berdasarkan sebuah
penelitian yang pernah aku baca, orang-orang yang suka memamerkan kemesraan
dengan pasangannya di media sosial cenderung menyimpan masalah dan tidak
harmonis? Yah, tapi karena ini adalah pesta Nul, semua terserah kepadanya.
Bagaimana Nul?”

“Aku
setuju denganmu, Sam Sayang.
Hubungan kita baik-baik saja. Sangat baik, malah. Kita benar-benar pasangan
yang harmonis. Bukankah kau juga berpikir begitu, Marni?”

“Tentu.
Tentu saja. Aku tidak pernah melihat ada pasangan yang lebih harmonis ketimbang
kalian.”

Gelas
berdentang. Nul minum dan tertawa. Sam minum dan mengepulkan asap rokok dan
tertawa. Marni menuangkan minuman dan ikut minum bersama mereka—sekali ia mengambil dari
botol jatah Nul, dan sekali dari botol jatah Sam.

“Kau
tak boleh minum terlalu banyak, Marni. Kau harus memastikan kami tidak terlalu
mabuk dan melakukan hal buruk,” kata Sam.

“Jangan
kuatir. Aku bisa menjaga diriku. Nah, sekarang giliranmu, Nul. Kau harus minum
lebih banyak karena ini hari istimewa buatmu.”

“Tentu
saja. Aku akan minum langsung dari botol.”

Mereka
tertawa. Mereka tertawa. Dan mata Nul mulai merah.

“Ia
sudah hampir menghabiskan isi botolnya.”

“Ya,
Marni. Dan aku menepati janjiku padamu. Inilah saatnya.”

“Tidakkah
kita mesti menunggu beberapa saat lagi, Sam?”

“Ini
sudah cukup. Nul sudah sangat mabuk. Enam tahun kami bersama dan itu sudah
cukup membuat aku mengenali detail-detail kecil dari dirinya. Aku tahu ketika
matanya sudah seperti itu, itu artinya ia sudah benar-benar mabuk. Sini,
mendekatlah.”

“Oh,
Sam, jantungku berdebar-debar. Ini luar biasa. Sensasi yang menakjubkan. Ini
benar-benar kejahatan yang sempurna.”

“Ya,
ya. Sebuah kejahatan yang sempurna. Tak ada sensasi yang lebih luar biasa dari
ini. Berselingkuh di depan mata orang yang kita selingkuhi.”

Mata Nul berkabut. Samar-samar, ia melihat tangan Sam meraih dan menarik kepala Marni. Lantas ciuman. Lantas pakaian yang tanggal. Nul mengucek-ucek matanya. Kepalanya semakin berat. Dan nanti, setelah pengaruh alkohol menguap dari batok kepalanya, ia tidak akan mengingat kebrutalan birahi yang terjadi di depan matanya.***

____________________

Dadang Ari Murtono. Lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Bukunya yang sudah terbit antara lain Ludruk Kedua (kumpulan puisi, 2016) dan Samaran (novel, 2018). Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam kelompok suka jalan.