Buku, Resensi

Tagore di Zaman Ramai

Oleh Bandung Mawardi

Rabindranath Tagore (1861-1941), pujangga besar asal India, dikagumi bangsawan dan intelektual Jawa. Kagum atas puisi-puisi dan tata cara mengadakan pendidikan-pengajaran. Bentuk kagum diwujudkan dalam penerjemahan puisi dan ulasan pelbagai gagasan pendidikan dalam bahasa Belanda dan Jawa. Dua orang penting di pemuliaan Tagore adalah Noto Soeroto dan Soerjo Soeparto (Mangkunegara VII). Dua intelektual itu menekuni tulisan-tulisan Tagore saat menempuh studi di Belanda.

Soerjo Soeparto dianggap penerjemah awal puisi-puisi Tagore ke bahasa Jawa. Ia mungkin merasa ada ikatan batin imajinasi Tagore dengan batin kejawaan. Sejak ribuan tahun, Jawa turut dibentuk dengan kucuran imajinasi asal India. Pada abad XX, kemunculan Tagore sebagai peraih Nobel Sastra 1913 mengundang minat intelektual Jawa untuk memasuki jagat sastra memiliki tautan India-Jawa. Noto Soeroto tampil sebagai penerjemah Tagore ke bahasa Belanda. Bangsawan pernah berkancah di politik tapi “tersingkirkan” oleh kaum nasionalis itu malah rajin pula menggubah puisi dan artikel terpengaruh Tagore. Buku-buku bereferensi Tagore diterbitkan di Belanda, sempat beredar di Hindia-Belanda (Harry A Poeze, Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda 1600-1950, 2008).

Pikat ke sastra Tagore terjadi pula di Hindia-Belanda. Muhammad Yamin dan Amir Hamzah ada di muka dalam penerjemahan dan pengenalan Tagore ke umat sastra di Indonesia masa 1920-an dan 1930-an. Sekian terjemahan terbaca dan menebar pengaruh dalam sastra, pendidikan, dan religiositas. Tagore tak terasa asing. Pada masa 1920-an pula, Tagore berkunjung ke Jawa: Mangkunegaran dan Perguruan Nasional Taman Siswa. Pesona sastra Tagore semakin membesar dengan edisi-edisi terjemahan oleh Amal Hamzah, Anas Ma’ruf, dan Hartojo Andangdjaja. Tagore seperti bertanah-air di Indonesia, ada di arus perkembangan sastra modern bercap estetika Timur.

Dua buku terjemahan sering diulas di Indonesia adalah Gintanjali dan Tukang Kebun. Pada masa lalu, Gitanjali diterjemahkan oleh Amal Hamzah. Edisi itu menjadi klasik tapi agak sulit terbaca bagi orang-orang sudah berbahasa Indonesia dengan EYD (1972). Pada 1976, Hartojo Andangdjaja melalui edisi bahasa Inggris memberi terjemahan Tukang Kebun. Pada akhir 2018, buku itu terbit lagi. Kita membaca (lagi) saat Indonesia terlalu ramai oleh politik dan agama. Di lembaran-lembaran sastra gubahan Tagore kita diajak menepi: menjalani renungan dan menempuhi bahasa estetis menampik politis.

“Apakah arti Tagore pada kita?” Kalimat itu ditulis Hartojo Andangdjaja berlatar abad XX. Kini, kita bias mengimbuhi dengan situasi abad XXI: “Apa suara Tagore terdengar jauh?” Pikat sastra Timur perlahan pudar, setelah umat pembaca di Indonesia cenderung terkesima ke pelbagai terjemahan sastra asal Amerika Serikat, Amerika Latin, Prancis, dan Jerman. Panggilan ke Timur masih terasa dengan sekian terjemahan sastra asal Jepang dan Tiongkok. Buku-buku asal India masih diterjemahkan tapi seperti meninggalkan Tagore di masa lalu. Di mata Hartojo Andangdjaja, persembahan sastra Tagore itu terlalu berarti, memerlukan puluhan paragraf.

Jawaban berbeda diberikan Goenawan Mohamad: “Memang di atas segalanya, Tagore adalah seniman. Kebebasan, kreativitas, kehidupan rohani: semua itu hal yang tak bias ditawar dari dirinya. Dari sinilah hidup dihayati sebagai keindahan dan kegembiraan yang tak kunjung putus, yang dikaruniakan Pencipta pada kita.” Pujian dituliskan pada 1968, masih di gelagat kesusastraan religius di abad XX. Pada masa berbeda, kesan atas Tagore itu menggenapi pengakuan mutu terjemahan Hartojo Andangdjaja. Kita beruntung mendapat Tukang Kebun, melintasi tahun-tahun untuk renungan di zaman terlalu ramai kata dan pemiskinan imajinasi religius.

Tagore bercerita: “Jika seorang pengembara, meninggalkan rumahnya, datang ke sini untuk berjaga semalam-malaman dan dengan kepala tunduk mendengar-dengarkan hingar kegelapan itu, siapakah akan membisikkan rahasia hidup ke telinganya, jika aku, menutup pintu, mencoba hendak membebaskan diriku dari ikatan fana?” Pengembara, tokoh di pencarian-penemuan hakikat. Ia bergerak tanpa lelah meski jeda dan istirahat pun diperlukan, bukan peristiwa nihil tapi tetap bergelimang makna di keinsafan. Hasrat ke menguak rahasia belum tamat, menanti di kepasrahan.

Kita membaca paragraf itu di keriuhan nasihat-nasihat beredar di media sosia. Beredar tanpa mengajak “pengembaraan” bersuasana “purba”. Tagore masih kita perlukan meski mata-membaca dan mata-renungan telah berganti ke mata-potret di putaran detik terlalu cepat. Rahasia terus disingkap secara serampangan dan kolosal. Kegelapan dimusuhi terang sepanjang hari. Gelap itu musuh di abad XXI, terlarang bagi nafsu kegirangan tak pernah usai. Kini, Tagore mungkin suara dari jauh. Kita mendengar lirih, susah mencari sumber atau mendekati dengan gemetar dan serius.

Pada cerita lain, Tagore mengisahkan: “Dia duduk di debu di bawah pohon. Bentangkan di sana alas duduk dengan bunga-bunga dan daunan, kawan. Matanya duka dan menimbulkan kedukaan dalam hatiku. Dia tidak mengatakan apa yang tersimpan dalam hatinya; dia hanya datang dan pergi.” Bahasa itu memang berasal dari masa lalu, sulit digunakan lagi bagi manusia-manusia biasa mengumbar rahasia ke ribuan orang setiap detik. Rahasia-rahasia puncak tak lagi diinginkan atau dianggap masih penting bagi manusia dan dunia. Diksi debu, pohon, bunga, dan daun milik penekun rahasia cenderung memilih diam ketimbang cerewet sembrono. Pada paragraf itu kita semakin tak mengerti peristiwa dan makna datang-pergi, setelah kecepatan menjadi dalil terpokok abad XXI. Datang-pergi itu rutin tanpa pendasaran ingin dan capaian berpijak religius.

Pada hari-hari peremehan rahasia, adegan membaca Tukang Kebun berisiko keterpencilan pembaca. Tagore milik orang terpencil? “Dan itulah Tagore. Ia telah membukakan kaki langit itu bagi kita,” tulis Hartojo Andangdjaja. Kaki langit dimaksudkan kita bergerak ke arah sumber rahasia. Bergerak dengan lirik-lirik mistis buatan Tagore. Manusia hari ini mungkin tak memerlukan mistis, memihak ke segala hal berselera politis dan bisnis agar merasa sah berada di kaum keramaian sepanjang hari. Mistis cuma milik orang memuja masa silam, masih berjalan di bahasa tak tergesa, dan belum dilanda keberlimpahan rupa-warna.

Tagore mengingatkan kita di akhir persembahan Tukang Kebun, percakapan dekat-jauh: “Siapakah engkau, pembaca, membaca sajakku seabad lama? Tak dapat aku mengirimkan padamu setangkai bunga pun dari kemewahan musim semi ini, segaris kencana dari awan-awan di jauh sana. Bukalah pintumu dan pandanglah ke luar!” Larik awal tak pernah diralat. Kini, kita membaca melebihi seabad laku, berbeda penghitungan waktu dari saat penggubahan sastra oleh Tagore. Semula, kita diperkenalkan dengan Rabindranath Tagore, dekat dan jauh. Di akhir, kita harus menjawab pada Tagore saat masih menempatkan diri sebagai pembaca di zaman ramai mulai kehilangan puisi di bumi-langit. Begitu.   

Bandung Mawardi.
Kuncen Bilik Literasi
Penulis di pengenangpuisi.wordpress.com

Cerpen

Kita Memang Bukan Sepasang Kekasih

Cerpen Mawar Dani

/1/

Padahal aku tahu betul bahwa tidak ada pertemanan murni di antara dua orang dewasa lawan jenis kecuali adanya rasa saling nyaman.

Suatu masa pertemuan terjadi karena campur tangan seseorang yang sangat kita kenal. Beliau yang menjadi perantara adalah temanku juga sepupumu. Tidak jelas motifnya apa tapi setelah perkenalan itu kita menjadi akrab.

Aku wanita berusia dua puluh delapan tahun. Sudah kenyang dengan pertanyaan ‘kapan nikah?’. Khatam rasanya sesak ketika di-bully dengan ucapan jodohnya sudah mati. Hari-hariku sungguh membosankan. Dari rumah ke kantor begitu sebaliknya, rutinitas hari efektif kerja.

Kau lelaki berusia hampir sama denganku. Memiliki kemiripan kisah dalam kehidupan. Bosan dicecar pertanyaan serupa denganku dan beberapa kali pernah gagal menjelang pernikahan.

Kita sama. Mungkin karena kemiripan pengalaman tersebut obrolan kita nyambung istilah zaman sekarang.

/2/

Perkenalan di hari ke empat puluh lima. Kita sama-sama punya urusan di sebuah kota bahkan di lokasi yang sama pula. Sebagai wanita yang merasa nyaman berhubungan denganmu, aku berharap kau punya inisiatif mengajak bertemu.

Sudah selesai urusannya?

Kau jawab sudah dan dalam perjalanan pulang.

Kenapa tidak menunggu aku? Supaya kita ketemu lagi.

Sekali lagi jawabanmu membuat dadaku sesak; punya urusan lain.

Perlu kau ketahui, pada saat aku mengutarakan keinginan untuk bertemu, wajahku memanas menahan rasa malu.

Baiklah kumaafkan. Barangkali ucapan sepupumu benar, kau lelaki pemalu. Meskipun aku terluka untuk pertama kalinya atas sikap itu, kita masih seperti biasa.

/3/

Memasuki hitungan enam puluh hari. Tidak ada tanda-tanda kemajuan yang berarti. Hubungan kita sebatas obrolan aktivitas sehari-hari. Meskipun kadang kau curhat serius masalah kehidupan pribadi di antaranya tentang keluarga.

Aku berkaca dari pertemanan yang sudah-sudah, di mana aku juga pernah berteman akrab dengan seorang laki-laki. Suatu hari ketika dia mengatakan akan menikah dengan perempuan lain, hatiku terluka.

Tidak ingin lagi terjadi hal yang sama.

Aku menggiringmu untuk bercerita tentang masa depan. Kehidupan berumah tangga. Kata orang, itu salah satu cara memberikan sinyal kepada seseorang yang disukai.

Ya. Senang mendengar rencana itu tapi tidak dengan kriteria pasangan impianmu. Harusnya aku segera menyadari.

/4/

Suatu hari dan aku tak ingin lagi menghitung bilangannya, kita kembali punya urusan di kota dan lokasi yang sama.

Kita akan bertemu.

Aku tersenyum malu membaca pesanmu. Selama mengenalmu, aplikasi perpesanan milikku menjadi ramai. Tidak ada lagi yang bernama kesepian.

Baiklah. Selesai urusan kita bertemu.

Sahutku penuh semangat. Aku berharap setelah pertemuan kedua ini, hatinya menjadi peka.

Masa itu tiba. Kita masing-masing telah menyelesaikan urusan.

Jadi bertemu?

Terserah.

Yakin nggak?

Terserah.

Harusnya aku sadar dan lebih awal membaca nasihat tentang kata terserah yang keluar dari mulut lelaki. Terserah adalah ungkapan menghargai perasaan wanita yang memiliki penolakan secara halus.

/5/

Aku memang bukan seorang istri. Kita belum menikah. Tapi sudah hampir dua minggu firasatku mengatakan ada yang berbeda. Ada yang berubah dari dirimu.

Aku bertanya sesuatu boleh?

Sangat jarang aku meminta izin seperti itu. Artinya ada sesuatu yang sifatnya penting.

Silakan.

Apa kau sedang menjalin hubungan dengan seseorang?

Kenapa bertanya demikian?

Jawab saja ya atau tidak?

Iya. Aku sedang melakukan penjajakan dengan seseorang. Seperti inginku, dia cantik dan menarik. Memiliki pekerjaan yang layak diperhitungkan.

Oh, ada rencana untuk serius?

Doakan saja. Aku berharap begitu.

Baiklah. Aku senang mendengarnya.

Padahal aku tahu betul bahwa tidak ada pertemanan murni di antara dua orang dewasa lawan jenis kecuali adanya rasa saling nyaman.

Setelahnya, obrolan dari aplikasi perpesanan kuhentikan. Aku menuju cermin lalu berkaca. Wajah ini barangkali tidak memiliki nilai lebih menurut pandanganmu.

Ingin rasanya mengumpat tentang keputusan orang dalam menjatuhkan pilihan hati. Tapi menyalahkan pemberian Tuhan adalah dosa besar.

Sebagai seseorang yang sedang belajar meniti karir di dunia menulis, aku lumayan banyak membaca tulisan. Kata senior, untuk menjadi penulis hal penting selain latihan adalah banyak membaca. Dan aku pernah menemui sebuah nasihat; yang pergi akan segera mendapatkan ganti.

Entah siapa yang tepat dikatakan pergi, aku atau dirimu. Yang jelas setelah kuyakin kau benar-benar tertidur, segala aplikasi yang selama ini menjadi penghubung di antara kita kuputus. Aku dan kau pasti menemukan pengganti.

Aku tak peduli apakah kau butuh dukunganku di saat terjatuh atau tidak. Aku tidak ingin lagi menjadi pendengar setiamu tentang hobi, pekerjaan atau masalah yang menimpa.

Kita memang bukan sepasang kekasih. Meskipun kutahu aku menyimpan rindu yang besar untukmu.

BP Mandoge, 18 Februari 2019

Mawar Dani, berasal dari desa BP Mandoge Asahan. Saat ini tercatat sebagai pramubakti di KUA setempat. Penyayang kucing dan suka membaca kisah romantis

Cerpen

Apakah Kota Ini Bisa Menggambarkan Sebuah Perasaan

Cerpen Tjak S. Parlan

Kita berhenti di bagian ruas jalan yang kamu pilih. Di sepanjang jalur ini terpacak kursi-kursi taman yang nyaman bagi persinggahan para pejalan kaki. Di sisi jalan, sebuah taman kecil tertata asri. Kamu duduk di salah satu kursi itu seraya memandang ke sekitar. Udara terasa segar. Beberapa meter di depan kita, pasangan muda sedang mendorong kereta bayi. Lalu satu-dua orang yang berpapasan, tampak saling menyapa dengan ramah. Tiga orang petugas kebersihan, baru saja selesai menyapu jalanan basah. Ini bukan hari libur dan masih terlalu pagi untuk berjalan-jalan. Tapi aku begitu menikmati suasana seperti ini.

“Aku pikir tidak masalah kalau kamu duduk di sini. Kamu mau duduk di kursi ini? Di sebelahku?” tanyamu seraya tersenyum.

Aku berterima kasih padamu atas tawaran itu. Itu mungkin hal yang biasa bagi sebagian orang. Tapi agak merepotkan bagiku—dan aku tidak ingin lebih merepotkanmu lagi. Biar saja aku di kursi ini dulu. Masih terlalu pagi bagimu untuk membopong tubuhku dari kursi roda ini ke kursi yang sedang kamu duduki.

“Kamu kenapa?” tanggapmu seraya tertawa. “Kita dulu pernah sebangku, kan?”

Tentu saja. Aku masih ingat bahwa kita pernah sebangku dalam waktu yang cukup lama. Tapi kota yang berbeda akhirnya memisahkan kita sejak kita lulus SMP. Aku harus meninggalkan kota ini, mengikuti ayahku yang berpindah tugas di Kota P yang berbeda pulau.

“Selama itu, kamu tidak pernah kembali ke kota ini. Atau mungkin pernah, tapi kita tidak sempat bertemu. Apa benar begitu?”

Tidak. Memang tidak pernah. Aku juga tidak tahu mengapa kedua orangtuaku tidak pernah mengajakku menjenguk kota ini lagi. Kedua orangtuaku sepertinya terlalu sibuk di tempat tugasnya yang baru. Sementara, kami memang sudah tidak memiliki kerabat dekat yang masih tinggal di kota ini. Meskipun begitu, kedua orangtuaku tidak mau menjual rumah peninggalan kakekku. Ayahku malah mempercayakan perawatan rumah itu kepada ayahmu, kawan dekatnya sejak kecil dulu. Mungkin, ayahku diam-diam masih memendam keinginan, bahwa kelak akan kembali dan menikmati masa tuanya di kota ini.

“Aku kira kamu akan lebih lama di sini. Berapa hari lagi?”

Sebenarnya aku belum bisa memastikan akan berapa lama lagi berada di kota ini. Kamu tahu, awalnya aku iseng belaka. Tentu saja, tidak bisa dimungkiri bahwa aku juga memiliki rasa kangen pada tanah kelahiranku ini. Sekitar sebulan sebelum bencana itu, aku sempat mengikuti unggahan foto-foto di akun instagram-mu. Foto-foto yang mengingatkanku pada tempat-tempat yang pernah kukunjungi. Ada benteng Lama sehabis direstorasi, ada sekelompok seniman yang mengisi sebuah sore di kawasan Kota Tua, ada beberapa sudut yang instagramable di kawasan City Walk—di bagian ini ada kamu yang sedang duduk santai di sebuah kursi panjang yang terpacak apik di pinggir jalan, ada juga tempat-tempat tertentu yang membuatku pangling pada banyak hal di kota ini.

Tidak ada foto THR— tanggapku dalam sebuah komentar.

Butuh seminggu lebih untuk mendapatkan tanggapanmu. Sampai akhirnya, sebuah nomor yang tidak aku kenal, muncul di layar gawaiku. Aku membalas chat-mu. Lalu kita pun saling bercerita—cukup panjang sore itu. Kamu telah mendapatkan nomor WhatsApp-ku dari adikmu—Seruni— yang kerap terlihat bersamaku menaiki komidi putar pada malam-malam tertentu ketika aku masih kecil dulu.

“Kamu tidak bisa naik komidi putar lagi,” katamu seraya tertawa.

Tapi entah mengapa, ketika aku sedang berusaha memutar kursi roda—dan tersandung bagian paving block yang bergelombang karena desakan akar-akar pohon— agar lebih dekat denganmu, kamu berusaha meralat apa yang baru saja kamu katakan itu.

“Bukan, bukan. Maksudku, Taman Hiburan Rakyat itu sudah ditutup untuk selamanya,” katamu seolah merasa bersalah. “Ada yang bilang mau dipindahkan. Entahlah.”

Aku segera menepuk pundakmu. Beberapa kali tepukan kecil. Pada saat itu aku menduga-duga, mungkin inilah pertama kalinya aku melakukannya—ya, menepuk pundakmu. Atau bisa saja, sepuluh atau lima belas tahun lalu aku pernah melakukannya. Mungkin pada suatu sore, saat aku mengejutkanmu di depan benteng Lama? Apa kamu pernah mengingatnya? Apakah seseorang bisa mengingat hal-hal kecil semacam itu? Aku sendiri merasa bahwa beberapa hal terkadang memang terlintas. Beberapa cukup jelas. Sisanya samar-samar belaka.

“Oh, iya. Kamu masih ingat Jagad?”

Aku berusaha berpikir, mengingat-ingat, apa ada nama seseorang yang kamu sebutkan tadi pada masa kecilku. Samar-samar, aku menemukan sosok anak laki-laki yang paling tambun sekaligus pendiam di dalam kelas. Tapi kalau ingatanku tidak keliru, anak itu pindah ke kota lain setelah lulus SD, sehingga aku tidak pernah mendengar kabarnya sama sekali setelah itu. Ada apa dengan kawan lama kita itu?

 “Dia meninggal sewaktu menjadi relawan di Kota P. Kecelakaan,” katamu lirih.

Lalu kamu menceritakan sedikit perihal kisah duka itu. Kamu juga mengungkapkan penyesalanmu karena tidak bisa banyak membantuku sewaktu bencana itu terjadi. Aku memang telah kehilangan banyak hal. Tapi itu sudah terjadi. Sekarang aku di sini dan masih ingin melanjutkan hidup. Tentu saja, rasa kehilangan itu belum bisa hilang dari diriku. Bahkan aku yakin, perasaan semacam itu tidak akan pernah benar-benar hilang dari hidupku.

“Ya, Tuhan. Harusnya aku tidak perlu menceritakan hal semacam ini kepadamu. Sudahlah, kita nikmati saja kota ini,” katamu seraya mendorong pelan-pelan kursi rodaku. “Kita akan ke mana?”

Aku mengangkat tanganku, dan menyerahkan diriku pada tujuan berikutnya yang akan kamu pilih pagi ini. Aku mengikuti arah yang kamu kendalikan sepenuhnya. Aku tidak ingin menolak apa-apa hari ini. Udara terasa semakin segar—tubuh dan jiwaku terbuka menerimanya. Sesekali aku berusaha memejamkan mataku, seraya meyakinkan pada diriku sendiri bahwa hari ini aku masih ada di kota kelahiranku. Sesekali aku bertanya pada diriku sendiri; apakah ini hanya kunjungan sementara, atau aku harus tinggal selamanya? Apa sesungguhnya yang membuatku harus memilih antara tinggal sementara atau selamanya? Kenangan-kenangan buruk, kenangan-kenangan manis, ataukah ingatan-ingatan lama yang berdesakan dan kerap meminta diterjemahkan ulang?

“Sepertinya kita harus berhenti dulu.”

Tiba-tiba suaramu terdengar begitu dekat di telingaku. Begitu dekatnya, sehingga aku bisa merasakan embusan hangat napasmu. Aku juga bisa mencium aroma tubuhmu: wangi tipis parfum yang menguar dari balik sweater hangatmu. Wangi tipis itulah yang selanjutnya menghadirkan sesosok bayangan di kepalaku. Bayangan itu adalah seorang laki-laki yang paling merasa keberatan ketika harus menerima kenyataan bahwa aku telah kehilangan sebelah kakiku, juga suaraku.

Bukan hanya itu, aku bahkan harus kehilangan kedua orangtuaku yang jasadnya terjebak dalam reruntuhan sebuah gedung perkantoran. Aku sendiri nyaris putus asa didera kengerian yang luar biasa itu: kaki kiriku remuk terhimpit bongkahan beton dalam sebuah pusat perbelanjaan di mana aku bekerja setiap hari. Tidak ada pilihan lain setelah itu. Kaki kiriku pun diamputasi di sebuah rumah sakit. Di rumah sakit itulah aku pernah bertemu dengan laki-laki itu untuk pertama kalinya, jauh sebelum bencana itu terjadi. Dia adalah seorang perawat yang kerap aku tanyai perihal perkembangan kesehatan budeku—adiknya ibu— yang pernah menjalani rawat inap selama berhari-hari. Dia jugalah yang kerap menjengukku di saat aku nyaris tidak punya harapan di dalam sebuah kamar rawat inap di rumah sakit itu.

Akhirnya, aku pun harus menerima kenyataan bahwa aku akan menjalani hidup dengan satu kaki. Aku berusaha menerima itu dan mulai terbiasa. Sudah setahun berlalu. Aku bahkan telah membiasakan diriku dengan kruk atau kursi roda pada kesempatan yang berbeda. Tapi ingatan tentang peristiwa mengerikan itu—yang tidak pernah bisa kuceritakan secara tuntas dengan kata-kata—membuatku jadi kehilangan kemampuan berbicara.

“Apa kamu sedang memikirkan sesuatu?”

Aku segera membuka mata dan tersipu manakala melihatmu sedang membungkuk tepat di depanku. Aku mencoba tersenyum, menangkap sorot matamu yang menyelidik ke wajahku.

“Kamu pasti teringat Amri,” katamu kemudian. “Tenang saja, aku sudah berjanji untuk menjagamu di sini. Nanti, kalau dia tidak bisa menjemputmu karena pekerjaannya, biar aku saja yang mengantarmu.”

Iya, aku memang sedang teringat Amri—laki-laki perawat yang pernah kukenalkan padamu lewat video call. Tapi tentu saja, ada ingatan-ingatan lain yang terus berdesak-desakan di antaranya. Tentang obrolan panjangku dengan ayah dan ibumu di hari kedua kedatanganku. Tentang sebuah alasan lain—yang tersirat—agar aku bisa kembali ke kota ini. Bukan. Bukan tentang rencana penjualan rumah peninggalan kedua orangtuaku seperti yang telah kita ketahui bersama. Tapi ada sesuatu yang lain, yang tiba-tiba terngiang-ngiang dalam ingatanku.

“Rumah ini bukan hanya menyimpan kenangan bagimu,” kata ayahmu saat itu, “tapi juga kenangan kita semua. Kita semua tumbuh dan besar di sekitar sini. Kalau ada alasan sedikit saja yang bisa menahanmu, apa kamu mau tinggal di sini?”

Aku tidak bisa menjawab apa-apa ketika itu, selain mengisyaratkan bahwa aku akan mencoba mencari alasannya.

“Kalau ada seseorang yang memang berjodoh denganmu, kamu bisa menceritakan banyak hal tentang kota ini. Ya, siapa tahu dia akan tertarik dan mau tinggal di sini bersamamu,” kata ibumu dengan nada bercanda.

Lalu tiba-tiba ayahmu menceritakan banyak hal tentangmu. Tentang apa-apa yang sudah kamu kerjakan selama ini. Tentang kegagalan-kegalanmu dalam menjalin hubungan istimewa dengan seseorang. Tentang pekerjaanmu—yang menurut orangtuamu telah mapan— namun harus kamu tinggalkan karena lebih memilih mengurusi anak-anak berkebutuhan khusus di sebuah yayasan.

“Kadang-kadang, kami merasa iba dengannya. Anak itu sulit menemukan teman perempuan yang cocok. Tapi sejak bisa menjalin kontak denganmu, dia sering menceritakan keberadaanmu. Dulu, sewaktu kecil, kalian memang tidak terpisahkan,” celetuk ibumu dalam sebuah obrolan.

Potongan-potongan percakapan itu semakin berdesakan dalam kepalaku, seolah-olah meminta untuk disimpan dan diterjemahkan ulang.

“Kamu harus diam di sini. Jangan lupa tersenyum. Aku akan mengambil gambarmu.”

Aku tersenyum. Agak canggung. Compressed keys bip38. Mengambil jarak di depanku, bidikanmu menangkap obyek dengan apik: seorang perempuan berwajah tirus sedang duduk di sebuah kursi roda, dalam naungan ranting-ranting pohon rindang yang menjalari sebuah kanopi buatan.

“Sejak lulus SMP, aku belum pernah berfoto denganmu lagi,” katamu seraya menyelidik ke sekitar.

Seorang anak berseragam sekolah melintas di dekat kita. Kamu mengucapkan sesuatu dengan nada bercanda seraya menyerahkan sebuah gawai kepadanya. Remaja usia belasan itu tersenyum. Lalu dalam beberapa jenak, tubuhmu membungkuk dan tangan kananmu memelukku dengan lembut dan hangat.

“Apa sebuah foto bisa menggambarkan sebuah perasaan?” tanyamu tiba-tiba.

Cukup lama kita memandangi foto itu. Entah untuk apa. Tapi aku memikirkan pertanyaanmu—yang kamu lontarkan dengan nada bercanda dan sambil lalu. Hingga kamu menepikan kursi rodaku di sebuah kawasan florist, aku masih memikirkan pertanyaan sederhana itu. Aku tidak tahu apa yang kamu katakan pada perempuan paruh baya yang sedang merangkai bunga. Tiba-tiba saja tanganmu sudah mengenggam sebuket krisan merah.

“Ini untukmu,” katamu, seraya kembali mendorong kursi rodaku.

Aku menerimanya begitu saja. Kini, seraya menyusuri jalanan di sepanjang City Walk yang teduh dan tenang ini, aku mendekap krisan merah pemberianmu di dadaku. Aku mendekapnya seraya memikirkan sebuah pertanyaan lainnya: apakah kota ini bisa menggambarkan sebuah perasaan?

Jember, November 2018


Tjak S. Parlan Lahir di Banyuwangi, 10 November 1975.  Cerpen dan puisinya sudah disiarkan di berbagai media. Buku kumpulan cerpennya Kota yang Berumur Panjang (Basabasi, 2017). Selain menulis, ia juga “mengerjakan” perwajahan buku, majalah, koran dan media cetak sejenis lainnya. Saat ini mukim di Ampenan-Nusa Tenggara Barat.  Email: [email protected]

Ragam

Menengok Wajah Sumatera Lama Dari Lensa Kamera

Pameran Foto Warna Warni Kehidupan Sumatera 1947

Oleh Wahyu Indro Sasongko

Undangan Pembukaan Pameran Foto Warna Warni Kehidupan Sumatra 1947

Gunung besar di daerah Toba, Sumatera Utara pada masa purba meletus dahsyat, hampir semua badan gunung terangkat  ke udara dan terlempar hingga ratusan kilometer jauhnya. Letusan ini mengakibatkan punahnya makhluk hidup di sekitarnya.  Letusan tersebut membuat lubang yang sangat  besar dan dalam, lubang tersebut kemudian menjadi danau besar yang dikenal dengan nama Danau Toba. Kedalaman Danau Toba mencapai 300 sampai 500 meter, dapat dibayangkan bagaimana  dahsyatnya letusan tersebut. 

Ribuan tahun yang lalu, Taprobane, Rami atau Ramni, Azebai atau Azebani, Lameri, Swarnadwipa, Indalas atau Andalas, Sobormah, Samandar, Zamatra, Zamara, Java Minor, Ophir, adalah sejumlah variasi nama bagi pulau yang kini dikenal sebagai Sumatera, akhirnya pulih dan menjadi tujuan migrasi. Salah satu  peradaban yang menarik minat penjelajah dan penulis masa silam untuk menuliskan segala sisik melik di dalamnya. 

Selain wajah Sumatera yang berubah karena bencana alam, melihat situasi dan kondisi Sumatera kala itu; aspek sosial, agama, budaya, politik, dan seluk beluk sejumlah daerah di Sumatera, dari perspektif orang-orang dari negeri atas angin. Seperti perebutan kekuasaan antar suku, bahkan antar keluarga kerajaan, baik di zaman Sriwijaya, Majapahit, Pagaruyung, Samodra Pasai maupun Batak. Pengaruh agama Islam yang masuk lewat saudagar-saudagar Muslim dari Mesir, Persi, dan India lewat pelabuhan Gujarat telah membuat peradaban di Sumatra berubah total juga selalu menarik untuk disimak. Bahkan, sejumlah reportase kemudian menjadi dokumen vital bagi rekonstruksi sejarah Sumatera, khususnya catatan perjalanan 1850 – 1950.

Itulah sedikit pengetahuan umum tentang Sumatera, pulau terbesar kedua setelah Kalimantan, sebagai pengantar pameran fotografi yang digelar oleh Bentara Budaya Yogyakarta dari tanggal 2 -10 Maret 2019 dengan tajuk Warna Warni Sumatera 1947. Sumatraantjes atau Sumatera Kecil adalah judul sebuah buku terbitan tahun 1947 yang memuat warna-warni kehidupan di Pulau Sumatra. Buku ini memuat banyak sekali foto-foto yang mencerminkan kehidupan sehari-hari masyarakat seantero Sumatra, mulai dari kehidupan transmigrasi masyarakat Jawa yang menetap di Metro Lampung hingga industri minyak dan Gas BPM  dan diakhiri dengan monument  perang dan kehidupan di Aceh,” kata Manager Bentara Budaya Yogyakarta, Yunanto Sutyastomo.

Ramai pengunjung terlihat pada
Pameran Foto Warna Warni Kehidupan Sumatera 1947. (ideide.id/Wahyu Indro Sasongko)

Halaman pertama buku karangan H.C. Zentgraaff dan W.A. Van Goudoever terbitan Uitgeverij W. Van Hoeve. ‘s-Gravenhage Belanda itu diawali dengan pemandangan jalan setapak di tengah hutan belantara di Lampung,  kemudian kehidupan yang amat sangat sederhana atau kemiskinan dari masyarakat Jawa yang menjadi transmigrasi di Lampung. Dalam buku itu juga terdapat gambar ladang jagung di daerah Metro yang dijaga seorang kepala desa yang berpakaian Jawa. Di daerah Palembang tergambar jalur perniagaan di sungai  dengan sampan-sampan dan pasar di tepi sungai . Kemudian ada foto  Jalan Trans Sumatra di Jambi yang dikerjakan dengan membuka hutan, lalu ada foto perkebunan cemara yang menghasilkan terpentin, kebun kopi, di Sungai Gerong, Bengkulu .

Kehidupan Ninik Mamak di Minangkabau menjadi objek foto yang menarik. Di sana ada kaum lelaki yang berpakaian adat Minang dan tidak ketinggalan para wanita Minang yang dengan anggunnya berdiri berjajar dengan pakaian adat kebesarannya. Tidak hanya kehidupan masyarakatnya saja, alam Sumatera tidak lepas dari jepretan kamera sang penulis, seperti  Danau Maninjau, Danau Singkarak, dan Danau Toba yang legendaries, tidak ketinggalan juga  artefak-artefak Batak Kuno yang sudah bertahan ribuan tahun yang lalu. Pada acara tersebut, sederetan foto-foto yang didominasi warna hitam putih dipajang berjajar. “Sebenarnya kami mendapatkan buku tersebut sudah cetakan ke-5, berarti pertama kali dicetak kami perkirakan tahun 1940-an awal atau sebelum kedatangan penjajah Jepang ke Sumatra. Hanya sayang kami tidak menemukan nama fotografernya di buku tersebut. Semoga pameran ini dapat menambah pengetahuan kita tentang kepulauan di tanah air, terutama di Pulau Sumatera,” ujar Yunanto.

Ragam

Pameran Seni Rupa “Gemati”: Ekspresi Kritis Astuti

Oleh Wahyu Indro Sasongko

Keluarga itu duduk dan berkumpul di dalam sebuah ruang tamu berwarna cerah. Sepasang orang tua, dan ketiga anaknya yang duduk saling berdekatan. Kebersamaan yang menggambarkan bentuk keluarga yang ideal dan penuh kedekatan. Namun, sebuah benda kecil yang tergenggam di tangan orang-orang itu membuat jarak yang sebenarnya saling berdekatan terasa berjauhan.

Poster Acara
Pameran Seni Rupa Gemati

Luruhnya rasa kemanusiaan, mungkin, itu kata yang tepat mewakili Pameran Seni Rupa bertajuk “Gemati” yang digelar di Bentara Budaya Surakarta tanggal 24 Februari – 4 Maret 2019. Pameran yang mengusung karya tunggal perupa perempuan dari Yogyakarta, Astuti Kusumo, ini menampilkan sederet karya-karyanya yang menangkap kegelisahan sang perupa tentang hilangnya rasa “gemati” dalam diri manusia seiring dengan kemajuan teknologi.

“Ditengah perkembangan dunia yang serba digital saat ini, percepatan teknologi lambat laun mengikis aspek-aspek kedirian kita sebagai manusia. Percepatan ini pula yang menyebabkan munculnya egoisitas dalam diri kita, hingga acuh pada sekeliling kita. Di lingkungan sosial kita saat ini, lihatlah, tegur sapa antar tetangga, sopan santun, kemesraan keluarga semakin luntur,” kata Astuti.

Seorang pengunjung menikmati lukisan karya Astuti Kusumo dalam pameran tunggalnya yang bertajuk Gemati. (ideide.id/Wahyu Indro Sasongko)

Pameran yang dipersiapkan Astuti selama dua bulan tersebut, menangkap dengan jelas kegelisahan-kegelisahan perupa perempuan ini dalam beberapa karya lukisannya, antara lain yang berjudul: Keluarga Android, Busy Couple, Happy Alone, Android Party, dan Follow Me. Pada lukisan-lukisan tersebut, perasaan tentang kesepian dan berjarak dengan orang-orang yang sebenarnya berada di sekelilingnya sangat kental terasa. Selain itu, Astuti juga memamerkan sederetan karya yang memiliki ekspresi tak kalah kuat, seperti Temu Rasa, GoShopping, dan Sejoli. “Pameran ini merupakan satu bentuk ungkapan ekspresi saya sebagai perupa atas kikisnya kesadaran dan sensitivitas kita sebagai manusia. Melalui karya dalam pameran ini, saya ingin mengajak menilik kembali definisi dan praktik asah, asih, asuh. Menilik kembali perhatian atas diri dan sesama yang mengedepankan “rasa-pangrasa”,” ujar Astuti.

Cerpen

Riwayat Asmara Irvana

Cerpen Luhur Satya Pambudi

Riwayat asmara Irvana dengan sejumlah lelaki telah menjadi bagian hidupnya. Aneka perasaan telah silih berganti dijalani. Dari waktu ke waktu, perempuan itu merasakan bahagia, susah, tawa, dan tangis seperti apa adanya. Ketika meniti kembali satu demi satu cerita cintanya, sesungguhnya ia tidak menemukan sesuatu yang sia-sia.

***

Irvana yang telah berusia empat puluhan pernah dicintai lelaki yang jauh lebih muda ketimbang dirinya. Semula ia abai, terlebih karena ia enggan mengikuti kecenderungan yang terjadi di masa kini—menjadi perempuan mapan dengan kekasih di bawah umur. Namun, pemuda berusia dua puluh tiga itu memang simpatik di matanya. Ia senantiasa mampu membuat Irvana tersenyum, pun ia pendengar yang baik.

“Aku mencintaimu, apakah kau juga mencintaiku?” tanya sang pemuda suatu kali yang membuat Irvana terkejut.

“Jangan bercanda. Aku lebih tua darimu,” ucap Irvana.

“Masalahnya? Bukankah sekarang banyak yang seperti itu?”

“Justru itu, aku tak mau dibilang ikut-ikut.”

”Maksudku, kita tidak sendirian.”

”Iya, aku tahu maksudmu, tapi…” Irvana tidak melanjutkan kata-katanya.

”Tapi, apa? Tak bisakah kau jawab tanyaku? Aku serius mencintaimu dan ingin memiliki segenap dirimu.”

“Baiklah, beri aku waktu untuk menjawabnya,” sahut Irvana.

Sekian hari berselang, Irvana memutuskan menerima cinta pemuda yang selama ini membuatnya selalu merasa nyaman. Ia terkesan melihat ketangguhan hatinya. Perbedaan usia tidak menjadi masalah berarti. Mereka pun melangkah bersama sebagai dua sejoli. Sejumlah gita bahagia berkumandang mewarnai hari-hari Irvana. Menginjak tiga bulan hubungan asmara mereka, sang pemuda berhasrat menikahinya. Namun sayang, kisah kasih mereka kandas di tengah jalan. Ibu pemuda itu tidak merestui niat anaknya menikahi perempuan yang berusia dua belas tahun lebih tua. Penolakan itu membuat sanubari Irvana terluka.

“Tolong beri aku waktu agar bisa meyakinkan ibuku. Dan jika beliau tetap tidak setuju, aku siap menikahimu tanpa restu ibu,” kata sang pemuda meyakinkan Irvana.

”Aku tidak akan menikah dengan tanpa restu orangtua. Perpisahan adalah mungkin pilihan terbaik kita,” ujar Irvana ditemani derai air mata.

Ia telanjur sakit hati dengan kata-kata ibu pemuda itu. Maka lagu-lagu sendu pun mendapat giliran menemani Irvana dalam kesendiriannya kala itu.

*

Irvana sempat menjalani sehari semalam penuh cinta dengan lelaki yang dikenalnya sejak dulu. Sekolah mereka dulu sama. Sudah lebih dari dua puluh tahun silam. Mereka bertemu di ajang reuni. Kendati mereka berdua tinggal berbeda kota,  hubungan mereka tetap berlanjut setelahnya. Lelaki itu senantiasa menyediakan kamar hotel saban kali Irvana datang ke kotanya. Sesekali ia balas mendatangi kota tempat Irvana tinggal. Tapi perjumpaan dan perbincangan mereka sebatas sahabat semata. Lelaki itu sudah memiliki keluarga yang bahagia, maka Irvana tak pernah berharap apa-apa. Hal itu terjadi beberapa kali, hingga ada sebuah hari yang berbeda dari biasanya.

”Vana, bersediakah sepanjang hari ini hingga malam nanti, kau hanya menemaniku? Aku ingin mengulangi kebersamaan kita semasa masih bocah dahulu,” ajak lelaki itu ketika mengunjungi rumah Irvana.

”Senyampang waktuku luang, tentu aku mau,” jawab Irvana dengan senyuman.

Maka lelaki itu mengajak Irvana menuju daerah pegunungan. Di sana mereka berjalan-jalan di kebun teh seraya bercanda dan bergandengan tangan. Laksana sepasang anak muda yang pacaran. Irvana menikmatinya belaka karena ia percaya, hanya sehari itu mereka melakukannya. Ia masih meyakini kemurnian persahabatan dengan teman lamanya. Mereka makan siang di sebuah tempat dengan panorama alam yang sedap dipandang mata dengan sejuk udara.

”Vana, terima kasih kau sudi menemaniku. Aku bahagia sekali.”

”Aku pun sangat senang hari ini. Tapi, apa sebenarnya maksudmu? Kau paham kan, bahwa kita sebatas teman?”

”Tentu saja, Irvana. Kau adalah sahabat terbaikku. Aku hanya ingin ada hari yang berkesan… sebelum kita berpisah.”

”Hei, memang kau mau ke mana?”

”Vana, maafkan aku.”

”Maaf untuk apa?”

”Sebenarnya di salah satu sudut hatiku selalu ada namamu.”

Irvana menjadi salah tingkah mendengarkan kalimat dari sahabatnya. Kendati ia bisa merasakan pertautan hati itu, namun ia tak menduga sahabatnya itu bakal mengungkapkan sesuatu yang membuat sanubarinya tersentuh.

”Baiklah. Terima kasih kau sudah membuatku tersanjung,” ucap Irvana menahan haru.

”Dan mungkin hari ini adalah saat terakhir kita berjumpa,” sahut sang sahabat.

”Sebenarnya kau mau pergi ke mana, sih?”

Lelaki itu membisu dan menatap wajah cantik Irvana dengan sendu.

”Jangan bilang kau sakit, ya?” ujar Irvana dengan nada cemas.

”Sayang sekali, tapi kau benar. Aku sedang dalam perawatan dokter. Aku tak bisa menjelaskan separah apa sakitku, tapi dokter bilang hidupku seperti tinggal menghitung waktu,” kata lelaki itu mencoba tegar.

Irvana tak mampu berkomentar. Hanya isak tangisnya yang terdengar, sebelum akhirnya nanti mampu kembali bersuara.

”Aku akan mohon pada Tuhan agar hidupmu panjang. Kau masih bisa hidup lebih lama. Yang jelas,  aku siap menemanimu dalam sukacita di sisa hari ini.”

Mereka berdua melanjutkan kebersamaan yang berlangsung sejak pagi hingga malam tiba. Sebagai tanda perpisahan, lelaki itu mengecup kening dan memeluk tubuh Irvana dengan penuh kehangatan. Mereka paham benar, barangkali memang tak akan ada pertemuan berikutnya. Dua bulan berselang, Irvana mendapat kabar bahwa teman lamanya melakukan pengobatan di luar negeri dengan didampingi istri dan anak-anaknya. Irvana sebatas bisa mendoakan yang terbaik bagi lelaki itu.

Belum lama ini, Irvana diperkenalkan dengan lelaki yang ditinggalkan istrinya karena telah tutup usia dua bulan yang lalu. Seorang teman beritikad baik menghubungkannya dengan duda tersebut. Irvana mengucapkan terima kasih atas maksud baik temannya, tetapi ia tidak menyanggupi tawarannya itu. Di dalam dirinya kini telah punya pilihan sendiri. Dan alangkah bahagianya Irvana ketika pilihan itu ia tentukan bukan karena keterpaksaan atas keadaan dirinya. Bahkan ia sudah bisa membayangkan bakal seperti apa riwayat asmaranya. Irvana menjalani hal itu tanpa beban dan harapan berlebih. Ia percaya segala peristiwa yang dilalui adalah wujud kekayaan hidup yang nilainya melebihi harta benda. Ia bersyukur sejauh ini mampu menjalani skenario-Nya, terlebih atas pilihannya kali ini. “Menjadi perempuan lajang bukan lantas selalu sendiri saat mengarungi bumi ini,” gumamnya.***


Luhur Satya Pambudi , lahir di Jakarta dan kini tinggal di Yogyakarta. Cerpennya pernah dimuat di Horison, Suara Merdeka, Tribun Jabar, basabasi.co, dan sejumlah media lainnya. Kumpulan cerpen perdananya berjudul Perempuan yang Wajahnya Mirip Aku (Pustaka Puitika).

Cerpen

IA

Cerpen Abdullah Salim Dalimunthe

Ia ingin mati sekali lagi, tapi tidak di sini, tidak dengan keadaan seperti ini. Ia lalu pergi–setelah menandaskan bir yang tinggal setengah. Menyisakan tanya yang kini bersarang di kepala saya. Ada banyak pertanyaan, tetapi, yang paling mengganggu adalah: siapa sebenarnya lelaki itu? Dan, apa tujuannya berkata seperti itu kepada saya? Saya tidak mengenalnya. Atau, lebih tepatnya, saya tidak mengenal orang-orang yang berada di sini. Tidak seorang pun.

Saya kerap melihatnya tiap-tiap datang kemari–maksud dari “tiap-tiap” di sini hanyalah beberapa kali, paling baru empat atau lima kali, karena saya memang belum lama akrab dengan tempat semacam ini, baru sekitar dua atau tiga minggu kemarin. Ia terbiasa duduk di bar stool paling ujung, dekat dengan dinding. Di situ cahaya tidak terlalu terang. Mirip dengan meja yang selalu saya pilih. Cukup remang. Di sudut yang berseberangan dengan sudut di mana laki-laki itu terbiasa menikmati minumannya. Hanya saja, di sini lebih hening dan cukup jauh dari konter bar. Saya tidak ingin tergoda untuk meminum lebih dari segelas koktail. Ya, segelas koktail dan dua atau tiga batang rokok untuk mendengarkan beberapa buah lagu yang diputar di tempat ini. Sekadar melepas penat usai bekerja. Dan, melupakan sejenak persoalan yang terjadi antara saya dan Bastian. Hubungan saya dengan tunangan saya itu tengah mengalami kemunduran. Saya merasa, hubungan kami saat ini menjadi renggang. Sangat renggang.

***

Ia memperhatikan saya sejak saya memasuki tempat ini. Saya bisa merasakannya di setiap langkah saya. Tatapannya seakan rekat pada saya. Bahkan, setelah berada di meja yang selalu saya pilih, laki-laki itu tetap menatap saya. Ia tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun. Laki-laki itu bukan tipe lelaki yang beraninya cuma curi-curi pandang seperti lelaki yang banyak saya temui. Ia tipe pemburu. Tatapannya bagai tatapan seekor harimau lapar dengan ketenangan yang purna. Ia masih menatap. Saya mencoba untuk tidak memedulikannya. Lagi pula, saya merasa terganggu atas sikap dan ucapannya kemarin.

Masih terekam jelas dalam ingatan, bagaimana laki-laki itu menghampiri saya. “Boleh saya duduk di sini?” tanya lelaki itu dengan raut muka yang datar. Saya tidak menjawab; hanya membalas tatapannya. Namun, ternyata, laki-laki itu memiliki kesimpulannya sendiri dalam merespons tatapan saya. Dengan santai ia menarik kursi lalu duduk. Meneguk bir yang dibawanya, kemudian menyalakan sebatang rokok. Ia tidak berbicara sepatah kata pun. Cukup lama. Sesekali ia berangguk-angguk mengikuti irama lagu yang sedang diputar. Hingga sebatang rokok yang ia sesapi akhirnya kandas. “Saya ingin mati sekali lagi, tapi tidak di sini, tidak dengan keadaan seperti ini,” katanya, lalu pergi usai menandaskan bir yang tersisa di gelasnya.

Ia berdiri. Dari gelagatnya, saya bisa menebak, ia akan datang menghampiri saya seperti kemarin. Mungkin sebaiknya saya berterus terang saja kali ini. Saya akan bilang padanya: “Saya tidak butuh ditemani siapa-siapa.” Barangkali dengan begitu ia langsung mengurungkan niatnya untuk duduk semeja dengan saya. Dan, seandainya pun ia tetap memaksa, tidak sulit bagi saya untuk mengusirnya. Saya pikir di tempat ini, akan banyak laki-laki yang bersedia menolong saya. Dua atau tiga lelaki yang sedang berada di tempat ini cukup untuk menaklukkan otot kekar laki-laki itu dan melemparkannya ke luar sana.

 “Boleh saya duduk di sini?”

 “Maaf, saya tidak….”

 “Kau pasti ingin tahu.”

“Apa? Maaf, tahu soal apa? Apa yang ingin saya ketahui?”

Ia menarik kursi lalu duduk dengan cuek; membiarkan pertanyaan saya menguap begitu saja. Ia bahkan tak menghiraukan tatapan saya yang menuntut kejelasan dari perkataannya barusan. Di benak saya pertanyaan-pertanyaan itu kembali muncul: siapa sebenarnya lelaki ini? Apa maunya?

“Dulu, saya pernah mati, sekali,” ia berbicara dengan nada yang agak gusar.

Saya diam–mencoba bersikap tenang guna mendengar penuturannya. Ia menekuri gelas yang masih terisi penuh. Saya menunggu laki-laki itu meneruskan cerita. Hingga berpuluh-puluh detik kemudian, ia belum juga melanjutkan ceritanya. Seolah-olah sedang memikirkan sesuatu. Atau, boleh jadi, laki-laki itu tengah menanti reaksi saya terlebih dahulu. Kami pun terdiam selama berpuluh-puluh detik berikutnya. Dan, ponsel saya tiba-tiba berbunyi; sebuah pesan masuk.

Ia tampak gelisah. Jemarinya sibuk merogoh-rogoh saku kemeja.

“Rokok?”

Ia menolak sekotak rokok yang saya sodorkan. “Ini saja,” dengan cepat ia raih sebatang rokok yang masih menyala dan tergeletak di atas asbak–sebatang rokok yang saya letakkan tadi ketika hendak membalas pesan. Terpaksa saya cabut lagi sebatang kemudian menyalakannya.

“Bukan kematian itu yang saya sesalkan,” ujarnya seraya menatap saya, “karena setiap orang pasti akan mati.”

Ia menghentikan penuturannya sewaktu seorang pelayan mengantarkan pesanan. “Terima kasih,” sambut saya lantas berdehem ke pelayan tersebut. Saya menginginkan pelayan itu segera pergi–saya kurang nyaman dengan tatapan pelayan yang penuh tanda tanya itu.

“Seharusnya dia berterima kasih pada saya, bukan malah membunuh saya,” lanjutnya lagi setelah pelayan itu menjauh.

“Kau dibunuh? Kenapa?”

“Menurutmu apa yang menyebabkan seseorang ingin meledakkan kepala orang lain jika bukan karena cemburu?”

“Cemburu?”

“Ya, sejak dia menyadari saya dan kekasihnya itu saling menyukai.”

Mendadak saya tertawa. Bukan karena apa yang baru saja ia katakan, melainkan lebih dikarenakan laki-laki itu jadi terlihat lucu. Ia yang mengaku-aku pernah mati, dan kini ia mengomel karena kematiannya itu disebabkan oleh rasa cemburu orang lain? Ternyata penilaian saya kemarin salah, ia bukan seekor harimau. Ia cuma seekor anjing kurap yang coba-coba bermain dengan perasaan orang lain. Dan mengeluh selepas merasakan akibatnya.

“Saya bersungguh-sungguh,” laki-laki itu lebih mencondongkan badannya ke arah saya; seakan tidak terima dengan reaksi saya barusan, “seharusnya dia berterima kasih.”

Saya lalu diam–agar dirinya tak kehilangan selera untuk kembali bercerita.

“Karena saya telah membahagiakan perempuan yang dia cintai.”

“Dengan melukai perasaan dan harga dirinya?”

“Kenapa harus terluka? Bukankah saya melakukan sebuah kebaikan? Saya menyukai kekasihnya dan memberikan kesenangan buat kekasihnya itu. Apa itu salah? Seharusnya kaulihat betapa bergembiranya kekasihnya itu ketika saya mencumbuinya di sebuah kamar hotel. Perempuan itu menikmati setiap sentuhan yang saya berikan.”

“Hentikan! Kau terdengar menjijikkan.”

“Hei, ada apa denganmu? Kenapa kau begitu marah?”

Entah mengapa, tiba-tiba saya merasa menjadi sangat haus. Bergegas saya basahi kerongkongan saya dengan segelas koktail sampai habis. Kemudian saya memesannya segelas lagi.

“Padahal, saya hanya ingin menjelaskan, bahwa laki-laki itu harusnya berterima kasih kepada saya,” tukasnya lalu menyesapi rokok hingga tuntas.

Saya menggeram–wajah saya memanas.

“Setidaknya dia jadi tahu, kekasihnya itu tidak sesetia seperti apa yang kerap dia gembar-gemborkan pada orang-orang,” pungkasnya lantas berdiri dengan wajah kesal.

Ia beranjak meninggalkan saya yang juga merasa kesal. Bukan cuma kesal, bahkan muak. Bahkan lebih daripada itu; terlintas dalam pikiran saya untuk membunuhnya, kalau saja ia tidak segera lenyap dari penglihatan saya. Ia benar-benar lenyap setelah sebelumnya berubah menjadi segumpalan awan yang melayang-layang di udara dan lesap menerobos langit-langit. Saya tertegun beberapa saat sebelum akhirnya terkesiap tatkala pelayan tadi kembali meletakkan segelas koktail di meja saya. “Cepat tinggalkan meja ini!” bentak saya kepada pelayan itu.

Saya menenggelamkan muka pada kedua telapak tangan. Pikiran saya benar-benar kacau.

“Maaf, saya terlambat. Kamu sudah dari tadi di sini?” seorang perempuan duduk di hadapan saya. “Kamu tampak kusut. Kamu baik-baik saja?”

Perempuan itu Shasha, sahabat saya sejak lama–sejak kami sama-sama kuliah.

“Sepuluh tahun kenal sama kamu, saya baru tahu kamu suka ke tempat seperti ini.”

Ia mengamati sekeliling. Ia juga memperhatikan apa-apa yang ada di atas meja. Memandangi satu per satu: segelas bir yang tersisa setengah, segelas koktail yang telah kosong, dan, segelas koktail yang masih terisi penuh. Ia juga melihat ke arah asbak.

“Sejak kapan kamu merokok?”

“Belum lama.”

“Kamu lagi ada masalah?”

“Sepertinya begitu.”

Ia mengernyit, kemudian menatap saya cukup lama.

“Kamu ingin cerita?”

Saya menggeleng, lalu meraih wristlet. Ia menatap saya dengan heran.

“Kenapa?”

Saya tidak menjawab. Akan tetapi, demi mengurangi kecemasan Shasha, saya tersenyum. Kendati pikiran saya kembali sesak. Apalagi ketika indra pencium saya mengendus sesuatu yang sangat saya akrabi. Sesuatu yang selalu membuat saya bergairah. Sesuatu yang senantiasa saya ingat. Dan, sesuatu itu menguar dari tubuh Shasha. Saya tetap tersenyum. Perlahan-lahan tangan saya menyelinap masuk ke dalam wristlet. Membelai sebuah revolver yang terasa dingin di ujung jemari saya, sambil menimbang-nimbang apakah saya harus berterima kasih padanya, atau….

*******

Catatan:
Bar stool         : kursi berkaki tinggi
Wristlet           : tas berukuran kecil menyerupai dompet

Abdullah Salim Dalimunthe,tinggal di Bandung. Gemar menulis cerpen.





Sosok

Yudhi Herwibowo: Mendobrak Batas Cerita Sejarah

Oleh Wahyu Indro Sasongko

Di dunia sastra, nama laki-laki kelahiran Palembang ini tentu sudah tidak asing lagi. Memiliki nama lengkap Yudhi Herwibowo. Ia mulai mengenal dunia literasi ketika menemukan sebuah buku catatan milik ibunya. Di dalam buku itu, Yudhi  mengetahui bahwa ibunya sering menulis puisi. Terlebih sebelumnya Yudhi tahu ibunya juga seorang pembaca. Tulisan pertama Yudhi, dimuat di media massa ketika duduk di SMP kelas 2, lalu setelah itu ia semakin rajin mengirim tulisannya di media. Namun, saat itu, keinginan untuk menggeluti dunia literasi belum sepenuhnya ada dalam benaknya.

Yudhi Herwibowo / dok. pribadi

Yudhi mengatakan, belajar menulis secara otodidak. Ia mencari dan menemukannya melalui buku-buku yang ia baca. Sampai akhirnya, nasib membawanya menempuh bangku kuliah di Solo, hingga menjadi salah satu punggawa Komunitas Pawon.  Tahun 2007, novel pertamanya yang berjudul Menuju Rumah Cinta-Mu terbit. Yudhi mengaku, sebelum tahun itu, ia banyak menulis buku-buku dalam konteks menangkap yang dikehendaki pasar, seperti buku bergenre humor dan ilmu aplikasi. Keinginan untuk mengubah jenis tulisan baru benar-benar Yudhi lakukan setelah buku trilogi Seven Samurai (2008) terbit. Novel yang berlatar belakang Negeri Sakura pada tahun 1184.

Keinginan dan berubahnya idealisme untuk menulis novel berbasis sejarah ia buktikan dengan terbitnya Pandaya Sriwijaya (2009) dan Untung Surapati (2008). Ia mengaku, buku-buku itu menjadi tonggak dan titik balik segala ide menulisnya, sampai saat ini. Novel berbasis cerita sejarah lainnya yang ia tulis adalah Halaman Terakhir (2016) yang bercerita tentang sosok Hoegeng, dan yang terbaru adalah Sang Penggesek Biola (2018) yang berkisah tentang sosok W.R. Soepratman.

Menurutnya, ide dari setiap naskah-naskah novel sejarahnya muncul dari imajinasi dan film. Jika kebanyakan penulis lain mendapatkan ide tulisannya dari buku-buku yang mereka baca, ia mengaku ide-idenya banyak ia dapatkan dari film-film yang ia tonton. Menurutnya, seorang penulis fiksi harus bisa menawarkan konsep-konsep tulisan yang tidak biasa.  Sebab ia meyakini, fiksi merupakan ide yang tidak bisa ditampung di dalam non fiksi. “Ia harus melampaui ide dari non fiksi,” kata Yudhi.

Melalui fiksi, seorang penulis bisa merayu pembacanya untuk berpihak pada seorang tokoh atau karakter dalam sebuah buku dan cerita pendek, jika di dalam non fiksi hal tersebut kemungkinan akan sulit untuk dilakukan. “Kelemahan buku sejarah tidak persuasif, tetapi kehadiran seorang penulis fiksi bisa menjadikan cerita sejarah menjadi persuasif. Seorang penulis fiksi harus mampu menghadirkan pertarungan gagasan dan ide segar dalam tulisannya,”.

Apa yang dimaksud Yudhi bisa kita temukan dari banyak cerita pendek yang ia tulis. Contohnya, dari dari buku kumpulan cerita pendek Lagu Senja yang diterbitkan Balai Pustaka (2006) mengambil sudut pandang tidak biasa, uncommon. Dalam buku itu, Yudhi mengisahkan seseorang yang jatuh ke laut, kemudian ditolong oleh manusia yang hidup di dalam laut. Atau seseorang yang menemukan sebuah pena, lalu apa saja keinginannya bisa terpenuhi setelah ia seseorang itu menulisnya. Hal-hal tidak biasa seperti itulah yang kemudian Yudhi kembangkan untuk membuat sebuah ide cerita. Terkhusus cerpen, eksplorasi Yudhi berkembang pada kumpulan cerpen selanjutnya yang berjudul Mata Air Air Mata Kumari (2010).

Satu sudut pandang yang lain dalam Yudhi berkarya, juga bisa kita temukan dalam jalan cerita Novel Pandaya Sriwijaya yang ia tulis. Dalam novel itu, Yudhi memandang keagungan Kerajaan Sriwijaya dari sudut pandang tokoh-tokoh kecil, salah satunya seorang putri yang bernama Dapuntamana. Tokoh-tokoh kecil inilah yang merangkai latar cerita tentang Sriwijaya pada abad ke 7 di tengah keterbatasan data sejarah. Namun, justru dari keterbatasan data itu, Yudhi menjadi lebih bebas menulis alur kisah  sejarah Sriwijaya.

Sebuah kebebasan menulis yang tidak ditemukannya, seperti ketika ia menulis Novel Untung Surapati. Karena data sejarah tentang tokoh tersebut sudah tertulis dalam berbagai babad sejarah Jawa, salah satunya di Babad Kartasura. Meskipun, dalam novel itu Yudhi melawan gagasan penulisan sejarah versi Belanda yang menggambarkan bahwa Untung Surapati itu seorang yang licik, suka main perempuan, culas, pengkhianat, hingga oleh pihak Belanda dijuluki sebagai “Begal Surapati”. Namun, dalam proses penulisan novel itu, Yudhi tidak mungkin mengubah jalan cerita sejarah Untung Surapati yang sebenarnya.

Menulis novel berbasis sejarah memang memiliki tantangan tersendiri. Tidak saja cerita itu sudah memiliki batasan seperti alur cerita dan penggambaran tokoh yang sudah tertulis sebelumnya. Menulis novel berbasis sejarah juga harus menjalani proses riset untuk mendapatkan data yang kuat dan akurat. Seperti ketika menulis Novel Halaman Terakhir, Yudhi harus bertemu langsung dengan keluarga Hoegeng untuk mendapatkan data untuk membangun perasaan sedekat mungkin dengan sosok Hoegeng dan Yudhi membuktikan kelihaiannya dalam menciptakan tokoh-tokoh imajinasi untuk menyiasati batasan dalam penulisan novel berbasis sejarah itu. “Saya harus mendapatkan ide tentang Hoegeng di luar sudut pandang yang sudah ditulis selama ini. Misalnya, tokoh wartawan yang saya ciptakan. Apabila tidak jeli, pembaca akan menganggap tokoh wartawan tersebut benar-benar ada. Terlibat dalam kasus Sum Kuning dengan leluasa. Selain itu, tantangan lainnya adalah rasa cemas kemungkinan akan adanya intimidasi. Mengingat tokoh-tokoh yang terlibat dalam peristiwa Sum Kuning juga masih hidup,” ujarnya. Dalam perjalanan profesinya sebagai seorang penulis, sampai saat ini, Yudhi telah menghasilkan 39 buku.