“Bu, maafkan Nur. Kumohon, maafkan Nur. Hari
ini Nur umur dua puluh delapan, tapi Nur nggak bisa menikah sekarang,” ujar
Nursri dengan bibir bergetar sambil memeluk ibunya (hal. 90). Nursri; tokoh
utama dalam cerpen Amanatia yang dijadikan judul buku ini; Waktu untuk Tidak
Menikah—menjadi menarik di mata para pembaca. Khususnya di kalangan kaum
muda yang dilema dengan pertanyaan: kapan nikah?
Berharap
mendapatkan semacam solusi dari kebimbangan “untuk tidak menikah” mendadak terbesit
ketika: mendapati pengalaman orang-orang yang justru kesulitan menghadapi rumah
tangga, penghasilan yang belum dikatakan cukup untuk membangun sebuah keluarga,
status jomlo yang memunculkan kebingungan akan menikah dengan siapa, atau
persoalan hati karena gagal move on dengan mantan—sedangkan mantan lebih
dulu berumah tangga dengan orang lain dan tidak mungkin membujuk untuk diajak balikan.
Semoga Tuhan memberkati kalian!
Seluk
beluk percintaan yang “rumit” dikumpulkan Amanatia dalam empat belas judul
cerpennya yang dirangkum dalam blurb buku ini: di belahan bumi lain, ada
yang tersungkur patah hati ditinggal kekasih. Ada yang kehilangan banyak hal
dalam waktu yang berdekatan. Ada yang memilih hidup sendirian bersama dua
kucing liar. Ada yang tiba-tiba ingin menghubungi mantan kekasihnya. Ada yang
mencintai diam-diam dan berakhir ditolak mentah-mentah. Ada yang tak siap
berpisah, sekali pun sudah menabung kesiapan itu jauh-jauh hari. Ada yang
selalu mencintai tapi tak pernah bisa menerima, hingga persoalan ada yang
menikah, lalu ingin berpisah.
Pada
Jarak yang Memisahkan Kami—pun, saling mencintai benar-benar
tidak sederhana, kau percaya? (hal. 100). Justru permasalahan hubungan jarak
jauh (long distance relationship), rentang usia terlampaui jauh, juga
gelar dan status sosial tidak mungkin sesederhana saling mencintai lalu ingin
menghidupi. Itu sebabnya, penulis kelahiran Malang ini menuliskan:
kadang-kadang, memang selalu ada waktu untuk tidak berkasih. Untuk tidak bercinta,
untuk tidak menikah. Lagi pula, kisah cinta yang melulu indah itu kata siapa?
Pernyataan
tersebut membuat Amanatia menciptakan tokoh seorang mahasiswi dengan pembicara
seminar super sibuk di bagian 8: tak ada dari kami berdua yang menyangka bahwa pada
akhirnya kami saling jatuh cinta dan memiliki hubungan yang sulit
didefinisikan. Di usiaku yang berjarak sembilan tahun lebih muda darinya, aku
benar-benar tak habis pikir mengapa ia bisa jatuh cinta padaku (hal. 96). Pada
akhirnya, tokoh si perempuan dalam cerita ini mengungkapkan kegelisahannya:
belum 24 jam ditinggalkan, sudah menangis lagi. Aku hanya menatap layar dan tak
menyentuhnya. Berharap ia membalas dan mengabarkan bahwa ia baik-baik saja di
sana, tapi ia tak membalas. Mungkin sibuk. Mungkin pula enggan (hal.102).
Lebih
menyesakkan lagi, ketika disuguhkan ceritanya bertajuk Baru Menjadi Ibu—sebagai
pemilik rahim, perempuanlah yang pada akhirnya menanggung kepuasaan birahi (entah
dari salah satu atau kedua belah pihak). Maka tak heran jika W. Sanavero
menuliskan kegelisahannya dalam Perempuan yang Memesan Takdir. Prosa
yang menyingkap sisi lain perempuan perihal mamaknai cinta, kenangan, keluarga,
budaya, pernikahan, bahkan hubungan manusia dengan Tuhan—meskipun cara pandang
perempuan tetaplah berbeda antara satu dengan yang lainnya.
Berbeda
kisah dengan pemikiran laki-laki. Saya teringat Kisah Sedih Kontemporer (IX)
dalam Kumcer Bakat Menggonggong, Dea Anugrah menyiratkan kesedihan
perihal cinta yang “lucu” sehingga patut ditertawakan dengan “gonggongan” atau umpatan
kecil saat Shalani Nafasha setelah dua tahun mengirimkan pesan tersirat bahwa
ia telah memiliki momongan kepada Fredrik—pria yang mengaguminya. Berbeda
konteks dengan Kurniawan Gunadi perihal cinta diam-diam kepada seseorang yang ia
cintai hingga dituliskannya dalam sekumpulan cerita Lautan Langit.
Baginya, menikahi dan mengarungi lautan kehidupan bersama adalah solusi tepat
untuk mengimplementasikan rasa cinta.
Lalu
apa yang terlintas ketika membaca judul buku ini? Apakah dengan meghindari
kerumitan tersebut kita hanya mampu memilih untuk tidak menikah? Lalu dengan
memilih untuk tidak menikah kita akan terlepas dari belenggu masalah? Lalu bagaimana
menjalani kehidupan sebagaimana Nursri, menjelang hari pernikahannya yang
tinggal beberapa jam harus dihadapkan dengan persoalan yang membuat pikirannya
kacau. Perempuan itu, akhirnya memilih hidup dengan anak semata wayangnya di
Timalayah tanpa harus menikah. Kini baginya, tidak ada yang lebih penting dari
mengurus anak satu-satunya—tanpa perlu lagi menghadirkan sosok lelaki dalam
kehidupannya.
Membaca
buku Amanatia Junda, saya mengimani bahwa yang terjadi di masyarakat perihal
cinta, rumah tangga, atau hubungan sosial tidak semudah menikmati cerita di
negeri dongeng. Di Lantai Tiga Beringharjo, misalnya. Kita akan
mendapati penulis dengan cerdik menceritakan beragam karakter yang barangkali
kita temui di kehidupan para pedagang. Menceritakan seorang janda yang memilih
tinggal sendiri setelah ditinggal pergi suaminya ke luar negeri. Kisah
perempuan yang sarat dengan kesedihan—seumpama baginya, hidup dengan hewan
peliharaan lebih menyenangkan dibandingkan menjalani hidup yang baru bersama
pasangan baru, pun dengan persoalan yang baru pula.
Tidak
hanya itu, penulis mengikhtiarkan pemahamannya bahwa laki-laki harus paham
seluk-beluk perempuan. Maka dengan tegas pun lugas, pengarang menciptakan
sebuah cerita Perkara di Kedai Serba-Serbi. Tidak tanggung-tanggung,
Amanatia menuliskan secara gamblang lewat sosok Dina; perempuan yang terpaksa
menceritakan kesialan di hadapan kekasihnya. Bagi saya, ini merupakan bagian rumit
bagi perempuan untuk menunjukkan apa yang seharusnya disembunyikan. Tapi
seketika saya sepakat bahwa tidak ada yang salah dengan ilmu pengetahuan. Maka,
sah-sah saja.
Terlepas
dari latar belakang pengarang, saya yakin bahwa Amanatia merupakan sosok yang
kuat. Terbukti dari hampir keseluruhan cerpennya, selalu dimunculkan konflik
yang membuat perempuan selalu menanggung “getah” dari kesialan lelaki. Namun
dimunculkan solusi tentang bagaimana tokoh tersebut mengambil peran untuk tetap
selow menghadapi kehidupan. Baginya, ia hanya perlu membaca ulang
peristiwa-peristiwa lama yang membuat dirinya berspekulasi: aku masih lebih
beruntung daripada dirinya. Atau semacam rasa syukur dan kebijaksanaan untuk
tidak memperlihatkan kelemahan. Sehingga ia memilih berjalan terus sesuai
kehendak hatinya sendiri.
Merasa
dicurangi dengan judul buku ini sebab berbeda situasi dengan Nursri, saya tetap
mendapatkan bekal untuk sekadar merenungkan kembali mengapa menikah menjadi
bagian penting bagi hidup manusia. Terlepas dari cinta, terlepas dari tuntutan
keluarga, dan terlepas dari persoalan apapun, waktu untuk tidak menikah bagi
saya hanyalah persoalan “waktu”. Itu sebabnya mengapa banyak sekali perkara
terjadi, baik yang melibatkan masa lalu, masa sekarang, bahkan masa depan. Maka
sampailah kita kepada pertanyaan perihal: kapan waktu untuk tidak menikah—dan
setiap orang berhak atas jawabannya masing-masing.
Ini
seperti prinsip cinta yang diceritakan Cak Nun pada sebuah kesempatan perihal
Umbu Landu Paranggi—beliau mengimani bahwa cinta sejati adalah cinta yang tak
boleh dibatalkan dengan sebuah pertemuan, apalagi sampai melakukan kontak fisik
dengan pernikahan. Salah satu prinsip Umbu sehingga ia tetap mencintai seorang
wanita tanpa pernah memilikinya sama sekali, namun ia tetap mencintainya. Bagaimana
bisa? Bukankah cinta dan pernikahan saling beriringan? Bertanyalah sambil
menyelami setiap lembar buku ini dan temukan jawabannya.
Bagi
siapa saja, buku ini sengaja lahir untuk ditimang khalayak luas. Bukan hanya
dikhususkan kaum jomlo yang terlanjur malas untuk menikah atau kaum patah hati
yang mengutuk dirinya sendiri dengan beragam alasan. Sebab cerita demi cerita
yang dihidangkan Amanatia sangatlah realistis dengan kehidupan nyata. Maka bagi
siapa saja yang masih memiliki cinta, nikahilah buku ini sebelum waktu memaksa
kita menikahi sepi.
Mutia
Senja, lahir di Sragen, Jawa Tengah. Bergiat di Sekolah Menulis Sragen
dan Komunitas Sangkar
Literasi. Hobinya menulis sesuka hati. Buku puisi tunggal Manahan Selepas Hujan, terbit
Mei 2018. Blogger di aksaramutiasenja.blogspot.com, Instagram: @mutia_senja,
e-mail: [email protected], nomor
HP 085713027400,
0 Komentar