Belakang

LAGU (TIDAK) ROMANTIS

Pada masa 1990-an, kaum remaja merasa dilanda kasmaran yang merdu. Mereka ikut gemremeng ssaat mendengar radio, yang membuat daftar tangga lagu mingguan. Di situ, ada lagu “Kangen” dari Dewa 19. Mereka larut dalam perasaan-perasaan yang tidak biasa. Bayangkan mereka kangen tapi diharuskan menulis dan membaca surat.

Di keseharian, mereka memegang bolpoin dan menghadapi buku tulis. Pada situasi berbeda, mereka memilih kertas yang istimewa. Tangan itu menulis kalimat-kalimat yang penuh perasaan, bukan catatan pelajaran atau jawaban untuk tugas-tugas yang diberikan guru.

Yang menulis surat adalah yang kasmaran. Kangen ditanggapi dengan menulis di kertas. Ditulis penuh penghayatan. Yang menulis kadang meneteskan air mata bersampur gemas. Penulis surat bisa terbawa lamunan yang panjang setelah berhasil membuat satu kalimat. Di kertas, penulis surat yang sangat kangen tidak mau ada coretan. Yang tampak di kertas seharusnya menguak perasaan-perasaan, bukan asal membuat tulisan seperti saat berada di kelas.

Dulu, kangen itu menulis dan membaca surat. Orang harus sabar. Kangen malah disuruh menulis surat, yang bisa belasan halaman. Kangen yang mendebarkan adalah membaca kalimat-kalimat yang samar dari kekasih. Tangan gemetar saat terjadi mufakat sama-sama kangen yang ada di sini dan yang ada di sana. Surat itu keramat! Surat disimpan di bawah bantal, terbawa dalam tidur menjadi mimpi yang indah.

Bagaimana kangen menghasilkan ratusan dan ribuan kalimat? Yang kangen berarti sadar kata selain menitip foto dalam surat atau menaruh cap bibir di kertas? Kangen yang bermutu. Kaum remaja masa 1990-an yang tidak mau membiarkan kangen berlalu oleh angin, kentut, atau terjangan tikus. Kangen yang sebenar-benarnya adalah kertas berisi kalimat-kalimat. Kangen itu pilihan warna amplop dan gambar di perangko. Semua gara-gara lagu dari Dewa 19.

Namun, para remaja pun mendengar lagu Slank, Kahitna, Java Jive, dan lain-lain. Mereka memiliki pilihan lagu yang romantis. Ada yang tersedot lagu-lagu tragis. Ada yang berputus asa setelah kecanduan lagu-lagu sadis. Pokoknya, masa remaja adalah masa-masa mengoleksi banyak lagu, yang dianggapnya sesuai perasaaan. Maka, yang ;punya koleksi lagu pilihan masa remaja bakal dibawanya sampai tua. Pada suatu hari kelak, mereka mendengarkan lagi sebagai lagu kenangan atau nostalgia.

Masa 1990-an itu menghasilkan keuntungan besar saat penyelenggaraan konser-konser atas nama nostalgia. Yang panen duit miliran rupiah biasanya Dewa 19. Kita menuju masa 1950-an saja. Masa yang masih diramaikan lagu-lagu nasional atau kebangsaan agar revolusi tidak redup. Apakah masa itu sudah ada lagu asmara yang (paling) romantis?

Pada masa kekuasaan Soekarno, lagu atau musik bisa menjadi masalah bila tidak berpikiran sesuai revolusi atau menunjang kemuliaan Indonesia. Lagu-lagu yang memuja asmara rendahan dan ecek-ecek mungkin masuk daftar perusak kepribadian nasional. Yang diperlukan Indonesia adalah semangat bukan kangen, cinta buta, atau sumpah sehidup-semati berdua. Semua itu rendahan!

Kita mendapatkan petunjuk kecil untuk mengingat suasana berlagu masa lalu. Yang kita buka adalah buku berjudul Puspa Irama jilid II, yang disusun oleh Kasim St M Sjah, 1953. Yang menerbitkan adalah Pustaka Rakjat, yang didirikan dan dikelola oleh Sutan Takdir Alisjahbana. Penerbit yang memberi perhatian pada sastra dan bahasa tapi tidak melupakan lagu.

Apakah di buku ada leluhur lagu asmara yang nantinya bercucu “Kangen” yang dibawakan Dewa 19? Sejak halaman awal sampai akhir, kita mustahil menemukan lagu bertema asmara. Buku digunakan di sekolah-sekolah (menengah), yang diajarkan bukan untuk menjadi makhluk ketagihan asmara dan merayakan cinta sampai langit ketujuh.

“Moga-moga buku ini djuga akan djadi pendorong untuk mentjapai pengetahuan musik umum sekedarnja,” pesan penyusun buku. Ia tidak mengajak murid-murid mengerti musik yang nantinya digunakan untuk merayu dan menjadikan kekasih terjerat dalam kangen seribu tahun.

Lagu yang dipelajari berjudul “Ilmu Pengetahuan”. Judul yang jauh dari perasaan-perasaan terdalam seperti remaja yang mendengar lagu Naif, Nidji, ST 12, Armada, atau Wali. Judul yang sudah menyiksa murid agar makin rajin belajar dan meraih pengetahuan sebanyak satu ton.

Beruntungnya kita tidak menjadi murid masa 1950-an. Lirik lagu yang melawan romantis: Ilmu pengetahuan itulah pakaian jang tidak pernah luntur/ Walaupun disesah dibentur/ Ilmu pengetahuan itulah harta jang guna jang tidak kundjung habis. Mengapa kata-kata itu dibuat untuk dinyanyikan oleh para remaja yang mudah kasmaran. Revolusi tidak boleh mengharamkan asmara. Di sekolah, para remaja malah terlalu diminta serius dengan ilmu pengetahuan. Perasaan-perasaan dilupakan dulu dalam siksa puluhan mata pelajaran.

Kita lanjutkan ke halaman-halaman yang memuat lagu berjudul “Kampung Tertjinta”. Judul yang salah lagi. Kenapa bukan berjudul “Kekasih Tertjinta” atau diksi-diksi yang mendekati asmara? Pada masa 1950-an, pengajaran musik di sekolah dianggap penting. Misinya bukan menjadikan murid-murid adalah perayu tapi mengerti situasi revolusi dan keindahan di dunia yang fana.

Lirik yang dibuat: “Petiklah gitar dan gesek biola pukul gendang.” Bermain musik dilakukan bersama untuk mengingat kampung halaman. Sekian alat musik yang bakal menimbulkan ingatan-ingatan saat bermain di sawah, berlarian di kebun, bermain layangan, menelusuri sungai, menangkap ayam, dan lain-lain. Pokoknya, segala cerita mengenai kampung halaman diharapkan tercakup dalam lagu.

Di situ, ada pengisahan kampung halaman yang kecil dan terpencil. Dulu, orang-orang yang ingin berpendidikan dan berhasil dalam pekerjaan memang harus meninggalkan kampung halaman. Mereka terpisah dari keluarga. Mereka tidak lagi bermain bareng teman-teman di kampung, yang belum beruntung untuk mendapat pendidikan tinggi. Di desa, mereka memilih menjadi petani, pedagang, peternak, atau buruh.

Namun, adakah yang ditinggal adalah kekasih? Artinya, kekasih yang dicintai saat masih kecil atau remaja. Pergi meninggalkan kampung halaman pasti berat tapi harus terjadi. Mereka akhirnya surat-suratan, yang memerlukan waktu lama untuk berhasil sampai di tangan dan dibaca.

Kita memilih dua lagu saja. Ingatlah bahwa kaum remaja masa lalu belajar lagu-lagu yang bermutu, bukan penikmat yang kebablasan untuk lagu-lagu asmara picisan. Masa 1950-an tidak melulu masalah demokrasi atau revolusi. Masa itu lagu-lagu yang banyak pelajaran, bukan perasaan.

____________________

Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.

Puisi

Puisi Maria Utami

Hujan Asap di Langit Kami

Kami datang, kumpulan helaan napas resah

dari dapur-dapur sempit juga gang-gang basah.

Suara kami hanyalah bisikan sunyi yang ingin didengar,

tapi langitmu menjawab aneh;

kau kirimkan hujan buatan yang pedih dan perih.

Bukan air bening, tapi kabut asap menyesakkan

memaksa kami menangis untuk alasan yang salah.

Beberapa dari kami jadi daun gugur sebelum waktunya,

jatuh ke aspal kelabu sebelum sempat mekar.

Nama mereka kini hanya gema lirih,

sajak duka yang tak akan pernah selesai ditulis.

Dan di balik jendela-jendelamu yang tinggi dan dingin,

jeritan kami hanya seperti rintik hujan di kaca,

terlihat basah, tapi tak pernah terasa di dalam sana.

Negeri ini perahu kertas yang kita layarkan bersama.

Tapi kini ia akan berlayar ke arah mana?

Langit membisu, tak ada bintang petunjuk,

dan kami di dalamnya hanya bisa menunggu fajar

dengan ritme yang tersisa.

Yogyakarta, September 2025

____________________

Duka, Murka, Linimasa

Dulu, kubuka kau seperti jendela pagi,

mencari sapa hangat atau secangkir kopi.

Linimasa ibaratkan beranda yang teduh.

Tapi saat ini, berandaku penuh kabar duka;

foto anak-anak negeri yang tak lagi bernyawa,

wajahnya jadi sajak paling pilu yang pernah kubaca.

Lalu wajah-wajah lain datang dari balik dasi,

mengucap kalimat hampa tak punya hati,

seperti dongeng yang dibacakan di atas bara api.

Dadaku sempit, asam lambungku naik.

Amarah dan mual bercampur di dalam benak.

Ponsel di tanganku yang dingin terasa panas juga berisik.

Jendela ini tak lagi memantulkan langit biru,

ia kini cermin retak yang menampakkan luka negeriku.

Ingin sekali kututup tirainya, tapi bagaimana aku bisa?

Jika di luar sana, di jalanan itu,

ada yang sedang bertaruh nyawa.

Yogyakarta, September 2025

____________________

Payung Hitam

Payung hitam ini

bukan untuk menanti hujan.

Ia adalah atap bagi sebuah kesunyian,

langit kecil bagi doa-doa yang merana.

Di bawah naungannya, kami menjaga sebuah nama,

menjadi perisai bagi martabat yang tersisa

dari tatapan acuh juga janji-janji dusta.

Warna hitamnya adalah tinta paling pekat

untuk menuliskan dua kata yang tak akan berkarat:

“Tolak Lupa”.

Setiap kami berdiri di sini dalam diam,

kami sedang menanam benih harapan

di atas aspal yang kejam.

Jadi biarlah payung ini terus terbuka,

meski panas atau gerimis datang menyapa.

Ia akan tetap di sini, menjadi saksi yang tabah,

sampai langit di negeri ini benar-benar kembali cerah.

Yogyakarta, September 2025

___________________

Doa Kekasih dari Seberang Layar

Di dalam kamar kosku yang aman,

perjuanganmu kupantau lewat layar ponsel.

Aku menghitung setiap wajah di lautan kerumunan,

berharap tak menemukan wajahmu di antara yang rubuh.

Asap tebal yang membubung di layar itu

terasa sesak hingga ke dalam dadaku.

Hatiku kini dua musim yang bertarung sengit:

musim semi yang mendukung keberanianmu,

dan musim gugur yang gemetar takut kehilanganmu.

Kupejamkan mata, kutitipkan namamu pada angin,

sebuah doa amat sederhana untukmu yang kucinta,

“Tuhan, jaga dia, kembalikan dia padaku utuh.”

Menanti kabar perubahan negeri

sama sabarnya menanti satu pesan singkat darimu nanti.

Sebuah pesan yang barangkali hanya berisi satu kata:

“Pulang.”

Dan kata itu akan jadi penyejuk hati paling berarti.

Yogyakarta, September 2025

___________________

Hanya Mata yang Berlayar

Kulihat sepasang suami-istri cemas di lorong rumah sakit,

anaknya terbaring sebab racun dari makanan gratis.

Kulihat seorang bapak menatap surat pajak

yang angkanya terasa lebih tinggi dari atap rumahnya.

Kulihat seorang ibu merapikan ijazah anaknya,

selembar kertas yang belum bisa membeli apa-apa,

doanya bagaikan gerimis yang turun setiap senja.

Kulihat seorang guru dengan kemejanya yang usang

mengajar aksara dengan semangat paling benderang.

Kulihat anak-anak muda yang berani punya suara

diikuti bayangan-bayangan gelap tanpa nama.

Mereka nyalakan api kecil di tengah malam buta

meski angin ancaman terus coba membuatnya sirna.

Aku tak di sana, tak di sini.

Aku hanya sepasang mata yang terus berlayar

di atas lautan duka negeri ini.

Yogyakarta, September 2025

____________________

Maria Utami, seorang ibu rumah tangga asal Kota Yogyakarta yang aktif menulis puisi. Baginya, tidak ada kata terlambat untuk terus berkarya. Beberapa karyanya ada yang terpilih dan dimuat dalam buku antologi puisi. Sebagian naskah puisi lainnya juga sudah terbit di sejumlah media literasi digital. Dapat didukung atau disapa melalui akun Instagram: @maria.oetami.

Curhat

Ayam Tidak Membaca Buku

Curhat Durjana

Setahun lebih, ratusan buku aku taruh dekat kandang ayam. Tindakan yang biadab dan konyol. Aku tidak bermaksud agar ayam-ayam itu membaca buku saat memiliki waktu senggang. Aku malah ikhlas bila ayam+ayam sangat lapar sehingga memakan huruf-huruf atau kertas -kertas. Konon, buku itu memuat ilmu. Aku pikir ayam yang terpaksa makan buku bakal menjadi ayam yang suka seminar ketimbang bikin ribut tiap pagi dan menciptakan onar gara-gara bertelur. Bayangkan ayam itu mengeluarkan telek berwujud huruf-huruf yang berserakan dengan bau menyengat. Aku yakin bahwa ayam tidak membaca buku. Manusia saja tidak membaca buku, memilih makan ayam goreng, telur dadar, atau menyantap brutu. Manusia yang hanya ketagihan makan daging dan telur ayam tapi tidak pernah membaca buku boleh kita lempari dengan telek ayam. Tindakan yang makin biadab.

Sebenarnya, yang biadab itu aku. Selama belasan tahun tidak mampu menata dan merapikan ribuan buku. Yang dilakukan hanya membaca dan bikin berantakan rumah. Usahanya sebagai pedagang buku cuma menghasilkan tumpukan buku yang sulit laku. Pada tahun-tahun yang sulit dan pelit, orang-orang bersalah jika menyerahkan uang untuk membeli buku: baru atau bekas. Aku paham bahwa buku tidak memberi janji agar orang selalu girang setiap hari. Sebaliknya, uang terjadi adalah tubuh yang gering setelah mati-matian memikirkan isi buku. Orang pun murung bila yang dibaca adalah buku-buku bermazhab picisan, cengeng, dan brengsek. Buku sangat sulit menyelamatkan hidup. Pengecualian adalah orang-orang yang mendapat mukjizat sebagai pembaca buku yang mulia, berpahala, dan berhikmah.

Aku adalah pembaca buku yang garang, tidak punya rem dan bergerak tanpa peta. Buku-buku yang sudah dibaca menjadi tumpukan yang memberatkan hidup. Jangan bertanya tentang pembaca yang diberkati. Aku adalah pembaca yang menjadi gembala dusta dan khianat atas pengetahuan dan imajinasi.

Maka, yang aku lakukan: mengantar ratusan buku kepada ayam-ayam. Pada akhirnya, buku bukan bacaan. Buku menjadi tempat bertelur dan bercengkrama ayam-ayam yang sedang kasmaran. Aku merasa tidak terlalu bersalah saat memikirkan nasib ayam dan buku. Keputusanku memang tidak menggunakan argumentasi yang bermutu. Artinya, pikiranku tentang buku lebih buruk dan rendah dibanding telek ayam.

Bulan-bulan berlalu, ada beberapa buku yang rusak, berjatuhan, dan berserakan. Pelakunya tidak ayam-ayam saja. Pada malam hari, jamaah tikus senang bermain dan istirahat di kerumunan buku. Yang menyedihkan, beberapa buku menjadi sasaran kebrutalan tikus.

Pada situasi berbeda, aku kadang melihat burung-burung menclok di tumpukan buku saat pagi atau jelang siang. Kandang ayam memang dekat dengan kebun-kebun tetangga yang memiliki banyak pohon besar. Apakah burung-burung itu membaca buku. Namun, aku mendapatkan keindahan atau secuil puisi saat melihat burung-burung di atas buku-buku.

Yang membuatku makin biadab adalah membiarkan ratusan buku dihajar sinar matahari yang panas. Risikonya sampul buku-buku tampak lusuh dan warnanya memudar. Kertas-kertas juga tersiksa panas matahari. Kertas-kertas itu terpaksa berubah wajah dan bentuk.

Aku tidak tahu bila buku-buku itu melihat bulan purnama atau sabit. Malam, kandang ayam dan buku-buku dalam gelap. Mereka mungkin mencicipi bahagia saat bulan memberi senyum atau bisikan yang romantis.

Senin, 13 Oktober 2025,  beberapa buku aku bersihkan untuk dibawa ke gedung yang memiliki tiga lapangan biasa digunakan jamaah badminton. Pikirku, menaruh buku di situ agak mengurangi kebiadaban. Aku tidak berharap buku-buku itu bakal dilihat, disentuh, atau dibaca. Pada suatu hari, aku menanti ada orang yang terpikat buku-buku di pojokan. Ia bakal bercakap denganku di sela menyapu dan mengepel lapangan. Kupingku ingin mendengar ia menyukai buku. Janjiku: buku yang ia pegang atau dilihat dengan melotot akan aku berikan sebagai hadiah. Inginku buku itu mendapat tempat terhormat di kamar atau rumahnya. Aku menunggu buku-buku itu habis saat bertemu para pembaca yang sanggup memberi kasih dan berdoa mendapat pengetahuan. Buku tetap berguna. Aku saja yang sia-sia.

Cerpen

Bunga Kertas di Atas Rel

Cerpen Erna Surya

Jangan buka peta Delanggu hari ini. Bukalah peta Delanggu tahun 1925, ketika udara masih diselimuti bau tanah basah, dan sinar matahari menimpa rel-rel kereta seperti bilah pisau mengiris air. Waktu itu Delanggu belum seramai kini. Di ujung jalan tanah yang berdebu, berdirilah sebuah stasiun kecil beratap seng, dua jalur besi menghubungkan Solo dan Yogyakarta. Suara peluit kereta bukan sekadar tanda keberangkatan, melainkan doa pagi dan ratapan sore. Di sebelah barat, berdiri pabrik karung goni: bangunan besar dengan cerobong hitam yang memuntahkan asap ke langit, seperti perpanjangan dada orang-orang yang tak sempat menangis.

Para perempuan pribumi datang setiap pagi dengan kain kebaya basah peluh, membawa tubuh yang belum sempat menua tapi sudah letih. Dari fajar hingga senja, tangan mereka menenun serat-serat goni menjadi karung yang akan membawa biji kopi dan gula ke kapal-kapal di Batavia. Mereka jarang bicara. Di pabrik itu, suara mesin lebih keras daripada suara manusia.

Selasa, 4 Agustus 1925.

Kereta dari Batavia berhenti di Stasiun Delanggu pukul tiga sore. Dari gerbong kelas satu turun seorang lelaki Belanda bertopi jerami, membawa koper kulit hitam dan selembar surat tugas dari pemerintah Hindia Belanda. Namanya Johan van Dijk, insinyur muda lulusan Delft, dikirim untuk mengawasi pembangunan gudang baru di pabrik karung goni Delanggu.

Usianya tiga puluh dua, rambutnya pirang pucat, kulitnya seputih abu cerutu yang tertiup angin sore. Wajahnya tenang, tapi matanya tajam seperti penggaris baja — mata yang terbiasa menghitung jarak dan ketepatan. Ia percaya hidup bisa diatur seperti skema mesin: rapi, pasti, tanpa gangguan perasaan. Namun satu hal yang tak bisa ia ukur adalah mata seorang perempuan yang menatapnya sore itu.

Perempuan itu berdiri di peron, kebaya hijau tua membungkus tubuhnya yang mungil. Di tangannya ada bakul berisi pisang rebus, di bibirnya ada senyum yang tidak dipelajari dari siapa pun. Sarinah, namanya. Ia bukan gadis yang mencolok. Kulitnya sawo matang, rambutnya disanggul seadanya. Tapi ada sesuatu pada caranya berdiri, cara ia menunduk setengah malu, seolah tahu bahwa dunia sedang menatapnya tapi ia tak tahu harus ke mana menghindar. Johan menatapnya sebentar, cukup lama untuk menanam duri kecil di hatinya.

Goedemiddag,” sapanya. Sarinah tak menjawab. Ia hanya menunduk, tersenyum sekilas, lalu berlalu dengan langkah yang nyaris tanpa suara.

***

Sejak sore itu, Johan selalu berhenti di stasiun setiap sepulang dari pabrik. Ia berpura-pura menunggu kereta yang tidak pernah ia tumpangi. Ia berdiri di bawah atap seng yang panas, menyalakan rokok, dan menunggu gadis dengan bakul pisang itu lewat. Kadang Sarinah menatapnya sekilas, kadang tidak. Tapi setiap pertemuan meninggalkan sesuatu di udara — seperti aroma kayu manis yang tertinggal lama setelah bara padam.

Di pabrik, Johan menjadi pengawas baru yang berbeda dari insinyur-insinyur Belanda sebelumnya. Ia tidak berteriak. Ia menatap pekerja pribumi seperti manusia yang berpikir. Para buruh heran; lelaki asing itu jarang marah, bahkan sesekali ikut membantu menarik gulungan serat yang macet.

Een vreemde meneer,” bisik salah satu mandor, “orang Belanda aneh yang tak suka memerintah.”

Suatu sore, Johan melihat Sarinah di halaman belakang pabrik. Ia sedang mencuci tangan di ember air berwarna cokelat muda. Johan mendekat, dengan bahasa Melayu patah-patah.

“Kau kerja di pabrik ini?”

“Iya, Tuan,” jawab Sarinah, menunduk.

“Bagian apa?”

“Penggilingan.”

“Kau tahu…” — Johan menatap air cucian yang beriak — “matamu seperti air sumur. Dalam dan tak bisa kuukur.”

Sarinah tak mengerti seluruh kata, tapi nada suaranya membuat dada bergetar. Ia tersenyum. Johan ikut tersenyum, kikuk, seperti bocah yang baru belajar arti kebingungan. Hari-hari berikutnya mereka mulai berbicara. Sedikit-sedikit. Johan belajar kata-kata Jawa sederhana.

“Mangan, ngantuk, tresna.”

Sarinah terkekeh setiap kali Johan salah ucap. “Bukan tresno, tapi tresna, Tuan,” katanya pelan.

“Ah, ja… tresna,” ulang Johan dengan logat Belanda yang berat.
Suara mereka tenggelam di antara dengung mesin dan bau serat goni yang dibasahi air garam.

***

Cinta, di negeri jajahan, selalu punya aroma yang rumit. Ada getar yang lembut, tapi juga rasa bersalah yang samar. Johan tahu: menyukai perempuan pribumi bisa menjadi aib bagi sesama kulit putih. Tapi setiap kali ia melihat Sarinah tertawa, dunia seolah mengecil menjadi halaman pabrik itu saja. Segala yang ia pelajari di Delft — tentang logika, efisiensi, ras — hilang dalam cara Sarinah menatapnya.

Suatu sore, Johan memberanikan diri duduk di peron bersama Sarinah. “Je naam is mooi. Sarinah. Klinkt zacht,” katanya.

Sarinah mengerjap. “Apa artinya, Tuan?”

“Namamu indah. Lembut.” Sarinah tertawa kecil. “Nama saya biasa saja. Wong cilik, Tuan.” Johan memandangi rel yang memanjang ke arah timur. “Rel ini seperti hidup, ya? Lurus, tapi selalu membawa kita ke tempat yang tak kita pilih.”

Sarinah menatap wajahnya. “Tuan seperti kereta,” katanya lirih. “Datang dan pergi. Tapi saya tetap di sini.”

Kata-kata itu menancap dalam. Johan tak menjawab. Ia hanya memegang topinya erat-erat, menahan sesuatu yang tidak berani ia beri nama.

***

Minggu-minggu berikutnya, Delanggu menjadi kecil di mata Johan. Ia mengenal pasar dengan bau tembakau dan jagung bakar. Ia belajar menyapa anak-anak yang berlarian di sawah: “Sugeng enjing!” dan mereka tertawa, menirukan lidahnya yang kaku. Malam-malamnya ia habiskan di rumah sewaan dekat pabrik, menulis catatan tentang proyek gudang yang tak pernah selesai. Tapi di antara angka-angka itu, ada nama yang selalu ia tulis tanpa sadar: Sarinah.

Di rumahnya yang berdinding papan, Sarinah juga sering memikirkan lelaki asing itu. Ia tahu Johan berbeda — cara bicaranya, cara matanya tak merendahkan. Tapi ia juga tahu, perbedaan mereka lebih besar daripada samudra. Ibunya pernah berkata, “Nduk, ojo melu wong Londo. Wong Londo kuwi ora duwe rasa kasihan.” Namun Sarinah melihat sesuatu yang lain. Johan tidak seperti tuan-tuan Belanda yang suka berteriak. Johan menunduk ketika berbicara dengannya. Dan malam-malam, di kamarnya yang sempit, Sarinah menatap langit-langit dan berbisik pada dirinya sendiri: opo tresna kuwi salah yen mung kaya swara sepur sing liwat, ora tau mandeg?

***

Tapi cinta di bawah bayang kolonialisme tak pernah punya masa depan yang jernih.
Pabrik karung goni mulai merugi. Mesin-mesin tua berkarat, buruh-buruh sering sakit. De Vreede — pemilik pabrik yang kasar dan congkak — menuduh pekerja pribumi malas.
Suatu malam, terjadi kebakaran kecil di gudang serat. Asap mengepul ke langit, membungkus bulan seperti kain kabung. De Vreede berteriak, menuduh pekerja pribumi sengaja membakar pabrik. Johan menolak.

Het komt van de oude machine, niet van opstand!” seru Johan.
De Vreede mendengus. “Van Dijk, je bent te zacht! Orang pribumi itu tak tahu berterima kasih. Mereka seperti karung goni — kuat tapi bodoh.”

Johan menggenggam surat tugasnya. “Ze zijn niet dom. Ze zijn moe,” katanya pelan — mereka bukan bodoh, mereka hanya lelah.
De Vreede menatapnya tajam. “Hati-hati, Van Dijk. Siapa berpihak pada mereka, akan kehilangan tempat di negeri ini.”

Malam itu Johan tidak tidur. Di meja kecilnya, ia menulis surat pengunduran diri. Tinta hitam menetes seperti darah yang enggan berhenti. Ia tahu, besok ia akan kembali ke Batavia.

***

Sebelum pergi, ia berjalan ke rumah Sarinah di pinggir sawah. Bulan separuh menggantung di langit. Suara jangkrik terdengar seperti napas panjang bumi. Sarinah membuka pintu dengan wajah yang sudah tahu kabar buruk.

“Tuan akan pergi?”

“Ya,” suara Johan nyaris bisikan. “Mereka tak suka aku di sini.” Sarinah menunduk.

“Ini untukmu.” Johan menyerahkan selembar kain sutra biru. “Beli di Solo. Aku tak tahu mengapa kupilih warna ini. Mungkin karena mirip matamu.”
Sarinah memegangnya lama. “Tuan,” katanya, “sepur bakal lunga, ning rel tetep ana.”
Johan terdiam. Ia ingin memeluk, tapi dunia tidak memberi izin.

***

Keesokan sore mereka bertemu di peron. Kereta belum datang, tapi peluitnya sudah terdengar dari arah timur. Angin sore berbau debu dan besi panas. Sarinah menggenggam tangan Johan. Tangannya kecil, dingin, tapi kuat.

“Kalau Tuan kembali, lihatlah ke arah rel,” katanya. “Kalau ada bunga kertas di atasnya, itu tandanya saya masih di sini.”

Johan menatap wajahnya lama. “Ik zal kijken,” katanya pelan. “Aku akan melihat.”
Kereta datang, membawa suara berat yang memotong udara. Johan naik tanpa menoleh lagi. Sarinah berdiri diam, seperti patung dari air yang tak sempat membeku. Ketika kereta menghilang di tikungan, ia menunduk, menatap tanah. Di tangannya, kain sutra biru itu terasa dingin seperti janji yang tak akan ditepati.

***

Delanggu kembali sunyi. Pabrik goni berjalan dengan mesin-mesin setengah rusak. Upah buruh semakin kecil. Sarinah tetap bekerja — tubuhnya makin kurus, tapi matanya tetap memegang sesuatu yang Johan tinggalkan: keberanian untuk menatap hidup, walau dunia tak berpihak. Ia tak tahu apakah Johan benar sampai ke Batavia. Ia hanya tahu, setiap kali peluit kereta terdengar, dadanya bergetar, seperti mengenali suara yang pernah ia cintai.

Tahun berganti. 1928. Orang-orang mulai bicara tentang “pergerakan.” Tentang bangsa, tentang kemerdekaan, tentang harga diri. Tapi di sudut-sudut seperti Delanggu, yang berubah hanyalah warna debu. Sarinah tetap menjual pisang rebus di peron, menunggu kereta datang dan pergi. Di suatu sore, ia menaruh setangkai bunga kertas merah muda di atas rel. Bukan untuk siapa-siapa. Hanya untuk mengingat dirinya sendiri.

***

Tiga tahun setelah kepergian Johan, seorang laki-laki berjas lusuh turun dari kereta di Delanggu. Rambutnya sudah beruban di sisi, matanya redup tapi tajam. Johan van Dijk kembali ke Jawa sebagai konsultan teknik jalur kereta. Ia bilang pada rekannya di Surabaya, kunjungannya hanya inspeksi rutin. Tapi sebenarnya, ia datang karena mimpi yang berulang: mimpi tentang seorang gadis berkebaya hijau berdiri di peron, menatapnya tanpa suara.

Stasiun Delanggu tampak sama, hanya cat dindingnya lebih pudar. Di kejauhan, bekas pabrik goni masih berdiri dengan jendela-jendela bolong. Angin membawa bau lembap dan serat tua. Johan berjalan pelan ke arah peron. Di bawah atap seng itu, waktu seakan berhenti. Ia berdiri di tempat Sarinah dulu menjajakan pisang. Tak ada siapa-siapa.
Hanya rel yang berkarat dan setangkai bunga kertas yang tumbuh liar di sela besi.

Ia menatapnya lama.

Ben je hier, Sarinah?” bisiknya.

Angin lewat. Tidak menjawab. Ia duduk di bangku kayu tua, membuka topi, dan memandangi langit yang separuh mendung. Dalam hati ia tahu: beberapa cinta memang tidak perlu akhir. Cukup menjadi jalan yang selalu membawa seseorang kembali, meski tak ada siapa pun yang menunggu di ujungnya.

Kereta dari Solo terdengar mendekat. Johan berdiri, menatap rel yang membujur lurus, seperti garis waktu yang tak bisa ia ubah. Di tanah dekat kakinya, ada serpihan kain berwarna biru — entah dari mana datangnya. Ia tersenyum kecil. Lalu melangkah masuk ke gerbong, tanpa menoleh lagi.

Kereta melaju, meninggalkan Delanggu dengan debu, bunga kertas, dan satu nama yang terus bergema di hatinya: Sarinah.

Dan bila ada yang datang ke Delanggu hari ini, mungkin mereka hanya akan melihat stasiun kecil yang sepi, rel berkarat, dan gerimis yang turun seperti rahasia. Tak ada nyanyian, tak ada arwah. Hanya waktu yang berjalan pelan, menyimpan jejak dua manusia yang pernah berpapasan di tengah sejarah — lalu diam, selamanya.

___________________

Erna Surya. Penulis yang berprofesi sebagai seorang guru.

Ragam

RAGA DAN SUARA

Oleh: Randhan S.

Sejak kemarin, hari yang tak berubah namanya, rasa gamir merayap dalam kalbu. Ada sesuatu yang mengambang di udara. Tampaknya  bagai selubung kabut tipis membungkus kepala. Tak pekat, tetapi cukup membuat pijar masa depan tampak sayup. Aku tak sedang terganggu jasmani. Raga ini lelah, memang. Bukan lelah yang terobati oleh tidur. Ini lelah yang lain, lelah yang bersemayam di relung sukma.

Hari ini kuisi dengan kesibukan kerja. Setiap detik termakan rutinitas tanpa jeda untuk sekadar bernapas lega. Kuselesaikan semua tugas secara mekanis. Tubuhku adalah mesin yang telah diatur programnya. Sepulangnya, seluruh urat saraf terasa tertarik hingga ke ujung. Aneh! Kepayahan tak kunjung menjelma menjadi kantuk. Ada sesuatu yang lebih dahsyat menanti di balik pintu kamar. Sepi. 

Yang kudamba ringan saja, yakni mendengar suaranya. Suara milik perempuan yang belakangan menjadi tumpuan rasa. Tak perlu lama, satu menit saja cukup. Waktu sebentar yang meyakinkanku bahwa dunia tak sesepi ini. Sialnya, ia pun habis diterpa derasnya pekerjaan, siang tadi. Ia telah lebih dulu larut dalam lelap. Terlelap tanpa sempat menghadirkan kata-kata manis yang selama ini bagai candu.

Memandangi layar ponsel yang kelam bagai wajah bulan terhalang awan. “Sunyi lagi,” bisikku dalam hati. Kepala menunduk lesu. Sambil merebahkan badan, ingatan melayang tanpa kendali. Masa silam yang pernah kujejak berkelebatan menghampiri. Wajah-wajah lama muncul, peristiwa berdebu yang ternyata masih menyisakan parut samar.

Konon, beberapa saat sebelum mati menjelang, otak kembali memutar segala kenangan masa lalu.  Entah, siapa yang berbicara demikian.  Mustahil. Bukankah mati itu pengalaman sendiri saja. Artinya, tidak bisa dibagi.  Tampaknya orang yang gagal mati  saja yang bisa berkata demikian.  Di lain sisi, bayang masa depan turut mendesak, menghadirkan gambaran ketidakpastian yang mencemaskan. Kupertanyakan dalam hati: ke manakah langkah ini sesungguhnya tertuju? Adakah yang menanti di ujung jalan? Aku hanya berputar pada orbit yang sama?

Rasa gelisah dalam dada kian menjadi. Kucoba mengikuti mantra The Beatles: “Take a sad song and make it better”. Dicari-cari, lagu apa yang pas.  Joan Baez. Ya aku suka suara melengkingnya. Lagu berjudul “Oh Freedom”.  Di awal, liriknya sudah meninggi, meninju langit: Oh freedom // Over me // before I’ll be slave // I’ll be burried in my grave // and go home to my Lord // and be free.

Liriknya sarat protes dan perlawanan. Nada dan makna yang memenuhi sudut ruangan. Kusimak dengan khidmat, berharap ada kekuatan yang merasuk dari setiap alunan gitarnya. Aneh, alih-alih menguat, justru duka kian mengendap.

Baez membawaku kembali untuk menjadi manusia merdeka, melakukan pembangkangan terhadap belenggu keteraturan yang menindas. Aku ingin hidup bukan sebagai hamba upah, bukan sekadar roda kecil dalam mesin raksasa yang terus berputar. Tidak punya pilihan! Ada keadaan yang membelenggu. Sadar diri, kuikuti saja roda itu. Sementara, impian kusimpan di dalam laci yang kian berkarat.

Pada titik itu, aku tak sanggup lagi menahan. Butir air mata jatuh, entah karena apa. Mungkin karena lelah. Mungkin karena rindu. Barangkali karena sesuatu yang lebih dalam: kesadaran bahwa aku sedang menjalani nasib yang “melulu”.

Kesadaran itu berat. Malam ini aku merasakannya. Aku hidup. Setiap detik juga tahu bahwa hidup ini bisa pupus kapan saja. Aku berada di dunia. Bukan aku yang memilih datang ke sini.

Ya, aku sungguh merasa terlempar, tanpa pegangan, tanpa arah.

Aku mendambakan kebebasan. Kebebasan itu hanya menggantung di langit-langit pikiran. Aku ingin melawan. Ada jerat kebutuhan yang menarikku kembali ke bumi.

Tangisku makin menjadi. Bukan tangis pilu semata. Tangis yang lahir dari kesadaran getir bahwa hidup ini anugerah, sekaligus penjara.

Di tengah rintih,  lintasan lain datang. Bukan dari filsafat Barat.tapi dari hikmah Timur. Aku teringat ucapan seorang sufi agung, Ibnu ‘Athaillah: “Ketika engkau tiba-tiba merasa sedih tanpa sebab, itu artinya Tuhan sedang memanggilmu untuk mendekat.”  Aku terpaku. Kata-kata itu bagai mengetuk dada.

Apakah kesedihanku malam ini, yang datang tanpa bisa kupahami adalah panggilannya? Apakah air mataku bukan sekadar letih atau rindu pada perempuan, melainkan undangan rahasia untuk kembali?

Kududuk lama, menatap dinding yang bisu. Untaian kata itu terus bergema. Barangkali benar bahwa kesedihan tak selalu musibah. Kadang ia adalah isyarat. Kadang ia adalah sepucuk surat undangan dari langit, yang dikirimkan lewat remuknya perasaan.

Aku mulai melihat diriku dari sisi lain. Mungkin aku terlalu sibuk menuntut keinginan hingga lupa ada jalan lain. Jalan mendekat. Tidak hanya pada manusia. Tidak hanya pada perempuan pujaan. Pada Sang Maha, yang lebih luas,  abadi.

Perasaan ingin menghilang kembali muncul setelah beberapa tahun aku kubur. Lenyap dari ingatan, sirna dari dunia. Mungkin itu lebih baik, pikirku.

“Mati dalam usia muda adalah keberuntungan,” kiranya begitu kalimat yang sering dikutip Soe Hok Gie. Tak perlu memikul beban yang tak kuasa kubawa. Tak perlu menyaksikan ketidakadilan yang tak mampu dipulihkan. Tak perlu terus merasa menjadi bagian kecil yang tak berdaya.

Dan, suara Ibnu ‘Athaillah kembali datang, lebih lantang: “Kesedihan adalah undangan Tuhan untuk mendekat.” Aku terdiam. Kalau begitu, bukankah kesedihan ini adalah semacam panggilan? Panggilan bukan untuk menghilang. Melainkan untuk hadir lebih dalam. Bukan untuk lenyap.

Di luar jendela, dunia tetap sama, penuh luka, penuh nestapa. Di kamar ini, ada sesuatu yang bergeser perlahan. Aku tak lagi memikirkan cara untuk menghilang. Aku mulai mencari cara untuk bertahan. Cara untuk tetap hidup tanpa menyerah. Cara untuk melawan, betapapun kecilnya.

Kupandang langit-langit kamar. “Oh Freedom” telah berhenti. Berpindah pada lagu berikutnya “We Shall Overcome”.  Cukup membuat hati berdansa kecil.

Suara perempuan yang kurindu belum juga terdengar.

Dan, ada suara lain yang kudengar: suara diriku sendiri yang berucap dengan tegas, “Aku akan melawan.” Sebentar. Aku berpikir, tertawa kacau. Melawan siapa?

____________________

Ramdhan S. Tukang roti di Jakarta

Belakang

1862

Pelbagai pihak mengadakan peringatan 2 abad Perang Jawa (1825-1830). Seminar-seminar nasional atau internasional diselenggarakan yang mengundang para ahli. Maksudnya, para sejarawan dan tokoh-tokoh yang bisa omong Perang Jawa: mulai dari sastra sampai seni rupa. Apakah ada yang membahas masalah kamus berkaitan Perang Jawa?

Yakinlah perang bersejarah pasti memiliki daftar kata terpenting dalam mengobarkan hasrat menang dan menjaga kehormatan dalam kalah. Yang bertempur adalah pasukan-pasukan (Jawa) berhadapan dengan manusia-manusia Eropa bersenjata modern. Padahal ada pula Jawa berhadapan Jawa. Perhatian besar mendingan diberikan untuk senjata, busana, makanan, dan taktik. Apakah dalam Perang Jawa juga terjadi perang bahasa? Kita merasa itu mustahil bila terjadi perang bahasa Jawa melawan bahasa Belanda. Namun, pada tahun-tahun membara ada bahasa-bahasa yang lain.

Puluhan tahun berlalu dari Perang Jawa, tibalah buku tebal yang berjudul Grieksch Woordenboek. Kita percaya tidak ada hubungan antara Perang Jawa dan kamus-kamus. Adanya kamus bahasa Yunani semakin membuktikan tidak usah berpikiran kamus untuk mengenang sejarah, terutama Perang Jawa. Kamus itu ada di Nusantara tanpa ada urusan dengan Perang Jawa.

Namun, ada peristiwa besar di Banten. Di sana, ada pemberontakan petani. Dulu, Sartono Kartodirdjo meneliti dan menulis apik disertasi sejarah. Kita kepikiran lagi: peristiwa berlatar abad XIX itu memilki hubungan dengan kamus-kamus? Sekali lagi, kita terlalu memaksa adanya dan makna kamus-kamus dalam peristiwa besar masa lalu. Pemberontakan oleh petani mustahil menggunakan bahasa Yunani, yang mungkin datang di Nusantara oleh orang-orang Belanda atau para ilmuwan Eropa. Kaum petani belum butuh kamus dalam perbaikan nasib dan melawan pihak-pihak yang menghisap, menghina, dan menindas.

Di pergantian abad, kita mengetahui Politik Etis. Apakah kebijakan itu memiliki dampak bagi orang-orang yang membaca kamus-kamus. Kita tetap memaksa kamus-kamus berada dalam arus sejarah. Yang kita desakkan adalah kamus-kamus yang akhirnya mendatangkan banyak kata untuk digunakan orang-orang di tanah jajahan.

Sudahlah, usaha mencari kaitan-kaitan peristiwa bersejarah dan kamus hanya akan memberi kecewa dan sia-sia!

Pada  suatu siang, mata melihat tampilan foto buku-buku dari pelbagai pedagang di media sosial. Mata berhenti untuk foto yang tidak jelas, Buku bersampul tebal dan keras. Maka, mata beralih ke foto halaman awal. Yang meminta perhatian adalah pencantuman “woordenboek”. Pastilah itu kamus!

Di bagian keterangan harga, terlihat: 300 ribu. Pedagang tidak sedang guyonan. Ia serius menantang orang-orang agar berani menjadi pembeli. Tiga lembar merah untuk kamus yang sampul depannya hanya hitam. Mengapa kamus dihargai mahal?

Mata menghadapi kata-kata asing. Di bagian bawah, ada tahun terbit: 1862. Kamus yang sangat sulit dibaca dan memberi mimpi romantis boleh berharga mahal. Pemicunya adalah tahun terbit. Pedagang yang tidak bodoh. Pedagang yang menjual tahun. Kamus akhirnya dibeli tanpa berpikir 3 hari 3 malam. Harga yang disepakati: 275 ribu. Keputusan yang fatal untuk membeli “tahun” saat situasi hidup di Indonesia sulit banget.

Kamus berada di rumah. Tebal! Kamus yang tidak bisa dibaca. Kita cuma memandang dan menyentuh. Mata yang kembali ke abad XIX. Mata mencari masa lalu yang belum semua diceritakan. Tangan menyentuh sejarah. Tangan menemukan kertas yang belum dikalahkan waktu.

Yang menyebalkan dalam pikiran adalah pertanyaan: “Apakah kamus pernah dibaca oleh Sosrokartono, Willem Iskander, A Rivai, Soetomo, Soewardi Soerjaningrat, Tan Malaka, Semaoen, Hatta, dan lain-lain? Jangan pernah berharap ada yang menjawab. Kita bertanya gara-gara mengetahui para tokoh itu berani ketagihan bacaan. Bagaimana mereka mementingkan kamus-kamus dalam membaca buku-buku yang serius, yang datang dari Eropa?

Grieksch Woordenboek masih ada! Kamus masih hidup! Pada 2025, kabarkanlah ke jutaan orang bahwa kamus itu tetap membawa sejarah dan ingatan-ingatan yang berceceran.

Kamus pernah dipegang banyak orang. Kamus pastinya berpindah-pindah tempat (kota). Tanda yang masih terbaca adalah tempelan kertas di sampul belakang: Bandung-Cimahi. “Kita berkhayal saja bahwa kamus itu selamat dari peluru, letusan gunung berapi, banjir, gempa, kebakaran, dan lain-lain.

Kamus yang masih bersama matahari yang sama. Kamus berada di Indonesia dalam waktu yang lama, mendapat berkat dari bulan dan bintang. Angin semilir membuatnya betah untuk tidak berpindah ke negara-negara asing. Tanah yang subur tidak membuatnya menjadi rabuk tanaman. Kamus tetap selamat dari seribu kemungkinan kehancuran.

Hitunglah berapa tangan yang pernah memegangnya! Yang tersulit adalah menentukan nama-nama yang menjadi pemiliknya, dari masa ke masa. Di halaman awal, kita melihat stempel. Dulu, kamus dimiliki seorang Tionghoa (totok atau peranakan). Apakah kamus tergunakan oleh pelajar di STOVIA, pedagang di kota, tokoh pergerakan politik, atau pendakwah di gereja? Jawaban-jawabannya tidak pasti. Kita saja belum menemukan nama-nama yang pernah memilikinya.

Kini, pemilik kamus itu tidak bisa membacanya. Pemilik hanya membenarkan “pembuangan” uang demi mengetahui kertas-kertas terjilid yang menolak sirna. Ia kagum dengan mesin cetak yang membuatnya kuat. Mesin cetak mewujudkan pertemuan dan saling pengaruh bahasa-bahasa di Nusantara. Yakinlah bahwa Tuhan pun berperan menjadikan kamus itu selamat sampai sekarang.

Pertanyaan masih berdatangan. Apakah kamus  pernah dibaca dan dipelajari WJS Poerwadarminta yang rajin membuat kamus-kamus? Kebiasaan para pembuat kamus adalah membaca dan mempelajari kamus-kamus terdahulu dari beragam bahasa. Anggaplah kamus itu digunakan Poerwadarminta saat menggarap Kamus Umum Bahasa Indonesia (1952). Jadi, ada pengaruh kata-kata dari bahasa Yunani yang masuk dan beredar dalam bahasa Indonesia? Yang dapat menjawab serius campur kelakar adalah Remy Sylado. Padahal, ia sudah tidak bersama kita.

Kebenaran yang kita pegang adalah Grieksch Woordenboek terbitan 1862 masih bernyawa. Kamus yang selamat dari perang dan bencana. Kamus yang tetap mau bertemu matahari pada abad XXI.

___________________

Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.

Cerpen

Pengelanaan Terakhir

Cerpen Septi Rusdiyana

“Sudah kubilang aku bukan malaikat penyelamat,” kata lelaki itu, sesaat sebelum aku benar-benar mendorongnya dari tebing.

***

Aku berdiri mematung di dekat mobil hitam yang nyaris masuk jurang. Menyaksikan tubuh kaku di balik kemudi tanpa bisa melakukan apa-apa. Seingatku, tadi aku hanya banting setir saat berusaha menghindari macan, atau singa, atau rusa, atau sebenarnya sekadar kabut. Aku tidak tahu pasti. Aku tidak benar-benar ingat apa yang ada di pikiranku kala itu. Satu hal yang membuatku heran, kesalahan yang menyebabkan kecelakaan kecil itu rupanya bisa berakhir mengenaskan.

“Kamu sangat sial. Bencana menimpamu di tempat sunyi. Jangankan pengendara lain, nyamuk saja enggan lewat sini,” kata seseorang yang mendadak muncul di sebelahku. Entah dia datang dari mana. Hanya saja, aroma tubuhnya terasa familier. Paduan antara daun bidara dengan kemiri sangrai. Aku ingat aroma itu.

Aku memperhatikan dirinya seperti sedang meneliti lembu yang hendak kujadikan binatang tunggangan. Sayang, jubah hitam yang menutupi hampir seluruh tubuhnya itu—menyisakan wajah dan kedua telapak tangan—membuatku harus sedikit bekerja keras menelisik.

“Aku malaikat penjagamu,” jelas lelaki itu, seolah tahu apa yang selama beberapa detik menggangguku. “Kita sudah bersama sepanjang hidupmu,” lanjutnya lagi.

“Sial. Apa aku sudah mati?” gumamku.

Lelaki itu tertawa. “Kalau sudah mati, tentu aku tidak perlu lagi menjagamu. Dasar bodoh!”

Aku mulai kesal dengan lelaki itu. Kupikir dialah yang sebenarnya bodoh. Kalau benar seorang malaikat penjaga, seharusnya dia menolongku. Bukan malah ikut-ikutan berdiri di sini tanpa berbuat apa-apa.

“Suara hatimu selalu berisik. Dari dulu. Itu menjengkelkan. Sayangnya aku harus terus patuh pada tugasku,” sahut lelaki itu.

Hening. Seolah angin berhenti berembus. Dan aku masih saja menunggu. Berharap lelaki itu meneruskan penjelasannya. Aku kembali menatap pada sosok perempuan di balik kemudi yang darah di kepalanya terus saja membasahi rambut.

“Kamu belum benar-benar mati. Mungkin pingsan. Atau sekarat. Sudah kubilang aku cuma malaikat penjaga. Tugasku hanya menemani jiwamu,” lanjutnya panjang.

Sepertinya aku mulai mengerti. Jika begitu, aku hanyalah roh yang kini bergentayangan menunggu waktu sebelum mati. Sekelebat aku teringat dengan kejadian beberapa waktu lalu, sebelum akhirnya aku terdampar di tempat ini.

Aku berada di vila tepi pantai bersama sahabat-sahabatku. Bian sengaja menyewanya untuk melewati hari ulang tahunku. Tidak ada kue ulang tahun. Tidak juga ritual tiup lilin dan make a wish. Kami hanya duduk, makan, bercerita, tertawa, lalu waktu tanpa kami sadari berganti hari begitu saja. Sesederhana itu. Dan aku sangat menikmati.

“Sebaiknya kamu menemuinya,” ucap lelaki itu dengan nada yang begitu halus. Saking halusnya justru membuatku heran. Ada sesuatu mengalir deras di ulu hatiku. Perasaan yang menggangguku sejak Gaga, abangku, mengirim pesan jika mama masuk rumah sakit karena serangan jantung.

Sejak itu aku gelisah. Entah. Padahal sebelumnya aku tidak pernah peduli pada mama. Bahkan aku ingat, dulu, di depan teman-temanku, sambil menangis, aku pernah bilang bahwa, “Mama itu monster. Kalaupun mama mati, aku tidak akan pernah menangis.”

“Kamu ini, di saat-saat begini masih saja terlalu lama berpikir.” Lelaki itu menggenggam tanganku. Aku merasa bak tersengat listrik. Dalam sekejap, aku seperti berada di pusaran angin. Bergerak tak beraturan. Kadang melayang. Sesekali berputar. Lalu kembali tegak seolah tubuh dan angin sudah berdamai usai berkelahi. Di saat itulah, aku seolah sedang melakukan sebuah perjalanan.

Di hadapanku, tampak hamparan awan putih yang bisa berubah-ubah bentuk. Aku melihat awan membentuk sosok perempuan menggendong seorang bayi. Tak lama terdengar langgam Jawa yang membuatku turut merasakan kantuk luar biasa. Ketika aku hampir terlelap, lelaki itu menarik tanganku. Aku pun kembali terjaga.

Awan berubah pekat. Gumpalan awan kini memperlihatkan seorang pria dewasa bermain layangan bersama bocah lelaki. Sedang bocah perempuan tampak berlarian mengitari keduanya. Suara riang berubah menjadi jerit tangis usai bocah perempuan itu terjatuh. Pria dewasa meraihnya dalam pelukan, lalu ketiganya mulai menghilang.

Aku merasa tak asing dengan pemandangan itu. Rasanya kembali pada kenangan. Saat aku masih menikmatinya, mendadak tubuhku terguncang hebat. Aku seperti meluncur bebas dari ketinggian. Aku ingin berteriak, tapi suaraku tercekat. Dan saat tubuhku mulai terkendali, aku sudah berada di sebuah ruang di rumah sakit tempat mama dirawat.

Gaga sedang tidur pulas di sofa, tak jauh dari ranjang mama. Ada beberapa selang dan alat medis terpasang di tubuh mama. Sunyi. Hanya suara mesin seirama detak jantung mama yang mengisi ruangan. Aku mendekat ke ranjang. Aku ingin melihat mama lebih dekat.

“Akhirnya kamu datang, Nak,” ucap mama. Siluet bayangan mama perlahan terlihat. Ia duduk di ranjangnya. Dan aku juga bisa melihat tubuh mama yang tak berdaya tetap terlelap.

“Tadi sore mama sudah menyiapkan makanan kesukaanmu. Gaga mama suruh menghubungimu. Tapi…,” kalimat mama terjeda. Siluet wajah mama tampak sendu.

Tanpa mama teruskan bicara, sebenarnya aku sudah tahu. Sekuat apa pun usaha mama membuatku tetap tinggal di hari ulang tahunku, aku tidak pernah mau. Sudah lama aku membenci hari itu, tepatnya sejak kelas 5 SD.

Aku ingat. Saat itu aku pulang dengan seragam, sepatu, tas dan rambut yang penuh dengan air comberan, telur, juga tepung. Meski tubuhku lengket dan bau, perasaanku begitu senang luar biasa. Hingga bentakan mama membuatku terkejut sekaligus terluka. Mama justru mengomel. Mengataiku dan teman-temanku jorok. Bisanya hanya merepotkan orang tua. Mama juga bilang kalau hari ulang tahun bukan hal wajib untuk selalu dirayakan. Mama mungkin benar, tapi aku lebih percaya ulang tahunkulah yang tidak penting. Karena kenyataannya, dua bulan setelah itu, ulang tahun Gaga dirayakan besar-besaran. Sejak saat itu, aku sangat membenci 1 hari dalam setahun: tanggal ulang tahunku. Hanya Bian, sahabatku, yang bisa memahami perasaanku dengan baik.

“Mama minta maaf, Sayang,” kalimat mama yang terdengar seperti guntur di siang tanpa hujan itu membuatku terkejut. Dadaku sesak. Seperti ada gemuruh yang sebentar lagi akan meledak. Bertahun-tahun aku menanti kalimat itu. Kalimat yang rupanya sebegitu dahsyatnya hingga mampu membuat kebencianku pada mama lenyap.

Siluet mama berdiri dan mendekat ke arahku. Tangannya terbuka. Saat tangisku hampir pecah menanti pelukan itu sampai, tiba-tiba tanganku sudah ditarik. Dan kini, aku telah kembali berada di tepi jurang.

“Kenapa kamu membawaku ke sini? Aku bahkan belum sempat bilang pada mama bahwa aku sudah memaafkannya. Aku mencintainya. Aku merindukan pelukannya,” ucapku dengan rasa kesal yang menggebu.

 Lelaki itu tidak menanggapi pernyataanku. Kejengkelanku tiba-tiba memuncak, terlebih ketika lelaki itu mengatakan bahwa dirinya bukan malaikat penyelamat.***

___________________

Septi Rusdiyana. Penulis tinggal di Yogyakarta. Ibu rumah tangga, penyuka cerpen.

Puisi

Puisi Hikmalsst

Melodi Kelam Jalan Menuju Hati

Di jalan menuju hati yang kelam

Rintik gerimis memutar melodi

Angin berbisik di daun-daun pohon

Aku, luntang-lantung, terombang-ambing

Kesunyian memayungi langkah-langkahku

Tak ada penanda, tak ada petunjuk

Hanya cahaya remang yang menari

Kecemasan bergema di tikungan hati

Ingin pulang ke tubuhku, pada petang diam

Namun kecemasan berkecamuk di ingatan

Seakan aku tersesat di lorong-lorong kelam

Dalam melodi kelam jalan menuju hati

____________________

Pada Akhirnya, Kita dan Waktu

Sayangku, hari-hari menyusup tanpa aba-aba

Waktu tak kenal lelah, tak henti berlalu

Bau hari tak pernah berubah, tetap sama

Hanya ingatan kita yang berpindah-pindah

Berjalan dari kelelahan ke kelelahan

Dan kelupaan memenuhi setiap sudut hati

Tak ada jeda untuk merenungkan arti

Mengeja rindu-rindu di antara langit dan bumi

Semua sibuk mencari jalan keluar

Dari kesepian yang seolah tak berujung

Tak ada yang mau bertanggungjawab

Atas kekacauan di kepala kita

Pagi dan sore, siang dan malam datang berganti

Tapi hidup tetap memberi kelelahan

Dan kelupaan menjalar tanpa henti

Pada akhirnya, sayangku, waktu tak menunggu

____________________

Di Hadapan Maksud Waktu yang Tak Terpahami

Sayangku, kehidupan seperti jatuh dari langit

Tak mengerti, kesepian meliputi segalanya

Kita, terbata di hadapan waktu yang misterius

Keinginan merakit jalan menuju depan pintu hatimu

Kau menunggu, sementara kita bercerita

Lebih dari satu miliar kalimat di atas meja

Sayangku, maukah kau menunggu?

Kelak, saat hari membaik, kita rayakan bersama

Melihat kota diguyur angin, air laut melambai

Jari-jemari kita dihujani cinta setiap hari

Di hadapan maksud-maksud waktu yang tak terpahami

____________________

Demikian Rindu Ini Meresap

Asal kau tahu, sepanjang waktu berlalu

Keinginanku terpenuhi, kebetulan terjadi

Kita bertemu di suatu tempat, di suatu hari

Mungkin terkejut, mungkin tak

Aku lupa, bagaimana tubuh ini bereaksi

Bekerja di hadapanmu, apakah kau sama?

Duduk, menceritakan kisah kita

Kunyah setiap hari dengan perasaan aneh

Aku yakin, saat tiba waktu tak berarti

Di hadapan ingatan kita berdua

Lidah belajar bicara, mengenal bahasa baru

Demikian rindu ini meresap di dalam kita

___________________

Hikmalsst (Hikmal Yazid)

Pengajar di lembaga madrasah dari berbagai tingkat. Mengisi celah waktunya untuk merekam kehidupan dengan aksara.

Ragam

1946: INDONESIA DAN BAHASA JAWA

Yang terbaca sampai sekarang adalah teks Proklamasi berbahasa Indonesia. Dini hari, 17 Agustus 1945, Soekarno dan Hatta tak perlu berdebat pilihan bahasa saat ingin memuliakan Indonesia.

Mereka memang fasih berbahasa Belanda. Oh, bahasa Indonesia masih sejenis bahasa baru bagi mereka yang mengerti babak (bersejarah) 1926, 1928, dan 1938. Aku kira mereka belum terlalu menyadari bahasa Indonesia, akhirnya, terbukti memiliki kekuatan politis. Benarkah?

Maka, yang mengucap dan menulis saat teks itu digarap secara wajar memilih bahasa Indonesia, bukan bahasa Belanda meski sangat dikuasai, sejak mereka bertumbuh di tanah jajahan sebagai kaum terdidik. Aku yakin mereka wajib berbahasa Belanda untuk meraup ilmu-ilmu di sekolah! Mereka semestinya mengagumi bahasa Belanda. Jangan lupa wajib berterimakasih telah membentuknya sebagai penyuara nasionalisme!

Eh, mengapa saat dini hari itu (17 Agustus 1945) mereka tidak menuliskannya dalam bahasa Inggris saja agar terbaca dan terdengar keren di dunia? Aku bayangkan bahasa Inggris yang digunakan Soekarno dan Hatta dalam menyusun teks Proklamasi akan membuat para pemimpin dunia segera memberi pujian. Yakinlah bahwa bacaan-bacaan Soekarno dan Hatta banyak yang berbahasa Inggris, yang menghubungkan dengan gejolak-gejolak abad XX. Aku memang belum memiliki catatan judul buku-buku yang dibaca dalam bahasa Inggris. Padahal, sejarah Indonesia dan kemunculan elite intelektual itu dipengaruhi bahasa Inggris. Maksudku, haru ada pengakuan bahwa bahasa Inggris punya saham besar dalam situasi sebelum dan setelah penulisan sekaligus pembacaan teks Proklamasi.

Pada saat menegangkan untuk membuat kalimat-kalimat yang dahsyat, mereka tidak memikirkan iriang lagu. Maksudku, adakah nuansa kemerduan dalam waktu-waktu yang beserjarah? Kini, aku bisa membaca lagi sejarah 1945 dengan iringan lagu. Padahal, lagunya tidak tepat. Apa salahnya mengenang sejarah (dini hari) saat para tokoh menggunakan bahasa Indonesia di teks sambil mendengar lagu berjudul “Menunggu Pagi”.

Terdengar suara Ariel: Apa yang terjadi dengan hatiku/ Aku masih di sini menunggu pagi/ Seakan letih tak menggangguku/ Aku masih terjaga menunggu pagi. Ingatlah, saat itu Soekarno dan Hatta melek memikirkan Indonesia tidak sedang “menunggu pagi” demi asmara pisican!

Aku sudah bertele-tele merawat masa lalu. Ah, diri yang tidak pernah memiliki kesanggupan memberi perhatian kepada sejarah, yang masih bolong-bolong dan menyimpan misteri.

Yang sedang aku lakukan adalah membaca majalah Djojobojo. Nama majalah dicetak berukuran besar di bagian atas. Penulisan yang memerlukan tanda petik. Setahuku, “djojobojo” biasanya mengarah ke gubahan sastra oleh Ranggawarsita.

Pada suatu hari, aku membeli majalah Djojobojo edisi 1 Februari 1946 dari pedagang di Jogjakarta. Seingatku, majalah itu diberi harga 35 ribu. Masa lalu yang murah! Aku membelinya agar bisa menjadi pembaca yang mengandaikan merasakan bulan-bulan mendebarkan setelah 17 Agustus 1945.

Di halaman depan, dicantumkan kutipan dari tulisan Soekarno. Aku membacanya dalam bahasa Jawa, bukan bahasa Indonesia. Soekarno paham bahasa Jawa tapi ia menuliskan teks pidato dan artikel dalam bahasa Indonesia, yang inginnya terbaca oleh orang-orang di seantero Indonesia.

Pencantuman kutipan di majalah Djojobojo mengartikan bahasa Jawa ikut berperan membarakan Proklamasi. Aku tidak berniat mencari terjemahan “proklamasi” dalam bahasa Jawa. Yang jelas “proklamasi” itu berasal dari bahasa asing. Apakah terjadi salah pilih kata oleh Soekarno dan Hatta dalam “menjuduli” sejarah Indonesia?

Kutipan yang terpilih: “Ibarate kita kabeh iki lagi bisa liwat djembatan mas, doeroeng ing brang kanane, mangka wis pada apradondi tjakar-tjakaran agawe roweting bab-bab kang semestine koedoe diremboeg samangsa kita wis tekan brang kanane djembatan mas kita maoe. Saiki kita koedoe mlakoe disik, bebarengan manoenggal, goejoeb roekoen lan ngliwati djembatan mas ikoe, sarana wani mboewang kepentingan kita dewe lan kepentingan golongan-golongan, amrih kita kabeh bisa slamet ing brang kanane djembatan maoe.”

Petikan yang mengingatkan babak Indonesia sedang menuju atau melewati “jembatan mas”. Soekarno membahasakan perubahan dengan jembatan. Wah, yang dipilih emas, bukan perak atau perunggu. Pada hari yang berbeda, Gesang malah melantunkan “jembatan merah”. Aku tidak bisa mengganti warnanya dengan kuning, biru, atau hijau.

Pada abad XXI, Proklamasi yang menunjukkan jembatan sudah memastikan kita sampai atau belum menuju ke sana? Aku masih ingat pelajaran di sekolah, yang memuat masalah “pintu gerbang kemerdekaan.” Pokoknya, sejarah Indonesia itu aneh. Soalnya, ada jembatan dan pintu.

 Di halaman editorial Djojobojo, aku membaca pesan sangat penting: “Sanadjan kita kalah gegaman perang modern, kalah kapal-kapal, nanging menang akeh djiwane, menang papan ora ngloeroeg malah diloeroegi sakan papane kang adoh banget. Karo pangane moeng remeh-remehan bae woes marem. Sandjata pamoenahing satroe droehaka maoe ora ana maneh jaikoe manoenggaling tekad ngoekoeh kamardikan kang woes goemana.”

Indonesia sudah merdeka, tiak perlu takut dengan kapal dan senjata yang digunakan musuh. Indonesia punya jiwa yang kuat, yang akan memenangkan kemerdekaan. Ah, aku agak merinding membaca kalimat-kalimat berbahasa Jawa yang berpengaruh bagi pembacanya masa itu menghadapi perang.

Aku lanjutkan membaca artikel sehalaman yang diberi tajuk “obor politik” oleh S Dibyo. Pada masa perang, orang-orang yang menulis sebenarnya punya peran besar agar orang-orang tidak menyerah dan putus asa. Namun, yang bisa membaca tulisan hanya sedikit orang. Apa yang membaca bertugas menyampaikan pada saudara, teman, dan tetangga yang belum mengenal aksara? Dugaanku, satu majalah berkhasiat untuk banyak orang asal ada satu atau dua orang yang bisa membaca.

Aku bayangkan mereka mendengar pembacaan pendapat S Dibyo: “Ing sarehne bangsa Indonesia ikoe wiwit bijen moela pantjen bangsa kang karem tetoeloeng ing lijan, mesti wae dapoekaning pamrentahan kang adedasar pri kamanoengsan lan keadilan ikoe gampang ditampa dening bangsa kita kabeh, apa maneh jen kita ngelingi anane roekoen desa, bersih desa, sambatan, lan lija-lijane kang kabeh maoe pantjen dadi dasar kekoewasaan sosialisme.” Adakah terjemahan yang apik untuk istilah “sosialisme” dalam bahasa Jawa?”

Anehnya, Djojobojo yang majalah berbahasa Jawa, belum mampu memuat iklan-iklan yang berbahasa Jawa. Di halaman belakang, semua iklan berbahasa Indonesaa. Yakin saja, dua bahasa itu “berteman”, tidak akan bertengkar dalam majalah.

Yang aku perhatikan adalah iklan penjahit dan membuat sepatu. Pembuat iklan adalah Djamhoeri, yang tinggal di Jalan Doho 97, Kediri. Yang dicantumkan: “Membikin pakaian dan sepatoe menoeroet oekoeran pemesan”. Iklan diakhiri pekik “merdeka”. Artinya, yang berpakain dan bersepatu termasuk kaum yang merdeka.

Djojobojo, majalah yang tipis, cukup 14 halaman. Aku belum kenyang bacaan tapi sudah merasakan getaran sebagai pembaca yang ada pada masa lalu, sekian bulan setelah penulisan dan pembacaan teks Proklamasi. Majalah berbahasa Jawa yang membuktikan peran memuliakan Indonesia dengan berani menanggapi peran dan berusaha memberi kesadaran perlawanan untuk rakyat melawan pihak-pihak asing yang mengganggu kemerdekaan dan kedaulatan. [] Durjana

Belakang

1922: DUNIA DAN BAHASA

Sejak masa kolonial, anak-anak perlahan mendapat cerita yang berdatangan dari pelbagai negeri. Mereka ada berkat kedahsyatan mesin cetak, yang menghasilkan buku-buku cerita. Yang paling menyenangkan bila mereka menikmati cerita-cerita asing, yang biasanya disebut sebagai cerita terkenal di dunia atau tarafnya internasional. Maka, terjadilah penerjemahan dan penyaduran beragam cerita dari Eropa dan Amerika Serikat.

Pihak penerbit dan percetakan sudah berhitung untung-rugi bila berani menyediakan buku-buku cerita yang bersumber dari sastra dunia. Yang bikin gemas, kita kesulitan menemukan buku-buku terjemahan atau saduran dari masa kolonial. Beberapa buku ada di pasar tapi harganya mahal, yang dipengaruhi nafsu para kolektor. Apakah kita bakal mendapat jatah untuk bertemu dan memiliki buku-buku lawas, yang mengungkap bacaan anak dan remaja berlatar masa kolonial?

Sulit mencari buku-buku berusia seratusan tahun. Kita pun hanya mendapat sedikit keterangan tentang penerbit, nama penerjemah atau penyadur, distribusi, dan lain-lain. Artinya, sejarah sastra masa kolonial menyisakan banyak misteri. Kapan tampil para peneliti dan kesaksian para kolektor agar kita tetap memiliki buku dan masa lalu?

Yang berhasil ditemukan dalam kondisi rusak adalah novel berjudul 2000 Mil Di Dalem Laoet gubahan Jules Verne. Sampulnya masih ada tapi gambar tidak jelas. Jilidan jelek meski tidak ada halaman yang hilang. Penampilan dari depan sebenarnya memikat. Gambar di sampul sudah beragam warna. Mata kita belum beruntung untuk melihatnya dengan kekaguman. Bayangkan sampul itu terlihat oleh para pembaca masa lalu. Mata mereka mungkin tidak berkedip selama tiga menit. Siapa yang membuat gambar di sampul? Pastinya orang asing.

Keterangan yang terperoleh di halaman-halaman awal: “Tertjaritakan di dalem bahasa Melajoe renda oleh WNJG Claasz. Nama yang sangat tidak mungkin disandang bumiputra. Kita pastikan lagi nama itu milik orang asal Eropa atau kelahiran di tanah jajahan dengan sebutan “Indo”.

Buku yang apik itu dicetak di GCT Van Dorp & Co (Semarang-Soerabaia-Bandoeng). Perhatikan tahun kemunculan buku Jules Verne di tanah jajahan! Tercantum tahun 1922. Jadi, kita jangan selalu mengingat masa 1920-an melulu novel-novel terbitan dan selera Balai Poestaka. Ada kubu pembaca yang lain, terlena oleh cerita yang digubah Jules Verne tapi terberikan kepada para pembaca di tanah kolonial melalui bahasa Melayu. Kita menduga itu percampuran penerjemahan dan penceritaan ulang. Apa mungkin sah disebut saduran saja?

Keberuntungan memegang kertas lawas dan mengetahui bau yang aneh ternyata menyisakan “kecewa”. Yang ada di tangan adalah bagian kedua. Di mana bagian pertama? Kita yang membaca wajib membayangkan cerita di bagian awal. Tangan membuka halaman-halaman sambil bersyukur bahwa air tidak menghancurkan buku. Yang tampak adalah kertas-kerta yang pernah terkena air. Kita malah berimajinasi jenis dan rupa air yang pernah mengenai kertas-kertas dari seratusan tahun yang lalu. Kertas itu bertahan. Air hanya menyentuhnya tanpa punya maksud menghancurkan menjadi bubur.

Berapa tangan yang pernah bersentuhan atau memegang buku yang dibuat Jules Verne? Apakah yang membacanya hanya bumiputra yang terdidik bisa berbahasa Melayu? Bagaimana bahasa Melayu dalam kerja penerjemahan atau penceritaan ulang untuk sastra yang datang berbahasa Belanda, Inggris, atau Prancis? Pertanyaan terus bertambah tapi jawaban belum tentu ada.

Kita mengutip beberapa contoh bahasa Melayu yang aneh: “Saknalika itoe kita mengomong sama Ned-Land dan Koenraad. Sabentaran Ned-Land menoedjoek dengen tangannja sarta bertanjak…” Yang sehari-hari berbahasa Jawa mengetahui “saknalika”. Apa kita semestinya menuliskan itu “seketika” agar bisa dimengerti para pembaca tak paham bahasa Jawa. Ingat, buku terbit dalam bahasa Melayu rendah.

Yang bingung menghadapi kalimat: “Na, soedahlah Toean mendinger kita poenja kahendakan, si Koen tiada bolih teranggep orang sebab tiada mempoenja timbangan akan dianja, mangka sekarang kita minta toean goeroe ampoenja timbanhan hal kahendakankoe akan tjari djalaran bisanja minggat dari Nautilus.” Kita menduga “djalaran” itu “sebab”. Yang berani membaca buku sudah berusia seratus tahan adalah orang yang tabah dan boleh menyediakan Bodrex saat tiba-tiba pusing atau marah-marah menghadapi bahasa dari masa 1920-an.

Bagi yang kelelahan membaca cerita dan linglung dalam bahasa Melayu rendah, nikmatilah ilustrasi-ilustrasi yang ada dalam buku. Ada belasan ilustrasi yang cakep. Siapa yang membuat? Nama ilustrator tidak tercantum di buku.

Gambar yang banyak mengartikan biaya cetak tidak murah. Yang ada di kertas bukan hanya huruf-huruf. Ilustrasi itu menjadikan buku tampak mewah. Artinya harga buku pasti mahal. Yang sanggup membeli buku tahu faedah cerita dan kebanggaan terhubung imajinasi global yang dirayakan banyak orang di pelbagai negeri.

Cerita yang dibaca mengantar pembaca menuju dunia yang lain. Ia menyadari sedang berada di tanah jajahan tapi cerita yang membuatnya bergerak sangat jauh. Imajinasi memberi sedikit pembebasan sekaligus ketagihan.

Pada masa berbeda, orang-orang membaca cerita-cerita gubahan Jules Verne melalui terjemahan Mahbub Djunaidi dan Nh Dini. Mengapa dua pengarang terkenal itu mau menerjemahkan buku-buku Jules Verne? Konon, Mahbub Djunaidi memiliki pamrih mendapatkan nafkah dari bekerja sebagai penerjemah. Kita belum mengetahui alasan pasti Nh Dini menerjemahkan Jules Verne. Dugaan saja ia membuktikan kemampuan sebagai penerjemah meski orang-orang mengetahui ia terpuji dalam penerjemahan Sampar gubahan Albert Camus dan cerita-cerita anak berbahasa Prancis.

Bahasa yang digunakan dua pengarang itu sudah bernama bahasa Indonesia. Mereka diyakini mahir dalam penerjemahan meski tetap memerlukan membuka kamus-kamus. Pada saat hasil terjemahan terbit, para pembaca dapat membuat kenikmatan tandingan atau pelengkap dengan menonton film-film yang dibuat dari novel-novel gubahan Jules Verne. Pengalaman baca yang sangat berbeda dari masa 1920-an.

Kita kembali melihat buku lawas yang pantas menjadi sumber obrolan mengenai sastra terjemahan awal abad XX. Bahasa masa lalu tetap memberi pesona selain kita berpikiran mutu terjemahan dan situasi perkembangan sastra “modern” di tanah jajahan. Kutipan yang penting dipikirkan sebelum tidur mendapat mimpi buruk: “Srenta ampir djam poekoel 10 semangkin geter kita poenja ati dan sabentar sabentar kita ingetan hendak tjari pada kapitein Nemo akan membilangken kahendakankoe tetapi sjoekoer tiada kedjadian, mangka sasoedahnja bertjakep kita boeka dingen pelan itoe pintoe jang teroesan ka kamar boekoe akan troos kaloewar di kamar soewaranja argone dan kapitien Nemo berada di sitoe tetapi dia tiada meliat pada kita mangka kita berdjalan plahan djangan sampe dia meliat.”

Pembaca yang sabar dapat mengerti deretan kata dari penerjemah atau penyadur. Sabar yang tidak menghasilkan pengertian utuh, tetap saja ada kata-kata yang bikin tertawa dan menimbulkan capek. Berapa jam diperlukan untuk khatam buku berisi 186 halaman? Yang mau membaca boleh mengaku sedang membuat peristiwa yang sia-sia. Pembaca yang kembali ke masa lalu tapi sebentar gara-gara tidak betah dan lelah.

____________________

Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.