Curhat

Ayam Tidak Membaca Buku

Curhat Durjana

Setahun lebih, ratusan buku aku taruh dekat kandang ayam. Tindakan yang biadab dan konyol. Aku tidak bermaksud agar ayam-ayam itu membaca buku saat memiliki waktu senggang. Aku malah ikhlas bila ayam+ayam sangat lapar sehingga memakan huruf-huruf atau kertas -kertas. Konon, buku itu memuat ilmu. Aku pikir ayam yang terpaksa makan buku bakal menjadi ayam yang suka seminar ketimbang bikin ribut tiap pagi dan menciptakan onar gara-gara bertelur. Bayangkan ayam itu mengeluarkan telek berwujud huruf-huruf yang berserakan dengan bau menyengat. Aku yakin bahwa ayam tidak membaca buku. Manusia saja tidak membaca buku, memilih makan ayam goreng, telur dadar, atau menyantap brutu. Manusia yang hanya ketagihan makan daging dan telur ayam tapi tidak pernah membaca buku boleh kita lempari dengan telek ayam. Tindakan yang makin biadab.

Sebenarnya, yang biadab itu aku. Selama belasan tahun tidak mampu menata dan merapikan ribuan buku. Yang dilakukan hanya membaca dan bikin berantakan rumah. Usahanya sebagai pedagang buku cuma menghasilkan tumpukan buku yang sulit laku. Pada tahun-tahun yang sulit dan pelit, orang-orang bersalah jika menyerahkan uang untuk membeli buku: baru atau bekas. Aku paham bahwa buku tidak memberi janji agar orang selalu girang setiap hari. Sebaliknya, uang terjadi adalah tubuh yang gering setelah mati-matian memikirkan isi buku. Orang pun murung bila yang dibaca adalah buku-buku bermazhab picisan, cengeng, dan brengsek. Buku sangat sulit menyelamatkan hidup. Pengecualian adalah orang-orang yang mendapat mukjizat sebagai pembaca buku yang mulia, berpahala, dan berhikmah.

Aku adalah pembaca buku yang garang, tidak punya rem dan bergerak tanpa peta. Buku-buku yang sudah dibaca menjadi tumpukan yang memberatkan hidup. Jangan bertanya tentang pembaca yang diberkati. Aku adalah pembaca yang menjadi gembala dusta dan khianat atas pengetahuan dan imajinasi.

Maka, yang aku lakukan: mengantar ratusan buku kepada ayam-ayam. Pada akhirnya, buku bukan bacaan. Buku menjadi tempat bertelur dan bercengkrama ayam-ayam yang sedang kasmaran. Aku merasa tidak terlalu bersalah saat memikirkan nasib ayam dan buku. Keputusanku memang tidak menggunakan argumentasi yang bermutu. Artinya, pikiranku tentang buku lebih buruk dan rendah dibanding telek ayam.

Bulan-bulan berlalu, ada beberapa buku yang rusak, berjatuhan, dan berserakan. Pelakunya tidak ayam-ayam saja. Pada malam hari, jamaah tikus senang bermain dan istirahat di kerumunan buku. Yang menyedihkan, beberapa buku menjadi sasaran kebrutalan tikus.

Pada situasi berbeda, aku kadang melihat burung-burung menclok di tumpukan buku saat pagi atau jelang siang. Kandang ayam memang dekat dengan kebun-kebun tetangga yang memiliki banyak pohon besar. Apakah burung-burung itu membaca buku. Namun, aku mendapatkan keindahan atau secuil puisi saat melihat burung-burung di atas buku-buku.

Yang membuatku makin biadab adalah membiarkan ratusan buku dihajar sinar matahari yang panas. Risikonya sampul buku-buku tampak lusuh dan warnanya memudar. Kertas-kertas juga tersiksa panas matahari. Kertas-kertas itu terpaksa berubah wajah dan bentuk.

Aku tidak tahu bila buku-buku itu melihat bulan purnama atau sabit. Malam, kandang ayam dan buku-buku dalam gelap. Mereka mungkin mencicipi bahagia saat bulan memberi senyum atau bisikan yang romantis.

Senin, 13 Oktober 2025,  beberapa buku aku bersihkan untuk dibawa ke gedung yang memiliki tiga lapangan biasa digunakan jamaah badminton. Pikirku, menaruh buku di situ agak mengurangi kebiadaban. Aku tidak berharap buku-buku itu bakal dilihat, disentuh, atau dibaca. Pada suatu hari, aku menanti ada orang yang terpikat buku-buku di pojokan. Ia bakal bercakap denganku di sela menyapu dan mengepel lapangan. Kupingku ingin mendengar ia menyukai buku. Janjiku: buku yang ia pegang atau dilihat dengan melotot akan aku berikan sebagai hadiah. Inginku buku itu mendapat tempat terhormat di kamar atau rumahnya. Aku menunggu buku-buku itu habis saat bertemu para pembaca yang sanggup memberi kasih dan berdoa mendapat pengetahuan. Buku tetap berguna. Aku saja yang sia-sia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *