Belakang

LAGU (TIDAK) ROMANTIS

Pada masa 1990-an, kaum remaja merasa dilanda kasmaran yang merdu. Mereka ikut gemremeng ssaat mendengar radio, yang membuat daftar tangga lagu mingguan. Di situ, ada lagu “Kangen” dari Dewa 19. Mereka larut dalam perasaan-perasaan yang tidak biasa. Bayangkan mereka kangen tapi diharuskan menulis dan membaca surat.

Di keseharian, mereka memegang bolpoin dan menghadapi buku tulis. Pada situasi berbeda, mereka memilih kertas yang istimewa. Tangan itu menulis kalimat-kalimat yang penuh perasaan, bukan catatan pelajaran atau jawaban untuk tugas-tugas yang diberikan guru.

Yang menulis surat adalah yang kasmaran. Kangen ditanggapi dengan menulis di kertas. Ditulis penuh penghayatan. Yang menulis kadang meneteskan air mata bersampur gemas. Penulis surat bisa terbawa lamunan yang panjang setelah berhasil membuat satu kalimat. Di kertas, penulis surat yang sangat kangen tidak mau ada coretan. Yang tampak di kertas seharusnya menguak perasaan-perasaan, bukan asal membuat tulisan seperti saat berada di kelas.

Dulu, kangen itu menulis dan membaca surat. Orang harus sabar. Kangen malah disuruh menulis surat, yang bisa belasan halaman. Kangen yang mendebarkan adalah membaca kalimat-kalimat yang samar dari kekasih. Tangan gemetar saat terjadi mufakat sama-sama kangen yang ada di sini dan yang ada di sana. Surat itu keramat! Surat disimpan di bawah bantal, terbawa dalam tidur menjadi mimpi yang indah.

Bagaimana kangen menghasilkan ratusan dan ribuan kalimat? Yang kangen berarti sadar kata selain menitip foto dalam surat atau menaruh cap bibir di kertas? Kangen yang bermutu. Kaum remaja masa 1990-an yang tidak mau membiarkan kangen berlalu oleh angin, kentut, atau terjangan tikus. Kangen yang sebenar-benarnya adalah kertas berisi kalimat-kalimat. Kangen itu pilihan warna amplop dan gambar di perangko. Semua gara-gara lagu dari Dewa 19.

Namun, para remaja pun mendengar lagu Slank, Kahitna, Java Jive, dan lain-lain. Mereka memiliki pilihan lagu yang romantis. Ada yang tersedot lagu-lagu tragis. Ada yang berputus asa setelah kecanduan lagu-lagu sadis. Pokoknya, masa remaja adalah masa-masa mengoleksi banyak lagu, yang dianggapnya sesuai perasaaan. Maka, yang ;punya koleksi lagu pilihan masa remaja bakal dibawanya sampai tua. Pada suatu hari kelak, mereka mendengarkan lagi sebagai lagu kenangan atau nostalgia.

Masa 1990-an itu menghasilkan keuntungan besar saat penyelenggaraan konser-konser atas nama nostalgia. Yang panen duit miliran rupiah biasanya Dewa 19. Kita menuju masa 1950-an saja. Masa yang masih diramaikan lagu-lagu nasional atau kebangsaan agar revolusi tidak redup. Apakah masa itu sudah ada lagu asmara yang (paling) romantis?

Pada masa kekuasaan Soekarno, lagu atau musik bisa menjadi masalah bila tidak berpikiran sesuai revolusi atau menunjang kemuliaan Indonesia. Lagu-lagu yang memuja asmara rendahan dan ecek-ecek mungkin masuk daftar perusak kepribadian nasional. Yang diperlukan Indonesia adalah semangat bukan kangen, cinta buta, atau sumpah sehidup-semati berdua. Semua itu rendahan!

Kita mendapatkan petunjuk kecil untuk mengingat suasana berlagu masa lalu. Yang kita buka adalah buku berjudul Puspa Irama jilid II, yang disusun oleh Kasim St M Sjah, 1953. Yang menerbitkan adalah Pustaka Rakjat, yang didirikan dan dikelola oleh Sutan Takdir Alisjahbana. Penerbit yang memberi perhatian pada sastra dan bahasa tapi tidak melupakan lagu.

Apakah di buku ada leluhur lagu asmara yang nantinya bercucu “Kangen” yang dibawakan Dewa 19? Sejak halaman awal sampai akhir, kita mustahil menemukan lagu bertema asmara. Buku digunakan di sekolah-sekolah (menengah), yang diajarkan bukan untuk menjadi makhluk ketagihan asmara dan merayakan cinta sampai langit ketujuh.

“Moga-moga buku ini djuga akan djadi pendorong untuk mentjapai pengetahuan musik umum sekedarnja,” pesan penyusun buku. Ia tidak mengajak murid-murid mengerti musik yang nantinya digunakan untuk merayu dan menjadikan kekasih terjerat dalam kangen seribu tahun.

Lagu yang dipelajari berjudul “Ilmu Pengetahuan”. Judul yang jauh dari perasaan-perasaan terdalam seperti remaja yang mendengar lagu Naif, Nidji, ST 12, Armada, atau Wali. Judul yang sudah menyiksa murid agar makin rajin belajar dan meraih pengetahuan sebanyak satu ton.

Beruntungnya kita tidak menjadi murid masa 1950-an. Lirik lagu yang melawan romantis: Ilmu pengetahuan itulah pakaian jang tidak pernah luntur/ Walaupun disesah dibentur/ Ilmu pengetahuan itulah harta jang guna jang tidak kundjung habis. Mengapa kata-kata itu dibuat untuk dinyanyikan oleh para remaja yang mudah kasmaran. Revolusi tidak boleh mengharamkan asmara. Di sekolah, para remaja malah terlalu diminta serius dengan ilmu pengetahuan. Perasaan-perasaan dilupakan dulu dalam siksa puluhan mata pelajaran.

Kita lanjutkan ke halaman-halaman yang memuat lagu berjudul “Kampung Tertjinta”. Judul yang salah lagi. Kenapa bukan berjudul “Kekasih Tertjinta” atau diksi-diksi yang mendekati asmara? Pada masa 1950-an, pengajaran musik di sekolah dianggap penting. Misinya bukan menjadikan murid-murid adalah perayu tapi mengerti situasi revolusi dan keindahan di dunia yang fana.

Lirik yang dibuat: “Petiklah gitar dan gesek biola pukul gendang.” Bermain musik dilakukan bersama untuk mengingat kampung halaman. Sekian alat musik yang bakal menimbulkan ingatan-ingatan saat bermain di sawah, berlarian di kebun, bermain layangan, menelusuri sungai, menangkap ayam, dan lain-lain. Pokoknya, segala cerita mengenai kampung halaman diharapkan tercakup dalam lagu.

Di situ, ada pengisahan kampung halaman yang kecil dan terpencil. Dulu, orang-orang yang ingin berpendidikan dan berhasil dalam pekerjaan memang harus meninggalkan kampung halaman. Mereka terpisah dari keluarga. Mereka tidak lagi bermain bareng teman-teman di kampung, yang belum beruntung untuk mendapat pendidikan tinggi. Di desa, mereka memilih menjadi petani, pedagang, peternak, atau buruh.

Namun, adakah yang ditinggal adalah kekasih? Artinya, kekasih yang dicintai saat masih kecil atau remaja. Pergi meninggalkan kampung halaman pasti berat tapi harus terjadi. Mereka akhirnya surat-suratan, yang memerlukan waktu lama untuk berhasil sampai di tangan dan dibaca.

Kita memilih dua lagu saja. Ingatlah bahwa kaum remaja masa lalu belajar lagu-lagu yang bermutu, bukan penikmat yang kebablasan untuk lagu-lagu asmara picisan. Masa 1950-an tidak melulu masalah demokrasi atau revolusi. Masa itu lagu-lagu yang banyak pelajaran, bukan perasaan.

____________________

Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *