Terjemahan

Sidang Pembunuhan (Bagian 2)

Charles Dickens

Kepada diriku sendiri, aku memastikan satu hal: wajah itu belum pernah kulihat sebelumnya, selain di jalan Piccadilly, di antara pusaran daun musim gugur. Ketika aku membandingkan ekspresinya malam itu, ketika ia memanggilku dari pintu, dengan tatapan yang dulu dilemparkannya ke jendelaku, aku sadar satu hal. Pada pertemuan pertama, ia mencoba menanamkan dirinya di ingatanku. Pada pertemuan kedua, ia datang hanya untuk memastikan bahwa aku tak mungkin melupakannya lagi.

Malam itu aku berbaring, tak nyaman. Namun anehnya, di dalam kegelisahan itu, tumbuh keyakinan samar bahwa sosok itu takkan kembali. Mungkin karena ia sudah mendapatkan apa yang diinginkannya: tempat tinggal di dalam ingatan manusia.

Menjelang fajar, aku akhirnya terlelap dalam tidur berat. Cahaya pagi menetes lewat tirai ketika aku dibangunkan oleh suara langkah pelan. John Derrick berdiri di tepi ranjang, wajahnya masih pucat, tangannya menggenggam selembar kertas koran. Di atasnya, aku tahu, dunia baru saja menuliskan bab berikut dari mimpi burukku.

Ternyata kertas di tangan Derrick itulah sumber keributan kecil di depan pintu, antara dirinya dan pengantarnya. Kertas itu bukan sembarang surat. Itu adalah panggilan resmi agar aku hadir sebagai anggota juri pada sidang berikutnya di Central Criminal Court, Old Bailey.

Selama hidupku, aku belum pernah dipanggil untuk tugas semacam itu. Derrick, yang mengenal tiap kebiasaanku seperti mengenal lipatan wajahku sendiri, tahu benar hal itu. Ia percaya, entah dengan alasan masuk akal atau tidak, bahwa para juri biasanya diambil dari lapisan masyarakat dengan kualifikasi yang lebih rendah dariku. Karena itu, ketika petugas datang menyerahkan surat, Derrick menolaknya mentah-mentah, yakin bahwa panggilan itu pasti salah alamat.

Namun petugas itu tenang saja, nyaris dingin. “Hadir atau tidak, bukan urusanku,” katanya. “Surat ini sudah di tanganmu; risiko selebihnya milikmu sendiri.”

Ia pun pergi, meninggalkan keheningan yang terasa seperti gema dari sesuatu yang lebih besar daripada sekadar kewajiban hukum.

Sehari-dua hari aku bimbang. Antara patuh atau mengabaikan. Tak ada dorongan misterius, tak ada tarikan gaib yang menuntunku ke satu arah. Aku sepenuhnya sadar dan waras ketika memutuskan. Dan akhirnya, setelah berpikir panjang, aku memilih untuk pergi.

Mungkin karena ingin menuruti kebosanan hidupku yang membatu. Mungkin karena di dasar jiwaku ada sesuatu—sesuatu yang belum bernama—yang sudah menunggu di ruang sidang itu. Sesuatu yang ingin menatapku balik dari kursi terdakwa dan berkata tanpa suara:
“Kau sudah kupilih sejak pertama kali aku menoleh di Piccadilly.”

Pagi yang ditentukan itu datang dalam keadaan mentah dan menggigil, sebuah pagi bulan November yang seolah tak selesai dilahirkan. Kabut tebal berwarna coklat menggantung di atas Piccadilly, menyelimuti dunia seperti paru-paru yang kehabisan udara. Semakin jauh ke arah timur, melewati Temple Bar, kabut itu menebal menjadi hitam, berat, dan menekan dada seperti tangan dingin yang tak mau lepas.

Gedung pengadilan tampak menyala oleh gas yang berdesis di pipa-pipa logamnya. Lorong-lorong dan tangganya berpendar seperti napas api di dalam tenggorokan batu. Bahkan ruang sidang sendiri, tempat segala nasib dijatuhkan, bercahaya dengan cara yang tak wajar, seperti teater neraka yang berlatih sunyi.

Aku tak tahu sebelumnya—demi Tuhan, aku sungguh tak tahu—bahwa hari itu adalah hari sidang pembunuh itu. Aku bahkan tak pasti ruang mana dari dua ruang sidang yang sedang berjalan akan menjadi tempat tugasku. Para petugas membimbingku dengan susah payah melewati kerumunan hingga aku duduk di tempat yang diperuntukkan bagi para juri yang menunggu giliran.

Kabut merayap masuk melalui celah-celah jendela besar, berpadu dengan uap napas manusia yang menumpuk. Aku melihat gumpalan hitam menggantung di luar jendela, seperti tirai yang menolak disingkap. Dari luar terdengar suara roda kereta yang teredam jerami, dan dari kejauhan terdengar dengung orang banyak yang kadang teriris oleh siulan tajam atau teriakan yang terlalu bersemangat.

Kemudian dua orang hakim masuk. Gemuruh suara tiba-tiba padam, seperti lilin yang disiram. Setelah beberapa aba-aba yang kaku, terdengar perintah: “Hadirkan si pembunuh di bar.”

Ia muncul, dan saat mataku jatuh padanya, seolah seluruh kabut menyingkir hanya untuk memperjelas wajah itu. Darahku berhenti mengalir. Di sana, berdiri di bawah cahaya gas yang kekuningan, adalah lelaki pertama dari dua sosok yang dulu kulihat berjalan di Piccadilly. Yang menoleh ke belakang. Yang diikuti oleh wajah sewarna lilin.

Seandainya namaku dipanggil pada saat itu juga, aku ragu aku masih sanggup menjawab dengan suara yang terdengar. Jantungku berdentam seperti hendak menerobos tulang rusuk. Namun kebetulan namaku baru disebut keenam, atau mungkin kedelapan, dalam daftar. Dalam waktu sesingkat itu, aku berhasil memulihkan sedikit keberanian dan menjawab, “Hadir!”

Perhatikanlah baik-baik apa yang terjadi kemudian. Ketika aku melangkah masuk ke kotak juri, si terdakwa, yang sedari tadi tampak tenang dan matanya mengamati ruang sidang dengan dingin yang nyaris sopan, tiba-tiba terguncang hebat. Ia menegang, wajahnya memucat, lalu memberi isyarat gelisah kepada pengacaranya.

Keinginannya untuk menolak kehadiranku di juri begitu jelas hingga ruang sidang sempat terdiam. Sang pengacara mencondongkan tubuh, meletakkan tangan di pinggiran dock, dan berbisik dengan kliennya. Ia sempat menggeleng, pelan namun tegas. Belakangan aku tahu dari pengacara itu sendiri bahwa kata-kata pertama yang bergetar dari bibir si pembunuh adalah: “Apa pun risikonya, tantang orang itu!”

Namun ketika ditanya alasannya, ia tak memberi satu pun jawaban. Ia mengaku bahkan tak tahu siapa aku, tak pernah mendengar namaku sebelum petugas memanggilnya, sebelum aku berdiri di hadapannya. Sang pengacara tak mengindahkannya, dan aku tetap di sana, di kursi yang akan menjadi saksi antara hidup dan mati.

Sekarang biarlah aku katakan: aku tak berniat menghidupkan lagi kenangan busuk tentang si pembunuh itu. Cerita tentang sidangnya panjang, penuh detail yang menghitamkan ingatan. Tak semuanya perlu kalian tahu. Yang ingin kusampaikan hanyalah sepuluh hari dan sepuluh malam itu, waktu ketika kami, para juri, dikurung bersama, dan sesuatu yang jauh lebih ganjil dari kejahatan manusia mulai menyusup di antara kami.

Karena bukan pada si pembunuh letak misteri ini, melainkan pada apa yang terjadi padaku. Dan yang kumohon dari kalian bukan simpati untuk seorang terdakwa, melainkan perhatian untuk bayangan yang, sejak hari itu, tak pernah benar-benar meninggalkan ruang di dalam kepalaku.

Aku terpilih menjadi ketua juri. Pada pagi kedua persidangan, setelah dua jam mendengarkan saksi-saksi yang berbicara seperti gema yang jauh dan berdebu, aku mendengar lonceng-lonceng gereja berdentang dari kejauhan. Suara itu mengiris udara lembap seperti pengingat waktu yang sudah mati.

Tanpa sengaja, mataku menyapu barisan rekan-rekan juri di sekelilingku. Di sanalah keganjilan itu bermula. Aku mendapati kesulitan yang tak bisa kujelaskan untuk menghitung kami semua. Sekali kuhitung, tiga belas. Kuulangi, tetap tiga belas.

Kupejamkan mata, kubuka lagi, kutelusuri wajah demi wajah dengan hati-hati, dan tetap saja, ada satu kepala terlalu banyak. Aku menyentuh bahu rekan di sebelahku dan berbisik pelan, “Boleh tolong hitung kita semua?”

Ia menatapku dengan alis berkerut, seolah tak mengerti mengapa aku menanyakan hal yang sepele. Tapi kemudian ia berpaling dan menghitung satu per satu. Lalu, tiba-tiba ia berhenti. Ekspresinya berubah. “Kenapa… kita tiga be—” katanya, lalu mendadak menelan ucapannya dan menatap ke meja di hadapan.

“Tidak mungkin. Tidak. Kita dua belas.”

Namun aku tahu, dari getar kecil di suaranya, dari tatapan kosong yang tak berani menatapku lagi, bahwa ia juga sempat melihatnya. Bahwa untuk sekejap yang mengerikan itu, kami berdua telah menghitung tiga belas juri.

Menurut hitunganku hari itu, kami selalu benar dalam rincian, tetapi selalu berlebih satu dalam keseluruhan. Tak ada wujud apa pun, tak ada bayangan, tak ada sosok yang bisa menjelaskan kejanggalan itu. Namun di dalam diriku, perlahan tumbuh bayangan samar akan sosok yang pasti akan datang.

Para juri ditempatkan di London Tavern. Kami tidur bersama di satu ruangan besar, masing-masing di atas meja panjang yang disulap menjadi tempat tidur darurat. Kami selalu berada di bawah pengawasan seorang petugas yang disumpah untuk menjaga kami agar tidak berhubungan dengan dunia luar.

Aku tidak melihat alasan untuk menyembunyikan nama petugas itu. Ia seorang yang cerdas, sopan, dan menyenangkan, dan begitu kudengar, dihormati banyak orang di kota. Wajahnya enak dipandang, matanya jernih dan tajam, cambangnya hitam dan tebal seperti garis pena yang percaya diri. Suaranya dalam dan berat seperti gonggongan lembut di lorong batu.

Namanya Tuan Harker.

Malam itu, ketika kami bersiap menempati dua belas ranjang sejajar, ranjang Tuan Harker ditarik menutup pintu, seolah ia, tubuh manusia itu sendiri, adalah gembok yang hidup.

Pada malam kedua, aku tidak ingin segera berbaring. Melihat Tuan Harker duduk di tepi ranjangnya, aku berjalan menghampirinya dan menawarkan sekepal tembakau dari kotakku. Ketika tangannya menyentuh tanganku, sebuah getaran aneh melintas di tubuhnya, seolah hawa dingin dari kubur menyelinap melalui pori-porinya.

Ia bertanya pelan, suaranya mengandung keheranan, “Siapa itu?”

Mengikuti arah pandang matanya, aku menatap ke seberang ruangan, dan di sana berdiri sosok yang telah lama kutunggu, sosok kedua dari dua lelaki yang dulu melintas di Piccadilly.

Aku berdiri, melangkah beberapa tapak, lalu berhenti. Menoleh ke arah Harker. Tapi ia justru tertawa ringan, seolah tidak melihat apa pun, dan berkata ramah, “Untuk sesaat aku kira kita punya juri ketiga belas—tanpa ranjang. Tapi rupanya cuma cahaya bulan.”

Aku tidak mengatakan apa pun padanya, hanya mengajaknya berjalan pelan ke ujung ruangan. Kami berdiri di sana, mengintai gerak sosok itu. Ia berjalan perlahan di antara ranjang-ranjang yang berbaris seperti peti mati menunggu giliran.

Di setiap ranjang, di sebelas ranjang saudaraku sesama juri, ia berhenti. Berdiri di sisi kanan tiap kepala, membungkuk sedikit, menatap wajah mereka yang terlelap dengan tatapan murung, seolah mengenang dosa-dosa mereka sendiri. Setelah itu, ia menyeberangi kaki ranjang dan melanjutkan langkahnya ke ranjang berikutnya.

Ia tidak menoleh padaku. Tidak pula pada ranjangku, yang paling dekat dengan Harker. Dan akhirnya, ia lenyap ke arah cahaya bulan yang menetes masuk dari jendela tinggi, seakan menapaki tangga tak terlihat menuju udara, menuju tempat di mana roh-roh tidak lagi butuh pijakan.

Keesokan paginya, saat kami duduk di meja sarapan, di antara aroma teh yang hangat dan bunyi sendok yang menyentuh piring, terungkap sesuatu yang ganjil. Semua orang di ruangan itu mengaku bermimpi tentang lelaki yang telah dibunuh semalam, kecuali aku dan Tuan Harker.

Dan saat itulah, sebuah keyakinan menyusup ke dalam kepalaku—sunyi, tapi mutlak—bahwa sosok kedua yang dulu kulihat berjalan di Piccadilly adalah jiwa dari lelaki yang dibunuh itu sendiri. Seakan ia sendiri telah membisikkan pengakuan itu ke telingaku dari celah antara hidup dan mati.

Namun cara kebenaran itu datang padaku—Tuhan tahu—tak pernah kusangka.

Hari kelima sidang. Kasus penuntutan hampir usai. Suara hakim, jaksa, dan penasihat hukum berkelindan di udara pengap. Lalu dibawalah sebuah benda kecil—miniatur wajah sang korban. Miniatur itu sebelumnya hilang dari kamar tidurnya, lalu ditemukan terkubur di tempat di mana si pembunuh pernah terlihat menggali.

Miniatur itu diperlihatkan kepada saksi, lalu diserahkan ke bangku hakim, dan dari sana diteruskan kepada kami, para juri. Seorang petugas berseragam hitam membawa benda mungil itu melintasi ruang pengadilan menuju tempatku duduk.

Dan tiba-tiba—ia muncul lagi. Dari tengah kerumunan, sosok itu menerjang ke depan: lelaki berwajah lilin, yang dulu memanggilku lewat pintu kamar, yang berdiri di sisi ranjang-ranjang malam itu. Ia merebut miniatur dari tangan petugas, menyerahkannya langsung kepadaku, dan dengan suara serak, seperti dari kedalaman sumur, ia berbisik, “Aku masih muda waktu itu… wajahku belum dikeringkan dari darah.” BERSAMBUNG

____________________

Judul asli: The Trial for Murder

____________________

Penulis: Charles John Huffam Dickens (7 Februari 1812 – 9 Juni 1870). Penulis roman ternama dari Inggris.Penulis yang terkenal dan terbaik pada era Victorian. Selain itu ia juga seseorang yang aktif melakukan perkerjaan sosial.

____________________

Penerjemah: Erna Surya. Penulis yang berprofesi sebagai seorang guru.

Belakang

BAHASA: 1926, 1928, 1930

Yang pernah belajar bahasa dam sastra di universitas berkenalan nama-nama dari masa silam. Ada yang bisa mengingat tiga atau sebelas nama. Yang diajarkan atau tercatat dalam buku perkuliahan adalah nama-nama besar, yang memberi warisan terpenting dalam perkembangan bahasa dan sastra. Namun, tulisan-tulisan mereka membingungkan bagi orang-orang yang belajar dalam kesadaran (beda) negara.

Satu nama yang mungkin mudah teringat: Abdullah bin Abdul Kadir Munsji. Yang belajar masalah bahasa, sastra, atau sejarah mengetahui namanya, belum dijamin pernah memegang bukunya. Yakinlah hanya sedikit orang yang berani khatam tulisan-tulisan Abdullah bin Abdul Kadir Munsji. Sejak masa 1950-an, buku-bukunya diusahakan terbit di Indonesia tapi pembacanya sedikit saat godaan sastra modern memberi pikat-pikat yang berbeda. Situasinya berbeda dengan buku yang terbit di Malaysia atau Singapura.

Pada suatu masa, tulisan-tulisan Abdullah bin Abdul Kadir Munsji disajikan lagi kepada para pembaca di Indonesia, yang dibuat oleh KPG dan EFEO. Nama peneliti yang memungkinkan munculnya lagi tulisan-tulisn itu minta terbaca dengan pelbagai tambahan keterangan: Amin Sweeney. Buku tiga jilid, yang besar dan tebal. Siapa betah membaca dan sanggup khatam? 

Amin Sweeney mengatakan mengenai buku-buku Abdullah bin Abdul Kadir Munsji: “… merupakan warisan kepada seantero alam Melayu, bahkan kepada seluruh bangsa Indonesia. Orang Indonesia memilih bahasa Melayu untuk dikembangkan sebagai bahasa nasional karena bahasa itu telah berabad-abad berfungsi bukan hanya sebagai lingua franca, tetapi juga sebagai khasanah dan penyebar ilmu pengetahuan serba jenis. Bahasa Melayu yang dipilih itu bukan suatu tabula rasa atau medium yang netral dan pasif seperti dibayangkan oleh beberapa sarjana Belanda. Bahasa itu membawa sertas segala pandangan hidup, sistem pengolahan ilmu, dan warisan sesuatu budaya.”

Kita memerlukan kutipan itu membekali saat membaca buku tipis. Yang kita baca adalah buku berjudul Melajoe Oemoem, terbitan Boekhandel Visser & Co, Weltevreden, 1930. Perhatikan tahun terbit! Bayangkan buku itu masih dipelajari setelah ada peristiwa bersejarah: 28 Oktober 1928. Tahun itu terjadi persumpahan bahasa, yang dinamakan bahasa Indonesia. Namun, bahasa Melayu masih ada: diajarkan di sekolah dan mendapat pengakusan secara sosial-politik-kultural. Maka, kita menduga belum ada pengajaran bahasa Indonesia atau pembuatan buku pelajaran bahasa Indonesia setelah 1928 dan masa 1930-an. Jadi, pengajaran bahasa Melayu tetap terselenggara di sekolah-sekolah.

Buku itu sebenarnya selesai disusun pada 1926. Artinya, buku ada duluan sebelum Kongres Pemuda II (1928). Buku disusun oleh tim, yang kita tidak dapat mengetahui nama-namanya. Pada 1930, buku cetak ulang kedua, yang memuat keterangan: “Lain dari pada itoe banjak peribahasa dana pepatah jang koerang oemoem, ditinggalkan, tidak dimasoekkan lagi kedalam tjetakan jang kedoea ini. Setengahnja ada jang diganti dengan jang lebih oemoem.” Apa arti “oemoem” yang tercantum dalam kamus-kamus masa 1920-an dan 1930-an?

Buku pelajaran itu memang ramai dengan petikan-petikan dari sastra lama. Para murid yang belajar bahasa Melayu juga mendapat contoh dari  buku-buku terbitan Balai Poestaka masa 1920-an. Yang “modern” mungkin mulai diperlukan dalam pengajaran bahasa Melayu, yang belum dinamakan bahasa Indonesia.

Yang dikutip dari novel (saduran) berjudul Si Djohan dan Djamin agak mudah terbaca oleh kita yang hidup dalam abad XXI: “Pada soeatoe hari, ketika matahari hendak masoek keperadoeannja, hawa jang panaspoen bertoekarlah mendjadi agak sedjoek dan angin jang lemah lemboet bertioep sepoi-sepoi dari arah tenggara, pokok kenari jang besar-besar dengan tingginja, pada kiri kanan djalan besar menggerakkan ranting dan daoen-daoennja ditioep angin itoe gemoelai-gemoelai seolah-olah bersoeka hati karena matahari jang memantjarkan tjahajanja jang panas itoe, soedah hendak terbenam kebalik laoet Djawa jang lebar, dan hawa oedara pada waktoe petang hari itoe sedap dan njaman rasanja.” Yang belajar bahasa memang merasa asyik bila bersumber teks-teks sastra. Kita yang membaca petikan itu dibikin senewen. Peristiwa yang biasa terjadi dibahasakan secara panjang dan indah.

Setelah pemuatan bacaan, para murid diminta mengganti kata-kata. Artinya, ada ajakan belajar sinonim. Bacaan yang indah sengaja diajukan agar murid-murid berani memberi jawaban-jawaban. Yang dicantumkan dalam buku: “Kata peradoean itoe perkataan sehari-harikah? Tahoekan engkau lagi kata-kata jang seperti itoe?” Pada masa sekarang. “peradoean” atau “peraduan” masih hidup dalam bahasa Indonesia. Kita kadang tanpa sadar menggunakannya mirip dengan apa yang ada dalam bacaan di buku berjudul Melajoe Oemoem. Selanjutnya, ada pertanyaan: “Perkataan istirahat itoe perkataan apakah itoe? Tahoekah poela engkau beberapa perkataan Arab jang lain jang terpakai dalam bahasa Melajoe?”

Kita sekarang membaca kutipan yang diambil dari Hikajat Abdoellah. Bacaan lama yang memerlukan kecermatan: “Sejogianja bahwa mengabil ibarat kiranja, hai saudarakoe jang berboedi, akan segala perkara jang amat dahsjat jang terseboet itoe. Akan mendjadi soeatoe peringatanlah bagi segala orang jang hendak mentjari orang kepertjajaan dan jang boleh tempat diharap lagi amanat. Maka adalah perkara jang demikian itoe mahal dibeli soekar ditjari pada zaman ini.” Belajar bahasa, belajar “jang sama atau bersamaan” artinja. Bahasa Melajoe pada masa lalu menampilkan kata-kata yang berasal atau dipengaruhi dari bahasa Arab.

Yang kita baca adalah buku yang terbit pada 1930. Bahasa Indonesia sudah ada tapi yang dipelajri murid-murid adalah bahasa Melayu. Artinya, bahasa Indonesia adalah penamaan bagi yang berkesadaran politik dan kebudayaan “baroe”. Kaum muda itu masih menantikan waktu yang lama agar terjadi pengajaran bahasa Indonesia di sekolah.

Situasi masa 1920-an dan 1930-an mungkin mengandung kebingungan dan perselihan bagi yang menyebut bahasa Melayu dan bahasa Indonesia. Pada akhirnya, sebutan bahasa Indonesia makin dipentingkan dan kuat saat masa pendudukan balatentara Jepang: 1942.

____________________

Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.

Terjemahan

Sidang Pembunuhan (Bagian 1)

Charles Dickens

Aku selalu merasa bahwa di dalam diri manusia, bahkan yang paling cerdas dan terpelajar sekalipun tersembunyi ketakutan purba. Ketakutan itu muncul ketika mereka harus menyingkap pengalaman batinnya sendiri, terutama pengalaman yang ganjil dan melampaui logika. Hampir semua orang gentar membayangkan pengakuannya terapung di samudra batin pendengar tanpa pantulan. Mereka takut kisah itu dicurigai, atau lebih menyakitkan lagi, bila ditertawakan.

Seorang pengelana yang jujur, yang pernah menyaksikan makhluk luar biasa menyerupai naga laut, mungkin tidak segan menceritakan temuannya. Namun, jika pengelana itu pernah diganggu firasat aneh, desakan batin yang tak masuk akal, kilasan penglihatan, atau mimpi yang menorehkan cahaya asing di kepalanya, ia akan ragu. Ia mungkin bahkan tercekat sebelum berani mengakuinya.

Aku percaya bahwa dari keengganan semacam itu, lahir kabut yang menyelimuti pengalaman-pengalaman batin. Kita jarang menuturkan pengalaman batin sebagaimana kita menuturkan pengalaman jasmani. Tidak heran jika pengetahuan kita tentang kerajaan jiwa menjadi terpecah dan cacat. Seperti peta yang dilukis dengan tangan gemetar: ada laut di sana, namun kita hanya mengetahui namanya, tanpa memahami arusnya.

Apa yang hendak kuceritakan ini bukanlah pernyataan teori. Bukan pula sanggahan atau pembelaan atas teori mana pun. Aku hanya ingin menuturkan sesuatu sebagaimana adanya, tanpa menegakkan menara kebenaran di atasnya.

Aku tahu kisah tentang Si Penjual Buku dari Berlin. Aku juga telah mempelajari peristiwa yang menimpa istri mendiang Ahli Astronomi Kerajaan sebagaimana ditulis Sir David Brewster. Bahkan, aku pernah mengikuti dengan teliti sebuah perkara yang jauh lebih aneh: sebuah ilusi spektral yang menimpa seorang perempuan dalam lingkar pertemanan pribadiku.

Perlu kutegaskan, perempuan itu sama sekali bukan kerabatku. Ia tidak dekat denganku, bahkan tidak ada hubungan darah sama sekali. Jika ada yang mengira demikian, sangkaan itu bisa saja mengaburkan bagian dari kisahku sendiri. Hanya sebagian kecil, tentu saja, dan itu pun akan menjadi penjelasan yang sepenuhnya keliru. Tidak ada pewarisan sifat aneh di tubuhku. Tidak ada penyakit jiwa yang menyelinap dari leluhur. Sebelum peristiwa itu, aku belum pernah mengalami apa pun yang serupa. Sesudahnya pun, tak pernah lagi.

Entah sudah berapa tahun lalu, di Inggris pernah terjadi satu pembunuhan yang menggemparkan negeri. Tak perlu kusebut kapan tepatnya, karena di dunia ini nama-nama para pembunuh selalu muncul seperti gelembung busuk dari dasar rawa. Satu mengapung, satu tenggelam, dan dunia selalu menyebut mereka dengan gairah yang tak pantas. Kalau bisa, aku ingin mengubur kenangan tentang makhluk bejat itu sedalam jasadnya yang kini ditanam di Penjara Newgate.

Jangan berharap aku memberi isyarat sekecil apa pun tentang siapa dirinya. Biarlah ia tetap tanpa nama, karena yang ingin kukisahkan bukanlah si pembunuh. Yang ingin kuceritakan adalah apa yang tertinggal setelah pembunuhan itu mengendap di ruang batin seseorang.

Ketika pembunuhan itu pertama kali terungkap, tak ada kecurigaan. Lebih tepatnya, tak pernah ada bisikan pun di ruang publik yang menunjuk pada lelaki yang kemudian diadili sebagai pelakunya. Surat kabar kala itu tak menyebut namanya. Mereka tidak melukis wajahnya, bahkan tidak menyinggungnya sekilas pun. Maka sudah semestinya diingat: tak mungkin ada deskripsi tentang dirinya di benak siapa pun ketika peristiwa itu baru terbongkar.

Pagi itu, saat sarapan, aku membuka lembar koran yang memuat laporan tentang penemuan mengerikan itu. Beritanya menggigit, seperti tangan dingin yang menelusup ke dada pembacanya. Kubaca sekali, dua kali, lalu tiga kali—entah karena penasaran, atau karena sesuatu yang tak kukenal mulai menuntun mataku.

Di sana tertulis bahwa pembunuhan itu ditemukan di sebuah kamar tidur. Ketika koran itu kulipat, seolah ada sesuatu menyambar dari dalam kata-kata. Sebuah kilat, atau arus, atau semburan—aku tak tahu nama yang tepat baginya, sebab bahasa terasa terlalu miskin untuk menyebut apa yang kuhadapi. Dalam sekejap itu, aku melihat kamar tidur itu melintas di ruangku sendiri. Bukan sekadar terbayang, tapi benar-benar melintas, seperti lukisan yang dipaksa mengalir di atas sungai yang bergerak.

Bayangan itu hanya sekejap, nyaris tak mungkin diukur oleh waktu. Tapi kejernihannya mutlak. Aku melihat ranjangnya, jendelanya, lantai yang memantulkan cahaya abu-abu. Yang paling jelas, mungkin karena aku mengharapkan kelegaan darinya, adalah ketiadaan mayat di atas ranjang itu. Yang ganjil justru: dalam ketiadaan itu, seolah sesuatu baru saja dimulai.

Bukan di tempat romantis aku mengalami keganjilan itu, melainkan di kamarku di Piccadilly, dekat tikungan St. James’s Street. Tempat biasa, dunia nyata, tanpa kabut misteri. Tapi di sanalah sesuatu yang asing menubuh di benakku. Aku duduk di kursi malas ketika getaran itu datang, getaran halus yang membuat kursi bergeser sendiri, seolah lantai ikut menggigil. (Meski harus kuakui, kursi itu memang bertumpu pada roda kecil yang mudah meluncur.)

Kepalaku berdenyut. Aku bangkit dan melangkah ke jendela. Ada dua jendela di kamar itu, dan kamar itu terletak di lantai dua. Aku ingin menyegarkan pandangan dengan melihat kehidupan yang bergerak di jalan Piccadilly. Pagi itu, musim gugur tengah bersinar paling terang. Udara menggigit namun cerah. Angin dari taman berhembus deras dan menurunkan hujan daun yang kemudian berputar dalam pusaran angin, seperti menara rapuh dari emas kering.

Ketika pusaran itu runtuh, mataku menangkap dua sosok lelaki di seberang jalan. Mereka berjalan dari barat ke timur. Satu di depan, satu di belakang. Lelaki yang di depan beberapa kali menoleh dengan gelisah ke arah bahunya, sementara lelaki di belakang mengikutinya dari jarak tiga puluh langkah. Tangan kanannya terangkat tinggi, menuding atau mengancam—aku tak tahu.

Ada sesuatu yang menggetarkan dalam pemandangan itu: sikap ancam yang begitu mantap di tengah jalan umum yang ramai. Lebih aneh lagi, tak seorang pun memperhatikannya. Orang-orang berlalu di antara mereka dengan mulus, seolah dua sosok itu tidak benar-benar ada. Tak ada yang menyingkir, menyentuh, atau sekadar menoleh.

Ketika mereka melintas tepat di bawah jendelaku, keduanya mendongak serempak dan menatapku. Tatapan mereka tajam, dan wajah-wajah itu terukir jelas di ingatanku, seolah dilukis dengan tangan dingin malaikat maut. Aku tahu, andai bertemu mereka di dunia mana pun, aku akan mengenali keduanya. Meski kalau kupikir-pikir, tak ada yang sungguh istimewa pada wajah itu. Kecuali, lelaki di depan tampak suram seperti awan badai yang menahan hujan. Sedangkan lelaki di belakang memiliki wajah sewarna lilin kotor—pucat, lembap, dan tak berjiwa.

Aku seorang lajang. Seluruh isi rumahku hanya dua orang: pelayanku dan istrinya, pasangan yang setia menjaga ritme sunyi hari-hariku. Aku bekerja di sebuah cabang bank. Jabatan resmiku adalah kepala sebuah departemen. Gelarnya terdengar ringan, nyaris terhormat, tapi beban di baliknya, percayalah, lebih berat dari yang dibayangkan orang-orang yang tak pernah menimbang hidup dengan angka dan tanda tangan.

Musim gugur tahun itu menahanku di kota. Padahal tubuhku merindukan perubahan, bukan karena aku sakit, tapi karena aku tidak benar-benar sehat. Ada kelelahan yang tak bisa diukur dengan suhu tubuh, semacam jemu yang menempel di urat nadi. Perasaan bahwa hidupku adalah garis datar yang terlalu panjang, tanpa kejutan, tanpa luka baru.

Kau boleh menyebutnya kejenuhan, atau seperti yang pernah dibilang dokterku—seorang tabib ternama yang gemar menulis laporan panjang tentang kesehatan manusia yang kehilangan makna—“dispepsia ringan.” Begitulah istilahnya: sopan, nyaris tak berbahaya. Aku masih menyimpan surat jawabannya, tertulis dengan tangan rapi, dingin, dan terlalu masuk akal. Di situ ia menegaskan bahwa keadaan kesehatanku saat itu “tak cukup buruk untuk diberi nama lain.”

Tapi aku tahu, yang terasa sakit bukan perutku, melainkan hidupku sendiri, yang mulai kehilangan rasa.

Ketika kisah tentang pembunuhan itu perlahan-lahan tersingkap, menyusup ke setiap koran dan percakapan di kedai-kedai kopi, aku justru berusaha menjauh darinya. Dunia seakan haus darah, dan aku menutup telingaku agar tak ikut mabuk dalam riuhnya. Aku menolak tahu lebih dari yang perlu. Namun kabar-kabar pokok tetap tak bisa dihindari: sang tersangka telah resmi dituduh melakukan pembunuhan dengan sengaja, dan ia telah dikirim ke Penjara Newgate untuk menunggu persidangan.

Aku juga tahu bahwa sidangnya ditunda satu kali oleh Pengadilan Kriminal Pusat. Alasannya tampak masuk akal: prasangka publik yang terlalu pekat dan waktu pembelaan yang belum siap. Aku mungkin tahu, atau mungkin tidak, kapan sidang yang tertunda itu akhirnya akan digelar. Ingatanku samar, seperti kalender yang direndam air dan kehilangan tinta tanggal-tanggalnya.

Kamar dudukku, kamar tidurku, dan ruang ganti pakaianku berada di lantai yang sama. Ruang terakhir itu hanya bisa dicapai lewat kamar tidur. Ada satu pintu lain di sana, dulu menghubungkan ruang ganti itu dengan tangga, tetapi sejak beberapa tahun sebelumnya pintu itu telah dimatikan. Pintu itu ditutup papan, dipakukan, lalu ditutup kanvas. Sebagian perlengkapan bak mandiku bahkan dipasang melintang di sana, seolah sengaja menutup jalan bagi apa pun yang ingin masuk atau keluar.

Semuanya tampak biasa saja—rapi, teratur, masuk akal. Tapi kini, ketika aku mengingatnya, aku merasa seolah papan, paku, dan kanvas itu bukan sekadar penyekat ruang. Mereka seperti penyegel nasib, penutup yang disiapkan untuk sesuatu yang kelak akan berusaha masuk dari sisi lain, dari dunia yang tak punya tangga, tapi punya jalan sendiri menuju kamar manusia.

Malam itu larut. Aku berdiri di kamar tidur dan memberi beberapa petunjuk kepada pelayanku sebelum ia pergi beristirahat. Wajahku menghadap ke satu-satunya pintu yang menghubungkan kamar itu dengan ruang ganti, pintu yang tertutup rapat. Punggung pelayanku membelakanginya.

Aku masih berbicara ketika pintu itu perlahan terbuka. Engselnya tak berderit, tapi udara di ruangan tiba-tiba seperti menahan napas. Di celah pintu yang terbuka itu, seorang lelaki menatapku. Tatapannya begitu menyengat, menembus kulit dan waktu. Lalu ia mengangkat tangannya, memberi isyarat agar aku mendekat. Isyarat itu sunyi, tapi keras, seperti panggilan di dalam kepala.

Aku mengenalnya. Itu wajah yang sama—lelaki kedua yang dulu kulihat di Piccadilly, yang mukanya sewarna lilin kotor.

Begitu ia memberi isyarat, ia mundur. Pintu menutup kembali, lembut namun pasti, seolah tak pernah terbuka sama sekali. Tanpa berpikir panjang, aku menyeberangi kamar dan membuka pintu ruang ganti, lilin menyala di tanganku. Aku tidak merasa takut, dan tidak pula berharap menemukan sosok itu di dalam. Dan benar, di sana kosong, hanya udara dingin dan bau sabun dari bak mandi yang lama tak dipakai.

Aku berbalik dan sadar bahwa pelayanku masih terpaku, matanya membesar. Aku berusaha menertawakan situasi itu, mencoba menjinakkan ketakutan dengan kata-kata:
“Derrick, kau akan mengira aku gila kalau kubilang barusan aku merasa melihat—”

Belum sempat kusempurnakan kalimat itu, tanganku menyentuh dadanya. Tubuhnya gemetar hebat, seperti tersengat listrik yang tak berasal dari dunia ini. Ia menatapku dengan wajah pias, dan suaranya keluar terbata, diseret dari kedalaman yang dingin:
“Oh, Tuhan… iya, Tuan! Aku juga melihatnya—seorang mayat yang memanggil Tuan!”

Aku tak percaya bahwa John Derrick, pelayanku yang setia lebih dari dua puluh tahun, benar-benar melihat sosok itu sebelum aku menyentuhnya. Perubahannya begitu mendadak, begitu mengerikan. Seolah sesuatu telah berpindah dariku kepadanya lewat sentuhan itu. Aku yakin, dengan cara yang tak bisa dijelaskan oleh ilmu mana pun, bayangan itu menular ke dalam dirinya melalui diriku sendiri—seperti api yang menyambar tanpa cahaya.

Aku menyuruh Derrick mengambil sedikit brendi. Kuminum segelas, lalu kuberikan pula satu teguk untuknya. Kami duduk lama tanpa kata. Udara kamar terasa lebih berat dari sebelumnya. Malam itu, aku tak menceritakan sedikit pun tentang apa yang terjadi sebelumnya—tak tentang Piccadilly, tak tentang tatapan mata sewarna lilin itu. Aku hanya diam, mencoba menata logika dari sesuatu yang tak masuk akal. BERSAMBUNG

___________________

Judul asli: The Trial for Murder

___________________

Penulis: Charles John Huffam Dickens (7 Februari 1812 – 9 Juni 1870). Penulis roman ternama dari Inggris.Penulis yang terkenal dan terbaik pada era Victorian. Selain itu ia juga seseorang yang aktif melakukan perkerjaan sosial.

____________________

Penerjemah: Erna Surya. Penulis yang berprofesi sebagai seorang guru.

Cerpen

Tiang Rumah

Cerpen Erna Surya

Ibu selalu berbicara hal-hal yang acak. Kadang ia menggumam seperti tukang ramal yang baru bangun tidur, kadang suaranya lirih seperti doa orang lapar, kadang ledakannya membuat kami semua menoleh dengan ngeri. Dari mulutnya, suatu kali keluar kalimat yang tak pernah bisa hilang dari telingaku:

“Suatu saat, tiang di rumah ini akan ambruk. Bukan karena kayunya rapuh. Tapi karena pertengkaran kalian.”

Kami semua terdiam waktu itu. Bapak mendengus, kakak perempuanku pura-pura sibuk mengaduk teh, adikku malah cekikikan seolah ibu sedang melucu. Aku sendiri hanya menatap tiang kayu jati di ruang tengah. Tinggi, kokoh, sudah berdiri lebih dari empat puluh tahun. Tiang itu dulu dibeli bapak dari hasil menabung setahun. Konon, kayu jatinya diambil dari hutan yang dikeramatkan. Kata tetua desa, kalau tiang itu roboh, bukan hanya rumah yang hancur, tapi juga keluarga.

Sejak ibu mengucapkan kalimat itu, aku selalu membayangkan tiang tersebut tumbang pelan-pelan, menghantam meja makan, menimpa tubuh salah satu dari kami. Siapa? Aku tidak tahu. Tapi aku percaya, ibu tidak sedang bercanda.

Di keluarga kami, ibu memang seperti radio rusak yang sesekali memutarkan lagu jernih. Kebanyakan kata-katanya membingungkan. Kadang ia mengoceh tentang kucing tetangga yang bisa bicara bahasa Belanda, kadang ia menyuruh kami menyiapkan piring tambahan di meja makan karena katanya “ada tamu tak kasat mata.” Tapi di antara semua keanehan itu, selalu ada satu-dua kalimat yang terasa seperti nubuat.

Contohnya, tiga tahun lalu ia berkata: “Jangan simpan uang di bawah kasur, nanti tikus datang.” Bapak menertawakan. Seminggu kemudian, benar saja, uang tabungan yang disembunyikan di bawah kasur digerogoti tikus sampai sobek tak karuan.

Atau ketika ibu berkata: “Hati-hati sama air sumur, ada yang menunggu di sana.” Besoknya, seorang tetangga ditemukan meninggal setelah tercebur ke sumur.

Kami mulai belajar, di antara ribuan kata acak yang ia keluarkan, selalu ada yang jadi kenyataan. Itu sebabnya kalimat tentang tiang rumah yang akan ambruk membuatku resah.

Keresahan itu makin jadi ketika bapak mulai sakit-sakitan. Jantungnya lemah, tensinya naik-turun. Di rumah, kami sudah mulai membicarakan warisan: sawah yang tinggal secuil, rumah dengan tiang jati itu, dan perhiasan emas ibu yang katanya dulu hadiah dari kakek.

Warisan memang seperti gula untuk semut-semut lapar. Baru disebut saja, semua sudah saling menatap penuh curiga.

Kakakku, Sari, dengan terang-terangan bilang rumah ini harus jadi miliknya karena ia anak sulung. Adikku, Jono, bilang sawah itu haknya karena dia yang mau bertani, sementara aku—yang kebetulan kerja sebagai guru di kota—dituduh sudah punya penghasilan sendiri sehingga tak boleh kebagian apa-apa.

Aku tersenyum getir. Bukankah rumah ini juga tempat aku lahir? Bukankah tiang jati itu juga saksi bagaimana aku belajar merangkak, jatuh, berdiri lagi?

Tapi aku tidak berkata apa-apa.

Ibu hanya duduk di kursi rotan, rambutnya berantakan, sambil bergumam: Tiang itu. tiang itu.”

Malam itu, aku bermimpi buruk. Aku melihat tiang rumah kami benar-benar roboh. Bukan karena rayap, bukan karena angin, tapi karena tangan-tangan kami sendiri yang mendorongnya sambil berteriak soal warisan.

Aku terbangun dengan keringat dingin. Dari ruang tengah, terdengar suara ibu masih bergumam. Suaranya pelan, tapi jelas:

Tiang itu akan memilih, siapa yang harus dikorbankan.”

Pagi berikutnya, bapak jatuh pingsan saat hendak berangkat ke mushola. Rumah jadi riuh. Kami berlari ke sana kemari mencari bantuan. Ambulans datang terlambat, seperti biasa. Di rumah sakit, dokter berkata kondisi bapak kritis. “Jantungnya sudah lemah. Siapkan mental,” katanya dingin.

Berita itu seperti bel berbunyi: saatnya warisan dibicarakan serius.

“Kalau bapak nggak ada, rumah ini jelas jadi hakku,” kata Sari dengan suara bergetar, tapi matanya penuh bara. “Enak saja! Rumah bisa dijual, uangnya dibagi tiga. Aku butuh modal buat buka toko pupuk,” bantah Jono. Aku hanya duduk di ruang tunggu, memijit pelipis. Di antara isak tangis dan doa, aroma rebutan harta tercium lebih pekat dari bau obat-obatan rumah sakit.

Ibu tiba-tiba berteriak. “Tiang itu akan roboh! Kalian dengar? Tiang itu!”

Orang-orang di ruang tunggu menoleh. Sari buru-buru memeluk ibu, seolah ingin menutup mulutnya. Tapi aku tahu, kata-kata itu menggema di kepala kami semua.

Bapak meninggal tiga hari kemudian. Jenazahnya disemayamkan di ruang tengah, tepat di bawah tiang jati itu. Aku memandang tiang itu lama sekali. Seperti ada sesuatu yang berdenyut dari dalam kayunya.

Di sela doa, aku mendengar bisik-bisik Sari dan Jono. Tentang sertifikat rumah, tentang surat tanah, tentang emas ibu.

Ibu duduk di samping jenazah bapak, sesekali tertawa kecil, lalu tiba-tiba menangis. “Tiang itu akan roboh. Satu demi satu akan tertimpa. Tidak ada yang selamat,” katanya lirih.

Orang-orang menyebut ibu sudah tidak waras karena ditinggal bapak. Tapi aku merasa justru ia sedang paling waras di antara kami semua.

Setelah tujuh hari bapak dikuburkan, pertengkaran pecah. Di ruang tengah, di bawah tiang itu, kami bertiga saling berteriak.

Sari menuntut rumah. Jono menuntut sawah. Aku menuntut keadilan. Suara kami saling tindih seperti ayam jantan adu tarung.

Ibu menatap dari kursi rotan. Wajahnya pucat, matanya kosong.

“Kalau kalian rebutan, biar aku saja yang robohkan tiang itu,” katanya tiba-tiba.

Kami menoleh bersamaan. Ibu bangkit, berjalan gontai, lalu memeluk tiang jati itu. Tangannya meraba permukaan kayu seperti meraba tubuh orang yang sangat ia cintai. “Tiang ini sudah mendengar semua rahasia kita. Ia lebih tahu siapa yang berhak atas rumah ini daripada kalian.”

Jono menertawakan. “Bu, tiang itu cuma kayu. Bukan hakim.”
Sari menggeleng. “Sudah, jangan layani omong kosongnya.”

Aku tetap diam. Tapi entah kenapa, kata-kata ibu membuat punggungku merinding.

Hari-hari berikutnya, pertengkaran makin panas. Sari diam-diam mengurus akta tanah. Jono mulai menjual padi hasil panen tanpa sepengetahuan kami. Aku hanya menatap mereka dengan getir, lalu pulang ke kota dengan kepala pening.

Suatu malam, telepon berdering. Sari histeris di seberang. “Ibu jatuh! Dari kursi rotan! Kepalanya berdarah!”

Aku buru-buru pulang. Rumah ramai oleh tetangga. Di ruang tengah, kulihat ibu terbaring di lantai, tepat di bawah tiang jati.

“Dia tadi bicara sendiri, lalu tiba-tiba roboh,” kata salah satu tetangga.

Aku melihat wajah ibu pucat, bibirnya bergerak-gerak. Aku mendekat. Dengan napas tersengal, ia berbisik: Tiang itu sudah memilih. Tinggal menunggu waktu.”

Ibu selamat. Luka di kepalanya dijahit. Tapi sejak itu ia hanya bisa berbaring di kamar. Suaranya makin acak, tapi selalu kembali ke satu hal: tiang yang akan roboh.

Sementara itu, pertengkaran warisan berubah jadi peperangan. Sari menggembok lemari yang berisi emas ibu. Jono mengancam akan melaporkan Sari ke polisi karena memalsukan tanda tangan bapak. Aku, yang tadinya berusaha netral, akhirnya terseret juga. Aku menuduh mereka serakah, mereka menuduhku munafik.

Rumah itu tidak lagi rumah. Ia seperti gelanggang sabung ayam.

Dan di tengah gelanggang itu, tiang jati berdiri tegak, seolah menunggu saatnya tumbang.

Puncaknya terjadi malam itu.

Aku baru saja tiba dari kota ketika kudengar teriakan. Di ruang tengah, Sari dan Jono berkelahi. Mereka saling tarik rambut, saling dorong. Di meja makan, emas ibu berserakan.

“Aku yang berhak!” teriak Sari. “Emas ini hasil sawah, sawah itu hakku!” balas Jono.

Aku mencoba melerai. Tapi tiba-tiba tubuhku ikut terseret. Kami bertiga bergulat, saling dorong, saling teriak.

Dan entah bagaimana, tubuh kami menghantam tiang jati itu.

Suara retak terdengar. Pelan. Seperti tulang yang patah.

Kami semua terdiam. Tiang itu bergoyang.

“Ibu benar,” bisikku.

Tiang itu benar-benar roboh.

Aku tak pernah bisa melupakan suara kayu jati berderak, lalu tumbang menghantam lantai. Debunya mengepul, lampu gantung berayun, dan suara jeritan bercampur jadi satu.

Sari terjepit. Jono terlempar. Aku sendiri tertatih dengan bahu memar.

Tetangga berdatangan. Mereka menolong, mengangkat tiang, menarik tubuh Sari yang pingsan. Jono berteriak histeris. Aku terduduk, menatap reruntuhan.

Dari kamar, suara ibu terdengar jelas untuk pertama kalinya tanpa acak:
Aku sudah bilang. Tiang itu bukan roboh karena rapuh. Tapi karena kalian.”

Sejak malam itu, rumah benar-benar hancur. Bukan hanya karena tiang roboh, tapi karena keluarga kami pecah. Sari menuntut Jono di pengadilan. Jono menuduh aku yang merobohkan tiang. Aku menuduh mereka berdua penyebab semua ini.

Ibu akhirnya meninggal dua bulan kemudian. Di pemakamannya, hanya ada sedikit pelayat. Orang-orang sudah muak dengan pertengkaran kami.

Dan aku, setiap kali menatap tanah kubur ibu, selalu mendengar bisikannya: Tiang itu sudah memilih.

Kini rumah itu tinggal puing. Sawah sudah dijual. Emas entah di mana. Kami bertiga tak pernah lagi bertemu.

Tapi aku masih sering memimpikan tiang jati itu. Berdiri tegak. Menatapku. Menunggu aku mengaku siapa sebenarnya yang paling serakah di antara kami.

Dan aku selalu terbangun dengan perasaan ngeri: mungkin tiang itu belum benar-benar roboh. Mungkin ia hanya pindah ke dalam tubuh kami masing-masing. Menunggu saatnya kembali ambruk, sekali lagi, untuk menelan habis sisa-sisa keluarga.

___________________

Erna Surya. Penulis dari Klaten, juga seorang guru.

Ragam

AKHIRNYA, BUKU TIDAK SIA-SIA

Oleh Ferdi

Jarum jam belum setengah jalan menuju angka 9 ketika dia datang. Pemuda itu adalah pemustaka pertama pagi ini, Selasa, 21 Oktober 2025. Setelah memberi salam, ia mengutarakan maksud kedatangannya: ingin mengembalikan buku, lalu meminjam buku lainnya.

“Apa maksudnya ‘darah lebih kental daripada air?’,” ia bertanya setelah meletakkan buku berjudul The Orange Girl garapan Jostein Gaarder di mejaku.

Dalam kenyataannya, darah memang lebih kental daripada air. Juga kelihatan perbedaannya kalau kita menonton film-film yang ada darah-darahnya. Begitu tanggapanku. Spontan saja.

Setelah diam sejenak dan memberi paraf di buku daftar peminjaman, aku balik bertanya. “Kalau ditilik secara harfiah memang begitu. Namun, mungkin saja penulis memakai kalimat itu sebagai kiasan. Apa konteksnya?” Siapa tahu, dengan mengetahui sedikit penggalan cerita, bicaraku bisa lebih banyak.

Ia lalu bercerita tentang seorang tokoh lelaki berumur tua. Sosok yang baik hati. Seseorang dalam cerita berujar bahwa “darah lebih kental daripada air”, merujuk pada si lelaki tua.

Entah, apa maksudnya, kataku menyerah. Payah.

Buku yang diterbitkan Mizan itu memang belum kubaca meski sudah termiliki sejak pengujung Desember 2018. Buku yang telah lama tidur nyenyak berselimut debu.

Buku yang sempat kuabaikan. Pernah mendekam di sebuah kamar asrama di Solo. Lalu di sebuah rumah dekat alun-alun Sukoharjo selama 3 bulan. Berlayar lewati ikan-ikan dan batu karang ke pelabuhan di Makassar. Berlanjut menghuni rumah tak jauh dari kantor Bupati Mamuju, hingga mendekam di salah satu rumah dengan cicilan 20 tahun di atas gunung. Perjalanan panjang sebelum bertemu pembacanya, seorang murid di sekolah tempatku mengajar.

Seandainya buku itu tidak menghuni lemari (bukan rak) buku di perpustakaan sekolah, maka ia akan tersia-siakan.

Tapi, tidak. Syukurlah.

Setelah percakapan singkat itu, dia lekas mencari buku lain. Tak lama, seperti dugaanku, dia datang dengan menenteng buku karangan Jostein Gaarder yang lain. Judulnya The Puppeteer. “Buku yang bagus,” kataku dengan yakin. Selain buku itu, belum ada karangan lain dari penulis bestseller Dunia Sophie  itu yang pernah kubaca.

Aku semakin tidak yakin manakah yang lebih benar: pembaca yang menemukan buku atau buku yang menemukan pembacanya. Yang aku tahu, si pemuda dan si gadis jeruk akhirnya bertemu di perpustakaan sekolah.

___________________

Ferdi. Pemuja buku, tinggal di Mamuju

Curhat

Seorang Penerjemah Gabut dan Wallpaper yang Menatap Balik

Curhat Erna Surya

Hari itu seharusnya jadi hari yang damai. Tidak ada pekerjaan, tidak ada tenggat, tidak ada drama hidup yang bikin kepala berat. Hanya saya, kasur, kipas angin, dan kesunyian yang terasa manis di lima menit pertama, lalu berubah jadi sepi yang menyebalkan di menit ke enam. Saya sudah memandangi langit-langit kamar cukup lama. Saya sudah menatap ponsel sampai mata rasanya seperti diperban notifikasi. Saya membuka semua aplikasi yang bisa dibuka, dari TikTok sampai Kalkulator, hanya untuk memastikan tidak ada keajaiban digital yang tiba-tiba menyelamatkan hari saya. Tapi tidak ada apa-apa. Dunia tetap datar, hidup tetap gabut, dan saya masih di posisi yang sama: berbaring di kasur sambil memikirkan kenapa manusia diciptakan dengan rasa bosan.

Akhirnya, di tengah kekosongan itu, muncul ide yang terdengar sangat mulia di kepala saya: “Aha! Menerjemahkan cerpen berbahasa Inggris!” Rasanya seperti pencerahan. Mungkin ini cara saya untuk sedikit produktif, menajamkan otak, dan menipu diri sendiri bahwa saya masih berguna untuk peradaban. Jadi, saya buka laptop, mengetik di Google: “short story in Gutenberg.” Lalu muncullah sederet judul, sebagian terlihat keren. Dan ada satu judul yang langsung menarik perhatian saya: The Yellow Wallpaper karya Charlotte Perkins Gilman.

Saya tidak tahu siapa Charlotte itu, tapi judulnya terdengar tidak mengancam. Wallpaper kuning, pikir saya, mungkin ini kisah lucu tentang interior rumah atau cat tembok yang gagal matching dengan sofa. Jadi, dengan penuh semangat palsu khas orang gabut, saya klik tautannya, membuka teks, dan mulai menerjemahkan kalimat pertama. Awalnya biasa saja. Ceritanya tentang seorang perempuan yang katanya sedang sakit dan disuruh istirahat oleh suaminya, yang kebetulan seorang dokter. Saya membaca sambil santai. Si tokoh utama ini tinggal di rumah besar, istirahat di kamar atas, dilarang melakukan apa pun karena “demi kesehatannya.”

Beberapa paragraf pertama terasa ringan. Saya bahkan sempat berpikir ini mungkin kisah romansa atau sedikit drama domestik. Tapi semakin saya baca, semakin muncul rasa aneh. Tokoh perempuan itu mulai bercerita soal dinding kamarnya yang dilapisi wallpaper warna kuning. Katanya, motifnya aneh. Tidak enak dilihat. Seperti ada sesuatu yang bergerak di dalamnya. Saya berhenti sebentar, menatap dinding kamar saya sendiri. Warnanya biru muda. Aman. Tidak ada yang bergerak, kecuali nyamuk yang sedang uji nyali. Saya lanjut membaca.

Paragraf demi paragraf berjalan. Si tokoh makin sering menyebut wallpaper itu. Katanya, “pola itu bergerak.” Saya mengetik hasil terjemahan: “The pattern moves, sometimes” menjadi “Pola itu kadang bergerak.” Lalu saya berhenti lagi. Pola yang bergerak? Dalam hati saya berkata, “Mbak, kamu ngantuk ya?” Tapi rasa penasaran membuat saya terus lanjut. Makin ke tengah cerita, suasananya berubah. Ada kalimat-kalimat yang terasa seperti bisikan dari ruang gelap kepala seseorang. Si tokoh yakin ada sosok perempuan di balik wallpaper itu. Perempuan yang bersembunyi, merangkak, berusaha keluar.

Saya yang awalnya santai, mulai tidak tenang. Otak saya membayangkan wallpaper kuning yang berdenyut pelan, seperti kulit makhluk hidup yang bernapas. Saya menatap dinding kamar saya lagi. Biru muda itu entah kenapa terasa agak kekuningan malam itu. Saya menarik napas dalam-dalam. “Tenang,” saya menenangkan diri. “Ini cuma cerpen, bukan film horor.” Tapi tentu saja imajinasi tidak bisa diajak logika. Di kepala saya, mulai muncul adegan absurd: perempuan dengan wajah pucat keluar dari dinding sambil berkata, “Tolong, wallpaper aku kusut.”

Saya lanjut membaca sambil menahan tawa karena mulai takut dengan diri sendiri. Tapi semakin dalam saya membaca, semakin saya merasa aneh. Saya mulai bertanya-tanya: apakah tokoh ini benar-benar gila? Atau jangan-jangan orang-orang di sekitarnya yang gila karena tidak mau memahami dia? Suaminya, yang dokter itu, melarang dia menulis, melarang dia bekerja, bahkan melarang dia merasa. Semua dengan alasan “ini demi kesehatanmu.” Saya tiba-tiba merasa relate. Bukan karena saya punya suami, tapi karena saya tahu rasanya ketika orang bilang, “Udah, jangan dipikirin, nanti juga hilang,” padahal justru itu yang bikin kepala makin sesak.

Saya berhenti menerjemahkan. Kopi saya sudah dingin, tapi saya masih terpaku pada kalimat si tokoh. Ada kalimat yang bilang dia ingin menulis tapi tidak boleh. Saya terdiam lama. Mungkin kegilaan memang sering lahir bukan dari pikiran yang rusak, tapi dari dunia yang tidak memberi ruang untuk kita bernapas. Dari situ saya mulai simpati. Saya ingin masuk ke dalam ceritanya, mengetuk pintu kamar si tokoh, dan bilang, “Mbak, aku bawa laptop, mau nulis bareng?” Tapi tentu saja saya cuma bisa duduk di depan layar, melanjutkan terjemahan, sambil merasa sedikit tidak stabil secara emosional.

Lalu tibalah saya di bagian akhir. Bagian yang bikin jantung saya berhenti sepersekian detik. Si tokoh benar-benar percaya ada perempuan di balik wallpaper itu. Ia mulai mengintip, mengamati, menunggu momen yang tepat. Dan akhirnya, ia merobek wallpaper itu. Ia ingin membebaskan perempuan yang terjebak di dalamnya. Saya menahan napas waktu membaca paragraf terakhir. Dan di sana tertulis bahwa perempuan yang ia lihat di balik dinding itu… ternyata dirinya sendiri.

Saya membeku. Saya menatap layar laptop seperti baru menemukan rahasia hidup yang tidak saya minta. Jadi selama ini, tokoh itu merasa dirinya sendiri terjebak di balik wallpaper itu? Saya merinding. Bukan karena seram, tapi karena rasanya saya juga pernah di posisi itu — terjebak di antara hal-hal yang saya tidak tahu bagaimana harus keluar. Bedanya, saya tidak punya wallpaper kuning, hanya tembok yang sudah kusam, tapi maknanya sama: kadang kita semua merasa terkurung di ruang kita sendiri.

Malam itu, setelah selesai menerjemahkan, saya tidak bisa tidur. Saya menatap tembok kamar. Semakin lama saya menatap, semakin saya merasa warna biru itu berubah jadi kuning pucat. Saya tahu ini efek sugesti, tapi tetap saja bulu kuduk saya berdiri. Saya akhirnya menyalakan lampu, membuka YouTube, mencari video kucing lucu untuk menetralkan suasana. Tapi tetap tidak bisa. Otak saya masih penuh bayangan perempuan merangkak di balik wallpaper.

Saya mulai sadar bahwa setiap orang sebenarnya punya “wallpaper kuning” masing-masing. Lapisan tipis yang menutupi hal-hal yang tidak ingin kita perlihatkan. Ada yang menutupinya dengan keceriaan palsu di media sosial. Ada yang menutupinya dengan kerja tanpa henti. Ada yang menutupinya dengan candaan setiap kali ditanya “kamu kenapa.” Dan saya mungkin menutupinya dengan terjemahan cerpen ini, seolah saya sibuk, padahal saya sedang lari dari rasa bosan dan cemas saya sendiri.

Saya menatap hasil terjemahan saya keesokan paginya. Tidak terlalu bagus, beberapa kalimat bahkan terasa kaku, tapi saya tersenyum. Karena di balik terjemahan itu, saya tahu ada sesuatu yang lebih dalam. Saya tidak cuma menerjemahkan bahasa Inggris ke bahasa Indonesia, tapi juga menerjemahkan kegilaan tokoh itu ke dalam kewarasan saya sendiri. Saya seperti ikut merobek wallpaper di kepala saya—lapisan tipis yang memisahkan antara “aku yang diam” dan “aku yang ingin bicara.”

Dan lucunya, dari semua hal yang saya pelajari hari itu, kesimpulan paling jujur justru sederhana: jangan membaca karya sastra psikologis waktu kamu lagi gabut sendirian. Apalagi kalau kamu punya imajinasi yang aktif tapi stok keberanian terbatas. Jangan juga menatap dinding terlalu lama. Kadang yang menatap balik bukan setan, tapi pikiranmu sendiri. Dan kalau kamu ingin merasa produktif, mungkin lebih aman mencuci piring daripada menerjemahkan cerpen abad ke-19 tentang kegilaan.

Tapi tetap, saya bersyukur sudah melakukannya. Karena dari kegabutan hari itu, saya menemukan sesuatu yang tidak saya duga: bahwa cerita bisa jadi cermin. Kadang yang kita kira cuma kisah orang lain, ternyata sedang memantulkan wajah kita sendiri. Saya menutup laptop, mematikan lampu, dan sebelum tidur saya sempat berkata pelan ke dinding kamar, “Terima kasih ya, sudah diam saja malam ini.”

Dan oh ya, sebagai puncak semangat (dan sedikit keberanian), saya akhirnya mengirimkan hasil terjemahan itu ke sebuah media yang katanya menerima karya terjemahan sastra. Sampai sekarang saya masih menunggu kabar, entah dimuat atau tidak. Kalau dimuat, mungkin saya akan pamer dengan tenang dan menulis status penuh kebijaksanaan di Instagram. Kalau tidak, ya… mungkin saya akan menyalahkan wallpaper kuning itu lagi. Jadi, doakan saja ya—semoga dimuat. Kalau tidak, minimal doakan supaya saya tidak menerjemahkan hal-hal berpotensi mengganggu lagi waktu gabut berikutnya.
___________________

Erna Surya. Penulis dan penerjemah sastra.

Belakang

SEBELUM 1945: PISANG, BAMBU, KELAPA

1942: nasib Indonesia sangat berubah. Kita percaya saja omongan dan bacaan sejarah, yang menyatakan 1942 adalah tahun getir. Indonesia tak lagi dalam cengkeraman pemerintah kolonial Belanda. Kejutan terjadi dalam hitungan hari. Indonesia berada di arus yang berbeda setelah kedatangan balatentara Nippon. Di buku pelajaran, kita mengetahui masa pendudukan Jepang, dimulai 1942 dan berakhir 1945.

Apa yang kita warisi dari masa kekuasaan Jepang yang pendek? Kita jawab saja: buku. Para pengamat sejarah biasanya menyebut Soeharto itu masuk dalam daftar warisan masa pendudukan Jepang. Ada lagi yang mencatat: upacara, rukun tetangga, berbaris, dan lain-lain. Kita menjawab warisan penting dari masa lalu itu buku. Jawaban yang sombong! Masa kekuasaan yang pendek memang menghasilkan buku-buku, yang tersisa sedikit untuk kita pegang dan pelajari.

Di kalangan peneliti sejarah dan kolektor, buku-buku terbitan masa pendudukan Jepang biasa berharga mahal. Anggapan langka digunakan gara-gara jumlah buku yang masih ada cuma sedikit. Mengapa terjadi penerbitan buku-buku? Konon, Jepang mengharuskan propaganda, yang bisa bergerak dan bertumbuh di kalangan sekolahan.

Buku yang masih bisa berada di tangan kita berjudul Ilmoe Toemboeh-Toemboehan. Buku yang diadakan oleh Kantor Pengadjaran, 1943. Buku digunakan oleh murid-murid di sekolah menengah pertama. Yang belajar di sekolah perlu mengetahui ilmu tumbuh-tumbunan, yang bagi Jepang bisa mendukung pemenuhan kebutuhan pangan atau membuat ilusi kemakmuran di Indonesia.

Siapa yang menyusun buku? Kita tidak menemukan nama-nama yang tercantum di lembaran-lembaran buku. Yang pokok adalah murid-murid masih berkutat dalam sains. Ilmu yang dipelajarinya sangat berguna dalam kepentingan akademik dan kejadian sehari-hari. Buku pelajaran yang tidak asal terbit tapi mendapat pemeriksaan dulu oleh pihak Jepang. Kita menduga buku pelajaran kadang berbahaya, yang menimbulkan perlawanan atau pemberontakan.

Kita membayangkan muri-murid yang belajar ilmu tumbuh-tumbuhan sering kelaparan. Pada masa pendudukan Jepang, pangan itu langka dan sulit. Beras disetorkan kepada tentara Jepang. Rakyat bingung mencari makanan. Imajinasi tentang Indonesia yang subur mendapatkan kebalikan-kebalikan. Murid-murid yang belajar pun menyadari penderitaan yang ditanggung banyak orang akibat perintah-perintah Jepang.

Buku dari masa kelam kita baca berbarengan Indonesia sedang berlagak sadar pangan. Kebijakan pemerintahan mengenai tumbuhan diberlakukan dengan janji-janji besar meski kita mengetahui kegagalan dan kelemahan. Tumbuhan itu tema besar abad XXI, yang menjadikan Indonesia wajib bermartabat bila mengingat warisan dan nasihat nenek moyang.

Kita berusaha menjadi murid masa 1940-an agar merasa takjub melihat isi buku pelajaran. Yang mula-mula dipelajari adalah pisang. Di buku, tercantum keterangan: “Pisang, toemboehan negeri panas ini, masoek bilangan sesoeatoe keloearga jang ketjil tapi penting. Djenisnja banjak dan sifat-sifatnjapoen sangat berlain-lainan. Pisang itoe ditanam orang baik ditanah rendah, ditanah pegoenoengan dan hampir terdapat disegenap pekarangan.”

Pisang memang mudah ditemukan di seantero Indonesia. Pisang mengisahkan rakyat yang membuat beragam olahan. Kita suka makan pisang goreng. Ada yang menggunakan untuk kolak. Orang lawas yang sakit, menggunakan pisang untuk bisa menelan obat. Segala tentang pisang menjadi sumber kebijaksanaan, bukan sekadar pangan.

Pisang mengiringi kebutuhan pangan jutaan orang di Indonesia. Pisang bukan makanan pokok tapi kita biasa menemukan adanya pisang di warung. Di hajatan pernikahan atau ritual, pisang pun dihadirkan. Pisang tidak bisa sirna dalam arus sejarah Indonesia. Namun, kita belum menemukan buku membahas sejarah (politik dan pangan) di Indonesia, yang mengandung bab-bab pisang. Yang mengalami masa Orde Baru mungkin ingat pernah diadakan lomba nasional: memasak beragam makanan berbahan pisang, yang memperebutkan Piala Tien Soeharto.

Kita melanjutkan pelajaran tentang bambu. Yang hidup di desa terkenang pelbagai benda yang dibuat dari bambu. Keluarga yang hidup miskin atau sederhana menghuni rumah yang dibuat dari bambu. Para penikmat suara seruling lekas mengingat bambu. Di babak sejarah, kita dibuat kagum adanya pasukan yang berbambu runcing. Pokoknya, bambu bergelimang cerita di Indonesia.

Di buku yang diterbitkan Kantor Pengadjaran, kita membaca keterangan: “Bamboe itoe amat bergoena kepada anak negeri, didjadikan pagar desa. Lain daripada itoe dipergoenakan oentoek pemboeat roemah, tetapi dapat poela diperboeat djadi pelbagai matjam perhiasan roemah, pakaian, perkakas, sendjata, bahkan perkakas boenji-boenjian. Daripada bamboe jang dibelah-belah diperboeat tikar, topi, kotak, kipas…” Indonesia itu negeri subur untuk pelbagai jenis bambu. Namun, julukan untuk Indonesia bukan “negeri bambu”.

Yang terkenal dari masa lalu adalah “negeri njioer melambai”. Kita biasa menemukannya dalam bacaan lawas atau lagu-lagu “tempo doeloe”. Orang-orang sekarang mungkin tidak mengetahui “njioer”. Padahal, ia biasa melihat atau mengonsumsi “njioer”. Kita membuka halaman-halaman lain dalam buku Ilmoe Toemboeh-Toemboehan.

Di halaman 97, kita membaca penjelasan: “Pohon njioer itoe sebaik-baiknja toemboeh dekat tepi pantai. Di Indonesia kelapa itoe adalah 20 matjam. Ada jang hidjau, ada jang koening atau jang kemerah-merahan boeahnja.” Nama lain dari “njioer” adalah kelapa. Kita sudah belajar banyak mengenai kelapa, yang disampaikan keluarga, guru, pengarang, dan ulama. Indonesia memang pantas belajar ribuan hikmah bersumber kelapa.

Yang kita ketahui, kelapa tidak selesai hanya berurusan kuliner. Hiasan dalam pesta pernikahan di Jawa mengingatkan pohon kelapa (janur). Alat-alat di dapur itu dibuat dari pohon kelapa. Gerakan kepanduan pun memilih simbol kelapa. Yang rajin menyapu pekarangan rumah pasti mengerti faedah pohon kelapa: sapu lidi.

Buku yang mengandung ilmu. Buku yang diipelajari saat Indonesia dijanjikan merdeka. Murid-murid belajar tapi kesusahan mendapatkan makanan. Buku yang mengumpulkan banyak keterangan tumbuhan-tumbuhan di seantero Indonesia. Yang belajar mendapatkan gambar dan foto, menguatkan keinginan paham tumbuhan, bukan kekuasaan.

Warisan dari masa pendudukan Jepang adalah buku. Pada 2025, kita membaca buku yang umurnya lebih tua dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kita boleh membayangkan murid-murid yang belajar Ilmoe Toemboeh-Toemboehan menjadi pelaku dan saksi sejarah di titik terpenting: 1945. Indonesia yang merdeka membutuhkan pangan.

Buku yang dipelajari di sekolah itu akhirnya berguna untuk Indonesia yang menghijau. Indonesia adalah album tumbuhan. Anehnya, buku yang apik itu tidak mendapat susulan atau bandingan pada masa sekarang. Murid-murid di SD, SMP, dan SMA makin enggan belajar ilmu tumbuhan. Mereka pun jarang menemukan tumbuh-tumbuhan di sekitar rumah atau sekolah.

___________________

Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.

Ragam

MALAM DAN BUKU

Hai, lelaki yang terkurung di kamar kusam. Lelaki yang terlarang gendut setelah bertahun-tahun hidup bersama udara kotor di Kleco. Tubuhmu sedang dihancurkan oleh asap dan debu. Kamar yang bergetar.

Hidupmu mustahil sunyi saat jalan besar mengarah ke Solo dan Kartasura itu hancur atau dihapus dari peta. Oh, dirimu memilih terus bertahan dengan segala khawatir dan kecewa.

Yang datang kepadaku adalah Gha, bukan dirimu. Di GOR Badminton (Blulukan), Jumat, 17 Oktober 2025, Gha datang membawa bukumu. Saat itu aku sedang mengetik di bawah lampun kuning. Aku biarkan Gha menikmati malam yang ramai oleh teriakan jamaah bulutangkis. Tulisan belum selesai tapi aku bolak-balik membuat beragam minuman untuk jamaah di lapangan.

Puluhan menit berlalu, aku berhasil membuka buku yang dibungkus plastik dan diplester. Buku yang dimanja plastik, yang ikut berdosa bila menghancurkan Bumi. Malam itu aku sengaja mendengarkan album jazz (Persia). Tubuhku yang lelah ingin pergi jauh oleh pendengaran. Maka, pilihanku adalah jazz rasa Persia. Beberapa hari sebelumnya, aku sengaja menikmati jazz (Spanyol), jazz (Italia), dan jazz (Arab).

Hai, Joko yang bukan Widodo, buku kecilmu berada di tanganku meski yang menyerahkan bukan tanganmu. Aku membayangkan tanganmu malu padaku. Malam itu tanganmu mungkin sedang mengetik esai atau memegang buku-buku yang bikin sesak kamar di Kleco. Dirimu memang intelektual yang tangguh, yang tidak membiarkan tangan hanya untuk rokok atau ponsel. Buktinya, ada buku kecil berjudul Alam Semesta dan Kebudayaan Berpengetahuan yang diterbitkan Press Mesin, 2025.

Buku enteng, bobotnya tidak sampai 1 kg. Aku mula-mula hanya memegang dan melihat beberapa halaman. Aku taruh bukumu di meja agar ikut mendengarkan jazz (Persia). Tanganku harus segera menyapu dan mengepel lapangan agar jamaah yang baru datang bergembira main bulutangkis. Tanganku yang kotor akhirnya berhasil membaca bukumu. Mataku memerlukan sorotan senter ponsel untuk memastikan kata-kata yang terbaca tidak salah.

Wah, buku yang menghibur! Namun, aku agak bingung: buku itu datang bareng seplastik beras. Dirimu takut aku kelaparan? Jadi, beras membuatku percaya besok bisa makan. Malam itu aku makan buku, belum makan nasi yang berasal dari pemberianmu. Nah, makan bukumu sedikit membuatku tertawa.

Joko Priyno, nama yang biasa tercetak di majalah Tempo dan Kompas, membuat buku yang bertema berat tapi daftar pustakanya ecek-ecek.

Seharusnya, buku itu dirimu hadiahkan kepada Prabowo Subianto yang bertambah umur. Jumat itu milik Presiden RI yang membuat seribu perintah untuk Indonesia yang linglung. Usulan lain adalah mengirimkan buku kepada Fadli Zon, yang sembrono membuat peringatan Hari Kebudayaan. Jadi, aku membaca bukumu bertepatan ulang tahun Prabowo Subianto dan perwujudan kebijakan Fadli Zon. Hari yang parah agar aku mengakui bukumu bermutu ketimbang buku-buku bertema sains terbitan KPG.

Halaman-halaman awal berisi kutipan dari buku cerita anak. Kurang ajar! Dirimu yang mengamati sains mulai percaya bahwa sastra anak adalah referensi penting, bukan cuma buku-buku berbahasa Inggris yang terbit di Amerika Serikat atau Eropa. Masalah planet, makhluk, dan Bumi yang ada dalam cerita gubahan Zubir Mukti dirimu tafsirkan dengan luwes agar pembaca memasalahkan manusia. Makhluk yang kadang berkuasa. Pada situasi lain, manusia itu bodoh dan bedebah. Aku senang dirimu mau berpihak cerita anak saat membabar sains dan kebudayaan. Buku itu dirimu beli 5 ribu rupiah di Gladag, Solo? Buku murahan tapi derajatnya tinggi gara-gara pemikiranmu.

Duh, Jok, aku terkecing-kencing membaca kalimatmu: “Kita terjerembab pada formalitas tanpa substansi dalam memaknai demokrasi.” Kalimat yang konyol. Istilah-istilah yang menyiksa pikiran. Aku menutup bukumu, berlari ke toilet. Aku ingin mengencingi kalimatmu!

Seharian, aku berada di GOR Badminton (Blulukan), kebanyakan minum. Konon, hawa di Indonesia sedang ganas-ganasnya. Aku minum banyak berakibat sering dolan ke toilet. Eh, kalimatmu menambahi masalah sehingga aku terpaksa ke toilet.

Bagaimana kalimat itu bisa dibuat di Kleco? Apakah saat mengetik ada truk bobrok yang lewat jalan yang lebih tinggi dari kamarmu? Dirimu memang sudah saatnya paham dan mahir menggunakan istilah-istilah menyeramkan dalam esai. Aku saja yang terlambat mengetahui dan ikhlas menerimanya.

Wahai, Joko Priyono yang pinter dan berkumis, aku suka dengan usahamu mengingatkan pembaca tentang peran Joko Widodo, yang seolah-olah berpihak sains. Dugaanku dirimu membuat kalimat setelah berhasil menghabiskan 6 batang rokok: “Ia beberapa kali menghadirkan diri pada masyarakat, tak terkecuali ke kalangan anak-anak dengan stimulus hadiah sepeda bagi yang mampu menyebutkan sepuluh nama ikan.” Bagimu itu tema yang penting banget dipikirkan demi kemuliaan Indonesia, bukan kesaktian Joko Widodo.

Yang sakti adalah dirimu! Di kamarmu, ada buku yang berjudul Memelihara Ikan (1984) garapan Meta Candra Satia, yang dirimu gunakan membahasa ikan, manusia, sains, kekuasaan, dan alam semesta. Dirimu tidak salah pilih buku atau salah baca buku. Jutaan orang Indonesia memang harus disadarkan agar paham ilmu ikan, bukan cuma makan pelbagai ikan di warung atau restoran. Oh, bukumu itu tidak bisa digoreng untuk dimakan bareng nasi!

Bukumu sementara ditutup lagi. Aku harus menunaikan kerja yang membuat keringat membasahi tubuh dan kaos. Bau tubuhku sudah kecut dan menyengat. Seharian tidak mandi! Malam itu aku masih meladeni jamaah-jamaah badminton yang berdatangan.

Sialnya, di lapangan sisi utara, aku melihat kaum muda yang berlagak intelektual sedang bermain bulutangkis selama dua jam sambil teriak-teriak dan ketawa-ketiwi. Di pinggir lapangan, aku melihat lelaki yang membaca bukumu. Aku berharap ia mencret setelah khatam bukumu. Ia akan tersiksa gaya bahasamu dan rentetan pemikiranmu yang mirip gerakan kodok. Beruntunglah, ia membaca sejenak saja. Di tangannya, tersisa rokok.

Ada lagi lelaki yang duduk di pinggiran membaca novel Isabel Allende. Lelaki bersepatu dan berkacamata yang ingin bisa menulis kritik sastra. Malam itu ia bersemangat memegang raket. Selingannya memegang buku dan gorengan. Dua lelaki yang salah tempat untuk membaca buku. Mereka itu temanmu yang belum sakti tapi aku percaya seratus tahun lagi mereka bakal menjadi intelektual tangguh di Indonesia bila masih ada.

Malam bertambah malam. Aku mengantuk tapi kerja belum selesai. Duduk di luar sambil memejamkan mata, aku mendengarkan lagu-lagu asmara. Telingaku kedatangan lagu-lagu: Satu-Satunya Cinta (Mahadewi), Simfoni Hitam (Sherina), Jadi Aku Sebentar Saja (Judika), Janji di Atas Ingkar (Audy), Penipu Hati (Tata Janeta), Aku Lelakimu (Virzha), Mendua (Astrid), dan lain-lain.

Deretan lagu bukan seleramu, Jok. Bila mau dengarkan saja lagu-lagunya Koil, Pas, atau Burgerkil. Eh, dirimu semestinta mendengar lagu yang berjudul “Jengah”. Bukumu yang aku baca apik tapi kurang ada lagu-lagunya. Pastinya telingamu tidak sedang kopok, yang abai lagu-lagu.

  Jok, aku masih mengantuk meski dihajar beberapa lagu. Akhirnya, aku membuka bukumu kembali. Aku bisa sedikit tertawa mengetahui dirimu menggunakan buku berjudul Buah-Buahan yang Lezat dan Menyegarkan (1976). Kecewa! Dirimu tidak mengaitkannya dengan menu untuk makan bergizi gratis yang diselenggarakan rezim Prabowo-Gibran. Dirimu hanya membahas kota, desa, pangan, dan sains. Oh, tulisanmu memang sudah agak lama tapi terbit setelah gegeran makan bergizi gratis.

Malam yang capek. Jok, yang membuat capek bukan bukumu. Aku justru gembira mengetahui keberanianmu membuat tulisan panjang yang disahkan sebagai buku. Aku merasa tidak sia-sia membaca bukumu yang sampulnya bergambar ikan berkepala manusia. Lucu! Bukumu bakal bercampur ribuan buku di rumahku yang makin berantakan.

Duh, aku berdoa kelak bukumu tidak mendapat tetesan hujan atau dihancurkan tikus. Bukumu harus aku bungkus dengan selusin plastik agar selamat dari debu atau rayap. [] Kabut

Cerpen

Delapan

Cerpen Septi Rusdiyana

Sora membolak-balik dua lembar bacon dan dua sosis ayam berukuran besar. Satu telur mata sapi setengah matang sudah lebih dulu mengisi piring. Sora suka telur mata sapi. Sebenarnya ia selalu ingin membuat dua. Tapi dua telur mata sapi jika disejajarkan akan membentuk angka delapan. Sora benci angka delapan. Dari dulu. Sejak kecil. Sejak malam saat ia melihat jam dinding panti asuhan menunjuk angka delapan. Di kamar sempit berisi delapan anak lain, pada delapan belas Agustus dua belas tahun lalu, saat usia Sora hampir delapan tahun. Betapa mudah Tuhan mengatur semesta beserta isinya hingga saling berkaitan. Sebuah kebetulan yang menakjubkan, bukan?

Sayangnya, bagi Sora, delapan bukan sekadar angka, melainkan kode. Kode yang tak terpecahkan. Bukan, bukan. Bukan tak terpecahkan, tapi memang tak mau dipecahkan. Di satu sisi Sora ingin menyerah. Lalu di sisi hatinya yang lain, Sora merasa familier dengan keadaan itu. Seperti teman lama tiba-tiba hadir membawa cerita yang tak selesai. Sora lelah. Ia sempat ingin malaikat maut menjemputnya. Tapi saat Sora mimpi seseorang mencekiknya hingga ia hampir kehabisan napas, ia justru bersyukur saat delapan detik berikutnya ia berhasil terbangun. Sejak itu, Sora tidak mau mencampuri hak prerogatif Tuhan perihal hidupnya.

Kembali pada Sora yang sedang membuat sarapan. Di rumah kontrakan Sora tidak ada kalender. Tapi ia tahu hari ini Jumat, tanggal delapan belas. Sora beruntung perusahaan tempatnya kerja mau berkompromi dengannya—mendapat hak libur pada tanggal yang mengandung angka delapan. Tentu saja ada konsekuensi—jika tidak jatuh di tanggal merah, maka Sora wajib masuk kerja di hari Minggu. Hal itu bukan masalah bagi Sora. Setiap tanggal delapan, delapan belas dan dua puluh delapan, Sora hanya akan di rumah saja. Tidak menonton televisi, apalagi bermain gadget. Sora menggambar, atau melukis, atau sekadar membaca buku dengan halaman-halaman yang tidak lagi utuh. Entah apa yang bisa Sora nikmati dari cerita yang banyak memiliki bagian hilang itu.

Sarapannya telah siap. Sora mengambil segelas jus jeruk dari kulkas. Meja makannya menghadap jendela. Dari tempat Sora duduk, ia bisa melihat barisan driver ojek online di depan ruko yang masih tutup, juga anjing kampung liar warna cokelat yang sering banyak orang panggil Odol, entah atas dasar alasan apa. Sora menikmati semua pemandangan itu. Ia bisa sangat lama menghabiskan sarapannya.

Sora suka warna merah. Meski begitu, ia tidak pernah menghitung jumlah mobil atau sepeda motor warna merah yang melintas di depannya. Tentu saja karena Sora tak suka angka delapan. Menurutnya, hitungan haruslah urut. Tak boleh meleset, apalagi melompat tak berurutan. Karena itu pula, menghitung adalah tabu baginya.

Sora menyantap sarapan sembari  menatap kosong ke arah jalanan. Sesekali mungkin tersenyum. Seperti kali itu, ada seorang anak kecil tertawa tanpa henti saat dipanggul ayahnya. Di sebelahnya, seorang wanita gemuk kesulitan mengambil uang receh yang mungkin tidak sengaja terjatuh. Pemandangan itu membuat Sora ingat dengan ayah dan ibunya. Kalau saja waktu boleh diputar, ia ingin kembali ke masa itu. Masa di mana Sora memaksa kedua orang tuanya untuk mengantar latihan silat di hari yang hujan.

Tiba-tiba suara klakson panjang melengking sesaat sebelum terdengar benturan. Kecelakaan tak terhindarkan. Dua orang terkapar di jalan. Orang-orang mulai berkerumun. Jantung Sora berpacu kencang. Ia tidak bernafsu menghabiskan sarapannya. Sora lari ke kamar. Meraih guling dan memeluknya. Erat sekali. Sama eratnya saat dulu Sora juga berada di pinggir jalan, memeluk tubuh ayahnya yang sudah kaku berlumur darah. Ibunya terpental agak jauh. Tidak ada darah, tapi ibunya meringkuk tak bergerak.

Sora ingat, saat itu kakinya mati rasa. Seseorang meraih dan menggendongnya menuju rumah penduduk. Banyak perempuan-perempuan iba. Mereka bilang Sora bocah malang. Saat itu Sora tahu jika kedua orangtuanya tidak sedang baik-baik saja. Saat Sora turut masuk di ambulans menuju rumah sakit, ia menyaksikan saat petugas medis berusaha menangkap detak jantung yang mencolot dari tubuh ayah ibunya. Perempuan-perempuan di rumah penduduk yang mengerubungi Sora sebelumnya sepertinya salah memahami. Sora tidak menangis. Bahkan saat pemakaman kedua orangtuanya. Bahkan saat tantenya membawanya ke panti asuhan. Bahkan saat teman satu kamar di panti mengatai Sora gadis buruk rupa—bekas luka akibat kecelakaan meninggalkan luka parut di pipinya.

Di bagian itu Sora ingin menarik mundur waktu. Sora harap ia mati bersama ayah ibunya saja. Kematian bukan hal buruk, meski juga bukan menjadi sebuah pilihan. Kalau saja Sora mati saat kecelakaan itu, ia tak perlu menjadi yatim piatu yang dibawa tantenya ke panti asuhan, lalu menyebabkan kepala teman sekamarnya bocor akibat Sora pukul dengan tumbler miliknya. Ketua panti marah, dan menyeretnya ke gudang bawah tanah untuk menerima hukuman. Hukuman yang menurut Sora lebih biadab dari penjara. Di dalam ruangan sempit dan pengap, Sora dipaksa melayani hasrat menyimpang sang ketua panti. Sora mungkin ketakutan, tapi lagi-lagi, ia tak menangis.

Sora kini tertidur. Mungkin ingatan-ingatan itu membuatnya lelah. Dalam lelap, ia bermimpi. Seorang lelaki bermata biru menghampiri Sora saat ia sedang melukis. Ada sepotong keju di tangan kiri, lalu sebilah pisau di sebelah tangannya yang lain.

“Siapa yang akan menghabisi siapa itu tidak penting. Tapi kamu akan menyesal karena kematianmu datang bukan di masa depan,” kata lelaki bermata biru itu.

Sora terkejut. Dipandangnya punggung lelaki bermata biru yang berjalan menjauh. Dadanya sakit. Peluh mulai membasahi tengkuk. Sora terisak saat melihat air pantai di lukisannya mengeluarkan darah. Sora bangun dari tidur dengan terbatuk-batuk. Ponselnya berdering. Sora bangkit dari tempat tidurnya. Menuju kulkas dan meneguk air dingin. Hari sudah gelap. Sora mengambil ponsel di atas meja. Noe. Panggilan dari teman kantornya. Sora kembali pusing. Tubuhnya lemas. Sehari sebelumnya Sora mengetahui satu kenyataan—saat ia sedang mengambil dokumen pegawai di ruang HRD—tanpa sengaja Sora melihat data Noe, lelaki yang sedang mendekatinya itu, rupanya lahir di tanggal dua puluh delapan.

Sora menatap layar ponsel yang terus saja berdering. Ia ingat lelaki bermata biru di mimpinya. Sora kini mengerti apa maksud kalimat yang diucapkan lelaki itu. Sora melihat jam di ponselnya. Pukul delapan lewat delapan belas malam. Mendadak matanya penuh siluet angka delapan. Merembet di kepalanya. Di pikirannya. Bahkan, kini hampir semua ruang di rumah kontrakannya penuh dengan angka delapan. Angka-angka itu tertawa. Mereka juga menangis. Sora sesekali tertawa, lalu menangis. Begitu seterusnya. Berulang-ulang, hingga dini hari.

Sora mengingat dalam tawa, lalu melupa dalam tangis. Ia benci angka delapan. Tapi mendadak ia ingin sekali menghitung domba yang lewat di atas kepalanya. Sora benar-benar menghitung. Tepat di angka tujuh, Sora tertidur. Dan  paginya, Sora kembali berangkat kerja tanpa menyisakan luka. Mungkin karena lupa, atau sebenarnya hanya pura-pura lupa.***

___________________

Septi Rusdiyana. Penulis tinggal di Yogyakarta. Ibu rumah tangga, penyuka cerpen.

Buku, Resensi

Belajar Hidup dari Malaikat Maut

Oleh Erna Surya

Kadang, kematian bukanlah tentang berakhirnya hidup, melainkan tentang bagaimana seseorang akhirnya benar-benar hidup. Seo Eun-chae menulis novel Seminggu Sebelum Aku Mati (Haru, 2024) dengan kesadaran itu—bahwa manusia sering kali baru memahami arti hidup justru ketika kematian datang mengetuk.

Novel ini dibuka dengan premis sederhana: seorang perempuan bernama Jeong Hee-wan diberi waktu tujuh hari sebelum ia mati. Namun yang membuatnya tak biasa adalah sosok yang datang menjemputnya: Kim Ram-woo, cinta pertamanya yang telah lama meninggal. Ram-woo kini menjelma sebagai malaikat maut.

Malaikat maut di sini bukan sosok mengerikan bersayap hitam, melainkan kehadiran yang tenang—seolah cinta yang belum selesai. Ia datang bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk menemani Hee-wan menutup hidupnya dengan damai. Ia datang bukan dengan sabit, melainkan dengan kenangan.

Hee-wan diberi waktu tujuh hari untuk “menyelesaikan urusannya di dunia”. Dalam rentang waktu itu, ia membuat daftar keinginan kecil: menonton film yang belum sempat selesai, mengunjungi tempat yang pernah ia datangi bersama Ram-woo, menulis surat kepada diri sendiri.

Namun, daftar itu perlahan berubah menjadi perjalanan batin. Setiap hari membawanya ke lapisan baru dari rasa kehilangan—dan penemuan. Ia belajar memaafkan dirinya sendiri, menerima luka masa lalu, dan memahami bahwa cinta sejati tidak selalu berarti bersama selamanya.

Seo Eun-chae menulis dengan nada lirih. Tidak ada letupan besar, tidak ada air mata yang berlebihan. Justru dari kesunyian itu muncul kekuatan emosional yang dalam. Ia membuat pembaca memahami bahwa kesedihan yang paling tajam bukanlah tangisan, melainkan keheningan yang panjang.

Banyak karya sastra Korea modern berbicara tentang kehilangan dan waktu. Namun Seminggu Sebelum Aku Mati membawa nuansa berbeda. Ia memadukan realisme psikologis dengan sentuhan spiritual yang lembut.

Ram-woo bukan hanya figur cinta lama, tetapi juga simbol tentang waktu yang tak kembali. Dalam dirinya, Hee-wan melihat apa yang ia relakan dan sekaligus apa yang tak pernah bisa ia lepaskan. Maka perjalanan tujuh hari itu menjadi semacam ritus perpisahan yang suci: sepasang jiwa yang pernah saling mencintai, kini berjalan berdampingan menuju akhir.

Novel ini menolak pandangan biner antara hidup dan mati. Seo Eun-chae tampak ingin berkata bahwa keduanya hanyalah dua sisi dari keberadaan yang sama. Hidup, seperti halnya kematian, adalah proses pulang.

Di satu bagian, Hee-wan berkata pelan, “Aku tidak takut mati. Aku hanya takut hidup tanpa alasan.”

Kalimat itu sederhana, tapi menembus jantung tema novel ini: ketakutan manusia bukan pada kematian itu sendiri, melainkan pada kemungkinan hidup yang sia-sia.

Seo Eun-chae punya gaya penulisan yang khas—lirih, sinematik, dan penuh udara. Ia tidak terburu-buru. Setiap bab seolah dibuat untuk dibaca pelan-pelan, memberi ruang bagi pembaca untuk ikut bernapas bersama tokohnya.

Dalam terjemahan Dwita Rizki, bahasa novel ini tetap terjaga kepekaannya. Diksi sederhana tapi tajam. Tidak ada kalimat yang ingin terdengar indah secara berlebihan; justru dalam kesederhanaan itu, maknanya menjadi dalam.

Struktur cerita yang dibagi dalam tujuh hari membuat novel ini terasa seperti perjalanan spiritual yang runtut. Setiap hari adalah fase kesedihan: penolakan, kemarahan, tawar-menawar, depresi, dan penerimaan. Seo Eun-chae tidak menuliskannya secara eksplisit, tapi emosi itu terasa jelas di bawah lapisan narasi.

Ia seperti menyusun peta jiwa dalam bentuk kisah cinta.

Ada banyak simbol bertebaran di dalamnya: laut, langit senja, rel kereta, dan jembatan. Semua itu melambangkan perlintasan—antara hidup dan mati, masa lalu dan masa kini, keberadaan dan ketiadaan.

Laut, misalnya, selalu muncul di saat-saat penting: tempat di mana Hee-wan merasa hidup sekaligus mati; tempat di mana Ram-woo mengajarinya arti melepaskan. Laut bukan sekadar pemandangan, tapi lambang tentang kedalaman diri yang harus ia selami sebelum benar-benar pulang.

Simbol-simbol itu tidak disusun dengan pretensi intelektual. Semuanya mengalir alami, seperti ingatan yang muncul di kepala seseorang yang sedang menunggu ajalnya dengan tenang.

Novel ini juga berbicara lembut tentang isu kesehatan mental. Hee-wan digambarkan sebagai sosok yang “hidup tapi tidak sungguh-sungguh hidup.” Ia berjalan di antara rutinitas kosong, kehilangan arah, dan merasa bahwa dunia tidak lagi menawarinya apa pun.

Kehadiran Ram-woo—meski dalam bentuk kematian—justru menjadi pengingat untuk hidup. Inilah ironi yang indah dari novel ini: kematian menjadi penawar bagi keputusasaan. Seo Eun-chae tidak memotret depresi secara klinis, tapi secara eksistensial: rasa kehilangan makna, rasa bersalah, dan ketidakmampuan mencintai diri sendiri.

Maka ketika Hee-wan akhirnya mampu menatap langit tanpa air mata di hari ketujuh, itu bukan kemenangan besar, tapi penerimaan kecil yang menenangkan.

Kelemahan novel ini mungkin terletak pada ritme yang sangat lambat. Bagi pembaca yang terbiasa dengan konflik cepat, kisah ini bisa terasa datar. Namun justru di sanalah kekuatannya. Ia tidak memaksa kita untuk larut dalam drama, tapi mengajak kita untuk duduk diam dan mendengarkan kesunyian.

Setiap kalimat seperti undangan untuk berhenti sejenak—menyadari bahwa hidup kita sendiri pun sebenarnya sedang berjalan menuju ujung, dan mungkin yang kita butuhkan hanya keberanian untuk menerima itu dengan damai.

Seminggu Sebelum Aku Mati bukan kisah romantis dalam arti konvensional. Ia lebih tepat disebut meditasi tentang cinta, kehilangan, dan keberanian untuk hidup. Seo Eun-chae menulis seolah ingin membisikkan pesan: bahwa mati tidak selalu berarti berakhir, kadang ia justru awal dari kehidupan yang lain.

Dalam setiap halusnya percakapan antara Hee-wan dan Ram-woo, kita diajak menyadari bahwa yang membuat hidup berharga bukanlah panjangnya waktu, melainkan kesadaran penuh di dalamnya. Tujuh hari dalam novel ini terasa seperti seumur hidup. Dan mungkin memang begitulah hidup: sebentar, tapi bisa sangat penuh.

Ketika novel berakhir, yang tersisa bukan kesedihan, melainkan kelegaan.
Hee-wan telah berdamai dengan kematiannya, dan pembaca—anehnya—ikut merasa tenang.

“Kadang, kematian hanyalah cara cinta untuk pulang,” tulis Seo Eun-chae.

Dan kita pun tahu, setelah menutup buku ini, bahwa mungkin hidup memang seharusnya dijalani seperti itu: dengan kesadaran bahwa setiap hari bisa menjadi yang terakhir, dan justru karena itu, setiap detiknya berharga.

___________________

Erna Surya. Penulis dan pembaca sastra, berprofesi sebagai seorang guru.