
Yang terbaca sampai sekarang adalah teks Proklamasi berbahasa Indonesia. Dini hari, 17 Agustus 1945, Soekarno dan Hatta tak perlu berdebat pilihan bahasa saat ingin memuliakan Indonesia.
Mereka memang fasih berbahasa Belanda. Oh, bahasa Indonesia masih sejenis bahasa baru bagi mereka yang mengerti babak (bersejarah) 1926, 1928, dan 1938. Aku kira mereka belum terlalu menyadari bahasa Indonesia, akhirnya, terbukti memiliki kekuatan politis. Benarkah?
Maka, yang mengucap dan menulis saat teks itu digarap secara wajar memilih bahasa Indonesia, bukan bahasa Belanda meski sangat dikuasai, sejak mereka bertumbuh di tanah jajahan sebagai kaum terdidik. Aku yakin mereka wajib berbahasa Belanda untuk meraup ilmu-ilmu di sekolah! Mereka semestinya mengagumi bahasa Belanda. Jangan lupa wajib berterimakasih telah membentuknya sebagai penyuara nasionalisme!
Eh, mengapa saat dini hari itu (17 Agustus 1945) mereka tidak menuliskannya dalam bahasa Inggris saja agar terbaca dan terdengar keren di dunia? Aku bayangkan bahasa Inggris yang digunakan Soekarno dan Hatta dalam menyusun teks Proklamasi akan membuat para pemimpin dunia segera memberi pujian. Yakinlah bahwa bacaan-bacaan Soekarno dan Hatta banyak yang berbahasa Inggris, yang menghubungkan dengan gejolak-gejolak abad XX. Aku memang belum memiliki catatan judul buku-buku yang dibaca dalam bahasa Inggris. Padahal, sejarah Indonesia dan kemunculan elite intelektual itu dipengaruhi bahasa Inggris. Maksudku, haru ada pengakuan bahwa bahasa Inggris punya saham besar dalam situasi sebelum dan setelah penulisan sekaligus pembacaan teks Proklamasi.
Pada saat menegangkan untuk membuat kalimat-kalimat yang dahsyat, mereka tidak memikirkan iriang lagu. Maksudku, adakah nuansa kemerduan dalam waktu-waktu yang beserjarah? Kini, aku bisa membaca lagi sejarah 1945 dengan iringan lagu. Padahal, lagunya tidak tepat. Apa salahnya mengenang sejarah (dini hari) saat para tokoh menggunakan bahasa Indonesia di teks sambil mendengar lagu berjudul “Menunggu Pagi”.
Terdengar suara Ariel: Apa yang terjadi dengan hatiku/ Aku masih di sini menunggu pagi/ Seakan letih tak menggangguku/ Aku masih terjaga menunggu pagi. Ingatlah, saat itu Soekarno dan Hatta melek memikirkan Indonesia tidak sedang “menunggu pagi” demi asmara pisican!
Aku sudah bertele-tele merawat masa lalu. Ah, diri yang tidak pernah memiliki kesanggupan memberi perhatian kepada sejarah, yang masih bolong-bolong dan menyimpan misteri.

Yang sedang aku lakukan adalah membaca majalah Djojobojo. Nama majalah dicetak berukuran besar di bagian atas. Penulisan yang memerlukan tanda petik. Setahuku, “djojobojo” biasanya mengarah ke gubahan sastra oleh Ranggawarsita.
Pada suatu hari, aku membeli majalah Djojobojo edisi 1 Februari 1946 dari pedagang di Jogjakarta. Seingatku, majalah itu diberi harga 35 ribu. Masa lalu yang murah! Aku membelinya agar bisa menjadi pembaca yang mengandaikan merasakan bulan-bulan mendebarkan setelah 17 Agustus 1945.
Di halaman depan, dicantumkan kutipan dari tulisan Soekarno. Aku membacanya dalam bahasa Jawa, bukan bahasa Indonesia. Soekarno paham bahasa Jawa tapi ia menuliskan teks pidato dan artikel dalam bahasa Indonesia, yang inginnya terbaca oleh orang-orang di seantero Indonesia.
Pencantuman kutipan di majalah Djojobojo mengartikan bahasa Jawa ikut berperan membarakan Proklamasi. Aku tidak berniat mencari terjemahan “proklamasi” dalam bahasa Jawa. Yang jelas “proklamasi” itu berasal dari bahasa asing. Apakah terjadi salah pilih kata oleh Soekarno dan Hatta dalam “menjuduli” sejarah Indonesia?
Kutipan yang terpilih: “Ibarate kita kabeh iki lagi bisa liwat djembatan mas, doeroeng ing brang kanane, mangka wis pada apradondi tjakar-tjakaran agawe roweting bab-bab kang semestine koedoe diremboeg samangsa kita wis tekan brang kanane djembatan mas kita maoe. Saiki kita koedoe mlakoe disik, bebarengan manoenggal, goejoeb roekoen lan ngliwati djembatan mas ikoe, sarana wani mboewang kepentingan kita dewe lan kepentingan golongan-golongan, amrih kita kabeh bisa slamet ing brang kanane djembatan maoe.”
Petikan yang mengingatkan babak Indonesia sedang menuju atau melewati “jembatan mas”. Soekarno membahasakan perubahan dengan jembatan. Wah, yang dipilih emas, bukan perak atau perunggu. Pada hari yang berbeda, Gesang malah melantunkan “jembatan merah”. Aku tidak bisa mengganti warnanya dengan kuning, biru, atau hijau.
Pada abad XXI, Proklamasi yang menunjukkan jembatan sudah memastikan kita sampai atau belum menuju ke sana? Aku masih ingat pelajaran di sekolah, yang memuat masalah “pintu gerbang kemerdekaan.” Pokoknya, sejarah Indonesia itu aneh. Soalnya, ada jembatan dan pintu.
Di halaman editorial Djojobojo, aku membaca pesan sangat penting: “Sanadjan kita kalah gegaman perang modern, kalah kapal-kapal, nanging menang akeh djiwane, menang papan ora ngloeroeg malah diloeroegi sakan papane kang adoh banget. Karo pangane moeng remeh-remehan bae woes marem. Sandjata pamoenahing satroe droehaka maoe ora ana maneh jaikoe manoenggaling tekad ngoekoeh kamardikan kang woes goemana.”

Indonesia sudah merdeka, tiak perlu takut dengan kapal dan senjata yang digunakan musuh. Indonesia punya jiwa yang kuat, yang akan memenangkan kemerdekaan. Ah, aku agak merinding membaca kalimat-kalimat berbahasa Jawa yang berpengaruh bagi pembacanya masa itu menghadapi perang.
Aku lanjutkan membaca artikel sehalaman yang diberi tajuk “obor politik” oleh S Dibyo. Pada masa perang, orang-orang yang menulis sebenarnya punya peran besar agar orang-orang tidak menyerah dan putus asa. Namun, yang bisa membaca tulisan hanya sedikit orang. Apa yang membaca bertugas menyampaikan pada saudara, teman, dan tetangga yang belum mengenal aksara? Dugaanku, satu majalah berkhasiat untuk banyak orang asal ada satu atau dua orang yang bisa membaca.
Aku bayangkan mereka mendengar pembacaan pendapat S Dibyo: “Ing sarehne bangsa Indonesia ikoe wiwit bijen moela pantjen bangsa kang karem tetoeloeng ing lijan, mesti wae dapoekaning pamrentahan kang adedasar pri kamanoengsan lan keadilan ikoe gampang ditampa dening bangsa kita kabeh, apa maneh jen kita ngelingi anane roekoen desa, bersih desa, sambatan, lan lija-lijane kang kabeh maoe pantjen dadi dasar kekoewasaan sosialisme.” Adakah terjemahan yang apik untuk istilah “sosialisme” dalam bahasa Jawa?”
Anehnya, Djojobojo yang majalah berbahasa Jawa, belum mampu memuat iklan-iklan yang berbahasa Jawa. Di halaman belakang, semua iklan berbahasa Indonesaa. Yakin saja, dua bahasa itu “berteman”, tidak akan bertengkar dalam majalah.
Yang aku perhatikan adalah iklan penjahit dan membuat sepatu. Pembuat iklan adalah Djamhoeri, yang tinggal di Jalan Doho 97, Kediri. Yang dicantumkan: “Membikin pakaian dan sepatoe menoeroet oekoeran pemesan”. Iklan diakhiri pekik “merdeka”. Artinya, yang berpakain dan bersepatu termasuk kaum yang merdeka.

Djojobojo, majalah yang tipis, cukup 14 halaman. Aku belum kenyang bacaan tapi sudah merasakan getaran sebagai pembaca yang ada pada masa lalu, sekian bulan setelah penulisan dan pembacaan teks Proklamasi. Majalah berbahasa Jawa yang membuktikan peran memuliakan Indonesia dengan berani menanggapi peran dan berusaha memberi kesadaran perlawanan untuk rakyat melawan pihak-pihak asing yang mengganggu kemerdekaan dan kedaulatan. [] Durjana
