Belakang

1862

Pelbagai pihak mengadakan peringatan 2 abad Perang Jawa (1825-1830). Seminar-seminar nasional atau internasional diselenggarakan yang mengundang para ahli. Maksudnya, para sejarawan dan tokoh-tokoh yang bisa omong Perang Jawa: mulai dari sastra sampai seni rupa. Apakah ada yang membahas masalah kamus berkaitan Perang Jawa?

Yakinlah perang bersejarah pasti memiliki daftar kata terpenting dalam mengobarkan hasrat menang dan menjaga kehormatan dalam kalah. Yang bertempur adalah pasukan-pasukan (Jawa) berhadapan dengan manusia-manusia Eropa bersenjata modern. Padahal ada pula Jawa berhadapan Jawa. Perhatian besar mendingan diberikan untuk senjata, busana, makanan, dan taktik. Apakah dalam Perang Jawa juga terjadi perang bahasa? Kita merasa itu mustahil bila terjadi perang bahasa Jawa melawan bahasa Belanda. Namun, pada tahun-tahun membara ada bahasa-bahasa yang lain.

Puluhan tahun berlalu dari Perang Jawa, tibalah buku tebal yang berjudul Grieksch Woordenboek. Kita percaya tidak ada hubungan antara Perang Jawa dan kamus-kamus. Adanya kamus bahasa Yunani semakin membuktikan tidak usah berpikiran kamus untuk mengenang sejarah, terutama Perang Jawa. Kamus itu ada di Nusantara tanpa ada urusan dengan Perang Jawa.

Namun, ada peristiwa besar di Banten. Di sana, ada pemberontakan petani. Dulu, Sartono Kartodirdjo meneliti dan menulis apik disertasi sejarah. Kita kepikiran lagi: peristiwa berlatar abad XIX itu memilki hubungan dengan kamus-kamus? Sekali lagi, kita terlalu memaksa adanya dan makna kamus-kamus dalam peristiwa besar masa lalu. Pemberontakan oleh petani mustahil menggunakan bahasa Yunani, yang mungkin datang di Nusantara oleh orang-orang Belanda atau para ilmuwan Eropa. Kaum petani belum butuh kamus dalam perbaikan nasib dan melawan pihak-pihak yang menghisap, menghina, dan menindas.

Di pergantian abad, kita mengetahui Politik Etis. Apakah kebijakan itu memiliki dampak bagi orang-orang yang membaca kamus-kamus. Kita tetap memaksa kamus-kamus berada dalam arus sejarah. Yang kita desakkan adalah kamus-kamus yang akhirnya mendatangkan banyak kata untuk digunakan orang-orang di tanah jajahan.

Sudahlah, usaha mencari kaitan-kaitan peristiwa bersejarah dan kamus hanya akan memberi kecewa dan sia-sia!

Pada  suatu siang, mata melihat tampilan foto buku-buku dari pelbagai pedagang di media sosial. Mata berhenti untuk foto yang tidak jelas, Buku bersampul tebal dan keras. Maka, mata beralih ke foto halaman awal. Yang meminta perhatian adalah pencantuman “woordenboek”. Pastilah itu kamus!

Di bagian keterangan harga, terlihat: 300 ribu. Pedagang tidak sedang guyonan. Ia serius menantang orang-orang agar berani menjadi pembeli. Tiga lembar merah untuk kamus yang sampul depannya hanya hitam. Mengapa kamus dihargai mahal?

Mata menghadapi kata-kata asing. Di bagian bawah, ada tahun terbit: 1862. Kamus yang sangat sulit dibaca dan memberi mimpi romantis boleh berharga mahal. Pemicunya adalah tahun terbit. Pedagang yang tidak bodoh. Pedagang yang menjual tahun. Kamus akhirnya dibeli tanpa berpikir 3 hari 3 malam. Harga yang disepakati: 275 ribu. Keputusan yang fatal untuk membeli “tahun” saat situasi hidup di Indonesia sulit banget.

Kamus berada di rumah. Tebal! Kamus yang tidak bisa dibaca. Kita cuma memandang dan menyentuh. Mata yang kembali ke abad XIX. Mata mencari masa lalu yang belum semua diceritakan. Tangan menyentuh sejarah. Tangan menemukan kertas yang belum dikalahkan waktu.

Yang menyebalkan dalam pikiran adalah pertanyaan: “Apakah kamus pernah dibaca oleh Sosrokartono, Willem Iskander, A Rivai, Soetomo, Soewardi Soerjaningrat, Tan Malaka, Semaoen, Hatta, dan lain-lain? Jangan pernah berharap ada yang menjawab. Kita bertanya gara-gara mengetahui para tokoh itu berani ketagihan bacaan. Bagaimana mereka mementingkan kamus-kamus dalam membaca buku-buku yang serius, yang datang dari Eropa?

Grieksch Woordenboek masih ada! Kamus masih hidup! Pada 2025, kabarkanlah ke jutaan orang bahwa kamus itu tetap membawa sejarah dan ingatan-ingatan yang berceceran.

Kamus pernah dipegang banyak orang. Kamus pastinya berpindah-pindah tempat (kota). Tanda yang masih terbaca adalah tempelan kertas di sampul belakang: Bandung-Cimahi. “Kita berkhayal saja bahwa kamus itu selamat dari peluru, letusan gunung berapi, banjir, gempa, kebakaran, dan lain-lain.

Kamus yang masih bersama matahari yang sama. Kamus berada di Indonesia dalam waktu yang lama, mendapat berkat dari bulan dan bintang. Angin semilir membuatnya betah untuk tidak berpindah ke negara-negara asing. Tanah yang subur tidak membuatnya menjadi rabuk tanaman. Kamus tetap selamat dari seribu kemungkinan kehancuran.

Hitunglah berapa tangan yang pernah memegangnya! Yang tersulit adalah menentukan nama-nama yang menjadi pemiliknya, dari masa ke masa. Di halaman awal, kita melihat stempel. Dulu, kamus dimiliki seorang Tionghoa (totok atau peranakan). Apakah kamus tergunakan oleh pelajar di STOVIA, pedagang di kota, tokoh pergerakan politik, atau pendakwah di gereja? Jawaban-jawabannya tidak pasti. Kita saja belum menemukan nama-nama yang pernah memilikinya.

Kini, pemilik kamus itu tidak bisa membacanya. Pemilik hanya membenarkan “pembuangan” uang demi mengetahui kertas-kertas terjilid yang menolak sirna. Ia kagum dengan mesin cetak yang membuatnya kuat. Mesin cetak mewujudkan pertemuan dan saling pengaruh bahasa-bahasa di Nusantara. Yakinlah bahwa Tuhan pun berperan menjadikan kamus itu selamat sampai sekarang.

Pertanyaan masih berdatangan. Apakah kamus  pernah dibaca dan dipelajari WJS Poerwadarminta yang rajin membuat kamus-kamus? Kebiasaan para pembuat kamus adalah membaca dan mempelajari kamus-kamus terdahulu dari beragam bahasa. Anggaplah kamus itu digunakan Poerwadarminta saat menggarap Kamus Umum Bahasa Indonesia (1952). Jadi, ada pengaruh kata-kata dari bahasa Yunani yang masuk dan beredar dalam bahasa Indonesia? Yang dapat menjawab serius campur kelakar adalah Remy Sylado. Padahal, ia sudah tidak bersama kita.

Kebenaran yang kita pegang adalah Grieksch Woordenboek terbitan 1862 masih bernyawa. Kamus yang selamat dari perang dan bencana. Kamus yang tetap mau bertemu matahari pada abad XXI.

___________________

Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *