Sofyan RH. Zaid lahir di Sumenep. Alumnus Filsafat dan Agama, Universitas Paramadina, Jakarta. Buku puisi tunggal pertamanya Pagar Kenabian masukmasuk 15 nominasi Anugerah Hari Puisi Indonesia 2015. Puisi-puisinya telah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, seperti Inggris, Arab, dan Italia yang dimuat dalam buku Oikos Poeti Per Il Futuro (Mimesis Classici Contro, Milano, Italia, 2020).
Puisi dan esainya juga terbit di sejumlah media. Kini tinggal di Bekasi sebagai editor, founder TSI Group, dan redaktur Sastramedia.com. Buku esainya yang akan segera terbit: Kaidah Puisi dan Akidah Kepenyairan.
Satu pesan simbok yang selalu diucapkan melekat di ingatanku sampai detik ini. “Urip kuwi sejatine mung kabegjan, mulane kabeh sing ditampa kudu disyukuri.” Simbok membuat perumpamaan yang sederhana tentang arti keberterimaan. Tentang kisah dua orang yang mendapatkan jatah makanan, masing-masing sebungkus. Mereka tidak tahu bagaimana rasa makanannya. Namun, mereka harus menyantapnya. Karena makanan itu satu-satunya yang tersedia.
***
Hari ini merupakan perayaan Natal. Umat yang datang sangat banyak sampai memenuhi deretan bangku depan yang biasanya di misa Minggu selalu terlihat kosong. Gedung gereja yang penuh membuat ruangan menjadi terasa panas. Rasa gerah membuatku tidak sabar dan tidak khusyuk mengikuti rangkaian liturgi misa kali ini
“Perihal nasi goreng sudah barang tentu buatan ibu yang paling lezat,” ucap romo mengawali homili misa Natal pagi ini. Kata nasi goreng membuat perutku bergejolak. Mataku yang tadinya sayu kini mulai segar kembali. Romo terus saja berkhotbah di mimbar samping altar. Kisah tentang Maria menjadi materi homili yang selalu diulang-ulang setiap misa perayaan Natal. Seorang perawan yang rela mengandung padahal belum bersuami, karena perihal itu sudah menjadi kehendak Tuhan.
Setiap kali romo menyebut nama Maria, aku selalu teringat simbok. Pikiranku melayang membayangkan wajahnya. Perempuan yang sangat jarang terlihat marah atau sedih di hadapanku. Apa pun yang terjadi dalam kehidupan keluarga kami, simbok selalu saja tersenyum. Namun karena aku sangat dekat dengan simbok dibandingkan saudaraku lainnya, selalu bisa merasakan apa yang sedang dia alami. Setiap kali aku bertanya apakah simbok baru saja menangis. Jawabnya selalu saja sama untuk menutupi perasaannya. Simbok menangis bukan karena sedih tetapi karena bahagia.
Pikiranku berjalan semakin jauh, terhenti kepada sebuah kejadian masa lalu ketika aku masih kanak-kanak. Suatu pagi, aku terhenyak dari tidur gara-gara mendengar suara kekacauan di pawon. Aku tidak berani keluar bilik, hanya bisa mengintip dari lubang anyaman bambu pembatas bilik senthong. Bak kerasukan setan, bapak membanting semua gelas dan piring yang sedang dicuci simbok. Panci, dandhang, dan wajan juga tidak luput dari amarahnya. Semua berserakan menghampar di lantai pawon. Tidak berbentuk. Puncak kemarahan bapak adalah sebuah pukulan mendarat di mata kiri simbok. Warna biru membekas di kelopak matanya dan warna merah meradang menghias di bola mata itu. Namun simbok hanya menunduk saja memegang wajahnya, menyembunyikan tangis dan kesakitan. Gegas bapak pergi, meninggalkan simbok tanpa sepatah kata pun. Suasana pawon menjadi hening sehingga telingaku bisa mendengar isak tangis simbok. Aku berlari mendekat dan memeluknya.
Tengah malam harinya, terdengar pintu depan diketuk seseorang. Ternyata bapak pulang membawa kardus yang berisi beberapa gelas dan piring. Simbok menyapa dengan penuh tulus dan mencium tangan bapak. Bapak menggapai pundak simbok dan dia melingkarkan tangannya di pinggang bapak. Mereka berdua terlihat saling memeluk hangat. Menumpahkan segala penyesalan. Membersihkan luka-luka. Segera simbok menuju pawon, menyiapkan secangkir teh panas untuk bapak. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka pagi tadi, meski bekas lebam di kelopak mata simbok masih terlihat jelas, bagai mendung gelap yang menggantung di musim hujan. Aku yakin, hati simbok bukan hati manusia, mungkin dia adalah titisan Bunda Maria. Karena sepertinya tidak pernah tertanam rasa dendam di hatinya barang setitik pun.
… Kembali sayup kudengar
di doa ibuku, namaku disebut
di doa ibuku dengar, ada namaku disebut
Sekarang dia telah pergi ke rumah yang senang
Namun kasihnya padaku selalu kukenang…
Suara nyanyian umat menuntun pikiranku dari ziarah masa kecil untuk kembali ke ruangan gereja. Mataku perlahan mulai berlinang. Tak mampu aku tahan lagi, mataku buram tertutup air mata. Natal tahun ini, tepat satu tahun simbok pulang ke rumah keabadian.
“Selamat Natal, Mbok. Aku kangen,” ucapku lirih.*****
KesitHimawan, lahir di Wonogiri, tinggal di Sukoharjo. Penyuka sego tiwul dan jangan lombok. Turut bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar.
*Bâto sé atalé (Bahasa Madura): Batu yang bertali/terikat tali.
Sepenggal Tanah Totale
II
Sumenep-Bali memahat sejarah
melukis pekat tumpah darah
Totale tabah menadah yang kalah
Bali berkoar, bendera berkibar
pasukan Sumenep terdampar
menyelinap pada semak belukar
batu yang dibabat tali dilempar
berlindung mengucap istigfar
Totale dikukuhkan
pasca ihwal mengharukan
sekeping tanah warisan
mengalir dari peluh zikir nenek moyang
Lihatlah sekarang
batu-batu telah dilindas
tali sengaja dilepas
ketajaman batin telah kandas
bahkan tandas sebelum semua tuntas
Totale, bukan tanpa nama
tetapi tinggal nama
seonggok batu tangguh ranap
seutas tali kukuh lenyap
Totale, Juni 2022
Si Buta yang Berkelana
Ia bisa lebih sunyi
senyap dari sengkarut duniawi
kekal menjelma abdi
khusyuk bergerak ke titik kembali
Ia bisa lebih liar dari ular
menjalar pada setiap sudut nalar
menyelinap ke relung belantara
menepikan logika yang lalai memaknai aksara
Ia bisa lebih dekat dari urat kepala
merajai setiap detak
mengalasi kaki yang berkerak,
mata yang jelalat serta mulut penelan pekat
Ia bisa lebih dari raja
meletakkan semesta di rongga dada
sebagai tangga, iapun memanjat tanpa mata
berpuasa dari kicauan kata-kata
Sejak itu, aku berguru padanya
mematahkan mataku dan ikut berkelana
Totale, Juni 2022
Si Bisu yang Berbicara
Bukan hening,
ketika mulutmu melumat abjad
pada lembar usang sehabis senja
ataupun saat fajar mengumbar merah.
Namun, telingamu tumbang
tak ada kata yang terdengar
selain dari liangmu yang sumbang
Ia tampak bungkam
sebagai kalam, ia tersuruk kelam
tenggelam dalam bayang-bayang hitam
tersudut pada rongga paling suram
Kau tahu,
dalam diam, ia lantang meneriakkan kebenaran
memuat puja paling mujarab
telaga di tengah bengis antero jagat
Karena itu, aku mengabdi padanya
mengangguk pada tiap suara
yang keluar dari kebisuannya
Totale, Juni 2022
Bertapa
Aku menunggu di sudut malam
di antara jajaran pohon siwalan
di tengah bebatuan yang berserakan
lafad demi lafad diagungkan
bergumul dengan cerita masa silam
Perihal siapa dan dari mana,
aku dihimpit tanya
Sukmaku berkelana
menapaki jejak penuturan
mencari pembenaran:
tanah tersirat di tengah lautan
Aku bimbang,
benarkah Bugis sebagai kota asal?
Sebab namamu masih sakral
tenggelam dalam sejarah yang nyaris dilupakan
Akupun menyangsikan,
ikatan sedarah dengan Raden Fatah, Siti Maryam
yang bersemayam di tanah Juruan
sebab, tilasmu tak terlihat
persis pusaramu yang niskala
Siapa dan dari mana,
masih diujung tanya
Duh, pengelana sejati
jejakmu semerbak bunga kasturi
pecahkan tabir misteri
datanglah kemari
meski hanya lewat mimpi
Totale, Juni 2022
Bintu Assyatthie, lahir dan besar di kampung kecil bernama Totale, tepian pesisir paling timur Pulasu Madura. Selain aktif mengajar, penulis juga aktif di organisasi kepenulisan, yaitu Rumah Literasi Sumenep, Komunitas Perempuan Membaca dan Komunitas Puan Menulis. Beberapa tulisannya bisa dibaca di blog pribadinya: cahayatotale.blogspot.com. Dapat disapa di Instagram dan Facebook Bintu Assyatthie.
“lantas kenapa kau masih berdiri angkuh?” tanyaku, “sedang singgasana berduri tak kunjung kau rengkuh?”
“entahlah, aku sudah mencoba,” jawabmu
“dari mengibas tanganku sampai buntung
hingga melilitkan lidahku untuk dipasung
hanyalah kekosongan yang kudapat,
dan pada gelapnya lorong inilah
aku bisa merasakan kegetiran yang kudambakan
menikmati sepi yang meringkik dengan merayapinya
menikmati sunyi yang merangkak dengan merasukinya.”
(pelan-pelan ia melangkah pergi dan hilang ke dalam bayangan)
kini berbalik aku melihat wajahku sendiri
dalam wajah yang mematung itu.
Wajah
/1/
ribuan sembilu menyayat waktu
tangisan pilu bertalu-talu
lalu mengutuk
untuk memburu
wajah itu
/2/
pada sekeping cermin
yang disapu angin
kulihat wajah dingin
yang berwarna asin
wajahku, wajahmu atau wajah kita?
Hutan Beton
di kota ini bagiku
semua hal terasa asing
sedikit sekali yang tersisa
selain rimbun hutan beton
yang menjulang subur
di tengah kejomplangan
menghampar sepanjang pelupuk mata.
Hujan Kenangan
hujan ialah segala bait kenangan
yang tergeletak di tepian jalan
untuk dikunyah-kunyah
menjadi seperlima irisan jeruk
dalam sewadah es batu
yang dikupas di landasan kayu
lalu dituang ke mangkok kuah kari rasa keju
dengan beceknya bulir-bulir padi
dan diseruput tanpa puisi.
Ngopi Sederhana
aku ingin ngopi
dengan sederhana
tanpa gula
tanpa susu
tanpa kamu di sisiku.
Kecemasan
pada akhirnya semua memang kembali ke awal
ketika deru cemas di panas paling cadas
melahirkan percakapan yang menguap di udara
seperti sebuah pilihan yang kita pilih
meski tidak benar-benar kita pilih
bagaikan langkah maju dalam keanehan
yang mengaduk prasangka hari depan
seperti rumor bising dalam kegilaan
yang berembus dengan ketidakpastian
semua mengendap bersama pertanda buruk.
Histeria
seorang lelaki dengan raut sumringah tanpa keraguan
berjalan mantap menuju lapangan penjagalan
tempat dimana ia akan dipenggal bersama teman-teman seperjuangan
sesampai di sana ia bergumam lirih “betapa beruntungnya mereka yang tak ambil bagian.”
lalu tiba giliran, ia melangkah tegap naik ke panggung pemancungan seperti tanpa tekanan
saat algojo siap mengayunkan pedang, seluruh penonton pada kelabakan
melihat kejadian aneh di luar perkiraan, bukannya leher lelaki itu yang diserahkan
tetapi kelaminnya sendiri yang sudah tegang yang ia sodorkan
setegang penonton yang menyaksikan.
ia menyodorkan pada algojo yang siap menebas sembari berjabat tangan
penonton kelimpungan dan algojo sempat gelagapan
bahkan ada beberapa penonton yang jumpalitan
tetapi penonton dan algojo langsung sigap menguasai keadaan
apa yang sebenarnya ia bicarakan pada algojo ketika jabat tangan?
dan apa yang sedang mereka rencanakan?
sejurus kemudian terdengar desas-desus yang mengatakan;
ternyata mereka telah membuat perjanjian dengan suatu persyaratan
bahwa algojo akan menghentikan pembantaian
asalkan lelaki itu bersedia dan mampu menggantikan peran
dan tanpa babibu lagi ia setuju mengabulkan
lalu di luar dugaan penonton histeris ketakutan.
Matanya Meleleh
cahaya sore yang merambat
ke ruangan itu seakan enggan
menerpa parasnya yang memantulkan
ketenangan dan kerahasiaan
semesta
seiring matanya yang meleleh
bersama cemas
yang hinggap
dan mengendap
di sebutir peluh
ah… apapun itu
aku suka matamu.
Pada Sebuah Pagi
/1/
selamat bertandang ke rumah, hujan
makhluk di bumi sudah rindu
menyambutmu pulang.
/2/
senyummu dingin mengering
raib ditelan pagi menyingsing.
/3/
untuk apa susah payah menikam dadaku sendiri
bila mata itu telah lebih dulu membunuhku
mata itu adalah milikmu.
Hanyut
cakrawala terbakar hitam dalam
mendung itu
seakan mengiringi kepulanganku
yang kalah kuyup sepanjang jalan
di jalan aku menemui segala ketimpangan:
dari traffic light mati
lampu jalan yang redup
selokan mampet
lalu lintas macet
yang mengisyaratkan aku tuk berhenti
pada trotoar licin yang tergenang
berlumpur penuh lubang
sampai akhirnya kutemukan senyummu
yang mengambang
hanyut terbawa luapan
sungai hujan.
Gandhang Kandhiridho, lahir pada 4 April. Berdomisili di kota kelahiran, Surakarta, Jawa Tengah. Senang menuangkan kata-kata melalui medium puisi. Buku antologi puisi pertamanya berjudul “Rahim Waktu” (Teras Budaya Jakarta, 2021) dengan menggunakan nama pena “Dan Hermit”. Dalam waktu dekat (2022) sedang menyiapkan buku antologi puisi keduanya. Bisa dihubungi surel: [email protected] dan Instagram @gandha_ng
Kukira yang kulakukan adalah perjalanan panjang yang muaranya adalah sebuah puncak tinggi, yang akhirnya hidupku diliputi berbagai bentuk keindahan. Gemerlap dunia dengan berbagai perhiasan tiada tanding. Pastinya akan membuat iri setiap makhluk bumi yang melihat, pun memperhatikanku. Segala puji dan bangga akan menghampiriku selalu, setiap hari, dan di mana pun itu.
Sungguh tak tahu dirinya aku, seolah mendikte Tuhan yang maha segalanya. Sungguh sombongnya aku, bangga dengan segala bentuk pencapaian yang seharusnya aku tahu, itu kecil sekali, dan mungkin belum tentu terjadi di ujung perjalananku nanti. Aku bersyukur karena aku dipertemukan jalan untuk pulang, sekaligus jalan untuk melanjutkan lagi perjalanan panjangku. Meski aku tahu selain aku menganggap hidup ini adalah persaksianku, aku harus sadar aku harus bisa mengolah bentuk persaksian orang lain terhadapku. Agar aku tak sakit hati.
“Tar, jangan melamun saja. Lebih baik kamu balik lagi ke kota, aku tahu duniamu di sana. Kamu akan jauh lebih hidup di sana dibandingkan di sini.”
Sial, aku dianggap melamun sepagi ini. Di rumah Kuma pula. Dan lebih sial lagi Kuma juga yang berusaha menyadarkanku. Sebetulnya aku tak niat melamun pagi ini. Aku hanya terpesona dengan salah satu buku tentang sebuah Mantra Sastra yang ada di rak buku milik Kuma. Sedari malam aku membacanya dan sampai pagi ini aku masih membacanya. Entah kenapa Kuma menegurku karena mendapati aku sedang melamun. Aku curiga, sebetulnya aku tak melamun, melainkan merenung, menerka inti dari setiap hal yang kutemukan dari buku Mantra Sastra yang ada di tanganku ini.
“Kenapa kamu bisa mengatakan itu padaku. Kamu kan tahu, ini lebaran pertama setelah semua orang dilarang merayakan lebaran secara terang-terangan karena pandemi beberapa tahun lalu.”
“Aku memang tak bisa mengatakan ini benar atau salah. Apalagi ini waktu lebaran, yang sudah seharusnya setiap yang bepergian jauh akan pulang untuk saling bertemu dan saling terbuka meminta dan menerima maaf satu sama lain antar sanak saudara. Tapi bukan persolan lebaran itu yang kumaksud. Aku hanya melihat ada yang beda denganmu. Apalagi dengan rencanamu tak kembali lagi ke kota setelah ini.”
“Lalu kalau boleh tahu apa alasanmu mengatakan aku akan jauh lebih hidup di kota dibandingkan di sini?”
“Aku tak tahu persis apa alasanku. Tapi aku pernah melihatmu di sana melalui media sosial milikmu, melihatmu dengan segudang kegiatanmu yang aku sendiri belum pernah menemukannya di sini. Aku melihatmu sangat hidup lengkap dengan pancaran ekspresi tulus di wajahmu.”
“Tentu aku tahu, karena aku tahu kita berdua berbeda. Aku belajar banyak darimu dan aku suka kalau kamu pulang dan main ke rumahku seperti ini, aku bisa memperolah banyak hal dari beragam warna ceritamu. Sedangkan kamu tak memperoleh apa pun dariku.”
“Maksudmu aku jauh lebih pandai darimu?”
“Iya. Bahkan lebih dari itu, dengan banyak pengalamanmu, aku yakin kamu seorang yang punya masa depan yang cemerlang. Tentunya masa depan yang sesuai harapanmu.”
“Sebentar, maksudmu masa depan yang bagus dan cemerlang itu bukan di sini. Makanya kamu bilang aku akan lebih hidup di kota.”
“Sepertinya begitu. Aku tinggal dulu Tar, kuambilkan sarapan buatmu, biar melamunmu penuh tenaga. Haha.”
“Sial! Sudah kubilang aku tak melamun.”
***
Di awal perjalanan itu aku menemui banyak hal yang menggembirakan. Penuh tualang dan puji-pujian. Aku menikmatinya, sangat menikmatinya. Kalau pun itu perih, aku masih menganggapnya sebagai sebuah bagian dari perjalanan indah ini. Perih itu menjadi bagian menarik dari cerita yang bisa kuhamburkan penuh kebanggaan.
Iya, aku belum menyadarinya. Sampai di tengah perjalanan itu pun aku belum menyadarinya. Apakah aku terlambat, tentu tidak. Aku hanya belum menemukan aku yang digariskan oleh sang waktu itu sendiri. Tak kusangka pertemuanku dengan diriku adalah di ujung perjalanan itu sendiri. Ujung yang kuanggap akan berbentuk indah penuh dengan gemerlap dan semerbak wangi-wangi pujian.
Suara Kuma memecahkan lamunanku. Aku hampir sampai pada sebuah sebab yang sedang kucari dengan mengolah pikirku. Jujur saja, aku ingin mencarinya dengan rasa. Tapi aku belum tahu bagaimana cara merasakannya. Meski aku tahu bahwa pikiran ini justru akan menghambatku, tapi aku percaya, aku sedang berusaha untuk berpikir jernih dengan sesekali menyisipkan rasa di tengahnya.
Bagaimana caranya?
Jika ada yang bertanya seperti itu tentu aku sendiri bingung mencari jawabannya. Mungkin jawabannya akan muncul saat aku sudah mampu merasakan dengan rasa yang sebenarnya. Semoga saja.
“Sudah kubilang, makan dulu. Biar melamunmu penuh gairah dan tenaga.” Suara Kuma kembali melepas rangkaian yang sedang kubangun untuk kucari sebab musababnya.
Tapi memang tak ada pilihan lain selain menanggapi Kuma lagi. Sebab jika nanti aku kedapatan tampak melamun lagi, tak menanggapinya, tentu dia akan berpikir yang tidak-tidak. Dia pasti akan bilang kalau aku seharusnya begini, seharusnya begitu, dan berbagai macam pandangan aneh tentangku akan dia utarakan panjang lebar lagi.
Jujur saja pendapatnya tentang aku akan jauh lebih hidup jika berada di kota, itu saja masih belum kupecahkan, bagaimana bisa Kuma berpikir seperti itu padaku.
“Ayo Kum makan juga. Jangan berpikir yang aneh-aneh lagi tentangku. Aku hanya memikirkan buku tentang Mantra Sastra milikmu yang sedang kubaca ini.” Dalihku pada Kuma agar dia tak mencoba menebak-nebak yang sedang kulakukan didalam pikiranku.
“Parah memang kamu Tar. Aku dari tadi sedang makan di sampingmu.”
“Masak sih?” sambil kulayangkan pandang pada sebuah piring kotor yang ada di samping Kuma. Dalam hati aku berkata, “segitu dalamkah aku tenggelam memikirkannya?”
“TARAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA, cepat makan, jangan melamun lagi.”
Teriakan Kuma kali ini benar-benar memaksaku untuk berhenti sejenak tentang perjalanan, ujung, keindahan dan mungkin bisa disebut sebagai kesadaran.
***
“Sudah siap melamun lagi Tar?”
“Ngrokok dululah.”
“Sejak kapan kamu merokok?”
“Sudah lama, sejak zaman penjajahan.”
“Jangan jauh-jauh ngomongin penjajahan antar bangsa dululah Tar, masing-masing dari diri kita juga sedang dijajah dengan pikirannya sendiri. Dan jujur saja aku khawatir Tar.”
“Khawatir tentang apa?”
“Tentang diriku sendiri yang mulai bingung dengan apa yang kamu katakan dari tadi, dan tentang kamu yang membuatku khawatir karena terlihat banyak melamun.”
“Ahhhh, jangan pergi dulu kalau begitu, kita harus ngobrol serius kali ini.”
Memang sepanjang malam ini, Kuma membiarkanku sendiri tenggelam dalam bacaan buku Mantra Sastra miliknya. Dia hanya sesekali saja mengajakku berbicara, mungkin karena aku tampak serius membacanya. Dia tak duduk di sampingku sepanjang malam. Dia hanya mengamatiku sambil melakukan apa saja yang bisa ia kerjakan di kamarnya. Aku tahu persis dia sedang ingin menanyakan banyak hal padaku. Entah itu pengalamanku dari kota, atau tentangku yang benar-benar membuatnya khawatir.
Sejak awal memang sudah kukatakan pada Kuma kalau usai lebaran tahun ini aku tak akan balik lagi ke kota. Aku sudah selesai belajar sekaligus dikurung di sebuah bangununan berbentuk balok di kota. Saat pertama kukatakan itu, aku melihat sorot mata Kuma sedikit menunjukkan rasa sedih. Entah itu memang benar-benar ekspresi sedih atau bahagia mendengar aku sudah lulus, aku tak terlalu menganggapnya serius. Pokoknya matanya berkaca-kaca.
***
Memang awalnya aku menemukan hal menarik sebagai pemantik pikiranku tentang perjalanan hidupku ini, dari buku Mantra Sastra yang sedang kubaca ini. Namun seolah gayung bersambut, perkataan Kuma tentang aku akan lebih hidup di kota juga berkaitan dengannya.
Saya sendiri harus kebingungan dalam menentukan sikap,terutama dalam mnentukan tempat berpijak. Saya pun pada gilirannya memutuskan untuk tidak berpihak pada salah satu kutub. (Sastra Jendra Hayuningrat Pangruating Dyu).
Kutub yang dimaksud dalam buku Mantra Sastra itu adalah kutub tradisionalis dan modernis. Pilihan tokoh dalam buku itu untuk tidak perpihak pada salah satu kutub adalah karena satu sisi tokoh itu punya pondasi kuat tentang cara hidupnya meski itu dianggap kolot—tradisonal orang lain, namun secara pola pikir dia juga mengembangkan pola pikir yang selalu berkembang. Sehingga meski satu sisi dianggap kolot, tapi di sisi lain tokoh dalam buku Mantra Sastra itu juga sangat maju dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Sehingga antara kutub tradisionalis maupun modernis tidak lagi saling menolak satu sama lain, melainkan saling melengkapi.
Menarik bukan, ketika aku mengatakan pada Kuma akan menetap di desa, yang sesungguhnya alasan besarnya adalah untuk menggali muasal diriku sendiri. Kuma dengan alasannya yang masuk akal pula mengatakan aku akan jauh lebih hidup jika di kota. Sebab menurutnya banyak hal yang bisa kulakukan di kota tak bisa kulakukan di desa.
“Menurutmu aku bisa melakukan apa yang dilakukan tokoh dalam buku Mantra Sastra ini Kum?”
“Aku ragu, sebab itu adalah perjalanan spiritual seorang kyai.”
“Aku yakin, buku ini ditulis untuk memberi pelajaran pula pada kita semua.”
“Sebenarnya aku belum membaca buku itu Tar, makanya aku tak bisa banyak komentar. Hehehe.”
“Aku pulang dululah, nanti malam kita lanjut lagi.”
Nganjuk, 4 Mei 2022
A. Muhaimin DS , lahir di Nganjuk (Kota Angin). Seorang penikmat cerita. Menulis puisi, cerpen, dan juga membuat catatan ringan tentang keseharian di rumah sederhananya amuhaiminds.blogspot.com dan catatan tentang pengalaman minum kopi di serupakatakita.blogspot.com. Bisa dihubungi di Instagram @serupakatakita dan Facebook Abdul Muhaimin
Jakues menatap mikrofon yang berdiri di hadapannya. Kepala mikrofon yang bulat dan perak, mengingatkan Jakues pada bola besi yang memborgol kaki seorang budak bernama Addictus dalam sebuah kisah dari Romawi Kuno.
Nada-nada hip-hop berputar secara otomatis. Bunyi-bunyi yang mengusungnya, terekam secara digital menjadi sebuah komposisi musik. Kesan perlawanan mengambang seperti udara kental. Badan Jakues berayun-ayun ke depan dan ke belakang, seolah tulang punggungnya terbuat dari batang gandum.
“Sejarah proletar / ditulis dengan darah dan anggur…”
Penonton pecah menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama melakukan tarian pogo, dan kelompok kedua melakukan breakdance. Di antara mereka, ada lagi kelompok ketiga yang berperan sekadar menjadi tim hore dengan menyalakan cerawat dan mengaktifkan bom asap yang memagari tempat pertunjukan berlangsung. Asap-asap membubung, ditepis para pejalan kaki yang melintas di atas jembatan.
Suara mesin kendaraan dan klakson menjadi instrumen musik insidental, yang berfungsi sama seperti hentakan kaki para penonton.
“Modernitas mengeras di kepalaku / bagai batu vulkanik yang tersesat / di sebuah piknik masa depan / sedangkan cintaku entah di mana / menjadi limbah…”
***
Beberapa penonton duduk di tepi jalan sempit bawah jembatan itu, yang di dekatnya, sungai mengalir seperti garis-garis partitur. Pasukan mural memberikan olesan warna terakhir pada gambar di dinding yang tersambung dengan badan jembatan; tergambar sosok makhluk berkepala babi mengenakan seragam polisi. Bagian matanya ditutupi semacam kain, persis seperti yang dikenakan oleh patung Themis dari mitologi Yunani.
“Wartawan dari majalah kiri mau minta wawancara,” kata Helena, seraya membuka tutup botol minuman. Lantas menuangkan isinya ke mulut Jakues, seperti melepas ikan ke aliran sungai yang tenang.
Helena mengangguk. Anggukannya kecil, nyaris tak terdeteksi sebagai jawaban yang berarti ‘ya’.
Wartawan itu datang sendiri. Dia sedang mengamati barang-barang di lapak merchandise milik Jakues. Dari caranya memerhatian setiap barang yang dilalui matanya, wartawan dengan lingkaran mata cekung itu sepertinya sedang mencari pertanyaan tambahan untuk Jakues di luar dari yang sudah dibawanya.
Saat dipanggil, wartawan itu berjalan di belakang Helena, dengan gelagat antusias yang ganjil.
“Jakues, perkenalkan, dia wartawan paling diandalkan di majalah kiri.” Ferdinan membungkuk, memberi hormat, seraya diperkenalkan oleh Helena, sebelum mengambil posisi duduk bersila di depan Jakues yang bersandar ke dinding. “Dan Ferdinan, mungkin ini pertama kalinya kamu melihat Jakues secara langsung. Tapi seharusnya, bagi wartawan dari majalah kiri sepertimu, nama Jakues tidaklah terlalu asing.”
Jakues mengamati gerakan bola mata Ferdinan yang sekonyong-konyong liar. Pertama-tama, wartawan itu seperti tertarik pada topi beanie kuning yang dikenakan Jakues. Ada tulisan “penjara” menempel pada bagian depan topi itu. Saat membacanya secara sekilas, Ferdinan menyeringai. Bola matanya kemudian mengarah ke kaus kutang yang membungkus badan Jakues. Di dada kiri, tercetak tulisan: “ada konser musik di dalam sini”.
Ferdinan menghentikan pengamatan. Dia buru-buru mengingat tujuannya datang saat menyadari kemungkinan Jakues merasa sedang diteliti. Ferdinan pun membuka percakapan dengan sedikit gelapan:
“Saya suka semua merchandise yang anda jual.”
“Belilah kalau begitu,” kata Jakues.
“Belum gajian.” Ferdinan tersenyum, menampakkan gigi-giginya yang kecil dan rapat. Juga kuning, khas gigi seorang perokok.
“Tidak sambil merokok?”
Ferdinan mengulang jawaban yang sama. Ekspresinya juga tidak berubah. Dia membuka buku catatan dan meraih pulpen dari dalam tote bag. “Boleh saya mulai?” tanyanya.
“Tentu, usahakan pertanyaannya yang sederhana saja.”
Jakues melempar sebuah isyarat pada Helena yang duduk di sampingnya. Helena menangkap isyarat itu, lalu mengambil botol minuman, dan pelan-pelan menuangkan isinya ke mulut Jakues, sekali lagi, seperti melepas ikan ke aliran sungai yang tenang.
“Apakah ini akan menjadi tour terakhir anda?”
“Sebenarnya saya tak terlalu suka menyebutnya sebagai tour, tapi bagaimanapun, apa yang saya lakukan memang tampak seperti itu. Dan benar, ini yang terakhir. Selanjutnya saya mau istirahat untuk waktu yang lama.”
Ferdinan mencatat penjelasan Jakues secara garis besar. Dia menunggu kelanjutan penjelasan.
“Alih-alih menyebutnya sebagai tour, saya lebih senang kalau orang-orang mengenalnya sebagai perjuangan Multatuli.”
“Multatuli?”
“Betul, Multatuli. Berasal dari bahasa latin yang berarti; aku sudah banyak menderita.”
Ferdinan menarik udara melalui mulutnya. Tarikan itu membuat tubuhnya bergerak mundur, seperti ditarik oleh tangan yang lembut. Dia berusaha keras untuk mengendalikan pandangan. Tetapi bola matanya tetap bergerak melihat bagian kiri dan kanan tubuh Jakues yang seharusnya ditumbuhi lengan.
“Anda sudah mengerti yang saya maksud?” tanya Jakues.
Helena bangkit dari duduknya, meninggalkan mereka berdua, seakan menghindar dari kobaran api yang muncul dari retakan bumi.
Suasana di bawah jembatan semakin ramai. Tidak semua orang datang untuk menonton seorang rapper buntung menyanyi. Kehidupan di bawah jembatan itu sudah seperti kebudayaan dari planet lain. Berbagai kegiatan yang tak pernah tampak di kota di atasnya terjadi di sana. Mengonsumsi obat-obatan terlarang, bertukar pasangan untuk melakukan seks, hingga diskusi-diskusi yang mengarah pada rencana kudeta dan mengganti sistem kenegaraan dengan situasi baru yang cenderung anarki, adalah pemandangan yang biasa ditemukan di bawah jembatan. Walau rombongan polisi sering pula membubarkan pemandangan itu, mereka tetap saja muncul kembali. Seperti siklus terbit-tenggelam matahari.
Seakan membaca ekspresi Ferdinan yang menyerupai puzzle belum lengkap, Jakues menambahkan: “Kondisi saya ini bisa disebut malformasi lengan. Sebabnya bisa diduga-duga. Dulu ayah saya bekerja sebagai penjaga tempat pembuangan mobil bekas, sedangkan ibu saya bekerja di pabrik lem kaleng. Menurut cerita ibu, yang meneruskan analisis dokter, malformasi lengan yang saya alami disebabkan oleh faktor dari apa yang dimakan, diminum, dan dihirup ibu saya. Dari latar belakang pekerjaan kedua orangtua saya saja, kita bisa mengira-ngira bahwa potensi malformasi lengan bukan tidak mungkin dapat terjadi pada saya. Singkat cerita, saya lahir seperti ini dan mereka tetap membesarkan saya sebagaimana orangtua pada umumnya. Tetapi entah kenapa, saya malah tak ingin terus-menerus hidup bersama mereka. Di usia lima belas, saya pergi meninggalkan rumah kami yang berada di dalam area tempat pembuangan mobil bekas, lalu mencoba ini-itu untuk bertahan hidup sendiri. Atau lebih tepatnya, mencari esensi hidup dengan menjadi gelandangan.”
“Apakah karena itu juga, anda hanya menjual kaus kutang?” tanya Ferdinan. Pandangannya sempat berpaling ke lapak merchandise, kemudian kembali berhadapan dengan buku catatannya.
Jakues sedikit tersinggung dengan pertanyaan Ferdinan. Bukan karena Ferdinan sudah mencela kondisi fisiknya secara tidak langsung, melainkan karena wartawan itu seperti tak memedulikan penjelasan panjang yang sudah diuraikan Jakues. Namun karena malas mencari perkara, Jakues cuma menjawab: “Begitulah.”
“Lalu bagaimana anda bisa mengenal musik?”
“Anda tahu, beberapa mobil yang dibuang ke tempat pembuangan sebenarnya masih bisa digunakan. Setidaknya radio di dalam mobil-mobil itu masih aktif. Ayah sering mengajak saya mendengar acara-acara musik yang berlangsung di radio. Meski kelakar para pembawa acaranya kadang tak saya mengerti, selera musik mereka tetap tak bisa dianggap remeh. Selalu bagus, menurut saya. Kadang kalau ayah sedang kebetulan sibuk melakukan pekerjaan lain sampai tak punya waktu bersantai, saya akan melakukannya sendiri…”
Ferdinan mengerenyit, tidak percaya.
“Saya bisa menggunakan kaki untuk membuka pintu mobil dan menyalakan radio,” kata Jakues, berhasil membaca isi pikiran Ferdinan.
“Anda tidak takut ditangkap polisi karena punya musik terkesan terlalu subversif?”
Sesaat sebelum menjawab, seseorang mendatangi Jakues, meminta paraf di kaus kutang putih yang dibelinya dari lapak merchandise. Sambil membubuhkan paraf dengan menjepit spidol menggunakan jari kakinya, Jakues menjawab:
“Sedikit. Tapi apa boleh buat, saya Multatuli. Penderitaan atau yang semacam itu adalah esensi hidup saya.”
Orang yang meminta paraf itu pergi.
“Apa judul lagu yang anda bawakan terakhir tadi?”
“Kejahatan modernitas.”
“Apakah kebanyakan lagu anda bersikap anti-modernitas?”
“Di dalam cangkang modernitas, bahasa bergerak menindas kaum-kaum lemah. Makna yang diproduksi pabrik bahasa modernitas, hanya berpihak pada borjuis dan senantiasa hadir untuk kepentingan mereka. Saya, bersama musik yang saya bawa, ingin membuat bahasa sebagai sesuatu yang independen. Kalaupun perlu tidak independen, bahasa harus berpihak pada kaum-kaum lemah…” Seolah teringat sesuatu, Jakues mengerem penjelasannya: “Pokoknya begitulah.”
Saat mendengar penjelasan Jakues, Ferdinan beberapa kali tertangkap memperhatikan Helena. Mulanya Helena sedang berdiri membelakangi mereka. Tapi mungkin karena ia merasakan tatapan Ferdinan menusuknya dari belakang, Helena berbalik badan, dan mengangkat salah satu alisnya. Tidak spesifik untuk siapa tanda sapaan itu dikirim. Namun Jakues merasa sapaan itu melambung ke arah Ferdinan.
Seakan tak menyembunyikan apa-apa, Ferdinan berbicara:
“Berhubung saya bekerja di majalah kiri, saya sependapat dengan anda. Bahwa bahasa mestinya berpihak pada kaum lemah. Sebenarnya apa pun di dunia ini memang harus berpihak pada mereka. Namun saya kira bahasa tidak pernah tidak independen. Bahasa tumbuh dan berkembang dengan sendirinya. Ada pun makna yang lahir di balik tabir bahasa cenderung mengarah pada kelompok yang bukan kelompok lemah, saya yakin, itu pasti cuma bersifat sementara. Karena demikian, bahasa itu dikatakan independen. Mungkin, bahasa bisa menjadi milik semua orang, tapi sekaligus bukan milik semua orang. Bagaimana ya menyebutnya – umpama anak gelandangan yang mencoba berbagai hal untuk bertahan hidup dengan semangat oportunis dan, menerima semua belas-kasih orang-orang yang ingin menolongnya. Tapi tak berarti dia ingin dimiliki, kan?” Setelah selesai menjelaskan, Ferdinan mengetuk-ngetuk giginya dengan pulpen. Seolah-olah penjelasannya adalah keluarga kata yang tinggal di dalam mulutnya, dan hanya akan keluar bila pintu rumah mereka diketuk. Tetapi tak ada lagi penjelasan yang keluar. “Maaf, saya sepertinya terlalu banyak bicara.”
Jakues tidak berkata apa-apa. Kini ia mendeteksi bahwa wartawan yang memiliki bola mata cekung dan susunan kumis berantakan di hadapannya tidak benar-benar ingin melakukan wawancara. Ada maksud lain kenapa wartawan itu datang. Maksud lain itu sepertinya berhubungan dengan sikap dan perilakunya yang seakan lebih tertarik dengan keberadaan Helena. Perempuan yang menjadi pacar Jakues sejak dua tahun lalu. Helena adalah seorang breakdancer, sekaligus penggemar Jakues yang mengikuti perjalanan karirnya sebagai “Multatuli”. Singkatnya, mereka akhirnya saling mengenal dan saling memahami, hingga memutuskan berpacaran. Helena juga berperan sebagai semacam manajer yang mengatur jadwal perjalanan Jakues, dan mengurus keuangan dari hasil penjualan merchandise. Di samping itu, nama Helena semakin terkenal setelah diketahui berpacaran dengan Jakues yang dapat dikategorikan sebagai artis “bawah tanah”. Bahkan lama-kelamaan pamor Jakues justru bergantung pada sosok pacar cantiknya itu.
“Anda mengenal pacar saya?”
Jakues menarik punggungnya dari dinding tempatnya bersandar. Ia menyeringai menyaksikan reaksi Ferdinan yang seakan berkata bahwa dugaan Jakues lebih dari sekadar betul.
Ferdinan diam sebentar, menimbang-nimbang kata yang akan digunakan untuk menjawab.
“Sejujurnya, kami dulu pernah berpacaran. Kisah lama sepasang mahasiswa, rasanya tak terlalu sopan untuk dikenang lagi. Setidaknya untuk sekarang. Maafkan saya sulit berusaha jujur sejak awal.”
“Tidak masalah, kawan.” Ingin rasanya Jakues menahan reaksi tubuh Ferdinan yang tak mengenakkan itu dengan tangan. Seandainya bisa.
Di saat-saat seperti ini, terkadang, Jakues kasihan kepada dirinya sendiri karena kondisi tubuhnya yang tidak lengkap. Kondisi yang membuatnya tak pernah bisa mengarahkan ritme tarian penonton dengan gerakan melambai-lambaikan sebelah tangan sembari tangan satunya memegang mikrofon. “Apakah Helena sudah jago ngeseks sejak dulu?” tanya Jakues. Bermaksud mencairkan kecanggungan yang membeku di wajah Ferdinan.
“Saya rasa tidak.”
Mereka tertawa bersamaan. Helena mengerenyit dari jauh, menerka-nerka arah pembicaraan Jakues dan Ferdinan.
“Dia paling suka gaya apa?” tanya Jakues. Spontan tanpa berpikir.
“Doggy style,” jawab Ferdinan. Cepat. Bahkan sebelum pertanyaan Jakues dilengkapi dengan kata ‘apa’.
Jakues sontak mengingat saat dirinya melakukan “doggy style” dengan Helena. Mereka memang jarang menggunakan gaya itu, karena Jakues tak mungkin bisa melakukannya secara sempurna. Gerakan itu akan lebih lengkap kalau bagian pinggul perempuan ditarik maju-mundur saat melakukan penetrasi. Mengingat bahwa ia tak mampu melakukannyasecara sempurna pada Helena, gambaran sosoknya yang tercetak di ingatan itu menghilang. Digantikan dengan sosok Ferdinan. Bagaikan sobekan foto yang menemukan sambungan baru.
“Saya rasa anda tak dapat melakukan yang seperti itu, kawan,” kata Ferdinan, seraya menyeringai, yakin telah berhasil membaca isi pikiran Jakues.
“Sepertinya anda terlalu jujur, kawan,” kata Jakues. Wajahnya tak menunjukkan ekspresi ketersinggungan.
Helena tiba-tiba berjalan ke arah mereka dengan langkah yang agak cepat. Ia memberitahukan bahwa polisi dikabarkan akan segera datang. Tak ada kesan kepanikan pada wajah kerumunan orang-orang di bawah jembatan itu. Dengan santai mereka menyembunyikan barang-barang yang sekiranya akan dipermasalahkan oleh polisi, bagai tupai yang menyembunyikan kacang untuk persiapan musim dingin.
“Mereka mengincarku,” kata Jakues.
Setelah menyampaikan kabar tersebut, Helena lantas pergi mengemasi lapak merchandise. Cuma sedikit barang yang mereka bawa selama “tour”, selain merchandise, perlengkapan mandi, dan pakaian ganti sekadarnya. Rekaman musik yang mengiringi Jakues beryanyi tersimpan dalam flashdisk. Sementara alat-alat lain yang diperlukan untuk sebuah konser kecil – seperti sound system, mikrofon, laptop, dan sebagainya – selalu disediakan oleh kelompok-kelompok bawah tanah yang mereka kunjungi.
“Sepertinya mereka juga akan menangkap anda, mengingat kita berada di sayap yang sama,” ujar Jakues, sambil membaca tulisan “majalah kiri” di tote bag Ferdinan.
Ferdinan mengangkat bahunya. Seolah peringatan yang barusan dikatakan Jakues adalah sesuatu yang biasa dia dengar.
Tak lama setelah Helena selesai mengemasi barang-barang, polisi sudah tiba di dekat tebing yang mengarah ke bawah jembatan. Sebelum membantu Jakues berdiri seperti membangunkan sebuah boneka peraga di toko baju, Helena sempat bersitatap dengan Ferdinan. Tatapan yang bermakna dalam sampai-sampai tak bisa dikatakan sebagai sekadar salam perpisahan.
Helena dan Jakues berlari ke arah yang berlawanan dengan arus sungai yang memantulkan cahaya kekuningan matahari sore. Agak jauh di belakang, Ferdinan terpaku sambil memandang ke arah mereka.
Helena terus memandang ke depan tanpa sedikit pun menoleh ke belakang. Ia berlari sambil memikul tas carrier berisi merchandise dan perlengkapan perjalanan. Kendati mungkin, ia merasakan punggungnya dihujam tatapan Ferdinan dari jauh. Jakues menyadari suasana itu, dan seketika beryanyi dalam hati: “Sedangkan cintaku entah di mana / menjadi limbah…”
Seraya berusaha mengimbangi kecepatan langkah Helena yang berlari di depannya, sesekali Jakues menengok ke belakang. Menengok kekacauan yang sengaja dibuat pasukan “bawah tanah” agar polisi mengabaikan keberadaan Jakues dan Helena. Tetapi bukan pemandangan itu yang bersarang di kepala Jakues. Sekarang, sembari berlari, dia justru membayangkan bahwa, dirinyalah yang semestinya diborgol polisi, bukan Ferdinan. Sedangkan Ferdinan, mungkin akan lebih cocok berlari bersama Helena sambil bergandengan tangan menuju arah yang berlawanan dengan arus sungai. Namun tentu saja Jakues segera tersadar, kalau semua itu tak mungkin terjadi. Dia tak punya tangan untuk diborgol, dan juga tak punya tangan untuk digandeng saat berlari.
Jakues tetap berlari bersama Helena. Sekencang-kencangnya. Seolah kakinya baru saja terbebas dari bola besi.****
Robbyan Abel Ramdhon, aktif menulis cerpen dan bekerja sebagai wartawan. Turut bergiat di Komunitas Akarpohon Mataram.
Ken bercita-cita menjadi seorang penulis di mana ia nanti bisa bercerita tentang galaksi-galaksi di jagad raya yang bisa ia tempati bersama permen-permennya. Mamanya bertanya, mengapa permen. Ken yang tahun depan akan masuk Sekolah Taman Kanak-Kanak menjawab bahwa ia butuh ruang yang sangat luas untuk menata permen-permennya itu. Dan satu-satunya ruang yang paling luas adalah galaksi. Ken teringat dongeng papanya di suatu malam. Waktu itu, papanya bercerita tentang galaksi dan gugus bintang yang sangat luas sekali sehingga mata manusia tak akan sampai untuk menjangkaunya. Dan di sanalah ia nanti bisa bertemu Tuhan.
Tentang mengapa permen, Ken sangat mencintai mamanya yang lihai membuat permen aneka rasa. Bagi Ken, mama adalah segalanya. Pernah di suatu hari, mamanya pergi seharian sampai pulang larut malam. Ken di rumah bersama pengasuh. Sepanjang hari itu juga ia menunggu di pagar rumah dan selalu memandang ke ujung jalan, berharap mamanya segera muncul. Ketika pulang, pengasuh bercerita bahwa sepanjang hari itu, Ken tidak mau makan dan tidur siang. Untung masih bisa dibujuk untuk mau minum susu. Dan mulai saat itu, mamanya berjanji bahwa ia tak akan lagi meninggalkan Ken pada keadaan apapun. Termasuk ketika ia harus berhari-hari di rumah sakit untuk menjalani serangkaian operasi pengangkatan rahim karena ada sesuatu yang tumbuh di dalamnya, ia meminta Ken tetap ada di dekatnya. Ken dan mamanya tak terpisahkan.
Di suatu malam yang gerimis, Ken terbangun lantaran haus. Ia berjalan sendirian menuju dapur. Ketika melewati kamar mamanya, Ken mendengar suara lirih tangisan mamanya. Ken ingin masuk. Namun langkahnya terhenti ketika ia mendengar suara papanya.
“Tolong, jangan paksa aku untuk memilih,” ucap papa Ken lirih sekali.
Ken kembali ke kamarnya degan perasan sedih. Ia tak bisa melihat mamanya menangis. Namun ia tak berani mendekat. Malam itu, Ken tertidur dengan mata yang basah. Dalam tidurnya, Ken bermimpi tentang gugusan bintang dan galaksi. Ken tengah terbang bersama papa dan mamanya, bernyanyi, lalu menyelinap di antara planet-planet. Ken merasa bahagia, sayangnya itu hanya dalam mimpi.
Paginya, pundak Ken diguncang oleh mamanya. Ia terbangun dan melihat mama sudah berada di sampingnya dengan mata yang sembab. Ken pura-pura tak tahu menahu tentang tangisan mamanya semalam. Ia mengucapkan selamat pagi kepada mamanya, lalu memeluk perempuan lembut itu, sama seperti pagi-pagi biasanya.
“Ken, kita harus pindah rumah.”
“Kemana, Ma?”
“Ke Jogja, di rumah Eyang.”
Ken kecil girang. Ia mengemas semua pakaian dan mainannya ke dalam kardus-kardus dan kotak plastik yang sudah disiapkan mamanya. Sudah terbayang di kepalanya bahwa ia nanti bisa mandi di sungai bersama kakek dan sepupunya. Lalu menggiring bebek dan ayam pulang ke kandang. Malamnya ia bisa menghabiskan waktu di mushola depan rumah bersama anak-anak tetangga seusianya. Mereka bisa bermain apa saja.
Kebahagiaan Ken kecil makin menjadi-jadi ketika mamanya menyampaikan bahwa ia akan bersekolah di Jogja dan akan terus tinggal di rumah eyangnya. Namun ketika Ken mendapati cerita bahwa papanya tak akan ikut bersamanya lagi, kesedihan menyerang Ken kecil dengan tba-tiba. Ia nyaris menangis. Namun mama segera memeluknya.
Semenjak itu Ken tak bertemu papanya lagi.
***
“Ma, kalau hari ini aku bisa ketemu dosen pembimbing dan bab lima-ku di ACC, berarti aku ikut wisuda Desember,” ujar Ken kepada mamanya di suatu sore ketika mamanya tengah merajut di belakang rumah. Mama Ken menoleh kemudian tersenyum. Ia sangat bangga atas apa yang telah dilakukan anaknya. Kini nama Ken ada di berbagai macam surat kabar. Ken kecil yang dulu sangat suka permen kini telah menjadi seorang penulis meskipun belum sampai pada gelar sarjana. Ken banyak menulis cerita fiksi tentang galaksi dan gugusan bintang.
Dulu sempat terjadi perdebatan kecil sebelum Ken masuk kuliah. Mama menginginkan anaknya masuk ke jurusan mesin. Alasannya satu, biar mudah mendapat pekerjaan mengingat begitu pesatnya perkembangan otomotif di waktu belakangan ini. Namun Ken menolak. Ia tetap ingin belajar sastra. Cita-citanya masih sama, ingin menjadi penulis seperti apa yang dikerjaan papanya. Mamanya berulang kali membujuk agar ia melupakan papanya, tapi tak bisa.
“Novel papa terbit lagi, Ma. Judulnya ‘Rumput Kering’. Agak beda dari ‘Akar Pohon’. Tapi menurutku yang Rumput Kering ini lebih bagus, cerita tentang perjuangan seorang PSK. Banyak nuansa cintanya. Mama mau baca?”
Ken merasa bersalah ketika tak ada jawaban sedikit pun dari mamanya, bahkan merespons dengan ekspresi wajah pun tidak. Ken paham bahwa ia telah membuat suasana hati mamanya menjadi tidak bagus hari ini. Sebenarnya, ia sadar bahwa melihat papa dan mamanya rujuk itu mustahil. Tapi dalam hati kecil, ia masih menginginkan mamanya mau sedikit membuka hati untuk papanya, untuk sekadar mau mendengar kabar. Sejak perpisahan itu, Ken tak pernah lagi mendengar nama papanya keluar dari mulut mamanya. Meski tak paham apa yang membuat mereka berpisah, Ken tahu bahwa hati mamanya sangatlah terluka.
Hari sudah hampir petang. Ken sudah rebah di kamarnya ketika perempuan yag sedari pagi tadi merajut itu berdiri. Pipinya basah ketika memegang buku yang Ken letakkan di meja dekat ia duduk. Ada sesuatu yang mencabik-cabik hatinya kembali setelah sekian tahun ia tutup agar tak luka kembali.
Ingatannya tertuju kepada malam itu, ketika ia tengah terduduk di tepi jalan dengan make-up tebal dan seorang lelaki mendatanginya. Lelaki itu mengajaknya pergi.
“Rosa,” panggil lelaki itu.
“Tahu nama saya dari mana?”
“Aku memerhatikanmu selama enam bulan terakhir ini. Wajahmu mengingatkanku pada cinta pertamaku waktu SMP. Sudah hampir empat puluh tahun berlalu.”
Rosa terdiam.
“Mulai sekarang, kamu tinggallah di sini! Jangan jual diri lagi,” pinta lelaki itu sembari memegang kedua tangan Rosa.
“Aku sedang mengandung,” jawab Rosa lirih.
“Beri dia nama Ken. Dan biarkan dia memanggilku Papa,” ucap lelaki itu sebelum memeluk tubuh Rosa erat sekali.
***
Ketika keluar kamar, Ken mendapati mamanya terisak dengan novel di tangannya.
“Ceritanya ini tentang PSK yang dicintai seorang lelaki, Ma. Si lelaki itu tak peduli kalau anak yang dikandung perempuan itu bukan anaknya. Tapi sayangnya si perempuan itu pergi meninggalkan si lelaki. Si lelaki itu sudah punya istri sah, dan si perempuan itu ia simpan sebagai istri kedua. Tapi si perempuan itu tak tahu diri. Ia minta si lelaki meninggalkan istri sah dan menikahinya. Keputusan yang berat buat si lelaki. Di satu sisi, ia tak bisa meninggalkan keluarganya. Di sisi lain, si lelaki menemukan cinta sejatinya justru kepada si perempuan itu.”
Ken memeluk mamanya ketika tangis semakin menjadi-jadi.
“Ken, kamu masih ingat jalan pulang?”
“Kemana, Ma?”
“Ke hati lelaki yang kamu panggil Papa,” ucap perempuan itu di dada anaknya.
Ken kini membayangkan tentang deretan permen-permen di dalam galaksi, tempat ia dulu sering berfantasi ketika masih kecil.****
Erna Surya, seorang pengajar Bahasa Inggris di SMK N 1 Juwiring, Klaten. Tinggal di Klaten. Senang dengan dunia buku dan tulis menulis. Kini sedang menempuh studi Magister di Universitas Sebelas Maret, Surakarta di jurusan Linguistik konsentrasi Penerjemahan. Bisa dikontak di [email protected] atau bisa lewat Instagram @ernaasuryaa
Katamu sebuah lagu mampu mengungkapkan perasaan seseorang, seperti bumbu dapur menerjemahkan rasa masakan. Dan aku pun percaya hal itu. Jadi, ketika perasaanku padamu mendesak-desak ingin disampaikan, lagu Kidung Bakti yang akhirnya berbicara pada semua insan.
Kamu tahu kan, sejak kecil aku suka sekali merangkai syair dan nada-nada? Mereka seringkali membesuk kepala. Lalu menyusup ke tangis, tawa, marah, kecewa, bahagia, bahkan dalam diam.
Dulu kita selalu menandaskan gigil fajar di perapian dengan memutar tembang kenangan, seperti langgam jawa, yang kental dengan iringan gamelannya, atau pop klasik berbirama empat perempat yang menggelitik halus di pendengaran. Saat itu sesekali bibirmu turut menggumamkan lirik lagu tersebut sambil tanganmu terus bergerak-gerak lincah di atas talenan, sementara kamu memintaku menggisar-gisar kayu bakar agar api di tungku tidak lekas padam.
Aku tahu kamu suka menyanyi, dan karena itulah kamu rajin mengajariku menyanyi ketika usiaku menginjak lima tahun. Bukan lagu anak-anak khas taman kanak-kanak, akan tetapi lagu kebangsaan dengan suara yang dibesar-besarkan. Kamu tahu suara sopranku sedikit sumbang, maka kamu akan membenarkan nada tinggiku yang masih terdengar payah. Aku juga ingat ketika kamu menyuruhku mengucapkan nama negaraku dengan benar. Katamu, aku mengucap kata ‘Indonesia’ menjadi ‘Endonesia’. Seketika aku tertawa dan kamu ikut tertawa, lalu kita tertawa bersama-sama.
Semakin hari aku tumbuh bersama lagu-lagu di sekitarku, bukan hanya lagu kesukaanmu yang kerap kita dengar bersama itu, tetapi dari stasiun-stasiun radio yang kuputar, aku jadi mengenal beragam lagu yang bagus-bagus. Orang-orang berkirim salam kepada orang yang dikasihinya dan meminta senandung favorit mereka untuk diputar. Aku pun pernah melakukan hal yang sama untukmu. Ketika itu aku sudah punya ponsel berwarna hitam nan tebal hasil dari uang yang kukumpulkan berbulan-bulan. Aku begitu takjub menyadari betapa ponselku sangat pintar mengirim pesan. Akan tetapi pesanku tidak pernah dibacakan dan lagu yang kuminta tidak diputar. Menyebalkan sekali bukan? Dari situ aku bertekad dalam hati bahwa kelak aku akan membuat lagu sendiri dan stasiun radio itu tidak akan bisa menolak untuk tidak memutarkan laguku.
Benar saja yang kupikirkan. Saat dewasa aku menikah dengan seorang penyanyi. Singkat cerita ia tidak keberatan membawakan lagu yang kuciptakan. Berhari-hari ia menghafal lirik lagu tersebut. Konon ia tak pernah selama itu menghafal lagu, akan tetapi di lagu ciptaanku, yang sengaja kubuatkan untukmu itu, ia mengaku kesulitan menyanyikannya, apalagi di bagian lirik yang menggunakan Bahasa Jawa.
Dhuk semono rung biso sembodo
mlaku tansah dituntun ditoto
ojo nganti adigang adigung adiguno
eling Gusti …eling Gusti soko jiwo
Dulu sebelum menikah, suamiku itu tak pernah menjanjikan materi yang lebih padaku. Aku hanya tahu dia orang baik, memiliki keluarga yang baik dan kawan-kawan yang baik. Maka kupikir hidupku pasti akan dikelilingi oleh orang baik. Dengan demikian aku juga bisa menjadi orang baik seperti apa yang kamu harapkan selama ini padaku. Bukankah memiliki kawan-kawan yang baik termasuk salah satu rezeki yang patut kita syukuri?
Hal itu terbukti saat suamiku meminta tolong mereka untuk mengiringi lagu ciptaanku. Tanpa berpikir panjang, mereka langsung mengeluarkan alat musiknya. Mereka membawa piano, gitar, seruling, kendang, saron, sapek, juga karinding. Dengan semangat yang meletup-letup di dada, mereka berbondong-bondong ke studio rekaman dan memainkan alat musik itu sebagai instrumen dari lagu yang kuciptakan. Sekitar sepekan lagu itu pun rampung digarap. Kami semua gembira dan lagu itu disebar ke mana-mana, termasuk ke stasiun radio yang tak pernah memutar lagu permintaanku dulu, kini lagu ciptaanku malah jadi playlist permintaan dari orang-orang.
“Bukan hanya Lathi, lagu Kidung Bakti juga bisa menggabungkan dua unsur yang berbeda,” kataku padamu.
“Iya, aku suka sekali lagu ini,” komentarmu di satu pagi yang cerah, secerah foto profilmu dengan kebaya putih dan gincu merah merekah.
Saat itu kita berbincang lewat sambungan telepon. Semenjak menikah, seseorang biasanya akan semakin sibuk dengan keluarga barunya. Bukan hanya aku dengan keluarga baruku, tetapi kamu dengan keluarga barumu, seperti dalam potret yang kamu jadikan foto profil itu. Aku ingat gambar itu diambil beberapa saat setelah kamu resmi dinikahi seorang duda kaya yang baik hatinya. Lalu di pagi yang berseri-seri, dengan wajah yang berseri-seri pula kamu bertanya padaku, “Bagaimana kamu bisa membuat lagu ini?”
Mendengar pertanyaaanmu itu hatiku serasa dilumuri berpuluh-puluh es krim. Lantas kujelaskan padamu bahwa di satu bunga tidur malam, kupingku mendengar nyanyian alam. Bersayapkan angin segar yang menyeberangi Laut Jawa, ia hinggap di pulau terbesar di Indonesia, ia menjumpai wajah-wajah yang dulu kerap menyapa: seperti gemuruh ombak di Sungai Mahakam, perahu-perahu kayu bercat cokelat kelam; arakan awan langit khatulistiwa, hutan ulin yang suram nan gersang; paras bertaburkan bedak beras, dan air mata seorang wanita di telepon genggam; cairan serupa yang kusaksikan menggenang saat kamu melepas genggamanku di bandara.
Kamu ingat aku pernah pergi jauh. Tapi apa kamu tahu kenapa aku melakukannya? Waktu itu hidupku tak ubahnya bola yang digiring ke kiri-kanan, lantaran menyaksikan dua kepala yang sama-sama ingin menang. Hatiku lelah, jiwaku berontak, kakiku melangkah sejauh bola yang menggelinding keluar area permainan. Kamu berulang kali memanggilku tapi aku tak peduli. Aku terus menjauh dari jangkauanmu. Kian lenyap dari pandanganmu, hingga akhirnya pria yang kini kamu sebut menantu itu datang ke kehidupanku, lalu ia menegur kala kakiku jatuh tersungkur.
“Jangan lagi buat orang tuamu menangis! Seburuk-buruknya mereka, kamu tak boleh jadi anak durhaka! Pulanglah!”
Alam pun menutur makna
tentang rasa yang dijaga
ke mana langkah kususuri
tak temukan kasih yang lebih sejati
Ayah dan Ibu ….
Begitulah lagu Kidung Bakti itu menceritakan perasaanku padamu, juga pada ayah; sesosok lelaki yang bertahun-tahun lalu telah meninggalkanmu. Lelaki itu kutemui bersama menantumu ke suatu tempat yang ia sebut rumah, tapi bagiku itu bukanlah sebuah rumah, itu hanya tempat orang-orang singgah untuk mengenyangkan perut yang lapar. Tidak ada kasur di sana, apalagi kamar tidur, yang ada hanya tikar lusuh yang digelar untuk orang-orang menyantap semangkuk soto ayam.
Di mata lelaki yang kulitnya legam dan penuh kerutan itu, kutemukan segudang penyesalan. Sudah kukira hal itu pasti terjadi, tapi walau bagaimanapun, wanita yang berada di sampingnya saat itu adalah istri sahnya. Bukan lagi namamu di Kartu Keluarga-nya. Jadi ia akan selalu pulang ke tempat istrinya itu, dan kupikir kamu pasti juga sudah bahagia bersama lelaki berusia enam puluhan yang menikahimu setahun lalu.
Tapi rupanya aku keliru. Sepekan lalu, di satu malam tak berbintang, ketika lagu Kidung Bakti itu telah didengar ribuan orang, suara serakmu mengabarkan bahwa suamimu itu telah berpulang karena sakit yang kamu anggap hanya masuk angin. Seketika tubuhku gemetaran. Degup jantungku berloncatan. Kepalaku berdenyut-denyut dan di sana berkelebat sebuah pertanyaan: kenapa rasa sayang selalu membuat kita kembali pulang?***
Prima Yuanita, seorang ibu rumah tangga, penyuka makanan tradisional dan lagu-lagu bernada mayor. Saat ini tinggal di Sragen, Jawa Tengah dan pernah meraih juara 1 Lomba Karya Jurnalistik PKK tahun 2020 tingkat Provinsi Jawa Tengah. Akun Facebook: Prima Yuanita dan Instagram: prima_yuanita.