Cerpen

Lucy di Bulan

Cerpen Febriana Widyat Sari

Lucy, seorang anak gadis berusia belasan yang terhitung pendiam. Ia lebih sering terlihat duduk sendiri. Membayangkan dirinya menjadi seorang astronot dan pergi ke luar angkasa. Sejak kecil ia selalu takjub keindahan langit. Ia sering membayangkan dirinya terbang ke luar angkasa, menjadi astronot. Melihat bulan dari dekat, bermain bersama bintang seperti dalam video musik Twinkle Twinkle Little Star yang sering ia lihat. Lucy mulai menyadari betapa besar tak terukur luasnya angkasa raya. Ketika ia melihat bumi, tempatnya tinggal bersama bapak ibunya, ia merasa kecil. Bumi nampak cukup besar dan ia selalu merasa bagaikan sebuah butiran pasir kecil di luasnya padang gurun Sahara. Kemudian, ia teringat sebuah teori yang dikemukakan oleh John Dalton yang pernah ia baca di buku mengenai atom. Ya, ia merasa ia adalah atom, begitu juga manusia lainnya. Partikel paling kecil di dalam suatu ruang, begitu kecilnya ia sehingga tak dapat lagi dibagi.

Lucy terpana melihat luasnya angkasa raya. Melihat dan merasakan di kedalaman ruang hitam yang sebelumnya selalu ia perhatikan ketika ia di bumi, jauh di bawah sana. Ruang hitam diantara kedipan bintang satu dan lainnya, dan yang mengelilingi bulan.  Kini Lucy memahami apakah bumi itu bulat. Apakah ia berputar. Apakah ia justru dikelilingi dengan gerakan memutar dari objek lain. Apakah bintang dan bulan dapat berpijar terang dengan kekuatannya sendiri, dan ataukah ada kekuatan lain di balik kedipan kilauan mereka.

Lucy melihat Jupiter, planet terbesar di alam semesta, dan planet terjauh dari bumi. Ia pernah membaca dari bukunya tentang tata surya. Lalu ia ingat ketika di bumi, ia sering tidak sepaham dengan pendapat kebanyakan orang. Saat itulah ia selalu berpikir ingin tinggal di Jupiter saja dan menjauh dari kebanyakan orang.

Akan tetapi, Lucy lalu merindukan senyuman manis ibunya. Ia juga merindukan pelukan sayang bapaknya. Baginya, bapak ibunya adalah dua manusia berjiwa lembut yang paling memahaminya. Tempat bertukar gagasan tentang memahami bagaimana dunia dan manusia di dalamnya berpikir. Berdiskusi tentang diri Lucy sendiri dalam menghadapi dunia dan semesta, kelak bila ia hidup sendiri tanpa ibu bapaknya. Membantu Lucy memahami bagaimana bertahan hidup, salah satunya dengan menjadi orang baik. Lucy ingat kata ibunya, ia boleh terbang setinggi apapun ia bisa, tapi ia tidak boleh lupa untuk kembali memijakkan kakinya ke tanah. Kata bapak, karena tanah adalah sepenuhnya kesadaran manusia.

“Lucy, makan dulu, Sayang”, panggil Ibu.

“Iya, Bu”, jawab Lucy.

Lucy turun dari rumah pohonnya kemudian, dan berlari menemui ibunya, menceritakan pengalamannya kepada ibu dan bapaknya yang sedang menunggu Lucy di ruang makan. Lucy mencuci tangannya lalu bergabung dengan ibu bapaknya di ruang makan.

“Jadi hari ini Lucy ke mana?”, tanya Bapak.

Bapak selalu tahu, Lucy selalu menghabiskan harinya sepulang sekolah di rumah pohon, di kebun belakang rumah mereka. Kebun itu langsung dapat terlihat dari dapur dan ruang makan, karena pintu keluar dan masuk dari ruang dapur dan ruang makan ke arah kebun terbuat dari kaca. Pertanyaan bapaknya mengacu kepada imajinasi Lucy hari ini di rumah pohon. Setiap kali ke rumah pohon, Lucy selalu berimajinasi bahwa dirinya berada di ruang dan waktu yang berbeda. Buku-buku kesayangannyalah yang selalu membawanya ke dalam imajinasi. Tempo hari, imajinasinya membawanya ke Inggris abad 19. Ia mengikuti detektif kesukaannya; Sherlock Holmes dan sahabatnya Dokter Watson menyelesaikan kasus petualangan Silver Blaze.

“Ke bulan, Pak”, jawab Lucy. Lalu Lucy menceritakan semua, sampai pada panggilan ibu untuk makan. Ibu dan bapaknya menyimak ceritanya dengan antusias.***


Febriana Widyat Sari, lahir dan menetap di Surakarta, Jawa Tengah. Seorang ibu, guru sekaligus murid. Pecinta kata-kata, penghayat realita. 

Puisi

Puisi Febriana

Hide away

A feeling of this

Depression is torching me

I’d like to go, please

Solo, 22 Mei 2022


Dream of the Wind

The wind is coming

I feel my body’s freezing 

I’m only dreaming 

Solo, 22 Mei 2022


Gabriella’s Eyes

Gabriella’s eyes

Shine as diamond in the sky

They are eagle’s eyes

Solo, 22 Mei 2022


Juwita Tumpuan Asmara

Kabut, kalut nan bernaung ruang

Peduli apa pada siang?

Bak gerombolan awan

Samar nan menawan

Asmara kau sulut

Kau kira kasihku surut?

Oh, Kau juwita tumpuan kalbu

Detak jantung mengiring rapalan mantraku

Merindumu bak tertusuk duri tajam

Kau lepas panah menderu menghunjam

Perih menempa jiwa

Apa guna raga bersuka

Rinduku menderu seluruh raga

Harap kuucap dalam sukma

Detik berganti tahun 

Pikirku mengharu hingga ke ubun

Sejuk merajuk semilir bayu

Bening mengalir tenang air mataku

Karangpandan, 13 November 2021


Soemarah

Senja menggiring hingga peraduan

Siapakah engkau, wahai Toean?

Merapal doa mengembus asa

Kecupmu tulus pada pelupuk mata

Para penghuni semesta

Harapan adalah doa

Doa adalah mantra

Dirapal dalam jiwa merasuk sukma

Toean, mantramu tertuju para pendosa

Kau pusar tujuh arah mata semesta

Kepada semesta tersemaikan

Benih kasih dan kepasrahan

Teguh bersikukuh bersimpuh

Pusar arah mata angin yang tujuh

Soemarah..Soemarah..Soemarah

Berserah pada semesta 

Payung penaung para resi pun pendosa

Soemarah..Soemarah..Soemarah

Kala berlaju saksi deru langkah

Para pencari hakikat dan makna

Solo, 8 Agustus 2022


Nasi

Jangan kau memusuhi nasi

Ingat nasib bapak ibu tani

Meski ini kolonial yang merekonstruksi 

Nanti kau kan susah sendiri

Jangan kau memusuhi nasi

Habiskan jangan buat basi

Berteman baiklah jangan emosi

Sudahlah makan, jangan gengsi

Solo, 22 Mei 2022


Aku Ingin

Aku ingin bertemu, dikau 

Dalam ramai dan sunyi 

Kutahu kau tahu

Kugenggam kasihmu 

dalam mimpi tak berujung

Namamu merajai bawah sadarku

Memenuhi ruang pikir dan hati

Wahai hidup yang paling hidup

Kematian yang paling nyata

Kau, lebih dekat dari napasku

Kau adalah aku

Aku, ingin bertemu

Kutarikan duka

Kupeluk suka

Aku ingin bertemu

Kuhempas rintangan 

Merayakan luka 

Mengamini doa

Aku ingin

Menyelami wajahmu

Kasih yang tak menyurut 

Solo, 27 Mei 2022


Jangkar

Aku adalah jangkar 

Meneguhkan hatimu 

Dari ombak yang menerjangmu

Tak perlu ragu 

Jangkarmu pengamanmu

Aku adalah jangkar 

Di depanmu menghadapi badai

Kau hanya harus kuat 

berpegang erat 

Kau kan selamat 

Aku adalah jangkar 

Percayalah pada nuranimu 

Meski kau tak melihatku 

Kau bisa merasakanku 

dengan yakinmu 

Solo, 27 Mei 2022


Febriana, ibu rumah tangga dan guru paruh waktu.