Cerpen

Yang Berganti Nama di Buku Sejarah

Cerpen Erna Surya

Terakhir kali kulihat wajah itu bukan ketika kami masih bersembunyi di kolong jembatan dekat Kali Code, menunggu iring-iringan truk tentara berlalu. Bukan juga saat kami menggenggam erat tangan masing-masing di tengah gelap, berharap fajar tak datang membawa peluru. Wajah terakhir itu kulihat di ruang interogasi, bertahun-tahun kemudian, di antara bau darah yang belum kering dan suara logam memukul tembok. Ia tersenyum, entah kepada siapa. Dan aku tahu, di detik itu, seseorang sedang mencatat dosa terakhirku di buku yang tak bisa kubaca.

“Tuhan tidak akan menaruh belas kasihan pada bajingan sepertimu,” katanya pelan.
Kalimat itu menghantamku lebih keras dari popor senapan.

Ya, memang.

Bukankah terlalu banyak wajah yang sudah kulenyapkan atas nama sesuatu yang kusebut ideologi? Bukankah terlalu banyak tubuh yang kubenamkan di lubang-lubang tak bernama yang bahkan tikus pun enggan singgah di sana? Aku tak pernah menghitung berapa nyawa yang kutarik keluar dari jasadnya. Kalau ada yang mau membangun monumen dari tulang belulang itu, mungkin satu bukit di pinggir Bantul akan penuh sesak dengan kepala manusia.

Kau tahu, dulu kami tak menyebutnya pembunuhan. Kami menamai itu “pembersihan.” Kata yang manis, rapi, dan terdengar seperti tugas mulia. Tapi malam-malam di kepalaku masih meneteskan darah hingga hari ini.

***

Aku dijuluki Gatot, bukan karena aku gagah, tapi karena aku yang paling cepat menusukkan bayonet tanpa perlu perintah dua kali. Tahun-tahun itu, udara Jogja penuh dengan bisik-bisik tentang pengkhianat, dan aku seorang pemuda yang baru lepas dari barisan rakyat dan dipilih jadi tangan kirinya negara.

Setiap malam, aku dan dua orang lainnya, Gendon dan Wiryo, menjemput orang-orang yang dituduh simpatisan. Kami membawa mereka dengan truk ke tepi sungai atau sawah yang sudah kering, lalu suara tembakan menjadi tanda berakhirnya urusan. Kadang tak perlu tembakan; cukup sebuah cangkul yang menghantam tengkuk.

Kami tidak diberi nama, hanya nomor. Nomorku 23. Aku tak tahu siapa 1 sampai 22, tapi aku tahu nomor 24 adalah Sulastri, perempuan yang kemudian mengubah segalanya.

Dia bukan tawanan. Dia juru ketik di pos komando, sering membawa termos kopi dan senyum kecil. Di antara bau keringat tentara dan lumpur, senyumnya seperti air yang menetes di batu panas. Aku mencintainya dalam diam yang bodoh. Mungkin itu satu-satunya hal manusiawi yang masih tersisa di dalam diriku saat itu.

***

Suatu malam, setelah menuntaskan “pembersihan” terakhir di daerah Klaten, aku kembali ke barak. Sulastri duduk di meja ketik, menggigit bibirnya, menyalin laporan tentang berapa kepala yang hilang hari itu. Aku membaca sekilas: 23 orang.
Angka yang kebetulan sama dengan nomorku.

“Kau tidak lelah, Las?” tanyaku.

“Kalau lelah, untuk siapa aku bekerja, Gatot?” jawabnya, tanpa menatapku.
Suaranya serak tapi lembut, seperti serat daun pisang yang digesek angin.

Malam itu kami bicara banyak hal, tentang rumahnya di Kulon Progo yang terbakar, tentang adik laki-lakinya yang ditangkap di Surakarta, tentang keyakinan bahwa Tuhan pasti tahu siapa yang benar dan siapa yang berdosa. Aku ingin mengatakan padanya bahwa Tuhan mungkin sudah mati di lubang tempat kami mengubur para lelaki itu, tapi bibirku kelu.

Sejak malam itu, aku berhenti menghitung berapa mayat yang kuurus. Aku mulai menghitung berapa kali Sulastri tersenyum padaku.

***

Lalu, sebuah laporan datang: Sulastri dicurigai membocorkan nama-nama ke pihak seberang.

Aku menertawakan kabar itu. Tapi tawa itu berhenti ketika Letnan memanggilku dan memerintahkan aku sendiri yang menginterogasinya.

“Kau yang paling dekat dengannya. Kau tahu bagaimana memancingnya bicara,” katanya.

Aku menolak. Tapi perintah adalah perintah. Malam itu aku duduk di seberang Sulastri, di ruang sempit berlampu pijar. Meja di antara kami basah oleh keringat dan kopi tumpah. Ia menatapku seperti menatap seseorang yang sudah ia siapkan di dalam doa: bukan untuk keselamatan, tapi untuk pengampunan.

“Kau harus bicara, Las. Mereka akan datang jika aku tak mendapatkan pengakuan.”

“Apa yang harus kuakui, Gatot?”

“Apa pun yang mereka mau dengar.”

“Kalau begitu aku akan mengaku semuanya, termasuk dosamu sendiri.”

Dan di situlah, aku untuk pertama kalinya merasakan takut. Bukan takut pada peluru, tapi pada kebenaran yang bisa menghancurkan diriku sendiri.

“Aku tidak pernah membocorkan rahasia. Tapi aku mencintaimu,” katanya kemudian. “Dan itu sudah cukup untuk membuatku mati di sini, bukan?”

Suaranya pecah. Aku menunduk. Tanganku gemetar di atas meja.
Di luar, suara jangkrik bersahutan seperti nyanyian pengantar ke liang kubur.

Keesokan harinya, Sulastri “dihilangkan.” Aku tidak hadir dalam eksekusi itu, tapi aku tahu siapa yang memegang pistol. Dan entah kenapa, sejak saat itu, aku berhenti bermimpi.

***

Lima belas tahun kemudian, ketika orde yang dulu kami bela runtuh oleh orde yang baru, aku masih hidup. Rambutku memutih, tanganku gemetar, tapi bayangan Sulastri tetap jernih di kepalaku.

Aku tinggal di rumah tua di pinggir Kali Gajah Wong. Setiap kali hujan datang, air sungai naik dan menyeret sisa-sisa lumpur yang seperti masih menyimpan suara jeritan malam. Orang-orang bilang aku gila karena sering berbicara sendiri di tepi air. Mereka tak tahu, aku sedang berbicara dengan masa laluku.

Suatu sore, seorang lelaki muda datang mengetuk pintuku.
Namanya Rama, wartawan dari Jakarta. Katanya, ia menulis buku tentang mereka yang hilang di masa lalu. Di tangannya ada map cokelat, dan di dalamnya ada foto Sulastri muda, tersenyum.

“Kami menemukan kuburan massal di Bantul,” katanya pelan.

“Ada sepotong tulang dengan gelang perak bertuliskan Las.”

Aku hampir roboh. Gelang itu pernah kuberikan padanya, malam sebelum ia lenyap.

“Apakah Anda mengenalnya, Pak Gatot?”

Aku tidak menjawab.  Aku menatap foto itu lama, seolah wajah di sana bisa berbicara.

Rama lalu menyalakan perekam dan berkata, “Boleh saya dengarkan cerita Anda?”

Dan sejak itu, percakapan ini dimulai. Entah ia sadar atau tidak, aku bicara bukan hanya padanya. Mungkin juga pada Sulastri, pada Tuhan yang dulu diam, pada setiap arwah yang masih gentayangan menuntut nama mereka disebut.

***

“Jadi, Bapak membenarkan semua tuduhan itu?” suara Rama bergetar.

“Tidak perlu dibenarkan. Itu sudah terjadi.”

“Berapa orang yang Bapak habisi?”

“Cukup untuk membuat sejarah tak bisa tidur.”

Aku tersenyum getir. Kadang-kadang dosa memang terdengar seperti humor yang gagal.

Rama mencatat dengan cepat. “Mengapa Bapak mau bicara sekarang?”

“Karena aku ingin mati dengan wajah Sulastri menatapku, bukan punggungnya yang menjauh.”

Ia diam. Di luar, hujan mulai turun deras. Butir-butir air menimpa genting seperti langkah kaki ribuan orang yang kembali dari liang.

“Tapi, apakah Anda menyesal?”

Aku tertawa pendek. “Penyesalan itu cuma hiburan bagi mereka yang tidak sempat menebus apa pun.”

“Lalu apa yang Anda harapkan?”

“Pertemuan.”

“Dengan siapa?”

“Dengan dia yang terakhir tersenyum padaku.”

Rama menatapku lama. Mungkin ia pikir aku sudah pikun. Tapi aku tahu, di matanya ada rasa takut yang sama seperti dulu kulihat di mata para tawanan sebelum peluru menembus kepala mereka.

***

Malam itu, setelah Rama pergi, aku duduk di depan jendela. Lampu minyak menyala redup. Di meja, foto Sulastri tergeletak, separuh basah oleh air hujan yang menetes dari atap bocor. Aku menatapnya lama, wajah yang tak berubah meski waktu sudah berkarat.

Kau tahu, kadang Tuhan memilih cara yang aneh untuk menghukum manusia. Ia memberiku umur panjang agar aku sempat menonton ulang semua perbuatanku tanpa bisa menghapus satu pun adegan.

Di luar, kali meluap. Airnya hitam, berbau lumpur dan besi.
Aku berdiri, melangkah ke halaman, membiarkan air menyentuh mata kakiku. Hujan masih turun seperti tirai yang menutup panggung dosa.

Di tepi air, aku mendengar suara perempuan memanggil namaku. Lembut, jauh, tapi jelas.

“Gatot…”

Aku menoleh. Tidak ada siapa-siapa. Hanya pantulan wajahku sendiri di permukaan air dan di belakangnya, samar, seolah ada bayangan perempuan berkebaya, tersenyum.
Senyum yang sama, yang terakhir kulihat di ruang interogasi.

***

“Jadi, apa yang akan kau lakukan jika Tuhan datang malam ini?” suara itu bergema di kepalaku.

“Mungkin aku akan minta Ia menukarkanku dengan satu tulang Sulastri.”

“Kau pikir Tuhan peduli pada transaksi seperti itu?”

“Kalau Ia tak peduli, kenapa Ia biarkan aku tetap hidup sampai sekarang?”

Suara itu tertawa. Tawa yang getir, seperti ranting patah di musim kering.
Aku tak tahu apakah itu suara nuraniku, atau Sulastri, atau bahkan Tuhan sendiri yang sedang menyamar dalam pikiranku.

Malam semakin pekat. Aku melangkah ke tengah halaman, air kini setinggi lutut. Di kejauhan, petir menyambar, menyingkap sejenak siluet pepohonan seperti bayangan orang-orang yang pernah kukubur. Mereka berdiri berbaris, menatapku.
Aku memejamkan mata.

“Las,” bisikku, “Kalau kau di sana, maafkan aku.”

Angin menjawab dengan desir lembut, seolah jari-jari halus menyentuh wajahku. Lalu sunyi. Aku kembali ke rumah, menyalakan rokok terakhir, duduk di kursi bambu. Di meja, foto itu masih menatapku.

***

Pagi belum datang ketika pintu rumahku diketuk. Rama berdiri di luar, wajahnya pucat. Di belakangnya, dua polisi berpakaian sipil.

“Mereka ingin bicara dengan Bapak,” katanya lirih.

Aku tahu apa artinya. Mungkin mereka baru menemukan lagi lubang lain, mungkin namaku tercantum di catatan lama yang baru dibuka.

Aku tersenyum. “Akhirnya giliran saya.”

Sebelum mereka sempat berbicara lebih jauh, aku mengambil langkah ke dalam, membuka laci meja, dan mengeluarkan sepucuk pistol tua. Mereka berteriak, tapi aku tidak menodongkan senjata itu ke arah mereka. Aku menatapnya sebentar. Itu besi dingin yang dulu menjadi perpanjangan tanganku untuk mencabut nyawa orang lain.

Tiba-tiba, aku mendengar lagi suara itu. “Tidak perlu buru-buru, Gatot. Kematian akan menemukanmu tanpa bantuanmu sendiri.”

Aku menurunkan pistol. Menyerahkannya ke polisi yang mendekat.
“Ambil saja. Aku sudah terlalu tua untuk menembak siapa pun.”

Mereka menggiringku ke mobil. Rama menatapku dengan mata yang tak bisa kutafsirkan, antara kasihan dan jijik.

Sebelum mobil beranjak, aku berkata pelan, “Kalau nanti kau menulis buku itu, jangan lupakan Sulastri. Katakan padanya, aku masih menunggu di seberang.”

Rama tidak menjawab.

***

Kini aku duduk di ruangan sempit ini, temboknya lembap, atapnya bocor. Aku menulis di selembar kertas yang mungkin tidak akan pernah sampai ke mana pun.
Sulastri, kalau kau masih ada di udara, datanglah malam ini. Bawa kembali senyummu, meski aku tahu itu akan membakar mataku sendiri.

Aku tidak tahu apakah besok aku masih hidup. Aku tidak tahu apakah Tuhan benar-benar mendengarkan pengakuan seorang algojo yang menyesal setengah hati.

Yang kutahu hanya satu: di luar sana, hujan belum berhenti. Dan di antara suara air yang jatuh di genting, aku masih bisa mendengar bisikanmu. Pelan, nyaris hilang. Ia mengulang kalimat yang sama:

“Tidak ada yang benar-benar mati, Gatot. Kita hanya berganti nama di buku sejarah.”

Aku tersenyum. Dan malam pun menutup wajahnya perlahan, menyembunyikan segalanya di balik tirai air.

____________________

Erna Surya. Penulis yang berprofesi sebagai seorang guru.

Cerpen

Penjual Bayangan

Cerpen Erna Surya

Setiap malam Minggu, pasar malam itu riuh seperti kerumunan tawon. Komidi putar menjadi sentral. Pedagang berjejer di sekeliling. Anak-anak  berlari membawa balon. Beberapa dari mereka merengek di depan orang tua, dan berakhir dengan tarikan tangan si ibu yang mengajak pulang dengan paksa. Suara musik dangdut berdentam. Bercampur dengan suara ibu-ibu yang menawar panci obral dengan harga sepertiga dari yang ditawarkan. Sementara itu, bapak-bapak lebih memilih mengisap rokok di pinggiran sembari berbincang diselingi tawa.

Dari semua keriuhan itu, tak ada yang memperhatikan lapak paling sudut. Ia berada di bawah lampu yang menggantung lemas seperti leher ayam dipotong setengah. Di sana, lelaki tua dengan topi lebar duduk tenang. Pandangannya mengedar ke seluruh arah, lalu diam lagi. Di hadapannya, tak ada barang jualan. Tak ada rak, tak ada etalase, tak ada poster promo. Hanya selembar kain hitam terbentang, dan di atasnya: bayangan-bayangan. Ya, lelaki itu si penjual ‘bayangan’.

Aneka macam bentuknya. Ada bayangan orang-orang kaya dengan segala macam kemewahannya. Juga bayangan perempuan muda dengan rambut panjang yang cantik dan bertubuh langsing. Bayangan lelaki tinggi berjas yang pintar bermain kata-kata konon katanya yang paling laris di antara semuanya. Bayangan anak kecil hanya sebagai pelengkap, jumlahnya tak banyak. Juga bayangan-bayangan dengan bentuk tak jelas tanpa simbol apa pun.

Mula-mula, orang-orang mengira itu pertunjukan sulap. Beberapa dari mereka mendekat, menunggu pertunjukan apa yang akan ditampilkan lelaki itu. Namun semenit kemudian mereka memutar tubuh dan berjalan menjauh. Kecewa. Merasa sia-sia mengapa harus mengeluarkan antusias yang besar untuk mendekati lelaki itu.

Tapi malam berikutnya, seorang remaja bernama Alin membeli bayangan ramping dan anggun. Sesuai dengan apa yang diinginkannya selama beberapa tahun terakhir ini. Sudah banyak bulian yang masuk ke telinganya lantaran tubuhnya yang terus membesar lantaran banyak makan. Alin kesal. Dan ia berjanji suatu saat akan menjadi berbeda. Sejak itu, bayangan asli Alin tak pernah terlihat lagi. Ia berjalan membuntuti bayangan baru itu, seakan tubuhnya hanya pelengkap.

Alin berubah. Pertama-tama, keluarganya yang menyadari itu. Lama-kelamaan semua orang ikut merasakan perubahannya. Ia mulai berbicara dengan nada genit, langkahnya naik turun seperti ingin menggoda mata lelaki agar melihat pantatnya, matanya lebih nakal dan mengundang birahi. Teman-temannya bilang bahwa itu bukan Alin.

Lalu Doni, sopir ojek online, membeli bayangan bertubuh tegap dan berkumis. Memang sudah lama lelaki itu berambisi ingin jadi anggota DPR. Hanya sekadar mimpi kosong. Faktanya, Doni tetaplah sopir ojek online. Ia bilang ingin lebih disegani banyak orang. Setelah membeli bayangan itu, ia tak lagi mengenal orang tuanya. Setiap kali ibunya memanggil, ia menoleh dengan bingung. “Ibu siapa, ya?”

Lambat laun, lapak si penjual bayangan jadi primadona. Orang-orang antre. Harga tak jadi soal. Seorang dosen tua menukar bayangannya dengan bayangan anak muda agar bisa mengencani mahasiswi yang minta nilai A. Seorang perempuan simpanan membeli bayangan biar tampak seperti istri sah, biar diajak ke pesta-pesta, katanya. Bahkan pejabat kota, diam-diam, membeli bayangan tentara. Setelah itu, ia mulai memberi perintah dengan suara meledak-ledak dan wajah nyaris tanpa ekspresi.

Lalu satu per satu, mereka mulai menghilang. Bukan dalam sekejap. Awalnya tubuh mereka jadi samar, seperti kabut pagi yang enggan bubar. Suara mereka menjadi gema yang memantul sendiri. Akhirnya, yang tersisa hanya bayangan—yang tetap beraktivitas seperti biasa: berbelanja, naik bus, bercermin.

Ketika tubuh-tubuh tak lagi ada, pasar malam berubah. Lampu-lampu tetap menyala, tapi cahayanya dingin seperti api tua yang nyaris padam. Tenda-tenda berdiri, tapi tak ada suara tawa, tak ada bau gorengan, tak ada antrean. Boneka-boneka hadiah tergantung tanpa peminat. Musik masih terdengar dari pengeras suara yang tak pernah dimatikan, tapi iramanya melambat, seperti rekaman yang digerus usia.

Bayangan-bayangan masih mondar-mandir, membeli minuman dari warung yang dijaga bayangan lain. Mereka bermain kora-kora, naik bianglala, memotret diri di cermin—semuanya tanpa tubuh, tanpa suara, tanpa napas.

Udara di pasar malam itu seperti disaring dari kenangan yang buruk: lembab, kosong, menggantung. Angin berhembus pelan, membawa aroma asap kemenyan yang entah dari mana. Sesekali terdengar suara derit besi tua dari wahana permainan yang bergerak sendiri. Kota perlahan berubah jadi museum bayangan.

Di malam ke-77 sejak lapak itu muncul, jurnalis tua bernama Pak Winarto datang membawa pena dan catatan. Ia satu-satunya orang yang belum membeli bayangan. “Saya lebih suka bayangan saya sendiri,” katanya. “Meski jelek dan bungkuk.”

Ia duduk di depan lapak itu. Penjual bayangan masih sama: diam, wajahnya tak kelihatan karena tertutup bayangannya sendiri.

“Apa sebenarnya yang kau jual?” tanya Pak Winarto.

“Apa yang orang-orang cari,” jawab si penjual.

“Dan itu?”

“Bayangan yang mereka inginkan. Bayangan yang mereka bayangkan tentang diri mereka.”

Pak Winarto mengangguk. Ia menulis sesuatu. Pena di tangannya bergetar. Bayangannya sendiri tiba-tiba menjauh sedikit, berdiri tak sejajar.

“Apa yang terjadi pada mereka yang menghilang?” tanya Pak Winarto.

“Mereka tak tahan jadi palsu terlalu lama. Tubuh tak bisa hidup dalam kepalsuan. Maka bayangan mengambil alih.”

“Dan tempat ini?”

“Sudah lama kehilangan cahaya. Sekarang hanya tinggal bayangan yang merayap.”

Pak Winarto menatap langit. Tak ada bintang. Ia menulis kalimat terakhir: Manusia kini hanya ingin menjadi apa yang tampak, bukan apa yang nyata. Maka, yang nyata pun lenyap pelan-pelan.

Ia menutup buku catatannya. Saat bangkit berdiri, ia sadar: tak ada suara jejak kaki. Tubuhnya sepenuhnya terhisap bayangan. Pak Winarto menghilang.

Tapi lapak itu tetap ada. Pak Winarto lupa bahwa dulu ia sangat idealis dalam menuliskan pemberitaan. Kini entah ke mana idealisme itu setelah menyaksikan setumpuk uang di hadapannya. Konon katanya, itu dari pengusaha yang sengaja membuang limbah ke sungai dan meminta Pak Winarto untuk menulis berita yang lain saja, jangan tentang pencemaran sungai yang sudah meracuni banyak warga.

Suatu hari, saat kota lain mulai penasaran dan mengirim utusan, mereka hanya melihat bayangan-bayangan yang menjual bayangan-bayangan lain.

Tak ada tubuh, tak ada wajah. Ketika salah satu utusan memutuskan membeli satu bayangan gagah milik seseorang yang entah siapa, ia pun tidak kembali.

____________________

Erna Surya. Penulis dari Klaten, juga seorang guru.

Cerpen

Permen-Permen dan Gugusan Bintang di Kepala Ken

Cerpen Erna Surya

Ken bercita-cita menjadi seorang penulis di mana ia nanti bisa bercerita tentang galaksi-galaksi di jagad raya yang bisa ia tempati bersama permen-permennya. Mamanya bertanya, mengapa permen. Ken yang tahun depan akan masuk Sekolah Taman Kanak-Kanak menjawab bahwa ia butuh ruang yang sangat luas untuk menata permen-permennya itu. Dan satu-satunya ruang yang paling luas adalah galaksi. Ken teringat dongeng papanya di suatu malam. Waktu itu, papanya bercerita tentang galaksi dan gugus bintang yang sangat luas sekali sehingga mata manusia tak akan sampai untuk menjangkaunya. Dan di sanalah ia nanti bisa bertemu Tuhan.

Tentang mengapa permen, Ken sangat mencintai mamanya yang lihai membuat permen aneka rasa. Bagi Ken, mama adalah segalanya. Pernah di suatu hari, mamanya pergi seharian sampai pulang larut malam. Ken di rumah bersama pengasuh. Sepanjang hari itu juga ia menunggu di pagar rumah dan selalu memandang ke ujung jalan, berharap mamanya segera muncul. Ketika pulang, pengasuh bercerita bahwa sepanjang hari itu, Ken tidak mau makan dan tidur siang. Untung masih bisa dibujuk untuk mau minum susu. Dan mulai saat itu, mamanya berjanji bahwa ia tak akan lagi meninggalkan Ken pada keadaan apapun. Termasuk ketika ia harus berhari-hari di rumah sakit untuk menjalani serangkaian operasi pengangkatan rahim karena ada sesuatu yang tumbuh di dalamnya, ia meminta Ken tetap ada di dekatnya. Ken dan mamanya tak terpisahkan.

Di suatu malam yang gerimis, Ken terbangun lantaran haus. Ia berjalan sendirian menuju dapur. Ketika melewati kamar mamanya, Ken mendengar suara lirih tangisan mamanya. Ken ingin masuk. Namun langkahnya terhenti ketika ia mendengar suara papanya.

“Tolong, jangan paksa aku untuk memilih,” ucap papa Ken lirih sekali.

Ken kembali ke kamarnya degan perasan sedih. Ia tak bisa melihat mamanya menangis. Namun ia tak berani mendekat. Malam itu, Ken tertidur dengan mata yang basah. Dalam tidurnya, Ken bermimpi tentang gugusan bintang dan galaksi. Ken tengah terbang bersama papa dan mamanya, bernyanyi, lalu menyelinap di antara planet-planet. Ken merasa bahagia, sayangnya itu hanya dalam mimpi.

Paginya, pundak Ken diguncang oleh mamanya. Ia terbangun dan melihat mama sudah berada di sampingnya dengan mata yang sembab. Ken pura-pura tak tahu menahu tentang tangisan mamanya semalam. Ia mengucapkan selamat pagi kepada mamanya, lalu memeluk perempuan lembut itu, sama seperti pagi-pagi biasanya.

“Ken, kita harus pindah rumah.”

“Kemana, Ma?”

“Ke Jogja, di rumah Eyang.”

Ken kecil girang. Ia mengemas semua pakaian dan mainannya ke dalam kardus-kardus dan kotak plastik yang sudah disiapkan mamanya. Sudah terbayang di kepalanya bahwa ia nanti bisa mandi di sungai bersama kakek dan sepupunya. Lalu menggiring bebek dan ayam pulang ke kandang. Malamnya ia bisa menghabiskan waktu di mushola depan rumah bersama anak-anak tetangga seusianya. Mereka bisa bermain apa saja.

Kebahagiaan Ken kecil makin menjadi-jadi ketika mamanya menyampaikan bahwa ia akan bersekolah di Jogja dan akan terus tinggal di rumah eyangnya. Namun ketika Ken mendapati cerita bahwa papanya tak akan ikut bersamanya lagi, kesedihan menyerang Ken kecil dengan tba-tiba. Ia nyaris menangis. Namun mama segera memeluknya.

Semenjak itu Ken tak bertemu papanya lagi.

***

“Ma, kalau hari ini aku bisa ketemu dosen pembimbing dan bab lima-ku di ACC, berarti aku ikut wisuda Desember,” ujar Ken kepada mamanya di suatu sore ketika mamanya tengah merajut di belakang rumah. Mama Ken menoleh kemudian tersenyum. Ia sangat bangga atas apa yang telah dilakukan anaknya. Kini nama Ken ada di berbagai macam surat kabar. Ken kecil yang dulu sangat suka permen kini telah menjadi seorang penulis meskipun belum sampai pada gelar sarjana. Ken banyak menulis cerita fiksi tentang galaksi dan gugusan bintang.

Dulu sempat terjadi perdebatan kecil sebelum Ken masuk kuliah. Mama menginginkan anaknya masuk ke jurusan mesin. Alasannya satu, biar mudah mendapat pekerjaan mengingat begitu pesatnya perkembangan otomotif di waktu belakangan ini. Namun Ken menolak. Ia tetap ingin belajar sastra. Cita-citanya masih sama, ingin menjadi penulis seperti apa yang dikerjaan papanya. Mamanya berulang kali membujuk agar ia melupakan papanya, tapi tak bisa.

“Novel papa terbit lagi, Ma. Judulnya ‘Rumput Kering’. Agak beda dari ‘Akar Pohon’. Tapi menurutku yang Rumput Kering ini lebih bagus, cerita tentang perjuangan seorang PSK. Banyak nuansa cintanya. Mama mau baca?”

Ken merasa bersalah ketika tak ada jawaban sedikit pun dari mamanya, bahkan merespons dengan ekspresi wajah pun tidak. Ken paham bahwa ia telah membuat suasana hati mamanya menjadi tidak bagus hari ini. Sebenarnya, ia sadar bahwa melihat papa dan mamanya rujuk itu mustahil. Tapi dalam hati kecil, ia masih menginginkan mamanya mau sedikit membuka hati untuk papanya, untuk sekadar mau mendengar kabar. Sejak perpisahan itu, Ken tak pernah lagi mendengar nama papanya keluar dari mulut mamanya. Meski tak paham apa yang membuat mereka berpisah, Ken tahu bahwa hati mamanya sangatlah terluka.

Hari sudah hampir petang. Ken sudah rebah di kamarnya ketika perempuan yag sedari pagi tadi merajut itu berdiri. Pipinya basah ketika memegang buku yang Ken letakkan di meja dekat ia duduk. Ada sesuatu yang mencabik-cabik hatinya kembali setelah sekian tahun ia tutup agar tak luka kembali.

Ingatannya tertuju kepada malam itu, ketika ia tengah terduduk di tepi jalan dengan make-up tebal dan seorang lelaki mendatanginya. Lelaki itu mengajaknya pergi.

“Rosa,” panggil lelaki itu.

“Tahu nama saya dari mana?”

“Aku memerhatikanmu selama enam bulan terakhir ini. Wajahmu mengingatkanku pada cinta pertamaku waktu SMP. Sudah hampir empat puluh tahun berlalu.”

Rosa terdiam.

“Mulai sekarang, kamu tinggallah di sini! Jangan jual diri lagi,” pinta lelaki itu sembari memegang kedua tangan Rosa.

“Aku sedang mengandung,” jawab Rosa lirih.

“Beri dia nama Ken. Dan biarkan dia memanggilku Papa,” ucap lelaki itu sebelum memeluk tubuh Rosa erat sekali.

***

Ketika keluar kamar, Ken mendapati mamanya terisak dengan novel di tangannya.

“Ceritanya ini tentang PSK yang dicintai seorang lelaki, Ma. Si lelaki itu tak peduli kalau anak yang dikandung perempuan itu bukan anaknya. Tapi sayangnya si perempuan itu pergi meninggalkan si lelaki. Si lelaki itu sudah punya istri sah, dan si perempuan itu ia simpan sebagai istri kedua. Tapi si perempuan itu tak tahu diri. Ia minta si lelaki meninggalkan istri sah dan menikahinya. Keputusan yang berat buat si lelaki. Di satu sisi, ia tak bisa meninggalkan keluarganya. Di sisi lain, si lelaki menemukan cinta sejatinya justru kepada si perempuan itu.”

Ken memeluk mamanya ketika tangis semakin menjadi-jadi.

“Ken, kamu masih ingat jalan pulang?”

“Kemana, Ma?”

“Ke hati lelaki yang kamu panggil Papa,” ucap perempuan itu di dada anaknya.

Ken kini membayangkan tentang deretan permen-permen di dalam galaksi, tempat ia dulu sering berfantasi ketika masih kecil.****


Erna Surya, seorang pengajar Bahasa Inggris di SMK N 1 Juwiring, Klaten. Tinggal di Klaten. Senang dengan dunia buku dan tulis menulis. Kini sedang menempuh studi Magister di Universitas Sebelas Maret, Surakarta di jurusan Linguistik konsentrasi Penerjemahan. Bisa dikontak di [email protected] atau bisa lewat Instagram @ernaasuryaa