Cerpen Erna Surya

Setiap malam Minggu, pasar malam itu riuh seperti kerumunan tawon. Komidi putar menjadi sentral. Pedagang berjejer di sekeliling. Anak-anak berlari membawa balon. Beberapa dari mereka merengek di depan orang tua, dan berakhir dengan tarikan tangan si ibu yang mengajak pulang dengan paksa. Suara musik dangdut berdentam. Bercampur dengan suara ibu-ibu yang menawar panci obral dengan harga sepertiga dari yang ditawarkan. Sementara itu, bapak-bapak lebih memilih mengisap rokok di pinggiran sembari berbincang diselingi tawa.
Dari semua keriuhan itu, tak ada yang memperhatikan lapak paling sudut. Ia berada di bawah lampu yang menggantung lemas seperti leher ayam dipotong setengah. Di sana, lelaki tua dengan topi lebar duduk tenang. Pandangannya mengedar ke seluruh arah, lalu diam lagi. Di hadapannya, tak ada barang jualan. Tak ada rak, tak ada etalase, tak ada poster promo. Hanya selembar kain hitam terbentang, dan di atasnya: bayangan-bayangan. Ya, lelaki itu si penjual ‘bayangan’.
Aneka macam bentuknya. Ada bayangan orang-orang kaya dengan segala macam kemewahannya. Juga bayangan perempuan muda dengan rambut panjang yang cantik dan bertubuh langsing. Bayangan lelaki tinggi berjas yang pintar bermain kata-kata konon katanya yang paling laris di antara semuanya. Bayangan anak kecil hanya sebagai pelengkap, jumlahnya tak banyak. Juga bayangan-bayangan dengan bentuk tak jelas tanpa simbol apa pun.
Mula-mula, orang-orang mengira itu pertunjukan sulap. Beberapa dari mereka mendekat, menunggu pertunjukan apa yang akan ditampilkan lelaki itu. Namun semenit kemudian mereka memutar tubuh dan berjalan menjauh. Kecewa. Merasa sia-sia mengapa harus mengeluarkan antusias yang besar untuk mendekati lelaki itu.
Tapi malam berikutnya, seorang remaja bernama Alin membeli bayangan ramping dan anggun. Sesuai dengan apa yang diinginkannya selama beberapa tahun terakhir ini. Sudah banyak bulian yang masuk ke telinganya lantaran tubuhnya yang terus membesar lantaran banyak makan. Alin kesal. Dan ia berjanji suatu saat akan menjadi berbeda. Sejak itu, bayangan asli Alin tak pernah terlihat lagi. Ia berjalan membuntuti bayangan baru itu, seakan tubuhnya hanya pelengkap.
Alin berubah. Pertama-tama, keluarganya yang menyadari itu. Lama-kelamaan semua orang ikut merasakan perubahannya. Ia mulai berbicara dengan nada genit, langkahnya naik turun seperti ingin menggoda mata lelaki agar melihat pantatnya, matanya lebih nakal dan mengundang birahi. Teman-temannya bilang bahwa itu bukan Alin.
Lalu Doni, sopir ojek online, membeli bayangan bertubuh tegap dan berkumis. Memang sudah lama lelaki itu berambisi ingin jadi anggota DPR. Hanya sekadar mimpi kosong. Faktanya, Doni tetaplah sopir ojek online. Ia bilang ingin lebih disegani banyak orang. Setelah membeli bayangan itu, ia tak lagi mengenal orang tuanya. Setiap kali ibunya memanggil, ia menoleh dengan bingung. “Ibu siapa, ya?”
Lambat laun, lapak si penjual bayangan jadi primadona. Orang-orang antre. Harga tak jadi soal. Seorang dosen tua menukar bayangannya dengan bayangan anak muda agar bisa mengencani mahasiswi yang minta nilai A. Seorang perempuan simpanan membeli bayangan biar tampak seperti istri sah, biar diajak ke pesta-pesta, katanya. Bahkan pejabat kota, diam-diam, membeli bayangan tentara. Setelah itu, ia mulai memberi perintah dengan suara meledak-ledak dan wajah nyaris tanpa ekspresi.
Lalu satu per satu, mereka mulai menghilang. Bukan dalam sekejap. Awalnya tubuh mereka jadi samar, seperti kabut pagi yang enggan bubar. Suara mereka menjadi gema yang memantul sendiri. Akhirnya, yang tersisa hanya bayangan—yang tetap beraktivitas seperti biasa: berbelanja, naik bus, bercermin.
Ketika tubuh-tubuh tak lagi ada, pasar malam berubah. Lampu-lampu tetap menyala, tapi cahayanya dingin seperti api tua yang nyaris padam. Tenda-tenda berdiri, tapi tak ada suara tawa, tak ada bau gorengan, tak ada antrean. Boneka-boneka hadiah tergantung tanpa peminat. Musik masih terdengar dari pengeras suara yang tak pernah dimatikan, tapi iramanya melambat, seperti rekaman yang digerus usia.
Bayangan-bayangan masih mondar-mandir, membeli minuman dari warung yang dijaga bayangan lain. Mereka bermain kora-kora, naik bianglala, memotret diri di cermin—semuanya tanpa tubuh, tanpa suara, tanpa napas.
Udara di pasar malam itu seperti disaring dari kenangan yang buruk: lembab, kosong, menggantung. Angin berhembus pelan, membawa aroma asap kemenyan yang entah dari mana. Sesekali terdengar suara derit besi tua dari wahana permainan yang bergerak sendiri. Kota perlahan berubah jadi museum bayangan.
Di malam ke-77 sejak lapak itu muncul, jurnalis tua bernama Pak Winarto datang membawa pena dan catatan. Ia satu-satunya orang yang belum membeli bayangan. “Saya lebih suka bayangan saya sendiri,” katanya. “Meski jelek dan bungkuk.”
Ia duduk di depan lapak itu. Penjual bayangan masih sama: diam, wajahnya tak kelihatan karena tertutup bayangannya sendiri.
“Apa sebenarnya yang kau jual?” tanya Pak Winarto.
“Apa yang orang-orang cari,” jawab si penjual.
“Dan itu?”
“Bayangan yang mereka inginkan. Bayangan yang mereka bayangkan tentang diri mereka.”
Pak Winarto mengangguk. Ia menulis sesuatu. Pena di tangannya bergetar. Bayangannya sendiri tiba-tiba menjauh sedikit, berdiri tak sejajar.
“Apa yang terjadi pada mereka yang menghilang?” tanya Pak Winarto.
“Mereka tak tahan jadi palsu terlalu lama. Tubuh tak bisa hidup dalam kepalsuan. Maka bayangan mengambil alih.”
“Dan tempat ini?”
“Sudah lama kehilangan cahaya. Sekarang hanya tinggal bayangan yang merayap.”
Pak Winarto menatap langit. Tak ada bintang. Ia menulis kalimat terakhir: Manusia kini hanya ingin menjadi apa yang tampak, bukan apa yang nyata. Maka, yang nyata pun lenyap pelan-pelan.
Ia menutup buku catatannya. Saat bangkit berdiri, ia sadar: tak ada suara jejak kaki. Tubuhnya sepenuhnya terhisap bayangan. Pak Winarto menghilang.
Tapi lapak itu tetap ada. Pak Winarto lupa bahwa dulu ia sangat idealis dalam menuliskan pemberitaan. Kini entah ke mana idealisme itu setelah menyaksikan setumpuk uang di hadapannya. Konon katanya, itu dari pengusaha yang sengaja membuang limbah ke sungai dan meminta Pak Winarto untuk menulis berita yang lain saja, jangan tentang pencemaran sungai yang sudah meracuni banyak warga.
Suatu hari, saat kota lain mulai penasaran dan mengirim utusan, mereka hanya melihat bayangan-bayangan yang menjual bayangan-bayangan lain.
Tak ada tubuh, tak ada wajah. Ketika salah satu utusan memutuskan membeli satu bayangan gagah milik seseorang yang entah siapa, ia pun tidak kembali.
____________________

Erna Surya. Penulis dari Klaten, juga seorang guru.

