Katalog

Puisi

Puisi Ruhan Wahyudi

Tarian Mata

Lorong kenangan menyibak setumpuk aksara

Menuntaskan tarian mata di puncak sukma

Sebelum kau benar-benar tiada dalam penantian

Sebelum cerita itu senyap ditelan penyesalan

Kali ini mataku seperti terkoyak sebuah percakapan

Di taman kecil yang senantiasa menyulam cinta

Setiap ranting daun patah membuat kita resah

Membuat detak jantung tak bernafas seperti biasa

Kini mataku menari-nari di atas kenangan

Sebagaimana wayang menceritakan sebuah percintaan

Di antara raja dan ratu berselaksa dalam genggaman datuk

Bersemai menuntaskan catatan yang tak usai

Gapura, 2019


Tarian Kembang

Seperti anak ranting mengecup bibir kembang

Lalu menari di atas angin berkepak sayang

Menyemerbak membungkam gelisah di dada

Di saat segala rindu menggerutu dibalik riuh

Hanya sekawanan katak senantiasa menjadi musik

Pada tarian kembang yang tak pernah tumbang

Di hatimu yang selalu menjungkal senyum

Di antara resah-gelisah bersemayam di pundak jiwa

Dan kusuguhkan sejumlah tarian bervariasi

Kepadamu yang selalu menjadi tempat kebahagiaan

Tempat menyimpan masa depan yang hampir hilang

Lalu aku mencintaimu dengan tarian kembang berselendang

Gapura, 2019


Tarian Kunang-Kunang

Sebutir cahaya itu membungkam remang

Di antara pucuk-pucuk bunga

Melukis wajahmu menari di gentayangan

Mengelana di mataku hingga terpaku

Adalah kunang-kunang meringkuk segala resah

Di samping taman Adipura

Tempat menapaki jejak cinta usang

Mengubur kenangan menyatukan masa lalu

Di sini, aku baru saja menikmati kau menari

Sebagai kidung rindu yang menyinari diri

Dan kau tampak gemulai memainkan lentera

Menyulam segala sesak bermusim di dada

Gapura, 2019


Tarian kupu-kupu

Dua kepakan sayapnya menuai pelangi

Membuatku merambati madu di kelopak bunga

Bersijingkat di atas mimbar mataku

Adalah kupu-kupu yang setia menemani sepi

Di alun-alun taman kau tampak ceria

Melepaskan bahagia dikuncup sukma

Dengan aroma kembang yang di kecup bibirmu

Sesudah kau mencuci diri pada cermin sunyi

Lalu aku mengambil setetes madu di keningmu

Untuk menyirami luka yang kian empedu

Agar semua masa lalu tumbang dalam depakan

Hatimu yang tersusun rapi dalam jiwaku

Gapura, 2019


Tarian Sunyi

Dengan cara sunyi kita bisa menumbangkan resah

Membulat di dada yang menjadi detak jantung meruah

Tarian matamu suntuk melepaskan ranting yang patah

Menghapus luka-luka bermuasal di tubuh masa lalu

Sementara semerbak bunga menawarkan aroma rahasia

Memintal sunyi dalam memilah ayat-ayat kerinduan

Di puncak penantian berdebar membungkus satu kehidupan

Di antara aku dan dirimu membangun sebuah rumah, hati

Pada pekat malam bulan membabat cahaya senyum

Sedangkan aku menikmati sunyi dengan secangkir kopi

Menikmati hembusan angin yang ramah di pintu jendela

Hingga tanpa sadar sebuah kecupan kecil menempel di kening

Gapura, 2019


Tarian Angin

Sesudah subuh daun mimpi mengecup dingin

Membelah sisa-sisa peluh di ranjang waktu

Tempat merebah diri demi menuntaskan kantuk

Tubuh yang gelisah dalam dekapan asmara

Dan pada akhirnya setetes embun mulai renta

Melepas usia di tangan matahari yang ceria

Hanya angin yang selalu setia mengabarkan rindu

Dari puncak hatimu yang membeku di tubuhku

Lalu di mana kau memanen sebiji puisi itu ?

Sementara ladangmu sudah penuh ditumbuhi ilalang

Dan bebatuan yang kerap membelit tanah sunyi

Di antara sebungkus angin yang masih perawan

Gapura, 2019


Tarian Rindu

Tak ada yang lebih sunyi

Selain menyulam rindu

Di tubuh waktu

Sambil menunggu kepastian

Dari lisanmu yang perawan

Ke mana aku harus melepas rindu”

Atau mungkin ke dalam hatimu

Yang sering membuatku gelisah

Untuk memintal seluruh sunyi

Di sini, di teras rumahku

Sebuah pigura terpampang rapi

Lukisan wajahmu berkelindan di mataku

Menabur benih rindu

Di ladang tubuhku yang rapuh

Gapura, 2019


Tarian Hati

Setiap detak jantungku yang bisu

Mataku lembab menabur benih rindu

Sedangkan hatiku ombak

Memecah kidung pelayaran

Melempar sauh meruah

Ke matamu yang tajam

Sebab kutahu cara abadi

Adalah menari dalam diri

Gapura, 2019


Tarian Jantung

Detak jantung melepaskan deru

Perisai luka menuntaskan masa lalu

Bersemayam dalam tubuhku yang rapuh

Tak ada yang lebih kencang

Selain menyulam angin perawan

Dari hembusan napasmu yang riuh

Pada lorong masa lalu

Kununtaskan sejumlah kenangan dalam hati

Agar semuanya abadi dalam diri

Tanpa merakasan sakit kembali

Di pucuk penyesalan

Melintang di dua daun yang tumbang

Gapura, 2019


Tarian Lidah

Sering kulumat kata demi kata

Yang kau muntahkan ke palung hatiku

Aku sangat mencintaimu, Tuan.”bisiknya

Hatiku ombak melepas mutiara ke lidahmu rekah

Gapura, 2019


Ruhan Wahyudi. Lahir di Gapura Tengah Gapura Sumenep Madura pada 06 Mei Aktif di Kelas Puisi Bekasi dan Komunitas ASAP Merupakan alumnus MA. Nasy’atul Muta’allimin Gapura Timur Gapura Sumenep dan MTs. Al-Huda Gapura Timur, memulai berproses menulis Puisi di bangku MA Nasy’atul Muta’allimin, dan puisinya pernah mendapat juara 3 di tingkat nasional, juga sebagai 11 nominasi pemenang lomba cipta puisi 2019 Yayasan Hari Puisi Nasional Disparbud DKI Jakarta, Puisinya juga termaktub dalam antologi bersama, Banjarbaru Festival Literary(2019), Festival sastra internasional Gunung Bintan (Segara Sakti Rantau Bertuah) (2019), Sua Raya (Malam Puisi Ponorogo; 2019), Dongeng Nusantara Dalam Puisi (2019) Menenun Rinai Hujan(Sebuku.Net)dan lainnya, Puisinya juga tersebar di berbagai media cetak dan online antara lain Radar Banyuwangi, Radar Cirebon, Radar Madura, ,Radar Pagi, Tembi id. Magelang Ekspres. Tribun Bali.

Cerpen

Sebuah Titipan yang Hanya Darimu

Cerpen Jeli Manalu

Sebuah titipan yang hanya darimu itu menjadi hantu di ingatanku. Waktu itu, kedatanganku ke kota ini di samping bekerja, ialah mencarimu yang mendadak hilang di pagi Jumat pada bulan Januari. Pakaianmu tak ada lagi di kamar. Sepatu, jaket, atau apa saja yang berhubungan denganmu, bahkan tak sebiji pesan kau tinggalkan sebagai isyarat yang barangkali dapat kuterjemahkan meski butuh beratus-ratus malam lamanya.

Kita hanya menguping pada pertengkaran menegangkan dari kamar ayah dan ibu. Kau sering bolos sekolah. Sementara orangtua kita menginginkanmu jadi sarjana. Kau terlalu sibuk main musik dengan anak-anak se-komunitasmu. Kau pun sudah tak pernah lagi jadi muazin di masjid kampung kita, padahal, kau tahu, dada ibu selalu berdebar setiap kali mendengar dan merasakan seruan yang kau kumandangkan dengan syahdu dan tartil itu. Tak jarang ia berlinang air mata, mengusap pipi dengan tangan penuh tanah, kemudian pura-pura berkata: mataku sangat gatal, sepertinya kena serangga.

Ayah cuma kuli bangunan. Sesekali jika orang-orang desa ada rezeki ayah akan mendapat ‘uang terima kasih’ yang diberikan secara suka rela atas anak-anak yang telah diajari mengaji. Sedang ibu, hari-harinya bergumul dengan cangkul, tanah, pupuk, pestisida, hama, musim kemarau atau hujan. Ibu akan menanam kol, bergantian dengan sawi, setelah itu seledri, kadang selada dan juga cabai. Kalau tomat tidak pernah lagi, kata ibu kelewat rumit mengurusnya. Manja sekali. Harus disayang-sayang seperti kita waktu bayi. Namun begitu, mereka berdua tetap mengupayakan kita agar jadi orang sukses.

Aku diterima bekerja di sebuah perusahaan besar padahal perusahaan itu merupakan mimpi. Mimpi orang-orang agar bisa masuk ke dalamnya. Berawal dari peristiwa tak sengaja ketika aku masih jadi babu di satu rumah makan mewah. Suatu hari ketika mengemasi biji-biji nasi dan mengelap ceceran gula di meja nomor tiga puluh tiga, ada jam tangan hitam memandangi mataku. Kulihat ke arah lelaki yang baru lesap dengan mobil yang sama warnanya dengan bajuku. Untung lampu merah. Kuketok-ketok mobil itu. Lelaki itu menurunkan kaca mobilnya. Angka di atas kepala kami masih dua puluh. Kami bercakap-cakap sebentar. Ia menyodorkan uang bergambar Sukarno. Aku menolaknya. Ia memaksaku. Aku menolak lagi. Senang berkenalan denganmu, katanya, yang memberiku alamat kantornya. Aku malah tersanjung hingga tak sadar kalau bunyi klakson di belakangku sudah marah-marah.

Dua malam berikutnya lelaki itu mengunjungiku. Entah bagaimana ia tahu tempat tinggalku. Aku menyilakannya duduk. Kami bertanya-jawab mengenai diri kami. Percakapan kami seru. Aku dan ia sama-sama orang Sumatera, dan di tiap perbincangan aku menyebut diriku padanya dengan kata ‘saya’, bukan ‘aku’—sebuah kesan bahwa kami baru berkenalan atau bila seseorang kurasa lumayan berwibawa.

“Buatkan aku kopi, seperti yang sering kamu buat itu.”

“Saya tak suka kopi, Pak.”

“Ya?”

“Maksud saya, saya tidak menyediakan kopi di dapur.”

Mata kami berada di garis sama. Tetap di garis yang sama untuk beberapa saat lamanya. Aku gugup, ia justru senyum. Senyumannya ganteng dan aku suka melihatnya. Setelah itu ia tertawa keras sekali.

“Sepertinya kamu sudah sangat lama tidak tertawa,” katanya, “kalau begitu temani aku minum kopi.”

“Saya?”

“Kamu tidak mau?”

“Bu-bukan, bukan begitu.”

“Aku orang baik-baik kok. Ndak penculik kayak di koran-koran,” katanya seolah bicara pada anak kecil, dan aku menahan senyum agar tak terlampau lebar.

Segera aku ke kamar. Hampir seisi lemari kukeluarkan. Hitam, kuning, hijau, merah, ungu, putih, bunga-bunga, um, tiba-tiba, aku merasa baju-bajuku itu jelek semua. Padahal baju-baju itu masih terawat. Modelnya juga tidak kampungan.

“Tidak usah cantik-cantik, nanti aku naksir,” katanya, melalui handphone.

Detak jantungku menjadi aneh. Serasa ada mengamatinya, serasa ada yang datang perlahan-perlahan. Aku mengepal kedua tangan di bawah dagu. Dingin. Dingin yang menjalar, maka aku cepat-cepat keluar dan menutup pintu kamar dan menemui tamuku itu.

“Kamu sudah pernah berkeliling Jakarta?” tanyanya saat mobil mulai melaju, dan angin sempat menerbangkan rambutku ke lengannya sebelum ia menaikkan kaca di sebelah pipi kiriku.

Lima jam aku dengannya. Mulai dari minum kopi, makan makanan enak, diajak ke bioskop, juga, aku dibelikan gaun di gedung yang sangat mewah, di mana pelayan-pelayan di tokonya sangat ramah. Ada sepuluh baju kucoba. Tapi aku hanya mengambil dua, itu pun karena dipaksa. Jika tidak, aku cuma berani membawa pulang satu.

Sesampai di rumah aku mendapat telepon dari Sumatera, “Sudah empat tahun kau di Jakarta, apa sudah menemukannya?” terdengar suara serak ibu. Kubayangkan ia layu. Mata cekung, kening keriput, pipi kurus, mungkin ia hanya akan makan bila dibujuk-bujuk ayah. Pokoknya kau harus bawa pulang abangmu, kata ibu sembari menyelipkan gambarmu dulu, ketika mengantarkanku ke terminal beberapa tahun lalu.

Fotomu itu foto SD. Foto SMP belum ada, tapi mungkin saja ada namun entah di mana kau meletakkannya. Jadi yang ada dalam bayanganku hanyalah wajah terakhirmu bersamaku: wajah remajamu, walau kini usiamu tiga puluh lima. Tiga puluh lima yang matang dan tak bisa kutebak seperti apa gaya rambutmu. Apakah gondrong, botak, mungkin kau berkacamata atau bisa juga kau gemuk atau malah kurus?

**

Aku terbangun karena kedinginan. Tadinya kupikir hanya sedang mimpi latihan renang lalu sempat megap-megap. Ternyata atap kontrakanku sudah bocor dan aku jadi repot sekali karenanya. Lelaki itu datang menjemputku. Mungkin sebelumnya berkali-kali ia menelepon. Handphone-ku mati. Baterainya kosong, tak sempat kuisi sebelum listrik padam total dan perangkat televisiku disambar petir.

“Kamu seperti adikku saja. Sukanya main hujan.”

“Ya?” ujarku, menatapnya, kemudian menatap diriku yang serba basah.

“Kamu mengingatkanku pada masa kecilku.”

“Apa?”

“Kamu sungguh suka bermain hujan?”

“Bapak meledekku?”

“O-o, bukan.”

“Lalu?”

Ia diam melihatiku yang mulai serius. Kupandangi dirinya, seharusnya aku tak bertemu dengannya. Lelaki seperti dirinya terlalu jauh sempurna untuk orang sepertiku. Ia mapan, rupawan, baik dan banyak lagi. Pasti banyak perempuan tergila-gila padanya. Bagianku cuma: mencintai, selamanya hanya boleh dalam hati.

Ia lihat-lihat kontrakanku. Dindingnya, jendelanya, semuanya. Lalu aku tertawa kuat-kuat persis ketika ia tertawa kali pertama datang ke rumahku waktu itu. Kau tahu, ia itu sinting. Masa sudah tahu licin lantai tapi tetap pula mengenakan sepatu sambil berjingkat-jingkat. Terjatuhlah ia. Kau penasaran bagaimana ia jatuh? Ia tidak jadi jatuh, sih. Aku dengan gesit menarik kemejanya hingga terdengar bunyi krek!

**

Empat bulan kemudian selepas kami melewati ciuman-ciuman kesekian, aku pulang ke kampung halaman. Aku harus mengabarkan berita bahagia yang telah membuatku tidak bisa tidur dan tak henti untuk berpikir. Semoga ibu dan ayah menyukainya. Amin.

Kubawa ibu dan ayah mengunjungi Jakarta, hitung-hitung rekreasi. Ke mall. Makan kentucky, hamburger, pizza, hotdog, ice cream, mengajarinya naik eskalator ataupun lift, dan tak lupa membeli baju-baju bagus. Ini monas, itu ancol, yang sana taman mini, itu istana negara. Aku mengajak mereka keliling-keliling. Kadang aku bohong soal harga. Jika lima puluh ribu, kukatakan saja lima ribu agar mereka tidak enggan. Di kesempatan lain kujelaskan kalau gaji kerjaku lumayan besar. Aku menghambur-hamburkan isi dompet dan beberapa kali masuk ATM—rasanya belum pernah aku sekaya itu.

“Sudah kau dapat kabar abangmu?”

“Kita turun dulu, Bu. Aku mau ganti baju,” kataku, mengalihkan pertanyaan ibu.

“Ini rumahmu?”

“Kontrakanku.”

Bukan seperti sebelum-sebelumnya ketika akan berjumpa dengan lelaki itu ada saja yang kucemaskan. Jerawat, komedo, alis berantakan, kulit kasar, bibir tak segar, kuku yang tak lagi rapi. Tapi hari ini aku tak peduli. Kebahagiaan ibulah yang utama. Kebahagiaan ayah. Kebahagiaan keluargaku.

Kuingat tahun-tahun pertama menempati kontrakan. Jiwaku serasa sudah lekat di situ. Belum pernah aku celaka, walau kutahu kota Jakarta adalah kota yang rawan untuk kita diganggu kejahatan. Kusentuh mawar dan juga lili. Kusirami mereka. Seekor kumbang terbang jauh sekali. Kutulis surat untuk paman pemilik kontrakan: kuncinya kutitip tetangga.

“Ini rumah siapa lagi? Cantik sekali!” pekik ibu.

“Rumah bosmu?” sambung ayah.

Aku menatap mata ayah dan menelepon setelahnya. Sepuluh menit dalam kecemasan mobil warna tembaga masuk pekarangan. Aku mengatur diriku, tak boleh terlihat membingungkan di hadapan orangtua kita. Kugenggam tangan keduanya. Aku berdiri di tengah-tengah menyongsong sosok yang hampir tiba. Bang Darus berjalan kaku ke arah kami. Ia gugup melihatku yang juga gugup.

“Sarah?”

Aku mengangguk. Dadaku penuh, hanya mampu menatap sepasang sepatumu dan sepatuku—sebab saat itu, dua hati telah remuk dan tak bisa berbuat apa-apa. Kita berempat saling merangkul. Ibu senang. Ayah bersinar-sinar wajahya. Sedang pada hari cerah itu air mataku tak karu-karuan banyaknya, seperti hujan badai yang memporak-porandakan sebuah bangunan. Ingatan, terkadang memang tak bisa dijinakkan. Sore ini di tengah-tengah ramainya orang pacaran, kupikirkan lagi embusan napasmu yang pada suatu malam tepat di hidungku, disusul akan bayangan bila dulu bibirmu itu pernah menitipkan sesuatu di bibirku. **

Riau, September 2016-2019


Jeli Manalu,  lahir di Padangsidimpuan, 2 oktober 1983. Tinggal di Rengat-Riau. Buku kumcer terbarunya “Kisah Sedih Sepasang Sepatu”.

Cerpen

Puisi di Dada Temanku

Cerpen Sri Wahyuni

“Kau sudah mengatuk?” tanyaku.

“Tidak adakah pertanyaan yang lebih penting?”

“Tidurlah jika kau mengantuk.”

“Jika aku tidur, apakah kau akan berhenti bercerita?”

“Tidak. Aku akan tetap bercerita sambil membelai rambutmu sesekali juga dadamu.”

Temanku pernah bercerita tentang kekasihnya dan sebuah puisi, Baruna. Bukan kekasihnya–seorang penyair–yang membuat aku tak bisa melupakan cerita itu, melainkan puisinya. Puisi itu ditulis di dada temanku oleh kekasihnya sebagai hadiah ulang tahun. Tentu saja temanku sangat bahagia. Sampai terakhir bertemu, lima bulan lalu, perihal puisi itu masih tetap menjadi perbincangan kami. Semangatnya bercerita juga masih sama dengan kali pertama ia bercerita. Begitu pula aku, juga tak kalah semangat mendengarkannya.

Temanku itu kemarin baru saja menikah. Suaminya tentu saja kekasihnya yang menuliskan puisi di dadanya itu. Ia mengabariku lewat pesan melalui facebook, yang belum sempat aku ceritakan padamu. Mungkin kau bertanya-tanya mengapa aku menceritakan kisah cinta temanku di saat kita sedang menikmati pertemuan untuk membunuh rindu yang telah lama meraung-raung dalam hati. Terlebih kisah itu sangat berlawanan dengan kisah kita.

Aku sendiri tak tahu mengapa aku melakukannya. Aku tidak terlalu bahagia mendengar temanku menikah. Aku lebih tertarik pada cerita itu daripada kabar pernikahannya. Bagaimana denganmu? Apa kau juga menyukai cerita itu? Suka atau tidak, aku akan tetap meneruskan ceritaku sambil sesekali memagut dalam-dalam bibirmu.

“Kau masih mendengarku, Baruna?”

“Ini adalah peristiwa langka. Jadi aku akan mendengarnya hingga usai”.

Setelah pernikahan temanku satu bulan lalu, cerita itu semakin terngiang-ngiang di telingaku. Bayangan puisi itu menari-nari di depan mataku. Aku seperti bisa melihat jelas bagaimana kekasihnya itu pelan-pelan mulai menggoreskan tinta di dada temanku. Saat seperti ini, kau seharusnya ada di sampingku, sehingga imajinasiku tidak berkelana sendiri. Aku ingin kau juga melihat proses penulisan puisi itu. Ah, aku mulai merasa senang dengan pernikahan temanku. Betapa bahagianya dia, bisa memiliki suami seorang penyair.

Kebahagiaan itu saat ini dapat aku lihat dengan jelas, Baruna. Puisi di dada temanku itu tak pernah kesepian. Kekasih yang saat ini menjadi suaminya selalu mengunjungi puisi itu setiap hari. Aku mulai iri dengan temanku itu. 

“Apakah kau tak ingin seperti kekasih temanku itu, Baruna? Jika puisi itu telah kau tulis, aku ingin kau mengunjunginya setiap hari.” Itu pertanyaan yang aku ajukan padamu setelah aku mendengar kisah temanku. Kau tak langsung menjawab. Keesokan harinya kau  mengajakku pergi ke sebuah telaga. Aku tidak akan pernah lupa peristiwa itu.

Waktu itu aku dan kau duduk di tepi telaga. Suasananya masih begitu sepi karena hari masih terlalu pagi. Pohon trembesi di sekitar telaga tengah tersapu kabut. Pohon pinus di bukit-bukit yang mengitari telaga masih samar dalam pandangan. Permukaan telaga bagai bertirai garis-garis hujan. Ketika hujan mereda, tiba-tiba aku teringat cerita temanku tentang sebuah puisi dan kekasihnya itu. Sungguh, cerita itu sangat berkesan bagiku. Lalu aku melempar tanya lagi, “Maukah kau menulis sebuah puisi untukku?” Kau mengalihkan pandangan dari tengah telaga berpindah ke wajahku, lalu balik bertanya, “Kau mau aku menuliskannya di dadamu?”

Wajahku memancarkan semburat merah dengan hiasan senyum malu. Belum sempat aku menjawab pertanyaanmu, kau lebih dulu melumat bibirku. Hanya sekilas. Lalu kau mengulangi pertanyaanmu, “Kau mau aku menuliskannya di dadamu?” Aku mengangguk.

“Tulislah puisi itu di sini, Baruna,” Aku menunjuk dadaku.

“Baiklah. Aku akan melakukannya. Hanya untukmu”.

Aku duduk menghadapmu. Kedua kakiku kulipat ke belakang. Rambutku yang menutup dada aku sibak ke belakang. Tak kubiarkan sehelai rambut pun menghalangimu menulis puisi di dadaku. Sementara kau masih sibuk menyiapkan semua perkakas yang kau perlukan. Seperangkat hati, pena cinta, lalu apalagi? Hanya itu yang kau katakan padaku, Baruna.

Kancing kemeja merah muda yang menutup dadaku sudah keluar dari lubangnya masing-masing. Lima menit berlalu. Tak ada sehelai kain pun menutup dadaku. Aku tak sabar merasakan kau menulis puisi itu. Kupejamkan kedua mataku. Kemarin aku hanya mendengar cerita tentang puisi yang ditulis di dada temanku. Namun, kini aku merasakannya sendiri. Bahkan akulah tokoh utamanya. Aku menunggumu dalam kepasrahan. Kutahan kuat-kuat degup jantungku yang semakin cepat berdetak. Kututup rapat-rapat rasa cemas yang melintas di pikiranku.

“Ayo, Baruna, aku sudah tak sabar,” kataku tanpa membuka mata sedikit pun.

Aku tak tahu mengapa kau tak juga mulai menuliskan puisinya di dadaku. Mungkinkah kau masih berpikir bagaimana dan darimana mulai menuliskannya? Kau memang terbiasa menulis puisi, namun kali ini beda. Sebelum aku dan kau berada di kamar ini, pastinya kau telah memikirkan banyak hal tentang bagaimana menulis puisi di dada perempuan. Aku mau kau hanya akan melakukan hal ini sekali dalam seumur hidup.

“Jangan pikirkan bagus tidak puisinya, yang penting tanganmulah yang menuliskannya. Kali ini dadaku adalah kertasmu. Menulislah semaumu”.

“Ayolah Baruna. Tunggu apalagi?” Rajukku mulai tak sabar. Aku khawatir tak sanggup lagi menahan gemetar, tak kuasa lagi mendekap rasa cemas.

Tanganmu mulai bergerak. Kau tarik napas dalam-dalam lalu kau hembuska perlahan-lahan. Mungkin itu untuk menenangkan dirimu.

“Sekarang aku akan memulainya,” Kau berbisik ke telingaku.

Dengan hati-hati kau mulai menggoreskan pena di dadaku yang licin. Aku tersenyum. Huruf demi huruf kau tulis pelan. Sesekali kau hapus, entah menggunakan apa, rasanya dingin. Kadang kau berhenti sejenak. Dengan mata terpejam aku mencoba mengeja tulisanmu. Sia-sia. Aku tak bisa, yang muncul hanyalah wajahmu, Baruna.

“Ini akan segera selesai. Namun, aku enggan untuk mengakhirinya. Aku ingin terus memandangnya,” bisikmu padaku.

Kubuka mataku sambil kulemparkan senyum padamu. Itu tak lama. Kau mulai menulis lagi. Aku memejamkan mata lagi. Aku sekarang tahu mengapa temanku terlihat begitu bahagia ketika menceritakan kekasihnya dan puisi.

Aku masih memejamkan mata.

“Belum selesai juga?” tanyaku padamu.

Kau tak segera menjawab. Dan aku masih terus memejamkan mata tanpa tahu apa-apa. Kau berbisik ke telingaku, “Jangan buka matamu. Aku masih ingin membaca ulang puisi yang kutulis di dadamu.” Aku hanya mengangguk.

Bukalah matamu sekarang.

Kubuka mataku pelan-pelan. Senyummu menyambut. Kulihat keringat menetes dari wajahmu. Kau pasti menuliskannya dengan seluruh tenagamu. Bergegas kualihkan pandanganku ke dadaku. Kueja kata demi kata yang kau tulis.

Ah, aku mulai berimajinasi. Pikiranku berkelana pada masa silam. Maafkan aku.

“Kau sudah tidur, Baruna?”

Tak ada suara. Aku tahu kau sudah tertidur. Namun, seperti kataku di awal tadi. Aku akan tetap bercerita meskipun kau tertidur. Aku akan bercerita hingga malam habis, Baruna. Sebab aku tahu, setelah ini kita tak mungkin bertemu lagi. Mau tidak mau pada akhirnya kita harus menghadapi sesuatu yang paling kita takutkan–waktu–. Waktu tidak akan memihak kita. Waktu tak lagi memberi kesempatan kita untuk bersama. Aku akan menikmati malam terakhir sebelum laki-laki itu menyebutku sebagai istrinya. Lalu setelah itu, kita akan menutup kisah. Saling melupa.

Waktu berjalan begitu cepat malam ini. Satu jam lagi pagi akan segera datang, Baruna. Karena itu, aku akan segera menutup ceritaku tentang puisi di dada temanku, sebelum kita mencapai titik puncak sebuah kesepakatan untuk tak saling menghubungi apalagi bertemu demi kebaikan bersama. Kita harus mengubur dalam-dalam sebuah kisah masa lalu yang indah itu. Seperti katamu, penyelesaiannya semua kembali pada diri masing-masing.

Sebenarnya aku ingin kau mendengar akhir ceritaku, Baruna. Sayangnya kau telah tidur. Tapi tak apa, aku akan meneruskan ceritaku sambil memandang wajahmu untuk yang terakhir.

Baruna, kisah yang kuceritakan itu sebenarnya tidak pernah ada. Teman yang bercerita padaku itu hanya imajinasiku saja. Tentunya tidak ada temanku yang menikah kemarin. Tak ada pula puisi yang di tulis di dadanya. Tak ada penyair pastinya. Kau pasti tahu mengapa aku suka membuat kisah tentang penyair dan puisi bukan?

Kalau saja boleh, aku ingin kau menengok kembali puisi yang sempat kau tulis di dadaku waktu itu, satu-satunya puisi yang kautulis di dada seorang perempuan. Karena itu, bisakah kau bangun sebelum pagi tiba? Jawablah, Baruna!

***

Baruna terbangun dengan selembar kertas di sampingnya. Sepi, yang terdengar hanyalah detik jam dinding yang menunjuk angka tujuh. Baruna mengambil kertas itu dan membuka lipatannya. Sebuah tulisan singkat. Baruna membacanya.

Baruna, jika ada waktu tengoklah puisi yang kautulis di dadaku agar ia tak kesepian.

Dengan tergesa Baruna mengambil ponselnya untuk menghubungi perempuan penulis pesan itu. Baruna terperanjat. Ada panggilan tak terjawab lima menit lalu. Ia lalu  menelpon balik. Nomor yang dituju tidak aktif. Baruna memerhatikan waktu yang terpampang di ponselnya. Jam 07.10 pagi. Kesepakatan kemarin mereka akan berpisah tepat jam 6 pagi. Baruna menyesal mengapa ia tertidur semalam. Kini ia terlambat. Satu jam yang lalu perempuan itu telah pergi. Air membendung di mata Baruna. Perempuan itu telah meninggalkannya dan kembali ke rumah untuk mempersiapkan pernikahannya.

Dengan perasaan tak menentu, Baruna kembali ke tempat tidur sambil memeluk erat-erat kertas yang berisi pesan perempuan itu. Ia diam sesaat. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara yang berasal dari ponselnya. Ia mengambil dan menyentuh layarnya. Sebuah pesan. Baruna membukanya.

Mas kapan pulang? Putri kecilmu terus menangis mencarimu.

Baruna tak membalasnya. Ia cepat-cepat membuka baju yang melekat di tubuhnya lalu menuju kamar mandi. Ia harus segera pulang. Ada perempuan mulia yang menunggunya dan seorang putri cantik yang menunggu di gendongnya. ***


Sri Wahyuni, tim Sekolah Literasi Gratis (SLG) STKIP PGRI Ponorogo. Bergiat di rumah motivasi Sutejo Spectrum Center (SSC) Ponorogo dan Himpunan Mahasiswa Penulis (HMP) STKIP PGRI Ponorogo.

Puisi

Puisi Yulia Rahmatika

Persembahan Puisi

: Kepada Tama

Puisi Pertama

Mestinya aku tidak mempersembahkan puisi ini untukmu

Sedangkan sepasang mata yang lain akan cemburu

Jika mengetahuinya

Puisi-puisi adalah kekasihku

Menjelang petang aku selalu merapalnya

Sebab malam bakal menumpahkan segala keramahannya

Puisi-puisi ini doa yang khusyuk

Dengan segala keterasingan bait-bait yang tak mau kau kenal

Bagiku, disetiap kata yang ada, ia ingin memeluk dirimu yang membeku

Ia bisa terbang, kulepaskan ia seperti balon-balon sabun yang dimainkan adikku

Barangkali langit-langit akan setia memayunginya

Selama ia ingin dan mau menujumu


Puisi Kedua

Aku menetap jauh kedalam dirimu tanpa kau tahu

Aku menjadi tamu diam-diam yang paling riuh

dari gemuruh pesta di jantungmu

aku telah memasuki gerbang ketidakpedulian

mata angin mengantarkanku, kepada matamu

wajahmu puncak gunung

tertutup tirai kabut

dan jalan terjal harus kulewati tanpa mengeluh

diantara rimbun semak belukar

dalam jurang kekecewaan

diri ini akan berjuang

mengecup keningmu tanpa spasi seperti puisi-puisi ini


Puisi Ketiga

jangan berlari, dan jangan bersembunyi

aku gemas

akan aku ajak kau menikung jalan di angkasa

kita berhenti pada bulan merindu

merakit mimpi bersama jalan di rasi bintang

kita meminang segala macam kebahagiaan

tak ada raut wajah orang yang menyedihkan,

pura-pura menyedihkan, atau malah menutupi kesedihan

seperti yang ada di sekeliling kita sekarang

tak ada gubuk derita, takada yang menderita

dingin tunduk kepada kita sebelum diri ini sama-sama tertidur pulas


Puisi Keempat

Di sini kita masih menebak jejak

Mana yang lebih jauh dan tak terjangkau

Kaki ini atau kakimu.

Rasa penasaran mengetuk berkali-kali

Pada gerbang nurani

Seusai aku merangkai salam secara hati-hati


Puisi Kelima

Mengapa kau tak putus-putusnya membayangiku?

Saban hari, kau menyelinap, mengendap seperti mata-mata

Wangimu masuk, menyusup, menyentuh, menciumiku

Matamu mengganggu. Ia memendar ribuan cahaya

Yang menghancurkan kegelapan, kesunyian ; kepada diriku

“Mengapa kau tak bosan-bosannya di sini?”

Padahal tidak ada apa-apa yang baik dalam diri ini

Tidak ada nama-nama indah. Tidak ada masa depan

Aku sendiri, tidak tahu, siapa diriku

“Benarkah katamu, kau benar-benar mencintaiku?”

Wajahmu selalu terjebak dalam penjara-penjara pikirku

Kau terbang bebas sesukamu, seperti burung-burung

Tapi entah, kenapa ruang itu buntu. Kau tak mau keluar dari situ

Mungkinkah cintamu akan pulang kearah jalannya?

Adakah jalan itu diriku?

Ataukah jalan yang lain yang merestuimu?

Aku tidak tahu. Begitupun aku yakin, dirimu juga tidak tahu

Diri ini hanya melempar doa-doa. Tak peduli bibir dan wajah ini pucat

Asal ia bisa menukarnya. Dengan rekah-rekah senyum harap

Di pelupuk mimpi-mimpiku

“Tapi, adakah mimpimu sama persis dengan mimpiku?”

Aku tidak tahu.

 “Tapi, kalau bukan kau, siapa lagi?”

Siapa lagi?yang kutitipi

yang kuserahi puisi-puisi

dari aku ini yang sungguh tak tahu diri.


Puisi Keenam

Lekuk bibirmu, kekasihku

Adalah keramahan

Suatu hari kelak aku tidak tahu. Bagaimana diri ini berhenti mengagumimu

Entah sejak kegelapan menyerang. Atau sampai aku tenggelam dalam harapan?

Adakah sampai senyummu yang cerah.Benar-benar tak kelihatan?

Pertanyaan itu dengan sendirinya menolak jawaban

Aku berhenti melangkah. Mencengkeram lututku sendiri. Aku telah menyusuri tebing-tebing

Tapi tak jauh lebih curam dan mematikan. Selain sudut senyummu itu sendiri; kekasihku

Aku gadis yang malu-malu. Dua puluh angka mau kudapati. Tapi aku masih berandai kalau aku ini angin. Tapi aku masih berandai jikalau saja aku ini air

Kekasihku;

Aku belajar bagaimana berhenti sejenak. Membunuh dan menggulung apapun

Yang buat kau berjalan-jalan bersama kecewa. Yang buat kau menjamah sakitnya rasa.

Setiap kali kau begitujangan kau murungkan bibirmu kekasihku.

Sebab disana

Aku telah belajar

Tak ada yang lebih indah dari sebuah ketulusan

Lahir di pucuk bibirmu saat bertemu dengan bibirku;

Yang nantinya, kekasihku

Rekah bibirmu, itu sungguh ;

Ia untukku


Puisi Ketujuh

Aku yakin jika kau akan kembali

Tak peduli seberapa lama kau pergi.
Seberapa jauh atau seberapa inginmu menjauh.

Sebab besar pikirku
Aku ini adalah jalanmu menuju rumah
Aku ini kota yang ingin kau jamah sesaat kau bosan ;
dari manusia-manusia yang tak kenal ramah.

Aku yakin kau pergi bukan untuk kucari
Bukan memintaku untuk berhenti mencintai

Melainkan kau melepas diri, aku yakin
Sebenarnya kau ingin mengajari
Bagaimana seharusnya mencintai diri sendiri

Meyakini hal-hal semacam itu
Adalah  menyenangkan, sayang
Sama seperti sewaktu kau datang kemarin
Dengan wajahmu yang mekar

Aku mencintaimu sebelum sempat kau memutus hilang

Namaku, perempuan, Sayang
Diri ini sebelumnya penuh luka
Didapat dari orang-orang
Yang tak kenal diri ini dengan semestinya


Puisi Kedelapan


Sayang,
Kau yang tinggal di mesin ketikku.
Kau huruf-huruf yang mencintai jariku.
Besok kita akan bersama-sama lagi.
Bahkan setiap hari

Bukankah kita sepakat akan bersama-sama melumat spasi
Lalu menerbangkan tanda-tanda
Terus membiasakan diri untuk serakah
Tidak mengingat angka-angka
Dan tidak mengingat anak panah yang berarah-arah

Kita menyatu, bersama-sama
Tidak dikendalikan apapun
Barangkali mengalir bersama bunyi tik-tik
Sampai pukul tiga pagi
Sampai siang datang kembali

Aku datang kembali, untuk mencintaimu lagi.
Tik tik. Titik.


Puisi Kesembilan

Saya tidak mempunyai cukup kata untuk mengatakan saya benar-benar mencintaimu

Saya tidak mempunyai cukup suara untuk mengatakan saya sungguh mencintaimu

Saya diam, tetapi diam yang saya milikipun, sungguh tidak cukup  menjelaskan kepadamu bahwa saya sungguh-sungguh mencintaimu.

Jadi saya memutuskan untuk takut.

Saya takut untuk mencintaimu.

Saya takut,

Jika ada orang bilang kepada saya bahwa sungguh tidak pentingnya jika saya mencintaimu.

Saya takut, atas balasan kata yang tak cukup ini.

Kau mengatakan “saya tidak ingin mencintaimu”

Kemudian saya takut memikirkanmu

Saya takut masih menyimpan kata yang tak cukup ini untukmu

Saya takut,

Saya tidak memiliki apapun,

Selain cinta saya untukmu, saya takut kamu tidak akan mencintaiku


Puisi Kesepuluh

Kenanglah aku
Juga sewaktu kau mulai beruban dan kau sudah tua
Keriput dimana-mana

Bukalah matamu, ingatlah berapa banyak yang mencintaimu dulu; juga termasuk diriku

Kasih, sajakku untukmu begitu deras
Ia membungkuk meminta dibaca atau sekadar disimpan saja

Sudah berulangkali,
Sekeping kenang barangkali meminta dicengkeram

Jangan tanya aku dimana,
Waktu itu aku sedang menghitung sesal

Kenang saja, kenanglah aku sampai kau juga kecewa


Yulia Rahmatika, lahir di Bojonegoro,16 Juli 1999. Mahasiswa aktif Pendidikan IPA Universitas Trunojoyo Madura. Menyukai puisi sejak jatuh hati.

Buku, Resensi

Beban Berat Kaligrafi Semar

Oleh Rizki Amir

Madura sebagai sebuah daerah yang memiliki beban berat kebudayaan, nyatanya hingga saat ini—meskipun arah angin seolah sedang menuju ke wilayah timur, tetap mampu bertahan dan kerap melahirkan berbagai penulis cemerlang yang juga layak diperhitungkan dalam kancah bajak laut sastra Indonesia. Lihat saja satu di antaranya, Muna Masyari, penulis perempuan asal Pamekasan yang berhasil menyabet Cerpen Terbaik Kompas tahun 2017 lalu.

Hal semacam itu tentu saja tidak terlepas dari peran ruang-ruang diskusi dan komunitas yang meskipun sporadis, tapi begitu militan. Salah satu komunitas yang turut hadir dalam keriuhan itu adalah Bawah Arus. Meski tergolong kecil, komunitas itu diam-diam telah membimbing Andy Moe untuk maju dan berhasil menjadi peserta terpilih Majelis Sastra Asia Tenggara tahun 2018 kategori cerpen. Dan di tahun ini, laki-laki itu telah menerbitkan buku kumpulan cerpennya yang berjudul Kaligrafi Semar (Rumah Akar, 2019).

Sebagaimana pendahulunya, Andy juga mengusung suara-suara dari beban berat kebudayaan Madura yang memberi pemahaman tentang suatu permasalahan dengan menengok hubungan kausalitas berdasarkan kenyataan bagi kepentingan personal. Konsep itu seolah harus dibawa dan dikembangkan agar menjadi ekor yang baik lagi benar.

Dalam cerpen yang berjudul “Ampun”, dituturkan bagaimana Matnaji, seorang bandit besar yang memutuskan memulai hidup baru di pesantren, karena telah kehilangan relasinya dan ia tidak lagi mampu melakukan aksi sendirian. Cerpen ini tampaknya memang sengaja memilih ruang-ruang religiositas guna mengungkapkan kecemasan akan rasa aman dan trauma dari peristiwa masa lampau yang jalin-kelindan. Di pondok pesantren, Matnaji juga harus sabar menghadapi penyakitnya. Penyakit yang sering kambuh, yang didapatnya selepas kejadian itu –.(hal. 7).

Tak hanya itu, sifat mengutamakan kepraktisan dan kegunaan dalam tindakan yang dilakukan tokoh utama dalam cerpen “Boi” juga menunjukkan bagaimana orang Madura yang bergerak cepat. Alih-alih menunggu kehendak Tuhan untuk memberi pelajaran pada bapaknya, tokoh Aku justru memilih melampiaskan kekecewaannya sendiri sebagai seorang anak yang kurang kasih sayang. “Dukk!” Bola handuk berpaku itu mengenai bagian belakang kepala bapak. Lalu kulihat darah mengalir dari sela-sela rambutnya. Sebentar lagi darah itu akan menjadi banjir. Bapak akan marah padaku. Ia akan mengingatku karena telah menjadi pelempar, seperti aku mengingatnya. (hal. 16).

Di cerpen lainnya, “Nonggul”, meskipun berangkat dari premis apik yaitu mengangkat tradisi lomba setet—jenis layangan yang ada di Madura, di tengah jalan dengan perlahan tapi pasti, cerita bergeser ke arah kepercayaan akan hasrat dan prasangka tanpa peduli tindakannya itu akan merugikan orang lain atau tidak. Sungguh kental aroma mistik yang peserta percayai, bahkan para pemilik setet dapat dengan mudah marah hanya karena gulungan senar mereka dilangkahi seseorang. (hal. 60). Dan konsekuensinya adalah perlombaan itu bukan lagi jadi ajang untuk memperebutkan hadiah, tapi sebuah perang yang harus dimenangkan.

Tapi pertanyaan selanjutnya apakah beban berat kebudayaan daerah itu hanya bisa dituturkan dalam ranah asal? Seberapa besar kemungkinan dari keterpisahan yang terbentuk dan mampu‘hidup’?

Dalam cerpen “Menghadap Langit”, mungkin Andy sudah coba menjawabnya meski tanpa tendensi untuk mempertebal keterpisahan dari asalnya. Sayangnya, dalam posisi bingung dan masygul untuk tetap mempertahankan ironi yang sudah dibangun sekaligus menghadirkan suspensi, yang empunya cerita akhirnya memutuskan untuk melompati bagian penyebab di balik terjadinya peristiwa.

Serupa dengan itu, di cerpen yang berjudul “Rumah Dulla”, kita akan berjumpa dengan Dulla yang berkemauan keras dan melihat kehadiran ibunya hanya untuk memenuhi sebuah syarat. Sayangnya ketegangan menghadapi peristiwa malah menghasilkan efek yang terlampau kasar dari perpindahan satu bagian ke bagian lainnya. Jika kau melihat kerusakannya kau tak akan percaya jika Dulla bisa selamat dari kecelakaan itu. Dulla hanya tergores beberapa senti di bagian lehernya saja namun tiga penumpangnya menemui ajal. (hal. 79).

Semua itu hanya eksplorasi, tentu. Tapi pilihan semacam itu justru menujukkan bahwa Andy tidak sedang bermain di ranah yang membuka ruang untuk pertentangan. Ia tampaknya hanya ingin dunia ceritanya dapat diterima sebagaimana mestinya.

Hal yang kuat dan menarik dari buku yang berisi lima belas cerpen itu, bagi kita, sebenarnya adalah bagaimana penulis menawarkan penggabungan antara sesuatu yang abstrak dan yang konkret. Ia berusaha menangkap laku dalam berproses. Dalam cerpen “Kaligrafi Semar” yang menjadi judul buku misalnya, ada gambaran mental yang dalam dari apa pun yang ada di luar subjek, yang digunakan untuk memahami peristiwa dan citra diri, sehingga apa-apa saja yang dilakukan tokoh Semar bukan hanya berguna sebagai tanda, tapi juga cenderung hiperbol.

Hal demikian, sekiranya perlu diketahui para pembaca lantaran mampu membuat buku kumpulan cerpen Kaligrafi Semar memiliki sisi tersendiri di laut lepas yang sudah lebih dulu diarungi para penulis prosa dari daerah Madura lainnya.


Rizki Amir lahir di Sidoarjo, 1995. Terlibat dalam Komunitas Rabo Sore. Buku kumpulan puisinya yang telah terbit berjudul Rahasia Pasar (2017). Terpilih sebagai penulis Emerging Ubud Writers and Readers Festival 2017. Selain menulis, sebagian waktunya juga digunakan untuk berdagang.

Cerpen

Mendung Jatuh di Mata Bapak

Cerpen Latif Nur Janah

Gelisah membuntuti Ibu. Mengikutinya sepanjang ia menjalani hari. Berserak di wajahnya yang kusam. Pagi tadi, gelisah hadir ketika ia hendak menghidupkan tungku, menghidupkan kehidupan.

Aku yakin, kegelisahan jugalah yang membuat Ibu menjatuhkan piring sebelum ia selesai menata hidangan untuk makan siang kami. Sampai-sampai, ia juga keliru menuangkan cairan cuka ke dalam acar tahu di piring Bapak.

Meskipun aku tak begitu dekat dengan Ibu, sebagai anak yang terlahir dari rahimnya, aku tahu persis manakala Ibu tengah dilanda keresahan. Lain Bapak, ia begitu mahir menyembunyikan apa yang tengah ia rasakan.

Dari meja makan, terdengar televisi menyiarkan berbagai aksi demo mahasiswa. Aku menghentikan suapanku. Bukan untuk memperhatikan berita, melainkan untuk membaca suasana. Bapak masih terus melahap acar tahunya, meskipun aku yakin ia begitu terusik dengan suara reporter itu. Sementara Ibu beranjak ke dapur. Tempat ia menuntaskan air matanya.

Satu-satunya yang kulakukan adalah segera melicinkan piringku, lalu bergegas mencium tangan Bapak. Sebelum aku melangkah ke halaman, kuhampiri Ibu di dapur, kucium tangannya, lalu kupeluk tubuhnya yang kian ringkih.

“Mas Farhan baik-baik saja, Bu,” bisikku, persis di telinga kanannya.

Ibu menyeka air mata. Kegelisahan di wajahnya memudar sementara.

“Suruh ia pulang. Ibu sudah rindu,” balas Ibu. Mendung kembali hadir di rongga matanya. Aku mengangguk.

Usai kursus membatik di rumah Bu Sukatmi, aku menyusul Bapak ke ladang jagung. Hamparan daun-daun jagung mengeras tersiram panas yang ganas. Meski tak mengenakan sarung tangan, Bapak begitu lihai mengambil tongkol-tongkol jagung dari batangnya. Setelahnya, batang-batang yang kemresek tersenggol gerak tangan dan kaki itu dirobohkan dengan satu injakan. Bapak akan membakarnya sebelum hujan labuh datang.

Tentang Mas Farhan, aku yakin, Bapak menyimpan rindu seperti halnya dengan Ibu. Hanya saja, Bapak adalah tipikal orang yang enggan untuk melihat segala sesuatu dengan perasaan. Lumrah saja, ketika tahu bahwa Mas Farhan secara diam-diam sering bertemu dengan orang tua kandungnya, Bapak merasa dirinya tak dihargai. Sementara ketika mengadopsi Mas Farhan saat berumur dua tahun, orang tuanya berjanji untuk tak akan muncul di kehidupan Mas Farhan.

“Memang sudah saatnya Farhan tahu tentang mereka, Pak,” rintih Ibu suatu sore ketika Mas Farhan baru saja pulang sekolah.

“Iya, tetapi bukan sekarang. Mereka sudah berjanji untuk ini, dan aku pun begitu. Jika harus bertemu, aku jugalah yang harus mempertemukannya.” tangan Bapak berhenti melinting kelobot berisi tembakau dan guntingan cengkeh.

“Seharusnya sudah dari satu tahun yang lalu kita mempertemukan Farhan pada orang tuanya.”

Bapak meraih lintingan kreteknya, lalu menyulutnya, menimbulkan suara kre..tek..kre..tek..

“Atau jangan-jangan, Bapak yang mau ingkar janji dengan tidak mengizinkan Farhan bertemu orang tuanya.”

Ucapan Ibu membuat waktu membisu. Dalam suasana yang begitu ganjil, aku melihat Ibu seolah menelan ketakutan akan ucapannya sendiri. Sementara Bapak lekas berdiri, meraih selopnya di bawah kursi, lalu melempar  puntung kreteknya ke tanah. Apinya padam dengan satu gilasan.

Mas Farhan memang saudara tiriku. Meski begitu, aku dan ia merasa bagai saudara kandung. Ketika Bapak dan Ibu mengadopsinya karena lebih dari tujuh tahun tak memiliki anak, tiga tahun kemudian lahirlah aku.

Dengan beasiswa, Mas Farhan kuliah di Jakarta. Bagai gayung bersambut, ia bertemu orang tuanya yang kini menjadi pedagang kain di Tanah Abang. Semakin lama, ia memang jarang pulang karena terlalu sibuk dengan urusannya di BEM. Dan situasi ini membuat Bapak selalu berpikiran bahwa Mas Farhan telah lupa padanya. Padahal selalu kutunjukkan riwayat panggilan di teleponku. Tetapi, alih-alih melihatnya, Bapak memilih pergi. Sampai suatu ketika saat Mas Farhan pulang, Bapak mengusirnya karena sakit hati.

Hamparan jagung ini menyimpan banyak kisah Bapak dengan Mas Farhan. Sebelum aku sering membantunya, Mas Farhan-lah partner terbaik Bapak di ladang. Aku begitu yakin, di antara dedaunannya yang mengering, terselip rindu yang begitu menggebu. Ada harapan yang membuncah ketika dengan berkarung-karung jagung, saat itu, oleh Bapak dijual dengan harga murah. Tak lain untuk uang saku Mas Farhan ketika berangkat ke Jakarta.

Dua hari yang lalu, aku mendapati Bapak terpekur di depan televisi saat berita tentang demo mahasiswa berlangsung. “Syukurlah.” Ucapnya ketika mendengar tak ada korban jiwa setelah aksi selesai. Sehebat apa pun ia menyembunyikan rasa sedihnya dari Ibu, aku masih bisa melihat resah di setiap bahasa tubuhnya. Ketika ia menyadari kehadiranku, aku melihat sebongkah kerinduan yang nyaris menawan raut wajahnya.

Aku pulang, Nis.

Pesan singkat itu kuterima saat aku berteduh di bawah pohon pepaya. Angin panas yang menerpa wajahku menjelma embusan yang begitu menyejukkan. Ya, aku yakin jika Mas Farhan akan pulang. Ia tak mungkin membiarkan Ibu dirundung gelisah dan rasa bersalah yang tak sudah-sudah. Bagaimana pun, Ibu selalu menganggap dirinya tak mampu menjaga apa yang menjadi tanggungannya jika membiarkan Mas Farhan pergi.

Aku berniat pulang saat menyadari aku lupa membawa bekal minuman. Tak sabar juga bertemu Mas Farhan dan melihat kegembiraan Ibu. Aku sudah tak tahan setiap kali melihat Ibu melamun di dapur. Dapur lebih serupa tempat yang mengekalkan kenangan setelah Mas Farhan jarang pulang. Aku harus meminta pertanggung jawaban Mas Farhan akan hal itu.

“Jangan dihabiskan. Sisakan untuk Bapak.”

Suara itu…

Senyum Mas Farhan mengembang ketika kubalik  badanku. Kuraih sebungkus es teh dari tangannya.

Di hamparan jagung di atas sana, Bapak memandang ke arah kami. Ia diam terpaku. Topi anyaman pandan  yang dikenakannya, melambai tertiup angin.  Saat sosoknya semakin mendekat, ada sesuatu yang membuatku seolah tak tahan melihat wajahnya yang penuh peluh. Gegas, Mas Farhan mencium tangannya. Ada mendung yang bergantung di balik kelopak mata Bapak. Lantas jatuh membentuk setitik air mata, buah kerinduan pada anaknya yang tertahan.

Gemolong, September 2019


Latif Nur Janah, lahir 1990. Menulis fiksi dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa.


Puisi

Puisi Julaiha S.

Beduk Rindu

kaki-kaki menelan tanah sawah

sepanjang usia ibu

hijau-kuning menakar tubuh keriput

di antara senyum itu

ada denyut yang mengeja waktu

tak ada yang nyata menggulung ingin

yang tercermin dari rupa rumah

pohon-pohon ikhlas

mengayun air malam yang kedinginan

menelusuri sisa-sisa letih

yang dijaga ibu sebagai ribuan doa

untuk kaki kuat di tanah kota

Medan, 2019


Kabut-Kabut Kelabu

langit kini nyanyian kabut-kabut kelabu
mengantar kesedihan di balik kapuk

tak ada yang ingin pulang

seperti burung-burung menjelang magrib

yang bersorak-sorak memanggil anaknya

aku tertib mengeja almanak

tata kera kemeja

urutan kancing baju

menghitung detak masa lalu

air selokan begitu tenang 
menjaga kakimu tetap berjalan

aku cinta yang mengalir dari

luka-luka sekujur tubuhmu

aku kandas dalam kemarau

berjiwa kota

di dalam angin

aku merindukan doa-doa

yang terbang tak tahu arah

Medan, 2019


Mata Seberang

tubuhku mencari-cari pandang

yang melipat kata jadi udara

yang tersimpan dari lubuk kenangan

ialah mata-mata seberang

menuntun langkah jauh

mekar di jari-jari kaki perempuan

tubuh angin memelukmu

semilirnya, menggetar kendi

di kepala kakak perempuan

yang di dalamnya bunga beragam rupa

di balik mata seberang

candumu mengemas hilang

yang menetes dari dahan-dahan kering

Medan, 2019


Tugas-Tugas Jarak

jarak ini tumbuh daun-daun kering

menepi menuju masjid

suara sapu lidi menyeret tanah

mengeja langkah kepergian lalu

larut malam kini menyerang rimbun

kaki menaiki kendara

kepala bocah panas waktu

dengan tugas-tugas tak berujung

barulah ia mendaki inginnya

kelebat duka suara ibu

sungguh tak ia ingkari kehadirannya


Medan, 2019


Burung-Burung Tak Menangkap Kabar

cakarmu tak melubangi tanah

detak-detaknya tertanam di sana

yang semakin senja

dan terbenam

Medan, 2019


Yang Diulang-Ulang

berulang-ulang

tasbih berulang-ulang

bulirnya menghantarkan gelisah

berulang-ulang

lantunan kuulang

bawa aku pulang

memelukmu

Medan, 2019


Tampungan Air

kau hanya duduk

mencium tubuh air

simpan aku dalam sedih

dan gulana

mahir ia menerjemahkan

tubuhmu tapi tidak pada tubuhku

di sana rindu tak mencuat

hanya menggelembung seperti

napas yang tanam

Medan, 2019


Menatap Langit

Ada hujan berjatuhan di matamu

kedap bintang mengairi cahaya musim

dari bumi, langit mengasah gulita

yang matang sebagai bakal mimpi

Ia tetap kukuh

mengakarkan rimbun harapan

memoar; menukik janji

sampai pulang ke jangkar hari

dan pagi-pagi penuh recehan ilusi

Medan, 2019


Makna Pagi

Anak-anak mencari subuh

menabung amal, dan menaikkan restu

dari tuhan sudah berkali-kali mengingatkan.

mereka telah tunai menanggalkan kantuk

suara panggilan dari ufuk,  mengaburkan mimpi

roh kembali pada jasad setiap malam.

Anak-anak mencari riwayat pagi

sementara kau masih berkabut sepi

membiarkan rohmu keluar tanpa tuhan

mengumpulkan kegaduhan dan setan di tubuhmu

sebagaimana kita mengadu pada laut.

Pada tangisan tangisan langit, perihal problema

yang mengurangi napas jantung.

tak berkukuh terang pada jalanan yang ditempuh.

kau telah menghabiskan kesabaran

pada sepi di sebuah lampu kota dan

taman-taman yang tak ada rupa bunga

Medan, 2019


Sebuah Pelita

rahasia tumbuh dari tubuhmu

waktu menata kata menjadi pertanyaan

renta hari, langit menangkap sunyi

masa silam disirami janji

angin telah mewartakan pagi

sebagai awal dari rantai mimpi

kau masih saja memanggul petang

dan riwayat yang kusebut usai

aku telah berkelana

melihat dunia padat di pipimu

setelah usia semakin tumpul,

kau tetap pelita

Medan, 2019


Julaiha S. (Julaiha Sembiring), perempuan kelahiran Medan, 11 Juni 1993. Bergiat di Kompensasi, Labsas dan KPPI-Medan. Sejumlah tulisan telah dimuat di media cetak dan online yakni;Koran Tempo, Media Indonesia, Basabasi.co, Solopos, Suara NTB,dan lainnya. Saat ini, ia tercatat sebagai alumni Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Medan. Ia telah melahirkan buku puisi tunggalnya berjudul Mula-Mula Kita Pergi Selanjutnya Tersesat. (Obelia Publisher, 2016).

Buku, Resensi

Selamat Mengalami Mimpi Buruk

Oleh Shofyan Kurniawan

Bayangkan ketika kita memiliki keinginan yang besar untuk melakukan kejahatan, sesuatu yang oleh alam sadar coba ditekan dan direpresi sedemikian rupa karena itu bertentangan dengan nilai-nilai yang telanjur dianut dalam realitas kita. Misalnya, kita ingin sekali menghajar kepala seseorang dengan sol sepatu sampai bocor tanpa tahu alasannya. Bisa juga, kita ingin sekali melakukan pembunuhan berantai berbekal sepucuk pistol, menembaki satu per satu korban. Namun keinginan-keinginan semacam itu harus ditekan habis kalau kita tidak ingin berurusan dengan hukum dan perangkat-perangkat penegaknya. Meski begitu, keinginan-keinginan itu mencoba mencari jalan keluar. Jika tidak bisa di kondisi sadar, hal semacam itu akan datang melalui mimpi. Ya, mimpi. Kondisi ketika kesadaran merenggangkan kekangnya.

Bisa dibilang itulah yang coba diceritakan Aris Rahman P. Putra dalam kumcernya berjudul Riwayat Hidup Sebuah Pistol di Kawasan Mulholland Drive. Ia mencoba menceritakan tentang kejadian-kejadian yang berlangsung dalam kepala ketika sedang mengalami mimpi.

Mulholland Drive sendiri—yang dipakai Aris Rahman P. Putra sebagai pelengkap judul bukunya, mengacu kepada salah satu karya terbaik David Lynch, sutradara yang gemar membuat film-film surealis. Kita juga bisa melihat gambar sampul buku yang dipilih: Manusia kelinci berjas yang sedang membawa pistol, seolah mencoba mengingatkan kita kepada salah satu film David Lynch lainnya berjudul Inland Empire. Melalui judul dan sampul buku, kita seakan bisa langsung tahu apa yang hendak diceritakan Aris Rahman P. Putra di sini.

Membaca Riwayat Hidup Sebuah Pistol di Kawasan Mulholland Drive, kita seolah diajak untuk mengalami mimpi. Ada beberapa bagian yang tidak masuk akal seakan mencederai logika cerita, tetapi ketika kita mengerti bahwa apa yang hendak disampaikan adalah dunia yang berlangsung dalam mimpi, kita akan langsung memberi pemakluman.

Misalnya saja, ketika kita membaca cerpen berjudul Riwayat Hidup Sebuah Pistol di Kawasan Mulholland Drive yang juga menjadi judul buku ini. Di sana terdapat serangkaian pembunuhan yang terjadi hanya karena sepucuk pistol—pistol yang sama. Pembunuhan pertama dimulai di sebuah kafe dengan korban seorang pemuda yang semula hendak merampok, kemudian berlanjut ke seekor anjing, lalu pada sebuah keluarga, lantas berlanjut pada pasangan kekasih yang terlibat cekcok karena salah satunya kepergok selingkuh. Menariknya, setelah pembunuhan terakhir pistol itu malah jatuh ke tangan seseorang yang langsung saja memberi kita sebuah kesan dan tonjokan yang membuat kita bergumam: “Hmmm, sepertinya barusan aku melewati satu mimpi buruk deh.”

Cerpen lainnya yang berjudul Mimpi-mimpi yang Perlu Kaualami Sebelum Menjadi Nabi merupakan gambaran paling nyata dari kekacauan yang terjadi dalam sebuah kepala. Kita mungkin akan merasa kasihan dengan apa yang dialami kepala tersebut karena harus melompat dari satu mimpi yang ganjil ke mimpi ganjil lainnya.

Ada juga pemuda pengidap skizofrenia di Catatan-catatan Mengenai Pasien No. 35. Setiap si pemuda bangun tidur, ia mengalami semacam halusinasi yang selalu berbeda tetapi memiliki satu benang merah yang menghubungkan semuanya: si pemuda punya trauma berkaitan dengan seks.

Meski begitu, Aris Rahman P. Putra tak melulu bernarasi soal alam bawah sadar belaka. Di bagian lain, ia juga menghadirkan cerpen-cerpen bergaya realis, misalnya: Antipode dan Harga yang Pantas untuk Sebuah Kebodohan dan Rekaman-rekaman yang Diselamatkan oleh Tuhan. Walau bergaya realis, di sini Aris Rahman P. Putra tidak hanya mengambil peran sebagai pencatat atau sekadar perekam, melainkan juga menggiring kita menemukan sebuah pemahaman baru atas peristiwa-peristiwa yang coba ia angkat ke permukaan. Di lain sisi, dia juga ingin menghadirkan sebuah kesan, bahwa hidup hanyalah kemurungan-kemurungan yang coba kita bungkus dengan harapan dan optimisme. Sehingga tidak bisa dihindari kalau Aris Rahman P. Putra terkesan menolak narasi-narasi romantis, mirip seperti Holden Caulfield di novel Catcher In The Rye karya J.D. Salinger. Seperti yang bisa kita jumpai di cerpennya berjudul Kuesioner 1: Bagaimana Menemukan Pasangan yang Tidak Gampang Bunuh Diri yang digambarkan melalui potongan sajak yang berbunyi:

Bagaimana cara

menghentikan hujan di kepala?

Barangkali kita terlalu melankolis

dan menjadi dungu

Karena cinta

Sehingga lupa

Bahwa di dunia

ini, ada sesuatu bernama

payung dan jas hujan

yang membuat kita

tetap kering

Meski digempur

hujan tak reda-reda

Salah satu cerpen berjudul Rekaman-rekaman yang Diselamatkan oleh Tuhan  berkaitan dengan kerusuhan yang terjadi di tahun 1998, menjelang lengsernya Soeharto dari kursi kepresidenan. Di sini Aris Rahman P. Putra menggambarkan bagaimana bermacam-macam orang dengan latar belakang berbeda pada masa itu merespon peristiwa tersebut. Jika kita pernah membaca karya J.D. Salinger berjudul Orang Asing dan sampai di bagian ketika sang tokoh utama bernarasi kalau ia tidak percaya pada saat ia terlibat perang dan bergelut dengan hidup dan mati, di tempat yang lain ada orang yang dengan santainya mengajak anjingnya berjalan-jalan keliling kota; di cerpen Aris tersebut, kita bisa mendapatkan sensasi yang kurang-lebih mirip.

Cerpen-cerpen Aris memang cenderung bernuansa murung dan pesimis, seolah ia ingin mengatakan hidup hanya segunung tahi yang dibungkus kertas kado. Bahkan jika ada sesuatu yang lucu di sana, itu bukanlah murni kelucuan yang telanjur dipahami secara massal tapi sesuatu yang memang layak untuk ditertawakan, entah tawa ngakak ataupun sambil meringis. Jika kita terlalu memandang hidup ini dengan optimis, menganggap semuanya bakal indah pada waktunya, mungkin kita perlu mencoba membaca cerpen-cerpen di dalam buku ini supaya khayalan kita tidak kelewat utopis. Bagaimanapun, hidup yang baik adalah hidup yang dijalani, setaik apa pun itu.


Shofyan Kurniawan. Lahir dan besar di Surabaya.

Cerpen

Penderitaan

Cerpen Ardy Kresna Crenata

Sekawanan hyena mengepung seekor zebra. Herbivora malang itu terpisah dari kawanannya, setelah ia berlari dan terus berlari menghindari kejaran seekor hyena yang kini dilihatnya tengah bersiap-siap menyergapnya—bersama hyena-hyena lainnya. Tak ada mukjizat, tentu. Setelah menggeram cukup lama salah satu hyena itu menyergapnya dan beberapa hyena lain melakukan hal yang sama dan zebra itu harus merelakan kehidupannya berakhir; sebuah gigitan yang kuat dan bengis di leher membuatnya mati dalam waktu singkat. Ia pun tinggal jasad, tinggal tubuh yang lekas dingin. Dengan gigi-giginya yang runcing berliur hyena-hyena itu mencabik-cabik si zebra dan memakannya seakan-akan herbivora tersebut tak pernah hidup. Dan mereka benar-benar mencabiknya, memisahkan bagian tubuh yang satu dengan bagian tubuh yang lain, tanpa lebih dulu memberikan penghormatan atau apa. Dalam beberapa jam kemudian yang tersisa dari zebra tersebut hanyalah sedikit tulang dan noda darah—yang tercecer di tanah berumput.

Saat pembunuhan dan pembantaian tersebut berlangsung, hyena-hyena itu tentu tak sedikit pun memikirkan karma, dosa, atau semacamnya. Dan mereka juga pastilah tidak merasa bersalah telah melakukan hal tersebut, bahkan menganggapnya hal biasa saja. Benar-benar hal biasa saja. Mereka lapar, dan mereka butuh makan. Dan makanan mereka adalah daging, bukan nasi, atau roti, atau rumput. Dan kebetulan zebra tersebut berada dalam jangkauan mereka,  dan begitulah mereka memilihnya—sebagai santapan mereka. Tak ada kebencian, dendam, atau semacamnya. Ini murni sebuah proses alam semata; terkorbankannya sesosok makhluk hidup untuk kelangsungan hidup makhluk(-makhluk) hidup lain. Jauh sebelum dirimu dilahirkan, leluhur-leluhur mereka telah melakukannya, dengan tingkat kebuasan yang bisa jadi sama.

___

Miyuki menyadari seseorang sedang mengikutinya. Dini hari yang sunyi. Langkah-langkah cepatnya menyisakan bunyi yang memantul-mantul di belakangnya dan menyebar ke kanan dan kirinya, menjelma teror yang membuatnya merasa terancam sehingga ia tak berani menoleh dan hanya terus menatap ke depan saja. Dengan kedua tangannya, ia memeluk dirinya sendiri erat-erat; ia memeluk dirinya erat-erat seakan-akan mantel hitam tebal selutut yang dikenakannya tak mampu lagi melindunginya dari terpaan angin. Lampu-lampu dari bangunan-bangunan yang dilewatinya menyala; sebagian terang dan sebagian redup. Miyuki merasa bibirnya kering. Ia berani membayar mahal seseorang untuk sekadar menciumnya dan memeluknya kuat dan menemaninya menuju kamar apartemennya yang masihlah berjarak belasan menit lagi.

Seseorang itu sudah mengikutinya sejak ia keluar dari kelab. Begitu Miyuki meyakini. Ia memang baru menyadarinya lima menitan kemudian, tetapi ia yakin itu pastilah disebabkan ia masih teramat memikirkan apa yang dialaminya di kelab setelah jam operasi berakhir. Si pemilik kelab, seorang perempuan berusia tiga puluh sembilan yang masih terlihat begitu muda dan memesona, menghampirinya dan membisikkan di telinganya bahwa ada sesuatu yang ingin ia bicarakan berdua saja dengannya. Saat itu, Miyuki baru saja berganti pakaian, dan sedang mematut-matut diri di depan cermin, sambil memeriksa riasan wajah.

Di cermin besar di hadapannya, Miyuki mendapati bayangan perempuan itu mengedipkan mata kepadanya, sambil menyunggingkan senyum yang seketika diartikannya sebagai ajakan untuk bercumbu. Dan benar saja, mereka memang bercumbu, berdua saja, di ruangan pribadi si pemilik kelab yang terletak jauh di sayap lain. Awalnya mereka sekadar bicara, lalu perempuan itu mulai memosisikan dirinya di belakang kursi di mana Miyuki duduk, dan tanpa ragu mengelus-eluskan telapak tangannya yang lembut ke lengan Miyuki, lalu ke pundaknya, lalu ke lehernya, lalu ke rambutnya, lalu ke wajahnya. Miyuki tahu lambat laun percumbuan ini akan terjadi. Dan ia tak menolaknya, meski ia merasa sesungguhnya ia bukanlah tipe orang seperti itu; ia masih jauh lebih memilih bercumbu dengan lelaki kendatipun si perempuan sangatlah menarik dan menyegarkan mata. Miyuki tahu, perempuan pemilik kelab itu telah menyukainya sejak lama, dan telah mengincarnya juga sejak lama, dan ia tak memendam kebencian atau perasaan buruk apa pun kepadanya.

Mereka bercumbu, dalam gairah yang semakin lama semakin tinggi, semakin seperti mendidihkan cairan dalam tubuh mereka dan membuat degup jantung mereka seakan berdentum dan berdentum. Miyuki pada akhirnya menanggalkan apa yang dikenakannya. Begitu juga perempuan itu. Tak ada lagu atau musik atau bunyi latar lain. Mereka berdua seolah-olah bersepakat untuk menikmati percumbuan tersebut dalam hening.

Setelah percumbuan tersebut berakhir, ketika Miyuki mengambil ponselnya untuk mengecek jam, ia mendapati ia sudah meluangkan waktu untuk si pemilik kelab lima puluh sembilan menit lamanya. Gara-gara itu ia terpaksa pulang sendirian. Biasanya Miyuki akan berjalan dengan dua hostess lain di kelab tersebut sampai mereka tiba di perempatan kedua atau ketiga; perempuan satu akan berbelok ke kiri dan yang satu lagi ke kanan sementara Miyuki menyeberang lurus; lurus dan terus lurus. Kali ini saat Miyuki berdiri di luar pintu masuk kelab ia dihadapkan pada kesunyian, keheningan, kesendirian. Tetapi di detik itu ia belumlah menyesalinya. Belum, sebab selama lima menitan sejak meninggalkan kelab Miyuki masih sangat memikirkan apa yang baru saja dilakukannya dengan si pemilik kelab, yang rupa-rupanya menumbuhkan sesuatu yang hangat di dalam dirinya. (Barangkali Miyuki sebenarnya tidaklah setegas yang ia kira.)

Dan sekaranglah, saat ia terus mempercepat langkah-langkahnya, rasa sesal itu datang, menyergapnya, menghimpitnya, membebaninya, membuatnya merasa ia begitu cepat lelah dan kehabisan napas padahal biasanya ia selalu baik-baik saja saat tiba di depan pintu kamar apartemennya. Miyuki berharap ini hanya perasaannya saja, tetapi seseorang yang mengikutinya itu seperti semakin dekat; seperti jarak antara seseorang itu dan dirinya terus memendek dan memendek. Miyuki bisa mendengar langkah-langkah cepat seseorang itu berseteru dengan langkah-langkahnya sendiri. Masih lebih dari sepuluh menit lagi. Kini Miyuki mencengkeram kedua lengannya, seolah-olah ia ingin sekuat tenaga mencabiknya.

___

Di detik zebra itu menyadari ia akan menjadi santapan para hyena, apa yang mungkin terbit di benaknya? Apakah ia teringat kawanannya, dan ia kecewa pada mereka karena tak satu pun dari zebra-zebra tersebut tergerak untuk menolongnya, atau setidaknya sekadar mengkhawatirkannya? Ataukah ia justru tengah mengingat-ingat rupa tiap-tiap hyena yang akan mencabik tubuhnya dan melenyapkannya, membuat keberadaannya di kehidupan yang dijalaninya itu terasa fiktif, sambil di dalam hati berjanji akan menghantui hyena-hyena itu di sisa hidup mereka? Ataukah justru, ia sedang memikirkan apa itu kematian dan apa sesungguhnya itu kehidupan, dan apa makna dari menyerahkan kehidupannya demi kelanjutan hidup hyena-hyena tersebut? Ataukah ternyata, ia sama sekali tak memikirkan apa-apa?

___

Seseorang itu akhirnya menyergapnya sebelum sempat ia berbelok di perempatan terakhir. Miyuki sebenarnya sudah mencoba berlari, tetapi lari seseorang itu jauh lebih cepat dan ia sendiri sialnya terhambat oleh sepatu boot berhak tinggi yang dikenakannya. Tak butuh waktu lama bagi seseorang itu untuk menyudahi perlawanan Miyuki; ia menekankan ke hidung Miyuki lipatan sapu tangan yang dibasahi cairan tertentu berbau kuat. Miyuki berusaha mengumpulkan informasi tentang seseorang itu di detik-detik sebelum kesadarannya hilang, dan tiga hal inilah yang ia dapatkan: (1) kaus dan mantel hitam; (2) sepasang sarung tangan yang juga hitam; (3) wajah yang tampan dan barisan gigi yang bersih-rapi.

Ketika kesadarannya kembali, Miyuki mendapati ia berada di sebuah ruangan yang tak ia kenali. Sebuah kamar. Mungkin di sebuah apartemen tak jauh dari perempatan tadi. (Bisa jadi tak jauh juga dari apartemennya!) Miyuki menelentang, di sebuah ranjang. Kedua tangan dan kakinya terikat oleh tali kuat-tebal ke ujung-ujung penyangga ranjang, menjadikan ia jika dilihat dari atas serupa huruf X besar dengan satu tonjolan kecil di atas—kepalanya. Miyuki merasa ruangan itu begitu dingin dan ia lekas memahaminya saat ia mengangkat kepala, mencoba melihat perut dan mungkin kakinya. Di ranjang itu ia dalam keadaan telanjang. Telanjang setelang-telanjangnya.

___

Seandainya zebra itu tak berlari saat seekor hyena menghambur ke arahnya, ia mungkin tidak akan terjebak dalam posisi tadi—berada dalam kepungan sekawanan hyena. Bisa jadi, zebra-zebra lain pun masih akan ada di sekitarnya, menghindarkan ia dari merasa sendirian, dan tak berdaya. Tetapi kalaupun itu terjadi, ia agaknya tetap akan mati. Seekor hyena itu sudah berniat membunuhnya saat memutuskan untuk berlari ke arahnya, dan ia diperlengkapi dengan taring dan cakar dan hal-hal lain yang memungkinkannya melumpuhkan zebra tersebut dalam waktu singkat. Si zebra bisa saja mengeluarkan suara-suara dengan maksud meminta hyena tersebut membatalkan niatnya, tapi sudah pasti itu sia-sia. Sia-sia belaka. Kita harus ingat bahwa “bahasa” zebra bisa jadi tidaklah sama dengan “bahasa” hyena. Dan lebih dari itu, keinginan si hyena untuk beroleh makan malam tak akan teratasi hanya oleh permohonan naif semacam itu.

Jadi kau pun membayangkannya seperti ini: zebra itu mati, dan hyena itu mulai mencabik-cabiknya, mengoyak-ngoyak perutnya yang gemuk dan penuh daging. Zebra-zebra lain mungkin berada tak jauh dari sana, tetapi mereka sama sekali tak melakukan apa-apa; paling-paling mereka hanya mengamati dan dalam hati berbelasungkawa dan bersyukur bukan mereka si zebra yang bernasib malang itu. Hyena-hyena lain? Sangat mungkin mereka berdatangan; mereka mencium kematian si zebra dan mereka tak rela daging empuk si zebra habis tanpa mereka beroleh bagian sedikit pun. Pada akhirnya, mendapati sekawanan hyena itu dengan bengis melenyapkan keberadaan si zebra, zebra-zebra lain mungkin pergi juga, menjauh, mencoba menjaga diri mereka tetap aman setidaknya satu-dua hari lagi. Dengan demikian si zebra yang mati itu kembali sendirian. Ia sendirian dan ia mati dan ia lekas tiada—hampir-hampir tak berbekas. Semuanya sama saja. Herbivora malang itu harus mati karena ia tak diperlengkapi hal-hal yang membuatnya bisa bertahan hidup dalam situasi seperti itu. Si hyena, di sisi lain, bisa mengatasi rasa laparnya—dan karenanya ia bertahan hidup lebih lama—karena ia diperlengkapi dengan hal-hal yang membuatnya bisa melakukannya.

___

Seseorang yang tadi menyergapnya itu muncul. Ia telah telanjang; kini Miyuki bisa melihat wajah lelaki itu yang tampan dan barisan giginya yang bersih-rapi. Miyuki tak tahu siapa lelaki itu, juga tak tahu mengapa lelaki itu menyergapnya dan membawanya ke kamar ini (dan mengikatnya dalam posisi hina ini), tetapi ia tahu apa yang akan segera dialaminya, apa yang tak lama lagi akan dilakukan si lelaki terhadapnya. Si lelaki akan menusuk-nusukkan alat kelaminnya yang mengeras ke lubang kemaluannya. Itu pasti. Miyuki mulai membayangkan seberapa sakitnya hal itu. Atau mungkin, lebih tepatnya, seberapa menghinakannya hal itu. Memang ia pernah beberapa kali bersanggama dan belum satu jam yang lalu ia membiarkan jari-jari si pemilik kelab bermain-main di lubang kemaluannya, tapi ia belum pernah diperkosa, dan itu tentu berbeda.

Miyuki tak mengenal lelaki itu. Mulanya ia sempat menduga lelaki itu adalah salah satu pelanggannya yang menaruh dendam padanya namun berapa kali pun ia mencoba mengingat-ingat wajah lelaki itu tetaplah asing. Asing dan benar-benar asing. Maka itu berarti: kau akan disetubuhi oleh seseorang yang sama sekali tak kau kenal, pikirnya. Ia akan menyakitimu, menyakitimu dan menyakitimu, dan kau tak punya sedikit pun peluang untuk menghindar, sambungnya. Dan lebih menyedihkan dari itu, lanjutnya, kau bahkan tak bisa mencoba bunuh diri untuk menyelamatkan dirimu dari penghinaan tak tertanggungkan itu.

Miyuki bisa berteriak, sebenarnya. Lelaki itu entah kenapa tak menutupi mulutnya dengan plester atau yang lainnya. Ia juga tidak dalam pengaruh obat tertentu yang membuatnya kehilangan suaranya. Miyuki bisa berteriak, mengaum, bahkan melolong jika ia mau. Tetapi ia tak melakukannya. Ia tahu lelaki itu tidak bodoh. Ia tahu lelaki itu telah memperhitungkan kemungkinan dirinya berteriak, dan itu berarti satu hal: percuma saja mencobanya.

Lelaki itu menghampirinya, berdiri tepat di samping kirinya. Miyuki kembali bisa melihat wajah lelaki itu yang tampan dan barisan giginya yang bersih-rapi. Di tangan kanannya rupanya tergenggam pisau. Sejenis pisau yang bisa kaugunakan untuk membersihkan perut ikan mati yang akan kau masak dan kau makan. Miyuki tahu betul lelaki itu akan menggunakan pisau tersebut untuk melukainya; menorehkan di tubuhnya beberapa luka yang akan selalu mengingatkannya pada kekejian ini. Miyuki membayangkan pisau tersebut justru tergenggam di tangannya, dan tangannya itu tidak terikat dan bebas bergerak, dan ia menikamkan pisau tersebut kuat-kuat ke dadanya—agak ke kiri, tepat di mana jantung-hidupnya bersemayam.

___

Baiklah kita bayangkan zebra itu masih hidup. Ia belum dikepung sekawanan hyena tadi, bahkan belum bertatapan muka dengan si hyena yang mengejarnya. Yang dilakukannya adalah mengunyah rumput adalah buang air kecil adalah tidur adalah berjalan adalah minum adalah mencoba kawin adalah berak. Ia tak melakukan keburukan apa pun. Ia tak melakukan sesuatu yang tak semestinya dilakukan seekor zebra. Ia bergerak bersama kawanan. Ia tumbuh menjadi sebentuk herbivora dengan wujud yang serupa dengan para anggota kawanan. Ia hewan baik. Ia nyaris tak menyakiti hewan-hewan lain. (Nyaris, sebab beberapa kali ia mungkin pernah menginjak serangga-serangga tanpa sengaja dan ia tak menyadarinya.) Ia menghabiskan bertahun-tahun hidupnya tanpa melakukan kebengisan apa pun, tanpa terlibat dalam kekejian apa pun. Dan begitulah ia mati, seperti yang kausaksikan di layar televisi tadi. Ia mati dan ia dicabik-cabik dan keberadaannya hampir-hampir tak berbekas. Kau merasa kasihan kepadanya. Kau berbelasungkawa, dan kau mendoakan hal-hal baik untuknya, di kehidupannya yang selanjutnya. Seekor zebra adalah seekor zebra semasa ia hidup, dan seekor hyena adalah seekor hyena semasa ia hidup. Kau mengulang-ulang kalimat ini dalam benakmu, dan terus mengulang-ulangnya, dan terus mengulang-ulangnya. Dan tiba-tiba kau merasa, kau bisa membuat sebuah cerita dari apa yang kausaksikan itu.

___

Seseorang itu sudah mulai memasukinya dengan kasar dan Miyuki baik-baik saja dan baik-baik saja. Itu bohong, tentu. Jelas-jelas Miyuki kesakitan, meski ia entah kenapa menahan diri untuk tak berteriak; ia hanya sedikit mengerang dan mendesah nyaris seperti apa yang dilakukannya tadi bersama si pemilik kelab. Ia memejamkan mata, dan sebisa mungkin berusaha membuat bibirnya tertutup. Ia telah mencoba melepaskan diri dengan menarik dan mengibas-ngibaskan kedua tangan dan kakinya, namun terbukti itu sia-sia. Ia merasa kotor; kotor dan sangat kotor. Dan ia mulai membenci dirinya sendiri, seseorang itu, juga apa yang tengah (dan entah sampai kapan) dialaminya ini.

Pada akhirnya Miyuki mencoba pasrah saja dan menganggap rasa sakit yang menyerangnya itu fiktif belaka—begitu juga rasa sakit dari sejumlah luka toreh di perut dan lengan dan pahanya. Ia akan membiarkan seseorang itu melakukan apa yang ingin dilakukannya, sampai ia puas, sampai ia bosan, sampai ia jenuh, sampai ia muak. Miyuki terus memejamkan mata, dan ia mulai membayangkan dirinya berada di kamar apartemennya sendiri, dan waktu dengan cepat mundur ke bulan-bulan lalu, dan berhenti di sebuah malam di mana ia pernah hampir mengakhiri hidupnya sendiri. Tali gantungan sudah siap. Televisi menyala tanpa suara dan surat berisi kata-kata terakhir telah selesai ia buat. Kepada siapa surat itu ia tujukan? Kepada kekasihnya. Lebih tepatnya, mantan kekasihnya. Lelaki itu memutuskan hubungan mereka tepat di hari jadi mereka yang kelima; memutuskan hubungan tersebut dengan sebuah meeru berisi permintaan maaf dan penyesalan betapa selama setahun terakhir ia tak pernah bisa benar-benar mencintainya lagi, sebab ia menyadari ia telah jatuh cinta kepada seseorang yang lain—seorang lelaki. Di hari jadi mereka yang kelima itu, Miyuki ingat, ia mencoba menelepon si lelaki sebelas kali namun tak juga si lelaki mengangkatnya. Tak juga, atau lebih tepatnya, tak bisa. Lelaki itu menggantung diri beberapa lama setelah ia mengirim meeru perpisahan tadi. Miyuki tak pernah menyangka, seseorang yang ia yakini akan selalu bersamanya justru meninggalkannya dengan cara seperti itu.

Sementara rasa sakit dari tusukan seseorang itu terus menyerangnya, Miyuki masih berusaha mempertahankan gambaran tentang malam di mana ia hampir bunuh diri itu. Sial sekali aku. Sial sekali aku batal melakukannya, pikirnya. Tadi ia memang berniat pasrah saja dan berharap setelah semua kebrengsekan ini selesai ia akan berpura-pura melupakannya dan mencoba melanjutkan hidupnya seperti biasa, menjalani hari-harinya seperti biasa. Tapi kini ia ragu; ia ragu ia akan bisa melakukannya, bahkan satu detik saja. Lagipula tak ada jaminan semua kekejian ini akan berlalu. Begitu ia kemudian berpikir. Seseorang itu bisa saja belum akan puas dan itu artinya ia masih harus menghadapi perasaan terhina ini lagi dan lagi. Atau, seseorang itu bisa saja menyakitinya lebih jauh dan ia akan semakin tak sanggup lagi menanggungnya. Bisa juga, seseorang itu membunuhnya, segera.

Miyuki akan memilih yang ketiga. Setidaknya itu akan menghindarkannya dari menderita lebih lama. Tetapi apakah ia dalam situasi bisa memilih? Ia kira tidak. Ia sekarang mulai bertanya-tanya kenapa ia mengalami hal ini, seolah-olah lebih dari dua puluh lima tahun hidup yang dijalaninya begitu penuh dengan perbuatan buruk yang dilakukan olehnya. Ia yakin sekali, selama ini ia hanya melakukan apa yang sewajarnya dilakukannya. Kalaupun benar ia melakukan sesuatu yang buruk, menurutnya itu pastilah tanpa kesengajaan dan bukan sesuatu yang teramat besar, sehingga seberapa pantas ia mengalami kebusukan ini menjadi sebuah pertanyaan tersendiri baginya.

Tetapi percuma. Miyuki tahu betul memikirkan hal tersebut saat ini percuma. Seseorang itu akan terus menusuknya dan menusuknya. Seseorang itu akan terus menyakitinya dan menyakitinya. Dan ia akan di sana, memejamkan mata, menahan bibirnya yang kering itu tertutup. Dan ia akan di sana, merasa dirinya begitu hina, dan tak berdaya.***

—Cianjur, 11-12 April 2017


Ardy Kresna Crenata menulis esai, puisi, cerpen, dan novela. Buku termutakhirnya adalah sebuah kumpulan cerpen: Sesuatu yang Hilang dan Kita Tahu Itu Apa (Beruang, 2019). Novelanya, yang dari segi bentuk cukup problematis, akan terbit dalam waktu dekat.

Puisi

Puisi Rizka Nur Laily Muallifa

Kekasihku Tak Turun Ke Jalan

Apa yang lebih penting dari turun ke jalan

Ialah menakar berahi politik praksis

Diri sendiri

(Sala, 2019)


Mata Laut Kekasihku

Panas menyoroti tubuhmu

Lepas basuhan pertama

di bidak yang semalam kita bayar murah

Derma lelaki paruh baya

Yang sabar menunggu kebosanan

kebosanan diturunkan

dari punggung kota

Manik matamu sembunyi dalam warna laut

Yang semilirnya

Mengasihi

dan menjadi kita

Sampai saatnya angin memberitahu

Siang sudah terang

Di sanggah pulasmu yang penuh seluruh

Aku melamun panjang

Bermuara padamu

Ibu kandung puisi-puisiku

(Sala, 2019)


Luka di Pelipismu Luka di Jari Kananku

Sebelumnya aku tidak tahu

Kalau lalat juga hidup di tepian

Sungai Biru

Tempat di mana kita meredam

amarah

Melakoni hari tunggal

Membuat kita tak punya pilihan

Untuk marah satu

kepada lainnya

Kendati waktu kecil sebelum itu

Kecemasan hadir bersisipan

dengan ketakutan

Kau akan main-main

Bahkan kepada janji yang paling

Lantas pejam kita guguran daun mangga

Tertepis angan

Tapi aku tak tidur

Sebab ada saatnya tidur bukan keputusan menarik

Kupilih ikhtiar membaca laut matamu yang terkubur haru

Di pelipis kananmu

Apatah luka itu

atau kenang-kenangan dari rahim ibu

Kupilih premis kedua

untuk mengantar pulasmu jadi sempurna

(Sala, 2019)


Harga Buah

Jalan menanjak

ke Gunung Kidul

Adalah jalan buah-buahan

Apakah anggur merah tumbuh

di kebun samping rumah?

Di sini pohon salak berbuah

rimbun

(Sala, 2019)


Dua Buah Apel

Kau menguliti apel

Laiknya mengikir cita-cita

Tenang dan penuh pertimbangan

Lepas kulit apel

Kau mengirisnya lebih hati-hati

Pertimbanganmu makin setiti

Ada banyak cita-cita yang mengantar

Pada doa

Sebuah apel yang lain

Ada dalam jangkauanku

Kubiarkan kulitnya tetap lekat

Dan kupotong ia dengan ukuran

Tak rinci

Sebab aku terlalu grogi

Kalau-kalau tak kau sertakan

Dalam heningmu yang khidmat

(Sala, 2019)


Daftar Laki-laki Membosankan

Ada terlalu banyak laki-laki

Yang tidak menarik

Sama sekali

Mereka terlalu banyak bicara uang

Dan igauan-igauan berjangka

Gurauan purba untuk tampak oke

Di hadapan setiap perempuan

Diobralnya omong kosong

Soal apa-apa yang lekat

Pada tubuh perempuan

Sambil melibas enteng pikiran

Dan segenap pendirian

serta ketokohan dirinya

Laki-laki yang begitu biasanya sedikit membaca

Hal itu membuat otaknya mampet

Dan jadi tak berharga sama sekali

(Sala, 2019)


Laki-Laki yang Ingin Menikahi Buku

Kencan kita cuma selingan

Cameo yang kebagian jatah

jarang syuting

Terjadi sesempat waktu

Saat kamu bosan baca buku

dan ingin bercakap-cakap tak perlu

(Sala, 2019)


Dari Solo ke Blora

            : Soesilo Toer

Kita melabur hutan

hijau nun hitam

Panjang, tak habis-habis

dengan puluhan ribu cerita

Membentang semenjak Rusia

Di Tanah Abang, gegas kita menjelang kerumunan

Menyimak Sang Komponis Kecil

Memainkan lagu yang itu lagi itu lagi

Di matanya, ada wajah sang ayah

sebelum gugur di pertempuran

dan dikenang warga kampung

sebagai veteran

Di dekat Lapangan Banteng,

Cerita istirah

di rumah tahanan politik

(Sala, 2019)


Bucin

Aku

Adalah cinta yang menggebu-gebu

(Sala, 2019)


Pohon Api

       :pal

rindu pongah terjatuh di

tanah yang basah oleh gelisah

membiarkan resah berkisah pada tangkai-

tangkai api yang barangkali

ingin abadi

biji-biji api itu lantas berkilatan

mula-mula hangat lantas

tanpa kau tahu bunga di dadamu terbakar

waktu itu aku sedang memagut melati di tamanmu

(Sala, 2017)


Rizka Nur Laily Muallifa. Pembaca tak tahan godaan. Dalam masa-masa riang pasca menerbitkan buku puisi bersama beberapa kawan. Buku puisi itu Menghidupi Kematian (2018). Tulisannya pernah tersiar di Koran Tempo, Kedaulatan Rakyat, Solopos, Koran Madura, Radar Bojonegoro, detik.com, alif.id, basabasi.co, ideide.id, langgar.co, dan beberapa lainnya.