Tarian
Mata
Lorong
kenangan menyibak setumpuk aksara
Menuntaskan
tarian mata di puncak sukma
Sebelum
kau benar-benar tiada dalam penantian
Sebelum
cerita itu senyap ditelan penyesalan
Kali
ini mataku seperti terkoyak sebuah percakapan
Di
taman kecil yang senantiasa menyulam cinta
Setiap
ranting daun patah membuat kita resah
Membuat
detak jantung tak bernafas seperti biasa
Kini
mataku menari-nari di atas kenangan
Sebagaimana
wayang menceritakan sebuah percintaan
Di
antara raja dan ratu berselaksa dalam genggaman datuk
Bersemai
menuntaskan catatan yang tak usai
Gapura,
2019
Tarian
Kembang
Seperti
anak ranting mengecup bibir kembang
Lalu
menari di atas angin berkepak sayang
Menyemerbak
membungkam gelisah di dada
Di
saat segala rindu menggerutu dibalik riuh
Hanya
sekawanan katak senantiasa menjadi musik
Pada
tarian kembang yang tak pernah tumbang
Di
hatimu yang selalu menjungkal senyum
Di
antara resah-gelisah bersemayam di pundak jiwa
Dan
kusuguhkan sejumlah tarian bervariasi
Kepadamu
yang selalu menjadi tempat kebahagiaan
Tempat
menyimpan masa depan yang hampir hilang
Lalu
aku mencintaimu dengan tarian kembang berselendang
Gapura,
2019
Tarian
Kunang-Kunang
Sebutir
cahaya itu membungkam remang
Di
antara pucuk-pucuk bunga
Melukis
wajahmu menari di gentayangan
Mengelana
di mataku hingga terpaku
Adalah
kunang-kunang meringkuk segala resah
Di
samping taman Adipura
Tempat
menapaki jejak cinta usang
Mengubur
kenangan menyatukan masa lalu
Di
sini, aku baru saja menikmati kau menari
Sebagai
kidung rindu yang menyinari diri
Dan
kau tampak gemulai memainkan lentera
Menyulam
segala sesak bermusim di dada
Gapura,
2019
Tarian
kupu-kupu
Dua
kepakan sayapnya menuai pelangi
Membuatku
merambati madu di kelopak bunga
Bersijingkat
di atas mimbar mataku
Adalah
kupu-kupu yang setia menemani sepi
Di
alun-alun taman kau tampak ceria
Melepaskan
bahagia dikuncup sukma
Dengan
aroma kembang yang di kecup bibirmu
Sesudah
kau mencuci diri pada cermin sunyi
Lalu
aku mengambil setetes madu di keningmu
Untuk
menyirami luka yang kian empedu
Agar
semua masa lalu tumbang dalam depakan
Hatimu
yang tersusun rapi dalam jiwaku
Gapura,
2019
Tarian
Sunyi
Dengan
cara sunyi kita bisa menumbangkan resah
Membulat
di dada yang menjadi detak jantung meruah
Tarian
matamu suntuk melepaskan ranting yang patah
Menghapus
luka-luka bermuasal di tubuh masa lalu
Sementara
semerbak bunga menawarkan aroma rahasia
Memintal
sunyi dalam memilah ayat-ayat kerinduan
Di
puncak penantian berdebar membungkus satu kehidupan
Di
antara aku dan dirimu membangun sebuah rumah, hati
Pada
pekat malam bulan membabat cahaya senyum
Sedangkan
aku menikmati sunyi dengan secangkir kopi
Menikmati
hembusan angin yang ramah di pintu jendela
Hingga
tanpa sadar sebuah kecupan kecil menempel di kening
Gapura,
2019
Tarian
Angin
Sesudah
subuh daun mimpi mengecup dingin
Membelah
sisa-sisa peluh di ranjang waktu
Tempat
merebah diri demi menuntaskan kantuk
Tubuh
yang gelisah dalam dekapan asmara
Dan
pada akhirnya setetes embun mulai renta
Melepas
usia di tangan matahari yang ceria
Hanya
angin yang selalu setia mengabarkan rindu
Dari
puncak hatimu yang membeku di tubuhku
Lalu
di mana kau memanen sebiji puisi itu ?
Sementara
ladangmu sudah penuh ditumbuhi ilalang
Dan
bebatuan yang kerap membelit tanah sunyi
Di
antara sebungkus angin yang masih perawan
Gapura,
2019
Tarian
Rindu
Tak
ada yang lebih sunyi
Selain
menyulam rindu
Di
tubuh waktu
Sambil
menunggu kepastian
Dari
lisanmu yang perawan
“Ke mana aku harus melepas rindu”
Atau
mungkin ke dalam hatimu
Yang
sering membuatku gelisah
Untuk
memintal seluruh sunyi
Di
sini, di teras rumahku
Sebuah
pigura terpampang rapi
Lukisan
wajahmu berkelindan di mataku
Menabur
benih rindu
Di
ladang tubuhku yang rapuh
Gapura,
2019
Tarian
Hati
Setiap
detak jantungku yang bisu
Mataku
lembab menabur benih rindu
Sedangkan
hatiku ombak
Memecah
kidung pelayaran
Melempar
sauh meruah
Ke
matamu yang tajam
Sebab
kutahu cara abadi
Adalah
menari dalam diri
Gapura,
2019
Tarian
Jantung
Detak
jantung melepaskan deru
Perisai
luka menuntaskan masa lalu
Bersemayam
dalam tubuhku yang rapuh
Tak
ada yang lebih kencang
Selain
menyulam angin perawan
Dari
hembusan napasmu yang riuh
Pada
lorong masa lalu
Kununtaskan
sejumlah kenangan dalam hati
Agar
semuanya abadi dalam diri
Tanpa
merakasan sakit kembali
Di
pucuk penyesalan
Melintang
di dua daun yang tumbang
Gapura,
2019
Tarian
Lidah
Sering
kulumat kata demi kata
Yang
kau muntahkan ke palung hatiku
“Aku
sangat mencintaimu, Tuan.”bisiknya
Hatiku
ombak melepas mutiara ke lidahmu rekah
Gapura,
2019

Ruhan
Wahyudi. Lahir di Gapura
Tengah Gapura Sumenep
Madura pada 06 Mei Aktif
di Kelas Puisi Bekasi dan Komunitas ASAP Merupakan alumnus MA.
Nasy’atul Muta’allimin Gapura Timur Gapura Sumenep
dan MTs. Al-Huda Gapura Timur, memulai berproses menulis Puisi di bangku MA Nasy’atul
Muta’allimin, dan puisinya pernah mendapat juara 3 di tingkat nasional, juga
sebagai 11 nominasi pemenang lomba cipta puisi 2019 Yayasan Hari Puisi Nasional
Disparbud DKI Jakarta, Puisinya
juga termaktub dalam antologi bersama, Banjarbaru
Festival Literary(2019), Festival sastra internasional Gunung Bintan (Segara
Sakti Rantau Bertuah) (2019), Sua Raya (Malam Puisi Ponorogo; 2019),
Dongeng Nusantara Dalam Puisi (2019) Menenun Rinai Hujan(Sebuku.Net)dan
lainnya, Puisinya juga tersebar
di berbagai media cetak dan online antara lain Radar Banyuwangi, Radar
Cirebon, Radar Madura, ,Radar Pagi, Tembi id. Magelang
Ekspres. Tribun Bali.


0 Komentar