Sebuah
titipan yang hanya darimu itu menjadi hantu di ingatanku. Waktu itu, kedatanganku
ke kota ini di samping bekerja, ialah mencarimu yang mendadak
hilang di pagi Jumat pada bulan
Januari. Pakaianmu tak ada lagi di kamar. Sepatu, jaket, atau apa saja yang berhubungan denganmu, bahkan tak sebiji pesan kau tinggalkan sebagai isyarat yang barangkali
dapat kuterjemahkan meski butuh beratus-ratus malam lamanya.

Kita hanya menguping pada pertengkaran menegangkan
dari kamar ayah dan ibu. Kau sering bolos sekolah. Sementara orangtua kita menginginkanmu
jadi sarjana. Kau terlalu sibuk
main musik dengan anak-anak se-komunitasmu. Kau pun sudah tak pernah lagi jadi
muazin di masjid kampung kita, padahal,
kau tahu, dada ibu selalu berdebar setiap kali mendengar dan merasakan seruan
yang kau kumandangkan dengan syahdu dan tartil itu. Tak jarang
ia berlinang air mata, mengusap pipi dengan tangan penuh tanah, kemudian pura-pura
berkata: mataku sangat gatal, sepertinya
kena serangga
.

Ayah cuma
kuli bangunan. Sesekali jika orang-orang desa ada rezeki ayah akan mendapat ‘uang
terima kasih’ yang diberikan secara suka rela
atas anak-anak yang telah diajari mengaji. Sedang ibu, hari-harinya bergumul
dengan cangkul, tanah, pupuk, pestisida, hama, musim kemarau atau hujan. Ibu
akan menanam kol, bergantian dengan sawi, setelah itu seledri, kadang selada
dan juga cabai. Kalau tomat tidak pernah lagi, kata ibu kelewat rumit mengurusnya. Manja sekali. Harus disayang-sayang
seperti kita waktu bayi. Namun begitu, mereka berdua tetap mengupayakan kita
agar jadi orang sukses.

Aku diterima bekerja di sebuah perusahaan besar
padahal perusahaan itu merupakan mimpi. Mimpi orang-orang agar bisa masuk ke dalamnya. Berawal dari peristiwa
tak sengaja ketika aku masih jadi babu di satu rumah makan mewah. Suatu hari ketika mengemasi biji-biji nasi
dan mengelap ceceran gula di meja nomor tiga puluh tiga, ada jam tangan hitam
memandangi mataku. Kulihat ke arah lelaki yang baru lesap dengan mobil yang sama
warnanya dengan bajuku. Untung lampu merah. Kuketok-ketok mobil itu. Lelaki itu
menurunkan kaca mobilnya. Angka di atas kepala kami masih dua puluh. Kami
bercakap-cakap sebentar. Ia menyodorkan uang bergambar Sukarno. Aku menolaknya.
Ia memaksaku. Aku menolak lagi. Senang berkenalan denganmu, katanya, yang
memberiku alamat kantornya. Aku malah tersanjung hingga tak sadar kalau bunyi klakson
di belakangku sudah marah-marah.

Dua malam berikutnya lelaki itu mengunjungiku. Entah
bagaimana ia tahu tempat tinggalku. Aku menyilakannya duduk. Kami bertanya-jawab
mengenai diri kami. Percakapan kami seru. Aku dan ia sama-sama orang Sumatera,
dan di tiap perbincangan aku menyebut diriku padanya dengan kata ‘saya’, bukan ‘aku’—sebuah kesan bahwa kami baru berkenalan atau bila seseorang kurasa
lumayan berwibawa.

“Buatkan aku kopi, seperti yang sering kamu buat
itu.”

“Saya tak suka kopi, Pak.”

“Ya?”

“Maksud saya, saya tidak menyediakan kopi di dapur.”

Mata kami berada di garis sama. Tetap di garis yang sama untuk beberapa saat lamanya. Aku gugup, ia justru senyum. Senyumannya ganteng dan aku suka melihatnya. Setelah itu ia tertawa keras sekali.

“Sepertinya kamu sudah sangat lama tidak tertawa,”
katanya, “kalau begitu temani aku minum kopi.”

“Saya?”

“Kamu tidak mau?”

“Bu-bukan, bukan begitu.”

“Aku orang baik-baik kok. Ndak penculik kayak di koran-koran,” katanya seolah bicara pada anak kecil, dan
aku menahan senyum agar tak terlampau lebar.

Segera aku ke kamar. Hampir seisi lemari
kukeluarkan. Hitam, kuning, hijau, merah, ungu, putih, bunga-bunga, um, tiba-tiba, aku merasa baju-bajuku
itu jelek semua. Padahal baju-baju itu masih terawat. Modelnya juga tidak
kampungan.

“Tidak usah cantik-cantik, nanti aku naksir,”
katanya, melalui handphone.

Detak jantungku
menjadi aneh. Serasa ada mengamatinya, serasa ada yang
datang perlahan-perlahan. Aku mengepal kedua tangan di bawah dagu. Dingin. Dingin
yang menjalar, maka aku cepat-cepat keluar dan menutup pintu kamar dan menemui
tamuku itu.

“Kamu sudah pernah berkeliling Jakarta?” tanyanya saat mobil
mulai melaju, dan angin sempat menerbangkan rambutku ke lengannya sebelum ia menaikkan
kaca di sebelah pipi kiriku.

Lima jam aku dengannya. Mulai dari minum kopi,
makan makanan enak, diajak ke bioskop, juga, aku dibelikan gaun di gedung yang
sangat mewah, di mana pelayan-pelayan di tokonya sangat ramah. Ada sepuluh baju
kucoba. Tapi aku hanya mengambil dua, itu pun karena dipaksa. Jika tidak, aku cuma
berani membawa pulang satu.

Sesampai di rumah aku mendapat telepon dari
Sumatera, “Sudah empat tahun kau di Jakarta, apa sudah menemukannya?” terdengar
suara serak ibu. Kubayangkan ia layu. Mata cekung, kening keriput, pipi kurus, mungkin
ia hanya akan makan bila dibujuk-bujuk ayah. Pokoknya kau harus bawa pulang abangmu,
kata ibu sembari menyelipkan gambarmu dulu, ketika mengantarkanku ke terminal
beberapa tahun lalu.

Fotomu itu foto SD. Foto SMP belum ada, tapi mungkin
saja ada namun entah di mana kau meletakkannya. Jadi yang ada dalam bayanganku hanyalah
wajah terakhirmu bersamaku: wajah remajamu, walau kini usiamu tiga puluh lima. Tiga
puluh lima yang matang dan tak bisa kutebak seperti apa gaya rambutmu. Apakah
gondrong, botak, mungkin kau berkacamata atau bisa juga kau gemuk atau malah
kurus?

**

Aku terbangun karena kedinginan. Tadinya kupikir hanya
sedang mimpi latihan renang lalu
sempat megap-megap. Ternyata
atap kontrakanku sudah bocor dan aku jadi repot sekali karenanya. Lelaki itu
datang menjemputku. Mungkin sebelumnya berkali-kali ia menelepon. Handphone-ku mati. Baterainya kosong, tak
sempat kuisi sebelum listrik padam total dan perangkat televisiku disambar petir.

“Kamu seperti adikku saja. Sukanya main hujan.”

“Ya?” ujarku, menatapnya, kemudian menatap diriku
yang serba basah.

“Kamu mengingatkanku pada masa kecilku.”

“Apa?”

“Kamu sungguh suka bermain hujan?”

“Bapak meledekku?”

“O-o,
bukan.”

“Lalu?”

Ia diam melihatiku
yang mulai serius. Kupandangi dirinya, seharusnya aku tak bertemu dengannya. Lelaki
seperti dirinya terlalu jauh sempurna untuk orang sepertiku. Ia mapan, rupawan,
baik dan banyak lagi. Pasti banyak perempuan tergila-gila padanya. Bagianku cuma:
mencintai, selamanya hanya boleh dalam hati.

Ia lihat-lihat kontrakanku. Dindingnya, jendelanya,
semuanya. Lalu aku tertawa kuat-kuat
persis ketika ia tertawa kali pertama datang ke rumahku waktu itu. Kau
tahu, ia itu sinting. Masa sudah tahu licin lantai tapi tetap pula mengenakan sepatu sambil
berjingkat-jingkat. Terjatuhlah ia. Kau penasaran bagaimana ia jatuh? Ia tidak
jadi jatuh, sih. Aku dengan gesit menarik kemejanya
hingga terdengar bunyi krek!

**

Empat bulan kemudian selepas kami melewati ciuman-ciuman
kesekian, aku pulang ke kampung halaman. Aku harus mengabarkan berita
bahagia yang telah membuatku tidak bisa tidur dan tak henti untuk berpikir.
Semoga ibu dan ayah menyukainya. Amin.

Kubawa ibu
dan ayah mengunjungi Jakarta, hitung-hitung rekreasi. Ke mall. Makan kentucky, hamburger, pizza, hotdog, ice
cream,
mengajarinya naik eskalator ataupun lift, dan tak lupa membeli
baju-baju bagus. Ini monas, itu ancol, yang sana taman mini, itu istana negara.
Aku mengajak mereka keliling-keliling. Kadang aku bohong soal harga. Jika lima
puluh ribu, kukatakan saja lima ribu agar mereka tidak enggan. Di kesempatan
lain kujelaskan kalau gaji kerjaku lumayan besar. Aku menghambur-hamburkan isi
dompet dan beberapa kali masuk ATM—rasanya
belum pernah aku sekaya itu.

“Sudah kau dapat kabar abangmu?”

“Kita turun dulu, Bu. Aku mau ganti baju,” kataku,
mengalihkan pertanyaan ibu.

“Ini rumahmu?”

“Kontrakanku.”

Bukan seperti sebelum-sebelumnya ketika akan
berjumpa dengan lelaki itu ada saja yang kucemaskan. Jerawat, komedo, alis
berantakan, kulit kasar, bibir tak
segar, kuku yang tak lagi rapi. Tapi hari ini aku tak peduli.
Kebahagiaan ibulah yang utama. Kebahagiaan ayah. Kebahagiaan keluargaku.

Kuingat tahun-tahun pertama menempati kontrakan. Jiwaku
serasa sudah lekat di situ. Belum pernah aku celaka, walau kutahu kota Jakarta
adalah kota yang rawan untuk kita diganggu kejahatan. Kusentuh mawar dan juga
lili. Kusirami mereka. Seekor kumbang terbang jauh sekali. Kutulis surat untuk paman pemilik kontrakan: kuncinya kutitip tetangga.

“Ini rumah siapa lagi? Cantik sekali!” pekik ibu.

“Rumah bosmu?” sambung ayah.

Aku menatap mata ayah dan menelepon
setelahnya. Sepuluh menit dalam kecemasan mobil warna tembaga masuk pekarangan. Aku mengatur diriku, tak boleh terlihat membingungkan di
hadapan orangtua kita. Kugenggam
tangan keduanya. Aku berdiri di
tengah-tengah menyongsong sosok yang hampir tiba. Bang Darus berjalan kaku ke
arah kami. Ia gugup melihatku yang juga gugup.

“Sarah?”

Aku mengangguk. Dadaku penuh, hanya mampu menatap sepasang sepatumu dan
sepatuku—sebab saat itu, dua
hati telah remuk dan tak bisa berbuat apa-apa. Kita
berempat saling merangkul. Ibu senang. Ayah bersinar-sinar wajahya. Sedang pada hari
cerah itu air mataku tak karu-karuan banyaknya, seperti hujan badai yang memporak-porandakan sebuah bangunan. Ingatan, terkadang
memang tak bisa dijinakkan. Sore ini di tengah-tengah ramainya orang pacaran, kupikirkan
lagi embusan napasmu yang pada
suatu malam tepat di hidungku, disusul akan bayangan bila dulu bibirmu itu pernah menitipkan sesuatu di
bibirku. **

Riau, September 2016-2019


Jeli Manalu,  lahir di Padangsidimpuan, 2 oktober 1983. Tinggal di Rengat-Riau. Buku kumcer terbarunya “Kisah Sedih Sepasang Sepatu”.