Kekasihku Tak Turun Ke Jalan
Apa yang lebih penting dari turun ke jalan
Ialah menakar berahi politik praksis
Diri sendiri
(Sala, 2019)
Mata Laut Kekasihku
Panas menyoroti tubuhmu
Lepas basuhan pertama
di bidak yang semalam kita bayar murah
Derma lelaki paruh baya
Yang sabar menunggu kebosanan
kebosanan diturunkan
dari punggung kota
Manik matamu sembunyi dalam warna laut
Yang semilirnya
Mengasihi
dan menjadi kita
Sampai saatnya angin memberitahu
Siang sudah terang
Di sanggah pulasmu yang penuh seluruh
Aku melamun panjang
Bermuara padamu
Ibu kandung puisi-puisiku
(Sala, 2019)
Luka di Pelipismu Luka di Jari Kananku
Sebelumnya aku tidak tahu
Kalau lalat juga hidup di tepian
Sungai Biru
Tempat di mana kita meredam
amarah
Melakoni hari tunggal
Membuat kita tak punya pilihan
Untuk marah satu
kepada lainnya
Kendati waktu kecil sebelum itu
Kecemasan hadir bersisipan
dengan ketakutan
Kau akan main-main
Bahkan kepada janji yang paling
Lantas pejam kita guguran daun mangga
Tertepis angan
Tapi aku tak tidur
Sebab ada saatnya tidur bukan keputusan menarik
Kupilih ikhtiar membaca laut matamu yang terkubur haru
Di pelipis kananmu
Apatah luka itu
atau kenang-kenangan dari rahim ibu
Kupilih premis kedua
untuk mengantar pulasmu jadi sempurna
(Sala, 2019)
Harga Buah
Jalan menanjak
ke Gunung Kidul
Adalah jalan buah-buahan
Apakah anggur merah tumbuh
di kebun samping rumah?
Di sini pohon salak berbuah
rimbun
(Sala, 2019)
Dua Buah Apel
Kau menguliti apel
Laiknya mengikir cita-cita
Tenang dan penuh pertimbangan
Lepas kulit apel
Kau mengirisnya lebih hati-hati
Pertimbanganmu makin setiti
Ada banyak cita-cita yang mengantar
Pada doa
Sebuah apel yang lain
Ada dalam jangkauanku
Kubiarkan kulitnya tetap lekat
Dan kupotong ia dengan ukuran
Tak rinci
Sebab aku terlalu grogi
Kalau-kalau tak kau sertakan
Dalam heningmu yang khidmat
(Sala, 2019)
Daftar Laki-laki Membosankan
Ada terlalu banyak laki-laki
Yang tidak menarik
Sama sekali
Mereka terlalu banyak bicara uang
Dan igauan-igauan berjangka
Gurauan purba untuk tampak oke
Di hadapan setiap perempuan
Diobralnya omong kosong
Soal apa-apa yang lekat
Pada tubuh perempuan
Sambil melibas enteng pikiran
Dan segenap pendirian
serta ketokohan dirinya
Laki-laki yang begitu biasanya sedikit membaca
Hal itu membuat otaknya mampet
Dan jadi tak berharga sama sekali
(Sala, 2019)
Laki-Laki yang Ingin Menikahi Buku
Kencan kita cuma selingan
Cameo yang kebagian jatah
jarang syuting
Terjadi sesempat waktu
Saat kamu bosan baca buku
dan ingin bercakap-cakap tak perlu
(Sala, 2019)
Dari Solo ke Blora
: Soesilo Toer
Kita melabur hutan
hijau nun hitam
Panjang, tak habis-habis
dengan puluhan ribu cerita
Membentang semenjak Rusia
Di Tanah Abang, gegas kita menjelang kerumunan
Menyimak Sang Komponis Kecil
Memainkan lagu yang itu lagi itu lagi
Di matanya, ada wajah sang ayah
sebelum gugur di pertempuran
dan dikenang warga kampung
sebagai veteran
Di dekat Lapangan Banteng,
Cerita istirah
di rumah tahanan politik
(Sala, 2019)
Bucin
Aku
Adalah cinta yang menggebu-gebu
(Sala, 2019)
Pohon Api
:pal
rindu pongah terjatuh di
tanah yang basah oleh gelisah
membiarkan resah berkisah pada tangkai-
tangkai api yang barangkali
ingin abadi
biji-biji api itu lantas berkilatan
mula-mula hangat lantas
tanpa kau tahu bunga di dadamu terbakar
waktu itu aku sedang memagut melati di tamanmu
(Sala, 2017)

Rizka Nur Laily Muallifa. Pembaca tak tahan godaan. Dalam masa-masa riang pasca menerbitkan buku puisi bersama beberapa kawan. Buku puisi itu Menghidupi Kematian (2018). Tulisannya pernah tersiar di Koran Tempo, Kedaulatan Rakyat, Solopos, Koran Madura, Radar Bojonegoro, detik.com, alif.id, basabasi.co, ideide.id, langgar.co, dan beberapa lainnya.
