Katalog

Cerpen

Kupu-Kupu di Kamar Mei

Cerpen Tiqom Tarra

Aku tidak tahu bagaimana kupu-kupu itu muncul dan memenuhi setiap jengkal kamar Mei, kakak perempuanku. Mereka hinggap di lemari, beterbangan di atas ranjang, dan berkerumun di meja rias. Aku pikir ratusan kupu-kupu itu berasal dari taman bunga tak jauh dari rumah kontrakan Mei, tapi aku salah; tak ada taman bunga di sekitar permukiman di mana Mei menyewa sebuah rumah. Kupu-kupu itu tidak berasal dari mana pun, melainkan muncul begitu saja di kamar Mei seolah mereka berkembang biak di sana.

“Kakak memelihara kupu-kupu?” tanyaku saat pertama kali memasuki rumah kontrakan Mei. Sudah empat tahun ini Mei merantau ke ibu kota untuk melanjutkan pendidikan di bangku kuliah sembari bekerja.

Ini pertama kalinya aku mengujungi Mei. Dia selalu menolak ketika aku atau keluargaku yang lain ingin mengunjunginya. Namun, kali ini Mei mengiyakan permohonanku untuk tinggal sementara di kontrakannya sembari menghabiskan waktu libur sekolah.

Ketika kutanya perihal kupu-kupu di kamarnya, Mei tidak menjawab. Dia hanya tersenyum dan mengatakan bahwa mereka semua hanya menemani dirinya.

“Sepi sekali karena jauh dari keluarga,” ucapnya.

Aku bisa mengerti. Hidup jauh dari keluarga demi melanjutkan pendidikan dan membantu ekonomi keluarga tidaklah mudah. Jujur, aku salut padanya; dia membiayai sendiri kuliahnya dengan bekerja, dan sebagai anak tertua Mei selalu mengirim uang untuk membantu keluarga dan adik-adiknya. Apalagi sepeninggalan Ayah ekonomi keluarga kami terus memburuk.

Mei menjadi kebanggaan Ibu. Setiap hari, Ibu bercerita tentang Mei yang kelak akan menjadi seorang sarjana. Kadang, aku cemburu ketika Ibu selalu membangga-bangga Mei secara berlebihan, tapi Mei memang telah melakukan segalanya demi pendidikan dan keluarga.

Setiap pagi jumlah kupu-kupu di kamar Mei terus bertambah hingga aku tidak bisa menghitung saking banyaknya. Ketika Mei keluar kamar, banyak sayap kupu-kupu yang patah menempel di tubuhnya, tapi dia tidak peduli. Mei hanya akan langsung masuk ke kamar mandi untuk membilas semua sayap-sayap itu.

“Pasti pekerjaan Kakak berat, ya?” basa-basi aku bertanya ketika kami menyantap nasi uduk untuk sarapan.

Mei terlihat sangat kelelahan dan aku baru tahu kalau dia pulang bekerja pukul tiga dini hari. Pasti sangat melelah, apalagi paginya Mei harus kuliah.

“Kakak sudah terbiasa. Ini tidak seberat yang kamu pikirkan,” jawabnya.

Ah, kakakku ini memang benar-benar pekerja keras. Diam-diam aku berdoa semoga aku juga bisa sepertinya; menjadi kebanggan Ibu dan keluarga.

“Hari ini aku harus langsung ke tempat kerja. Kamu tidak perlu menungguku pulang.”

Setelahnya Mei pergi dan hingga pukul lima dini hari dia belum juga pulang. Aku tentu khawatir meski berulang kali Mei mengatakan dia memang biasa pulang pagi karena kerja sif malam. Namun, tetap saja aku khawatir. Bagaimanapun, Mei adalah perempuan, dan berada di luar ketika malam sangatlah berbahaya.

Aku beranjak dari kamarku kemudian membuka pintu kamar Mei. Di sana kupu-kupu makin banyak jumlahnya, berebut tempat, berputar-putar di atas ranjang seperti angin puting beliung.

“Dari mana sebenarnya kalian berasal?” gumamku diikuti suara kunci yang diputar. Tak berapa lama Mei muncul dari balik pintu dengan wajah kusut kelelahan.

“Kamu tidak tidur?” tanya Mei sembari melangkah masuk. “Bukankah aku sudah bilang untuk tidak menunggu?”

“Aku bukan tidak tidur, tapi sudah bangun. Ini sudah subuh, Kak.”

Mei tidak menjawab. Dia hanya membuang napas berat sebelum menutup pintu kamar dengan ribuan kupu-kupu di dalamnya. Mei tidak keluar setelahnya. Dia baru keluar ketika hari sudah beranjak senja.

“Selesai makan Kakak ingin kamu ke minimarket depan gang untuk beli beberapa kebutuhan dan jangan pulang sebelum jam sepuluh.” Mei memberiku beberapa lembar uang dan daftar belanjaan.

“Kenapa aku tidak boleh pulang sebelum jam sepuluh?”

Mei tidak menjawab. Dia hanya melanjutkan makan, sedangkan aku diselimuti banyak pertanyaan tentang kakakku ini. Apa yang sedang disembunyikan Mei?

“Besok aku ingin melihat tempat kerja Kakak.” Entah apa yang aku pikirkan ketika mengatakan itu. Namun, aku tahu Mei menyembunyikan sesuatu dariku.

“Untuk apa?” Kali ada nada kesal yang begitu kentara dari suara Mei. Dia mendengus sebelum meletakkan sendoknya ke piring yang menimbulkan suara nyaring. “Bukankah kamu ke sini untuk liburan?”

“Aku hanya ingin tahu tempat kerja Kakak.”

“Tidak perlu. Sekarang pergilah ke minimarket dan jangan kembali sebelum jam sepuluh.”

Setelahnya tidak ada pembahasan lagi; Mei beranjak ke kamar, membanting pintu kamar dan tidak keluar lagi. Dan itu bukan terakhir kalinya Mei bersikap sedemikian rupa ketika aku membahas tentang tempat kerjanya. Mei selalu menghindari pertanyaanku.

***

Aku tahu ada yang disembunyikan Mei dariku. Di malam-malam tertentu dia menyuruhku ke minimarket dan tidak mengizinkanku pulang hingga waktu yang dia tentukan? Aku tidak tahu apa sebenarnya pekerjaan Mei. Dia selalu marah ketika aku memaksa untuk ikut ke tempat kerjanya. Kenapa dia selalu pulang pagi? Dan yang membuatku terus berpikir adalah mengapa kupu-kupu di dalam kamarnya kian banyak seolah akan meledakkan kamar itu? Ada yang aneh antara Mei, pekerjaannya, dan ribuan kupu-kupu di kamarnya.

Sejujurnya, ada satu kesimpulan yang diam-diam aku pikirkan tentang Mei. Namun, memikirkannya saja membuatku sedih. Tidak mungkin Mei melakukannya. Tapi lagi-lagi dia memintaku ke minimarket dan tidak boleh pulang sebelum pukul sepuluh malam.

Demi menyudahi rasa penasaranku, kuhentikan langkah. Aku harus mendapat jawabannya malam ini juga, maka aku berbalik arah. Setengah berlari aku menuju rumah kontrakan Mei. Di sana ada sebuah motor terparkir, padahal ketika aku berangkat ke minimarket tadi belum ada motor itu. Segera aku membuka kunci pintu dan melangkah masuk.

Mungkin harusnya aku tidak perlu kembali ke rumah Mei dan tetap bertahan di minimarket seperti perintahnya. Atau mungkin harusnya aku tidak perlu datang menyusulnya ke perantauan dan tetap di kampung dengan segala kebanggaan tentang kakakku itu. Namun, di sini, tepat di depan kamarnya aku melihat kenyataan tentang Mei.

Ketika kubuka kamar itu, aku melihat ribuan kupu-kupu beterbangan menyesaki kamar Mei. Kupu-kupu itu lahir dari dua tubuh di atas ranjang yang sedang mereguk kenikmatan.***


Tiqom Tarra, lahir dan tinggal di Pekalongan. Cerpen-cerpennya pernah dimuat di Media Indonesia, detik.com, Gogirl, Fajar Makassar, Harian Solopos, Radar Surabaya, dan ideide.id. Buku kumpulan cerpen perdana Anak Kecil yang Memamerkan Bayinya dan Orang Dewasa yang Menyimpan Biji Mentimun di Saku Celana (JWriting Soul, 2018).

Buku, Resensi

Pengenalan dan Penambahan

Oleh Bandung Mawardi

Pekerjaan serius dan besar dibuktikan Anton Kurnia berupa Ensiklopedia Sastra Dunia. Buku berukuran besar dan tebal pantas mendapat pujian. Ikhtiar semakin mengenalkan sastra dunia ke pembaca di Indonesia. Buku itu biru, memberi ajakan berkelana dengan penasaran dan ketakjuban mengenali para pengarang tenar dari pelbagai negara, dari masa ke masa. Ensiklopedia cenderung ke tokoh meski agak memberi uraian mengenai buku dan pemerolehan penghargaan. Keinginan mengenali pengarang tak lekas bermula di sampul buku. Di situ, pembaca tak usah berharap melihat foto para pengarang. Gambar di sampul anggaplah penghiburan, sebelum pembaca terjerat di renungan atau terpana tak berkesudahan.

Buku dipersembahkan ke pembaca di Indonesia yang bernafsu membaca ratusan buku sastra dari pelbagai negara dan memiliki daftar pengarang pujaan. Di Ensiklopedia Sastra Dunia, kita masih mendapat lega bahwa ada nama-nama pengarang asal Indonesia “diakui” termasuk pengarang bertaraf internasional: Pramoedya Ananta Toer dan Eka Kurniawan. Jumlah memang sedikit ketimbang para pengarang asal Jepang, Tiongkok, Amerika Latin, Rusia, Prancis, Jerman, Inggris, Spanyol, Arab, India, Afrika, dan Amerika Serikat. Buku susunan Anton Kurnia itu memang pantas meresmikan dua pengarang Indonesia di tatapan sastra dunia, tak cuma lingkup nasional.

Sekian nama pengarang besar sudah dikenalkan melalui terjemahan-terjemahan, sejak awal abad XX. Dulu, para pengarang di masa 1920-an sudah getol menerjemahkan sastra dunia ke bahasa Indonesia. Pada masa 1950-an, kerja penerjemahan itu semakin menguat untuk menjadikan sastra dunia terbaca atau tebar pengaruh di Indonesia. Pesta sastra terjemahan terasa di masa 1970-an. Buku-buku persembahan para pengarang meraih Nobel Sastra dan Pulitzer Prize berlimpahan dalam edisi terjemahan bahasa Indonesia. Sekian babak menentukan pengenalan pengarang dan buku sastra bertaraf internasional itu tercatat rapi dan dokumentatif dalam buku berjudul Dari Khasanah Sastra Dunia (1985) susunan Jakob Sumardjo. Buku sudah langka, tak ada di daftar pustaka dalam Ensiklopedia Sastra Dunia. Anton Kurnia mungkin pernah membaca tapi sengaja tak memilih jadi referensi.

Pada 1991, pembaca atau peminat sastra Prancis dimanjakan dengan penerbitan Kamus Karya Sastra Perancis susunan M Bouty. Kamus bermutu memuat ulasan buku-buku sastra Prancis dan cuilan-cuilan biografi. Kamus dibaca dengan pengenalan ke buku-buku tercatat penting di sejarah kesusastraan Prancis atau dunia. Buku itu pernah digunakan dalam pengajaran sastra di sekolah dan penuntun bagi penerjemah. Buku juga berwarna biru tapi tak dipilih Anton Kurnia sebagai referensi.  

Kita menemukan para pengarang Prancis mendapat perhatian besar di Ensiklopedia Sastra Dunia. Pembaca berkenalan dengan Albert Camus, Alexander Dumas, Anatole France, Andre Breton, Andre Gide, Andre Malraux, Antoine de Sain-Exupery, Arthur Rimbaud, Emile Zola, Francois Mauriac, Guillaume Apollinaire, Guy de Maupassant, Honore dan Balzac, dan lain-lain. Anton Kurnia memiliki cara kerja dan selera berbeda untuk mengenalkan para pengarang dunia ke pembaca di Indonesia. Ia menjelaskan: “Sebagai sebuah ensiklopedia sederhana dan pengantar menjelajah khazanah sastra dunia, buku ini memuat ikhtisar sejarah sastra dunia sejak ribuan tahun lampau, profil 335 sastrawan terkemuka dari pelbagai penjuru dunia dan zaman.” Bahan-bahan diperoleh dari buku, majalah, koran, situs internet, ensiklopedia digital, dan catatan pribadi.

Pembeli dan pembaca Ensiklopedia Sastra Dunia dijanjikan mendapat pengantar bermutu. Di halaman 38, kita melihat foto dan membaca profil Andre Gide (1869-1951), pengarang asal Prancis. Ia meraih Nobel Sastra 1947. Pembaca di Indonesia sudah bisa membaca gubahan Andre Gide melalui terjemahan Chairil Anwar berjudul Pulanglah Si Anak Hilang (1948). Dulu, sastra dunia lekas terbaca dan memikat para pengarang di Indonesia tak perlu menunggu lama di edisi terjemahan bahasa Indonesia. Novel pertama Andre Gide berjudul La Orte etroite (1909). Novel apik dan sudah difilmkan berjudul La symphonie pastorale (1919). Kita beruntung meski terlambat mendapat edisi terjemahan bahasa Indonesia oleh Apsanto Djokosujatno, dijuduli Simfoni Pastoral (1987) terbitan Djambatan.

Kita pun disuguhi profil peraih Nobel Sastra 2017 bernama Kazuo Ishiguro. Nama sudah dikenali para pembaca di Indonesia meski tak setenar Haruki Murakami. Novel-novel gubahan Kazuo Ishiguro sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia tapi tak selaris terjemahan novel-novel Haruki Murakami. Dua pengarang itu bersaing meraih Nobel Sastra, berbeda resepsi umat pembaca di Indonesia. Anton Kurnia menginformasikan ke pembaca: Kazuo Ishiguro dilahirkan di Nagasaki, 1954. Ia hijrah ke Inggris, tekun menulis cerpen dan novel. Sekian novel telah terbit dan mendapat penghargaan: A Pale View of Hills (1982), An Artist of the Floating World (1986), The Remains of the Day (1989), Unconcoled (1995), dan When We Were Orphans (2000).

Pengarang sudah meraih Booker Prize, Nobel Sastra, dan Pulitzer Pirze memang belum menjamin mendapat pembaca fanatik di Indonesia. Pada masa lalu, ada nama-nama besar meraih Nobel Sastra dan Pulitzer Prize tapi jarang diperbincangkan di kalangan sastra Indonesia. Buku mereka sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Nasib mereka belum untung. “Sial” berlanjut gara-gara tak dikenalkan Anton Kurnia meski cuma uraian singkat.   

Pada 1972, terbit buku berjudul Barabas gubahan Par Lagerkvist, peraih Nobel Sastra 1951. Novel mula-mula terbit di Swedia (1950) itu “dituturkan kembali dalam bahasa Indonesia” oleh B Simorangkir. Pembaca buku berpenampilan sederhana terbitan BPK Gunung Mulia beruntung mendapat secuil biografi pengarang. Par Lagerkvist lahir di Swedia, 1819. Selama hidup, ia pernah tinggal di Denmark, Prancis, dan Italia. Pada 1930, ia menetap di Stockholm, Swedia. Barabas telah diterbitkan di Indonesia tapi tak menjadi sumber perbincangan dan memicu kekaguman. Buku itu berlalu.

Para pembaca sastra dunia pernah pula disuguhi buku berjudul Desa Kita. Buku drama tiga babak gubahan Thorton Wilder itu diterjemahkan oleh Bakdi Soemanto, diterbitkan Sinar Harapan, 1992. Penerjemah memberi keterangan mengenai penulis dan buku. Desa Kita itu terjemahan dari Our Town (1938). Buku menjadi pemenang Hadiah Pulitzer. Pengarang asal Amerika Serikat itu semula menulis novel berjudul The Bridge of San Luis Rey (1928), mendapat pula Hadiah Pulitzer. Buku berjudul Desa Kita sulit laris dan belum menjadikan umat sastra dan teater di Indonesia untuk (semakin) mengenali Thorton Wilder.

Dua pengarang tak mendapat halaman pengenalan atau dimunculkan dengan foto di Ensiklopedia Sastra Dunia. Dua nama itu cuma ada di daftar peraih Nobel Sastra dan Pulitzer Prize. Kita tak usah menggugat Anton Kurnia atas pengabaian dua pengarang besar asal Swedia dan Amerika Serikat. Kita mendingan menuliskan profil mereka di kertas lalu menaruh di sela-sela halaman buku.

Sejak mula, Anton Kurnia sudah menginsafi: “Buku semacam ini tentu juga akan memicu kontroversi—mengapa penulis ini tidak dimasukkan…” Pengerjaan Ensiklpoedia Sastra Dunia memiliki patokan-patokan belum tentu dimufakati para pembaca. Anton Kurnia pun mengingatkan bahwa pemilihan pengarang ditentukan pencapaian dan pengaruh buku-buku dalam peta sastra dunia. Pekerjaan serius dan besar sudah dipersembahkan ke pembaca. Kita mengaku “untung” saja ketimbang sewot tapi malas mencari informasi-informasi tambahan. Begitu.  


Bandung Mawardi, Kuncen Bilik Literasi. Penulis di pengenangpuisi.wordpress.com

Puisi

Puisi Bruno Rey Pantola

Kepada Laut

Angin berembus perlahan

Menelurkan hawa-hawa dingin

Segara merapal seuntai kenangan

Dalam deru ombak nan kejam

Kepadamu laut yang biru

Cintaku kandas pada terjal lekukmu

Lenyap di antara busa putih

Menjelma garam, asin di pinggir pantai

Bersanding dengan leretan bakau

Aku ingin sebuah jumpa

Yang tempo hari dijanjikan petang

Namun tersisa kepala bulan

Yang terbaring di ufuk timur jauh

Tiada sentuhan mesrah di ujung bibir

Kecuali asin yang mengalir dari pelupuk mata

Dan kepadamu laut, aku ingin menyambangi

Nelayan, agar menuntun sampan ke seberang pulau

Namun, kau menjelma jarak-jarak

Seluas rinduku berkelana.

Kepadamu laut, aku ingin

Berlayar ke dalam doa Sang Amoi

Yang terhimpit di dalam ribu-ribu

Gulunganmu.

Yogyakarta, 2019.


Agatha

Agatha memeluk angin

Di suatu malam yang dingin

Menerobos gelap yang meringkuk

Di antara dahan-dahan dadanya.

Dua helai waktu direnggutnya dari hari;

Pagi dan senja, terlahap oleh rindunya,

Meritualkannya sebagai kenangan akan aku

Dan menyulamnya menjadi penantian panjang.

Di hadapan tetua adat

Aku berdiri kokoh mengulum air liur

Menerawang angkasa di dalam dada Agatha

Lalu menikam waktu agar segera pudar.

“Oh, Agatha yang menawan

Hasratku pupus di atas tandus tanah

Terhuyung bagaikan duyung tak berdayung

Pasrah terhadap gelombang. Lenguh. Lalu lusuh

Terkapar di atas tradisi yang berbelit-belit.”

Yogyakarta, 2019.


Telah Lama

Telah lama aku menjadi teratai di atas permukaan kolam

Berteman dengan cipratan-cipratan ombak kecil yang disebabkan oleh angin

Belaian mentari kadang membuatku bertumbuh lebih subur

Sebab, ada metamorfosis di dalam tubuhku yang tak kunjung

Menyelam ke dasar hatimu yang tersimpan rapi dengan endapan lumpur

Di dasar kolam.

Akar-akar ingatanku menjadi ambangan angan yang tak pernah menyentuhmu

Namun, ia mengetuk pintu permukaan kolam sepanjang hari berlalu.

Aku berdoa di atas ombang-ambing hidupku. Tiada lain selain kematian

yang menyamar menjadi parit ikan di sekelilingku.

Telah lama aku di sini.

Menanti malam, menjumpai siang, bercengkerama dengan sawang,

Menerewang langit, mendustai senja, dan membiarkan sekelompok

Serangga menyerang dengan taring-taring mungilnya__mengahuncurkanku perlahan.

Telah lama menyendiri di sini.

Bersama serabut-serabut rambutku yang kadang kuuraikan sebagai

Keyakinan akan sebuah cinta.

Sedangkan kau makin hari menjadi sesuatu yang sukar kutakar.

Yogyakarta, 2019.


Seperti Malam

Seperti malam

Kau hinggap di antara dedaunan

Mengibaskan nafas alam dalam tidurku

Menyimpan mimpi di atas kepalaku lalu menjelma cicak di plafon.

Seperti malam

Berbaring di sampingku dengan sepotong lenan

Yang kau tangkupkan dengan tubuhku dan bantal merah itu,

Membopong igauanku ke luar rumah dan anjing melolong rindu

Seperti malam

Sepi

Sunyi

Lenyap

Lelap

Yogyakarta, 2019.


Menyudahi Rindu

Pagi hari di Timor

Matahari turun di atas kabin pesawat

Kulihat rambutmu bertangkupan dengan sinarnya

Meliuk-liuk elok memenuhi mataku

Di suatu terowongan tak berjejak

Kurasakan hangatmu yang kian terekat

Walau sua masih menanti beberapa menit

Untuk mempertemukan senyum kusut kita

Pesawat mendekat

Rindu menepi sejenak

Detak-detak dada menghitung detik-detik

Memungut segala penat, menyumburkannya ke tepi jendela

Sesudah kutapakkan kaki di tanah Timor

Kau mengumbar-umbar lantunan angin merdu

Ke seluruh kupingku

Lalu mendekap tubuh ini menjadi satu.

Rindu terkulai di tanah

Pandangan menembus dada

Dan tiada yang kosong di sana

Kecuali rindu.

Yogyakarta, 2019.


Di Bawah Tatapan St. Rafael

Ada satu potret masa lalu

Yang kutempelkan di dalam sal kenangan

Juga masih terpampang rapi di tembok kamar

Atau masih dalam memori handphone

Malam-malam datang

Ia bertandang

Menyambangi doaku yang khusyuk

Kepada st. Rafael

Potret itu berwarna coklat

Mungkin tubuh St. Rafael atau alam yang keriput

Atau saat-saat di mana jiwa-jiwa menjemur pakaian

Mungkin pula mendung yang berdusta terhadap matahari

Di suatu waktu

Aku melihatnya benar-benar cokelat

Di bagian-bagiannya terkena tiris hujan

Namun wajah di dalamnya masih segar

Di suatu hening

Kukenang-kenang dalam alunan merdu lagu “feot honi”

Ternya kita pernah mengeratkan jari-jemari

Di bawah tatapan patung St. Rafael.

Yogyakarta, 2019.


Mencintai Dua Perempuan

Cintaku berjumpalitan di atas tubuh-tubuh ayu

Menguntit cara bercinta kakek yang sangat kurang ajar

Bagaikan negara yang otoriter dan menindih

Namun terasa adem di atas kepedihan

Setiap saku celanaku yang berjumlah dua

Terisi duit dan cincin emas

Kusisakan satu untuk Si Jelita

Dan lainnya untuk Si Niny

Cinta memang tak sesenang itu

Kadang mengegerung-gerung mengharapkan kepastian

Kadang mati di ujung bibir dan itu yang kunamakan cinta.

Sebab, mencintai dua orang dalam rongga kegelapan yang dalam.

Terngiang gemelutuk gigi penuh nafsu.

Di ujung jalan menuju pernikahan

Aku mengetuk-ngetuk dinding dadaku

Dan dua orang meregang cintanya di tepi ngarai hatiku yang kelam

Lalu wafat. Meninggalkan keranda dankain kafan bagiku.

Yogyakarta, 2019.


Di Balikpapan

Sebelum kapal berangkat dari pelabuhan

Kulihat namamu terurai di dermaga

Membiarkan ombak mengelus-elusnya

Kadang menjilat-jilatnya hingga ujung-ujung hurufnya sirna.

Aku menjarah kenangan ke dalam kepalaku

Sedangkan di dada, kurebahkan tubuhmu yang hangat

Sehangat usai menidurimu di bangkai perahu

Du ujung pulau.

Di sana, kita pernah menyeduh sembilu menjadi secangkir perpisahan

Lalu menenggaknya bergantian hingga tersisa karang-karang piatu

Berseliweran dihempas angin laut, sepanjang waktu

Dan suatu ketika, kuharap kau menunaikan kangenmu ke dalam sebuah kapal pelni

Yang tak jauh dari tatapanmu dari bibir segara.

Aku ingin kembali

Namun waktu tak pernah menjanjikan pertemuan

Ia hanya melangkah maju walau tertatih

Dan umur kita dipotongnya sedikit demi sedikit.

Yogyakarta, 2019.


Selepas Hujan

Selepas hujan

Aroma tanah

Ringkihan kuda

Jeritan burung

Bekas kaki anjing

Puisi anomali

Eskapisme sastra

Dan tamparan kesunyian

Kau purna.

Yogyakarta, 2019.


Di Kupang

Alam menggigil sendiri

Pantai Oesapa dipenuhi orang-orang

Bir-bir berjejer di atas meja

Kita kedinginan di atas kerikil pantai

Mengurai pasir

Menakar angin dan

Memilin dusta.

Siapa yang ingin ini berlalu?

Dentang lonceng.

Angelus menyatukan kita lalu melerai kita.

Yogyakarta,2019


Bruno Rey Pantola, lahir di Lospalos, Timor Leste, 23 Maret 1997. Buku puisinya “Sendu di Desa”. Beberapa puisinya dimuat di Tribun Bali, Pos Kupang, Apajake, Viktory News, Horison Dipantar dan media lainnya.

Puisi

Puisi Sengat Ibrahim

Sabda Hujan

kalau kamu dalam keadaan sendirian

maka siapkan rindu sebelum hujan

biar bisa bermain-main dengan kesepian yang disempurnakan.

kalau kamu sedang berduaan

maka siapkan payung sebelum hujan

biar bisa bermain-main dengan kehangatan yang direncanakan.

Jogjakarta, 2019


Hujan 1

terima kasih hujan engkau masih tahu jalan menuju bumi

terima kasih bumi engkau masih tabah memilih manusia sebagai isi.

Jogjakarta, 2019


Hujan 2

semua hujan yang turun dari langit selalu sama yaitu air

yang mencoba menghapus semua bekas kenangan di luar pikiran.

Jogjakarta, 2019


Hujan 3

dingin dan angin sedang berdiskusi alot dengan rindu

semoga saja mereka mendiskusikan aku dan kamu.

Jogjakarta, 2019


Doa Menolak Tidur Malam

1

semoga dingin yang menyerang tubuhku

terbuat dari keinginanmu untuk memelukku.

2

semoga dingin yang memelukku semakin

memperpanjang kebutuhanku akan kehadiranmu.

3

semoga dingin yang bercampur dengan kenangan

bersamamu akan menjadikan aku—orang sempurna

yang tetap butuh disempurnakan olehmu.

4

semoga dingin yang membungkus kulitku

tidak sampai mengganggu keberadaanmu di dalam diriku.

5

semoga malammu yang penuh dengan diriku atau malamku

yang selalu berisi dirimu tidak menjadikan kita lupa bahwa

malam yang paling sempurna di dunia adalah malam

yang berisi aku dan kamu.

Jogjakarta, 2019


Doa Sebelum Tidur Malam

dalam mimpi, semoga kita tidak pernah berketemu

sebab aku membutuhkan yang lebih nyata dari itu.

Jogjakarta, 2019


Doa Ketika Diserang Rindu

semoga dalam semua rindu yang datang padaku

selalu ada kamu di dalamnya.

Jogjakarta, 2019


Kangen

kangenku

sudah sampai pada puncak

di mana aku harus membiasakan diri

menjadi kehancuran.

maka kubiarkan

kangen yang menentukan sendiri

memilih kangen ke siapa

semoga saja kangenku menjadi kangenmu.

Jogjakarta, 2019


Tutorial Rindu

satu-satunya cara terbaik menikmati rindu, cuma satu:

menjauhlah hidup sebisa mungkin dariku.

Jogjakarta, 2019


Alangkah Malang Nasibku

sudah lebih dari dua jam

aku dikeroyok segerombolan rindu

hingga seluruh tubuhku babak belur.

aku berterik-teriak minta tolong tapi

tak ada satu pun orang yang mau menolongku.

alangkah malang nasibku.

Jogjakarta, 2019


Sengat Ibrahim, Lahir di Sumenep Madura, 22 Mei 1997. Menulis puisi dan cerita pendek. Bertuhan pada Bahasa, merupakan buku puisi pertamanya. Sekarang menetap di Jogjakarta sekaligus bekerja sebagai Pemangku Adat Literasi & Taman Baca Masyarakat di Lesehan Sastra Kutub.

Cerpen

Ingatan Pohon Pisang

Cerpen Dewi Sukmawati

Setelah berkali-kali aku membaca catatan harian ibu. Masih saja belum kutemukan catatan di mana aku lahir dan siapa yang memberiku nama. Sungguh itu hal yang sulit. Bagaimana aku bisa mengerjakan tugas rumah dari ibu guru? Pada siapa aku harus bertanya? Aku tak punya ibu, aku pula tak punya ayah. Yang kupunya hanya paman galak bertubuh besar dan kekar. Mana mungkin pamanku bisa kuajak berbicara serius? Dia terlalu sibuk dengan kupu-kupunya. Mulai dari kupu-kupu yang cantik, yang langsing, yang mewah, yang kalem, dan yang centil. Kadang aku bertanya dalam diri. Apa ibuku salah satu dari mereka? Buku yang kata pamanku ini warisan ibuku juga tak membantuku sama sekali.

Buku catatan ibuku hanya sibuk membicarakan ritual pohon pisang. Di mana diceritakan buyut, nenek, dan ibuku selalu menanam pohon pisang di usia 17 tahun. Dan setelah pohon pisang berbuah dan beranak, pohon itu mati. Meninggalkan buah dan anaknya pada tuan besar. Tuan besar memakan manis buah pisang dan memindah anak pohon pisang atau menjualnya ke tuan lain. Sungguh ini membingungkan. Bagiku yang masih duduk di bangku SD. Mungkinkah saat aku besar nanti jadi pohon pisang, atau kupu-kupu juga? Entahlah. Aku hanya punya paman di dunia ini. Mungkin aku akan menurut saja padanya.

***

Beberapa hari sebelum Murlin akan menikah, dia melihat calon suaminya jajan di pasar malam dekat taman suram. Karena peristiwa malam itu pula pernikahannya gagal. Dan Murlin memutuskan untuk menjadi jajan di pasar malam dekat taman suram. Di usianya yang masih 17 tahun, bukan hal mudah melakukan itu. Dia pun tak punya ibu atau ayah. Dia hanya memiliki satu pohon pisang yang dulu ditanamnya. Dia merasa hidupnya seperti pohon pisang. Berbuah tanpa ayah. Beranak tanpa ikatan. Dan bertakdir sampai pada keturunan terakhir.

Setiap pulang dari pasar. Murlin selalu bicara dengan pohon pisangnya sebelum masuk ke rumah dan mencatat peristiwanya dalam buku catatan. Pada waktu kemudian, pohon pisangnya berbuah, persis dengan manis dan larisnya Murlin dipesan. Saat pohon pisang beranak dan mati meninggalkan anaknya. Murlin pun demikian, beranak dan mati meninggalkan anak perempuannya. Anak pohon pisang, anak Murlin dan catatan harian Murlin kini dijaga dan dirawat oleh lelaki berbadan besar dan kekar yang beristri juragan kupu-kupu malam yang tak pernah suka pada pisang.

Mungkin anak pisang itu akan beranak pisang saat dewasa. Anak murlin pula akan menjadi ratu malam. Lalu melahirkan dan meninggalkan anaknya kembali pada tuan berkalung emas, berjas, dan berdasi. Sepeti buku panduan yang telah dicacat oleh ibunya di 17 tahun usianya. Ingatan pohon pisang ini memang sudah menjadi garis. Hanya akar pisang yang tahu, kapan garis itu terputus setelah lama berkembang biak di dalam tanah dunia malam.


Dewi Sukmawati lahir di Cilacap, 21 April 2000. Sekarang sedang menempuh pendidikan di IAIN Purwokerto Fakultas Ekomoni dan Bisnis Islam. Aktif di SKSP IAIN Purwokerto dan KSEI IAIN Purwokerto. Beberapa karyanya dimuat Antologi dan Media Massa.

Cerpen

Sebuah Arloji dan Kenangan di Dalamnya

Cerpen Drei Herba

Baru kali ini seorang laki-laki datang dengan permintaan aneh. Bagi tukang reparasi sepertiku, hanya sedikit peristiwa tak masuk akal pernah menyasar. Ingin kutolak andai sorot mata laki-laki dihadapanku itu tak lebih dulu mencegah. Tetapi bagaimana mungkin mengabulkan permintaan musykilnya, memperbaiki arloji sekaligus kenangan di dalamnya?

“Ini pemberian kekasihku.” Tangannya menyodorkan sebuah arloji bulat berwana biru tua dengan strap rubber hitam menyulur sepanjang enam atau tujuh senti. Bukan arloji branded, juga tak terlihat begitu istimewa. Hanya arloji pasaran seharga di bawah seratus ribuan.

“Tolong perbaikilah.” Tatapannya memohon. “Aku akan membayar berapa pun biayanya.” Mataku yang menatap jam tangan segera beralih memandang ke arahnya. Ucapan terakhirnya itu sama sekali tak simetris dengan penampilannya yang tak mengesankan. “Saya memang tidak punya uang saat ini, tapi saya berjanji akan segera membayarnya,” timpalnya setelah membaca caraku memandang.

Aku menggaruk rambutku yang tak benar-benar gatal. Aku memang tukang reparasi arloji, tapi memperbaiki kenangan di dalamnya? Itu bukan keahlianku. Itu soal masa lalu, dan masa lalu selalu tentang waktu. Sementara arloji hanya alat menakar, membaca bentuk waktu yang abstrak.

Ingin sekali aku mengkhutbahinya, namun ucapanku kembali tertahan oleh sorot matanya. Aku kembali pura-pura memeriksa tiap inci arloji itu. Jarumnya masih terlihat normal, sedikit menatih karenq terdorong oleh langkah jarum paling tipis.

Dengan menahan sebisaku, setidaknya, aku dapat merawat harapannya lebih panjang. Lagi pula, ia tak benar-benar ingin memperbaiki arloji ini, ia hanya ingin bercerita. Tapi sorot mata itu, justru membawaku pada ingatan sepuluh tahun silam; ingatan yang tak sepenuhnya terhapus.

Air mataku dengan sendirinya rebah, menyeka kaca arloji yang terlihat mulai kusam ini. Peristiwa itu membawaku kemari. Aku berpikir apakah bentuk sorot mataku saat itu sama dengan sorot mata laki-laki di hadapanku ini?

Hal itu bermula dari kedatangan kabar yang menabrakku. Tak ada gerimis, malam teramat sunyi untuk mengalamatkan pertengkaran. Tapi, tepatkah peristiwa itu disebut pertengkaran? Bukankah itu hanya kepasrahan, malam saat membuka surat darinya, menerima kabar tentang pertunangan Mayda.

Apakah aku marah? Tidak! Tentu saja! Bagaimana caraku marah? Toh, itu hanya sebuah surat. Tidak langsung terucap dalam sebuah pertemuan.

Aku nyaris lupa obsesiku tentang arloji, melihat bagaimana caranya memutar serta mendengar suara tiktoknya memekik. Sepuluh tahun lamanya, sejak kali pertama mereparasi arloji, lalu kemudian sorot laki-laki ini, menggugah kenangan itu kembali.

Kala itu aku penasaran sekalipun jarum yang terus berjalan tapi akan selalu membawa kembali ke tempat asal. Tapi, jarum yang sama tak dapat mengembalikan kenangan ke tempat ia berawal. Jarum itu saja yang berjalan sirkular, melingkar. Tidak dengan kehidupan yang kujalani, perjalanan linear tanpa ujung pangkal.

Aku terlalu sibuk dengan kenanganku, sampai lupa bahwa laki-laki di depanku ini, masih terus menanti dengan gelisah. Masih terselip harapan dari tanganku yang pura-pura serius memeriksa arlojinya, “Kawan, arlojimu bisa kuperbaiki, tapi sulit rasanya bila sekaligus membenahi kenangan di dalamnya?”

“Tidak bisakah memutar balik arah jarumnya?” nadanya terdengarseparau harapannya yang kini mulai mengikis, “bukankah dengan begitu akan membawaku kembali ke masa lalu?”

Dulu aku juga pernah berkeinginan seperti itu. Aku ingin bilang itu mustahil, tapi sorot matanya kembali menahan bibirku. Aku masih ingin merawat harapannya. Hanya itu yang dimiliki, satu-satunya alasan tetap melanjutkan hidup. Lalu, aku harus mengutara dusta seperti apa lagi?

Kini bibirnya terbata-bata bercerita peristiwa pada sebuah malam. Dingin kemarau telah membawa birahinya. Di ranjang yang tinggal kerinduan, ia luapkan bertubi-tubi ciuman. Bibirnya, ibarat kapal yang kini mendarat ke dermaga bibir kekasihnya. Temaram lampu dan sprei menjadi saksi sepasang tubuh itu saling merengkuh. Bersahutan. Membuncah. Mendesah.

Air matanya patah, tertarik gravitasi, rembas perlahan ke pipinya. Malam itu, perjumpaan terakhir, bahkan dalam sebuah perpisahan yang tak pernah tuntas terucap.

“Kekasihmu mati? Benar bukan? Kecelakaan?” sergahku.

“Tidak! Tapi,” katanya lagi, “toh tak ada bedanya. Aku tetap sama-sama kehilangan.”

“Maksudnya?”

Ia lanjutkan ceritanya, kekasihnya akan pindah kerja, dan keesokan harinya ia mengantar. Sementara, ia masih juga tak lulus-lulus kuliah, dan hanya bisa menghadiahi kekasihnya itu dengan potongan puisi. Tapi potongan kata itu tak lagi bisamenahan. Sebulan berikutnya, kabar tak mengenakkan dan yang tak disangka-sangka itu mengiang.

Setelah menggoret kenangan, dan kemudian kenangan itu mengakar pada dirinya. Kekasihnya justru pergi meninggalkan, lalu bertunangan dengan rekan kerja barunya. Laki-laki yang baru semingguan ia jumpai.

Lalu terdiam ia, suasana menjadi begitu sunyi, menyayat. Aku juga diam.

Seumpama belati, cerita itu kini juga mengiris kenanganku, mencacahnya perlahan, kembali merobek luka itu.

Surat malam itu juga tak pernah kusangka-sangka. Itu kira-kira terjadi sebulanan setelah kekasihku memutuskan pulang ke rumahnya. Sebelumnya, ia jatuh ke dalam pundakku. Air matanya rebah, “Ayahku bilang, kerjaku di sini tak menghasilkan apa-apa. Bukankah keberhasilan tak selamanya harus ditakar dengan materi?”

“Lalu bagaimana? Biaya hidup di kota memang mahal, sulit bila hanya ditambal hanya dengan mengajar”

“Kata ayah dengan aku kembali, mungkin akan jauh lebih menghasilkan.” Ia masih ingat percakapan itu, sebelum sebulan kemudian, menerima surat yang sama. Aih, betapa kini kenangan itu kembali datang menyiksaku.

Aku tatap kembali laki-laki di hadapanku, ia masih tetap menunggu, padahal aku hanya pura-pura memperbaiki arlojinya.

“Apakah kamu yakin dengan cara kembali ke masa lalu akan menyudahi segalanya?” aku coba meyakinkan, namun matanya segera menatapku.Lekat.

Ia tak menjawab. Aku yakin pikirannya kini sekacau pikiranku saat itu, “aku hanya tak ingin memulai apa yang tak bisa aku akhiri”

“Lantas?”

“Aku hanya ingin mengakhiri sebelum memulainya, sebelum ia menjadi peristiwa, sebelum ia menjelma kenangan yang menyika” katanya lagi, “anda bisa memperbaiki arloji saya kan? Saya tidak tahu mengapa itu bisa rusak padahal saya belum pernah memakainya.”

“Bagaimana mungkin anda tak pernah memakai pemberian kekasih anda? Apa anda tak menyukai pemberian itu? Lalu untuk apa membawanya kemari?”

“Ah, tidak.” Elaknya, “Justru dengan cara itu saya menjaganya. Saya tidak ingin kalau nantinya arloji ini akan lecet. Lagi pula, coba bayangkan, apakah arloji ini cocok untuk orang seperti saya ini?” senyumnya menyeringai. Itu senyum pertama yang kudapat dari laki-laki ini.

“Sebetulnya, arloji anda tidak rusak, hanya perlu mengganti dengan batrei” aku mulai lebih terbuka, “hanya saja, sulit rasanya dengan permintaan terakhir anda”

“Bukankah anda sudah bertahun-tahun bergelut dengan arloji? Apakah anda tak benar-benar punya cara? Tolong, jangan sembunyikan keahlian itu dari saya!”

Lagi-lagi, ucapan laki-laki itu kembali mengantar kenanganku. Aku tak pernah menyukai arloji, dan bekerja seperti ini juga bukan cita-citaku. Tapi kekasihku, membuat itu lain, membuatku ingin merawat waktu. Arloji yang pernah ia berikan memang tak pernah kupakai, tapi itu karena aku tak ingin menghitung waktu kebersamaan dengannya.

Namun, setelah menerima surat malam itu, setelah kepergian Mayda justru membuatku ingin mengembalikan waktu yang dulu pernah kurawat. Aku ingin menghapusnya.

Aku terhenyak tiba-tiba, sebuah kesadaran mendesak kepalaku. Aku menatapnya, ia balik menatapku. Kami saling bersitatap. Lekat.

“Bagaimana kamu berpisah dengan kekasihmu?” tanyaku sambil tetap memeriksa arloji yang sedari tadi telah berhasil memotret semua kenanganku.

“Dua hari lalu, kekasihku mengirimi surat” Ia kembali bercerita, “tepat sebulan setelah perpisahan itu, kekasihku memutuskan tunangan dengan rekan barunya. Dapat kumaklumi, aku memang tak kunjung lulus kuliah” sorot mata itu kembali layu, perih.

Aku terperangah, mataku terbelalak. Cerita laki-laki itu terlalu sempurna untuk sebuah kebetulan dengan kisahku.

“Apakah kekasihmu bernama Mayda?” tanyaku.

Ia diam dan tak segera menjawab. Segera kuburu sorot mata itu, aku ingin memastikan, menatapnya lebih tajam lagi. Namun,tak kudapatiapa pun dihadapanku. Hanya cermin. Sebuah cermin memantulkan seogok wajah dengan sorot mata begitumuram. Kemudian, seorang dalam cermin itu menuding ke arahku, “Bisakah memperbaiki arloji sekaligus kenangan di dalamnya?”


Drei Herba T. Tinggal di Jogja. Menulis esai, cerpen dan puisi.

Buku, Resensi

Narasi Futuristik Kepala

Oleh Setyaningsih

Ada suatu anekdot ihwal kepala yang beredar di masa sekolah. Guru selalu mengatakan untuk melepaskan kepala di rumah atau tidak usah membawa kepala ke sekolah setiap kali murid terlihat lungkrah melenakan kepala di meja. Melepaskan kepala di sini benar-benar lebih dekat ke arti harfiah, bukan secara metaforis mewakili tindakan untuk tidak menggunakan isi kepala (otak) atau berpikir. Namun, begitu membaca novel eksperimental Cara Berbahagia Tanpa Kepala (2019) garapan Triskaidekaman, melepas kepala yang sungguh-sungguh memisahkan kepala dari badan memang menjadi peristiwa yang sangat realis.

Kepala adalah penanda eksistensial. Secara birokratis, kepala mengingatkan pada jabatan-jabatan penting, seperti kepala pusat, kepala negara, kepala sekolah, kepala desa, kepala keluarga, dan kepala-kepala lain yang berada di tempat tertinggi untuk membawahi setiap (anggota) badan. Kerja (berpikir) yang dilakukan kepala pun sering lebih dihargai daripada kerja (bertenaga) dari badan. Bisa dikatakan segala ritual komersial sampai spiritual, paling bisa dialami kepala. Triskaidekaman menulis, “Kepala adalah sumber segala mudarat dan ide keparat. Rumah segala kisah Ayah pengecut bertempat, segala uang di mata dan pukas Ibu, dan kitaran orang yang cuma berpura-pura sayang. Sedangkan badan cuma bisa menurut. Kepala paling rajin terpelihara—sebut saja sampo, calir muka, maskara, hingga celak, dan gincu merona. Badan belum tentu. Kepada beda di setiap orang—terima kasih Muka—hingga setiap baru berkenalan, selalu kepala yang dilihat duluan” (hal. 5).

Triskaidekaman tidak secara gamblang menyebutkan penahunan peristiwa meski cerita jelas terjadi di Jakarta sebagai kota percaturan sengit hidup para kepala. Dalam narasi futuristik ini, teknologi tidak lagi hadir untuk membantu, manusia sendiri sudah menjadi tubuh mekanis yang bekerja selayaknya komputer. Anggaplah pembayangan futuristik bukan hal mengagetkan, semacam layanan ketubuhan; pijat, perawatan wajah, sulam alis, atau perbaikan ukuran kelamin, tentu dengan upaya lebih canggih. Tokoh utama lelaki, Sempati, mengikuti program “Bebaskan Kepalamu” yang menjanjikan keringanan beban hidup khas urban. Sempati tidak perlu khawatir mati atau kehilangan kemampuan mengindra dan keraiban segala kenangan. Segala hal sudah dicadangkan sebuah kandar kilas alias flashdisk. Selain itu ada pencadangan fungsi otak di dengkul dan selangkangan, sepertinya inilah cara Triskaidekaman mendestruksi kehormatan kepala.

Tragisme Urban

Sejak awal, Sempati memang sudah merasakan ketidakkesinkronan kepala dan badan. Harapan hidup sejahtera juga pupus; kendaraan, karir, kemapanan finansial, kekasih, dan keutuhan keluarga yang paling mustahil dicapai. Sejak kepala dipisahkan, kepala lebih berotoritas menenggak kebebasan, “Kini, kepala itu bebas memuaskan segala keinginan yang tak pernah direstui badan sewaktu mereka bersama dulu. Kedai tenda. Makan seporsi sate dua belas tusuk. Minum teh manis yang cokelat pekat. Berkeliling taman kota. Menonton tingkah polah manusia. Mencerap pergerakan peradaban menjelang padamnya lampu jalan. Mampir dan mengintip ke dalam rumah binal, mencari sepotong adegan yang banal sampai yang seksual. Semakin menjadilah kebencian kepala Sempati kepada badannya. […] Setelah sekian lama, kini saatnya: kepala Sempati membentuk otonomi sendiri, merdeka dari badan yang memenjarakan” (hal. 55).

Tentu, Triskaidekaman membawa Sempati pada konflik paling gawat: kecurian kepala. Kepala Sempati benar-benar hilang dicuri, padahal kepala harus tetap dimiliki agar tidak mati. Sekali lagi, kepala tetaplah penanda eksistensial manusia, “Kaki dan tangan tak berwajah, takkan pernah menandingi kepala. Beberapa kaki dan beberapa tangan berajah-bertahilalat-bertanda lahir, tetapi begitu bercerai dari tuannya, yang diingat tetaplah wajah dan hanya wajah. Tuan adalah wajah dan wajah adalah tuan.” Dalam perjalanan badan dan kepala saling mencari, terungkap masa lalu traumatis Sempati sebagai anak. Dia harus menghadapi kenyataan dilahirkan dalam keluarga yang berantakan, dihantam masa lalu asmara ibunya yang rumit, pertengkaran orangtua, pengkhianatan, kecacatan dan balas dendam, keterabaian. Kepala yang terlepas justru mengungkap segala yang tidak membahagiakan khas urban.

Di sini hadir Semanggi, bapak tapi bukan bapak biologis yang karena tidak memiliki kedigdayaan ekonomi membesarkan anak, memilih menjadi jam tangan. “Saya akan menjadi sebuah jam tangan. Penunjuk waktu yang mengingatkannya untuk hidup teratur. Pengingat bahwa waktunya terbatas. Pengingat bahwa dia akan tumbuh besar, akan menyakitkan banyak hal” (hal. 194). Waktu adalah hal yang bernas sekaligus menakutkan bagi manusia. Terutama dalam persepsi modern, waktu menentukan capaian hidup sebagai manusia sukses, menantang tapi tidak tertaklukkan.

Narasi futuristik kepala Triskaidekaman tentu harus mengadopsi diksi-diksi teknologi perkomputeran. Sekalipun diksi perkomputeran lumrah hadir dalam bahasa Inggris, Triskaidekaman tetap mengupayakan menggunakan bahasa Indonesia yang baik untuk mengganti sebagian diksi-diksi teknologi ataupun narasi tutur novel. Pembaca akan sering menemukan diksi-diksi yang barangkali masing sangat asing, tapi sebenarnya telah terdaftar di kamus resmi bahasa Indonesia.

Pemilihan tema yang eksperimental-futuristik dengan pengemasan tragisme lewat strategi bahasa dan pilihan diksi memang menonjol sebagai cara bertutur Triskaidekaman. Cara ini sekaligus mengakali kisah tragisme manusia urban yang bisa kita rasa sangat lumrah berkisar di prosa mutakhir Indonesia. Strategi bertutur Cara Berbahagia Tanpa Kepala berkemungkinan mengemas yang lumrah, demi berhasil menegangkan dan menolak membosankan.


Setyaningsih, Esais. Pembaca Buku. Penulis cerita “Peri Buah-buahan Bekerja” (Kacamata Onde, 2018) Email : [email protected]

Puisi

Puisi Patricia Pawestri

ada hal-hal teraba

pada buah dada yang dibedah

ada ibu di sana

ada ranum alpukat

pada hamparan putih lembut itu

ada kekasih

ada hangat selimut rajut

pada kemesraan kelam itu

ada anak-anak

merumput surga

2019


ranum fajar

jalan lengang sejuk pagi

hamparan hijau padi berbulir

kuntum-kuntum ladang jagung

kolam tenang ikan berenang

bisik gemericik sungai

awan lembut perlahan beriring

2019


anak kecil berlari

ia menuju pepohonan pada jalan menurun

menangkap suara burung dan gemulai angin di antara daun

ia menahan bayang awan pada matanya

kaki kecil lembut membelai rumput

bintik peluh sedikit sembunyi

kulit berkilau sematan embun

2019


ia berkata, indah sekali

di tepi pematang ia berhenti

ia tangkapi kepak sayap bangau kecil

yang naik turun dari dahan mati

kepada kolam bibit padi

2019


uri-uri

sehelai selendang

menari bersama gemulai angin

keris-keris kecil yang manis

sehelai lagi dihentakkan

kembang-kembang air yang terusir

seperti tertawa suaranya

selusin batik menghiasi halaman

tersampir pada tali menggeletar

2019


melepas turun

benang-benang sari mendengar hujan

mendengar geledek hujan

benang-benang sari bunga rumput

tertimpa tetes-tetes hujan

benang-benang sari bunga rumput

tertunduk-tunduk terbawa berat tetes-tetes hujan

benang-benang sari basah sekujur tubuh

2019


mencium fajar

pada jaring waktu pagi hari

aku tak pernah melihat keluar

tapi kubayangkan, ada yang menjalin

segar dan ramai di udara:

hembus udara embun dan kicau burung

dan percik keemasan di tengah suram langit.

2019


mengetuk hati

cinta adalah diskusi hujan

bagi perempuan muda, bagaimana membedakan

keinginan berbagi dari memiliki, dan keduanya berasal dari surga

cinta adalah diskusi kemarau

di mana rasa dahaga tak menemukan secangkir minuman

hingga ia mengerti di dalam dirinya sendiri sumur tertutup sebenarnya penuh

cinta adalah diskusi musim semi

setiap pagi tunas baru menemui cahaya matari

dan dengan tunas cinta lainnya ia berlomba tumbuh semakin tinggi

cinta adalah diskusi musim dingin

di mana setiap yang beku adalah pintu rumah yang perlu diketuk

senyum dan pelukan hangat, meski seribu kali ditolak, tetap jadi anak kunci

2019


kita belum merdeka ketika membaca berita

ini memang bukan 17 agustus

hari di mana kita mengkaji bendera di puncak

kita belum merdeka

selama masih ada pengemis di tangga pusat perbelanjaan

dan anak-anak yang berangkat pagi dengan sepatu menganga

kita belum merdeka

ketika ada buruh pabrik yang disembunyikan di loteng ketika audit tenaga kerja

kita belum merdeka

ketika buku-buku dirampas oleh tentara

kita belum merdeka

ketika pemerkosa diijinkan melengang di kampus

kita juga belum merdeka

ketika jumlah pupuk dan pestisida yang dibeli petani dibandrol naik

dan pedagang sayur memilih membeli barang dari tengkulak daripada petani

kita belum merdeka. ke mana perempuan-perempuan Kendeng itu? aku belum selesai membaca berita, apa mereka masih harus merendam kaki mereka di dalam semen hari ini?

2019


Patricia Pawestri, lahir dan tinggal di Yogyakarta. Cerpennya pernah dimuat di Nalar Politik. Karya tunggalnya Metafora Goodnick Griffin.

Cerpen

Tentang Nurli, Jitu dan Ulira

Cerpen Jeli Manalu

Sesaat setelah bangun, Ulira mencari pensil dan kertas kosong yang lepas dari pelukannya waktu tidur. Ia lalu berpejam sebagaimana sering diajarkan Nurli: bila kau merindukan seseorang, tutup matamu dan pikirkanlah ia. Maka, hal menelusuk ke pikiran Ulira kali ini: perempuan berambut pendek dengan poni diacak-acak angin muncul dari balik gedung tinggi. Pakai rok kotak-kotak setengah betis—koyak di bagian tengah sampai lewat lutut. Gincunya merah sekali, basah seperti habis makan bihun goreng yang kebanyakan minyak. Pedagang gulali lewat dari samping. Gadis kecil menarik-narik tangan perempuan bersamanya. Itu membuat lidahmu sakit, kata si perempuan. Aku ingin lidahku merah: gadis kecil kemudian senang memegangi awan merah muda diberi tangkai sekaligus takjub pada awan yang ternyata dapat juga dijilat. Namun, walau sudah berkali-kali mencoba memejamkan mata, di kamar berdinding ungu itu Ulira tetap tak tahu seperti apa sorot mata perempuan berambut pendek dalam pikirannya.

Ulira tentu paham akan sorot mata. Mata Nurli bulat melotot saat Ulira memain-mainkan bawang dalam busa deterjen. Mata Nurli tertutup lebih dari separuh saat matahari di langit terlalu silau. Mata Nurli hidup saat Ulira sudah pandai merapikan piring sendiri kemudian menyabun hingga meletakkannya di rak. Mata Nurli cemas saat suatu pagi Ulira batuk pilek dan tak mau sarapan.

Lalu, seperti apa sorot mata perempuan berambut pendek yang datang ke pikiran Ulira agar segera mewujud dalam kertas kosong di depannya? Apakah seperti telur mata sapi setengah matang yang diletakkan kurang hati-hati di atas bihun goreng sehingga bagian kuningnya retak, apa seperti bola lampu warna merah berkedip pelan lalu tak pernah menyala lagi, atau, perempuan itu kemungkinan sebangsa serangga yang terkadang matanya tidak tahu entah di mana jadi tak perlu dibuatkan sepasang mata pada gambar itu?

Ulira tidak menangis meski perasaannya bingung sekali. Anak hebat tak ada menangis, nasihat Nurli selalu. Ulira menurut. Ulira patuh pada setiap perkataan Nurli. Hanya saja, Sabtu malam kemarin, Ulira pergi ke gereja bersama Nurli. Baru sebentar duduk bersama, Ulira meminta izin agar dibolehkan duduk dekat temannya yang bernama Sere di barisan bangku kanan paling belakang.

Setiap ke gereja agar Sere tidak rewel, orangtua Sere selalu membawa sekresek camilan. Coklat, permen, wafer. Orangtua Sere membagi-bagi cemilan satu per orang untuk anak-anak di sekitarnya termasuk pula Ulira sambil bilang makannya jangan berisik, ya? Gadis-gadis kecil itu mengangguk. Tak lama setelahnya, Sere mencakar wajah Ulira. Bekas kuku Sere tampak di tulang hidung Ulira dan sebagian nyaris mengenai matanya. Dari bekas cakar itu darah keluar sedikit, dan saat itulah Ulira membekap mulutnya dengan renda-renda baju. Air matanya berjatuhan cepat sekali. Suaranya tertahan-tahan di kerongkongan karena Nurli bilang anak hebat tak penangis. Tapi air mata Ulira kian deras menyaksikan Sere menyembunyi di ketiak orangtua Sere sambil mengejeknya dengan kata-kata, “Ini mama-ku. Mama-ku. Sana kau sama mama kau.”

Sere mencakar wajah Ulira karena cemburu. Sere tak suka melihat Ulira ikut disayang orangtua Sere. Waktu itu Ulira duduk di paha orangtua Sere, sedangkan Sere disuruh orangtuanya memungut makanan di lantai sesaat terlepas dari mulut. Lalu karena sudah diusir, Ulira pergi meninggalkan Sere.

Mata Ulira belum kering saat kembali duduk di sisi Nurli. Sambil memegang rok hitam Nurli, Ulira bertanya, “Mama itu apa, Nek?”

Melihat orang di sebelah menoleh ke arah mereka, Nurli cepat-cepat mencangklong tas, membawa Ulira ke mulut pintu padahal ibadah belum selesai—orang-orang masih memejamkan mata dan merunutkan segala permohonan, termasuk memikirkan orang yang barangkali sedang sangat mereka rindukan.

“Nek, mama itu apa?” tanya Ulira sekali lagi. Nurli tak menjawab. Nurli memegang kuat-kuat tangan Ulira sambil menuruni anak tangga, berjalan ke halte, memandangi sebentar lukisan perempuan di bagian bak belakang sebuah truk, lalu masuk ke angkot warna biru pudar yang berhenti tepat di depannya.

Esok harinya, foto perempuan berambut pendek memangku bayi berbandana putih yang kerap dipandangi Ulira tak ada lagi di dinding kamar. Ia dimasukkan Nurli ke kresek bekas kemudian dilemparkan. Tukang sampah menemukannya lalu melepas piguranya, sedangkan foto si perempuan yang tampak sensual dipisahkan dari foto si bayi mengunakan gunting, kemudian menempelkannya di dinding kamar sebagai upaya mengatasi kesepian.

Perempuan berambut pendek yang orang-orang memanggilnya Jitu, awalnya jatuh cinta ke lelaki berambut rasta dengan kulit serupa bubuk kopi, lelaki yang hanya muncul tiga bulan sekali dan singgah beberapa hari saja sampai kapal kembali berlayar. “Jangan pernah tertarik dengan lelaki itu,” pesan Nurli suatu hari. “Kau tahu, orang-orang macam mereka cuma mau enaknya saja. Kau mungkin terlena dengan ciumannya. Setelah ‘barang’ kau ia dapat, kau tak akan menemukannya lagi di belahan bumi mana pun.”

Karena tak kunjung bisa dinasihati, melalui paroki (1), Nurli mengirim Jitu ke biara. Jitu hanya enam bulan bertahan. Ia kabur ketika diminta menemani kepala koki berbelanja ke pasar, di mana waktu itu dirinya satu-satunya perempuan yang bisa menyetir sedangkan sopir yang biasa bekerja di sana mengambil cuti. Jitu bahkan membawa mobil hingga berpuluh-puluh kilo meter jauhnya.

Oleh polisi, mobil ditemukan di tepi hutan basah yang sepi—kemungkinan Jitu menumpang bus lewat karena saat ditemukan kunci mobil dalam posisi hidup meski mesin mobil mati akibat kehabisan bahan bakar. Hingga suatu sore yang udaranya begitu pengap, seseorang mengaku melihat Jitu di dermaga. Nurli membantah. Nurli sikukuh menyebut Jitu sudah lama pergi sebagai perempuan baik-baik.

Bila kau tak percaya, ayo kutunjukkan, kata seseorang itu. Nurli terkaget-kaget. Nurli tak percaya melihat Jitu saling tukar rokok dengan lelaki yang bukan berambut rasta serta berkulit bubuk kopi, melainkan kali ini bersama lelaki botak licin. Hidungnya bangir. Matanya cenderung putih. Nurli ingin muntah menyaksikan Jitu menggigit rahang si lelaki. “Ia tidak akan pernah jadi perempuan baik-baik. Buah apa yang jatuhnya jauh dari si pohon?” bisik seseorang itu ke telinga Nurli dengan nada yang sangat tenang, ditambah tatapan menelanjangi tentang siapa diri Nurli di masa lalu.

Nurli merupakan kekasih dari seorang padri bernama: Pet-Peet-Pet-trus? Seseorang itu sangat bernafsu mengatakannya. “Dan kau biarawati suci tak bernoda? Lalu saking cintamu padanya, kau rela menanggung sendiri, keluar dari biara dengan alasan klise padahal di dalam perutmu hidup seekor kecebong, dan Pet-Peet-Pet-rus bebas melenggang, melanjutkan pendidikannya ke Roma atas ilmu agama yang membuatnya gila itu. Hapus air matamu. Hapus karena tak lama lagi mungkin kau akan jadi nenek. Kau akan punya cucu—hihihi,” ejek seseorang itu dengan nada merasa puas, karena sewaktu muda dulu, kecantikan Nurli selalu jadi momok tiap kali ia menyukai lelaki. 

Tak lama setelahnya terjadilah kata-kata itu. Perut Jitu membesar. Jitu hamil entah dari benih siapa, karena saat ditanya Jitu mengaku tidak tahu. Jitu tentu telah tidur dengan banyak lelaki di penginapan-penginapan sekitar dermaga. Sebulan sesudah Jitu melahirkan, Jitu sempat menjadi perempuan baik-baik. Ia bekerja selama satu setengah tahun. Berhenti saat mulai merasa bosan. Orang-orang mengabarkan ia menaiki kapal besar yang berlayar dari negara satu ke negara lainnya. Maka sejak itu, sampai Ulira berusia lima tahun, tak pernah lagi ada kabar tentang perempuan berambut pendek dengan bibir merah basah yang terkesan seperti habis makan bihun goreng di mana saat menumis bawang minyaknya kebanyakan.

Di depan Ulira sebuah gambar kini sudah jadi. Gambar perempuan berambut pendek dengan poni diacak-acak angin. Roknya kotak-kotak setengah betis dan koyak sampai lewat lutut. Gincunya merah sekali. Perempuan itu tak ada mata, karena mungkin sebangsa serangga yang letak matanya entah di mana, atau mungkin memang sungguhan tak ada, sehingga kalau ada bagaimana mungkin ia melupakan Ulira?

Ulira lalu berdiri di tepi jalan sembari memegangi gambar yang dibuatnya itu. Orang-orang berbisik waktu Ulira semringah. Ulira tetap memampangkan gambar perempuan berambut pendek yang tadi dijumpainya dalam pikiran. Saat angin kencang memainkan rambut Ulira dan dari balik gedung pedagang gulali membunyi-bunyikan sepedanya, saat itulah gambar di tangan Ulira lepas. Gambar terbang ke jalanan. Gambar digilas truk lewat yang di bagian bak belakangnya terdapat lukisan perempuan berambut pendek. ***

Riau, Maret 2019

Cat: (1) Paroki: kawasan penggembalaan umat Katolik yang dikepalai oleh pastor


Jeli Manalu, lahir di Padangsidimpuan, 2 Oktober 1983. Ia saat ini mukim di Rengat Riau. Cerpen-cerpennya terbit di media lokal dan nasional. Buku kumcernya “Kisah Sedih Sepasang Sepatu.”

Cerpen

Aleana

Cerpen Abdullah Salim Dalimunthe

Bahkan, Aleana, sosok imajiner yang telah kauhadirkan bertahun-tahun lalu itu pergi. Ia tak lagi sanggup hidup bersamamu. Baginya, meninggalkanmu adalah sebuah keniscayaan, daripada berlarut-larut dalam pertengkaran yang tidak berkesudahan. Terlebih setelah kau memakinya dengan kata-kata paling kasar–bahkan untuk sesosok makhluk imajiner sekalipun. “Dasar lacur! Enyah kau dari sini! Ketahuilah, aku bisa menghadirkan perempuan-perempuan yang jauh lebih baik daripada engkau.” Dan kau sama sekali tidak peduli akan isak tangisnya.

Hujan menderas. Di rumahmu kini, cuma sunyi yang tersisa. Serta dingin yang larut bersama angin yang merangsek masuk melalui celah-celah ventilasi dan menyentuhmu berkali-kali. Engkau menekur. Sesekali menenggelamkan wajah di kedua telapak tanganmu. Dan, petir yang menggelegar dan bersahut-sahutan di luar sana membuatmu cemas. Membayangkan Aleana kuyup menggigil ketakutan entah di mana. Bisa saja ia tengah terlunta-lunta di pinggir jalan, meringkuk di lantai kotor di sebuah rumah kosong yang atapnya bocor, atau mungkin juga, Aleana terperangkap di bekas gudang tua bersama para penjahat kambuhan yang sedang merencanakan kejahatannya matang-matang. Apa pun itu, semuanya adalah mungkin. Aleana belum pernah sekali pun pergi jauh dari sini. Dan pula, ia takut sekali pada gemuruh petir yang saling bersahutan seperti malam ini. Setiap kali petir terdengar, Aleana terhenyak, lalu meneteskan air mata dan mendekapmu erat-erat. Ia kerap merasa petir itu memang ditujukan kepadanya.

Hujan tak kunjung reda. Rasa sesal berhamburan memenuhi rongga dada. Menyesakkan. Sungguh, kau telah berlaku jahat pada Aleana. Apalagi, kala ingatan kali pertama kau berjumpa dengan dirinya muncul dalam benakmu. Di sudut pekarangan belakang rumah, di atas potongan kayu jati berukuran besar yang tergeletak di tepian kolam yang dipenuhi ikan-ikan koi, kau duduk membisu dengan batin nelangsa. Perasaanmu remuk. Setelah sebelumnya kau terpaksa menanda-tangani surat perceraian itu. Istri yang teramat kaucintai itu akhirnya pergi. Ia lebih memilih berada dalam pelukan laki-laki lain ketimbang pelukan hangat yang senantiasa kauberikan untuknya selama menjadi suami. “Tiga tahun yang sia-sia,” kau berkata lirih.

Lama kau menatap ikan-ikan yang berenang ke sana-kemari lalu menyembul dan berkomat-kamit menunggu taburan pakan yang biasa kauberikan. Kau tidak menggubris permohonan ikan-ikan koi itu sama sekali. Di benakmu, kau mengenang impian-impian dahulu, ketika kau melamarnya. “Menualah bersama, kelak kita saksikan anak-anak kita mengasuh cucu-cucu kita di sebuah lereng perbukitan yang luas, hijau, dan landai. Mereka berkejar-kejaran disertai derai tawa kebahagiaan. Dan kau, duduk bersisian bersamaku di hamparan rumput seraya menikmati keindahan senja,” ujarmu selepas petang itu. Namun, tadi, impian itu seketika sirna. Hanya ada sunyi dan gemericik air yang menggelincir jatuh mengenai batu-batu berlumut yang tersusun rapi di sekeliling kolam. Dan suara gemericik itu, membuat perasaanmu semakin tertumbuk-tumbuk.

Kau merutuk. Hingga amarah yang sedari tadi kautahan-tahan, memuncak. Kebencian pada laki-laki yang telah merebut istrimu itu membulat. Dan, rasa kecewa pada bekas istrimu, lamat-lamat menjadi purna. Kau bersumpah; tidak lagi menaruh harap dan mencintai perempuan mana pun selain perempuan yang tengah kaulamunkan sekarang. Kau membayangkan seseorang dengan kecantikan sempurna–anggun, begitu kau menyebutnya. Kecantikan yang jauh melebihi kecantikan yang dipunyai mantan istrimu itu. Dengan dagu yang tirus, bibir yang tipis, lesung pipi yang menitik cantik di kedua pipinya yang ranum, rambut hitam kemilau lurus terurai menggapai pinggulnya yang menawan, dan sepasang mata yang teduh. Perempuan yang sedang kaubayangkan saat ini laksana seorang dewi. Dan ia hanya akan menambatkan cintanya kepada dirimu seorang. Kau akan menghadirkannya. Memanggilnya turun dari atas sana. Dari bintang yang paling benderang. Tiada yang boleh menggoyahkan keinginanmu ini. Kau meyakinkan diri. Bukankah seseorang yang tengah terluka batinnya, permintaannya akan nyaring terdengar oleh para penghuni langit? Dan mereka kelak berbondong-bondong merayu Sang Pencipta agar berkenan mengabulkan permintaan tersebut? Bukankah hal itu sering dipertuturkan oleh para alim yang mengaku dekat dengan Tuhan? “Maka, sekaranglah waktunya,” pintamu sungguh-sungguh, “biarkan dia datang menemuiku.”

Cahaya putih mengerlap dari balik bintang paling benderang. Kemudian cahaya itu turun perlahan bak penerjun yang telah mengembangkan parasutnya. Sesekali angin mendorong-dorong cahaya itu turun lebih cepat. Dan, sesekali pula, cahaya itu seolah-olah hanya berputar-putar saja di tengah cakrawala. Kau berharap. Dan kian berharap agar cahaya itu lekas menghampirimu. Hingga gurat senyum pelan-pelan mulai terlukis di wajahmu. Cahaya itu makin mendekat. Perempuan yang tadi kaulamunkan, ada dalam kerubungan cahaya putih bersih itu, dan dia balas tersenyum. “Aku Aleana, hadir memenuhi panggilanmu,” sapa perempuan itu merdu.

Gelegar petir membuatmu tersadar. Kau mondar-mandir. Berharap Aleana tidak benar-benar pergi. Berharap Aleana cuma sembunyi. Sebentar-sebentar kau mematung di ruang tamu, lalu beralih ke ruang tengah, kemudian menuju dapur dan mengintip dari jendela mengawasi pekarangan belakang rumah, lalu kembali lagi ke ruang tamu. Mengempaskan dirimu; terduduk lesu di atas sofa. Di luar, hujan tetap deras.

“Aleana, maafkan aku,” lagi-lagi kautenggelamkan wajah, “kembalilah,” bisikmu lemah.

Seharusnya caci maki itu memang tak perlu kaulontarkan. Seharusnya kau lebih bisa menahan diri. Akan tetapi, sejak kau mendapati Aleana memandang kagum pada kolega bisnis yang baru saja kaukenal itu, hatimu panas. Kau terbakar cemburu. Bahkan, meski dua bulan telah berlalu, kau tetap sulit melupakan bagaimana Aleana menatap laki-laki yang baru kali pertama berkunjung ke rumahmu itu. Tatapan kagum Aleana mengingatkan kau pada seseorang. Seseorang yang diam-diam menyukai salah seorang atasan di perusahaan tempat ia bekerja. Seseorang yang tega membiarkan perasaanmu hancur berantakan. Seseorang yang pergi meninggalkanmu sepuluh tahun silam. Seseorang yang telah menjejakkan luka di lubuk hati paling dalam. Luka yang akhirnya membuat kau tak lagi bisa berpikiran jernih tatkala mengingat tatapan kagum Aleana pada malam itu. Padahal, betapa pun Aleana memandanginya, bukankah kolega bisnismu itu tak akan pernah mampu menjangkau Aleana? Bukankah Aleana diperuntukkan buatmu seorang?

Hujan mereda. Kegelisahan dalam pikiranmu justru sebaliknya. “Aleana… Aleana…,” kau terus memanggilnya. Hujan benar-benar reda. Dari balik jendela, kau menatap ke arah jalan. Lengang. Tidak ada Aleana di luar sana. Kau harus mencarinya, hati kecilmu berkata. Ya, kau harus segera mencarinya. Lalu kau menuju garasi, menyalakan mesin, menunggu beberapa saat hingga mesin itu menghangat, kemudian melaju menerobos kesunyian malam. Di balik kemudi, di sepanjang perjalanan yang entah, kau berpikir keras di mana kau bisa menemukan Aleana. Dan, terkadang, kau memperlambat laju mobil tatkala melihat seorang perempuan yang sedang menyusuri jalan guna memastikan apakah perempuan itu Aleana atau bukan. Namun, berkali-kali kau mencoba, semua sia-sia. Tidak satu pun dari perempuan-perempuan yang kaulihat tadi adalah Aleana. Kau menepi. Berpikir sekeras-kerasnya; ke mana harus mencari ia?

Rembulan bulat penuh. Cahaya putihnya teduh menyandar di penglihatanmu. “Cukup lama kau tak menikmatiku lagi,” bujuk rayunya semilir terdengar dalam kalbu. “Gerayangilah aku. Aku rindu,” rembulan itu memaksa.

“Aku…, ah, sudah lama sekali rasanya,” suara dalam batinmu menyahut. Ada keinginan yang menggumpal dari lubuk hati untuk mencumbui rembulan itu lagi. Menjilati keindahannya dengan tatapan-tatapan serakah. Melumat habis kesyahduannya sehingga ketika kau memejamkan mata, wajahnya yang berseri-seri itu akan tetap tinggal dan menemani. Sebagaimana dahulu, di atas tebing itu, tebing yang terletak di utara kota tidak jauh dari tempat tinggalmu berada.

Lantas kau teringat, kau pernah bercerita kepada Aleana tentang rembulan dan tebing itu, tentang malam yang terlampau indah, tentang kebahagiaan. Dan, Aleana ingin kau mengajaknya ke sana, namun selalu kauhindari. Sebab, di sana, adalah tempat di mana kau ketika itu menebar impian-impian itu dan menancap harap.

“Setidaknya, untuk satu kali, bawalah aku ke sana.”

Buru-buru kaunyalakan mesin. Melaju menuju tebing itu.

“Aku akan menjemputmu, Aleana.”

Kau melesat. Jalanan basah dan licin tak lagi kaupedulikan. Di benakmu, hanya terpatri satu keinginan: segera membawanya pulang. Dengan yakin kauterabas setiap persimpangan jalan yang sunyi, tikungan panjang, dan tanjakan yang kini semakin sering kautemui. Kau benar-benar tidak peduli. Kau bahkan menambah kecepatan. “Aleana… Aleana…,” sebutmu berkali-kali.

Pada pemberhentian terakhir, kau bergegas turun dari mobil dan berlari. Memacu langkah melewati jalan setapak yang basah dan liat, serta tumbuhan liar yang sebagiannya berduri dan seakan-akan hendak menghalangi laju kakimu yang mulai terasa hangat. Kau terus berlari tergopoh menuju atas tebing. Hingga kau melihat, Aleana benar-benar ada di ujung sana. Berdiri persis di bibir tebing. Ia menunduk. Menekuri kedalaman jurang. Tetapi, Aleana tidak sendiri. Ia bersama seorang lelaki yang tidak engkau kenal. Mereka berpegangan tangan. Dan, mereka sama-sama meneteskan air mata. “Aleana….”

Aleana tidak menjawab. Ia seperti tuli. Begitu pula dengan laki-laki itu, ia tak bereaksi sama sekali. Kau mendekat. “Aleana….”

Mereka tetap diam.

“Aleana…!”

Mereka tetap diam.

Kau menyeru. Meneriakkan namanya berulang kali. Namun, Aleana tetap diam. Begitu pula dengan laki-laki itu, ia bergeming. Lalu kau bersimpuh di dekatnya. Akan tetapi, percuma. Tatkala kedua lututmu menyentuh tanah, Aleana dan laki-laki itu terjun dari bibir tebing. Mereka tetap berpegangan tangan. Sementara rembulan di atas sana seakan tiada peduli, ia kembali memaksa, “Gerayangilah aku lagi. Sungguh, aku teramat sangat merindukanmu.”***


Abdullah Salim Dalimunthe, tinggal di Bandung. Gemar menulis cerpen.