Beduk Rindu
kaki-kaki menelan tanah sawah
sepanjang usia ibu
hijau-kuning menakar tubuh keriput
di antara senyum itu
ada denyut yang mengeja waktu
tak ada yang nyata menggulung ingin
yang tercermin dari rupa rumah
pohon-pohon ikhlas
mengayun air malam yang kedinginan
menelusuri sisa-sisa letih
yang dijaga ibu sebagai ribuan doa
untuk kaki kuat di tanah kota
Medan, 2019
Kabut-Kabut Kelabu
langit kini nyanyian kabut-kabut
kelabu
mengantar kesedihan di balik kapuk
tak ada yang ingin pulang
seperti burung-burung menjelang magrib
yang bersorak-sorak memanggil anaknya
aku tertib mengeja almanak
tata kera kemeja
urutan kancing baju
menghitung detak masa lalu
air selokan begitu tenang
menjaga kakimu tetap berjalan
aku cinta yang mengalir dari
luka-luka sekujur tubuhmu
aku kandas dalam kemarau
berjiwa kota
di dalam angin
aku merindukan doa-doa
yang terbang tak tahu arah
Medan, 2019
Mata Seberang
tubuhku mencari-cari pandang
yang melipat kata jadi udara
yang tersimpan dari lubuk kenangan
ialah mata-mata seberang
menuntun langkah jauh
mekar di jari-jari kaki perempuan
tubuh angin memelukmu
semilirnya, menggetar kendi
di kepala kakak perempuan
yang di dalamnya bunga beragam rupa
di balik mata seberang
candumu mengemas hilang
yang menetes dari dahan-dahan kering
Medan,
2019
Tugas-Tugas Jarak
jarak ini tumbuh daun-daun kering
menepi menuju masjid
suara sapu lidi menyeret tanah
mengeja langkah kepergian lalu
larut malam kini menyerang rimbun
kaki menaiki kendara
kepala bocah panas waktu
dengan tugas-tugas tak berujung
barulah ia mendaki inginnya
kelebat duka suara ibu
sungguh tak ia ingkari kehadirannya
Medan,
2019
Burung-Burung Tak Menangkap Kabar
cakarmu tak melubangi tanah
detak-detaknya tertanam di sana
yang semakin senja
dan terbenam
Medan, 2019
Yang Diulang-Ulang
berulang-ulang
tasbih berulang-ulang
bulirnya menghantarkan gelisah
berulang-ulang
lantunan kuulang
bawa aku pulang
memelukmu
Medan, 2019
Tampungan Air
kau hanya duduk
mencium tubuh air
simpan aku dalam sedih
dan gulana
mahir ia menerjemahkan
tubuhmu tapi tidak pada tubuhku
di sana rindu tak mencuat
hanya menggelembung seperti
napas yang tanam
Medan, 2019
Menatap Langit
Ada hujan berjatuhan di matamu
kedap bintang mengairi cahaya musim
dari bumi, langit mengasah gulita
yang matang sebagai bakal mimpi
Ia tetap kukuh
mengakarkan rimbun harapan
memoar; menukik janji
sampai pulang ke jangkar hari
dan pagi-pagi penuh recehan ilusi
Medan, 2019
Makna Pagi
Anak-anak mencari subuh
menabung amal, dan menaikkan restu
dari tuhan sudah berkali-kali mengingatkan.
mereka telah tunai menanggalkan kantuk
suara panggilan dari ufuk, mengaburkan mimpi
roh kembali pada jasad setiap malam.
Anak-anak mencari riwayat pagi
sementara kau masih berkabut sepi
membiarkan rohmu keluar tanpa tuhan
mengumpulkan kegaduhan dan setan di tubuhmu
sebagaimana kita mengadu pada laut.
Pada tangisan tangisan langit, perihal problema
yang mengurangi napas jantung.
tak berkukuh terang pada jalanan yang ditempuh.
kau telah menghabiskan kesabaran
pada sepi di sebuah lampu kota dan
taman-taman yang tak ada rupa bunga
Medan, 2019
Sebuah Pelita
rahasia tumbuh dari tubuhmu
waktu menata kata menjadi pertanyaan
renta hari, langit menangkap sunyi
masa silam disirami janji
angin telah mewartakan pagi
sebagai awal dari rantai mimpi
kau masih saja memanggul petang
dan riwayat yang kusebut usai
aku telah berkelana
melihat dunia padat di pipimu
setelah usia semakin tumpul,
kau tetap pelita
Medan, 2019

Julaiha S. (Julaiha Sembiring), perempuan kelahiran Medan, 11 Juni 1993. Bergiat di Kompensasi, Labsas dan KPPI-Medan. Sejumlah tulisan telah dimuat di media cetak dan online yakni;Koran Tempo, Media Indonesia, Basabasi.co, Solopos, Suara NTB,dan lainnya. Saat ini, ia tercatat sebagai alumni Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Medan. Ia telah melahirkan buku puisi tunggalnya berjudul Mula-Mula Kita Pergi Selanjutnya Tersesat. (Obelia Publisher, 2016).
