Katalog

Puisi

Puisi Nafi Abdillah

Tasbih yang Mengepung Kiai As’ad

Usai dawuh Kiai Kholil yang menggetarkan tembok-tembok tempat segala yang tinggal,

butir-butir wirid yang sering berputar dari atau pada wajah-wajah yang serba kias,

mengepung lehermu juga.

“tolong sampeyan antarkan ke tanah Jombang!” begitu kira-kira.

***

Bukankah untuk mencapai haq, kau harus menjadi basmallah dahulu?

Namun, kau tak perlu memahami apa pun, meski itu bukan berarti tak harus.

Sebab napas yang kauembus bukan dari gerak udara dalam parumu.

Sebab kata yang kaulontar bukan dari endap akalmu.

Kau memerlukan wewangian yang tidak terendus oleh hidungmu

sekaligus tanpa memikirkan jenis-jenis pohon yang berbiak.

Barangkali, itu bukanlah berasal dari daftar kitab yang perlu kaubaca.

Tugasmu ialah menjaga tangan santun agar adab tetap seperti bulir air mata

ketika kau merasa berdosa atau kelewat bahagia.

Bahkan, di kedalamanmu telah kaukungkum seluruh keredak api dan perigi.

Semuanya mungkin kaumaksudkan agar tidak ada yang tiris ke dalam makrifatmu.

***

Berderaplah melebihi batas, menjauhi riam,

perasaan janggal, dan batu-batu besar Gunung Geger.

Sementara denting waktu sama halnya wirid jantungmu

yang kerap lupa menyumbat celah-celah cahaya,

mengakibatkan jari-jarimu tak berani menghirup misik

walau sekelebat, apalagi menyentuh.

Ujian, barangkali adalah makanan siap saji bagi perut-perut setan.

Namun sejak awal telah tak kaudengarkan lenguh-peluh

yang sengaja mereka serak-serakkan untuk mengoyak imanmu.

Hinggalah segala lengang terasa lekat begitu saja seperti digulung oleh waktu.

Di atas latar Teburing, tetes keringatmu adalah ritus bagi senyum merdu Kiai Hasyim.

Leher tundukmu berlaku sebagai isyarat serta hal terakhir sebelum pamitmu ialah,

“yaa jabbar, yaa jabbar, yaa jabbar, yaa qohhar, yaa qohhar, yaa qohhar.”


Bukan Mbah Moga yang Menundukkan Banjir

/1/

Di rusuk kali Paingan, saban hari kehambaan lelaki sepuh itu

dihabisi oleh tangan-tangan usia yang cukup fasih

menanggalkan pujian orang ke dinding-dinding bambunya

yang dianyam dari napas-napas Tuhan. Ia selalu yakin

bahwa segala yang liuk-ceruk-merasuk adalah rahmat.

Ia telah sampai pada maqam di mana tidak ditemukan tafsir penolakan.

Di darahnya, penuh doa yang pasrah seperti rigen petani tembakau

yang berharap dirinya tak rapuh di musim hujan.

Yang ia pahami adalah menjauhkan doa dari fungsi tetes pahala

atau imbalan yang tualang ke tegak gubuknya.

Jauh-jauh hari telah ia betulkan suara-suara serak hati

sebagai rayuan kepada Kekasihnya.

Semua ini tidak diartikan sebagai permintaan,

namun mirip seperti kerinduan Kanjeng Nabi

pada suara lembut Bilal yang tak lagi menyentuh telinganya lebih dari 40 hari.

Sepotong cahaya mulai bermekaran dari dalam ruh

laksana sayap Jibril yang menghalau arak-arakan awan mendung

sewaktu pamitnya Nabi. Segala tafsir mengenai jasadnya,

semata-mata adalah benteng agar benang-benang tipis menuju langit tidak terputus.

Namun, ia benar-benar tak berani memasang dirinya

di tengah-tengah gerombolan kepala yang menenteng sekerat tanda tanya.

Sebab baginya, pengakuan adalah noktah-noktah bencana.

/2/

Malam telah lamat-lamat membelalakkan sepenggal amarah yang berahi.

Tidak banyak yang berani lekat-lekat menatap,

meski telah dijanjikan segala perlindungan:

keris keramat; jubah kadim; songkok masyhur; dan jiwa yang maksum.

Semenjak itu, telah sengaja ia kaburkan matanya

terhadap segala poros yang menyamar.

Baginya, surga bukanlah titik tumpu.

Begitu pula, neraka jauh dari lumbung rasa takut dalam dirinya.

Jika sudah cinta, apakah masih tak mampu menikmati seluruh tangis

atau kobaran api yang bakal membungkam segala gelak?

/3/

Hujan begitu dini menggelar pasar malam. Kali Paingan tak lagi mampu memangku.

Namun, di rusuk Kali Paingan lelaki sepuh itu tetap meleburkan

segala yang telah dipasrahkan meski akan disentuh taring-taring air.

Banjir menjadi sekawanan anak kecil yang tak berani melawan orang tua.

Syahdan, seperti Musa membelah lautan, ia menembus lorong-lorong senyap

yang khusus dinubuatkan untuknya.


Sabdo Palon, Noyogenggong

Usai tubuh menjelma ringkik Sembrani yang tak kasat,

lekaslah kami mengabdi pada roh-roh moyang

tanpa harus berpindah dari ladang berenuk

selama mestika belum terbata mendengungkan sabda-sabda.

Dawuhmu, Prabu,

sudah tak dianggap sebatas perkataan di ujung mata tombak Majapahit.

Sebab setelah ini, tak ada yang lebih luhur lagi di antara asap dan cahaya lilin

serta dada-dada yang tertancap oleh tombak adalah segala tunduk yang taksa. 

Meski dari balik busung dadamu

selalu ada nyala api yang luber menyembulkan berahi atau baur arah angin

tetap saja tak sudi kauminum derai-derai darah dari mata airmu sendiri.

Tapi percayalah Prabu, tak ada yang benar-benar merasakan kematian.

Jika itu berarti kau harus menenggelamkan roh dan jasadmu,

kami patuh tanpa harus melebarkan nestapa.

Sebab di tanah-tanah yang lebih subur

dari tanah yang diciptakan Sang Hyang Wenang,

sejatinya nelangsa menolak dilahirkan.

Saat itu, berawal dari khianat yang terkapai-kapai ke poros tirta amertha bumi

hingga Adipati mengatupkan gendang telinga pada bau-bau darahmu,

tetapi kau memilih bersejingkat dari dalam corong senyap ke arah Cetha

meninggalkan segala derap yang kabur dan suara-suara asing di tengah desa.

Berberita kewaskitaan Kanjeng Sunan,

diajaknya kau memangku kembali tanah-tanah moyang.

Namun tetap tak ada yang bergetar kecuali jiwa-jiwa

yang berlayar menuju telaga penahbisan.


Gajah Mada dan Borok-borok yang Niscaya

(1)

Usai tetes darah yang sengaja dibiarkan tumpah

hingga menjelma riwayat sebagai bibit bagi anak turunmu

hanya dianggap sebatas mestika yang karat,

tetap tak sudi kau keluarkan keredak api lewat sumbumu.

“Lebih baik kuteguk darahku daripada kukotori dengan mata airku sendiri,” katamu.

Telah kaupatahkan segala murka yang pelan-pelan mulai bongak pada tirta amartamu.

Kau selalu bersikeras mendekap tulang-tulang Majapahit.

(2)

Semua berawal dari pada rapal yang diadu domba,

yang terus-menerus melekat di tiap-tiap laku,

menjadikan bau-bau mistik tak lagi lapang,

mengakibatkan pucuk-pucuk keris

kelu mendengungkan sabda sebagai usaha mengasah perlawanan.

Seluruh kerajaan merasa tertimpa tempayan nanah

meski kehendak tak pernah melengking dari kidung seluruh arah mata angin.

Namun kau tetap dibentur-benturkan oleh ucapan nanar

yang menyat dari atau ke kecipak waduk Gajahmungkur.

(3)

Setelah Bubat yang tak diinginkan oleh sesiapa

dan belalak mata yang meninggalkan noktah-noktah bencana,

jiwamu mengerucut, merajut benang-benang tipis menuju niskala,

memasrahkan jasad dan rohmu lebur:

lebih tipis dari asap, lebih sunyi dari bisikan.


Menemukan Jati Alas di Selatan

Kalam langit yang tertiup membawa kakinya memijak tanah-tanah Pamantingan.

Gegaslah ia bersila dikelilingi potongan-potongan titah.

Pagi belum usai mengepulkan asap dari kobaran-kobaran api

yang menguar dari dalam celah-celah jati alas.

Sedangkan malam serupa kematian yang sempit dan tak tanggal oleh kebiri waktu.

Kanjeng Sunan meleburkan jasad sebagai tirakat

melewati benang-benang tipis menuju Sang Hyang Agung.

Sebab, resah dan tulah hanyalah sebatas berenuk yang busuk.

Hingga diutuslah Cemara Tunggal menggetarkan suara-suara serak

dari tempat lengang pun juga tak lekat.

“Wahai Kanjeng Sunan Kalijaga, kembalilah menuju selatan.”

Derap-derap langkah dan napas-napas malam tumpah juga pada Gunung Pati.

Di tangan kewaskitaan Kanjeng Sunan, kera-kera mampu mengaburkan diri

dari belalak sepasang mata dan amarah yang berahi.

Sebelum  waktu mencacah jiwa, batang-batang jati telah patuh pada kecup doa.

Dengan detak-detak tangan yang terdengar parau

dan lenguh-peluh yang diasingkan dari tubuh-tubuh, 

jati alas berhasil menancap sebagai saka guru.


Dengan Mengenakan Namamu, Muhammadku

Namamu mendengung dalam pengasingan.

Muasal namamu adalah pakaian bagi jiwa-jiwa telanjang.

Kau kampung halaman yang dirindukan oleh perantau nanar

sebab pulang terbuat dari jarak dan gelisah.

Dari namamu, semesta mampu merentangkan lengan

dan Jibril sanggup mengepakkan sayap.

Setelahmu, tubuh-tubuh memerlukan bumi.

Menampung tetes darah dan deras hujan yang mengguyur mata.

Telah kau siapkan ladang-ladang subur sebagai tempat bercocok tanam.

Tapi besi-besi lebih suka aku kibarkan di atas tanah-tanah basah.

Memang semula berawal dari badai kegembiraan

yang datang  bergantian di musim-musim cerah.

Namun cuaca telah berpindah haluan.

Maka saat ini, yang aku perlukan sebagai arah kembali adalah dirimu.


Di Balik Yarmuk

:Khawlah binti Azwar

Dari Yarmuk, matamu mata pisau melewati batang-batang tamr

dan butir-butir pasir menuju ke sebuah muara di ujung jejak-jejak kaki.

Di belakang punggung mereka, kaurangkai napas-napas

menjadi doa yang berarak memenuhi mega-mega.

Selalu kautorehkan percik-percik air terjun

dari dalam matamu ke atas bebatuan keras

sebelum luka menemu cahaya fajar.

Sebab Dhirar, kau harus merelakan tubuhmu bergetar oleh sentuhan cahaya matahari.

Mungkin kau tak pernah dianggap sebagai gema di kedalaman gua Hasa.

Sebab, di depan zirah orang-orang Romawi telah kautandai arah mata angin

yang menjadi titik temu antara darah dan nanah.

Namamu, seperti tangga langit yang seluruhnya berupa nyanyian serak

hingga berjatuhan air mata malaikat menjadi danau-danau kecil di tengah gurun.

Maka, angin menggiring ringkik kuda menuju getar-gemetar benteng Byzantium.

Tak pernah kau mengerang meski kaudengar deru-deru lonceng besar

bisa mengatupkan gendang telinga.

“Wahai putri-putri Himyar, keturunan-keturunan Thubba’…”

Suaramu merubah pucuk-pucuk pedang hingga kastil menggigil sekali lagi.


Surat ke 18 yang Jatuh ke Bumi

/Haq/

Adakah yang lebih melegakan daripada patahku

dari ranting-ranting Arasy menuju Jumat yang mengerdilkan seluruh kabar haru?

Atas derma-Nya, aku lemparkan dusta jauh dari hadapmu,

kutiupkan wirid-wirid haq ke dalam semesta dirimu.

/Rida/

Akulah pelita yang membimbit potongan-potongan titah

di tengah daur yang payah, di antara masa yang pasrah.

Tuntunlah kepalamu agar terbenam dalam karib doamu,

sebab akulah pemanjang cahaya yang menyertaimu.

/Tobat/

Umpama kauziarahi Al-Aqsa dan Al-Haram,

dan telapakmu bagai tertancap batang-batang tamr dan duri-duri bidara,

biarkan lengan-lenganku yang meredam luka dan dendam

sebab di telaga penahbisan, telah kusertakan doa untuk pengampunan-Nya.

/Batil/

Bersama Al-Baqarah, kudirikan benteng Rumi mengelilingi istanamu

sebagai penghalau ketika hasut dan tamak berusaha mencengkeram tengkukmu.

Maka, kumandangkan lafalku pada tiap embus napas yang membentuk hidup.

Peliharalah zikirku dalam tiap detak jantung sebelum mata benar-benar terkatup.

/Cahaya/

Usai deras doamu yang khidmat dan luhur

kubentangkan jalan panjang melewati saf-saf langit yang tafakur.

Akulah persaksianmu, maka, tak usahlah khawatir

walau Malaikat Israfil meniup sangkakala terakhir.


Sebelum Tiba di Bulan-bulan Janggal

Daun malam berkata dengan busur panah yang membidik mata.

Di antara langit yang telanjang, bau-bau kematian adalah mata pisau.

Kehidupan adalah rempah-rempah yang telah menjadi hidangan langit.

Sedang aku hidup di dapur dengan kayu-kayu yang belum dibakar.

Suatu kali aku menyusuri hutan-hutan gelap

dengan langkah yang tidak bergerak.

Hanya jejak-jejak waktu yang terdengar parau.

Aku pesakitan sebab gendang telinga mengatup perlahan.

Hingga tibalah aku di hadapan unggun api,

bau-bau kematian luber, melelehi ruh-ruh yang memar.

Daun-daun malam mengendus dari permukaan

dan menggantungkan napas-napas.

Dituntunnya aku ke telaga penahbisan.


Ketika Para Perindu Duduk di Suatu Malam

Terang maupun gelap adalah jalan-jalan para perindu

yang tidak pernah abai dari fitrah alam semesta.

Rindu adalah kobaran api yang menjalar hingga terkoyak jiwa-jiwa sunyi.

Tapi mereka tidak mengultuskan pengakuan diri.

Oh, Perancang kampung halaman.

Biarlah nyiur seruling para perindu luruh pada pangkuan-Mu,

sebagai bongkahan es yang tidak bisa mencair kecuali sebab titah-Mu.


Sang Penunjuk

:USC

Dingin malam membekuk tubuhku.

Lalu kata-katamu muncul sebagai akar dari pohon,

tumbuh, bercabang, dan berbuah menjadi cahaya pagi.

Kata-katamu terbit dari langit.

Di persimpangan menuju bulan pernuma, ia tidak tenggelam.


Nafi Abdillah, menulis puisi dan cerpen.Seorang pembelajar di Padepokan Sakron dan bergiat pula di Komunitas Sastra Kamar Kata Karanganyar dan Forum Malam Sastra Pandawa. Karya-karyanya pernah tersiar di beberapa media cetak maupun online dan beberapa kali menjuarai ajang perlombaan menulis. Penulis bisa dihubungi melalui surel [email protected] atau akun media sosial Nafi Abdillah.

Cerpen

46 Miliar Tahun Cahaya

Cerpen Fatimah Ridwan

Kau pernah mengatakan, kelak kita berdua akan pergi ke ujung alam semesta, 46 miliar tahun cahaya jaraknya dari bumi, tempat di mana jarak akan lenyap. Saat ini, jarum jam di tanganmu berhenti di 07.41, tak kulihat ia bergeser lagi sejak kau rebah di sisiku.

“Sejak awal aku merisaukan itu,” gumamku, nyaris tak terdengar. Begitu pelan. Sangat pelan.

“Apa?” tanyamu tanpa menoleh padaku, tak ingin mengalihkan pandanganmu ke arah laut, serupa memandang kekasih untuk terakhir kali.

“Jarak. Ternyata jarak bisa demikian kejam, jarak bisa membuatku kehilangan banyak hal, jarak nyaris membuat aku kehilanganmu,” jawabku, dengan air mata yang nyaris luruh. Aku merasa puluhan taut rantai terikat di dadaku. Sesak. Aku tersedak, pada detik berikutnya ia berganti menjadi isak.

***

Kelas selalu gaduh dengan cekikikan murid-murid perempuan tiap kali mata pelajaran astronomi berlangsung, bukan karena pelajaran itu menyenangkan, tetapi entah, dada mereka kembang kempis menahan kekaguman yang terus meluap saat pesonamu memanah tepat ke hati mereka.

“Astronomi bukan sekadar mempelajari benda-benda langit di alam semesta, lebih dari itu, astronomi mengajarkan tentang hakikat diri kita, selalu ada yang lebih besar dari kita, kejadian-kejadian yang lebih besar. Jika satu kematian terjadi di bumi, mungkin saja di saat bersamaan, satu peradaban musnah dalam ledakan supernova di bagian lain semesta, di gugus bintang lain atau di galaksi lain. Adik-adik sekalian, kita, manusia yang sombong ini sejatinya tak lebih besar dari setitik debu di alam semesta, sangat mudah untuk musnah,” jelasmu panjang lebar.

Kau berdiri di tengah-tengah ruang kelas dengan kedua tangan menggenggam di balik punggung, serta senyuman seteduh oase yang sejuk, menyusup ke hati para gadis, seakan menyelamatkan mereka dari ganasnya kegersangan gurun. Dan riuh tepuk tangan menggema di ruang kelas, membuatmu tidak terlihat seperti guru, namun lebih menyerupai musisi yang baru saja menyelesaikan sebuah konser.

“Sampai di sini ada yang ingin ditanyakan?”

“Saya, Pak.” Seorang murid perempuan yang berjarak dua bangku dari depan tempat dudukku mengangkat tangannya.

“Silakan.”

“Sebelumnya saya mohon maaf karena ini bukan pertanyaan, melainkan pengakuan saya,” ucap gadis itu, terjeda.

“Awalnya saya tidak percaya dengan Ibu saya yang mengatakan bahwa dengan bersekolah saya memiliki masa depan. Namun, setelah Bapak mengajar di sekolah ini, saya percaya bahwa masa depan saya ada di sekolah, dan bahkan saat ini ada di depan mata saya,” lanjutnya, lalu menundukkan wajah dalam-dalam menyembunyikan semu merah di pipinya.

Seketika kelas kembali riuh oleh sorak murid-murid lain yang muak mendengar rayuan klise itu. Sontak kau memandang ke arahku dengan tatapan sungkan, sedang aku membuang pandangan ke luar jendela, ada yang terbakar di ulu hatiku.

Siang itu, dalam perjalanan mengantarku pulang, kau melambatkan laju sepeda motor dan memanggil namaku dengan sedikit berteriak melawan angin dan bising kendaraan.

“Maretna?”

“Ya?”

“Maafkan aku soal kejadian di kelas tadi.”

“Itu bukan salahmu.”

“Tapi kau cemburu.”

“Tenang saja, itu yang terakhir kali aku cemburu karena aku takkan melihatmu mengajar lagi.”

“Kau pikir aku akan membiarkanmu putus sekolah begitu saja? Apa dengan kubiayai sekolahmu, itu membuatmu merasa direndahkan?”

“Sudah berulang kali kubilang, aku tak mau kau membiayaiku sebelum aku jadi istrimu. Atau jangan-jangan, kau yang merasa rendah jika menikahi bocah muridmu sendiri?”

Kali ini aku tidak mendengar kalimat Tidak semudah itu untuk kita dari mulutmu, hanya ada hening yang mengambang menabrak-nabrak angin, hingga kau membelokkan setir sepeda motormu memasuki pekarangan rumahku.

Ibu tengah mengambili sayuran sisa berjualan tadi pagi yang tak habis saat kita tiba. Kau menyapanya dengan akrab, larut dalam cengkerama serupa karib. Kalian membincangkan kawanan penyamun yang telah memasuki desa, sebelum Ibu masuk dan meninggalkan kita berdua yang memilih melanjutkan hening di beranda.

Lelaki itu adalah guru anakku, begitu yang Ibu pahami tentang kita berdua. Entah bagaimana jika Ibu tahu anaknya yang baru 17 tahun menjalin hubungan bersama seorang lelaki yang seusia dengan dirinya, membayangkannya pun aku tak berani. Kata-kata Ibu bahkan selalu terngiang tiap kali aku sadar paut usiaku denganmu terlampau jauh. 20 tahun! Persis seperti paut usia Ibu dengan Bapak.

“Nak, jika menikah nanti, carilah laki-laki yang paut usianya tak jauh denganmu, aku tak ingin nasibmu sepertiku. Harus menjadi tulang punggung, sementara bapakmu masih hidup. Lalu apa bedanya aku dengan janda sekarang?” tanya Ibu suatu kali. Pernah juga Ibu membahas masalah serupa, “Lihatlah bapakmu, sudah sepuh sementara anak-anaknya masih kecil, masih butuh biaya banyak.” Tetapi sungguh, tak ada yang bisa memilih ke mana hatinya berlabuh.

“Aku berangkat malam ini,” ucapku, memecah keheningan.

“Kau bilang seminggu lagi?”

“Tante Soraya baru bilang semalam, ternyata aku harus menjalani pelatihan selama seminggu sebelum mulai bekerja.”

“Jam berapa?”

“Jam delapan.”

“Datanglah ke dermaga jam tujuh, jika kau masih mau melihat bintang untuk terakhir kalinya bersamaku.” Kau beranjak menuju sepeda motormu, lalu melaju ke luar dari pekarangan rumahku, aku tak berpaling dari punggungmu yang kian mengecil, hingga kau lenyap di kelokan jalan.

***

Kukira, kau akan menunjukkan ekor-ekor meteor yang melintasi langit, atau Batara Kala menelan rembulan, atau ledakan supernova yang gempita di gulitanya ruang angkasa. Tetapi bahkan bintang juga redup malam ini, langit murung, hanya kepak gagak dan kita yang berbincang tanpa bicara di bawah daun-daun gugur.

“Kita akan pergi ke ujung alam semesta, Maretna,” katamu.

“Sampai kapan?”

“Sampai ada yang menemukan dua jasad itu,” ucapmu lalu melempar pandangan pada dua tubuh yang tergelepar sia-sia, kau memejamkan mata dengan getar hingga titik-titik bening bermuara di pipimu.

“Maafkan aku, Maretna. Seharusnya aku bisa melawan mereka, setidaknya membuatmu tetap hidup,” lanjutmu.

“Kau gemar sekali meminta maaf atas sesuatu yang bukan salahmu. Kukira itu hanya kau lakukan saat masih hidup,” ucapku, tak kusangka kau masih kuasa tersenyum dengan oase yang menghampar lebih teduh.

Saat kulihat seorang pria menyandarkan perahunya ke dermaga, aku tahu waktu kita akan segera tiba. Tubuh kurus itu nyaris ambruk saat mendapati dua jasad dengan isi perut terburai, gema pekiknya mengacaukan rencana malam yang ingin selalu terlihat senyap.

Sementara pasir pesisir yang tak terpijak itu menguarkan aroma mawar, ombak pasang berhenti berdebur, gemintang berhenti berdenyar, hanya derap kaki serdadu yang gaduh di dada saat kita saling mendekap, detik masih enggan berdetak dan kita lesap ke tempat di mana jarak akan lenyap.***


Fatimah Ridwan, Mahasiswi Pendidikan Agama Islam asal Luwu Utara. Sangat jatuh hati pada karya sastra fiksi, beberapa cerpen dan puisi pernah dimuat di media online dan cetak. Jejaknya bisa ditemukan di Instagram @fatimah.ridwan

Puisi

Puisi Joko Rabsodi

Tak Mampu Mengalihkan Perhatian Tuhan

Rey, kita gagal guna menyunting satu kisah

jalan timpang menamatkan tadarus perjumpaan

kita lalui, berulangkali dibenahi tak ubahnya

menyulam petaka dalam tubuh sendiri

sukar dipercaya kita melangkah dalam satu kemungkinan

merubah nasab dari nasib yang diimpikan

menjenguk waktu dari dongeng diary milikmu

empat tahun lama kita mencair persis marie-pierre curie

yang tak tergundahkan

Tak ada yang bisa mengurungkan qada` berjuntai

semangatmu jua tak bakal mampu mengalihkan perhatian

tuhan, kita berhala di tangan ibrahim

terkulai dalam cakaran maut mematikan

Sesal tak perlu kau tambatkan pada sekuntum mawar

engkau pasti mengerti apa makna mawar dalam qoidah 

cinta, ia terlalu banyak meneguk lara

sesampai di istanaNya, ia akan redup dalam goresan cahaya

yang kelud

­­­

Dirimu perempuan paling kusayangi berasa tanda kutip

istimewa bagi hati dan tak bisa dimiliki

panjang perjalanan yang kita lalui tersungkur dalam kabut

bila masih ada maafmu bicaralah di antara kesenyapan mimpi

yang kusediakan, duduklah dekat hati!

sekilas diam atau bercengkerama sekuat tenaga sekalian tertawa

sekeras-kerasnya, sebab ketika fajar terenggut cerita kita tutup

selamanya!

Madura, 30 Agustus 2021


Luka Simbah dalam Peluk

Hilang sudah hasrat memetik bunga di area pipimu

ada kalimat luka simbah dalam pelukku

setahun kita tertahan dalam jarum jam

bergeming di kejauhan

kabar yang kuterima dari sebuah telegram

dirimu telah punya sasana baru

untuk memacu kasih dan meratap senyum

Sejak peninggalanku dari desamu beberapa kurun

kalimat terakhir yang kau pinta, rawatlah rindu

selama persendian waktu tak tentu

araba paghar, bukti yang ditautkan di hadapan tuhan

jangan sekali-kali kau tumpahkan di atas perempuan lain

morse itu yang kukepal hingga detik ini

Melirik potretmu dari pulau kecil yang kubingkai

seakan senapan laras panjang menodong dari belakang

disadap dari instagram seorang teman, dirimu

benar-benar kehilangan akal besar, menjauh ke seberang

melecutkan gusar secemas serangga jalang

pria yang kau pinang adalah peradaban tua yang diikat dendam

menancap kesan sekadar asapan arang

di luar sana, di tanah rantau, aku yang di pingit kâlâkoan

terikat teralis dan hanya mampu

mengulum amanah yang kau tunggakkan

Setelah melumat kebenaran yang tak waras

aku yang katanya kau cintai, harus melepuh 

di tengah kembang api merayakan pesta perkawinan

begitu banyak kejutan menggilis kesucian ritual

perjanjian yang kita pipihkan pada selok kuning keemasan

tak lagi tenteram bersama putar dulang yang kau sepahkan

tivani, andai aku mengerti tentang diriku yang akan hilang

tentu kutolak hari kelahiran, begitu kutahu tulang rusukku

tidak akan pernah melahirkan tubuhmu, pastinya aku tak sanggup

lagi jadi laki-laki

walaupun harus mati hanya iklima yang bisa menemani

menidurkan rintih yang tak pernah kau sadari

suatu saat kau bakal mengerti aku reinkarnasi habil

yang terhalang rindunya sampai babak ini

Madura, 13 September 2021


Biografi Tulang Rusuk

Tak habis pikir bagaimana tuhanku

mencabut tulang rusuk sebelah kiri untuk

merangkai tubuhmu yang segempal itu

alangkah agungnya batin

menyaksikan tuhan bermain-main di lambung kiri

mencalut dada, mengutus maut membongkar segenap rasa

yang sempat kubuka bagi kaum wanita

harus bilang apa pada tuhanku

kenapa tak kucerabut sendiri tulang itu

kutenggelamkan tubuh ke dasar degup

agar rahasia kunikmati penuh sambil menari

di kubang ruh

Otakku melauh ke serat logika

barangkali jawaban tercecar di sana

tak kutemukan apa-apa, sebercak tanya makin bulat

dengan cara apa tuhan merekayasa

wujudmu menjadi gumpalan berahi

– setiap lelaki siap-siap lumpuh

tersesat dalam gerung retorika

kutemui kebingungan luar biasa

tuhan ada-ada saja, kun-Nya menyandarkan

manusia pada kehampaan narasi yang tak asasi

Otakku merauh ke pangkal tasawuf

berupaya dalam hening, menimbun tanya

pada hati yang tak berkata

o, sama tak ada apa-apa, tapi legat tubuh

bisa kusayam dalam kesempurnaan iman

kedangkalan fikir jadi adonan, tuhan kuasa

semesta mulai azali

            –sampai kapan pun aku tak akan bisa apa-apa!

Tak habis pikir engkau mengepul dari sisi rusuk sebelah kiri

pantas tak ada perempuan yang pasrah kuhubungi dan memang

tidak ada yang mau dihubungi

mulai hari ini duduklah di situ dekat tulang rusuk yang kurang satu

agar rantap segala nyeri

sunyi segera terhenti

Madura, 15 September 2021


Rindu di Tengah Peradaban Asing

Meski jarang sekali bertemu

dalam kuntum bunga yang merekah

senyummu yang tak dimiliki setiap wanita

selalu menggoda dinding hati

jarak selisih 10 tahun kiranya jadi seruan

jenjang perbedaan dianggap mengutip bencana

pikirkan sebelum sejarah melewati riwayat musim

sebelum kalam cinta mendefinisikan warnanya

dalam ijab yang kau pahatkan

Radeena, kita diajarkan cara memilih

menentukan masa depan tiada kecemasan

wangi tubuhku yang menghangatkan napasmu

bukan satu alasan lakon adam-hawa akan terjadi lagi

tahun ini

Aku sepakat dengan jiwa-ragamu

berbekal bismillah, harapan tuhan meridhoi

tapi tanah ini memendam sesajen leluhur

keping langit-bumi perlu disuapi harum melati

janur kuning harus melengkung sebagai pemangku

siapa saja yang berkunjung

Tanda tanya selalu kita hinggapi

mengapa upacara di tanah ini begitu dikeramatkan

bahkan persoalan rindu semata mengikuti sirah rasul

selalu berkilang di antara tanggal baik atau buruk

persis dirimu, aku hanya mengangguk diseret

petuah yang tak kukenal asal usulnya

seakan mengaduk logika di tengah peradaban kampung

yang asing

Tanah ini aku berasal

tanah itu pula kamu kembali

sebaiknya kita bungkuk dalam diagram upacara tanah ini

itu saja!

madura, 21 September 2021


Microphone Duka yang Mendalam

Kamis atau mendekati Jumat manis

perempuan desa menjumput matahari ke dalam pusara

tangis hangus diantar azan tandai pertemuan telah usai

magrib bergetar menyambangi kemboja

bekas al-burdah di telinga kanan-kirinya menyerapi

kaki yang makin keras seiring microphone

menyampaikan duka mendalam

Semua berdiri dalam sesengguk tangis

termasuk anak lelakiku yang dibesarkan

tak mampu mengulas

kata-kata telah diganti airmata

Engkau sudah besar sekarang, anakku

pesannya kemarin engkau jangan jadi sikintan

atau semacam legenda batu menangis

perempuan desa itu tak lagi kuat memeluk

bisikkan ke dalam lamunannya dengan segala cinta

yang dialirkan ke rongga napasmu

dialah perempuan yang menjaring matahari di tepi pagi

mengukus bulan tengah malam demi menuntaskan

ikhlasnya padamu

Anakku, perempuan desa itu tentu tak siap berujar

senyumnya tetap mengembang di antara batu nisan

ia mirip toor pekai dalam kisah malala yousafzai

yang meluluhlantakkan

Anakku, kini ia tak ingin diganggu

sendiri menyepi sembari memungut doa

dari jejak fajar yang hengkang

Madura, 23 September 2021


Rapuh Mencari Jalan Pulang

Cukup lama bersanding dalam ceritamu

satu kerinduan yang tak pernah berhenti

menikmati pendar bidadari lepas

dari kremasi rambutmu

setiap kisah yang kau sanggul

pasti kuaminkan sekadar berlama-lama

dalam penantian panjang

-satu ketulusan Audrey junicka pada papanya

Masih kau lanjutkan kisah melintasi tarian moyang

roma patobin[1] letih memikul usia dan hendak dipugar, tukasmu setelah

menjelang pukul sembilan malam

tak terasa tiga jam duduk kita tanpa makna

tak kutemukan jeda untuk mengunduh di mana hatimu

menyimpan namaku

kebiasaan yang kusesali dari setiap perempuan yang telah

berkembang wanginya; menyisakan kebencian mencorat-coret

dunia fana

Ini bukan semestinya, tulang rusuk yang kau pinjam

tempo lalu telah berganti warna

kau dibesarkan tanpa rasa malu dan mencuekkan

setiap rindu yang datang

praduga yang kubangun terkoyak gemuruh

dan rapuh mencari jalan pulang

hidup seperti menuju kematian

Di tanahku langit berkabung

menyematkan penyiksaan

udara menutup diri dari cahaya

lagi-lagi kutapaki traumatika dalam sepatah kata

;saatnya kodratmu meratapi penyesalan

Madura, 24 September 2021


Kematian Tanpa Kisi-Kisi

Kemarin siang engkau masih membelai rambut kedua anakku

menyisir nyanyian tumbuh di belantara usiamu yang hampir

60 tahun, tembang kancil dan romantika nina bobo kau putar

mendayung masa kanak entah mau dibawa kemana

petuah bersambung mengaitkan jiwa untuk berkunjung

ke peradaban yang agung

dipeganglah kedua jari anak-anakku seakan berikrar

untuk tetap hangat dalam angin dan dingin dalam perapian

Emak, jangan kemana-mana dulu

sebelum sajak anak-anakku tuntas menganugerahkan singgasana

kebahagian itu untukmu dan patut bersenggama dalam

wujudmu, aku tak mau lagi derita hurrem dan suleiman

mendiami petang dan terentang di sekujur mimpi

dan akhirnya terbakar tanpa abu

sia-sia menggebu

Kematian yang tiba-tiba

laksana terompah mimpi

pergi tanpa kisi-kisi

Kaget. Terjerat samper[2] bermotif cokelat menutup auratmu

kidung yaa sin berhamburan membalut kedua tangan yang lemas

tangis hancur membedah asar yang belum selesai

mengapa kau ciptakan mantra yang bisu ketika anakmu dan anak-anaku

meringkuk di ujung kaki

siapa yang akan menghapusnya, kata-kata hampa tertutup luka

senandungku hilang di atas gundukan makam yang menghadang

Emak, kami ikut berduka

di atas puisi yang mengentalkan jasadmu

kami telah melupakan dosamu

dan menyisipkan persaksian baik untukmu!

Madura, 26 September 2021


Kertas

Ingat secarik kertas

dirangkai mirip perahu

dalam hujan kita alirkan hajat

bersama perahu menderulah sungai-sungai

penanda kita akan dikekalkan

mata air suci semacam

Madura, 26 September 2021


Aku Diam Seperti Kronos

Dalam perihal ini perlu terus terang

aku hanya kuasa menggenggammu dalam mimpi

bukan dalam buntalan cinta yang mengambang

rasanya sulit dipaksakan untuk membawamu ke musim yang lain

sesuatu yang mustahil, matahari yang kehabisan sinar

kuganti redup dupa di tengah-tengah perselisihan 

adat kampung yang tak kunjung redam

aku dan kamu replika kromosom tua

yang takkan pernah ditulis karena tinta purna

untuk menyusun bait-bait purnama setelah siang

kehabisan kata-kata

Radeena, bisa saja kita bertemu di suatu meja makan

atau di mana pun tapi kondisi sudah tersuruk lesu

jamuan yang tadinya berharap jadi tumpukan reklame

khusus merekatkan hati justru menggigil satu persatu

meski wajahmu masih dalam dekapan mimpi

dan terkadang  kuimpikan kemarau untuk membajak

setiap lelaki yang ingin berteduh di bawah tidurmu

kau berupaya melesat meninggalkan lara

sayapku patah tak kuasa mengawan

Radeena, skenario yang kita unggah untuk menggores rindu

semula dingin-dingin saja, semenjak ibu-bapak menghangati cuaca

dengan sumpah yang ditandukan ke dalam dadamu

pelan-pelan kau bakar botulinum dan aroma sianida

ke dalam kisah Harold knapke-ruth yang haru

sejak itu kau memintaku diam seperti kronos

memakan cintanya sendiri

kerap tidak ada kabar yang engkau kirim

senantiasa aku gelisah menebaknya

            -kita masih pacaran atau mati tanpa pemulasaran

Andaikan toh aku mati dan jasad menyebutnya pahlawan

batu nisan takkan terima, orang-orang sekitar akan berbagi prahara

tak pantas seorang lelaki muda mati tanpa ekspektasi

tapi inilah keputusanmu, seperti benda padat yang tak bisa

menyeduhi bentuk bangun ruang

Madura, 30 September 2021


Suratmu Sudah Terpidana Mati

Dengan darah yang mencair

segera akhiri perjalanan musim semi”

membaca suratmu sore itu

otakku terbakar memori yang terpidana mati.

Mereka mungkin mengerti mengapa aku ingin

sekali menerjemahkan kedalaman sunyi

sejak kepergianmu tempo lalu banyak sekali

pertanyaan-pertanyaan yang tidak selesai

di meja jamuan, sementara dirimu terus berlalu

tanpa bingkisan jejak yang bisa kukenali

kucoba menuliskan surat lamaran

sekadar mengintrogasi pikiran

di mana sebenarnya engkau teduhkan sedih

tak jua ada tanda-tanda senyummu akan kembali

menyelimuti tubuhku

Madura, 30 september 2021


Joko Rabsodi, lahir di Pamekasan, 11 Juni. Santri yang mengabdi di SMA Negeri 4 Pamekasan, Madura. Karyanya terbit di beberapa media cetak dan daring. Antologi terbarunya, “Akatalepsia, 2021”.


[1]Sebutan rumah induk dari sesepuh juga dikenal tongguh

[2]Dalam bahasa jawa disebut jarik.

Cerpen

Yudistira Moksa

Cerpen Caligula Zaragyl

/1/ Judi Dadu

Yudistira bersama dengan rombongannya pergi ke Hastinapura untuk bermain judi dadu. Ia tak ingin kehormatannya sebagai raja dipermalukan. Apalagi tradisi zaman itu, etika kesopanan, kehormatan, keberanian juga terletak pada undangan bermain judi dadu. Yudistira yang seorang arip bijaksana pun juga sebenarnya dapat mengirimkan orang untuk menghadiri undangan itu. Namun, terlalu percaya dengan sikapnya yang arip bijaksana, merasa dapat memenangkan permainana judi dadu dengan mudah, apalagi kegemarannya bermain judi menjadi faktor utama untuk menerima undangan itu.

Duryudana menyambut rombongan Yudistira dan mempersilakan untuk beristirahat di balairung yang telah disediakan. Mereka dijamu dengan istimewa, segala aneka makanan ada, dan telah menyiapkan ratusan wanita penghibur. Keesokan harinya, rombongan Yudistira diantarkan ke balairung tempat bermain judi dadu. Ruangan yang sangat luas, seluruhnya dihiasi oleh permata yang berkilau, dindingnya tersepuh oleh emas, plafonnya terbuat dari kristal, lantainya penuh dengan corak unik, sekeliling penuh dengan lukisan tangan dalam bentuk bas-relief[1]yang menjelaskan keagungan dewa, karya mozaik dengan corak rumit, dan patung-patung berbentuk dewa. Mereka saling menyapa dan menempati tempanya masing-masing. Kurawa dan Pandawa saling berhadapan. Mereka segera ingin melihat siapa yang memenangkan judi dadu. Yama Widura, Bima, Sengkuni, Drona, Kunti, Krepa, Gendari, Dursasana, Citraksa, Karna, Citraksi, Kurawa dan Drestarata menjadi saksi permainan.

“Mari kita bermain judi dadu, Yudistira,” kata Duryudana.

“Bermain judi dadu menyebabkan permusuhan. Segala cara akan dikerahkan untuk mengalahkan lawan.”

“Apa yang salah dengan permainan judi dadu ini? Permainan ini hanya adu keterampilan dan keberuntungan saja. Semua orang dapat memainkannya.” Duryudana berusaha memancing Yudistira untuk bermain judi dadu. Ia ingin menguras segala kekayaan miliknya dan berusaha menyingkirkan Yudistira.

“Baiklah mari kita mulai permainan ini!”

Balairung penuh gemuruh penonton, segala makanan telah tersedia, dan wanita penghibur. Suasana semakin panas ketika dua pihak mulai meneriakkan caci maki. Duryudana mulai melemparkan dadu ke meja, berputar cukup lama, dan muncul angka seperti yang ia katakan. Yudistira semakin emosi setelah kalah bertaruh permata, emas, perak, dan barang yang dibawa ke Hastinapura. Ia berpikir untuk bertaruh lebih banyak dan berharap dapat mengembalikan taruhan yang telah kalah. Namun, nasib sial menimpa Yudistira, segala angka yang dikatakan olehnya tak ada yang keluar.

Duryudana tertawa terbahak-bahak. Ia telah memenangkan semua yang dibawa oleh rombongan Yudistira dan kerajaanya. “Mengapa tak mempertaruhkan saudaramu saja? Barangkali semua yang kamu pertaruhkan akan kembali lagi atau kamu akan memenangkan permainan ini!”

Yudistira terus didera kekalahan. Ia semakin tenggelam dalam tipu muslihat yang dilakukan oleh Duryudana. Nakula, Sadewa, Arjuna, dan Bima telah dipertaruhkan. Tak ada satu pun kemenangan yang diperoleh Yudistira. Semuanya telah habis untuk dipertaruhkan. Duryudana, Sengkuni, Karna, Kurawa, dan Dursasana tertawa mengejek. Mereka ingin melihat Pandawa sengsara. Duryudana dengan segala tipu muslihatnya berusaha mengambi semua yang dimiliki oleh Yudistira.

“Semua telah kamu pertaruhkan dalam permainan dadu ini. Kau sudah tak mempunyai apapun kecuali Drupadi! Jika kau mempertaruhkan Drupadi dan memenangkan satu permainan, aku akan mengembalikan semuanya! Ini tawaran yang luar biasa!”        

Rombongan Yudistira menundukkan kepala. Mereka tak tahu apa yang harus dilakukan. Yudistira telah gelap mata dalam permainan judi dadu. Ia semakin terpancing untuk terus bermain dan berusaha untuk memenangkan permainan. Namun, Duryudana tetap yang memenangkan permainan. Ia telah mengambil kerajaan, kekayaan, prajuritnya, empat Pandawa, dan Drupadi.

Duryudana pun masih tak puas melihat Yudistira kalah. Ia tak hanya mengincar semua yang dimiliki Yudistira, tetapi juga ingin menyingkirkannya. “Aku ingin empat Pandawa mati!” kata Duryudana. Ia mengambil tumbuhan vida[2] dan menusukkannya ke jantung Nakula, Sadewa, Arjuna, dan Bima. Mereka terkapar tak sadarkan diri. Tumbuhan vida itu tumbuh kelopak bunga berwarna merah. Setiap hari, bunga itu akan menyerap darah untuk sumber kehidupannya.

Yudistira hanya mampu menahan kesedihan. Ia tak bisa melarang Duryudana karena telah kalah taruhan. Pemenang bebas melakukan apapun terhadap barang, orang, atau hasil kemenangannya. “Kau dapat menghidupkan kembali saudara-saudaramu. Namun, kau harus mencari air suci untuk membunuh bunga itu. Jika kau mencabutnya dengan paksa atau memotongnya, saudaramu akan mati!” ucap Duryudana dengan nada mengejek dan sepersekian detik kemudian disusul oleh tawa terbahak-bahak dari Kurawa yang lain.

/2/ Moksa

Yudistira harus mencari air suci untuk menghidupkan saudaranya. Ia harus mendaki Gunung Candramurka yang dijaga raksasa, bernama Ruhmuka dan Rukmakala. Sepanjang perjalanan, Yudistira terus menyalahkan dirinya karena telah berbuat bodoh. Namun, penyesalannya tak akan pernah membuat semua kembali seperti semula, apalagi Dewata telah mencatatnya. Yudistira harus melewati sungai, lembah, tebing curam, dan di tengah jalan bertemu dengan burung elang yang mengigit Panca Kumala yang berbentuk ular. Ia ingin membiarkan saja karena merasa itu hukum alam. Semua hewan akan saling memangsa untuk bertahan hidup. Ketika melihat mata Panca Kumala lantas teringat dengan saudara-saudaranya yang sedang sekarat. Yudistira lantas mengambil ranting kayu, melemparkannya tepat di mata elang, hal itu membuatnya melepaskan mangsanya. Ia berlari untuk menangkap Panca Kumala.

“Terima kasih telah menolongku.”

“Siapakah kau sebenarnya? Apakah kau siluman ular?” Yudistira terkejut ketika mendengar Panca Kumala yang berbentuk ular dapat bicara. Ia tak pernah mengira bahwa ular yang ditolongnya adalah Panca Kumala.

Panca Kumala berusaha menjelaskan siapa dirinya. Ia mendekat ke Yudistira dan berkata, “Aku bukan siluman. Aku anak dari Batara Guru.”

“Tidak mungkin anak dari Batara Guru berwujud seekor ular!”

“Aku telah memakan buah nitya pralaya[3] dan dikutuk oleh Brahma menjadi seekor ular.”

Yudistira membawa Panca Kumala bersamanya. Mereka sampai di puncak Gunung Candramurka. Mereka telah dihadang Ruhmuka dan Rukmakala. Pertarungan tak dapat dihindari. Pertarungan terjadi tujuh hari-tujuh malam. Sampai pada akhirnya Yudistira dapat memenangkan pertarungan. Tubuh Panca Kumala berubah menjadi besar dan melilit tubuh Rukmakala sampai tak bernapas, sedangkan Yudistira dapat membunuh Ruhmuka dengan menghancurkan jantungnya.

Mereka lantas melihat ke puncak Gunung Candramurka, tetapi tak ada air suci, yang ada hanyalah magma. Yudistira menangis membayangkan nasib saudara-saudaranya yang sedang sekarat. Panca Kumala berkata, “Air suci itu hanya akan keluar pada naimittik pralaya[4].”

“Apakah itu artinya tak mungkin untuk mendapatkan air suci? Apakah saudaraku akan mati gara-gara kebodohanku?” Yudistira mendadak lemas dan menangis tersedu-sedu.

“Aku dapat memotong tumbuhan itu.”

“Aku minta tolong bantulah aku.”

Pada suatu malam, mereka menjalin tali asmara, dan hubungan intim yang mistis pun terjadi. Tubuh Panca Kumala kembali seperti semula. Kutukan itu dapat dihilangkan dengan cara hubungan intim. Ia kembali menjadi putri jelita yang mempunyai kecantikan dewi. Mereka menjalin hubungan suami istri. Hubungan berdasarkan saling suka, bersedia hidup bersama, dan itu menjadi syarat sah sebuah hubungan suami istri pada zaman itu.

***

Mereka menuju ke Hastinapura dengan waktu yang sangat cepat. Perjalanan yang seharusnya memakan waktu beberapa tahun, tetapi hanya memakan waktu satu hari. Hal itu berkat kekuatan Panca Kumala yang mempunyai kekuatan mengendalikan waktu. Sesampainya di sana prajurit Duryudana menghadang mereka. Panca Kumala langsung memporak-porandakan seluruh kerajaan Duryudana. Melihat keadaan tersebut Sengkuni ikut terjun ke medan perang, dan pada akhirnya kalah di tangan Panca Kumala.

Yudistira berteriak supaya Duryudana keluar dan mengajaknya berperang. Akhirnya terjadi adu kesaktian, segala ilmu telah dikerahkan, dan semua ketangkasan memainkan senjata dikeluarkan. Namun, segala serangan tak ada yang mengenai tubuh Yudistira. Dia seakan di atas angin sedangkan Duryudana telah babak belur. Ia ingin menghancurkan kepala Duryudana. Namun, Drupadi berlari tergopoh-gopoh dan berkata, “Jangan bunuh dia!”

“Mengapa tak boleh membunuhnya, Istriku?”

“Aku mengandung anaknya. Aku tak ingin anak ini menjadi yatim!” Drupadi mengelus-elus perutnya yang sudah membuncit.

“Apa sebenarnya maksudmu?”

“Aku mengandung anak Duryudana.”

“Bukankah kau masih istriku?”

“Suami macam apa yang sudi menjadikan istrinya sebagai barang taruhan. Pergilah ke balairung, saudaramu masih berada di sana!”

Panca Kumala terkejut dengan kenyataan yang ada di depannya, mengelus-ngelus perutnya, dan berusaha untuk tabah. Ia tak pernah mengira Yudistira telah mempunyai istri. Mereka akhirnya pergi ke balairung. Yudistira tertunduk layu melihat saudaranya yang telah terbujur kaku. Ia mulai memegang jantung Nakula, Sadewa, Arjuna, dan Bima. Mereka masih bernapas.

“Bagaimana aku harus memotong tumbuhan vida itu? Jika sembarangan maka saudaraku yang akan mati.”

Panca Kumala lantas  memotong taringnya, taring kanannya berubah menjadi senjata brahmanda astra, sedangkan taring kiri menjadi senjata nagapasham. Ia memotong tumbuhan vida dengan menggunakan senjata nagapasham. Seperdetik kemudian Nakula, Sadewa, Arjuna, dan Bima hidup kembali. Yudistira memeluk mereka dan meminta maaf atas kesalahannya.

Panca Kumala pun memberikan senjata brahmanda astra kepada Yudistira. Berharap jika ada mara bahaya dapat membantunya. Namun, Yudistira menghunjamkan senjata itu tepat di jantungnya. Ia berpikir bahwa kematian menjadi gerbang menuju kehidupan selanjutnya untuk menjalani penebusan dosa.

                                                Ruang Sang Hyang Widhi, 11 Januari  – 23 September 2021.


Caligula Zaragyl, berdomisili di Demak. Bergiat di Prosa Tujuh. Penulis dapat disapa melalui Instagram @khafidhinnur.


[1] Pahatan pada permukaan yang sedikit menonjol

[2] Tumbuhan penghisap darah

[3] Pohon kematian

[4] Hancurnya Alam Semesta

Cerpen

Sekuncup Bunga dalam Luka

Cerpen Reka DRamadani

Saya menjulai di atas punggungnya yang damai. Tercium oleh saya peluhnya yang basah. Semerbak seperti aroma khas mama ketika memeluk saya. Bahunya saya kecup perlahan. Ia telah terpejam seolah bayi yang baru beberapa saat terlahir. Saya kira ia kelelahan setelah semenit lalu saya menghentaknya begitu keras dalam adu cinta di atas ranjang hotel bintang lima. Di pusat kota.

Saya bangun sebentar, melepaskan himpitan pada tubuhnya. Kini ia tengkurap dengan bagian belakang terbuka. Berkilau indah diterpa lampu kamar. Saya menarik selimut dan menutup tubuhnya. Puspalita. Begitu namanya. Sekuntum bunga liar yang saya temukan di riuhnya Jakarta.

“Kau sudah tidur, sayang?” Saya bertanya sembari membelai rambutnya yang panjang sepinggul.

Sambil menggeliat kecil dan tetap memejamkan mata, Puspalita menjawab dengan malas, “Belum. Tentu saja belum.”

Kemudian saya pandangi wajahnya yang putih dan bangir hidungnya. Seperti wajah kanak-kanak. Dan bibirnya tipis. Alisnya lengkung sabit. Ia punya mata bulat penuh. Mengiris-iris dada bila ia tikam saya melalui pandangnya, terutama sewaktu bercinta. Serta pipinya kemerahan, yang semakin merah setiap usai saya ciumi.

Dengan wajah seperti itu, ditambah bentuk tubuh yang sempurna, Puspalita tidak hanya milik saya seorang. Ia milik semua lelaki. Siapa saja lelaki yang mampu membayarnya. Mengenai itulah saya risau dan galau tak sudah-sudah. Hati saya gundah oleh rasa yang sebenarnya tak pernah saya sangka. Ketika saya hanya ingin bermain-main dengan perempuan nakal untuk menyalurkan kenakalan, malah terjebak cinta.

Telah lama saya pendam rasa kepadanya. Untuk itu dua bulan terakhir saya selalu menyewanya meski beberapa kali ditolak. Kali ini perasaan saya tumpah. Saya merasa begitu khidmat dalam mencintainya dan tak ingin kehilangan sejengkal pun. Sesuatu mendorong saya begitu kuat. Meluap dan meledak tak tertahan. Saya ingin mendekapnya dalam dada dan tak ingin mengakhirinya.

Puspalita yang masih tengkurap saya pandu untuk bangun. Tangannya yang seperti porselen saya tarik lembut. Ia duduk di hadapan saya dengan dada dililit selimut. Matanya sayu, menatap saya syahdu.

“Aku mencintaimu,” kata saya spontan.

Puspalita membelalakkan mata sejenak. Sedetik kemudian bergema tawanya pada daun telinga saya. Ia terkekeh-kekeh sambil menepuk-nepuk jidatnya. Saya melongo keheranan. Mungkinkah ia telah mendengar hal yang sama dari ribuan lelaki?

Saya melanjutkan, “Kamu bisa berhenti dari pekerjaanmu saat ini dan menjadi istri saya. Kita bisa memulai hidup baru yang lebih baik.”

Sekali lagi, Puspalita hanya tersenyum tipis tak berserius dengan pembicaraan ini. Namun, saya mendesak. Saya ingin tahu jawaban darinya.

“Mari kita menikah.” Saya menatap matanya yang bulat bidadari itu dengan tajam. Puspalita membalas seperti biasa; tatapan yang selalu mengiris-iris dada saya.

Tiba-tiba ditepuknya pundak saya. “Masalahnya… masalahnya saya tidak mencintaimu,” jawabnya enteng bukan main.

Saya melongo keheranan untuk kedua kali. Benar-benar jawaban yang mengejutkan. Namun saya masih teguh.

“Saya tidak membutuhkan balasan cintamu. Asal kamu suka atau sekadar ada keinginanmu untuk menikah dengan saya, tak mengapa,” kata saya memastikan.

Perempuan di hadapan saya menggosok-gosok pelipisnya seperti sedang kebingungan.

“Itulah masalahnya!” Puspalita menatap saya dengan wajah paling meyakinkan yang pernah diperlihatkannya pada saya. “Saya tidak ada perasaan apapun padamu. Sekadar suka atau ingin menikah. Tidak keduanya.”

Saya tercengang. Hal paling gila dalam hidup saya seolah baru terjadi. Tetapi Puspalita tetap santai, seperti itu bukan apa-apa baginya. Sedangkan saya dalam beberapa detik harus mengutuhkan kembali kesadaran saya.

“Benarkah?”

Saya melihat Puspalita turun dari ranjang dan mencari pakaiannya. Ia hendak pergi. Dipunguti pakaiannya yang berserak di lantai. Lalu ia mulai mengenakannya satu-satu. Dari celana dalam, beha, kaus, dan seterusnya.

“Beginilah saya. Saya tidak ada perasaan apapun padamu. Saya kira kamu sudah tahu. Tidak ada alasan lain. Saya tidak mencintaimu, ya, karena saya tidak cinta,” katanya seraya mengenakan potongan terakhir pakaiannya.

Puspalita kembali mendekati ranjang dan merogoh tas miliknya. Ia sudah siap untuk pergi. Saya masih menatapnya dengan tak percaya. Ia pun menjadi iba. Terlihat dari matanya. Mata yang mengiris-iris itu.

“Lagipula pelacur seperti saya tidak mengenal cinta. Kami hanya mengenal kepentingan. Mana uang saya?”

Sekarang lain lagi. Membicarakan uang pandangannya berubah. Berbinar-binar bak kristal. Karena itu, meski perasaan saya tercerabut berderai-derai, saya memaksakan diri menggapai dompet di atas nakas. Jasa sudah usai dan datang tagihan. Saya keluarkan beberapa juta dan saya berikan padanya. Kemudian Puspalita berlalu melewati pintu setelah mengecup pipi saya. Ia meninggalkan saya di antara keramaian Jakarta, dengan tubuh telanjang bulat, di sebuah kamar hotel yang sepi. Saya tidak bisa berkata apa-apa.

Sintang, 2021


Reka DRamadani, gadis kecil kesayangan bapak yang senang membaca buku dan sedang merantau di Kalimantan Barat.

Puisi

Puisi Ilham Nuryadi Akbar

Tatkala Ruh Ditiupkan

sebelum kau berenang di badan perempuan

dan diselimuti dinding-dinding rahim

terlebih dulu kau berucap sepakat bulat

nun di alam ruh tempat segala muasal.

setelah kau siap untuk perpindahan

Tuhan menidurkanmu berpuluh-puluh hari

hingga jari-jemari, tulang serta daging berkelindan

menjadi wadah yang siap menjalani kehidupan.

tatkala ruh ditiupkan

sempurna-lah seluruh kejadian

kematian, perbuatan, kesengsaraan, kebahagiaan dan rezeki

menjelma janji-janji yang harus dijalani.

Bekasi, 30 Agustus 2021


Permintaan dalam Mimpi

barangkali, malam ini kau ingin bermandikan mimpi

menemui aku yang belum tentu menjadi kekasih

pada taman terhiasi bunga-bunga tujuh rupa

tempat dahulu, kau mematahkan janji.

jika kau tersesat

aku saja yang datang menghampiri

sebab alibi-mu laiknya ayat-ayat ketiadaan

pantang untuk berpulang

cepatlah, sebelum kita menjumpai rintik-rintik embun

serta matahari yang menyapa ruas-ruas ventilasi

agar pagi tidak menggema gaung sepi

dan malam tidak menjadi wadah untuk aku merenungi

Bekasi, 30 Agustus 2021


Aku Terluka Kau Tertawa

sapu tangan peninggalanmu

telah aku cuci

terbilas air mata

kering oleh luap jelaga

api kecemburuanku

mungkin ada baiknya

aku sobek menjadi dua

seperti diksi-diksi puisi

yang tempo hari

kau robek sejadi-jadinya

dendam itu abadi

abadi dalam hati

hati kini terluka

penuh retisalya

sedang kau, puas tertawa

Bekasi, 30 Agustus 2021


Dirimu adalah Celaka

sementara ombak belum menghantarkan batu-batu kecil

tulislah nama kita di pesisir basah

dengan kayu atau jari telunjukmu

dengan paku atau kau tidak mau?

mantra-mantra sudah aku ucapkan

agar burung-burung camar

datang menyederhanakan keinginan

atau kau masih ingin beralasan?

setiba di pantai kau nanar

seperti manusia gusar

bingung mendengung

apa kau sedang murung?

kau benar-benar jelmaan celaka,

tak pernah bisa aku selamatkan.

Bekasi, 30 Agustus 2021


Mengajari

setelah jarum dan benang bersenggama

aku akan menenun jala tua di lemari tua

setelah nirmala

ikutlah berpetualang ke sungai-sungai

menjala ikan, udang, bahkan pemikiranmu yang terhimpit

di celah batu besar.

bila terik semakin pirang

aku akan bergegas pulang ke kandang

sebab lambung pasti mengerang

mengingatkan jam makan siang

maka ikutlah ke tungku arang

menanak nasi, sayur, juga umurmu yang belum matang

di hari pernikahan.

Bekasi, 30 Agustus 2021


Hasrat yang Asat

kini ia hanya sibuk

menyulam hati di malam hari

dengan begitu hasai.

memantik api di puting obor

menuluhi cahaya pada temaram malam
sebatang kara tak ada yang meminang
sunyi ditimang-timang

hanya jelaga yang menyapa
tak ada renjana
tak ada yang memantaskan
tak ada pula yang ingin memperkosa

ia wanita yang telah terpasung

juga terasing

sebab menanggalkan masa-masa muda belia

memilih jantung hidup yang pantas bagi dirinya

hingga lupa, bahwa ia telah menjadi tua.

Bekasi, 30 Agustus 2021


Lelaki Hibernasi

tepat di kening malam,

partikel-partikel imaji terbang ke sarang pelangi

untuk memetik bunga harapan

diracik menjadi kenyataan.

tepat di siang hari,

seluruh imaji terbungkus di bawah kasur

mantra-mantra meluap dari dinding-dinding kamar

merindukan malam yang jaraknya tidak sedepa.

sementara itu,

seorang lelaki sibuk hibernasi

berteriak bahwa kekayaan akan hinggap sebentar lagi

namun riak-riak suaranya berbiak menjadi mimpi.

Bekasi, 30 Agustus 2021


Lekaki Jemawa

bumi bulat, sosialmu saja yang datar.

langit itu biru, hatimu saja yang hitam.

wawasan sangatlah luas, pemikiranmu saja yang sempit.

kebaikan sungguh ada, kejahatanmu tampak nyata.

tergugu tapi gemar sawala

kalut tapi tak sadar

sengaja jemawa demi bangga memamerkan dasi

tapi kau tergugu dalam bersulam diksi

Bekasi, 30 Agustus 2021


Ketika Para Lelaki

Suka Pada Satu Hati

aku adalah makna dan perumpamaan basi

hidup dari hal-hal yang dinujumkan

juga teori-teori gila

hingga semua yang bernyawa menuduhku

sebagai hambar paling ranum

acap kali sumpah serapah

dijadikan kotoran untuk menyertai wajahku

begitulah cara mereka menghadirkan hujan

untuk membasahi bunga-bunga mawar yang mulai layu

mensucikan pipi berdebu

serta lorong mata yang memasung pilu

perselisihan ini telah terjadi

semenjak perempuan berwajah lampion

berambut aspal dan berkulit awan

singgah di rumah yang jaraknya beberapa hasta dariku

seandainya kau yang diburu dapat mengetahui

bahwa ini adalah peperangan

kepada siapakah kau akan bersekutu?

Bekasi, 30 Agustus 2021


Tentang Hijrah

tanpa pernah berdoa ke dada-dada langit

setengah dunia telah kudapati

kendati hal itu menjadikanku berada

aku lebih memilih misteri

ihwah kisah silam

aku telah hidup dari puing-puing cerita purba

namun memilih mati sebelum orang-orang berkata:

dia adalah legenda

semua itu aku lakukan

demi bereinkarnasi menjadi masa kini

menembus dosa-dosa yang disengaja

menuju abadi di kebun surga

Bekasi, 30 Agustus 2021


Ilham Nuryadi Akbar, lahir pada 11 Februari 1995 di Banda Aceh. Buku pertama diterbitkan oleh Alinea Medika Pustaka berjudul Kemarau di Matamu Hujan di Mataku, puisi dan cerpennya telah banyak terangkum pada beberapa media.

Puisi

Puisi Dadang Ari Murtono

sehwalilanang

                sakit adalah hambaKu

                yang Kusertakan pada para kekasihKu

di atas buritan, ia kutip apa yang pernah ia ucapkan

pada sang putri, untuk dirinya sendiri, malam bulan gulita

negeri kafiri itu kian lamat, dan malaka masihlah jauh

ia ingin menoleh, seorang perempuan yang ia tinggali

benihnya – sembilan kali – berdiri mematung, menatapnya,

tapi ia tak menoleh

***

mungkin perempuan itu berkata, “jangan pergi,”

sebelum mengingatkannya tentang sebuah masa

ketika tuhan mengirimnya dari jeddah ke jawa,

ke pulau di mana surya siwabudha berkilau

dan ia terkenang sulbi subur itu, susu emas itu, lalu penyakit

yang sembuh oleh kata-kata, hanya kata-kata: bebaskan dirimu dari

bayang-bayang yang merusak, tak ada obat bagimu selain kekuatan

allah

“ingatlah nabi yang meninggalkan umatnya, ingatlah

allah mengasramakannya dalam perut seekor ikan,”

perempuan itu, bekas penyakitan itu, berkata

tapi ia bukan nabi

***

“ini hanya sulap,” ia dengar seseorang berkata,

mungkin sang prabu, mertuanya itu, atau sang patih

di atas meja jamuan, induk babi menguik dan ular sendok

melata, menyebarkan kentut dan memanjatkan syukur ke hadirat

allah yang mengembalikan mereka dari potongan daging sate

dan pepes

mungkin hanya perempuan itu, mempelainya, di ruang hajatan

yang mendengar ia berdoa, meminta tuhan mengirim peringatan

bagi kaum sesat yang merayakan pernikahannya

***

dalam tugur bulan gulita

ia cari apa yang keliru

siang harinya, sang prabu mempersembahkan

kinang sirih dan bunga kepada sebentangyoni perak

dan menyembah matahari terbit, meminta gunung

membuahi putri terkasihnya

“seperti firaun, prabu itu tak bakal tercerahkan”

dalam tugur yang sama

ia tak tahu apa yang membuatnya mesti pergi

: dakwah yang gagal, atau harga diri seorang lelaki

ia mengusap kainnya, lingganya masih berdiri

dengan ujung basah

***

“masuklah, seh,” nakhoda itu berkata

“angin malam tak baik bagi kesehatan”

ia memandang permukaan yang tenang

ia mengusap dadanya

ada sakit yang seperti tak bisa reda di sana,

bahkan oleh kata-kata yang pernah ia yakini


giri

angin tiba-tiba tak ada hari itu, hari di musim pancaroba yang ganas

ketika sebuah kapal menabrak seonggok peti yang terapung lalu terpaku

dan seorang bayi meringkuk di dalamnya, dan sang nakhoda memungutnya,

dan angin kembali berembus, tapi tidak ke bali ke mana semestinya kapal

itu menuju, melainkan kembali ke giri, ke mana kapal itu berasal, dan si janda

pemilik kapal, menjadi ibu tanpa getah susu

***

di blambangan, wabah belum berakhir

orang-orang kemasukan roh asing, dan tulang mereka membara

nyamuk berdengung sepanjang siang, mengirim balita dan lansia

ke negeri kematian

di keraton, nujum tentang seorang bayi yang akan

membakar kerajaan masih menggema

dan seorang raja mengingat tangis pertama cucu pertama

yang tak akan lagi pernah ia saksikan parasnya

telah ia tilasi cerita dari sebuah kitab

untuk memasukkan bayi itu dalam sebuah peti

dan melarungnya ke samudra luas

***

dua belas tahun kemudian, di ampel,

sang sunan menyimak laporan telik sandinya

“setiap pagi, tanah giri mendekat ke surabaya

dan setiap malam, tanah surabaya merapat ke giri

dan santri giri melompat, melompat kecil belaka,”

***

demi kitab-kitab, santri giri pada usia 16

pergi ke mekkah, dan kapal menyinggahkannya di malaka

di mana ia bertemu sehwalilanang

(dan paras mereka begitu mirip)

di mana ia mendapat wejang bahwa segala kejayaan

dan kekejian ada dalam alquran, dan apa yang ada dalam quran

ada dalam alfatihah, dan apa yang ada dalam fatihah ada

dalam bismillahirrahmanirrahim dan apa yang ada dalam basmalah

ada dalam ba dan apa yang ada dalam ba tersurat dalam

tanda titik di bawahnya

“putraku,” seh itu berkata, dan hatinya tergetar, seperti

ia dengar suara bapa yang tak pernah ia ketahui,

“sesungguhnya manusia tidur, dan terbangun ketika mati”

esok harinya, seh itu memberinya sebongkah tanah

dan menyuruhnya pulang ke jawa

***

sebongkah tanah pernah hilang dari giri

dan kini ia kembali bersama santri giri

dan tahun-tahun berlalu

dan sebuah pondok berdiri di giri

dan si santri telah menjadi sang sunan

dan kepadanya, orang-orang jawa, sunda, bugis

hingga ambon dan ternate, datang memohon ilmu

“beliau khalifatullah, dan giri memanglah negeri islamjawa”

***

di majapahit, brawijaya bermimpi tentang pulau-pulau

yang dijalin laut dan selat dan samudra, dan bukan dipisahkan

dan ia terbangun

darah akan mengalir

ia tahu

ia bakal kecewa

ia tak tahu

dan ia kirim sang mahapatih ke giri

tepat ketika sang sunan menyalin ayat dengan kuas

yang beberapa menit kemudian bertintakan darah

dari para penyerang yang kalah

dan begitulah kita, secara harafiah, mengerti bahwa

pena lebih tajam ketimbang pedang

***

segera sesudahnya, sang sunan membuka pintu

dan mendapati hari tak ada lagi

sulung dari sepuluh putranya

menyusul ke rahmatullah begitu diinjaknya

karpet khalifatullah

“gusti telah memilih cucu kanjeng sunan,

begitulah, begitulah”

***

sang cucu, kita menyebutnya sunan giri prapen,

kabur ke arah laut hari itu,

membiarkan orang-orang majapahit menodai

makam leluhur yang namanya ia ambil

sebelumnya, ia dengar amarah itu,

“ia bukan sunan yang mengusir kita dengan sebuah kuas

belaka, meski sebutannya mirip, mirip semata”

ketika nisan diangkat oleh sepasang juru kunci yang lumpuh

ribuan kumbang terbang menyerang, meluru dan memburu

serdadu majapahit, menciptakan tudung malam dan merenggut

matahari buda siwa dari negeri para penakluk itu selamanya

dan sepasang juru kunci itu, yang tiba-tiba sehat kedua kakinya,

sesaat sebelum menyusul sang junjungan ke arah laut, mendengar

seorang serdadu berteriak, “ia pernah mengalahkan kita dengan pena

dan kini dengan kumbang yang berasal dari huruf-huruf”

***

hari sedang senja ketika sunan muda itu tiba

dan menyaksikan puing serta abu

– hanya puing serta abu –

tapi ia tidak bahagia

ia tahu, dari lintang kebiruan yang jatuh di beringin barat halaman keputren

bahwa akan tiba masanya, tak lama lagi,

seseorang dari mataram bakal menaklukkannya

dan tak akan ada pena yang menyelamatkannya, juga huruf-huruf

“sebab pada waktu itu, seseorang yang lain

sedang menyiapkan mereka untuk menyusun sebuah kitab

agung, kitab berisi jalan kejayaan dan kekejian,

kesucian dan kecabulan

: suluk tambangraras”


perang

                bagaimana sembuh dari asmara, kecuali dengan perang?

“sanggama ini, dinda, begitu menyilaukan, begitu langka

dari batas ke batas, maut mendekapku, sebab kau hawa

dan aku tanah, maka di sinilah aku, dikurung lelah dan pahit

dan kita, hanyalah petugas dari peperangan dan birahi jawa”

lelaki itu menggumam, selasakliwon, setelah seorang ratu

dengan kuasa tak terperi kabur dari ranjangnya sebelum azan subuh,

hanya sedikit wangi melati tersisa di sprei kusut, juga nafsu yang perlahan susut

di keraton yang jauh, samar dalam hitamnya samudra padma merah,

sang ratu mengulang khaul, “tak bakal hilang keperawananku sebelum dunia

masuk ke kali yuga, dan bahwa telah kupilih raja islam paling rupawan, paling perkasa

sebagai kekasihku, juga turunannya, segenap penggantinya hingga akhir zaman”

***

siang harinya, lelaki itu, sultan para sultan, berdiri di atas permadani pasir hitam

menggelar tarung macan di alun-alun utara, di halaman selatan ia perintahkan

para punggawa memainkan adu biji kemiri dengan hukum sembelih bagi siapa

yang berlaku curang, sebuah masjid berdiri gagah di sisi barat, sekadar

berdiri dengan gagah, sebab ia lebih suka pergi ke mekah dengan pikirannya

setiap pekan menunaikan salat jumat

dengan kain putih biru, sorjan beludru hitam bermotif daun emas, serta kopiah

dan tongkat kayu pertanda kesalehan, ia titahkan adiknya, ratu pandhansari,

untuk mengirim serdadu ke giri

“sebab mereka begitu sombong, dan penguasanya merasa diri sebagai khalifatullah

tapi aku, sultan agung, tidak mengenal kalifah atau hubungan saudara, maka

sertai suamimu, pangeran pekik yang pengecut, untuk memerangi mereka”

***

menjelang subuh, pangeran dari surabaya itu tiba di giri

tepat ketika sunan prapen beserta santrinya mendaraskan ayat-ayat

alfalaq; katakanlah, aku berlindung kepada tuhan yang menguasai subuh

dari kejahatan makhluknya

hujan berat lebih dulu bertandang

dalam kilatan cahaya kilat, sang pangeran bergidig menyaksikan

bayangan bersimpuh di samping sang sunan

“namanya endrasena, china muda nan pilih tanding

putra angkat kanjeng sunan

dan ia tak gampang digertak”

***

“ini hanya persoalan duniawi, ayahanda,”

jayengresmi, putra mahkota giri itu, berkata

“dan kudengar segala keagungan, segala kemashyuran

ada dalam diri sultan dari mataram, maka sebelum setetes darah tumpah

kenapa kita tidak tunduk?”

sang sunan bergeming

udara dingin

dan sang putra mahkota tahu kemana ia mesti pergi

“endrasena,” sang sunan menurunkan titah

“sendika, ayahanda, kehendakmu jadilah”

maka begitulah dua ratus laskar dengan berteriak

yudhailahi dan pedang dengan gagang berukir asma allah

mengirim takut dan maut ke serdadu surabaya

“malam keburu tiba ayahanda, sebab kalau tidak,

sudah kami ringkus pangeran pekik, dan kami arak ke mataram

hingga perang ini berakhir dengan terhormat,” lapor endrasena

malam itu, di giri, zikir dan syair mengalun merdu

***

kala yang sama, bentang yang sama, merangkul duka

dan suka bersamaan, dalam dekapan pandhansari, pangeran

pekik menumpahkan airmata, juga sesal, juga malu, juga ketakutan

akan beban perang yang ia panggul

“bersabarlah pangeranku,” ratu itu berujar, “biar kubenahi

apa yang tidak bisa kau menangkan”

maka keesokan harinya, seusai sanggama terputus pukulan gong

ia nyalakan harga diri serdadu surabaya, dan dengan rambut berkibar

ia pimpin pasukan yang marah itu

di palagan, ia buntungi endrasena dengan bedilnya: mulanya tangan kanan

lalu tangan kiri, lalu kaki kiri, dan ambruklah sang naga china

sebelum tubuh lumpuhnya dihujani tombak, endrasena meraung

“ini jihad kecil belaka, ratu, dan kita belum pula menempuh gurun roh serta

jurang raga, kemenanganmu bukan penyingkapan ilahi

dan kematianku tak juga pengungkai dunia kegaiban, ini mula jihad besar belaka…”

tubuhnya luluh, seakan larut dalam sanggama agung dengan perempuan pertiwi


pengembaraan

1/ memasuki suluk, hilang dari pandangan suluk

di gunung itu, jayengresmi menyaksikan lidah api

dan ia mengerti tubuhnya membara

lalu suara; bersabar dan kuatlah putra wali

sebab segala kotoran perlu dibasuh

dan tak ada pembasuh yang lebih baik dari bara api

ia tak tahu kemana mesti menuju

ia tak tahu ia telah memasuki suluk

sendiri

sembari meratapi sepasang adik

yang tercebur ke jurang dalam

menghilang dari pandangan suluk

diiringi santri buras

2/ gathakgathuk dan ki purwa

dari sesuluran merambat bunyi

dan dua dugal keluar mengecup kaki jayengresmi

“nama kami gathak dan gathuk

dan seperti yang tersuratkan, kami hambamu belaka”

sekian hari kemudian, pada suatu magrib

mereka menyaksikan api dari gerbang yang mengurung langit

dan puing keraton, dan akar-akar gantung, dan kolam,

dan bunga-bunga

mereka mendengar tembang cangkang kerang

sewaktu bersuci dalam kolam, dan sebuah embusan muram,

setelah tiga rakaat, membimbing mereka ke candi bata susun tiga

di mana sebilah pedang menantang langit di pucuknya

seorang juru kunci menghidupkan tembang dan menyalakan kandil

lalu menyengkelah pisau dan mengepras kepala boneka yang lantas berdarah

“namaku ki purwa, penjaga apa yang tertinggal dari majapahit

dan kukorbankan boneka-boneka itu sebab budha benci persembahan manusia”

malam itu purnama raya, dan ki purwa bercerita tentang bajangratu,

seribu langkah dari situ, di mana sesiapa yang melihatnya bakal hilang

akal dan arah

“tapi aku mencari adikku, dan tak butuh hilang akal dan arah,”

jayengresmi berujar, sebelum memilih mata angin

3/ ratu mas trengganawulan

seusai gempa yang sementara

seorang perempuan yang tersakiti tembang dan sajak,

dengan telanjang dan rambut terurai

menyongsong jayengresmi

“tapamu, duafa luhur, melekatkanmu pada allah

sekaligus merapatkan bencana pada rakyatku”

ia, yang kemudian kita tahu berasma ratu mas trengganawulan,

berujar dengan bibir gemetar

dan ia ajar sang pangeran giri tentang tanda-tanda

kaok gagak, berkah kera keramat yang dianggap bijaksana

oleh kaum nabi dan wali, serta cerita tentang hutan bagor

“tak sanggup aku menerima kesempurnaan ajaran rasul,

sebab aku putri brawijaya, dan budha memberkahiku kuasa

mengatur hutan ini, juga sendang yang kunamai sugihwaras”

juga kalangwan, syair yang mampu menyelamatkan para hina,

mengangkat jiwa pendarasnya dan melarutkannya dalam samudra keindahan

“deminya jiwaku, namun bagiku, siwa menggantinya dengan kicau

burung selangit, dan segala syair kini hanya mengisi hatiku

dengan kesedihan”

menjelang pagi, semak-semak terlepas, ratu mas trengganawulan

tak lagi berbekas, dan ekor seekor kera menyentuh kaki gathakgathuk yang baru

bebas dari mimpi yang lekas

4/ ki wisma, ajisaka dan muhammad, dan penyihir yang tersihir

barangkali hanya dalam cerita ki wisma, ajisaka dan muhammadal mekkah

adalah dua muka keping tembaga, utara dan selatan, siang dan malam, laki-laki dan perempuan,

ying dan yang, senasib sehakikat, sepasang yang terikat

awalnya, seekor raja naga sekarat lantaran orang kehilangan iman kepadanya

dan seorang lelaki miskin, kikures, menghadiahinya semangkuk susu setiap hari

dan sang naga mengganjarnya setahi emas setiap kalinya,

hingga si putra orang papa yang durhaka,

suatu kali berlaku licik dan mati, dan istrinya yang bunting melahirkan anak tanpa bapa

tapi naga itu berkata, “ia putraku belaka, dan ia bernama aji, artinya penyihir, dan kelak

ia akan pergi ke barat, ke mekkah, untuk berguru pada lelaki rupawan bernama muhammad

dan ia bakal bersaudara dengan abu bakar, dengan umar, dengan usman, dengan ali,

hingga suatu kali, ketika wabah menyerang jazirah arab, malaikat yang agung menculiknya,

membawanya ke atas kealiman, ke aras ilahi, tersembunyi di saka guru masjid akbar

tepat ketika muhammad menunaikan salat

dan begitulah berakhirnya guru murid, berganti hubungan yang setara belaka

dan tuhan mengirim seorang bersebut setia untuk melayani muhammad

dan seorang berjuluk setuhu untuk mengabdi pada aji, ajisaka

dan akan tiba suatu masa ketika ajisaka beserta pengiringnya tiba

di medangkemulan, menaklukkan raja para pemangsa bernama dewatacengkar

dengan sehelai surban, sehelai saja, yang melingkupi 5/3 tanah jawa,

dan bertuliskan 20 aksara yang membentang tiada habisnya,

menampung segala ilmu, yang dihargai maupun yang tidak dihargai,

yang telah dan bakal ditemukan

dan setelahnya, seperti yang tertulis dalam kitab-kitab, akan ia kirim

setuhu untuk memungut keris yang tertinggal di mekkah, di mana muhammad

sang nabi telah memerintahkan setia menjaganya hanya untuk diambil kembarannya

belaka, dan begitulah dua abdi itu berkelahi, lalu sama kembali ke alam keabadian”

dan barangkali hanya dalam cerita nyi wisma, ajisaka yang linglung pangling pada

naga bapanya, dan membunuhnya dalam suatu perburuan, sebelum dilihatnya

seorang perempuan bernama rarasati, lalu jatuh birahinya, lalu keluar biji maninya,

dan keluar pula sari sang perempuan, yang keduanya segera ditelan seekor ayam katai

“ajisaka sang penyihir, tersihir oleh cinta, lalu dikutuk malu dan lingganya layu”

namun karena ki wisma adalah penganut budha yang taat, penjaga medangkemulan

yang hanya muncul sewaktu kaki bromo tersungkup kabut, dan ia memberi jayengresmi

beserta gathakgathuk nira serta ketela juga air wudu yang mengucur dari tebasan

 dahan jembul, maka kita mesti percaya apa yang diucapkannya

setidaknya, begitulah sang suluk bercerita

5/  seh siti jenar

seekor anjing buduk, sembari mengusap kerak koreng

dan membatalkan wudu pangeran giri, menggonggong tentang hakikat

yang tak bisa diselaraskan dengan syariat meski hakikat tak akan

memancar tanpa syariat, dan syariat mengalir dari hakikat,

juga tentang surga yang tak berisi kali susu dan madu, melainkan

perjalanan tanpa henti belaka, dan kebangkitan kembali yang tidak

berasal dari kubur dan ditandai tiupan sangkakala, juga cinta yang bukan

ikatan, melainkan kemabukan

ia pernah menjadi manusia sebagai abdul jalil, sebelum berbuat

dosa dan dikutuk menjadi cacing, lalu tersuruk ke dalam sebongkah tanah

penambal perahu, tepat ketika sunan bonang mewedar ilmu manusia semesta

kepada kalijaga, “jagad semesta adalah orang besar, dan manusia adalah jagad kecil”

tapi ia, sebab pernah menjadi cacing, adalah yang selalu dipinggirkan,

maka ia bangun pusat di pinggirnya, dan seorang aulia turunan brawijaya

menimba sekaligus menuang ilmu pada sumurnya, “ia berkata,” katanya, “bahwa kilat

yang terkurung di pintu gerbang, yang ditangkap ki ageng sela, adalah lingga siwa

dan kukatakan kepadanya bahwa petir-pelir itu adalah nur allah, cahaya di atas cahaya

untuk membimbing siapa-siapa yang ia maui”

namun walisanga, yang terusik kekondangannya, menangkapnya pada suatu hari,

dan mengganjarnya hukum penggal, dan dari leher yang koyak, mengalir darah putih belaka,

dan mereka meletakkan jasad itu di atas kafan yang memancarakan lima warna

setiap malam menjelang serta menguarkan seribu wewangian

begitu banyak keajaiban mesti dikaburkan, maka mereka letakkan bangkai

seekor anjing kudisan di atas kafan itu, dan keesokan harinya, mereka gantung bangkai itu

“kalijaga,” katanya, “yang suci itu, kau tahu, berkata padaku bahwa segala perkataanku

benar belaka, namun kata-kata kekasih yang terlalu masyuk mesti dibungkam,

dan beginilah aku, sebagai seekor anjing kurap”

petir menggelegar; meniru ki ageng sela, gathakgathuk mengucap gantri berkali-kali

dan jayengresmi melihat bagaimana anjing itu pudar, juga bayang samar masjid demak

hujan turun, namun tak mampu membasahinya

6/ ki karang

di bekas tapak kakinya, bunga-bunga tumbuh dan mekar

di kanan kiri jalan yang ia tempuh, pohon-pohon merundukkan buah segar

tapi ia tahu, dari cerita orang lama, bahwa ia tak boleh menjamahnya

“jalan masih jauh, puncak gunung salak masih jauh

dan pengganti putra yang hilang menunggu di sana, mungkin dalam jenuh”

dan di sanalah, di balik tirai sawit,

menunggu jayengresmi, dan kata-kata tak lagi bermakna

; guru menemukan muridnya, bapa menemukan anaknya

lalu sebuah perjalanan tak terceritakan

menuju karang yang mengapung di selat sunda, ia, yang karenanya disebut ki karang

mewedar hakikat perahu, nelayan, dan laut tak bertepi

; bukan yang terlalu banyak berhitung yang bakal sampai ke pantai,

melainkan yang mengenali dirinya sendiri, mengenali keluasan samudra ilahi

7/ kembali ke dalam suluk

dengan dua keping tembaga china dari si cantik rara suci

santri buras mengiringi jayengsari dan rancangkapti

keluar dari jerat jurang, kembali ke dalam semesta suluk

di mana mereka bertemu sepasang saudagar dari blambangan

yang tak berputra

“akan kau temukan kakang kalian, jayengresmi,” saudagar itu, kihartati

berujar, dan si nyai, menyingkap rahasia sanggama kepada rancangkapti

sebelum mati keesokan paginya, dan seratus hari kemudian, seperti semua

cerita cinta sejati, menyusul kihartati, meninggalkan sepasang anak yang belum

ia kenal betul perangainya, sepasang anak yang menyedekahkan segala warisan

dan kemudian, beserta buras dan dua keping tembaga china

kembali menyusuri suluk, yang entah kapan sampai

pada tembang terakhir


Dadang Ari Murtono, lahir di Mojokerto, Jawa Timur. Bukunya yang sudah terbit antara lain Ludruk Kedua (kumpulan puisi, 2016), Samaran (novel, 2018), Jalan Lain ke Majapahit (kumpulan puisi, 2019), dan Cara Kerja Ingatan (novel, 2020). Buku Jalan Lain ke Majapahit meraih Anugerah Sutasoma dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur serta  Penghargaan Sastra Utama dari Badan Bahasa Jakarta sebagai buku puisi terbaik Indonesia tahun 2019. Buku terbarunya, Cara Kerja Ingatan, merupakan naskah unggulan sayembara novel Basabasi 2019. Ia juga mendapat Anugerah Sabda Budaya dari Universitas Brawijaya tahun 2019. Saat ini tinggal di Yogyakarta dan bekerja penuh waktu sebagai penulis serta terlibat dalam kelompok suka jalan.

Cerpen

Kenangan Pohon Srikaya

Cerpen S. Prasetyo Utomo

Pohon srikaya itu tumbuh miring. Batang kecil ramping menjulang, dahan bercabang-cabang, ranting lentur bergelayut, daun-daunnya jarang, lembing membujur. Buah-buahnya tak pernah surut bergelantungan, dengan kulit benjol dan bersisik. Buah srikaya masak yang terlambat dipetik digerogoti codot, tinggal separuh. Berkali-kali, menjelang senja, Dewanti menerima kedatangan seorang nenek yang menghampirinya di pelataran, meminta buah srikaya yang ranum, kulit bermata banyak, hampir rekah. Nenek itu tak diketahui tempat tinggalnya, seperti datang dari tempat yang terselubung kabut, ramah, penuh perhatian, dan berlimpah kasih sayang. Selalu kembali terulang, bila nenek memetik buah srikaya, menyempatkan bercerita: dulu keluarganya memiliki kebun srikaya, yang kemudian  dijual suami. Ia masgul, semua  pohon srikaya ditebang pembeli lahan.  

Bila nenek tak datang, Dewanti memetik buah-buah srikaya dan meletakkannya di piring buah besar, bersisian dengan pisang, jeruk, dan jambu air. Dua atau tiga hari buah srikaya itu masak, harum, manis, dan lembut di mulut. Dia memakan srikaya dengan menyisihkan biji-bijinya, menikmati daging-daging yang tipis, putih dan harum. Ia  teringat akan Ibu yang  menanam pohon srikaya di pelataran, berhimpit dengan  garasi mobil.   

Seminggu setelah menikah, Dewanti menempati rumah baru. Pada mulanya Dewanti tak suka pelataran rumahnya yang sempit ditanami pohon srikaya. Begitu pohon srikaya tumbuh dan berbuah, mengundang seorang nenek dan tetangga untuk memetiknya. Dewanti mulai paham, buah-buah srikaya yang bergelantungan sepanjang tahun ini disukai banyak orang.

***

KisahIbu  semasa gadis dulu tak pernah dilupakan Dewanti. Ibu memetiki buah-buah srikaya di kebun usai subuh dan menjualnya ke pasar, sebelum berangkat sekolah. Buah-buah srikaya itu ditanam Nenek, yang kata Ibu, meninggal dunia ketika Ibu berumur sepuluh tahun. Semasa hidup Nenek, mengajarkan pada Ibu agar merawat pohon-pohon srikaya, memetiki buah-buahnya yang ranum, dan menjualnya ke pasar. Dengan menjual buah-buah srikaya, Ibu tak perlu mengutuki Kakek, yang tak pernah memberi uang untuk keperluan sekolah.

Sesekali Ibu mengisahkan lelaki muda tampan bernama Parto, dengan sepeda motor baru, menggodanya di jalan. Hampir tiap hari Parto mengganggu Ibu, yang berjalan kaki ke sekolah. Ibu tak pernah tertarik pada Parto, yang tidak hanya menggodanya, tetapi juga merayu gadis lain. “Jadilah kekasihku! Kau tak perlu jualan buah srikaya!”

Tak sekali pun Ibu memberi hati pada Parto. Sepertinya Ibu menyimpan kepedihan tentang kebun srikaya, yang kemudian dijual Kakek  pada orang tua Parto. Kebun srikaya itu ditebang  habis, dijadikan lahan pembuatan genting dan batu bata. Menahan rasa sedih, Ibu bercerita tentang penjualan kebun srikaya itu, karena Kakek kalah judi. Dewanti merasakan Ibu menyembunyikan kegetiran perasaannya, dan kehilangan mata pencahariannya. Ibu mencari daun-daun pisang klutuk di sepanjang lereng tanggul sungai, yang tumbuh liar, dan tak pernah dijamah siapa pun, untuk dijual ke pasar.

**

Duduk di teras rumah, semasa gadis, Dewanti memandangi pohon-pohon srikaya dengan buah-buah yang bergelantungan. Ia masih saja bimbang, apakah ia akan menerima lamaran Anto, putra Pak Parto. Bukan hanya karena orangtua Pak Parto membeli kebun srikaya keluarga Kakek, dan Ibu kehilangan mata pencariannya untuk biaya sekolah. Tapi Pak Parto pernah  menjadi atasan Bapak di kantor, dan Ibu mengeluh pada Dewanti, “Pak Parto itulah yang selalu menggeser posisi ayahmu. Kedudukan ayahmu selalu buruk. Lihat, kita tinggal di rumah yang sederhana, hidup dengan getir. Bagaimana mungkin kini kau menerima lamaran anak lelakinya?”

“Apa kejahatan itu menurun dari orangtua pada anaknya?”

Ibu terdiam. Lama. Memandangi Dewanti dengan merenung. “Aku tak ingin kau hidup menderita.”

“Doakan saya bahagia.”

“Kalau ayahmu masih hidup, mungkin akan berpendirian sama denganku,” kata Ibu. “Coba, kenalkan dia pada Ibu.”

***

Takada hal yang menyebabkan Ibu menolak Anto. Ibu merestui Dewanti menikah dengan Anto, seorang dokter muda. Dalam pandangan Dewanti, yang diam-diam selalu mengamati Ibu, tampak bahwa Ibu berkenan menerima Anto. Dewanti tinggal di rumah baru Anto, dan pertama kali yang dilakukan Ibu adalah membeli pohon srikaya, menanamnya di pelataran rumah.  

 “Pohon ini akan berbuah sepanjang tahun,” kata Ibu, ketika melepas Dewanti tinggal di rumah baru. “Sirami dia dengan sepenuh cinta. Biar dia berbuah. Syukur suamimu suka pada buah srikaya yang kutanam ini.”

Menempati  rumah baru yang cukup luas, Dewanti merasakan halamannya sempit. Ia mencoba memahami Anto, suaminya, seorang dokter muda, yang sibuk dan selalu pulang malam. Tiap sore ia selalu menyiram bunga-bunga di pelataran. Tak lupa menyiram pohon srikaya yang kini buahnya mulai bergelantungan.

Sesekali Dewanti melukis, mengisi waktu senggang. Selalu ada gagasan yang memikat. Sepulang memberi kuliah, ia tak mau kesepian seorang diri, memasuki ruang studio, dan melukis—sebuah kebiasaan yang dilakukannya semenjak kecil. Ia memiliki kanvas linen, easel aluminum, palette, pisau palette, kuas, cat minyak dan turpentine yang selalu memberinya kesuntukan melukis. Ingin sekali dia melukis pohon srikaya saat nenek memetik buah-buah yang bergelantungan rekah, masak, dan beberapa di antaranya ranum.

Ia lebih suka melukis bunga-bunga anggreknya: aneka warna, selalu bermekaran, berhari-hari masih mekar dan segar. Nenek yang memetik buah srikaya itu belum menggugah hasrat melukisnya.

***    

Sepulangdari kampus sore itu Dewanti tercengang. Pohon srikaya sudah ditebang empat orang tukang batu, yang bekerja memperluas garasi, agar bisa dimasuki dua mobil.  Anto pulang dengan mobil baru berkilau.

“Ini untukmu. Hadiah ulang tahun,” kata Anto penuh kebanggaan. Diserahkan kunci sedan sport merah seperti yang selalu diceritakannya.

Tubuh Dewanti bergetar. Ia tak bisa mengungkapkan rasa marahnya pada suami. Pohon srikaya yang ditanam Ibu, yang selalu bergelantungan buah-buahnya, ditebang begitu saja. Ia merasa bersalah pada Ibu, yang memiliki kenangan masa silam dengan pohon-pohon srikaya. Ia juga merasa berdosa pada seorang nenek yang senantiasa datang menjelang senja untuk meminta buah-buah srikaya matang dengan wajah berbinar-binar.  

Ketika tebangan pohon srikaya itu dibawa pick-up dengan batang pohon lain dan gundukan tanah yang harus dibuang, Dewanti ingin mengambilnya dan menanam kembali. Pohon srikaya itu layu, dengan buah-buah yang masih menyatu dengan tangkainya, sebagian sudah waktunya dipetik. Tentu nenek yang selalu datang menjelang senja, berjingkat memetik buah srikaya, akan sangat kecewa, bila tahu, pohon itu sudah ditebang.

Dewanti memasuki studio lukis. Ia mengembangkan ilusi tentang wajah nenek pemetik buah srikaya. Wajah yang keriput, menampakkan mata yang bening, berbinar-binar, dan menjelang pulang, mengucapkan terima kasih dengan santun. Nenek berjalan pulang dengan langkah tenang, melintasi gang dalam remang senja. Dewanti tak pernah mengerti tempat tinggal nenek pemetik buah srikaya.  

Dewanti mulai melukis. Sosok nenek dengan buah-buah srikaya bergelantungan begitu jelas pada benaknya. Dilukisnya pohon srikaya, dua belas buah di ujung-ujung ranting, kemudian nenek dengan wajah berkerut dan mata jernih, berjingkat, bertumpu pada ujung-ujung jari kaki, memetik buah srikaya masak. Ia melukis nenek dan pohon srikaya justru ketika pohon itu ditebang dan sebagian pelatarannya  berkurang untuk memperluas garasi dengan mobil sedan sport merah di dalamnya.

***

Gerimistipis menjelang senja, nenek yang biasa datang memetik buah srikaya mengetuk pintu. Ia tak berpayung. Dewanti membukakan pintu ruang tamu dan tercengang melihat nenek itu datang membawa pohon srikaya kecil di tangannya.

“Tanamlah! Kusemaikan biji srikaya, dan kupilih yang tumbuh paling subur.”

“Di mana mesti kutanam?”

“Carilah celah kecil di pelataran. Pohon ini akan cepat tumbuh dan berbuah.”

Masih tercengang Dewanti ketika nenek meninggalkan teras rumahnya. Tanpa payung nenek itu menembus gerimis tipis menjelang senja. Dewanti mengamati lantai teras yang dipijak nenek. Mestinya lantai itu basah tergenang air gerimis yang menetes dari tubuhnya. Tapi lantai teras tempat berpijak nenek tampak kering. Tak setitik pun air menetes di lantai teras. Dewanti memandang ke arah tubuh nenek yang meninggalkan rumahnya. Tubuh nenek sudah tak kelihatan sosoknya.

***

Ibuberkunjung kerumah Dewanti. Melihat  garasi baru, mobil sedan sport merah berkilau, dan pohon srikaya kecil pemberian nenek yang ditanam Dewanti di pelataran yang sempit. Tak sepatah kata pun Ibu mempertanyakan pohon srikaya yang sudah ditebang. Ketika Ibu melihat Dewanti menyelesaikan lukisan nenek memetik buah srikaya, tercengang. Mendekat. Mengamat-amati lukisan itu tanpa berkedip, meraba pelan, dan bertanya lirih, “Bagaimana mungkin kau bisa melukis nenekmu memetik srikaya? Kau belum pernah bertemu dengannya.”

“Nenek selalu hadir dalam pikiranku,” balas Dewanti, menyembunyikan keterkejutan. Masih memainkan kuas dan cat minyak, ia menyempurnakan lukisan dengan menahan goncangan dada yang berdegup kencang.***

                                                              Pandana Merdeka, Agustus 2021


S. Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta, 7 Januari 1961. Menulis sejak tahun 1983. Karyanya dimuat di pelbagai media. Kumpulan cerpen tunggalnya Bidadari Meniti Pelangi (Penerbit Buku Kompas, 2005). Novel Tangis Rembulan di Hutan Berkabut (HO Publishing, 2009). Novel terbarunya Tarian Dua Wajah (Pustaka Alvabet, 2016), Cermin Jiwa (Pustaka Alvabet, 2017). Cerpen “Penyusup Larut Malam” diterjemahkan Dalang Publishing ke dalam bahasa Inggris dengan judul “The Midnight Intruder” (Juni 2018) cerpen ini sebelumnya  masuk dalam buku Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian: Cerpen Kompas Pilihan 2009. Cerpen “Sakri Terangkat ke Langit” masuk dalam Smokol: Cerpen Kompas Pilihan 2008. Cerpen “Pengunyah Sirih” masuk dalam Dodolitdodolitdodolibret: Cerpen Pilihan Kompas 2010. Menerima pelbagai anugerah dan penghargaan, yang terbaru menerima penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Cerpen

Kepiting Merah

Cerpen Jeli Manalu

Tirai awalnya ragu-ragu dan sempat menolak ajakan berlibur ke pantai dari Lumut, suaminya, tepat di ulang tahun pernikahan mereka kedua puluh. Saat itu, Tirai berkata, bila pada bulan September, badai yang tak selalu disertai hujan suka datang seperti sebuah kejutan.  

“Ketinggian ombak bisa mencapai empat meter,” katanya.

Tirai juga sempat menunjukkan satu berita media daring melalui layar ponselnya. Saat bersamaan, sembari masih memikirkan tentang ombak yang bisa datang tiba-tiba itu, sisi lain dirinya perlahan membayangkan bagaimana seandainya ketika berlibur di pantai nanti ada seekor kepiting merah muncul dari dasar lautan menghampiri dirinya—pastilah itu akan jadi peristiwa menyenangkan. Dalam pikirannya yang mulai berharap itu, ia membiarkan dirinya merasakan kaki-kaki si kepiting dari punggung tangan bergerak terus ke kedua paha telanjangnya, dan ia, sudah sangat lama memimpikannya. Cuaca ekstrem, atau, menunda bermain-main dengan kepiting karena mencemaskan situasi yang bahkan belum tentu terjadi? Dan bagaimana bila ini juga merupakan momen terakhirnya bersama Lumut. Lumut lebih tua darinya. Selisih lima belas tahun. Dan Tirai percaya, orang yang lebih tua pastilah lebih dulu matinya.

“O-ok,” jawab Tirai, kemudian—ia benar-benar sudah mengenyahkan pikiran buruk tentang cuaca. Kelak bila tiba masa kesendiriannya, ia tak lagi dihantui perasaan bersalah sebab selalu teringat tidak memenuhi pemintaan terakhir Lumut, yaitu berlibur ke pantai tepat di ulang tahun pernikahan mereka kedua puluh.

Selain itu, ia juga tidak ingin seperti Nuna. Lansia pemurung, tetangganya, yang hatinya direnggut sepi serta kehilangan api hidup akibat ditinggal mati suami. Membiarkan rambut lurus dan lebatnya menjadi kusut berpilin, juga rontok. Pada baju hitamnya, yang sudah lama tidak diganti, tampak bintik-bintik ketombe. Satu gigi depannya pun dibiarkan rompal tak dipasang yang baru. Tirai tidak mau seperti Nuna. Ia ingin masa depan kesendiriannya nanti berjalan sempurna. Ia sudah punya konsep tentang itu.

Sesudah mendengar kata ya dari Tirai, tentang istrinya itu tidak lagi ragu untuk menerima ajakannya berlibur ke pantai di ulang tahun pernikahan mereka kedua puluh, Lumut bergegas ke mobilnya. Kado yang sudah dipersiapkan ia sembunyikan ke bagasi. Ia berencana memberikannya nanti dengan cara membuka kotak kado, lalu menuntun isinya bergerak-gerak ke arah Tirai. Dan ia akan membiarkan Tirai merasa kado itu—seekor kepiting—datangnya dari kedalaman laut. Sebab ia tahu, istrinya menyukai momen bertemu kepiting ketika berlibur ke pantai.

Warna laut sama dengan langit ketika mereka tiba di sana. Biru, kesukaan Tirai. Hempasan angin juga tidak terlalu keras seperti pemberitaan media daring bulan September. Tak jauh dari tempat Tirai berdiri ia melihat para remaja membuat pola di atas pasir. Gambar manusia. Lelaki dan perempuan. Di sebelah gambar itu mereka buat gambar satu lagi. Lelaki berlari ke arah pepohonan yang ranting-rantingnya melambai. Si perempuan mengangkat ujung gaunnya hingga setinggi paha dan dengan rambut diterjang badai mengikuti serpihan ombak pulang ke tengah laut.

Tirai belum melepas sweter panjangnya sewaktu menyaksikan gambar-gambar itu dibuat para remaja. Dan tak lama setelahnya, ia berdecak kagum pada ombak yang bergerak ke luar. Ombak yang ia lihat kali itu datangnya serupa gorden berwarna cokelat susu serta berumbai. Saat gorden menghadang gambar buatan para remaja, serempak mereka berseru. Sedangkan Tirai melangkah mundur karena gugup, dan sekali lagi, ia memang sudah begitu lama tidak pernah ke pantai.

“Tidak apa-apa!” teriak Lumut dari titik yang tidak terlampau jauh, untuk menenangkan hati Tirai.

“Hei, aku bahkan menyukainya,” balas Tirai, ia tidak ingin terlihat ketakutan sedikit pun. Ia juga berbicara keras-keras agar suaranya tak habis ditelan angin.

Kemudian ia memperhatikan Lumut yang sedang tidur-tiduran. Lelaki ini memang sungguh sudah tua, batinnya. Lengan Lumut bergelambir. Pipinya melorot. Uban, kerutan, juga bercak-bercak kehitaman pada kulit. Tirai membayangkan hari-hari pertama ketika nanti ditinggal mati lelaki itu. Ia mungkin masih menyeduh teh sebanyak dua cangkir—sebuah kebiasaan yang tak mungkin lepas dalam sekejap. Bila terjadi demikian, pada hari berikutnya ia akan mengganti jenis minumannya menjadi air kelapa muda campur krim kental manis, minuman yang sering ia nikmati sebelum menikah dulu. Hal lain, seandainya ia pergi ke pasar lalu pedagang langganan menyadari ada yang kurang kemudian membuka obrolan: tumben sendirian—biasanya diantar suami—ia juga mesti mengubah kebiasaan. Yaitu, mulai mencoba berbelanja di tempat baru. Pagi hari juga ia akan mengganti rutinitas, dari membaca berita media daring menjadi joging. Joging dengan rambut dikucir tinggi seperti gadis remaja. Sepatu merah muda. Beha berbusa, yang membuat payudara tampak montok.

Setelah sendiri nanti ia tidak mau rapuh serta kehilangan hasrat hidup. Ia justru semakin aktif berkegiatan. Belajar bermain TikTok dengan anak-anak muda di kompleks tempat tinggalnya. Ikut membahas herbal awet muda di komunitas ibu-ibu. Juga ikut bergosip-gosip kecil untuk mempererat tali persahabatan khas perempuan. Janda atau duda mana yang baru menikah lagi. Siapa baru ditinggal pasangan namun sudah punya pacar untuk diajak ke pantai.

Tepatnya, Tirai tidak mau seperti Nuna. Selain tak mengurus tubuh, Nuna juga membiarkan rumah layaknya tak berpenghuni. Tumpahan bubur nasi terakhir suaminya di taplak meja berwarna burgundi dibiarkan mengerak. Setiap sore duduk di balkon, tempat favorit ia dan suaminya biasa memandang matahari terbenam ditemani dua gelas teh ungu dari seduhan kembang telang yang diberi perasan lemon, dan ia tak merasa risih ketika salah satunya hanya dicicipi semut. Bila nanti Lumut sungguh telah tiada, Tirai tidak mau seperti tetangganya itu.

Ia bisa saja mencari keberadaan Frater, mantan kekasihnya. Bila bertemu, ia akan mengajaknya menikmati air kelapa muda ditambah krim kental manis. Dan saat itu, mungkin ia boleh bertanya: apa kamu pernah punya kekasih lagi setelah hubungan kita berakhir waktu itu, di tepi pantai, yang biru, dan sejak itu, aku kehilangan kepiting gendut dan sedikit genit?

Sejak berpisah, Tirai dengan Frater memang tak sekalipun pernah berjumpa lagi. Dulu, sekitar tujuh bulan menjadi kekasih Frater, setiap minggunya, Tirai pasti memasak kepiting. Dan kepiting-kepiting yang akan dimasak itu selalu Tirai pesan kepada Lumut.

Lumut waktu itu berprofesi sebagai pedagang seafood. Kepiting-kepiting yang Tirai beli akan dijadikan sup dengan tambahan bumbu kincung yang tinggal dipetik saja di belakang rumahnya. Jika hujan datang disertai angin sehingga Tirai malas keluar rumah, ia tinggal menelepon Lumut. Tak perlu menunggu lama, Lumut sudah berdiri di depan rumah Tirai dengan sekresek kepiting gendut-gendut, serta masih lincah menjelajahi celemek yang dikenakan Tirai. Hingga suatu hari ketika sebulan penuh Tirai tak ada kabar lalu di hati Lumut tumbuh sepotong rasa kangen, tiba-tiba, Tirai datang menemuinya, dan bertanya apakah Lumut mau jadi pacar Tirai. Tirai bercerita bila dirinya dengan Frater sudah putus. Frater masuk biara lagi supaya tiga tahun berikutnya bisa menjadi pastor. Kau tidak bersedih, tanya Lumut, sekadar memastikan. Waktu itu Tirai menjawab tidak terlalu. Ia tahu Lumut menyukai dirinya sejak lama, dan yakin lelaki itu pasti berusaha menghangatkan hatinya.

“Tirai, kemarilah,” teriak Lumut. Ia sudah tak sabar untuk membuka kado supaya Tirai segera menghampirinya.

Tirai berlari datang, dan segera melepas sweter panjangnya. Sebelum berbaring di samping Lumut dan menerima ciuman lelaki itu, sebentar ia memandanginya. Lengan, pipi, uban, dan bercak-bercak kehitaman pada kulit Lumut kian kentara. Ketika rasa sedih sedikit menyusup ke hati Tirai, ia cepat-cepat menghempaskannya. Kemudian memusatkan pikiran pada rancangan masa depan kesendiriannya.

“Kepiting merah!” teriak Tirai. Refleks bibirnya lepas dari bibir Lumut. Sedangkan angin bertiup kencang menerbangkan rambutnya. Juga botol-botol air mineral mereka yang sudah kosong terombang-ambing dalam pelukan arus ombak.

Seekor kepiting hitam kemerahan namun Tirai menganggapnya berwarna merah. Kepiting itu ia biarkan menggapai-gapai punggung tangannya, lalu bergerak miring melampaui kedua pahanya yang telanjang.

Para remaja yang menggambar dua manusia di atas pasir sudah tak ada. Hati Tirai sempat bertanya ke mana mereka pergi, tapi buru-buru ia tebak sendiri jawabannya. Mungkin mereka sudah puas bermain di pantai lalu lapar dan pulang. Atau mereka mendapat telepon bahwa nenek-kakek mereka baru saja mengembuskan napas terakhirnya.

Tirai memandangi laut lagi, dan untuk kesekian kali ia melihat gelombang air serupa gorden berwarna cokelat susu serta berumbai, megah, dan tingginya mencapai empat meter atau lebih ia tidak tahu persisnya.  

“Ya Tuhan, mestinya kita membawa keranjang tadi!” Tirai berteriak takjub tidak hanya mendapatkan seekor kepiting merah tapi juga menyaksikan ikan-ikan seolah menyerahkan diri.

Ia lalu membentangkan sweter panjangnya dan meletakkan kepiting di sana. Karena begitu asyik menangkapi ikan-ikan ia tak menyadari badai angin tak disertai hujan sudah menghempas-hempaskan bulan September, bulan ulang tahun pernikahan mereka.

Ia juga tak mendengar teriakan Lumut yang sudah semakin jauh meninggalkan bibir pantai. Ia, sekarang menuju kedalaman laut mengejar kepiting merah yang meninggalkan sweternya.****

Riau, April 2021


Jeli Manalu, senang menulis dan berkebun. Ia lahir di Padangsidimpuan pada 2 Oktober, dan saat ini tinggal di Rengat Riau. Cerpen-cerpennya terbit di media lokal dan nasional. Buku kumcernya “Kisah Sedih Sepasang Sepatu” tahun 2018.

Puisi

Puisi Candrika Adhiyasa

KULTUS

biara-biara selalu terbuka

untuk doa-doa

layangkan pada langit, kata-kata

siapa beranjak dari pusara

tuhan, meski tak bertelinga

ia mendengar semua

bahkan sampai ke palung hati paling

bisu sekalipun

dan kita menerka-nerka, akankah

bahagia

datang sesubuh cahaya

di pagi buta, layaknya fajar pertama

tuhan, meski tak bermata

ia melihat semua

Tasikmalaya, 2019


ANTESEDEN

kusimak sayatan pelan gin dan heineken

kuhela sesak udara andantino dan misty

kukecap sembir seloki eternity dan poison

ada hutan beku di balik bola matamu;

sebuah semesta taiga terhampar

menjadi partitur sejarah yang dingin dan terkucil

Kuningan, 2019


MUSIM ANGIN

sejak kecil, aku terusir

diasingkan dari permainan

sering kutatap permukaan kolam

: akukah si wajah buruk rupa?

kupungut berbagai topeng

memakainya, silih ganti

sesuai musim—

menyembunyikan wajahku

semata-mata, agar aku diterima

dalam kepalsuan itu,

aku tertekan, seraya bertanya-tanya

bolehkah kita; menjadi bukan siapa-siapa saja

tanpa harus merasa kesepian?

Tasikmalaya, 2019


KACA DI BOLA MATAMU RETAK

meluruh di sepanjang kabin

tanpa penjaga. ombak dibuai

langit, awan dimanja cakrawala,

tiang piatu digembala badai

matahari menyinari air mata

berderai menjadi api

rembulan memberi mimpi

pada dendam abadi

laut dalam pigura

kaca di bola matamu retak

Tasikmalaya, 2019


INSTRUMENTAL: NYANYI SUNYI BEETHOVEN

Sonata No. 14 “Moonlight”

in C-Sharp Minor Op. 27 No. 2

ia menggoyangkan kaki-kaki kecilnya

            dan bayang-bayang muncul

            dari permukaan laut yang keruh

sebuah tempat indah terbentang

            nun jauh di kekosongan matanya

            kemudian menundukkan wajah

sekali lagi, ia berharap tak pernah dilahirkan

            ke dunia yang memilukan ini

Tasikmalaya, 2019


REFFRAIN: NYANYI SUNYI JOEP BEVING

                        Le souvenir des temps gracieux

                        in “Prehension”

angin meredupkan sisa bara

            bekas perbincangan semalam. botol berserak

            dan langit masih saja tak berperasaan.

suatu hari kamu akan membaca ulang

mimpi-mimpi yang membuatmu menangis

di antara jengkalan gemerlap laut malam.

Tasikmalaya, 2019


OUTRO: NYANYI SUNYI MILES

“jika aku mati,” ucapmu.

            kamu berkata bahwa kamu akan

            bermukim di sebuah pondok

            yang tersembunyi di dalam kabut.

“jika aku mati,” ucapmu lagi.

            kamu berkata bahwa kamu akan

menyimak kaset-kaset piano lama

            sambil meneguk minuman keras.

“jika aku mati,” ucapmu selalu.

            kamu berkata bahwa kamu akan

menatap langit yang menyala

sambil menghela udara pagi.

“jika aku mati,” ucapmu.

Tasikmalaya, 2019


JAZZ UNTUK GILIMANUK

lama kita berlayar pada kekosongan

mencari pijakan-pijakan—Keftiu?

serupa kapal layar

bersungut-sungut mencari kabar

sekarang, gelombang tiada kentara

redup diliput pekat teramat

telingaku dipenuhi napas Miles

terbaring kaku di geladak

mengikuti laju konstelasi

lama kita berlayar pada kekosongan

mencari kejelasan-kejelasan—lewat

Timaeus dan Critias?

serupa kapal karam

berkaku-kosong menyusur kelam

Bali, 2019


PERTEMUAN

di balik bukit itu bersembunyi ragam

warna jua bentuk

dalam terkaan yatim piatu

dan gersangnya peluk

lalu rinai bunyi-bunyi mekarkan

ilalang bayang-bayang

di langit mimpi yang jauh

dari anak tangga penerimaan

daku bertanya:

apakah sebenarnya yang ada di sana;

gelapkah terangkah

maniskah pahitkah

lama kita tak mengadu nasib rindu

Tasikmalaya, 2019


PERPUSTAKAAN TUA

tak kupetik kata-kata dari langit

yang tangkai-tangkainya begitu

rapuh dan semu seperti bayi-bayi

yang hendak dilahirkan ke bumi

kata-kata dalam puisiku kupetik

dari belantara perasaan rumit

serupa isi kepala para dewasa

di rimba raya dunia tipu daya

sebagai sebab, kamu tetap

semayam pada alam yang tak

terekam, pada ruang yang tak

tertangkap kesadaran seperti

halnya dongengan dalam buku-buku

kusam di pojok perpustakaan tua

Tasikmalaya, 2019


Candrika Adhiyasa, menulis puisi, cerita pendek, novel, dan esai. Belajar ilmu lingkungan di Universitas Gadjah Mada. Instagram @candrimen