KULTUS
biara-biara selalu terbuka
untuk doa-doa
layangkan pada langit, kata-kata
siapa beranjak dari pusara
tuhan, meski tak bertelinga
ia mendengar semua
bahkan sampai ke palung hati paling
bisu sekalipun
dan kita menerka-nerka, akankah
bahagia
datang sesubuh cahaya
di pagi buta, layaknya fajar pertama
tuhan, meski tak bermata
ia melihat semua
Tasikmalaya, 2019
ANTESEDEN
kusimak sayatan pelan gin dan heineken
kuhela sesak udara andantino dan misty
kukecap sembir seloki eternity dan poison
ada hutan beku di balik bola matamu;
sebuah semesta taiga terhampar
menjadi partitur sejarah yang dingin dan terkucil
Kuningan, 2019
MUSIM ANGIN
sejak kecil, aku terusir
diasingkan dari permainan
sering kutatap permukaan kolam
: akukah si wajah buruk rupa?
kupungut berbagai topeng
memakainya, silih ganti
sesuai musim—
menyembunyikan wajahku
semata-mata, agar aku diterima
dalam kepalsuan itu,
aku tertekan, seraya bertanya-tanya
bolehkah kita; menjadi bukan siapa-siapa saja
tanpa harus merasa kesepian?
Tasikmalaya, 2019
KACA DI BOLA MATAMU RETAK
meluruh di sepanjang kabin
tanpa penjaga. ombak dibuai
langit, awan dimanja cakrawala,
tiang piatu digembala badai
matahari menyinari air mata
berderai menjadi api
rembulan memberi mimpi
pada dendam abadi
laut dalam pigura
kaca di bola matamu retak
Tasikmalaya, 2019
INSTRUMENTAL: NYANYI SUNYI BEETHOVEN
Sonata No. 14 “Moonlight”
in C-Sharp Minor Op. 27 No. 2
ia menggoyangkan kaki-kaki kecilnya
dan bayang-bayang muncul
dari permukaan laut yang keruh
sebuah tempat indah terbentang
nun jauh di kekosongan matanya
kemudian menundukkan wajah
sekali lagi, ia berharap tak pernah dilahirkan
ke dunia yang memilukan ini
Tasikmalaya, 2019
REFFRAIN: NYANYI SUNYI JOEP BEVING
Le souvenir des temps gracieux
in “Prehension”
angin meredupkan sisa bara
bekas perbincangan semalam. botol berserak
dan langit masih saja tak berperasaan.
suatu hari kamu akan membaca ulang
mimpi-mimpi yang membuatmu menangis
di antara jengkalan gemerlap laut malam.
Tasikmalaya, 2019
OUTRO: NYANYI SUNYI MILES
“jika aku mati,” ucapmu.
kamu berkata bahwa kamu akan
bermukim di sebuah pondok
yang tersembunyi di dalam kabut.
“jika aku mati,” ucapmu lagi.
kamu berkata bahwa kamu akan
menyimak kaset-kaset piano lama
sambil meneguk minuman keras.
“jika aku mati,” ucapmu selalu.
kamu berkata bahwa kamu akan
menatap langit yang menyala
sambil menghela udara pagi.
“jika aku mati,” ucapmu.
Tasikmalaya, 2019
JAZZ UNTUK GILIMANUK
lama kita berlayar pada kekosongan
mencari pijakan-pijakan—Keftiu?
serupa kapal layar
bersungut-sungut mencari kabar
sekarang, gelombang tiada kentara
redup diliput pekat teramat
telingaku dipenuhi napas Miles
terbaring kaku di geladak
mengikuti laju konstelasi
lama kita berlayar pada kekosongan
mencari kejelasan-kejelasan—lewat
Timaeus dan Critias?
serupa kapal karam
berkaku-kosong menyusur kelam
Bali, 2019
PERTEMUAN
di balik bukit itu bersembunyi ragam
warna jua bentuk
dalam terkaan yatim piatu
dan gersangnya peluk
lalu rinai bunyi-bunyi mekarkan
ilalang bayang-bayang
di langit mimpi yang jauh
dari anak tangga penerimaan
daku bertanya:
apakah sebenarnya yang ada di sana;
gelapkah terangkah
maniskah pahitkah
lama kita tak mengadu nasib rindu
Tasikmalaya, 2019
PERPUSTAKAAN TUA
tak kupetik kata-kata dari langit
yang tangkai-tangkainya begitu
rapuh dan semu seperti bayi-bayi
yang hendak dilahirkan ke bumi
kata-kata dalam puisiku kupetik
dari belantara perasaan rumit
serupa isi kepala para dewasa
di rimba raya dunia tipu daya
sebagai sebab, kamu tetap
semayam pada alam yang tak
terekam, pada ruang yang tak
tertangkap kesadaran seperti
halnya dongengan dalam buku-buku
kusam di pojok perpustakaan tua
Tasikmalaya, 2019

Candrika Adhiyasa, menulis puisi, cerita pendek, novel, dan esai. Belajar ilmu lingkungan di Universitas Gadjah Mada. Instagram @candrimen
