Tatkala Ruh Ditiupkan
sebelum kau berenang di badan perempuan
dan diselimuti dinding-dinding rahim
terlebih dulu kau berucap sepakat bulat
nun di alam ruh tempat segala muasal.
setelah kau siap untuk perpindahan
Tuhan menidurkanmu berpuluh-puluh hari
hingga jari-jemari, tulang serta daging berkelindan
menjadi wadah yang siap menjalani kehidupan.
tatkala ruh ditiupkan
sempurna-lah seluruh kejadian
kematian, perbuatan, kesengsaraan, kebahagiaan dan rezeki
menjelma janji-janji yang harus dijalani.
Bekasi, 30 Agustus 2021
Permintaan dalam Mimpi
barangkali, malam ini kau ingin bermandikan mimpi
menemui aku yang belum tentu menjadi kekasih
pada taman terhiasi bunga-bunga tujuh rupa
tempat dahulu, kau mematahkan janji.
jika kau tersesat
aku saja yang datang menghampiri
sebab alibi-mu laiknya ayat-ayat ketiadaan
pantang untuk berpulang
cepatlah, sebelum kita menjumpai rintik-rintik embun
serta matahari yang menyapa ruas-ruas ventilasi
agar pagi tidak menggema gaung sepi
dan malam tidak menjadi wadah untuk aku merenungi
Bekasi, 30 Agustus 2021
Aku Terluka Kau Tertawa
sapu tangan peninggalanmu
telah aku cuci
terbilas air mata
kering oleh luap jelaga
api kecemburuanku
mungkin ada baiknya
aku sobek menjadi dua
seperti diksi-diksi puisi
yang tempo hari
kau robek sejadi-jadinya
dendam itu abadi
abadi dalam hati
hati kini terluka
penuh retisalya
sedang kau, puas tertawa
Bekasi, 30 Agustus 2021
Dirimu adalah Celaka
sementara ombak belum menghantarkan batu-batu kecil
tulislah nama kita di pesisir basah
dengan kayu atau jari telunjukmu
dengan paku atau kau tidak mau?
mantra-mantra sudah aku ucapkan
agar burung-burung camar
datang menyederhanakan keinginan
atau kau masih ingin beralasan?
setiba di pantai kau nanar
seperti manusia gusar
bingung mendengung
apa kau sedang murung?
kau benar-benar jelmaan celaka,
tak pernah bisa aku selamatkan.
Bekasi, 30 Agustus 2021
Mengajari
setelah jarum dan benang bersenggama
aku akan menenun jala tua di lemari tua
setelah nirmala
ikutlah berpetualang ke sungai-sungai
menjala ikan, udang, bahkan pemikiranmu yang terhimpit
di celah batu besar.
bila terik semakin pirang
aku akan bergegas pulang ke kandang
sebab lambung pasti mengerang
mengingatkan jam makan siang
maka ikutlah ke tungku arang
menanak nasi, sayur, juga umurmu yang belum matang
di hari pernikahan.
Bekasi, 30 Agustus 2021
Hasrat yang Asat
kini ia hanya sibuk
menyulam hati di malam hari
dengan begitu hasai.
memantik api di puting obor
menuluhi cahaya pada temaram malam
sebatang kara tak ada yang meminang
sunyi ditimang-timang
hanya jelaga yang menyapa
tak ada renjana
tak ada yang memantaskan
tak ada pula yang ingin memperkosa
ia wanita yang telah terpasung
juga terasing
sebab menanggalkan masa-masa muda belia
memilih jantung hidup yang pantas bagi dirinya
hingga lupa, bahwa ia telah menjadi tua.
Bekasi, 30 Agustus 2021
Lelaki Hibernasi
tepat di kening malam,
partikel-partikel imaji terbang ke sarang pelangi
untuk memetik bunga harapan
diracik menjadi kenyataan.
tepat di siang hari,
seluruh imaji terbungkus di bawah kasur
mantra-mantra meluap dari dinding-dinding kamar
merindukan malam yang jaraknya tidak sedepa.
sementara itu,
seorang lelaki sibuk hibernasi
berteriak bahwa kekayaan akan hinggap sebentar lagi
namun riak-riak suaranya berbiak menjadi mimpi.
Bekasi, 30 Agustus 2021
Lekaki Jemawa
bumi bulat, sosialmu saja yang datar.
langit itu biru, hatimu saja yang hitam.
wawasan sangatlah luas, pemikiranmu saja yang sempit.
kebaikan sungguh ada, kejahatanmu tampak nyata.
tergugu tapi gemar sawala
kalut tapi tak sadar
sengaja jemawa demi bangga memamerkan dasi
tapi kau tergugu dalam bersulam diksi
Bekasi, 30 Agustus 2021
Ketika Para Lelaki
Suka Pada Satu Hati
aku adalah makna dan perumpamaan basi
hidup dari hal-hal yang dinujumkan
juga teori-teori gila
hingga semua yang bernyawa menuduhku
sebagai hambar paling ranum
acap kali sumpah serapah
dijadikan kotoran untuk menyertai wajahku
begitulah cara mereka menghadirkan hujan
untuk membasahi bunga-bunga mawar yang mulai layu
mensucikan pipi berdebu
serta lorong mata yang memasung pilu
perselisihan ini telah terjadi
semenjak perempuan berwajah lampion
berambut aspal dan berkulit awan
singgah di rumah yang jaraknya beberapa hasta dariku
seandainya kau yang diburu dapat mengetahui
bahwa ini adalah peperangan
kepada siapakah kau akan bersekutu?
Bekasi, 30 Agustus 2021
Tentang Hijrah
tanpa pernah berdoa ke dada-dada langit
setengah dunia telah kudapati
kendati hal itu menjadikanku berada
aku lebih memilih misteri
ihwah kisah silam
aku telah hidup dari puing-puing cerita purba
namun memilih mati sebelum orang-orang berkata:
dia adalah legenda
semua itu aku lakukan
demi bereinkarnasi menjadi masa kini
menembus dosa-dosa yang disengaja
menuju abadi di kebun surga
Bekasi, 30 Agustus 2021

Ilham Nuryadi Akbar, lahir pada 11 Februari 1995 di Banda Aceh. Buku pertama diterbitkan oleh Alinea Medika Pustaka berjudul Kemarau di Matamu Hujan di Mataku, puisi dan cerpennya telah banyak terangkum pada beberapa media.
