Puisi

Puisi Vania Kharizma

Air Mata Pogrom

Kelengangan menjelma rimbun legam yang berdiam
menghuni saban doa yang gemar menatah langkah
mereka koyak tafakur ibu dan tidur biyak yang cemas
seperti gema sirene, onar amunisi
aku isak sepanjang degup jantung ibu

di luar maha riuh keriau berkelibang
mengantarkan pesan melalui gemuruh
barangkali jelaga yang mengabu di awan
berkelun gulana menitip pesan:
              

     di sini kami sedang tidak baik-baik saja

pertumpahan biram begitu kemrusung
segenap wahing mengudara tak kenal arah
tapi di sini kaki pun lecet dicumbu borgol
kening kami dibusung pistol tembaga
suara decit pantofel masihlah gemar terdengar dan tibalah
‘GUBRAK!’ dentuman kencang tubuh yang ambruk di tanah
seperti suara bapak

dan ibu menangis
dan aku menangis
kami tunaikan ibadah air mata di hari Minggu

(Solo, 2021)


Membaca Penjara

Kami sepasang onar yang haus,
di tepi barak kubungkus air mata pada setangkup anyelir di pot nakas bangsal.
Himne di sekujur wabah bercokol dalam guruh jemala. Sesuatu melekang––
adalah tendasku tandas tewas, seperti arah mata angin menyebar virus.

Dan betapa bahak tunawicara bising
dirangum tunarungu. Gigil sekujur kungkungan
meramai, seakan berkicau dalam hening penantian,
Akankah segenapnya fana, atau bisakah kami ulik nostalgia?
Seperti impunitas yang gagal panen, kita diborgol wabah silabus

Darinya kita dicangking hanger yang lepuh,
sepuh, berdebu, di punggung koyak pintu kamar
mengeja yojana dan kesunyian yang hidup berdetak
Seperti seorang narapidana, kita abadi di balik jeruji gamang
Kecemasan menyapu ingin, sedang pagebluk ialah niscaya,
segenap mafia semata merapal semoga dalam amin yang ragu

(Solo, 2021)


Pagebluk dalam Jemala Hemodilusi

Kegelisahan tak lain yakni niskala yang kau kulak sembari mengecer sedih di rakung wabah, tatkala kau bergidik nyeri dalam sakit yang kau kebiri
dan tengkuk jemala sekadar memar-lebam, retak tulangnya tak kuasa memberi jalan arteri
sebab persimpangan plasma tumbuh subur yojana berkisar nanometer dari 1.000.000 jiwa
menampakkan betapa sungkawa asri mencagarkan lara dari liuk relung kulawangsa

dan malam itu kita bersaksi tiada seranah selain liur anyir dari hidu darah pagebluk
yang tengkurap enas mengenyam musim bahagia di mana wabah sekepal mangkuk
   : aglutinasi erang sepetak tabah, sepukal jentaka pun linang dari mata keharuan
layaknya eritrosit di tepi abad––menggumpal bak tuak sepekat legam kecemasan

semenjana, kekalutan meneroka berbenggil-benggil gelabah wabah
tunggang-tunggit mandam dalam carut-marut epidemi buas meruah
layaknya denyut monitor pun ingar sirene sepanjang malam menyayat pekak tunarungu
mengisahkan keriau isak dari deru parau kalabendu; dari kembang-kempis kalpataru

   dan adakah kerisauan menjelma setangkup lila dari bangkup sekujur awak?   dari liyan nestapa sonder huru-hara; sonder kelut-melut peredaran darah pagebluk

(Solo, 2021)


Terhadap Warakawuri

Sisakan tumbang kalpataru yang rampung ambruk
selepas sedihmu menewaskan bara anak-anak firdaus
bergemuruh jemala terisak
kembara tiada sempat berpulang
walakin bekal habis sudah, tungkaimu terkilir lebam-lebam
tapi tidak dengan
nelangsa yang menginap
dari dua manikam matamu

Betapa cendayam nayammu gusar menyaksikan
kembang-kembang ditanam dalam tubuh kekasihmu
pesara yang sempat kau dongengkan di waktu malam
perihal kematian dan kerinduan
anak-anak mengurung cemas dalam kesunyian
semacam dering beker yang mengentak kantukmu
dan dari bangunmu, jam pun tak tampak
habis kau dikoyak balada!

telah tandas bahagia
kesepian kini merajut tubuhmu yang gigil
tiap belulangmu bungkam mengaram rintih
seperti sebuah prosopon yang diulang-ulang
aku merindukanmu
aku merindukanmu
jemput aku ayah

seketika, kau lupa rute ibadah dan doa
sebab kesedihanmu ialah niscaya
dan kematian tinggallah menunggu hari

(Solo, 2021)


Mencangking Problematik

Ode begitu mewah tiap kali
asterik tewas di tendasmu terbelah sebelas
menjadi kepingan nebula di mana kau bermalam
sejenak terusik––sejenak menyelinap––sejenak
tafakur diam, hening.

inikah hidup yang kau maksud, bum?
pada bumi, kuredam segenap sambat.

Semenjana dalam simpang yojana
dua gelintir bocah rambu apel sibuk berkutat
ihwal kemerdekaan––ihwal pembebasan dari
rasa lapar pun dahaga, tiap kali mereka ketuk
jendela mobil sekadar menyisakan lambai

inikah hidup yang kau maksud, bum?
pada bumi, kupendam segenap maslahat.

Dalam sembahyang kandidat penumpang kehidupan
mengijabah segenap ketabahan pagi di sepetak kios renta
dalam rutuk tuan gardu, mendeportasi kantuk bohemian
sebab demikianlah tiba waktu mencangking problematik

demikianlah kita ulik enigma kehidupan.

(Solo, 2021)


Menanam Kulawangsa

/1
Sedari ibu tanak akasku dalam sebotol kempung susu
aku kenyang gizi, merimbuni gelak tawa pada binar ibu
yang dahulu gemar muram, mengenyam sendu jua sembilu
semenjana kian ranumlah aku, dimatangkan panci waktu

/2
Ibu tanam aku pada semangkuk tawar air hujan di pagi
barangkali menyerupa air mata, atau dahaga suatu elegi
tapi tidak––ibu sirami pot-pot tubuhku dengan senyum laksmi
betapa juita, aku diayun pada hangat gendongnya yang asri

/3
Ibu beri aku rekah mentari kala gulita semata lelap tertidur
dan aku pesam terkantuk nyenyak di bawah lindung tafakur
seperti ketika ibu berdongeng, aku cendera semalam suntuk
hingga purna lekang kuntumku, tumbuh subur: terbentur dan terbentuk

/4
Sebagaimana sembilan purnama lalu,
ibu menimbunku dalam tanah yang tabah menyeduh kalabendu
agar sesampainya kelak mencagarkan cendayam ibu, rautnya––
kakinya yang tak lagi tangguh; raganya yang tengah separuh renta
sebab kala ibu menanamku, aku tumbuh serupa rumah kulawangsa
menjadi semayam bermalamnya lelah ibu, akan poranda bumantara

Bund, aku tumbuh seperti kembang yang kau tanam
purna merekah bagai kuntum kulawangsa melaram


(Solo, 2021)


Steik Wagyu & Bahagianya
     : buat bohemian dan antek-anteknya

Pagi ini aku memilih cemas dengan radang mengering & kritis di kepala
jalan-jalan yang ditutup ialah keniscayaan rindu memuisikan segenap hela
aku kadung mengutuki terminal yang disepikan suara kerincing koin pengamen
hingga berdiam menyulut waktu pada kepul sigaret pengantar amin

aku berlari mengejar langit yang katanya masih biru
tapi tidak dengan kaca mata hitam di kepalaku yang mengharu
menemui para pengail TPA dengan elegi disenandungkan mereka
& aku menanyai perihal pagi, “Masihkah kau menanti mentari & pelangi?”namun mereka menggeleng & lebih memilih steik wagyu di prospektus
aku memerangi kalut, menggandengnya menjajah resto mahal

di bibirnya sekadar melongo sekelebat menit
ludahnya mengintip di sela lusuh papila legam
aku menelan cemas,
mereka geming––katanya tiada pagi selain hujan yang berpelangi
sedang aku melamun: kekalahan ini ialah maksud dari syukur

(Solo, 2021)


Dimuseumkan Musim Hujan

Rejung yang kejang dibacakan isak sepanjang kemarau mengerang
tapi kita dilautkan dengan gebyur air garam yang menggenang
& tangis di teduh wajahmu sirna dilahap ombak yang liar
hingga melupa sakit apa yang dahulu membara–menguar

aku dipepet senang dengan napas kering akibat gemar tertawa
& memilih meredam lara demi mendapat rangkulmu di rawa
akankah sore menjadi oranye bila kita tiba di lembah?
hingga hadir hujan membekuk kita yang gelebah
terjebak dalam isolir kata yang temaram di waktu senja
kita menantang semesta, masihkah tangismu urung reda?
tiada jawab selain gemuruh dalam ingar jemala

sialnya mataku ialah pagi yang tak mengenal malam
walau dimuseumkan hujan & gigil di sekujur tubuh
mengapa kita tampak seperti bunga dan kupu menganga?
kuncup di kepalamu––aku segan mengecup sekalipun ingin

maka,
kubiarkan saja indah tubuhmu
dimuseumkan musim hujan yang kekal
biar aku tak perlu lagi mengincar dirimu
/ memandangimu dari jauh & dalam diam
sebab kini kau abadi di musim hujan

(Solo, 2021)


Perjamuan Basilika

perkenankanlah tuan dengan jumbai menyapu lantai
kami pegang ikalnya dengan iman & yakin yang dibantai
hingga seorang yang lain menghardik diam––masa bodoh!
tapi kami memilih nekat dengan ingin yang mengaduh

satu-satunya jalan ialah memperkenankan iman kami disumpah
dengan keteguhan diolok––dimaki bak ludah tong sampah
& semata mengangguk bagai seekor guk-guk yang beloon
menyeduh teh & adonan manis perjamuan di sudut peron

masihkah serapah didendang kebodohan?

sebetulnya kami kasihan,
tapi toh dalam basilika kami tak mengenal rintihan
juga lara & bisikan lusifer dari jantung manusia picik
mereka lupa darat––maka duduklah menikmati licik

& tiba di muka orang banyak singgah dengan jubah putih
mereka mengangkat cawan berisikan anggur merah yang
disebut dunia wiski
melampau seni sebuah dosa
tapi aku tak mau mendalami keindahan maut
sebab tibalah perjamuan basilika menyuguh kekudusan

(Solo, 2021)


Sorai Hari Esok

(i)
adakah kau, kelana sepanjang berantah Bekasi–Karawang
kita bersaksi seakan bahagia- begitu subur tumbuh berada
tentang bagaimana kita melupa
          persoalan lusa kemarin atau
               barangkali tahun kalabendu
sebab kala bahagia purna lahir dari rahim sungkawamu –
          sisakan setitik renung untuk
               kubawa pulang …

(ii)
esok kita bertarung kembali seperti bergerilya hari ini
mengijabah perjuangan ibu– dan doa kekasihnya …
sebagaimana cinta merekah
         dari kuntum mawar merah
             menyapu-lenyapkan sedih
                 & segala-gala murungmu

bahagiamu ialah niscaya
nyenyaklah berlibur dalam tidur
kelak gaduh kita tuai bahagia
sebelum akhirnya kau melindur
atas sorak-sorai hari esok …

(Solo, 2021)


Vania Kharizma, lahir di Solo, Jawa Tengah––tahun 2003. Hobi mencuci piring dan mendengarkan lagu. Prestasi terbaik ialah Juara Pertama Lomba Cipta Puisi Tingkat Nasional yang diselenggarakan STAHN Mpu Kuturan Singaraja Bali, dan pemuisi terbaik yang mendapat penghargaan bupati dr. Cellica Nurrachadiana dalam rangka HUT Kab. Karawang. Beberapa dirinya di e-mail: [email protected] ; Instagram: @vaniakharizma.

Puisi

Puisi Eko Setyawan

Membincangkan dan Mendengar Kitaro: Theme from Silk Road

kau susuri gerbang kematian.

diiringi tangis, juga doa-doa,

lewat bau dupa.

seseorang menghidu bau kehilangan,

seorang yang lain menenangkan,

dan seseorang lagi memalingkan muka

sekaligus mengamini (karena benci?).

akan ada raung sirine

mengiringi kepergian yang tak tahu kapan kembali.

kembali, barangkali sepiring kwetiau atau  mapo doufu di mangkukmu

dan kau lupa melahapnya

sebelum benar-benar pergi.

tibalah waktu kremasi.

di krematorium, segala yang kau punya, segala yang kau miliki,

lenyap.

terbakarlah tubuhmu menjelma abu.

—“kapan waktu terbaik reinkarnasi?” tanyamu.

barangkali ketika karma tak lagi menimpamu.

hingga akhirnya, kau tahu orang-orang yang menangisi, mencintai,

dan membencimu di Thiong Ting hingga persemayaman terakhirmu.

—“mengapa?”

sebab, karma adalah bom waktu.

meledak ketika kau menyadari bahwa kematianmu

tak lain adalah hal yang paling kau tunggu.

setelahnya, hanya tinggal kesedihan semata.

kepergianmu menyisakan duka.

tapi kesendirianmu di ‘dunia lain’

ialah kedukaan sesungguhnya.

matimu, menyusuri jalan ini.

hanya ada sunyi. hanya ada sepi.

(Karanganyar, 2021)


Membincangkan Kemalasan yang Kian Akrab

pernah kujumpai kau dalam lelap.

ketika kau bermata puisi dan bersuara minor.

seperti Buddha tidur,

tak dapat kubaca apa pun

selain puisi-puisi yang kulihat

dan suara yang jauh.

sama halnya di bukit Khao Kala,

tak ada yang benar-benar mustahil.

sebab manusia tak selamanya bicara tentang manusia

tidur tak ubahnya upaya telepati

antara aku, kau, dan ‘ia yang lain’.

atau, sebatas alasan

agar tak terjaga tiba-tiba.

kemalasan kita,

tak terlihat dan tak bernada.

tapi, aku masih setia mengeja

dan tentu, mendengar apa-apa yang tak bersuara.

mimpiku, mimpi paling lengkap

ketika kudapati kau membaca puisi

dan berkhotbah ihwal cinta,

juga pernikahan yang biasa-biasa saja.

(Solo, 2019)


Membincangkan Perpisahan

kata-kata belum selesai disusun

ketika kereta membawamu pergi.

aku memanggilmu,

punggung menjauh yang menjawabku.

ia berkata ‘cinta’

tapi tak tahu cinta macam apa

yang dikatakannya.

semula, kau meminta pergi

tapi pergi, bagiku, ialah memecah waktu.

menjadi remah jumpa

juga jadi air mata setelahnya.

di peron, seekor burung berkicau

merapal namamu.

tanpa nada. tanpa suara.

kau telanjur pergi,

kata cinta yang harusnya kumaklumi

tiba-tiba jadi belati.

mencacah ingatan.

menjadi debu. menjadi batu.

(Karanganyar, 2020)


Membincangkan Pernikahan

sejak orang-orang mulai menyusun rencana pernikahan.

semenjak mereka menginginkan.

aku memilih memejamkan mata.

            : untuk tidur lebih awal.

bahwa pernikahan nisbi sebuah agama.

kita bisa saja memeluknya.

namun tak bisa memaksa mengamini.

kelak suatu pagi,

aku dan kau

pergi ke tempat di mana kau biasa memanjatkan doa.

kau memegang kitab suci dan membacakannya untukku.

di hadapan Tuhanmu, kau merapalkan untukku:

Tuhan, ampunilah segala perbedaan.

lantas kusampaikan pada Tuhan,

kami kelaparan

: pelukan.

(Karanganyar, 2018)


Membincangkan Rencana

yang tak dapat kita tata dengan baik adalah rencana.

sebab setiap detiknya, seperti jantung yang bekerja.

berhenti sebentar, mati akan mengunjungi.

sebelum benar-benar kau pergi,

lipatlah kedua lenganmu.

di sana, telah kau rengkuh aku.

mengapa kita masih saja bercakap?

keputusan bukan keputusasaan.

kita berbicara dan masing-masing dari kita

bebas bersuara. dan tentu, bertukar isi kepala ialah jawabnya.

langkahmu langkah yang limbung.

seperti lelaki tua yang mabuk.

anggur merah, jamur, dan sedikit obat sakit kepala

tak bisa menyelamatkan perjalanan kita.

sebab hanya pikiran kita, dan mungkin, cerita-cerita

yang benar-benar mampu memperbaiki keadaan.

tak ada salahnya mengumandangkan omong kosong.

sebab dari sana, cerita-cerita bermula.

kelak, rencana yang kita susun

tak selesai di kata rencana.

(Karanganyar, 2020)


Membincangkan Mimpi

langit, kadang jadi laut.

menampung gelisah sekaligus amarah.

seseorang datang dari masa depan berseru,

“gantungkan cita-citamu setinggi langit!”

seseorang itu lupa bahwa Tuhan ada di sana.

cita-cita, hanya dapat terwujud

jika kau kenal Tuhan.

Ia telah mengenalimu

sebelum kau ada.

apa kau demikian adanya?

mimpimu menggulung.

mendamparkan ke tepian.

takdir, barangkali air pasang.

ia menyisihkanmu.

agar kau tahu,

mimpimu ialah aku, kau,

atau sesuatu yang sebenarnya

tak pernah kau kenali sebelumnya.

(Karanganyar, 2020)


Membincangkan Suara di Ponselmu

“lekas pulang.

ibu sudah memasak makanan kesukaanmu.”

suara itu masuk ke ponselmu.

di kepalamu, meja makan menanti kedatanganmu.

nasi hangat, sayur bayam,

juga sepotong ingatan yang memudar.

kau mengambil sepiring nasi.

kau mengingat bentang sawah

dan di sana masa kecilmu kau habiskan.

kau menuang kuah sayur bayam.

tapi kau tenggelam.

dalam. semakin dalam.

tenggelam pada hati ibumu.

kau membaca ingatan yang tersisa.

ibumu, telah lama tiada.

(Karanganyar, 2020)


Membincangkan Teka-Teki

kau melipat puisi

menjadi subuh.

di langit,

cahaya tiba dibalut suara.

rumah kami porak-poranda.

seseorang, atau beberapa,

mengirim bencana di halaman kami.

kami memungut air mata yang tumpah.

kau memungut tanah.

mereka menjanjikan sumpah serapah.

di langit kami,

cahaya bisa saja jadi neraka.

malaikat tiba begitu terlambat.

rumah kami kadung musnah.

di halaman rumah kami,

Tuhan sedang menyusun teka-teki.

(Karanganyar, 2020)


Membincangkan Barzanji

: suara anak-anak Palestina

pernah kudengar gema di langit

dan setelahnya, kembang api mekar.

seketika seluruhnya sirna.

rumah, mimpi, dan kebahagiaan perlahan susut.

runtuh dan gugur satu demi satu.

kuucap dan kurapal doa. tak henti-henti.

tiap detik, tiap menit, tiap detak, dan tiap embusan napas ini.

agar di sini, di tanah ini, kami bisa berbahagia.

kebahagiaan, adalah ketika kau diberi harapan

dan apa yang mereka beri bukan semata janji.

kadang, harapan hanya semata sesaat legawa,

tapi di hari berikutnya, mimpi itu pupus dan kembang api, lagi dan lagi menghujani.

sebab di sini, di tanah ini, ego jauh lebih penting daripada nyawa kami.

mereka menyerukan perdamaian

diiringi dengan mesiu yang terlontar dari senapan.

mereka menyerukan kekerabatan

diiringi kehancuran yang sengaja mereka kirimkan.

tapi di sini, kami tak menanam benci.

sebab hanya Allah yang berhak menghakimi.

hanya doa dan pinta yang tak ada jeda

tiap detik, tiap menit, dari bibir dan hati ini.

juga tak henti kami lafalkan barzanji.

sebab hanya Allah yang mampu melindungi dan menyelamatkan kami.

(Karanganyar, 2021)


Membincangkan Kunjungan Batara Kala

1/

seandainya bencana itu tidak datang, Kunti

barangkali langit akan tetap bergema dan kegelisahan-kegelisahan

yang menyelimutimu tak akan sampai membuatmu putus asa.

sebab dalam kebencian yang telanjur menyebar,

semua harapan yang telah kau bangun pupus.

Batara Kala telanjur tiba.

ia datang entah sebagai hukuman atau ujian.

keduanya tak ada beda.

seluruhnya membuat sengsara.

2/

perang, juga pagebluk,

adalah bentuk lain dari doa yang gagal terjawab.

Kuru telah jadi ladang perang.

kunjungan Batara Kala menjelma kutukan.

ia tiba sebagai wabah yang menjalar.

dalam hatimu, semula ialah taman bunga.

anak-anakmu hidup dan tumbuh di dalamnya.

tapi tak berselang lama, bunga-bunga di hatimu layu.

sebab tabiat anak-anak yang tak sesuai kehendakmu.

—pageblug mayangkara murup mulat-mulat.

3/

kegelisahan bukan hanya semata dalam dirimu, Kunti.

: hati Durna tak jauh beda.

kedamaian pada dirinya menjelma api.

disulut perangai murid-murid yang tak tahu diri.

kini,

kenyataan harus kau terima.

sebab, di seberang sana,

serapah dilafalkan agar kematian lekas datang.

sementara di sini, di tanah yang kau pijak, tak jauh beda,

doa dirangkai sebab benci telanjur tumbuh di hati.

agar kelak, Pandawa berjaya dan Kurawa sirna.

—apakah maksud kedatanganmu Batara Kala?

4/

pertanyaan, adalah jawaban dari tak sempurnanya doa.

dari sana, pertanyaan yang terlontar ialah jawaban itu sendiri.

jawaban tak ubahnya kepingan teka-teki.

bukan hanya kau yang mengajukan tanya, Kunti, Durna juga

: ia tak paham kenapa.

Pandawa dan Kurawa,

tak ubahnya seperti burung yang tak mengenali jalan pulang.

selepas kunjungan Batara Kala.

mereka lupa muasalnya.

lantas Kurusetra membara.

Batara Kala telanjur tiba,

perang dan pagebluk kini nyata di depan mata.

Kunti, kau harus ikhlas untuk seluruhnya.

(Karanganyar, 2021)


Eko setyawan, lahir di Karanganyar, 22 September. Mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Buku yang telah terbit Merindukan Kepulangan (2017), Harusnya, Tak Ada yang Boleh Bersedih di Antara Kita (2020), & Mengunjungi Janabijana (2020). Buku puisi Mengunjungi Janabijana memperoleh penghargaan Prasidatama 2021 dari Balai Bahasa Jawa Tengah kategori Buku Antologi Puisi Terbaik. Memperoleh penghargaan Insan Sastra UNS Surakarta 2018, serta memenangkan beberapa lomba penulisan puisi dan cerpen. Karya-karyanya termuat di media massa baik lokal maupun nasional.

Puisi

Puisi Nafi Abdillah

Tasbih yang Mengepung Kiai As’ad

Usai dawuh Kiai Kholil yang menggetarkan tembok-tembok tempat segala yang tinggal,

butir-butir wirid yang sering berputar dari atau pada wajah-wajah yang serba kias,

mengepung lehermu juga.

“tolong sampeyan antarkan ke tanah Jombang!” begitu kira-kira.

***

Bukankah untuk mencapai haq, kau harus menjadi basmallah dahulu?

Namun, kau tak perlu memahami apa pun, meski itu bukan berarti tak harus.

Sebab napas yang kauembus bukan dari gerak udara dalam parumu.

Sebab kata yang kaulontar bukan dari endap akalmu.

Kau memerlukan wewangian yang tidak terendus oleh hidungmu

sekaligus tanpa memikirkan jenis-jenis pohon yang berbiak.

Barangkali, itu bukanlah berasal dari daftar kitab yang perlu kaubaca.

Tugasmu ialah menjaga tangan santun agar adab tetap seperti bulir air mata

ketika kau merasa berdosa atau kelewat bahagia.

Bahkan, di kedalamanmu telah kaukungkum seluruh keredak api dan perigi.

Semuanya mungkin kaumaksudkan agar tidak ada yang tiris ke dalam makrifatmu.

***

Berderaplah melebihi batas, menjauhi riam,

perasaan janggal, dan batu-batu besar Gunung Geger.

Sementara denting waktu sama halnya wirid jantungmu

yang kerap lupa menyumbat celah-celah cahaya,

mengakibatkan jari-jarimu tak berani menghirup misik

walau sekelebat, apalagi menyentuh.

Ujian, barangkali adalah makanan siap saji bagi perut-perut setan.

Namun sejak awal telah tak kaudengarkan lenguh-peluh

yang sengaja mereka serak-serakkan untuk mengoyak imanmu.

Hinggalah segala lengang terasa lekat begitu saja seperti digulung oleh waktu.

Di atas latar Teburing, tetes keringatmu adalah ritus bagi senyum merdu Kiai Hasyim.

Leher tundukmu berlaku sebagai isyarat serta hal terakhir sebelum pamitmu ialah,

“yaa jabbar, yaa jabbar, yaa jabbar, yaa qohhar, yaa qohhar, yaa qohhar.”


Bukan Mbah Moga yang Menundukkan Banjir

/1/

Di rusuk kali Paingan, saban hari kehambaan lelaki sepuh itu

dihabisi oleh tangan-tangan usia yang cukup fasih

menanggalkan pujian orang ke dinding-dinding bambunya

yang dianyam dari napas-napas Tuhan. Ia selalu yakin

bahwa segala yang liuk-ceruk-merasuk adalah rahmat.

Ia telah sampai pada maqam di mana tidak ditemukan tafsir penolakan.

Di darahnya, penuh doa yang pasrah seperti rigen petani tembakau

yang berharap dirinya tak rapuh di musim hujan.

Yang ia pahami adalah menjauhkan doa dari fungsi tetes pahala

atau imbalan yang tualang ke tegak gubuknya.

Jauh-jauh hari telah ia betulkan suara-suara serak hati

sebagai rayuan kepada Kekasihnya.

Semua ini tidak diartikan sebagai permintaan,

namun mirip seperti kerinduan Kanjeng Nabi

pada suara lembut Bilal yang tak lagi menyentuh telinganya lebih dari 40 hari.

Sepotong cahaya mulai bermekaran dari dalam ruh

laksana sayap Jibril yang menghalau arak-arakan awan mendung

sewaktu pamitnya Nabi. Segala tafsir mengenai jasadnya,

semata-mata adalah benteng agar benang-benang tipis menuju langit tidak terputus.

Namun, ia benar-benar tak berani memasang dirinya

di tengah-tengah gerombolan kepala yang menenteng sekerat tanda tanya.

Sebab baginya, pengakuan adalah noktah-noktah bencana.

/2/

Malam telah lamat-lamat membelalakkan sepenggal amarah yang berahi.

Tidak banyak yang berani lekat-lekat menatap,

meski telah dijanjikan segala perlindungan:

keris keramat; jubah kadim; songkok masyhur; dan jiwa yang maksum.

Semenjak itu, telah sengaja ia kaburkan matanya

terhadap segala poros yang menyamar.

Baginya, surga bukanlah titik tumpu.

Begitu pula, neraka jauh dari lumbung rasa takut dalam dirinya.

Jika sudah cinta, apakah masih tak mampu menikmati seluruh tangis

atau kobaran api yang bakal membungkam segala gelak?

/3/

Hujan begitu dini menggelar pasar malam. Kali Paingan tak lagi mampu memangku.

Namun, di rusuk Kali Paingan lelaki sepuh itu tetap meleburkan

segala yang telah dipasrahkan meski akan disentuh taring-taring air.

Banjir menjadi sekawanan anak kecil yang tak berani melawan orang tua.

Syahdan, seperti Musa membelah lautan, ia menembus lorong-lorong senyap

yang khusus dinubuatkan untuknya.


Sabdo Palon, Noyogenggong

Usai tubuh menjelma ringkik Sembrani yang tak kasat,

lekaslah kami mengabdi pada roh-roh moyang

tanpa harus berpindah dari ladang berenuk

selama mestika belum terbata mendengungkan sabda-sabda.

Dawuhmu, Prabu,

sudah tak dianggap sebatas perkataan di ujung mata tombak Majapahit.

Sebab setelah ini, tak ada yang lebih luhur lagi di antara asap dan cahaya lilin

serta dada-dada yang tertancap oleh tombak adalah segala tunduk yang taksa. 

Meski dari balik busung dadamu

selalu ada nyala api yang luber menyembulkan berahi atau baur arah angin

tetap saja tak sudi kauminum derai-derai darah dari mata airmu sendiri.

Tapi percayalah Prabu, tak ada yang benar-benar merasakan kematian.

Jika itu berarti kau harus menenggelamkan roh dan jasadmu,

kami patuh tanpa harus melebarkan nestapa.

Sebab di tanah-tanah yang lebih subur

dari tanah yang diciptakan Sang Hyang Wenang,

sejatinya nelangsa menolak dilahirkan.

Saat itu, berawal dari khianat yang terkapai-kapai ke poros tirta amertha bumi

hingga Adipati mengatupkan gendang telinga pada bau-bau darahmu,

tetapi kau memilih bersejingkat dari dalam corong senyap ke arah Cetha

meninggalkan segala derap yang kabur dan suara-suara asing di tengah desa.

Berberita kewaskitaan Kanjeng Sunan,

diajaknya kau memangku kembali tanah-tanah moyang.

Namun tetap tak ada yang bergetar kecuali jiwa-jiwa

yang berlayar menuju telaga penahbisan.


Gajah Mada dan Borok-borok yang Niscaya

(1)

Usai tetes darah yang sengaja dibiarkan tumpah

hingga menjelma riwayat sebagai bibit bagi anak turunmu

hanya dianggap sebatas mestika yang karat,

tetap tak sudi kau keluarkan keredak api lewat sumbumu.

“Lebih baik kuteguk darahku daripada kukotori dengan mata airku sendiri,” katamu.

Telah kaupatahkan segala murka yang pelan-pelan mulai bongak pada tirta amartamu.

Kau selalu bersikeras mendekap tulang-tulang Majapahit.

(2)

Semua berawal dari pada rapal yang diadu domba,

yang terus-menerus melekat di tiap-tiap laku,

menjadikan bau-bau mistik tak lagi lapang,

mengakibatkan pucuk-pucuk keris

kelu mendengungkan sabda sebagai usaha mengasah perlawanan.

Seluruh kerajaan merasa tertimpa tempayan nanah

meski kehendak tak pernah melengking dari kidung seluruh arah mata angin.

Namun kau tetap dibentur-benturkan oleh ucapan nanar

yang menyat dari atau ke kecipak waduk Gajahmungkur.

(3)

Setelah Bubat yang tak diinginkan oleh sesiapa

dan belalak mata yang meninggalkan noktah-noktah bencana,

jiwamu mengerucut, merajut benang-benang tipis menuju niskala,

memasrahkan jasad dan rohmu lebur:

lebih tipis dari asap, lebih sunyi dari bisikan.


Menemukan Jati Alas di Selatan

Kalam langit yang tertiup membawa kakinya memijak tanah-tanah Pamantingan.

Gegaslah ia bersila dikelilingi potongan-potongan titah.

Pagi belum usai mengepulkan asap dari kobaran-kobaran api

yang menguar dari dalam celah-celah jati alas.

Sedangkan malam serupa kematian yang sempit dan tak tanggal oleh kebiri waktu.

Kanjeng Sunan meleburkan jasad sebagai tirakat

melewati benang-benang tipis menuju Sang Hyang Agung.

Sebab, resah dan tulah hanyalah sebatas berenuk yang busuk.

Hingga diutuslah Cemara Tunggal menggetarkan suara-suara serak

dari tempat lengang pun juga tak lekat.

“Wahai Kanjeng Sunan Kalijaga, kembalilah menuju selatan.”

Derap-derap langkah dan napas-napas malam tumpah juga pada Gunung Pati.

Di tangan kewaskitaan Kanjeng Sunan, kera-kera mampu mengaburkan diri

dari belalak sepasang mata dan amarah yang berahi.

Sebelum  waktu mencacah jiwa, batang-batang jati telah patuh pada kecup doa.

Dengan detak-detak tangan yang terdengar parau

dan lenguh-peluh yang diasingkan dari tubuh-tubuh, 

jati alas berhasil menancap sebagai saka guru.


Dengan Mengenakan Namamu, Muhammadku

Namamu mendengung dalam pengasingan.

Muasal namamu adalah pakaian bagi jiwa-jiwa telanjang.

Kau kampung halaman yang dirindukan oleh perantau nanar

sebab pulang terbuat dari jarak dan gelisah.

Dari namamu, semesta mampu merentangkan lengan

dan Jibril sanggup mengepakkan sayap.

Setelahmu, tubuh-tubuh memerlukan bumi.

Menampung tetes darah dan deras hujan yang mengguyur mata.

Telah kau siapkan ladang-ladang subur sebagai tempat bercocok tanam.

Tapi besi-besi lebih suka aku kibarkan di atas tanah-tanah basah.

Memang semula berawal dari badai kegembiraan

yang datang  bergantian di musim-musim cerah.

Namun cuaca telah berpindah haluan.

Maka saat ini, yang aku perlukan sebagai arah kembali adalah dirimu.


Di Balik Yarmuk

:Khawlah binti Azwar

Dari Yarmuk, matamu mata pisau melewati batang-batang tamr

dan butir-butir pasir menuju ke sebuah muara di ujung jejak-jejak kaki.

Di belakang punggung mereka, kaurangkai napas-napas

menjadi doa yang berarak memenuhi mega-mega.

Selalu kautorehkan percik-percik air terjun

dari dalam matamu ke atas bebatuan keras

sebelum luka menemu cahaya fajar.

Sebab Dhirar, kau harus merelakan tubuhmu bergetar oleh sentuhan cahaya matahari.

Mungkin kau tak pernah dianggap sebagai gema di kedalaman gua Hasa.

Sebab, di depan zirah orang-orang Romawi telah kautandai arah mata angin

yang menjadi titik temu antara darah dan nanah.

Namamu, seperti tangga langit yang seluruhnya berupa nyanyian serak

hingga berjatuhan air mata malaikat menjadi danau-danau kecil di tengah gurun.

Maka, angin menggiring ringkik kuda menuju getar-gemetar benteng Byzantium.

Tak pernah kau mengerang meski kaudengar deru-deru lonceng besar

bisa mengatupkan gendang telinga.

“Wahai putri-putri Himyar, keturunan-keturunan Thubba’…”

Suaramu merubah pucuk-pucuk pedang hingga kastil menggigil sekali lagi.


Surat ke 18 yang Jatuh ke Bumi

/Haq/

Adakah yang lebih melegakan daripada patahku

dari ranting-ranting Arasy menuju Jumat yang mengerdilkan seluruh kabar haru?

Atas derma-Nya, aku lemparkan dusta jauh dari hadapmu,

kutiupkan wirid-wirid haq ke dalam semesta dirimu.

/Rida/

Akulah pelita yang membimbit potongan-potongan titah

di tengah daur yang payah, di antara masa yang pasrah.

Tuntunlah kepalamu agar terbenam dalam karib doamu,

sebab akulah pemanjang cahaya yang menyertaimu.

/Tobat/

Umpama kauziarahi Al-Aqsa dan Al-Haram,

dan telapakmu bagai tertancap batang-batang tamr dan duri-duri bidara,

biarkan lengan-lenganku yang meredam luka dan dendam

sebab di telaga penahbisan, telah kusertakan doa untuk pengampunan-Nya.

/Batil/

Bersama Al-Baqarah, kudirikan benteng Rumi mengelilingi istanamu

sebagai penghalau ketika hasut dan tamak berusaha mencengkeram tengkukmu.

Maka, kumandangkan lafalku pada tiap embus napas yang membentuk hidup.

Peliharalah zikirku dalam tiap detak jantung sebelum mata benar-benar terkatup.

/Cahaya/

Usai deras doamu yang khidmat dan luhur

kubentangkan jalan panjang melewati saf-saf langit yang tafakur.

Akulah persaksianmu, maka, tak usahlah khawatir

walau Malaikat Israfil meniup sangkakala terakhir.


Sebelum Tiba di Bulan-bulan Janggal

Daun malam berkata dengan busur panah yang membidik mata.

Di antara langit yang telanjang, bau-bau kematian adalah mata pisau.

Kehidupan adalah rempah-rempah yang telah menjadi hidangan langit.

Sedang aku hidup di dapur dengan kayu-kayu yang belum dibakar.

Suatu kali aku menyusuri hutan-hutan gelap

dengan langkah yang tidak bergerak.

Hanya jejak-jejak waktu yang terdengar parau.

Aku pesakitan sebab gendang telinga mengatup perlahan.

Hingga tibalah aku di hadapan unggun api,

bau-bau kematian luber, melelehi ruh-ruh yang memar.

Daun-daun malam mengendus dari permukaan

dan menggantungkan napas-napas.

Dituntunnya aku ke telaga penahbisan.


Ketika Para Perindu Duduk di Suatu Malam

Terang maupun gelap adalah jalan-jalan para perindu

yang tidak pernah abai dari fitrah alam semesta.

Rindu adalah kobaran api yang menjalar hingga terkoyak jiwa-jiwa sunyi.

Tapi mereka tidak mengultuskan pengakuan diri.

Oh, Perancang kampung halaman.

Biarlah nyiur seruling para perindu luruh pada pangkuan-Mu,

sebagai bongkahan es yang tidak bisa mencair kecuali sebab titah-Mu.


Sang Penunjuk

:USC

Dingin malam membekuk tubuhku.

Lalu kata-katamu muncul sebagai akar dari pohon,

tumbuh, bercabang, dan berbuah menjadi cahaya pagi.

Kata-katamu terbit dari langit.

Di persimpangan menuju bulan pernuma, ia tidak tenggelam.


Nafi Abdillah, menulis puisi dan cerpen.Seorang pembelajar di Padepokan Sakron dan bergiat pula di Komunitas Sastra Kamar Kata Karanganyar dan Forum Malam Sastra Pandawa. Karya-karyanya pernah tersiar di beberapa media cetak maupun online dan beberapa kali menjuarai ajang perlombaan menulis. Penulis bisa dihubungi melalui surel [email protected] atau akun media sosial Nafi Abdillah.

Puisi

Puisi Candrika Adhiyasa

KULTUS

biara-biara selalu terbuka

untuk doa-doa

layangkan pada langit, kata-kata

siapa beranjak dari pusara

tuhan, meski tak bertelinga

ia mendengar semua

bahkan sampai ke palung hati paling

bisu sekalipun

dan kita menerka-nerka, akankah

bahagia

datang sesubuh cahaya

di pagi buta, layaknya fajar pertama

tuhan, meski tak bermata

ia melihat semua

Tasikmalaya, 2019


ANTESEDEN

kusimak sayatan pelan gin dan heineken

kuhela sesak udara andantino dan misty

kukecap sembir seloki eternity dan poison

ada hutan beku di balik bola matamu;

sebuah semesta taiga terhampar

menjadi partitur sejarah yang dingin dan terkucil

Kuningan, 2019


MUSIM ANGIN

sejak kecil, aku terusir

diasingkan dari permainan

sering kutatap permukaan kolam

: akukah si wajah buruk rupa?

kupungut berbagai topeng

memakainya, silih ganti

sesuai musim—

menyembunyikan wajahku

semata-mata, agar aku diterima

dalam kepalsuan itu,

aku tertekan, seraya bertanya-tanya

bolehkah kita; menjadi bukan siapa-siapa saja

tanpa harus merasa kesepian?

Tasikmalaya, 2019


KACA DI BOLA MATAMU RETAK

meluruh di sepanjang kabin

tanpa penjaga. ombak dibuai

langit, awan dimanja cakrawala,

tiang piatu digembala badai

matahari menyinari air mata

berderai menjadi api

rembulan memberi mimpi

pada dendam abadi

laut dalam pigura

kaca di bola matamu retak

Tasikmalaya, 2019


INSTRUMENTAL: NYANYI SUNYI BEETHOVEN

Sonata No. 14 “Moonlight”

in C-Sharp Minor Op. 27 No. 2

ia menggoyangkan kaki-kaki kecilnya

            dan bayang-bayang muncul

            dari permukaan laut yang keruh

sebuah tempat indah terbentang

            nun jauh di kekosongan matanya

            kemudian menundukkan wajah

sekali lagi, ia berharap tak pernah dilahirkan

            ke dunia yang memilukan ini

Tasikmalaya, 2019


REFFRAIN: NYANYI SUNYI JOEP BEVING

                        Le souvenir des temps gracieux

                        in “Prehension”

angin meredupkan sisa bara

            bekas perbincangan semalam. botol berserak

            dan langit masih saja tak berperasaan.

suatu hari kamu akan membaca ulang

mimpi-mimpi yang membuatmu menangis

di antara jengkalan gemerlap laut malam.

Tasikmalaya, 2019


OUTRO: NYANYI SUNYI MILES

“jika aku mati,” ucapmu.

            kamu berkata bahwa kamu akan

            bermukim di sebuah pondok

            yang tersembunyi di dalam kabut.

“jika aku mati,” ucapmu lagi.

            kamu berkata bahwa kamu akan

menyimak kaset-kaset piano lama

            sambil meneguk minuman keras.

“jika aku mati,” ucapmu selalu.

            kamu berkata bahwa kamu akan

menatap langit yang menyala

sambil menghela udara pagi.

“jika aku mati,” ucapmu.

Tasikmalaya, 2019


JAZZ UNTUK GILIMANUK

lama kita berlayar pada kekosongan

mencari pijakan-pijakan—Keftiu?

serupa kapal layar

bersungut-sungut mencari kabar

sekarang, gelombang tiada kentara

redup diliput pekat teramat

telingaku dipenuhi napas Miles

terbaring kaku di geladak

mengikuti laju konstelasi

lama kita berlayar pada kekosongan

mencari kejelasan-kejelasan—lewat

Timaeus dan Critias?

serupa kapal karam

berkaku-kosong menyusur kelam

Bali, 2019


PERTEMUAN

di balik bukit itu bersembunyi ragam

warna jua bentuk

dalam terkaan yatim piatu

dan gersangnya peluk

lalu rinai bunyi-bunyi mekarkan

ilalang bayang-bayang

di langit mimpi yang jauh

dari anak tangga penerimaan

daku bertanya:

apakah sebenarnya yang ada di sana;

gelapkah terangkah

maniskah pahitkah

lama kita tak mengadu nasib rindu

Tasikmalaya, 2019


PERPUSTAKAAN TUA

tak kupetik kata-kata dari langit

yang tangkai-tangkainya begitu

rapuh dan semu seperti bayi-bayi

yang hendak dilahirkan ke bumi

kata-kata dalam puisiku kupetik

dari belantara perasaan rumit

serupa isi kepala para dewasa

di rimba raya dunia tipu daya

sebagai sebab, kamu tetap

semayam pada alam yang tak

terekam, pada ruang yang tak

tertangkap kesadaran seperti

halnya dongengan dalam buku-buku

kusam di pojok perpustakaan tua

Tasikmalaya, 2019


Candrika Adhiyasa, menulis puisi, cerita pendek, novel, dan esai. Belajar ilmu lingkungan di Universitas Gadjah Mada. Instagram @candrimen