Tak Mampu Mengalihkan Perhatian Tuhan
Rey, kita gagal guna menyunting satu kisah
jalan timpang menamatkan tadarus perjumpaan
kita lalui, berulangkali dibenahi tak ubahnya
menyulam petaka dalam tubuh sendiri
sukar dipercaya kita melangkah dalam satu kemungkinan
merubah nasab dari nasib yang diimpikan
menjenguk waktu dari dongeng diary milikmu
empat tahun lama kita mencair persis marie-pierre curie
yang tak tergundahkan
Tak ada yang bisa mengurungkan qada` berjuntai
semangatmu jua tak bakal mampu mengalihkan perhatian
tuhan, kita berhala di tangan ibrahim
terkulai dalam cakaran maut mematikan
Sesal tak perlu kau tambatkan pada sekuntum mawar
engkau pasti mengerti apa makna mawar dalam qoidah
cinta, ia terlalu banyak meneguk lara
sesampai di istanaNya, ia akan redup dalam goresan cahaya
yang kelud
Dirimu perempuan paling kusayangi berasa tanda kutip
istimewa bagi hati dan tak bisa dimiliki
panjang perjalanan yang kita lalui tersungkur dalam kabut
bila masih ada maafmu bicaralah di antara kesenyapan mimpi
yang kusediakan, duduklah dekat hati!
sekilas diam atau bercengkerama sekuat tenaga sekalian tertawa
sekeras-kerasnya, sebab ketika fajar terenggut cerita kita tutup
selamanya!
Madura, 30 Agustus 2021
Luka Simbah dalam Peluk
Hilang sudah hasrat memetik bunga di area pipimu
ada kalimat luka simbah dalam pelukku
setahun kita tertahan dalam jarum jam
bergeming di kejauhan
kabar yang kuterima dari sebuah telegram
dirimu telah punya sasana baru
untuk memacu kasih dan meratap senyum
Sejak peninggalanku dari desamu beberapa kurun
kalimat terakhir yang kau pinta, rawatlah rindu
selama persendian waktu tak tentu
araba paghar, bukti yang ditautkan di hadapan tuhan
jangan sekali-kali kau tumpahkan di atas perempuan lain
morse itu yang kukepal hingga detik ini
Melirik potretmu dari pulau kecil yang kubingkai
seakan senapan laras panjang menodong dari belakang
disadap dari instagram seorang teman, dirimu
benar-benar kehilangan akal besar, menjauh ke seberang
melecutkan gusar secemas serangga jalang
pria yang kau pinang adalah peradaban tua yang diikat dendam
menancap kesan sekadar asapan arang
di luar sana, di tanah rantau, aku yang di pingit kâlâkoan
terikat teralis dan hanya mampu
mengulum amanah yang kau tunggakkan
Setelah melumat kebenaran yang tak waras
aku yang katanya kau cintai, harus melepuh
di tengah kembang api merayakan pesta perkawinan
begitu banyak kejutan menggilis kesucian ritual
perjanjian yang kita pipihkan pada selok kuning keemasan
tak lagi tenteram bersama putar dulang yang kau sepahkan
tivani, andai aku mengerti tentang diriku yang akan hilang
tentu kutolak hari kelahiran, begitu kutahu tulang rusukku
tidak akan pernah melahirkan tubuhmu, pastinya aku tak sanggup
lagi jadi laki-laki
walaupun harus mati hanya iklima yang bisa menemani
menidurkan rintih yang tak pernah kau sadari
suatu saat kau bakal mengerti aku reinkarnasi habil
yang terhalang rindunya sampai babak ini
Madura, 13 September 2021
Biografi Tulang Rusuk
Tak habis pikir bagaimana tuhanku
mencabut tulang rusuk sebelah kiri untuk
merangkai tubuhmu yang segempal itu
alangkah agungnya batin
menyaksikan tuhan bermain-main di lambung kiri
mencalut dada, mengutus maut membongkar segenap rasa
yang sempat kubuka bagi kaum wanita
harus bilang apa pada tuhanku
kenapa tak kucerabut sendiri tulang itu
kutenggelamkan tubuh ke dasar degup
agar rahasia kunikmati penuh sambil menari
di kubang ruh
Otakku melauh ke serat logika
barangkali jawaban tercecar di sana
tak kutemukan apa-apa, sebercak tanya makin bulat
dengan cara apa tuhan merekayasa
wujudmu menjadi gumpalan berahi
– setiap lelaki siap-siap lumpuh
tersesat dalam gerung retorika
kutemui kebingungan luar biasa
tuhan ada-ada saja, kun-Nya menyandarkan
manusia pada kehampaan narasi yang tak asasi
Otakku merauh ke pangkal tasawuf
berupaya dalam hening, menimbun tanya
pada hati yang tak berkata
o, sama tak ada apa-apa, tapi legat tubuh
bisa kusayam dalam kesempurnaan iman
kedangkalan fikir jadi adonan, tuhan kuasa
semesta mulai azali
–sampai kapan pun aku tak akan bisa apa-apa!
Tak habis pikir engkau mengepul dari sisi rusuk sebelah kiri
pantas tak ada perempuan yang pasrah kuhubungi dan memang
tidak ada yang mau dihubungi
mulai hari ini duduklah di situ dekat tulang rusuk yang kurang satu
agar rantap segala nyeri
sunyi segera terhenti
Madura, 15 September 2021
Rindu di Tengah Peradaban Asing
Meski jarang sekali bertemu
dalam kuntum bunga yang merekah
senyummu yang tak dimiliki setiap wanita
selalu menggoda dinding hati
jarak selisih 10 tahun kiranya jadi seruan
jenjang perbedaan dianggap mengutip bencana
pikirkan sebelum sejarah melewati riwayat musim
sebelum kalam cinta mendefinisikan warnanya
dalam ijab yang kau pahatkan
Radeena, kita diajarkan cara memilih
menentukan masa depan tiada kecemasan
wangi tubuhku yang menghangatkan napasmu
bukan satu alasan lakon adam-hawa akan terjadi lagi
tahun ini
Aku sepakat dengan jiwa-ragamu
berbekal bismillah, harapan tuhan meridhoi
tapi tanah ini memendam sesajen leluhur
keping langit-bumi perlu disuapi harum melati
janur kuning harus melengkung sebagai pemangku
siapa saja yang berkunjung
Tanda tanya selalu kita hinggapi
mengapa upacara di tanah ini begitu dikeramatkan
bahkan persoalan rindu semata mengikuti sirah rasul
selalu berkilang di antara tanggal baik atau buruk
persis dirimu, aku hanya mengangguk diseret
petuah yang tak kukenal asal usulnya
seakan mengaduk logika di tengah peradaban kampung
yang asing
Tanah ini aku berasal
tanah itu pula kamu kembali
sebaiknya kita bungkuk dalam diagram upacara tanah ini
itu saja!
madura, 21 September 2021
Microphone Duka yang Mendalam
Kamis atau mendekati Jumat manis
perempuan desa menjumput matahari ke dalam pusara
tangis hangus diantar azan tandai pertemuan telah usai
magrib bergetar menyambangi kemboja
bekas al-burdah di telinga kanan-kirinya menyerapi
kaki yang makin keras seiring microphone
menyampaikan duka mendalam
Semua berdiri dalam sesengguk tangis
termasuk anak lelakiku yang dibesarkan
tak mampu mengulas
kata-kata telah diganti airmata
Engkau sudah besar sekarang, anakku
pesannya kemarin engkau jangan jadi sikintan
atau semacam legenda batu menangis
perempuan desa itu tak lagi kuat memeluk
bisikkan ke dalam lamunannya dengan segala cinta
yang dialirkan ke rongga napasmu
dialah perempuan yang menjaring matahari di tepi pagi
mengukus bulan tengah malam demi menuntaskan
ikhlasnya padamu
Anakku, perempuan desa itu tentu tak siap berujar
senyumnya tetap mengembang di antara batu nisan
ia mirip toor pekai dalam kisah malala yousafzai
yang meluluhlantakkan
Anakku, kini ia tak ingin diganggu
sendiri menyepi sembari memungut doa
dari jejak fajar yang hengkang
Madura, 23 September 2021
Rapuh Mencari Jalan Pulang
Cukup lama bersanding dalam ceritamu
satu kerinduan yang tak pernah berhenti
menikmati pendar bidadari lepas
dari kremasi rambutmu
setiap kisah yang kau sanggul
pasti kuaminkan sekadar berlama-lama
dalam penantian panjang
-satu ketulusan Audrey junicka pada papanya
Masih kau lanjutkan kisah melintasi tarian moyang
roma patobin[1] letih memikul usia dan hendak dipugar, tukasmu setelah
menjelang pukul sembilan malam
tak terasa tiga jam duduk kita tanpa makna
tak kutemukan jeda untuk mengunduh di mana hatimu
menyimpan namaku
kebiasaan yang kusesali dari setiap perempuan yang telah
berkembang wanginya; menyisakan kebencian mencorat-coret
dunia fana
Ini bukan semestinya, tulang rusuk yang kau pinjam
tempo lalu telah berganti warna
kau dibesarkan tanpa rasa malu dan mencuekkan
setiap rindu yang datang
praduga yang kubangun terkoyak gemuruh
dan rapuh mencari jalan pulang
hidup seperti menuju kematian
Di tanahku langit berkabung
menyematkan penyiksaan
udara menutup diri dari cahaya
lagi-lagi kutapaki traumatika dalam sepatah kata
;saatnya kodratmu meratapi penyesalan
Madura, 24 September 2021
Kematian Tanpa Kisi-Kisi
Kemarin siang engkau masih membelai rambut kedua anakku
menyisir nyanyian tumbuh di belantara usiamu yang hampir
60 tahun, tembang kancil dan romantika nina bobo kau putar
mendayung masa kanak entah mau dibawa kemana
petuah bersambung mengaitkan jiwa untuk berkunjung
ke peradaban yang agung
dipeganglah kedua jari anak-anakku seakan berikrar
untuk tetap hangat dalam angin dan dingin dalam perapian
Emak, jangan kemana-mana dulu
sebelum sajak anak-anakku tuntas menganugerahkan singgasana
kebahagian itu untukmu dan patut bersenggama dalam
wujudmu, aku tak mau lagi derita hurrem dan suleiman
mendiami petang dan terentang di sekujur mimpi
dan akhirnya terbakar tanpa abu
sia-sia menggebu
Kematian yang tiba-tiba
laksana terompah mimpi
pergi tanpa kisi-kisi
Kaget. Terjerat samper[2] bermotif cokelat menutup auratmu
kidung yaa sin berhamburan membalut kedua tangan yang lemas
tangis hancur membedah asar yang belum selesai
mengapa kau ciptakan mantra yang bisu ketika anakmu dan anak-anaku
meringkuk di ujung kaki
siapa yang akan menghapusnya, kata-kata hampa tertutup luka
senandungku hilang di atas gundukan makam yang menghadang
Emak, kami ikut berduka
di atas puisi yang mengentalkan jasadmu
kami telah melupakan dosamu
dan menyisipkan persaksian baik untukmu!
Madura, 26 September 2021
Kertas
Ingat secarik kertas
dirangkai mirip perahu
dalam hujan kita alirkan hajat
bersama perahu menderulah sungai-sungai
penanda kita akan dikekalkan
mata air suci semacam
Madura, 26 September 2021
Aku Diam Seperti Kronos
Dalam perihal ini perlu terus terang
aku hanya kuasa menggenggammu dalam mimpi
bukan dalam buntalan cinta yang mengambang
rasanya sulit dipaksakan untuk membawamu ke musim yang lain
sesuatu yang mustahil, matahari yang kehabisan sinar
kuganti redup dupa di tengah-tengah perselisihan
adat kampung yang tak kunjung redam
aku dan kamu replika kromosom tua
yang takkan pernah ditulis karena tinta purna
untuk menyusun bait-bait purnama setelah siang
kehabisan kata-kata
Radeena, bisa saja kita bertemu di suatu meja makan
atau di mana pun tapi kondisi sudah tersuruk lesu
jamuan yang tadinya berharap jadi tumpukan reklame
khusus merekatkan hati justru menggigil satu persatu
meski wajahmu masih dalam dekapan mimpi
dan terkadang kuimpikan kemarau untuk membajak
setiap lelaki yang ingin berteduh di bawah tidurmu
kau berupaya melesat meninggalkan lara
sayapku patah tak kuasa mengawan
Radeena, skenario yang kita unggah untuk menggores rindu
semula dingin-dingin saja, semenjak ibu-bapak menghangati cuaca
dengan sumpah yang ditandukan ke dalam dadamu
pelan-pelan kau bakar botulinum dan aroma sianida
ke dalam kisah Harold knapke-ruth yang haru
sejak itu kau memintaku diam seperti kronos
memakan cintanya sendiri
kerap tidak ada kabar yang engkau kirim
senantiasa aku gelisah menebaknya
-kita masih pacaran atau mati tanpa pemulasaran
Andaikan toh aku mati dan jasad menyebutnya pahlawan
batu nisan takkan terima, orang-orang sekitar akan berbagi prahara
tak pantas seorang lelaki muda mati tanpa ekspektasi
tapi inilah keputusanmu, seperti benda padat yang tak bisa
menyeduhi bentuk bangun ruang
Madura, 30 September 2021
Suratmu Sudah Terpidana Mati
“Dengan darah yang mencair
segera akhiri perjalanan musim semi”
membaca suratmu sore itu
otakku terbakar memori yang terpidana mati.
Mereka mungkin mengerti mengapa aku ingin
sekali menerjemahkan kedalaman sunyi
sejak kepergianmu tempo lalu banyak sekali
pertanyaan-pertanyaan yang tidak selesai
di meja jamuan, sementara dirimu terus berlalu
tanpa bingkisan jejak yang bisa kukenali
kucoba menuliskan surat lamaran
sekadar mengintrogasi pikiran
di mana sebenarnya engkau teduhkan sedih
tak jua ada tanda-tanda senyummu akan kembali
menyelimuti tubuhku
Madura, 30 september 2021

Joko Rabsodi, lahir di Pamekasan, 11 Juni. Santri yang mengabdi di SMA Negeri 4 Pamekasan, Madura. Karyanya terbit di beberapa media cetak dan daring. Antologi terbarunya, “Akatalepsia, 2021”.
[1]Sebutan rumah induk dari sesepuh juga dikenal tongguh
[2]Dalam bahasa jawa disebut jarik.
