sehwalilanang
sakit adalah hambaKu
yang Kusertakan pada para kekasihKu
di atas buritan, ia kutip apa yang pernah ia ucapkan
pada sang putri, untuk dirinya sendiri, malam bulan gulita
negeri kafiri itu kian lamat, dan malaka masihlah jauh
ia ingin menoleh, seorang perempuan yang ia tinggali
benihnya – sembilan kali – berdiri mematung, menatapnya,
tapi ia tak menoleh
***
mungkin perempuan itu berkata, “jangan pergi,”
sebelum mengingatkannya tentang sebuah masa
ketika tuhan mengirimnya dari jeddah ke jawa,
ke pulau di mana surya siwabudha berkilau
dan ia terkenang sulbi subur itu, susu emas itu, lalu penyakit
yang sembuh oleh kata-kata, hanya kata-kata: bebaskan dirimu dari
bayang-bayang yang merusak, tak ada obat bagimu selain kekuatan
allah
“ingatlah nabi yang meninggalkan umatnya, ingatlah
allah mengasramakannya dalam perut seekor ikan,”
perempuan itu, bekas penyakitan itu, berkata
tapi ia bukan nabi
***
“ini hanya sulap,” ia dengar seseorang berkata,
mungkin sang prabu, mertuanya itu, atau sang patih
di atas meja jamuan, induk babi menguik dan ular sendok
melata, menyebarkan kentut dan memanjatkan syukur ke hadirat
allah yang mengembalikan mereka dari potongan daging sate
dan pepes
mungkin hanya perempuan itu, mempelainya, di ruang hajatan
yang mendengar ia berdoa, meminta tuhan mengirim peringatan
bagi kaum sesat yang merayakan pernikahannya
***
dalam tugur bulan gulita
ia cari apa yang keliru
siang harinya, sang prabu mempersembahkan
kinang sirih dan bunga kepada sebentangyoni perak
dan menyembah matahari terbit, meminta gunung
membuahi putri terkasihnya
“seperti firaun, prabu itu tak bakal tercerahkan”
dalam tugur yang sama
ia tak tahu apa yang membuatnya mesti pergi
: dakwah yang gagal, atau harga diri seorang lelaki
ia mengusap kainnya, lingganya masih berdiri
dengan ujung basah
***
“masuklah, seh,” nakhoda itu berkata
“angin malam tak baik bagi kesehatan”
ia memandang permukaan yang tenang
ia mengusap dadanya
ada sakit yang seperti tak bisa reda di sana,
bahkan oleh kata-kata yang pernah ia yakini
giri
angin tiba-tiba tak ada hari itu, hari di musim pancaroba yang ganas
ketika sebuah kapal menabrak seonggok peti yang terapung lalu terpaku
dan seorang bayi meringkuk di dalamnya, dan sang nakhoda memungutnya,
dan angin kembali berembus, tapi tidak ke bali ke mana semestinya kapal
itu menuju, melainkan kembali ke giri, ke mana kapal itu berasal, dan si janda
pemilik kapal, menjadi ibu tanpa getah susu
***
di blambangan, wabah belum berakhir
orang-orang kemasukan roh asing, dan tulang mereka membara
nyamuk berdengung sepanjang siang, mengirim balita dan lansia
ke negeri kematian
di keraton, nujum tentang seorang bayi yang akan
membakar kerajaan masih menggema
dan seorang raja mengingat tangis pertama cucu pertama
yang tak akan lagi pernah ia saksikan parasnya
telah ia tilasi cerita dari sebuah kitab
untuk memasukkan bayi itu dalam sebuah peti
dan melarungnya ke samudra luas
***
dua belas tahun kemudian, di ampel,
sang sunan menyimak laporan telik sandinya
“setiap pagi, tanah giri mendekat ke surabaya
dan setiap malam, tanah surabaya merapat ke giri
dan santri giri melompat, melompat kecil belaka,”
***
demi kitab-kitab, santri giri pada usia 16
pergi ke mekkah, dan kapal menyinggahkannya di malaka
di mana ia bertemu sehwalilanang
(dan paras mereka begitu mirip)
di mana ia mendapat wejang bahwa segala kejayaan
dan kekejian ada dalam alquran, dan apa yang ada dalam quran
ada dalam alfatihah, dan apa yang ada dalam fatihah ada
dalam bismillahirrahmanirrahim dan apa yang ada dalam basmalah
ada dalam ba dan apa yang ada dalam ba tersurat dalam
tanda titik di bawahnya
“putraku,” seh itu berkata, dan hatinya tergetar, seperti
ia dengar suara bapa yang tak pernah ia ketahui,
“sesungguhnya manusia tidur, dan terbangun ketika mati”
esok harinya, seh itu memberinya sebongkah tanah
dan menyuruhnya pulang ke jawa
***
sebongkah tanah pernah hilang dari giri
dan kini ia kembali bersama santri giri
dan tahun-tahun berlalu
dan sebuah pondok berdiri di giri
dan si santri telah menjadi sang sunan
dan kepadanya, orang-orang jawa, sunda, bugis
hingga ambon dan ternate, datang memohon ilmu
“beliau khalifatullah, dan giri memanglah negeri islamjawa”
***
di majapahit, brawijaya bermimpi tentang pulau-pulau
yang dijalin laut dan selat dan samudra, dan bukan dipisahkan
dan ia terbangun
darah akan mengalir
ia tahu
ia bakal kecewa
ia tak tahu
dan ia kirim sang mahapatih ke giri
tepat ketika sang sunan menyalin ayat dengan kuas
yang beberapa menit kemudian bertintakan darah
dari para penyerang yang kalah
dan begitulah kita, secara harafiah, mengerti bahwa
pena lebih tajam ketimbang pedang
***
segera sesudahnya, sang sunan membuka pintu
dan mendapati hari tak ada lagi
sulung dari sepuluh putranya
menyusul ke rahmatullah begitu diinjaknya
karpet khalifatullah
“gusti telah memilih cucu kanjeng sunan,
begitulah, begitulah”
***
sang cucu, kita menyebutnya sunan giri prapen,
kabur ke arah laut hari itu,
membiarkan orang-orang majapahit menodai
makam leluhur yang namanya ia ambil
sebelumnya, ia dengar amarah itu,
“ia bukan sunan yang mengusir kita dengan sebuah kuas
belaka, meski sebutannya mirip, mirip semata”
ketika nisan diangkat oleh sepasang juru kunci yang lumpuh
ribuan kumbang terbang menyerang, meluru dan memburu
serdadu majapahit, menciptakan tudung malam dan merenggut
matahari buda siwa dari negeri para penakluk itu selamanya
dan sepasang juru kunci itu, yang tiba-tiba sehat kedua kakinya,
sesaat sebelum menyusul sang junjungan ke arah laut, mendengar
seorang serdadu berteriak, “ia pernah mengalahkan kita dengan pena
dan kini dengan kumbang yang berasal dari huruf-huruf”
***
hari sedang senja ketika sunan muda itu tiba
dan menyaksikan puing serta abu
– hanya puing serta abu –
tapi ia tidak bahagia
ia tahu, dari lintang kebiruan yang jatuh di beringin barat halaman keputren
bahwa akan tiba masanya, tak lama lagi,
seseorang dari mataram bakal menaklukkannya
dan tak akan ada pena yang menyelamatkannya, juga huruf-huruf
“sebab pada waktu itu, seseorang yang lain
sedang menyiapkan mereka untuk menyusun sebuah kitab
agung, kitab berisi jalan kejayaan dan kekejian,
kesucian dan kecabulan
: suluk tambangraras”
perang
bagaimana sembuh dari asmara, kecuali dengan perang?
“sanggama ini, dinda, begitu menyilaukan, begitu langka
dari batas ke batas, maut mendekapku, sebab kau hawa
dan aku tanah, maka di sinilah aku, dikurung lelah dan pahit
dan kita, hanyalah petugas dari peperangan dan birahi jawa”
lelaki itu menggumam, selasakliwon, setelah seorang ratu
dengan kuasa tak terperi kabur dari ranjangnya sebelum azan subuh,
hanya sedikit wangi melati tersisa di sprei kusut, juga nafsu yang perlahan susut
di keraton yang jauh, samar dalam hitamnya samudra padma merah,
sang ratu mengulang khaul, “tak bakal hilang keperawananku sebelum dunia
masuk ke kali yuga, dan bahwa telah kupilih raja islam paling rupawan, paling perkasa
sebagai kekasihku, juga turunannya, segenap penggantinya hingga akhir zaman”
***
siang harinya, lelaki itu, sultan para sultan, berdiri di atas permadani pasir hitam
menggelar tarung macan di alun-alun utara, di halaman selatan ia perintahkan
para punggawa memainkan adu biji kemiri dengan hukum sembelih bagi siapa
yang berlaku curang, sebuah masjid berdiri gagah di sisi barat, sekadar
berdiri dengan gagah, sebab ia lebih suka pergi ke mekah dengan pikirannya
setiap pekan menunaikan salat jumat
dengan kain putih biru, sorjan beludru hitam bermotif daun emas, serta kopiah
dan tongkat kayu pertanda kesalehan, ia titahkan adiknya, ratu pandhansari,
untuk mengirim serdadu ke giri
“sebab mereka begitu sombong, dan penguasanya merasa diri sebagai khalifatullah
tapi aku, sultan agung, tidak mengenal kalifah atau hubungan saudara, maka
sertai suamimu, pangeran pekik yang pengecut, untuk memerangi mereka”
***
menjelang subuh, pangeran dari surabaya itu tiba di giri
tepat ketika sunan prapen beserta santrinya mendaraskan ayat-ayat
alfalaq; katakanlah, aku berlindung kepada tuhan yang menguasai subuh
dari kejahatan makhluknya
hujan berat lebih dulu bertandang
dalam kilatan cahaya kilat, sang pangeran bergidig menyaksikan
bayangan bersimpuh di samping sang sunan
“namanya endrasena, china muda nan pilih tanding
putra angkat kanjeng sunan
dan ia tak gampang digertak”
***
“ini hanya persoalan duniawi, ayahanda,”
jayengresmi, putra mahkota giri itu, berkata
“dan kudengar segala keagungan, segala kemashyuran
ada dalam diri sultan dari mataram, maka sebelum setetes darah tumpah
kenapa kita tidak tunduk?”
sang sunan bergeming
udara dingin
dan sang putra mahkota tahu kemana ia mesti pergi
“endrasena,” sang sunan menurunkan titah
“sendika, ayahanda, kehendakmu jadilah”
maka begitulah dua ratus laskar dengan berteriak
yudhailahi dan pedang dengan gagang berukir asma allah
mengirim takut dan maut ke serdadu surabaya
“malam keburu tiba ayahanda, sebab kalau tidak,
sudah kami ringkus pangeran pekik, dan kami arak ke mataram
hingga perang ini berakhir dengan terhormat,” lapor endrasena
malam itu, di giri, zikir dan syair mengalun merdu
***
kala yang sama, bentang yang sama, merangkul duka
dan suka bersamaan, dalam dekapan pandhansari, pangeran
pekik menumpahkan airmata, juga sesal, juga malu, juga ketakutan
akan beban perang yang ia panggul
“bersabarlah pangeranku,” ratu itu berujar, “biar kubenahi
apa yang tidak bisa kau menangkan”
maka keesokan harinya, seusai sanggama terputus pukulan gong
ia nyalakan harga diri serdadu surabaya, dan dengan rambut berkibar
ia pimpin pasukan yang marah itu
di palagan, ia buntungi endrasena dengan bedilnya: mulanya tangan kanan
lalu tangan kiri, lalu kaki kiri, dan ambruklah sang naga china
sebelum tubuh lumpuhnya dihujani tombak, endrasena meraung
“ini jihad kecil belaka, ratu, dan kita belum pula menempuh gurun roh serta
jurang raga, kemenanganmu bukan penyingkapan ilahi
dan kematianku tak juga pengungkai dunia kegaiban, ini mula jihad besar belaka…”
tubuhnya luluh, seakan larut dalam sanggama agung dengan perempuan pertiwi
pengembaraan
1/ memasuki suluk, hilang dari pandangan suluk
di gunung itu, jayengresmi menyaksikan lidah api
dan ia mengerti tubuhnya membara
lalu suara; bersabar dan kuatlah putra wali
sebab segala kotoran perlu dibasuh
dan tak ada pembasuh yang lebih baik dari bara api
ia tak tahu kemana mesti menuju
ia tak tahu ia telah memasuki suluk
sendiri
sembari meratapi sepasang adik
yang tercebur ke jurang dalam
menghilang dari pandangan suluk
diiringi santri buras
2/ gathakgathuk dan ki purwa
dari sesuluran merambat bunyi
dan dua dugal keluar mengecup kaki jayengresmi
“nama kami gathak dan gathuk
dan seperti yang tersuratkan, kami hambamu belaka”
sekian hari kemudian, pada suatu magrib
mereka menyaksikan api dari gerbang yang mengurung langit
dan puing keraton, dan akar-akar gantung, dan kolam,
dan bunga-bunga
mereka mendengar tembang cangkang kerang
sewaktu bersuci dalam kolam, dan sebuah embusan muram,
setelah tiga rakaat, membimbing mereka ke candi bata susun tiga
di mana sebilah pedang menantang langit di pucuknya
seorang juru kunci menghidupkan tembang dan menyalakan kandil
lalu menyengkelah pisau dan mengepras kepala boneka yang lantas berdarah
“namaku ki purwa, penjaga apa yang tertinggal dari majapahit
dan kukorbankan boneka-boneka itu sebab budha benci persembahan manusia”
malam itu purnama raya, dan ki purwa bercerita tentang bajangratu,
seribu langkah dari situ, di mana sesiapa yang melihatnya bakal hilang
akal dan arah
“tapi aku mencari adikku, dan tak butuh hilang akal dan arah,”
jayengresmi berujar, sebelum memilih mata angin
3/ ratu mas trengganawulan
seusai gempa yang sementara
seorang perempuan yang tersakiti tembang dan sajak,
dengan telanjang dan rambut terurai
menyongsong jayengresmi
“tapamu, duafa luhur, melekatkanmu pada allah
sekaligus merapatkan bencana pada rakyatku”
ia, yang kemudian kita tahu berasma ratu mas trengganawulan,
berujar dengan bibir gemetar
dan ia ajar sang pangeran giri tentang tanda-tanda
kaok gagak, berkah kera keramat yang dianggap bijaksana
oleh kaum nabi dan wali, serta cerita tentang hutan bagor
“tak sanggup aku menerima kesempurnaan ajaran rasul,
sebab aku putri brawijaya, dan budha memberkahiku kuasa
mengatur hutan ini, juga sendang yang kunamai sugihwaras”
juga kalangwan, syair yang mampu menyelamatkan para hina,
mengangkat jiwa pendarasnya dan melarutkannya dalam samudra keindahan
“deminya jiwaku, namun bagiku, siwa menggantinya dengan kicau
burung selangit, dan segala syair kini hanya mengisi hatiku
dengan kesedihan”
menjelang pagi, semak-semak terlepas, ratu mas trengganawulan
tak lagi berbekas, dan ekor seekor kera menyentuh kaki gathakgathuk yang baru
bebas dari mimpi yang lekas
4/ ki wisma, ajisaka dan muhammad, dan penyihir yang tersihir
barangkali hanya dalam cerita ki wisma, ajisaka dan muhammadal mekkah
adalah dua muka keping tembaga, utara dan selatan, siang dan malam, laki-laki dan perempuan,
ying dan yang, senasib sehakikat, sepasang yang terikat
awalnya, seekor raja naga sekarat lantaran orang kehilangan iman kepadanya
dan seorang lelaki miskin, kikures, menghadiahinya semangkuk susu setiap hari
dan sang naga mengganjarnya setahi emas setiap kalinya,
hingga si putra orang papa yang durhaka,
suatu kali berlaku licik dan mati, dan istrinya yang bunting melahirkan anak tanpa bapa
tapi naga itu berkata, “ia putraku belaka, dan ia bernama aji, artinya penyihir, dan kelak
ia akan pergi ke barat, ke mekkah, untuk berguru pada lelaki rupawan bernama muhammad
dan ia bakal bersaudara dengan abu bakar, dengan umar, dengan usman, dengan ali,
hingga suatu kali, ketika wabah menyerang jazirah arab, malaikat yang agung menculiknya,
membawanya ke atas kealiman, ke aras ilahi, tersembunyi di saka guru masjid akbar
tepat ketika muhammad menunaikan salat
dan begitulah berakhirnya guru murid, berganti hubungan yang setara belaka
dan tuhan mengirim seorang bersebut setia untuk melayani muhammad
dan seorang berjuluk setuhu untuk mengabdi pada aji, ajisaka
dan akan tiba suatu masa ketika ajisaka beserta pengiringnya tiba
di medangkemulan, menaklukkan raja para pemangsa bernama dewatacengkar
dengan sehelai surban, sehelai saja, yang melingkupi 5/3 tanah jawa,
dan bertuliskan 20 aksara yang membentang tiada habisnya,
menampung segala ilmu, yang dihargai maupun yang tidak dihargai,
yang telah dan bakal ditemukan
dan setelahnya, seperti yang tertulis dalam kitab-kitab, akan ia kirim
setuhu untuk memungut keris yang tertinggal di mekkah, di mana muhammad
sang nabi telah memerintahkan setia menjaganya hanya untuk diambil kembarannya
belaka, dan begitulah dua abdi itu berkelahi, lalu sama kembali ke alam keabadian”
dan barangkali hanya dalam cerita nyi wisma, ajisaka yang linglung pangling pada
naga bapanya, dan membunuhnya dalam suatu perburuan, sebelum dilihatnya
seorang perempuan bernama rarasati, lalu jatuh birahinya, lalu keluar biji maninya,
dan keluar pula sari sang perempuan, yang keduanya segera ditelan seekor ayam katai
“ajisaka sang penyihir, tersihir oleh cinta, lalu dikutuk malu dan lingganya layu”
namun karena ki wisma adalah penganut budha yang taat, penjaga medangkemulan
yang hanya muncul sewaktu kaki bromo tersungkup kabut, dan ia memberi jayengresmi
beserta gathakgathuk nira serta ketela juga air wudu yang mengucur dari tebasan
dahan jembul, maka kita mesti percaya apa yang diucapkannya
setidaknya, begitulah sang suluk bercerita
5/ seh siti jenar
seekor anjing buduk, sembari mengusap kerak koreng
dan membatalkan wudu pangeran giri, menggonggong tentang hakikat
yang tak bisa diselaraskan dengan syariat meski hakikat tak akan
memancar tanpa syariat, dan syariat mengalir dari hakikat,
juga tentang surga yang tak berisi kali susu dan madu, melainkan
perjalanan tanpa henti belaka, dan kebangkitan kembali yang tidak
berasal dari kubur dan ditandai tiupan sangkakala, juga cinta yang bukan
ikatan, melainkan kemabukan
ia pernah menjadi manusia sebagai abdul jalil, sebelum berbuat
dosa dan dikutuk menjadi cacing, lalu tersuruk ke dalam sebongkah tanah
penambal perahu, tepat ketika sunan bonang mewedar ilmu manusia semesta
kepada kalijaga, “jagad semesta adalah orang besar, dan manusia adalah jagad kecil”
tapi ia, sebab pernah menjadi cacing, adalah yang selalu dipinggirkan,
maka ia bangun pusat di pinggirnya, dan seorang aulia turunan brawijaya
menimba sekaligus menuang ilmu pada sumurnya, “ia berkata,” katanya, “bahwa kilat
yang terkurung di pintu gerbang, yang ditangkap ki ageng sela, adalah lingga siwa
dan kukatakan kepadanya bahwa petir-pelir itu adalah nur allah, cahaya di atas cahaya
untuk membimbing siapa-siapa yang ia maui”
namun walisanga, yang terusik kekondangannya, menangkapnya pada suatu hari,
dan mengganjarnya hukum penggal, dan dari leher yang koyak, mengalir darah putih belaka,
dan mereka meletakkan jasad itu di atas kafan yang memancarakan lima warna
setiap malam menjelang serta menguarkan seribu wewangian
begitu banyak keajaiban mesti dikaburkan, maka mereka letakkan bangkai
seekor anjing kudisan di atas kafan itu, dan keesokan harinya, mereka gantung bangkai itu
“kalijaga,” katanya, “yang suci itu, kau tahu, berkata padaku bahwa segala perkataanku
benar belaka, namun kata-kata kekasih yang terlalu masyuk mesti dibungkam,
dan beginilah aku, sebagai seekor anjing kurap”
petir menggelegar; meniru ki ageng sela, gathakgathuk mengucap gantri berkali-kali
dan jayengresmi melihat bagaimana anjing itu pudar, juga bayang samar masjid demak
hujan turun, namun tak mampu membasahinya
6/ ki karang
di bekas tapak kakinya, bunga-bunga tumbuh dan mekar
di kanan kiri jalan yang ia tempuh, pohon-pohon merundukkan buah segar
tapi ia tahu, dari cerita orang lama, bahwa ia tak boleh menjamahnya
“jalan masih jauh, puncak gunung salak masih jauh
dan pengganti putra yang hilang menunggu di sana, mungkin dalam jenuh”
dan di sanalah, di balik tirai sawit,
menunggu jayengresmi, dan kata-kata tak lagi bermakna
; guru menemukan muridnya, bapa menemukan anaknya
lalu sebuah perjalanan tak terceritakan
menuju karang yang mengapung di selat sunda, ia, yang karenanya disebut ki karang
mewedar hakikat perahu, nelayan, dan laut tak bertepi
; bukan yang terlalu banyak berhitung yang bakal sampai ke pantai,
melainkan yang mengenali dirinya sendiri, mengenali keluasan samudra ilahi
7/ kembali ke dalam suluk
dengan dua keping tembaga china dari si cantik rara suci
santri buras mengiringi jayengsari dan rancangkapti
keluar dari jerat jurang, kembali ke dalam semesta suluk
di mana mereka bertemu sepasang saudagar dari blambangan
yang tak berputra
“akan kau temukan kakang kalian, jayengresmi,” saudagar itu, kihartati
berujar, dan si nyai, menyingkap rahasia sanggama kepada rancangkapti
sebelum mati keesokan paginya, dan seratus hari kemudian, seperti semua
cerita cinta sejati, menyusul kihartati, meninggalkan sepasang anak yang belum
ia kenal betul perangainya, sepasang anak yang menyedekahkan segala warisan
dan kemudian, beserta buras dan dua keping tembaga china
kembali menyusuri suluk, yang entah kapan sampai
pada tembang terakhir

Dadang Ari Murtono, lahir di Mojokerto, Jawa Timur. Bukunya yang sudah terbit antara lain Ludruk Kedua (kumpulan puisi, 2016), Samaran (novel, 2018), Jalan Lain ke Majapahit (kumpulan puisi, 2019), dan Cara Kerja Ingatan (novel, 2020). Buku Jalan Lain ke Majapahit meraih Anugerah Sutasoma dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur serta Penghargaan Sastra Utama dari Badan Bahasa Jakarta sebagai buku puisi terbaik Indonesia tahun 2019. Buku terbarunya, Cara Kerja Ingatan, merupakan naskah unggulan sayembara novel Basabasi 2019. Ia juga mendapat Anugerah Sabda Budaya dari Universitas Brawijaya tahun 2019. Saat ini tinggal di Yogyakarta dan bekerja penuh waktu sebagai penulis serta terlibat dalam kelompok suka jalan.
