Katalog

Puisi

Puisi Ruly R

di terminal ini

di terminal ini tak ada yang berbeda, kecuali kau yang salah naik bus dan dipaksa turun oleh waktu.

suara pengamen masih cempereng, membawa kenang-kenang, tak habis pikir akan salah keputusan tanpa tahu apa-apa.

apakah butuh kesalahan dalam hidup? setidaknya untukmu, agar segalanya mula-mula bisa diserapahi, lalu dikenang karena bus selanjutnya telah datang, hendak membawa ke arah pulang.


di taman sukowati

di taman sukowati, penjaga angkringan terkantuk, barangkali menunggu pelanggan lagi, atau menunggu kepulangan pelanggan yang telah di sana, tiga pemuda,  juga mereka yang berselingkuh.

Lampu merah berganti begitu pelan ke lain warna, tak pernah mencatat apapun, pada mereka yang berhenti atau lanjut, karena sebentar lagi waktu digigilkan subuh.

Ada yang harus pulang, namun tak semua mengerti waktu menuju pulang, hanya ada yang menunggu, agar besok berulang, dan mereka-mereka entah kembali atau tidak.


tenggat

bapak menggandeng tangan bocahnya, keluar dari surau, dan matahari menikam gelisah hari jumat,

lelaki muda hanya melihat dari angkringan seberang jalan, rokok diapitan jemari, obrolan membumbung tentang tenggat mengejar setoran, kudu lunas sebelum liburan dan lebaran yang tak mungkin mereka pulang, tawar seperti tahun lalu yang gugur di bawah aturan.

hidung tak akan menghidu rempah opor ayam ibu, tak ada cecapan rasa nastar di sela bualan kerja dan tukar kabar saudara. empat lebaran (dan liburan) pernah sama, meski hanya nyaris, dan jauh meninggalkan tebak di benak.

kali itu jumat tertular gelisah matahari, keputusan serupa daun gugur digilas roda waktu.


bagaimana jakarta?

Ibu,

apa benar tuhan ada di jakarta, tempat

di mana penuh harap, gegas, dan gemilang segala?

—tanyanya pada satu waktu, terlampau lirih, lama.

turunlah di Senen, di antara sebungkus pop mie, gemuruh kereta, bising klakson,

jubel manusia, temu kawan lama, nasi uduk depan stasiun, dan secangkir kopi gelas aqua,

di sana Jakarta.

tak ada yang dapat kau raba, Nak.

dia menyangsikan, sebagaimana hari-hari yang telah lampau,

jakarta diseret pada penghakiman. lepas-tangkap. kembali.


sebelum bapak pergi

pernah,

aku diajak ke toko sepatu bola yang kini jadi analta jaya,

“pilihlah saja, asal jangan terlalu mahal.”

hanya ada anggukan, di mana segala ingin kadang tak pernah terkabulkan

toko itu tak lagi ada, meski letaknya aku ingat—taman pancasila ke selatan, lalu 100 meter ke timur dalam lajur jalan satu arah menuju barat untuk pulang. ingatan dan kenangan mengerjap, menjadi bayang berkejaran karena pada kenyataan, detak waktu selalu pelan menjelang kepergian, meromantisirnya dalam firasat tentang darah yang keluar dari hidung.

dan, sekali lagi, sebelum pagi matang benar, tetes air infus selalu tak lebih deras dibanding airmata.


Ruly R, bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Bukunya terbarunya Gelanggang Maaf (Penerbit Bukuinti, 2021). Mahasiswa di STKIP PGRI Ponorogo dan mengelola Rusamenjana Book Store & Club bersama teman. Surat-menyurat: [email protected]

Cerpen

Cara Pulang Paling Mematikan

Cerpen Yesi M.H.

Ada dua ambulance di parkiran. Aku disuruh masuk ke salah satunya. Masalahnya, aku tidak tahu mana yang akan membawaku pulang. Kupencet ponsel untuk menginterogasi orang yang memberi ide gila ini. Sumpah serapah dan umpatanku meluber, bahkan sebelum dia mengucap ‘halo’. 

“Sinting … tidak adakah cara lain?”

“Mau cara seperti apa yang kamu minta?”

“Ya bukan ambulance jenazah juga.”

“Itu yang terbaik yang bisa kulakukan. Surat-surat sudah beres. Tapi ya kamu tidak bisa duduk di sebelah sopir, karena pasti akan ketahuan.”

“Lalu?”

“Ya di dalam peti.”

“Haaa?” 

“Itu cara paling mudah untuk lolos.”

Aku diam mengurung amarah agar logikaku bisa menyulut keberanian, mungkin itu satu-satunya pengalihan dan mengusir rasa takut.

“Oke, jadi yang mana? Ini ada dua ambulance,” tanyaku kini lebih sabar sambil mengusap dada yang sedari tadi naik turun.

“Yang plat AG belakangnya T.”

Mataku mengincar salah satu yang berwarna putih dengan garis cat kuning berikut tulisan partai dan gambar entah siapa.

“Jadi aku masuk saja ke peti? Ada jenazahnya, Mat?”

“Kalau nggak ada jenazah, mana bisa ada surat jalannya, Ko. Malah makin mencurigakan.”

“Jadi aku disuruh tidur bareng sama mayat?”

“Tenang, mayatnya masih baru, fresh, bukan penyakit kudisan, bukan korban kecelakaan yang berdarah-darah, cuma orang tua kurus yang sakit jantung.”

Keringatku deras membasahi kaos oblong yang sudah tiga hari ini melekat. Apakah ini harga yang harus kubayar agar sampai di depan rumah Dik Marli. Memang kuakui belum ada ide lain yang cemerlang nan gila untuk bisa melewati perbatasan dan menjadi orang bebas. 

“Ingat, Ko. Kita akan pulang. Apapun akan kita lakukan. Persetan dengan halangan, kita pasti lawan.”

“Kita buang saja mayatnya.”

“Nambahin perkara, bodoh! Sudahlah tenang, nanti setelah perbatasan kamu akan aman. Kamu boleh keluar. Sebelum sampai di situ, tahan dulu. Percayalah padaku.”

Mau tidak mau aku harus percaya pada Samat. Bahkan saat aku jadi buron seperti ini, dia rela menjadi beking untuk diriku ini. Dia juga pastinya paham, kulakukan semua ini karena terpaksa. Dunia sudah menjadi kejam, tidak ada cara lain untuk bertahan hidup kecuali dengan menjadi kejam pula. Dia mau menolongku tanpa bertanya apa pun. Tanpa syarat apa pun. Dia ini bodoh atau memang sahabatku paling setia?

Kudekap tas yang isinya sangat berharga ini. Beberapa gepok uang jadi alasan aku melalui fase menjadi manusia tidak aman. Aku mulai menyelinap ketika suasana lengang. Derap langkah kubuat sesantai mungkin agar meminimalkan kecurigaan. Lalu dengan mudah aku masuk pintu belakang ambulance. Sebuah peti tertutup kain hijau dengan tulisan arab membuatku bergidik. 

“Tuhan, ampuni aku, ampuni aku, jangan hidupkan dia,” bisikku melirik pada peti. Tidak lama ponsel bergetar di saku celana, hingga membuatku berjingkat karena selangkanganku terasa disengat listrik. Sebuah pesan dari Samat menyebutkan bahwa dia akan datang sepuluh menit lagi. Dia menambahkan lagi, sudah menyiapkan kain putih untukku.

Pakai kafannya, kalau bisa yang bener-bener mirip pocong. Jangan asal pakai. Petinya sudah kuberi triplek di atas mayatnya. Jadi kamu bisa tidur di atas orang itu. 

Aku sudah tidak berdaya, mengumpat pun sudah tidak sanggup. Di saat seperti ini aku berusaha untuk tidak membuat dosa lagi dengan berkata kotor. Aku pasrah, mungkin dengan begitu Tuhan bisa memuluskan perjalananku. Agak ribet ternyata memakai kain kafan, maklum saja aku belum pernah memakai sendiri, apalagi praktek mengurus jenazah. 

“Maaf ya, Pak,” lirihku pada jenazah itu. Aku mulai membungkus diriku dengan kain putih, sebisa dan semirip mungkin jadi jenazah. Perlahan dengan pasti aku masuk sembari menutup peti itu. Astaga semoga aku tidak mati kehabisan napas. Aku hanya bergantung pada celah kecil diantara penutup petinya. Kupeluk tas ranselku yang sewaktu-waktu harus kusembunyikan di bawah, jaga-jaga kalau polisi memaksa untuk memeriksa peti. Lagipula aku takut polisi menemukan barang bukti ini. 

Sesuai perkiraan, aku mendengar pintu terbuka dan mesin dinyalakan. Samat sepertinya membuka pintu belakang dan mengetuk petinya.

“Kamu baik-baik saja?” bisiknya.

“Agak engap, tapi nggak apa-apa.” Jangan sampai orang tahu Samat berbicara dengan peti jenazah. 

“Kamu lupa pasang kain hijaunya.”

“BODOH, bagaimana aku bisa memasangnya! Aku sudah di dalam peti!” Kudengar Samat tertawa mendesis. Di saat seperti ini dia sempat tertawa. Tega.

Lalu kurasakan mobil itu mulai bergerak. Badanku bergoyang-goyang mengikuti belokan, kadang tidak terkendali. Sialan, Samat! Tidak bisakah dia menyetir dengan sopan sedikit, ada orang tua mati di dalam peti. Kepalaku terantuk dinding peti, sesekali menggeliat memperbaiki posisi, ah aku frustrasi! Beginikah rasanya mati dikurung dalam peti jenazah? Tahan Darko, sebentar lagi Dik Marli di depan mata. 

Ambulance sempat berhenti dan terdengar Samat berbicara dengan seseorang. Astaga, tega nian aparat masih berani dan tidak percaya pada isi ambulance jenazah. Aku gemetar saat suara pintu belakang dibuka, cahaya kecil tampak menerpa bagian kakiku. Mungkin si petugas tidak berani membuka peti terlalu lebar. Jika sedikit saja sudah memastikan ada tubuh berbalut kafan, aman sudah. Aku berusaha tidak memikirkan apa-apa. Sampai rasanya mataku pedas dan mengantuk. Aku hanya ingat pipiku ditepuk dengan kencang setelahnya.

“Kukira kamu mati.”

“Hah, sampai mana?” tanyaku gelagapan mengusap sisa lelehan air liur di pipi. 

Rest area. Sudah cukup aman. Kamu bisa duduk di depan.”

Aku meloncat bangun dengan cepat seperti merasa bebas dari segala hukuman. Ribuan kata maaf terlontar pada jenazah yang sudah kujadikan alas tidur. Semoga dimudahkan di dunia kuburnya, batinku merapal doa. 

Samat memberiku makan dan minum, menjamuku di warung kecil tepat di depan ambulance. Kami saling melepas rasa lega. Dia bercerita tentang orang di dalam peti itu, ternyata masih sanak saudaranya yang sebatang kara. Sebuah kebetulan yang sepertinya disusun dengan sangat rapi layaknya konspirasi. Aku sendiri bercerita tentang kejahatanku. Tentang apa isi tas yang selalu kudekap ini. Lalu kami melepas tawa mengingat kejadian-kejadian selama kami menjadi sahabat.

Aku tidak tahan cerita tentang Dik Marli, orang yang kugadang-gadang untuk jadi istriku. Kusampaikan kegalauanku seusai merampok, aku jadi berpikir, apa Dik Marli masih mau bersamaku, seorang kriminal. Curahan hati itu meluncur deras dari mulutku. Kini Samat tahu luar dalam dari seorang Darko. Bahkan aku juga percaya dia bisa membawa pesan untuk Dik Marli, seumpama, sekonyong-konyong, tiba-tiba aku akhirnya mati sebelum sempat bertemu, dia bisa menyampaikan pesanku. Aku paham risiko yang kujalani. Aku bisa saja ditembak mati jika melawan. 

Kening Samat berkerut ketika dia memeriksa ponselnya. Ada berita terbaru, polisi tahu identitas seorang perampok, dan sekarang sedang menyisir berbagai wilayah, termasuk tanah kelahiranku. Kami saling pandang.

“Berarti aku harus masuk peti lagi?”

“Baiknya begitu.”

Aku pasrah, kuteguk air kemasan yang disiapkan Samat sampai habis saking gugupnya. Aku mengecap berulang-ulang karena air itu rasanya aneh. Sedikit pahit dan getir. Atau hanya efek ketakutanku. Ah ya sudahlah, aku perlu mental baja untuk kembali tidur di atas orang mati. 

Ambulance kembali melaju lembut, Samat kini lebih beradab dalam menyetir. Tak lama aku merasa tenggorokanku seperti dicekik, dadaku sakit, aku tidak bisa bernapas. Penglihatan kabur kemudian gelap. Peti itu menggencetku sampai sakit, saking sakitnya sampai lama-kelamaan mati rasa. Dan aku mengantuk lagi.

Lalu aku terbangun, rasanya seperti baru saja melalui malam yang sangat panjang. Kurasakan sunyi dan masih gelap. Aneh, jika sudah sampai rumah, kenapa Samat tidak membukakan peti. Sebuah cahaya tepat di sebelahku segera membuatku tersadar. Aku memang sudah pulang. 

Sudah ketahuan siapa yang dicintai Samat. Salahku sendiri bercerita tentang Dik Marli. Aku sendiri bodoh, mengira dia baik-baik saja ketika mendengar aku akan menikah dengan Dik Marli. Sampai akhirnya api itu menyala-nyala membuat ledakan yang cukup besar, Sampai melemparkanku pada posisi sekarang. Kilauan cahaya dengan sayap itu mendekat dan mulai bertanya.

Man Rabbuka?” ****

Bogor, 12 Februari 2022


Yesi M.H. Penulis kelahiran Nganjuk yang sekarang berdomisili di Bogor. Buku solo terbit di tahun 2021 berjudul “Sekantong Impian” adalah kumpulan cerita pertama sejak terjun menulis di tahun 2019. Sapa penulis di Instagram @ecy_mh atau surel [email protected]

Cerpen

Dua Puluh Tujuh Kereta Uap

Cerpen Galuh Ayara.

Yang kunaiki hari ini adalah kereta uap yang ke-lima. Masih tersisa dua puluh dua. Artinya aku masih harus mempersiapkan diriku pergi ke dua puluh dua kota berbeda. Dan… tentu saja, tabunganku mulai menipis. Aku akan jatuh miskin setelah perjalanan selesai. Tapi aku tidak peduli, bahkan jika seluruh yang kumiliki di dunia ini akan habis terkuras.

Di balik jendela kaca yang gemetar, deretan pemandangan hijau dengan bukit-bukit kecil, dan puluhan domba di atas padang rumput, angin sepoi, anak-anak desa berlari membentangkan tangan, saling mengejar. Sejenak aku terbuai. Hatiku seperti kereta yang melaju. Aku merasa bergerak-gerak meninggalkan sesuatu; bayangan lelaki itu dan puluhan pil tidur, tubuh yang beku, mulut yang berbusa. Aku ingin bergerak dan lupa pada hal-hal menyakitkan itu. Aku ingin menjauh seperti kereta. Aku ingin lupa. Ingin lupa.

Saat itu—terutama setiap kali akhir pekan, sementara pasangan lain sibuk berkencan di luar, aku harus siap hanya menemaninya di kamar kos, mendengar keluh kesahnya tentang negara dan sistemnya, tentang kemanusiaan, tentang alam yang mulai rusak, tentang semesta yang berdesakan di dalam batok kepalanya. Kadang-kadang juga aku bingung sendiri memikirkan; kenapa Dafi lelah? Kenapa ia ingin mati muda? Bagaimana seseorang yang memikirkan banyak hal, tapi tidak mempunyai mimpi untuk dirinya sendiri?

“Apa alasan kita tetap hidup?” katanya. “Untuk tua dan menyebalkan? Untuk kesepian lalu menghabiskan sisa hidup dengan merutuk? Jika tidak bermanfaat, untuk apa hanya terlibat dalam permasalahan over populasi di bumi ini?”

Ia lantas menjentikkan tangannya seakan ia sedang menangkap sesuatu.

“Apa yang kamu tangkap?”

“Kekosongan.”

Aku mendengus seperti babi hutan.

“Aku serius. Kekosongan itu kan tetap isi.”

“Dan isi itu tetap kosong?”

“Apa yang paling kamu inginkan dalam hidupmu?”

“Kabur sama kamu.”

Ia tersenyum sembari mengacak rambutku.

“Aku serius.”

“Aku cinta kamu,” katanya, pelan sekali. Hampir seirama bahkan kalah dengan suara kipas angin butut yang berputar-putar di depan kami, “tapi aku tidak punya masa depan. Aku mulai lelah dengan semuanya.”

“Kenapa kamu lelah?”

“Karena aku tidak istirahat.”

“Apakah obat tidur tidak membantu?”

“Aku bukan butuh tidur, aku butuh istirahat. Istirahat itu berhenti dari hal-hal yang menguras energi. Entah itu pekerjaan atau pikiran.”

“Lambat laun kamu harus membuang semua yang ada di kepala kamu itu.”

“Baiklah, Nona.”

Matahari mulai oranye di luar jendela. Aku berusaha menyentuh cahayanya yang masuk ke ruangan itu. Cahaya yang seolah terbelah-belah oleh bayangan teralis yang menguarkan aroma besi tua berkarat. Dan cahaya itu memeluk wajah laki-laki di depanku. Lelaki muda yang terlihat lebih tua bahkan dari teralis itu yang berkarat-karat. Lebih lelah, lebih rapuh, dan seolah hampir sekarat.

“Emm, sudah sore,” ucapku sambil terus memandangi cahaya sore yang jatuh di wajahnya. Cahaya yang terbelah-belah, seakan ingin membelah dirinya menjadi ribuan kunang-kunang yang beterbangan.

“Kamu pernah dengar, kunang-kunang dititipi cahaya kecil di tubuhnya, bukan untuk menerangi semesta.”

Ia diam. Tentu ia paham ke mana arah ucapanku. Tapi ia diam seolah tidak mendengar apa-apa yang kukatakan.

“Pulanglah. Aku antar, ya?”

“Nggak usah. Kamu kan harus ngerjain banyak hal sore ini.”

“Iya. Mengerjakan hal yang tidak berguna.”

Ia terkekeh.

“Jangan begitu. Kamu harus berpikir positif.”

“Hmm, apa cinta itu sebuah pekerjaan, Olivia?”

“Tapi kamu pengangguran!”

“Hey, aku menulis.”

“Ya. Kamu penulis dan gak punya uang.”

Sontak aku terbahak-bahak. Aku tertawa puas sampai mengeluarkan air mata.

“Tega sekali kamu.”

Kadang bingung juga, kenapa aku menginginkan laki-laki ini? Laki-laki aneh yang memimpikan mati di usia dua puluh tujuh. Lelaki yang gemar membuka tenda di hutan sendirian dengan sebungkus mie instan yang biasa ia seduh dalam gelas besar. Seorang pemikir keras yang di balik sikap cueknya, di saat-saat tertentu bisa sangat manja melebihi keponakanku yang masih balita.

“Kalau nanti kita punya rumah di hutan, aku akan buatkan kamu terrarium,” katanya suatu hari, setelah aku bercerita tentang keinginanku; naik dua puluh tujuh kereta uap.

“Jangan mati di usia dua tujuh. Karena di usia itu aku ingin kita berkeliling naik kereta uap di dua tujuh kota.”

“Aku ingin membangun rumah kecil di hutan kalau aku masih hidup di usia itu dan aku menjadi orang yang gagal untuk banyak orang. Aku ingin hidup sederhana dengan alam, bersama kamu; satu-satunya orang yang nggak pernah menganggapku gagal.”

“Jangan hutan, please. Aku lebih baik hidup di permukiman kumuh asal padat dengan manusia. Kamu tahu, aku selalu menikmati kesepian dan keterasingan yang kudus di tempat-tempat riuh dan bising. Bau apek, bau selokan, anak-anak kecil yang berlari di lampu merah, suara ukulele, sirine polisi, mobil-mobil yang membawa mayat. Haha, bayangkan, kamu bisa melihat kehidupan dan kematian yang berdampingan. Tangis dan tawa, luka dan kesembuhan. Yang terus bergerak, yang terus diam. Kita itu begitu padat ternyata, begitu saling terhubung, tapi juga jauh. Kita semua kesepian.”

“Aku suka api unggun.”

“Aku suka kembang api.”

“Terrarium.”

“Aquarium.”

“Menurutmu, kita bisa bersatu?”

“Tentu saja. Aku cinta kamu dan kamu juga cinta aku.”

“Apa cinta itu keinginan? Seperti aku menginginkanmu dan kamu menginginkanku?”

“Mungkin lebih lebih dari itu. Cinta itu penerimaan. Seperti aku menerima kamu.”

“Cinta itu menjaga.”

“Kamu begitu rumit. Mencintaimu seperti masuk ke labirin luas, Gaddafi.”

“Kamu sudah menerimaku bukan?”

“Entahlah. Hanya saja kalau kamu nggak ada, hidupku seperti kosong.”

“Kosong yang kataku berisi?”

“Kamu lebih seperti kepingan puzzle. Kalau hilang, hidupku gak lengkap.”

Aku mengambil piring yang berisi kebab yang mulai dingin. Tadi aku bawakan makanan ini untuk memperlihatkan kepada Dafi soal keseriusanku mempelajari makanan timur tengah.

“Aku sudah belajar membuat kebab. Meski dengan resep paling sederhana. Aku mengganti isian dagingnya dengan irisan sosis. Paling tidak aku sudah belajar membuat satu makanan timur tengah, kan? Aku siap menjadi menantu ayahmu yang dari Arab itu.”

“Belajar dari mana?”

“Dari Tatjana. Tiga hari yang lalu dia baru datang.”

“Tatjana sahabatmu yang cantik itu?”

“Cantik?”

“Hmm, aku tidak suka yang cantik-cantik.”

“Jadi aku tidak cantik?”

“Boleh aku coba kebab buatanmu?”

Aku meliriknya cukup lama, tentu dengan perasaan seperti ingin memakannya bulat-bulat.

“Sudahlah. Kamu akan lebih suka mie instan.”

Aku menaruh kembali kebab itu di atas meja, lalu berpikir kembali tentang tiga hal; keinginan, penerimaan, menjaga. Akan tetapi, cinta lebih rumit dari yang kukira, dan cara kerja perasaan lebih acak dari segala sesuatu yang bahkan paling acak di bumi ini. Tetapi aku yakin; aku mencintai Dafi.

***

“Hey, Nona.”

Aku terbangun seketika. Di hadapanku seorang petugas kereta tersenyum. Ah, aku bahkan sudah tertidur selama itu.

“Kereta sudah berhenti, Nona.”

“Oh … aku minta maaf.”

Di tanganku, sebuah buku jurnal masih terbuka. Sudah kuhitung satu per satu. Ini lembar ke-dua puluh tujuh. Hanya sebuah tulisan “capek”. Di buku ini Dafi seolah sudah mencatat semua. Termasuk pertama kali kami berciuman, pertama kali kami bercinta lalu ia berjanji untuk tidak meninggalkanku. Pertama kali dia membelikanku roti dengan uang honor menulisnya. Satu hal yang belum ia catat; berapa ratus butir pil tidur yang ada di genggaman tangannya malam itu.

Tiba-tiba air mataku deras keluar. Seperti air terjun di tengah hutan. Meluncur begitu saja.

Petugas itu menghela napas.

“Jangan bersedih, Nona. Kita sudah sampai.”

“Aku belum sampai.”

“Kamu hendak ke mana?”

“Ke makam pacarku.” ****

2022


Galuh Ayara. Suka menulis puisi dan cerpen. Sudah menerbitkan buku yang berjudul Nyanyian Origami. Tulisannya juga ada di beberapa buku antologi dan di beberapa media.

Cerpen

Di Hadapan Anggrek

Cerpen Era Ari Astanto

Cukup sering orang-orang itu mengatai aku gila. Atau memandangku kasihan, tapi tetap dengan menambah kata ‘gila’ di ujung kalimat: “Kasihan dia, sejak ditinggal istrinya dia menjadi gila,” —atau senada dengan itu.

Sungguhkah aku telah gila? Ataukah mereka yang tidak mampu berpikir waras?

Aku hanya ingin sendiri, berbicara dengan dinding kamar, berbicara dengan anggrek atau lukisan wajah kekasihku tanpa ada yang mengganggu. Ya. Istriku sudah pergi memenuhi panggilan Ilahi bertahun lalu. Aku sadar itu, aku ingat hal itu. Tapi bagi mereka, aku telah gila. Mereka hanya tidak tahu, berbicara dengan benda-benda itu lebih menyenangkan, lebih menenangkan. Saat berbicara dengan dinding kamar, saat bicara dengan bunga anggrek itu, saat bicara dengan lukisan itulah aku merasakan kenyamanan — seolah istriku menemaniku berbincang. Mereka adalah pendengar yang baik, tidak akan menyanggah atau sok bijak menasihati seperti orang-orang itu.

Istriku meninggal ketika usia pernikahan kami belum genap dua bulan. Tidak pernah terlintas dalam benakku jika dia akan secepat itu meninggal. Dia memang keberatan saat aku pamit untuk menghadiri undangan bincang literasi dan bedah buku di luar kota dan harus menginap beberapa hari. Dia bukan melarang aku pergi, tapi dia mengeluh merasa sedikit pusing dan tidak enak badan. Aku pikir itu sekadar sakit yang sangat ringan dan akan sembuh dengan minum obat warung. Dan aku tetap pergi karena di sana aku akan bertemu dengan penulis-penulis besar dan hebat yang bisa kumintai tips-tips penting dalam menulis, dan pikirku itu adalah acara penting bagiku.

Setelah satu hari satu malam mengikuti acara itu, aku mendapat telepon dari tetanggaku bahwa istriku sakit keras dan aku harus pulang. Aku hampir tidak percaya dengan kabar itu. Pikirku, tidak mungkin hanya sedikit pusing dan tidak enak badan berubah menjadi sakit keras dalam sehari semalam. Aku sempat bersilat lidah dengan tetanggaku itu, tapi akhirnya aku memutuskan pulang setelah dia berkata: terserah kamu, Mas, jika kamu ingin menyesal seumur hidupmu.

Aku tiba di rumah dan mendapati banyak orang sedang mengurus istriku yang tinggal jasad.

Aku tak pernah mengira jika pamitku itu akan menjadi kali terakhir aku bicara dengannya. Kematian memang keniscayaan, tapi penyesalan dalam hatiku tak bisa kupungkiri. Seandainya aku mendengar keberatannya mungkin akan lain perkara. Mungkin aku tak akan semenyesal ini.

Hari-hari selanjutnya kurasakan menjadi begitu berat, begitu gelap, begitu sesak dengan sesal. Seandainya … seandainya … dan hanya ‘seandainya …’ yang terasa menyesaki dada. Sampai akhirnya kurasakan ketenangan saat bicara dengan lukisan wajah istriku. Lalu dengan dinding-dinding kamar. Lalu dengan anggrek, lalu dengan tas istriku, lalu dengan meja rias istriku. Aku memang merasakan ketenangan saat bicara dengan benda-benda itu, tapi belum kurasakan istriku mengampuniku walau aku merasa seolah dia ada di sampingku saat aku melakukannya.

Dan entah bagaimana mulanya orang-orang mengatakan aku telah gila. Mungkin salah seorang memergokiku saat aku bicara dan tertawa di hadapan anggrek. Atau ketika aku bicara dengan lukisan wajah istriku yang kubawa ke serambi. Satu atau dua dari mereka pernah mendatangiku dan menasihatiku agar bersabar bahwa kematian adalah keniscayaan. Aku tahu itu dan aku menerimanya, jawabku. Aku hanya ingin bicara dengan istriku, memohon maaf atas segala salahku, lanjutku.

“Tapi, Mas. Jika begitu terus, sampean akan dianggap gila,” kata orang itu.

“Apa peduliku. Sebaiknya Anda tidak mengganggu ketenangan saya,” kataku dengan ketus.

“Tapi, Mas …,” sahutnya.

Kulebarkan mataku sebagai jawaban sampai akhirnya dia pergi dan tak pernah kembali. Hanya kasak-kusuk yang sesekali kudengar ketika aku berada di hadapan anggrek di halaman.

Memang ada satu orang yang datang ke rumah dan memberiku makanan lantas pergi setelah aku tak bicara sepatah kata pun, kecuali terima kasih. Begitu seterusnya hingga hampir tujuh tahun berlalu. Sebenarnya aku masih bisa mengurus kebutuhan sehari-hariku, walaupun sebatas seadanya dari fee menulis. Jika sedang tidak ingin bicara dengan benda-benda itu, selain lukisan, aku menulis. Cerita fiksi yang aku pilih karena aku bermaksud untuk bercerita kepada istriku ditemani lukisan wajahnya.

Beberapa kali aku mencoba meninggalkan cara anehku itu, tapi tidak bisa. Aku akan kembali gelisah dan rasa bersalah kembali menyergap. Dan aku pun memutuskan untuk tetap menjalani cara aneh itu terus, tak peduli dianggap gila atau apa pun, hingga di sebuah pagi satu orang yang selalu datang ke rumah dan memberiku makanan itu mengajakku bicara yang mau tak mau harus kujawab.

“Apakah itu anggrek kesayangan istrimu?”

Aku mengangguk tanpa menoleh ke arahnya.

“Aku punya tiga anggrek di rumah. Aku dengan senang hati akan membawanya ke sini jika sampean mau.”

Aku tak menoleh ataupun menjawab perkataannya. Tapi aku memikirkan kata-katanya. Mungkin anggrek istriku tidak akan kesepian dengan adanya anggrek lain di sebelahnya. Apalagi jika dia kutinggal untuk tidur di malam hari atau ketika aku harus meninggalkannya sendiri. Namun, aku merasa perlu meminta pendapatnya. “Apakah itu perlu? Terutama bisa membuat istriku senang?”

“Setidaknya begitulah yang kurasa saat melihat anggrek istrimu sendirian.”

“Tapi, aku tak punya apa pun sebagai gantinya.”

“Meskipun sekadar berbincang seperti ini setiap aku datang?”

Aku tak segera menjawab. Kutimbang perasaanku. Bukan hal mudah bagiku saat ini untuk menemani berbincang orang lain.

“Aku tidak bisa berjanji. Tapi aku akan berusaha,” kataku kemudian.

“Mendengar sampean akan mengusahakannya pun aku sudah senang. Baiklah, besok akan aku bawa anggrek itu.”

Pagi berikutnya dia datang membawa sarapan untukku dan anggrek yang dia janjikan. Dia meminta ingin mengurusnya, meletakkannya dengan sangat tepat di sebelah anggrek istriku. Aku perhatikan dengan saksama dan merasa apa yang dia katakan kemarin benar. Anggrek istriku tampak lebih indah dan berseri. Barangkali hanya perasaanku, tapi begitulah bagi mataku.

Hari-hari berikutnya, aku merasa lebih senang berada di depan anggrek sambil berbincang dengan orang itu. Sebenarnya, dia hanyalah lelaki setengah baya yang juga ditinggal mati istrinya sejak belasan tahun lalu. Dia bercerita bahwa dia juga pernah merasakan jiwanya terguncang hingga hampir bunuh diri. Tapi, kemudian dia sadar bahwa hidupnya harus dilanjutkan dan mengisinya dengan menemani orang-orang yang jiwanya kesepian.

“Tapi, aku tidak begitu merasa kesepian. Aku hanya merasa menyesal tidak menemani istriku di saat-saat terakhirnya. Aku juga merasa istriku belum memaafkanku karena nekat meninggalkannya walau dia telah mengatakan kondisinya waktu itu.”

“Aku yakin istri sampean akan bahagia jika melihat sampean mau menemani orang-orang yang jiwanya gelisah karena kesendirian.”

“Tapi, aku telah dianggap gila. Hanya sampean sajalah yang tidak menganggapku begitu.”

“Mereka yang menganggap begitu karena mereka tidak mau merasa bagaimana kondisi jiwa orang-orang seperti kita. Bukankah sampean sudah merasakan betapa bukan nasihat yang kita butuhkan, tapi teman; teman yang mampu menemani dan memahami meski dalam diam.”

Aku diam memikirkan kata-katanya. Menghidupkan istriku dalam diriku rasanya lebih baik daripada terus-menerus merasa istriku tak mengampuniku. Aku rasa kehadiranku untuk orang-orang yang membutuhkan bisa menjadi penebus segala sesalku karena telah meninggalkan istriku. Kurasa begitulah seharusnya aku, seperti anggrek yang meskipun dalam diam keindahannya mampu menentramkan siapa pun yang melihatnya.***


Era Ari Astanto penyuka bika ambon ini lahir di Boyolali. Saat ini bekerja di sebuah penerbitan buku pelajaran di Solo dan aktif di komunitas Sastra Alit. Karya tunggal yang sudah diterbitkan adalah Novel berjudul Jika sang Ahmad tanpa Mim Memilih (Najah, 2013), The Artcult of Love (Locita, 2014), Novel Bertutur Sang Gatholoco (Basabasi, 2018), Novel Riwayat Bangsat (Basabasi, 2019). Karya antologi: Memoar Bermasjid (Diomedia, 2017), kumcer Masa Depan Negara Masa Depan (Surya Pustaka Ilmu, 2019), Memoar Ramadhan dan Merantau (Diomedia, 2019), kumcer Hanya Cinta yang Kita Punya untuk Mengatasi Segalanya (Divapress, 2020). Cerpen-cerpennya juga tayang di beberapa media online. Buku terbarunya yang terbit: Novel dwilogi Nama yang Menggetarkan (Diomedia, 2020).

Cerpen

Neraka di Antara Ayah dan Pria Itu

Cerpen Aliurridha

Malam begitu pekat hingga tiada satu bintang pun terlihat. Lampu-lampu di sepanjang rel kereta api masih menyala, tapi tak menerangi apa-apa. Ia berjalan tertatih di sepanjang rel kereta api yang sudah lama tak digunakan. Pikirannya terombang-ambing di antara dua pilihan yang sama pahitnya. Di sepanjang langkah kakinya, ia dilema memilih kembali atau terus pergi. Jika kembali, maka sudah dapat dipastikan tidak ada lagi kebahagian, hanya neraka kehidupan; dan jika ia terus lanjut, ia tidak tahu lagi harus ke mana.

Hatinya kalut. Pikirannya dipenuhi rasa takut ketika matanya menatap sekeliling di mana hanya ada gerbong-gerbong rongsok tempat para pekerja rendahan melampiaskan syahwatnya pada penjaja tubuh. Kakinya bergetar ketika ia membayangkan harus dipaksa melayani para binatang yang tidak tahu cara memperlakukan wanita. Dieratkannya ikatan dari kain batik murahan yang ia gunakan menggendong bayinya yang bahkan belum genap satu tahun itu agar ia bisa melangkah lebih cepat dan enyah dari tempat ini. Beruntung hari belum terlalu malam.

Langkah kakinya melemah. Kakinya letih tiada terkira. Otot di betis dan pahanya berdenyut nyeri setelah dipaksa lebih empat jam berjalan tanpa tujuan. Dihirupnya panjang udara malam dan dibiarkan pikirannya mengawang menelusuri percabangan jalan yang telah ditempuhnya. Ia menyesali apa yang telah terjadi; ia menyesal telah meninggalkan keluarganya demi pria itu. Ingin rasanya ia pulang, mencium kaki ayahnya, meminta maaf atas kebodohannya dan mengatakan kepada ayahnya bahwa ayah benar tentang pria itu, dan ayah juga benar tentang segala hal. Tapi tak ada lagi rumah untuknya pulang, semuanya telah ia buang jauh di belakang.

Jika mengingat masa-masa perkenalannya dengan pria itu, sebenarnya ia sama sekali tidak pernah tertarik kepadanya. Tak ada sedikit pun yang menarik dari penampilannya yang urakan. Ia tak pernah suka jaket jin lusuh yang selalu pria itu kenakan. Ia juga tak suka postur tubuhnya yang jangkung dan kurus, dan rambut gondrongnya yang tak terurus. Tak ada sedikit pun yang menarik dari pria itu. Tapi kegigihannya itu, membuat ia luluh juga.

Ayahnya menentang hubungannya dengan pria itu. Ayahnya selalu begitu. Tak ada satu pria pun yang benar-benar sempurna di mata ayahnya. Sejak kecil hidupnya telah diatur sedemikian rupa, dan ayahnya telah memilihkan jalan mana yang harus ia tempuh. Segala yang ditanamkan ayahnya masuk ke alam bawah sadarnya sebagai sebuah kebenaran absolut. Namun, perkenalannya dengan pria itu mengubah segalanya. Perkenalannya dengan pria itu membangkitkan jiwa pemberontak yang selama ini tertidur. Ia mulai bergerilya menentang ayahnya, sampai kemudian terang-terangan melawan ayahnya setelah melihat bagaimana ayahnya mempermalukan pria yang dicintainya.

“Kamu mau melamar anakku?” Ayahnya tertawa, seolah apa yang dikatakan pria itu adalah lelucon yang lucu. “Memangnya kamu bisa apa? Hidup tak jelas, kerjaan juga tak punya. Jika ada pria yang paling tidak layak untuk anakku, maka kamulah orangnya.”

Darahnya mendidih mendengar apa yang dikatakan ayahnya. Pria itu tidak membalas dan hanya bisa menunduk. Badannya gemetar, entah oleh amarah atau karena malu, ia tidak tahu. Ia tidak pernah sempat menanyakannya. Lalu ketika pria itu pergi dari rumahnya, ia bertanya kepada ayahnya. Ia merasa bahwa bukan masalah jika pria itu tidak punya pekerjaan tetap sekarang. Itu semua bisa diusahakan. “Bukankah rumah tangga tentang berusaha bersama?” katanya.

Ayahnya kembali tertawa. “Bukan itu masalahnya. Kamu tahu, dia itu lelaki tidak benar.”

“Dari mana ayah tahu?”

“Ayah tahu saja. Ayah bisa melihatnya.” Ketika ia tidak membalas, ayahnya menambahkan. “Sudahlah. Laki-laki seperti itu tak bisa diharapkan. Dia hanya akan menjadi benalu dalam hidupmu.”

“Sedang apa kamu di situ?” Sebuah pertanyaan menghentaknya kembali ke masa kini. Saat itu ia tengah duduk pada sebuah kursi kayu di pinggir rel kereta, memijiti kakinya yang letih. Ia menoleh dan memperhatikan wanita yang menyapanya. Wanita itu menggunakan rok ketat yang jauh di atas lutut dengan atasan blouse tanpa lengan yang begitu rendah pada bagian dada, memamerkan asetnya yang berharga, dan riasan tebal menambah rayu pada wajahnya yang menggoda.  

Mungkin karena tidak ada balasan yang keluar dari mulutnya, wanita itu mengulangi lagi pertanyaannya. Mendadak sesuatu tumpah dari kedua bola matanya. Wanita itu kemudian menatapnya penuh perhatian, berusaha memahami apa yang sedang dilaluinya. Kemudian wanita itu mengajaknya ikut ke rumahnya. Ia menolak. Ia tak percaya lagi pada kebaikan jenis apa pun di dunia ini, apalagi kebaikan yang ditawarkan oleh orang asing. Hidup mengajarkannya bahwa setiap orang menginginkan sesuatu dari orang lain.

“Aku nggak akan maksa. Wanita sepertimu takkan bertahan semalam di tempat ini. Kamu beruntung aku menemukanmu lebih dulu. Jika para lelaki miskin yang bahkan tak punya uang untuk menyewa pelacur itu menemukanmu lebih dulu, kamu akan diperkosa sampai tak bisa jalan,” kata wanita itu.  Merinding ia mendengarnya. Ia tidak tahu bagaimana dunia bekerja di luar rumah orangtuanya dan pria itu. Ia tidak punya pilihan selain ikut dengannya.

***

Melisa, wanita yang menyelamatkan hidupnya itu, mengajarkannya sesuatu—bahwa ia tak memerlukan siapa pun untuk bertahan hidup di dunia ini. Sejak itu ia mengikuti apa yang dikerjakan Melisa; ia ikut memberikan jasanya pada para pria kesepian yang mencari sedikit kesenangan dari kehidupan rumah tangga mereka yang membosankan. Ia tidak peduli lagi dengan moral, lagi pula apa yang dilakukannya ini juga bukan pertama kali. Pria yang pernah menjadi suaminya itu, pria yang berjanji akan melakukan apa saja untuknya, tanpa malu pernah memintanya melacurkan diri.

Saat itu hidup mereka begitu susah. Anaknya baru saja lahir dan suaminya tak punya pekerjaan. Suaminya sangat malas dan dari mulutnya hanya terdengar keluhan. Baru sebentar bekerja di bengkel, ia sudah dikeluarkan karena malas-malasan dan melawan atasan. Kemudian ia mengeluh, mengatakan bahwa atasannya adalah seorang brengsek yang bisanya cuma memerintah. Beberapa kali ia diterima kerja di tempat baru, dikeluarkan lagi, diterima lagi, dikeluarkan lagi. Ia tak pernah benar-benar serius bekerja. Kerjanya hanya berjudi, mabuk-mabukkan, dan pulang tengah malam tanpa sepeser uang. Lalu uang hasil ia bekerja sebagai kasir swalayan, dihabiskan suaminya di meja judi. Hampir setiap hari, suaminya menjanjikan uangnya akan kembali berkali lipat, tapi yang kembali bukannya uang, melainkan utang.

Kemudian datanglah musibah itu. Anaknya sakit dan mereka tidak punya uang sepeser pun untuk membawanya ke rumah sakit. Awalnya ia hanya berniat melakukannya sekali saja, untuk menebus biaya perawatan bayinya di rumah sakit. Tapi suaminya memintanya melakukannya lagi. “Kalau kamu tidak mau, keluar saja dari rumah ini. Pulang ke rumah ayahmu yang sombong itu!” ancam pria itu.

Ia merasa benar-benar terjebak dalam lingkaran setan. Ia tidak punya pilihan selain menurut. Sampai di suatu malam sebuah kejadian mengaktifkan bom yang ditanam pria itu.

Ketika itu ia pulang lebih cepat dari hari biasanya. Di depan rumah kontrakannya, ia mendengar tangisan bayi. Ia bergegas lari ke dalam rumah, dan ia menemukan bayinya menangis sendirian. Ayah si bayi tak ada di sana. Kemudian di kamar sebelah, ia mendengar lenguhan wanita. Bergegas ia menuju kamar sebelah, dan ia melihat suaminya sedang menindih seorang wanita. Pinggulnya bergerak naik turun begitu cepat seperti mesin jahit. Melihat adegan itu, otot-otot di seluruh tubuhnya mengeras, tubuhnya terasa panas, dan darah mengalir deras ke ubun-ubun. Bom itu meledak. Bersama dengan segala sumpah serapah yang pecah dari mulutnya, ia melompat menerjang mereka. Satu tendangan dilepas ke punggung suaminya, membuat pria itu segera bangkit. Tak sempat menyelesaikan syahwatnya, pria itu mengamuk dan menamparnya berkali-kali. Ia kaget bukan main. Itu pertama kalinya ia ditampar. Sejahat apa pun mulut pria itu, ia belum pernah menggunakan tangannya.

Ia menatap mata suaminya, tidak ada lagi kasih di sana. Kemudian suaminya mengatakan sesuatu yang takkan pernah ia lupakan seumur hidup: “Kamu tahu sebenarnya aku mencintaimu, tapi kebencianku pada ayahmu jauh lebih besar.”

Tubuhnya lemas begitu gelombang emosi itu surut. Kemudian kata-kata ayahnya beberapa tahun silam kembali menggema di telinganya.

***

“Kamu yakin?” tanya Melisa.

“Iya. Keputusanku sudah bulat. Aku akan pulang dan meminta maaf pada ayah.”

“Ayahmu pasti akan menerimamu kembali,” kata Melisa. Tangan Melisa mengelus bahunya dan ia langsung menggenggamnya.

“Terus bagaimana dengan pekerjaan nanti malam?” tanya Melisa. “Aku sudah janji dengan tamuku. Kamu datang, ya! Dia sudah lama mendengar tentangmu, dan dia sangat penasaran.” Melisa memegang kedua tangannya dan menatapnya dengan tatapan memohon.

“Tenang saja aku pasti datang,” katanya. Dalam hati ia telah memantapkan diri kalau ini akan menjadi yang terakhir. Setelah ini ia akan mencari pekerjaan yang lebih baik. Ia ingin anaknya tumbuh di lingkungan yang lebih baik.

“Kamu jangan khawatir. Om Yoga ini orangnya baik, dia banyak memberi tips.” Melisa kemudian mendekat dan berbisik ke telinganya: “Dan kamu tahu, dia galak di ranjang. Kamu pasti puas.”

Ia merasa geli mendengarnya. “Apaan sih. Aku tak peduli dengan kepuasaanku. Yang penting saat ini hanya uang.”

Melisa tersenyum cabul, kemudian menasihatinya dengan mengutip entah siapa: “Buatlah kesenanganmu menjadi pekerjaan dan kamu tidak akan pernah merasa bekerja.”

Mereka pun tertawa.

***

Melisa mengatakan Om Yoga telah menunggunya di meja delapan. Ia perhatikan tubuh laki-laki itu dari belakang. Ia merasa tidak asing dengan sosok yang sedang duduk sendirian menunggunya. Dari belakang posturnya tampak gagah. Otot-otot lengannya terlihat kokoh. Bahu dan punggungnya pun kelihatan lebar. Jelas sekali laki-laki ini sering berolahraga. Kemudian ia teringat lagi perkataan Melisa tadi pagi. Perutnya geli dan darahnya berdesir.

Ia berjalan mendekat. Semakin ia mendekat, laki-laki itu terlihat semakin familier. Ia merasa pernah melihatnya di suatu tempat. Punggung itu mengingatkannya akan seseorang dari masa lalu. Punggung itu adalah tempat dulu ia bergelayut manja setiap orang itu menggendongnya. Tidak mungkin, kan? Sekelebat perasaan ganjil mendatanginya. Langkah kakinya melambat. Tapi ia terus melangkah sebelum berhenti dua langkah di belakang laki-laki itu. Dugaannya tidak keliru. Ia sudah berpikir untuk pergi sebelum laki-laki itu menyadarinya. Namun belum sempat ia membalik badan, laki-laki itu menoleh dan tersenyum memanggilnya. Dan begitu melihat dirinya, senyum di bibir laki-laki itu pudar seketika. Wajahnya pucat, matanya melotot, dan mulutnya sedikit terbuka. Tapi tak ada kata yang meluncur dari bibirnya.****

Sandik, 2021-2022


Aliurridha, menulis esai, opini, dan cerpen. Karyanya tersebar di pelbagai media. Ia bergiat di komunitas Akarpohon.

Puisi

Puisi A. Warits Rovi

Suara Hujan, Suara Kenangan

hujan menyempurnakan waktu pikniknya

menjelang zuhur—memagari banyak rencana

hingga tertunda atau malah berkeping dalam dada

kaki-kakinya yang bening tak berkuku

memintas setapak jalan ke lubuk kenangan

;di dalamnya, ada kau mengajakku melupakan hujan

sejak saat itu aku sadar

bahwa sesungguhnya di bumi ini tak pernah ada hujan

selain sesuatu yang mericik dari kenangan

Bungduwak, 2021


Hujan Awal Tahun

setiap yang diingkari adalah mendung

rahimnya menganga di jendela

melahirkan hujan dan segala yang berwajah pelangi

melengkung di gagang pintu

gigil tak perlu disembunyikan

dalam retak karatan tulang

sebab ada kalanya sesuatu tak perlu telanjang

untuk bisa dipandang

punggung jendela yang basah

menghampar bayangan tahun yang pergi

dengan sejumlah puisi dan skema rintih

di angka satu yang merah ini

hujan mengawali langkah sebagai tindakan

menyusun tembok masa depan

dari yang cair dan mengalir

supaya kau pandai membuat selokan

di antara jarum jam yang terus berkejaran.

Rumah IbelFilza, Januari 2022


Hikayat Gagang Celurit

aku hanya kayu biasa

raut yang berpuluh malam disembunyikan

dalam kebat kain kafan

di dekat kuburan

moyangku masih hidup di utara bukit Raas

batang yang berkalang lengan angin

dalam kepungan harum kembang jagung

mengurai silsilah sejak moyang khuldi

sampai berdahan, beranting, dan menjatuhkan bijinya

di dekat seorang petapa

aku tumpul tak berkilat, cuma sisa kurai sahaja

yang melengkung garis

mirip peta hidup yang samar berlapis

pada akhirnya berkarib besi tajam ini

sebagai gagang yang tak punya hak untuk interupsi

selain hanya mengikuti—ke mana si tuan menggerakkan hati.

Gapura, 2021


Mata Sakera

ia memandang laut dari balik kusen jendela kecil

yang bertahun diliputi bayangan ribuan perahu

mencermati sapuan ombak ke tepi pantai

seperti mengantar bau tubuh ayahnya yang tengah melaut

“laut kekasih langit, ayah yang mencintai laut

akan dicintai oleh langit—hingga membuka pintu-pintunya

dan menumpahkan hujan rezeki dalam rupa ikan-ikan

yang menyerahkan hidupnya kepada sauh,” gumamnya

seraya pelan mengedipkan mata

ke arah batas laut yang menyentuh langit

; tempat rahasia biografi ayahnya tersimpan

—masih bernyawa atau sudah tiada.

Sumenep, 2021


Jam

di tubuhku ada rumus rahasia

:dari angka ke angka

jarum lancip itu

terus mendekatkan nyawamu

dengan impian.

Gapura, 2021


Montase Hari yang Cerlang

                        Helmina Rovi

gelak cakap dua buah hati kita

adalah gradasi warna dalam sebuah lukisan

tumpuan garis liku, pendar arsiran, dan titik cipratan

pada jisim gambar gunung, pematang, dan lautan

teguh berumah pigura kecil di dinding dada kita

bergantung pada pakumu dan pakuku

berhadap-hadapan dengan waktu, mengelak dari sapuan debu

kita lihat lukisan itu dari puisi ini

dari jendela hati yang belah tirainya tak dijangkau sepi.

Gapura Timur, Januari 2022


Sejarah Kaki yang Bengkak

                                    Eppa’

kemungkinan adalah keniscayaan cabang jalan

menanjak, menurun, dan berliku

sedang kakimu sejak sebelum subuh sudah di situ

mencari kemungkinan lain dari bunga yang nyaris kering

tertampung di telapak tanganmu, paras cerlang cuma bayang

legam di kelopaknya, di antara mimpimu

yang menginginkan buah, seraya merahasiakan getah

di balik dada yang pecah

sampai kini, sepasang kaki agungmu itu

menampakkan grafiti petilasan beragam tahun

dalam rupa garis pecahan yang liris berdaki

membuatku harus pandai memaknai

;jalan yang kaulalui adalah mukim beragam duri

dan di hari tuamu yang sekadar bersandar kursi biru

sepasang kaki agungmu terlihat bengkak dan memutih

wujud hari lalu yang dijambak nyeri dan letih

di jalan beribu cabang yang kaulalui

sedang bunga yang nyaris kering itu

telah hilang dalam kepungan waktu.

Rumah Eppa’-Emma’, Januari 2022


Kalender Baru

tak ada yang lain dari diriku

kecuali warna dan jasad kertas

kembali berpangku ke satu paku

di sebelah pintu rumahmu

kukirim angka-angka pada harimu

sebagai bahasa paling rahasia

perihal waktu yang tak takut batu

dan kau menjumlah umurmu

dengan hitungan jemari ringkih

menegaskan rencana di hari nanti

dan melupakan mati.

Gapura, Januari 2022


Rintih Rumah Tua

masa laluku tersisa di lipatan kain usang dekat pintu, bekas sobekan sampir seorang perempuan yang kehabisan cara untuk menghapus air matanya pada Sabtu yang dingin, saat ia mengenali wajahnya di cermin, tak lebih sekadar bunga absurd yang nyaris kering.

sehabis menangis, ia meninggalkanku pergi, pintuku tanpa ia tutup, dibiarkannya menganga pada waktu yang lebat dan berkelebat. jam dinding yang mati tak mampu lagi berbicara soal itu, kecuali hanya seekor kupu-kupu yang sesekali tandang menyampaikan kabar, bahwa hidup memang angin sahaja yang sulit dibaca arah silirnya.

lalu sekawanan rayap mulai mencampuri hidupku dengan sarang berliuk dari bawah kursi dan perlahan menegaskan wujud yang pasti pergi, aku tak bisa mengucapkan kata-kata, selain menumpahkan air mata rahasia, sembari membayangkan perempuan itu datang kembali, membawa melati atau puisi, lalu mematut wajahnya kembali di cermin, seraya membuat kesimpulan betapa hidup bukan sekadar gelengan atau anggukan.

Rumah FilzaIbel, 2022


Warits Rovi, lahir di Sumenep. Karya-karyanya berupa cerpen, puisi, esai dan artikel dimuat di pelbagai media. Buku Cerpennya yang telah terbit Dukun Carok & Tongkat Kayu (Basabasi, 2018). Buku puisinya adalah Kesunyian Melahirkanku Sebagai Lelaki (Basabasi, 2020). Sedangkan buku puisinya yang berjudul Ketika Kesunyian Pecah Jadi Ribuan Kaca Jendela memenangkan lomba buku puisi Pekan Literasi Bank Indonesia Purwokerto 2020. Ia mengabdi di MTs Al-Huda II Gapura.

Cerpen

Mencari Lorong Reinkarnasi

Cerpen Ilham Nuryadi Akbar

Sebelum embun di ujung rerumputan kering dijilat terik matahari, bapak dan para tetangga sudah rapi mengenakan topi rotan, serta baju lengan panjang bermotif getah dan lumpur. Kemudian mengayuh sepeda dengan beriringan. Setiap keranjang sepeda terdapat karung goni yang berisikan identitas diri, benda tajam, serta lauk pauk, bapak dan warga akan menempuh perjalanan yang sudah mereka hafal sejak masih kecil, dengan tujuan tiba di kebun masing-masing sebelum matahari menjadi sangat pirang. Semua itu telah menjadi rutinitas bapak dan warga di kampungku, pergi memetik buah kakau pada minggu pertama di setiap bulan berjalan. Namun, itu hanya cerita dulu.

Sedang para ibu-ibu di kampungku selalu pergi saat siang jelang sore, dan sebelum muazin bersiap mengumandangkan azan magrib, mereka sudah pasti tiba di rumah dengan setumpuk rumput gajah yang dipikul pada bahu, rumput gajah itu nantinya akan diberi pada lembu, kambing, serta kerbau yang mereka pelihara, sudah menjadi hal biasa bagi para perempuan di kampungku untuk pergi mencari pakan bagi hewan ternak, sebab apalagi yang mereka harap, menjual hewan ternak yang telah mereka pelihara dapat membantu dalam menghidupi serta menyekolahkan anak-anak mereka, termasuk juga diriku. Ah, lagi-lagi itu cerita dulu.

***

Sabit bergalah dan arit di dapur sudah berkarat, bentuknya seperti besi yang sudah lama tenggelam di dasar laut, bahkan kawat yang mengikat pada gagang kayunya mulai rontok. Padahal, salah satu dari kedua benda itu sangat aku butuhkan untuk kegiatan gotong royong besok hari, sebab wali kelas sudah memberitahukan, kalau pada kegiatan gotong royong kedapatan murid yang tidak membawa peralatan, akan diberi denda dengan membawa lima kilo pupuk tanaman, jika saja hal itu terjadi, tentu ibu akan marah. Sehingga aku lebih memilih untuk mengasah arit agar kembali tajam, sebab malam hari begini, tidak mungkin toko yang menjual peralatan semacam itu masih buka.

Selagi aku masih mengasah, terdengar derit pintu seperti seseorang yang sedang masuk ke dalam rumah, meski aku tidak beranjak untuk melihat, tapi dapat kupastikan bahwa itu adalah bapak yang baru saja pulang bekerja, sebab hampir setiap harinya bapak pulang larut malam seperti ini. Melihat aku yang masih sibuk mengasah arit, bapak pun menegurku.

“Aritnya mau dipakai buat apa?” tanya bapak.

“Besok mau dipakai untuk kegiatan gotong royong di sekolah.” Pertanyaan bapak kujawab jujur sembari terus mengasah.

Aku pikir bapak akan memarahiku karena sudah larut malam begini aku baru mulai menyiapkan keperluan untuk kegiatan besok hari, namun bapak hanya berdiri saja dengan terus melihat kesibukanku, tapi diam-diam kuperhatikan, sesekali mata bapak melirik topi rotan dan beberapa alat yang dulunya sering digunakan untuk pergi ke kebun. Mungkin bapak rindu dengan suasana bekerja di kebun, atau mungkin saja bapak tidak suka menjadi buruh seperti saat ini, pikirku begitu. Lantas aku kembali mengajak bapak berbicara, agar bapak tidak terus termangu.

“Lagian arit ini sudah lama enggak digunain, sisi tajamnya saja sampai tumpul, belum lagi karatannya, tebal,” tuturku.

“Mau gimana lagi, kamu kan tahu sendiri bapakmu ini sudah satu tahun tidak pernah ke kebun, dan ibumu juga sudah hampir delapan bulan berhenti untuk cari rumput,” jawab bapak dengan tegas.

Bapak seperti memarahiku, seakan-akan penyebab sabit bergalah dan arit jadi berkarat karena ulahku.

“Kebun punya warga termasuk juga kebun kita, sudah tidak bisa dipakai untuk bercocok tanam, kalau tidak, itu arit enggak bakalan ketemu dengan yang namanya nganggur,” tambah bapak dengan nada lemah.

Belum sempat aku menyanggah, bapak langsung masuk kamar dengan wajah yang murung, seperti anak TK yang dipaksa untuk tidur siang saja. Timbul rasa penyesalanku karena telah menyinggung, namun mau bagaimana lagi, semua yang aku sampaikan itu semata-mata untuk mencari jawaban atas kegelisahanku, sebab, sudah satu bulan ini bapak berangkat kerja dengan terburu-buru, bukan karena bapak bangun kesiangan, tapi bapak selalu bermalas-malasan. Padahal sudah tiga bulan bapak bekerja sebagai buruh pabrik, dan sikap bapak itu seperti menunjukkan, kalau bapak sudah bosan dengan pekerjaan barunya ini.

Atau mungkin saja bapak merasa kesal, karena bapak beserta para warga di kampungku tidak bisa lagi memetik buah kakau yang mereka tanam, bisa dibilang 80% warga di kampungku dulunya bekerja sebagai petani, dan biji dari buah kakau yang mereka jual adalah mata pencaharian utama. Namun tanah di kebun kami telah tercemar oleh limbah dari pabrik kelapa sawit yang berdiri tegak menjulang tinggi di bagian utara, dan limbah dari batu bara yang begitu kokoh di bagian selatan, kedua pabrik yang jaraknya hanya 100 meter dari kampung telah mencemari tanah kebun yang kami miliki, sehingga para warga tidak dapat memetik hasil yang mereka tanam, bahkan warna tanahnya saja telah menghitam, dan pohon kakau tidak dapat menghasilkan buah.

Termasuk juga rumput gajah, biasanya pakan untuk hewan ternak itu selalu tumbuh subur dan berbatang besar di pinggiran kebun, namun kini jadi mengering, persis seperti tanaman yang terkena racun, akibatnya hewan ternak yang kami pelihara terpaksa kami jual, itu adalah salah satu cara terbaik daripada membiarkan hewan-hewan ternak mati tanpa menghasilkan pundi-pundi uang.

Entah bagaimana kedua pabrik itu bisa diresmikan, mungkin investor asing telah memberi dana yang sangat besar, yang pasti, keberadaan kedua pabrik itu sangat berdampak buruk bagi warga kampungku, sekitar 40 hektare kebun kakau warga tidak dapat menghasilkan buah, belum lagi dengan debu yang setiap harinya kami hirup. Lebih parahnya lagi, tidak ada ganti rugi yang diberikan pada kami, hanya penawaran untuk bekerja di pabrik, umumnya sebagai buruh atau kuli, namun yang kudengar, gajinya tidak sepadan jika dibandingkan dengan hasil biji kakau yang dulunya kami jual.

Seharusnya orang-orang yang terlibat atas berdirinya kedua pabrik itu paham, bahwa di antara penjualan kelapa sawit, getah karet, dan buah pinang, biji buah kakau memiliki nilai jual paling tinggi, setiap panen para petani bisa mendapatkan Rp2,6 juta, dan dalam satu bulan dapat 2 kali panen. Tapi gaji yang bapak dan warga terima saat bekerja di pabrik masih di bawah pendapatan penjualan biji dari buah kakau. Ditambah lagi dengan masalah waktu kerja, lebih dari 9 jam bapak dan para warga bekerja di pabrik, waktu istirahat yang diberikan juga sedikit, berbeda saat masih menjadi petani yang bekerja setengah hari saja.

Besoknya setelah aku bangun dari tidur, aku menyempatkan untuk bertanya langsung pada ibu yang sedang masak untuk sarapan pagi, aku hanya tidak mau bapak terus-terusan murung dan tidak bersemangat.

“Bapak lagi kurang sehat ya, Bu?” tanyaku sembari mencicipi kerupuk yang baru ibu goreng.

“Mandi dulu, nanti kamu terlambat sekolah,” tutur ibu.

Saat itu ibu sama sekali tidak melihat mataku, rasanya seperti ada sesuatu yang ditutupi, aku pun melewati obrolan singkat itu dan gegas masuk ke kamar mandi. Selesai mandi dan berpakaian, aku kembali menghampiri ibu di meja makan, mumpung bapak masih belum bangun.

“Bapak sakit apa, Bu?” tanyaku.

Lagi-lagi ibu tidak menjawab, kepalanya hanya tertunduk dengan tangan yang masih memegang centong nasi, dan tiba-tiba saja wajah ibu memerah.

“Kamu sekolah yang rajin, supaya nanti jadi orang hebat,” jawab ibu dengan desah sesenggukan.

Ternyata ibu menangis, sontak aku langsung memeluk ibu untuk menghentikan air matanya yang terus menetes. Setelah ibu tenang, aku kembali menanyakan masalah apa yang sebenarnya terjadi, dan pagi itu ibu menceritakan banyak hal, namun salah satu yang membuat ibu sangat sedih, bahwa bulan depan bapak dan beberapa warga akan diberhentikan untuk bekerja di pabrik, dengan alasan digantikan oleh tenaga kerja asing yang lebih kompeten, tentu saja hal itu menjadi pukulan hebat bagi ibu dan bapak, sebab di mana lagi mereka akan mencari uang untuk memenuhi ekonomi keluarga.

Dalam keadaan sedih dan berkecamuk itu, bapak tiba-tiba saja membuka pintu kamar.

“Seandainya dari awal, kita dan para warga membuat posko untuk tidak menyetujui pembangunan kedua pabrik itu, tentu kita tidak perlu bersusah payah memikirkan hal seperti ini,” ucap bapak sembari berjalan menuju ke meja makan.

Ternyata dari tadi bapak menguping apa yang aku dan ibu bicarakan, namun terlepas dari hal itu, aku lebih tertarik dengan apa yang bapak katakan tadi, tapi seharusnya ide untuk menolak pembangunan kedua pabrik itu harus bapak sampaikan ke seluruh warga sejak awal sebelum kedua pabrik itu diresmikan, sehingga aku juga dapat membantu untuk menggerakkan massa, setidaknya warga kampungku dapat memberikan perlawanan. Tapi mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur.

“Kalau saja bapak memiliki saudara yang punya kekuasaan, sujud di kakinya pun bapak rela, asal pabrik itu bisa ditutup,” ucap bapak dengan nada sedih.

Apa yang bapak sampaikan itu laiknya perkataan seseorang dalam keadaan yang sangat lemah dan tidak tahu mau mengadu pada siapa, aku benar-benar miris mendengar apa yang bapak katakan tadi. Belum pernah aku mendengar kalimat yang menjatuhkan harga diri seperti itu.

Menurutku, seharusnya orang-orang yang terlibat dalam pembangunan kedua pabrik itu harus sadar, bahwa pembangunan pabrik akan menjadi hal yang sia-sia, jika warga yang hidup berdampingan dan terkena dampak dari pembangunan pabrik itu belum disejahterakan. Tak peduli dengan alasan untuk kemajuan suatu negara, sebab, banyak kerugian yang nantinya akan kami terima, seperti banjir, tanah longsor, gangguan pernapasan akibat asap dan debu yang terus beterbangan, bahkan air bersih yang biasanya kami gunakan juga akan ikut tercemar.

“Lebih baik kamu berangkat sekolah saja, belajar yang rajin, supaya bisa jadi orang hebat dan mudah mencari kerja, masalah ini biar ibu dan bapak yang memikirkan,” tutur ibu padaku.

Meski sebenarnya niatku untuk pergi ke sekolah sudah hilang, tapi dengan berat hati aku menuruti apa yang ibu suruh, aku hanya ingin nantinya ibu bangga denganku, aku pun pamit sambil mencium tangan bapak dan ibu, namun di sepanjang perjalanan, rasanya aku berharap jika di dunia ini ada lorong reinkarnasi, sehingga kejadian seperti ini bisa aku atasi tanpa sepengetahuan bapak dan ibu, aku ingin kembali pada waktu di mana bapak dan para warga rutin pergi ke kebun, serta kegiatan ibu yang pergi mencari rumput untuk pakan hewan. Sederhana memang, tapi kebahagiaan justru dapat kami rasakan, tidak seperti saat ini. Namun di mana aku dapat mencari lorong reinkarnasi, apa hal semacam itu benar ada.

Bahkan aku juga sempat berpikir, bagaimana jika arit yang telah aku asah menjadi tajam ini, aku pakai saja untuk memenggal kepala orang-orang yang telah membangun kedua pabrik itu, sebab aku tak pernah kuat melihat orang yang paling aku cintai bersedih dan menangis, tapi jika saja diriku kesetanan lalu memenggal kepala orang-orang yang mendirikan serta meresmikan kedua pabrik itu, justru bapak dan ibu akan lebih sedih, bahkan bisa saja tidak henti menangis, sungguh, kebencian benar-benar telah singgah padaku.


Ilham Nuryadi Akbar, lahir pada 11 Februari di Banda Aceh. Buku pertama diterbitkan oleh Alinea Medika Pustaka berjudul Kemarau Di Matamu Hujan Di Mataku, puisi dan cerpen telah banyak terangkum pada beberapa media.

Cerpen

Megh dan Cerita-Cerita yang Memicu Luka

Cerpen Pasini

Megh tiba lima belas menit setelah aku mempersiapkan semuanya. Yang kumaksud mempersiapkan di sini adalah lubang di halaman belakang, lilin, dan kue ulang tahun. Juga, kopi mocca favoritnya tentu saja.

“Aku yakin sebentar lagi akan menjadi ulat dalam kepompong. Rumah ini begitu nyaman dan tidak membiarkan penghuninya pergi ke mana-mana,” buka Megh, menyertai gerakanku menuang kental kopi ke dalam dua cangkir keramik. Menanggapinya, aku tersenyum tentu saja. Bukankah senyum adalah cangkang paling aman untuk menyembunyikan apa saja. Termasuk luka. Dalam hal ini, aku berguru dari ibuku.

“Tapi bagi seekor kupu-kupu, ulat yang bertapa di dalam kepompong adalah fase paling menyiksa.” Dua cangkir kopi kubawa menuju Megh yang memilih bangku dekat jendela terbuka menghadap taman samping rumah. Bougenvil, mawar, anggrek, aglonema. Ah, lagi-lagi mengingatkanku pada ibu. Pada luka.

“Oh, tidak. Aku ulat yang bahagia.” Megh berkata sambil menarik bibirnya menjadi dua sudut yang sangat runcing. Seperti menegaskan bahwa ia bukan ulat mengenaskan seperti yang kusangkakan. “Untung aku jauh berjarak dari masa-masa itu, Ros. Mendengarkan cerita dari mulut Ibu saja sudah membuat tulang-tulangku linu.”

Dalam beberapa detik aku langsung menyadari betapa konyolnya aku dengan prasangkaku. Tentu saja Megh dan ibunya dan neneknya yang miskin itu bahagia. Ibunya tidak perlu lagi jadi buruh pabrik yang berangkat kerja pagi-pagi sekali dan tiba kembali di rumah kontrakan sempit menjelang malam. Neneknya tidak lagi serupa laba-laba yang seharian di dalam kamar memintal sarang disertai erangan.

Di mana sebelum ibu Megh berangkat kerja, sudah ia siapkan makanan di meja dekat ranjang tempat perempuan tua itu berbaring. Juga obat-obatan murah dari warung. Beberapa pijak sebelum langkahnya meninggalkan ambang kamar, ia meminta perempuan tua itu untuk sedikit menahan sakitnya. Di tanggal gajian ia berjanji akan membawa ke dokter dan membelikan obat dari apotik.

***

“Tidak enak menjadi simpanan. Selalu dianggap sebagai perebut hak bahagia orang lain.”

Megh, ibunya, dan nenek laba-labanya, tinggal di kota kecil. Berita seperti apa pun dengan cepat menyebar bagai bau busuk ditebar lalat. Yang menjadi lalat di sini tentu saja perempuan-perempuan tetangga. Mengatai ibu Megh perempuan tak punya hati. Nenek Megh menjual anak sendiri. Ketika Megh lahir, ia menjadi korban perundungan teman-teman di sekolahnya.

“Lalu Ibu merayu Ayah agar kami sekeluarga bisa pindah ke rumah yang lebih besar.”

“Ayahmu menyanggupi?” tanyaku ringan, selayaknya helai daun rapuh yang sudah tiba waktu jatuh dan diterbangkan angin. Penting untuk tetap menjaga luka di dalam cangkangnya. Aman di sana.

“Itu adalah harga yang harus dibayar setelah orangtuanya memakai kemiskinan Ibu dan Nenek agar mau dinikahi anak satu-satunya.”

“Sepertinya kau tidak suka dengan ayahmu, Megh?” telisikku.

“Aku benci saat ia mengatakan harus buru-buru pergi sementara aku masih ingin dipeluknya. Masih ingin dibacakannya sebuah dongeng, masih ingin bermanja-manja di pangkuannya. Anak-anak orang lain bebas melakukannya setiap waktu, Ros.”

Cerita Megh serupa anak sungai yang menghanyutkanku ke masa lalu. Saat terbangun di tengah malam dan mendapati hanya ada ibu menenangkanku. Padahal dalam mimpi buruk yang baru saja membuatku terjaga, aku dikejar-kejar sosok buruk rupa dan diselamatkan ayah dengan menunggang kuda.

Ibu kemudian tertawa. Mengatakan bahwa ayah tidak mungkin sedang bersama kuda. Ia tengah berada di jauh sana, berjibaku dengan kertas-kertas kerja atau laptop menyala. Aku meminta ibu menghubunginya. Hanya terdengar nada dering yang begitu lama. Esok harinya ayah baru membalas dengan beberapa alasan. Jika aku di usia ibu dan aku istrinya, tidak akan kupercaya.

Aku bahkan membenci kenyataan pernah mengirim doa-doa baik di setiap kepergian ayah. Agar  mobilnya tidak bertemu pengendara ugal-ugalan di jalan. Agar ia kembali dengan sekeranjang hadiah. Agar ia membawa uang yang banyak sehingga aku bisa membeli sekarung permen atau arum manis.

Aku juga pernah berdoa agar ayah tidak sering pergi, tetapi ibu melarangnya. Katanya, ayah bisa dikeluarkan dari tempatnya bekerja jika menolak perintah atasan. Dan itu sama artinya tidak ada lagi sekeranjang hadiah, sekarung permen, dan arum manis. Meski menurut ibu, pergi ke luar kota adalah kebiasaan baru. Ayah tidak melakukannya di tahun-tahun awal pernikahan mereka.

Rasa percaya ibu yang begitu dalam pada ayah, membawanya ke dalam luka paling palung saat terjatuh. Dan harus ada yang membayarnya agar luka itu tidak berlalu sia-sia.

“Tak ada yang bersimpati ketika Nenek meninggal. Ketika Ibu menyusulnya karena leukemia. Orang-orang dengan pintasnya mengatakan itu sebagai tuai.”

Aku mengangsurkan cangkir kopi agar lebih dekat dengan Megh. Sambil memberinya saran, ia sebaiknya menjeda ceritanya dengan minum. Cita rasa kopi akan memudar seiring perubahan suhunya.

***

Sampai ibu ditemukan dengan jerat tali di lehernya pada sebuah pagi berkabut, aku masih belum memahami perihal sakit yang dimaksud nenek. Yang kutahu, ibu menjadi seorang yang berbeda sejak ayah meninggal. Dari seorang ceria yang suka menghabiskan hari-hari dengan menanam bunga, menjadi seorang pendiam yang mencari-cari alasan agar selalu menyendiri.

Ibu juga membakar semua barang milik ayah dan tidak ingin menyimpannya demi mengawetkan kenangan. Bagiku itu ironi mengingat ayah adalah satu-satunya lelaki di hidup ibu. Mereka sudah bersama begitu lama, tepatnya sebelum aku terlambat hadir di tahun ke sepuluh pernikahan.

Setelah ayah meninggal dalam sebuah kecelakaan yang tragis, ibu belum pernah sekali pun menziarahi pusaranya. Beberapa tanyaku tentang ayah kembali sebagai jawaban-jawaban pendek. Bahkan lebih sering menguap bagai nasib awan tersapu angin.

Yang kutahu, perubahan sikap ibu dimulai ketika napas ayah tinggal satu-satu dan memaksa untuk bicara empat mata. Ibu keluar dari ruang rawat dengan tangis tak terbendung dan jatuh di pelukan nenek. Tak lama kemudian ayah meninggal dan ibu mematung.

Sebelumnya ibu adalah seorang istri yang tidak pernah mengeluh kekurangan waktu. Bahkan ibu menjadi payung peneduh atas gundahku saat tepat berusia tujuh dan dirayakan dengan sebuah pesta tanpa kehadiran ayah.

Ayah meneleponku. Mengungkapkan rasa bersalah karena kesibukannya. Menggantinya dengan sebuah janji boneka beruang dan pergi jalan-jalan sepulangnya nanti. Jadi ketika ibu mulai menghindari tanyaku tentang ayah, aku berpikir ibulah yang jahat dan ayah sebaliknya.

“Ibumu sakit,” reda nenek sambil membelai rambut sepunggungku.

Aku menggeleng. “Ibu baik-baik saja.”

“Sakitnya di sini.” Nenek menunjuk dadanya.

Tersisa nenek di sisiku. Meski yang tampak di mataku adalah sebuah jasad dengan hanya sepertiga ruh di dalamnya. Ibu adalah satu-satunya anak perempuan nenek dan menjadi kesayangan di antara dua anaknya yang lain. Kepergian ibu dengan cara mengenaskan di usia masih cukup muda pasti begitu memukul nenek. Menjadikannya semakin letih dan mendekatkannya dua kali kepada kematian. Dengan suara lirih sebelum benar-benar menutup mata nenek berujar, “Seandainya orang tua ayahmu mau lebih bersabar. Karena setahun kemudian ibumu berbadan dua. Peristiwa yang membawa luka itu tak perlu terjadi.”

Sebuah alamat kemudian diangsurkan kepadaku dan aku tidak tahu harus melakukan apa sampai begitu lama.

***

“Tapi aku pernah begitu bahagia dan merasa menang, Ros,” kata Megh. Itu adalah hari ke sembilan aku mampir ke tempat makan miliknya. Lebih dulu aku mencari tahu sebuah alamat dan menemukan Megh sebagai pemilik dari sebuah resto kecil. Aku menghabiskan banyak uang dengan pesanan dan Megh terkesan.

“Benarkah?”

“Meskipun hanya kemenangan kanak-kanak, aku memaknainya dalam. Aku berpura-pura sakit. Ibu dan Nenek memberi pilihan agar Ayah pergi. Merekalah yang akan menjagaku. Ada gadis kecil lain menunggunya untuk menerima suapan pertama dari potongan kue. Tapi Ayah memilihku.”

Megh meraih gelas. Kami bersulang. Goncangan air kuning bening di dalam gelas tulip menandai cangkangku yang retak dan tidak mampu lagi menampung bengkakan luka di dalamnya.

“Kau dan kotamu sudah menerimaku begitu baik. Aku mengundangmu untuk berganti pergi ke kotaku. Ke tempatku. Aku akan menjamumu dengan sebuah petualangan yang tidak mungkin akan kau lupakan,” kataku dengan tatap penuh permohonan.

Dan Megh mengabulkannya. Siang ini ia tiba di rumahku, lima belas menit setelah aku mempersiapkan semuanya. Yang kumaksud mempersiapkan di sini adalah lubang di halaman belakang, lilin, dan kue ulang tahun. Juga, kopi tentu saja.

“Kau juga tinggal sendiri di rumah sebesar ini, Ros?” Megh menyeruput minumannya. Mengedarkan pandang pada seisi ruang tamu yang hanya berisi pigura dengan fotoku seorang diri.

Aku melihat Megh seperti ingin berdiri. Pandangannya lekat kepada seekor kupu-kupu yang hinggap di pigura tadi dan kupikir ia hendak pergi ke sana untuk menangkapnya atau sekadar menatap dari jarak yang lebih dekat. Tapi tubuhnya kembali roboh dengan lemparan pantat yang begitu keras pada bangku. Seolah ia kehilangan kekuatannya sama sekali.

“Benar. Ayahku sudah di neraka. Bisakah kau menyampaikan salamku saat bertemu dengannya?”

Megh menatapku tak mengerti. Tapi sama sekali tidak tersisa waktu untuk bertanya. Ia memegangi lehernya serupa orang tercekik. Serbuk-serbuk putih yang ikut kularutkan di dalam teko sepertinya sedang bekerja.

Aku menyalakan lilin. Setidaknya kali ini Megh tidak perlu berpura-pura sakit di saat ulang tahunku. Sesaat setelah memejam mata untuk merapal pinta selayaknya prosesi pertambahan usia, aku menyeret tubuhnya ke lubang galian di belakang rumah.****


Pasini, mitra BPS Kabupaten Ngawi sebagai tenaga entri data. Menulis cerpen yang pernah tersiar di sejumlah media cetak dan daring.

Cerpen

Gerimis Ungu dan Perempuan Bersyal Biru

Cerpen Afri Meldam

Saya suka berjalan-jalan, terlebih pada waktu sore dan malam hari. Biasanya, sehabis mengguyur tubuh dengan air hangat yang disediakan Imah, saya segera bersiap-siap: memakai beberapa lapis baju yang kemudian saya padankan dengan sepotong syal dan sweater. Tak lupa pula—di dalam kantong sweater—saya selipkan beberapa batang rokok, sekadar pengusir dingin dan serangan nyamuk.

Malam ini saya akan ke pelabuhan. Katanya, malam ini, ada pasar malam di sana. Tentu orang-orang akan ramai berkunjung. Siapa tahu, di sana saya akan kembali bertemu dengan perempuan bersyal biru itu…

***

Perempuan bersyal biru itu selalu hadir dalam setiap mimpi saya.

Saya bertemu pertama kali dengannya secara tidak sengaja di sebuah pesta taman, setahun yang lalu. Layaknya sebuah pesta, undangan yang hadir umumnya mempunyai pasangan masing-masing, kecuali saya. Saya hanya datang sendiri ke pesta itu. Sebentar saja, rasa bosan telah menguasai saya, sementara orang-orang asyik bercengkerama dengan pasangan masing-masing. Saya pun kemudian berniat untuk segera pulang. Namun, tiba-tiba mata saya tertumbuk pada seorang perempuan cantik yang tengah duduk di sudut taman. Ia sendirian. Seketika pikiran saya berubah. Saya melangkah ke sana, menghampiri perempuan itu. Ia tersenyum. Saya berdebar.

“Sendiri?” tanya saya.

Ia mengangguk.

“Boleh saya temani?”

Ia kembali mengangguk.

“Boleh saya duduk di sini?”

Ia mengangguk lagi.

Aneh, kok perempuan ini tak membalas pertanyaan saya dengan kata-kata, hanya dengan sebuah anggukan? Begitu mahalkah suaranya? Atau, jangan-jangan perempuan cantik ini bisu?

Kali ini ia menggeleng. “Saya nggak bisu,” katanya santai.

Lho kok ia bisa mendengar kata hati saya?

“Kadang, kata hati lebih pantas didengar dan lebih objektif dibandingkan kata-kata yang terucap di bibir,” lanjutnya kemudian, menimpali pertanyaan yang tadi terlontar di hati saya.

Saya penasaran. Lalu saya berniat untuk bertanya padanya. Namun, baru saja saya akan buka mulut, ia segera mendahului: “Bukan. Saya bukan peramal.” Lalu ia tersenyum.

Untuk kesekian kalinya saya dibuat tak berkutik oleh perempuan cantik itu. Ia seolah mempunyai indra yang begitu tajam, yang bisa meraba segala kemungkinan yang bakal terjadi. Bahkan, kata-kata yang sebenarnya baru tersusun dalam otak, sudah mampu ia baca. Saya betul-betul kagum.

“Kopi?” Ia mencoba memecah hening di antara kami.

Saya mengangguk,”Ya, kopi pahit.”

Ia lantas memanggil pelayan pesta dan memesan dua cangkir kopi. Satu dengan gula, untuknya, dan yang satu lagi kopi pahit, untuk saya. Tak lama berselang, pesanan pun tiba. Dua cangkir kopi panas menjadi teman ngobrol kami malam itu. Percakapan pun terasa lebih akrab dan mengalir tenang. Ia bercerita panjang lebar tentang kehidupannya pada saya. Mulai dari ketika ia diterima bekerja di sebuah perusahaan asing hingga kisah cintanya dengan seorang pemuda yang berakhir dengan airmata: mereka berpisah karena kekasihnya menerima perjodohan dengan seorang peragawati dan meninggalkannya tanpa sepatah kata pun terucap.

Saya pun tak mau kalah. Saya ceritakan kepadanya tentang perjalanan hidup saya mulai dari saya kecil hingga tua seperti sekarang. Saya ceritakan juga kepadanya tentang bagaimana perasaan saya ketika berhasil meraih gelar doktor di salah satu universitas terkemuka di London, tentang kucing-kucing saya, juga tentang pembantu saya, si Imah yang pandai memasak dan membuat kue-kue enak.

“Bagaimana dengan anak dan istri Anda? Rasanya tak satu pun dari mereka yang Anda ceritakan kepada saya?”

Sudah saya tebak, ia pasti akan bertanya tentang hal itu pada saya.

“O..itu! Lain kali saja. Kalau kita bertemu lagi, akan saya ceritakan kepada Nona semuanya. Sepertinya malam sudah larut. Para undangan sudah banyak yang pulang, lihatlah!”

Ia memandang ke sekeliling, lalu mengangguk.

“Terima kasih, Anda telah menemani saya malam ini.” Ia menghabiskan sisa kopi di cangkirnya.

“Sayalah yang sepatutnya berterima kasih,” jawab saya sambil kemudian berdiri. Tiba-tiba, saya teringat satu hal: Siapakah nama perempuan cantik ini? Setelah sekian jam kami berbincang-bincang, tapi tak satu pun dari kami yang menyadari kalau kami belum saling mengenal satu sama lain. Tapi, sebelum saya berucap—seperti biasa—ia mendahului saya, ”Julia. Nama saya Julia,” katanya. “Dan Anda Pak Martin. Betul?”

Ya, tentu saja ia sudah tahu nama saya!

Malam itu terasa begitu mendebarkan. Dan saya pulang dengan langkah yang begitu bersemangat. Entah kenapa…

***

Saya tiba di pelabuhan ketika gerimis mulai turun. Pendar lampu jalan dan penerangan dari stan dan wahana pasar malam membuat gerimis tampak berwarna ungu.

Orang-orang sudah banyak yang berdatangan, berjubelan. Tua-muda berbaur dalam hiruk-pikuk pasar malam. Beberapa bocah tampak asyik menaiki komedi putar yang berada persis di tengah-tengah arena. Tidak jauh dari tempat itu, beberapa orang tampak asyik menonton aksi seorang pesulap yang berpakaian serba hitam. Pesulap itu menyuruh para penonton untuk memejamkan mata dan memikirkan sesuatu. Setelah itu, ia menebak apa yang ada dalam pikiran masing-masing penonton, satu per satu.

“….Anda yang berbaju merah memikirkan istri Anda yang Anda tinggalkan di rumah bersama mertua Anda. Kalau yang memakai kerudung abu-abu, Anda mengingat pacar Anda yang kini berada di perantauan. Dan, Anda yang berbaju hijau sedang membayangkan kemungkinan promosi jabatan yang sempat disinggung atasan Anda…”

Semua penonton bersorak-sorai, bertepuk tangan. Mereka tampak begitu takjub. Tumpukan uang melayang ke arah pesulap.

Tiba-tiba saya teringat seseorang. Perempuan cantik di pesta itu! Bukankah ia juga memiliki kemampuan seperti pesulap ini? Apakah mereka saling mengenal atau mereka pernah belajar di tempat yang sama, atau jangan-jangan  pesulap ini tak lain adalah perempuan cantik di pesta itu?

”Ya, Anda betul. Sayalah perempuan itu!”

Saya terlonjak kaget. Tiba-tiba, pesulap itu sudah berada di dekat saya. “Maaf, saya telah membuat Anda kaget,” tambahnya kemudian di tengah kecamuk dalam benak saya. “Oh, ya! Saya ingat satu hal. Dulu Anda berjanji untuk bercerita tentang keluarga Anda kepada saya, bukan? Anda masih ingat, kan, Pak Martin?”

“O…tentu! Tentu saya masih ingat,” balas saya gugup.

“Sepertinya gerimis makin deras. Ayo kita cari tempat berteduh. Saya sudah tidak sabar ingin mendengar cerita Anda!”

Ia menarik tangan saya dan membawa saya ke sebuah kafe yang terletak di bibir pantai.

“Anda mau makan apa, Pak Martin?” tanyanya ketika pelayan kafe datang membawakan daftar menu ke meja kami.

“Terserah Nona. Saya percaya, Nona tahu keinginan saya.”

“Baiklah kalau begitu,” ujarnya sembari menyebutkan menu yang kami pilih pada pelayan kafe. Ia memesan satu piring udang goreng saus padang, kentang rebus keju serta segelas jus nanas. Untuk saya dipesannya seporsi kakap panggang plus secangkir kopi pahit, persis seperti apa yang ada dalam pikiran saya.

Selesai makan, perempuan itu mendesak saya untuk bercerita. Entah kenapa ia kelihatan begitu bersemangat ingin mendengar cerita saya. Bukankah ia mampu membaca pikiran orang? Lalu kenapa ia tak mampu…

“Tidak semuanya. Ada hal-hal tertentu yang tak dapat dibaca. Ya, seperti cuaca. Kita tak mampu menebaknya dengan pasti, hanya menerka dengan segala keterbatasan kita,” tuturnya.

Setelah didesak-desak terus, akhirnya saya bercerita kepadanya…

Suatu sore, ketika saya berjalan-jalan di sebuah taman, saya bertemu dengan seorang perempuan bersyal biru. Ia duduk sendirian di sebuah bangku kayu di bawah persis di sebelah lampu taman. Saya datang menghampiri perempuan itu. Gerimis ungu turun.. Perempuan itu hanya diam. Saya mendekat. Tiba-tiba ia berdiri dan memegang tangan saya. Tanpa saya duga, perempuan bersyal biru itu mencium saya. Saya terkesima dan tak mampu berbuat apa-apa.

Sore berikutnya kami kembali bertemu di taman itu. Gerimis ungu juga turun seperti kemarin. Perempuan itu kembali mencium saya. Begitu juga pada sore berikutnya dan sore berikutnya lagi. Kami bertemu di taman itu dan ia selalu menyambut kehadiran saya dengan sebuah ciuman lembut. Akhirnya kami menikah. Hidup di bawah atap yang sama. Mempunyai anak. Lalu tiba-tiba saja penyakit bersarang di paru-parunya. Ia meninggal. Saya menjadi orangtua tunggal bagi anak-anak. Saya gagal mendidik mereka. Ketika mereka beranjak dewasa dan mempunyai kehidupan yang mapan, mereka membuang saya ke tempat ini. Begitulah…

Saya mengakhiri cerita saya sampai di situ. Hanya itu yang mampu saya ingat, tak lebih.

Perempuan itu menyeka air matanya. “Maaf, saya tidak bermaksud membuat Anda bersedih,” ujarnya menyesal.

“Tidak apa-apa”

Setelah itu kami lebih banyak diam. Hanya debur ombak yang sesekali memecah hening. Saya mengisap habis semua rokok yang tadi saya selipkan dalam saku sweater.

Kami meninggalkan kafe saat gerimis masih cukup lebat. Di tengah jalan, perempuan cantik itu berhenti. Ia memegang tangan saya. Tiba-tiba saja saya merasakan ada getaran hangat yang mengalir dari tubuhnya. Saya memejamkan mata. Perempuan itu mencium saya dengan lembut. Dan entah kenapa, saya baru sadar bahwa ada syal berwarna biru yang melilit di lehernya.

***

Malam ini, Imah melarang saya pergi jalan-jalan.

”Bapak sakit. Sebentar lagi dokter Jose datang. Tidurlah. Saya akan membuatkan kopi pahit buat Bapak,” bujuk Imah setelah mengompres kening saya dengan sehelai handuk kecil.

“Buatkan dua cangkir, Imah. Tapi yang satunya dengan gula. Saya akan menelepon dan meminta Julia datang ke sini.”

”Julia? Teman Bapak?”

Saya mengangguk. Setelah itu, Imah berlalu, meninggalkan saya seorang diri dalam kamar.

Ketika saya akan mengambil ponsel, terdengar seseorang mengetuk pintu. Saya bergegas ke sana. Seorang perempuan bersyal biru berdiri di sana.

“Julia!” Saya terkesima. “Anda betul-betul bisa membaca pikiran orang!”

Ia tersenyum, lalu mencium kening saya.

Dari jendela, saya lihat gerimis turun dengan lebat. Gerimis yang selalu berwarna ungu. ***

Simpang Haru, 28 0ktober 2005-Bekasi 2020


Afri Meldam, lahir dan besar di Sumpur Kudus, Sumatera Barat. Menulis cerpen dan puisi. Buku kumpulan cerpennya, “Hikayat Bujang Jilatang” terbit pada 2015. Noveletnya yang berjudul “Di Palung Terdalam Surga” bisa dibaca di Pitu Loka (2019). Sekarang bekerja sebagai guru BIPA di Jakarta.

Puisi

Puisi Rizka Umami

Kepada Perempuan yang Menyeling

Nasib bicara perihal seni menyeling

Token listrik lebih nyaring dari alarm pagi

Membawa sumpah serapah

Langkah gontai dan sembap mata

            yang tak punya jatah lelap

Siapa sangka waktu bisa porak poranda

Ditubruk kerja mekanik tanpa gugat

Menopang gaya hidup pas-pasan

Sebelum diburu tenggat demi tenggat

            dan teror untuk segera merampungkan

            laporan-laporan ‘tai kucing’

            di penghujung tahun-tahun kematian

tapi seorang perempuan menyeling

scroll timeline menatap layar

merebah diri tanpa melakoni apa-apa

ia kembali kekanak, seperti mula

sekembalinya pada setengah sadar

ia kehilangan tenggat

begitu saja waktu menilapkannya di pembaringan yang sama

sudut kursi panjang sampai bosan dengan pantatnya

Nasib perempuan menyeling kehabisan waktu

Menikmati lakon kemalasan

Lepas pesat pada sibuk menyenangi selingan

            menyeling sampai gagang pintu, remuk.

Tulungagung, Agustus 2021


Sebuah Potret Dini Hari

Di warung-warung dini hari

Ampas-ampas kopi mengendapi dasar gelas dan cangkir

Sengaja ditinggalkan di bak cucian

Menjamur

Di pasar orang-orang berjejal menunggu tengkulak mengambil pesanan, mengaso

Mengais beberapa sisa sayur di bawah truk dan pick up

            Atau berdebat soal harga minyak yang mencekik sejadi-jadinya

Tapi di dapur umum

Sergapan kantuk lebih nyaring membumbung bersama deretan kalut, capai dan pupus

Menyisa dua pertiga potong tenaga buat mengisi lambung bocah-bocah yang ikut ngungsi bapak biyungnya

Buat para sepuh yang gagal juang

            Atau pencuri-pencuri yang sadar punya nasib buruk

Di dapur-dapur umum dini hari

Seorang perempuan tinggal menggendong bayinya

Memberi suap demi suap yang papa

Satu biskuit dan air hangat sedikit gula

Di dapur umum

Potret kematian-kematian kabur

Hanya siluet kegamangan

            Melanjutkan hidup, tanpa apa?

Tulungagung, Desember 2021


Tak Ada yang Lebih Kecut dari Hujan di Pipimu

Kau sambat lagi!

Menangis di siang itu

            Di bawah beringin yang baru menjulur akar gantungnya

Sedikit melindungi kulit merah dibalut krim-krim anti matahari

Katamu

Cinta tak lebih dari pasir hisap

Menelanmu lamat-lamat

Menenggelamkan harap-harapmu yang abu-abu

            Perihal hidup langgeng tanpa luka

Bukankah cinta manunggal bersama duri-duri mawar dan lembah-lembah curam?

Kau tak peduli

Lelaki sengaja menutupi air mata mimik muka dengan asap kretek

Sesenggukan di bawah pohon beringin muda

Sebab kalut dimangsa kisah cinta yang kecut cilu

            Tapi tak ada yang lebih kecut dari hujan di pipimu.

Tulungagung, 2021


Perihal Jeda

Siapa yang kenal jeda karena butir dan ongas sebab martir? Ketika tak kutemui puisi di matamu, jeda-jeda raib dan kacau.

Aku jadi segala gerak cepat membabi buta

Iringan tawon kehilangan sarang

            Kehilangan penghidupan

Aku jadi segala bising dan desing

Menolak rehat meski dada remuk ditatah butir-butir air mata bocah kolong

            Yang dingin dan dalam

Aku jadi segala keping-keping yang tercerai

Diserakkan angin yang berembus tanpa jeda

            Seperti kau, menikam dengan martirmu.

Marsda Adisucipto, November 2021


Sajak Kancing Paus

Di tubuhmu aku menemukan sajak kancing Paus

Sebentar-sebentar

Mari ulur waktu sampai level mendengarmu naik sedikit

            : Sajak Kancing Paus

            Gemerincing kancing-kancing baju impor

            Penuh di kerancang belanjamu

Nyaring seperti nyalimu tak surut

Memborong menawar mencari diskon-diskon

Berburu sampai larut di sosial media

Tak ada yang boleh sisa di keranjang maya-nyata

Almari-almari menahan kerakusan

Tak kuat sampai mendecit minta jatah udara segar bebas debu

            Rapikan, pilah, buang saja kancing-kancing lama ke selokan depan

Tapi dari sajak kancing Paus kau mengendus

Memergoki kenakalanmu

            Di selokan ke selokan menuju sungai-sungai ke laut

            Pantainya kau singgahi dengan baju-baju baru

Kancing-kancing lapang berjalan mengalir menyeberang tertampar ombak mencari muara menggauli takdir

Membersamai tubuh sang Paus

            yang tenggelam menyesali kedurhakaannya.

Dlodo, 2021


Melayat Mata Air

Di sudut-sudut yang Agung

Kita tak menemui apa-apa

            Selain sumber yang hening

Kering dan riak-riak tumbang

Ceruk-ceruk seperti tebing-tebing megek

Dirayapi lumut-lumut cokelat

            Yang ditebang

            Yang kehilangan

            Yang tersisa

                        Napas-napas tak lagi panjang

Kota telah membeli sumber hidup

            Membeli napas

            Melayat mata air dengan air mata.

Tulungagung, 2021


Di Kursi Tunggu

            Buat perempuan yang dikutuk sendiri

Kursi-kursi tunggu sepi

Hanya juntaian jadwal kereta

Yang mabuk menunggu manusia

Di ruang tunggu asing

Aku bukan lekas menjadi saudara

Hanya tujuan lebih jelas

Menghabisi masa muda menunduk pada layar

Di ruang tunggu

Dan deretan jam keberangkatan

tumbuh ingatan-ingatan yang diulang-ulang

            tentang perjumpaan dan upaya-upaya koyak

            tentang keberanian buat sendiri.

Tulungagung, 16 Desember 2021


Nama yang Pulang

Diingat,

Juga pada sebuah tengah malam

Dingin dan lembap

Seperti tertahan tumpahan hasrat hari lalu

Ada yang merambahi mengejar

Silih ganti pada ruas-ruas jari kaki

Menggetarkan pada yang hanyut

Mencintai

Sebab tak lama bersesumbar kabar datang senyap menegang

Bukan lagi soal berahi

Sampai namamu menyelanya

Mengakhiri tanya

Kenapa kau yang datang

            Dengan tubuh tanpa nyawa?

Tulungagung, September Hitam 2021


Hasil Bumi?

Di batas manusia mengutas rusuh atas ketubuhan

Membumbui laku dengan hasil bumi

            Yang diperebutkan

Di tanggal-tanggal yang sama

Hasil-hasil panen disakralkan

Orang-orang membahagiakan diri

            Melarung saji

Tapi di sana, Le

Bongkahan emas dan marmer dan pasir yang didulang

            Tak habis-tabis

Hanya cukup buat membahagiakan

Aktor kawakan!

Januari, 2022


-dan Sumber Ece

Di Nguri sebuah kabar berkesiur

Meminang telinga dan kerabatnya merasai

            Jumpa pada dataran lebih tinggi

-dan Sumber Ece

Yang kau temui memuat koin-koin bercecer di sepanjang aliran

sampai muara pada hari cerah

dan matahari bersahabat dengan wajahmu yang pura-pura

Di Nguri pada kedalamanmu yang lain

Sebuah desa tetap menjadi desa

            yang luput dari bising dan ongas tambang

-dan Sumber Ece

            Lebih jernih dari pantulan matamu

            di cermin itu.

Sumber Ece, Januari 2022


Rizka Hidayatul Umami, mahasiswi Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga. Sedang menekuni sastra dan isu perempuan. Bisa disapa via Instagram @morfo_biru, Facebook Tacin, atau Twitter @morfo_biru