Katalog

Cerpen

Laut Terbelah

Cerpen Ken Hanggara

Di hari ketika Musa dan pengikutnya berbondong-bondong meninggalkan Mesir, kumpulan mega berarak persis menuju laut dan seketika permukaan air jadi gelap, tetapi ikan-ikan tetap berenang seperti biasa seakan-akan tidak ada sesuatu yang sedang terjadi dan seakan-akan segalanya masih dan akan terus berjalan normal, meski sebenarnya telah muncul beberapa potong pertanda sepele yang barangkali tidak terlihat oleh mata makhluk biasa, tentang lahirnya sesuatu yang agung dan tercatat di sebuah kitab suci dan terkenang hingga berabad lamanya dan bahkan hingga kiamat: perahu nelayan putus asa, beberapa kuda yang berbincang dengan burung-burung, dan diri saya yang tak terlibat apa-apa, kecuali sebagai penonton, tetapi tentang diri saya itu tidaklah penting, karena ada ataupun tidak diri saya ini, toh Musa dan para pengikutnya tetap menuju tanah yang dijanjikan, di seberang yang jauh dan tak terjangkau oleh imajinasi ikan-ikan, sehingga saat kabar dari masa lalu tentang raja yang mengaku sebagai tuhan itu sampai ke telinga saya, saya tidak akan menduga ada peristiwa sehebat ini; ribuan orang berjalan setengah berlari ke arah laut dalam formasi yang terlihat tanpa direncana dan terburu-buru dengan jumlah yang dapat membuat tanah di dekat pantai bergetar-getar seiring dekatnya jarak mereka dari kemerdekaan, dan itu sambung-menyambung tanpa henti sampai ikan-ikan sadar bahwa jumlah manusia yang lari dari raja zalim itu tidaklah tanggung-tanggung, oleh karena getaran dahsyat yang diakibatkan derap langkah mereka memang mencapai titik yang memungkinkan dalam membuat air di laut turut bergetar, dan tentu perahu sang nelayan yang putus asa juga turut bergetar, tapi yang ada di kepala orang udik itu hanya bahwa dirinya sedang tak waras dan kegelapan di langit, juga gempa serupa tabuhan perkusi dari bawah air di balik lantai perahu, seakan bukan kenyataan dan cuma terbit dari pikiran sendiri, dan semua ini menjadi bahan lelucon burung-burung yang sejak dulu kerap membawa kabar dari Mesir untuk ikan-ikan, dan siapa pula yang tidak paham jikalau burung-burung ini mendapat kabar dari beberapa kuda dan terkadang bangsa belalang atau bahkan katak dan unta, dan tidak jarang juga arwah orang-orang yang tidak lama meninggal di kawasan proyek ambisius sang raja yang ingin disembah sebagai tuhan dan ingin menang sendiri, yang berupa piramid dan patung dan segala bangunan yang entah bagaimana lagi saya menyebutkannya, tetapi mereka, burung-burung itu, tidak mungkin bicara dengan manusia yang putus asa dan bingung demi mengakhiri hidupnya sendiri, sehingga mereka hanya tertawa sekaligus menangis karena tidak bisa berbuat lebih, dan karena inilah ikan-ikan lalu menghibur setiap ekor burung yang terlibat dalam perkara aneh ini dengan bilang bahwa segala kematian itu urusan Tuhan yang Mahaesa, termasuk kematian seseorang yang secara konyol terjadi di waktu bersamaan dengan hikayat agung yang bakal tercatat dalam lembar sejarah dan kitab suci, dan lagi pula mereka juga sadar pada akhirnya nanti si nelayan itu juga kaget lantaran Musa dan seluruh pengikutnya berjalan ke arah yang sama, dan barangkali di saat yang sama dia akan melihat betapa malu dia jika harus mati dengan ditonton oleh ribuan orang, tapi siapa pun tak bisa membaca masa depan, dan nasib sang nelayan tidak ada yang tahu sampai seluruh manusia, yang ribuan jumlahnya tadi, yang dipimpin Musa, benar-benar tiba di tepian pantai, sehingga seluruh semesta pun, pada detik saat mega pekat berarak ke sini, memutuskan menunggu; burung-burung, ikan-ikan, beberapa kuda yang telah kabur dari tuan mereka, beberapa belalang, semut, kadal, katak, dan lain-lain; tak ada satu pun yang sanggup melewatkan apa yang akan terjadi, dan semua bakal terus bertanya-tanya: dengan mukjizat macam apa Musa bisa membawa para pengikutnya lolos dari raja dan pasukannya, sementara di sini, tidak lama lagi, mereka menjumpai titik akhir berupa air yang hanya sanggup dilalui oleh ikan-ikan, perenang andal, dan perahu dan bukannya orang-orang tua renta, bayi-bayi, para wanita lemah, lelaki loyo, orang-orang pemalas, dan siapa pun yang tidak sanggup berenang dan tidak kuasa melawan ganasnya Laut Merah, dan saya sendiri yakin tak ada yang selamat kalau harus memaksa terjun ke air, kecuali tidak ada pilihan lain selain mati ketimbang menjadi budak raja yang mengaku sebagai tuhan, dan itu sungguh akan menjadi kisah paling menyedihkan yang akan saya saksikan, tapi saya berharap di detik-detik genting ini agar mukjizat Musa—yang tak kalah hebat ketimbang mengubah tongkat menjadi ular atau mengeluarkan cahaya dari telapak tangan—benar-benar lahir atas izin Tuhan yang Mahaesa, dan ini membuat saya terus saja berdoa, bahkan meski getaran di bumi akibat derap langkah ribuan pengikut Musa mulai bikin kacau tempat bernaung saya, dan bahkan meski suatu ketika saya harus berhenti oleh karena menyadari betapa perahu nelayan itu kini berada tidak jauh dari sekumpulan ikan-ikan yang terlihat cemas (yang mungkin membuat sang nelayan semakin terbenam dalam emosi yang tidak terkendali sehingga tanpa berpikir panjang membunuhi ikan-ikan itu untuk pelampiasan, karena sejatinya dirinya tak bisa benar-benar menghabisi dirinya sendiri dengan terjun ke laut dan pasrah didekap air hingga tewas—entah karena mulai memikirkan tentang neraka yang kelak menelannya bulat-bulat dalam keabadian atau entah karena mulai terpikir tentang solusi yang lebih baik ketimbang lari dari masalah dengan mencabut nyawanya sendiri), saya tetap berdoa, dan memang terkabullah doa itu setelah beberapa saat Musa berdiri di tepi suatu tebing di salah satu bagian pantai ini, dan dia terlihat bersujud dengan khusyuk, lalu bangkit dan berjalan ke dekat batas air dan tanah, dan di sanalah dia jamah permukaan air laut dengan ujung tongkat sebelum laut yang telah bergejolak karena angin dan pergerakan tidak wajar dari seisi semesta, terbelah menjadi dua, dan tentu saja ini membuat saya dan burung-burung dan ikan-ikan dan beberapa kuda yang telah kabur dari tuan masing-masing dan para belalang, semut, kadal, katak, dan lain-lain, dan juga seluruh pengikut Musa, serta tak ketinggalan: si nelayan yang bermaksud bunuh diri di laut, melongo berjamaah, seakan-akan barusan kami disuguhi sihir paling dahsyat yang pernah ada di muka bumi, tetapi tentu saya tahu itu bukan sihir, karena sihir sangat dibenci oleh Tuhan dan siapa pun hamba yang terlibat dengan ilmu sihir, apa pun alasannya, diharamkan menyentuh wanginya surga, sehingga ini tentunya tidak lain hanyalah suatu mukjizat, dan jujur saja, inilah pertama kali saya menonton Musa memperagakan mukjizat atas seizin Tuhan yang Mahaesa, karena dari setiap mukjizat lama yang telah dia tampilkan di luar sana, yang hikayatnya disampaikan kuda dan belalang dan burung-burung dan entah makhluk hidup jenis apa lagi kepada saya dan beberapa makhluk lain di sekitar sini, tidak pernah saya lihat dengan mata kepala sendiri, dan pada titik ini saya benar-benar merasa dada saya mulai penuh dan boleh jadi bakal meledak, sehingga saya juga yakin si nelayan yang kini perahunya oleng tak keruan dan malah terseret ke tepi atau batas pembelahan laut yang serupa air terjun di tengah laut, juga merasakan sensasi yang sama atau lebih gila di dadanya, dan ini membuat lelaki itu terlihat bersujud di atas perahu lalu bangkit dan menangis dan seluruh makhluk, yang melihat keberadaan perahu kecil itu sebagai titik kecil yang nyaris mencapai batas pembelahan air laut, tampak berteriak dan mulai khawatir orang tolol itu bakal mati karena jatuh ke dasar laut yang berupa jalanan pasir berbatu yang basah, tetapi ternyata nelayan itu dapat melompat dari perahu lalu berenang menuju batas pembelahan dan membiarkan tubuhnya meluncur begitu saja ke bawah selagi ribuan pengikut Musa mempercepat laju mereka agar tak terkejar oleh rombongan Fir’aun yang ternyata mencapai titik yang tidak jauh dari laut, dan karena rombongan raja itu mampu menghabisi mereka sewaktu-waktu, Tuhan memberi hukuman yang setimpal, dan hukuman ini tidak sampai berimbas pada nelayan tolol yang keburu bergabung bersama Bani Israil yang masih memenuhi jalan dadakan di dasar laut yang kanan-kirinya ditemboki air setinggi bangunan-bangunan yang dulu mereka dirikan dengan darah dan air mata demi raja yang kini mengejar mereka, dan tentu beberapa orang bertanya-tanya terkait apa yang dilakukan nelayan tolol itu sehingga dia seakan terjun dari atas, dari langit yang mendung, tapi nelayan itu hanya bilang, dia nyaris tersesat dan kini bertekad meluruskan hidupnya, dan para pengikut Musa membiarkan orang itu berlari bersama mereka, lalu seiring lenyapnya detik demi detik hukuman Tuhan yang tak lagi ditunda, karena persis setelah Musa dan ribuan orang yang bersamanya mencapai seberang, saya melihat Fir’aun dan pasukannya dilumat habis oleh laut karena kini tembok air raksasa itu roboh dan bergejolak, kembali ke asal, kembali ke takdir dirinya sebagai laut, sebagai kumpulan air dalam jumlah besar yang akan dan selalu setia memenuhi setiap lubang atau celah yang tersisa karena memang begitulah hukum alam bekerja untuk air, dan tentu saja situasi ini merugikan siapa pun yang masih tertinggal di jalan yang terbentuk akibat mukjizat Musa yang terhebat, kecuali saya dan ikan-ikan lain yang memang dilahirkan untuk bernapas dalam air.

Gempol, 2018-2024


Ken Hanggara, lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis cerpen, novel, puisi, esai, dan skenario FTV sejak 2012. Karyanya tersebar di pelbagai media. Buku yang ia tulis: Museum Anomali (2016), Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (2017), Negeri yang Dilanda Huru-Hara (2018), Dosa di Hutan Terlarang (2018), Buku Panduan Mati (2022), dan Pengetahuan Baru Umat Manusia (2024). Bisa dijumpai di FB ‘Ken Hanggara’ atau IG kenhanggara.

Ragam

RA(BU)KU

Hari-hari tidak sama. Nama-namanya berbeda. Rasanya pasti berbeda. Apakah warna hari-hari pun berbeda? Aku tidak tahu jawabannya. Jika menghitung: berapa jumlah Rabu yang aku miliki, sejak lahir sampai sekarang? Bagi yang belajar, Rabu itu sekolah. Bagi yang mencari nafkah, Rabu itu hari kerja. Aku belum bisa memastikan Rabu yang sering aku alami memiliki makna atau klise.

Rabu, 20 November 2024, aku bukan pemenang hidup. Hari yang anggaplah tetap “sama” bagi orang yang terbebani masa lalu buruk, penyesalan, dan menyeret sekarung kutukan. Rabu yang datang rasanya biasa saja. Yang sedikit membedakan saat siang terlalu benderang dan membara.

Yang masih mungkin dilakukan adalah melihat Alun-Alun Utara (Keraton Surakarta Hadiningrat) dan memandang kesibukan para pedagang pakaian di sekitarnya. Tidak lupa, mengamati para pedagang mi ayam, tahu kupat, es teh, soto, dan lain-lain. Mereka yang merayakan Rabu dengan berdagang. Rabu yang jual-beli, berhitung laba dan kepuasan.

Aku tidak bisa menjadi pedagang mi ayam, hanya dapat menikmati mi ayam. Hari yang ditunggu belum tiba. Yang aku inginkan adalah makan mi ayam dengan cara ditraktir pengarang kondang, yang beberapa hari lalu pergi ke Jakarta untuk menerima anugerah besar. Membayangkan makan mi ayam dan berbagi cerita. Aku sekadar ingin terhubung dengan situasi sastra mutakhir, yang teristimewa novel. Aku masih membaca novel tapi pengalaman dan pengetahuanku justru makin surut.

Duduk di bawah pohon beringin. Di sampingku, pemuda yang biasa berkeliling kota naik sepeda onthel. Ia membaca lembaran-lembaran yang memuat huruf-huruf Arab. Yang terdengar: ia sedang mengaji. Di dekatku, ada juga lelaki tua yang tangannya memegang buku primbon. Pengetahuan lama yang masih terbaca saat berteduh dari sinar matahari. Telingaku mendengar orang membaca kitab suci. Mataku tergoda kesibukan lelaki yang bereferensi primbon. 

Sebenarnya, aku ingin menikmati siang yang lambat. Bergerak menuju belakang deretan kios yang berjualan buku. Duduk lama untuk memandangi buku-buku di rak dan tumpukan buku, yang tidak rapi. Beberapa tangan telah membuatnya agak berantakan. Aku kadang berharap dapat kejutan: melihat sampul buku dan menginginkannya tanpa berpikir 3 detik.

Jadi, aku tidak mau terlalu menyibukkan tangan dengan menggeser atau mengubah posisi buku. Percaya mata saja. Melihat! Menemukan! Pengalaman yang terwujud. Mataku melihat sampul buku yang anggun. Judul buku: Seni Hidup Bersahaja. Gambar yang dipasang adalah bangku dan sandal. Apa maksudnya benda-benda di sampul buku? Aku yakin bukan buku petunjuk duduk yang benar atau cara-cara menggunakan sandal.

Buku ditulis oleh Shunmyo Masuno. Nama khas Jepang. Pastinya ia berasal dari Jepang. Buku dibuka halaman-halamannya, dibaca di lorong mendapat embusan angin. Yang disampaikan penulis Jepang: “Daripada mengernyitkan dahi untuk memahami gagasan Zen, cobalah berdiri di depan salah satu taman. Ini dapat menyegarkan pikiran dan semangat kita. Celotehan dan riak pikiran tiba-tiba menjadi diam dan hening. Saya menemukan bahwa pertemuan dengan sebuah taman Zen akan bisa menyampaikan lebih banyak tentang konsep-konsep Zen daripada membaca buku-buku yang menjelaskan falsafahnya.”

Kalimat-kalimat cukup berat. Di dekatku, yang terlihat alun-alun, bukan taman. Setahuku, taman-taman di Jepang itu unik dan indah. Tempat kadang kecil tapi kemuliaan dan keanggunan terasakan. Konon, “seni” taman di sana sulit ditandingi meski aku kada membaca taman-taman dalam novel-novel Eropa dan Amerika Serikat.

Yang ada di tanganku adalah buku mengenai ajaran Zen untuk panduan hidup. Nasihat yang terbaca: “Di setiap hari, yang kita butuhkan hanya sepuluh menit. Cobalah meluangkan waktu untuk kekosongan, untuk tidak memikirkan apa pun. Cobalah untuk membersihkan pikiran, dan tidak terperangkap dalam hal-hal di sekitar kita. Berbagai pikiran akan mengapung di benak kita, tetapi cobalah mengirimnya pergi, satu per satu…” Rabu bertemu nasihat. Siang yang berimajinasi taman dan keinginan tenang.

Aku sedang tidak menjadi pembantah atau pengejek nasihat. Rabu yang memerlukan kalimat-kalimat bukan berasal dari novel atau puisi. Akhirnya, buku itu menjadi pembelian yang wajar. Rabu itu buku. Aku mengalami Rabu yang buku. Rabu yang menerima nasihat-nasihat.

Berpindah ke kios lain. Aku melihat bapak yang semula memegang buku primbon berganti memegang buku tentang Tao. Selintas, aku melihat buku itu dibuat untuk menasihati orang-orang yang menanggung banyak masalah dan ingin harmonis dalam kehidupan. Aku belum tergoda memegang dan membelinya. Di tanganku, buku yang memuat ajaran-ajaran Zen.

Di tumpukan buku yang hampir jatuh, aku melihat punggung buku yang bertuliskan: Lentera Hati. Buku yang berulang aku baca saat resah dan ingat agama. Beberapa teman aku hadiahi buku yang dibuat Quraish Shihab meski dalam kondisi bekas. Buku memuat artikel-artikel pendek, berpijak agama. Aku mudah membaca dan menyukainya. Pada suatu hari, aku ingin meniru dengan membuat artikel-artikel pendek tapi tanpa keharusan bertema agama.

Buku berukuran kecil dan tebal terbitan Mizan. Di rumah, aku mungkin sudah punya 4 atau 5 eksemplar. Rabu itu aku membeli lagi. Aku segera membuka halaman-halamanya sambil diselingi mengarahkan mata ke Alun-Alun Utara. Tempat yang terang oleh matahari, bukan lentera.

Quraish Shihab memberi tafsir atas ayat dalam Al Quran: “Demikianlah, perintah membaca merupakan perintah paling berharga yang pernah dan yang dapat diberikan kepada manusia.” Kalimat yang memadai saat aku memiliki Rabu yang buku. Namun, aku belum pasti pembaca. Apa aku cuma penonton buku, pemegang buku, dan pembeli buku?

Konon, jumlah pembaca buku di Indonesia bertambah. Pemerintah mungkin senang. Yang aneh, toko buku di beberapa kota makin sepi dan tutup. Pasar buku bekas pun merana atau lesu. Di media sosial, para pedagang buku pamer keluhan ketimbang mendapat uang.

Hari mau sore, aku tidak bisa terlalu lama bersama buku dan majalah bekas di Gladag (Solo). Sebelum pergi dan pamitan, aku masih berhasil melihat setumpuk buku yang di sampulnya tampak logo perusahaan minuman. Aku mengambilnya dan membelinya tanpa menawar. Empat buku adalah “Ensiklopediku: Serial Pengetahuan Anak.” Yang terbawa adalah “sains di sekitar kita”, “tubuh manusia”, “bumi kita”, dan “burung”. Buku-buku tipis yang dulu diminati anak-anak. Mereka membava buku setelah minum Frisian Flag.

Lima buku dalam seri “Tokoh Inspirasiku”. Aku mendapatkan buku mengenai Louis Pasteur, Marie Curie, Alexander Graham Bell, Christopher Columbus, dan Thomas Alva Edison. Semua orang asing dari negara-negara yang jauh. Mereka yang mengubah dunia, yang memberi gairah peradaban manusia. Anak-anak di Indonesia menjadi pembaca dan kolektor buku, setelah memenuhi syarat minum Frisian Flag. Aku tidak ingin mengejek atau setor kritik. Aku mengangguk sebagai tanda maklum siasat industri dalam mencipta laris dan turut membentuk masyarakat-baca. Buku-buku itu siasat bisnis dan godaan keaksaraan.

Aku memiliki Rabu yang bermutu. Rabu itu buku. Rabu dengan bacaan-bacaan bergelimang nasihat. Aku pun menjadi pembaca mengandaikan seperti anak atau mengikuti definisi industri, yang menghendaki: jadilah konsumen, sebelum berlagak menjadi pembaca buku. Kabut

Curhat

Hujan, Nala, dan Sepotong Kangen

Curhat Septi Rusdiyana

Jumat, 29 November 2024.

Sejak pagi, Yogyakarta cerah. Ada rasa percaya diri untuk mengisi daftar hadir ke pertemuan rutin Kamar Kata. Sudah beberapa pekan, setiap sore, di hari yang sama, Negar (anak pertamaku) kerap bertanya, “Ibuk nggak ke Kamar Kata?”

Aku tahu pertanyaan itu sebenarnya selalu ingin mendapat jawaban tidak dariku. Tapi sore ini, ketika melihatku mengisi list, ia hanya bilang, “Inget ya, Buk, besok aku ikut jemput ke stasiun. Jadi jangan ke mana-mana sebelum aku nyampek.”

Aku menjawab dengan anggukan. Tentu saja aku cukup kaget karena itu kali pertama ia memberi respons begitu. Biasanya, aku harus menggunakan trik dan ritual khusus sebelum meninggalkan anak-anak. Dan syarat untukku mendapat izin dari suami pastilah soal anak-anak.

“Asal anak-anak aman (red: tidak rewel),” jawab suamiku.

Semua terlihat lancar. Sampai menjelang jam 7 malam, gerimis mulai turun. Nala (anak keduaku) sudah panik. Ia yang sebelumnya bermain di rumah utinya, berlari masuk ke rumah. Gegas ditutup semua pintu dan jendela. Saat hujan menderas, ia berteriak, “Ibuk tolong.” Nala mendekat dan mengajakku masuk ke kamar. “Gimana doanya biar nggak jadi hujan?” katanya lagi. Ia sudah hampir menangis.

Aku menuntunnya membaca doa yang kubisa. Nala mengikuti. Saat hujan tak juga reda, ia menangis. Aku berusaha menenangkannya. Ya, tantanganku selama musim hujan 2 tahun terakhir adalah mendampingi Nala. Aku tidak tahu apa yang membuatnya takut hujan. Padahal sejak kecil, aku sering membiarkannya bermain hujan di depan rumah bersama Negar. Jika tahun lalu ia hanya ingin dipeluk dan dikeloni hingga tertidur. Reaksinya kali ini berubah. Agresif dan sangat ketakutan. Terlebih jika ada aku di rumah. Sepertinya di depan orang lain (kakung utinya) ia masih bisa bertahan. Karenanya, aku akhirnya kembali izin di grup untuk tidak berangkat.

Sering aku memberi sugesti pada Nala dengan mengatakan beberapa kalimat baik terkait hujan. Hujan adalah anugerah dari Tuhan. Jika tidak ada hujan maka manusia, tumbuhan dan binatang bisa mati kehausan. Juga, hujan itu bukan sesuatu yang buruk hingga harus dihindari. Tapi Nala tak pernah merespons. Jika aku beruntung, ia bisa lekas tenang lalu tertidur. Tapi malam ini ia sepertinya belum terlalu mengantuk. Jadi aku membiarkannya meluapkan kecemasannya hingga tangisnya berhenti.

“Mbak Nala kenapa takut hujan?” tanyaku usai anak itu kembali tenang. Aku menyerahkan sekotak susu vanila yang baru saja kuambil dari kulkas. Di luar menyisakan gerimis.

“Aku pernah ketemu iblis,” jawab Nala sambil duduk dan meraih susu dari tanganku. “Iblisnya bilang gini: Aku datang pas hujan. Ayo temenan sama aku! Aku kan nggak mau. Makanya aku kunci pintu sama jendela biar iblis nggak bisa masuk,” sambungnya.

Aku bertanya padanya kapan iblis itu menemuinya, namun tidak mendapat jawaban. Ia sibuk menghabiskan minumannya.

“Hujan itu temennya iblis.” Nala bangkit dan menuju jendela ruang tamu. Ia mengatakan kalau gerimis itu baik, jadi ia akan kembali bermain ke rumah utinya.

Nala memang agak lain dari Negar. Meski sama-sama kelebihan energi, pikiran dan imajinasi Nala lebih terbuka. Jika Negar mudah diberi pengertian akan sesuatu, Nala lebih suka protes. Ia juga tidak suka diberi semangat saat melakukan sesuatu. Ia cenderung melakukan apa yang disenanginya dengan suka-suka.

Aku akan memberitahu beberapa kerandoman Nala yang sering membuatku geleng-geleng kepala. Ia pernah sembunyi-sembunyi naik ke lantai 2 rumah. Memanjat balkon dan bersandar pada pojokan pagar. Aku mengetahuinya saat utinya tiba-tiba berteriak memanggilku, “Ya Allah, Ti. Anakmu gandulan neng pager (Ya Allah, Ti. Anakmu gelantungan di pagar).”

Gegas aku mematikan kompor dan berlari ke atas menyusul Nala. Aku meraih tubuhnya, lalu menangis. Rasanya jantungku seperti ketinggalan di bawah. Lututku lemas.

“Maaf ya, Buk. Kalau aku jatuh, nanti kepalaku berdarah-darah ya, Buk. Lalu hatiku putus. Lalu aku meninggoy,” jelas Nala panjang lebar.

Ia juga melanjutkan, kalau saat itu ia mendapat telepon dari Tuhan, disuruh naik ke balkon karena akan diberi mainan. Jadi ia menunggunya di sana.

Pernah juga, saat aku menemaninya tidur siang, sebelumnya dia bertanya padaku, “Ibuk mau meninggal ya?”

“Semua orang pasti akan meninggal, tapi nggak tahu kapan,” jawabku.

“Aku juga mau meninggal?”

“Kenapa kok kamu tanya begitu?”

“Nggak papa, kalau Ibuk meninggal aku mau ikut. Aku anterin naik pesawat ke rumah Allah.”

“Kok naik pesawat?”

“Rumah Allah kan jauh. Di langit. Aku pernah diajak main ke sana. Dikasih duren sama susu cokelat. Tapi aku nggak mau, aku kan sukanya susu putih.”

Dan yang belum lama terjadi, entah apa yang baru dilihat olehnya. Nala yang baru saja mahir naik sepeda roda 2, meletakkan begitu saja sepedanya dan berlari mendekatiku yang saat itu santai di ayunan depan rumah.

“Buk, kenapa kamu menikah sama ayah?” tanya Nala.

Belum sempat aku memikirkan sebuah jawaban, ia melanjutkan bicaranya. “Aku nggak mau menikah. Aku mau jomblo aja. Anak kecil kan nggak boleh pacaran.”

“Memang. Tapi kalau nanti kamu sudah besar, boleh menikah dong,” komentarku.

“Ibuk sedih kalau aku jomblo?”

“Enggak.”

“Kalau gitu aku mau jomblo aja.”

Nala kembali bermain sepeda dan meninggalkanku sendirian. Kadang aku khawatir salah menjawab. Nala tidak suka dibuat menunggu. Jadi setiap saat aku seperti dituntut harus berpikir cepat dan cerdas dalam menghadapinya.

Nala telah kembali pulang dan memintaku menemaninya tidur. Tak lama ia sudah terlelap. Sedang mataku, masih jernih. Jujur aku berharap dalam waktu dekat Kamar Kata mengadakan acara lagi. Aku kangen berada di sekitar orang-orang keren. Masing-masing telah memberikan kesannya sendiri di mataku. Pak Yudi dengan suara besarnya. Mbak Erna dengan semangat menulisnya. Mas Panji yang sempat kaget saat pertama kali tahu aku sudah tua (bersuami dan beranak 2) hingga membuat lidahnya tergigit saat makan gatot. Mas Rudi yang selalu bersemangat. Mas Beri dengan logat bicara dan suara tawanya yang khas. Mas Deni yang cool. Mas Kesit yang sangat cantik saat rambutnya digerai. Mas Andri yang sempat percaya aku merokok. Mas Ian yang (sepertinya) kalem. Bu Yayuk yang baik hati dan gemar nraktir. Mas Yuan yang serius. Hasna yang awalnya anak anteng, sekarang jadi anak aktif. Yusna yang lembut dan tertata saat bicara. Lintang yang cantik. Yulita yang sampai dia kembali ke kampung, belum sempat keretaan bareng. Mas Ruly yang slengekan tapi kalau komentar bab karya, pedas. Mas Eko yang belum lama menikah. Mas Nafi yang kalau ngomong suaranya ganteng (maksudnya gimana ini ya?). Mbak Siti yang manis. Mas Bejo yang gayeng. Mas Allan yang suaranya keren. Mas Fadli yang pernah goncengin aku pas acara Sastra di Gunung. Serta teman-teman lain yang barangkali belum kesebut. Bukan berarti tidak berkesan, hanya terlupa belum meninggalkan kesan saja.

Bagi orang lain, bisa jadi aku dianggap wong selo yang belum berhasil menghasilkan karya apa pun sejak memutuskan belajar di komunitas. Tapi sesungguhnya, untuk diriku pribadi, aku merasa telah berhasil menemukan lingkungan yang membuatku merasa nyaman. Jika sebelumnya, kasur adalah tempat yang paling menenangkan untukku. Maka sekarang, meski healing terbaik tetap rebahan seharian, namun bisa KRL-an Yogya-Palur setiap Jumat juga menjadi salah satu alternatif liburanmenyenangkan. Bagiku, berbahagia di antara teman-teman yang mau menerima apa adanya, adalah sebuah pencapaian juga. Selain belajar tentang menulis, sastra, dan kehidupan tentunya.***

Septi Rusdiyana

Tinggal di Yogyakarta

Ragam

MURAHAN DAN UTANGAN

Berdiri di pinggir jalan untuk menunggu kedatangan mobil. Aku berpikir bakal ikut pergi ke tempat yang jauh. Mobil itu datang. Teman sudah berada di dalam mobil, berjanji mengantar menuju suatu tempat yang bergelimang buku. Di mobil, kami berbincang macam-macam berharap segera sampai ke alamat tujuan.

Salah! Sopir malah mengajak berputar dan belak-belok. Yang terjadi: puluhan menit berada di jalan. Kami merasa jauh untuk sampai tempat idaman. Kelucuan dan kejengkelan setelah kami minta turun. Dugaan: sopir sengaja linglung dan ingin jumlah duit di layar terus bertambah. Perjalanan yang jauh telanjur terjadi meski tempat itu seharusnya dekat.

Di mulut temanku, sebatang rokok yang menyala. Mulutku mengumbar kata. Perbuatan membuang kecewa dan sial gara-gara ongkos mobil yang menguras duit dan menghilangkan menit-menit. Aku tetap saja bersyukur setelah beberapa tahun absen. Akhirnya, kakiku berada lagi di Blok M, Jakarta. Aku bukan turis tapi cuma pengunjung yang berharap dapat membeli satu buku saja.

Oh, ribuan buku di puluhan lapak! Yang terlihat: sedikit pembeli. Aku mau hadir di situ menjadi pembeli, bukan sekadar pemandang buku-buku. Di saku celana, hanya ada sedikit uang. Cita-cita terendah adalah membeli satu buku.

Mata sudah melihat buku-buku yang apik dan menggoda. Susah membuat keputusan. Teman masih merokok. Kami kadang omong sebentar tak keruan. Perlahan, aku menanyakan harga buku. Pembelian yang memang menyenangkan sekaligus mendebarkan. Menanti kepastian harga. Duitku cuma 40 ribu rupiah. Harga tiga buku itu 55 ribu rupiah. Penyelesaian: teman yang membayar dulu.

Nah, novel berjudul Siklus gubahan Mohammad Diponegoro untuknya saja. Aku membawa dua novel mengenai asmara dan pohon. Aku tidak berhasrat lekas membaca novel asmara. Pohon! Aku ingin membaca yang pohon. Konon, 21 November 2024, diperingati sebagai Hari Pohon di dunia. Aku berada di Blok M mendapat novel mengisahkan pohon saat tanggal yang “berpohon”. Novel itu berjudul Tree Grows in Brooklyn gubahan Betty Smith. Tebal tapi harganya murah. Yang menjatuhkan harga adalah halaman-halaman belakang dimakan rayap.

Berpindah lapak. Lampu-lampu putih membuat pemandangan buku-buku kurang puitis. Aku mudah lelah jika tempat itu benderang, ditambah suara orang-orang yang terdengar ramai banget.

Yang menjadikan mataku redup: majalah lama. Di hadapanku, tumpukan majalah Hai. aku mendapatkan edisi yang di sampulnya tertulis nama Enid Blyton. Aku meyakini dalam majalah ada sisipan biografi Enid Blyton, pengarang terkenal di dunia dan berpengaruh di Indonesia. Buku-bukunya diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, diterbitkan oleh Gramedia. Majalah yang dihargai 25 ribu rupiah. Murah! Aku sebenarnya mampu menurunkannya menjadi 10 ribu atau 15 ribu. Aku memilih harga di atasnya agar bahagia tidak murahan. Yang ikut terbeli adalah novel mengisahkan anjing. Pembayaran dengan cara berutang lagi. Penemuan yang menakjubkan: Hai.

Bingung membuat keputusan: terus berbelanja buku atau berhenti. Utang pasti bertambah jika memberi mata untuk buku-buku yang menggoda. Sebelumnya, senja dimiliki ketika di pinggir jalan. Setelah membeli beberapa buku, aku teringat senja yang berakhir. Namun, posisiku “salah” yang diterangi lampu-lampu menyilaukan. Apakah buku-buku itu menderita akibat lampu?

Magrib telah tiba. Pembeli tetap sedikit. Pedagang-pedagang yang termangu, merokok, dan memilih obrolan. Buku-buku agak ditelantarkan. Aku mendatanginya untuk dilihat dan dipegang. Berharap tidak membeli buku-buku lagi.

Gagal! Di hamparan buku yang diobral, tanganku cekatan mengambil buku-buku apik. Akhirnya, aku menyerah dengan berpesta buku berharga murah. Buku-buku ditumpuk dan utang ditumpuk lagi. Sejak awal, aku tidak boleh menyesal. Yang terpenting: senyum dan menambah bawaan saat pulang ke rumah.

Buku-buku yang terpilih: Madicken dan Lisabet (Astrid Lindgren), Mehrunnisa the Twentieth Wife (Indu Sundaresan), Coloured Lights (Leila), The History of Love (Nicole Krauss), The Seven Good Years (Etgar K), dan lain-lain. Pilihan banyak yang novel. Aku mulai memanjakan novel-novel meski tidak semuanya untuk dibaca. Oh, siapa bakal bersumpah membaca novel sampai mati? Siapa berani mengubah dirinya menjadi novel? Yang aku lakukan adalah menjadi pembaca novel. Selanjutnya, pengutip dari novel-novel. Kebiasaan sulit dihilangkan: menulis esai beragam tema dengan mengutip novel.

Tumpukan buku yang bukan obralan, beberapa bermutu dan penting. Aku tidak mau menanyakannya! Perkara tersulit jika mufakat harga sulit tercapai. Kutukan berutang bakal memberatkan lagi. Aku mengerti hidup dan bacaanku mulai murahan ketimbang memburu mutu. Maka, aku meramal akan menjadi pembaca yang keok dan tersungkur dalam murahan.

Yang aku bayangkan: nasib ribuan buku di Blok M. Apakah para pedagang itu sabar menunggu sampai kiamat. Siapa-siapa yang rela datang berpredikat pembeli buku? Aku tidak berjanji bakal datang lagi ke Blok M (Jakarta).

Buku-buku dalam tiga kresek. Berat. Pikiranku pun berat untuk membayar utang. Di sekitar, ratusan orang menikmati beragam makanan. Pemandangan kelezatan di Blok M. Mereka yang berbahagia. Mereka ingin kenyang. Aku tidak ingin makan di situ. Aku juga tidak akan makan buku.

Magrib yang selesai. Kaki yang lelah. Tubuh yang makin berbau tidak sedap. Aku tidak mau mengulangi ketololan saat mendatangi Blok M. Keputusan: aku memilih berjalan meninggalkan Blok M sambil melihat keramaian jalan. Berjalan membawa buku-buku (murahan). Lelaki murahan yang masih menerima takdirnya membaca buku-buku walau hidupnya tidak bermutu.

Malam yang menumpas sunyi. Jalan yang tidak mengasihi pengembara-huruf. Aku berjalan terengah-engah sekadar ingin menunda azab. Malam itu aku tidur bersebelahan tumpukan buku tanpa lampu. Kabut

Curhat

Secangkir Kopi di Malam Gerimis

Curhat Linzie

Aku baru saja bangun dari tidur soreku. Tubuhku terasa masih lengket di kasur, karenanya aku meraih ponsel dan membuka Youtube. Setelah bosan menonton short video, aku mengetik ‘film pendek Indonesia’ pada kolom pencarian. Pilihan randomku jatuh pada judul ‘Pick Me’.

Film itu menceritakan perjalanan asmara seorang perempuan populer bernama Alifvia. Banyak teman lelaki di sekolah yang menyukainya. Salah satu lelaki yang tak pernah menyerah adalah Surya. Berulang kali Surya menyatakan cinta, berulang kali juga Alifvia menolaknya.

Suatu hari, saat Alifvia ngobrol di kafe bersama dengan dua temannya, Didi dan Salsa, terjadilah kesepakatan antara Didi dan Alifvia. Jika Alifvia berhasil menaklukan seorang barista bernama Rayyan di kafe itu, maka ia berhak mendapat 1 tiket konser Raisa.

Demi melancarkan aksi pendekatan pada Rayyan, Alifvia selalu datang ke kafe itu dengan modus memesan jenis minuman yang sama. Singkat cerita, keduanya akhirnya dekat. Alifvia yang sebelumnya tak pernah merasakan perasaan tertarik pada lelaki, mulai merasa nyaman dan jatuh cinta pada Rayyan. Namun, saat Alifvia hendak menyatakan cintanya, seorang perempuan bernama Renata tiba-tiba datang. Rupanya perempuaan itu adalah tunangan dari Rayyan. Alifvia kecewa, ia merasa patah hati dan mulai menangis. Namun, sekian detik kemudian, Alifvia teringat ucapan Rayyan perihal memori ikan mas. Ia mengaku bahwa dirinya sama dengan ikan mas, yang hanya memiliki ingatan selama 10 detik saja. Karenanya, Alifvia bangkit dan kembali ke dunianya yang populer. Tak pernah sakit hati karena cinta, luka akan hilang sebab memorinya segera terganti.

Tanpa Alifvia ketahui, rupanya Rayyan hanyalah orang suruhan Surya. Ia dendam pada Alifvia karena terus menolak cintanya. Sehingga muncul keinginan dirinya untuk membalas sakit hatinya dengan membuat Alifvia merasakan cinta sekaligus patah hati yang sama.

Cerita sederhana, relate-lah dengan masa-masa sekolah. Tapi 1 hal yang cukup menarik perhatianku: pernyataan Rayyan kepada Alifvia mengenai ikan mas dan memorinya. Menurutku itu cukup menggelitik. Entah benar atau tidak, aku tak berminat mencari tahu. Tapi jika itu memang benar, maka setiap 10 detik hidupnya adalah sebuah kelahiran yang akan memiliki pengalaman baru. Apakah itu hal menyenangkan? Bisa ya, bisa juga tidak.

Bagiku, jika ada hal yang mampu kuubah, aku tak pernah berniat mengubah apa pun. Karena aku yakin, pertemuanku dengan Zavier, El, Varo, dan Noe, telah mengantarkanku pada pengalaman hidup bersama Saka, pria yang hingga detik ini sangat kucintai.

Saka memang bukan satu-satunya pria yang pernah dekat denganku, tapi bisa kupastikan bahwa ia adalah satu-satunya pria yang sanggup mengubah cara pandangku pada kehidupan itu sendiri.

“Jika warna kulitku menimbulkan keraguan, sampaikan pada papamu kalau sejak awal aku diciptakan tak bisa memilih dari rahim siapa aku akan lahir. Lalu katakan juga pada mamamu, meski aku tak menyembah pada Tuhan yang sama denganmu, aku tetap percaya jika Tuhan itu 1, Sang Maha Pengasih. Apa lagi yang perlu diperdebatkan?” jelas Saka kala itu.

Aku memandang takjub pada dirinya. Meski aku sering menganggap ia hanya membual, ia termasuk the one and only yang dengan nekat mendekatiku. Ia tak pernah menutupi jati dirinya. Ia bangga akan asal usulnya. Bahkan, ia juga sempat mengatakan padaku: biarlah hasil akhir tetap menjadi misteri, selama apa yang kulakukan hari ini bisa masuk sebagai caraku memperjuangkanmu.

2 tahun aku menjalanipacaran dengan Saka. Papa tak pernah bicara dengannya. Dan mama, tak pernah mengizinkan Saka masuk lebih dalam kecuali di teras rumah. Aku merasa tak enak pada Saka. Sering aku memintanya untuk menemuiku di luar saja, taman atau kafe.

“Pria sejati tak pernah sakit hati pada keadaan yang memang tak bisa diubah,” jawab Saka yang membuatku seperti sedang berhadapan dengan Dilan. Aku Milea-nya. Kalimat-kalimat yang terdengar angkuh, juga pernyataan-pernyataan tak biasa justru membuatku semakin menyukainya.

Saka sering ikut denganku ke klenteng. Ia bilang, berdoa bisa di mana pun. Agama adalah perihal keyakinan. Fanatisisme hakikatnya hanya 2 arah, hamba dan penciptanya. Tak boleh ada campur tangan orang lain. Bahkan, sekadar menuduh pun dianggap sudah merupakan sebuah pelanggaran. Pikiran adalah milik kita sendiri, lalu hati menyempurnakan pikiran itu. Tidak ada yang benar-benar tahu, apa isi hati dan pikiran orang lain. Karena yang nampak, sesungguhnya belum tentu apa yang terjadi di dalam keduanya.

Saka kini tak lagi bersamaku, tapi dirinya terasa tetap menyertaiku. Aroma kopi yang biasa dicecapnya setiap kali kami menikmati kebersamaan, membuatku selalu kangen. Di dalam cangkir putih, diseduh dengan air panas kompor yang baru saja mendidih, ditambah gula separuh sendok teh. Ya, aku ingat betul dengan caranya membuat kopi. Baginya, begitulah ia menikmati kopi. Tak peduli barista-barista atau para pecinta kopi akan menganggapnya tak tahu cara memperlakukan kopi dengan benar.

Aku tak pernah suka kopi. Teh menurutku lebih menenangkan. Sama-sama memiliki kafein. Ini hanya soal selera dan kebiasaan saja. Seperti caraku menulis dengan tangan kanan, lalu Saka dengan tangan kiri. Atau kebiasaanku makan nasi padang dengan sendok dan garpu, sedang Saka menggunakan tangannya. Bukan soal benar dan salah seperti apa yang kedua orangtuaku sampaikan. Bukan juga tentang kesetaraan yang juga mereka agung-agungkan.

Sebelum Saka meninggalkanku dengan sangat manis, ia sempat berkata padaku: “Jika kelak reinkarnasi itu benar ada, aku ingin tetap menjadi diriku. Tak peduli berapa kali fase reinkarnasi yang harus kulalui demi mendapatkan dirimu.”

Malam semakin larut. Gerimis mulai turun. Secangkir kopi ala Saka yang sengaja kubuat tadi telah dingin. Aromanya tak lagi tercium. Meski masih terasa berat untukku, tapi kenangan-kenagan bersama Saka adalah hal paling indah di hidupku. Aku tak ingin menjadi seperti ikan mas. Jika boleh, aku ingin terus mengingatnya. Bukan tak mau mengucapkan selamat tinggal pada masa lalu, tapi sekadar berdamai dengan bagian dari hidupku.

Aku meraih ponsel, memandang kembali pada undangan pernikahan digital yang dua hari lalu Saka kirimkan padaku. Di pesan lain yang sempat juga dituliskannya untukku, Saka berkata: Jika kabar ini membuatmu bahagia, datanglah dan sampaikan selamat untukku. Aku akan berbahagia. Namun, jika aku hanya bisa membuatmu sedih, maka kutuklah aku menjadi kecoa seperti katamu dulu.

Terkadang aku merasa apa yang terjadi di hidupku hanyalah sebuah takdir yang buruk. Walau aku tahu, dunia tak selamanya akan berpihak padaku. Aku tak ingin benar-benar pasrah pada keadaan. Namun Saka, memilih menyerah pada keadaan. Apakah itu membuatku kecewa? Ya. Tentu saja aku sempat mengutuknya. Apa yang ia janjikan padaku seperti memang benar bualan belaka. Nyatanya ia tak pernah berani melawan kedua orangtuaku. Dulu, aku tak pernah sepakat dengan ucapannya. Namun kini, aku telah mengerti. Kebahagiaan sejati tak akan pernah benar-benar didapat jika kita melukai hati orang lain, terlebih kedua orangtua.

Aku belum memutuskan apakah aku akan datang atau tidak di acara pernikahan Saka. Tapi, seminggu mungkin cukup bagiku untuk memikirkannya. Dan yang pasti, seminggu adalah waktu yang cukup panjang untukku menikmati aroma kenangan pada setiap kopi yang coba kubuat menyerupai cara Saka membuatnya dulu. Setelah 7 hari, kupastikan aku tak akan pernah membuatnya lagi.***

Linzie

Perempuan yang ingin segera move on

Cerpen

Pelajaran dari Kegelapan

Cerpen Era Ari Astanto

Dalam sunyi yang pekat, aku berdiri di hadapan kegelapan, bertanya pada diri sendiri apa makna dari hidup ini. Selama ini, aku percaya bahwa segala sesuatu memiliki dualitas: terang dan gelap, baik dan jahat, benar dan salah. Namun, di tengah kekacauan dunia yang terus menerus berderu, aku mulai ragu. Mungkinkah dunia tidak se-hitam-putih yang selama ini kupercaya? Mungkinkah ada kebenaran dalam kebohongan, atau kebaikan dalam keburukan?

Pemikiran ini muncul tiba-tiba, saat aku lelah mencari jawaban pada segala hal umum yang dipuja manusia. Terlebih, semua yang kuketahui tentang Iblis—entitas yang selalu digambarkan sebagai sumber segala kejahatan—seolah terbentang di hadapanku sebagai jalan yang harus kujelajahi. Bukankah untuk memahami cahaya, kita juga harus memahami kegelapan? Bukankah untuk mengantisipasi maling, kita harus tahu cara maling? Dengan pikiran itu, aku melangkah menuju perjalanan yang tak seorang pun sebelumnya berani tempuh.

Di sebuah bukit terpencil, tersembunyi di pedalaman, di antara pohon-pohon kurus yang tak nyaris berdaun, aku mendirikan altar sederhana. Ala kadarnya, karena aku tak pernah tahu cara memanggil Iblis. Aku hanya fokus pada keinginanku: merasakan kehadiran kegelapan. Dengan kehangatan api unggun yang mengelilingiku, aku mencoba memanggil makhluk yang dalam cerita-cerita selalu digambarkan dengan tanduk, ekor, dan tatapan penuh kebencian. Aku tak tahu ritual apa yang tepat; hanya mengikuti apa yang intuisi bisikkan. Malam itu, bulan tersembunyi di balik awan, dan hanya suara angin yang berbisik pelan. Alam seakan mendukung kesunyian, suasana menjadi lebih dingin, seolah kehadiranku di tempat itu memang direstui.

Tidak ada mantra atau jampi-jampi. Aku hanya mengulurkan tanganku ke arah api unggun yang kubuat sambil berkata: wahai makhluk kegelapan, datanglah. Dan tiba-tiba angin kencang datang, menyapu api itu dan mengirimkan kepulan asap ke arahku. Aku terbatuk-batuk dan hampir ngglimpang, sementara di kejauhan, aku melihat sesuatu bergerak dalam kegelapan. Jantungku berdegup kencang. Apakah ini awal dari sesuatu yang buruk? Apakah Iblis akan memakanku atau mencabik-cabikku?

Dalam keheningan itulah dia muncul. Tidak seperti yang kucoba bayangkan. Sosok yang berdiri di hadapanku tidak bertanduk, tidak juga berwajah menakutkan. Ia hanya serupa seorang pria dengan mata tajam dan senyum tipis, seakan tahu lebih banyak dari yang siap ia katakan. Pakaian yang dikenakannya sederhana, tetapi aura yang terpancar darinya membuatku sadar bahwa ia bukanlah makhluk biasa.

“Apa yang kau cari?” suaranya dalam, tetapi terdengar seperti bisikan yang langsung menembus pikiranku.

“Aku mencari kebenaran,” jawabku, mencoba menahan getaran dalam suaraku. “Aku ingin mengetahui sisi lain dari yang selama ini disebut sebagai kegelapan.”

Ia mengamati wajahku dengan saksama, seolah menimbang-nimbang apakah aku layak mendapatkan apa yang kucari. Lalu, tanpa berkata apa-apa lagi, ia membalikkan badan dan melangkah pergi sambil memberi isyarat agar aku mengikutinya. Aku beranjak, melangkah di belakangnya, mengikuti ke mana pun ia akan membawaku. Meski aku sedikit ragu.

Perjalanan kami berlangsung dalam keheningan, tetapi tiba-tiba, suasana berubah menjadi menegangkan. Kami melewati sebuah jembatan yang goyang-goyang, tampaknya hampir ambruk. Aku hampir terpeleset ketika satu papan jembatan patah di bawah kakiku, dan Iblis dengan tenang menangkapku dengan satu tangan, seakan kejadian itu sudah diprediksi. Ketika kami menyeberangi jembatan, perasaanku campur aduk—antara ketakutan dan rasa ingin tahu yang mendesak-desak.

Di sebuah tempat, dia memggeser sebuah batu, lalu tampak lorong kegelapan yang benar-benar gelap. Kami memasukinya. Sangat gelap, bahkan aku tak bisa melihat apa pun selain gelap. Aku terus berpegangan pada jubahnya. Hingga perlahan kulihat samar cahaya.

Kami tiba di sebuah tempat yang menyerupai desa kecil, dengan rumah-rumah tampak kosong, seperti telah lama ditinggalkan. Namun, tidak ada kesan suram di sana, hanya keheningan yang sedikit mencekam. Ia menuju ke sebuah bangunan sederhana, lalu masuk ke dalam. Di dalamnya, hanya ada satu ruangan besar, dengan pelita kecil yang menyala di tengah, memancarkan kehangatan yang menenangkan. Ia duduk di hadapan pelita itu, dan mengisyaratkan agar aku duduk di seberangnya.

“Kenapa kau ingin mengetahui kebenaran dari kegelapan?” tanyanya tanpa basa-basi.

“Aku lelah dengan semua kebohongan yang ada di dunia ini,” jawabku, mencoba menahan emosi yang tiba-tiba muncul. “Aku ingin tahu apakah ada sesuatu yang bisa dipelajari dari sisi yang selama ini dianggap jahat.”

Ia tersenyum, kali ini lebih jelas, dan untuk pertama kalinya aku melihat kilatan humor dalam matanya. “Manusia selalu takut pada kegelapan, tetapi mereka tidak menyadari bahwa dalam kegelapan, ada banyak hal yang tersembunyi. Aku bukan sekadar wujud kejahatan, seperti yang kalian yakini. Aku adalah cerminan dari keinginan terdalam kalian, sisi yang kalian tolak tetapi tidak mungkin bisa dimusnahkan.”

Mendengar perkataannya, aku merasa seolah terperangkap dalam labirin pemikiran yang rumit. Semua hal yang kukira benar mulai goyah. “Tapi, tidakkah itu berbahaya?” tanyaku. “Menghadapi sisi kelam bisa membuat seseorang terjatuh ke dalam jurang yang dalam.”

Iblis tersenyum sinis, seolah tahu jawaban yang ingin ia berikan. “Kehidupan itu sendiri adalah risiko. Kegelapan tidak selalu berarti kejahatan; ia bisa jadi cermin bagi kebenaran yang kau cari. Yang kau anggap sebagai dosa sering kali adalah cara untuk mencari kebebasan, untuk mencari arti dalam hidup yang terperangkap dalam rutinitas yang membosankan.”

Saat kami sedang berbicara, tiba-tiba pintu ruangan bergetar dan sebuah balok besar jatuh dari langit-langit, hampir menimpa kami. Kami melompat ke samping, dan aku tak bisa menahan tawa ketika melihat Iblis berusaha dengan canggung mengangkat puing-puing itu. Dalam kekacauan kecil itu, Iblis tersenyum, tampaknya merasakan absurditas situasi ini. Dalam sekejap, suasana yang mencekam berubah menjadi komedi hitam yang menggugah.

“Lihatlah,” katanya sambil mengangkat puing-puing dengan susah payah, “bahkan dalam kegelapan, kita bisa menemukan momen-momen lucu yang mengingatkan kita akan kemakhlukan kita.”

Aku terdiam, terpesona oleh cara pandangnya. Iblis itu menyadarkanku bahwa meskipun kehidupan bisa menyakitkan dan tidak terduga, ada keindahan dalam kesedihan itu.

Ia kemudian melanjutkan ceritanya, tentang bagaimana ia dahulu adalah malaikat yang jatuh, bukan karena kejahatan, tetapi karena ia mempertanyakan aturan yang menurutnya tidak adil. “Kebebasan adalah anugerah yang paling berharga,” katanya. “Namun, untuk memiliki kebebasan, kau harus siap menanggung konsekuensinya. Aku memilih kebebasan, dan karenanya aku menjadi apa yang kalian sebut Iblis.”

Aku mendengarkan dengan penuh perhatian, setiap kata yang diucapkannya menggugah sesuatu dalam diriku yang selama ini terpendam. “Manusia,” ia melanjutkan, “sering kali menganggap keburukan sebagai sesuatu yang harus dihindari, tetapi tidak pernah belajar darinya. Padahal, ada pelajaran penting yang bisa diambil dari hal-hal yang kalian sebut sebagai dosa.”

“Apa yang bisa manusia pelajari dari dosa?” tanyaku, merasa semakin tertarik dengan arah pembicaraan ini.

“Kemandirian,” jawabnya tanpa ragu. “Aku mewakili keinginan untuk mandiri, untuk tidak tergantung pada apa pun kecuali pada diri sendiri. Dalam setiap dosa, ada keinginan untuk bebas dari aturan, dari batasan, dari segala yang membatasi manusia menjadi apa yang mereka inginkan. Tapi tentu saja, seperti yang kau tahu, kebebasan tanpa tanggung jawab hanya akan membawa kehancuran.”

Seolah terhipnotis, aku membayangkan bagaimana dunia ini jika dilihat dari perspektif yang berbeda. Seberapa sering kita menjauhi kegelapan, apalagi memikirkannya, padahal sebenarnya ia menyimpan pelajaran berharga. Aku mulai menyadari bahwa hidupku sendiri penuh dengan batasan yang diciptakan oleh ekspektasi sosial. Aku merasa terjebak dalam persepsi yang dibentuk oleh orang lain, hingga kehilangan jejak diri.

Saat fajar tiba, dan aku harus kembali ke dunia nyata, Iblis itu memberiku pesan terakhir. “Jangan pernah takut untuk melihat ke dalam kegelapan,” katanya. “Mendekati bukan berarti melakukan, kau tentu tahu itu. Karena dalam kegelapan, kau akan menemukan bagian dirimu yang selama ini kau abaikan, kau kutuk-kutuk sebagai musuh yang menyesatkan. Tapi ingat, jangan pernah membiarkan kegelapan itu menguasaimu. Mempelajari dosa tidak berarti harus melakukannya. Melakukan kebebasan bukan berarti menindas karena orang lain juga memiliki hak untuk bebas.”

Aku meninggalkan tempat itu dengan pikiran yang penuh, tetapi juga dengan hati yang lebih ringan. Perjalananku untuk mencari kebenaran mungkin belum selesai, tetapi aku merasa telah menemukan arah baru. Iblis bukanlah musuh—yang menjadi musuh nyata adalah godaannya—, melainkan guru yang membimbingku melalui lorong gelap yang selama ini kutakuti. Cara mengalahkan godaannya adalah mempelajarinya. Aku belajar bahwa kebaikan dan keburukan tidak selalu seperti yang terlihat, dan bahwa untuk memahami dunia ini dan diri sendiri, haruslah berani menghadapi setiap sisi gelap-terang dari diri kita sendiri.

Kembali ke kehidupan sehari-hari, aku membawa pelajaran dari Iblis itu. Aku mencoba untuk lebih mandiri, lebih bertanggung jawab atas pilihan-pilihanku, dan yang paling penting, aku berusaha untuk tidak takut pada kegelapan dalam diriku. Karena di sana, tersembunyi kekuatan yang bisa membantuku menjadi manusia yang lebih baik, lebih kuat, dan lebih bijaksana.

Tapi perjalanan ini tidaklah tanpa rintangan. Setiap kali aku berhadapan dengan kegelapan, bayangan Iblis itu terlintas dalam pikiranku. Ia adalah pengingat bahwa kegelapan bukanlah sesuatu yang harus dihindari, tetapi diterima dan dikelola. Di dalam setiap pengalaman pahit, ada pelajaran berharga.

Dengan pemahaman yang baru, aku mulai berani mempertanyakan norma-norma yang selama ini membatasi diriku. Aku bertanya pada diriku sendiri—apa yang sebenarnya aku inginkan? Dan ketika aku menjawab, suara Iblis kembali terbayang, menegaskan bahwa kebebasan dan segala perbuatan harus dibayar dengan tanggung jawab.

Di setiap langkahku, aku mulai merasakan kekuatan dari sisi gelap yang selama ini kutakuti. Dalam ketidakpastian, aku menemukan ketegasan. Dalam kegelapan, aku menemukan cahaya. Dalam setiap langkahku, aku selalu ingat: bahwa dalam setiap kegelapan, ada cahaya yang menunggu untuk ditemukan. Dan mungkin, itulah rahasia terbesar dari kehidupan ini. Dalam pengembaraanku untuk memahami diri sendiri, aku belajar bahwa tidak ada yang benar-benar jahat, dan bahwa di balik setiap kegelapan, terdapat kesempatan untuk menemukan kebenaran yang lebih dalam.

Dan aku tak akan melupakan pengakuan iblis: Aku dibuang bukan karena ingin kekebasan, tapi kebodohanku yang kucoba tutupi dengan berlagak sok paling unggul dengan mengatakan “aku dari api, sedangkan dia hanya dari tanah”, sehingga tak sudi jika harus membungkuk apalagi menyungkur di hadapan moyangmu dan seluruh keturunannya.


Era Ari Astanto penyuka bika ambon ini lahir di Boyolali. Saat ini bekerja di sebuah penerbitan buku pelajaran di Solo dan aktif di MYF Randhu Jembagar Boyolali.

Katalog

PADELI Membangun Enrekang dari Sisi Penegakan Hukum dan Satu Tahun Pencapaian Kinerja Kajari Enrekang

“Sebuah kisah inspiratif tentang perjalanan hidup seorang pemimpin di balik penegakan hukum. Buku ini bukan sekadar biografi, tetapi cerminan nilai-nilai kejujuran, keberanian, dan pengabdian yang tulus. Melalui cerita ini, kita diajak mengenal lebih dekat seorang Kajari yang tidak hanya menjalankan tugasnya dengan integritas, tetapi juga meninggalkan jejak yang berarti bagi banyak orang”

Penulis: S. Lewang

Cetakan: Pertama, Tahun 2024

Penerbit Nomina Ide Karya

83 halaman; 14 x 21 cm

ISBN:

Harga: Rp 100.000,-

Info Pemesanan: 085647226136

Curhat

Bakpia

Curhat Nanda

Sama dengan Mbak Septi, aku juga tinggal di Yogyakarta, lebih tepatnya di dalam ringroad. Aku pernah beberapa kali ke Wonosari, tujuanku hanya 1, ke tempat wisata, karena aku tidak memiliki kerabat yang tinggal di sana. Puthul, aku penasaran seperti apa wujudnya. Jadi ketika aku membaca tulisan Mbak Septi, aku mencari tahu di laman google. Rupanya sejenis kumbang yang biasa menjadi hama tanaman pertanian. Aku pernah melihatnya, bedanya yang kulihat berwarna putih dan memiliki ukuran tubuh lebih besar (ampal, itu nama yang kutahu dan biasanya mereka muncul di malam hari). Binatang itu sama seperti belalang dan beberapa binatang lain yang sering dikonsumsi warga Gunungkidul sebagai lauk, namun bagi orang kebanyakan disebut makanan ekstrem.

Aku pernah menyantap belalang goreng. Rasanya enak kok, seperti udang. Kadang jika teman-teman dari luar daerah memintaku mengantar mereka berwisata, lalu penasaran ingin mencobanya, aku turut makan juga. Bagiku bentol-bentol kecil tak begitu mengganggu, selama gatalnya masih bisa kuatasi. Tapi jika ada pilihan makanan, tentu saja aku memilih yang lain. Setidaknya jika ditanya, aku benar memang sudah pernah mengonsumsinya.

Ada banyak sekali makanan khas Yogya, dari camilan, makanan kecil hingga berat. Kali ini aku ingin berbagi pengalaman tentang salah satu snack kesukaanku: bakpia. Setahuku, Pak Yuditeha juga menyukainya. Tapi aku sengaja mengangkatnya bukan semata berharap agar tulisanku dimuat, melainkan memang “bakpia” adalah hal yang pertama kali muncul di benakku. Terlebih saat ini aku memang sedang menyantapnya ditemani secangkir teh di pagi yang gerimis. Hhmm syahdu rasanya.

Hari ini aku izin tidak masuk kantor. Semalam aku jatuh dari tangga. Beruntung aku sempat meraih pegangan hingga tak sampai menggelinding ke bawah. Lemak-lemak di tubuhku akhirnya menjadi pahlawan. Meski sempat menimbulkan suara dentuman yang membuat seisi rumah kaget dan bergegas menghampiriku, aku jatuh elegan dengan posisi duduk. Bahkan handuk yang membungkus kepala masih bertengger manis. “Aman, aku rapopo,” kataku.

Aku baru saja pulang dari lab untuk melakukan rontgen. Hasilnya baru keluar nanti siang. Kata pacarku, jika hasilnya baik dan tidak ada tanda-tanda retak pada tulang, aku baru boleh pijat urut. Jadi hari ini aku berencana mengisi waktu libur dengan membaca, juga menulis cerita ini tentunya.

Aku ingat saat kecil dulu. Rumahku yang berada tak jauh dari pabrik yang memproduksi bakpia, membuatku terbiasa makan makanan itu. Ibu sering memintaku membelinya ketika ada tamu atau kerabat datang sebagai jamuan. Dengan mengendarai sepeda jengki milik kakakku, aku berangkat membawa selembar uang dan pulang dengan seplastik bakpia. Kadang, karena saking seringnya membeli, aku dibawakan juga bakpia kering sebagai bonus.

Tidak seperti sekarang yang banyak sekali varian rasa, bakpia yang dulu aku tahu hanya mempunyai 1 macam rasa: kacang hijau. Secara bentuk, aku juga hanya tahu 2 saja: basah dan kering. Kukatakan basah karena biasanya memang hanya bertahan 2-3 hari saja. Lalu ketika bakpia basah sudah tak layak konsumsi, maka akan masuk ke oven dan jadilah bakpia kering. Bagiku, aku lebih suka bakpia kering. Bau gosong serta tekstur renyah dan agak pahit menjadi sensasi rasa tersendiri untukku.

Saat aku beranjak remaja, aku sempat termakan omongan teman-teman mengenai rumor pabrik bakpia di dekat rumahku itu.

“Pemilik pabrik memelihara pocong sebagai pesugihan,” kata salah satu temanku.

“Iya, tetanggaku yang punya indera keenam pernah melihat ada pocong ngeces di kuali besar yang dipakai memasak isian bakpia waktu dia beli ke sana,” sahut temanku yang lain.

Sejak mendengar hal itu, aku sudah tak pernah mau lagi makan bakpia. Aku membayangkan, jika benar kata teman-temanku, berarti selama ini aku makan iler pocong dong. Jangankan makan, diminta tolong ibu sekadar membeli pun aku sudah tidak mau. Aku khawatir jika sepulang dari sana, ada pocong yang ikut gonceng sepeda dan turut pulang bersamaku. Aku bergidik ngeri mengingat hal itu.

“Pemiliknya jadi tumbal dari pocong peliharaannya sendiri. Beberapa hari sebelum meninggal, tetangga sekitar sering mendengar keributan seperti perang. Mungkin pemiliknya bertarung dengan pocong. Dan karena tidak ada kesepakatan, akhirnya pocongnya menghabisi tuannya sendiri,” jelas temanku suatu kali.

Sebenarnya aku bukan tak percaya hal-hal begitu, hanya saja ketakutanku lebih besar dari pikiran sehatku. Aku yang memang dasarnya penakut, selalu menelan mentah setiap cerita mistis yang dikisahkan padaku. Tentu saja hal itu yang sering membuatku tersiksa jika malam tiba. Aku menjadi takut ke kamar mandi sendirian. Apalagi, merasa sering diawasi saat berada di kamar seorang diri. Karenanya, aku selalu berusaha menghindar dari obrolan semacamnya.

Seiring berjalannya waktu, terdengar kabar kalau pabrik bakpia bangkrut karena masalah internal. Usaha bersama milik kakak beradik itu mulai koleps sejak keduanya sering bertengkar akibat penjualan yang semakin hari semakin menurun. Entah apa pun alasannya, sebenarnya aku tidak terlalu peduli. Hanya, sejak itu aku mulai menganggap bahwa tidak semua persoalan harus disangkutkan dengan hal-hal mistis.

Aku ingat, aku baru kembali makan bakpia sekitar 5 tahun lalu. Saat itu aku pulang kuliah. Mendapati 3 kotak bakpia di meja makan yang masing-masing hanya tinggal beberapa buah. Karena lapar, dan aku sepertinya sudah lupa dengan cerita masa kecil dulu, aku mencomot bakpia dan menghabiskannya sekaligus. Ada rasa keju, cokelat dan durian. Enak sekali. Kelezatannya seperti berkali-kali lipat dari bakpia yang kukenal dulu. Lebih mewah, lebih gurih, dan yang pasti saat aku memakannya, tak pernah terlintas di otakku bahwa pemiliknya mungkin saja memiliki pocong sebagai penglaris.

Aku agak menyesal, betapa kupernya aku selama ini. Kisah-kisah masa kecil dulu sempat membuatku ketinggalan zaman. Kini ada banyak sekali merk bakpia yang dijual di toko oleh-oleh, mungkin ada puluhan. Juga banyak otlet baru bermunculan dengan produk bakpia sebagai unggulan mereka. Aku telah melewatkan metamorfosis rasa bakpia. Padahal, jika ada teman atau saudara datang, bakpia selalu menjadi opsi pertama untuk diberikan kepada mereka sebagai buah tangan. Tak apa, selama bakpia belum punah dari peredaran, aku tetap masih beruntung bukan?***

Curhat

Alasan Sederhana

Curhat Fathia

Dua hari lalu, sahabat SMA-ku yang biasa kupanggil Nono, mengirim pesan bahwa ia akan ke Semarang dalam waktu dekat. Kakak lelakinya akan bertunangan, jadi ia akan ada di Semarang selama seminggu. Tentu aku senang. Rumahnya tidak terlalu jauh dari tempat tinggalku, jadi kami berjanji akan sering bertemu. Entah ia ke rumahku, atau sebaliknya. Dan pada kenyataannya, Nono yang selalu ingin ke rumahku.

“Masakan Ibu memang top,” puji Nono usai menyeruput sayur asem di depannya. Kedua jempol tangannya terangkat sembari menatap ibuku dengan wajah semringah.

Ibu hanya menanggapi dengan senyuman, lalu meminta kami untuk melanjutkan makan. Setelahnya, ibu kembali ke ruang tengah untuk meneruskan menjahit baju pesanan tetangga.

“Kayaknya aku bakalan betah di sini,” lanjut Nono.

“Kalau begitu sering-seringlah pulang kampung,” jawabku.

“Ah, kamu kan tahu sendiri tujuanku merantau. Kalau bukan karena kakakku, rasanya malas pulang.”

Nono dari keluarga broken home. Sejak kedua orangtuanya bercerai saat ia masih SD, ia dan kakaknya tinggal bersama ibunya di Semarang. Sedangkan ayahnya, ada di Lampung dan sudah menikah lagi. Nono pernah bercerita, kalau ibunya sibuk kerja dan mereka jarang berinteraksi kecuali untuk keperluan sekolah. Karena itu, saat SMA, hampir setiap hari ia main ke rumahku. Ibuku yang memang kesehariannya di rumah, ditambah suka cerita dan pintar memasak, membuat Nono betah. Ia bahkan sudah menganggap ibuku sebagai ibunya juga.

Aku mengambil secuil bandeng presto dan kuletakkan di piringnya. “Aku yang goreng tadi, khusus aku masuk ke dapur demi menyambut kedatanganmu,” kataku mengalihkan topik pembicaraan. Sejak dulu, aku memang tidak pandai bicara. Aku lebih senang mendengarkan. Menurutku, setiap cerita tidak harus mendapat reaksi. Meski begitu, bukan aku tak peduli. Aku baru akan memberi komentar atau masukan jika diminta. Dan untuk banyak kasus, orang curhat biasanya hanya butuh pelampiasan.

Aku dan Nono makan sembari mengobrol banyak hal. Tentang pekerjaan Nono, pacarnya, atau Bandung. Sesekali aku juga bercerita tentang pekerjaanku dan beberapa teman-teman SMA yang masih sering kontak denganku.

“Btw kok kamu bisa kerja di rumah sakit sih, bukannya dulu kamu phobia darah ya?” tanya Nono.

“Iya juga ya, kok bisa ya?” sahutku asal.

Nono menanggapi dengan menceritakan ulang saat dulu kami berdua jatuh dari sepeda motor. Ingatanku melayang pada kejadian itu. Aku duduk di depan, karenanya aku lebih siap saat merasa kendaraanku akan menyerempet sepeda motor lain. Karena tak sempat mengerem, aku banting stir ke kiri dan menabrak pohon sebelum akhirnya jatuh. Nono yang saat itu kugonceng, mengalami luka cukup parah. Darah tak berhenti keluar dari bibirnya karena membentur aspal. Aku yang saat itu sebenarnya hanya mengalami luka lecet di tangan, justru membuat banyak orang khawatir dan kami akhirnya dibawa ke UGD. Aku ingat, sesaat setelah aku melihat wajah Nono, perutku tiba-tiba mual, seiring dengan keringat dingin membasahi tubuhku. Aku merasa ada banyak sekali kunang-kunang di atas kepalaku. Dan setelahnya, pandanganku gelap. Aku masih bisa mendengar suara-suara di sekitarku, tapi tubuhku sudah tak berdaya.

“Nih, kenang-kenangan kejadian waktu itu.” Nono memonyongkan mulut. Memperlihatkan keloid yang ada di bawah bibirnya. “Untung nggak sampai mengurangi ketampananku,” lanjutnya lagi.

Dulu, aku sempat merasa sangat bersalah padanya. Hampir setiap hari selama seminggu penuh aku ke rumah Nono menenteng rantang berisi masakan ibu. Aku khawatir 4 jahitan yang nangkring di bawah bibirnya itu akan meninggalkan bekas luka. Meski murni kecelakaan yang tidak kusengaja, tapi aku merasa bertanggung jawab padanya.

Sejak kejadian itu, setiap kali aku melihat darah, reaksi tubuhku hampir sama. Aku hanya berusaha mengantisipasi dengan segera beristirahat, atau minum teh hangat. Jika berada di tempat yang tidak memungkinkan, setidaknya aku berusaha untuk segera mengalihkan pandangan atau pikiranku pada sesuatu yang menyenangkan. Dan sejauh ini, itu sangat membantu. Kalau dipikir-pikir, wajar Nono bertanya seperti tadi. Biasanya, orang cenderung menghindar pada hal-hal yang membuatnya tidak nyaman. Contoh kecil saja, Nono. Ia tidak suka pelajaran matematika. Karenanya dia memilih mengambil jurusan komunikasi, di luar kota pula, karena ia juga tidak nyaman tinggal bersama ibunya.

Sebenarnya, sangat mudah bagiku menjawab pertanyaan Nono. Ibu memang tidak pernah mengatur kedua kakakku dan aku ingin mengambil jurusan apa saat kuliah, tapi di setiap kesempatan, ibu berulang kali cerita mengenai keinginannya menjadi perawat. Ibu bahkan sempat menyesalkan kematian ayah. Kata ibu, jika saja saat itu tidak terlambat merespons keluhan ayah, mungkin saat ini ayah masih berada di tengah-tengah kami. Menurutnya, ketidaktahuan ibu-lah yang menjadi penyebab ayah meninggal. Terkadang, rasa bersalah pada orang yang sangat dicintai lebih berbahaya dibanding penyakit mematikan yang ada di dunia. Ibu pernah jatuh sakit selama beberapa minggu sejak kematian ayah. Seiring berjalannya waktu, ibu mulai bisa menerima kepergian ayah sebagai takdir yang tak terelakkan. Sejak itu, aku sering ketakutan saat ibu sakit. Aku selalu berpikir dan bertindak berlebihan. Kadang-kadang, saat ibu meriang karena flu, aku buru-buru ingin membawanya ke rumah sakit. Ibu bahkan kerap menertawakan tingkahku. Membuatnya harus berulang kali meyakinkanku bahwa dirinya memang baik-baik saja.

Aku sangat menyayangi ibu. Rasa takut akan kehilangan ibu membuatku sering memikirkan ucapannya. Aku tidak mau suatu saat mengalami rasa bersalah seperti yang ibu rasakan terhadap ayah. Apalagi, ibu adalah satu-satunya orangtua yang kumiliki. Karenanya, saat itu dengan mudah aku memutuskan masuk jurusan keperawatan setelah lulus SMA. Aku bahkan tidak menganggap phobia darah yang kumiliki bisa menjadi penghalang. Meski dalam perjalanannya, aku butuh energi ekstra untuk melawannya. Aku sering mual saat membaca teori atau menonton video perawatan pada luka. Belum lagi, beberapa kali aku mengalami keringat dingin saat praktik. Ada 1 kejadian paling berkesan di hidupku, yaitu saat aku mendapat shift malam di puskesmas dan diminta bidan senior untuk mendampinginya saat membantu seorang ibu menjalani proses persalinan. Usai bayi lelaki montok itu berhasil keluar dengan selamat, begitu pun ibunya, aku mohon izin pada bidan senior untuk ke ruang perawat. Segera aku merebahkan diri dan beristirahat. Beruntung saat itu aku tidak sampai pingsan.

Sejak pengalaman itu, aku mulai belajar mengendalikan pikiranku. Aku membayangkan ketika sedang merawat luka, darah yang keluar dari tubuh pasien adalah cat air berwarna merah yang tak sengaja tumpah. Jadi aku hanya perlu membersihkannya. Saat menjahit luka, aku membayangkan sedang menyulam bunga pada sweater. Kadang, meski sudah membayangkan hal-hal indah seperti itu, reaksi-reaksi tak nyaman dari tubuhku tetap saja muncul. Setidaknya, kini aku sudah bisa mengendalikannya. Bahkan sekarang, aku bisa fokus bekerja tanpa perlu khawatir lagi. Aku mulai menikmati pekerjaanku. Apa yang kulakukan pada pasien, dan penerimaan mereka terhadapku menjadi hal yang paling kunikmati.

“Apa aku boleh menghabiskan sayur asemnya?” pinta Nono membuyarkan lamunanku. Wajah memelasnya terlihat konyol sekali.

Aku tertawa. “Tentu saja. Jika masih kurang aku akan minta ibu memasakkan lagi untukmu,” sahutku.***

Fathia

Anak perempuan yang sangat menyayangi ibu.

Ragam

NOVEL DI RUMAH

Rumah bukan dihuni manusia saja. Di rumah, adanya meja, kursi, atau lemari itu sewajarnya. Yang istimewa adalah buku-buku menghuni rumah. Buku yang dimaksud bukan buku pelajaran. Jika mendesak, buku-buku pelajaran mendingan dikeluarkan dengan alasan dijual kepada tukang rongsok keliling. Yang tetap menaruh buku-buku pelajaran di rumah mungkin orang yang bijak atau pemuja pendidikan-pengajaran.

Aku sedang berpikiran buku dan rumah. Sejak lama, aku menulis esai-esai bertema rumah. Kini, aku agak kecewa dengan tulisan-tulisan yang tidak bermutu. Ada tulisan yang tampaknya mengandung kengawuran. Yang membuatku tidak terlalu kecewa, tulisan-tulisan itu hanya dibaca sedikit orang. aku mengerti bila mutu tulisanku setinggi tanaman krokot.

Selama belasan tahun, aku juga menulis esai-esai mengenai buku. Namun, aku pastikan belum ada tulisan yang terpenting. Aku selalu menganggapnya sekadar hadir untuk lenyap.

Kini, aku ingin menulis lagi tentang rumah dan buku. Tema yang digabungkan untuk menambahi daftar tulisan tidak bermutu sepanjang hidupku. Yang membuatku tergoda menulis: buku-buku tipis yang dijual pedagang di media sosial.

Sabtu, 2 November 2024, tampak di mata: 8 novel “Bunga”. Pedagang memberi harga yang murah. Aku pernah mengetahui iklan novel Bunga di majalah lawas. Iklan yang mengesankan untuk para pembaca masa lalu. Delapan novel yang selama beberapa jam tanpa peminat. Aku memesannya dengan penjelasan 2-3 hari dapat transfer. Terjadilah jual-beli tanpa repot! Beberapa hari selanjutnya, bungkusan buku sampai di rumah.

Buku-buku tipis tidak dijilid lem tapi kawat. Penampilan yang sudah ditentukan coraknya. Yang melihat mudah mengetahui kekhasan terbitan “Bunga”. Sampul depan menampilkan ilustrasi-ilustrasi yang mengingatkan kehadirannya di halaman-halaman majalah. Beberapa penulis “Bunga” memang sering menulis cerita pendek, novelet, atau cerita bersambung di pelbagai majalah.

Di rumah, aku merasakan kedatangan masa lalu saat buku-buku itu datang. Masa lalu yang tidak terlalu jauh. Masa lalu yang mungkin tidak lagi tercatat dalam arus kesusastraan di Indonesia.

Delapan buku yang cepat membuatku akrab dengan industri novel masa 1980-an. Aku tidak bisa meniru siasat pengamatan yang dilakukan Jakob Sumardjo atau Sapardi Djoko Damono. Pengamatan terbitnya novel-novel yang dicap remeh atau tidak bertaraf serius. Aku tidak ingin memasalahkan dengan bertele-tele menggunakan argumentasi-argumentasi akademik. Yang dimunculkan adalah menghormati novel-novel. Pada masa lalu, para penulisnya berpahala, penerbit mengerti untung, dan kemunculan para pembaca yang ketagihan.

Enam nama penulis seri “Bunga” aku mengenalinya. Aku sudah membaca beberapa novelnya. Nama-nama yang dulu tenar dan berpengaruh: Marga T, Marianne Katoppo, Dwianto Setyawan, Wildan Yatim, Kembangmanggis, dan Nina Pane Budiarto. Nama yang belum aku akrabi: AG Barnas.

Yang teringat para pembaca: Marianne Katoppo menulis novel berjudul Raumanen. Novel yang mendapat penghargaan-penghargaan. Pada masa 1980-an, ia “sempat” mendapatkan pujian para pembaca melalui novel seri “Bunga” yang berjudul Rumah di Atas Jembatan (1981). Novel yang tidak pernah atau jarang mendapat ulasan oleh para kritikus sastra. Novel yang tipis, yang tidak terjanjikan cetak ulang.

Aku membacanya dalam waktu puluhan menit. Pembaca di bawah pohon asem dekat SMA Negeri 7 Solo. Pagi, aku membaca saat matahari tidak memberi kehangatan tapi gerah. Aku berlindung dari sinar matahari saat membuka halaman-halaman novel. Pembaca yang cukup apik mengenai adab keintelektualan, persahabatan, dan geografi. Novel dengan latar negara asing. Pada suatu saat, aku bisa menggunakan kutipan-kutipan dalam novel jika menulis esai bertema keintelektualan.

Selanjutnya, Kembangmanggis menulis dua novel: Tante Irma (1981) dan Nilai Sebuah Kepercayaan (1981). Nama yang unik. Beberapa tahun kemarin, buku-buku Kembangmanggis cetak ulang. Ada buku baru. Yang membedakan adalah buku-buku memuat ilustrasi yang memikat. Dua novel tipis seri “Bunga” itu tertinggal di masa lalu.

Nama yang aku sering membacanya di sampul buku-buku anak: Dwianto Setyawan. Kini, aku menghadapi novelnya yang dibaca oleh dewasa. Novel berjudul Rusti Panti (1981). Bagiku, Dwianto Setyawan pantas dinobatkan sebagai pengarang bermutu untuk bacaan anak dan remaja. Pada suatu masa, ia berhak mendapat penghargaan oleh pemerintah Jawa Timur, kementerian, Perpustakaan Nasional, atau universitas. Aku sudah mengoleksi dan menikmati 20-an judul yang dipersembahkan oleh Dwianto Setyawan. Buku-buku yang biasa dikenang para pembaca tentu terbitan Gramedia.

Nama yang mengingatkan pengarang lawas: Nina Pane Budiarto. Pastilah ia adalah keturunan dari pengarang lama yang menggunakan nama Pane. Nina Pane Budiarto biasa aku temukan dalam majalah-majalah wanita dan keluarga. Ia termasuk pengarang yang rajin. Beberapa bukunya diterbitkan oleh Gramedia. Di terbitan seri “Bunga”, ia menulis novel berjudul Mempelai Hari Tua (1982). Anehnya, namanya jarang teringat para peminat novel di Indonesia bila mencari silsilah pengarang.

Wildan Yatim, nama tercatat dan sastra dan sains. Yang sering dibaca publik adalah novel berjudul Pergolakan. Novel yang mengisahkan gejolak keagamaan. Novel yang dijadikan halaman-halaman mengisahkan flora dan fauna. Dulu, novel itu meraih penghargaan. Pada awalnya, novel diterbitkan Pustaka Jaya. Selanjutnya, novel diterbitkan Grasindo, yang diharapkan dapat menjadi bacaan murid-murid di seantero Indonesia. Pengarang itu turut menulis dalam seri “Bunga”. Yang ditulisnya berjudul Mengarung Badai (1981). Novel yang luput dari tepuk tangan sastra.

Nama yang wajib teringat dan dihormati: Marga T. Nama yang ikut membesarkan penerbit Gramedia. Nama yang lekas muncul bagi para penonton film berjudul Badai Pasti Berlalu atau Karmila. Di Indonesia, ia diakui pengarang berpengaruh dan digemari sepanjang masa. Gramedia biasa mengadakan cetak ulang untuk novel-novel Marga T. Penampilan sampul berubah, yang menjanjikan pantas menjadi koleksi.

Yang aku hadapi dalam seri “Bunga” adalah novel berjudul Sembilu Bermata Dua (1982). Sembilu justru mengingatkan lagu yang dibawakan Ella. Lagu asmara picisan, yang dulu aku dengarkan saat remaja. Novel dan lagu itu berbeda. Marga T, pengarang yang menjadi jaminan mutu. Namun, aku sering mengabarkan kepada teman-teman bila Marga T pernah menulis novel anak untuk sayembara. Novelnya menang dan diterbitkan Balai Pustaka.

Pengarang yang aku belum akrab: AG Barnas. Ia menulis novel berjudul Istriku Belahan Jiwaku (1982). Aku belum ingin segera membacanya. Aku sekadar memegang dan membuka halaman-halamannya. Pada suatu hari, aku mungkin memerlukannya jika menulis seri esai bertema pernikahan.

Novel-novel seri “Bunga” dulu dijual dengan harga 400 rupiah dan 500 rupiah. Terbit rutin oleh Gramedia bagi para pembaca yang ingin ketagihan atau fanatik. Seri novel yang pernah menjadi unggulan Gramedia. Dulu, novel diterbitkan sebulan sekali, setiap Kamis pertama. Aku tidak mengetahui jumlah judul novel yang berhasil diterbitkan Gramedia.

Yang dijanjikan adalah seri novel “Bunga” untuk orang tercinta karena cinta adalah bunga yang selalu setia menghiasi meja rumah tangga. Novel-novel yang diterbitkan untuk para ibu. Bacaan yang dimaksudkan dinikmati dalam waktu senggang di rumah. Sodoran cerita-cerita di sela kesibukan mengurusi pekerjaan-pekerjaan di rumah.

Pada suatu hari, aku ingin mencari dan membeli untuk judul-judul lain. Aku ingin merasakan pikat bacaan masa 1980-an. Dulu, para pembaca sering wanita. Kini, aku menjadi pembacanya mumpung sebagai bapak rumah tangga. Kabut