Ragam

MINGGU DAN TIGA KAMUS

Kegembiraan itu lawas. Yang dimaksud adalah lawas yang memberi adonan rupa, warna, berat, dan bau. Aku gembira menemukan yang lawas-lawas. Aku membahasakan penemuan ketimbang pembelian. Lawas itu terlihat di media sosial. Mataku bersinar bila melihat tampilan bacaan lawas.

Pada 13 Oktober 2024, sore yang terduga tidak lembut dan puitis. Foto itu tampil saat aku melihat ponsel. Yang muncul serius: foto buku lawas meski mula-mula tampak jelek. Mata beralih membaca keterangan yang dibuat pedagang. Buku itu dianggap asli meski penampilan sampul untuk bundel adalah buatan pemilik terdahulu, buka garapan penerbit atau percetakan. Kondisi isi buku dikabarkan masih bagus.

“Dua kamus lawas,” tulis pedagang. Kamus-kamus dibuat menjadi bundel. Aku tidak perlu berpikir seribu menit. Foto dagangan buku dengan mencantumkan harga 70 ribu rupiah wajib dibeli tanpa menawar. Aku kirimkan kata-kata berkepentingan membeli buku. Janji pun diberikan: “Sehari atau dua hari lagi, transfer.”

Pembelian buku lawas saat Minggu itu menggembirakan. Percayalah tak ada hari libur bagi orang-orang yang berjualan buku dan orang-orang yang “bersumpah” terus membeli buku (lawas). Aku kadang merasakan “dosa-dosa” saat membeli buku. Namun, ada juga “doa-doa” agar diberi uang oleh Tuhan, dipertemukan buku-buku yang bikin merinding, dan mendapat keberuntungan diberi harga-harga murah oleh pedagang. Keraguanku: “sumpah” membeli buku itu banyak “doa” atau “dosa” saat tahun-tahun sulit membakar sambat dan melungkrahkan hari-hari yang terus berganti.

Pada 17 Oktober 2024, bundel buku berwajah lusuh masuk ke rumahku. Siang yang memanggang tubuh berkurang setelah aku membuka bungkusan paket buku. Mataku tak seterang dan segarang matahari tapi mengubah lembaran-lembaran buku itu “bersinar”. Aku yang beruntung bisa bertemu masa lalu. Pertemuan melalui buku.

Aku pun teringat tokoh-tokoh yang hanya mengetahui sepenggal-sepenggal biografinya. Keyakinan yang telah aku wartakan sejak lama jika berbincang dengan orang-orang atau hadir di seminar: “Indonesia tidak cuma negara ribuan pulau. Indonesia adalah negara ribuan kamus.” Keyakinan yang kadang dibantah tapi aku membalas dengan argumentasi-argumentasi sepanjang lokomotif dan gerbong-gerbong kereta api, yang biasa bergerak dari Stasiun Balapan sampai Stasiun Senen.

Koleksi kamus di rumah makin bertambah. Dugaanku jumlahnya belum mencapai seribu. Sejak belasan tahun lalu, aku biasa dan rajin khatam novel-novel. Namun, aku bukan orang yang sombong membaca ratusan kamus dengan kewajiban khatam. Yang harus diketahui orang-orang: cara membaca kamus berbeda dengan membaca novel.

Aku suka membaca kamus tanpa khatam. Yang membuatku untuk selalu suka kamus dipengaruhi tokoh-tokoh yang aku menghormatinya: Poerwadarminta, Sutan Mohammad Zain, Abdul Chaer, Zoetmulder, Goenawan Mohamad, Remy Sylado, Eko Endarmoko, dan lain-lain. Sosok yang tidak aku lupakan adalah Pak Sur. Dulu, ia adalah penjaga perpustakaan di SMA. Aku sering dolan dan mendekam di perpustakaan. Masa lalu yang menguak malu.

Sikapku salah dan sembrono: memilih “berteman” buku-buku ketimbang bergaul dengan teman-teman di sekolah. Di perpustakaan, aku kadang membawa buku tulis khusus yang aku gunakan untuk mencatat kata dan pengertian. Kamus-kamus di lemari yang berketerangan “referensi” menjadi sasaran tangan untuk dibuka mengikuti kepentingan dan penasaran. Murid yang jelek dan bodoh itu senang jika berhasil menambah album kata dalam hidupnya. Yang dibutuhkan tentu pengertian-pengertian agar ia dapat merayakan bahasa.

Keinginan membuka kamus dalam waktu lama diusahakan dengan bertanya kepada Pak Sur. Di perpustakaan, kamus itu masuk daftar buku tidak boleh dipinjam, hanya dibaca di tempat. Pak Sur bilang punya Kamus Umum Bahasa Indonesia dan Kamus Besar Bahasa Indonesia di kamar kos Mendungan, Sukoharjo, Jawa Tengah. Aku diperbolehkan meminjamnya. Sore, aku naik pit onthel menuju alamat kos. Pengalaman awal meminjam kamus, yang membuatku berbahagia. Di rumah, malam-malam aku menikmatinya dengan membuka kamus dekat jendela. Lelaki yang masih murid SMA itu biasa membuka kamus dan membuat catatan sambil merokok. Ia menyadari dunia itu kata-kata. Jadi, yang memiliki kata-kata yang mengerti dan memiliki dunia. Pemahaman itu pernah dimiliki tapi dianggap “sesat” setelah ia sering mengalami gagal, salah, kalah, dan jahat dalam babak-babak kehidupannya. Namun, ia tetap setia kepada kamus-kamus sampai sekarang.   

Pada saat remaja, yang aku inginkan adalah kata dan pengertian. Peristiwa membuka kamus itu berlanjut dengan “dosa” dan “doa” mengumpulkan kamus-kamus lawas. Aku kadang membeli kamus baru yang harganya terjangkau. Yang membuatku malu adalah kunjungan ke toko buku. Di situ, ada kamus tebal banget. Sampulnya berwarna biru tua. Aku mengetahui itu Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi baru. Harga yang dicantumkan: lebih dari setengah juta rupiah. Aku iseng mengabarkan kepada teman yang bekerja sebagai editor di Jakarta. Jawaban melalui pesan pendek datang cepat. Ia mengirimi uang agar aku membeli kamus mahal, yang menjanjikan memajukan bahasa Indonesia. Duh, kamus mahal berakibat orang-orang malas membuka kamus dan takut membelinya. Aku berhasil memilikinya atas kebaikan teman.

Pada hari berbeda, aku membuat resensi terhadap Kamus Besar Bahasa Indonesia buatan pemerintah. Resensi yang dimuat di koran itu tanda terima kasih dan hormat kepada teman yang ikhlas memberikan uang tidak sedikit.

Pada hari-hari menjelang 28 Oktober 2024 yang masih diadakan peringatan Sumpah Pemuda, aku memiliki kamus-kamus lawas: ikut menentukan sejarah Indonesia. Kamus yang mendahului munculnya Kamus Umum Bahasa Indonesia dan Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kamus-kamus lawas itu sekadar kegembiraan yang tidak aku kabarkan kepada Pak Sur (tinggal di Klaten) dan teman di Jakarta.

Adegan membuka bundel kamus. Halaman yang awal terbaca: Logat Ketjil Latin-Indonesia. Aku mengerti pesona dan pengaruh bahasa Latin, sejak beberapa abad yang lalu. Pengaruhnya sampai ke Indonesia dalam masalah agama, keilmuan, seni, dan lain-lain. Kamus itu diterbitkan oleh Seminari Kakaskassen-Tomohon (1954). Keterangan yang dicantumkan: “Tetapi kami berkejakinan bahwa logat (kamus) ini masih djauh dari sempurna. Pertama-tama karena kekurangan pengetahuan bahasa Indonesia pada si penjusun sendiri. Tambahan pula karena kesulitan dalam menterdjemahkan berbagai kata Latin, terutama mengenai kata-kata benda abstrak.” Seumur hidup, aku tidak ada kemauan belajar bahasa Latin. Padahal, bahasa Latin itu sering muncul dalam pelajaran-pelajaran di sekolah. Beragam ilmu (modern) dipastikan mendapat pengaruh dari bahasa Latin.

Selanjutnya, aku melihat sampul buku yang menakjubkan. Sampul itu tidak dipotret pedagang, yang dulu menawarkan di media sosial. Oh, pedagang yang tidak mengetahui bahwa bundel itu memuat tiga kamus, bukan dua kamus. Kaget dan girang! Judul yang terbaca: Woordenboek Nederlansch-Javaansch, (Kamoes) Belanda-Djawa I yang disusun P Darminta. Aku mengetahui nama lengkapnya jika ditulis: Poerwadarminta atau WJS Poerwadarminta. Di Indonesia, ia terkenal dengan Kamus Umum Bahasa Indonesia (1952). Dulu, penulisan nama agak berbeda. Kamus itu memuat 12.000 “perkata’an”.

Kamus yang bersejarah, yang diterbitkan oleh Boekhandel SM Diwarno, Jogjakarta, 1932. Umurnya hampir seratus tahun. Foto di sampul itu bukan penyusun kamus (P Darminta) tapi pemilik “boekhandel”. Lelaki ganteng dan berduit yang ikut dalam arus industri buku masa kolonial.

Kamus itu membuatku geleng-geleng kepala dan tertawa pelan. Beberapa kata dalam bahasa Belanda diterima dalam bahasa Jawa. Jadi, orang-orang Jawa yang omong dan membuat tulisan sebenarnya menggunakan kata-kata yang diperoleh dari bahasa Belanda atau dipengaruhi bahasa Belanda. Takdir yang lumrah akibat lakon penjajahan. Pada masa kolonial, bahasa Belanda ikut membentuk peradaban Jawa melalui birokrasi, misionaris, sekolah, bacaan, dan lain-lain.

Kaget dan girangku bertambah saat menghadapi sampul buku berjudul Kitab Logat Melajoe (1921) susunan Ch A van Ophuijsen. Aku sudah memiliki buku itu tanpa sampul, terbitan 1929. Kini, aku memegang buku yang usianya lebih tua. Kondisi masih bagus dan lengkap. Buku yang bersampul sederhana tapi nasib bahasa di Indonesia sangat dipengaruhi oleh Ophuijsen. Logat itu kamus. Namun, aku membaca buku Ophuijsen sebagai “daftar kata”. Buku yang mungkin terbaca oleh kaum terpelajar dan memberi bekal dalam Kongres Pemuda I (1926) dan Kongres Pemuda II (1928).

Intelektual asal Belanda itu bakal selalu disebut jika orang mengurusi sejarah dan perkembangan ejaan di Indonesia. Pada 1947 dan 1972, pemerintah mengadakan kebijakan ejaan. Warisan yang diberikan Ophuijsen tetap wajib dipelajari dan diperhatikan untuk kemunculan ejaan-ejaan pada masa kekuasaan Soekarno dan Soeharto.

Tiga kamus bersamaku, melewati hari-hari saat bahasa-bahasa berantakan oleh politik, bisnis, hiburan, dan lain-lain. Aku memilih memeluk tiga kamus tanpa harus mengerti masa silam dan pikat bahasa-bahasa turut membentuk Indonesia. Yang membuatku bahagia: tiga kamus belum punah meski tidak dinantikan atau mendapat pelukan dari kaum intelektual, pengarang, atau pejabat di seantero Indonesia.I Kabut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *