Curhat

Misteri Bangkai Tikus Tanpa Kepala

Curhat  Sal Sabilah

Aku memiliki seekor kucing angora jantan yang kuberi nama Dol. Menurut orangtuaku, penampakan Dol mengerikan. Bulu hitam legam dengan kedua bola mata yang juga berwarna hitam, seringkali membuat mereka kaget saat malam hari. Dol yang memang tidak berada di kandang, membuatnya bebas berkeliaran di dalam rumah. Pernah suatu malam, tanpa sengaja aku menginjak buntutnya saat hendak mengambil minum di dapur. Dol mengeong keras. Aku terjingkat. Selain memang kaget karena suaranya, wujudnya yang hitam di ruangan gelap hanya memperlihatkan taring dan kilatan mata bercahaya. Ya, mama benar, Dol seperti monster kecil.

Dulu, aku mengadopsi Dol dari temanku saat usianya baru tiga bulan. Dibanding ketiga saudara lainnya, Dol satu-satunya yang memiliki bulu hitam pekat. Entah warna itu didapat Dol dari mana, karena kedua induknya berbulu putih. Menurutku dia lucu. Jadi temanku membiarkan aku membawanya pulang.

Kini Dol berusia hampir empat tahun. Tubuhnya tidak terlalu gemuk, lincah dan meski tidak lagi menggemaskan seperti saat kecil dulu, sesekali dia tetap manja. Dol senang tidur di dekat kakiku. Kadang, dia juga melakukan gerakan seperti sedang memijat. Seperti kebiasaan kucing pada umumnya, Dol lebih banyak menghabiskan waktu siangnya untuk tidur.

Suatu hari, Dol tidak terlihat selama dua hari. Mangkuk pakan dan minuman yang kusiapkan untuknya juga masih utuh. Aku mencari di sekeliling rumah sembari terus memanggil-manggil namanya. Biasanya, Dol akan langsung menghampiri jika mendengar suaraku. Karena tidak juga muncul, maka aku meyakini kalau dia tidak berada di rumah. Jadi aku mencari keluar. Berkeliling kompleks perumahan dan bertanya pada tetanggaku, barangkali mereka pernah melihat Dol. Sayang, hampir semua tetangga yang kujumpai mengatakan tidak pernah melihatnya. Aku mulai cemas. Dia kucing rumahan manja yang tidak pernah berada di luar rumah. Apakah dia bisa mencari makan sendiri? Aku berharap dia bertemu orang baik yang mau merawatnya. Atau jangan-jangan, sebenarnya Dol hanya sedang jatuh cinta dengan seekor kucing betina yang tinggal jauh dari rumah. Mungkin kelak dia akan pulang bersama anak-anaknya. Ah, semoga Dol baik-baik saja.

Seminggu berlalu. Aku terbangun di pagi hari mendapati Dol tidur di bawah kakiku. Tentu saja aku senang melihatnya pulang. Kupikir Dol tidak akan pernah kembali lagi. Aku mengelus-elus tubuhnya. Bulu-bulu Dol lembab dan rontok. “Kemana saja kamu, hah? Bau sekali,” gerutuku. Aku memutuskan membawanya ke pet shop. Dol butuh mandi.

Hari-hari terlewat. Saat sarapan, mama bercerita kalau Dol sekarang agak aneh. Menurutnya, makannya sedikit. Selain itu, kebiasaannya menguntit orang saat ke dapur sudah tidak pernah lagi terlihat. Dol kini lebih cuek. Dan yang paling mencolok, Dol sudah tidak pernah mengeong. Aku menyimak cerita mama sambil merenung. Sepertinya selama ini aku kurang peka. Tapi mungkin saja Dol begitu karena kemarin sempat menghilang. Tidak ada yang tahu pasti apa yang dilakukan dan dihadapi Dol di luar sana. Bagaimanapun, sejak kecil Dol terbiasa dilayani.

“Astaga, Dol!” teriak mama suatu pagi.

Aku terbangun dan gegas menuju ruang tengah di mana Dol biasa tidur saat siang hari. Aku melihat penampakan seekor tikus tanpa kepala di sisi Dol. Sisa-sisa darah segar masih nampak. Mendadak perutku mual. Mama memanggil papa untuk membuang bangkai tubuh tikus itu.

“Lihat itu, Dol sudah mulai bisa makan sembarangan sekarang. Pantas saja makannya sedikit. Ternyata sudah berani makan tikus,” omel mama pada Dol yang dilampiaskan padaku.

Dol terlihat seperti tidak berdosa. Biasanya, saat mendengar kami marah, Dol akan mendekat dan mengendus-endus kaki seolah sedang meminta maaf. Tapi saat mama marah-marah, Dol diam saja. Matanya justru memandang tajam bergantian ke arah kami. Papa mengambil potongan tubuh tikus itu dengan kresek hitam, mengikatnya kuat lalu membuangnya ke belakang. Gegas aku berlari mengambil pel untuk membersihkan bekas darah yang menempel di lantai. Setelahnya aku duduk di dekat Dol, mengelus-elus tubuhnya sembari mengajaknya bicara.

“Jangan diulangi lagi, ya? Kamu boleh menangkap tikus, tapi hanya untuk bermain-main. Jangan dimakan, oke? Binatang itu jorok, nanti kamu sakit. Mengerti?” Dol merespons ucapanku dengan merebahkan tubuh di dekat kakiku. Aku mengartikan sikapnya itu sebagai ungkapan penyesalan.

Esok pagi, aku bangun lebih awal dari biasanya. Tenggorokanku kering. aku menuju dapur untuk mengambil segelas air dan membawanya ke ruang tengah. Belum sempat aku meminumnya, aku melihat Dol berbaring ditemani tikus tanpa kepala di sampingnya. Spontan aku meletakkan gelasku begitu saja di meja. Aku mengambil kresek dan mendekat ke arah Dol. Meski jijik, aku memaksakan diriku untuk mengambil tubuh tikus itu dengan kresek, membungkusnya rapat-rapat, lalu membuangnya ke tong sampah belakang rumah. Setelah itu aku kembali masuk dan mengambil alat pel untuk membersihkan ceceran darah segar yang tertinggal.

“Ya Tuhan, kenapa kamu makan kepala tikus lagi? Untung mama belum bangun. Kalau tidak, habis kita kena omelannya.” Dol tidak bereaksi. Dia hanya duduk dan melihatku.

Sejak saat itu, aku sering mendapati bangkai tikus tanpa kepala di ruang tengah. Setiap pagi aku harus berpacu dengan waktu agar bisa membereskan kekacauan itu sebelum mama bangun. Aku menjadi sering memarahi Dol. Kesal karena dia sekarang memiliki kebiasaan buruk. Selama ini aku merawatnya dengan baik. Memberinya makan makanan bersih, membawanya vaksin, serta rutin memandikannya. Kalau sekarang dia begitu, rasanya aku sendiri jijik. Karena bagiku, tikus binatang kotor, tempat tinggal dan makanannya juga kotor. Apa jadinya kalau Dol memakannya?

Sepulang kuliah, aku mencium aroma tidak sedap saat masuk ke rumah. Bersama mama, aku mencari sumber bau itu.

“Ada cicak mati kali ya?” tebak mama.

Aromanya memang tidak menyengat, jadi sepertinya bukan berasal dari bangkai binatang besar. Namun karena hanya lamat-lamat itulah, kami menjadi kesulitan mencari di mana letak sumber masalahnya. Mama memintaku membuang sampah. Berharap jika sampah di dalam rumah sudah dikeluarkan, mungkin saja baunya hilang.

Aku menuju kebun belakang. Bau busuk mulai tercium. Aku berjalan lebih jauh menuju pojokan. Dol meringkuk di dekat pagar. Aku terkejut, mengira Dol telah mati. Dengan menahan napas karena bau semakin menyengat, aku berlari ke arahnya. Dol bangkit dan menggeram dengan suara mengerikan. Semakin aku mendekat, Dol mengeong keras. Dan, betapa terkejutnya aku saat itu. Aku melihat pemandangan kepala tikus berserak di lubang tanah. Dengan mengabaikan rasa takut dan jijik, segera aku meraih tubuh Dol untuk membawanya masuk ke rumah. Beruntung, Dol tidak berontak.

Aku menceritakan kepada mama apa yang kulihat di belakang rumah. Rupanya selama ini Dol tidak memakan kepala tikus. Entah apa yang ada di pikirannya. Untuk apa coba selama ini dia melakukan itu? Mama akhirnya memberikan opsi padaku untuk membeli kandang dan mengurung Dol di sana. Karena aku juga tidak ingin Dol membuat masalah lagi, aku menuruti usul mama.

Malam hari, rupanya Dol kembali berulah. Kami dibuat tidak bisa tidur semalaman karena Dol terus saja mengeong sembari mencakar-cakar kandangnya. Akibatnya, mama dan papa memintaku untuk menyerahkan Dol agar diadopsi orang lain saja. Rasanya sedih, tapi aku juga tidak bisa berbuat apa-apa. Kami sudah kebingungan bagaimana menghadapinya. Jadi, aku memutuskan menghubungi temanku. Dia seorang dokter hewan. Sejak saat itu, jika aku kangen pada Dol, maka aku akan ke pet shop milik temanku itu. Meski sikap Dol sudah benar-benar berubah, seolah tidak lagi mengenaliku, aku telah memastikan dirinya aman di rumah barunya. Setidaknya hal itu bisa membuatku merasa tidak begitu berdosa padanya.***

Sal Salbilah

Perempuan biasa yang suka melamun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *