Curhat

Permainan Favorit

Curhat: Lintani Noor

Hari ini anakku mendapat tugas sekolah dari guru kelasnya untuk melakukan wawancara kepada orangtua tentang permainan yang biasa dimainkan ketika sekolah dulu. Ada beberapa poin pertanyaan yang sudah ditentukan, jadi anakku hanya membacakannya saja.

Pertanyaan pertama, aku diminta menyebutkan tiga permainan yang biasa kumainkan bersama teman-teman saat SD. Aku menjawab: gobak sodor, lompat tali, dan kasti. Anakku mencatat di bukunya.

“Mengapa Ibu suka memainkan permainan itu? Sebutkan satu saja alasannya!” tanya anakku lagi.

Aku mencoba mengingat-ingat masa kecil dulu. “Soalnya menyenangkan banget. Ibu bisa seru-seruan dengan teman-teman. Mengatur strategi, kerja tim, dan tentu saja sehat, karena sudah pasti berkeringat,” jawabku yang disambut protes dari anakku. Menurutnya aku terlalu cepat bicara sehingga membuatnya kesulitan menuliskan di buku catatan. Akhirnya aku mengulang jawabanku dengan pelan-pelan.

“Pertanyaan terakhir. Kapan biasanya Ibu memainkan permainan itu?”

“Saat istirahat sekolah, atau sore hari sepulang sekolah,” jawabku.

Anakku mengangguk-angguk senang karena tugasnya selesai. Setelah memberesi buku dan alat tulis, dia menghampiriku lagi dan minta dijelaskan tentang permainan lompat tali. Katanya kalau kasti dan gobak sodor, di sekolah saat olahraga dia sudah pernah memainkannya. Aku menjelaskan dengan kalimat-kalimat yang kemungkinan mudah dimengerti. Namun karena memang sulit ditangkap, aku membuka Youtube dan memperlihatkan kepadanya.

“Kapan-kapan aku diajari, ya, Bu?” sahut anakku.

“Siap. Besok ibu beli karetnya dulu ya, biar kita bisa main bareng. Memangnya Kakak belum pernah memainkannya sama teman-teman?”

Anakku menggeleng.

Tidak lama terdengar salam dari arah pintu. Anakku berlari menyambut ayahnya yang baru saja pulang. Dia muncul bersama ayahnya sembari menenteng bungkusan martabak manis cokelat keju kesukaannya. Tak sabar dia ingin segera menikmatinya.

Usai suamiku mandi, dia menyusul kami ke meja makan. Turut menikmati martabak manis yang memang sengaja disisihkan untuknya sedari awal. Anakku menceritakan ulang perihal tugas yang tadi sudah dikerjakan bersamaku. Dia menanyakan ulang kepada suamiku, sekadar ingin tahu.

“Ayah dulu suka main kelereng. Ayah tuh jagonya. Banyak sekali koleksi kelereng ayah waktu kecil dulu,” jawab suamiku semangat.

“Ayah nggak suka main roblox?” tanya anakku.

“Waktu ayah sama ibu kecil dulu belum ada HP, jadi kalau main sama teman-teman pasti di luar rumah. Kadang di lapangan, atau kebun luas milik orang,” jawab suamiku panjang. Ia masih melanjutkan lagi dengan menceritakan beberapa permainan masa kecilnya yang lain. Tampak anakku memerhatikan dengan asyik. Hingga akhirnya suamiku mulai usil dengan menyebut “jelangkung”. Tentu saja anakku semakin dibuatnya penasaran.

Mulailah suamiku bercerita dengan suara yang sengaja dibuat pelan dan rendah. Aku melotot menatap suamiku, memberinya isyarat untuk tidak perlu membahasnya terlalu dalam. Aku khawatir ceritanya akan membuat anaknya malah sulit tidur nanti.

Tapi memang suamiku suka usil, melihat anaknya terlihat tidak takut dan penasaran, dia semakin semangat bercerita. Hingga akhirnya aku yang memutuskan untuk mengajak anakku tidur karena jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Meski sempat dibalas dengan bibir manyun anakku, namun aku berhasil membujuknya untuk menurut.

Di tempat tidur, aku sedikit kewalahan karena anakku masih saja mengingat cerita ayahnya. Banyak hal yaang membuatnya masih penasaran. Beralasan kalau aku tidak pernah mengetahui atau melakukan permainan itu, anakku menyerah dan terlelap tidak lama kemudian.

Aku kembali keluar dan menyusul suamiku di meja makan. Dia baru saja menyelesaikan makan malamnya. Sembari mencuci piring dan gelas kotor yang baru saja digunakannya, aku mengatakan pada suamiku agar tidak lagi membahas permainan-permainan mistis begitu. Hal itu dijawab dengan tawa menyebalkan dari bibirnya

“Aku kan cuma bercanda. Lagipula anakmu semangat sekali dengarnya,” katanya.

Aku duduk di kursi samping suamiku, mencomot martabak manis yang tersisa satu, lalu memakannya. Kami berbincang kembali soal permainan-permainan kecil kami dulu. Sejenak aku terlupa dengan kekesalanku sebelumnya. Larut dalam nostalgia masa kecil.

“Aku pernah diajak maling mangga sepulang sekolah. Aku yang kebagian menampung mangga-mangga curian itu di tas. Sering tanpa sengaja ada ulat ikut masuk ke tasku. Menyebalkan!” kisahku.

Suamiku menimpali dengan cerita kenakalan saat ia kecil dulu. Katanya dia pernah jatuh saat mencuri jambu milik tetangga. Akibatnya, tangannya patah dan harus menggunakan gips selama beberapa minggu. Dan itu membuatnya tersiksa karena tidak bisa bebas bergerak dan bermain bersama teman-temannya.

Aku merenung. Ternyata waktu terlewat dengan cepat. Kini zaman benar-benar sudah berubah. Menyenangkan sekali jika mengingat masa-masa kecil dulu. Meski hidup tanpa HP, kami tidak pernah terlambat jika sudah membuat janji temu untuk bermain. Saat melihat jangka di rak, aku mengambilnya.

“Kalau jelangkung model ini aku pernah memainkannya,” kataku sembari menunjukkan jangka di depan wajah suamiku. “Ayo main!”

Aku meraih kertas, membuat lingkaran di kertas itu dengan jangka, lalu menuliskan alfabet dari A sampai Z di dalamnya. Lalu aku mengambil tutup pulpen yang akan kuletakkan di atas jangka sebagai pegangan saat mulai permainannya nanti.

Suamiku terlihat memperhatikanku. Meski tidak pernah melakukan, tapi dia pernah melihat teman-teman perempuan di kelasnya sering memainkannya untuk mencari tahu siapa laki-laki yang sedang disukai mereka saat itu.

Aku mulai membacakan mantra untuk memanggil roh sebanyak tiga kali.

“Siapa namamu?” tanyaku pada jangka. Tidak lama jangka itu berputar, menunjuk pada beberapa huruf dan membentuk satu nama: Sinta.

“Dari mana asalmu?” tanyaku lagi. Jangka kembali berputar dan menunjuk huruf-huruf yang menyusun kata: Semarang.

Aku kembali mengajukan beberapa pertanyaan pada roh yang mengisi jangka. Termasuk siapa perempuan yang dicintai suamiku saat ini. Suamiku nyengir keheranan saat susunan huruf memperlihatkan namaku.

“Ah, aku nggak percaya. Pasti tanganmu sengaja kau arahkan sesuai maumu,” protes suamiku.

Aku menggeleng dan memintanya bertanya sesuatu yang mungkin aku tidak tahu. Lalu dia menanyakan siapa nama guru matematikanya saat kelas satu SMA. Saat jangka menunjukkan nama yang sesuai dengan nama gurunya, suamiku mulai tertarik. Dia mulai usil menanyakan terkait siapa cinta pertamanya, siapa cinta pertamaku, juga siapa saja yang pernah menjadi pacarku.

Ketika suamiku bertanya siapa lelaki yang benar-benar kucintai, aku agak terkejut, hingga tanpa sengaja pegangan tutup pulpen di tanganku terlepas. Jatuhlah jangkanya di kertas itu. Permainan akhirnya selesai.

Suamiku sempat ngomel-ngomel dan minta permainannya diulang kembali. Tapi aku menolak, mengatakan padanya kalau aku khawatir akan membuatnya ketagihan dengan permainan yang sebelumnya dia anggap konyol itu. Suamiku tertawa renyah, lalu memelukku. Aku membalas pelukannya. Kurasa, aku tidak akan pernah memainkan permainan itu lagi nanti.***

Lintani Noor

Perempuan biasa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *