Puisi

Puisi Eko Setyawan

Membincangkan dan Mendengar Kitaro: Theme from Silk Road

kau susuri gerbang kematian.

diiringi tangis, juga doa-doa,

lewat bau dupa.

seseorang menghidu bau kehilangan,

seorang yang lain menenangkan,

dan seseorang lagi memalingkan muka

sekaligus mengamini (karena benci?).

akan ada raung sirine

mengiringi kepergian yang tak tahu kapan kembali.

kembali, barangkali sepiring kwetiau atau  mapo doufu di mangkukmu

dan kau lupa melahapnya

sebelum benar-benar pergi.

tibalah waktu kremasi.

di krematorium, segala yang kau punya, segala yang kau miliki,

lenyap.

terbakarlah tubuhmu menjelma abu.

—“kapan waktu terbaik reinkarnasi?” tanyamu.

barangkali ketika karma tak lagi menimpamu.

hingga akhirnya, kau tahu orang-orang yang menangisi, mencintai,

dan membencimu di Thiong Ting hingga persemayaman terakhirmu.

—“mengapa?”

sebab, karma adalah bom waktu.

meledak ketika kau menyadari bahwa kematianmu

tak lain adalah hal yang paling kau tunggu.

setelahnya, hanya tinggal kesedihan semata.

kepergianmu menyisakan duka.

tapi kesendirianmu di ‘dunia lain’

ialah kedukaan sesungguhnya.

matimu, menyusuri jalan ini.

hanya ada sunyi. hanya ada sepi.

(Karanganyar, 2021)


Membincangkan Kemalasan yang Kian Akrab

pernah kujumpai kau dalam lelap.

ketika kau bermata puisi dan bersuara minor.

seperti Buddha tidur,

tak dapat kubaca apa pun

selain puisi-puisi yang kulihat

dan suara yang jauh.

sama halnya di bukit Khao Kala,

tak ada yang benar-benar mustahil.

sebab manusia tak selamanya bicara tentang manusia

tidur tak ubahnya upaya telepati

antara aku, kau, dan ‘ia yang lain’.

atau, sebatas alasan

agar tak terjaga tiba-tiba.

kemalasan kita,

tak terlihat dan tak bernada.

tapi, aku masih setia mengeja

dan tentu, mendengar apa-apa yang tak bersuara.

mimpiku, mimpi paling lengkap

ketika kudapati kau membaca puisi

dan berkhotbah ihwal cinta,

juga pernikahan yang biasa-biasa saja.

(Solo, 2019)


Membincangkan Perpisahan

kata-kata belum selesai disusun

ketika kereta membawamu pergi.

aku memanggilmu,

punggung menjauh yang menjawabku.

ia berkata ‘cinta’

tapi tak tahu cinta macam apa

yang dikatakannya.

semula, kau meminta pergi

tapi pergi, bagiku, ialah memecah waktu.

menjadi remah jumpa

juga jadi air mata setelahnya.

di peron, seekor burung berkicau

merapal namamu.

tanpa nada. tanpa suara.

kau telanjur pergi,

kata cinta yang harusnya kumaklumi

tiba-tiba jadi belati.

mencacah ingatan.

menjadi debu. menjadi batu.

(Karanganyar, 2020)


Membincangkan Pernikahan

sejak orang-orang mulai menyusun rencana pernikahan.

semenjak mereka menginginkan.

aku memilih memejamkan mata.

            : untuk tidur lebih awal.

bahwa pernikahan nisbi sebuah agama.

kita bisa saja memeluknya.

namun tak bisa memaksa mengamini.

kelak suatu pagi,

aku dan kau

pergi ke tempat di mana kau biasa memanjatkan doa.

kau memegang kitab suci dan membacakannya untukku.

di hadapan Tuhanmu, kau merapalkan untukku:

Tuhan, ampunilah segala perbedaan.

lantas kusampaikan pada Tuhan,

kami kelaparan

: pelukan.

(Karanganyar, 2018)


Membincangkan Rencana

yang tak dapat kita tata dengan baik adalah rencana.

sebab setiap detiknya, seperti jantung yang bekerja.

berhenti sebentar, mati akan mengunjungi.

sebelum benar-benar kau pergi,

lipatlah kedua lenganmu.

di sana, telah kau rengkuh aku.

mengapa kita masih saja bercakap?

keputusan bukan keputusasaan.

kita berbicara dan masing-masing dari kita

bebas bersuara. dan tentu, bertukar isi kepala ialah jawabnya.

langkahmu langkah yang limbung.

seperti lelaki tua yang mabuk.

anggur merah, jamur, dan sedikit obat sakit kepala

tak bisa menyelamatkan perjalanan kita.

sebab hanya pikiran kita, dan mungkin, cerita-cerita

yang benar-benar mampu memperbaiki keadaan.

tak ada salahnya mengumandangkan omong kosong.

sebab dari sana, cerita-cerita bermula.

kelak, rencana yang kita susun

tak selesai di kata rencana.

(Karanganyar, 2020)


Membincangkan Mimpi

langit, kadang jadi laut.

menampung gelisah sekaligus amarah.

seseorang datang dari masa depan berseru,

“gantungkan cita-citamu setinggi langit!”

seseorang itu lupa bahwa Tuhan ada di sana.

cita-cita, hanya dapat terwujud

jika kau kenal Tuhan.

Ia telah mengenalimu

sebelum kau ada.

apa kau demikian adanya?

mimpimu menggulung.

mendamparkan ke tepian.

takdir, barangkali air pasang.

ia menyisihkanmu.

agar kau tahu,

mimpimu ialah aku, kau,

atau sesuatu yang sebenarnya

tak pernah kau kenali sebelumnya.

(Karanganyar, 2020)


Membincangkan Suara di Ponselmu

“lekas pulang.

ibu sudah memasak makanan kesukaanmu.”

suara itu masuk ke ponselmu.

di kepalamu, meja makan menanti kedatanganmu.

nasi hangat, sayur bayam,

juga sepotong ingatan yang memudar.

kau mengambil sepiring nasi.

kau mengingat bentang sawah

dan di sana masa kecilmu kau habiskan.

kau menuang kuah sayur bayam.

tapi kau tenggelam.

dalam. semakin dalam.

tenggelam pada hati ibumu.

kau membaca ingatan yang tersisa.

ibumu, telah lama tiada.

(Karanganyar, 2020)


Membincangkan Teka-Teki

kau melipat puisi

menjadi subuh.

di langit,

cahaya tiba dibalut suara.

rumah kami porak-poranda.

seseorang, atau beberapa,

mengirim bencana di halaman kami.

kami memungut air mata yang tumpah.

kau memungut tanah.

mereka menjanjikan sumpah serapah.

di langit kami,

cahaya bisa saja jadi neraka.

malaikat tiba begitu terlambat.

rumah kami kadung musnah.

di halaman rumah kami,

Tuhan sedang menyusun teka-teki.

(Karanganyar, 2020)


Membincangkan Barzanji

: suara anak-anak Palestina

pernah kudengar gema di langit

dan setelahnya, kembang api mekar.

seketika seluruhnya sirna.

rumah, mimpi, dan kebahagiaan perlahan susut.

runtuh dan gugur satu demi satu.

kuucap dan kurapal doa. tak henti-henti.

tiap detik, tiap menit, tiap detak, dan tiap embusan napas ini.

agar di sini, di tanah ini, kami bisa berbahagia.

kebahagiaan, adalah ketika kau diberi harapan

dan apa yang mereka beri bukan semata janji.

kadang, harapan hanya semata sesaat legawa,

tapi di hari berikutnya, mimpi itu pupus dan kembang api, lagi dan lagi menghujani.

sebab di sini, di tanah ini, ego jauh lebih penting daripada nyawa kami.

mereka menyerukan perdamaian

diiringi dengan mesiu yang terlontar dari senapan.

mereka menyerukan kekerabatan

diiringi kehancuran yang sengaja mereka kirimkan.

tapi di sini, kami tak menanam benci.

sebab hanya Allah yang berhak menghakimi.

hanya doa dan pinta yang tak ada jeda

tiap detik, tiap menit, dari bibir dan hati ini.

juga tak henti kami lafalkan barzanji.

sebab hanya Allah yang mampu melindungi dan menyelamatkan kami.

(Karanganyar, 2021)


Membincangkan Kunjungan Batara Kala

1/

seandainya bencana itu tidak datang, Kunti

barangkali langit akan tetap bergema dan kegelisahan-kegelisahan

yang menyelimutimu tak akan sampai membuatmu putus asa.

sebab dalam kebencian yang telanjur menyebar,

semua harapan yang telah kau bangun pupus.

Batara Kala telanjur tiba.

ia datang entah sebagai hukuman atau ujian.

keduanya tak ada beda.

seluruhnya membuat sengsara.

2/

perang, juga pagebluk,

adalah bentuk lain dari doa yang gagal terjawab.

Kuru telah jadi ladang perang.

kunjungan Batara Kala menjelma kutukan.

ia tiba sebagai wabah yang menjalar.

dalam hatimu, semula ialah taman bunga.

anak-anakmu hidup dan tumbuh di dalamnya.

tapi tak berselang lama, bunga-bunga di hatimu layu.

sebab tabiat anak-anak yang tak sesuai kehendakmu.

—pageblug mayangkara murup mulat-mulat.

3/

kegelisahan bukan hanya semata dalam dirimu, Kunti.

: hati Durna tak jauh beda.

kedamaian pada dirinya menjelma api.

disulut perangai murid-murid yang tak tahu diri.

kini,

kenyataan harus kau terima.

sebab, di seberang sana,

serapah dilafalkan agar kematian lekas datang.

sementara di sini, di tanah yang kau pijak, tak jauh beda,

doa dirangkai sebab benci telanjur tumbuh di hati.

agar kelak, Pandawa berjaya dan Kurawa sirna.

—apakah maksud kedatanganmu Batara Kala?

4/

pertanyaan, adalah jawaban dari tak sempurnanya doa.

dari sana, pertanyaan yang terlontar ialah jawaban itu sendiri.

jawaban tak ubahnya kepingan teka-teki.

bukan hanya kau yang mengajukan tanya, Kunti, Durna juga

: ia tak paham kenapa.

Pandawa dan Kurawa,

tak ubahnya seperti burung yang tak mengenali jalan pulang.

selepas kunjungan Batara Kala.

mereka lupa muasalnya.

lantas Kurusetra membara.

Batara Kala telanjur tiba,

perang dan pagebluk kini nyata di depan mata.

Kunti, kau harus ikhlas untuk seluruhnya.

(Karanganyar, 2021)


Eko setyawan, lahir di Karanganyar, 22 September. Mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Buku yang telah terbit Merindukan Kepulangan (2017), Harusnya, Tak Ada yang Boleh Bersedih di Antara Kita (2020), & Mengunjungi Janabijana (2020). Buku puisi Mengunjungi Janabijana memperoleh penghargaan Prasidatama 2021 dari Balai Bahasa Jawa Tengah kategori Buku Antologi Puisi Terbaik. Memperoleh penghargaan Insan Sastra UNS Surakarta 2018, serta memenangkan beberapa lomba penulisan puisi dan cerpen. Karya-karyanya termuat di media massa baik lokal maupun nasional.

Puisi

Puisi Nafi Abdillah

Tasbih yang Mengepung Kiai As’ad

Usai dawuh Kiai Kholil yang menggetarkan tembok-tembok tempat segala yang tinggal,

butir-butir wirid yang sering berputar dari atau pada wajah-wajah yang serba kias,

mengepung lehermu juga.

“tolong sampeyan antarkan ke tanah Jombang!” begitu kira-kira.

***

Bukankah untuk mencapai haq, kau harus menjadi basmallah dahulu?

Namun, kau tak perlu memahami apa pun, meski itu bukan berarti tak harus.

Sebab napas yang kauembus bukan dari gerak udara dalam parumu.

Sebab kata yang kaulontar bukan dari endap akalmu.

Kau memerlukan wewangian yang tidak terendus oleh hidungmu

sekaligus tanpa memikirkan jenis-jenis pohon yang berbiak.

Barangkali, itu bukanlah berasal dari daftar kitab yang perlu kaubaca.

Tugasmu ialah menjaga tangan santun agar adab tetap seperti bulir air mata

ketika kau merasa berdosa atau kelewat bahagia.

Bahkan, di kedalamanmu telah kaukungkum seluruh keredak api dan perigi.

Semuanya mungkin kaumaksudkan agar tidak ada yang tiris ke dalam makrifatmu.

***

Berderaplah melebihi batas, menjauhi riam,

perasaan janggal, dan batu-batu besar Gunung Geger.

Sementara denting waktu sama halnya wirid jantungmu

yang kerap lupa menyumbat celah-celah cahaya,

mengakibatkan jari-jarimu tak berani menghirup misik

walau sekelebat, apalagi menyentuh.

Ujian, barangkali adalah makanan siap saji bagi perut-perut setan.

Namun sejak awal telah tak kaudengarkan lenguh-peluh

yang sengaja mereka serak-serakkan untuk mengoyak imanmu.

Hinggalah segala lengang terasa lekat begitu saja seperti digulung oleh waktu.

Di atas latar Teburing, tetes keringatmu adalah ritus bagi senyum merdu Kiai Hasyim.

Leher tundukmu berlaku sebagai isyarat serta hal terakhir sebelum pamitmu ialah,

“yaa jabbar, yaa jabbar, yaa jabbar, yaa qohhar, yaa qohhar, yaa qohhar.”


Bukan Mbah Moga yang Menundukkan Banjir

/1/

Di rusuk kali Paingan, saban hari kehambaan lelaki sepuh itu

dihabisi oleh tangan-tangan usia yang cukup fasih

menanggalkan pujian orang ke dinding-dinding bambunya

yang dianyam dari napas-napas Tuhan. Ia selalu yakin

bahwa segala yang liuk-ceruk-merasuk adalah rahmat.

Ia telah sampai pada maqam di mana tidak ditemukan tafsir penolakan.

Di darahnya, penuh doa yang pasrah seperti rigen petani tembakau

yang berharap dirinya tak rapuh di musim hujan.

Yang ia pahami adalah menjauhkan doa dari fungsi tetes pahala

atau imbalan yang tualang ke tegak gubuknya.

Jauh-jauh hari telah ia betulkan suara-suara serak hati

sebagai rayuan kepada Kekasihnya.

Semua ini tidak diartikan sebagai permintaan,

namun mirip seperti kerinduan Kanjeng Nabi

pada suara lembut Bilal yang tak lagi menyentuh telinganya lebih dari 40 hari.

Sepotong cahaya mulai bermekaran dari dalam ruh

laksana sayap Jibril yang menghalau arak-arakan awan mendung

sewaktu pamitnya Nabi. Segala tafsir mengenai jasadnya,

semata-mata adalah benteng agar benang-benang tipis menuju langit tidak terputus.

Namun, ia benar-benar tak berani memasang dirinya

di tengah-tengah gerombolan kepala yang menenteng sekerat tanda tanya.

Sebab baginya, pengakuan adalah noktah-noktah bencana.

/2/

Malam telah lamat-lamat membelalakkan sepenggal amarah yang berahi.

Tidak banyak yang berani lekat-lekat menatap,

meski telah dijanjikan segala perlindungan:

keris keramat; jubah kadim; songkok masyhur; dan jiwa yang maksum.

Semenjak itu, telah sengaja ia kaburkan matanya

terhadap segala poros yang menyamar.

Baginya, surga bukanlah titik tumpu.

Begitu pula, neraka jauh dari lumbung rasa takut dalam dirinya.

Jika sudah cinta, apakah masih tak mampu menikmati seluruh tangis

atau kobaran api yang bakal membungkam segala gelak?

/3/

Hujan begitu dini menggelar pasar malam. Kali Paingan tak lagi mampu memangku.

Namun, di rusuk Kali Paingan lelaki sepuh itu tetap meleburkan

segala yang telah dipasrahkan meski akan disentuh taring-taring air.

Banjir menjadi sekawanan anak kecil yang tak berani melawan orang tua.

Syahdan, seperti Musa membelah lautan, ia menembus lorong-lorong senyap

yang khusus dinubuatkan untuknya.


Sabdo Palon, Noyogenggong

Usai tubuh menjelma ringkik Sembrani yang tak kasat,

lekaslah kami mengabdi pada roh-roh moyang

tanpa harus berpindah dari ladang berenuk

selama mestika belum terbata mendengungkan sabda-sabda.

Dawuhmu, Prabu,

sudah tak dianggap sebatas perkataan di ujung mata tombak Majapahit.

Sebab setelah ini, tak ada yang lebih luhur lagi di antara asap dan cahaya lilin

serta dada-dada yang tertancap oleh tombak adalah segala tunduk yang taksa. 

Meski dari balik busung dadamu

selalu ada nyala api yang luber menyembulkan berahi atau baur arah angin

tetap saja tak sudi kauminum derai-derai darah dari mata airmu sendiri.

Tapi percayalah Prabu, tak ada yang benar-benar merasakan kematian.

Jika itu berarti kau harus menenggelamkan roh dan jasadmu,

kami patuh tanpa harus melebarkan nestapa.

Sebab di tanah-tanah yang lebih subur

dari tanah yang diciptakan Sang Hyang Wenang,

sejatinya nelangsa menolak dilahirkan.

Saat itu, berawal dari khianat yang terkapai-kapai ke poros tirta amertha bumi

hingga Adipati mengatupkan gendang telinga pada bau-bau darahmu,

tetapi kau memilih bersejingkat dari dalam corong senyap ke arah Cetha

meninggalkan segala derap yang kabur dan suara-suara asing di tengah desa.

Berberita kewaskitaan Kanjeng Sunan,

diajaknya kau memangku kembali tanah-tanah moyang.

Namun tetap tak ada yang bergetar kecuali jiwa-jiwa

yang berlayar menuju telaga penahbisan.


Gajah Mada dan Borok-borok yang Niscaya

(1)

Usai tetes darah yang sengaja dibiarkan tumpah

hingga menjelma riwayat sebagai bibit bagi anak turunmu

hanya dianggap sebatas mestika yang karat,

tetap tak sudi kau keluarkan keredak api lewat sumbumu.

“Lebih baik kuteguk darahku daripada kukotori dengan mata airku sendiri,” katamu.

Telah kaupatahkan segala murka yang pelan-pelan mulai bongak pada tirta amartamu.

Kau selalu bersikeras mendekap tulang-tulang Majapahit.

(2)

Semua berawal dari pada rapal yang diadu domba,

yang terus-menerus melekat di tiap-tiap laku,

menjadikan bau-bau mistik tak lagi lapang,

mengakibatkan pucuk-pucuk keris

kelu mendengungkan sabda sebagai usaha mengasah perlawanan.

Seluruh kerajaan merasa tertimpa tempayan nanah

meski kehendak tak pernah melengking dari kidung seluruh arah mata angin.

Namun kau tetap dibentur-benturkan oleh ucapan nanar

yang menyat dari atau ke kecipak waduk Gajahmungkur.

(3)

Setelah Bubat yang tak diinginkan oleh sesiapa

dan belalak mata yang meninggalkan noktah-noktah bencana,

jiwamu mengerucut, merajut benang-benang tipis menuju niskala,

memasrahkan jasad dan rohmu lebur:

lebih tipis dari asap, lebih sunyi dari bisikan.


Menemukan Jati Alas di Selatan

Kalam langit yang tertiup membawa kakinya memijak tanah-tanah Pamantingan.

Gegaslah ia bersila dikelilingi potongan-potongan titah.

Pagi belum usai mengepulkan asap dari kobaran-kobaran api

yang menguar dari dalam celah-celah jati alas.

Sedangkan malam serupa kematian yang sempit dan tak tanggal oleh kebiri waktu.

Kanjeng Sunan meleburkan jasad sebagai tirakat

melewati benang-benang tipis menuju Sang Hyang Agung.

Sebab, resah dan tulah hanyalah sebatas berenuk yang busuk.

Hingga diutuslah Cemara Tunggal menggetarkan suara-suara serak

dari tempat lengang pun juga tak lekat.

“Wahai Kanjeng Sunan Kalijaga, kembalilah menuju selatan.”

Derap-derap langkah dan napas-napas malam tumpah juga pada Gunung Pati.

Di tangan kewaskitaan Kanjeng Sunan, kera-kera mampu mengaburkan diri

dari belalak sepasang mata dan amarah yang berahi.

Sebelum  waktu mencacah jiwa, batang-batang jati telah patuh pada kecup doa.

Dengan detak-detak tangan yang terdengar parau

dan lenguh-peluh yang diasingkan dari tubuh-tubuh, 

jati alas berhasil menancap sebagai saka guru.


Dengan Mengenakan Namamu, Muhammadku

Namamu mendengung dalam pengasingan.

Muasal namamu adalah pakaian bagi jiwa-jiwa telanjang.

Kau kampung halaman yang dirindukan oleh perantau nanar

sebab pulang terbuat dari jarak dan gelisah.

Dari namamu, semesta mampu merentangkan lengan

dan Jibril sanggup mengepakkan sayap.

Setelahmu, tubuh-tubuh memerlukan bumi.

Menampung tetes darah dan deras hujan yang mengguyur mata.

Telah kau siapkan ladang-ladang subur sebagai tempat bercocok tanam.

Tapi besi-besi lebih suka aku kibarkan di atas tanah-tanah basah.

Memang semula berawal dari badai kegembiraan

yang datang  bergantian di musim-musim cerah.

Namun cuaca telah berpindah haluan.

Maka saat ini, yang aku perlukan sebagai arah kembali adalah dirimu.


Di Balik Yarmuk

:Khawlah binti Azwar

Dari Yarmuk, matamu mata pisau melewati batang-batang tamr

dan butir-butir pasir menuju ke sebuah muara di ujung jejak-jejak kaki.

Di belakang punggung mereka, kaurangkai napas-napas

menjadi doa yang berarak memenuhi mega-mega.

Selalu kautorehkan percik-percik air terjun

dari dalam matamu ke atas bebatuan keras

sebelum luka menemu cahaya fajar.

Sebab Dhirar, kau harus merelakan tubuhmu bergetar oleh sentuhan cahaya matahari.

Mungkin kau tak pernah dianggap sebagai gema di kedalaman gua Hasa.

Sebab, di depan zirah orang-orang Romawi telah kautandai arah mata angin

yang menjadi titik temu antara darah dan nanah.

Namamu, seperti tangga langit yang seluruhnya berupa nyanyian serak

hingga berjatuhan air mata malaikat menjadi danau-danau kecil di tengah gurun.

Maka, angin menggiring ringkik kuda menuju getar-gemetar benteng Byzantium.

Tak pernah kau mengerang meski kaudengar deru-deru lonceng besar

bisa mengatupkan gendang telinga.

“Wahai putri-putri Himyar, keturunan-keturunan Thubba’…”

Suaramu merubah pucuk-pucuk pedang hingga kastil menggigil sekali lagi.


Surat ke 18 yang Jatuh ke Bumi

/Haq/

Adakah yang lebih melegakan daripada patahku

dari ranting-ranting Arasy menuju Jumat yang mengerdilkan seluruh kabar haru?

Atas derma-Nya, aku lemparkan dusta jauh dari hadapmu,

kutiupkan wirid-wirid haq ke dalam semesta dirimu.

/Rida/

Akulah pelita yang membimbit potongan-potongan titah

di tengah daur yang payah, di antara masa yang pasrah.

Tuntunlah kepalamu agar terbenam dalam karib doamu,

sebab akulah pemanjang cahaya yang menyertaimu.

/Tobat/

Umpama kauziarahi Al-Aqsa dan Al-Haram,

dan telapakmu bagai tertancap batang-batang tamr dan duri-duri bidara,

biarkan lengan-lenganku yang meredam luka dan dendam

sebab di telaga penahbisan, telah kusertakan doa untuk pengampunan-Nya.

/Batil/

Bersama Al-Baqarah, kudirikan benteng Rumi mengelilingi istanamu

sebagai penghalau ketika hasut dan tamak berusaha mencengkeram tengkukmu.

Maka, kumandangkan lafalku pada tiap embus napas yang membentuk hidup.

Peliharalah zikirku dalam tiap detak jantung sebelum mata benar-benar terkatup.

/Cahaya/

Usai deras doamu yang khidmat dan luhur

kubentangkan jalan panjang melewati saf-saf langit yang tafakur.

Akulah persaksianmu, maka, tak usahlah khawatir

walau Malaikat Israfil meniup sangkakala terakhir.


Sebelum Tiba di Bulan-bulan Janggal

Daun malam berkata dengan busur panah yang membidik mata.

Di antara langit yang telanjang, bau-bau kematian adalah mata pisau.

Kehidupan adalah rempah-rempah yang telah menjadi hidangan langit.

Sedang aku hidup di dapur dengan kayu-kayu yang belum dibakar.

Suatu kali aku menyusuri hutan-hutan gelap

dengan langkah yang tidak bergerak.

Hanya jejak-jejak waktu yang terdengar parau.

Aku pesakitan sebab gendang telinga mengatup perlahan.

Hingga tibalah aku di hadapan unggun api,

bau-bau kematian luber, melelehi ruh-ruh yang memar.

Daun-daun malam mengendus dari permukaan

dan menggantungkan napas-napas.

Dituntunnya aku ke telaga penahbisan.


Ketika Para Perindu Duduk di Suatu Malam

Terang maupun gelap adalah jalan-jalan para perindu

yang tidak pernah abai dari fitrah alam semesta.

Rindu adalah kobaran api yang menjalar hingga terkoyak jiwa-jiwa sunyi.

Tapi mereka tidak mengultuskan pengakuan diri.

Oh, Perancang kampung halaman.

Biarlah nyiur seruling para perindu luruh pada pangkuan-Mu,

sebagai bongkahan es yang tidak bisa mencair kecuali sebab titah-Mu.


Sang Penunjuk

:USC

Dingin malam membekuk tubuhku.

Lalu kata-katamu muncul sebagai akar dari pohon,

tumbuh, bercabang, dan berbuah menjadi cahaya pagi.

Kata-katamu terbit dari langit.

Di persimpangan menuju bulan pernuma, ia tidak tenggelam.


Nafi Abdillah, menulis puisi dan cerpen.Seorang pembelajar di Padepokan Sakron dan bergiat pula di Komunitas Sastra Kamar Kata Karanganyar dan Forum Malam Sastra Pandawa. Karya-karyanya pernah tersiar di beberapa media cetak maupun online dan beberapa kali menjuarai ajang perlombaan menulis. Penulis bisa dihubungi melalui surel [email protected] atau akun media sosial Nafi Abdillah.

Puisi

Puisi Joko Rabsodi

Tak Mampu Mengalihkan Perhatian Tuhan

Rey, kita gagal guna menyunting satu kisah

jalan timpang menamatkan tadarus perjumpaan

kita lalui, berulangkali dibenahi tak ubahnya

menyulam petaka dalam tubuh sendiri

sukar dipercaya kita melangkah dalam satu kemungkinan

merubah nasab dari nasib yang diimpikan

menjenguk waktu dari dongeng diary milikmu

empat tahun lama kita mencair persis marie-pierre curie

yang tak tergundahkan

Tak ada yang bisa mengurungkan qada` berjuntai

semangatmu jua tak bakal mampu mengalihkan perhatian

tuhan, kita berhala di tangan ibrahim

terkulai dalam cakaran maut mematikan

Sesal tak perlu kau tambatkan pada sekuntum mawar

engkau pasti mengerti apa makna mawar dalam qoidah 

cinta, ia terlalu banyak meneguk lara

sesampai di istanaNya, ia akan redup dalam goresan cahaya

yang kelud

­­­

Dirimu perempuan paling kusayangi berasa tanda kutip

istimewa bagi hati dan tak bisa dimiliki

panjang perjalanan yang kita lalui tersungkur dalam kabut

bila masih ada maafmu bicaralah di antara kesenyapan mimpi

yang kusediakan, duduklah dekat hati!

sekilas diam atau bercengkerama sekuat tenaga sekalian tertawa

sekeras-kerasnya, sebab ketika fajar terenggut cerita kita tutup

selamanya!

Madura, 30 Agustus 2021


Luka Simbah dalam Peluk

Hilang sudah hasrat memetik bunga di area pipimu

ada kalimat luka simbah dalam pelukku

setahun kita tertahan dalam jarum jam

bergeming di kejauhan

kabar yang kuterima dari sebuah telegram

dirimu telah punya sasana baru

untuk memacu kasih dan meratap senyum

Sejak peninggalanku dari desamu beberapa kurun

kalimat terakhir yang kau pinta, rawatlah rindu

selama persendian waktu tak tentu

araba paghar, bukti yang ditautkan di hadapan tuhan

jangan sekali-kali kau tumpahkan di atas perempuan lain

morse itu yang kukepal hingga detik ini

Melirik potretmu dari pulau kecil yang kubingkai

seakan senapan laras panjang menodong dari belakang

disadap dari instagram seorang teman, dirimu

benar-benar kehilangan akal besar, menjauh ke seberang

melecutkan gusar secemas serangga jalang

pria yang kau pinang adalah peradaban tua yang diikat dendam

menancap kesan sekadar asapan arang

di luar sana, di tanah rantau, aku yang di pingit kâlâkoan

terikat teralis dan hanya mampu

mengulum amanah yang kau tunggakkan

Setelah melumat kebenaran yang tak waras

aku yang katanya kau cintai, harus melepuh 

di tengah kembang api merayakan pesta perkawinan

begitu banyak kejutan menggilis kesucian ritual

perjanjian yang kita pipihkan pada selok kuning keemasan

tak lagi tenteram bersama putar dulang yang kau sepahkan

tivani, andai aku mengerti tentang diriku yang akan hilang

tentu kutolak hari kelahiran, begitu kutahu tulang rusukku

tidak akan pernah melahirkan tubuhmu, pastinya aku tak sanggup

lagi jadi laki-laki

walaupun harus mati hanya iklima yang bisa menemani

menidurkan rintih yang tak pernah kau sadari

suatu saat kau bakal mengerti aku reinkarnasi habil

yang terhalang rindunya sampai babak ini

Madura, 13 September 2021


Biografi Tulang Rusuk

Tak habis pikir bagaimana tuhanku

mencabut tulang rusuk sebelah kiri untuk

merangkai tubuhmu yang segempal itu

alangkah agungnya batin

menyaksikan tuhan bermain-main di lambung kiri

mencalut dada, mengutus maut membongkar segenap rasa

yang sempat kubuka bagi kaum wanita

harus bilang apa pada tuhanku

kenapa tak kucerabut sendiri tulang itu

kutenggelamkan tubuh ke dasar degup

agar rahasia kunikmati penuh sambil menari

di kubang ruh

Otakku melauh ke serat logika

barangkali jawaban tercecar di sana

tak kutemukan apa-apa, sebercak tanya makin bulat

dengan cara apa tuhan merekayasa

wujudmu menjadi gumpalan berahi

– setiap lelaki siap-siap lumpuh

tersesat dalam gerung retorika

kutemui kebingungan luar biasa

tuhan ada-ada saja, kun-Nya menyandarkan

manusia pada kehampaan narasi yang tak asasi

Otakku merauh ke pangkal tasawuf

berupaya dalam hening, menimbun tanya

pada hati yang tak berkata

o, sama tak ada apa-apa, tapi legat tubuh

bisa kusayam dalam kesempurnaan iman

kedangkalan fikir jadi adonan, tuhan kuasa

semesta mulai azali

            –sampai kapan pun aku tak akan bisa apa-apa!

Tak habis pikir engkau mengepul dari sisi rusuk sebelah kiri

pantas tak ada perempuan yang pasrah kuhubungi dan memang

tidak ada yang mau dihubungi

mulai hari ini duduklah di situ dekat tulang rusuk yang kurang satu

agar rantap segala nyeri

sunyi segera terhenti

Madura, 15 September 2021


Rindu di Tengah Peradaban Asing

Meski jarang sekali bertemu

dalam kuntum bunga yang merekah

senyummu yang tak dimiliki setiap wanita

selalu menggoda dinding hati

jarak selisih 10 tahun kiranya jadi seruan

jenjang perbedaan dianggap mengutip bencana

pikirkan sebelum sejarah melewati riwayat musim

sebelum kalam cinta mendefinisikan warnanya

dalam ijab yang kau pahatkan

Radeena, kita diajarkan cara memilih

menentukan masa depan tiada kecemasan

wangi tubuhku yang menghangatkan napasmu

bukan satu alasan lakon adam-hawa akan terjadi lagi

tahun ini

Aku sepakat dengan jiwa-ragamu

berbekal bismillah, harapan tuhan meridhoi

tapi tanah ini memendam sesajen leluhur

keping langit-bumi perlu disuapi harum melati

janur kuning harus melengkung sebagai pemangku

siapa saja yang berkunjung

Tanda tanya selalu kita hinggapi

mengapa upacara di tanah ini begitu dikeramatkan

bahkan persoalan rindu semata mengikuti sirah rasul

selalu berkilang di antara tanggal baik atau buruk

persis dirimu, aku hanya mengangguk diseret

petuah yang tak kukenal asal usulnya

seakan mengaduk logika di tengah peradaban kampung

yang asing

Tanah ini aku berasal

tanah itu pula kamu kembali

sebaiknya kita bungkuk dalam diagram upacara tanah ini

itu saja!

madura, 21 September 2021


Microphone Duka yang Mendalam

Kamis atau mendekati Jumat manis

perempuan desa menjumput matahari ke dalam pusara

tangis hangus diantar azan tandai pertemuan telah usai

magrib bergetar menyambangi kemboja

bekas al-burdah di telinga kanan-kirinya menyerapi

kaki yang makin keras seiring microphone

menyampaikan duka mendalam

Semua berdiri dalam sesengguk tangis

termasuk anak lelakiku yang dibesarkan

tak mampu mengulas

kata-kata telah diganti airmata

Engkau sudah besar sekarang, anakku

pesannya kemarin engkau jangan jadi sikintan

atau semacam legenda batu menangis

perempuan desa itu tak lagi kuat memeluk

bisikkan ke dalam lamunannya dengan segala cinta

yang dialirkan ke rongga napasmu

dialah perempuan yang menjaring matahari di tepi pagi

mengukus bulan tengah malam demi menuntaskan

ikhlasnya padamu

Anakku, perempuan desa itu tentu tak siap berujar

senyumnya tetap mengembang di antara batu nisan

ia mirip toor pekai dalam kisah malala yousafzai

yang meluluhlantakkan

Anakku, kini ia tak ingin diganggu

sendiri menyepi sembari memungut doa

dari jejak fajar yang hengkang

Madura, 23 September 2021


Rapuh Mencari Jalan Pulang

Cukup lama bersanding dalam ceritamu

satu kerinduan yang tak pernah berhenti

menikmati pendar bidadari lepas

dari kremasi rambutmu

setiap kisah yang kau sanggul

pasti kuaminkan sekadar berlama-lama

dalam penantian panjang

-satu ketulusan Audrey junicka pada papanya

Masih kau lanjutkan kisah melintasi tarian moyang

roma patobin[1] letih memikul usia dan hendak dipugar, tukasmu setelah

menjelang pukul sembilan malam

tak terasa tiga jam duduk kita tanpa makna

tak kutemukan jeda untuk mengunduh di mana hatimu

menyimpan namaku

kebiasaan yang kusesali dari setiap perempuan yang telah

berkembang wanginya; menyisakan kebencian mencorat-coret

dunia fana

Ini bukan semestinya, tulang rusuk yang kau pinjam

tempo lalu telah berganti warna

kau dibesarkan tanpa rasa malu dan mencuekkan

setiap rindu yang datang

praduga yang kubangun terkoyak gemuruh

dan rapuh mencari jalan pulang

hidup seperti menuju kematian

Di tanahku langit berkabung

menyematkan penyiksaan

udara menutup diri dari cahaya

lagi-lagi kutapaki traumatika dalam sepatah kata

;saatnya kodratmu meratapi penyesalan

Madura, 24 September 2021


Kematian Tanpa Kisi-Kisi

Kemarin siang engkau masih membelai rambut kedua anakku

menyisir nyanyian tumbuh di belantara usiamu yang hampir

60 tahun, tembang kancil dan romantika nina bobo kau putar

mendayung masa kanak entah mau dibawa kemana

petuah bersambung mengaitkan jiwa untuk berkunjung

ke peradaban yang agung

dipeganglah kedua jari anak-anakku seakan berikrar

untuk tetap hangat dalam angin dan dingin dalam perapian

Emak, jangan kemana-mana dulu

sebelum sajak anak-anakku tuntas menganugerahkan singgasana

kebahagian itu untukmu dan patut bersenggama dalam

wujudmu, aku tak mau lagi derita hurrem dan suleiman

mendiami petang dan terentang di sekujur mimpi

dan akhirnya terbakar tanpa abu

sia-sia menggebu

Kematian yang tiba-tiba

laksana terompah mimpi

pergi tanpa kisi-kisi

Kaget. Terjerat samper[2] bermotif cokelat menutup auratmu

kidung yaa sin berhamburan membalut kedua tangan yang lemas

tangis hancur membedah asar yang belum selesai

mengapa kau ciptakan mantra yang bisu ketika anakmu dan anak-anaku

meringkuk di ujung kaki

siapa yang akan menghapusnya, kata-kata hampa tertutup luka

senandungku hilang di atas gundukan makam yang menghadang

Emak, kami ikut berduka

di atas puisi yang mengentalkan jasadmu

kami telah melupakan dosamu

dan menyisipkan persaksian baik untukmu!

Madura, 26 September 2021


Kertas

Ingat secarik kertas

dirangkai mirip perahu

dalam hujan kita alirkan hajat

bersama perahu menderulah sungai-sungai

penanda kita akan dikekalkan

mata air suci semacam

Madura, 26 September 2021


Aku Diam Seperti Kronos

Dalam perihal ini perlu terus terang

aku hanya kuasa menggenggammu dalam mimpi

bukan dalam buntalan cinta yang mengambang

rasanya sulit dipaksakan untuk membawamu ke musim yang lain

sesuatu yang mustahil, matahari yang kehabisan sinar

kuganti redup dupa di tengah-tengah perselisihan 

adat kampung yang tak kunjung redam

aku dan kamu replika kromosom tua

yang takkan pernah ditulis karena tinta purna

untuk menyusun bait-bait purnama setelah siang

kehabisan kata-kata

Radeena, bisa saja kita bertemu di suatu meja makan

atau di mana pun tapi kondisi sudah tersuruk lesu

jamuan yang tadinya berharap jadi tumpukan reklame

khusus merekatkan hati justru menggigil satu persatu

meski wajahmu masih dalam dekapan mimpi

dan terkadang  kuimpikan kemarau untuk membajak

setiap lelaki yang ingin berteduh di bawah tidurmu

kau berupaya melesat meninggalkan lara

sayapku patah tak kuasa mengawan

Radeena, skenario yang kita unggah untuk menggores rindu

semula dingin-dingin saja, semenjak ibu-bapak menghangati cuaca

dengan sumpah yang ditandukan ke dalam dadamu

pelan-pelan kau bakar botulinum dan aroma sianida

ke dalam kisah Harold knapke-ruth yang haru

sejak itu kau memintaku diam seperti kronos

memakan cintanya sendiri

kerap tidak ada kabar yang engkau kirim

senantiasa aku gelisah menebaknya

            -kita masih pacaran atau mati tanpa pemulasaran

Andaikan toh aku mati dan jasad menyebutnya pahlawan

batu nisan takkan terima, orang-orang sekitar akan berbagi prahara

tak pantas seorang lelaki muda mati tanpa ekspektasi

tapi inilah keputusanmu, seperti benda padat yang tak bisa

menyeduhi bentuk bangun ruang

Madura, 30 September 2021


Suratmu Sudah Terpidana Mati

Dengan darah yang mencair

segera akhiri perjalanan musim semi”

membaca suratmu sore itu

otakku terbakar memori yang terpidana mati.

Mereka mungkin mengerti mengapa aku ingin

sekali menerjemahkan kedalaman sunyi

sejak kepergianmu tempo lalu banyak sekali

pertanyaan-pertanyaan yang tidak selesai

di meja jamuan, sementara dirimu terus berlalu

tanpa bingkisan jejak yang bisa kukenali

kucoba menuliskan surat lamaran

sekadar mengintrogasi pikiran

di mana sebenarnya engkau teduhkan sedih

tak jua ada tanda-tanda senyummu akan kembali

menyelimuti tubuhku

Madura, 30 september 2021


Joko Rabsodi, lahir di Pamekasan, 11 Juni. Santri yang mengabdi di SMA Negeri 4 Pamekasan, Madura. Karyanya terbit di beberapa media cetak dan daring. Antologi terbarunya, “Akatalepsia, 2021”.


[1]Sebutan rumah induk dari sesepuh juga dikenal tongguh

[2]Dalam bahasa jawa disebut jarik.

Puisi

Puisi Ilham Nuryadi Akbar

Tatkala Ruh Ditiupkan

sebelum kau berenang di badan perempuan

dan diselimuti dinding-dinding rahim

terlebih dulu kau berucap sepakat bulat

nun di alam ruh tempat segala muasal.

setelah kau siap untuk perpindahan

Tuhan menidurkanmu berpuluh-puluh hari

hingga jari-jemari, tulang serta daging berkelindan

menjadi wadah yang siap menjalani kehidupan.

tatkala ruh ditiupkan

sempurna-lah seluruh kejadian

kematian, perbuatan, kesengsaraan, kebahagiaan dan rezeki

menjelma janji-janji yang harus dijalani.

Bekasi, 30 Agustus 2021


Permintaan dalam Mimpi

barangkali, malam ini kau ingin bermandikan mimpi

menemui aku yang belum tentu menjadi kekasih

pada taman terhiasi bunga-bunga tujuh rupa

tempat dahulu, kau mematahkan janji.

jika kau tersesat

aku saja yang datang menghampiri

sebab alibi-mu laiknya ayat-ayat ketiadaan

pantang untuk berpulang

cepatlah, sebelum kita menjumpai rintik-rintik embun

serta matahari yang menyapa ruas-ruas ventilasi

agar pagi tidak menggema gaung sepi

dan malam tidak menjadi wadah untuk aku merenungi

Bekasi, 30 Agustus 2021


Aku Terluka Kau Tertawa

sapu tangan peninggalanmu

telah aku cuci

terbilas air mata

kering oleh luap jelaga

api kecemburuanku

mungkin ada baiknya

aku sobek menjadi dua

seperti diksi-diksi puisi

yang tempo hari

kau robek sejadi-jadinya

dendam itu abadi

abadi dalam hati

hati kini terluka

penuh retisalya

sedang kau, puas tertawa

Bekasi, 30 Agustus 2021


Dirimu adalah Celaka

sementara ombak belum menghantarkan batu-batu kecil

tulislah nama kita di pesisir basah

dengan kayu atau jari telunjukmu

dengan paku atau kau tidak mau?

mantra-mantra sudah aku ucapkan

agar burung-burung camar

datang menyederhanakan keinginan

atau kau masih ingin beralasan?

setiba di pantai kau nanar

seperti manusia gusar

bingung mendengung

apa kau sedang murung?

kau benar-benar jelmaan celaka,

tak pernah bisa aku selamatkan.

Bekasi, 30 Agustus 2021


Mengajari

setelah jarum dan benang bersenggama

aku akan menenun jala tua di lemari tua

setelah nirmala

ikutlah berpetualang ke sungai-sungai

menjala ikan, udang, bahkan pemikiranmu yang terhimpit

di celah batu besar.

bila terik semakin pirang

aku akan bergegas pulang ke kandang

sebab lambung pasti mengerang

mengingatkan jam makan siang

maka ikutlah ke tungku arang

menanak nasi, sayur, juga umurmu yang belum matang

di hari pernikahan.

Bekasi, 30 Agustus 2021


Hasrat yang Asat

kini ia hanya sibuk

menyulam hati di malam hari

dengan begitu hasai.

memantik api di puting obor

menuluhi cahaya pada temaram malam
sebatang kara tak ada yang meminang
sunyi ditimang-timang

hanya jelaga yang menyapa
tak ada renjana
tak ada yang memantaskan
tak ada pula yang ingin memperkosa

ia wanita yang telah terpasung

juga terasing

sebab menanggalkan masa-masa muda belia

memilih jantung hidup yang pantas bagi dirinya

hingga lupa, bahwa ia telah menjadi tua.

Bekasi, 30 Agustus 2021


Lelaki Hibernasi

tepat di kening malam,

partikel-partikel imaji terbang ke sarang pelangi

untuk memetik bunga harapan

diracik menjadi kenyataan.

tepat di siang hari,

seluruh imaji terbungkus di bawah kasur

mantra-mantra meluap dari dinding-dinding kamar

merindukan malam yang jaraknya tidak sedepa.

sementara itu,

seorang lelaki sibuk hibernasi

berteriak bahwa kekayaan akan hinggap sebentar lagi

namun riak-riak suaranya berbiak menjadi mimpi.

Bekasi, 30 Agustus 2021


Lekaki Jemawa

bumi bulat, sosialmu saja yang datar.

langit itu biru, hatimu saja yang hitam.

wawasan sangatlah luas, pemikiranmu saja yang sempit.

kebaikan sungguh ada, kejahatanmu tampak nyata.

tergugu tapi gemar sawala

kalut tapi tak sadar

sengaja jemawa demi bangga memamerkan dasi

tapi kau tergugu dalam bersulam diksi

Bekasi, 30 Agustus 2021


Ketika Para Lelaki

Suka Pada Satu Hati

aku adalah makna dan perumpamaan basi

hidup dari hal-hal yang dinujumkan

juga teori-teori gila

hingga semua yang bernyawa menuduhku

sebagai hambar paling ranum

acap kali sumpah serapah

dijadikan kotoran untuk menyertai wajahku

begitulah cara mereka menghadirkan hujan

untuk membasahi bunga-bunga mawar yang mulai layu

mensucikan pipi berdebu

serta lorong mata yang memasung pilu

perselisihan ini telah terjadi

semenjak perempuan berwajah lampion

berambut aspal dan berkulit awan

singgah di rumah yang jaraknya beberapa hasta dariku

seandainya kau yang diburu dapat mengetahui

bahwa ini adalah peperangan

kepada siapakah kau akan bersekutu?

Bekasi, 30 Agustus 2021


Tentang Hijrah

tanpa pernah berdoa ke dada-dada langit

setengah dunia telah kudapati

kendati hal itu menjadikanku berada

aku lebih memilih misteri

ihwah kisah silam

aku telah hidup dari puing-puing cerita purba

namun memilih mati sebelum orang-orang berkata:

dia adalah legenda

semua itu aku lakukan

demi bereinkarnasi menjadi masa kini

menembus dosa-dosa yang disengaja

menuju abadi di kebun surga

Bekasi, 30 Agustus 2021


Ilham Nuryadi Akbar, lahir pada 11 Februari 1995 di Banda Aceh. Buku pertama diterbitkan oleh Alinea Medika Pustaka berjudul Kemarau di Matamu Hujan di Mataku, puisi dan cerpennya telah banyak terangkum pada beberapa media.

Puisi

Puisi Adnan Guntur

Sebuah Bintang Tertembak dari Matamu

ada sebuah bintang tertembak dari matamu, aku menggariskan sebuah virus dalam lobang tikus, sebuah benda yang mirip dengan matahari, terlebih dulu datang,  menyeret selembar demi selembar kesedihan dan jatuh menuju goa kelaparanmu

sepasang tuhan menaklukkan para pendongeng, menyelipkan mulutnya kedalam mulut demonstran dengan keadaan menganga, seekor laba-laba muncul, lalu kabut memantul dari jendela dan api menenggelamkan sakit dalam rimba peradabanku

aroma daun bersenandung menggelombangkan bunyi kedalam tubuhmu, sebuah gedung teater tua, dalam gerak sandiwara anak-anak muda yang terhanyut gairah, tapi, seluruh gedung telah melumat habis kalimat dan suara kita

kemana lagi gigil tepian warna yang mengkilat di langit dalam percakapan kita?

                                                                                                            Surabaya, 2021


Aku Menabur Hari

aku menabur hari, menyanyikan nyanyian sumbang di depan kubur, menumbangkan lelaki tawar yang menggonggong seperti anjing

sebuah ikan pernah mati sebagai manusia, disini, melalui tasbih di musim-musim yang melingkar, menyimpan geliat pada ceruk ember berwarna biru yang segalanya seperti wahyu

sebelum hari yang genap itu berakhir, kelak maut menjelma amarah tentang masa depan penuh polusi kata-kata, sekian tahun kemudian, orang mungkin tak tahu bahwa aku terangkat ke atas menara-menara yang memudar warna padi paling tua

                                                                                                        Surabaya, 2021


Dalam Jeruji Menara Tertinggi                                                      

;paranoia

tapi kau telah berubah, rerumputan liar tersesatbunga-bunga dalam selubung api, malam tahun kantorku menggelintir segala hal yang  disebut dengan telanjang

melalui jalan lurus kau melingkar di tepian pohon, membongkar kekuasaan, tiap hari yang dipancarkan fajar melalui panggilan ke bumi terdalam, ikuti aku, ilusi berbalon pekikan dalam detik jam suluk yang kapir

seluruh bintang berbunyi tepat di duniamu, menandai makhluk-makhluk dalam jeruji menara tertinggi, bergoyang maha dahsyat dalam lantunan gema nyanyianku, kau mengukir wajah melalui musim gugur, mengembus-hempaskan takdir dalam badai sembilu

dimana cemara melayang jauh, memanggil berwarna bangkai yang berkilauan, di hari yang tertutup, kita menerjemahkan tuhan dalam kabut

sebelum selesai dituliskan, kerja roda api mengepung bayang-bayang ke dasar jurang, membebaskan reruntuh nostalgia yang merampas ketidakmampuan

                                                                                                       Surabaya, 2021


Kabut yang Mengepungmu

kabut yang mengepungmu telah bernyanyi, memenuhi angin membakar trotoar, derau matanya mengggayut dalam deras segala kantuk, bersanding dengan dua lembah kehausan, penuduh kecupan yang dikuliti ranjangku

ke seluruh penjuru, kincir angin menjelma tangis yang mendung terpasang bulan dalam gerak spontan, dinginnya adalah butir keringat yang kerap mamasung ruhku dalam cahaya gelap, mengirim pada tunas serta kata-kata tenggelam mendahuluiku

pada gerbang ketujuh kau mengetuk nasib yang paling sial, menandai gerimis dalam hening khusyuk yang terserap lampu, membaui kematian yang memendaminya jengkal tiap jengkal

di situ lobangpori-pori merintik puing-puing dalam asin tubuhmu, menjilat-jilat tangis pada matahari, menghisap amis pikiranku dalam lorong kematian yang mengendus pilu kota, menggaungkan masa lalu

kita penuhi seluruh kolam dengan cerita-cerita para dewa, mengasingkan geliat wujud paling memilukan, memasukinya dengan tangan paling bersih, yang dihujani mawar-mawar berwarna kecemasan

keperihanku benar-benar menggeliat, memecahkan pekik paling tinggi dalam mendirikan api-api, mengenali segala diam kota-kota, mendendami dengan lekuk sendok yang berhambur belerang kesepian kita

                                                                                                            Surabaya, 2021


Di Siang Hari Puisi Bermimpi

aku berjalan menuju lorong-lorong, suara panjang terhempas pada kepedihan yang baru bangun, kita berkelinjangan, mengenali puisi dari mimpi di siang hari

meski saja kau menghindari kawanan sapi, tapi alunan listrik tersembunyi dalam darah yang mengalir di tubuh kita, menari-nari dengan setia, meniupi angin yang sunyi dalam mataku

kuberikan sepuluh embun paling sunyi di siang hari, beberapa hal yang memutih atau kegelapan melambai seperti bisik, meruntuhkan lenganku dalam ayunan bahasa kesia-siaan

berita-berita menyumbat huruf-huruf kecil, seluruh mata telah tertelan oleh running text, kapanpun kebodohan berkaca, televisi hanyalah pelengking kesedihan

                                                                                                            Surabaya,2020


Celementre

nanti, sekali lagi, kita akan melihat kota mengetiakkan lengan kita, berputus-putus waktu dalam borok, hampir seperti jampi,  jabar, anak bayi yang mengumpamakan kata bernada miring, darahmu mengelupas angin di detak langit. kemanakah arah kita berjalan?

hujan telah jadi asam lambung, mengubur kota-kota pada degup rampak dan bedug.

celementre, kutakatakan henyakan nada, menghabisi seluruh pertempuran. derap dan langkah, telah terarsir dengan serentak, lenyap dengan ketukan tigakalidelapan

aku memelukmu lalu jatuh ke jalan-jalan, menyarungkan pandangan kita ke dalam cahaya dan mengerang di setiap goncangan-goncangan. daun mengeripis nyala api dengan ritmis. menyapu sunyi, menelan matahari

                                                                                                            Ciamis, 2020


Umbilikus

tapi ia pernah dengar, suara yang memetik rapuh lengan uzurku, rimbun semak dan pohon-pohon membaui risau di lekuk sendok, jauh sebelum namaku berubah di ramai doa yang mengelilingi batuku

kemana kau mengenali kekosongan selagi gerak batinku menegur membentang masa lalu?

hanya melalui percakapan dan bayang-bayang hantu, pagi riuh menyimpan pusara jasad dan bayangku, sebab hanya dengan menunggumu pulang, kepakan sayapku akan habis menenggelamkan waktu pada selembar kulit yang mewujud sajadah akan tergelar, siapa saja hilang dan muncul, lagi dan lagi, mungkin sampai tak terkenali

sungguh, mendung, setelah gemeretakan buangan dari kaca jendela berembun, gelegak siasat mungkin tergerus kubur, makhluk terus muncul pada bunga beraroma sorga

                                                                                                 Ciamis, April 2020


Kemana Arah Angin

kemana arah angin menjatuhi rintikan airmata, ada suara yang menelurkan igau di setiap rambu-rambu, matahari makin tinggi, langit terpantulkan layar di setiap laporan stasiun televisi, dan penderitaan mengangkat pedang kegelapan pada seluruh ingatanku

kecemasan menyelubungi, arak-arakan membalik tiap ayat-ayat yang terwaris dan tertulis melalui jendela tanganku, jejak, ditiap percakapan kita menikahi bayangan sendiri; aku dengan bayangku, dan dirimu dengan bayangmu, tapi seteguk cahaya menetap diam-diam pada musim mataku

menatah jejak berulang-ulang kali, menghadirkan gelisah pada bintang yang berjatuhan, sepasang anak duduk, menangkup gelisah yang seliweran melalui mulut awan dan hantu-hantu

beratus malaikat sembunyi di belakang pintu, memaksa menumpahkan wiski pada ukiran batu, mematikan harap, tuhan telah tersebut dengan nama lain, dalam reklame bergambar

kemarilah, tiap kerutan di dahiku, mengalir-menemukan masa lalu, menghampar huruf-huruf mengepak ngeri bulu-bulu, tapi bahasa semakin dalam, sanggup mengubah raut wajahmu

kini tinggal panas terselip di dinding gereja, berenang-menggantung malam pada langit ketujuh, sunyi bermula, walau kini tidak akan pernah menemukanmu pada bau yang kau tinggali dahulu

                                                                                                            Ciamis, 2020


Behelit

sebuah kematian membuka daun-daun, jalanan semakin panjang membentuk lobang anusmu dari sepasang merpati yang terbang melalui jembatan layang dan pepohonan jatuh dari langit dadaku

dalam sebuah kampanye melalui gowesan pancal, kita terguyur hujan membau jarak yang dipenuhi cadas, menyulut memparadekan rembulan di atas kabut, betapa sunyi lepas di ketinggian sakratul mautku, mengubur jasad rindu

lidah embun memecah udara dan lampu taman hening, sampai di telingaku tulang-tulang merintih menemukan liur, ada bayang yang diam-diam keluar melalui sepatu, seriuh kobaran pikiranku

anggur kedua menetes, menjemukan kamar dan kota, sepasang jendela berebut mandi bintang dari barat rumahmu, di sana, kegelapan menyelinap hingar pada uzur lengan kurus yang dibelit behelit

kuinjak beribu mayat pada beratus peristiwa, sorga hanya sebentar, mengepaklah sayapku menuju langit keperempuananmu, basah burung keperakan yang kian lamur dengan cinta, semakin tinggi, semakin dalam, menuju impian kita yang seganas api neraka

                                                                                                            Ciamis, 2020


Adnan Guntur, lahir di Pandeglang pada tahun 1999. Saat ini sedang melanjutkan studi di Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Airlangga. Aktif berkegiatan di Teater Gapus Surabaya dan Bengkel Muda Surabaya.

Puisi

Puisi Arida Erwianti

Gadis Sepatu Biru

Sepanjang hari gadis bersepatu jelly hak tinggi

ia merasa bisa menjangkau apa saja

lalu membuka kuku-kukunya dan menulis puisi

pintu kamarnya yang layu setengah terbuka

agar ibunya tahu ia tidak ke mana-mana

karena setiap malam datang

ia menyelinap melalui dinding-dinding  pada bantal

ia terbang ke dalam status dan foto-foto dalam media sosialnya


Sedu

Di dinding kamar kau melukis jendela

setelah membuang nama-nama di jalanan

kepala dan debaran di dadamu sibuk

mengingat yang pernah menjelma menjadi tempat pulang

berulang-ulang

tapi lupa memberi kompas


Kau dalam Diriku

Aku telah lari, darimu

tapi seperti bekerja keras di atas treadmill

ketika jarak direntang jauh dan penuh

aku selalu menjangkaumu di mataku

melupakanmu sedemikan rupa

tapi kau ternyata berada dalam laptop bahkan dalam lemari pendinginku

kubelai-belai wajahmu di layar gawai

berharap menulis ulang matahari

hingga suatu malam seorang tua datang berbisik

untuk menggengam namamu dalam doa, maka kudekap

engkau benar-benar lepas


Di Telingamu

Aku ingin berkirim surat ke telingamu

kutulis dengan tinta berisi lagu favoritmu

aku akan menyusun puzzle di telingamu

kupakai sarung tangan dari madu

aku ingin berbisik di telingamu

dari tempat yang jauh

saksama kutunggu isyarat

angin selalu meniupkan sesuatu yang jujur namun bergegas pergi

dari ruang gelap, aroma jeruk dan juga tentang layang-layang


Api

Di matanya lilin menyala

mataku meraup matanya, haus

besoknya ia bilang, maafkanlah yang penuh angkara

ia bukanlah seorang yang kuat,

ia lemah membiarkan hutan terbakar-bakar di dalam dirinya

lilin di matanya menguar hangat

aku terbaring di sana


Surga dan Medan Perang

Dadamu pernah menjadi medan perang

kau hunus kalimat berakar raksasa

tapi engkau juga

yang napasmu menjelma subuh yang hening

dengan

telapak kaki yang surga

hasratmu meraup dunia

dalam toko furniture berdinding biru, yang akan kau masukkan dalam kotak kaca

tetapi dalam udara kita berbagi

rumah tak bisa dijejali dengan sepuluh meja makan


Metropolitan dan Payung Hitam

Berganti-ganti gawai mereguk daya dari kabel-kabel

sampai tuntas

tapi ternyata orang-orang tetap dahaga

berteriak-teriak di tengah kota metropolitan

berpuluh-puluh tahun

tapi suara raib tertelan gedung beratap kelabu

baju hitam tak lagi berwarna

karena mata-mata buta sebelum membuka

panas meranggas pada getir

payung hitam telah diterbangkan


Cinta

Mencintaimu dengan penuh

karena umur tak utuh

mencintaiku dengan bara, katamu

karena masa tak selamanya benderang

pada tubuhmu padang telaga muda yang ranum

kurengkuh bagai masuk dalam mesin waktu

pada jiwaku jalan panjang berasam garam, katamu

kau tempuh dengan tafakur

cinta tak pernah melukai

karena darinya pisau kita petik

untuk mengupas buahnya, yang lebih dulu


di

di pantai aku melukis rindu berjilid-jilid

di langit aku berbisik, menabur daun-daun

di keheningan kupetik senja setelah hujan yang keemasan

pada getar, aku termenung merapal doa-doa

pada riang, aku telah menari-nari

di kedai kopi aku menulis surat untukmu

dengan alamat yang telah kuketahui bertahun-tahun

di rumahmu kutersesat

setelah memandang matamu, labirin yang biru

di mana aku berujung?

padahal tanya tak pernah dimulai

di mana kita berpisah?

padahal pertemuan tak pernah


Kita tanpa catatan kaki

Jika langit terbentang, hati kita melapang

Jika hutan-hutan menghijau, jiwa kita merimbun

kita adalah kaki-kaki kecil, berjalan melewati semesta

menunggu matahari terbit, dengan menulis buku-buku yang tebal

pada permata kita tak silau

karena mata kita adalah kilau

namun, entah sejak kapan kita menjadi ahli berpatah hati

tapi pencari ulung dalam ruang kesyukuran

pagi ke petang bagai kelopak bunga-bunga

yang kita jahit dengan benang, satu-satu

kita usai, tapi penuh


Arida Erwianti, lahir di Segeri, Sulawesi Selatan. Ibu rumah tangga, dan sedang menempuh pendidikan di Pasca Sarjana Ilmu Politik Universitas Indonesia. Pengajar di STKIP Kusuma Negara. Menulis buku“Mozaik Pemikiran Pendiri Bangsa” (Kumpulan tulisan). Cerpennya pernah dimuat di media. Dapat dijumpai di instagram @ridawianti.

Puisi

Puisi Maulidan Rahman Siregar

Hujan di Telinga

seseorang, yang kalah dengan nikmat Tuhan

melewati kebosanan demi kebosanan

dengan cara mengudara

lewat kata-kata

yang hidup dan berkembang biak

di jantung telepon genggam

kemudian muncul hantu

yang menari di tengah hujan

sembunyi di balik ramainya bunyi atap

dan pekikan udara

aku menyaksikan semua itu sambil merokok

dan menulis sebuah puisi iseng

di dalam telinga, muncul bunga bunga

2019


Ke Tenggara Jiwa

menangkal kesepian demi kesepian

yang diam di sarkofagus tepi jiwa

aku berjoget di udara

bersamamu, melewati banyak lagu burung

di awan tinggi

kita menikahi hujan dan membasahi banyak rumah

yang selalu berdoa

terus berdoa

agar senantiasa kaya

di atas sana

malaikat bercahaya putih suci bersih

sebagai peracik ulung kebahagiaan

berencana membakar sebuah mall

agar seluruh orang yang cari duit di sana

pulang, dan meminta

menangis

dan memeluk

agar ibu

selalu mau melepas diri dari keterpojokan

dan selalu tinggal

di rumah

menyapu banyak masalah

2019


Obat Gila

dengan segala hormat, puisi

dengan segala takut, segala sisi formal,

segala aturan

agar arus bawah tetap di bawah

agar purna akal tetap di langit tinggi

kepadamu puisi

kugali huruf-huruf

tegang badan sendiri bak kaktus di tengah

hutan

tiada matahari tiada angin

tiada apa pun

yang ada hanya cahaya samar

menembus hingga ke tulang

dan ketika pulang

hai puisi, hai umur panjang

kupulangkan segala kenang

agar purna harapan

yang diam di tepi tangis

panjang

oh doa doa

oh apa saja

lekas pulangkan segera

obat bagi jiwa

2019


Beku

siluman berkepala nabi

mendaftarkan diri masuk pegawai negeri

agar candala demi candala

di lebat hujan sana

tiada meminta apa

bikini gadis itu tersangkut di tepian pulau

ketika salju menampar mukanya

di sisi terakota

lelakinya, namanya topik

sedang memasak es batu

dan menanak banyak embun

untuk perempuan salju tadi

dua gelas sirup rasa jambu muda

tersedia begitu saja

setelah badai salju ribuan daya

menenggelamkan tubuh-tubuh penuh

elektron

dan, mati juga akhirnya

kala topik bertanya,

“pranata itu apa, hai kekasihku yang sudah

tiada?”

2019


Bertahan

seekor sapi dari dalam kitab suci,

sejak 14 abad lalu, mencoba

muncul ke dalam pinggan nasimu

tapi gagal, selalu gagal

sebab, ayam-ayam di kampus

dan ayam kampus di pusat perbelanjaan

menawarkan nubuat gurih nikmat

ke dalam tubuhmu yang universal

dirimu, dan sekularisme yang sering main

di celana

menjadi juri bagi dirimu sendiri

kau bertahan, selalu bertahan

agar lepas segala beban

agar pergi ingatan

akan tetapi, kau selalu menolak

kedatangan sapi dari kitab suci, ke dalam

pinggan nasi

yang kau upayakan diri tanggungmu

mampu menahan isak ribuan tahun

ragamu, dan asa kemerdekaan

bertahan, bertahan, bertahan

demi ayam-ayam amerika di restoran

kenamaan

dan seragam sekolah anakmu

kau menarik kembali sapi di kitab suci

dan memasak sebuah sup

kau menangisi kuahnya

sebab

itu kuah air matamu

itu kuah pedih sembilu

2019


Ruang Tulis

hai

ke mana seluruh isi bumi?

aku ingin menitipkan lara ini

untuk teman segala kenang

untuk hidup!

apa? apa aku harus tiap hari di sini

sendiri di balik sepi

apa? kau tak mendengarku?

oh baiklah

akan kutelan sendiri hidupku

aku tak akan mati-mati

tak akan pernah kalah!

lihat saja!

2019


Ruang Tulis /2/

sungguh, aku ingin menemukan diriku

di kedalaman sendiri

di tepi apa pun

tidak ada suara

tidak apa pun

bahkan diriku pun tak

kunjung kutemukan

aku terus menulis

dan menulis

hingga letihku

penuh seluruh

2019


Ruang Tidur

di gelap hebat ini, kekasih

aku tertidur, dan terbangun

satu jam kemudian.

tidak ada apa-apa di sini

kecuali doa

doa-doa panjang

yang kutulis, kurangkai, kudiamkan,

menjadi seekor puisi yang

mudah-mudahan kau mau

mudah-mudahan kau

lelap bersamanya

dan membangunkanku lagi

satu jam kemudian

2019


Ruang Tidur /2/

kubikinkan ruang tidur untukmu

biar kau tak butuh lagi pelukan,

kening yang telah dikecup,

atau sentuhan ngilu ke jantung

besok senin, kekasih

dan kau masih terbang di udara?

tidak, sesekali jangan begitu

kewarasan orang kota akan menelanjangimu

2019


Tidur

di lagu terakhir ini

telah kuhempas badan

kuhempas apa saja!

aku ingin ke sana, Rabbi

ke sudut jauh

memulangkan segala ingin

menafikan semua mau

rebah aku dalam tiap sujud

tunduk, aku patuh

tolonglah, tolong aku

mengenal yang namanya istirah

2019


Ruangan Ini Beku dan Dingin

salju masih menembus rumah

dinginnya ke jantung

kecut badan remuk di tulang

kunyalakan ponsel pintar

kutarik orang-orang

untuk menerjemahkan hidup pelik ini

menerjemahkan peta

tapi, seorang pun tidak

mengetuk pintu

mengucap salam, atau apa pun

Padang, 10 Januari 2019


Maulidan Rahman Siregar, sekarang lebih suka bikin arsip. Belum giat membaca dan menulis. Tidak terlalu suka kucing.

Puisi

Puisi Dadang Ari Murtono

pembuat topeng

maut seperti cahaya fajar yang tak terelakkan, atau

angin dusun yang menyusup melalui bilah gedek

tapi lelaki itu gesit berkelit

dengan lambung bocor dan hati bengkak yang mesti ia

gembol ke mana-mana

“beri aku waktu sedikit lagi, beri aku waktu sedikit lagi,” gumamnya

ketika api neraka serasa dituang di kawasan perutnya

dan ia raut pelan-pelan pangkal bambu

menyerupai wajahnya yang kurus dan nyaris tak berdaging

lantas ia letakkan di tempat di mana ia tahu, maut

akan datang untuk menjemputnya, maut yang kemudian kecewa,

maut yang akan kembali memburunya dengan kemarahan

yang lebih besar, maut yang terus merutuk, “hanya karena

namamu slamet, bukan berarti kau selalu selamat!”

dan ia akan terus kabur, terus bergumam, “beri aku

waktu sedikit lagi, beri aku waktu sedikit lagi”

dengan lambung bocor dan hati bengkak

ada yang belum tunai ia kerjakan dalam hidup

: merasa bahagia meski hanya tiga detik


angin besar

angin besar

turun dari gunung

angin besar

menderakkan dahan-dahan

angin besar

mengelus ubun-ubun lelaki demam

angin besar

menebang dahan-dahan

angin besar

mengusap nisan di kaki gunung


anjing geladak

lima menit sebelum pukul empat petang

hari sudah gelap, udara berat, mereka

tak ingin menyibak selimut

“di kehidupan selanjutnya,” perempuan

itu berkata dengan suara serak

“aku akan lebih dulu menemukanmu”

dan si lelaki menguap

ia tahu, mereka mesti pergi

sebelum ibu anak-anaknya menelepon

“pada waktu itu,” kata si lelaki

“kita akan tinggal di pacet, di mana

waktu merangkak, dan ruang meluas,

agar dingin mengingatkan kita supaya terus

berpelukan, agar angin pegunungan memanjangkan

usia kita, agar hamparan sawah bawang menyegarkan

mata kita, agar…”

“agar kita bahagia,” potong si perempuan

tapi mereka berkemas juga

ketika geluduk pertama terdengar

mereka bukan orang lokal, mereka

tak tahu, di pacet, doa-doa tak lazim

gampang diijabahi

tiga kilometer kemudian, di sela pekat kabut

si lelaki melihat seekor anjing melompat,

ia mendengar decit ban, ia merasa jari perempuan

itu mencengkeram pinggangnya, ia mencium amis darah

ia tak tahu berapa lama terlelap,

namun ketika membuka mata, perempuan

itu begitu dekat dengan dirinya, begitu lekat

“apa yang terjadi?” ia tak mengerti

“kukira,” perempuan itu menjawab

“seekor anjing geladak memakan bangkai kita

dan dalam dirinya, kita kini meneruskan hidup,

bersama, bersama, seperti yang kita inginkan”


di gua jepang cangar

di ranjang tanah yang keras itu maut datang dan mengelus

tubuh mereka, yang muda dan telanjang

udara pengap jadi panas

“apakah ini hawa neraka?” tanya si perempuan

“ini nuansa cinta,” si lelaki melekapkan bibir di leher yang

bersemu hijau

lenguh menggema

dalam gelap yang kekal

lantas rintih

kesakitan

dari tubuh yang ringkih

“aku tak bisa melepasnya”

“tapi kau harus melepasnya”

di samping mereka, maut menari

dengan satu kaki menginjak punggung si lelaki

mereka ingin menjerit

tapi tak sanggup

mereka tak kuasa membayangkan

orang-orang tiba

dan menemukan mereka

masih terpaut

tapi tujuh hari kemudian

orang-orang tetap datang

dan mendapati mereka

saling memeluk dan membusuk

terbungkus udara lembab

di lantai gua yang kotor

“mereka sepasang pezina terkutuk!” kata kiai setempat

“mereka sepasang pecinta yang terberkati,” gumam seorang remaja

yang tengah kasmaran


pulang ke pacet

“minggir, minggir, seorang turis dari kota jauh

mau lewat,” seseorang berteriak, sedikit serak,

sedikit kasar

dingin mengeras dan menegang

jalan membuka dan memanjang

kafe dan pujasera menjulurkan tangan,

pemandian dan arena wisata foto mengenalkan

nama, vila dan hotel tersenyum menyapa ramah

tapi turis yang baru tiba itu hanya ingin

berbicara pada sawah dan padi

dalam kepalanya, kambing dan sapi

dalam kenangannya

ia bukan turis, sesungguhnya

malam membeku

tapi bulan kuning leleh seperti mentega

ia orang lokal, lama terjerat kota

lantas kembali

untuk menjadi orang asing

dan seorang pemandu dengan suara serak,

berteriak sedikit kasar

demi ia

“minggir, minggir, seorang turis dari kota jauh

mau lewat!”


suratman berjalan telanjang tengah malam

enam belas laron sufi

mengerubung nyala sebatang lilin

di puncak musim hujan yang pucat

dari nako jendela, suratman tahu bulan layu

langit kuyup kelam, dan ribuan laron

meredupkan lampu di sepanjang jalan

setelah selarik mantra

orang-orang tiba pada lelap purba,

suratman akan berjalan

perlahan seperti ratapan tobat nasuha

telanjang seperti bayi yang fitrah

berkeliling kampung seperti seorang jagabaya

“berangkatlah,” kata istrinya

dibukanya pintu belakang

dingin mengerutkan buah zakar

angin membawa ujian

mengembus nyala lilin

yang ditudung istrinya dengan dua telapak tangan

dan suratman berjalan

seraya mengenang dua putra tercinta

yang berseteru di jalanan

dengan arit dan maki

sebelum empat orang di warung yu rai

datang dan melerai,

memperseterukan seorang perempuan

yang tak setia; suratman berjalan

seraya mengucap pujian untuk leluhur

sholawat bagi nabi

doa kepada tuhan

juga permintaan pada danyang kampung

di rumah, bersama enam belas laron sufi

istrinya berharap tak ada orang yang

luput dari sirep mandi

dan membuat lilin padam

atau semua akan sia-sia,

bibirnya gemetar memanjatkan harap

perempuan itu tahu

anak-anak akan selamanya kanak-kanak

: berebut mainan sewaktu bocah

berebut perempuan atau warisan

ketika dewasa, dan orangtua selalu orangtua

sabar mendamaikan

dengan cara apa pun

atau bagaimana pun


kematian mak lah

dengan wajah pucat dan mata terpejam dan tubuh dingin,

mak lah ditelentangkan di atas amben di halaman, orang-

orang datang dengan muka masam dan

matahari semakin meninggi

“kenapa ia tidak segera dikuburkan?” tanya orang-orang sambil

berteduh di teras

“apakah kau berani bersaksi bahwa ia sudah benar-

benar mati?”

tak ada yang benar-benar berani bersaksi, mereka

hanya mengingat bagaimana mak lah bangkit ketika

disalatkan di masjid pada kematiannya yang pertama,

dan merayah-rayah dengan tersengal sewaktu tubuhnya

baru diletakkan di liang pada kematiannya yang kedua

orang-orang mulai jengah dan lelah

seseorang mengeluhkan padi yang perlu disiangi

seseorang mengeluhkan sapi yang perlu diransumi

“kenapa ia selalu merepotkan?”

mereka tahu, bagi perempuan itu, kematian hanyalah perjalanan

sepele yang bisa ia ulang aliki sesuka hati

menjelang sore, orang-orang pergi

jagabaya mengatakan agar mak lah tetap dibiarkan di situ

“biar dia segera bangun kalau kedinginan nanti malam”

tapi pada kematiannya yang ketiga itu, mak lah tidak pernah

bangun lagi

dan orang-orang baru meyakininya pada hari keempat, sewaktu

bau tidak sedap mulai menguar dari tubuhnya yang bengkak

dan berair


pagi hijau

untuk ulang tahunnya yang ke-44

ning menginginkan sebuah pagi hijau

ketika biji ditabur sabar di lahan gembur,

kecambah tumbuh tidak tergesa,

dan nyanyian burung menarik matahari pelan-pelan

“agar kau lebih lama bersamaku,” katanya

di cuping telinga lelaki itu

hangat mendesir dan bergema

di liang-liang tubuhnya

tapi yang tak pernah terlambat adalah waktu

dan lelaki itu tahu, ia mesti pergi

maka dikecupnya kening ning

seraya mengingat ulang tahun perempuan itu

yang ke-40

ketika ia mengendus sebilah pisau di kolong meja

dan didengarnya ning yang bingung berujar malas

“kenapa seorang perempuan tidak pernah memiliki

waktu untuk dirinya sendiri, bahkan ketika ia berulang tahun?”

lelaki itu tahu, sebab ia karib dengan dongeng-dongeng,

bahwa ning akan berkata

“andai saja ada yang menemukan pisau itu, bila perempuan

akan kujadikan saudara, bila lelaki akan kujadikan suami”

tapi ning sudah bersuami

dan ia mendengar ning berkata

“andai saja ada yang menemukan pisau itu, bila perempuan

akan kujadikan saudara, bila lelaki akan kujadikan selingkuhan”

ia mengigit pisau itu, seperti anjing-anjing dalam dongeng

dan membawanya ke depan ning yang kebingungan dengan

seikat sayur dan seonggok daging kambing

lantas seperti mukjizat, segera ia menjadi lelaki rupawan

“iblis yang murah hati,” katanya, “memberkahi

nadarmu dengan mengirimku mulai hari ini dan sebelum

matahari meninggi setiap hari ulang tahunmu”

pada hari ulang tahunnya yang ke-44

ning masih saja berduka

ketika lelaki itu mulai kembali menjulurkan lidah


kodok kecil

kodok kecil di pinggir kali

mati terinjak kaki petani

tak jauh darinya,

semak tetap berbunga

rumput masih hijau

kutilang berdendang dari dahan kaliandra

angin mempertemukan serbuk sari dan kepala putik

ikan berenang

matahari bersinar

bumi berputar

seratus empat puluh dua ekor semut

merubung bangkainya,

bersyukur atas kematiannya

dan tak ada air mata atau puisi sedih,

tak ada hujan atau sedikit melankoli


ia menunggumu, yai

ia menunggumu, yai, di sawah tomat

sepanjang hari hidup dan malam padam

ia menunggumu, yai, bahkan ketika

hujan lari atau panas berdesir

ia menunggumu, yai, memberi rasa lain

pada air tomat, memulaskan warna lain

pada kulit tomat, memanjatkan doa-doa

atas mereka yang terbenam sebagai rabuk

bagi lunak tanah sawah itu, mengucapkan

sepatah maaf yang bakal membuatnya

rela memetik tomat-tomat matang

tapi hanya dilihatnya kau yang memandang

dendam tiap kali melewati sawah tomat itu

seraya bergumam, “tomat-tomat itu haram,

sebab hanya rabuk dari bangkai komunis yang

disesapnya”

ia belum pernah mampu memetik tomat-tomat itu,

sebab setiap kali ia hendak memetiknya, ia merasa

hendak memetik secuil demi secuil daging bapaknya

yang belum rela


Dadang Ari Murtono, lahir di Mojokerto, Jawa Timur. Bukunya yang sudah terbit antara lain Ludruk Kedua (kumpulan puisi, 2016), Samaran (novel, 2018), Jalan Lain ke Majapahit (kumpulan puisi, 2019), dan Cara Kerja Ingatan (novel, 2020). Buku Jalan Lain ke Majapahit meraih Anugerah Sutasoma dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur serta  Penghargaan Sastra Utama dari Badan Bahasa Jakarta sebagai buku puisi terbaik Indonesia tahun 2019. Buku terbarunya, Cara Kerja Ingatan, merupakan naskah unggulan sayembara novel Basabasi 2019. Saat ini tinggal di Yogyakarta dan bekerja penuh waktu sebagai penulis serta terlibat dalam kelompok suka jalan.

Puisi

Puisi Norrahman Alif

Aforisme Sepi

orang-orang memilih mati

di tengah virus gigil waktu

menjangkit kompilasi tubuh malam

mata-mata telah memborgol kelopaknya

waktu-waktunya berselimut mimpi

dan ia rindukan sedap kopi pagi hari.

sisakan ampas sepi pada gelas sunyi

yang kuseduh sedih ini di beranda

bersama rintik hujan dini hari

2020


Ada Masanya Penyair Mencintaimu dalam Hati

ada masanya seseorang jatuh cinta

hanya mampu diungkapkan dalam puisi

itulah kemahiran penyair atau aku sendiri

tapi penyair bukan penakut apalagi lebih

dari seorang pengecut.

ada masanya di jauh hari penyair memilih:

mengasihimu sebagai satu-satunya puisi

atau membayangkanmu sekadar sebagai latar

belakang rasa cerita fiksi.

ada masanya aku tak ingin memilih kedua-duanya

sebab penyair hanya mampu mencintaimu di

hati dalam puisi.  dan itu lebih romantis dari seseorang

yang hanya mencintaimu dengan separuh hari dan hati.

2020                                                                                                                      


Tulus dan Murni Cintaku Keluar dari

Dubur Seorang Pecundang

cintaku tak seluas pikiran kaum penguasa

mereka cerdas bersilat kata-kata dan semangat

menjungkirbalikkan bangku-bangku keadilan

demi undang-undang dusta berjalan dengan

aman di tengah-tengah hidup kita yang tolol.

cintaku tak sejahat gajah-gajah mencintai negara –

negara yang terbuat dari serpihan sejarah dusta.

kau tahu gajah-gajah itu siapa, ika? merekalah penguasa itu,

sang pemilik tangan-tangan keadilan yang buntung sebelah.

cintaku tak semewah dan semegah istana negara:

rumah tuhan dan dewan perwakilan dusta merumuskan

hukum dan undang-undang untuk melindungi pecundang,

penindas dan penguasa yang ber-uang. siapa mereka ika?

mereka adalah politikus, penjilat dan tikus-tikus

dalam penjara yang hidupnya lebih mewah dari

seorang pencuri ayam. padahal mereka adalah pencuri

kebebasan hidup kaum rumputan seperti kita.

cintaku sekali lagi perlu kau cermati, ika. aku ulangi: cintaku tak

sekejam politik yang berhati intrik. karena tulus dan murni

seonggok cintaku keluar dari dubur seorang pecundang.

Jurang ara.2020


Sampai Kapan Waktu Menimang Air Mata

dan Kita Meminang Masalah?

kau semai abad-abad yang gelisah, tahun-

tahun terluka dan serajut hari yang fakir bahagia

di ladang kepalaku. lalu kini tumbuh dan

berbiak menjadi sejuta masa lalu yang lumpuh

dalam gendongan waktu-waktu kita melangkah ke

masa depan cinta.

kau tiba banting gelas-gelas perasaan hatiku

ke berbagai kota yang kini bersibuk hati merapikan

kesunyian dan kematian ke dalam lemari kenangan.

lalu di kota itu rasaku dan rasamu menjadi sepasang

mata yang berduka-cita menatap lahan-lahan luas

di balik gedung dan perumahan tumbuh kuburan

-kuburan baru dan mayat-mayat segar yang segera

digiring ke liang akhirat.

kau lalu baru tersedu di kedalaman sumur hatiku

di saat ingatan menimang-nimang sejarah berpenyakit

tentang wabah yang masih tak menemukan jalan pulang,

perihal bulan-bulan yang terus menangis sendirian

atau tentang sakit hati kita yang tak menemukan

pintu kesembuhan.

kau baru menyesal kalau hidup di tengah kubangan

air mata harus tetap bisa tersenyum walau sia-sia

dan agar bahagia segera bangkit dari dasar kesedihan

kuajak kau ke keluasan dan kemegahan bahasa

di sana senyum hatimu tidak akan berbunga sia-sia

sebab puisi dan prosa akan menampung segala

benda-benda hati kita: abadi.

Jurang ara.05-20


Mencintaimu dalam Gelap

dan di saat kesabaran terus

memayungiku dari hujan perih masa lalu

sampai masa cinta berujung kelabu

akhirnya kutemukan cara paling pahit untuk mencintaimu.

dan satu-satunya cara adalah mencintaimu

dalam gelap. Bila dalam terang matamu – segerobak

keberanianku hancur di ujung jalan lidahmu yang asin

namun kini dari balik tembok ketidaktahuanmu

kudayakan waktu untuk melatih lidahku

belajar mengucap cinta padamu.

dan apalah guna itu semua

bila saat di ujung matamu aku masih

sepenuhnya menjadi bunga gugur

sebelum waktunya.

2020


Puisi adalah Gema Lain dari Hati

setiap yang diungkapkan

penyair adalah matahari

sebab kilau cahayanya adalah

terik hatiku yang puisi.

seperti puisi –puisi yang kutulis ini

sama sekali tak mengandung nilai-nilai

jahat untuk mempolitisasi hatimu.

karena bahasa hati adalah mesin

kejujuran yang memproduksi

makna-makna kasih-sayangku padamu.

Sumenep, 2020


Mitos Ketakutan

kini kepalaku menjadi

taman kuburan. seperti

ibu ingatan memeluk

pohon kematian.

saat ini pembunuh seribu

bayangan itu adalah corona

tubuhnya tak berwujud

namun membuat nyali

bersujud pada kecemasan.

akhirnya orang-orang tak lagi

berjalan, pekerjaan tonggak

sebulan, sekolah tutup usia

dan jakarta adalah gelanggang

manusia dan penyakit bertarung

mati-matian mencari sesuap napas kehidupan.

2020


Kompilasi Penyakit

hari ke hari berlari pilu

menyeret ketakutan ke

gudang-gudang pikiran

yang kelabu

betapa hidup ini terdiri dari

bagian bayang-bayang kecemasan

seperti DBD yang menjelma maut

sampai kini corona yang menjerat

kita tahu, bahagia hanya abadi

bersama hidup dan kenangan

tapi sampai kini dan nanti

apakah kita terus mengunci

tawa, mengubur kegembiraan

dan menyingkat segala urusan

pekerjaan dari ruang sunyi

2020


Simposium Kecemasan

tiba-tiba seribu buih jakarta

menggelembungkan pikiranku

dan meledak menjadi serbuk-

serbuk ingatan tentang

kehidupan orang-orang kota

yang tengah menghitung

biji ketakutan dalam rumah

di saat tiap detik balon kematian

meledak di planet mataku

betapa langka kotaku saat ini

jantung jalan adalah pusat

kesepian membayang,

kecemasan mewabah

dengan meletakkan kartu

kematian pada  aktivitas kehidupan

sementara kabar buruk dari

langit corona terus meletus

di organ-organ media massa

hanya meluluh-lantakkan

batu hati jakarta

akhirnya rumah sakit dan kuburan

menjadi liang kepulang terakhir bagi

para korban.

sementara sekolah, kantor, kedai

kopi dan semangkuk hati yang asin

mereka cecap tiap hari dalam kandang.

2020


Buah Dosa di Dada Desember

serasa dosa ini lebih tua dari usiaku sendiri

sungguh berlipat sungguh, hati ini berat

melangkah dari hidup ke hidup

mungkin, mungkin dan hanya kata

mungkin terucap dari bibir si duka

bila seribu gunung maafku

tak cukup mengubur jasad duka desember

di liang dadamu.

dan,

sejuta rintik hujanku tak akan

mampu memadamkan nyala api

di mata murkamu.

sebab aku kini lebih berat dari batu sebukit,

lebih ringan dari kapas diterbangkan angin

dan lebih cemas dari orang-orang melawan

virus corona.

di saat hati berat memikul nasib dosa,

membuat punggung hari lecet dan bernanah

menggendong segunung sesal dan selaut maaf

yang kau telan begitu saja tanpa bahasa.

2020


Norrahman Alif  lahir di Jurang Ara –Sumenep –Madura. Menulis puisi dan resensi di Lesehan Sastra Yogyakarta. Beberapa karyanya bisa dinikmati di Media Indonesia, Republika, Kedaulatan Rakyat,  Suara Merdeka, Rakyat Sultra, Tempo, Padang Ekspres, dan lainnya. Buku puisi terbarunya Mimpi-Mimpi Kita Setinggi Rerumputan (sublimpustaka-2019).

Puisi

Puisi Daffa Randai

Gerimis Merambat

ke Rambutmu

suatu ketika, gerimis merambat ke rambutmu

menitis pelan ke kening dan berhenti

tepat di pucuk bibirmu yang dingin.

sepasang matamu menyanderaku

seperti membujuk, seperti menunggu

sepasang bibirku lembut menyapu

bibirmu yang gigil itu.

2020


Sengketa Rindu dan Kesepian

kembalilah, tubuhku akan lebih berguna

hanya dengan sering melindungimu dalam pelukan.

lengkapi kesepianku, lekasi nasib burukku

sebab hanya padamu, air mataku menolak gugur.

kembalilah, tubuhku butuh tubuhmu

sebagai pelerai gaduh, rindu di jantung

seperti sedang berperang, seperti mengerang

takluk di hadapan jarak yang sadis dan kejam.

kembalilah, bantu aku jadi pemenang

menghadapi sengketa rindu dan kesepian.

bantu aku jadi satu-satunya peminang

yang bikin bahagiamu tak berkesudahan.

2020


Kita Tak Harus Bertikai

biarlah kesepianku terus berlayar

melintasi kenangan lapuk

yang jauh tersimpan di tubuh waktu.

biar rindu terus mendebur

menggulung segala inginku

menjumpaimu di luar tidur.

sungguh, kita tak harus bertikai

mendebatkan perpisahan

dan penyesalan ini milik siapa.

sebab masa lalu tetap milik kita

ijazah bagi hari jauh yang telah

tuntas kita lintasi berdua.

sungguh, kita tak harus bertikai

mendebatkan masa depan

di tengah masa lalu yang kacau.

sebab kita ialah kesedihan

yang tersesat di jalur derita

tanpa ujung, tanpa batas teritorial.

2020


Selepas Berpisah

bayangkan, bayangkanlah

selepas berpisah, di antara kita

siapa yang lebih tegar untuk tak saling tegur

bahkan ketika dada kita menjelma angkutan

yang penuh hanya karena satu jenis muatan:

rindu akan kenangan yang begitu ingin diulang?

bayangkan, bayangkanlah

selepas berpisah, di antara kita

adakah yang bakal merasa terancam

oleh penyesalan, oleh kehilangan, oleh segala

yang tumbuh seiring dengan kenyataan

tak lagi ada yang bisa dipeluk selain ingatan?

2020


Punah Terkubur Kenangan

: untuk Lia

katakan, bagaimana kesepian bekerja

menghidangkanmu kembali ke ruang dengarku

sebagai masa lalu, sebagai yang bukan lagi milikku.

sementara di dada, suaramu terus menggema

tak putus kudengar dari telinga

seperti menyesal, seperti ingin lagi kuterima.

di hadapanku, kau kuras air mata

mungkin rayuan, mungkin permintaan maaf

atas buruknya niat, menjadikanku pelarian.

kau suguhkan bagian inti tubuhmu

yang tuntas kau sayat untukku

seperti merayu, seperti menunggu jawabku.

tetapi maaf, hatiku telanjur berkarat

mustahil kusucikan ulang untuk kau

yang telah punah, terkubur kenangan.

2020


Ingatan Masa Lalu

aku penyair, datang dari masa lalu

diutus kenangan untuk menjenguk

riwayat harimu yang penuh rindu.

aku tahu, ragamu tak lagi utuh

tak lagi mengandung aku

sejak ia tiba mengetuk

kesepianmu pascaperpisahan itu.

aku tahu, bekas pelukanku

mungkin sudah kau basuh

kau sucikan dari tubuh

dari ingatanmu yang keruh.

aku tahu, ia mencintaimu

sedekat nadi dengan denyut

sedekat jantung dengan degup

sedekat hidup dengan maut.

sementara kau tunduk

pada ingatan masa lalu

ingatan semasa denganku

yang gagal kau lupakan itu.

2020


Hujan Jatuh

hujan jatuh dan yang basah

adalah ingatanku tentang kau.

setiap rintik di atap kuangkakan

sebagai rindu yang betah berdenting

menghitung bulir-bulir detik

membahasakan kita sebagai kekasih

yang piawai merawat rasa sakit.

hujan jatuh dan yang basah

adalah ingatanku tentang kau.

setiap helai gerimis yang hinggap

di jendela kamar kumaknai sebagai kau

menghitung butir-butir waktu

menangkap aku sebagai masa lalu

yang piawai mendatangkan rindu.

2019


Permaisuriku

            ─ Wei Gu & Putri Wang Tai

permaisuriku, putri gubernur wang.

sebelum mimpi jauh mengular, dengarlah

dengar apa yang hendak kuselipkan di alkisah:

seorang lelaki nyaris membunuh takdirnya sendiri.

114 tahun silam, ia meminjam namaku

lengkap dengan tubuh dan silsilah keluarga

ke songcheng dikawal para pelayan.

2suatu malam, bulan berguguran di pasar

ia jumpa lelaki tua tak dikenal

yang begitu saja membekukan sabda:

3“kuberitakan padamu, wei gu.

demikian takdir rampung disusun

dan kepada gadis berpelayan buta itu

kelak bakal kau persembahkan hidup.”

4tapi ia tak percaya dan murka.

lantas menitahkan utusan agar segera

menikamkan pisau ke tubuh gadis

yang tak ia kehendaki adanya.

permaisuriku, putri gubernur wang.

14 tahun silam, usiamu menginjak 3 angka

dengarlah, dengar apa yang hendak kukisahkan:

seorang lelaki nyaris menikahi penyesalannya sendiri.

5ia gagal merayakan kematian gadis

sebab utusannya tak cukup akal

bersilat pisau di tengah kerumun orang.

6kemudian, berlari ia menjauhi kota

sembunyi dalam rahasia, dan berharap

tak seorang pun sanggup mengingatnya.

714 tahun berjalan, ia lalu dijodohkan

dengan putri gubernur xiang, wang tai:

seorang gadis yang 14 tahun silam

pernah begitu ingin ia musnahkan.

permaisuriku, putri gubernur wang.

sebelum mimpi jauh mengular, dengarlah

dengar apa yang hendak kusenandikakan:

14 tahun silam, andai kau sampai berpulang,

siapa yang bakal kusanding di pelaminan?

2019


Jika Terpaksa Kembali

kelak, setiap jalan dan tempat yang sempat

kita singgahi akan pikun pada waktunya,

dan kita menua dengan derita yang berlainan.

jika terpaksa kembali, rupa kota tak lagi sama

jangan mengenang, jangan mengenang!

tentarakan dirimu, cekal air mata sebelum jatuh.

berjalan dan singgahlah di mana pun, tanpa aku.

biar kota tumbuh dan memulihkan rupa

dari jejak kesedihan kita yang parah.

2019


Sisakan Air Mata

sisakan air mata

sisakan sehelai untukku

di perut gelas yang dalam

tuangkan, tuangkanlah segera

biar lekas kuteguk segala

kesedihan yang ada

kita hampir berpisah

hampir kembali asing

untuk tetap mengenal

semua yang bakal sudah

esok, akankah kehilangan

lebih mudah diterima

daripada bertahan

dari debur amarah?

sisakan air mata

sisakan sehelai

untuk kita perderas

selepas resmi berpisah

2019



Daffa Randai,
lahir di Srimulyo, Madang Suku II, Ogan Komering Ulu Timur, Sumatera Selatan pada 22 November 1996. Alumnus mahasiswa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta, konsentrasi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Presiden komunitas Pura-Pura Penyair. Buku tunggal perdana: Rumah Kecil di Kepalamu (Purata Publishing, 2018). Beberapa puisinya terbit di buku antologi bersama, media cetak dan online. Bisa dihubungi lewatsurel: [email protected] atau Instagram: @randaidaffa96.