Puisi Sarita Rahel Diang Kameluh
sebab, di bingkai emas, di ujung altar itu tubuh Anakmu ingin menyusu dan menjelma menjadi anggur dalam cawan.
sebab, di bingkai emas, di ujung altar itu tubuh Anakmu ingin menyusu dan menjelma menjadi anggur dalam cawan.
kau susuri gerbang kematian. diiringi tangis, juga doa-doa, lewat bau dupa.
Jauh-jauh hari telah ia betulkan suara-suara serak hati sebagai rayuan kepada Kekasihnya. Semua ini tidak diartikan sebagai permintaan,…
Tak ada yang bisa mengurungkan qada` berjuntai semangatmu jua tak bakal mampu mengalihkan perhatian tuhan, kita berhala di…
setelah kau siap untuk perpindahan Tuhan menidurkanmu berpuluh-puluh hari hingga jari-jemari, tulang serta daging berkelindan menjadi wadah yang…
sepasang tuhan menaklukkan para pendongeng, menyelipkan mulutnya kedalam mulut demonstran dengan keadaan menganga, seekor laba-laba muncul, lalu kabut…
karena setiap malam datang ia menyelinap melalui dinding-dinding pada bantal ia terbang ke dalam status dan foto-foto dalam…
aku menyaksikan semua itu sambil merokok dan menulis sebuah puisi iseng di dalam telinga, muncul bunga bunga
ada yang belum tunai ia kerjakan dalam hidup : merasa bahagia meski hanya tiga detik
orang-orang memilih mati di tengah virus gigil waktu menjangkit kompilasi tubuh malam mata-mata telah memborgol kelopaknya waktu-waktunya berselimut…