Aforisme Sepi
orang-orang memilih mati
di tengah virus gigil waktu
menjangkit kompilasi tubuh malam
mata-mata telah memborgol kelopaknya
waktu-waktunya berselimut mimpi
dan ia rindukan sedap kopi pagi hari.
sisakan ampas sepi pada gelas sunyi
yang kuseduh sedih ini di beranda
bersama rintik hujan dini hari
2020
Ada Masanya Penyair Mencintaimu dalam Hati
ada masanya seseorang jatuh cinta
hanya mampu diungkapkan dalam puisi
itulah kemahiran penyair atau aku sendiri
tapi penyair bukan penakut apalagi lebih
dari seorang pengecut.
ada masanya di jauh hari penyair memilih:
mengasihimu sebagai satu-satunya puisi
atau membayangkanmu sekadar sebagai latar
belakang rasa cerita fiksi.
ada masanya aku tak ingin memilih kedua-duanya
sebab penyair hanya mampu mencintaimu di
hati dalam puisi. dan itu lebih romantis dari seseorang
yang hanya mencintaimu dengan separuh hari dan hati.
2020
Tulus dan Murni Cintaku Keluar dari
Dubur Seorang Pecundang
cintaku tak seluas pikiran kaum penguasa
mereka cerdas bersilat kata-kata dan semangat
menjungkirbalikkan bangku-bangku keadilan
demi undang-undang dusta berjalan dengan
aman di tengah-tengah hidup kita yang tolol.
cintaku tak sejahat gajah-gajah mencintai negara –
negara yang terbuat dari serpihan sejarah dusta.
kau tahu gajah-gajah itu siapa, ika? merekalah penguasa itu,
sang pemilik tangan-tangan keadilan yang buntung sebelah.
cintaku tak semewah dan semegah istana negara:
rumah tuhan dan dewan perwakilan dusta merumuskan
hukum dan undang-undang untuk melindungi pecundang,
penindas dan penguasa yang ber-uang. siapa mereka ika?
mereka adalah politikus, penjilat dan tikus-tikus
dalam penjara yang hidupnya lebih mewah dari
seorang pencuri ayam. padahal mereka adalah pencuri
kebebasan hidup kaum rumputan seperti kita.
cintaku sekali lagi perlu kau cermati, ika. aku ulangi: cintaku tak
sekejam politik yang berhati intrik. karena tulus dan murni
seonggok cintaku keluar dari dubur seorang pecundang.
Jurang ara.2020
Sampai Kapan Waktu Menimang Air Mata
dan Kita Meminang Masalah?
kau semai abad-abad yang gelisah, tahun-
tahun terluka dan serajut hari yang fakir bahagia
di ladang kepalaku. lalu kini tumbuh dan
berbiak menjadi sejuta masa lalu yang lumpuh
dalam gendongan waktu-waktu kita melangkah ke
masa depan cinta.
kau tiba banting gelas-gelas perasaan hatiku
ke berbagai kota yang kini bersibuk hati merapikan
kesunyian dan kematian ke dalam lemari kenangan.
lalu di kota itu rasaku dan rasamu menjadi sepasang
mata yang berduka-cita menatap lahan-lahan luas
di balik gedung dan perumahan tumbuh kuburan
-kuburan baru dan mayat-mayat segar yang segera
digiring ke liang akhirat.
kau lalu baru tersedu di kedalaman sumur hatiku
di saat ingatan menimang-nimang sejarah berpenyakit
tentang wabah yang masih tak menemukan jalan pulang,
perihal bulan-bulan yang terus menangis sendirian
atau tentang sakit hati kita yang tak menemukan
pintu kesembuhan.
kau baru menyesal kalau hidup di tengah kubangan
air mata harus tetap bisa tersenyum walau sia-sia
dan agar bahagia segera bangkit dari dasar kesedihan
kuajak kau ke keluasan dan kemegahan bahasa
di sana senyum hatimu tidak akan berbunga sia-sia
sebab puisi dan prosa akan menampung segala
benda-benda hati kita: abadi.
Jurang ara.05-20
Mencintaimu dalam Gelap
dan di saat kesabaran terus
memayungiku dari hujan perih masa lalu
sampai masa cinta berujung kelabu
akhirnya kutemukan cara paling pahit untuk mencintaimu.
dan satu-satunya cara adalah mencintaimu
dalam gelap. Bila dalam terang matamu – segerobak
keberanianku hancur di ujung jalan lidahmu yang asin
namun kini dari balik tembok ketidaktahuanmu
kudayakan waktu untuk melatih lidahku
belajar mengucap cinta padamu.
dan apalah guna itu semua
bila saat di ujung matamu aku masih
sepenuhnya menjadi bunga gugur
sebelum waktunya.
2020
Puisi adalah Gema Lain dari Hati
setiap yang diungkapkan
penyair adalah matahari
sebab kilau cahayanya adalah
terik hatiku yang puisi.
seperti puisi –puisi yang kutulis ini
sama sekali tak mengandung nilai-nilai
jahat untuk mempolitisasi hatimu.
karena bahasa hati adalah mesin
kejujuran yang memproduksi
makna-makna kasih-sayangku padamu.
Sumenep, 2020
Mitos Ketakutan
kini kepalaku menjadi
taman kuburan. seperti
ibu ingatan memeluk
pohon kematian.
saat ini pembunuh seribu
bayangan itu adalah corona
tubuhnya tak berwujud
namun membuat nyali
bersujud pada kecemasan.
akhirnya orang-orang tak lagi
berjalan, pekerjaan tonggak
sebulan, sekolah tutup usia
dan jakarta adalah gelanggang
manusia dan penyakit bertarung
mati-matian mencari sesuap napas kehidupan.
2020
Kompilasi Penyakit
hari ke hari berlari pilu
menyeret ketakutan ke
gudang-gudang pikiran
yang kelabu
betapa hidup ini terdiri dari
bagian bayang-bayang kecemasan
seperti DBD yang menjelma maut
sampai kini corona yang menjerat
kita tahu, bahagia hanya abadi
bersama hidup dan kenangan
tapi sampai kini dan nanti
apakah kita terus mengunci
tawa, mengubur kegembiraan
dan menyingkat segala urusan
pekerjaan dari ruang sunyi
2020
Simposium Kecemasan
tiba-tiba seribu buih jakarta
menggelembungkan pikiranku
dan meledak menjadi serbuk-
serbuk ingatan tentang
kehidupan orang-orang kota
yang tengah menghitung
biji ketakutan dalam rumah
di saat tiap detik balon kematian
meledak di planet mataku
betapa langka kotaku saat ini
jantung jalan adalah pusat
kesepian membayang,
kecemasan mewabah
dengan meletakkan kartu
kematian pada aktivitas kehidupan
sementara kabar buruk dari
langit corona terus meletus
di organ-organ media massa
hanya meluluh-lantakkan
batu hati jakarta
akhirnya rumah sakit dan kuburan
menjadi liang kepulang terakhir bagi
para korban.
sementara sekolah, kantor, kedai
kopi dan semangkuk hati yang asin
mereka cecap tiap hari dalam kandang.
2020
Buah Dosa di Dada Desember
serasa dosa ini lebih tua dari usiaku sendiri
sungguh berlipat sungguh, hati ini berat
melangkah dari hidup ke hidup
mungkin, mungkin dan hanya kata
mungkin terucap dari bibir si duka
bila seribu gunung maafku
tak cukup mengubur jasad duka desember
di liang dadamu.
dan,
sejuta rintik hujanku tak akan
mampu memadamkan nyala api
di mata murkamu.
sebab aku kini lebih berat dari batu sebukit,
lebih ringan dari kapas diterbangkan angin
dan lebih cemas dari orang-orang melawan
virus corona.
di saat hati berat memikul nasib dosa,
membuat punggung hari lecet dan bernanah
menggendong segunung sesal dan selaut maaf
yang kau telan begitu saja tanpa bahasa.
2020

Norrahman Alif lahir di Jurang Ara –Sumenep –Madura. Menulis puisi dan resensi di Lesehan Sastra Yogyakarta. Beberapa karyanya bisa dinikmati di Media Indonesia, Republika, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Rakyat Sultra, Tempo, Padang Ekspres, dan lainnya. Buku puisi terbarunya Mimpi-Mimpi Kita Setinggi Rerumputan (sublimpustaka-2019).
