Puisi Daffa Randai
sepasang matamu menyanderaku seperti membujuk, seperti menunggu sepasang bibirku lembut menyapu bibirmu yang gigil itu.
sepasang matamu menyanderaku seperti membujuk, seperti menunggu sepasang bibirku lembut menyapu bibirmu yang gigil itu.
sore mengantar tetangga ke teras rumah dengan plastik bening di cantolan sepeda
Telur di piring dicolong kucing, berikut kesabaranmu. Suhu sisa subuh dan semburat matamu nyaris sama, menyentuh sukma yang…
“Pada mata yang tak lagi retak, Pada segala yang sedang malas berkemarau Mereka yang sekian kali menabur hujan…
Membaca Burung Hantu setajam matamu, kasih kurawat gelap ini sampai wajahku kusut dan nyanyian burukku terdengar di tengah…
Kopi lelet di depan matamu luput kau sruput Berita kematian saudara-saudara menyergap telinga Virus-virus baru, makin ngeri kau…
Senyum. Senyum menggoda Seribu like – love; komentar Sunyi. Hambar – ambyar, dari balik layar
cintaku ditiuptiup peluit panjang yang melengking menggurui buntut kendaraan terus, terus, op, balas kiri balas kanan, ya. munculnya…
Sekawanan api kata-kata dalam mesin kepalamu melorot menjelma ular-ular beracun di sarang hati-hati para penguasa yang kehilangan induk…
di taman kota, aku menemukan diriku sedang awas pada tiap telinga. kusulut ini rokok dalam diam, dalam-dalam