Puisi

Puisi Rizka Nur Laily Muallifa

Jagung Rebus Hangat

sore mengantar tetangga

ke teras rumah

dengan plastik bening

di cantolan sepeda

keceriaan berwarna jeruk

lekas berpindah tangan

bersama preambul paling rendah hati

kebetulan panci untuk merebus berukuran besar

muat untuk mendidihkan lebih banyak keceriaan

Bojonegoro, 2020


Memasak Batu

ibu memasak batu

di atas tungku ceklekan

dengan api sedang

di atas batu

tiga bungkus amin

menguarkan keringat petani garam yang khidmat

amis baju nelayan

berpacu dengan haus pemanjat pohon kelapa

menjelang bedug

laut dan perkebunan semarak di meja makan

kepada mereka,

amin mengumpat aman

Bojonegoro, 2020


Pulang

kita kembali pada hati masing-masing

dengan pengertian yang susah

tapi kesusahan apa yang layak jumawa

menjelma paling kuasa

tidak ada kesusahan yang benar-benar

kata berita di lini masa

kita hanya perlu menepis kabar

panggilan dan persemuan bimbang

semoga tidak ada lagi jalan yang rentan

sehingga kita tidak perlu berebut jembatan

di lintasan sungsang

Bojonegoro, 2020


Kesiangan

pagi terjadwal sejuk

di jalan-jalan kampung

kaki menginjak embun

dengan agak tergesa

di timur atap rumah

bayi matahari sudah merah

bidak-bidak toko mesti lekas dibuka

kaki yang terjadwal mengitari sepetak besar perjalanan

jadi makin tangguh

mengikuti paving jalanan yang bergelombang

Bojonegoro, 2020


Lebaran Wabah

      : dari film Negara, Wabah, dan Krisis Pangan

kelas menengah perkotaan

menonton dokumenter terbaru Watchdoc dengan kegeraman tak sudah-sudah

negara yang berkasih hijau

senantiasa menjamin rumah

bagi hasil pertanian orang lain

tapi melibas kesuburan tanah anak kandungnya

di kulon progo

di kendeng

di batang

di papua

di kalimantan

di mana saja

dalam kebenaran

anak negara yang tak pernah manja

mengandung pangan yang berdaulat

tapi bapak yang telanjur khilaf

tak pernah mampu melihatnya

Bojonegoro, 2020


Ramadan Masih Meriah

mikrofon tidak berhenti

menguarkan biji-biji ayat suci

dari suar musala

suara-suara berkisah lugu

dari pagi sampai siang berwarna merah

lalu beranjak serak dan berat

saat cahaya tenggelam di kiblat

setiap hari

musala-musala yang letaknya selemparan sandal jepit itu

riuh oleh ragam lamaran

baik yang pamrih

atau tidak sama sekali

(Bojonegoro, 2020)


Arief Budiman

hari ini aku membaca tiga kematian di cerpen

ketika istirah rampung,

cerpen kematian ke empat mengetuk kelopak mata

tokohnya bernama wangi

tokoh telanjur mati

meninggalkan banyak tanda seru

di titian kebudayaan, politik, sosial, dan kebangsaan

(Bojonegoro, 2020)


Tua dan Gembira

                : djokolelono

Usia memanggul kegembiraan demi kegembiraan

Ia ingin kesedihan dan tangis singgah sesekali saja

dan jangan sekali-kali berlebihan

Hidup ini humoris

Jangan cemberut apalagi cengeng

Nanti kamu digoda setan penunggu beringin tua di Wlingi

Juga jangan bermain-main di dekat beringin tanpa doa orang tua

Setan van Oyot bias menjelma apa saja

Kepalamu bias tiba-tiba benjol

Atau kau tersekap di kamar tak layak huni

(Solo, 2020)


Di Kereta Hijau

                : impian

kita sibuk pada diri masing-masing

mematut wajah di jendela

mereka sesuatu yang jauh

di balik jendela, aku melihat obat-obat

yang harus kau minum tiap pagi dan petang hari

di dalam obat-obat, aku melihat dirimu bergulat

dengan bayangan diri yang muncul di siang hari

sebelum aku terjaga

kau sudah menyanyikan puji-pujian Mbah Moen

yang dialamatkan pada Fatimah dan Khadijah

kesempatan perempuan menjadi waliyullah

lebih terbuka dan terasa masuk akal

“Tapi mana mungkin Gusti Allah menjadikankamu wali-Nya

Tampangmu tak ada bakat sama sekali untuk jadi wali”

waktu itu tangisku sembunyi di balik daun mata

bukannya menangisi ledekanmu

tapi ingat, hari ini kekasihmu menikah

(Solo, 2020)


Di Samping Peti Mati di Dalam Pesawat AURI

kekhawatiran Gie

tiba-tiba mencemaskanmu

justru saat adikmu yang keras itu

tergolek pasrah dimandikan para perawat jenazah

“apakah hidupnya sia-sia belaka?”

kau mengulang-ulang pertanyaan di dalam hati

di tempat tukang yang membuat peti mati

yang menangis tak henti-henti

jawaban itu kau peroleh

dan siap kau bisikkan pada Gie di dalam pesawat nanti

dari Malang, pesawat sempat istirah di Kota Ngarso Dalem

pilot AURI menciptakan kembang

menggenapi pembuat peti mati

istirah kalian hanya sepersekian jenak

sejak itu, dadamu terasa lebih longgar

pesawat bersiap menuju Jakarta

tanganmu menelusuri peti

berupaya mencari di mana letak persisnya telinga adikmu

(Bojonegoro, 2020)


Rizka Nur Laily Muallifa. Pembaca tak tahan godaan. Dalam masa-masa riang pasca menerbitkan buku puisi bersama beberapa kawan. Buku puisi itu Menghidupi Kematian (2018). Tulisannya pernah tersiar di Koran Tempo, Kedaulatan Rakyat, Solopos, Koran Madura, Radar Bojonegoro, detik.com, alif.id, basabasi.co, ideide.id, langgar.co, dan beberapa lainnya.

Puisi

Puisi Daviatul Umam

Telur Rebus

Palung malam di ujung

demam, kau gedor lelapku

hanya untuk membuka pintu

selera akan sesuatu yang kau

tahu tidak kusuka. Atas petuah,

penghalau wabah.

Telur di piring dicolong kucing,

berikut kesabaranmu. Suhu sisa

subuh dan semburat matamu

nyaris sama, menyentuh sukma

yang belum kembali seutuhnya.

Pagi menyibak jendela. Amis

telur berserakan di mana-mana.

Di tengah kemurungan semesta,

masih saja ada penular kegilaan.

Inikah wabah yang bakal abadi?

Bogor, 2020.


Aubade

Aku suka embun, kecuali

yang bergelantung pada

bulu matamu.

Seperti aku menyukai puisi,

tapi bukan yang tumbuh

dari keangkuhan.

Aku suka cara jari-jarimu

bekerja. Hanya saja lidahku

belum mampu membayarnya.

Maafkan aku yang dalam hal

mencintai, masih kalah hati-

hati sama puisi sendiri.

Sumenep, 2020.


Kopi Januari

Kopi sudah ampas, Sayang.

Sudah tiba aku di dasar pencarian.

Cawan sedingin almanak usang

yang kau tinggal menuju lembaran

baru. Tanpa kenal lagi

angka-angka rindu.

Halaman demi halaman buku kita

buka. Kata demi kata pun lihai

membuka diri kita.

Angin membagi-bagi sedap

melati. Kita menerimanya sebagai

pengharum ruang dada. Dada

yang menahun berlumut sepi.

Kopi sudah ampas. Tapi tak perlu

menyeduh lagi untuk meraih hangat.

Sumenep, 2020.


Kopi Susu

Terberkatilah aku di hadapanmu.

Menjadi gelas panas yang kau angkat,

lalu bibir kita bersatu melumpuhkan

cuaca dan bahasa.

Dengan lembut kau seruput kopi susu

dari golak batinku. Sampai tandas,

sampai dingin-kaku sekujur tubuh.

Tak apa jika sesudah ini tiba-tiba aku

pecah berkeping-keping. Aku bahagia

telah mengalirimu kehangatan sebagai

amal bajik, sekaligus bisa membawa

bekas kecupmu sebagai bekal terbaik.

Bogor, 2020.


Soto Ayam

Akhirnya kita punya menu

baru, setelah yang berlalu cuma

menyisakan jemu. Kuah hijau masam

perasan jeruk nipis, bertebar irisan

daging ayam dan kubis. Tak ada

kecap dan sambal kacang, ketupat

atau lontong yang kita kenal.

Semua berubah. Ini bukan gigitan

rempah-rempah yang karib di lidah.

Kenikmatan terpenuhi. Tapi perasaan

tak mau mengerti. Ada aroma lain

yang ingin kita rebut. Ada asap lain

yang ingin kita tuntut.

Di tepi situasi yang berantakan,

hangat tungku ibu betapa kita

harap sebagai perlindungan.

Bogor, 2020.


Dapur Perantauan

Tanganmu semakin lentur

menyalakan dapur.

Tiada kuah kelor, sayur asem pun

jadi. Seikat jenis sayuran yang kau

beli dari gerobak subuh itu asing

bagi mata kita, kecuali sepotong

jagung dan pepaya. Tanpa resep,

kau taburkan saja bumbu instan

yang justru mendustai pengecapan.

Sementara tempe gorenganmu

menyuarakan rasa terbaru. Seolah

menutup semua celah dari aneka

lauk kota. Berbalut tepung kemasan,

merayu angkara dan candu. Kendati

ujungnya, kebosanan hinggap juga.

Saat influenza tiba menjerat badan,

giliran wedang jahe kau hidangkan

sebagai perlawanan. Bersama doa

pagi khusyuk kuteguk. Namun hanya

keraguan yang dapat melewati liang

tenggorokan. Jahe kehilangan bisa.

Kau kehilangan cara. Dapur tidak

benar-benar menyala.

Bogor, 2020.


Sepasang Pujangga

Kita tak lagi berkirim puisi.

Tak kan pernah lagi. Karena kita

sudah menjadi kata-kata terindah

sekaligus makna terpenting

bagi diri masing-masing.

Bermadah di atas suka-duka,

membina kenangan sebagaimana

pengabdian Wida dan Toni,

Dian dan Budhi, Benazir dan Fauzi,

Jamal dan Maftuhah, Indrian

dan Mutia, David dan Ibna.

Hidup penuh metafora, istriku.

Beruntunglah jika kita peka selalu.

Belajar pada alam, mengaji

pada keadaan ataupun ketiadaan.

Biarkan jemari waktu

menganggit jadi larik-larik puitis.

Di dalamnya kita berumah

hingga baterai jam kefanaan habis.

Bogor, 2020.


Derai Pertikaian

Selain karena cangkir akan

selalu beradu dengan tutupnya,

rabu yang melahirkan kita

sepertinya memang jadi landasan

kuat mengapa ruang sering kali

melarang kita berdamai.

Kita dipertemukan oleh keisengan

liar otak remaja. Selanjutnya tangan

dunia tak kalah liar iseng-iseng

mengeruk ketenteraman.

Aku sendiri tak paham, amarahku

serupa kumis tipis yang kerap

menyentuh pipimu geli. Hari ini

dicabut, dua hari lagi tumbuh.

Begitupun keegoisanmu. Batu

yang jarang gagal menjatuhkan

sepatnya buah sesal.

Alangkah sukar pemakluman.

Sebegini lemahkah toleransi

dalam dada yang berlumur cinta?

Bogor, 2020.


Supermoon

Semalam aku mendongak

ke atap jagat yang langka.

Menatap kesempurnaan wajah,

berpendar-pendar menyilaukan

penglihatanku padamu.

Ingin kupandang lebih lama,

walau tengkukku akan ngilu.

Hampir lupa kalau pusat cahaya

akan menyesatkan mata semata.

Bogor, 2020.


Daviatul Umam, lahir di Sumenep, 18 September 1996. Alumni Pondok Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa. Buku puisinya, Kampung Kekasih (2019).

Puisi

Puisi Setia Naka Andrian

Sudah Berapa Jam Lalu

Sudah berapa jam lalu,

kau tumbuh di atas punggungku

Kau menikam banyak rindu

Yang ditanam pelan

di antara catatan yang lupa

Ditanam di jalan-jalan

Menuju ketiadaanmu

Sudah berapa jam lalu,

kau telah memilih tak megunjungiku

Kau bilang,

“Sudahlah, jangan cemas

Aku telah tumbang

dalam sekejap waktu

Selepas segalamu tumbuh

di punggungku”

Demikianlah kau,

yang menjadikan kami kikir

Yang membiarkan segenap rakyatmu

terlampau fakir

untuk menentukan segala iman

Masa itu, kau begitu rupa

bergegas berlari

Jika pagi datang

dengan berjingkat begitu tinggi

Jika pagi mendesakmu

agar mengangkat lagi

kedua kaki setinggi-tinggi

Kendal, April 2018


Nama-Nama yang Berlalu

Dalam segala nama mereka

Telah disebutkan nama-namamu

yang berlalu

Doa-doa yang telah lama

tanggal di batu-batu.

Dalam segenap raga mereka

Nama-nama kerap digiring dari segala duka

Setiap pagi menyala, siapa saja melihatmu

Mengapung di sungai-sungai panjang

yang sering memilih berubah pikiran

Untuk menemukan muara yang lengang

Lihatlah, nama-nama baik telah berlalu

Doa-doa dengan napas tinggi

lebih memilih singgah

dan menggantung huruf-huruf vokalnya

Di setiap nada yang mengembang di udara

Saat setiap orang telah bergegas lari

Mendirikan badan lain,

sebelum segalanya tumbang

Menjatuhkan banyak hal di luar segala

yang tak lagi dikehendaki

Dalam segala nama-nama yang berucap

Dan dibiarkan mengembang di udara

Maka bergeletakanlah nama-nama kecilmu

di antara tubuh mereka

Sejauh mata yang telanjang

Sejauh kegagalan tumbang

di sebelah ragamu sendiri

Dan sejak saat itu, segala nama telah berlalu

Tumbang di segala arah

yang urung menunjuk kematian tubuhmu

Kendal, April 2018


Pada Mata yang Tak Lagi Retak

Pada mata yang tak lagi retak,

pada alis yang tak sempat bercabang

Kau telah mengirim kami

Dalam kedatangan yang berulang-ulang

Dan kau diam-diam

telah mengunjungi banyak risau

dalam kegundahan

Pada mata yang tak lagi retak,

Pada segala cahaya yang berlalu-lalang

Meninggalkan diri kita

Di antara segenap hujan

yang gagal menidurkanmu

Pada mata yang tak lagi retak,

Kau kembali kepada kami

Yang tiada pernah tega

Menggerakkan mata sendiri

Kau menatapi kami diam-diam

yang tak kunjung matang

Pada mata yang tak lagi retak,

pada hidung yang mencium sedalam-dalam

Kau berjalan mengunjungi kami

Kau berkata dengan pelan,

“Sudah saatnya kami menenangkan batin

dan ragamu

Yang kerap tanggal di pematang

Yang kerap berlinang

saat terik di dada tak kunjung

melambaikan tangan,”

“Pada mata yang tak lagi retak,

Pada segala yang sedang malas berkemarau

Mereka yang sekian kali menabur hujan

yang tak sempat reda,

memanjakan ketiadaan di setiap gerak luka,”

Pada mata yang tak lagi retak,

Semua memanas, membakar televisi, radio, dan koran

Semua hangus, kecuali bibir-bibir yang berdesakan

menempel di media sosial

Kendal, April 2018


Musim

Musim telah matang

Ia mengejar hujan

yang sering absen datang

Di balik telapak tangannya

yang kapalan,

musim sering menggerutu

menyaksikan banyak hutan panas

yang sering salah jadwal kunjungan

Melupakanmu, melupakan desa

dan kampung halamanmu

Kendal, April 2018


Hari Sudah Pagi

Hari sudah pagi

Sudah saatnya kita bergegas pergi

Sudahlah, tak ada lagi

yang menyegarkan matamu

Semuanya penuh lika-liku,

membakarmu,

Mengumpat segala celamu

Lihatlah di luar,

bala tentara sudah menunggu,

Berbaris pasukan berkuda

Siap mengawal dari segala udara

Dari segala napas

yang kerap mendengkur duluan

Hari sudah pagi,

Kau akan segera diajak pergi

Kepada segala yang memacu jejak

Saat orang-orang masih direkam

Dalam segala cara cepat

Untuk bergegas meruntuhkan

Kendal, April 2018


Bacakan Kepada Kami

Bacakanlah kepada kami

Ribuan angka yang jatuh

di luar kepala

Bacakanlah kepada kami

Jutaan purnama kesembilan

yang tanggal

sebelum menunda akhirnya

Bacakanlah kepada kami

Kepada segala bibir

yang tumbuh di luar suara

Kepada segala umpatan

yang menempel

di dinding-dinding kening

dan dadamu

yang kian hari

kian saling melambaikan tangan

Kendal, April 2018


Bahasa Ingin Lelap Tidur

Bahasa ingin lelap tidur

Ia sudah kangen bertemu ibunya

Dalam tidur,

Dalam mimpi

yang katanya sudah bolong-bolong

Bahasa ingin lelap tidur

Ia sudah lupa rasanya tamasya

Saat mengunjungi ragam warna

dan makna

Yang kian bertebaran, diciptakan

di sembarang dinding kamus-kamusmu

yang terbakar

Bahasa ingin lelap tidur

Ia sudah ingin menjadi sore hari

Ingin bergegas jadi waktu senyap

Yang memilih mengerami

segala kesunyian

Bahasa ingin lelap tidur

Ia merasa sudah cukup tua

untuk mengenang masa muda

yang tanggal berkali-kali di jendela

Bahasa ingin lelap tidur

Ia ingin sowan kepada para leluhurnya

Yang kabarnya, sudah tak lagi tinggal

di jendela-jendala

Kendal, April 2018


Bergegaslah Menyelam

Bergegaslah, Sayang

Bergegaslah menyelam

Dasar laut hampir tutup

Tiketmu tinggal sepenggal angin

Bergegaslah Sayang

Bergegaslah menyelam

Hari sudah hampir lepas,

pantai telah bergerak

meninggalkan segala panas

Lihat, di sana rumahmu

Yang menawarkan segenap keretakan

Bersama doa yang sedang asyik kabur

Ia telah lama menanam diri

Di atas sana, saat kami telah libur panjang

Saat segalanya telah memilih tunai duluan

Kendal, April 2018


Berjalan ke Utara

Kami lah yang berjalan ke utara itu

Kami lah pencari ladang

Yang kerap tak sempat mengaliri diri

Dengan beragam aroma bunga

Atau apa saja,

selain dari napas-napas panjangmu

Kami lah yang bergegas ke utara itu

Kami lah pejinak pematang

Yang kerap tak kunjung habiskan

cara berupa-rupa

Kami tak tahu, kapan akan menemukan

Segala ubi-ubian, jagung, atau apa saja

Yang leluasa menggerakkan tubuh

Kami lah yang bergegas ke utara itu

Yang berjalan dan tak berani

diam-diam menilai segala ketiadaanmu

Kami lah yang bergegas ke utara itu

Yang hanya mencoba menembus

Segala lubang sela-sela jari kaki

untuk menghamburkan segala rupa

Untuk selalu tunduk, dan berlutut

Di bawah nama-nama keajaibanmu

Kendal, April 2018


Berat Duka

Sudah berapa berat duka

yang ditumbuhi peluru

Sudah berapa berat suka

Ditumbuhi malu

Kami enggan bertapa lagi

Lereng gunung tak lagi asyik

Untuk menyembunyikan kekalahanmu

Sudah berapa berat duka

yang segalanya telah luput

Memikul doa kami yang kerap runtuh

Enggan memilah puncak mana

Yang pertama akan ditempuh

Sudah berapa berat duka

Yang tak lagi bisa berbuat apa-apa    

Kami kian hari seakan kian

membunuh masa depan kami sendiri

Kami sudah tak begitu akrab

Dengan duka-dukamu

Maka bergegaslah kami,

Menuju segala ketiadaan itu

Kami berlarian, menembus segala

yang tak pernah kami temukan

Dalam sekelebat nyawa

Yang diam-diam kerap mengunjungi

duka-duka itu

Kendal, April 2018


Setia Naka Andrian. Lahir dan tinggal di Kendal sejak 4 Februari 1989. Pengajar di Universitas PGRI Semarang. Buku puisi terbarunya Waktu Indonesia Bagian Bercerita (Penerbit Buku Beruang, 2020).

Puisi

Puisi-Puisi Ebi Langkung

Membaca Burung Hantu

setajam matamu, kasih

kurawat gelap ini

sampai wajahku kusut dan

nyanyian burukku terdengar

di tengah orang-orang putih menggelar

sebab lewat gelap

kau dapat kusentuh lebih dekat

lebih lesat dari zikir, takbir dan mekar

bunga-bunga mawar, atau kuntum yang hambar melafal

dengan jari-jari layu dan bulu lembut

kujaga dirimu, kasih

dari segenggam siasat pencuri

yang kerap dingin melukai

kutemani kau mencari cahaya

dalam gelap menebus segala

hitam dan jantung muram

ke waham jurang dan batang-batang terpejam

hingga segala jadi baru

biar semua kefanaan ini tahu

kita begitu setia

karena juga rindu bermalam di surga

2020


Segelas Teh Pagi

tak ada doa, tak ada sebaris kata cinta

kecuali murung dicecapnya

pohon-pohon dingin di luar jendela

burung-burung berkicau mengekalkan

warna hijau kelamnya

matahari timbul sederhana

di tengah uap tak ada mekar menangkap kabar

kecuali, cuaca mencelupkan luka

yang samar-samar terperam di pucuk sarinya

2020


Pelukan

akulah dahan dalam imanmu

cinta yang bersulur melilitmu

lantas kita seperti mata burung

dalam sarang menangkap gelap rindu penyatuan

di antara kehangatan dan ketakutan

adalah perpisahan

lantaran sepasang lengan tak mampu mengabadikan

getar sebatang sungai

maka sebuah jembatan membentang

di atasnya kita terpejam

seratus tahun kesunyian tiba menyeberang

selepas pelukan

hanya selepas pelukan

buah abadi terkenang

2020


Yang Tersisa

yang tersisa adalah cuaca

dirangkum renung bayanganmu tumbuh

dari jendela kamar

matamu sebatang sungai mengalir

ke pembaringanku

dan matahari mekar di situ

burung-burung pun terbang menempuh khayalku

tidak, kau tidak tumbuh, melainkan hanya

menyentuh halus yang pernah tersuluh

di waktu kudus

di atas bantal sisa keringatmu

bau rumput muda yang luput dari doa

namun, selalu menyala setiapkali menjelma

2020


Menyapa Kenangan

inilah jalan kita

masa lalu telah menanam hujan

di antara pohon-pohon rindang

seharusnya kita masih di sini

membayangkan di antara bukit-bukit terjal

memelukku ketakutan

melihat kabut yang melepas, dan ilalang yang tumbuh bertunas

namun, doa telah kita padam, sayang

sebelum liuk lubang pertama

lalu yang tersisa sekadar rimbun bayang,

bising suara orang asing

yang keluar dari dalam gelap

menjelama kau, menyentuhku sebagai angin lalu

di antara barisan gedung dan warung

yang menyimpan hangat dan bau tubuhmu

masa depan kulalui dan kupejamkan sendiri

tak ada keabadian, ucapmu.

dan jalur-jalur pun memintas, aku pun mempercepat

kelam, sebagai mata daun-daun kering

yang memilih tidur di bawah selimut pagi

2020


Mata Ijah

berpasang malam

burung hantu yang suntuk berdiam

di antara lantun tarkhim kelam

dalam nyalamu

lalu sebiji dua biji benih bangkit

dari gelapku menyusuri

kedalaman matamu

ke putih sisi, sinar korona bulan

melintasi rintik alismu

yang sunyi membentangkan jalan

adalah ke barat jalan imanku

ke haribaanmu

yang mencairkan segala beku waktu

di hatiku

2020


Biji

wujudku sepi

di tengah rimbun

yang mendalam tiada tepi

pada tanah sunyi

kutengahkan salat ini

supaya menciummu lebih dekat lagi

hingga aku dapat berakar dan berdiri

ajari kami menyerap yang murni

juga mata mereka yang bimbang menatap

kedalaman sujud ini

kami yang kerap hidup

dari dekapan angkamu

dan asuhan susu heningmu

kelak, mungkin tiba buah dudukku

bersama sekerat roti

dan janji yang meragi

sampai tiba matahari yang bahagia

anak-anak burung berkicau di atas rimbun

batang luhur kami

2020


Pengantin Barzanji

aku bersaksi tiada ketenangan kecuali padamu

aku bersaksi tiada kekecewaanku

melainkan jauh darimu

langit dan bumi berdiri dari sinarmu

dan segala jadi debu dari diriku

kecuali bersamamu

tanah timur dan barat yang berseri

menghadapmu, meraih wujud sejati

dari emas dan intanmu yang murni

kuncup bunga kini telah mewangi

semerbak baunya menguar ke langit tinggi

kutanam cahayamu di lubuk sunyi

hingga tersentuhlah jiwaku dan

menyalalah aku atas cintamu

2020


Pacar dari Tuhan

akulah ladang bagi biji-biji air matamu.

tumpahkan seluruh biarkan angin gemuruh

yang kita tuju hanyalah satu

sebab kita tak menanam apa-apa

juga tidak menumbuhkan apa-apa

segalanya cahaya yang bekerja menciptakan sari tegaknya

kau mekar mawar

yang kurawat dari mataharinya

dari duri dan keseimbangan langitnya

tesebab embun tergelincir

di bumi kita ciptakan harumNya

akulah ladang bagi akar pertemuan sang pecinta

rebahkan keringmu

kunyalakan mekarmu

2020


Hantu Imsomnia

kau datang lewat lubang malam

berkelebat memekarkan

kuping dan mataku

meski langit memejam

dan tak sepenuhnya kutahu

apa yang kau genggam pernah jadi milikku? tidak

tawamu buruk serupa burung pungguk

tak ada yang merindukanmu

termasuk diriku

selepas tarkhim kau masih di situ

diam membeku dengan tangan layu

di atas meja segelas kopi dingin

kucecap ragu-ragu

barangkali kau telah menyesap jantungku

dan melafalkan kata murung

yang asing kudengar

setelah terjerembab ke masa lalu

yang pernah menjadi bagianku

2020


Ebi Langkung, lahir di Pasongsongan Sumenep Madura. Alumni Komunitas Tikar Merah Surabaya. Buku puisinya berjudul Siul Sapi Betina 2015.

Puisi

Puisi Rizka Umami

Secangkir yang Luput

Kopi lelet di depan matamu luput kau sruput

Berita kematian saudara-saudara menyergap telinga

Virus-virus baru, makin ngeri kau dengar

Di rumah, kau tak lagi minum dari cangkir bekas anakmu

Kau cuci semua alat makan sisa mereka

Kau tak mau disentuh siapa-siapa

Secangkir lagi, luput dari bibirmu yang basah

Mulai membiru

Kau takutkan maut menjemputmu lebih dulu

Maka kau asing, dari anak istrimu

Mendekam seorang diri

Dalam teralis, ruang tiga kali empat meter persegi

Mulai membiru, sekujur kaku

Tinggal secangkir lagi

Tak mau luput dari bibirmu yang kering

Sudah pecah-pecah, berdarah.


Yang Koyak dalam Ruangmu

Pasca panen kacang ijo bapak remuk

Ruas-ruas jari kaki

Herpes menyerang seluruh tubuh

Merembet ke ketiak, leher, selangkangan

Tak apa, tak apa. Panen kita banyak, Le.

Tapi pasca panen padi bapak hilang, remuk

Diabetes menyerang ruas-ruas jari kaki

Tak bisa jalan beberapa bentar

Diamputasi sudah, kedua jari kakinya

Tak apa, tak apa. Yang penting panen kita banyak, Le.

Tapi bapak hilang, tak seimbang

Tak bisa jalan sepersekian bulan

Peduli apa pada tubuh yang koyak, tinggal remah-remah

Luka-luka nganga

Tak apa, tak apa. Kau bisa gantikan bapak, Le?

Lalu kau tangisi sendiri komplikasi di tubuhmu

Tak bisa lagi mendaratkan cangkul

Hasil panenmu berkurang

Sebab lanangmu tak cakap bertani

Kau koyak dalam ruang imajimu

Mengutuki cita-cita keturunan sudi mengundi nasib jadi petani

Tapi lanangmu pilih sewa orang

Bayar dua kali lipat

Sedang panen makin berkurang, tak seberapa

Kau koyak lagi dalam ruang harap semu, abu-abu

Mengutuk kepincangan

Mengutuki nasib.


Kretek si Mbok

Kubacakan Perempuan dan Kretek

Sedang si Mbok asik mengunyah suruh

Aku menyulut kretek

Dimatikan bapak

Sedang si Mbok menyalakan ulang

Buat apa melarang si genduk ngretek? Kau demikian sama

Sebab kau perempuan, kata bapak

Tapi si Mbok juga perempuan, sanggahku

Lalu si Mbok nyalakan ulang, menghisap dalam-dalam

Memberikannya padaku, sehisapan

Kubacakan lagi Perempuan dan Kretek

Bapak manggut-manggut

Lalu mengunyah suruh, menyalakan kretek buat si Mbok

Kretek si Mbok diberikan padaku, lalu ia mengunyah suruh bersama bapak.


Lintingan Terakhir

Sebelum perang harga, tembakau bapak

dibantai habis

Petani-petani merugi, kalang kabut

Investor bersulang anggur merah di samping istana

Bapak sedia badan

Demo saja, pak…

Berkelit

Petani-petani desa Wates meriang

Pilih menjual ke tengkulak, tapi harga

masih tak manusiawi

Tak dijual, tetap merugi

Dua kali masa panen tak dapati laba pasti

Panen lagi, meriang lagi, rugi

Bapak bisu, menyepi

Ia nglinting dari tembakau hasil panen

Terakhir sampai napas di ujung penghabisan

Lintingan terakhir jadi tempat bapak

Mengukut

Meninggalkan anak istri, dijemput Izrail.


Balkon Kesangsian

Di balkon lantai tiga

Yang luput dari percakapan kita

Disaksikan dua sulur Nephentes, mulai kering

Tapi tak lebih kering dari luka-luka yang kau sembunyikan

Di balkon lantai tiga

Kita sempat menghendaki cerita keutuhan dua manusia

Meski saling sangsi

Pada rasa masing-masing

Bukankah kita, dua organisme yang penuh ketidakpastian?

Lantas memintal harap

Memaksa penuh.


Menimang Ibu

Seperti balita, empat tahun minta ditimang

Ibu baru genap 80

Bungkuk seperti pungguk

Manja seperti gadisku

Tak mau kalah seperti jagoanku

Ibu minta ditimang-timang bapak dan aku

Nenek anak-anak berubah kekanak selepas menua

Sedang kami dipaksa dewasa

Harus mendewasa diri

Sebelum habis masa ibu jadi bayi, lagi.


Kau yang Hilang dari Pelupuk Mata

Koes,

Lelaki yang memaksa pergi dari buaian

Mendaku diri sejati

Pantang pulang sebelum dapat penghasilan

Koes,

Anak sulung tulang punggung

Memangku beban empat saudara kandung

Tiap-tiap waktu kirim uang bulanan

Hampir lupa jalan pulang

Koes,

Jatah sekolah direnggut nasib

Kurang beruntung

Kau hilang di tengah semester

Pilih merantau menyambung hidup

Buat mengisi perut ibu, perut bapak, saudara-saudara sepersusuan

Koes, hilang dari pelupuk mata orang-orang

Pantang pulang sebelum dapat penghasilan, banyak uang

Lelaki malang, rela pergi dari buaian.


Mendoakan Orang-orang yang Kehilangan

Kematian itu, niscaya

Kau kenal baik-baik detail cara membunuh jasad

Wajah-wajah pelayat

Yang pura-pura bersedih

Atau bersusah menghibur mereka yang kehilangan

Kematian itu, niscaya

Kau sekali datang memberi ceramah, khotbah

mendoakan mereka yang terbungkus kafan

mendoakan mereka yang kehilangan

meminta semesta lapang menerima

tubuh-tubuh yang telah dijemput mautnya.


Misi yang Sia-Sia

Dokter Rieux mengamini kesia-siaan

Pergolakan melawan kematian demi kematian

sampai nyawa tak ada sisa

Seperti kisah Maria Zaitun, karya Rendra

Tak ada bekas melawan nasib

Sudah beruntung ajal menjemput daripada hidup dirundung derita

Camus mengotak-atik tokoh utama

Sang dokter tak peduli pada misi yang sia-sia

Jalan terjal kemanusiaan

Memberi tubuh-tubuh yang sakit kesembuhan

Rendra tak memberi Maria berkah kesembuhan

Maria Zaitun mendapat Firdaus bersama lelaki berwajah remuk

Jalan terjal mencecap bahagia

Di akhir misi hidup yang sia-sia


Perempuan di Antara Dua Dewi

Dua sales masih menjajakan Dua Dewi

Meski surup sudah habis mengikis sinar matahari

Tak ada senja-senja atau mega merah muda

Dua sales masih berjalan menembus gang-gang gelap

Menjajakan Dua Dewi di tangan

Perempuan-perempuan dengan rok mini

Berhak sepuluh senti

Lipstik merah darah, bedak tebal

Menghias bibir dan pipi

Tapi  rias tak bisa menghapus payah

Dua Dewi di tangan belum laku terjual

Dua perempuan tak bisa balik ke peraduan

Tapi rias tak bisa menutup duka dari dua bola mata

Dua Dewi terbungkus rapi belum tergadai

Dua perempuan tak bisa balik ke bilik asal

Terus jalan, terus menjual.


Rizka Umami, pengasong di Komunitas Sastra Sadha Tulungagung. Sedang menempuh S2 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Bisa disapa di facebook Tacin atau Instagram dan twitter @morfo_biru

Puisi

Puisi Naning Scheid

Bunga-Bunga Kepalsuan

1/

Senyum. Senyum menggoda

Seribu like – love; komentar

Sunyi. Hambar – ambyar,

dari balik layar

2/

Silikon – dada ranum

Parfum parisien – harum

Tag harga di panggal paha

Surga plastik; gimik

3/

Ketika layar dimatikan,

realita menjadi bayangan

Fantasi lebih sejuk dari udara

– fatamorgana

Brussel, 2020


Raksasa

Untuk sarapan, aku makan

Satu macan Sumatra

Dua orang hutan

Siang, hidangan pokok

Sup penyu tiga mangkok

Empat paha komodo

Lima burung maleo

Untuk cemilan,

Enam keripik cendrawasih

Tujuh ekor corak merak

Untuk makan malam,

Delapan badak bercula

Sembilan anoa

Sepuluh primata

Aku raksasa

Perutku besar, selalu lapar

Bila semua tiada, nanti

Akan ku makan temanku sendiri

Brussel, 2020


Pembaca Buku

Pembaca buku budiman

Mengeja diksi seperti firman

Manggut-manggut mengamini

Menghela napas, sesekali

Pembaca serampangan

Memakan mentah kata serapan

Terdecak pada yang wah-wah

Tak mengerti makna – arah

Pembaca buku rakus

Menguliti bacaan haram

Mencari surga di lubang tikus

Remah ilmu, gula dan garam

Bukan pembaca apa-apa

Makan, tidur, kerja, berdoa

Hidup, bergelut, tua, dan mati

Terkubur dalam kenaifan hakiki

Brussel, 2020


Generasi

Kakek buyutku seorang pejuang

Merebut kemerdekaan dengan berperang

Badannya kecil jiwanya garang

Melawan Belanda mengusir Jepang

Kakekku, tentara nusantara

Menyatukan Aceh hingga Papua

Badannya sedang jiwanya berceruk

Agung dalam remang masa kemaruk

Ayahku, punggawa negeri

Penegak reformasi dan demokrasi

Badannya lebar jiwanya rentan

Jatuh bangun memilah teman dan setan

Aku seorang pemimpi – tech savvy

Atau, pecundang di era desrupsi

Badan datar jiwa hambar, pemakan kuota

Entah kemana kubawa Indonesia?

Brussel, 2020


Pemberontakan Samudera

Poseidon mulai murka

Kau racuni anak-anaknya:

Sungai, Danau, Rawa, Parit,

megap-megap meregang sakit

Parit makan sampah

Rawa minum limbah

Danau tercemar merkuri

Sungai teracuni

Banjir, tsunami, gempa bumi

Kisah klasik anak-anak negeri

Brussel, 2020


Negeri Pelaut

Ini cerita negeri pelaut

Nenek moyangnya bukan penakut

Cucu cicitnya sejati pandir

Merusak alam, tak takut banjir

Analisa demi analisa,

Omong kosong penguasa

Mimpi generasi melambung tinggi

Rumah – pundak basah, tergenangi

Ini cerita negeri pelaut

Negeri besar bukan negeri pengecut

Pandai mengadu benar, adu umpat

Piawai memelintir, lihai melaknat

“Ini keputusan Tuhan!”

– penduduk berhati batu menjelaskan.

Para bijak bungkam dan kecut

Menumpang hidup di negeri pelaut

Brussel, 2020


Patahan Hati

1/

Kenangan tersapu

voilà. Serpihan pilu

2/

Datang pertanda seperti mata-mata

Berkabar tentang cerita baru

– siksaan subtil; cemburu

Harapan mati. Dimana karma?

3/

Adili cintaku –

jangan adili Tuhanku

4/

Parit di bawah lidahnya

Pernah membawa kapalku pecah

– karam dalam percumbuan

Tinggal kenangan

Brussel, 2020


Menuju Negeria

Para kanibal gentayangan

Menebar seribu satu ketakutan

Bangga! Tertawa menjadi jahanam

Bapak-bapak terkencing

Ibu-ibu dipaksa – bersenggama

dengan mesin pencuci otak

Berakhir bunting; beranak martir

Anyir darah, tubuh berserak

: pemandangan alam

Burung hering berpesta, di atas

Nyawa-nyawa terkoyak

– di Nigeria


Selepas Kepergianmu

Gelisah ini susah payah kubiar

Membiasa bak laku kita

Hening ini kuselami dalamnya

Terhirup indah, nantinya

Segera kusiapkan topeng topeng tawa

Kupamerkan kapanpun kubutuhkan

Bukankah khayalan lebih sempurna

Dari kebenaran dan kenyataan

Pada dingin pembungkus kelam

Selaksa pesan akhir suratan

Perjuangan terlalu rumit untuk diurai

Kita pulang pada keseharian

Meski ada yang tersayat seketika

Pedih, bagai luka diberi cuka

Lalu, sembunyi aku bagai pengecut

Tak sanggup bertemu

Sekedar menatap wajahmu

Takut aku,

Mengulang kebodohanku

Kembali jatuh hati padamu.

Brussel, 2020


Mea Culpa

Sejak samar jejakmu di telan ombak

Hanya punggung samudera yang tampak

Berisik dedaun kelapa melambai getir

Berdansa melankoli di peluk angin pesisir

Merpati telah pergi, meninggal janji

Tak paripurna; langit tak lagi berpelangi

Perjalanan sentimentil membekas di pasir

Hitam legam terbakar mentari takdir

Meski pada titik awal, merujuk padaku

Penyebab tunggal sayatan pilu

Tragedi patahan sayap merpati

Penitik prahara menderai dua hati

Aku, mimpi buruk

– bergaun bunga-bunga

berenda pelangi merona

ribuan lamunan mata terbuka

pemintal desir candu berbenang luka

Mea culpa, mea culpa maxima

Brussel, 2020


Naning Scheid, lahir di Semarang, 5 Juni 1980. Penulis dan Pemain Teater. Penyuka kerupuk gendar dan wisata budaya. Pengajar di Fakultas Bahasa Inggris UPGRIS sebelum meninggalkan Indonesia. Aktif dalam kegiatan sosial kemanusiaan di Belgia. Sarjana Pendidikan Universitas PGRI Semarang dan Sarjana Manajemen Sumber Daya Manusia CEFORA Belgia. Berkebangsaan Indonesia. Tinggal di Brussel sejak 2006. Menulis opini, puisi, dan cerpen diScheid.be, Medium.com, Wattpad.com, Kliksolo.com, Basabasi.co, Pos Bali, Buletin Pusat Kependudukan Perempuan dan Perlindungan Anak – Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas PGRI Semarang.

Puisi

Puisi Beri Hanna

cinta dan peluit

cintaku ditiuptiup peluit panjang

yang melengking

menggurui buntut kendaraan

terus, terus, op, balas kiri balas kanan, ya.

munculnya pun ketika aku hendak hengkang.


mengantar doa

dalam perjalanan yang menakutkan

kubuka sebuah kitab dan mulai membaca,

perintahnya aku disuruh terus berdoa

maka kututup kitab itu dan mulai berdoa

terusmenerus.

semakin lamanya aku berdoa,

semakin aku merasa tenang

bahkan tak terasa lagi apaapa,

segala ketakutan luntur dalam

kepalan tangan dan segala komatkamit

yang aku panjatkan dalam mata terpejam.

saat kubuka mata perjalanan sudah berakhir,

tidak terasa saja

kini aku sudah ada di surga.


bus gunung batu memuat rindu

nama bus itu gunung batu.

tujuannya mengantar penumpang ke arah yang tak tentu

sopirnya seorang ibuibu,

melajunya seperti peluru—cepat sekali

menembus hati yang penuh dengan pilu.

para penumpang tersedu-sedu

juga sekalikali terasa ngilu di setiap tikungan.

satu saja harapan para penumpang

yang naik bus gunung batu,

agar rindu yang dibawa

untuk menuju suatu tempat

selamat sampai tujuan

dan tidak lekas menjadi hantu.

dengan iringan doa dan nyanyian merdu

terpujilah seluruh rindu

yang melaju bersama bus gunung batu.


untuk perempuan

yang sudah membeku di pulau rindu

aku naik bus gunung batu

melewati jalan berliku

menuju pulau rindu.

menghabiskan waktu untuk

melatih diriku sendiri

untuk belajar mengungkapkan sebuah rasa

agar kelak, aku tak malu-malu

menyatakan rindu yang selama ini meninju-ninju

sunyi setiap malamku, pada perempuan

yang sudah membeku di pulau rindu itu.


sopir bus itu

dan cuaca tidak dapat didugaduga

hujan badai jatuh di setiap tikungan.

rindu mulai terancam,

akankah benar sampai, akankah benar tidak.

para penumpang sibuk sendiri

menunduk, mengingat tak menghiraukan

laju bus gunung batu yang mulai oleng menghalau badai.

petir meletusletus, jantung hampir putus

penumpang berseru saat bus ingin jungkir balik

akibat tikungan yang melengkung, yang ditambah hujan badai,

yang ditempuh pula dengan kecepatan penuh.

nyawa di ambang ngilu

sopir bus meyakinkan;

aku juga sedang membawa rindu.

jadi, jangan kau rasa ngilu milikmu lebih haru

sekali rindu tetap rindu,

meski badainya mengutukmu

rindu wajib bertamu!


pengamen itu

aku purapura tidur

saat pengamen itu memetik gitar

dan menarik suaranya dengan lantang

satu dua tiga lagu ia nyanyikan

orang-orang mulai risih

dan melemparnya dengan kulit kacang

satu lagu terakhir, katanya

mulai orang menutup telinga,

ada yang membuang muka

membuang badan, menghempas pantat,

memakai headset, dan purapura tidur sepertiku

seolah pengamen yang bernyanyi seperti radio

butut yang tak didengar.

aku hampir larut

sempat sejenak tak sadarkan diri.

aku tersentak.

aku mengintip,

pengamen itu sudah tidak ada

orang-orang juga sudah tidak ada

sopir bus tidak ada

tidak ada seorang pun di sini.

kesempatan. kubuka satu per satu

barangbarang yang tertinggal,

tas hitam, tas merah, tas kuning,

yang ditinggal pemiliknya

tapi semua tak ada isinya.

kubuka tasku sendiri, kampret!

kosong juga tak ada isinya, kampret! pengamen itu.


penjual tahu

dua ribu saja, teriak penjual tahu itu.

kulihat dengan pasti

isi dompet tinggal empat ribu.

penjual tahu tibatiba di sebelahku,

itu cukup untuk dua bungkus, mau?

kututup dompet dan membuang muka darinya.

ia duduk di sebelahku;

beli satu juga tidak masalah,

aku geram.

bagaimana, katanya pula sambil

disodorkan sebungkus tahu.

rahangku jadi keras

kepalan tangan sudah siap menghampas pukulan

lidahku tak goyang ingin mengutuknya,

berat sekali saat melihat matanya yang berbinar.

andai saja dia tahu

bahwa dulu aku juga menjual tahu,

matanya yang berbinar ini

adalah mataku yang dulu menjual tahu.

seklias aku melihat tubuhnya adalah tubuhku yang dulu.

sampeyan tahu, dulu aku juga dagang tahu, kataku.

lepas uang empat ribu

lepas juga laparku.

penjual tahu berterima kasih,

karena membeli tahunya

dia jadi tahu sekarang, bahwa aku

masih merindukan tahu.


tak ada bus yang berangkat

penumpang yang menunggu di halte lumpuh,

jalan bersih

bising kendaraan menghilang.

tukang tahu kesiangan

pengamen tak lagi bisa makan.

gitarnya kesepian. lambungnya kesakitan

tak lagi dimandikan tuak.

calo tiket bunuh diri.

spbu meledak

terminal jadi kuburan bus.

sopir mati di warung kopi

melihat uang bulanan tak cukup penuhi

perut anak istri.

telolet dimusnahkan

neneknenek berdansa di jalan raya

kakekkakek berjemur di aspal panas

hari itu

tak ada bus yang berangkat.


kenapa kita bertemu

malam jumat kita bertemu.

itupun tak disengaja.

kaustop bus yang menuju jogja

dan kustop bus menuju solo.

di klaten bus kita bertemu.

ban kanan bus yang kautumpangi meledak.

ban kiri bus yang kutumpangi meledak.

kita bertatap muka selagi sopir dan kernet itu

mengganti ban baru.

kautersenyum padaku, dan aku pun tersenyum padamu.

kuberanikan mendekati kamu. dan kamu beranikan pula

mendekati aku.

kausebut namamu, trisno, kusebut pula namaku, meli.

selesai sopir dan kernet mengganti ban baru.

kita samasama sepakat untuk tetap tinggal di sini.

kaubegitu lucu, begitupun aku.

rela meninggalkan tujuan untuk bertahan padamu

yang baru saja kenal.

malam itu kaupesan sebuah hotel.

menginaplah kita berdua sampai hari menjadi esok.

sampai esok menjadi lusa. sampai lusa menjadi pekan.

sampai pula kita dinikahkan.

saat ijab kabul, kau tersedak

dan merasa sangat malu.

kenapa, tanyaku.

maaf, katamu. aku tak bisa melanjutkan ini

aku tidak mencintaimu.

keputusanmu membuat aku gila.

di depan penghulu dan para saksi

kauberani mengungkapkan hal itu.

kau berlari keluar. kukejar kau seperti

film india.

aku tahu kau menyimpan air mata.

tapi kau sembunyikan dengan berbagai cara.

kauterus berlari menghindari aku.

hingga berhenti di klaten.

tempat dulu kita bertemu.

aku ingin mengulang semuanya dari sini, katamu.

aku ingin mengulang semuanya dari sini, katamu.

aku ingin mengulang semuanya dari sini, katamu lagi.

aku tidak mengerti kenapa kauberubah seperti ini.

dan aku tidak mengerti, kenapa tiba-tiba perutmu meledak.

persis ketika ban sebelah kiri bus yang kutumpangi dulu meledak.

satu bulan setelah kaumati

sopir dan kernet datang ke rumahku

maafkan kami. semua ini pesanan, kata mereka.

ban kiri dan kanan bus yang meledak adalah pesanan, lanjutnya.

aku tidak paham karena sudah jadi gila.

meski sopir dan kernet menjelaskan,

trisno ingin menyetubuhimu. tapi cinta tumbuh

di sana, ia lupa tujuan awal. ia jatuh cinta padamu.

kau ajak dia menikah. maafkan.

aku tidak paham. benarbenar tidak paham.


mataku dan hatimu

bunga melati tumbuh di mataku

ia akan mati jika tak memandangmu.

maka silih berganti musim

pelangipelangi tercipta dan kaukurung

dalam hatimu.

indahnya melatiku yang terjebak saat

memandang pelangimu.


siapa yang tahu

sebuah perahu lepas dari matamu.

cepat berlayar dan bawa aku pergi.

kaukemudikan perahu membelah ombakombak

biar terombangambing di tengah laut

tak ada lagi peduli menyoal itu.

cintaku terlanjur kautipu

benciku terlanjur kaubunuh.

tak ada lagi jalan menuju rumah

selain membelah lautan.

akan sampai di rumah kita, atau tuhan

siapa yang tahu.


Beri Hanna lahir di Bangko, Jambi. Belajar di Kamar Kata Karanganyar. Saat ini tinggal di Surakarta. Berteater bersama Kelompokseseme & Tiliksarira. Karya teaternya antara lain: menulis & berperan – “Angur di Tangan Bapak Tercinta” (Forest Art Camp, Magelang), menulis & menyutradarai – “Pramesthi” (Arutala Fisikom UKSW, Hotel Laras Asri Salatiga), bermain teater by riset dengan judul “Dear Diary” (Festival Multatuli, Lebak Banten) Tiliksarira, “Puzzle Game” (Indonesia Corruption Watch, Jakarta.) Tiliksarira. Bermain monolog “Jangan Pergi Judi dan Pulang Dini Hari, Kalau Hasilnya Kalah Lagi!” (Tegal) Kelompokseseme, dan judul-judul lainnya. E-mail : [email protected]. Instagram : @berihanna_

Puisi

Puisi Norrahman Alif

Kepada Seorang Novelis yang Malas Bersilat Bahasa Api di Depan Publik

Sekawanan api kata-kata dalam mesin kepalamu

melorot menjelma ular-ular beracun di sarang

hati-hati para penguasa yang kehilangan induk

kasih-sayang.

Sementara, kau sendiri terbenam dalam genangan kesunyian

kesunyian yang jauh dari suara-suara tuhan yang kebingungan

mencari obat untuk bangsanya yang sekarat, akibat persoalan-

persoalan kekuasaan yang semakin memberat.

Barangkali, kesunyian adalah keruwetan ingatanmu menganyam

dongeng-dongeng dari sisa air mata kenangan tentang

orang-orang jelata terpinggirkan, atau tentang bandit-bandit

gendut yang mencita-citakan surga kekuasaan.

Itulah kenyataan satir yang menyihir manusia getir memasuki

hutan-hutan cerita api dalam novelmu. Namun, nyala api nyalimu

masih sepercik korek api di tengah angin puting beliung:

padam induk kobarnya, bak susut nyali nyala api hatimu.

Sebab, kau hanya mampu melayangkan layang-layang kata tajam

di langit-langit negerimu yang terancam kegelisahan.

padahal, demonstrasi kata-kata tak lagi mampu menyembuhkan

duka-cita kehidupan. Di saat kepulan asap persoalan hukum,

korupsi, agama dan kekuasaan menyesaki paru-paru negeriku-negerimu.


Setan di Hatimu Memanen Kesesatan

Kepadamu yang terlahir sebagai imam kesesatan

Tak kutemukan tuhan dalam dirimu

Hanya berlembar-lembar bahasa dosa

dan metafora kesesatan setebal buku

kamus dibaca waktu.

Padahal, telah kucari letak tuhan

paling strategis di tikungan jalan hatimu

di mana denting doa-doa bisa kudengar

dari sepasang sunyi bibirmu karat dusta.

Barangkali kau perlu menjadi bayi kencur

kembali ke gendongan ibumu. Lalu dewasa

sebagai manusia wibawa.

Sebab, walau selautan air tobat pun tak mampu

menghapus kata-kata dusta dan keangkuhanmu

di kejauhan mata sana.


Tuhan Sedang Berkabung

Dulu agama adalah ladang surga kasih-sayang

kini menjadi biang cacimaki, pembunuhan

dan permusuhan.

Di saat nama tuhan disadekahkan

ke orang-orang tolol soal agama

demi keuntungan massa dukungan.

Dikara segalanya menyenang-nyenangkan tuhan.

Padahal, tuhan sendiri tertawa terkencing-kencing

atau sedang hobi berkabung di hutan sunyi sana.

Melihat raja-raja ahli ilmu agama

Berkoar-koar meremuk-redamkan

rumah-rumah agama lain.

Dikira agama sendiri surga,

dan yang lain adalah neraka.


Agamaku Kopi dan Tuhanku Puisi

Di saat agamamu tak lagi mengepulkan sedap aroma

Kasih-sayang dan perdamaian. Kuputar haluan

Hatiku ke secangkir kopi agama legit kenikmatan.

Di sini, tuhanku bukan lagi ciptaan mesin imajinasi

Tapi, tuhanku realita yang berwujud kata-kata puisi.

Hatinya abadi menyimpan diksi-diksi sakit hati

Atau melunakkan metafor-metafor rasa benci.

Dan rakyatnya adalah perasaan-perasaan sendiri

Yang terbuat dari sebekan-sobekan hati habis dicabik-cabik

Anjing-anjing agama kenangan yang tak menyimpan

Rasa manis ketenangan.


Pada Hatimu

Pada segelas kopi, kuseduh kental hatimu

manis di lidah pahit luka di cecap hatiku

kali ini dedak tidak melekat di lepek waktu

Kecuali jernih sendumu yang kuaduk lalu

Kuseruput kata sampai larut rasa resah di bibir jiwa

dengan pintu mata terbuka tanpa lelap alpa mengunci.


Reportase Akhir Tahun

Tahun terbaring lemah di ranjang waktu dengan

muka senja, sebentar lagi susut ke liang kematian

Sebelum tahun di kubur tengah malam dan letusan

bintang api merayakan tahun perawan di langit kelam

Kukalkulasi detik-detik kehadiran baru tahun

lalu kukalikan hatiku dengan hari-hari sendu

Agar genap suka-luka tigapuluh satu kenangan

di almanak puisiku.


Ayat Pengantin Senja

Menanam beling dendam dalam hati

lebih pedih dari segunung api membakar diri

Pengantin senja haramlah saling memutihkan mata

atau gemar menjerat kata sekedar menyapa

Lihatlah betapa masak buah resah di ranting hati

Merasa malulah kepada kerukunan burung-burung di langit

dari gelap ke terang senyap di ribaan waktu

bagaikan alpa ada apa apa janganpun tutur sapa

tetapi diam mendekap dendam bukan berarti aman dari bala bencana

Bencana sepasang jiwa lebih dahsyat berguncang dari gempa dunia

meski keduanya saling menghapus corak resah di kedua wajahnya

tetapi bila di bilang buah hati, sepeser pun ada getir di dalam hatiku

Duh, pengantin jiwa sambung kembali asmara dalam hati

lalu eratkan tali-tali setia pada pohon kasih meski berumur tua

sebab percintaan yang tua mengalahkan masa muda


Kecupan Terakhir

Lapar atau kenyang satu padu dalam rahim ini

menangis dan tertawa wajib kawinkan di aula hati

supaya tak ada cerai dan perang dalam diri

Dan hidup tak usah cerewet melulu di pertanyakan

walau kematian setia menjadi momok menyeramkan

di masa muda sampai tua

Padahal maut bukan binatang buas yang hobi menerkam

mengapa harus ditakutkan mengapa,

kematian adalah kecupan terakhir yang di berkati Tuhan.


Kematian Kawanku

Kematian adalah teman lamamu

yang kutunggu jua sejak hidup ini

Siapa yang mahir menafsirkan

maut kan datang ?

Tetapi dirimu sendiri paham

bahwa kematian akan menjelang

Setelah bisikan malaikat kepada napasmu

sendiri dirasakan kini


Pengantin Songkok dan Sarung

Berulangkali kunikahkan songkok dan sarung di aurat diri

setiap keluar kuberjalan atau tamu menghampiri

Penghulunya hatiku sendiri, berucap ijab ikhlas sebulat bumi

Boleh sekedip mata waktu sejoli songkok dan sarung bercerai

tetapi tak boleh keluar pagar

Sebab jika kepala kehilangan songkok, lebih baik tulangku

seputih kapur ketimbang putih mata

Atau perut ke kaki telanjang merana menalak sarung, menjadi sobek

baju kewibawaanku legam mata kancing hatiku dan tercemar

Sebab songkok dan sarung adalah seperangkat bendera yang tak pernah

sungkan kukibarkan di tiang tubuhku di mana-mana.


Norrahman Alif lahir di Jurang Ara -Sumenep Madura. Menulis di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta ( LSKY ) dan beberapa karyanya sudah pernah dimuat di berbagai media. Buku puisi terbarunya Mimpi-Mimpi Kita Setinggi Rerumputan.

Puisi

Puisi Maulidan Rahman Siregar

Taman Kota Jam Dua

di taman kota, aku menemukan diriku

sedang awas pada tiap telinga.

kusulut ini rokok dalam diam,

dalam-dalam

ibu, hai yang tak kutahu namanya

demi hebatnya malam

kopi harap segerakan!

mi instan untuk ketegangan seorang

perempuan

dan gelak tawa seorang bujang

pecah apa pun yang jadi sunyi

kutulis puisi 15 menit dan tak peduli

ketika seekor nyamuk menampar mukaku

ia bertanya iseng,

“hai, ini malam Minggu, kau tak ada janji

bertemu?”

2018


Wahai Kesepian

dari mana kau datang wahai kesepian

siapa yang mengutusmu

jarak adalah kisah yang membosankan

bila diceritakan oleh malam

Tuhan sayang, kala pertemuan adalah

makhluk yang hanya kalah tipis dari surga

mengapa Kau perkenalkan perpisahan 

Pariaman, 2014


Goreng Cinta Percintaan

aku tiba di kotamu

melewati kabut gila

asap penuh sesak; bangsat!

sebelum dan sesudahnya

kulumuri karang gigi dengan doa

; tentang apa yang kita sebut harap

; tentang bagaimana menunggu

akan kupeluk kau; sekuat tenaga!

hangat, umpama pijar pada gelap hebat

kita tak tahu lagi orang lewat

bagaimana burung pulang alamat

goreng pisang rasa cinta

dan tulisan Rp.500,- yang dicetak miring tebal

lumat pada mentari yang malu-malu

dan kau yang sedang kuyup

pasti sedang mencari

bagaimana aku sembunyi

di tepi diri

di awal malam

kita sama bertanya,

“kapan dan untuk apa pulang?”

Mei, 2018


Hari Lalu

yang jauh akan pulang

seperti masa lalu dalam ingatan seseorang

tak ada tempat bagi yang pergi

melainkan kembali

seperti kemarin pada hari ini

padi masak sore hari

burung gereja pulang petang di masjid-masjid

angin menemui sarangnya

senja menyembunyikan hari esok

dalam cahaya merah saga

kau pasti kembali

2015


Sepasang Kekasih yang Lupa Bagaimana Cara Bercinta di Atas Awan

pada bumi, salam maaf telah diam di hati
disampaikan di udara, ditulis, dibukukan malaikat
jatuh jua kita, kekasih
sampailah kita pada waktu jauh
jalan pulang yang salah dan panjang

berdamai dengan iblis hitam bertenaga musik metal cadas
kecemasan yang ramai, seperti pengunjung konser musik yang kehilangan kunci motor
rangkul saja aku, kekasih
peluk dengan segala hangat
kecup lagi sedikit, kalau bisa gigit sampai sakit
ya, kita harus siap untuk jatuh

kita adalah sepasang kekasih yang lupa bagaimana cara bercinta di atas awan
tak lain, yang selalu kita jaga hanya doa
itu saja

Ketaping, 08/04/2015


Cinta Adalah

cinta adalah lantunan maha sakit,

tempat di mana ketiadaan harus dipertanyakan,

penyair berkata, lewat akun twitter-nya

“cinta adalah hari libur pedagang pasar pagi,

lebih susah dicari, dari mencari-cari mati.”

2014


Masuk ke Rahimmu

pulang ke rahimmu

aku mencret

ngilu pedih seluruhku

jangan kau lari

kau tak bisa sepenuhnya

sembunyi, dari apa

yang sebabkan mati

kau selamanya bingung

di jantung, kau akan selalu

murung digantung.

kepalamu akan muncul

di gunung-gunung

dan tak seorang pun

pernah ingat kau ada

2018


Obat Luka

beberapa lagu dalam sunyi

bunyi, selalu bunyi

selalu saja, diri ini kehilangan diri

bahkan ketika aku memanggil apa saja

tak seorang pun, bahkan juga kau

mampir ke sini

untuk obati luka

kau di mana, kau?

aku, di mana aku?

kukira kau tau

rupanya kau bukan

2019


Menebar Bunyi

aku ingin dikenang olehmu sebagai bunyi

yang lama dan bertamasya di hati

diam pula di jantung

aku ingin lama di dalam dirimu

seperti siul burung-burung di kejauhan

seperti ledakan di medan perang

yang merebut kemerdekaan

dan memenjarakan ingatan

2019


Di Udara

kita bercinta sekuat tenaga

di udara

kau ayun jiwaku tinggi ke atas

enak, kita berdansa riang

gembira

eh, anu

bergetar ah, ada sesuatu di celana

berdistorsi, bertenaga

dan tentu saja, cintaku, manisku, sayangku,

muah muah

aku akan memenangkan niaga!

2019


Dangdut dari Kejauhan

Gerimis di telinga

Badai di mata

Hati luluh-lantak merana.

Aku mau pulang ke bahumu

Bersandar, meminta jalan pulang.

Meski rumah terbakar, sungguh!

Kamu lebih kilau dengan gingsul

pada gigi. Lubang jepang di pipi.

Sungguh!

Bagai laju kota.

Aku akan selalu berburu.

Orang-orang berlari mengejarmu.

Aku naik motor. Sungguh!

Bukalah pintu!

Seorang baik selesai mengetuk.

Mei, 2017


Maulidan Rahman Siregar, lahir di Padang 03 Februari 1991. Menulis puisi dan cerpen di berbagai media. Bukunya yang telah terbit, Tuhan Tidak Tidur Atas Doa Hamba-Nya yang Begadang (2018) dan Menyembah Lampu Jalan (2019)

Puisi

Puisi Ethex

Jarak Cinta

jauh dekat menciptakan suasana
yang menimbulkan sebuah rasa

bila dekat—apalagi tak berjarak
apa yang terjadi dan menyeruak

bila jauh—apalagi terpisah ruang dan waktu
apa yang terjadi dan terasa

jarak cinta
jauh dekatnya
menimbulkan rasa

bila jauh—rindu mendera

bila dekat—ahahah bergelora

desember 2019


Tak Sekali Saja

entah ke berapa, -tak sekali saja
kau menebarkan angin
daun-daun terkesima

aku tak pernah menduga
kau pandai bersilat lidah
di mana-mana

dan tak sedikit juga
anginmu jadi luka

kemarin kau berkata -ah
hari ini -ih
esok

tak sekali saja
kau mengelabui diri sendiri
bersembunyi di balik kata

dari kenyataan yang ada

desember 2019


Liburan

Ke mana memanjakan diri dan pikiran
bebas dari rutinitas keseharian
mumpung liburan

Kalau aku tak ke mana pergi
aku tak kenal liburan
rutinitas terus silih berganti
tak ada kata, liburan

Ke mana pun pergi
:walaupun liburan
tetap memulung diksi
di mana kaki berjalan

Liburan, bagi pegawai
saat yang paling dinanti
menghabiskan gajian
pergi ke wisata hibur diri

Sedangkan, liburan
:bagiku sebuah tantangan
bagaimana gaji bulanan
tak hanya dibuat dolan

2019


Sajak Sejak Ada Aplikasi

Sejak ada aplikasi
segala data di aplikasi
disingkronisasi

Sementara kemampuan diri
pada umumnya masih tradisi
belum paham apa itu aplikasi

Apalagi yang online segala
yang menuntut koneksi kuota
fitur yang di-klik pun beraneka
saling terkait dan langsung tersambung
siapa yang tak kerja langsung bisa
diketahui kinerjanya

Perubahan yang ada—tentu saja
ada suka dan duka
yang menimpa
bagi yang paham -enak saja
bagi yang tak paham -apa rasanya

2019


Puisi dari Statusmu

Kata-katamu memang indah
tersusun rapi tak tumpah ruah
penuh makna berisi segala
aku terlena

Sebuah umpama, kau umpamakan
hidup tanpa kesusahan

Membaca statusmu
aku terbawa
antara percaya
tak percaya

Semua orang bisa berkata
semua orang bisa menulis juga
tapi tak semua orang bisa
sesuai apa yang dikata

2019


Apa Tidak Salah Kita

Detak detik malam pergantian tahun

-apa tidak salah kita
Bersuka ria, gembira bersama
saling ke tempat ramai segala
tanpa sadar sebenarnya
waktu kita terkurangi

Apa tidak salah kita
setiap pergantian tahun tiba
pada saling hura-hura
serasa lupa sebenarnya
usia tidak bertambah muda
sisa waktu yang ada
semakin berkurang juga

Apa tidak salah kita
menyambut tahun baru
lupa bila pergantian tahun itu
mengurangi waktu kita

Desember 2019


Akar Cinta

akar cintaku -akar tunjang
yang menancap kuat ke dalam bumi
biarpun angin puting beliung menerpa
cintaku tak akan tercerabut begitu saja

akar cintaku -bukan akar serabut
yang mudah tercerabut

akar cintaku -mengakar

setiap hari -setiap waktu
setiap ruang dan waktu
dan setiap gerak langkahku
akarku cinta -tanpa membedakan

siapa yang aku cinta

1 Januari 2020


Catatan Tahun Terakhir

ada yang terserak
tak tampak
tak tersimak
luput dari jejak

ada yang terserak
begitu tampak
jadi sebuah jejak
yang jamak

sementara angin gelombang
selalu mengajak berdentang
sebisanya aku buat catatan
biar setiap angin dan gelombang
tak hanya lewat tanpa catatan

baik buruknya catatan
dalam tahun berjalan
orang lain yang menentukan

baik buruknya catatan

akhir 2019


Suatu Malam Lewat Kotamu

lampu-lampu mengusir gelap
tak semua gelap benderang
di pinggir jalan remang-remang
beberapa kaki mengendap-endap

malam lewat kotamu
kau terlelap bercumbu
lewat jendela bus melaju
aku menangkap bayanganmu
mengeluh menahan sesuatu

bus melaju menembus malam
menempuh ruang dan waktu
tatkala lewat kotamu
ada sesuatu sapa ingatanku

lampu-lampu mengusir gelap
tak semua gelap lenyap
bahkan jadi remang-remang
tempat binatang nakal

malam lewat kotamu
ada sesuatu yang menegurku
yang membuat aku

tak bisa melupakanmu

malam tahun baru 2020


Tersandung Cinta

ups, asem
mataku menubruk
langkahku terkantuk
pada sebuah wajah dan senyum

di taman sebuah kota
hari senja, kaki langit barat merah jingga
ingin hati menikmati suasana
kota kali pertama kusapa

di bangku beton duduk sendirian
di antara tanaman kembang
senyumnya mengembang
langkahku tertahan

ups, asem -gumamku
ada rasa debar sesuatu
:kayaknya kita pernah ketemu
tanpa babibu -aku duduk di sampingnya
dan meluncurlah kata-kata
yang membuka dialog senja hari

di taman kota

2020


Ethex, lahir dan dibesarkan di telatah Mojopahit (Mojokerto), karyanya berupa puisi, cerpen dan esai sudah dimuat di beberapa media massa, antara lain di Suara Karya, Republika, Sastra Sumbar, Media Indonesia dan lain-lain. Puisi-puisinya terkumpul dalam beberapa antologi puisi, antara lain di Temu Sastrawan di Medan, Temu Sastrawan di Kediri. Temu Sastrawan di Malaysia, Dari Sragen Memnadang Indonesia (2012), Malsasa (2013), Poetry2 Flows Into The Sink Into The Getter (2013), Puisi Menolak Korupsi (Jilid, I, II, IV, V), Memo Presiden (2015), Temanten Langgit (2015), Tifa Nusantara (2014 dan 2015), Solo Dalam Puisi (2014), Lumbung Puisi (2015), Cimanuk (2016), Negeri Awan (2017), Festival Bangkalan (2017), Ruang Tak Lagi Ruang (2017),  Kesaksian Tiang Listrik (2018), Negeri Bahari (Negeri Poci 2018), Jejak Sajak Batu Runcing (2018), Sabda Alam (2019), Zamrud Khatulistiwa (2019), Membaca Hijan di Bulan Purnama (Tembi, 2019)  dan lain-lain. Juga dalam Antologi “Bersetubuh Dengan Waktu” (2014), “Dari Cinta Ke Negara” (2015), “Rasa Ku Rasa” (2016) dan Kumpulan Cerpen “Sepeda Pancal” (2016), “Gapura Menapak Jejak Mojopahit” (2018), “Pemulung Diksi” (2019). Bekerja di UPT Dinas Pendidikan Kec. Mojosari Kab. Mojokerto, dan  Dosen di Institut Agama Islam Uluwiyah. Aktif di Dewan Kesenian Kab. Mojokerto, sebagai Wakil Ketua, dan Penggiat Gerakan Puisi Menolak Korupsi (PMK).Alamat: Jln. S. Parman 18 Modopuro-Mojosari-Mojokerto 61382 Jawa Timur