Puisi

Puisi Adnan Guntur

AKU MENJELMA KABUT DI SEPANJANG WAKTU

di sepanjang waktu, aku menjelma kabut yang menyarang dan hinggap di tubuh taringmu yang lancip, mencari mimpi atau pohon tumbang menyesali dirinya sendiri tumbuh

kumasuki tubuhmu, seanak adam dan hawa ditelurkan dengan suara yang payau, kadang angin tumbuh, lalu hujan, dan badai membentuk lelangit yang tak bisa dijangkau

“akankah kita kenali dari mana asal kakiku yang menapaki tanah dan tetumbuhan yang setiap hari runtuh”

“ataukah kita kenali, sebuah bahasa dan penciptaan kerap kali gagal melahirkan makna yang seutuhnya?”

lalu sepasang cakar dan moncong tanah muncul menjadi nyawamu, yang menumbuh-hancurkan segalanya asalkan mau

Ciamis, 2022


BAYANGAN TUHAN TERWUJUD DARI MATAKU

di ketinggian ini, hanya bau napas dan bayangan tuhan terwujud dari mataku, kuhancurkan kesedihan dari angin yang memotong batu menjadi burung

nama-nama terukir, melahirkan sajak dan kitab dari orang-orang yang telanjang

“deritilah nyawaku di sepanjang waktu hingga akhir yang disebut tahun”

di cekung gerbang bintang, sepasang lontar dan sekelumit bahasa, menghunuskan peratapan yang berloncatan ke dalam nyala api biru, menaungi tubuhku lalu menjadi abu

Ciamis, 2022


AKU TERKUBUR DI KEDALAMAN BERSAMA PUISI YANG TERKUNCI

kautemukan hujan dan musim berwarna cahaya, kapal-kapal menghentikan langkahnya, aku terkubur di kedalaman bersama puisi yang terkunci di balik peti

“mengertilah emas dan perak, membawa kecelakaan yang tidak pernah ada hentinya, sedang mimpimu harus ditimang dan disirami”

lalu sederet tokok, beberapa musim kemudian, mendendangkan lagu yang pernah kau kenali sebagai tubuhku, sebongkah batu, kunci terlipat, dan gugusan daun kering melayang tenggelam lalu terlipat seperti buku yang dibaca setelah anak cucumu menumpas para negeri penjajah dengan tubuhmu terbaring di atas awan

Ciamis, 2022


NYANYIAN BURUNG-BURUNG

angin menyelinap dari derap redup lumpur rindu, kesunyian dan keharibaan menampilkan dirinya dengan kedua kakinya yang terpotong, kau susuri tubuhku, di mana seanak ayat bernyanyi dengan lolong anjing menguar ke arah jendela

ada setitik gelap sajadah menggumpal mawar hitam, langit-langit, melukiskan berabad-abad yang bisu, menampiki telingamu di punggungku

“di sini, aku menunggu jawabanmu terbang melampaui sorga dari dasar neraka yang sabar!”

lalu namaku dilupakan oleh burung-burung yang terbang dan melempari bumi dengan meteor dan batu-batu merah melalui selangkangan langit biru

Ciamis, 2022


HATIKU KABUT

hatiku kabut yang menelan permukaan bulan, asap membeku di antara cahaya lampu, kau menebak ke mana lagi arah hujan dan lembah dari daun yang terombang-ambingkan senyumku yang sayu

kau kuasai lempeng gunung di antara celah-celah jendela rumah, pintu kaki dan kursi menata dirinya sendiri di balik sini, rumah kaca dan lemari menemani tubuhku dari kemalangan

“entah dari doa yang menyelinap kubasuh zikirmu di antara lelagu penghancur nyenyak, kutaburi tubuhmu dengan mimpi yang balaga”

namun bersigera langkah-langkah para penghuni sorga dari sebalik kuburan yang tertimpa pepohonan dan angin topan kakimu yang kuasa

Ciamis, 2022


PERJANJIAN MATAHARI

bau anyir dan daun salam, mengucur di tengah meja ke jendela ke pohon mangga, mengupasi tubuhmu dari lenganku yang uzur dari sepisau runcing lembab hujan subuh hari

kau menangis tika hujan jatuh menempeli tubuhmu dari ceruk tembok dan dahan yang patah, akar-akar dan bulan darah, mengucap lukamu di sebatas rupaku

“kau mungkin kan mengenali hujan dan bau tanah, tapi tidak dengan diriku!”

sepasang tangan menampa hujan dari matamu yang berjatuhan, mengikuti bayangan hanya dari depan, namun, matahari patah dengan bulan yang menusuk mataku

Ciamis, 2022


Adnan Guntur, kelahiran Pandeglang tahun 1999. Menyelesaikan studinya di Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Airlangga. Aktif berkegiatan di Teater Gapus Surabaya, Bengkel Muda Surabaya, Wara-Wara Project, dan Sanggar Arek. Karyanya tergabung dalam beberapa antologi bersama, media online, dan media cetak. Kumpulan Puisi tunggalnya Tubuh Mati Menyantap Dirinya Sendiri, Skriptorium-Pagan Press, 2022

Puisi

Puisi Adnan Jadi Al Islam

Aliran Ostinato

Tujuh hari

ikan-ikan sungai

dalam tubuh hari putus asa; mereka melongo ke langit

menantikan sesuatu jatuh dari sana.

Tiada yang memasuki mulut mereka

selain kekosongan

Detak melemah

waktu konstan;

menunggu dalam geming,

dalam hening,

meragu takdir azali

Seorang pemancing menyangka

kesabaran telah cukup membayar

ketenangan palsu

yang justru menghanyutkannya

dalam aliran ostinato

Akankah rahasia menyambar umpanmu kali ini

atau amarah lebih dulu memutus taut:

kemungkinan getas, yang menisbahkan

muasal keberadaanmu

/Oktober 2021


Rih

Kuungkapkan dengan diamku

dengan dinginku

ungkapan yang tersembunyi

di balik kata-kata,

Bahwa yang (tak) kuembuskan

di bawah teduh trembesi

malam itu, bukan lagi hangat:

potret peristiwa

bukan pula sejuk:

kisah rahasia.

Ia sekadar suara rendah

gema lembah hijau jiwamu

yang telah sekian masa

tak kau warnai

/Oktober 2021


Setelah Kepergian Hujan

Sebelum kepergian hujan

cawan-cawan penuh makna,

pohon-pohon bebas luka,

anai-anai riuh mengudara

sungai-sungai tenang memuara

Setelah kepergian hujan, kata awan:

“Dunia terbakar curiga.”

ambisi bergemuruh dalam tubuh manusia

sepanjang (meragukan) umur,

pengetahuan teralihkan

ilusi menjarah segala.

Usaha paksa menangkup kekosongan

hanyalah pintu menyambut kekosongan lain.

“Ke mana hujan pergi?” angin penasaran

Awan membisu:

bergeming lama—sebab satu hari setara seribu tahun

—dan angin pun kalut,

bersikukuh memburu selama itu

sampai suatu masa

awan luluh, lalu berkata:

“Sebenarnya ia telah menyelam ke dalam lautan.”

“Kenapa?” angin makin nanar

“Sebab di sana ia menemukan

arti keberadaan.”

Memang apa arti keberadaannya?

“Tak ada.”

angin gundah dengan jawaban awan

ia angkat kaki: berkesiur ke semua tempat,

sembari bertasbih dan mencuri-curi dengar

melintasi zaman, mengawasi peristiwa-peristiwa

entah sampai kapan

“Padahal kau pun tahu,” katamu, “satu-satunya tempat yang tak bisa hujan susupi

hanyalah tubuh lautan.”

/Oktober 2021


Satu Waktu

: Albert Einstein

Satu waktu,

di antara ruang purba

pernah kita tinggali berdua

Satu waktu

sebelum harapan

menjelma penyakit

sementara sungai dendam

masih jabang gunung es

di kutub-kutub qalbu

Satu waktu

di mana kuntum bunga

dan tangkai kekar pohon

urung rekah

alih-alih saling rengkuh di hari tua

Satu waktu lain,

ritus paradoks urip-

urup tipu daya,

dinding nafsu julang

mencakar mimpi-mimpi langit

Satu waktu lain

di mana pengetahuan;

rumus perihalmu muspra,

relativitas gelap melingkup

ingatan belantara

hangus

O, satu waktu lain,

dilatasimelipatgandakan

pintu-pintu kemungkinan.

Di manakah ruang

kita kembali

satu?

/November 2021


Pulau Atas Awan

Padahal dunia dalam diriku

ruah tanda tanya ketika

tuduhan-tuduhan meledak

di beranda langit

Kau bilang:

“Titik-titik jelaga kerap menjadi saksi

bagaimana setiap kisah,

dan kehidupan berakhir.”

Bukankah dalam kalimat lepas

kita pernah coba menerjemahkan jalan,

menampik logika dan retorika

demi bisa sampai seberang:

berenang ke surga terdekat

Tetapi di ufuk, di pulau yang kambang itu

kita alpa, kita tak punya suara

bahkan pada bahasa sehari-hari

kita hanya menemukan jejak luka

dan bekas yang dibiarkan

Lalu kebenaran menitahkan

pulau itu bersenandung:

“Huruf-huruf menyusun kehidupan

dalam doa, bagaimana sempat

manusia melumat khidmat mereka?”

/November, 2021


Mantol Plastik

: Bruno Mars

Mungkin tubuhku lebih rapuh

dari mantol plastik:

seharga sepiring nasi sayur, tempe goreng,

dan es teh manis Kartasura

Dengan itu kau mendesakku laju:

merobek tirai hujan;

menangkap basah dua merpati

yang kebingungan bagaimana mengakali air bah

Tapi aku berterima kasih

pada pencipta mantol plastik

Ciptaannya menyatukan

kita dalam satu tumpangan

Bulan tak perlu

sok-sokan mendengar lagi

segala keluh malam ini

Pria galau di kusen jendela

telah bahagia

di balik mantol plastiknya

/November 2021


Perekam Sepi

: N

Adakah yang lebih sepi

dari asing?

seorang pandir mungkir

tanah subur lugu dikorbankan.

Dari buaian kamar

sampai liang lahat

penyesalan menggumpal

di langit: bergemuruh,

matahari undlap-undlup,

 “Pengkhianat!”

rembulan kecewa pada dirinya,

pada cahaya,

pada lelaki

Adakah yang lebih sepi

dari asing?

tanpa sempat kucing mengeong manja

segumpal tanah hangus

dunia pura-pura legam.

Penyesalan menggauli depresi

melahirkan sebotol anggur putih

(sebab tak ada yang seberani darah) pun

tak ada dosa saat kardiograf ngambek

seorang polisi lantas berkhotbah,

“inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.”

/Desember, 2021


Kabut

: embung Manajar

Ketika sendok berdenting; sepi berdentang

cerek mengeluh pada api

enggan melepas air pergi;

terbang bersama angin.

Separuh tanah hidup

di atas kehilangan

separuh lagi mati

di bawah keangkuhan,

mencari cara meminta maaf

pada langit

agar pohonan kembali tumbuh

agar hati kembali teduh,

dan lelaki sangsi

di meja payung itu

dapat mengaduk;

menyesap puisi lagi

/Desember 2021


Fariga

: untuk M

Sebetulnya angin memusuhi

kebingungannya sendiri

Memang, ke mana lagi sepi

dan waktu akan menarik-ulur hari

Selain mendesirkan nyeri

pada hati hutan yang sangsi

sejak mencintai api

Menghelalah atau dengar saja Rumi

dalam sebatang puisi:

Telingamu tak mampu mendengar irama

yang membuatnya menari

/Januari, 2022


Matras Berkabut

:I

Kali ini bukan angin

melainkan suara-suara

mengombang-ambingkan imanmu

Tapi kau cukup menumbuhkan edelweis

di bibirmu dan bertahan di sana

getaran gaib sabana itu mengenalmu dengan baik

Tak perlu ragu, tombol reset menunggu

di balik tenda hatimu

dan aku selalu menjaga malammu:

yang dingin

Juga mengawasimu menekan tombol itu.

Atau kita bisa coba menerjemahkan bintang

seperti dulu,

sementara sunyi berusaha menyeduh hakikat pagi

Kau boleh bertanya pada waktu sebanyak apa pun—

aku tak hendak mengeluh—

ke arah mana hidup yang fana

atau arah pulang yang baka

/Januari, 2022


Adnan Jadi Al-Islam, lahir di Klaten, 21 Oktober. Lelaki galau, pengagum kata-kata, penikmat ojek penyet dan sambel welut. Sering insomnia lantaran kebanyakan kopi dan kenangan. Tulisannya tersebar di beberapa media cetak dan daring. Masih mukim di Klaten. Sapa aja, siapa tahu jodoh: Instagram @ad_nanj

Puisi

Puisi Tegar Pratama

Atas Nama Ibu

andai permukaan matamu adalah samudra,

izinkan aku sebagai satu-satunya perahu

yang karam di sana.

andai lembut mulutmu adalah jalan lain

kata-kata menuju langit, izinkan aku sebagai salah

satu kata yang luput kau baca untuk

menemanimu menanti maut tiba.

andai hitam rambutmu adalah jembatan

pengantar ke sebuah tempat yang kau rindukan,

izinkan aku sebagai seluruh rontok putih rambutmu

menjadi perahu yang akan mengantarmu

jika kau jatuh sewaktu-waktu.  

Sukoharjo, 2022


Waktu Ibu

andai kita berlayar ke sebuah tempat yang kau impikan dan maut membenamkan kita dari kehidupan ini,

aku ingin menjadi henti detak arlojimu yang detiknya dirampas karam. aku ingin menebus waktumu, andai saat itu waktu dapat terhenti, yang terenggut tersebab merawatku. walau sedetik pun, andai bisa, akan kuserahkan seluruh detakku kepadamu, agar kau bisa menanti waktu kepulanganmu, barang sedetik pun.

Sukoharjo, 2022


Ibu Guru

siapakah yang mengajarimu menjahit? sehingga lubang-lubang pada diri ini sanggup tertambal tanpa sakit.

siapakah yang mengajarimu berhitung? sehingga ganjil dalam pikiran ini mampu tergenapkan tanpa bingung.

siapakah yang mengajarimu sandiwara? sehingga tangkap di mata ini dapat mengerti lewat tubuhmu tanpa bicara.

siapakah yang mengajarimu tertawa? sehingga dengar

di dalam liang telinga ini enggan lupa tanpa tapi.

Sukoharjo, 2022.


Cinta Ibu  

ibu, bila cinta adalah aksara yang luput kueja, maka engkau akan tiada bosan mengajariku membacanya. atau bila cinta berwujud sungai, maka engkau akan tiada lelah melatihku berenang atau menyusun kayu untuk menjadikannya perahu. namun sayang, ibu, ternyata cinta ialah pecah tangisku pertama kali di dunia dan engkau tersenyum bahagia.

Sukoharjo, 2022


Tubuh Ibu

kelak aku takut menghadapi hari-hari tanpa

masakanmu, bukan karena kurangnya bumbu

atau terlewat masak. melainkan pada sesuatu

yang kau masukkan sebelum tersaji di meja

makan. sesuatu yang membuat aku selalu

kelaparan. aku takut kelak tak dapat lagi

mendengar suara berisikmu bukan karena

tak ada alat-alat untuk kau gunakan

atau masalah kecil yang akan kau bicarakan.

tetapi pada sesuatu yang kau lakukan, sesuatu

yang membuat aku merasa tenang. kelak aku takut

menatap terbit matahari tanpa hangat

secangkir teh buatanmu. bukan karena tak ada

cangkir atau teh atau gula. bukan, bukan itu.

Sukoharjo, 2022


Hari Ibu

suatu hari aku pernah bermimpi

memiliki segala yang tak kupunya

dan aku lega ketika kau tak ada

di sana. aku bermain dengan masa

kecilku pada mimpi itu.

di sana kami bermain-main bersama pagi,

siang, sore, dan malam dengan berlari,

semua saling mengejar. sesekali kami berhenti

untuk mengaso dari kejaran matahari.

kami bertukar cerita tentang apa-apa yang telah

kau berikan. masa kecilku itu bercerita

tentang nama pemberianmu yang akan dibawanya

selama-lamanya. aku tertegun,

sebab hanya bisa kuhadiahkan

kepadamu kecemasan-kecemasan

pada hari depan.

Sukoharjo, 2022


Surat Ibu

kini aku mengerti, mengapa kau selalu berpesan agar aku tak pulang larut malam. sebab malam adalah pelukmu dan kau ingin aku terlelap dalam dekapmu. kini aku pun tahu,

mengapa kau tiada bosan mengingatkanku untuk lekas lebur bersama malam dengan memejamkan mata. sebab terjaga adalah doa-doamu dan kau berharap aku selamat melewati gelap berbekal nyala kata-katamu. dan kini aku semakin percaya, mengapa kau tiada henti menasihatiku agar bangun lebih awal, lebih dari yang seharusnya. sebab

cahaya adalah senyummu dan kau mau aku menyaksikan cantik selain langit ungu.

Sukoharjo, 2022


Tegar Pratama, lahir di Surakarta. Bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar, Jawa Tengah. Dapat disapa di Instagram @tegarpratamabp

Puisi

Puisi Khanafi

Mimipi di Kamar Sempit

kalau pagi hari memesan mimpimu seperti meletakkan kau

di sebuah ranjang yang asing, biarkan orang-orang tiba

sebagai pelayat atau sebagai pendusta yang pura-pura berduka

padahal sebelumnya tak pernah mengenalmu, atau waktu belah

kena gugur daun-daun mangga yang semalam habis dihajar cuaca

lalu datanglah kembali jalan-jalan asing yang pernah kau lalui itu,

membawa langkah rekaman dari gelisah yang sebelumnya pergi

menyusuri daerah-daerah tanpa wajah, tak pernah kau temukan

senyum juga ucapan yang tulus ramah, sepertinya itu akan jadi tepi

sebuah ruang berhenti ketika kau mimpi di kamar sempit yang

belum kau lunasi dan masih menunggu seperti lambaian tangan

2022


Penghuni Kota

kota kami dikawal oleh kecemasan, jalan-jalan kadang

merebahkan kenangan di hatimu, yang kembali memutar ingatan,

menyusunnya menjadi kesepian. kamu telah susah payah

belajar menulisnya, menyusuri kembali saat-saat suram

di tiap hari yang gelap, ketika doa tak lagi terbang bersama burung

ketika mimpi hanya mengarak rasa murung keliling kota

dan langit rupanya menunggu sambil mengucap kalimat beku

gedung-gedung pun menunggu gerak yang membelah waktu

inikah lagi daerah paling asing dalam hidup, tanah yang tak dimiliki,

ruang yang disewa, jalan memanjang membuat kami terlempar jauh

mungkin esok pagi kami telah kehilangan tubuh, sementara

mimpi ketakutan untuk kembali menjalani rutinitas tanpa henti

2022


Perantau

dengan bus yang asing kami dibawa ke kota asing, rumah-rumah

ditinggalkan musim. kami melangkah ke hari baru yang menumbuhi

kepala sepanjang jalan dengan harapan dan ketakutan, hingga pada

lampu-lampu jalan yang hampa kami terhisap sebagai bayang-bayang,

kami akan mencari tempat tinggal, jika tak ada kami akan berkelebat

seperti hantu di gang-gang, di jalan sepanjang tak ada rumah-rumah

dan kami ditumbuhi lagi oleh begitu luas dan lengangnya ketakpedulian

waktu bersama embusan angin seperti bahaya yang bisa membuat lupa

apakah kami telah memilih meninggalkan desa untuk menjadi terlunta?

2022


Hujan yang Baik

tak seperti pagi-pagi biasanya, hujan turun dengan ramah

setelah kumandang subuh surut pada pelantang bangun itu

jam-jam seperti meninggalkan jarumnya di mimpi untuk

melanjutkan tidur, suara membentur di atap begitu merdu,

seperti sayatan yang berkelebat saat pertama kali kauingat

pada sepi yang suka berdiri sendiri di tanggul ladang padi

ketika hujan yang sama mengajakmu bermain dengannya

kau tak perlu banyak bicara sekarang, berbaringlah sejenak

istirahatkan kakimu yang begitu ramah menyapa jalan-jalan

yang bernama-nama asing itu, mereka akan mengingatmu

bahwa di hari itu, pukul pagi yang sedikit ngilu, kau absen,

karena hujan yang baik ingin meninggalkan sesuatu dari

masalalu untuk kau pungut esok sebelum bertemu si maut

2022


Taman Awal Tahun

orang datang dan orang pergi, bunga-bunga mekar

pohon tumbuh sendiri, burung buat sarang di cabang

dengan ranting daun kering dan warnanya yang bunuh diri

kemarin sepasang kekasih berjanji ketemu di bangku situ

tapi di hari itu waktu begitu padat, nomor berjejal tumpat

halaman hanya cukup untuk empat capung dan seekor sepi

langit menjadi seperti bentangan pada bajumu, orang berlalu

seorang petugas kebersihan menambah personil baru, di sini

masih berkeliaran ribuan bekas napas yang bertukar-tukar di

bawah lampu, setelah pukul malam dan sehabis pagi masih

terkumpul sebagai guguran daun, beberapa potong sampah dan

selongsong kembang api yang terbakar mulutnya, juga sunyi

2022


Khanafi, lahir di Banyumas, Jawa Tengah. Tulisan-tulisannya berupa puisi dan cerpen tersiar di beberapa media massa baik daring maupun cetak, serta terikut dalam berbagai buku antologi bersama. Penulis berkhidmat di Forum Penulis Solitude (FPS). Sehari-harinya bekerja sebagai editor lepas dan penjual buku lawas. Buku kumpulan puisi pertamanya bertajuk Akar Hening Di Kota Kering (SIP Publishing: 2021). Sekarang bolak-balik Purwokerto-Yogyakarta sembari merampungkan novelnya dan sebuah buku kumpulan cerpen. Penulis bisa dihubungi melalui email : [email protected].

Puisi

Puisi Ruly R

di terminal ini

di terminal ini tak ada yang berbeda, kecuali kau yang salah naik bus dan dipaksa turun oleh waktu.

suara pengamen masih cempereng, membawa kenang-kenang, tak habis pikir akan salah keputusan tanpa tahu apa-apa.

apakah butuh kesalahan dalam hidup? setidaknya untukmu, agar segalanya mula-mula bisa diserapahi, lalu dikenang karena bus selanjutnya telah datang, hendak membawa ke arah pulang.


di taman sukowati

di taman sukowati, penjaga angkringan terkantuk, barangkali menunggu pelanggan lagi, atau menunggu kepulangan pelanggan yang telah di sana, tiga pemuda,  juga mereka yang berselingkuh.

Lampu merah berganti begitu pelan ke lain warna, tak pernah mencatat apapun, pada mereka yang berhenti atau lanjut, karena sebentar lagi waktu digigilkan subuh.

Ada yang harus pulang, namun tak semua mengerti waktu menuju pulang, hanya ada yang menunggu, agar besok berulang, dan mereka-mereka entah kembali atau tidak.


tenggat

bapak menggandeng tangan bocahnya, keluar dari surau, dan matahari menikam gelisah hari jumat,

lelaki muda hanya melihat dari angkringan seberang jalan, rokok diapitan jemari, obrolan membumbung tentang tenggat mengejar setoran, kudu lunas sebelum liburan dan lebaran yang tak mungkin mereka pulang, tawar seperti tahun lalu yang gugur di bawah aturan.

hidung tak akan menghidu rempah opor ayam ibu, tak ada cecapan rasa nastar di sela bualan kerja dan tukar kabar saudara. empat lebaran (dan liburan) pernah sama, meski hanya nyaris, dan jauh meninggalkan tebak di benak.

kali itu jumat tertular gelisah matahari, keputusan serupa daun gugur digilas roda waktu.


bagaimana jakarta?

Ibu,

apa benar tuhan ada di jakarta, tempat

di mana penuh harap, gegas, dan gemilang segala?

—tanyanya pada satu waktu, terlampau lirih, lama.

turunlah di Senen, di antara sebungkus pop mie, gemuruh kereta, bising klakson,

jubel manusia, temu kawan lama, nasi uduk depan stasiun, dan secangkir kopi gelas aqua,

di sana Jakarta.

tak ada yang dapat kau raba, Nak.

dia menyangsikan, sebagaimana hari-hari yang telah lampau,

jakarta diseret pada penghakiman. lepas-tangkap. kembali.


sebelum bapak pergi

pernah,

aku diajak ke toko sepatu bola yang kini jadi analta jaya,

“pilihlah saja, asal jangan terlalu mahal.”

hanya ada anggukan, di mana segala ingin kadang tak pernah terkabulkan

toko itu tak lagi ada, meski letaknya aku ingat—taman pancasila ke selatan, lalu 100 meter ke timur dalam lajur jalan satu arah menuju barat untuk pulang. ingatan dan kenangan mengerjap, menjadi bayang berkejaran karena pada kenyataan, detak waktu selalu pelan menjelang kepergian, meromantisirnya dalam firasat tentang darah yang keluar dari hidung.

dan, sekali lagi, sebelum pagi matang benar, tetes air infus selalu tak lebih deras dibanding airmata.


Ruly R, bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Bukunya terbarunya Gelanggang Maaf (Penerbit Bukuinti, 2021). Mahasiswa di STKIP PGRI Ponorogo dan mengelola Rusamenjana Book Store & Club bersama teman. Surat-menyurat: [email protected]

Puisi

Puisi A. Warits Rovi

Suara Hujan, Suara Kenangan

hujan menyempurnakan waktu pikniknya

menjelang zuhur—memagari banyak rencana

hingga tertunda atau malah berkeping dalam dada

kaki-kakinya yang bening tak berkuku

memintas setapak jalan ke lubuk kenangan

;di dalamnya, ada kau mengajakku melupakan hujan

sejak saat itu aku sadar

bahwa sesungguhnya di bumi ini tak pernah ada hujan

selain sesuatu yang mericik dari kenangan

Bungduwak, 2021


Hujan Awal Tahun

setiap yang diingkari adalah mendung

rahimnya menganga di jendela

melahirkan hujan dan segala yang berwajah pelangi

melengkung di gagang pintu

gigil tak perlu disembunyikan

dalam retak karatan tulang

sebab ada kalanya sesuatu tak perlu telanjang

untuk bisa dipandang

punggung jendela yang basah

menghampar bayangan tahun yang pergi

dengan sejumlah puisi dan skema rintih

di angka satu yang merah ini

hujan mengawali langkah sebagai tindakan

menyusun tembok masa depan

dari yang cair dan mengalir

supaya kau pandai membuat selokan

di antara jarum jam yang terus berkejaran.

Rumah IbelFilza, Januari 2022


Hikayat Gagang Celurit

aku hanya kayu biasa

raut yang berpuluh malam disembunyikan

dalam kebat kain kafan

di dekat kuburan

moyangku masih hidup di utara bukit Raas

batang yang berkalang lengan angin

dalam kepungan harum kembang jagung

mengurai silsilah sejak moyang khuldi

sampai berdahan, beranting, dan menjatuhkan bijinya

di dekat seorang petapa

aku tumpul tak berkilat, cuma sisa kurai sahaja

yang melengkung garis

mirip peta hidup yang samar berlapis

pada akhirnya berkarib besi tajam ini

sebagai gagang yang tak punya hak untuk interupsi

selain hanya mengikuti—ke mana si tuan menggerakkan hati.

Gapura, 2021


Mata Sakera

ia memandang laut dari balik kusen jendela kecil

yang bertahun diliputi bayangan ribuan perahu

mencermati sapuan ombak ke tepi pantai

seperti mengantar bau tubuh ayahnya yang tengah melaut

“laut kekasih langit, ayah yang mencintai laut

akan dicintai oleh langit—hingga membuka pintu-pintunya

dan menumpahkan hujan rezeki dalam rupa ikan-ikan

yang menyerahkan hidupnya kepada sauh,” gumamnya

seraya pelan mengedipkan mata

ke arah batas laut yang menyentuh langit

; tempat rahasia biografi ayahnya tersimpan

—masih bernyawa atau sudah tiada.

Sumenep, 2021


Jam

di tubuhku ada rumus rahasia

:dari angka ke angka

jarum lancip itu

terus mendekatkan nyawamu

dengan impian.

Gapura, 2021


Montase Hari yang Cerlang

                        Helmina Rovi

gelak cakap dua buah hati kita

adalah gradasi warna dalam sebuah lukisan

tumpuan garis liku, pendar arsiran, dan titik cipratan

pada jisim gambar gunung, pematang, dan lautan

teguh berumah pigura kecil di dinding dada kita

bergantung pada pakumu dan pakuku

berhadap-hadapan dengan waktu, mengelak dari sapuan debu

kita lihat lukisan itu dari puisi ini

dari jendela hati yang belah tirainya tak dijangkau sepi.

Gapura Timur, Januari 2022


Sejarah Kaki yang Bengkak

                                    Eppa’

kemungkinan adalah keniscayaan cabang jalan

menanjak, menurun, dan berliku

sedang kakimu sejak sebelum subuh sudah di situ

mencari kemungkinan lain dari bunga yang nyaris kering

tertampung di telapak tanganmu, paras cerlang cuma bayang

legam di kelopaknya, di antara mimpimu

yang menginginkan buah, seraya merahasiakan getah

di balik dada yang pecah

sampai kini, sepasang kaki agungmu itu

menampakkan grafiti petilasan beragam tahun

dalam rupa garis pecahan yang liris berdaki

membuatku harus pandai memaknai

;jalan yang kaulalui adalah mukim beragam duri

dan di hari tuamu yang sekadar bersandar kursi biru

sepasang kaki agungmu terlihat bengkak dan memutih

wujud hari lalu yang dijambak nyeri dan letih

di jalan beribu cabang yang kaulalui

sedang bunga yang nyaris kering itu

telah hilang dalam kepungan waktu.

Rumah Eppa’-Emma’, Januari 2022


Kalender Baru

tak ada yang lain dari diriku

kecuali warna dan jasad kertas

kembali berpangku ke satu paku

di sebelah pintu rumahmu

kukirim angka-angka pada harimu

sebagai bahasa paling rahasia

perihal waktu yang tak takut batu

dan kau menjumlah umurmu

dengan hitungan jemari ringkih

menegaskan rencana di hari nanti

dan melupakan mati.

Gapura, Januari 2022


Rintih Rumah Tua

masa laluku tersisa di lipatan kain usang dekat pintu, bekas sobekan sampir seorang perempuan yang kehabisan cara untuk menghapus air matanya pada Sabtu yang dingin, saat ia mengenali wajahnya di cermin, tak lebih sekadar bunga absurd yang nyaris kering.

sehabis menangis, ia meninggalkanku pergi, pintuku tanpa ia tutup, dibiarkannya menganga pada waktu yang lebat dan berkelebat. jam dinding yang mati tak mampu lagi berbicara soal itu, kecuali hanya seekor kupu-kupu yang sesekali tandang menyampaikan kabar, bahwa hidup memang angin sahaja yang sulit dibaca arah silirnya.

lalu sekawanan rayap mulai mencampuri hidupku dengan sarang berliuk dari bawah kursi dan perlahan menegaskan wujud yang pasti pergi, aku tak bisa mengucapkan kata-kata, selain menumpahkan air mata rahasia, sembari membayangkan perempuan itu datang kembali, membawa melati atau puisi, lalu mematut wajahnya kembali di cermin, seraya membuat kesimpulan betapa hidup bukan sekadar gelengan atau anggukan.

Rumah FilzaIbel, 2022


Warits Rovi, lahir di Sumenep. Karya-karyanya berupa cerpen, puisi, esai dan artikel dimuat di pelbagai media. Buku Cerpennya yang telah terbit Dukun Carok & Tongkat Kayu (Basabasi, 2018). Buku puisinya adalah Kesunyian Melahirkanku Sebagai Lelaki (Basabasi, 2020). Sedangkan buku puisinya yang berjudul Ketika Kesunyian Pecah Jadi Ribuan Kaca Jendela memenangkan lomba buku puisi Pekan Literasi Bank Indonesia Purwokerto 2020. Ia mengabdi di MTs Al-Huda II Gapura.

Puisi

Puisi Rizka Umami

Kepada Perempuan yang Menyeling

Nasib bicara perihal seni menyeling

Token listrik lebih nyaring dari alarm pagi

Membawa sumpah serapah

Langkah gontai dan sembap mata

            yang tak punya jatah lelap

Siapa sangka waktu bisa porak poranda

Ditubruk kerja mekanik tanpa gugat

Menopang gaya hidup pas-pasan

Sebelum diburu tenggat demi tenggat

            dan teror untuk segera merampungkan

            laporan-laporan ‘tai kucing’

            di penghujung tahun-tahun kematian

tapi seorang perempuan menyeling

scroll timeline menatap layar

merebah diri tanpa melakoni apa-apa

ia kembali kekanak, seperti mula

sekembalinya pada setengah sadar

ia kehilangan tenggat

begitu saja waktu menilapkannya di pembaringan yang sama

sudut kursi panjang sampai bosan dengan pantatnya

Nasib perempuan menyeling kehabisan waktu

Menikmati lakon kemalasan

Lepas pesat pada sibuk menyenangi selingan

            menyeling sampai gagang pintu, remuk.

Tulungagung, Agustus 2021


Sebuah Potret Dini Hari

Di warung-warung dini hari

Ampas-ampas kopi mengendapi dasar gelas dan cangkir

Sengaja ditinggalkan di bak cucian

Menjamur

Di pasar orang-orang berjejal menunggu tengkulak mengambil pesanan, mengaso

Mengais beberapa sisa sayur di bawah truk dan pick up

            Atau berdebat soal harga minyak yang mencekik sejadi-jadinya

Tapi di dapur umum

Sergapan kantuk lebih nyaring membumbung bersama deretan kalut, capai dan pupus

Menyisa dua pertiga potong tenaga buat mengisi lambung bocah-bocah yang ikut ngungsi bapak biyungnya

Buat para sepuh yang gagal juang

            Atau pencuri-pencuri yang sadar punya nasib buruk

Di dapur-dapur umum dini hari

Seorang perempuan tinggal menggendong bayinya

Memberi suap demi suap yang papa

Satu biskuit dan air hangat sedikit gula

Di dapur umum

Potret kematian-kematian kabur

Hanya siluet kegamangan

            Melanjutkan hidup, tanpa apa?

Tulungagung, Desember 2021


Tak Ada yang Lebih Kecut dari Hujan di Pipimu

Kau sambat lagi!

Menangis di siang itu

            Di bawah beringin yang baru menjulur akar gantungnya

Sedikit melindungi kulit merah dibalut krim-krim anti matahari

Katamu

Cinta tak lebih dari pasir hisap

Menelanmu lamat-lamat

Menenggelamkan harap-harapmu yang abu-abu

            Perihal hidup langgeng tanpa luka

Bukankah cinta manunggal bersama duri-duri mawar dan lembah-lembah curam?

Kau tak peduli

Lelaki sengaja menutupi air mata mimik muka dengan asap kretek

Sesenggukan di bawah pohon beringin muda

Sebab kalut dimangsa kisah cinta yang kecut cilu

            Tapi tak ada yang lebih kecut dari hujan di pipimu.

Tulungagung, 2021


Perihal Jeda

Siapa yang kenal jeda karena butir dan ongas sebab martir? Ketika tak kutemui puisi di matamu, jeda-jeda raib dan kacau.

Aku jadi segala gerak cepat membabi buta

Iringan tawon kehilangan sarang

            Kehilangan penghidupan

Aku jadi segala bising dan desing

Menolak rehat meski dada remuk ditatah butir-butir air mata bocah kolong

            Yang dingin dan dalam

Aku jadi segala keping-keping yang tercerai

Diserakkan angin yang berembus tanpa jeda

            Seperti kau, menikam dengan martirmu.

Marsda Adisucipto, November 2021


Sajak Kancing Paus

Di tubuhmu aku menemukan sajak kancing Paus

Sebentar-sebentar

Mari ulur waktu sampai level mendengarmu naik sedikit

            : Sajak Kancing Paus

            Gemerincing kancing-kancing baju impor

            Penuh di kerancang belanjamu

Nyaring seperti nyalimu tak surut

Memborong menawar mencari diskon-diskon

Berburu sampai larut di sosial media

Tak ada yang boleh sisa di keranjang maya-nyata

Almari-almari menahan kerakusan

Tak kuat sampai mendecit minta jatah udara segar bebas debu

            Rapikan, pilah, buang saja kancing-kancing lama ke selokan depan

Tapi dari sajak kancing Paus kau mengendus

Memergoki kenakalanmu

            Di selokan ke selokan menuju sungai-sungai ke laut

            Pantainya kau singgahi dengan baju-baju baru

Kancing-kancing lapang berjalan mengalir menyeberang tertampar ombak mencari muara menggauli takdir

Membersamai tubuh sang Paus

            yang tenggelam menyesali kedurhakaannya.

Dlodo, 2021


Melayat Mata Air

Di sudut-sudut yang Agung

Kita tak menemui apa-apa

            Selain sumber yang hening

Kering dan riak-riak tumbang

Ceruk-ceruk seperti tebing-tebing megek

Dirayapi lumut-lumut cokelat

            Yang ditebang

            Yang kehilangan

            Yang tersisa

                        Napas-napas tak lagi panjang

Kota telah membeli sumber hidup

            Membeli napas

            Melayat mata air dengan air mata.

Tulungagung, 2021


Di Kursi Tunggu

            Buat perempuan yang dikutuk sendiri

Kursi-kursi tunggu sepi

Hanya juntaian jadwal kereta

Yang mabuk menunggu manusia

Di ruang tunggu asing

Aku bukan lekas menjadi saudara

Hanya tujuan lebih jelas

Menghabisi masa muda menunduk pada layar

Di ruang tunggu

Dan deretan jam keberangkatan

tumbuh ingatan-ingatan yang diulang-ulang

            tentang perjumpaan dan upaya-upaya koyak

            tentang keberanian buat sendiri.

Tulungagung, 16 Desember 2021


Nama yang Pulang

Diingat,

Juga pada sebuah tengah malam

Dingin dan lembap

Seperti tertahan tumpahan hasrat hari lalu

Ada yang merambahi mengejar

Silih ganti pada ruas-ruas jari kaki

Menggetarkan pada yang hanyut

Mencintai

Sebab tak lama bersesumbar kabar datang senyap menegang

Bukan lagi soal berahi

Sampai namamu menyelanya

Mengakhiri tanya

Kenapa kau yang datang

            Dengan tubuh tanpa nyawa?

Tulungagung, September Hitam 2021


Hasil Bumi?

Di batas manusia mengutas rusuh atas ketubuhan

Membumbui laku dengan hasil bumi

            Yang diperebutkan

Di tanggal-tanggal yang sama

Hasil-hasil panen disakralkan

Orang-orang membahagiakan diri

            Melarung saji

Tapi di sana, Le

Bongkahan emas dan marmer dan pasir yang didulang

            Tak habis-tabis

Hanya cukup buat membahagiakan

Aktor kawakan!

Januari, 2022


-dan Sumber Ece

Di Nguri sebuah kabar berkesiur

Meminang telinga dan kerabatnya merasai

            Jumpa pada dataran lebih tinggi

-dan Sumber Ece

Yang kau temui memuat koin-koin bercecer di sepanjang aliran

sampai muara pada hari cerah

dan matahari bersahabat dengan wajahmu yang pura-pura

Di Nguri pada kedalamanmu yang lain

Sebuah desa tetap menjadi desa

            yang luput dari bising dan ongas tambang

-dan Sumber Ece

            Lebih jernih dari pantulan matamu

            di cermin itu.

Sumber Ece, Januari 2022


Rizka Hidayatul Umami, mahasiswi Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga. Sedang menekuni sastra dan isu perempuan. Bisa disapa via Instagram @morfo_biru, Facebook Tacin, atau Twitter @morfo_biru

Puisi

Puisi Yohan Fikri

pulang ke haribaan pelukmu

lalu di mana muara bagi segenap kembara,

bila tak henti di haribaan pelukmu?

seluruh liku jalan yang kutapak bagai lorong

bercabang banyak — gelap nan basah.

dinding-dinding yang kuraba dengan terbata,

hanya menuntun tatih langkahku

pada kegamangan-kegamangan baru menggapai cahaya.

kecemasan kerap jadi batu, mengantuk

sepasang kakiku menujumu, menujumkan segala rindu.

sambut aku, kasihku. sambut aku serupa

kuntum bunga-bunga seroja yang memekarkan diri,

untuk mencumbu jamah matahari.

pagut bibirku dan lampiaskan gelegak birahi.

peluk erat kesepianku, seakan esok adalah hari terakhir

bagi kata-kata, untuk menulis riwayat kita.

lalu kita hikmati setiap lenguh napas dan desah cemas.

setiap inci sentuhan dan jengkal kemabukan.

bayangkan ini perjumpaan sebagai pungkas pelayaran

: kita arungi samudera birahi, kita garami luka-luka dalam diri.

hingga gelap juntaikan tirai, kita tetap baku-dekap,

melihat malam yang sekarat lumpuh-terkulai

— di atas sepasang tubuh kita: tubuh penuh cinta, yang belia!

2021


pagi yang monokrom #1

di stasiun, menanti kereta tiba, kusaksikan peron kebak

para calon penumpang, mencangking kecemasan masing-masing;

hilir mudik para porter mengusung sejumlah koper,

raut-raut kusut; dan kantuk yang berjelaga di pelupuk mata

adalah komposisi di suatu pagi yang miring.

sejumlah orang duduk mencangkung, selebihnya berdiri mematung,

dan sesekali, melongok ke arah kereta tiba

— walau yang mereka temu, masihlah kekosongan belaka.  

sepasang burung gereja menisik bulu di punggung besi tua,

kemudian melenting ke pucuk ranting pohon trembesi.

pagi yang monokrom, cuaca sedingin logam,

dan langit yang muram, seperti wajah resah yang menunggu,

lalu menangis dalam ritmis rintik gerimis itu.

kenangan merambat di antara rel-rel kereta, pipa-pipa tua saluran air

karat dan menggigir, kaki-kaki kursi dan wajah-wajah lesi

yang jemu menanti. sabar pun perlahan pudar,

pada detik-detik yang gusar. “ya. kita memang gampang tergesa,

dan acap tak sadar, bahwa dalam gegas, kerap memicing mata nestapa.”

lengking kereta terdengar dari jauh, memecah gelisah

yang kecamuk dalam dadaku. fajar gemetar di ufuk,

orang-orang berhambur menuju pintu masuk. dan aku,

masih pula berdiri, merunduk, merapal doa keberangkatan,

memanjat mantra-mantra keselamatan, “betapa kita  kerap lupa

untuk senantiasa awas dan was-was pada segala, sebab pada setiap

hitam-putih kemungkinan, selalu tersimpan waktu-waktu yang rawan!”

2021


pagi yang monokrom #2

“angin apa yang telah sampai membawamu kemari?”

mungkin angin purbani, yang bertiup lembut

dari dengus napasmu dulu. ketika jari-jarinya

menyentuh kulit jangatku, ia tumbuh menjelma badai.

aku, sehelai daun ringkih, kasih, yang ingin tanggal

dan merebah di dadamu yang tandus.

biarlah waktu dan cuaca, musim-musim yang itu juga,

meleburkanku, dan aku akan merupa humus bagi benih-benih kata,

untuk tumbuh memutikkan kuncup-kuncup bunga.

ujarku pada suatu pagi yang monokrom, ketika kusaksikan

sehelai daun getas di selasar peron jatuh-meranggas

diterpa angin bulan november. kurapatkan kerah kemeja,

kukancingkan buah jaketku, kota ini sedang dingin dan berangin, cintaku;

waktu-waktu riskan bagi tubuh yang minim dirahmati pelukan.

perjalanan, barangkali, hanya berkisar pada kedatangan

dan keberangkatan. siapa yang bakal tiba lebih dulu,

cumalah masalah waktu. karenanya, aku ingin kaumenungguku,

di puncak bukit mahasakit, di mana luka telah menyalibmu.

akan aku congkel seluruh kesepian yang telah memaku sepasang lenganmu.

dari jendela sembab-berembun, mataku memandang ngungun

ke titik jauh: hamparan sawah bagai wajah yang tengadah,

dangau-dangau di batang pematang seakan melambai pada pikiran

yang capai dan sangsai, sungai mengular membelah kini dan kiwari,

rumah-rumah berbanjar sepanjang bantar rel kereta api,

pohon-pohon berkelebat ke arah masa lalu: ke arah yang tak pernah

terjangkau oleh genggamanku. segalanya hanya bisu.

bahasa menghilang dari tubuh orang-orang. langit kelabu di luar jendela

seperti ingin memuntahkan banyak bercerita. buku puisi yang kubaca

membentangkan sejuta rahasia. dan hujan pun turun. dan jagad pun basah,

menyentil sisi sentimentil dalam tubuh kerontangku. dan kuyuplah sekujur ingatanku.

2021


hal-hal yang masih mengendap

di sprei motif bunga mawar

rintih dan lenguh, hasrat dan peluh

masih mengendap di sprei motif

bunga mawar, juga di dinding-dinding kamar,

yang kusam dan memar.

sekalipun kini, malam-malam telah jadi asam,

dan sepi, harga yang tak dapat lagi

ditawar-tawar. selalu ada

yang tak akan pernah kuasa kauhapus,

pula oleh telapak tangan waktu: ialah segala gebu nikmat

yang sempat menanam geletar dalam ngilu

sendi-sendimu. gigitan-gigitan kecil bagai jarum-jarum

morphin, menyengatkan semacam gigil yang lain.

tidur meringkuk memeluk diri sendiri,

kaukenang kembali sesuatu yang telah jadi ganih;

ingatan-ingatan yang perlahan malih menjadi buih

: lingerie berenda yang masih lekat di indera peraba,

serta sejumlah kerling nafsu yang pernah memantul

di mata manik-maniknya, seakan menjelma

lembut mulut yang mengulum seluruh kesedihanmu

— sampai ke pangkal batangnya.

2021


interlude        

                        /1/

kau kerap gagal di hadapan sesuatu yang krusial.

semisal, melangkah tabah dan bersiap tanggal,          

ataukah tugur, dan terus memilih tinggal

— meski barangkali, kau paham benar,

dingin itu telah seumpama api biru,

yang membakar harapanmu menjadi abu.

                        /2/

menangislah, cintaku. menangislah seperti gelegak ombak

melampiaskan dendam pada daratan.

air mata akan membuat pandanganmu jernih kembali,

sehingga kau dapat melihat:

betapa setia dan khianat gemar bertukar tempat.

segala yang lekang akan kautemu ulang

kelak di ujung tualang. sebab, di hadapan cinta yang remaja,

kita semua pengembara belaka.

                        /3/

kau (pun aku) mungkin kerap keliru menaruh prasangka.

sebagaimana kita sedang berenang

di sebuah tepi, lalu tergesa menyebutnya menyelam ke lubuk terdalam

— bukankah mencintai pun kadang juga begitu?

tetapi kau selalu percaya, kelak, luka akan menjadi karma

dengan sendirinya. Seseorang yang telah menikamkan pisau sepi

ke punggungmu, akan menanggung seluruh kesunyian paling merah.

                        /4/

pada akhirnya, kau lebih memilih berjalan sendiri,

menamsil nasib yang ganjil,

menyelusur hari-hari yang kabur, dan menafsir rasa getir

seumpama seorang penyair,

menyusun ulang tubuh yang telah retak

menjadi sebuah sajak, sebagai ritus pengampunan

atas seluruh dosa-dosa kesunyian.

2021   


scorpius

: Sindy Novia Larensi

Apa kau tak pernah membayangkan,

sebuah rasi bintang scorpio

menampakkan diri di angkasa bumi kita?

Kau melihatnya dari jendela kamarmu, aku

mengintipnya dari halaman rumahku,

sepasang capitnya, mencengkau namamu dan namaku.

Sedang ekornya menyengat masing-masing

dada kita, sehingga tahulah aku, rindu bekerja

bagai racun, membuat biru seluruh tubuhku.

Aku masih mengamatinya. Apakah kau pun?

Tanpa kita sadari, kita telah jadi sepasang penujum,

menerka sesuatu yang belum kita mafhum,

“Di hari apakah, nasib akan menjatuhkan

nama kita pada peruntungan yang sama?”

2021


sajak tentang sebuah vas bunga

Pada vas bunga

yang menggigir kesepian

di atas meja, di sudut ruang itu

kau bertanya,

apa yang membuatnya bermakna,

selain hanya sesuatu

yang kelak layu,

dan kita berupaya mengekalkannya?

— seperti kenangan,

yang terus-menerus kita segarkan.

Pada vas bunga

yang menggigir kesepian

di atas meja, di sudut ruang itu,

kau tak menemukan apa-apa,

tidak juga jawaban

atas kesuwungan tanda tanya,

selain hanya sesuatu

di dadamu yang memurung tiba-tiba.

2021


malam dalam komposisi

Pilau lampu-lampu kota,

seakan sedang

menerjemahkan cerlang

mata kekasihnya.

Udara gigil, musim yang labil,

merepih kantung kemih,

dan bulan yang limau

di langit pucat memutih.

Di atas bangku tepi jalan,

di hadapan lalu lintas waktu,

ia hendak meraih sebungkus

kenangan di liang saku.

Tetapi ia malah merasa,

seperti ada jemari

yang hangat dan melumer

di genggamannya.

Ia terkenang pada suatu malam

ketika untuk pertama kalinya,

ia ingin waktu berjalan lamban

— atau, ke arah selain masa depan?

Disulutnya kekalutan itu, dan

kesedihan mengepul ke udara.

Sedang air matanya, umpama segumpil

mentega yang meleleh di penggorengan.

2021


le poète maudit

Aku seekor ular yang diam-diam

mengamatimu dari pucuk ranting pohon apel,

membelit kegamangannya sendiri:

antara melata pergi, ataukah menghampirimu?

Sementara ketakutan, sebagaimana tuhan,

gemar menorehkan sejumlah larangan

juga kutukan-kutukan, di tubuhku.

Suatu hari, kupetik jantung sendiri.

Kusihir menjelma sebutir apel merah,

dan menyuguhkannya padamu.

Semoga, begitu kau menggigitnya, kau paham

akulah daging buah yang tabah tubuhnya berdarah,

meski dengan lelaki itu pula

pada akhirnya, kau berbagi rasa manisnya

“Tidakkah kau tahu? Itulah saripati rindu,

yang sepanjang usia waktu, selalu luput dari pagutanmu?”

2021


rencana mengunjungi pasar malam

Bagaimana bila sejenak kau sampurkan air mata di pundakku,

dan mari, kita jalan menyusuri hingar-bingar pasar malam

yang tampak melambai-lambai kepada kita itu?

Akan kuajak kau menonton atraksi roda gila supaya bising suara

kenalpotnya, memecah rasa masygul yang terbuhul di dada.

Atau, mengendarai kuda sembrani di sebuah komidi putar?

Di sana, waktu seperti henti melaju, hidup bukan lagi kejar-mengejar.

Kita akan merasa berjalan, meski tidak ke mana-mana.

Mungkin dengan begitu, kesedihan jadi sesuatu yang tak berarti apa-apa.

Atau barangkali, kau ingin sekadar membeli permen kapas?

Lalu, duduk menikmatinya sambil menyimak dan tergelak

melihat orang-orang jerit-teriak di atas perahu yang limbung disapu ombak?

Juga kincir angin yang berjentera seakan ingin mengajari kita:

naik-turun atas-bawah itu biasa, dan begitulah sewajarnya hidup berkelindan

menjalin warna-warninya? Siapa tahu, rasa legit yang leleh di lidah,

bakal samarkan getir-pahit, sedih, dan gundah.

Lalu, akan kucegat seorang pengamen kecil yang kebetulan lewat agar dipetiknya

senar ukulele, agar ditabuhnya tambun tubuh jimbe, sembari kubacakan

sejudul sajak cinta yang sudah kutulis semenjak lama,

lihatlah rembulan yang menggantung di luas lengkuh kubah angkasa:

“Apatah pantas kau tetaskan tetes air mata? Sedang rembulan itu, bintang gemintang itu,

bahkan selamanya akan tersipu, sembunyikan muka di balik murung gemelung mega

lantaran meski parasmu sedih, rupanya masih gagal ia lampaui keindahannya.”

2021


bersama panchali di suatu

pertunjukan wayang orang

            I

Hastinapura kala itu, mungkin tak ubahnya

panggung trapesium di hadapan kita, Panchali.

Dan kita hari ini, adalah sepasang mata

yang tak ingin melewatkan satu pun adegan;

degup jantung yang tak henti menanti,

dan terus dirundung tanya, “Apa lagi setelah ini?”

Sepasang tirai itu kemudian terbuka

disusul lampu-lampu yang menyala,

lalu kita sama saksikan

lidah Sengkuni yang begitu licin,

menjatuhkan Yudhistira di atas meja judi

: tergelecik muslihat licik,

dan terjengkang nasibnya sendiri.

            II

Sementara Yudhistira telah pertaruhkan segala yang ia miliki:

Kereta dan turangga, Pandhawa dan Indraprastha,

harga diri, hingga kekasihnya,

tidakkah kaulihat ada yang berkilat

di mata Kurupati,

bagai lidah bara yang mengeropok bulu domba?

Ketika nafsu telah menyihir Dharmaputra

yang tak bercela bagai amuk seekor kuda,

kadung lepas dari tali kekangnya?

Lalu, sesal tinggallah gelugut

yang bertebar di tubuh Yudhistira.

Detik pun meruam, dan nasib hanyalah nyala

yang masih berupaya terjaga pada sumbu sejumlah kandil

— yang tampak ngungun dan menggigil, Panchali.

Gedung ini sesak penonton, Panchali,

tetapi, kesunyian seperti dinding kedap yang menyerap

seluruh suara-suara di sekitarku, di sekitar kita.

Genggam tanganku, Panchali

agar dapat kurasakan getar-getar kesedihan

yang menusuki batang nadimu.

            III

Kali ini kita saksikan seorang perempuan

— O, itukah kau, Panchali?

diseret Dursasana ke tengah gelanggang

seumpama rusa buruan,

yang dilempar di atas tungku perapian.

“Adakah seorang raja yang sampai hati melempar seorang istri

ke tengah gelanggang judi? Sedang penjudi paling nista pun tiada pernah tega

menggadai perempuannya — sekalipun toh ia seorang sundal!”

Perempuan itu berseru dengan suara terpatah,

menahan sesak-isak yang membuhul kekata dan lidah.

Suara itu, mata pedang menyayat-nyayat,

lenguh napas kijang menahan sekarat.

Kurasakan jari-jemarimu berkeringat dingin

Kau remas erat genggaman tanganku.

Sandarkan kesedihan itu di tampuk pundakku, Panchali.

“Ini hanyalah sebuah pentas,” ujarku padamu

“dan babak tak lama lagi akan pungkas.”

Tetapi kaubilang, “Kesedihan bukan seperti air mata,

yang dapat mengering hanya dengan diseka sehelai kacu,

yang kaulurkan dari saku bajumu.”

            IV

Dan senja pun penuh, ketika perempuan itu

hanya menatap ngungun ke titik jauh

— ke arah di mana harapan

adalah jarak yang begitu muhal ia sentuh.

Tetapi, kita pun seakan mengerti, Panchali,

“Nasib barangkali tak ubahnya permainan dadu.

Dan kita tak akan pernah tahu angka yang bakal keluar,

sebelum dadu-dadu pungkas dilempar!”

Tirai tertutup kembali, dan lampu-lampu bersusulan mati.

Panggung pun usai, sementara kita, masihlah sepasang penonton

yang sibuk menyeka linang masing-masing,

sebelum ruang jadi hening,

dan sepi pun tumpah, membasah ke tubuh kita.

2021


Yohan Fikri, lahir di Ponorogo, 1 November. Belajar di Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah, Universitas Negeri Malang. Puisinya tersiar di pelbagai media dan memenangkan beberapa lomba. Bukunya yang bakal terbit bertajuk Tanbihat Sebuah Perjalanan. Dapat disapa melalui akun Instagram @yohan_fvckry.

Puisi

Puisi Vania Kharizma

Air Mata Pogrom

Kelengangan menjelma rimbun legam yang berdiam
menghuni saban doa yang gemar menatah langkah
mereka koyak tafakur ibu dan tidur biyak yang cemas
seperti gema sirene, onar amunisi
aku isak sepanjang degup jantung ibu

di luar maha riuh keriau berkelibang
mengantarkan pesan melalui gemuruh
barangkali jelaga yang mengabu di awan
berkelun gulana menitip pesan:
              

     di sini kami sedang tidak baik-baik saja

pertumpahan biram begitu kemrusung
segenap wahing mengudara tak kenal arah
tapi di sini kaki pun lecet dicumbu borgol
kening kami dibusung pistol tembaga
suara decit pantofel masihlah gemar terdengar dan tibalah
‘GUBRAK!’ dentuman kencang tubuh yang ambruk di tanah
seperti suara bapak

dan ibu menangis
dan aku menangis
kami tunaikan ibadah air mata di hari Minggu

(Solo, 2021)


Membaca Penjara

Kami sepasang onar yang haus,
di tepi barak kubungkus air mata pada setangkup anyelir di pot nakas bangsal.
Himne di sekujur wabah bercokol dalam guruh jemala. Sesuatu melekang––
adalah tendasku tandas tewas, seperti arah mata angin menyebar virus.

Dan betapa bahak tunawicara bising
dirangum tunarungu. Gigil sekujur kungkungan
meramai, seakan berkicau dalam hening penantian,
Akankah segenapnya fana, atau bisakah kami ulik nostalgia?
Seperti impunitas yang gagal panen, kita diborgol wabah silabus

Darinya kita dicangking hanger yang lepuh,
sepuh, berdebu, di punggung koyak pintu kamar
mengeja yojana dan kesunyian yang hidup berdetak
Seperti seorang narapidana, kita abadi di balik jeruji gamang
Kecemasan menyapu ingin, sedang pagebluk ialah niscaya,
segenap mafia semata merapal semoga dalam amin yang ragu

(Solo, 2021)


Pagebluk dalam Jemala Hemodilusi

Kegelisahan tak lain yakni niskala yang kau kulak sembari mengecer sedih di rakung wabah, tatkala kau bergidik nyeri dalam sakit yang kau kebiri
dan tengkuk jemala sekadar memar-lebam, retak tulangnya tak kuasa memberi jalan arteri
sebab persimpangan plasma tumbuh subur yojana berkisar nanometer dari 1.000.000 jiwa
menampakkan betapa sungkawa asri mencagarkan lara dari liuk relung kulawangsa

dan malam itu kita bersaksi tiada seranah selain liur anyir dari hidu darah pagebluk
yang tengkurap enas mengenyam musim bahagia di mana wabah sekepal mangkuk
   : aglutinasi erang sepetak tabah, sepukal jentaka pun linang dari mata keharuan
layaknya eritrosit di tepi abad––menggumpal bak tuak sepekat legam kecemasan

semenjana, kekalutan meneroka berbenggil-benggil gelabah wabah
tunggang-tunggit mandam dalam carut-marut epidemi buas meruah
layaknya denyut monitor pun ingar sirene sepanjang malam menyayat pekak tunarungu
mengisahkan keriau isak dari deru parau kalabendu; dari kembang-kempis kalpataru

   dan adakah kerisauan menjelma setangkup lila dari bangkup sekujur awak?   dari liyan nestapa sonder huru-hara; sonder kelut-melut peredaran darah pagebluk

(Solo, 2021)


Terhadap Warakawuri

Sisakan tumbang kalpataru yang rampung ambruk
selepas sedihmu menewaskan bara anak-anak firdaus
bergemuruh jemala terisak
kembara tiada sempat berpulang
walakin bekal habis sudah, tungkaimu terkilir lebam-lebam
tapi tidak dengan
nelangsa yang menginap
dari dua manikam matamu

Betapa cendayam nayammu gusar menyaksikan
kembang-kembang ditanam dalam tubuh kekasihmu
pesara yang sempat kau dongengkan di waktu malam
perihal kematian dan kerinduan
anak-anak mengurung cemas dalam kesunyian
semacam dering beker yang mengentak kantukmu
dan dari bangunmu, jam pun tak tampak
habis kau dikoyak balada!

telah tandas bahagia
kesepian kini merajut tubuhmu yang gigil
tiap belulangmu bungkam mengaram rintih
seperti sebuah prosopon yang diulang-ulang
aku merindukanmu
aku merindukanmu
jemput aku ayah

seketika, kau lupa rute ibadah dan doa
sebab kesedihanmu ialah niscaya
dan kematian tinggallah menunggu hari

(Solo, 2021)


Mencangking Problematik

Ode begitu mewah tiap kali
asterik tewas di tendasmu terbelah sebelas
menjadi kepingan nebula di mana kau bermalam
sejenak terusik––sejenak menyelinap––sejenak
tafakur diam, hening.

inikah hidup yang kau maksud, bum?
pada bumi, kuredam segenap sambat.

Semenjana dalam simpang yojana
dua gelintir bocah rambu apel sibuk berkutat
ihwal kemerdekaan––ihwal pembebasan dari
rasa lapar pun dahaga, tiap kali mereka ketuk
jendela mobil sekadar menyisakan lambai

inikah hidup yang kau maksud, bum?
pada bumi, kupendam segenap maslahat.

Dalam sembahyang kandidat penumpang kehidupan
mengijabah segenap ketabahan pagi di sepetak kios renta
dalam rutuk tuan gardu, mendeportasi kantuk bohemian
sebab demikianlah tiba waktu mencangking problematik

demikianlah kita ulik enigma kehidupan.

(Solo, 2021)


Menanam Kulawangsa

/1
Sedari ibu tanak akasku dalam sebotol kempung susu
aku kenyang gizi, merimbuni gelak tawa pada binar ibu
yang dahulu gemar muram, mengenyam sendu jua sembilu
semenjana kian ranumlah aku, dimatangkan panci waktu

/2
Ibu tanam aku pada semangkuk tawar air hujan di pagi
barangkali menyerupa air mata, atau dahaga suatu elegi
tapi tidak––ibu sirami pot-pot tubuhku dengan senyum laksmi
betapa juita, aku diayun pada hangat gendongnya yang asri

/3
Ibu beri aku rekah mentari kala gulita semata lelap tertidur
dan aku pesam terkantuk nyenyak di bawah lindung tafakur
seperti ketika ibu berdongeng, aku cendera semalam suntuk
hingga purna lekang kuntumku, tumbuh subur: terbentur dan terbentuk

/4
Sebagaimana sembilan purnama lalu,
ibu menimbunku dalam tanah yang tabah menyeduh kalabendu
agar sesampainya kelak mencagarkan cendayam ibu, rautnya––
kakinya yang tak lagi tangguh; raganya yang tengah separuh renta
sebab kala ibu menanamku, aku tumbuh serupa rumah kulawangsa
menjadi semayam bermalamnya lelah ibu, akan poranda bumantara

Bund, aku tumbuh seperti kembang yang kau tanam
purna merekah bagai kuntum kulawangsa melaram


(Solo, 2021)


Steik Wagyu & Bahagianya
     : buat bohemian dan antek-anteknya

Pagi ini aku memilih cemas dengan radang mengering & kritis di kepala
jalan-jalan yang ditutup ialah keniscayaan rindu memuisikan segenap hela
aku kadung mengutuki terminal yang disepikan suara kerincing koin pengamen
hingga berdiam menyulut waktu pada kepul sigaret pengantar amin

aku berlari mengejar langit yang katanya masih biru
tapi tidak dengan kaca mata hitam di kepalaku yang mengharu
menemui para pengail TPA dengan elegi disenandungkan mereka
& aku menanyai perihal pagi, “Masihkah kau menanti mentari & pelangi?”namun mereka menggeleng & lebih memilih steik wagyu di prospektus
aku memerangi kalut, menggandengnya menjajah resto mahal

di bibirnya sekadar melongo sekelebat menit
ludahnya mengintip di sela lusuh papila legam
aku menelan cemas,
mereka geming––katanya tiada pagi selain hujan yang berpelangi
sedang aku melamun: kekalahan ini ialah maksud dari syukur

(Solo, 2021)


Dimuseumkan Musim Hujan

Rejung yang kejang dibacakan isak sepanjang kemarau mengerang
tapi kita dilautkan dengan gebyur air garam yang menggenang
& tangis di teduh wajahmu sirna dilahap ombak yang liar
hingga melupa sakit apa yang dahulu membara–menguar

aku dipepet senang dengan napas kering akibat gemar tertawa
& memilih meredam lara demi mendapat rangkulmu di rawa
akankah sore menjadi oranye bila kita tiba di lembah?
hingga hadir hujan membekuk kita yang gelebah
terjebak dalam isolir kata yang temaram di waktu senja
kita menantang semesta, masihkah tangismu urung reda?
tiada jawab selain gemuruh dalam ingar jemala

sialnya mataku ialah pagi yang tak mengenal malam
walau dimuseumkan hujan & gigil di sekujur tubuh
mengapa kita tampak seperti bunga dan kupu menganga?
kuncup di kepalamu––aku segan mengecup sekalipun ingin

maka,
kubiarkan saja indah tubuhmu
dimuseumkan musim hujan yang kekal
biar aku tak perlu lagi mengincar dirimu
/ memandangimu dari jauh & dalam diam
sebab kini kau abadi di musim hujan

(Solo, 2021)


Perjamuan Basilika

perkenankanlah tuan dengan jumbai menyapu lantai
kami pegang ikalnya dengan iman & yakin yang dibantai
hingga seorang yang lain menghardik diam––masa bodoh!
tapi kami memilih nekat dengan ingin yang mengaduh

satu-satunya jalan ialah memperkenankan iman kami disumpah
dengan keteguhan diolok––dimaki bak ludah tong sampah
& semata mengangguk bagai seekor guk-guk yang beloon
menyeduh teh & adonan manis perjamuan di sudut peron

masihkah serapah didendang kebodohan?

sebetulnya kami kasihan,
tapi toh dalam basilika kami tak mengenal rintihan
juga lara & bisikan lusifer dari jantung manusia picik
mereka lupa darat––maka duduklah menikmati licik

& tiba di muka orang banyak singgah dengan jubah putih
mereka mengangkat cawan berisikan anggur merah yang
disebut dunia wiski
melampau seni sebuah dosa
tapi aku tak mau mendalami keindahan maut
sebab tibalah perjamuan basilika menyuguh kekudusan

(Solo, 2021)


Sorai Hari Esok

(i)
adakah kau, kelana sepanjang berantah Bekasi–Karawang
kita bersaksi seakan bahagia- begitu subur tumbuh berada
tentang bagaimana kita melupa
          persoalan lusa kemarin atau
               barangkali tahun kalabendu
sebab kala bahagia purna lahir dari rahim sungkawamu –
          sisakan setitik renung untuk
               kubawa pulang …

(ii)
esok kita bertarung kembali seperti bergerilya hari ini
mengijabah perjuangan ibu– dan doa kekasihnya …
sebagaimana cinta merekah
         dari kuntum mawar merah
             menyapu-lenyapkan sedih
                 & segala-gala murungmu

bahagiamu ialah niscaya
nyenyaklah berlibur dalam tidur
kelak gaduh kita tuai bahagia
sebelum akhirnya kau melindur
atas sorak-sorai hari esok …

(Solo, 2021)


Vania Kharizma, lahir di Solo, Jawa Tengah––tahun 2003. Hobi mencuci piring dan mendengarkan lagu. Prestasi terbaik ialah Juara Pertama Lomba Cipta Puisi Tingkat Nasional yang diselenggarakan STAHN Mpu Kuturan Singaraja Bali, dan pemuisi terbaik yang mendapat penghargaan bupati dr. Cellica Nurrachadiana dalam rangka HUT Kab. Karawang. Beberapa dirinya di e-mail: [email protected] ; Instagram: @vaniakharizma.

Puisi

Puisi Sarita Rahel Diang Kameluh

Wanita Jasna Góra

Dara suci, mengapa kau dan Anakmu

bermuka gumul hitam debu, pernis cat mati,

jelaga dari tangis lilin, harum sakramen yang terbakar?

Di dahi itu terpampang gua

yang berisi curah air mata, api yang terbit dan mengawasi

batu altar itu dan jemaat-jemaat kalut.

Setiap kali ke depan altar itu, mereka cium melebihi

ciuman di bibir kekasih dan telapak tangan ibu,

mereka menyendok kemenyan, menabur di arang

yang terbakar dalam wiruk,

asap-asap mengembang bagai persembahan Habel

dan awan-awan Carpathia.

Kemudian mereka berkeliling mendupai, diiringi madah

merdu para malaikat,

sebab, di bingkai emas, di ujung altar itu tubuh Anakmu

ingin menyusu dan menjelma menjadi anggur

dalam cawan.

Seorang pelukis tak tahu cara memperbaiki wajahmu

dengan lilin lebah mendidih. Ia tak mampu

menghapus bekas goresan luka pedang Hussite

di pipi yang sudah kering dari peluh dan garam itu.

Kau dan Anakmu termenung di sana, memberi

penawar sakit pada orang-orang Czestochowa.

Ketika Hussite merajah kau rela dilukai

seakan bersabda “tusuklah aku.

Aku memang hadir di dunia ini untuk ditusuk-tusuk.”

Basilika Jasna Gora, Czestochowa, Maret 2017


Warszawa

Teruntuk surga yang porak-poranda.

Ibunya, berteduh usang, ditopang kemarau wahyu Noah.

Kota ini

semacam abu dari api dan tulang

yang dibangun kembali. Puingan bata itu

masih menangis.

Derai makam bercoreng bintang David

berkisah tentang jeritan

di mana rumah ibadah, ogorky, Chopin dan roti

menjadi pahlawan negara.

Semacam sajak penjara

yang terlahir kembali

dari mata letih para rabi yang masih terluka

setiap pagi, setiap tanggal 27 Januari.

Warszawa, Maret 2018


Orang Telanjang dari Vilnius

Kami, sepasang lapar yang terus

terluka dan menyeru sembap di pasar Kalvariu Turgus

dan sepi. Pasar yang bergerak seperti rasa lapar dengan

mulut putra altar masih menjerit-jerit

di langit, sayap kabutnya terus mengepak. Abu katedral.

Abu sinagoge. Abu sungai Viliya. Abu doa-doa. Abu gunung.

Berhamburan

ditampung mulut sepasang tentara yang terus mengisap

dalam puntung rokoknya. Nyala api di tiap isapnya mengandung 

nyawa-nyawa yang bertempik sedih terperangkap.

DiriMu. Tak hanya diriMu.

Jejak proklamasi yang merampas organ tubuh dan ayatMu.

Salut senapan dan derai baja merampas sunyi

menimbun Kaunas. Trakai mati dalam kenangan abu,

dirajah salju. 

Penjual nyawa di kedai itu menyeringai pohon cemara

dan kandil lilin

“Tiada natal tahun ini. Kristus tak berulang tahun hari ini.”

Aih, kini Ia sedang beragama apa? Beretnis apa?

Kau merah. Kau marah. Letusan bedil

menyunamkan peluru pada yang rindu dengan kayangan.

Aku melepas pasak paku yang ditanam di kedua telapakku

dan tak bisa tersenyum.

Sebab aroma mayat yang menguap

dari alun-alun Stebuklas membuatku merasa Kau tersesat dan mati.

Sedang mereka yang tergelepar, rindu pada ayat-ayat merdeka.

Kau pikir mereka mati?

Mati itu takkan menghentikan doa.

Dan Vilnius, Santo Casimir adalah nyeri

yang berbau mesiu, dikoyak menjadi bersimbah dan pemancar radio,

berabu dan berselubung kain kafan. Bunga-bunga di tamannya

bisu oleh merah. Merah darah. Merah nabi-nabi para tentara.

Surabaya, 22.05.2020.

Mengenang kota Vilnius yang dikunjungi 2018 silam.


Malam Kaca Pecah

Malam lengang, bukan salju merepih di jalan

tetapi tabur kaca, memangku jasad

beraroma kaca.

Mereka yang berbedil berkaca dalam darah,

berkaca dalam mata gugur

yang masih menitik gerimis debu.

Tallit terhempas menyelubungi nyeri Danzig,

mengkafani abu Talmud dan Tuhannya Abram.

Dan mereka yang berbedil selalu ingat

Tubuh-tubuh roboh itu adalah pogrom yang berdoa,

darah yang berdoa. Kaca-kaca yang merintih dalam doa.

Surabaya, 7.12.2020

Mengenang peristiwa pogrom di kota Danzig dan Aachen


Mazurka[1]

Warzawa, kau bertanya aku ingin mati

dengan cara apa.

Aku ingin mati dengan deruman tembaga

plac Kanonia, dan Zygmunt terlilit matahari

memerintah dari tubuh granitnya

dengan suara berdendang mazurka.

Vistula belum cukup menampung air mata

serta abu kawanku yang bersabung dengan elang.

Elang-elang itu memangsa surga dan bangkai,

dworek, bunga madat jagung para ibu.

Darah berbuih di udara. Bertuba mencari mangsa.

Angin menggisar dan daun duduk di beranda,

menatap tubuh-tubuh tanpa keranda.

Karena itulah kau harus mati, Warszawa,

supaya aku tetap bangkit

menjadi abu-abu kisruh ini,

menjadi misa arwahmu ini.

Surabaya, 8.12.2020

Mengenang Fryderyk Chopin, komposer kelahiran Zelazowa Wola, dekat Warszawa. Ia meninggalkan tempat kelahirannya ketika pemberontakan terhadap Rusia meletus di Warszawa. Beberapa temannya ikut berjuang, ia pergi sebagai ekspatriat ke Paris.


Philosophenweg[2]

Kota itu adalah wanita dewi Alcestis yang kedua buah dadanya

dibelah oleh sungai bernama Neckar. Matahari tak segan berkaca

di sana, kapal-kapal bermotor mengarungi sembari orang-orang

bersimbah Bitburger dan Bratwurst berasap. Bata-bata

sepanjang sungai membekukan waktu, berayun-ayun naik dan turun

ditelan Rathaus tua, toko-toko dan gereja yang beku, terbujur kaku

dan dibalsemi oleh wali kotanya seperti mumi Tutankhamun.

Lengket panas udara mengingat Schiller yang menggandeng

lengan Goethe di jembatan usang bertabur gulma, di situ

para filsuf bertanya mengapa bunga-bunga itu indah.

Waktu itu alun-alun kampus berbanjir para pelajar

berbincang tentang Klausuren, kopi dan sepak bola, berhambur

dari Heilgeistkirche dan kafe-kafe yang menyuguhkan

puisi, ledak tawa dan duka Jerman. Hari itu ada orang mabuk

yang menubrukkan truknya di pasar kota lama.

Sepasang kakek dan nenek duduk di bangku halte, menunggu bus

menuju ke Elysium, bersenandung

“teruntuk bahagiaku” “Toll! Toll!” seru kakek itu dengan pembuluh

di kepala tersumbat oleh busa bir dan air mata.

Si nenek yang mencintainya itu terus mengajaknya berbincang

tentang bus surgawi yang mereka tumpangi, melarikan diri

dari para filsuf Heidelberg yang tersesat dalam rimba

yang ditanam oleh para pemimpi kemerdekaan

tiga abad silam.                                              

Puncak Heidelberger Schloss, April 2018


Bella Ciao!

Copernicus dahulu bersetapak dan menimba sumur bintang-bintang

menenun dunia baru di Piazza Maggiore dan lapangan membentang

Alma Mater Studiorium. Manusia berkepala cahaya, jepret kamera,

bekur dan kepak sayap burung dara, peniup buih

dan pengemis bergumul menjilati gelato warna-warni

dan para pelajar duduk melingkar di jantung Piazza, bersenandung

O partigiano, portami via
O bella ciao, bella ciao, bella ciao, ciao, ciao!

Dahulu hanya pangeran dan kardinal yang bersekolah di sana,

kini Piazza dan jalanan dibanjiri mereka yang terbuang dari perang

seperti sampah, lari dari letup bedil dan ledakan ayat suci.

Para pelantun lagu itu takut jika hantu Mussolini

kembali mengintai orang-orang buangan,

jika Caesar dan hantu Romawi-nya kembali bangkit dari kubur,

jika angkuhnya dan keagungan oranye, pohon ara, zaitun

dan matahari Italia menghunus pisau pada mereka.

O bella ciao, bella ciao!

Piazza Maggiore, Bologna. Maret 2018


Renungan tentang Friedhof [3]

Kemarin, ilalang itu masih berdarah hijau,

berdansa bersama angin membentuk sketsa bumi.

Taman ini kini megap-megap berjuang hidup, dipenuhi oleh keriput kering dan uap air mata duka bunga-bunga, yang meratapi kawan dan sanak saudaranya yang nyawanya baru tercabut oleh desau liar angin, menebar lara pada jarak.

Di bawah kalut mendungnya langit yang berkabut, paras elok alam sirna diperbudak waktu, dan suatu saat ia akan terlahir kembali dengan watak dan wujud yang lain, yang belum pernah kau lihat sebelumnya.

Gugurnya daun adalah segenapnya menjadi tua dan sekarat, dan langit yang penuh iba itu tiada kuasa berkabung dalam fajar, menabur dingin di tanah kuburan yang damai.

Auranya sesal, lelah dan sakit-sakitan.

Pohon ini, ingatnya, disampiri oleh daun maple yang teduh. Kini gersang, layu menjadi benalu pertiwi. Gugurnya daun berdakwah pada kita, bahwa kita adalah rumpun alam yang dinamis, dihantui siklus yang fana, kerdil mengerdil di hadapan semesta.

Apa arti diri dan kuasa manusia sepadan oleh alam sendiri yang sanggup melahapnya setiap saat, yang sanggup membusukkan harga diri bergemerlapan bagai kejora itu semasa hayatnya menjadi bongkahan daging dalam tanah, yang lalu mengasupi benih-benih bunga dan pohon yang baru hinggap?

Betapa tercengangnya ia, bahwa batang pohon Eiche di pekarangannya mengandung jiwa banyak manusia yang sudah mati. Dedaunan yang tumbuh dan berkeriput dari gairah dan sakitnya, derita dan tawanya. Dan jikalau pohon mengembuskan oksigen untuk paru-paru, tidakkah berarti tiap tarikan napas adalah bagian dari diri manusia terdahulu.

Bukankah kita jua menghirup desau napas Plato yang diembuskan ketika mengajarkan indahnya dunia, desahan kecewa Caesar sembari bertekuk lutut di Galilea, dan embusan penuh kasih Sang Penebus, para nabi dan para imam yang berkhotbah pada umatnya di awal zaman?       

                                                                                                                                                                                                      Musim gugur 2018, Friedhof, Jülich.


Mengenang Perantauan di Jerman

Untuk setiap manusia yang teralienasi. 

/1./

Lonceng gereja putih menyetubuhi angin subuh,

kumandang landai salat membelit langit

Düren terbengkalai. 

Orang turun dari kereta ketika ingat mencari ramai. 

Orang terjun ke rel seperti debu, ingin lupa pada ramai.

Ramai Aachen yang berkerudung abu knalpot bus merah.

Ramai Köln yang memabuk pada sungai kelabunya.

Ramai Düsseldorf yang menyajikan tawa teh boba

dan lengang besi-besinya. 

Di taman kuburan nan damai itu. Di Friedhof.

Mayat-mayat mengantuk diselimuti bunga-bunga

anyelir dan dilintasi para pelari.

Nisan-nisan tegap itu bertuliskan : Mati diminum Pilsner.

Mati dicekik anggur merah. Mati dilahap Bratwurst.

Mati marah-marah pada orang Turki. Mati dicabik-cabik

mimpi perang. Mati bermimpi nyeri kamp konsentrasi.

Mengapa mataku masih melihat

hantu perawan remaja tersedu di nisannya

menyayat-nyayati pergelangannya yang tiada?

/2./

Masih saja kah tentang lubang menganga itu, Berlin?

Kau berseru lantang: “Enyah kau semua, dunia,

orang-orang, dewa-dewa, hakim alam baka,

halte bus berbanjir kendaraan, gedung koran yang angkuh!”

Semua tahu bahwa nyawaku bahkan tak seharga karcis.

Mereka maniskan hari-hari muda dengan video pendek

penuh permen atau dengan bau pesing Pilsner,

uap rokok menjuntai dari mulut orang Oman

di stasiun kereta penuh graffiti. 

Aih, rindu diriku pada kolam dangkal, utopia cepat saji ini.

Hiasi dinding rumah mayamu dengan kata-kata mutiara,

ciuman sayu nan modis, serta foto dirimu

dan pacar cantikmu, bangga telanjang disepuh emas,

mabuk berlinangan oleh peron dan aspal acuh. 

Katedral Berlin masih tegap dingin dan kosong,

seperti dinding yang disemprot pelangi itu.

Ia membekukan jeritan tahun 1989. Mangkuk penampung

jeritan timur dan barat yang berpilin. Jeritan sungai.

Jeritan abu. Jeritan senjata api. Jeritan merdeka.

Jeritan heroin. Jeritan menggebu sepak bola. Jeritan pahlawan

kelamin Schönenberg dari tepi laut seberang. 

Tetapi tetap saja bocah Jerman-Syria melangkah ke jalan.

Ia menjerit dengan air mata peluru senapan. 

Runtuhnya dinding mengkhianati darah pasirnya.

“Aku terlahir sebagai orang Berlin! Aku tumbuh di jalan

orang-orang asing yang dikurung dinding.”

Mengenang korban serangan teroris di Berlin dan Munich tahun 2017 silam. Mengenang orang-orang yang melarikan diri demi merdeka ketika Berlin masih terbelah.


Requiem Buruh Pabrik dari Carrickfergus

Terinspirasi dari balada rakyat Irlandia yang diterbitkan di abad 19, berjudul “Carrickfergus” dan “On The Dawning of The Day

“Apa kabar anak-anakku?” sahut abu diriku yang tenggorokannya

masih terbakar dan terlilit wiski basi, dan kaki itu

mengayuh roda hingga menjadi bulu. 

Puisi rindu yang ia hadiahkan kini rusak dirayap. Ia tak ingat

bunga anting-anting lembayung

seperti senja yang ditanam Carrickfergus, air mata Tuhan itu. 

“Apa kabar diriku?” ia hanya ingat namanya

adalah roda-roda, yang lama-kelama menggilis bibirnya.

Ia hantu yang terjebak di dinding pabrik,

jarum jam pingsan yang terus berdetik, matahari yang terus

terbenam terbit.

Adakah letih dan duka di dalam seorang matahari? 

Di ujung jalan, Brick Lane yang menganga di mulut malam,

telinganya tampak sebagai calincing kupu membalas dendam.

Kupu-kupu hitam legam. Mungkin kupu itu haus,

haus beterbangan sampai kiamat nanti. 

Kau, anak-anakku, sungguh ingin menangkapnya.

Tapi yang kau tangkap hanyalah suam-suam debu mayat kelelahan. 

Malam itu hening. Meradang ke dalam sisa tidurku.

Dalam hening kusimak malaikat yang tak kukenal

berambut hitam, merajut doa yang berpuing keping,

menjerit: mereka memberontak pada makam-makam

yang berkisah tumpukan abu yang rindu

pada laut merdeka Belfast dan retak dedaunan. 

Andaikan jasadku terbenam di Carrickfergus,

surga yang merintih dengan lagu laparnya itu.

Surabaya, Juli 2020


Sarita Rahel Diang Kameluh, lahir di Surabaya, pada tanggal 10 April. Menempuh pendidikan di jurusan Teknobiomedik di FH Aachen, Jerman. Beberapa karyanya tersiar di media daring dan cetak.


[1] Jenis lagu rakyat Polandia untuk berdansa.

[2] sebuah jalan tua bersejarah sepanjang 2 km di kota Heidelberg di dekat kampus utama, membelah dua sisi kota dan mengarungi sungai Neckar. Jalan ini terkenal sebagai tempat diskusi, merenung dan perolehan ilham para filsuf Jerman ternama.

[3] Friedhof dalam bahasa Jerman berarti “kuburan”. Di dusun Jülich terdapat lahan kuburan yang teduh dan penuh bunga-bunga, mirip dengan taman. Di lahan itu terdapat gereja tua kecil bercat putih dengan menara lonceng menjulang.