Puisi

Puisi Norrahman Alif

Menanam Kepercayaan di Lubuk Puisi

kutahu kini di mana-mana bahasa

bersenjata bahaya dan bahaya

menjelma peluru dalam bahasa.

namun puisi tetap hutan hati

menanam pohon kepercayaan diri.

karena puisi tercipta dari lidah

penyair penuh darah dan pedih.

selain puisi tak ada yang kupercayai

selain hati tak ada kebenaran sejati.

karena kenyataan sudah berwajah ganda

dan kemurnian kata telah dicemari

kamus dusta terbitan kezaliman penguasa.

dari itu aku tak lagi bercermin pada

zaman dan kenyataan ini. sebab bercermin

pada kaca pun wajahku berganda.

2021-kutub


Aku Tak Lagi Percaya Kepada Siapa Pun

Selain Tak Kepada Siapa Pun

aku tak lagi percaya kepada siapa pun

selain tak kepada siapa pun. bahkan

kepada hidup sendiri aku ragu: akukah

itu bayang-bayang ilusi kehidupan?

kemarin aku percaya pada puisi

dan kini kupercayai lidah televisi

mungkin esok pagi kuanggap apa

yang kupercayai hanyalah keyakinan

halusinasi.

di luar dinding ketidakpercayaanku

pada kenyataan ini. sungguh betapa

masih banyak orang percaya pada

berita, gambar dan siaran langsung

kehidupan di televisi.

padahal lonceng air mata tidak

selalu berbunyi kesedihan

bahkan perempuan dalam belas-kasih

seorang lelaki selalu waspada

akan bahaya cinta.

betapa zaman dan kehidupan semakin

dewasa kian dituakan oleh tipuan

dan kesemuan kata-kata.

bukankah aku dan kalian lebih suka menjilat

lidah penguasa daripada meyakini bahwa

kebenaran itu datang dari lidah tetangga sendiri.

itulah hidup saat ini.

2021-kutub


Kesemuan Hari-Hari Homo Utopis

1

aku pulang ke minggu untuk memesan hari libur

pada segenap tokoh filsuf pengangguran yang sering

luput dari daftar nama calon penerima penghargaan

internasional sebagai pemikir dengkul terkemuka.

tapi kini sejauh hari berjalan menemui hari-

hari berikutnya: ternyata hanya ada waktu

yang tidak pernah libur bekerja mencatat

kesibukan masa kini mencangkul masa lalu

dalam kesemuan hidupku yang sedang

hancur lebur bersama  facebook, instagram,

tiktok dan sebagainya.

2

dan setelah kuterjemah nama-nama hari dari

minggu sampai sabtu: ternyata tak ada satu

pun lampu hari yang membuat pikiranku terlihat

bercahaya di malam perjalanan hidup dari gelap

ke gelap dalam memburu bayang-bayang hasrat

dunia ini. 

bahkan terasa ambigu sekali hidup ini: aku hari ini

belum tentu aku di hari kemarin itu. mungkin

kini aku adalah pemakan buku –bisa saja esok aku

menjadi pembakar buku-buku sendiri.

namun bukankah peluru kemungkinan tidak

pernah melesat menembus dada hidup kita setiap hari?

bukankah setiap detik kita berpayung kemungkinan

sebelum kenyataan jatuh sebagai hujan di langit

masa lalu.

3

lalu hari pun bergulir dengan segala kekacauannya,

ketakutannya dan kejahatan zamannya –dan sampailah

manusia pada puncaknya pada saat kata “mungkin”

sudah dihapus dari kamus hari-hari kita di masa depan

oleh para filsuf dan dokter teknologi.

kini mereka mulai setiap detik berpikir, mencari dan

menentang kemungkinan-kemungkinan tentang

kehancuran dunia. tentang kepunahan manusia di masa depan.

dan jadilah hari ini –mereka bangun tangga ke langit

demi hidup terus berlanjut –atas nama melestarikan

hidup manusia agar tidak cepat punah di muka bumi.

.

di hari lain mereka ciptakan kebutuhan-kebutuhan

manusia untuk tetap abadi: mulai dari pil hidup abadi –

sampai pada robot yang akan menggantikan manusia

untuk merawat bumi ini dengan segala kecanggihan teknologinya.

tapi lagi-lagi mereka habiskan hidup, keringat dan usia

hanya untuk menolak kiamat berkunjung. sungguh

kesiaan-siaan mereka membuat tuhan tertawa girang di sana.

sungguh pikiran mereka lebih sempit dari lubang

dubur para semut. mereka kira kiamat hanya

kentut gunung merapi atau gunung semeru. mereka

kira kiamat sekadar kemarahan sungai dan laut

menenggelamkan rumah-rumah setinggi pohon randu.

namun aku tak hendak mengatakan bahwa kiamat

lebih besar atau lebih kecil dari itu semua.

sebab bagi penyair setiap hari telah kiamat bila

tak lagi mampu menulis puisi untuk hari ini.

dan penyair selalu berkata: satu-satunya cara bahwa

kita pernah ada di sini adalah menulis puisi.

kutub-2021


Sebelum Rindu Kujelaskan Dalam Puisi

sebelum rindu kujelaskan dalam puisi

kupanggil kau pulang ke rumah asali:

rumah tempatmu menjerit pertama kali

di mana saat itu ketika kau menangis

ibu mendiamkanmu dengan nyanyian

jangkrik dan desis ular.

30 tahun kau pergi,

dibesarkan rindu dan langit jakarta

atau apakah kau sudah lupa

bahwa tanah warisan nenek-moyangmu

telah menjadi kolam-kolam harta

tempat orang asing mencari

rezeki dengan cara mengiris hati.

sebelum rindu kujelaskan dalam puisi

kupanggil kau pulang ke rumah asali:

sebab 50 tahun kemudian

tak akan kau temukan lagi jalan pulang

menuju tanah kelahiran.

karena dungdung: pantat pohon lontar kita

telah menghias pelataran rumah di eropa.

karena pantai telah kehilangan indahnya

sebagai pantai. karena bapak dan ibu

telah melipat sawah, arit serta cangkulnya

ke dalam  dompet tebal di negeri orang.

sementara masa kecil kita tinggal legenda

yang berbiak menjadi dongeng-dongeng

masa tua kita.

2021


Seperti Apakah Warna Masa Depan?

saat tubuh telah berdaging malam

di bangku ini kita resapi dingin

menjilati seluruh tulang-belulang waktu.

namun mengapa kita masih bertahan di sini

saling bunuh hidup di atas meja

dengan segelas kopi dan percakapan api.

mungkin hanya cara itu yang

kita punya –daripada waktu

dan usia gugur tak berguna

habis tak berbekas makna.

bukankah begitu sederhana

cara kita mengunyah waktu

sampai habis ini diri meninggalkan

tawa untuk kita yang telah pergi.

dan setiap merasa bahwa kita sudah

dewasa dan akan segera menuai,

di dalam percakapan, kita saling

mempertanyakan arah hidup

dan warna masa depan.

seperti apakah warna masa depan kita?

kepada siapa dan untuk siapa ini hidup?

dan sampai di situ kita tak bisa

lari kemana mana. sebab di mana mana

segala pertanyaan memagari hidup kita.

pincuk-2021


Mereka Adalah Musuh Yang Sembahyang

kumasuki masjid dari lubang pintu jumat

pada saat takmir telah mendengungkan iqamat.

ternyata di dalam kusaksikan ketakutan sedang

meregang iman pada tuhan: orang-orang

berbibir masker dan berdiri penuh jarak;

memisah batin dari kekhusyukan.

allah, hati ini sembahyang di atas sajadah

kecemasan dan ketakutan. lalu apa mungkin

doa-doaku kau terima, bila ketikdakikhlasan

lagi-lagi mengabuti seluruh rasa kepercayaan.

seusai mengucap salam pada sepasang malaikat

di pundak kanan-kiri. kulihat tangan-tangan mereka

tak lagi bersalaman, silaturrahmi bukan lagi sifat

kemusliman, seolah-olah aku dan mereka adalah

musuh di hadapanmu.

2021


Kepada Unta Berjubah Putih

1

aku berusaha membakar daun-daun imanmu

yang kering dan akhlakmu yang menguning.

tetapi ayah dan bapakmu yang terbuat dari

kotoran ludah dan lidah kaum unta putih telah

menghapus doa-doa baik menuju hatimu.

sampai saat ini, kau masih menuhankan kebodohan.

buktinya, tuhanmu masuk penjara

namun kau sendiri masih bertalu-talu di jalan raya:

allahuakbar!

kami berjuang di jalan allah!

sementara di mataku kau berjuang di jalan kebencian

bahkan anak-anak setinggi lutut kau ajari menyedot kebodohan

di jalan-jalan jakarta –sambil meneriakkan nama tuhanmu

dengan mata nyala api.

2

aku berusaha menjadi tangan tuhan untuk memelihara izrail

sebagai pembunuh bayaran. sebab ia lebih gesit dan rahasia

dari peluru yang menembus enam jantung laskar kebencian.

sejak agama menjadi kantor-kantor ruang rapat kerusuhan

dan agamawan-agamawan picisan yang sok menegakkan keadilan,

mencintai nkri dan membela agama dengan cara melukai.

aku mulai memiliki satu cita-cita:

aku ingin mengupas bibir-bibir mereka, lalu kusajikan pada tuhan.

apakah bibir mereka pantas masuk surga?

2020


Nasib Agama

agama kita sudah kering sayang,

agama kita sudah kurus kurang makan.

agama kita layaknya lapangan bola yang ditumbuhi

rumput iman yang kering dan reranting permusuhan.

apakah kau masih butuh pada agama sayang?

jika orang-orangnya telah bermata api –tapi lidahnya

pandai membicarakan kisah-kisah tauladan para nabi.

tampaknya tuhan sudah pindah agama sayang

agama kita sudah tak bertuhan: kosong dan menjijikkan.

sebab mahkluk-mahkluknya telah menuhankan pikiran sendiri,

menabikan hatinya sendiri dengan iman setipis daun jati.

agama kita sudah bukan lagi sebagai ladang untuk menanam

biji cinta dan batang damai. karena punggung agama kita sudah

menjadi panggung untuk mewartakan ayat-ayat kebencian

sambil memajangkan diri: siapa yang paling alim dihadapan televisi.   

betapa ambigunya agama kita

seperti lidah dan hati yang sudah bertahun-tahun tak lagi satu rumah.

2020


Kita Adalah Tokoh Fiksi di Depan Cermin Oppo

di depan cermin oppo

kita menjadi sepasang kelamin yang seksi

layaknya tokoh-tokoh seks dalam hikayat berahi.

secara sengaja kau buat kaos singletmu berlubang

di sekitar dadanya, agar aku mampu membayangkan

buah-buah kelapa yang segera kuminum airnya. 

di depan cermin oppo

semenit dua menit kita bunuh dosa dan tuhan,

kita buramkan kenyataan dan khayalan.

agar kita merasakan betapa nikmatnya

bercinta dengan bayang-bayang.

di depan cermin oppo

geliat tubuhmu adalah jari-jariku yang nyata

dan tubuhku adalah kesibukan tanganmu

mencari-mencari bagian mana yang ingin

kubayangkan sebagai fantasi kenikmatan belaka.  

2020


Pertanyaan-Pertanyaan Kecil

1

mengapa kita butuh negara untuk ingin disebut warga negara?

apakah tanpa negara kita tidak bisa:

  1. tidur
  2. bangun
  3. makan
  4. berak

apakah sejak kita disebut sebagai warga,

 negara pernah memberi vasilitas perjumpaan setelah kita berpisah?

apakah negara pernah memaafkan palu dan arit di masa lalu?

sampai kapan pun negara tak menjamin kita untuk selalu tertawa.

singkat kata –negara adalah satu-satunya rumus kesedihan

yang tak sanggup kita bahagiakan.

bukankah sudah kukatakan padamu berulang-ulang:

bahwa negara hanya setumpuk kertas-kertas kotor

yang berisi catatan kaki para koruptor, pengecut dan pembohong.

3

mengapa penyair masih menyalakan kata untuk menggoreng negara?

setiap luka manusia ia kabarkan dalam sebaris puisi. seolah-olah

puisi adalah spiker yang melolongkan duka kenyataan.

                        nihil    

sumpah!

            padahal manusia sudah tak kenal pada sanak-saudara kata,

bahkan tuhan pun muak pada bahasa yang terlalu banyak memproduksi

dusta dan alibi. sebab makna sudah kehilangan kaki untuk mengirimkan

kesadaran kepada hati umat manusia.

sebab sejak dini kata sudah dipotong lidahnya,

tubuhnya dibungkus dalam karung kepentingan

raja-raja –sementara bibir televisi terus berbasa-basi

kepadaku setiap pagi sebagai kopi pahit yang kuseduh dengan hati sakit.

2020


Norrahman Alif lahir di jurang ara. menulis puisi, cerpen dan resensi di lesehan sastra kutub yogyakarta. beberapa karyanya bisa dinikmati di: media indonesia, republika, kedaulatan rakyat,  suara merdeka, rakyat sultra, tempo, padang ekspres dll. buku puisi tunggalnya mimpi-mimpi kita setinggi rerumputan (sublimpustaka-2019)–telah mendapat anugerah sebagai buku puisi terbaik dari lomba antologi buku puisi yang diadakan festival musim hujan banjarbaru’s rain day literary festival 2020.

Puisi

Puisi Norrahman Alif

Aforisme Sepi

orang-orang memilih mati

di tengah virus gigil waktu

menjangkit kompilasi tubuh malam

mata-mata telah memborgol kelopaknya

waktu-waktunya berselimut mimpi

dan ia rindukan sedap kopi pagi hari.

sisakan ampas sepi pada gelas sunyi

yang kuseduh sedih ini di beranda

bersama rintik hujan dini hari

2020


Ada Masanya Penyair Mencintaimu dalam Hati

ada masanya seseorang jatuh cinta

hanya mampu diungkapkan dalam puisi

itulah kemahiran penyair atau aku sendiri

tapi penyair bukan penakut apalagi lebih

dari seorang pengecut.

ada masanya di jauh hari penyair memilih:

mengasihimu sebagai satu-satunya puisi

atau membayangkanmu sekadar sebagai latar

belakang rasa cerita fiksi.

ada masanya aku tak ingin memilih kedua-duanya

sebab penyair hanya mampu mencintaimu di

hati dalam puisi.  dan itu lebih romantis dari seseorang

yang hanya mencintaimu dengan separuh hari dan hati.

2020                                                                                                                      


Tulus dan Murni Cintaku Keluar dari

Dubur Seorang Pecundang

cintaku tak seluas pikiran kaum penguasa

mereka cerdas bersilat kata-kata dan semangat

menjungkirbalikkan bangku-bangku keadilan

demi undang-undang dusta berjalan dengan

aman di tengah-tengah hidup kita yang tolol.

cintaku tak sejahat gajah-gajah mencintai negara –

negara yang terbuat dari serpihan sejarah dusta.

kau tahu gajah-gajah itu siapa, ika? merekalah penguasa itu,

sang pemilik tangan-tangan keadilan yang buntung sebelah.

cintaku tak semewah dan semegah istana negara:

rumah tuhan dan dewan perwakilan dusta merumuskan

hukum dan undang-undang untuk melindungi pecundang,

penindas dan penguasa yang ber-uang. siapa mereka ika?

mereka adalah politikus, penjilat dan tikus-tikus

dalam penjara yang hidupnya lebih mewah dari

seorang pencuri ayam. padahal mereka adalah pencuri

kebebasan hidup kaum rumputan seperti kita.

cintaku sekali lagi perlu kau cermati, ika. aku ulangi: cintaku tak

sekejam politik yang berhati intrik. karena tulus dan murni

seonggok cintaku keluar dari dubur seorang pecundang.

Jurang ara.2020


Sampai Kapan Waktu Menimang Air Mata

dan Kita Meminang Masalah?

kau semai abad-abad yang gelisah, tahun-

tahun terluka dan serajut hari yang fakir bahagia

di ladang kepalaku. lalu kini tumbuh dan

berbiak menjadi sejuta masa lalu yang lumpuh

dalam gendongan waktu-waktu kita melangkah ke

masa depan cinta.

kau tiba banting gelas-gelas perasaan hatiku

ke berbagai kota yang kini bersibuk hati merapikan

kesunyian dan kematian ke dalam lemari kenangan.

lalu di kota itu rasaku dan rasamu menjadi sepasang

mata yang berduka-cita menatap lahan-lahan luas

di balik gedung dan perumahan tumbuh kuburan

-kuburan baru dan mayat-mayat segar yang segera

digiring ke liang akhirat.

kau lalu baru tersedu di kedalaman sumur hatiku

di saat ingatan menimang-nimang sejarah berpenyakit

tentang wabah yang masih tak menemukan jalan pulang,

perihal bulan-bulan yang terus menangis sendirian

atau tentang sakit hati kita yang tak menemukan

pintu kesembuhan.

kau baru menyesal kalau hidup di tengah kubangan

air mata harus tetap bisa tersenyum walau sia-sia

dan agar bahagia segera bangkit dari dasar kesedihan

kuajak kau ke keluasan dan kemegahan bahasa

di sana senyum hatimu tidak akan berbunga sia-sia

sebab puisi dan prosa akan menampung segala

benda-benda hati kita: abadi.

Jurang ara.05-20


Mencintaimu dalam Gelap

dan di saat kesabaran terus

memayungiku dari hujan perih masa lalu

sampai masa cinta berujung kelabu

akhirnya kutemukan cara paling pahit untuk mencintaimu.

dan satu-satunya cara adalah mencintaimu

dalam gelap. Bila dalam terang matamu – segerobak

keberanianku hancur di ujung jalan lidahmu yang asin

namun kini dari balik tembok ketidaktahuanmu

kudayakan waktu untuk melatih lidahku

belajar mengucap cinta padamu.

dan apalah guna itu semua

bila saat di ujung matamu aku masih

sepenuhnya menjadi bunga gugur

sebelum waktunya.

2020


Puisi adalah Gema Lain dari Hati

setiap yang diungkapkan

penyair adalah matahari

sebab kilau cahayanya adalah

terik hatiku yang puisi.

seperti puisi –puisi yang kutulis ini

sama sekali tak mengandung nilai-nilai

jahat untuk mempolitisasi hatimu.

karena bahasa hati adalah mesin

kejujuran yang memproduksi

makna-makna kasih-sayangku padamu.

Sumenep, 2020


Mitos Ketakutan

kini kepalaku menjadi

taman kuburan. seperti

ibu ingatan memeluk

pohon kematian.

saat ini pembunuh seribu

bayangan itu adalah corona

tubuhnya tak berwujud

namun membuat nyali

bersujud pada kecemasan.

akhirnya orang-orang tak lagi

berjalan, pekerjaan tonggak

sebulan, sekolah tutup usia

dan jakarta adalah gelanggang

manusia dan penyakit bertarung

mati-matian mencari sesuap napas kehidupan.

2020


Kompilasi Penyakit

hari ke hari berlari pilu

menyeret ketakutan ke

gudang-gudang pikiran

yang kelabu

betapa hidup ini terdiri dari

bagian bayang-bayang kecemasan

seperti DBD yang menjelma maut

sampai kini corona yang menjerat

kita tahu, bahagia hanya abadi

bersama hidup dan kenangan

tapi sampai kini dan nanti

apakah kita terus mengunci

tawa, mengubur kegembiraan

dan menyingkat segala urusan

pekerjaan dari ruang sunyi

2020


Simposium Kecemasan

tiba-tiba seribu buih jakarta

menggelembungkan pikiranku

dan meledak menjadi serbuk-

serbuk ingatan tentang

kehidupan orang-orang kota

yang tengah menghitung

biji ketakutan dalam rumah

di saat tiap detik balon kematian

meledak di planet mataku

betapa langka kotaku saat ini

jantung jalan adalah pusat

kesepian membayang,

kecemasan mewabah

dengan meletakkan kartu

kematian pada  aktivitas kehidupan

sementara kabar buruk dari

langit corona terus meletus

di organ-organ media massa

hanya meluluh-lantakkan

batu hati jakarta

akhirnya rumah sakit dan kuburan

menjadi liang kepulang terakhir bagi

para korban.

sementara sekolah, kantor, kedai

kopi dan semangkuk hati yang asin

mereka cecap tiap hari dalam kandang.

2020


Buah Dosa di Dada Desember

serasa dosa ini lebih tua dari usiaku sendiri

sungguh berlipat sungguh, hati ini berat

melangkah dari hidup ke hidup

mungkin, mungkin dan hanya kata

mungkin terucap dari bibir si duka

bila seribu gunung maafku

tak cukup mengubur jasad duka desember

di liang dadamu.

dan,

sejuta rintik hujanku tak akan

mampu memadamkan nyala api

di mata murkamu.

sebab aku kini lebih berat dari batu sebukit,

lebih ringan dari kapas diterbangkan angin

dan lebih cemas dari orang-orang melawan

virus corona.

di saat hati berat memikul nasib dosa,

membuat punggung hari lecet dan bernanah

menggendong segunung sesal dan selaut maaf

yang kau telan begitu saja tanpa bahasa.

2020


Norrahman Alif  lahir di Jurang Ara –Sumenep –Madura. Menulis puisi dan resensi di Lesehan Sastra Yogyakarta. Beberapa karyanya bisa dinikmati di Media Indonesia, Republika, Kedaulatan Rakyat,  Suara Merdeka, Rakyat Sultra, Tempo, Padang Ekspres, dan lainnya. Buku puisi terbarunya Mimpi-Mimpi Kita Setinggi Rerumputan (sublimpustaka-2019).