Menanam Kepercayaan di Lubuk Puisi
kutahu kini di mana-mana bahasa
bersenjata bahaya dan bahaya
menjelma peluru dalam bahasa.
namun puisi tetap hutan hati
menanam pohon kepercayaan diri.
karena puisi tercipta dari lidah
penyair penuh darah dan pedih.
selain puisi tak ada yang kupercayai
selain hati tak ada kebenaran sejati.
karena kenyataan sudah berwajah ganda
dan kemurnian kata telah dicemari
kamus dusta terbitan kezaliman penguasa.
dari itu aku tak lagi bercermin pada
zaman dan kenyataan ini. sebab bercermin
pada kaca pun wajahku berganda.
2021-kutub
Aku Tak Lagi Percaya Kepada Siapa Pun
Selain Tak Kepada Siapa Pun
aku tak lagi percaya kepada siapa pun
selain tak kepada siapa pun. bahkan
kepada hidup sendiri aku ragu: akukah
itu bayang-bayang ilusi kehidupan?
kemarin aku percaya pada puisi
dan kini kupercayai lidah televisi
mungkin esok pagi kuanggap apa
yang kupercayai hanyalah keyakinan
halusinasi.
di luar dinding ketidakpercayaanku
pada kenyataan ini. sungguh betapa
masih banyak orang percaya pada
berita, gambar dan siaran langsung
kehidupan di televisi.
padahal lonceng air mata tidak
selalu berbunyi kesedihan
bahkan perempuan dalam belas-kasih
seorang lelaki selalu waspada
akan bahaya cinta.
betapa zaman dan kehidupan semakin
dewasa kian dituakan oleh tipuan
dan kesemuan kata-kata.
bukankah aku dan kalian lebih suka menjilat
lidah penguasa daripada meyakini bahwa
kebenaran itu datang dari lidah tetangga sendiri.
itulah hidup saat ini.
2021-kutub
Kesemuan Hari-Hari Homo Utopis
1
aku pulang ke minggu untuk memesan hari libur
pada segenap tokoh filsuf pengangguran yang sering
luput dari daftar nama calon penerima penghargaan
internasional sebagai pemikir dengkul terkemuka.
tapi kini sejauh hari berjalan menemui hari-
hari berikutnya: ternyata hanya ada waktu
yang tidak pernah libur bekerja mencatat
kesibukan masa kini mencangkul masa lalu
dalam kesemuan hidupku yang sedang
hancur lebur bersama facebook, instagram,
tiktok dan sebagainya.
2
dan setelah kuterjemah nama-nama hari dari
minggu sampai sabtu: ternyata tak ada satu
pun lampu hari yang membuat pikiranku terlihat
bercahaya di malam perjalanan hidup dari gelap
ke gelap dalam memburu bayang-bayang hasrat
dunia ini.
bahkan terasa ambigu sekali hidup ini: aku hari ini
belum tentu aku di hari kemarin itu. mungkin
kini aku adalah pemakan buku –bisa saja esok aku
menjadi pembakar buku-buku sendiri.
namun bukankah peluru kemungkinan tidak
pernah melesat menembus dada hidup kita setiap hari?
bukankah setiap detik kita berpayung kemungkinan
sebelum kenyataan jatuh sebagai hujan di langit
masa lalu.
3
lalu hari pun bergulir dengan segala kekacauannya,
ketakutannya dan kejahatan zamannya –dan sampailah
manusia pada puncaknya pada saat kata “mungkin”
sudah dihapus dari kamus hari-hari kita di masa depan
oleh para filsuf dan dokter teknologi.
kini mereka mulai setiap detik berpikir, mencari dan
menentang kemungkinan-kemungkinan tentang
kehancuran dunia. tentang kepunahan manusia di masa depan.
dan jadilah hari ini –mereka bangun tangga ke langit
demi hidup terus berlanjut –atas nama melestarikan
hidup manusia agar tidak cepat punah di muka bumi.
.
di hari lain mereka ciptakan kebutuhan-kebutuhan
manusia untuk tetap abadi: mulai dari pil hidup abadi –
sampai pada robot yang akan menggantikan manusia
untuk merawat bumi ini dengan segala kecanggihan teknologinya.
tapi lagi-lagi mereka habiskan hidup, keringat dan usia
hanya untuk menolak kiamat berkunjung. sungguh
kesiaan-siaan mereka membuat tuhan tertawa girang di sana.
sungguh pikiran mereka lebih sempit dari lubang
dubur para semut. mereka kira kiamat hanya
kentut gunung merapi atau gunung semeru. mereka
kira kiamat sekadar kemarahan sungai dan laut
menenggelamkan rumah-rumah setinggi pohon randu.
namun aku tak hendak mengatakan bahwa kiamat
lebih besar atau lebih kecil dari itu semua.
sebab bagi penyair setiap hari telah kiamat bila
tak lagi mampu menulis puisi untuk hari ini.
dan penyair selalu berkata: satu-satunya cara bahwa
kita pernah ada di sini adalah menulis puisi.
kutub-2021
Sebelum Rindu Kujelaskan Dalam Puisi
sebelum rindu kujelaskan dalam puisi
kupanggil kau pulang ke rumah asali:
rumah tempatmu menjerit pertama kali
di mana saat itu ketika kau menangis
ibu mendiamkanmu dengan nyanyian
jangkrik dan desis ular.
30 tahun kau pergi,
dibesarkan rindu dan langit jakarta
atau apakah kau sudah lupa
bahwa tanah warisan nenek-moyangmu
telah menjadi kolam-kolam harta
tempat orang asing mencari
rezeki dengan cara mengiris hati.
sebelum rindu kujelaskan dalam puisi
kupanggil kau pulang ke rumah asali:
sebab 50 tahun kemudian
tak akan kau temukan lagi jalan pulang
menuju tanah kelahiran.
karena dungdung: pantat pohon lontar kita
telah menghias pelataran rumah di eropa.
karena pantai telah kehilangan indahnya
sebagai pantai. karena bapak dan ibu
telah melipat sawah, arit serta cangkulnya
ke dalam dompet tebal di negeri orang.
sementara masa kecil kita tinggal legenda
yang berbiak menjadi dongeng-dongeng
masa tua kita.
2021
Seperti Apakah Warna Masa Depan?
saat tubuh telah berdaging malam
di bangku ini kita resapi dingin
menjilati seluruh tulang-belulang waktu.
namun mengapa kita masih bertahan di sini
saling bunuh hidup di atas meja
dengan segelas kopi dan percakapan api.
mungkin hanya cara itu yang
kita punya –daripada waktu
dan usia gugur tak berguna
habis tak berbekas makna.
bukankah begitu sederhana
cara kita mengunyah waktu
sampai habis ini diri meninggalkan
tawa untuk kita yang telah pergi.
dan setiap merasa bahwa kita sudah
dewasa dan akan segera menuai,
di dalam percakapan, kita saling
mempertanyakan arah hidup
dan warna masa depan.
seperti apakah warna masa depan kita?
kepada siapa dan untuk siapa ini hidup?
dan sampai di situ kita tak bisa
lari kemana mana. sebab di mana mana
segala pertanyaan memagari hidup kita.
pincuk-2021
Mereka Adalah Musuh Yang Sembahyang
kumasuki masjid dari lubang pintu jumat
pada saat takmir telah mendengungkan iqamat.
ternyata di dalam kusaksikan ketakutan sedang
meregang iman pada tuhan: orang-orang
berbibir masker dan berdiri penuh jarak;
memisah batin dari kekhusyukan.
allah, hati ini sembahyang di atas sajadah
kecemasan dan ketakutan. lalu apa mungkin
doa-doaku kau terima, bila ketikdakikhlasan
lagi-lagi mengabuti seluruh rasa kepercayaan.
seusai mengucap salam pada sepasang malaikat
di pundak kanan-kiri. kulihat tangan-tangan mereka
tak lagi bersalaman, silaturrahmi bukan lagi sifat
kemusliman, seolah-olah aku dan mereka adalah
musuh di hadapanmu.
2021
Kepada Unta Berjubah Putih
1
aku berusaha membakar daun-daun imanmu
yang kering dan akhlakmu yang menguning.
tetapi ayah dan bapakmu yang terbuat dari
kotoran ludah dan lidah kaum unta putih telah
menghapus doa-doa baik menuju hatimu.
sampai saat ini, kau masih menuhankan kebodohan.
buktinya, tuhanmu masuk penjara
namun kau sendiri masih bertalu-talu di jalan raya:
allahuakbar!
kami berjuang di jalan allah!
sementara di mataku kau berjuang di jalan kebencian
bahkan anak-anak setinggi lutut kau ajari menyedot kebodohan
di jalan-jalan jakarta –sambil meneriakkan nama tuhanmu
dengan mata nyala api.
2
aku berusaha menjadi tangan tuhan untuk memelihara izrail
sebagai pembunuh bayaran. sebab ia lebih gesit dan rahasia
dari peluru yang menembus enam jantung laskar kebencian.
sejak agama menjadi kantor-kantor ruang rapat kerusuhan
dan agamawan-agamawan picisan yang sok menegakkan keadilan,
mencintai nkri dan membela agama dengan cara melukai.
aku mulai memiliki satu cita-cita:
aku ingin mengupas bibir-bibir mereka, lalu kusajikan pada tuhan.
apakah bibir mereka pantas masuk surga?
2020
Nasib Agama
agama kita sudah kering sayang,
agama kita sudah kurus kurang makan.
agama kita layaknya lapangan bola yang ditumbuhi
rumput iman yang kering dan reranting permusuhan.
apakah kau masih butuh pada agama sayang?
jika orang-orangnya telah bermata api –tapi lidahnya
pandai membicarakan kisah-kisah tauladan para nabi.
tampaknya tuhan sudah pindah agama sayang
agama kita sudah tak bertuhan: kosong dan menjijikkan.
sebab mahkluk-mahkluknya telah menuhankan pikiran sendiri,
menabikan hatinya sendiri dengan iman setipis daun jati.
agama kita sudah bukan lagi sebagai ladang untuk menanam
biji cinta dan batang damai. karena punggung agama kita sudah
menjadi panggung untuk mewartakan ayat-ayat kebencian
sambil memajangkan diri: siapa yang paling alim dihadapan televisi.
betapa ambigunya agama kita
seperti lidah dan hati yang sudah bertahun-tahun tak lagi satu rumah.
2020
Kita Adalah Tokoh Fiksi di Depan Cermin Oppo
di depan cermin oppo
kita menjadi sepasang kelamin yang seksi
layaknya tokoh-tokoh seks dalam hikayat berahi.
secara sengaja kau buat kaos singletmu berlubang
di sekitar dadanya, agar aku mampu membayangkan
buah-buah kelapa yang segera kuminum airnya.
di depan cermin oppo
semenit dua menit kita bunuh dosa dan tuhan,
kita buramkan kenyataan dan khayalan.
agar kita merasakan betapa nikmatnya
bercinta dengan bayang-bayang.
di depan cermin oppo
geliat tubuhmu adalah jari-jariku yang nyata
dan tubuhku adalah kesibukan tanganmu
mencari-mencari bagian mana yang ingin
kubayangkan sebagai fantasi kenikmatan belaka.
2020
Pertanyaan-Pertanyaan Kecil
1
mengapa kita butuh negara untuk ingin disebut warga negara?
apakah tanpa negara kita tidak bisa:
- tidur
- bangun
- makan
- berak
apakah sejak kita disebut sebagai warga,
negara pernah memberi vasilitas perjumpaan setelah kita berpisah?
apakah negara pernah memaafkan palu dan arit di masa lalu?
sampai kapan pun negara tak menjamin kita untuk selalu tertawa.
singkat kata –negara adalah satu-satunya rumus kesedihan
yang tak sanggup kita bahagiakan.
bukankah sudah kukatakan padamu berulang-ulang:
bahwa negara hanya setumpuk kertas-kertas kotor
yang berisi catatan kaki para koruptor, pengecut dan pembohong.
3
mengapa penyair masih menyalakan kata untuk menggoreng negara?
setiap luka manusia ia kabarkan dalam sebaris puisi. seolah-olah
puisi adalah spiker yang melolongkan duka kenyataan.
nihil
sumpah!
padahal manusia sudah tak kenal pada sanak-saudara kata,
bahkan tuhan pun muak pada bahasa yang terlalu banyak memproduksi
dusta dan alibi. sebab makna sudah kehilangan kaki untuk mengirimkan
kesadaran kepada hati umat manusia.
sebab sejak dini kata sudah dipotong lidahnya,
tubuhnya dibungkus dalam karung kepentingan
raja-raja –sementara bibir televisi terus berbasa-basi
kepadaku setiap pagi sebagai kopi pahit yang kuseduh dengan hati sakit.
2020

Norrahman Alif lahir di jurang ara. menulis puisi, cerpen dan resensi di lesehan sastra kutub yogyakarta. beberapa karyanya bisa dinikmati di: media indonesia, republika, kedaulatan rakyat, suara merdeka, rakyat sultra, tempo, padang ekspres dll. buku puisi tunggalnya mimpi-mimpi kita setinggi rerumputan (sublimpustaka-2019)–telah mendapat anugerah sebagai buku puisi terbaik dari lomba antologi buku puisi yang diadakan festival musim hujan banjarbaru’s rain day literary festival 2020.
