Puisi

Puisi Joe Hasan

Liang yang Mengalir di Matamu

terlalu deras liang yang mengalir di matamu

kau tahan sepanjang perjalanan mengantar

memasuki hutan

dan pada setiap langkah, kau ingin selalu berhenti

supaya tidak menuju pulang

kita bertemu lagi kali ini

sebentar di panggung rumah,

sebentar di kolong rumah

perasaan-perasaan yang terus berekor

terus memanjang

memenuhi langit

kau berusaha sembunyikan rasa yang tertancap di dada

terlalu sesak

dan semakin dalam liang yang mengalir di matamu

sudahlah sampai kita pada akhir pengantaran

ikatan telah dibuka

kain itu bernyanyi sesaat

siapa yang kan menemani?

tak bisakah lebih lama lagi kita melihat matahari?

deras yang kau tahan

memang untuk sembunyikan perih

kita menyadari hari

waktu  yang tiada henti

kita menunggu giliran siapa lagi besok

atau besoknya lagi

baiklah, alirkan saja rasa itu

kesedihan di puncak rambut

peluk doa selekat jarak mata dan bulunya

ada jalan yang harus terus dijalari

di matamu, sekali lagi kusentuh sedih yang menderas

(Bau-Bau,  Juni 2021)


Anak Timur

kemarilah, duduk bersandar di bale-bale

terpaan angin siang tak sabar menelusuri masa lalu

tolong ajari saya bagaimana bercerita soal susah yang tak padam

soal mengapa harus berdoa

bukankah tuhan sudah mengerti maksud hati

tanpa harus didoakan

saya hanya rindu akan gelagat tawa usai gulungan topan dulu

menghambur batu segala arah

rasa yang tiba-tiba kehilangan tuan puan

untunglah ada satu dua uluran tangan-tangan kecil

kehilangan cara berucap ialah musibah kecil

menjadikannya sebuah kisah yang sulit

kami anak-anak timur yang sering dikira terbelakang oleh mereka

nyatanya punya ambisi di ujung langit

hari ini sinyal internet tidak terlalu susah

roh-roh terdahulu mudah saja menjadi kompas

mengisi hati supaya hari tidak hilang arti

air mata timur bukanlah milik satu

tapi semua

mari ingat kembali semboyan-semboyan nenek moyang

wahai, yang berdedikasi

marilah duduk bersandar di bale-bale

temani cerita yang tak kunjung berujung

kami mencari mata tuhan

ajari kami menyimpan air mata

menunggu cerita-cerita luar biasa membelah angin

ajari kami menulis surat untuk tuhan

bagaimana cara melihat surganya

yang menurut cerita-cerita orang tua tak bisa digambarkan indahnya

ah, saya lupa

kau bahkan tak mengenal siapa tuhanmu

(Bau-Bau,  Juni 2021)


Berkunjung ke Kolowa

pukul tiga sore

waktu untuk berangkat

kapal akan menyeberang ke kolowa

hati sedang berantakan

berusaha tenang bagai laut ini

orang-orang membaca ikan

di tubuh laut

daratan hanya khayalan

android di tangan tidak lepas

mata membujur ke gunung lepas

bahasa-bahasa sudah bermain

sejak menanti di awal keberangkatan

dan ada yang mengingat seseorang

kadang kita sengaja pandai

sembunyi di balik masker

agar tak ada apa-apa

seperti sebuah catatan perjalanan

namun hanya perjalanan, tanpa ada catatan apa–apa

kampung kolowa masih begitu tenang

seperti tahun-tahun dulu

masih terasa dingin yang asri

menusuk tulang yang penat bergerak sepanjang hari

gerhana bulan muncul malu-malu

kami sama-sama tahu ada banyak kerjaan menanti

ini bukan kunjungan untuk menyelami permandian

maka cepatlah…

cepat-cepatlah untuk kembali pulang

kita tunduk seketika

gerhana mulai redup

dan kita benar-benar telah pulang

menyalami tangan yang dulu sempat berkenalan

(Bau-Bau,  Mei 2021)


Gadis dalam Gelas

di antara bebatuan laut

seperti ada suara memanggil

gadis yang terperangkap dalam gelas

sepotong hatinya hilang

menuai hangat pembawa berita

bunyi-bunyi yang tidak kukenal

membunuh setiap hewan melintas

hingga tak mampu bersanding lagi

doa yang tengah tengadah

dari mulut gadis kecil

meminta tahun yang berbunga

di sini hanya sebilah gelas

yang dengan dabar menerima nasib

(Bau-Bau, Mei 2021)


Live Instagram

pada bibir-bibir yang basah

saya mencari sebuah makna

celoteh pemuda pengembara

di live instagram

yang sedikit-sedikit menyeruput surya

membentuk asap di ruang sendiri

malam bermukim di matamu

sekadar bertanya apa yang sedang dikerjakan

merangkai setiap komentar penonton

menjawab malu-malu

atau diantara menjelma padi berilmu

yang barangkali sembunyikan kebolehan

menorehkan kata pada angin

kita sempat tertawa

tanpa pernah melihat bagaimana rupaku

lalu kau menyudahinya

dengan sepatah karya

tugu pahlawan tegak temaram

kehilangan tenaga diantara persimpangan

masih kau cari-cari penyebutan kota

tempat kau bertandang

dan saya tertawa lagi sendiri

sembari menyodorkan tanya

puisimu yang tajam melukai garis tangan

“siapa suruh dibaca.”

ujarmu saat live hari berikutnya

apalah daya

daya tarik dalam puisimu lebih menggoda

dari hanya sekadar luka nganga sebab kau

(Bau-Bau,  April 2021)


Pertemuan Semalam

sebab pertemuan semalam

kita menjelma kata

sabda yang tak habis di nyanyikan

berkunjung ke rimah hujan

memetik satu demi satu

bait-bait terpencil

seperti dosa di bibirku

yang kerap menunjukkan arah

hilang tak pulang-pulang

ini berbaris merenungi makna

siapa saja yang akan datang

tubuh –tubuh pucat

suara sumbang

daun merana

kehilangan surga

katanya mata ibu adalah rumah

namun tak beratap

bapak berpayung matahari

siapa yang lagi yang tersesat

pikiran terlalu pandai menipu

sebab pertemuan semalam

keindahanku menjadi singkat

bila esok bertemu lagi

bolehkah kita mencuri diri masing-masing

(Bau-Bau,  Februari 2021)


Buku Tua

buku tua pada rumah tua

mengambang seketika pengunjung bertitik

menanti gerhana bulan di padang karang

malam itu

mungkin bulan mengalah pada langit

atau mungkin sebaliknya

mereka saling membiarkan

sebab kampung masih bernyawa sepi

telah berbeda memang

namun keasrian itu abadi

dingin yang terus menusuk tulang

tak sampai remuk

cukup membuat lekuk badan

di bawah selimut tua

buku tua pada kampung tua

menghiasi lemari tua

bersama foto-foto tua

dan kaset-kaset tua

waktu tak pernah tua

hanya kita yang terlalu laju berlari

menulis kisah pada buku tua

yang kemudian mengungkap sejarah

(Bau-Bau, Mei 2021)


Pendosa

pendosa mana yang mau disahabati Tuhan

Tuhan pun memilih hambanya

waktu kian melaju

tak pandang pelakon

telah tercatat di semua ayat

petunjuk-petunjuk tuk mendekatiNya

namun kita memang terlalu abai

kaca oppo, vivo, samsung, dan kawan-kawannya

adalah jembata tak jauh

ah, kesadaran ini sungguh terlambat

Tuhan membuka pintu

selalu,

dengan cahaya jutaan watt

tinggal kita yang mencari kunci

lewat kitab-kitab malam

pastikan kita bersih

suci dalam tidur

dan mengunjungi rumahNya

mimpi kan menuntun

saat itu Tuhan tak lagi memilih

hanya saja setan yang terlalu pandai

membangun jarak. mendekati mati tanpa amal

pendosa juga punya tempat di rumahNya.

mungkinkah?

(Bau-Bau,  Mei 2021) 


Kasturi

aku masih ingat liuk namamu

sewangi kasturi beberapa tahun silam

entah kau di mana saat ini

kita pernah bersepakat untuk membangun kebohongan

mencuri tipis-tipis

“bos juga suka mencuri” lirihmu pelan

untuk menutupi opname yang sebentar lagi terselenggara

ah, kau tahu kita terlahir dari cinta kasih

bukan dari kebohongan nafsu dan birahi semata

namun ajakanmu ada benarnya

kita perlu membalas orang-orang curang

yang sering tersenyum bahagia atas hasil mencuri

atas hasil pembohongan, pembodohan.

sayangnya aku telah melupakan cerita itu

menuju cerita baru membangun rumah sendiri

namun wangi kasturimu

bagai taman yang tumbuh dalam dirimu

melekat menguntitku

dan pagi ini ingatan lumpuh terpaksa keluar

jumpai sepotong sinar di atap rumah

tenang saja, aku tak lupa namamu

juga matamu

kasturimu abadi di mataku

kita perlu sedikit siraman rohani

mengobati cacat hati

yang bertahun-tahun masih tertawa

(Bau-Bau, Mei 2021)


Obrolan Malam

kita bahkan menikmatinya lebih dari tengah malam

obrolan malam seorang peri di danau susu

keluar dari kahyangan

mencari tumbal lelaki haus

sedikit kenakalan manusia dewasa

ah, jam berdenting terlalu cepat

suara kita tanpa sengaja mengetuk pintu keluar

‘jangan sampai ada yang terbangun’

bisikmu lirih

napasmu yang datang satu-satu

mengundang tawa para pengikutmu

hari ini lelahnya terbayar lunas

kita mengulanginya

obrolan malam di layar android

sambil menunggu pagi

sambil tengadah

berharap setiap waktu dapat lepas

mirip burung yang tengah terbang

(Bau-Bau,  Mei 2020)


Joe Hasan, lahir di Ambon pada 22 Februari. Tulisannya pernah dimuat di media cetak dan online.

Puisi

Puisi Adnan Guntur

Sebuah Bintang Tertembak dari Matamu

ada sebuah bintang tertembak dari matamu, aku menggariskan sebuah virus dalam lobang tikus, sebuah benda yang mirip dengan matahari, terlebih dulu datang,  menyeret selembar demi selembar kesedihan dan jatuh menuju goa kelaparanmu

sepasang tuhan menaklukkan para pendongeng, menyelipkan mulutnya kedalam mulut demonstran dengan keadaan menganga, seekor laba-laba muncul, lalu kabut memantul dari jendela dan api menenggelamkan sakit dalam rimba peradabanku

aroma daun bersenandung menggelombangkan bunyi kedalam tubuhmu, sebuah gedung teater tua, dalam gerak sandiwara anak-anak muda yang terhanyut gairah, tapi, seluruh gedung telah melumat habis kalimat dan suara kita

kemana lagi gigil tepian warna yang mengkilat di langit dalam percakapan kita?

                                                                                                            Surabaya, 2021


Aku Menabur Hari

aku menabur hari, menyanyikan nyanyian sumbang di depan kubur, menumbangkan lelaki tawar yang menggonggong seperti anjing

sebuah ikan pernah mati sebagai manusia, disini, melalui tasbih di musim-musim yang melingkar, menyimpan geliat pada ceruk ember berwarna biru yang segalanya seperti wahyu

sebelum hari yang genap itu berakhir, kelak maut menjelma amarah tentang masa depan penuh polusi kata-kata, sekian tahun kemudian, orang mungkin tak tahu bahwa aku terangkat ke atas menara-menara yang memudar warna padi paling tua

                                                                                                        Surabaya, 2021


Dalam Jeruji Menara Tertinggi                                                      

;paranoia

tapi kau telah berubah, rerumputan liar tersesatbunga-bunga dalam selubung api, malam tahun kantorku menggelintir segala hal yang  disebut dengan telanjang

melalui jalan lurus kau melingkar di tepian pohon, membongkar kekuasaan, tiap hari yang dipancarkan fajar melalui panggilan ke bumi terdalam, ikuti aku, ilusi berbalon pekikan dalam detik jam suluk yang kapir

seluruh bintang berbunyi tepat di duniamu, menandai makhluk-makhluk dalam jeruji menara tertinggi, bergoyang maha dahsyat dalam lantunan gema nyanyianku, kau mengukir wajah melalui musim gugur, mengembus-hempaskan takdir dalam badai sembilu

dimana cemara melayang jauh, memanggil berwarna bangkai yang berkilauan, di hari yang tertutup, kita menerjemahkan tuhan dalam kabut

sebelum selesai dituliskan, kerja roda api mengepung bayang-bayang ke dasar jurang, membebaskan reruntuh nostalgia yang merampas ketidakmampuan

                                                                                                       Surabaya, 2021


Kabut yang Mengepungmu

kabut yang mengepungmu telah bernyanyi, memenuhi angin membakar trotoar, derau matanya mengggayut dalam deras segala kantuk, bersanding dengan dua lembah kehausan, penuduh kecupan yang dikuliti ranjangku

ke seluruh penjuru, kincir angin menjelma tangis yang mendung terpasang bulan dalam gerak spontan, dinginnya adalah butir keringat yang kerap mamasung ruhku dalam cahaya gelap, mengirim pada tunas serta kata-kata tenggelam mendahuluiku

pada gerbang ketujuh kau mengetuk nasib yang paling sial, menandai gerimis dalam hening khusyuk yang terserap lampu, membaui kematian yang memendaminya jengkal tiap jengkal

di situ lobangpori-pori merintik puing-puing dalam asin tubuhmu, menjilat-jilat tangis pada matahari, menghisap amis pikiranku dalam lorong kematian yang mengendus pilu kota, menggaungkan masa lalu

kita penuhi seluruh kolam dengan cerita-cerita para dewa, mengasingkan geliat wujud paling memilukan, memasukinya dengan tangan paling bersih, yang dihujani mawar-mawar berwarna kecemasan

keperihanku benar-benar menggeliat, memecahkan pekik paling tinggi dalam mendirikan api-api, mengenali segala diam kota-kota, mendendami dengan lekuk sendok yang berhambur belerang kesepian kita

                                                                                                            Surabaya, 2021


Di Siang Hari Puisi Bermimpi

aku berjalan menuju lorong-lorong, suara panjang terhempas pada kepedihan yang baru bangun, kita berkelinjangan, mengenali puisi dari mimpi di siang hari

meski saja kau menghindari kawanan sapi, tapi alunan listrik tersembunyi dalam darah yang mengalir di tubuh kita, menari-nari dengan setia, meniupi angin yang sunyi dalam mataku

kuberikan sepuluh embun paling sunyi di siang hari, beberapa hal yang memutih atau kegelapan melambai seperti bisik, meruntuhkan lenganku dalam ayunan bahasa kesia-siaan

berita-berita menyumbat huruf-huruf kecil, seluruh mata telah tertelan oleh running text, kapanpun kebodohan berkaca, televisi hanyalah pelengking kesedihan

                                                                                                            Surabaya,2020


Celementre

nanti, sekali lagi, kita akan melihat kota mengetiakkan lengan kita, berputus-putus waktu dalam borok, hampir seperti jampi,  jabar, anak bayi yang mengumpamakan kata bernada miring, darahmu mengelupas angin di detak langit. kemanakah arah kita berjalan?

hujan telah jadi asam lambung, mengubur kota-kota pada degup rampak dan bedug.

celementre, kutakatakan henyakan nada, menghabisi seluruh pertempuran. derap dan langkah, telah terarsir dengan serentak, lenyap dengan ketukan tigakalidelapan

aku memelukmu lalu jatuh ke jalan-jalan, menyarungkan pandangan kita ke dalam cahaya dan mengerang di setiap goncangan-goncangan. daun mengeripis nyala api dengan ritmis. menyapu sunyi, menelan matahari

                                                                                                            Ciamis, 2020


Umbilikus

tapi ia pernah dengar, suara yang memetik rapuh lengan uzurku, rimbun semak dan pohon-pohon membaui risau di lekuk sendok, jauh sebelum namaku berubah di ramai doa yang mengelilingi batuku

kemana kau mengenali kekosongan selagi gerak batinku menegur membentang masa lalu?

hanya melalui percakapan dan bayang-bayang hantu, pagi riuh menyimpan pusara jasad dan bayangku, sebab hanya dengan menunggumu pulang, kepakan sayapku akan habis menenggelamkan waktu pada selembar kulit yang mewujud sajadah akan tergelar, siapa saja hilang dan muncul, lagi dan lagi, mungkin sampai tak terkenali

sungguh, mendung, setelah gemeretakan buangan dari kaca jendela berembun, gelegak siasat mungkin tergerus kubur, makhluk terus muncul pada bunga beraroma sorga

                                                                                                 Ciamis, April 2020


Kemana Arah Angin

kemana arah angin menjatuhi rintikan airmata, ada suara yang menelurkan igau di setiap rambu-rambu, matahari makin tinggi, langit terpantulkan layar di setiap laporan stasiun televisi, dan penderitaan mengangkat pedang kegelapan pada seluruh ingatanku

kecemasan menyelubungi, arak-arakan membalik tiap ayat-ayat yang terwaris dan tertulis melalui jendela tanganku, jejak, ditiap percakapan kita menikahi bayangan sendiri; aku dengan bayangku, dan dirimu dengan bayangmu, tapi seteguk cahaya menetap diam-diam pada musim mataku

menatah jejak berulang-ulang kali, menghadirkan gelisah pada bintang yang berjatuhan, sepasang anak duduk, menangkup gelisah yang seliweran melalui mulut awan dan hantu-hantu

beratus malaikat sembunyi di belakang pintu, memaksa menumpahkan wiski pada ukiran batu, mematikan harap, tuhan telah tersebut dengan nama lain, dalam reklame bergambar

kemarilah, tiap kerutan di dahiku, mengalir-menemukan masa lalu, menghampar huruf-huruf mengepak ngeri bulu-bulu, tapi bahasa semakin dalam, sanggup mengubah raut wajahmu

kini tinggal panas terselip di dinding gereja, berenang-menggantung malam pada langit ketujuh, sunyi bermula, walau kini tidak akan pernah menemukanmu pada bau yang kau tinggali dahulu

                                                                                                            Ciamis, 2020


Behelit

sebuah kematian membuka daun-daun, jalanan semakin panjang membentuk lobang anusmu dari sepasang merpati yang terbang melalui jembatan layang dan pepohonan jatuh dari langit dadaku

dalam sebuah kampanye melalui gowesan pancal, kita terguyur hujan membau jarak yang dipenuhi cadas, menyulut memparadekan rembulan di atas kabut, betapa sunyi lepas di ketinggian sakratul mautku, mengubur jasad rindu

lidah embun memecah udara dan lampu taman hening, sampai di telingaku tulang-tulang merintih menemukan liur, ada bayang yang diam-diam keluar melalui sepatu, seriuh kobaran pikiranku

anggur kedua menetes, menjemukan kamar dan kota, sepasang jendela berebut mandi bintang dari barat rumahmu, di sana, kegelapan menyelinap hingar pada uzur lengan kurus yang dibelit behelit

kuinjak beribu mayat pada beratus peristiwa, sorga hanya sebentar, mengepaklah sayapku menuju langit keperempuananmu, basah burung keperakan yang kian lamur dengan cinta, semakin tinggi, semakin dalam, menuju impian kita yang seganas api neraka

                                                                                                            Ciamis, 2020


Adnan Guntur, lahir di Pandeglang pada tahun 1999. Saat ini sedang melanjutkan studi di Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Airlangga. Aktif berkegiatan di Teater Gapus Surabaya dan Bengkel Muda Surabaya.

Puisi

Puisi Moh. Rofqil Bazikh

Kemah

lihat! malam meninggi menyundul langit, katamu

ombak berlarian dengan kaki-kaki kecilnya

yang sekarang tinggal suara dan dengus gema

kita kemudian menegakkan dua tenda

saling bermuka-muka, di tengah terdapat

kobar api dengan lidah merah menyala

aku mengutuk dingin, ia seperti terlahir dari

ujung daun yang terus melambai nan melandai

ini bulan ke satu, katamu, dingin selalu lewat

dari batas kewajaran manusia di muka bumi

perlahan kita menyederhanakan penyambutan

pada malam. sekadar menolak dingin

mengusir rupa-rupa hening, hingga

mengalungkan hangat di leher masing-masing

sementara lagu-lagu dengan nada berlubang

menusuk kuping. membiarkan kita bertahan

di tengah sengau dingin yang bening

Yogyakarta, 2021


Berpulang

dalam darahku mengalir deru angin

ombak memintal umpama laut kampung halaman

setelah menjauh dan mengunjungi tahun-tahun biru

pulang pelan-pelan, meletakkan batu rindu pertama

aku masih mencintaimu, ternyata

riak-riak kecil di dada meletup

bersorak, benar-benar menyerupai ramai ombak

kulihat kembali, anak kecil di gigir

batu pantai melempar patahan tembikar

ke permukaan laut, mereka menghitung

berapa lompatan sebelum akhirnya

tenggelam sampai dasar

tidak pernah lupa, bendera setengah

robek yang terpancang di tiang sampan

dengan sungguh-sungguh menghantar

pulang seluruh ingatan

Yogyakarta, 2021


Mahabah Bahasa

mula-mula kita menyoal darimana muasal bahasa

kata yang mengendap menjelma epitaf

seumpama duduk termangu mendiamkan angin warna biru

ombak menghapus pegon di kulit karang

lalu mengirim debar atau debur ke dada kita

bahasa paling puitis sejak terlahir ke dunia

—dongeng-dongeng kecil menjelang tidur

sebuah suara lantang dari lubang

yang tidak diketahui sebelumnya

semisal kita senantiasa menggali tanah ini

sejengkal demi sejengkal dan tidak sampai satu depa

tetapi terus digali sampai batas paling bawah

menemukan satu dua batu bercampur tanah merah

;tulang dan arwah pohon yang ditarik pada muasal

kita sering bertanya darimana asal seluruh bahasa

cinta dan kesedihan yang tertampung di tulang iganya

dan bila sedikit kau sentuh, akan kau temukan

ketenangan di sana

Yogyakarta, 2021


Senyum Qamariyah

udara berkabut, dingin menyusup ke tulang punggung, qamariyah

kita berdiri di halaman saling tatap dan sangat lekat

umpama masuk ke lubang yang gelap, meski tak kutemukan

bayang-bayang siapa pun lewat walau sekejap

kau mengerdipkan mata, gerak bintang selatan dan awan-awan

merapat ke pundakmu. mereka mengerubungi kita, sementara

kau bertanya; untuk apa senyum diciptakan?

kutemukan bibirmu hanya di tanggal satu, terus-menerus

menyuntikkan senyum, menggetarkan bulu-bulu dada

dan seluruh bangunan kokoh di dalamnya. namun, udara

tetap berkabut, qamariyah, wajahmu timbul tenggelam

bibirmu seperti tumpul menembus nan menebus kegelapan.

batapa pun dunia hanya tercipta dari liang kefanaan

umapa bibirmu yang sepintas lewat di padang pikiran

Yogyakarta, 2021


Tengah Malam Terjaga dan Terpaksa Berdoa

pekarangan berbalut senyap dan kau mengintipnya

dari balik jendela dengan gorden keemasan

serta ulas abu-abu setengah karat

;bulan rebah di padang rumput

sementara pohon di halaman semaput

kau mengangkat tangan seraya meyakini

doa yang mengental di lubang dada

akan dengan mudah mengetuk angkasa

sebelumnya, kau sengaja merebahkan lelah

di dataran ranjang. lalu mengatupkan mata

pelan-pelan sampai tak terdengar bunyi

kedip kelopak yang bersentuhan

kau benar-benar terjaga, kepalamu

seumpama dirasuki deru mesin pabrik

yang berisik sepanjang hari tanpa jeda

kembali kau angkat tangan

Tuhan sedang melambai, meski

sebatas bayang-bayang

Yogyakarta, 2021


Bersalin

apa yang kau tatap? langit-langit kamar sembap

udara berlindung pada ujung bunga di perut pot

tangan kiri menggenggam ujung selimut

tangan kanan kuciumi sampai larut

napas kau tarik lalu diulur

kau tarik lagi diulur lagi

sebuah dunia keluar masuk dari

lubang hidung yang sempit

hanya cukup mencium bau-bau sengit

‘kau pejamkan mata, mengatupkan bibir

lantas mengerang kuat-kuat

itu desis sampai ke langit paling hakikat

doa saya melata di bawah ranjang tua

beserta doa lain dari manusia di luar ruangan

tangis pecah mengusik ubun-ubun

ini dunia baru, anakku, dunia bertemunya

seluruh kesakitan dari kamar rahim

serta, bagimu, bumi yang asing.

Yogyakarta, 2020


Herbsttag

ini musim gugur, hujan tigakali-empatkali

luruh di barat dan timur kota

lalu terhenti, daun maple berwarna

kuning kunyit mendekati merah nanah

terjatuh di tengah-tengah halimun

yang lurus kepala

kau geser kabut-kabur tipis

pohon di halaman minta disunting

kita mengintip dari bibir jendala beruap

bumi seperti padang luas, selalu

menerima sengat terik dengan ikhlas

tetapi, tidak sering kita menemui

lidah matahari menjilat-jilat.

pergantian dari satu musim ke musim lain

tidak pernah bisa ditaksir dengan tepat

Yogyakarta, 2020


Lidah Ibu

itu lidah api, kata ayah

beberapa jenis rasa sudah mengakar di sana

;kopi yang lebih gula satu inci

bisa dipilah lewat lidah paling peka

ia akan berdiri di mulut tungku

sekali-kali duduk menyilangkan kaki

beserta tabah mengakar di dada, menunggu

air dan lapar yang sama-sama mendidih

asap menyundul wuwungan dapur

berkali-kali menyelup ujung telunjuk

sampai kata-kata melekat di kuku

mendekatkan ke mulut, menjilat pelan

pejamkan mata. rasakan, apa yang

berlebihan!

setelah hangat berlalu, sampai

dingin menepi di piring-piring

ibu menjauh, ia hanya menyediakan

lidahnya bagi lidahku

Yogyakarta, 2020


Bahasa Nama

kita duduk termangu mendiamkan angin warna biru

ombak menghapus epitaf di kulit karang

lalu mengirim debar sekaligus debur pada dada kita

bahasa paling puitis sejak terlahir ke dunia

;dongeng-dongeng kecil menjelang tidur

rumah ombak, amis ikan, deru-deru kapal

menjemput matahari di dermaga yang majal

tetapi kita selalu duduk dan tetap termangu

duakali-tigakali mengangkat dagu

diiringi angin menggelinding dari ujung bukit

mengacak-acak hitam rambutmu

pikiran ditarik ke masa lalu, beberapa

jengkal dari bahasa kepedihan.

diajari bentuk huruf

hingga menyimpul nama kita

sejakitu pula kauhafalnama-nama

;asma lain kesedihan di lubang dada

Yogyakarta, 2021


Bahasa Laut

beberapa bahasa yang disampaikan laut

pada tebing menjulang atau sebuah tanjung

yang tinggi tidak sampai ke puncak matahari

;isyarat debur kecil yang menghentak

permukaan air

lipatan jalan yang digaris pacu sampan

menerobos dari utara ke selatan

kita tidak pernah menemukan, di laut

yang kekal selain pasang dan surut

bahasa laut umpama telunjuk rasi

menuntun di malam berkabut dan beruntun

menolak segala rupa hingga macam takut

ombak menabuh gendang telinga kita

bertalu-talu sampai di hari ketiga

seluruh yang lahir di laut

kerap berlidung di dada

sampai larut

Yogyakarta, 2021


Moh. Rofqil Bazikh, tercatat sebagai mahasiswa Perbandingan Mazhab Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga sekaligus bergiat di Garawiksa Institute Yogyakarta. Anggitannya telah tersebar di pelbagai media cetak dan online. Bisa ditemui di surel [email protected] atau twitter rofqil@bazikh.

Puisi

Puisi Norrahman Alif

Menanam Kepercayaan di Lubuk Puisi

kutahu kini di mana-mana bahasa

bersenjata bahaya dan bahaya

menjelma peluru dalam bahasa.

namun puisi tetap hutan hati

menanam pohon kepercayaan diri.

karena puisi tercipta dari lidah

penyair penuh darah dan pedih.

selain puisi tak ada yang kupercayai

selain hati tak ada kebenaran sejati.

karena kenyataan sudah berwajah ganda

dan kemurnian kata telah dicemari

kamus dusta terbitan kezaliman penguasa.

dari itu aku tak lagi bercermin pada

zaman dan kenyataan ini. sebab bercermin

pada kaca pun wajahku berganda.

2021-kutub


Aku Tak Lagi Percaya Kepada Siapa Pun

Selain Tak Kepada Siapa Pun

aku tak lagi percaya kepada siapa pun

selain tak kepada siapa pun. bahkan

kepada hidup sendiri aku ragu: akukah

itu bayang-bayang ilusi kehidupan?

kemarin aku percaya pada puisi

dan kini kupercayai lidah televisi

mungkin esok pagi kuanggap apa

yang kupercayai hanyalah keyakinan

halusinasi.

di luar dinding ketidakpercayaanku

pada kenyataan ini. sungguh betapa

masih banyak orang percaya pada

berita, gambar dan siaran langsung

kehidupan di televisi.

padahal lonceng air mata tidak

selalu berbunyi kesedihan

bahkan perempuan dalam belas-kasih

seorang lelaki selalu waspada

akan bahaya cinta.

betapa zaman dan kehidupan semakin

dewasa kian dituakan oleh tipuan

dan kesemuan kata-kata.

bukankah aku dan kalian lebih suka menjilat

lidah penguasa daripada meyakini bahwa

kebenaran itu datang dari lidah tetangga sendiri.

itulah hidup saat ini.

2021-kutub


Kesemuan Hari-Hari Homo Utopis

1

aku pulang ke minggu untuk memesan hari libur

pada segenap tokoh filsuf pengangguran yang sering

luput dari daftar nama calon penerima penghargaan

internasional sebagai pemikir dengkul terkemuka.

tapi kini sejauh hari berjalan menemui hari-

hari berikutnya: ternyata hanya ada waktu

yang tidak pernah libur bekerja mencatat

kesibukan masa kini mencangkul masa lalu

dalam kesemuan hidupku yang sedang

hancur lebur bersama  facebook, instagram,

tiktok dan sebagainya.

2

dan setelah kuterjemah nama-nama hari dari

minggu sampai sabtu: ternyata tak ada satu

pun lampu hari yang membuat pikiranku terlihat

bercahaya di malam perjalanan hidup dari gelap

ke gelap dalam memburu bayang-bayang hasrat

dunia ini. 

bahkan terasa ambigu sekali hidup ini: aku hari ini

belum tentu aku di hari kemarin itu. mungkin

kini aku adalah pemakan buku –bisa saja esok aku

menjadi pembakar buku-buku sendiri.

namun bukankah peluru kemungkinan tidak

pernah melesat menembus dada hidup kita setiap hari?

bukankah setiap detik kita berpayung kemungkinan

sebelum kenyataan jatuh sebagai hujan di langit

masa lalu.

3

lalu hari pun bergulir dengan segala kekacauannya,

ketakutannya dan kejahatan zamannya –dan sampailah

manusia pada puncaknya pada saat kata “mungkin”

sudah dihapus dari kamus hari-hari kita di masa depan

oleh para filsuf dan dokter teknologi.

kini mereka mulai setiap detik berpikir, mencari dan

menentang kemungkinan-kemungkinan tentang

kehancuran dunia. tentang kepunahan manusia di masa depan.

dan jadilah hari ini –mereka bangun tangga ke langit

demi hidup terus berlanjut –atas nama melestarikan

hidup manusia agar tidak cepat punah di muka bumi.

.

di hari lain mereka ciptakan kebutuhan-kebutuhan

manusia untuk tetap abadi: mulai dari pil hidup abadi –

sampai pada robot yang akan menggantikan manusia

untuk merawat bumi ini dengan segala kecanggihan teknologinya.

tapi lagi-lagi mereka habiskan hidup, keringat dan usia

hanya untuk menolak kiamat berkunjung. sungguh

kesiaan-siaan mereka membuat tuhan tertawa girang di sana.

sungguh pikiran mereka lebih sempit dari lubang

dubur para semut. mereka kira kiamat hanya

kentut gunung merapi atau gunung semeru. mereka

kira kiamat sekadar kemarahan sungai dan laut

menenggelamkan rumah-rumah setinggi pohon randu.

namun aku tak hendak mengatakan bahwa kiamat

lebih besar atau lebih kecil dari itu semua.

sebab bagi penyair setiap hari telah kiamat bila

tak lagi mampu menulis puisi untuk hari ini.

dan penyair selalu berkata: satu-satunya cara bahwa

kita pernah ada di sini adalah menulis puisi.

kutub-2021


Sebelum Rindu Kujelaskan Dalam Puisi

sebelum rindu kujelaskan dalam puisi

kupanggil kau pulang ke rumah asali:

rumah tempatmu menjerit pertama kali

di mana saat itu ketika kau menangis

ibu mendiamkanmu dengan nyanyian

jangkrik dan desis ular.

30 tahun kau pergi,

dibesarkan rindu dan langit jakarta

atau apakah kau sudah lupa

bahwa tanah warisan nenek-moyangmu

telah menjadi kolam-kolam harta

tempat orang asing mencari

rezeki dengan cara mengiris hati.

sebelum rindu kujelaskan dalam puisi

kupanggil kau pulang ke rumah asali:

sebab 50 tahun kemudian

tak akan kau temukan lagi jalan pulang

menuju tanah kelahiran.

karena dungdung: pantat pohon lontar kita

telah menghias pelataran rumah di eropa.

karena pantai telah kehilangan indahnya

sebagai pantai. karena bapak dan ibu

telah melipat sawah, arit serta cangkulnya

ke dalam  dompet tebal di negeri orang.

sementara masa kecil kita tinggal legenda

yang berbiak menjadi dongeng-dongeng

masa tua kita.

2021


Seperti Apakah Warna Masa Depan?

saat tubuh telah berdaging malam

di bangku ini kita resapi dingin

menjilati seluruh tulang-belulang waktu.

namun mengapa kita masih bertahan di sini

saling bunuh hidup di atas meja

dengan segelas kopi dan percakapan api.

mungkin hanya cara itu yang

kita punya –daripada waktu

dan usia gugur tak berguna

habis tak berbekas makna.

bukankah begitu sederhana

cara kita mengunyah waktu

sampai habis ini diri meninggalkan

tawa untuk kita yang telah pergi.

dan setiap merasa bahwa kita sudah

dewasa dan akan segera menuai,

di dalam percakapan, kita saling

mempertanyakan arah hidup

dan warna masa depan.

seperti apakah warna masa depan kita?

kepada siapa dan untuk siapa ini hidup?

dan sampai di situ kita tak bisa

lari kemana mana. sebab di mana mana

segala pertanyaan memagari hidup kita.

pincuk-2021


Mereka Adalah Musuh Yang Sembahyang

kumasuki masjid dari lubang pintu jumat

pada saat takmir telah mendengungkan iqamat.

ternyata di dalam kusaksikan ketakutan sedang

meregang iman pada tuhan: orang-orang

berbibir masker dan berdiri penuh jarak;

memisah batin dari kekhusyukan.

allah, hati ini sembahyang di atas sajadah

kecemasan dan ketakutan. lalu apa mungkin

doa-doaku kau terima, bila ketikdakikhlasan

lagi-lagi mengabuti seluruh rasa kepercayaan.

seusai mengucap salam pada sepasang malaikat

di pundak kanan-kiri. kulihat tangan-tangan mereka

tak lagi bersalaman, silaturrahmi bukan lagi sifat

kemusliman, seolah-olah aku dan mereka adalah

musuh di hadapanmu.

2021


Kepada Unta Berjubah Putih

1

aku berusaha membakar daun-daun imanmu

yang kering dan akhlakmu yang menguning.

tetapi ayah dan bapakmu yang terbuat dari

kotoran ludah dan lidah kaum unta putih telah

menghapus doa-doa baik menuju hatimu.

sampai saat ini, kau masih menuhankan kebodohan.

buktinya, tuhanmu masuk penjara

namun kau sendiri masih bertalu-talu di jalan raya:

allahuakbar!

kami berjuang di jalan allah!

sementara di mataku kau berjuang di jalan kebencian

bahkan anak-anak setinggi lutut kau ajari menyedot kebodohan

di jalan-jalan jakarta –sambil meneriakkan nama tuhanmu

dengan mata nyala api.

2

aku berusaha menjadi tangan tuhan untuk memelihara izrail

sebagai pembunuh bayaran. sebab ia lebih gesit dan rahasia

dari peluru yang menembus enam jantung laskar kebencian.

sejak agama menjadi kantor-kantor ruang rapat kerusuhan

dan agamawan-agamawan picisan yang sok menegakkan keadilan,

mencintai nkri dan membela agama dengan cara melukai.

aku mulai memiliki satu cita-cita:

aku ingin mengupas bibir-bibir mereka, lalu kusajikan pada tuhan.

apakah bibir mereka pantas masuk surga?

2020


Nasib Agama

agama kita sudah kering sayang,

agama kita sudah kurus kurang makan.

agama kita layaknya lapangan bola yang ditumbuhi

rumput iman yang kering dan reranting permusuhan.

apakah kau masih butuh pada agama sayang?

jika orang-orangnya telah bermata api –tapi lidahnya

pandai membicarakan kisah-kisah tauladan para nabi.

tampaknya tuhan sudah pindah agama sayang

agama kita sudah tak bertuhan: kosong dan menjijikkan.

sebab mahkluk-mahkluknya telah menuhankan pikiran sendiri,

menabikan hatinya sendiri dengan iman setipis daun jati.

agama kita sudah bukan lagi sebagai ladang untuk menanam

biji cinta dan batang damai. karena punggung agama kita sudah

menjadi panggung untuk mewartakan ayat-ayat kebencian

sambil memajangkan diri: siapa yang paling alim dihadapan televisi.   

betapa ambigunya agama kita

seperti lidah dan hati yang sudah bertahun-tahun tak lagi satu rumah.

2020


Kita Adalah Tokoh Fiksi di Depan Cermin Oppo

di depan cermin oppo

kita menjadi sepasang kelamin yang seksi

layaknya tokoh-tokoh seks dalam hikayat berahi.

secara sengaja kau buat kaos singletmu berlubang

di sekitar dadanya, agar aku mampu membayangkan

buah-buah kelapa yang segera kuminum airnya. 

di depan cermin oppo

semenit dua menit kita bunuh dosa dan tuhan,

kita buramkan kenyataan dan khayalan.

agar kita merasakan betapa nikmatnya

bercinta dengan bayang-bayang.

di depan cermin oppo

geliat tubuhmu adalah jari-jariku yang nyata

dan tubuhku adalah kesibukan tanganmu

mencari-mencari bagian mana yang ingin

kubayangkan sebagai fantasi kenikmatan belaka.  

2020


Pertanyaan-Pertanyaan Kecil

1

mengapa kita butuh negara untuk ingin disebut warga negara?

apakah tanpa negara kita tidak bisa:

  1. tidur
  2. bangun
  3. makan
  4. berak

apakah sejak kita disebut sebagai warga,

 negara pernah memberi vasilitas perjumpaan setelah kita berpisah?

apakah negara pernah memaafkan palu dan arit di masa lalu?

sampai kapan pun negara tak menjamin kita untuk selalu tertawa.

singkat kata –negara adalah satu-satunya rumus kesedihan

yang tak sanggup kita bahagiakan.

bukankah sudah kukatakan padamu berulang-ulang:

bahwa negara hanya setumpuk kertas-kertas kotor

yang berisi catatan kaki para koruptor, pengecut dan pembohong.

3

mengapa penyair masih menyalakan kata untuk menggoreng negara?

setiap luka manusia ia kabarkan dalam sebaris puisi. seolah-olah

puisi adalah spiker yang melolongkan duka kenyataan.

                        nihil    

sumpah!

            padahal manusia sudah tak kenal pada sanak-saudara kata,

bahkan tuhan pun muak pada bahasa yang terlalu banyak memproduksi

dusta dan alibi. sebab makna sudah kehilangan kaki untuk mengirimkan

kesadaran kepada hati umat manusia.

sebab sejak dini kata sudah dipotong lidahnya,

tubuhnya dibungkus dalam karung kepentingan

raja-raja –sementara bibir televisi terus berbasa-basi

kepadaku setiap pagi sebagai kopi pahit yang kuseduh dengan hati sakit.

2020


Norrahman Alif lahir di jurang ara. menulis puisi, cerpen dan resensi di lesehan sastra kutub yogyakarta. beberapa karyanya bisa dinikmati di: media indonesia, republika, kedaulatan rakyat,  suara merdeka, rakyat sultra, tempo, padang ekspres dll. buku puisi tunggalnya mimpi-mimpi kita setinggi rerumputan (sublimpustaka-2019)–telah mendapat anugerah sebagai buku puisi terbaik dari lomba antologi buku puisi yang diadakan festival musim hujan banjarbaru’s rain day literary festival 2020.

Puisi

Puisi Rizka Umami

Bayi-bayi Pabrik

Jam makan siang milik perempuan

dihimpit ruang pabrik yang sesak menekan ubun-ubun

dan bau peluh dari ketiak-ketiak buruh

di gedung sebelah karib-karibnya menjerit

sambil melucuti celana yang penuh air ketuban

pecah, sungsang, buka empat pendarahan pula

tak ada tanda atau bunyi, tak ada ambulance

di jam makan siang yang terik menyengat tubuh

bayi-bayi pabrik menangis kencang meratapi nasib ibu

bayi-bayi menahan lapar di masa harga susu naik tajam

dan buruh perempuan tak dapat cuti bulanan

tak boleh menuntut atau minta jatah tunjangan

di jam makan siang milik perempuan

hanya bungkaman.

21 November 2020


Tasminah

Subuhmu lepas pesat

ditawan keranjang-keranjang tahu mentah yang getir

seperti laku sepuhmu

kau tinggal sembab di depan pawon

menakar terigu dan kacang tanah yang kehilangan kulit

dan kau kehilangan pegangan

masamu lewat diganti keriput tak menawan

di antara dua tungku

kayu bakar yang asapnya membawa sisa mimpimu terbang ke langit-langit dapur

kau koyak dan retak

mirip telur-telur ayam kampung di kandang

hitam pekat dan abu-abu laik masa muda yang sia-sia itu.

22 November 2020


Bocahmu

Dari balik pintu itu

bocahmu mengintip ketakutan

matanya nanar

hanya tangan kirinya bergerak

sambil menutupkan buntalan kaki boneka

pada mulut mungilnya

bocahmu ingin menjerit

melihatmu menggorok bapaknya yang bengis

tapi kau sumpal dengan tangan berdarah-darah

lalu dikisahkan seorang nenek membopong cucunya

menuruni bukit berlari menembus kabut pagi

mencari keadilan di jalan-jalan.

23 November 2020


Kota Muda-mudi

Di kota muda-mudi sengketa cinta bukan tragedi

politik dan hukum kepemilikan bermain fasih

dan semua mafhum, cinta membuat segala jadi buta

lain waktu di kota muda-mudi setia dijual murah

kepercayaan jadi lagu lama yang tak begitu populer dinyanyikan

sebab cinta tak bisa memihak setia dan percaya

lalu di kota muda-mudi yang riuh ramai

semua manusia merasai sepi

kehilangan nurani.

24 November 2020


Jika Tak Ada Orang

Aku adalah aku jika tak ada orang di satu ruang

memakai kemeja, berias dan menari

mengelilingi sudut-sudut peribadatan yang sunyi

seperti bermain di opera

atau menjelma komposer

jika tak ada orang aku menjadi aku

melepas alas kaki dan mengerang semauku

memeluk otoritasku

seperti jasadku

menjelma ruh dan mencintai aku.

25 November 2020


Sepatu Merah

Sepatu merah setengah abad ditikam kusam

keluar dari kardus pitanya

meraih tubuhku

seperti tukang pos meminta bayar beberapa ribu

ongkos kirim dari sepersekian

dimensi waktu

Rasa-rasanya kau reinkarnasi

mewujud Laksmi reformasi ikut meledak

ndakik-ndakik di kejauhan pantang padam selintas jalan

Sepatu merahmu menggoda mata-mata jalang manusia

yang dipikat kehilangan tubuh pongah melulu

menutub aib-aib, mengumpat

Apa kaki bersih mendadak complong?

sebab sadar rupa kaki tangan berakal kosong

berkah kaca, cermin-cermin mengganti posisi.

Desember 2020.


480

Delapan hari

480 mayat siap angkut ke liang

aku bersama seluruh jenazah

tanpa tangis pecah sanak kadang

di samping pembaringan

kulihat liang-liang lain beku

menyerupai wajah peti-peti yang segera ditimbun

ditutup gundukan tanah merah aroma fanbo

aku rebah di hadapan giliran sekian

waktu gerimis membengkokkan hasrat

pendoa yang panik

kami disilakan bergegas turun

membenamkan jasad, menyelamatkan ego.

21 Januari 2021


Pokping

Satu tandan pokping

disisir per biji menunggu tengkulak

pohon terakhir menunggu ajal sepertiga siang yang mamang

Hujan tak jadi hujan

tapi mendung membawa resah

petani-petani menjemur calon nasi menimbun jatah jagung basah

Hujan tak hujan nasib pokping setandan mesti lunas

ditukar pindang atau teri kawat, “harga jatuh, tak mungkin daging.

tak butuh daging buat mengupaya hidup

Satu tandan menguning

di teras menanti jodoh setengah hati

pada pembeli yang meriang, minta selirang

21 Januari 2021


Ada Jasadku di Sampingmu

Sangkar-sangkar diisi penuh jaring laba-laba, sisa belulang serangga

kursi rotan di teras belakang keropos

burung-burung menyisakan bulu di rumah kosong

tapi nyala lilinmu abadi

bertahun-tahun kau melewatinya

melayat pada pinggiran kota yang lusuh

mengubur anak-anak yang tergilas truk-truk

mengabadikan potret tikus-tikus

menyemburkan isi perut dibakar aspal dikubur debu jalan

sampai sirine meraung menemukan aku

di sebelah jasad dan ruhku yang pengelana mengendus maut.

24 Januari 2021


Gimah

Di masa ketiak Gimah mengeluh

pagi-pagi mendadak gerah dan lengket

empat puluh lima kilo bukan soal jarak dan waktu tunggu

tak banyak desing angkot memburu tubuh

orang-orang yang jenak di pinggiran

sebab kaki-kaki bapak tempat bertumpu bermain

kendang kentrung sepanjang terik menyongsong kuasa recopentung

momenmu usah diulang-ulang

pelagu babad tanah jawa, walisongo, nabi-nabi

seorang belia ngentrung bareng bapaknya di lintas kota

tak banyak desing angin menjamah tubuh

orang-orang yang lupa musim dan tanah ibu

dan kaki bapak tak kokoh lagi menyokong cerita-ceritamu

kau, berjalan sorangan

tapi kelak namamu dihiraukan, mbok Gimah

si tukang kentrung pemikul laju mula amanah

pengantar tuntunan yang terseok-seok tontonan.

29 Januari 2021


Rizka Hidayatul Umami, lahir di Tulungagung. Sedang menyukai sastra dan isu-isu perempuan. uku pertamanya berjudul Dongeng Rukmini (2017). Bisa disapa lewat instagram dan twitter @morfo_biru, juga facebook: Tacin.

Puisi

Puisi Daruz Armedian

di luar ketiadaan

di luar ketiadaan, sesuatu yang tak teraba

oleh mata terbuka, menciptakanmu,

menciptakan ruang dan waktu,

nama dan bahasa,

rindu dan cinta,

semesta.

di luar ketiadaan, semesta menjadi

kekosongan. rindu dan cinta lebur,

nama dan bahasa hancur,

ruang dan waktu remuk,

dirimu tak terbentuk.

di luar ketiadaan, tampak

hanya ‘ada’, yang akan

menutupi ‘ketiadaan’ itu sendiri.


kemungkinan

mungkin, di bawah pohon itu,

kita pernah bercengkerama.

soal filsafat dan agama,

soal ada dan tak ada,

soal moral dan dogma,

soal muasal bahasa-bahasa,

soal adam dan hawa,

soal penciptaan dunia,

dan sebagainya.

tapi mungkin tak seperti itu.

kita tak pernah di sana,

tak bercengkerama soal apa pun.

yang ada hanya angin

menggugurkan daun-daun.


distopia

aku terjaga dan tak menemukan diriku

yang sesungguhnya.

berjalan dengan kaki yang tak menginjak

sebagaimana mestinya.

memandang dengan mata yang buta.

ruang sepertinya hanya terbuat dari kegelapan.

duh, tuhan yang menguasai alam,

kenapa mesti ada kebangkitan?

tak ada musik

mengalun di sini,

apalagi cericit burung pagi hari,

apalagi nyanyianmu

(yang di telingaku

kuanggap sebagai kebahagiaan tertentu).

duh, tuhan yang menciptakan bunyi,

kenapa mesti ada sunyi?

sesekali kurasa ada yang memanggil.

pelan-pelan tapi bergema.

mungkin dirimu

tapi tak kutahu itu di mana.

arah jalan semakin lama

semakin bercabang

dan setiap cabang

hanya berisi kekosongan

tuhan, sejak kapan kita berjauhan?


setelah kata-kata tak ada lagi

setelah kata-kata tak ada lagi,

dengan apa kita bicara,

menulis puisi,

dan mengarang cerita?

kepada apa kita musti membaca,

memahami,

dan menduga tanda-tanda?

bagaimana cara berbagi,

berjanji,

dan menjawab tanda tanya?

setelah kata-kata tak ada lagi,

mungkin hanya hening,

dan kita menjadi batu,

bisu,

mungkin hanya dingin

yang lain.


lekas peluk aku

lekas, lekas peluk aku dan tenangkan

keriuhan di kepalaku. makin hari,

bumi makin lupa cara menerima

manusia. kota makin membara,

dan hujan jatuh lebih sering dalam

bentuk melankolia. duh, manisku,

aku mencintaimu di tengah-tengah

kepadatan penduduk, di sekitar

kerumunan buruh harian, anak

jalanan, gerombolan tunawisma,

dan sebagainya. aku mencintaimu

pada zaman di mana aparat

tak pernah bersahabat, pada waktu

di mana pemerintah lupa menaruh

nuraninya. lekas peluk aku dan

tenangkan keriuhan di kepalaku.

sebab negara tak pernah memeluk

penduduknya. tak menjamin

ketenangan rakyatnya.


hatiku gelombang

hatiku gelombang:

bergemuruh

dalam pencarian.

dan kau pantai:

menunggu

dalam keheningan.

untuk dapat bertemu,

keakuanku perlu selesai.

perlu lebur menjadi buih.

hancur menjadi kekasih.


cara terbaik membuka mata

setelah kehilanganmu

aku ingin tahu cara terbaik membuka mata setelah kehilanganmu,

setelah waktu pelan-pelan jadi gerbong kereta,

membawamu ke arah yang tak ada aku di sana.

aku ingin tahu cara terbaik membuka mata setelah kehilanganmu,

setelah bertahun-tahun sebelumnya, aku terjaga

dalam keadaan jatuh cinta.

aku ingin tahu cara terbaik membuka mata setelah kehilanganmu,

setelah aku paham kau melambaikan tangan,

yang bukan untuk sapaan.

aku ingin tahu cara terbaik membuka mata setelah kehilanganmu.

cara yang sama sekali belum pernah kupelajari,

sebelum kau memilih pergi.


percintaan kuli bangunan

o astaga, di ruang ini kita cuma berdua.

selain itu; kalender tahun lalu,

gitar tua, jendela yang tak terlalu

beres engselnya, dan jam dinding

yang kelihatan lain. kamu mau

kutandai lehermu? atau telinga?

atau… tutup pintunya. dalam

percintaan kita, jangan ada

yang boleh masuk, apalagi aturan

negara. di luar, biar berkecamuk,

biar kota sibuk merawat polusi

dan polisi (dua hal yang amat

mengganggu ini). biarin aja.

keringat kita, pelan dan amat pelan,

menyusun bahasa, yang tidak

dipahami oleh para pembenci;

oknum partai, pemegang kekuasaan,

ustaz palsu, pendakwah gadungan,

aparat taik, kontraktor taik, bos taik.

o gendaanku yang paling yoi,

jangan tidur malam ini. kita

main sampai pagi. sampai pagi.


aku akan memelukmu

aku akan memelukmu dalam

bentuk bayangan tidak utuh,

asing dan jauh. lalu cerita

soal hidup dalam kesia-siaan

dan kematian dari orang yang

terlupakan. aku akan menyiram

pohonan yang subur di tubuhmu

dengan air mata kedukaanku:

selain kebahagiaan, kesedihan

juga butuh dibagikan.


aku ingin menyudahi kesedihanku

aku ingin menyudahi kesedihanku

sebagai manusia

yang kerap gagal memaknai

jalur-jalur hidupnya.

menjadi batu, misalnya,

atau cemara atau keheningan beranda.

diam dan mengamati

bagaimana cara manusia

meluaskan kebodohannya sendiri.


Daruz Armedian, lahir di Tuban. Sekarang tinggal di Jogja. Tahun 2016 dan 2017 memenangi lomba penulisan puisi se-DIY yang diadakan Balai Bahasa Yogyakarta. Tulisannya pernah tayang di media cetak dan online. Buku kumpulan puisinya, agaknya mau terbit tahun ini.

Puisi

Puisi Setia Naka Andrian

Pada Sebuah Peta

peta ini

yang kau susun

dari sumber air mata

dalam belantara surga

di hati apimu

peta ini

yang kau ciptakan

dari tarikan napas batu

di hari minggu

yang kerap miring

selepas orang-orang lari

ke dinding taman kota

dan atap lima waktu

peta ini

yang mengajarimu

bagaimana melihat matahari jatuh

serupa nenek-nenek mencari

arah lari cucunya

yang membentang

ke dalam dan luar angkasa

peta ini

yang kau hidupkan

setiap kali mata angin menjauh

dan meninggalkan rahasia baru

peta ini

yang menjadi tersangka

pengirim resep masakan

menguning di meja makan

lalu kau bersama segelas cuka

menatapku

yang diam-diam ditimbun

dalam nada dering di dadamu

peta ini

yang menumbuhkanmu

menjadi sebuah tatanan hidup baru

di akhir pekan

yang menghitam itu

menandai kapan semua

akan segera pulang

kapan semua akan dihitung

dari seberapa jauh

dan pendeknya garis tujuan

Kendal, Januari 2021


Di Atas Batu

Di atas batu

Ada namamu

Di bawah batu

Ada garis melupakanmu

Aku sedang belajar

Menghitung pertumbuhan

daki

di dadamu

Dari suaramu

di atas batu

Sesungguhnya

aku tahu

Bagaimana hari itu,

Menjadi seperti sangat kecil

sekali

Entah, aku menganggap

tiada lagi cara terbaik

untuk dapat memahamimu

Bagaimana suatu saat nanti

Hari-hari menjadi batu

Menjadi segala rupa

yang tak pernah kita hitung

sebagai waktu

Kendal, Januari 2021


Ruang Tunggu

Di ruang tunggu

Kusaksikan kau duduk

Bersama sebutir peluru

Orang-orang naik tangga

Anak-anak kecil membeli

sebuah kaleng berisi harga

sebuah nyawa

Di ruang tunggu

Kau masih duduk

Sedangkan dari kejauhan

Sepasang kekasih saling lempar

cium tak keruan

Aku tak tahu,

Bagaimana kau tinggal

dengan sebutir peluru itu

Yang baru saja dikenang

Dalam sebuah upacara terakhir

menjelang kepulangan

Yang entah harus berangkat

ke mana

Meski pada saat itu

Aku tahu,

Kau meratapi segala

yang tumbuh dari matamu

Betapa yang menetes

Adalah peluru itu

Yang sesungguhnya

Akan menjadi siapa

Tak ada yang tahu

Kendal, Januari 2021


Berat Badan

Aku tak tahu

Kapan berat badan

berumur panjang

sepertimu

Aku tak tahu

Kapan kau tumbuh

dari cangkul

dan ular-ular berbisa

namun tak bernafsu

Aku tak tahu

Bagaimana kau

menciptakan kebaikan

dari sepasang mata

di punggungmu

yang di situ, ada aku

sendirian

Mengunci

Dalam berat badanmu

Kendal, Januari 2021


Layar Komputer

Sebuah layar komputer

terbuka lebar

Puisi-puisi berserakan

Memandangi dinding

halaman koran minggu

Aku mendapatimu

diam-diam

di antara jaringan internet

putus

dan suara pukulan huruf

bersahutan

dengan detak jam dinding

di sebelah kamar

Aku bilang, duduklah

sebentar

Istirahatlah dengan tenang

Tapi kau bilang,

itu candaan picisan

Tak pernah diikuti

oleh siapa pun

yang kerap memburu

perjalanan

Apalagi, bagi mereka

yang mengungsi saat hujan

tumbuh dalam kerongkongan

yang lapar

Aku yakin, kau masih

punya banyak pikiran

Bagaimana hutan menjadi bunyi

keterlambatan

Yang melambaikan alarm

Setiap kali tuhan datang

Mengguyur jari-jari tanganmu

dengan senyum lebar

Sebuah layar komputer

terbuka lebar

Kau duduk bergandengan

dengan kata-kata

yang sebentar lewat

sebentar menunggu dijatuhkan

Dan aku, kian tak tahu

Harus ke mana lagi mengejarmu

Sedangkan kau

sepertinya sudah asyik

Menjadi layar kehidupan;

juga kematian

yang tak pernah

dihuni banyak orang

Kendal, Januari 2021


Sebuah Pabrik

Sebuah pabrik

dan permasalahan baru

Korek api

dan ke mana perginya ibumu

Kandang ayam

dan pasokan gizi

bagi balita yang tinggal

seorang diri

Sebuah pabrik

dan antrian panjang

Menempati urutan kesekian

di pengadilan

Palu diketuk pelan

selepas burung-burung masuk

di ruang sidang

Sebuah pabrik

Narasi buntu dan seribu payung

mengadili kehadiranmu

Cuaca buruk dan makan malam

yang timbul-tenggelam

selepas mertuamu mengganti warna

gincu

Sebuah pabrik

Ditanam dalam arloji plastik

di punggung seorang ibu

Dijuallah pertanyaan,

kapan jadwal terbaik

untuk minum susu

dan menggoda tetangga baru

Sebuah pabrik

Dalam kolam ikan

Kapan menjadi koloni baru

Yang dipaksa masuk

di abad paling lampau

yang katanya sudah kian

ditinggalkan itu

Sebuah pabrik

Mencari tahu

Kapan dirimu

dan aku

Menjadi serupa mesin

Yang lebih merdeka

dari sebuah pintu

Biar dibanting-banting

dan digedor itu

Namun tetap saja,

ia menutupi

segala kesalahan

dan kegagalan

Darimu

dan dari aku

Kendal, Januari 2021


Beternak

Beternaklah di kakimu

Yang jauh-jauh hari dikirim

dari semesta kirimu

Beternaklah menjauh dariku

Agar suatu saat

Ada kabar yang menyusup

Lewat telingaku yang buntu

Beternaklah mendekati

mautku

Jika memang hari depan

akan tumbuh

Bersama sekian ucap

yang dipilih seorang diri itu

Beternaklah mencapai puncakku

Di sebuah napas

Dalam nafsuku yang masih itu-itu

Kendal, Januari 2021


Dua Kali Sehari

Sehari, dua kali sehari

Mamamu pulang

Menjemputmu dari kejauhan

Sehari, dua kali sehari

Papamu bilang jangan sampai

telat makan

Sehari, dua kali sehari

Cuaca berhenti di tikungan

tubuhmu

Yang saat itu masih lugu

dan berwarna ungu

Sehari, dua kali sehari

Kau memandangi nenekmu

Ia makin kuat

menjadi lampu-lampu

Sehari, dua kali sehari

Aku memanggilmu

Sebab bagaimana lagi,

kamarmu hitam

Berisi alpukat busuk

dan gambar-gambar rindu

yang kuyu

Sehari, dua kali sehari

Pacarmu naik tangga

Menuju kamarmu

Sehari, dua kali sehari

Ia menginap di situ,

pada sebuah rumah

Yang sama sekali

Tak pernah mempertemukanku

Dengan dirimu

Sehari, dua kali sehari

Hanya pacarmu saja,

yang sampai masuk

Sangat dalam

;dalam sekali

Lalu di sana, ia menggantung diri

Katanya,

hanya karena demi aku.

Kendal, Januari 2021


Tarik Napas Panjang

Tarik napaslah panjang-panjang

Baru dua hari selepas itu

Pagar tertutup,

Setiap kali sore mengunci

pintumu

Rapat-rapat dalam tidurmu

Tarik napaslah panjang-panjang

Sebab ke mana lagi,

angin akan berterus-terang

membawamu

Jika memang sungguh,

pergi bukan lagi menjadi jauh

Yang meninggalkanmu

Tarik napaslah panjang-panjang

Di sana sedang didirikan

rumahmu

Sebuah perjumpaan

yang sering mampir

dalam setiap hujan

yang turun

di atas bantalmu itu

Tarik napaslah panjang-panjang

Dengan caramu yang paling sepi

Kemudian tataplah aku,

Jika memang ini waktu

yang tepat untuk pulang

Pergi sendiri,

tanpa meninggalkanmu

Kendal, Januari 2021


Seekor Kucing

Seekor kucing

Menatapmu dari depan

pintu sebuah kamar

Suaranya melengking

Menjadi sebuah nada panggilan

Berbunyilah sebentar

Meski tak sedikit

yang perlu ditawarkan

Kucing itu masih menatapmu

Ia sendirian berdiri

Di antara kaki orang-orang

Yang sedang berebut berlarian

Meninggalkan doa perjamuan

Kipas angin masih berputar

di sudut ruang paling kanan

Kau memanggilku

Dengan suaramu yang riang

tanpa nada getar

Dan di ponselmu

Aku menyanyikan sebuah lagu

Kemudian seekor kucing itu

Mencakar mulutku

Dan kau memanggilku berkali-kali

Aku pura-pura tak tahu

Yang ternyata kian dalam

Kau menghancurkan suaraku

;apalagi perasaanku

Kendal, Januari 2021


Setia Naka Andrian, lahir dan tinggal di Kendal. Pengajar di Universitas PGRI Semarang. Buku puisi terbarunya Mendaki Dingin (Pelataran Sastra Kaliwungu, 2020). Buku puisinya Kota yang Mukim di Kamar-Kamar (Pelataran Sastra Kaliwungu, 2019) memperoleh Nomine Antologi Puisi Terbaik Penghargaan Prasidatama 2020 dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah. Bisa disapa di [email protected]

Puisi

Puisi Sengat Ibrahim

CINTA

YANG KUKENAL

cinta(ku)

sama seperti cinta yang kau kenal.

tidak ada bedanya. tidak berubah juga tidak kekal.

membebaskan.

penuh kesialan-kesialan takterduga.

kedengkian. setiap detik selalu curiga.

setia yang bajingan.

pengkhianat paling cakep. muslihat

kejahatan dari yang paling masuk akal & takmasuk akal.

marabahaya

di luar ancaman. harapan tiada batas.

kesedihan paling remeh sekaligus paling serius.

senyum

yang terbuat dari bibir anak kecil.

puncak kebahagiaan. sarang kesedihan.

kelelahan

yang menolak keringat. kesenangan

yang tidak berhubungan dengan permainan.

ramai

yang sunyi. sepi yang cerewet.

panas yang mudah menempel di kulit sekaligus

merasuk

ke dalam daging. dingin

yang tidak bisa masuk ke dalam kulkas.

sinar

yang belum dilihat oleh mata.

gelap yang selamanya menjadi rahasia.

penyatuan

surga dan neraka.

tuhan paling akrab bagi seluruh manusia.

2020


PADASUATUKETIKA

SEBELUM MENJADI CINTA

pada suatu ketika

sebelum menjadi cinta. hidupku

sempat sempit. mataku kegelapan mahaluas.

hatiku

rasa cemas mahadahsyat.

pikiranku masa depan yang terbakar. 

tangan & lenganku

tempat terlarang bagi pelukan.

kakiku adalah tujuan tanpa perjalanan.

mulutku

sampah yang tidak perlu

dipakai atau dibuang untuk menjadi sampah.

pada suatu ketika

sebelum menjadi cinta. aku

adalah ketiadaan yang tidak perlu dihancurkan.

2020


TERHADAP CINTA

AKU HANYA BISA MENGANGGUK

                                  terhadap cinta aku hanya bisa mengangguk

atau takada batu dalam kepala atau hanya bisa

                               berdoa atau rasa cerewet yang tidak mau jadi

suara atau penglihatan yang berisi kebahagiaan

                                   bunga-bunga atau kebetulan yang berhasil

menjadi pengetahuan; penghapus bagi kesulitan

                                manusia atau kesalahan yang takpernah bisa

membelakangi perbuatan atau kebaikan yang

                             berulang-ulang terjadi tanpa menunggu kapan

waktunya dibutuhkan atau mendengar suara

                               yang seluruh bunyinya membuat jiwa menari

bersama tuhan atau serakah yang membuat

                                hasrat merasa cukup sebelum cakap berbuat

salah atau pemurah yang membuat miskin

                                    dan kaya takberbeda di mata so(sial) atau

penghasut yang membuat sakit dan sehat hidup

                                rukun dalam satu rumah atau pemarah yang

berhasil membersihkan negara dari kejahatan.

                                             2020


GOBLOK

DENGANKATALAIN CINTA

jika bukan  karena  cinta  punggungku  tidak  akan

mugkin

                                                                     mampu

menyangga  beban  hidup  yang  masuk  ke  dalam

                            kepala selama delapanjam penuh

                                              (duduk) menulis puisi.

jika bukan karena cinta  tuhan  tidak  akan  mampu

menciptakan   kebahagiaanku   yang  tidak  terbuat

dari apa-apa.

                                                   seperti manusia lain

aku tidak bisa menciptakan kebahagiaanku sendiri.

ibuku bilang:

‘mencintai adalah memberi kebutuhan kita (sendiri)

menjadi kebutuhan orang lain.’

dan   aku  hanya  bisa  memahami  kalimat  tersebut

                                      jika menjadi kalimat berikut:

‘mencintai

adalah   menghadapi   kehilangan-kehilangan  yang

mungkin dan itu direncanakan.’

2020


ANDAI

CINTA BISA KUPESAN

andai cinta bisa kupesan. aku akan memesan cinta yang tidak perlu

                                            mengeluarkan airmata dan kesedihan

                                                dan kebahagian  dan  kemarahan 

                                                   dan penantian dan kenangan

                                                         dan kecemburuan dan

                                                                 kehilangan.

andai cinta bisa kupesan. aku akan memesan cinta yang terbuat

                                              dari aku aku aku aku aku aku aku

                                                 aku aku aku aku aku aku aku

                                                     aku aku aku aku aku aku.

                                                         ya, cinta yang tidak

                                                             ada siapa-siapa

                                                                selain aku.

                                                                    2020


KEPADA KESABARAN

AKU DIBESARKAN IBU

begitu cepat aku dipaksa melihat kematian.

dan tuhan adalah segala sesuatu yang kuyakini sebagai kejahatan.

dulu aku (sering) belajar berbuat jahat terhadap tuhan

& ibukulah yang terluka.

aku gemar membeli pengetahuan

& berharap tidak memiliki hidup seperti ibu.

kehidupan yang dimiliki ibu terlalu jauh dari pengetahuan

& terlalu dekat dengan keyakinan

& aku makhluk asing yang berjalan untuk keduanya.

ibuku terlalu takut kepada neraka

& terlalu percaya terhadap surga

& tuhan tidak bisa beliau lihat tanpa kehadiran keduanya.

jika aku tahu  siapa yang pertamakali dulu mengenalkan

surga & neraka kepada ibu, aku akan bunuh.

setelah kutanya mengenai itu kepada ibu,

ternyata yang mengenalkan surga & neraka kepada ibu adalah ayah

& tuhan sudah (sejakakuberumurenamtahun) lama membunuh ayah.

“jika aku memiliki kesempatan menciptakan sebuah kehidupan,

aku akan buat tuhan menjadi ibuku

& ayah menjadi aku

& kau adalah rindu yang mengatur warna penglihatan.”

2021


PERSOALAN-PERSOALAN

DI NEGARA PALING KECIL DI DUNIA

hidupku sama seperti hidupmu duapuluhempatjam hitungannya,

pergantian malam & siang, matahari & bulan, tidur & terjaga,

bekerja & berlibur, beragama & berbudaya, bernegara & berkeluarga.

napas memberi hidup sama pancaindra yang membedakannya

makna memberi warna sama penglihatan yang membedakannya.

kehendak memberi kesempatan sama cinta yang membedakannya.

kata ibuku ‘negara paling jelas keberadaannya adalah keluarga.’

dan aku percaya sebelum kalimat tersebut keluar dari mulutnya.

‘lihatlah, di luar keluarga semua orang begitu mudah mengatakan

cinta tetapi perasaan mereka begitu takut mengenakan kesetiaan.’

‘bagaimana caranya menemukan kesetiaan?’ tanyaku.

‘ciptakanlah keberuntungan dari kelemahanmu.’ jawabnya.

2021


KEBODOHAN

YANG HARUS KAUKENAL

aku tahu sedari awal kau memerlukan kesetiaan(ku) tapi kau

takpernah tahu bahwa ‘setiap kesetiaan selalu datang terlambat.’

kesetiaan adalaah bayang-bayang dibalik kenyataan.

kenyataan adalah benda yang  tidak bisa lepas dari bayang-bayang.

jika kuulang, kesetiaan adalah harapanku memiliki hidup

yang dipenuhi bayang-bayang dari kenyataanmu.

kesepian kerapkali berbuat jahat kepadamu juga kepadaku

nyaris setiap waktu orang-orang meletakkan harapan di sana

membuatmu memiliki banyak kesibukan yang tidak berhubungan

denganku. aku mengghilang ke dalam kesepianmu

dan takbisa dilihat. hidup berjalan diluardugaan.

kesialan-kesialan silih berganti menertawaiku.

kau terburu-buru membuat pilihan. aku tergesa-gesa menjadi

kenangan.  aku berada di antara kedatangan dan kehilanganmu:

‘satu-satunya tempat yang tidak mungkin mampu

tuhan ciptakan kecuali mendapat restu dariku.’

2021


RAMALAN-RAMALAN

SEBELUM TIDUR MALAM

aku tahu

masa depanku

hanya akan dipenuhi

berbagai macam

kesibukan-kesibukan

dan kesibukan-kesibukan

yang selalu kunanti-nanti

adalah mencari nafkah untukmu.

aku tahu

masa depanku

hanya akan dipenuhi

berbagai macam

kehilangan-kehilangan

dan kehilangan-kehilangan

yang selalu kunanti-nanti

adalah kehilangan diri(ku)sendiri.

aku tahu

masa depanku

hanya akan dipenuhi

berbagai macam

kamu dan kamu dan  kamu

dan kamu yang selalu kunanti-nanti

adalah yang berhasil mencuri detak jantungku.

2021


BAGIAN

LAIN DARI PUISI

bagian lain dari puisi adalah cinta,

adalah agama, adalah engkau

yang menyatukanku dengan keyakinan.

bagian lain dari puisi adalah tuhan,

adalah hal-hal menakutkan

yang mengutukku menjadi kesetiaan.

bagian lain dari puisi adalah rumah

adalah pintu, adalah jalan

yang membawaku pada pekerjaan.

bagian lain dari puisi adalah pikiran,

adalah perasaan, adalah jantung

yang memberiku hidup untukmu.

2021


setia yang bajingan.
pengkhianat paling cakep. muslihat
kejahatan dari yang paling masuk akal & takmasuk akal.

Sengat Ibrahim, pemilik buku Bertuhan pada Bahasa, (Basabasi, 2018) & Asmaragama, (LiterIsi, 2018). Lahir dan menetap di Sumenep 22 Mei 1997. Bisa disapa melalui akun Twitter: @dialogbolong. Karya-karyanya pernah dimuat di media cetak dan daring.

Puisi

Puisi Mohamad Latif

Malam penghabisan

Bakarlah kata-kata itu

Di atas tungku

Malam hanya menambah dingin

Jendela hanya mengatupkan suara

Kelak kau akan tahu

Aku yang berdiri menyendiri

Di antara sauh kesedihan

Habis nubuat di tengah jalan

Tak lagi ada yang ingat

Di malam penghabisan ini

Aku dilingkari lolong kalut

Pamekasan 2020


Masakan ibu

Serut daun kelor

Jalan-jalan jauh ke tegalan

Kucari cinta pada ikan tongkol, nasi jagung,

Dan sayur bayam

Pudar daun-daun bawang

Pijar senyum ibu tenggelam

Runyam di relung santan

Pamekasan 2020


Pencarian

Waktu tidak akan mengerti bagaimana perihnya menjadi dewasa

Ia masih saja terus berlari menjadi kanak kecil yang tak tahu apa-apa

Di luar sana orang-orang menciptakan jam dan tanggalnya sendiri

Membuat perhitungan-perhitungan kecil dan besar

Tapi aku, aku masih belum menemukan apa-apa termasuk juga cinta

Ahhh, begitu kesepiankah diriku?

Tahun-tahun adalah alat menerka diri

Waktu membusuk dalam dada

Rekah segala gelisahku ditelan musim

Pamekasan 2020


Di dermaga

Selepas silir angin laut ke kota tubuhku

Bulan hanya potret di air genang

Bangau perak bersesaran dari timur

Berlayar ke langit

Warna pudar sebuah kapal

Bulan dan mataku, jiwa yang basah

Dan sauh laut di batas

Aku hanya jangkar tua dan kemalaman

Januari mengubah takdir jarum kompas

Pada karang, pada siul angin

Dan jala para nelayan

Pamekasan 2020


Punggung kata

:annuriyah al-masuniyah

Kita mencari sesuatu yang hilang

Sebuah diksi yang tak mungkin genap

Dari setiap degup percakapan

Kerling malam juga kerling lampu di sudut kafe

Malam berlalu

Dan tembakau belum selesai juga dilinting

Membiarkan bisik

Terus melamun ke relung meja-meja gelap

Kemudian kau lindap dimamah lelap

;mengeluh

“andai waktu bisa diperlambat

tentu kita bisa merekayasa kembali purwa luka-luka”

tetapi kita hanya bisa melipat punggung kata

terjebak dalam pilihan diksi yang rumit

yang tidak pernah kita tahu akhirnya

Sumenep 2020


Tirta amarta

Ia menyimpan kabar yang tak boleh didengar

Surat-surat hanya menyimpan peluk dan ingin

Sepasang mata melotot

Tak ada air bersih di sini

______Termasuk air mata_______

Sungai menguap jalan-jalan kehabisan napas

Air menjebak mata itu di balkon

Wabah mengapung di jantung hingga batas kota

Kesedihan melompat-lompat dari atap ke atap

Mata itu bersembunyi

_______Di balik botol arak pengangguran_____

Memandu setiap perjalanan panjang dan dekat

Terminal dan pelabuhan terdekat

Yang paling sepi

Awan di atas pecah

Siapkan wadah yang paling besar

Tadah air mata yang tumpah

Biarkan dahaga lepas

Hanyut dalam denyut

Mencari dunianya masing-masing

Pamekasan 2020


Di beranda

Malam nanti

Aku kan menjelma meja di beranda

Duduk dan akan kau dapati

Kopi dengan lebur senyum

Asbak tempat membuang kenang

Dan nampan tempat kau kembalikan seluruh rindu

_____padaku______

Pamekasan 2020


Di moncek timur

Di moncek timur, pohon-pohon tengadah

Seperti hatiku

;tabah

Nyala heningku

Dimamah jarak

Siang malam pucat di dadaku

Melintas pada senyum getir

;ibu

;bapak

Pamekasan 2020


Wangsit

Di sini, di semesta jiwaku

Risau masih terasa melengking

                        Kabar yang berkisah dari malam

                        Memecah celah-celah gerimis

Sebuah tanah di musim hujan

Menjaga ingatannya

                        Pertemuan-pertemuan basah

                        Risau dan ingin meletup-letup di sini

Dari jauh anak-anak meninggalkan lamunannya

Menakar peluh dan takdir

Di tepian ladang ia melihat ibunya

Ranggas di tengah jagung

Pamekasan 2020


Nyonson

Kamis malam menjelang purnama

Perempuan-perempuan tua

Merapal harap dan ingin umat manusia

Dengan sebilah sepat berbakar kemenyan

Gemericik asap pengharapan, menebar mantra dan doa

Aroma sedap menyeruak ke segala tempat

Merasuk dari pintu ke pintu, menyeruak ke luar jendela

Menyusup ke barzakh, mengantar rindu pada leluhur

Cinta subur di sini

Menjadi tali persaudaraan

Hidup tenang dengan kesederhanaan

Pamekasan 2021


Mohamad Latif, lahir di Moncek Timur, Sumenep 28 Desember 1998. Pernah aktif di Taneyan Kesenian Bluto, Forum Belajar Sastra, Sanggar Asap dan sekarang masih bergiat di UKM Teater Fataria IAIN MADURA. Bisa disapa di Facebook: Mohammad Latif, Instagram: latifmohammad086, atau Surel: [email protected].

Puisi

Puisi Miftachur Rozak

Jam di Tangan Sudah Mati

jam di tangan sudah mati

masih melingkar di tangan kiri

namun, kata-kata tetap berdetak

mengulur waktu mentashih sajak.

dan terkadang pikiran kelayapan

mencari-cari alasan kebenaran

menyalahkan waktu, tak tahu jalan.

bus kota pun lekas datang

membawa seratus penumpang

namun aku tidak jadi pulang

sebelum sajak yang kau tulis

menjadi penerang jalan.

Jombang, April 2020


Membagi Waktu

diam-diam mataku membagi waktu

pada hujan membunyikan sendu

pada daun-daun  lotus di altar rumah

pada nyala kerlip lilin dan kasturi di atas tanah

berkecipak bulir menerpa kendi liat

sebagai bunga berpijak: lotus merah jambu

tatkala bayangmu sekelebat datang

di pembagian waktu

melewati sela hujan yang ragu-ragu

menari-nari di antara insomnia dan rindu

berliku-liku dalam angan sajak bisu

yang setiap malam datang mengganggu

mataku menuliskan peristiwa itu: sajak masalalu

di balik daun lotus kering dan kelopak warna ungu

sajak-sajak itu tersimpan rapi

pada nyalang album puisi

dan akan kuberikan padamu

ketika engkau sedang rindu

seperti aku yang bertengadah untukmu

Jombang, 2020


Pingsut

gajah marah pada telunjuk

yang menunjuk-nunjuk

ketika semut sibuk menggaruk

pada telinga lebar, hingga terkapar.

namun, semut pun kandas; tertindas

oleh jari telunjuk; saling menunjuk.

dan batu pun mulai geram

pada gunting; hingga berkeping-keping.

namun ia merinding ketika kertas merunding,

apalagi jika tertempel materai iming-iming.

hompipa alaihum gambreng!

mayoritas terkapar

minoritas berlayar.

suuuut jleeng..!

gajah marah

telunjuk menunjuk

dan kelingking melengking.

Jombang, Desember 2020


Kereta Pukul Dua Siang

kereta datang tepat pukul dua siang

saat hujan menahan air matanya berlinang

pada gemawan menghitam

di atas stasiun membawa pesan

ihwal skenario digariskan.

seseorang telah datang

dengan gaun merah marun menjuntai

berkerlip kunang. sepatu tanpa hak

warna biru  genitri cukup terang.

lihatlah, perempuan itu

yang tiap malam datang bersama secawan

harapan rindu. melilit di setiap detak waktu

hidup dalam liku diksi-diksi kelu.

lihatlah, ia sedang berjalan ke arahku

seperti yang telah dikabarkan tuhan

dalam mimpiku

perihal kekasih yang turun

dari gerbong nomor tujuh

ketika hujan datang, air matanya jatuh dan luruh.

Jombang – Jogja, 2019 – 2020


Terkadang  Ingin Menjadi Air

terkadang aku ingin menjadi air

menyucikan segala hadas

yang membatalkan segala rindu.

terkadang aku merindukan air

meredakan segala haus

pada tandus.

terkadang aku membenci air

yang tiba-tiba datang

menghanyutkan segala kenang.

dan terkadang,  aku merenungi air

segala takdir adalah takrir

bagi yang berpikir.

Jombang, Juni 2020


Selaksa Api

lukaku adalah api

menyala pada puisi-puisi.

kadang murka dan membakar

pada sajak-sajak sunyi

pada muskil janji-janji .

kadang menyinari

pada lanskap kalbu

pada gelombang muasal rindu.

lukaku adalah api

nyalang  abadi di bulan Juni.

Jombang, Juni 2020


Meniup Seruling

enam lubang oktaf sudah kau tutup

namun lengking masih saja meletup

masihkah kau terus meniup

menemukanku pada nada

yang tak kau anggap hidup

Jombang,  Agustus 2020


Kelopak Anggrek

ia sudah tak berbunga

semenjak kau patahkan kelopaknya

kemarau membuatnya risau

sementara hujan buatan

hanya ada pada tangisan

maukah engkau menangis

pada bunga yang rindu gerimis

Jombang,  Desember 2020


Halaman-Halaman Pertemuan

pada halaman pertama aku mencium

bau parfummu yang legit vanila

lantas aku sibak pada halaman kedua

aku menemukan bercak lipstikmu

merah buah delima

dan selanjutnya,

dan selanjutnya

hingga aku temukan dirimu

di akhir bait yang beku

pada halaman terakhir sekumpulan puisi

dan seikat narasi, tentang penantian yang kini

menjadi semacam tali, mengikat janji di jemari

Jombang, September 2020


Matahari Mekar Berbunga

  :Kinan

matahari sedang mekar berbunga, kinan

ia bersolek di ujung timur,  langit arunika

pohon-pohon pinus sontak terbangun

dari tidur panjang semalaman

dan mereka mulai berdesis

melantunkan zikir pagi

di setiap daun-daun

dimandikan percik matahari

dan dibelai-belai desir angin

sementara,  engkau masih bersembunyi

di balik kalut jendela kayu mahoni

menghirup semerbak biji-biji puisi

yang ditulis para lelaki

apakah engkau masih takut, kinan

memilih sebiji puisi paling menawan

menggenapi puisimu yang perawan

matahari sedang mekar berbunga,  kinan

seperti engkau yang semakin perawan

Jombang, September 2020


Sarung

sarung yang dipakai ibu

sebenarnya milik bapakku

bukan karena ibu tak bisa membeli baru

namun ada tenun rindu: 

dari harum parfum bapakku

benangnya halus, sutra buih samudra

coraknya berkilau, pualam mutu manikam

hangat dari pelukan malam

sejuk dari embusan siang.

sarung yang dipakai ibu

kini diwariskan padaku

terdapat tiga jahitan baru

dari benang-benang rindu.

Jombang, April 2020


Miftachur Rozak, tinggal dan lahir di Jombang, 03 Februari 1988. Ia alumnus PBSI STKIP PGRI Jombang tahun 2011, kini mengabdi di MTsN 2 Rejoso Jombang sebagai guru Bahasa Indonesia. Selain menggemari vespa dan kopi, ia juga menyibukkan diri menulis cerpen dan puisi. Karya-karyanya tersiar di pelbagai media cetak dan daring. Puisinya Masuk dalam antologi tiga negara, Jazirah 5 FSIGB 2020, dan tergabung dalam buku Sang Acarya. Kumpulan Puisi Guru dan Dosen Komunitas Dari Negeri Poci 2020. Bisa dijumpai di Facebook: Miftachur Rozak atau Instagram: @arrozak_88.